Anda di halaman 1dari 21

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam. Namun nyatanya negara dengan julukan lumbung energi ini justru mengalami krisis energi. Seperti fenomena yang sering terjadi di sekitar kita misalnya seperti melejitnya harga BBM, pemadaman listrik yang pernah terjadi di beberapa wilayah di Indonesia. Padahal jika dilihat dari aspek lain, sumber energi itu sendiri tidak hanya minyak bumi, namun sumber energi lain yang bisa dimanfaatkan adalah batubara, gas alam, panas bumi dan sumber-sumber energi terbarukan lainnya. Dalam mengatasi krisis energi ini, perlu dilakukan usaha penerapan sumber energi terbarukan di Indonesia seperti panas bumi. Potensi dari panas bumi itu sendiri dapat menjamin prospek kelangsungan energi di Indonesia dikarenakan persediaan panas bumi sangat banyak dan tidak akan habis terpakai. Geothermal (panas bumi) merupakan energi panas yang dihasilkan dan tersimpan di bawah permukaan bumi. Energi ini berasal dari asal pembentukan planet, yaitu peluruhan radioaktif dari mineral dan aktivitas vulkanik. Akibat perbedaan antara pusat dan permukaan maka terjadilah konduktivitas dimana energi panas ini bergerak dari pusat ke permukaan, yang disebut gradien geothermal. Panas bumi ini dapat dimanfaatkan sebagai pembangkit tenaga listrik dan ramah lingkungan. Beberapa negara seperti Kenya, Filipina, El-Savador, Islandia, sudah menerapkan pemanfaatan sumber energi panas bumi ini, untuk itu diharapkan agar di Indonesia juga menerapkan sistem ini demi kelangsungan kesejahteraan energi di Indonesia.

1.2 Rumusan Masalah 1. Apa itu energy panas bumi? 2. Di mana sajakah sumber-sumber dan cadangan energi panas bumi yang ada di Dunia dan di Indonesia sendiri ? Khususnya di Sumatera Selatan! 3. Bagaimana cara pengelolaan dan pemanfaatan dari sumber energi panas bumi?

1.3 Tujuan 1. Mengetahui definisi serta proses pembentukan energi panas bumi. 2. Mengetahui peranan energi panas bumi bagi kelangsungan energi di Indonesia. 3. Dapat menciptakan inovasi energy terkini dan bersifat terbarukan.

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pengertian Panas Bumi Menurut Pasal 1 UU No.27 tahun 2003 tentang Panas Bumi, Panas Bumi adalah sumber energi panas yang terkandung di dalam air panas, uap air, dan batuan bersama mineral ikutan dan gas lainnya yang secara genetik semuanya tidak dapat dipisahkan dalam suatu sistem panas bumi dan untuk pemanfaatannya diperlukan proses penambangan. Sistem panas bumi ialah terminologi yang digunakan untuk berbagai hal tentang sistem air-batuan dalam temperatur tinggi di laboratorium atau lapangan. Daerah panas bumi (geothermal area) atau medan panas bumi (geothermal field) ialah daerah dipermukaan bumi dalam batas tertentu dimana terdapat energi panas bumi dalam suatu kondisi hidrologi-batuan tertentu (Santoso, 2004). Geothermal, secara bahasa terbentuk dari dua kata yaitu geo yang berarti bumi dan thermal yang berarti panas. Jadi istilah geothermal sama saja dengan panas bumi. Geothermal dapat dimaknai sebagai energi panas yang terbentuk secara alami dibawah permukaan bumi. Sebuah sumber geothermal dapat didefinisikan sebagai reservoar di dalam bumi yang dapat menghasilkan panas yang bernilai ekonomis. Sedangkan sistem geothermal merupakan satu kesatuan yang terdiri dari beberapa komponen seperti cap rocks, reservoar, heat source, dll yang membentuk sebuah sumber geothermal. 2.2 Sejarah dan Pengembangan Pada abad ke-20, permintaan akan listrik membuat tenaga panas bumi dipertimbangkan sebagai sumber penghasil listrik. Pangeran Piero Ginori Conti menguji coba pembangkit listrik tenaga panas bumi yang pertama pada tanggal 4 Juli 1904 di Larderello, Italia. Pembangkit tersebut berhasil menyalakan empat buah bola lampu. Kemudian pada tahun 1911 pembangkit listrik tenaga panas bumi komersial pertama dibangun pula di situ. Pembangkit-pembangkit uji coba

dibangun di Beppu, Jepang dan di Kalifornia, Amerika Serikat pada tahun 1920, namun hingga tahun 1958 hanya Italia satu-satunya pemilik industri pembangkit listrik tenaga panas bumi. Pada tahun 1958, Selandia Baru menjadi penghasil listrik tenaga panas bumi terbesar kedua setelah Pembangkit Wairakei dioperasikan. Wairakei merupakan pembangkit pertama yang menggunakan teknologi flash steam.[9] Pada tahun 1960, Pacific Gas and Electric mulai mengoperasikan pembangkit listrik tenaga panas bumi pertama di Amerika Serikat di The Geysers, Kalifornia.[10] Turbin aslinya bertahan hingga 30 tahun dan menghasilkan daya bersih 11 megawatt.[11] Pembangkit listrik tenaga panas bumi dengan sistem siklus biner pertama kali diuji coba di Rusia dan kemudian diperkenalkan ke Amerika Serikat pada tahun 1981, akibat krisis energi tahun 1970-an dan perubahan-perubahan penting dalam kebijakan regulasi. Teknologi ini memungkinkan penggunaan sumber panas yang bersuhu lebih rendah dari sebelumnya. Pada tahun 2006, sebuah pembangkit dengan sistem siklus biner di mata air panas Chena, Alaska, Amerika Serikat mulai beroperasi, menghasilkan listrik dari sumber dengan rekor suhu terendah 57C. Pembangkit listrik tenaga panas bumi sampai dengan baru-baru ini hanya dapat dibangun pada sumber panas bumi dengan suhu yang tinggi dan berada dekat dengan permukaan tanah. Pengembangan pembangkit dengan sistem siklus biner dan peningkatan dalam teknologi pengeboran dan penggalian

memungkinkan dibuatnya Sistem Panas Bumi yang Ditingkatkan (Enhanced Geothermal Systems) dalam rentang geografis yang lebih besar. Proyek demostrasi sudah beroperasi di Landau-Pfalz, Jerman, and Soultz-sous-Forts, Perancis, sementara percobaan awal di Basel, Swiss dibatalkan setelah mengakibatkan gempa bumi. Proyek-proyek demonstrasi lainnya sedang dibangun di Australia, Inggris, dan Amerika Serikat. Efisiensi termal pembangkit listrik tenaga panas bumi pada umumnya rendah, berkisar 10-23%,karena fluida panas

bumi bersuhu lebih rendah dibandingkan dengan uap dari ketel uap. Berdasarkan hukum termodinamika suhu yang rendah ini membatasi efisiensi mesin kalor dalam memanfaatkan energi saat menghasilkan listrik. Panas sisa menjadi terbuang, kecuali jika dapat dipergunakan langsung secara lokal, misalnya untuk rumah kaca, kilang gergaji, atau sistem pemanasan distrik. Efisiensi sistem tidak memengaruhi biaya operasional sebagaimana pada pembangkit batubara atau pembangkit bahan bakar fosil lainnya, namun tetap berpengaruh terhadap kelangsungan hidup pembangkit. Untuk dapat menghasilkan energi lebih dari yang dipakai oleh pompa pembangkit, dibutuhkan ladang panas bumi bersuhu tinggi dan siklus termodinakmika khusus. Karena pembangkit listrik tenaga panas bumi tidak bergantung pada sumber energi yang berubah-ubah, seperti misalnya tenaga angin atau surya, faktor kapasitasnya (capacity factor) bisa cukup besar, pernah ditunjukkan dapat mencapai hingga 96%. Namun demikian, rata-rata global faktor kapasitas pembangkit listrik tenaga panas bumi adalah 74,5% pada tahun 2008 menurut IPCC 2.3 Proses Terjadinya Panas Bumi Komponen utama pembentuk suatu sistem panas bumi (Dwikorianto, 2006) adalah: 1. Sumber panas (heat source) 2. Batuan reservoir (permeable rock) 3. Batuan penutup (cap rock) 4. Serta aliran fluida (fluida circulation) Secara garis besar bumi ini terdiri dari tiga lapisan utama yaitu kulit bumi (crust), selubung bumi (mantel) dan inti bumi (core). Kulit bumi adalah bagian terluar dari bumi. Ketebalan dari kulit bumi bervariasi, tetapi umumnya kulit bumi di bawah suatu daratan (continent) lebih tebal dari yang terdapat di bawah suatu lautan. Di bawah suatu daratan ketebalan kulit bumi umumnya sekitar 35 kilometer sedangkan di bawah lautan hanya sekitar 5 kilometer. Batuan yang

terdapat pada lapisan ini adalah batuan keras yang mempunyai density sekitar 2.73 gr/cm3. Di bawah kulit bumi terdapat suatu lapisan tebal yang disebut selubung bumi (mantel) yang diperkirakan mempunyai ketebalan sekitar 2900 kilometer. Bagian teratas dari selubung bumi juga merupakan batuan keras. Bagian terdalam dari bumi adalah inti bumi (core) yang mempunyai ketebalan sekitar 3450 kilometer. Lapisan ini mempunyai temperatur dan tekanan yang sangat tinggi sehingga lapisan ini berupa lelehan yang sangat panas yang diperkirakan mempunyai density sekitar 10.2-11.5 gr/cm3. Diperkirakan temperatur pada pusat bumi dapat mencapai sekitar 6000 0F. Kulit bumi dan bagian teratas dari selubung bumi kemudian dinamakan litosfir (80-200 km). Bagian selubung bumi yang terletak tepat di bawah litosfir merupakan batuan lunak tapi pekat dan jauh lebih panas. Bagian dari selubung bumi ini kemudian dinamakan astenosfer (200-300 km). Di bawah lapisan ini, yaitu bagian bawah dari selubung bumi terdiri dari material-material cair, pekat dan panas, dengan density sekitar 3.3-5.7 gr/cm3. Hasil penyelidikan menunjukkan bahwa litosfer sebenarnya bukan merupakan permukaan yang utuh, tetapi terdiri dari sejumlah lempeng-lempeng tipis dan kaku. Lempeng-lempeng tersebut merupakan bentangan batuan setebal 64145 km yang mengapung di atas astenosfer. Lempeng-lempeng ini bergerak secara perlahan-lahan dan menerus. Di beberapa tempat lempeng-lempeng bergerak memisah sementara di beberapa tempat lainnya lempeng-lempeng saling mendorong dan salah satu diantaranya akan menujam di bawah lempeng lainnya. Karena panas di dalam astenosfere dan panas akibat gesekan, ujung dari lempengan tersebut hancur meleleh dan mempunyai temperatur tinggi (proses magmatisasi). Adanya material panas pada kedalaman beberapa ribu kilometer di bawah permukaan bumi menyebabkan terjadinya aliran panas dari sumber panas hingga ke pemukaan. Hal ini menyebabkan tejadinya perubahan temperatur dari bawah hingga ke permukaan bumi, dengan gradien temperatur rata-rata sebesar 30
0

C/km. Di perbatasan antara dua lempeng (daerah penujaman) harga laju aliran

panas umumnya lebih besar dari harga rata-rata tersebut. Hal ini menyebabkan

gradien temperatur di daerah tersebut menjadi lebih besar dari gradien temperatur rata-rata, sehingga dapat mencapai 70-80 0C/km. Pada dasarnya sistem panas bumi terbentuk sebagai hasil perpindahan panas dari suatu sumber panas ke sekelilingnya yang terjadi secara konduksi dan secara konveksi. Perpindahan panas secara konduksi terjadi melalui batuan, sedangkan perpindahan panas secara konveksi terjadi karena adanya kontak antara air dengan suatu sumber panas. Perpindahan panas secara konveksi pada dasarnya terjadi karena gaya apung (bouyancy). Air karena gaya gravitasi selalu mempunyai kecenderungan untuk bergerak kebawah, akan tetapi apabila air tersebut kontak dengan suatu sumber panas maka akan terjadi perpindahan panas sehingga temperatur air menjadi lebih tinggi dan air menjadi lebih ringan. Keadaan ini menyebabkan air yang lebih panas bergerak ke atas dan air yang lebih dingin bergerak turun ke bawah, sehingga terjadi sirkulasi air atau arus konveksi.

Terjadinya sumber energi panas bumi di Indonesia serta karakteristiknya adalah sebagai berikut: Ada tiga lempengan yang berinteraksi di Indonesia, yaitu lempeng Pasifik, lempeng India-Australia dan lempeng Eurasia. Tumbukan yang terjadi antara ketiga lempeng tektonik tersebut telah memberikan peranan yang sangat penting bagi terbentuknya sumber energi panas bumi. Tumbukan antara lempeng IndiaAustralia di sebelah selatan dan lempeng Eurasia di sebelah utara mengasilkan zona penunjaman (subduksi) di kedalaman 160-210 km di bawah Pulau JawaNusatenggara dan di kedalaman sekitar 100 km (Rocks et. al, 1982) di bawah Pulau Sumatera. Hal ini menyebabkan proses magmatisasi di bawah Pulau Sumatera lebih dangkal dibandingkan dengan di bawah Pulau Jawa atau Nusatenggara. Karena perbedaan kedalaman jenis magma yang dihasilkannya berbeda. Pada kedalaman yang lebih besar jenis magma yang dihasilkan akan lebih bersifat basa dan lebih cair dengan kandungan gas magmatik yang lebih tinggi sehingga menghasilkan erupsi gunung api yang lebih kuat yang pada akhirnya akan menghasilkan endapan vulkanik yang lebih tebal dan terhampar luas. Oleh karena itu, reservoir panasbumi di Pulau Jawa umumnya lebih dalam

dan menempati batuan volkanik, sedangkan reservoir panasbumi di Sumatera terdapat di dalam batuan sedimen dan ditemukan pada kedalaman yang lebih dangkal. (Budihardi: 1998) Berikut ini merupakan gambar terjadinya panas bumi di Indonesia :

Gambar 2.1 Proses Terjadinya Panas Bumi

2.4 Jenis-Jenis Energi Panas Bumi Jenis-jenis energi panas bumi dibagi menjadi 3 macam, yaitu: 1. Energi Uap Basah Pemanfaatan energi panas bumi yang ideal adalah bila panas bumi yang keluar dari perut bumi berupa uap kering, sehingga dapat digunakan langsung untuk menggerakkan turbin generator listrik. Namun uap kering yang demikian ini jarang ditemukan termasuk di Indonesia dan pada umumnya uap yang keluar berupa uap basah yang mengandung sejumlah air yang harus dipisahkan terlebih dulu sebelum digunakan untuk menggerakkan turbin. Jenis sumber energi panas bumi dalam bentuk uap basah agar dapat dimanfaatkan maka terlebih dahulu harus dilakukan pemisahan terhadap kandungan airnya sebelum digunakan untuk menggerakan turbin. Uap basah yang keluar dari perut bumi pada mulanya berupa air panas bertekanan tinggi yang pada saat menjelang permukaan bumi terpisah menjadi kira-kira 20 % uap dan 80 % air. Atas dasar ini maka untuk dapat memanfaatkan jenis uap basah ini diperlukan separator untuk memisahkan antara

uap dan air. Uap yang telah dipisahkan dari air diteruskan ke turbin untuk menggerakkan generator listrik, sedangkan airnya disuntikkan kembali ke dalam bumi untuk menjaga keseimbangan air dalam tanah. 2. Energi Panas Bumi Air Panas Air panas yang keluar dari perut bumi pada umumnya berupa air asin panas yang disebut brine dan mengandung banyak mineral. Karena banyaknya kandungan mineral ini, maka air panas tidak dapat digunakan langsung sebab dapat menimbulkan penyumbatan pada pipa-pipa sistim pembangkit tenaga listrik. Untuk dapat memanfaatkan energi panas bumi jenis ini, digunakan sistem biner (dua buah sistem utama) yaitu wadah air panas sebagai sistem primemya dan sistem sekundernya berupa alat penukar panas (heat exchanger) yang akan menghasilkan uap untuk menggerakkan turbin. Energi panas bumi uap panas bersifat korosif, sehingga biaya awal pemanfaatannya lebih besar dibandingkan dengan energi panas bumi jenis lainnya. 3. Energi Panas Bumi Batuan Panas Energi panas bumi jenis ketiga berupa batuan panas yang ada dalam perut bumi terjadi akibat berkontak dengan sumber panas bumi (magma). Energi panas bumi ini harus diambil sendiri dengan cara menyuntikkan air ke dalam batuan panas dan dibiarkan menjadi uap panas, kemudian diusahakan untuk dapat diambil kembali sebagai uap panas untuk menggerakkan turbin. Sumber batuan panas pada umumnya terletak jauh di dalam perut bumi, sehingga untuk memanfaatkannya perlu teknik pengeboran khusus yang memerlukan biaya cukup tinggi.

2.5 Pengelolaan dan Pemanfaatan Energi Panas Bumi 2.5.1 Bidang Industri Pada bidang industri, pemanfaatan sumber energi panas bumi ini sangat banyak, antara lain sebagai berikut : a. Penggerak Turbin Listrik dari Uap Basah Bagian pusat bumi ini sangat panas sehingga dapat mencairkan batu dengan cukup mudah. Apabila Anda pergi menuju kerak bumi, suhu akan lebih

tinggi dan lebih tinggi. Menurut perkiraaan, untuk setiap empat puluh meter (belum sampai setengah panjang lapangan sepak bola), suhu naik sekitar 34o F. Akibatnya adalah batu-batu yang panas di bawah permukaan bumi ikut memanaskan air sehingga terjadilah peguapan. Untuk memanfaatkannya, kemudian dibuat lubang dengan cara mengebor ke daerah panas bumi pada kedalaman tertentu sehingga uap air dapat terbebaskan. Selama proses, di stasiun panas bumi dibor lubang seperti disebutkan di atas dan dibuat sumur injeksi dimana air dingin dipompakan ke sumur. Air dingin ini kemudian dialirkan melewati batu panas dan kemudian tekanan digunakan untuk mengeluarkan air kembali. Setelah air panas mencapai permukaan, air tersebut berubah menjadi uap, yang kemudian dimanfaatkan sebagai sumber daya. Uap yang sudah dibersihkan dan disaring lalu digunakan untuk menggerakkan turbin listrik, yang pada gilirannya akan mengahasilkan energi listrik. Perhatikan gambar 2.2 berikut:

Gambar 2.2 Pembangkit listrik turbin uap basah b. Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi adalah Pembangkit Listrik (Power generator) yang menggunakan Panas bumi (Geothermal) sebagai energi penggeraknya. Indonesia dikaruniai sumber panas bumi yang berlimpah karena

banyaknya gunung berapi di indonesia, dari pulau-pulau besar yang ada, hanya pulau Kalimantan saja yang tidak mempunyai potensi panas bumi. Untuk membangkitkan listrik dengan panas bumi dilakukan dengan mengebor tanah di daerah yang berpotensi panas bumi untuk membuat lubang gas panas yang akan dimanfaatkan untuk memanaskan ketel uap (boiler) sehingga uapnya bisa menggerakkan turbin uap yang tersambung ke Generator. Pembangkit yang digunakan untuk merubah panas bumi menjadi tenaga listrik secara umum mempunyai komponen yang sama dengan power plant lain yang bukan berbasis panas bumi, yaitu terdiri dari generator, turbin sebagai penggerak generator, heat exchanger, chiller, pompa, dan sebagainya. Ada tiga macam teknologi pembangkit listrik tenaga panas bumi yaitu dry steam, flash steam, dan binary cycle. Ketiga system yang diterapkan untuk mengeksplorasi sumber energi panas bumi pada dasarnya bersifat relatif yang penerapannya dapat disesuaikan dengan kondisi di lapangan. Lihat pada gambar 2.3 berikut :

Gambar 2.3 Pembangkit listrik tenaga panas bumi sistem dry steam c. Penggerak Turbin Listrik dari Air Panas Air panas yang keluar dari perut bumi pada umumnya berupa air asin panas yang disebut "brine" dan mengandung banyak mineral. Karena banyaknya

kandungan mineral ini, maka air panas tidak dapat digunakan langsung sebab dapat menimbulkan penyumbatan pada pipa-pipa sistim pembangkit tenaga listrik. Untuk dapat memanfaatkan energi panas bumi jenis ini, digunakan sistem biner (dua buah sistem utama) yaitu wadah air panas sebagai sistem primemya dan sistem sekundernya berupa alat penukar panas (heat exchanger) yang akan menghasilkan uap untuk menggerakkan turbin. Energi panas bumi "uap panas" bersifat korosif, sehingga biaya awal pemanfaatannya lebih besar dibandingkan dengan energi panas bumi jenis lainnya. Skema pembangkitan tenaga listrik panas bumi "air panas" sistem biner dapat dilihat pada Gambar 2.4 berikut :

Gambar 2.4 penggerak turbin listrik dari air panas d. Penggerak Turbin Listrik dari Batuan Panas Energi panas bumi jenis ini berupa batuan panas yang ada dalam perut bumi akibat berkontak dengan sumber panas bumi (magma). Energi panas bumi ini harus diambil sendiri dengan cara menyuntikkan air ke dalam batuan panas dan dibiarkan menjadi uap panas, kemudian diusahakan untuk dapat diambil kembali sebagai uap panas untuk menggerakkan turbin. Sumber batuan panas pada umumnya terletak jauh di dalam perut bumi, sehingga untuk

memanfaatkannya perlu teknik pengeboran khusus yang memerlukan biaya cukup

tinggi. Skema pembangkitan tenaga listrik energi panas bumi "batuan panas" dapat dilihat pada gambar 2.5 berikut :

Gambar 2.5 penggerak turbin listrik dari batuan panas

BAB III CADANGAN ENERGI PANAS BUMI 3.1 Persediaan Energi Panas Bumi di Dunia Saat ini panas bumi (geothermal) mulai menjadi perhatian dunia karena energi yang dihasilkan dapat dikonversi menjadi energi listrik, selain bebas polusi. Beberapa pembangkit listrik bertenaga panas bumi telah terpasang di manca negara seperti di Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Italia, Swedia, Swiss, Jerman, Selandia Baru, Australia, dan Jepang. Amerika saat ini bahkan sedang sibuk dengan riset besar mereka di bidang geothermal dengan nama Enhanced Geothermal Systems (EGS). EGS diprakarsai oleh US Department of Energy (DOE) dan bekerja sama dengan beberapa universitas seperti MIT, Southern Methodist University, dan University of Utah. Proyek ini merupakan program jangka panjang dimana pada 2050 geothermal meru-pakan sumber utama tenaga listrik Amerika Serikat. Program EGS bertujuan untuk meningkatkan sumber daya geothermal, menciptakan teknologi ter-baik dan ekonomis, memperpanjang life time sumur-sumur produksi, ekspansi sumber daya, menekan harga listrik geothermal menjadi seekono-mis mungkin, dan keunggulan lingkungan hidup. Program EGS telah mulai aktif sejak Desember 2005 yang lalu.

3.2

Persediaan Energi Panas Bumi di Indonesia 3.2.1 Potensi Sumberdaya dan Cadangan Panas Bumi Indonesia. Tabel 1. Potensi Sumberdaya Energi Panas Bumi di Indonesia. Sumber : http://majalahenergi.com/status/energi-panas-bumi-status-saatini-2010, 2009. Potensi Sumberdaya Lokasi (Resources), Mwe Spekulatif Hipotetis Sumatera Jawa Bali Nusa Tenggara Kalimantan Sulawesi Maluku Papua Total 265 Lokasi Total Indonesia 5275 2235 70 340 45 1000 595 75 9060 2121 1771 359 92 37 4380 Cadangan (Reserve), MWE Kapasitas Terpasang Terduga Mungkin Terbukti (MWe) (Probable) (Possible) (Proven) 5845 3265 226 747 982 327 11392 15 885 150 1050 14730 1189 28170 MW 380 1815 15 78 2288 12 1117 -

60 -

13440

Gambar 3.1 Peta Potensi Panas Bumi di Indonesia 3.3.2 Lapangan Panas Bumi Telah Dimanfaatkan untuk Pembangkit Listrik. Tabel 2. Lapangan Panas Bumi untuk pembangkit Listrik. Sumber : http://majalahenergi.com/status/energi-panas-bumi-status-saatini-2010, . 2009. No. Lapangan Pengelola WKP PT Kamojang (Jabar) Pertamina Geothermal Energy (PGE) JOC PGE Chevron 2 Darajat (Jabar) PGE Geothermal Indonesia (CGI) Ltd 3 Gn Salak (Jabar) PGE JOC PG121E IP 375 CGI 255 IP PGE PGE Pengembang Hulu Hilir (PLTP) PT PLN / PT. Indonesia Power (IP) 60 140 Kapasitas (MW)

Chevron Geothermal Salak (CGS) Ltd Star Energy 4 Wayang Windu (Jabar) PGE JOC PGE Magma Nusantara Ltd Geothermal (Wayang Windu) Ltd 5 Lahendong (Sulut) PGE PGE IP PT Dizamatran 6 Sibayak (Sumut) 7 Dieng (Jateng) PGE PGE PGE PGE PT Geo DiPa IP 2 60 60 10 227 CGS

Kapasitas PLTP Total 1189 MW Pada saat ini PT PGE sedang melakukan pengembangan 5 (lima) lapangan baru yakni Ulubelu, Lumutbalai, Hululais, Sungaipenuh, Kotamobagu dan Karaha serta ekspansi pengembangan Kamojang dan Lahendong. Di lapangan Ulubelu telah di bor 4 (empat) sumur dan di Lumutbalai telah dibor 6 (enam) sumur. Hasil uji produksi mengindikasikan di Ulubelu terdapat sistem 2 phase bersuhu 280oC pada kedalaman di atas 1350 meter, sedangkan di Lumutbalai terdapat sistem 2 phase bersuhu 260oC pada kedalaman di atas 1100 meter. Disamping oleh PT Pertamina Geothermal Energy, ada beberapa WKP Panas Bumi yang dikelola PT PLN, yaitu WKP Panas Bumi Ulumbu (NTB), Tulehu (Maluku) dan Bora (Sulawesi). Untuk mencapai target yang telah ditetapkan pemerintah, pada tahun 2008 Pemerintah menetapkan 18 (delapan belas) area panas bumi sebagai Wilayah Kerja Pertambangan (WKP) Panas Bumi baru dimana beberapa diantaranya telah dilelang yaitu WKP Panas Bumi Tangkuban Perahu (Jawa Barat), Cisolok dan Cisukarame (Jawa Barat), Tampomas (Jawa Barat), Jailolo (Maluku Utara), Sokoria (NTT) dan Jaboi (NAD) [6]. Daftar WKP dan pemenang lelang diberikan pada Lampiran A. WKP lain statusnya dalam proses lelang atau akan dilelang. Pemerintah sedang mempersiapkan beberapa area panas bumi lain

untuk ditetapkan menjadi WKP Panas Bumi dan kemudian di lelang. Sebagai dasar pertimbangan dalam menetapkan koordinat batas-batas WKP, Pemerintah telah memberikan memberikan penugasan kepada beberapa perusahaan untuk melakukan survei pendahuluan di beberapa area panas bumi, antara lain di area panas bumi Guci (Jawa Tengah), Muaralaboh (Sumatera Barat), Baturaden (Jawa Tengah), Pematang Belirang (Lampung), Kalianda (Lampung) dan Rantau Dadap (Sumatera Selatan). 3.3 Persediaan Energi Panas Bumi di Sumatera Selatan Sumberdaya panas bumi di Sumatera Selatan terdapat di enam lokasi yang umumnya terletak di bagian barat, tepatnya di Lajur Pegunungan Bukit Barisan. Kabupaten Muara Enim memiliki dua lokasi, yaitu Rantau Dedap (225 MWe) dan Lumut Balai (835 MWe), Kabupaten OKU Selatan mempunyai tiga lokasi, yaitu Ulu Danau (231 Mwe), Marga Bayur (339 Mwe) dan Wai Selabung (231 MWe), dan Kabupaten Lahat memiliki satu lokasi, yaitu di Tanjung Sakti (50 MWe). Rincian lokasi dan status cadangan panas bumi di Sumatera Selatan ditunjukkan pada tabel berikut ini: Tabel 3. Potensi Panas Bumi di Sumatera Selatan. Sumber : Pusat Sumberdaya Geologi (2009) Daerah Prospek Sumberdaya (MWe) Spekulatif Hipotetik Terduga Mungkin Terbukti Tanjung Sakti Rantau Dedap Lumut Balai Ulu Lahat 50 Muara Enim Muara Enim OKU 225 235 6 600 835 231 225 225 50 Cadangan (MWe) Subtotal (MWe)

Kab

Danau Marga Bayur Wai

Selatan OKU Selatan OKU 6 392 794 231 1.911 145 194 339

Selabung Selatan 225 Sub Total (Mwe) 725

Status potensi panas bumi di Lapangan Lumut Balai (600 MWe) dan Marga Bayur (194 MWe) saat ini masih dalam status terduga, sedangkan status cadangan dari 4 daerah prospek lainnya baru hipotetik. Untuk dapat dikembangkan, lapangan panas bumi tersebut masih memerlukan tahap eksplorasi lanjutan.

BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan Geothermal (panas bumi) merupakan energi panas yang dihasilkan dan tersimpan di bawah permukaan bumi. Energi ini berasal dari asal pembentukan planet, yaitu peluruhan radioaktif dari mineral dan aktivitas vulkanik. Energi panas bumi merupakan sumber energi yang terbarukan. Keberadaannya melimpah di seluruh dunia. Hal ini tentu sangat menjamin keberlangsungan energi di dunia khususnya di Indonesia Provinsi Sumatera Selatan. Sumber energi terbarukan ini dapat dikembangkan dalam berbagai aplikasi seperti pembangkit turbin listrik. Bagi sarjana terapan tentunya sangat membuka peluang untuk menciptakan inovasi-inovasi energy baru dan terbarukan sebagai sarana terciptanya lumbung energi yang menjanjikan dan ramah lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA http://id.wikipedia.org/wiki/Energi_panas_bumi/2013/03/20 http://www.indoenergi.com/2013/03/18kelebihan-dan-kekurangan-energi.html http://don85.wordpress.com/2008/01/18/energy-alternative-geothermal/ http://psdg.bgl.esdm.go.id/2013/03/20/ sumber-daya-panas-bumi-indonesia http://rudimayardi.wordpress.com/2013/03/19/pemanfaatan-energi-panas-bumi/ http://teknologi.kompasiana.com/terapan/2013/03/20/mengenal-energigeothermal/ http://chairunisaboston.wordpress.com/2013/07/11/indonesia-negeri-terkayaenergi-panas-bumi/ http://www.tempo.co/topik/masalah/2207/Panas-Bumi--Geothermal http://whatindonews.com/id/post/296/potensi_energi_panas_bumi_indonesia_ capai_29_000_mw