Anda di halaman 1dari 5

Menurut Price Waterhouse Coopers dalam Indra S. dan Ivan Y.

mengemukakan: Corporate governance terkait dengan pengambilan keputusan yang efektif. Dibangun melalui kultur organisasi, nilai-nilai, sistem, berbagai proses, kebijakan-kebijakan dan struktur organisasi, yang bertujuan untuk mencapai bisnis yang menguntungkan, efisien, dan efektif dalam mengelola risiko dan bertanggung jawab dengan memerhatikan kepentingan stakeholders. Indra Surya & Ivan Yustiavandana, Penerapan Good Corporate Governance: Mengesampingkan Hak Istimewa demi kelangsungan Usaha, (Jakarta: Kencana, 2008), hlm 26

Menurut Stijn Claessens dalam Indra menyatakan bahwa, pengertian tentang corporate governance dapat dimasukka dalam dua kategori, yaitu: 1. Kategori pertama, lebih condong pada serangkaian pola perilaku perusahaan yang diukur melalui kinerja, pertumbuhan, struktur pembiayaan, perlakuan terhadap para pemegang saham, dan stakeholder. 2. Kategori kedua lebih melihat pada kerangka secara normatif, yaitu segala ketentuan hukum baik yang berasal dari sistem hukum, sistem peradilan, pasar keuangan, dam sebagainya yang memengaruhi perusahaan. Indra Surya & Ivan Yustiavandana, Penerapan Good Corporate Governance: Mengesampingkan Hak Istimewa demi kelangsungan Usaha, (Jakarta: Kencana, 2008), hlm 26

Menurut Indra, secara umum penerapan prinsip GCG secara konkret, memiliki tujuan terhadap perusahaan sebagai berikut: 1. Memudahkan akses terhadap investasi domestik maupun asing; 2. Mendapatkan cost capital yang lebih murah; 3. Memberikan keputusan yang lebih baik dalam meningkatkan kinerja ekonomi perusahaan; 4. Meningkatkan keyakinan dan kepercayaan dari stakeholder terhadap perusahaan; 5. Melindungi direksi dan komisaris dari tuntutan hukum. Indra Surya & Ivan Yustiavandana, Penerapan Good Corporate Governance: Mengesampingkan Hak Istimewa demi kelangsungan Usaha, (Jakarta: Kencana, 2008), hlm 68

Menurut Alfred F. Kaunang, corporate governance adalah perusahaan yang dikelola dengan mengikuti semua peraturan pemerintah dan semua sistem yang berlaku umum dengan kondisi transparancy, accountability, integrity, equity dan social responsibility. Alfred F. Kaunang, Pedoman Audit Internal, (Jakarta: PT Bhuana Ilmu Populer, 2013), hlm 101-102

Alfred menyatakan corporate governance yang baik adalah gabungan antara kekuatan keuangan dan sumber daya manusia (human resources) yang berada dalam satu perusahaan. Alfred F. Kaunang, Pedoman Audit Internal, (Jakarta: PT Bhuana Ilmu Populer, 2013), hlm 102

Menurut Tricker dalam Jill Solomon, menjelaskan definisi dari corporate governance yaitu: corporate governance is the governance role is not concerned with the running of the business of the company per se, but with giving overall direction to the enterprise, with overseeing and controlling the executive actions of management and with satisfying legitimate expectations of accountibility and regulation by interests beyond the corporate boundaries. Jill Solomon, Corporate Governance and Accountability: Second Edition, (Chicester: John Wiley & Sons, 2007), hlm 13

Menurut Parkinson dalam Jill Solomon, corporate governance is the process of supervision and control intended to ensure that the companys management acts in accordance with the interests of shareholders. Jill Solomon, Corporate Governance and Accountability: Second Edition, (Chicester: John Wiley & Sons, 2007), hlm 13

Menurut Umer Cahpra & Habib Ahmed ada dua model dalam corporate governance, yaitu: 1. Model Anglo-American yang memfokuskan pada cara memaksimalkan kepentingan pemegang saham, sehingga jika terjadi konflik kepentingan antara pemegang saham dengan pihak lain maka yang harus dimenangkan adalah kepentingan pemegang saham. 2. Model Franco-German yang menempatkan seluruh stakeholder pada posisi yang sama sehingga secara teori, kepentingan semua stakeholder harus dilindungi.

M. Umer Chapra & Habib Ahmed, Corporate Governance: Lembaga Keuangan Syariah, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), hlm 18-19

Menurut Wolfensohn dalam Ahmed menyimpulkan bahwa tujuan dari corporate governance adalah untuk mewujudkan keadilan, transparansi, dan akuntabilitas. Kesimpulan tersebut menegaskan bahwa tujuan dari corporate governance adalah untuk mewujudkan keadilan bagi seluruh stakeholder melalui penciptaan transparansi dan akuntabilitas yang lebih besar. M. Umer Chapra & Habib Ahmed, Corporate Governance: Lembaga Keuangan Syariah, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), hlm 18

Adapun prinsip-prinsip good corporate governance menurut Agus, yaitu: 1. Akuntabilitas (Accountability) Prinsip ini memuat kewenangan-kewenangan yang harus dimiliki oleh dewan komisaris dan direksi beserta kewajiban-kewajibannya kepada pemegang saham dan stakeholder lainnya. 2. Pertanggungan jawab (Responsibility) Prinsip ini menuntut perusahaan maupun pimpinan dan manajer perusahaan melakukan kegiatannya secara bertanggung jawab. 3. Keterbukaan (Transparancy) Dalam prinsip ini, informasi harus diungkapkan secara tepat waktu dan akurat. Informasi yang diungkapkan antara lain keadaan keuangan, kinerja keuangan, kepemilikan dan pengelolaan perusahaan. 4. Kewajaran (Fairness) Seluruh pemangku kepentingan harus memiliki kesempatan untuk mendapatkan perlakuan yang adil dari perusahaan. Pemberlakuan prinsip ini di perusahaan akan melarang praktik-praktik tercela yang dilakukan oleh orang dalam yang merugikan pihak lain. 5. Kemandirian (Independency) Prinsip ini menuntut para pengelola perusahaan agar dapat bertindak secara mandiri sesuai peran dan fungsi yang dimilikinya tanpa ada tekanan-tekanan dari pihak manapun yang tidak sesuai dengan sistem operasional perusahaan yang berlaku. Agus Arijanto, Etika Bisnis bagi Pelaku Bisnis, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2012), hlm 127-129

Menurut Andrew Chambers dalam Sanyoto, ciri-ciri good corporate governance yaitu: 1. Stakeholder control of business, 2. Maximum & reliable public reporting,

3. Avoidance of exessive power at the top management, 4. A balanced board composition, 5. A strong involved board of directors, 6. A strong independent element on the board, 7. Effective monitoring of management by the board, 8. Competence and commitment, 9. Risk assesment and control, 10. A strong audit presence. Sanyoto Gondodiyoto, Audit Sistem Informasi + Pendekatan CobIT, (Jakarta: Mitra Wacana Media, 2007), hlm 49

Menurut Adrian, corporate governance is the way organization are directed and controlled: establish performance balance to ensure itegrity, openess, and accountability. Sanyoto Gondodiyoto, Audit Sistem Informasi + Pendekatan CobIT, (Jakarta: Mitra Wacana Media, 2007), hlm 49

Menurut Hery, ada 5 (lima) manfaat yang dapat diperoleh perusahaan yang menerapkan good corporate governance, yaitu sebagai berikut : 1. GCG secara tidak langsung akan dapat mendorong pemanfaatan sumber daya perusahaan ke arah yang lebih efektif dan efisien, yang pada gilirannya akan turut membantu terciptanya pertumbuhan atau perkembangan ekonomi nasional. 2. GCG dapat membantu perusahaan dan perekonomian nasional dalam hal menarik modal investor dengan biaya yang lebih rendah melalui perbaikan kepercayaan investor dan kreditor domestik maupun internasional. 3. Membantu pengelolaan perusahaan dalam memastikan/menjamin bahwa perusahaan telah taat pada ketentuan, hukum, dan peraturan. 4. Membantu manajemen dan corporate board dalam pemantauan penggunaan aset perusahaan. 5. Mengurangi korupsi. Hery, Fenomena Audit Internal, (Jakarta: Universitas Atma Jaya, 2009), hlm 6

Menurut Noensi, GCG adalah menjalankan dan mengembangkan perusahaan dengan bersih, patuh pada hukum yang berlaku dan peduli terhadap lingkungan yang dilandasi dengan nilainilai sosial budaya yang tinggi. Adrian Sutedi, Good Corporate Governance, (Jakarta: Sinar Grafika, 2012), hlm 1

Menurut Sutedi, good corporate governance merupakan sistem yang mengatur dan mengendalikan perusahaan untuk menciptakan nilai tambah (value added) untuk semua stakeholder. Adrian Sutedi, Good Corporate Governance, (Jakarta: Sinar Garafika, 2012), hlm 2

TEORI PENGHUBUNG Menurut Hery, aktivitas audit internal yang mencakup penilaian atas resiko, jaminan pengendalian dan audit kepatuhan, secara langsung akan mempengaruhi kualitas tata kelola perusahaan. Aktivitas audit internal seharusnya dapat memberikan penilaian dan saran-saran yang tepat untuk memperbaiki proses tata kelola perusahaan. Hery, Fenomena Audit Internal, (Jakarta: Universitas Atma Jaya, 2009), hlm 35

Menurut Sanyoto, audit internal akan mendorong tercapainya dan bahkan merupakan salah satu karakteristik good corporate governance. Sanyoto Gondodiyoto, Audit Sistem Informasi + Pendekatan CobIT, (Jakarta: Mitra Wacana Media, 2007), hlm 49

Menurut Alfred pihak yang mendapat keuntungan dari penerapan GCG adalah pemegang saham, dewan komisaris, board of director, karyawan, dan masyarakat. Hal-hal yang berhubungan dengan good corporate governance di atas tidak akan lepas dari fungsi pengawasan yang baik dan independen dari internal audit. Alfred F. Kaunang, Pedoman Audit Internal, (Jakarta: PT Bhuana Ilmu Populer, 2013), hlm 103