Anda di halaman 1dari 6

Contoh beberapa yang telah diterapkan pada hewan antara lain adalah: 1.

Interbreeding adalah teknik untuk mendapatkan jenis homozigot resesif yang unggul dengan mengawinkan ternak jantan dengan betina yang masih ada hubungan silsilah. Misal: perkawinan antara ternak jantan dari P. (parental) dengan ternak betina dari F. (filial), baik F1/F2/F3/dsb. Bila ternak betina itu dari F1, maka dinamakan Closebreeding

2. Crossbreeding adalah teknik untuk mendapatkan ras baru yang unggul dengan mengawinkan ternak dari dua ras yang sama-sama galur murni. Misal: perkawinan sapi jenis ras Fries Holland yang galur murni denagn sapi ras Madura yang galur murni juga.

3. Upgreeding adalah teknik untuk memperbaiki mutu ternak lokal dengan mengawinkan ternak betina lokal dengan ternak jantan luar negeri yang telah diketahui mutu keunggulannya. Misal: perkawinan antara ayam betina kampung / Indonesia dengan ayam jantan Leghorn/ luar negeri yang memiliki sifat-sifat telurnya banyak dan besar, antara kuda betina Indonesia dengan kuda jantan Spanyol yang kekar badannya dan kencang larinya.

4. Purebreeding adalah teknik untuk mempertinggi keungulan jenis omozigot dengan mengawinkan antara ternak jantan dengan ternak betina yang sama rasnya. Misal : perkawinan antara sesama sapi unggul Madura, sesama domba unggul Mexico. Bial ras ternak itu berbeda daerah asalnya, maka dinamakan outcrossing, misal perkawinan antara sapi unggul Madura dengan sapi unggul Jawa. http://mutiarautami27.blogspot.com/2012/12/aplikasi-pengetahuan-genetika.html Anemia yaitu rendahnya kadar hemoglobin dalam darah atau berkurangnya jumlah eritrosit dalam darah Leukopenia yaitu kelainan pada darah putih karena kekurangan Hemofili yaitu kelainan darah yang menyebabkan darah sukar membeku (diturunkan secara hereditas) Leukemia (kanker darah ) yaitu peningkatan jumlah eritrosit secara tidak terkendali. Erithroblastosis fetalis yaitu rusaknya eritrosit bayi/janin akibat aglutinasi dari antibodi yang berasal dari ibu. Thalasemia yaitu anemia yang diakibatkan oleh rusaknya gen pembentuk hemoglobin yang bersifat menuruni Siklemia yaitu anemia berat karena sel darah mengkerut membentuk bulan sabit http://biologigonz.blogspot.com/2010/02/gangguan-sistem-transportasi.html

1. Pautan Pautan/Tautan (linkage) adalah suatu keadaan dimana terdapat banyak gen dalam satu kromosom. Pengertian ini biasanya mengacu pada kromosom tubuh (autosom). Akibatnya bila kromosom memisah dari kromosom homolognya, gen-gen yang berpautan tersebut selalu bersama. Semisal suatu genotif AaBb mengalami pautan antar gen dominan dan antar gen resesif, maka A dan B terdapat dalam satu kromosom, sedangkan a dan b terdapat pada kromosom homolognya. Bila terjadi pembelahan meiosis maka gamet yang terbentuk ada dua macam, yaitu AB dan ab. Ciri Pautan: - semisal pada AaBb, gamet hanya 2 macam - jika di test cross hasilnya adalah 1 : 1 2. Pindah Silang (crossing over) Pindah silang (crossing over) merupakan peristiwa pertukaran gen karena kromosom homolog saling melilit saat meiosis. Misalkan suatu genotif AaBb mengalami pindah silang saat pembelahan meiosis akan diperoleh gamet sebanyak empat macam, yaitu AB, ab, Ab, dan aB. Dua yang pertama (homogamet) disebut kombinasi parental (KP) yang merupakan hasil peristiwa pautan, dan dua yang terakhir (heterogamet) disebut kombinasi baru (KB) atau rekombinan (RK) yang merupakan hasil peristiwa pindahsilang.

Prosentase terbentuknya kombinasi baru saat terjadi pindah silang disebut Nilai Pindah Silang (NPS) yang dapat dihitung dengan rumus berikut:

Ciri Pindah silang: - semisal pada AaBb, gamet 4 macam - jika di test cross hasilnya adalah 1 : 1 : 1 : 1 3. Pautan Sex Pautan sex (sex linkage) merupakan suatu keadaan dimana terdapat banyak gen tertentu yang selalu terdapat pada kromosom sex. Adanya pautan sex menyebabkan suatu sifat muncul hanya pada jenis kelamin tertentu. Ada dua jenis pautan sex, yaitu pautan X dan pautan Y.

Contoh: persilangan antara lalat Drosophilla melanogaster bermata merah dan putih. P: F1 : P2 : FZ : jantan mata putih m X Y X Y M m X X X Y X Y m X Y M M X X M m X X
M M M

betina mata merah M M X X

: jantan mata merah : betina mata merah x X X


M m

: jantan mata merah : jantan mata putih : betina mata merah : betina mata merah

Dari contoh di atas dapat dilihat bahwa gen yang menyebabkan warna mata pada lalat terdapat pada kromosom X. Mata merah disebabkan gen dominan M, dan mata putih disebabkan gen resesif m. Hasil persilangan pada F, induk jantan yang bermata putih mewariskan gen m pada anak betina, sedangkan induk betina yang bermata merah mewariskan gen M pada anak jantan. Ingat Pada anak jantan, X berasal dari induk betina Pada anak betina, X berasal dari kedua induk Inilah yang disebut konsep pewarisan sifat menyilang (criss cross inheritance) 4. Gagal Berpisah (non disjunction) Gagal berpisah (non disjunction) merupakan kegagalan kromosom homolog untuk memisahkan diri saat pembelahan meiosis. Akibatnya terdapat gamet yang lebih atau kurang jumlah kromosomnya. Contohnya persilangan antara Drosophilla melanogaster dimana lalat betina mengalami gagal berpisah. Lalat betina yang mengalami gagal berpisah membentuk tiga macam kemungkinan gamet yaitu X, XX, dan 0. Bila lalat jantan yang mengalami gagal berpisah kemungkinan gametnya adalah X, Y, XX, YY, dan 0. P G : : XY X Y XX XY XXX XXY XO YO x X XX 0 : betina normal : jantan normal : betina super (biasanya mati) : betina (fertil) : jantan (steril) : jantan (lethal) XX (gagal berpisah)

Gamet hasil gagal berpisah pada: - betina : X, XX, 0 - jantan : X, Y, XX, YY, 0 5. Determinasi sex

Determinasi sex adalah cara penentuan jenis kelamin pada hewan dan manusia yang dilambangkan dengan huruf tertentu. Khusus pada Drossophila, penentuan jenis kelamin didasarkan pada Index Kelamin yang merupakan rasio antara jumlah kromosom X dengan jumlah pasangan autosom. Bila rasionya lebih besar atau sama dengan setengah, jenis kelaminnya jantan. Bila lebih besar atau sama dengan satu jenis kelaminnya betina. Dan bila lebih besar dari setengah dan lebih kecil dari satu lalat tersebut merupakan lalat intersex.

Contoh:

AAXX AAXY AAXXX AAXXY AAXO AAAXX

IK = 2X/2A = 1 lalat betina IK = X/2A = 0,5 lalat jantan IK = 3X/2A = 1,5 lalat betina IK = 2X/2A = 1 lalat betina IK = X/2A = 0,5 lalat jantan IK = 2X/3A = 0,6 lalat intersex

Pada makhluk hidup lain penentuan jenis kelaminnya seperti pada tabel berikut:

6. Gen Lethal Gen lethal merupakan gen yang menyebabkan kematian individu yang memilikinya bila dalam keadaan homozigot. Ada dua jenis gen lethal, yaitu lethal dominan dan lethal resesif. Lethal dominan menyebabkan kematian dalam keadaan homozigot dominan. Contoh: persilangan antara tikus kuning dengan sesamanya p F : : tikus kuning Kk KK 2Kk kk x tikus kuning Kk

: tikus kuning (lethal) : tikus kuning : normal

Rasio fenotif yang hidup antara tikus kuning : normal = 2 : 1 karena tikus kuning homozigot dominan selalu lethal. Lethal resesif menyebabkan kematian dalam keadaan homozigot resesif. Contoh: persilangan antara jagung berdaun hijau dengan sesamanya

p F

: :

jagung berdaun hijau x Hh

jagung berdaun hijau Hh

HH : berdaun hijau 2Hh : berdaun hijau hh : berdaun pucat (albino) lethal

Dari pesilangan di atas hanya tiga yang kemungkinannya dapat hidup yaitu yang bergenotif HH dan Hh. Sedangkan yang bergenotif hh mati karena tidak dapat membentuk klorofil. Labels: determinasi sex,gen lethal,gagal berpisah,pautan sex,pindah silang,Pola-pola hereditas,Pautan http://biologimediacentre.com/pola-pola-hereditas/

b. Polimeri Polimeri adalah pembastaran heterozigot dengan banyak sifat beda tetapi

mempengaruhi bagian sifat yang sama pada suatu organisme Nelson dan Ehle membastarkan gandum bekulit biji merah dengan gandum berkulit biji putih. Ternyata F1 nya semua bekulit biji merah jika F1 di bastarkan sesamanya didapatkan perbandingan fenotif pada F2 = 15 merah : 1 putih
http://biologiklaten.wordpress.com/bab-24-hereditas-xii/

P Gamet

H1H1H2H2 (Kulit hitam) H1H2

h1h1h2h2 (Kulit putih) h1h2

F1 P1 F2 H1H2 H1h2 h1H2 h1h2 Rasio fenotipe F2 Hitam : Putih = 15 : 1

H1h1H2h2

H1h1H2h2 x

H1h1H2h2

H1H2 H1H1H2H2 H1H1H2h2 H1h1H2H2 H1h1H2h2

H1h2 H1H1H2h2 H1H1h2h2 H1h1H2h2 H1h1h2h2

h1H2 H1h1H2H2 H1h1H2h2 h1h1H2H2 h1h1H2h2

h1h2 H1h1H2h2 H1h1h2h2 h1h1H2h2 h1h1h2h2

http://muthie-muthie.blogspot.com/2012/11/polimeri.html

b. Kriptomeri Kriptomeri adalah peristiwa suatu faktor dominan yang baru tampak pengaruhnya apabila bertemu dengan faktor dominan lain yang bukan alelnya. Faktor dominan ini seolah-olah tersembunyi (kriptos), Soal: Diketahui Ayam berpial rose/mawar (RRpp / Rrpp, Ayam berpial pea/biji (rrPP / rrPp), Ayam berpial walnut/sumpel (RRPP / RRPp / RrPP / RrPp), Ayam berpial single/bilah (rrpp). Jika ayam berpial/jengger rose homozigot disilangkan dengan ayam berpial biji homozigot, pada F1 dihasilkan jengger walnut (sumpel). Tentukan rasio fenotif F2-nya? Penyelesaian: P1 : RRpp (rose) >< rrPP (biji) Gamet : Rp rP F1 : RrPp (walnut) artinya: R dan P memunculkan walnut P2 : RrPp (walnut) >< RrPp (walnut) Gamet : RP, Rp, rP, rp RP, Rp, rP, rp F2 RP Rp rP rp RP RRPP (walnut) RRPp (walnut) RrPP (walnut) RrPp (walnut) Rp RRPp (walnut) RRpp (rose) RrPp (walnut) Rrpp (rose) rP RrPP (walnut) RrPp (walnut) rrPP (biji) rrPp (biji) rp RrPp (walnut) Rrpp (Rose) rrPp (biji) rrpp (bilah) Rasio fenotif F2: walnut : rose : biji : bilah = 9 : 3 : 3 : 1
http://putradnyana-bahanajar.blogspot.com/2009/11/penyimpangan-semu-hukum-mendel.html