Anda di halaman 1dari 12

RELASI DAN FUNGSI

A. RELASI
1. Pengertian Relasi Antara elemen-elemen dari dua buah himpunan seringkali terdapat suatu relasi atau hubungan tertentu. Misalnya : A = { 2, 3, 5 } B = { , !, ", #, ! } Akan kita tin$au relasi % adalah &akt'r dari % antara elemen-elemen himpunan A dengan elemen-elemen himpunan B. (ampaklah bah)a : 2 adalah &akt'r dari ! 2 adalah &akt'r dari # 2 adalah &akt'r dari ! 5 adalah &akt'r dari # *edangkan 3 A tidak berrelasi dengan suatu elemenpun dari himpunan B. +elasi tersebut dapat digambarkan dengan diagram panah. Gambarlah Diagram Panah tersebut! +elasi itu dikatakan sebagai suatu relasi dari himpunan A ke himpunan B. ,erhatikan bah)a suatu relasi mempunyai arah tertentu. -alam diagram diatas arah itu dinyatakan dengan anak panah. +elasi tersebut $uga dapat dinyatakan sebagai himpunan pasangan terurut. .lemen dari himpunan A yang berrelasi dengan elemen dari himpunan B di susun men$adi suatu pasangan terurut, diman elemen dari A pada urutan pertama dan elemen dari B pada urutan yang kedua. /adi kalau relasi % adalah &akt'r dari % tersebut diberi nama +, maka : + = { 02, !1, 02, #1, 02, !1, 05, #1 } /elaslah bah)a + A 2 B *e3ara umum dapat dikatakan bah)a suatu relasi dari himpunan A ke himpunan B merupakan himpunan bagian dari A4B 0pr'duk 5artesius A dan B1. sehingga dapat dide&inisikan: + adalah suatu relasi dari himpunan A ke himpunan B bhb. + A 2 B Relasi dan Fungsi Haniek Sri Pratini, M. Pd. Page

A disebut daerah asal 0d'main1 dan B disebut daerah ka)an 0k'd'main1 dari relasi + tersebut. /ika 02,y1 +, maka dikatakan bah)a 62 berelasi dengan y6 0ditulis 62+y61. /ika + adalah suatu relasi dari B ke A dengan + = {0y, 21

02,y1 +}, maka $elaslah bah)a +

B2A

5'nt'h : A = { -3, 3, !, ", # } B = { 2, 3, !, 5, 7, ", 8 } +elasi %berselisih 2 dengan6 antara elemen-elemen himpunan A dengan elemen-elemen himpunan B dapat disa$ikan sebagai himpunan bagian dari A 2 B, yaitu : + = { 0 2,y 1 2 A, y B, x y = 2 }

= { 03,51, 0!,21, 0!,71,0",51,0 #,81 } A 4 B 0 !,7 1 +, maka dikatakan bah)a % ! berelasi dengan 7 % 0 ! berselisih 2 dengan 7 1 atau !+7. + = { 05,31,02,!1,07,!1,05,"1,08, #1} 2. Relasi-relasi Khusus /ika A = B maka relasinya disebut sebagai relasi pada himpunan A. a1 *uatu relasi + pada himpunan A disebut relasi re&leksi& bhb setiap elemen berrelasi + dengan dirinya sendiri. + re&leksi& pada A bhb. 0 2A1. 02,21 + 0 2A1. 2 + 2 5'nt'h : A adalah suatu keluarga himpunan. + adalah relasi 6himpunan bagian6 yaitu: + ={ 02,y1 2A, yA, 2 y } dari A

Relasi dan Fungsi Haniek Sri Pratini, M. Pd.

Page 2

+ adalah relasi re&leksi& pada A karena untuk setiap 2 A berlakulah bah)a 2 2, yaitu 02A1. 02,21 + *uatu relasi + pada himpunan A disebut relasi n'n- re&leksi& bhb. ada elemen dari A yang tidak berrelasi + dengan dirinya sendiri. + n'n-re&leksi& pada A bhb. 0 2 A1.0 2,21 + 0 2A1. 2 + 2 *uatu relasi + pada himpunan A disebut relasi irre&leksi& bhb. setiap elemen dari A tidak berelasi + dengan dirinya sendiri. + irre&leksi& pada A bhb. 0 2A1.0 2,21 +

/ 2 0 2A1. 2 R
,erhatikan bah)a suatu relasi yang irre&leksi& dengan sendirinya re&leksi&, tetapi sebaliknya belum tentu. 5'nt'h : A = himpunan semua bilangan nyata. +elasi % 9 % adalah suatu relasi yang irre&leksi& 0$adi $uga n'n- re&leksi& 1 pada A karena setiap bilangan nyata tidak lebih besar dari pada dirinya sendiri. A = himpunan semua manusia +elasi % dapat menguasai6 adalah relasi yang n'n : re&leksi& pada A 0 karena ada 'rang yang tidak dapat menguasai dirinya sendiri1, tetapi bukan relasi yang irre&leksi& 0 karena tidak semua 'rang tidak dapat menguasai dirinya sendiri1 b1 *uatu relasi + pada himpunan A disebut relasi simetris bhb. ;ntuk setiap dua elemen 2 dan y dalam A, $ika 2 berrelasi + dengan y, maka y berrelasi + dengan 2. + simetris pada A bhb. 0 2,yA1 02,y1 + 0y,21 + 0 2,yA1 02,y1 + 02,y1 + 0 2,yA1 2+y 5'nt'h : A = himpunan semua garis lurus pada bidang datar. +elasi % se$a$ar6 adalah relasi yang simetris pada A, karena untuk setiap dua garis lurus 2 dan y, di mana 2<<y, maka pastilah y<<2 y+2 adalah n'n-

Relasi dan Fungsi Haniek Sri Pratini, M. Pd.

Page 3

*uatu relasi + pada himpunan A disebut relasi n'n : simetris bhb. Ada sepasang elemen 2 dan y A dimana 2 berrelasi + dengan y tetapi y tidak berrelasi + dengan 2. + n'n- simetris pada A bhb. 0 2,yA1. 02,y1 + 0 y,2 1 +

0 2,yA1. 02,y1 + 0 y,2 1 + 0 2,yA1. 2+y


yR / 2

*uatu relasi + pada himpunan A disebut relasi asimetris bhb. ;ntuk setiap pasangan elemen 2 dan yA di mana 2 berrelasi + dengan y, maka y tidak berrelasi + dengan 2. + asimetris pada A bhb. 0 2,yA1. 02,y1 + 0 y,2 1 + 0 2,yA1. 02,y1 + 0 2,yA1. 2+y tetapi sebaliknya belum tentu. 5'nt'h: A = =eluarga himpunan. +elasi % himpunan bagian se$ati6 adalah suatu relasi yang asimetris pada A 0$adi $uga n'nsimetris 1 karena untuk setiap dua himpunan 2 dan yA dimana 2 y, maka pastilah bah)a y 2 A = himpunan semua manusia. +elasi %men3intai6 adalah relasi yang n'n simetris pada A, tetapi bukan relasi yang asimetris pada A. *uatu relasi + pada himpunan A disebut relasi anti-simetris bhb. ;ntuk setiap pasang elemen 2 dan y A, $ika 2 berrelasi + dengan y dan y berrelasi + dengan 2, maka 2 = y. + antisimetris pada A bhb. 0 2,yA1. 02,y1 + 0 y,2 1 + 2 = y 0 2,yA1. 02,y1 + 0 y,2 1 + 2 = y 0 y,2 1 + yR /2

/elas bah)a suatu relasi yang asimetris pada himpunan A pasti $uga n'n-simetris pada A,

/ 2 2=y 0 2,yA1. 2+y y R


5'nt'h: A = keluarga himpunan. +elasi % himpunan bagian6 adalah relasi yang antisimetris pada A, karena untuk setiap dua himpunan 2 dan y, $ika 2 y dan y 2, maka 2 = y. Relasi dan Fungsi Haniek Sri Pratini, M. Pd. Page !

31. *uatu relasi + pada himpunan A disebut transiti& bhb. ;ntuk setiap tiga elemen 2,y dan > A, $ika 2 berrelasi + dengan y dan y berrelasi + dengan > , maka 2 berrelasi + dengan >. + transiti& pada A bhb. 0 2,y>A1. 02,y1 + 0 y,> 1 + 02,>1 + 0 2,y>A1. 2+y y+ > 2 +> 5'nt'h: A = himpunan semua bilangan nyata. +elasi %adalah &akt'r dari6 adalah relasi yang transiti& pada A. *uatu relasi + pada himpunan A disebut relasi n'n-transiti& bhb. Ada tiga elemen 2,y dan > A dimana 2 berrelasi + dengan y dan y berrelasi >, tetapi 2 tidak berrelasi + dengan >. + n'n-trasiti& pada A bhb : 0 2,y>A1. 02,y1 + 0 y,> 1 + 02,>1 +

/> 0 2,y>A1. 2+y y+ > 2 R


/elaslah bah)a relasi yang intransiti& pada himpunan A pasti $uga n'n-transiti& pada A. 5'nt'h: A = himpunan semua garis lurus pada bidang datar. +elasi % tegaklurus6 adalah relasi yang intransiti& pada A 0$adi $uga n'n-transiti&1 karena untuk setia$p tiga garis 2,y dan >, $ika 2 tegak lurus y dan y tegaklurus > maka pastilah bah)a 2 tidak tegak lurus >. A = himpunan semua manusia. +elasi % mengenal6 adalah relasi yang n'n : transiti& tetapi bukan relasi yang intransiti& pada himpunan A tersebut. d1 *uatu relasi + pada himpunan A yang sekaligus bersi&at re&leksi&,simetris dan transiti& disebut relasi ekui?alensi pada A. 5'nt'h: A = himpunan semua segitiga. +elasi %sebangun6 adalah relasi eku?alensi pada A sebab relasi tersebut sekaligus bersi&at re&leksi&, simetris dan transiti& pada A A = himpunan semua bilangan bulat

Relasi dan Fungsi Haniek Sri Pratini, M. Pd.

Page 5

+elasi %k'ngruen6 0lambangnya % = 61 dalam suatu m'dul' m 0m = bilangan asli 1 yang dide&inisikan sbb : 2 = y 0 m'd.m 1 bhb. 2 : y = k. m, dimana k adalah suatu bilangan bulat, adalah suatu relasi ekui?alensi pada A, karena: 0 1 ;ntuk setiap bilangan bulat 2 : 2 : 2 = #.m, sehingga 2 = 2 0 m'd.m 1 /adi relasi k'ngruensi bersi&at re&leksi&. 021 ;ntuk setiap pasang bilangan bulat 2 dan y dimana 2 = y 0 m'd.m 1, maka : 2 : y = k.m0k = bilangan bulat1 *ehingga y : 2 = - 0k.m1 = 0-k1.m -imana :k adalah bilangan bulat sebab k adalah bilangan bulat. /adi : 2 = 2 0 m'd.m 1. Maka : 0 2,yA1. 2 = y y = 2 /adi relasi k'ngruensi bersi&at simetris. 031 ;ntuk setiap tiga bilangan bulat 2,y dan > diman 2 = y 0 m'd.m 1 dan 0 m'd.m 1 maka : 2 : y = k .m 0k = bilangan bulat1. y : >= k 2 .m 0k 2 = bilangan bulat1. 0 2 : y 1 @ 0 y : > 1 = k .m @ k 2 .m 2: > = 0k @ k 2 1.m 2: > = k 3 .m dimana k 3 = k @ k 2 = bilangan bulat sebab k dan k 2 masing-masing adalah bilangan bulat. /adi 2 = > 0 m'd.m 1. Maka 0 2,y> A1. 2 = y y = > 2 = > /adi relasi k'ngruensi bersi&at transiti&. =arena relasi k'ngruensi sekaligus bersi&at re&leksi&, simetris dan transiti&, maka relasi tersebut adalah relasi ekui?alensi. y = >

Relasi dan Fungsi Haniek Sri Pratini, M. Pd.

Page 7

B. Fungsi
1. Pengertian Fungsi Antara angg'ta-angg'ta dari suatu himpunan dapat ter$adi suatu relasi dengan angg'ta-angg'ta dari himpunan yang lain. Misalnya antara angg'ta-angg'ta himpunan semua pria dengan angg'ta-angg'ta semua )anita dapat diadakan relasi % suami %. *e3ara matematis suatu relasi + antara angg'ta-angg'ta himpunan A dengan angg'ta-angg'ta himpunan B dapat dipandang sebagai himpunan bagian dari pr'duk 5artesius kedua himpunan itu. + A 2 B. Misalnya : A = { , 3, 5 } dan B = { 2, #, ! }, maka relasi 6lebih ke3il6 antara angg'ta-angg'ta himpunan A dengan angg'ta-angg'ta himpunan B dapat disa$ikan dengan: + = { 0 , 21, 0 , !1, 03, !1 } A 2 B. Aungsi atau pemetaan adalah suatu relasi khusus antara angg'ta-angg'ta dua buah himpunan. *ehingga &ungsi dapat dide&inisikan sebagai berikut. *uatu relasi antara angg'ta-angg'ta himpunan A dengan angg'ta-angg'ta himpunan B disebut Aungsi 0pemetaan1 bhb relasi itu mengkaitkan setiap angg'ta A dengan tepat satu angg'ta B. *uatu &ungsi biasanya disa$ikan dengan lambang &. /ika &ungsi & mengkaitkan angg'ta-angg'ta himpunan A, maka dikatakan bah)a & adalah &ungsi dari A ke B dan disa$ikan dengan lambang: &:A B A disebut daerah asal 0daerah sumber, d'main 1 dari &ungsi &, sedangkan B disebut daerah ka)an. 0daerah $a$ahan , k'd'main1 dari &ungsi &. /ika 2A 'leh &ungsi & dikaitkan 0dika)ankan1 dengan suatu angg'ta dari B, maka angg'ta dari B itu disebut 6bayangan dari 26 dan disa$ikan dengan lambang 6&0216. &021 seringkali $uga disebut 6nilai &ungsi6 untuk 2. Relasi dan Fungsi Haniek Sri Pratini, M. Pd. Page "

*e3ara simb'lis matematis, de&inisi &ungsi & dapat disa$ikan sbb. & : A B bhb. 0 2A1.0 B yB1 . y = & 021 ,erhatikan bah)a suatu &ungsi & dari A ke B adalah suatu relasi yang mempunyai dua si&at khusus, yaitu: a. *etiap angg'ta himpunan A 0daerah asal1 dika)ankan dengan angg'ta himpunan B 0*eringkali dikatakan bah)a 6daerah asal dihabiskan6 b. =a)an dari angg'ta-angg'ta himpunan A 0daerah asal1 adalah tunggal. *i&at ini dapat dinyatakan se3ara simb'lis: 0 2 , 2A1. 2 = 2 2 & 02 1 = & 02 2 1 ,ada umumnya, untuk suatu &ungsi & : A B, angg'ta-angg'ta dari himpunan B 0daerah ka)an 1 tidak perlu mempunyai ka)an angg'ta himpunan A 0daerah ka)an tidak perlu di habiska1, dan $ika angg'ta himpunan B mempunyai ka)an angg'ta himpunan A, ka)annya diA itu tidak harus tunggal. *uatu &ungsi & dari A ke B dapat diilustrasikan dengan diagram panah sebagai berikut. &

Cimpunan semua angg'ta himpunan B yang merupakan bayangan dari suatu angg'ta himpunan A disebut daerah hasil 0range1 dari &ungsi & dan disa$ikan dengan + f . /adi:

+ f = { yB

0 2A1. y = & 021 }

Relasi dan Fungsi Haniek Sri Pratini, M. Pd.

Page 8

Misalnya untuk &ungsi & : A B yang disa$ikan dengan diagram panah sebagai berikut.

2 3 ! 5

7 " 8 E #

& 0 1 = & 021 = " D & 031 = E D A 0!1 = & 051 = # + f = { ", E, # } *eperti telah diuraikan di atas, $ika suatu angg'ta dari daerah ka)an mempunyai ka)an angg'ta dari daerah asal, maka ka)annya itu tidak harus tunggal. Cimpunan semua angg'ta dari daerah asal yang merupakan ka)an dari suatu angg'ta daerah ka)an disebut bayangan in?ers dari y dan disa$ikan dengan lambang & 0y1. /adi:

& 0y1 = {2A

y = & 021 }

,ada 3'nt'h &ungsi : & : A B di atas: & 0 " 1 = { , 2 }D & 0 E 1 ={ 3 } D & 0 # 1 ={ !, 5 }D & 0 7 1 = & 0 8 1 = & 0 1 = . /ika & : A B adalah suatu &ungsi dari A ke B, maka yang dimaksud dengan in?ers dari &ungsi &, disa$ikan dengan & , adalah relasi yang mengkaitkan angg'ta-angg'ta himpunan B dengan angg'ta-angg'ta himpunan A. /elaslah bah)a pada umumnya in?ers dari suatu &ungsi tidak merupakan &ungsi 0dari B ke A1 melainkan hanyalah merupakan suatu relasi biasa.

Relasi dan Fungsi Haniek Sri Pratini, M. Pd.

Page E

2. Cara menyajikan fungsi Ada dua ma3am 3ara untuk menya$ikan suatu &ungsi , yaitu : a. 5ara aturan : &ungsi itu disa$ikan dengan 3ara menyatakan aturan yang menentukan relasi antara anggg'ta : angg'ta daerah asal dengan angg'ta : angg'ta daerah ka)annya. 5'nt'h : &: + + dimana & 021 = 2 2 + = himpunan semua bilangan nyata. b. 5ara himpunan : *eperti halnya relasi, maka &ungsi & dari A ke B dapat dipandang sebagai himpunan bagian 0 khusus 1 dari A 2 B. Maka &ungsi & : + + dimana & 0 2 1 = 2 2 dapat $uga disa$ikan sebagai suatu himpunan, yaitu himpunan bagian dari + 2 + : & = { 02,y1 2 +, y + y = 2 2 }

Aungsi & : A B yang digambarkan dengan diagram panah pada 3'nt'h diatas dapat $uga disa$ikan sebagai : & = { 0 ,"1,02,"1,03,E1,0!, #1,05, #1} ,erhatikan bah)a dalam penya$ian &ungsi dengan 3ara himpunan, setiap angg'ta : angg'ta himpunan itu. 3. Kesamaan dua buah fungsi. -ua buah &ungsi & : A B dan g : A B dikatakan sama $ika kedua &ungsi itu mengkaitkan angg'ta-angg'ta dari daerah asalnya dengan angg'ta- angg'ta yang sama di daerah ka)annya. &=g 5'nt'h : & : + + dengan & 021 = 202@ 1 02-21, dan g : + + dengan g021 = 2 2 2 -22-! =arena & 021 = 202@ 1 02-21 = 20 2 2 -2-21 = 2 2 2 -22-! = g 021, maka & = g bhb 0 2A1. &021 = g 021 angg'ta dari daerah asalnya mun3ul tepat satu kali sebagai k'mp'nen yang pertama dari

Relasi dan Fungsi Haniek Sri Pratini, M. Pd.

Page #

4. Fungsi fungsi Khusus. Beberapa &ungsi khusus yang diberi sebutan karena si&at-si&at< karakteristiknya adalah sebagai berikut. a. *uatu &ungsi & : A B disebut &ungsi sur$ekti& dari A kepada 0'nt'1 B $ika setiap angg'ta B merupakan bayangan dari suatu angg'ta A. /adi pada &ungsi yang sur$ekti&, daerah hasilnya berimpit dengan daerah ka)an 0atau daerah ka)annya dihabiskan 1. & : A B adalah &ungsi sur$ekti& bhb. 0 yB1 0 2A1. y = & 021 bhb + f = B 5'nt'h : A = {2 2 = bilangan bulat } B = {2 2 = bilangan 3a3ah} & : A B dimana &021 = x b. *uatu &ungsi & : A B disebut &ungsi in$ekti& bila angg'ta : angg'ta dari B yang merupakan bayangan dari A, merupakan bayangan dari tepat satu angg'ta A. -engan perkataan lain & : A B adalah &ungsi in$ekti& bhb.0 2 , 2 2 A 1. 2 2 2 &02 1 & 02 2 1 bhb. 0 2 , 2 2 A 1. &02 1 = & 02 2 1 2 = 2 2 5'nt'h: A = {2 B = {2 2 = bilangan asli} 2 = bilangan nyata} 2 - = bhb 0 yB1 &

0y1

Aungsi & ini adalah &ungsi yang in$ekti&, karena $ika & 02 1 = & 02 2 1, maka 22 - sehingga 2 = 2 2 .

Aungsi & ini tidak sur$ekti& karena ada angg'ta B yang tidak merupakan bayangan dari suatu angg'ta A, misalnya F B. 3. *uatu &ungsi & : A B yang sekaligus sur$ekti& dan in$ekti& disebut daerah ka)annya merupakan bayangan dari tepat suatu angg'ta dari daerah asalnya. -engan demikian $ika & adalah &ungsi bi$ekti& maka setiap angg'ta dari daerah asal mempunyai satu ka)an di daerah ka)an dan sebaliknya setiap angg'ta dari daerah ka)an mempunyai satu ka)an di daerah asal. =arena itu &ungsi bi$ekti& seringkali disebut $uga k'resp'ndensi satu-satu.

Relasi dan Fungsi Haniek Sri Pratini, M. Pd.

Page

5'nt'h : A = {2 B = {2 2 = bilangan p'siti&} 2 = bilangan nyata}

& : A B di mana & 021 = l'g 2 Aungsi & sur$ekti& karena setiap yB merupakan bayangan suatu 2A, yaitu 2 = #y. Aungsi & ini in$ekti& karena $ika & 02 1 = & 02 2 1, maka l'g 2 = l'g 2 2 , sehingga # l'g x = # l'g x2 2 = 22 . -engan demikian & adalah &ungsi bi$ekti&. Mudah dibuktikan bah)a & adalah &ungsi bi$ekti& bhb. & merupakan &ungsi. Gn?ers dari suatu &ungsi bi$ekti& disebut &ungsi in?ers. /adi $ika & : A B adalah &ungsi bi$ekti&, maka &ungsi in?ersnya adalah & :B & 021 =

A.
,ada 3'nt'h diatas &ungsi in?ers dari &ungsi bi$ekti& & : A B di mana l'g 2 ialah & : B A dimana & 0 y 1= # y . d. *uatu &ungsi & : A B disebut &ungsi k'nstan $ika bayangan semua angg'ta A adalah satu angg'ta yang sama dari B. & : A B adalah &ungsi k'nstan bhb 0 B3B1 0 2A1 . & 0 2 1 = 3 e. *uatu &ungsi & : A B disebut &ungsi indentitas $ika bayangan dari setiap angg'ta dari A ialah dirinya sendiri. 0 -aerah asal dan saerah ka)an dari suatu &ungsi identits adalah himpunan yang sama 1. & : A A adalah &ungsi indentitas bhb.0 2A1. & 0 2 1 = 2 /elaslah bah)a suatu &ungsi identitas adalah &ungsi yang bi$ekti&.

Relasi dan Fungsi Haniek Sri Pratini, M. Pd.

Page 2