Anda di halaman 1dari 16

Laporan Praktikum Ekologi Tumbuhan

Asosiasi Interspesifik
Kelompok 6 Vita Istiqomah Anggi Dyah Aristi Ria Lestari Shelena Nugraha R. Dewi Irma Fitriyani (3415110315) (3415111375) (3415111382) (3415111389) (3415111390)

Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Jakarta 2013

1|Page

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Komponen biotik dan abiotik merupakan komponen pokok ekosistem yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Antara komponen biotik dengan abiotik saling mempengaruhi. Hubungan antarkomponen dalam ekosistem tersebut disebut hubungan ekologi. Interaksi antar spesies merupakan sentral penting dari ekologi karena interaksi bertujuan untuk memenuhi kebutuhan dan upaya dalam melangsungkan kehidupan. Komunitas biotik terbentuk dari asosiasi dari populasi-populai yang didalamnya terdapat berbagai interaksi anatara populasi-populasi yang ada ada suatu komunitas. Didalam suatu komunitas, terdapat sejumlah faktor-faktor biotik dan abiotik yang mempengaruhi penyebaran, kelimpahan, dan interaksi antar spesies. Interaksi antar spesies dapat saling menguntungkan atau bahkan tidak mempunyai interaksi sama sekali, sehingga dapat menghasilkan pola tertentu yang disebut asosiasi interspesifik. Asosiasi ini dapat positif, negatif atau tidak terdapat asosiasi. Interaksi yang terjadi antara setiap organisme dengan lingkungannya merupakan suatu proses yang kompleks karena didalam lingkungan hidup terdapat banyak komponen lingkungan. Berdasarkan konsep dasar pengetahuan ekologi, komponen lingkungan yang dimaksud tersebut dinamakan pula komponen ekologi karena setiap komponen lingkungan tak dapat berdiri sendiri, melainkan selalu berhubungan satu sama lain dan saling mempengaruhi baik secara langsung maupun tidak langsung. Suatu komunitas terbentuk atas banyak spesies yang membentuk suatu populasi. Spesies-spesies pada populasi berbeda yang terdapat dalam satu komunitas akan saling mempengaruhi satu sama lain. Seringkali dua atau lebih spesies pada populasi saling berinteraksi. Interaksi tersebut dapat menghasilkan pola-pola yang berbeda, sehingga praktikum ini dilakukan tidak lain untuk mengetahui tingkat asosiasi antara spesies 1 dengan spesies 2 melalui sebuah pengukuran. Dengan pengukuran tersebut akan diketahui jenis pola interaksi/asosiasi diantara kedua spesies tersebut.

1.2. Tujuan 1. Mengamati asosisasi interspesifik di habitat. 2. Menentukan derajat asosiasi antara 2 spesies.
2|Page

BAB II LANDASAN TEORI

2.1. Definisi Kompetisi dan Asosiasi Mahluk hidup termasuk tumbuhan tidak bias hidup sendiri di habitatnya. Untuk melangsungkan kehidupannya tumbuhan perlu berinteraksi satu sama lain. Salah satu bentuk interaksi tersebut adalah asosiasi interspesifik. Suatu komunitas yang terrbentuk atas banyak spesies, sebagian diantaranya akan dipengaruhi oleh kehadiran atau ketidakhadiran anggota spesies lain dari komunitas tersebut. Seringkali dua atau lebih spesies berinteraksi. Interaksi tersebut bisa positif (saling menguntungkan) atau negative (merugikan bagi salah satu pihak). Interaksi adalah hubungan antara mahluk hidup yang satu dengan yang lainnya. Ada dua macam interaksi berdasarkan jenis organism yaitu intrasepsifik dan interspesifik. Interaksi interspesifik adalah hubungan antara satu jenis spesies, sedangkan interspesifik adalah antara dua spesies yang berbeda. Kompetisi adalah interakksi antar individu yang muncul akibat kesamaan kebutuhan akan sumberdaya yang bersifat terbatas, sehingga membatasi kemampuan bertahan (survival), pertumbuhan dan reproduksi individu penyaing (Begon et al .1990), sedangkan Molles (2002) kompettisi didefinisikan sebagai interaksi antar individu yang berakibat pada pengurangan kemampuan hidup mereka. Kompetisi dapat terjadi antar individu (intraspesifik) dan antar individu pada satu spesies yang sama atau interspesifik. Kompetisi dapat didefenisikan sebagai salah satu bentuk interaksi antar tumbuhan yang saling memperebutkan sumber daya alam yang tersedia terbatas pada lahan dan waktu sama yang menimbulkan dampak negatif terhadap pertumbuhan dan hasil salah satu spesies tumbuhan atau lebih. Sumber daya alam tersebut, contohnya air, hara, cahaya, CO2, dan ruang tumbuh (Kastono,2005). Definisi kompetisi sebagai interaksi antara dua atau banyak individu apabila (1) suplai sumber yang diperlukan terbatas, dalam hubungannya dengan permintaan organisme atau (2) kualitas sumber bervariasi dan permintaan terhadap sumber yang berkualitas tinggi lebih banyak.organisme mungkin bersaing jika masing-masing berusaha untuk mencapai sumber yang paling baik di sepanjang gradien kualitas atau apabila dua individu mencoba menempati tempat yang sama secara simultan. Sumber yang dipersaingkan oleh individu

3|Page

adalah untuk hidup dan bereproduksi, contohnya makanan, oksigen, dan cahaya (Noughton, 1990). Secara teoritis ,apabila dalam suatu populasi yang terdiri dari dua spesies , maka akan terjadi interaksi diantara keduanya. Bentuk interaksi tersebut dapat bermacammacam,salah satunya adalah kompetisi. Kompetisi dalam arti yang luas ditujukan pada interaksi antara dua organisme yang memperebutkan sesuatu yang sama. Kompetisi antar spesies merupakan suatu interaksi antar dua atau lebih populasi spesies yang mempengaruhi pertumbuhannya dan hidupnya secar merugikan.Bentuk dari kompetisi dapat bermacam-macam. Kecenderungan dalam kompetisi menimbulkan adanya pemisahan secara ekologi , spesies yang berdekatan atau yang serupa dan hal tersebut di kenal sebagai azaz pengecualian kompetitif ( competitive exclusion principles ) (Ewusie,1990). Kompetisi dalam suatu komunitas dibagi menjadi dua , yaitu

Kompetisi sumber daya (resources competition atau scramble atau exploitative competition ), yaitu kompetisi dalam memanfaatkan secara bersama-sama sumber daya yang terbatas Inferensi (inference competition atau contest competition), yaitu usaha pencarian sumber daya yang menyebabkan kerugian pada individu lain, meskipun sumber daya tersebut tersedia secara tidak terbatas. Biasanya proses ini diiringai dengan pengeluaran senyawa kimia (allelochemical) yang berpengaruh negatif pada individu lain. Alelopati (Allelopathy) adalah efek negatif (menghambat perkecembahan dan pertumbuhan) yang ditimbulkan oleh suatu tanaman pada tanaman lain yang ada disekitarnya melalaui pelepasan senyawa kimia yang berasal dari proses metabolism sekunder (Muller-Dombois & Ellenberg, 1974; Soerianegara & Indrawan, 1980; Lamberrs, 1998; Muller, 1990 yang dikutip oleh Hierro & Callawai, 2003). Namun tidak semua alelopati bersifat negatif, ada beberapa senyawa alelopati yang bersifat positif baik secara langsung ataupun tidak langsung (Lambers et al. 1998; Kerbs, 2002; Ferguson & Rathinasabapathi, 2003; Broz & Vivanco, 2006). Makhluk hidup termasuk tumbuhan tidak bisa hidup sendiri di habitatnya.Untuk melangsungkan kehidupannya tumbuhan perlu berinteraksi satu sama lain. Salah satu bentuk interaksi tersebut adalah asosiasi interspesifik. Suatu komunitas yang terbentuk atas banyak spesies, sebagian diantaranya akan dipengaruhi oleh kehadiran atau ketidakhadiran anggota spesies lain dari komunitas tersebut. Seringkali dua atau lebih spesies berinteraksi. Interaksi tersebut bisa positif (menguntungkan kedua pihak) atau negatif (merugikan bagi salah satu).
4|Page

Persaingan akan terjadi apabila sejumlah organisme bergantung pada sumber yang sama. Persaingan dapat terjadi antara anggota-anggota spesies yang berbeda (interspesifik) atau antara anggota spesies yang sama (intraspesifik). Seringkali juga ditemukan adanya interaksi yang saling menguntungkan antar individu melalui hidup berdampingan. Terutama bila dilihat dalam skala makro seperti proses suksesi. Dengan demikian antara tumbuhan yang satu dengan yang lainnya biasanya terdapat suatu keterikatan. Ini merupakan kecenderungan yang terjadi di alam. Untuk mengetahui tingkat kedekatan antar organisme tumbuhan tersebut diperlukan suatu pengukuran. Dengan suatu pengukuran dapat ditentukan batas hubungan interspesifik antara suatu spesies dengan spesies yang lainnya, sehingga dapat diketahui perubahan dalam tingkat asosiasi yang digunakan untuk mencirikan suatu perubahan antara spesies yang dimaksud. Pengukuran yang digunakan adalah dengan koefisien asosiasi atau derajat asosiasi.

2.2. Macam-Macam Interaksi Kompetisi Kompetisi dibedakan menjadi :


1. Kompetisi intraspesifik

yakni persaingan antara organisme yang sama dalam lahan yang sama. Pada latihan dalam laboratorium dalam persaingan intraspesifik diambil contoh hasil telur pada Drosophyla dalam kaitannya dengan rapatan populasi. Dalam percobaan ini pengaruh rapatan populasi pada kecepatan produksi telur pada lalat buah Drosophyla akan dipelajari sebagai suatu contoh persaingan intraspesifik. Tempat penimbunan telur akan dibuat tetap dan jumlah lalat betina bertambah secara logaritmik ( Michael ,1994 )

2. Kompetisi interspesifik

yakni persaingan antara organisme yang beda spesies dalam lahan yang sama. Adanya lebih dari satu spesies dalam suatu habitat menaikkan ketahanan lingkungan kapan pun spesies lain bersaing secara serius dengan spesies pertama untuk beberapa sumber penting, hambatan pertumbuhan terjadi dalam kedua spesies. Hokum Gause menyatakan bahwa tidak ada spesies dapat secara tak terbatas menghuni ceruk yang sama secara serentak. Salah satu dari spesies-spesies itu akan hilang atau setiap spesies menjadi makin bertambah efisien dalam memanfaatkan atau mengolah bagian
5|Page

dari ceruk tersebut dengan demikian keduanya akan mencapai keseimbangan. Dalam situasi terakhir, persaingan interspesifik berkurang karena setiap spesies menghuni suatu ceruk mikro yang terpisah (Michael, 1994).

Persaingan diantara tumbuhan secara tidak langsung terbawa oleh modifikasi lingkungan. Di dalam tanah, system-sistem akan bersaing untuk air dan bahan makanan, dan karena mereka tak bergerak, ruang menjadi faktor yang penting. Di atas tanah, tumbuhan yang lebih tinggi mengurangi jumlah sinar yang mencapai tumbuhan yang lebih rendah dan memodifikasi suhu, kelembapan serta aliran udara pada permukaan tanah (Michael, 1994).

3. Intraplant competition

yakni persaingan antara organ tanaman, misalnya antar organ vegetatif atau organ vegetatif lawan organ generatif dalam satu tubuh tanaman
4. Interplant competition

yakni persaingan antar dua tanaman berbeda atau bersamaan spesiesnya (dapat pula terjadi pada intra maupun interplant competition). (Kastono , 2005) Teknik koefisien asosiasi atau derajat interspesifik menggunakan tabel kontingensi yang memperlihatkan 4 pengamatan yang mungkin ditemukan. Jika pengamatan tipe a dan d yang banyak berarti asosiasi positif dan jika tipe b dan c yang banyak berarti asosiasi negatif. Bila tidak ada asosiasi seluruh tipe sama banyak. Kekuatan asosiasi antar 2 spesies dalam tabel kontingensi dapat diperkirakan dengan menghitung koefisien asosiasi dengan menggunakan formula (rumus) berikut: Jika ad bc Jika bc > ad dan d a Jika bc > ad dan a > d . 2.3. Tridax procumbern Tanaman ini bentuknya berupa tanaman semak hannya saja sedikit menggerombol dan mejalar. Sebagai tanaman tropis, Tridax procumbern terbiasa hidup di tanah kurang subur atau gersang. Ciri-ciri morfolgi tanaman ini diantaranya seluruh permukaan daunnya dipenuhi bulu-bulu halus. Bunganya terdiri dari mahkota berwarna kuning, sepanjang batangnya dipenuhi bulu-bulu halus dan bila tercabut dari tempatnya hidup,
6|Page

maka maka maka

C = ad-bc/(a+b)(b+d) C = ad-bc/(a+b)(a+c) C = ad-bc/(b+d)(c+d)

akar serabutnya mudah patah. Sering kali tumbuh disela-sela tanaman bunga di kebun, tanaman perkebunan diladang atau tegalan, hidup sebagai tanaman gulma. Tanaman ini biasa hidup di tanah-tanah lapang. Lama hidup herba perdu ini sekitar 2 bulan. Hidup bergerombol. Tinggi pohonnya tidak lebih dari 50 cm dan disetiap ujung batangnya terdapat sekuntum bunga yang bentuknya kecil. (www.wikipedia.com) 2.4. Mimosa sp. Mimosa sp. Adalah perdu pendek anggota suku polong-polongan yang mudah dikenal karena daun-daunnya yang dapat secara cepat menutup dengan sendirinya saat disentuh. Kelayuan ini bersifat sementara karena setelah beberapa saat keadaannya pulih seperti semula. Daun berupa daun majemuk menyirip ganda dua yang sempurna. Helaian anak daun berbentuk memanjang smapai lanset, ujung runcing, pangkal memundar, tepi rata. Batang berbentuk bulat. Pada seluruh batangnya terdapat rambut dan mempunyai duri yang menempel. Memiliki akar pena yang sangat kuat. (www.wikipedia.com)

7|Page

BAB III METODOLOGI

3.1. Lokasi dan Waktu Pengamatan Pengamatan dilakukan di lapangan velodrome, kampus B UNJ pada hari Rabu, 6 November 2013, pukul 10.30 sampai dengan 11.30 WIB.

3.2. Alat dan Bahan a. Tali raffia b. Meteran atau penggaris c. Pancang d. Alat tulis e. Gunting f. Kuadrat ukuran 50 X 50 cm g. Alat hitung 3.3. Cara Kerja 1) Menentukan lokasi yang akan diamati tingkat asosiasi spesies tumbuhannya 2) Membuat transek dengan tali raffia 3) Menentukan spesies tumbuhan yang akan ditentukan derajat asosiasinya 4) Menempatkan kuadrat sebanyak 100 kali sepanjang transek 5) Mencatat kehadiran spesies tumbuhan yang diamati pada setip kuadrat. Misalnya Mimosa dengan Imperata. Jika keduanya ada (a), jika hanya Mimosa (b), jika hanya Imperata (c), dan jika keduanya tiada (d) 6) Menguji data dengan Khi Kuadrat pada taraf 5% denggan df= 1 adalah 3,83

8|Page

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan

No. a plot 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25

No. A b C D plot 26 b = 23

No. a plot 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75

B c

No. a plot 76 77 78 79

b c d

27 28 29 30 31 32

d = 17
9|Page

80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90

33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50

91 92 93 94 95 96 97 98 99 100

a = 43

c = 17

Keterangan : a : Tridax sp. (sp1) dan Mimosa sp. (sp2) ada b : jika hanya Tridax sp. (sp1) c : jika hanya Mimosa sp. (sp2) d : tidak ada keduanya

1. Tabel kontingensi 2x2 untuk menentukan derajat asosiasi interspesifik antara Tridax sp. (sp1) dengan Mimosa sp. (sp2) Sp1 Sp2 Ada Tidak Ada 43 17 Amati Tidak 23 17 Harapan Ada 39,6 20,4 Tidak 26,4 13,6

Frekuensi harapan untuk a : ( ) ( ) ( ) ( )

Frekuensi harapan untuk b : ( ) ( ) ( ) ( )

Frekuensi harapan untuk c : ( ) ( ) ( ) ( )

Frekuensi harapan untuk d : ( ) ( ) ( ) ( )

2. Uji Khi Kuadrat a. Hipotesis H0 : Tidak terdapat asosiasi antara Tridax sp. dengan Mimosa sp. H1 : Terdapat asosiasi antara Tridax sp. dengan Mimosa sp. b. Data Sampel df = 1 = 0,05
10 | P a g e

X2-tabel = 3,83

a = 43 f ha = 39,6

b = 23 f hb = 26,4

c = 17 f hc = 20,4

d = 17 f hd = 13,6

c. Kriteria Pengujian Tolak H0 Terima H0 d. Perhitungan


( ) (

bila X2-hitung > X2-tabel bila X2-hitung < X2-tabel


) ) ( ) ( )

( (

( )

Jadi, X2-hitung < X2-tabel = 2,15 < 3,83 Terima H0 e. Kesimpulan Terima H0 pada = 0,05 yang berarti bahwa tidak terdapat asosiasi antara Tridax sp. dengan Mimosa sp.

3. Derajat Asosiasi Karena ad bc, maka:

( ( )( ( )

)( ( )(

) )( ) )

11 | P a g e

4.2. Pembahasan

Pada praktikum kali ini mengenai asosiasi interspesifik yang memiliki tujuan untuk mengamati asosiasi interspesifik antara Spesies 1 (Tridax sp.) dan Spesies 2 (Mimosa sp.). Praktikum dilakukan dengan menggunakan teknik sampling yaitu metode plot atau metode kuadrat. Kondisi lokasi pengamatan di tempat yang terbuka tanpa naungan.Pada tiap kuadrat yang dikerjakan, hadir atau tidaknya kedua spesies dicatat, kemudian disusun dalam tabel contingency. Tabel tersebut merupakan data pengamatan, data yang diharapkan, mengasumsikan bahwa distribusi dua spesies yang diamati adalah secara acak lengkap, dapat dibandingkan dengan rumus khi-kuadrat (X2). Dari hasil pengamatan didapatkan cuplikan tipe a berjumlah 43, tipe b berjumlah 23, tipe c berjumlah 17, dan tipe d berjumlah 17. Dari hasil pengamatan, tipe a merupakan tipe yang paling banyak yaitu berjumlah 43 dengan frekuensi harapan 39,6, sedangkan tipe yang sedikit adalah tipe c dan d yaitu berjumlah sama yaitu 17 dengan frekuensi harapan masing-masing adalah 20,4 dan 13,6. Berdasarkan hasil perhitungan didapatkan X2-hitung sebesar 2,15 dengan X2-tabel sebesar 3.83 pada =5%, didapatkan hasil yaitu terima Ho karena X2-hitung lebih kecil dari X2-tabel yang menunjukkan tidak terdapat asosiasi antara Tridax sp. (sp1) dengan Mimosa sp. (sp2). Tidak adanya asosiasi antara kedua spesies menunjukkan bahwa kedua spesies ini bebas satu sama lain (independent). Tidak seperti teori yang menjelaskan bahwa organisme dalam suatu komunitas adalah bersifat saling bergantungan/interdependent, sehingga mereka tidak terikat sekedar berdasarkan kesempatan saja, dan gangguan satu organisme akan mempunyai konsekuensi terhadap keseluruhan organisme

(Hardjosuwarno, 1990), namun hasil yang didapatkan menunjukkan bahwa tidak adanya saling ketergantungan. Tidak adanya asosiasi bisa disebabkan oleh beberapa faktor, seperti kedua spesies tersebut memiliki perbedaan daur hidup dan peranan ekologis yang berbeda, sebab organisme yang terdapat hubungan kompetisi memiliki peranan ekologis yang tumpang tindih. Sebab lain tidak adanya asosiasi, mungkin juga disebabkan karena unsur-unsur hara mineral yang digunakan oleh tumbuhan tersebut berbeda sehingga tidak menimbulkan peersaingan atau kompetisi. Faktor lingkungan seperti pH tanah, kandungan hara pada tanah dan suhu maksimum-minimum pada lingkungan tersebut yang akan menyeleleksi spesies-spesies apa saja yang dapat tumbuh dengan subur ditempat tersebut. Tidak adanya asosiasi juga bisa disebabkan lingkungan yang
12 | P a g e

mendukung untuk pertumbuhan dan reproduksi kedua spesies sehingga kedua spesies dapat tumbuh dan berkembang bersama-sama tanpa adanya kompetisi sehingga apabila satu spesies tidak ada, tidak mempengaruhi spesies yang lainnya. Setiap tumbuhan memiliki toleransi terhadap lingkungan secara berbeda jadi jika kondisi lingkungan memungkinkan spesies tersebut dapat tumbuh maka kelimpahan spesies tersebut akan banyak, namun sebaliknya jika kondisi lingkungan tidak mendukung kelimpahannya akan sedikit. Dalam hal ini kelimpahan Sp.2 sedikit jika dibandingkan dengan kelimpahan Sp.1. Jadi pada kesimpulannya perbedaan kelimpahan pada Sp.1 dan Sp.2 kemungkinan bukan diakibatkan oleh asosiasi namun oleh peranan ekologis yang berbeda serta faktor lingkungan, bukan karena adanya asosiasi interspesifik antara kedua spesies tersebut. Dari hasil perhitungan, derajat asosiasi bernilai sangat rendah yaitu 0,129. Hal ini menjelaskan bahwa asosiasi antara kedua spesies tidak kuat dengan koefisien paling tinggi yaitu 1. Menurut Hardjosuwarno (1990) alasan lebih lanjut tentang adanya bentuk asosiasi harus ditentukan dengan pengamatan ekologis dengan eksperimentasi; dan perlakuan statistik tersebut hanya sekedar merupakan langkah pertama dan tidak atau belum memberi bukti tentang adanya interaksi biologi.

13 | P a g e

BAB V KESIMPULAN

1. Berdasarkan Uji Chi-square, tidak terdapat asosiasi antara Spesies 1 dan Spesies 2. 2. Spesies 1 lebih sedikit dibandingkan dengan Spesies 2. 3. Perbedaan kelimpahan pada Sp.1 dan Sp.2 kemungkinan bukan diakibatkan oleh asosiasi namun oleh peranan ekologis yang berbeda serta faktor lingkungan, bukan karena adanya asosiasi interspesifik antara kedua spesies tersebut. 4. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa antara Spesies 1 dengan Spesies 2 tidak terdapat asosiasi interspesifik. 5. Kondisi lingkungan yang mendukung antara kedua spesies membuat tidak adanya persaingan diantara keduanya. 6. Tidak adanya asosiasi bisa disebabkan oleh beberapa faktor, seperti kedua spesies tersebut memiliki perbedaan daur hidup dan peranan ekologis yang berbeda, sebab organisme yang terdapat hubungan kompetisi memiliki peranan ekologis yang tumpang tindih.

14 | P a g e

DAFTAR PUSTAKA

Begon, B.,J.L. Harper and C.R. Townsend. 1986. Ecology: Individual, Population, and communities. Sunderland, Massachusetts: Sinauer Associates, Inc. Publisher. Ewusie. 1990. Pengantar Ekologi Tropika . Bandung: ITB. Hardjosuwarno, Sunarto. 1990. Dasar-Dasar Ekologi Tumbuuhan. Yogyakarta: Fakultas Biologi Universitas Gajah Mada. Kastono. 2005. Ilmu Gulma. Yogyakarta: Jurusan Budidaya Pertanian. UGM. Michael. 1994. Metode Ekologi untuk Penyelidikan Lapangan dan Laboratorium. Jakarta: UI Press. Mueller-Dombois, D. and H. Ellenberg. 1974. Aims and Methods of Vegetation Ecology. New York. London. Sydney. Toronto: John Wiley & Sons. Naughton. 1998. Ekologi Umum. edisi kedua. Yogyakarta: UGM Press.

15 | P a g e

LAMPIRAN

Mimosa sp.

Tridax sp.

Mimosa sp. dan Tridax sp.

16 | P a g e