Anda di halaman 1dari 91

Dr. der Nat. Poerbandono, S.T., M.M. Ir. Eka Djunarsiah, M.T.

Suruei Hidrografi

dengauf<onuibusi:

In

Samsul Bachri, M.Eng., Ph.D. Hasanuddin Z. Abidin, M.Sc., Ph.D.

In

In Irdam Adil, M.T

Savnbutaw

RF. TEK. i 1.

0t.

2005

Hidrografi sebagai suatu ilmu pada awalnya difokuskan untuk menunjang navigasi kapal-kapal di laut. Sejalan dengan perkembangan teknologi serta meningkatnya kebutuhan manusia yang berkembang dengan pesatnya serta setelah beberapa perguruan tinggi terkenal mengantisipasi perkembangan tersebut dengan memasukkan h idrografi sebagai mata kul iah, i I mu hidrografi menjadi disiplin yang mulai dipelajari secara intensif dan ilmiah pada suatu prograrn studi. Departemen Teknik Ceodesi, lnstitut Teknologi Bandung, sebagai pelopor pendidikan geodesi di lndonesia, telah mulai mengembangkan .1982. ilmu hidrografi sejak tahun

Dr. der Nat. Poerbandono, S.T., M.M. & lr. Eka Djunarsiah, M.T. Survei Hidrografi
Editor
Setting

lndonesia sebagai salah satu negara maritim yang besar, sudah


sepantasnyalah ikut berperan serta dalam pengembangan hidrografi tersebut, terutama dalam bidang pendidikan untuk menghasilkan sumberdaya manusia yang akan mengelola wilayah perairan kita yang sangat luas ini. Sayangnya,

Rose Herlina, S.Si.


Susandi

: Teddy Soleh
: lman Taufik,

Desarn Sampul

B.A.

Diterbitkan & dicetak oleh pT. Refika Aditama Jl. Mengger Cirang No. 98, Bandung 40254 Telp. (022) 5205985, Fax. (022) 52OS}B4
e-ma il

re{ika I @rad. net. id

Anggota IKAPI Cetakan Pertama: Maret 2005

lsBN 979- ) )01-24-)


Hak Cipta DilinclLrngi Unrlang-urrrl;rng. Dilar.rng meng,uttp,tt.tu n)(,ml)(,rlr,rrry,rk sel;agian,rt,trr scluruh isi br-rku ini TANPA lZlN TERTULIS rl,rri lrr.rrr.rlrir

literatur yang tersedia untuk mempelajari serta mengembangkan ilmu hidrografi tersebut sangat terbatas. Kekurangan literatur hidrografi itu tidak hanya terasa di lndonesia saja, akan tetapi juga di luar negeri. Oleh sebab itu, penerbitan buku hidrografi yang sederhana ini, minimal akan merupakan bacaan berharga bagi mahasiswa serta siapa sa.ja yang berminat dalam bidang hidrografi untuk mempelajari serta menambah wawasannya. Selain itu, mudah-mudahan buku hidrografi ini dapat menjadi pancingan bagi ilmuwan-ilmuwan lain untuk membahas serta menulis, baik dalam bentuk makalah maupun buku mengenai hidrografi.
Para kontributor tulisan-tulisan dalam buku ini, terutama upaya Dr. Por.rlr.rn<lr>no sebagai penulis utama l-ruku ini, yang telah berusaha dan h.kr,ri,r kcr,rs rl,rl,rnr mcwujurlkan lltrkrr ini, pattrt kita hargai. Murlah-rnucJahan

buku ini dapat memberikan sumbangan dalam pengembangan hi<lrogr,rlr lndonesia.

rlr

Pengantar penw[is

Bandung, Januari 2005

Dosen di Departemen

Dr.-lng. lr. Siamsir Mira Teknik Ceodesi llB (1962-2004),


Terminologi hidrografi telah bergeser dan berkembang dari akrivir,rs penunjang navigasi laut (survei dan pemetaan laut) dan survei untuk inrltrslri lepas pantai (survei seismik dan batimetri laut dalam) menjadi disiplin ilrrrrr yang mulai diselenggarakan sebagai program akademik setingkat magistr,r rlr beberapa universitas di lnggris, Jerman, Amerika serikat, Selandia ll,rrrr, Malaysia dan lndonesia. Sebagai sebuah disiplin, hidrografi meliputi bc.lx.r,r1r,r topik yang berhubungan erat dengan disiplin geodesi, survei dan pemct,r,rrr, geomatika, fisika, hidrolika, oseanografi, geografi fisik, geologi, geofisik,r, nautika dan hukum laut. Beberapa referensi asing yang menjelaskan spektrrrrr

Dosen Tamu di lnstitutTeknologi Kebangsaan Malaysia (1972-1975), Curu Besar ITB (1 981 -2OO4), Pendiri (19S2) dan Ketua KK Hidrografi (1982-2004), Anggota Advisory Board IHO (1985-1990),
An

ggota Eclitori al Adv

so

ry Board Hydrol NTE RN ATIO

AL

997'2002\,

Pendiri (1993)dan Ketua Pusat Penelitian Kelautan ITB (1993-1999)'

disiplin hidrografi ditulis oleh Dyer [Dyer, K. R. (1 979). Estuarinr


Hydrography and sedimentation. Cambridge University press. Cambridgc, UKI dan deJong et al. [deJong, C. D., Lachapelle C., Skone, S. & Elema, l. A. (2002). Hydrography. Delft University Press. Delft, The Netherlandsl.

Buku ini ditulis untuk menjadi acuan akademik bagi mahasiswa


program sarjana dan buku teks pengantar bagi mahasiswa program magistr.r dalam ilmu-ilmu kebumian dan rekayasa lingkungan. pembagian, pengurut,rr

dan penya.iian materi dalam buku ini drrancang berdasarkan kebutulr,rrr umum mahasiswa program sarjana dan magister di program studi rcknik ceodesi dan ceomatika, lnstitut Teknologi Bandung yang diselenggarak,rrr oleh Kelompok Kepakaran Hidrografi, Departemen Teknik ceorlesi, Fakulr.rs Teknik sipil dan Perencanaan. Buku ini juga disarankan bagi l>ara nrahasisw,r yang strl,rrrg hclajar atau meminati disiplin geografi fisik, tcknik p,rrrt,ri, grrrlogi, orr',tttogt,tfi [isik serta disiplin lain yang mcnartrh pcrlr,rti,rp p,rrl,r [t'ttoltrr.rr,r ;irr,rl' lr,rrl,rrr ,rir rlan interaksinya rlongirn rl;rs,rr pcr.,rir,rn. l,r,rrrrlis btlr,tsttltt',t lr,rlrw,r l,r'tttlr,rr,r lrott'nsial brrku ilri tcl,rlt nrr,ngr,rr.rl lisik,r <l,rs,rr, sl,rlislrk rl,rtt l.,rlIttlrr'. y.rtr1i p,r,,li tcl,rlr rlillcril<,trr rli tirrli[,rt l)r.tt,un,r,rl,r1 [r.

il
i1

rlua di fakultas-fakultas tckrrik, kcbumian alau ilmu pengct.rlrrl,rtt ,rl,tttt. Selain itu, pemahaman terhadap beberapa materi di buku ini akan lebih
baik jika pembaca telah mengenal dasar-dasar ilmu ukur tanah dan pemetaan. Topikropik yang disajikan dalam buku ini dipilih sedemikian rupa

untuk menggambarkan sebagian dari lingkup hidrografi modern, karenanya -untuk sementara- topik hidrografi klasik (navigasi laut dan survei industri lepas pantai) ditinggalkan. Survei hidrografi adalah sebagian dari aktivitas hidrografi. Pemilihan kata 'survei' pada judul buku ini sengaja dipakai untuk memperkuat konsentrasi pembahasan pada teknik-teknik pengadaan data hidrografi secara setempat (in-situ) dan ilustrasi penEEunaannya secara deskriptif. Pengetahuan yang disajikan diusahakan terhindar informasi yang bersifat nice to know dengan sedapat mungkin memilih hal-hal yang has to

It'tittt,t [,t',tlr;rr1i,r l,rtrrt ',,rtrr1),rl\,url\('1,,r(l,r rck,rtr tcl<,rrr rlr Kr,lorrrlrol. Kr,,rlrlr,rn I lirlrtlgr,rlr ,tl,r', prrlr,rlr,rrr rl,rrr lr,rnlu,rtr ntt.rt.k.r. Sr,t,rr,r klrrrsrrs k,rrrrr rnlirrr memanl,t,tll(,ur l\(,\('nrl),rl,rrr irri untuk herterima k.rsih at,rs kcrj,r kr,r,rs llrrr Rose l-lt'rlin.t, S.Si rlirri licfika Aditama serta bantuan yanll rlilrr.rik,rrr ok.lt mahasisw;r kami, Melissa Suryaningtyas, dalam menyiapkan gamlrirr-g,rnrlr,rr dan mengumpulkan naskah-naskah dasar yang berserakan di trtas nrt'j,r kcrj,r, lemari dan komputer karni. Buku ini kami persembahkan untuk nr,rrrl,rrr guru-guru kami dan para mahasiswa -yang kami harap dapat memlx,rik,rrr umpan balik atas materi yang ditulis dalam buku ini.

be known.
Salah satu kesulitan yang dihadapi dalam penulisan buku ini adalah dalam menentukan kedalaman pembahasan. Tingkat kedalaman pembahasan yang dituliskan di buku ini merupakan pandangan subjektif penulis terhadap kebutuhan pembaca dan dianggap sebagai topik-topik yang harus diketahui

Bandung, Januari 2(X)',

Dr. der Naf. Poerbandono, S.T., M.M. & lr. Eka Djunarsiah, M.T. poerbandono@gd.itb.ac.id ; http://laul.gtl rllr ,rt rl

pembaca. Beberapa detil, terutama operasi persamaan-persamaan matematika, sengaja tidak disajikan untuk menghindari jumlah halaman yang akan menjadi terlalu banyak. Kesulitan lain yang dihadapi adalah
penyeragaman simbol. Simbol yang digunakan di buku ini masih didasarkan pada kelaziman pemakaian di tiaptiap topik pembahasan. Karenanya, sehubungan dengan itu dan tentu saja hal-hal lainnya, dalam rangka

menghindari perbedaan pemahaman, penulis membuka kesempatan untuk berdiskusi dengan para pembaca. Diskusi tersebut akan sangat bermanfaat untuk perbaikan isi dan penyajian buku ini pada edisi berikutnya'
Naskah-naskah yang menjadi bahan utama dalam buku ini tidak mungkin terpublikasikan tanpa kesediaan Refika Aditama untuk menerbitkannya. Kami menyampaikan pujian kepada Refika Aditama atas keberaniannya memilih

naskah dari topik keilmuan yang dijalani sedikit orang untuk diterbitkan sebagai referensi akademik nasional. Selain itu, banyak pihak yang membuat kami bersemangat menyelesaikan buku ini. Untuk itu, kami sangat berterima kasih kepada para kontributor: Samsul Bachri, Ph.D., Hasanuddin Z. Abidin, Ph.D. dan lrdam Adil, M.T. atas sumbangan tulisan mereka yanS sanSat berarti untuk memperkuat isi buku ini. Kami juga berterima kasih kepada guru kami, I)r.-lng. Sjamsir Mira, atas kesediaannya membaca dan

memlx'rb;tikr naskah final kami serta memberikan kata sambtltiltl' IJ<';tPan

vltt

lx

oaftar Isi

SAMBUTAN PENGANTAR PENUTlS


DAFTAR ISI Bab

PENDAHULUAN --

1
I

A. Terminologi dan Perkembangan Hidrografi B. Definisi dan Lingkup Hidrografi ....... C. Kelembagaan Hidrografi ..... D. Kompetensi Profesi dan Akademisi Hidrografi E. Konfigurasi Survei Hidrografi

......

F.

lt
(r

Referensi Akademik Hidrografi

Referensi

Bab

DI TAUT ..

SISTEM REFERENS! GEODETIK DAN PENENTUAN POStSt


9
9

A.

Sistem Koordinat b. Datum Ceodetik c. Proyeksi Peta . B. Penentuan Posisi di Laut.. a. Ceometri Caris Posisi ................ b. Penentuan Posisi Berbasis Caris Posisi. c. Teknik Penentuan Posisi secara Optik rl. Pr.rrcntuan Posisi secara Elektronik C. l'r,rrr.rrlu.rrr l'osisi rlengan CPS ,r k,rr,rIlr.r l.,lrk \rslom CPS....... lr lvt,lnrh' l'r,rrr.rrlu,rrr l'osisi rk'rrg.rrr (;l'S ..

a.

Sistem Referensi Ceodetik

I0
1',2

14

20 20

)2
24
2()

l2

il t/

C.

d.

Ketelitian Posisi CPS Aplikasi Penentuan Posisi CPS dalam Bidang Survei
Kelautan

l(l
40 46 47
4B

e. f.
Bab

Keunggulan Metode Penentuan Posisi CPS Kendala CPS dalam Penentuan Posisi ......

B.

Referensi

3 a. b. c.

PASUT DAN DATUM VERTIKAL --

sl
51

A.

l'ro,,r'rlttr l'r,rrlirrkut,ttt Artts l'rrrr,,rp l'r.rrgrrkrrr.rrr Arus dengan C,tra Akuslik ............. l'r,rrgol,rlran dan Penyajian Data Pengukurarr Arus Pr.rrl3,ukuran dan Analisis Sedimen a. Karakter Sedimen b. Pengambilan Contoh Sedimen c. Analisis Distribusi Ukuran Butir . d. Analisis Konsentrasi Sedimen
(

lr. . rl.

l(x)

l0i
t07 l0()

ilt |)
I t7 I I ()

Pasut

Referensi

t)t
124 12lt

B. C. D.

Teori Pasut Model Matematika Pasut dan Konstanta Harmonik...'... Tipe Pasut Arus Pasut Datum Vertikal

a. b.

Pengamatan Pasut Pengikatan Stasiun Pengamat Pasut

52 55 55 57 59 63

Bab

A.
B.

66
67
6B

Prediksi Pasut. a. Analisis Harmonik b. Prediksi LAT .. c. Pengaruh Faktor-faktor Non-Harmonik

69
69

Referensi

70

C. D.

PEMERUMAN -- 71 A. Pengukuran Kedalaman a. Desain Lajur Perum b. Prinsip Penarikan Caris Kontur....... c. Teknik Pengukuran Kedalaman B. Akustik Bawah Air untuk Pemeruman a. Sifat Celombang Akustik....... b. Alat Perum Cema c. Sumber Kesalahan dan Kalibrasi ..". d. Pemeriksaan Data Pemeruman C. Detil Situasi dan Caris Pantai a. Caris Pantai .... b. Pengukuran Detil Situasi dan Caris Pantai D. Beberapa Ketentuan tentang Kartografi Peta Laut
Bab
Referensi

73 73

Zona Ekonomi Eksklusif e. Landas Kontinen f. Laut Lepas Penetapan Batas Laut di lndonesia...... lmplementasi Penetapan Batas Laut Daerah di Lapangan ..... a. Penentuan Lokasi Daerah Survei b. Pemasangan Pilar Titik Referensi .... c. Penggambaran dan Penentuan Koordinat Titik Batas .....

d.

PENETAPAN BATAS IAUT -- 123 Konsep Batas Laut Berdasarkan UNCLOS 1982 Wilayah Perairan Berdasarkan UNCLOS 1982 a. Perairan Pedalaman b. Laut Teritorial .... c. Zona Tambahan

t'),,
l.f
I
5

I ) (t

)7 I )7
I 2t)

)tl I l) I l)
I

l .i

l.]4
135

Referensi

74
74
B1

Lampiran A Lampiran
B

Transformasi Koordinat ....

..

..

37

B2 B3 B6 B9
91 91

Lampiran C Lampiran D

Posisi Segiempat dan Elips Kesalahan Standar Ketelitian Survei Hidrografi


Model Matematika Penentuan

141 147

.l5ir

TENTANG PENUTIS

.- 163

92

94
96

Bab

A.
xii

PENGUKURAN ARUS DAN SEDIMEN -- 97 Pengukuran Arus . ,r. Sif.rr Ct'r.tk.ttt Bitrlitn Air....

97
()7

Pendahulurrn

A.

TERMINOLOGI DAN PERKEMBANGAN HIDROGRAFI


Kata hidrografi merupakan serapan dari bahasa lnggris ,hydrograplry,.

secara etimologis, 'hydrography' ditemukan dari kata sifat dalam lr,rh,rs,r Prancis abad pertengahan 'hydrographique', sebagai kata yang berhul)un,.l,ur dengan sifat dan pengukuran badan air, misalnya: kedalaman rl;rrr ,rrrrr
(Merriam-Webster online, 2004). Tabel 1 .1 memperlihatkan beberap;r rn,rkn,r leksikal' hydrography' beserta sumbernya.

Tabel 1.1 Makna leksika! 'hydrography'

DEFINISI The art and science of compiling and producing charts, or maps, of water-covered areas of the Earth's surface. The sclence of the measurement and description and mapping of the surface of the earth with special reference to navigation The art of measuring and describing the sea, lakes, rivers, and other waters, with their

SUMBER

Encyclopaedia

Britannica (2004) HyperDictionary (2004) Webster's


QOOa);
'191.1

phenomena. That branch of surveying which embraces the determination of the contour of the bottom of a harbor or other sheet of water, the depth of soundings, the position of channels and shoals, with the construction of charts
:'
x

BrainyDictionary
(20O4)

!: ! t

! ltSL h e:spptaybr

'\^rr' /f'lr"'t''tl' rrrt I J----

-t

Br--tt:-r*ir

- r-r

E---

t lirrgga scl(it.u',rl<lrir l1)t|0-an, l<cgiatan ltirlrogr.rfi utamilny,t tltrlottttn,r',t oleh survei dan pemetaan laut untuk pembLlatan peta navigasi laut (rr,rtrlir ,r/

i,,,,i,i,i,i,,i,i,i,l,l,.i,i,,i,,i,,i,i,ll,:;.,;;,;,;,;,,:,;,;,;;;,i;,1;;.
atxt ,tdfufiting r o.lrl,rl rtr(ln, wilh spe,<'i,tl 1,[sJp111'1' kr lhrir tnt, llt lln, purposc ttl' tt,tvig,rlitnr'. (,toul) <i Exlrcrls on f ly<lu4it,11rlrrr \rrrvt,yrrt1l ,rttrl Naulir,r/ ( lr.rrtrtrli rut'rrgcrnul<al<an bahwa hidrogr,rli ,rrl.rl,rlr 'tlrc s(ir.,r(t ()l' measurirtl4, describing, and depicting nature and configuratittrt of lht, seabed, geographical relationship to landmass, and chara<'ft,nslrcs ,urrl dynamics of the sea'. Perkembangan hidrografi juga mengakibatkan perulr:rh.rn rk,lrnrsr hidrografi yang oleh IHO didefinisikan sebagai 'that branch of appli<rl sciences which deals with the measurement and description of tht features of the seas and coastal areas for the primary purpose of navigation and all other marine purposes and activities, inclucling -inter alia- offshore activities, research, protection of the environm<ml, and prediction services' (Corziglia, 2004). Buku ini mengadopsi <ft'l'irrrsi hidrografi yang didokumentasikan oleh Kelompok Keahlian (KK) l'litlrrrgr,rlr, Departemen Teknik Ceodesi, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaarr, lrrstrtrl Teknologi Bandung, yaitu 'cabang ilmu yang berkepentingan rleng,ur pengukuran dan deskripsi sifat dan bentuk dasar perairan dan rlirranrik.r badan air'(KK Hidrografi, 2004).
Fenomena dasar perairan yang disebut dalam definisi di al.rs rrrr,lrprrtr

chart) dan survei untuk eksplorasi minyal< dan gas bumi (lngham, lr975). Peta navigasi laut memuat informasi penting yang diperlukan untuk menjamin keselamatan pelayaran, seperti : kedalaman perairan, rambu-rambu navigasi,
garis pantai, alur pelayaran, bahaya-bahaya pelayaran dan sebagainya. selain itu, kegiatan hidrografi juga didominasi oleh penentuan posisi dan kedalaman

di laut lepas yang mendukung eksplorasi dan eksploitasi minyak dan gas
bumi.
Selama 20 tahun terakhir, telah terjadi pergeseran mendasar pada lingkup

dan aplikasi hidrografi. Hidrografi tidak lagi semata-mata dikaitkan dengan pemetaan laut dan penentuan posisi, melainkan juga dengan Hukum Laut (Law of the Sea) dan aspek fisik dari Pengelolaan Kawasan Pesisir secara Terpadu (lntegrated CoastalZone Management) (Dyer, 1979; de Jong et al., 2OO2). Pergeseran ini diakibatkan oleh kemajuan teknologi instrumen pengukuran dan komputasi. selain itu, pergeseran inijuga diakibatkan oleh permintaan masyarakat dan industri pengguna produl< hidrografi sebagai akibat dari meningkatnya kegiatan manusia di kawasan perairan. Pergeseran ini juga ditandai dengan munculnya program-program

pendidikan akademik setingkat sarjana dan magister di Amerika (misalnya: L)niversity of Southern Mississippi), lnggris (misalnya: I,Jniversity of Plymouth dan Unlversity College London), Jerman (Fachhochschule Hamburg-Harburg), Malaysia (Universiti Teknologi Malaysia) dan lndonesia (Di nas H idro-oseanografi TN l-AL dan nstitut Teknologi Bandung). Dewasa ini, hidrografi mulai dipahami sebagai salah satu cabang ilmu yang secara khusus di lndonesia mulai dikembangkan pada tahun 1990an (Mira, 1998; 1999).
I

B. DEFINISI DAN LINGKUP


Defi
n

HIDROGRAFI

isi akademi k untuk terminologi h idrografi, dikemul<akan pertama kali oleh !nternational Hydrographic Organization (lHO) pada Specia/ Publication Number 32 (SP-32) tahun 1970 dan Croup of Experts on

batimetri atau'topografi'dasar laut, jenis material dasar laut clarr rlrorlrlogr dasar laut. Sementara dinamika badan air yang disebut dalam rk'lrrrrsr rlr atas meliputi: pasut (dan muka air) dan arus. Data mengenai ft'rrorrrr,rr,r dasar perairan dan dinamika badan air diperoleh melalui pengukur,rrr y,rrrlg kegiatannya disebut sebagai survei hidrografi. Data yang diperolclr rl,rrr survei hidrografi kemudian diolah dan disajikan sebagai informasigcosp,rsi,rl atau informasi yang terkait dengan posisi di muka bumi. Sehubungarr rlt.rrg,rrr itu maka seluruh informasi yang disajikan harus memiliki data posisi rl,rl,rrrr ruang yang mengacu pada suatu sistem referensi tertentu. Oleh karen,tny,r, posisi suatu objek di atas, di dalam dan di dasar perairan merupakarr titik perhatian utama dalam hidrografi. lnformasi hidrografi utamanya rlittrjrrl<,rrr
u

ntu k:

Hydrographic Surveying and Nautica/ Charting dalam laporannya pada Second lJ nited Nations Regional Cartographic Conference for the Americas di Mexico City tahurn 1g79.lHO mengemukakan bahwa hidrografi adalah ,that hranch of applied .scrence which deals with measurement and

(1) Navigasi dan keselamatan pelayaran, (2) Ponetapan batas wilayah atau dacrah rli laut; <l.rn
(

l)

\lr rr li r lirr,rmika pesisir dan tr;engclol.titn strnrlx.rr l,ry,r l,rut.

l'r'tt1i11
Ir,rtr,,1 r)r

rr,r lr,rlrrk lrirlrografi tt.xliri rl,rri llcrl r,rli,ri scLlor,

rrl,rnr,rny,r
r,k,,; rl,rr ,r,,r

l,l',r nr,lrrtrrrr rl,rrr rr,rvi1i,rsi, lrr,rrg,lol,r,rrr l<,rw,r.,,lt lx',,t,,1,

,\",u, il,/,,'y,a/,
a r &J

a r

r:-

Et

E&E

-r Fr

-' *E

lEt

--

E -

-'

rlarr cl<sploitasi suntItc'r(l.ly.l laut, [)cnl]clola.ln lingl<urtgatt l,rtrt, tcl',ry,r',,r lepas pantai, hukum laut dan zona ekonomi eksl<lusif serta aplik.rsi-,r1rlrl<,rsi survei di pesisir dan laut lainnya.

;.1

2(X) t):

;;;;;;;"; ";;;il;;,;l;- ; ; ;, ;il;i,;


"

(l) N,tttttr ,rl ( lt,rtlrrtll

C. KELEMBAGAAN HIDROGRAFI
lnternational Hydrographic Organization (lHO) adalah lembaga internasional yang berwenang untul< mengelola dan menyelenggarakan penerbitan bg+bagai publikasi untuk l<eperluan navigasi. Lembaga ini
berkedudul<an di Monaco dan dikelola oleh representasi pakar-pakar hidrografi

dunia -dan bidang lain yang berkartan langsung-. Dalam melaksanakan tugasnya, IHO menunjuk dan membentuk kepanitiaan khusus dalam bentuk working group. Secara teknis, kewenangan IHO dilaksanakan oleh I nte r n ati o n al Hyd rogr aph i c B u re au (l H B). HO breran ggotakan negara-negara yang berkepentingan dengan navigasi laut dan keselamatan pelayaran. Di beberapa negara maju, seperti Ameril<a Serikat, lnggris dan Jerman, terdapat pula lembaga profesi yang menampung aspirasi aplikasi hidrografi
I

(2) Military (3) lnland Water (4) Coastal Zone Management (5) Offshore Seismic (6) Offshore Construction (7) Remote Sensing
kan u ntu k men ghirs i l l<, n jasa dan produk informasi hidrografi untuk keselamatan navigasi. Alrlik,rsi military (militer) diutamakan untuk navigasi (kapal selam) dan detel<si (rirrr j,rrr)
d

Apl i kasi n auti cal ch arti ng (pemetaan laut)

ituj

yang lebih luas. Lembaga ini disebut sebagai The Hydrographic Society atau

Masyarakat Hidrografi.

Di setiap negara, ditunjuk sebuah kantor hidrografi nasional yang diberi kewenangan sejenis untul< wilayahnya. Semua publikasi internasional yang dikeluarkan oleh IHO akan diratifil<asi oleh kantor hidrografi nasional di setiap negara. Dinas Hidro-oseanografi (Dishidros) TNI-AL adalah lembaga yang berwenang menjalankan tugas sebagai kantor hidrografi nasional untuk lndonesia. Lembaga hidrografi ini adalah badan resmi yang berwenang menerbitl<an, merevisi dan memutakhirl<an peta laut beril<ut ketentuan
tel<nisnya, standar mutu penyelenggaraan survei hidrografi, akreditasi kualifikasi

bawah air. Aplikasi inland water (perairan pedalaman) ditujuk;rrr rrrrlrrlr pengelolaan daerah aliran sungaidan lingkungan perairan pedalam,rrr l,rirrrry,r (termasuk: danau dan bendungan). Aplikasi coasta/ zone nt,ttt,t;;r'ttrltrl (pengelolaan kawasan pesisir) ditujukan untuk pemelihara,ur rrv(",1,r',r (utamanya: infrastruktur perhubungan laut) di kawasan pesisir. Aplrk,r',r offshore seismic dan construction (industri lepas pantai) diutam,rl<,rrr rrrrlrrh mobilisasi anjungan minyak dan gas bumi serta survei seisntil<. A1rlrl.,r',r remote sensing diutamakan untuk akusisi data regional dan glolr,rl lr,rgr kepentingan pemantauan lingkungan secara berkala.

E. KONFIGURASI SURVEI

HIDROGRAFI

Survei adalah kegiatan terpenting dalam menghasilkan infornr.rsr


hidrografi. Buku ini membahas aktivitas utama survei hidrografi yang nrt.liptrli (Gambar 'l .1):

hidrografer, penerbitan publikasi nautika (daftar pasut, berita pelaut, daftar pelabuhan, daftar suar, daftar rambu, almanak nautika), aturan pelayaran dan lainnya yang berkaitan dengan hidrografi, navigasi, survei serta pemetaan
laut dan pelayaran.

D.

KOMPETENSI PROFESI DAN AKADEMISI HIDROGRAFI

Kompetensi profesi (praktisi) dan akreditasi pend idikan tinggi hidrografi disertifikasi oleh IHO bersama-sama dengan lnternational Federation rtf

. . . . . .

Penentuan posisi

di laut (l) dan penggunaan sistem rofercrrsi

(7)

Pengukurankedalaman(pemeruman)(2)
Pengukuran arus (3) Pengukuran (pengambilan contoh dan analisis) scrlimon (4) Pengamatan pasut (5)
Pcngul<rrran detil situasi cl;ln g;rris 1l,rnt,ri (rrrrtul< pr,nrcl,r,rn pcsrsrr)
(l r)

Surveyors (Fdddration lnternationa/e des Crrorttr)lres-FlC). Pro[t",i rl,rrr

.\urut, //,,/"ot.a,l, c. a i-J & { r-

- EE-Er

rtr

E;E.-:r.Er

-EE

rf

r, - c.}

" l,rirr ,r<l,rl,rlr lltt' I1t,1trt111,1111111 lotrrtral y,rrrg rlrlr.rlrrlk,rrr olllr llt,' .','rl,rttgl<,ttr Ilytln44r,r1ilrtr \rrr rlll , ,rrtil<t'l-,rrl il<t.l illri,rlr l)()l)ul(,r tr,rrl,rrrlq lritfrogr.t[i rliptrlrlr[,rsrl\.ur ()l('lr majalah Hydrc /N7l/(NA tl()Nt\l
.

*,l,u,o,l;

;,";.;;;;;-,;;;

; ",,,;;;-;,;,;,, ; ; ;,; ;i-;.

Referensi
B ra
i

ny D

ctionary (2004). http ://www. brai nyd ictionary. crom.

de Jong, C. D., Lachapelle C., Skone, S. & Elema,

l. A.

(2oo.,)

Hydrography. Delft University Press. Delft, The Nethorl.rrrrls. Dyer, K. R. (1979). Estuarine Hydrography and Sedimentation. C.rnrlrr.irlly, University Press. Cambridge, UK.
Encyclopaedia Britann ica (2004). http ://www. britan n ica. com.

Corziglia, H. (2004). lnternational Hydrographic Organization A< tivitrr,,, Dalam: Poerbandono (ed.). The Spectrum of Hydroyttltll, Departemen Teknik Ceodesi, lnstitut Teknologi Banrlrrrrg.
4 t ,! H

yperD ictio nary (2004). www. hyperd ictionary. com.

lngham, A. E. & Abott, V J. (i992). Hydrography for thr srrrvr'1,r,r ,ttt,l Engineer. Blackwell Science.

,. (',975). Sea Surveying.]ohn-Wiley. lngham, O. t. (', 984). Hydrography for the Surveyor
lngham, O.

and Engintt'r.

ro,,,,lry

Cambar /. / Konfigurasi survei hidrografi


Data yang diperoleh dari aktivitas-aktivitas tersebut di atas dapat disajil<an

Lockwood Staples.

lngham,
sebagai informasi dalam bentuk peta dan non-peta serta disusun dalam bentuk basis data kelautan.

A. E. (200O). Hydrography for the Surveyor anrl

Lrtt:rrtctr

Blacl<well Science.

lnternational Hydrographic Organization - lHo (2002). -stanr/,rrr/s ,/ Competence for Hydrographic Surveyors. M-.5 9'r, Erlitiorr. lnternational Hydrographic Bureau - lHB, Monaco.
Kelompok Keahlian Hidrografi (2oo4). Program Penelitian, Pt'nrlirlik,rrr tl,ttt

F.

REFERENSI AKADEMIK HIDROGRAFI


Sebagian besar referensi tentang hidrografi berasosiasi dengan pendidikan

Pemberdayaan Masyarakat 2005-201 0. Nasl<ah Al<,rrlt'nril< Departemen Tel<nil< Ceodesi, lnstitut Teknologi [3anrlun13.
Kelompol< Bidang Keahlian Kelautan (1989). Pendirlikan -srrrvt'i lli<hr4;r,rrt IT B-PERT AMINA. Diktat Kuliah. Jurusarr Tt'l<nil< ( lcor lt'si, lrrstrtr rl Teknologi Bandung.

profesional hidrografi dan publikasi-publikasi lHO. Daftar publikasi IHO dapat diperoleh dari www.iho.shom.fr. Beberapa referensi akademik terpilih tentang hidrografi antara lain ditulis oleh lngham (1975, 1984, 2OO0), lngham & Alrolt (19()2), Dyer (1()79) clan de Jong et al. (2002). Kompilasi dari lrt'lrt'r,rp,t rt'[r'rcnsi ,tl<,rrk'nril< 1x.rn,rh rlirlokrrmcnl.rsikan clan dipakai sch,rg,ri ,l( u,ln ,r[,rr['tttil< ok'lr Kclonrllok llirl,rng Kcl,rrrl,rn (sr.k,rritrrg: Kclorrrpok

Morri,rnt Wr.lrster Online (2004). l"rltp://www.r1t w ( ()ru.

Mit,t,

'- 1f ')()ll)

I lyrl^,f,',r,',,ty

in

ltxlorrcsl,r. I lyrlro lN

ll

l(NA

ll( )Nn I

fJ,,r','tttlr1r I )r't t,ttt[x'r

Br

,\u."r, /1,/*r.ul,
r!

&-Jlr--

DE

-rr-

---.-.-.

r-r

r-r-r-r:D

- = - > - -

Mir.r, S. (l()()()). lly<lr<44ra1il)y as a Sclenc.e. Hyr-lro lNTtRNn

ll(

)Nn I , A;rrrl.

Webster's

91

3 (2004). www.hyperdictionary.com.

Sis1om ltokrronsi (jrxrrk.lih d:rn Pnnentueln lDosisi rli l,tul

Penentuan posisi (suatu objek)

di laut (termasul< juga wil;ryalr

1x'r,rir,rrr

lainnya) merupakan kegiatan utama dalam survei hidrografi. ()lrjr.l( y,u11 dimal<sud dapat terletal< di (i) permukaan laut, (ii) antara permul<,r,rrr rl,rrr dasar laut atau (iii)dasar laut. Objek tersebut diwakili oleh sehLrah titil\ y,rrti memiliki posisi yang dinyatakan terhadap suatu sistem referr.rrsi licorh.lrl.
tertentu.

A. SISTEM

REFERENSI GEODETIK

Setelah melalui sejarah yang panjang, pemahaman meng('n,rr 'lrr,rrlrrl. bumi'telah diperbaiki mulai dari model bumi datar hingga ke nr<xk'l nr,,,l,'l berbentuk bola yang cukup memenuhi ketelitian untul< l<eperlu;rrr ck.,plor,r',r global, navigasi dan pemetaan. Kini, dari pengamatan-penganr.rl,rrr .,,rlr,lrt

selama bertahun-tahun, disimpull<an bahwa datum geodetik y;rrrg r or ol. digunal<an dalam pengukuran-pengukuran adalah elipsoid. Sistem rcfcrcrr,,r geodetik menggunakan elipsoid sebagai bidang referensi untuk mcny,rl,rl<,rrr posisi horisontal suatu titik. Elipsoid tersebut disebut sebagai datum lrorisorrl,rl yang pusatnya berimpit dengan pusat massa bumi. Sistem yang rl<'nril<i,rrr disebut sebagai sistem geosentrik. Pada masa lalu sulit untuk mcrt.;rlis,rsil<,rrr sistem yang geosentrik sehingga yang digunal<an adalah clatr-rm lol<,rl rl,rrr
regional. Al<ibat penggunaan datum geodetik yang berberla, str.rlrr lilil< k'r.lr.rrlrr di laut dapat mempunyai koordinat geodetil< yang br:rbcrla lrrrl;r, st'lrin1i1i,r

diperlukan hubungan antar sistem referensi gcodctil< yang rliny,rl,rl<,rrr r l,rl,rrrr suatu persamaan transformasi koord i nat ant;r r rlat trm (r'l i rsoir l).
1

pon(.nluiln;xrsisi lrcrlr,rsis s,rlclil, rlrrrrr,r t.t'u.nttjtt l.r',rr,rlr lx'nllgunaan rl.tltrnr gt.ork,l il< glolr,rl tttltrlili,rtrlrk,rtr rl,rlrrrrr
St'j,rl< tnunctrlnya teknologi

'!':'J!!r'!r--r

----]ErrE!--

EDD;

-ff=3--;G>>>

G>>G

'r1,", >

r" 1, ,,,, ,,, ,,.,,,1, I'l' ,{ I', ", ,'r,,.,,,


------->----

,,r.r,lrl,,,,l
-FDI

lok.rl rl.rrr rr.gion,rl. l).rlrrrn gloll,rl IX.'rt,lnril rlitct.rpl<,rn 1l,rrl,r l,rlrrrrr l'l(ro deng,an nama World Ceor/etlc- -Sy-slent (WC5-60) untuk l<epcrlu,ttt 1x'tttcl,t,tn darat dan laut serta navigasi. Versi terbaru yanB masih digunal<an hingga saat ini adalah WCS-84, yang dikembangkan untuk menggantrkan WCS-72, yang diperoleh dari data, teori dan teknik terbaru tentang penentuan bentuk bumi. Pada tahun 1979, lnternational Union of Ceodesy and Ceophysics (IUCC) menerima proposal lnternasional Association of Ceodesy (lAC) untuk menggunakan Ceodetic Reference System yang baru
(CRS B0) sebagai referensi untuk pekerjaan-pekerjaan geodetik, menggantikan

morrdrirrt y;trtt;

memolorrrl

1t

meridian

CRS 57, dan mempunyai sedikit perbedaan dengan WCS-84. Pada tahun '1983, IHO menggunakan WCS-84 sebagai sistem referensi global untul< peta laut.

a. Sistem Koordinat
Lokasi tertentu atau posisi suatu titik di permukaan bumi dinyatakan dalam sistem koordinat. Sistem koordinat yang paling banyal< digunakan saat ini adalah sistem koordinat geodetil<. Posisi suatu titil< dapatjuga dinyatal<an terhadap sistem koordinat kartesian yang berpusat di bumi dan melekat di bumi.
Sistem Koordinat Geodetik

Sistem koordinat geodetik mempunyar parameter lintang, buiur dan tinggi geodetik. Meridian utama (prime meridian) atau meridian nol, yaitu meridian yang melalui Creenwich dan ekuator (equator) merupakan acuan yang digunakan untuk mendefinisikan lintang dan bujur, sedangkan tinggi dinyatakan terhadap permukaan elipsoid (misalnya: Davis, et al., 1981). Lintang geodetik dari suatu titil< (misalnya P) adalah sudut dari bidang el<uator ke arah vertikal dari garis normal elipsoid referensi yang melalui titil< tersebut. Bujur geodetik suatu titik adalah sudut antara suatu bidang referensi (misalnya: meridian utama)dan suatu bidang meridian yang melaluititik, yang keduanya tegak lurus bidang ekuator. Tinggi geodetil< pada suatu titik adalah jaral< dari elipsoid referensi ke titik dalam arah normal ke elipsoid (Cambar 2.1).
Sistem Koordinat Kartesian Pada sistem koordinat kartesian yang berpusat di bumi dan melekat di bLrmi (Earth Cenlered Earth Fixecl* ECEF), gxrsisi suatu titik diwakili olt'h
l).rr,rr'n(.1('r

Cambar 2.

Lintang (9"), buiur (1") dan tinsgi (h) geodetik titik l' sistem koordinat geodetik

grarl.r

dengan pusat massa elipsoid referensi (Cambar 2.2). Karakteristik sislcttt koordinat ECEF adalah:

. . .

Sumbu-Z ke arah Kutub Utara.


Sumbu-X adalah perpotongan bidang yang dilalui meridian rrl,rnr,r dan bidang ekuator. Sumbu-Y adalah perpotongan suatu bidang yang membcnlttl< stttlttl

90" sebelah timur sumbu-X dan bidang el<uator, st'hirrgg,r


merupakan sistem ortogonal tangan kanan.
Rumus-rumus untuk konversi posisi titik pada sistem l<rxrr<lin,tl k,trlt'si,ttt sislem koordinat geodetik dan sebalil<r'ryir rlirlokrrnrcttl,tsil<,rtr p,rrl,r

ke

[,rtttlrit,rtr A.

X,

Y <l,rn

y,tny, mr.ny.rl,rl<,rn llosisi lig;r rlimcrrsi yang llt'rl<,ril,rtr

l0

lt

setengah sumbu pendek (b)


= jari-jari kutub

setengah sumbu panyang (a)


= jari-jari kutub

pusat

e lip so

id

C am

bar 2 .3 Parameter-parameter elipsoid

Cambar 2.2 Sistem koordinat kartesian tiga dimensi

b. Datum Geodetik
Penentuan suatu datum geodetik didasarkan pada bentuk bumi, sedangkan penetapan suatu sistem referensi didasarkan pada keperluan menggambarkan posisi geografis suatu titik. Elipsoid yang digunakan sebagai sistem referensi untuk menyatakan posisi suatu titik, mempunyai parameterparameter: setengah sumbu panjang (jari-jari ekuator a) dan koefisien pegepengan (hubungan antara jari-jari ekuator dan kutub f = (a-b)la).
Parameter-parameterelipsoid referensi lainnya seperlisetengah sumbu pendek

WCS-1984 telah digunakan oleh sistem penentuan posisi glolr,rl sr,1,rl. 1987 dan menjadidatum standaryangdisepakatisecara internasion,rIsr,lr,rpi,rr datum untul< sistem referensi horisontal. Elipsoid yang digunal<arr ,rrl,rl,rlr CRS (Ceodetic Reference System) 1980 dengan parameter a = 6,37t\,1 lTnt dan modifikasi f = 11298.257223563, yang berpusat di pusal hurrrr (geocentric ellipsoid). Negara-negara dan badan-badan dunia menggurr,rk,rrr datum yang berbeda sebagai sistem referensi yang digunakan untul< pcnr.rrlu,rrr posisi pada sistem informasi geografi (Ceographic lnformation -9ystcrrr CIS), sistem penentuan posisi teliti maupun sistem navigasi. Perbedaan penggunaan datum geodetik dan kemajuan tt'l<rrologi pengukuran-pengukuran untuk penentuan posisi secara g,lolxrl rk'ng,rrr ketelitian hingga desimeter membutuhkan pemilihan datum so(';rrir h,rtr lr,rtr dan transformasi antara koordinat-koordinat dalam rl;rttrm yirng lrcrl x,rl,r. Kesalahan pengikatan koordinat geodetik kc datum tcrlt.nlrr rnr.ng,rkilr,rl[,rn kesitl,tlt,ttt posisi hingga ratusan meter. Konvcrsi ,rnl;rr<l,rlrrrnrl,rp,rl rlrl,rktrk,rrr rlt'tt1i,ttt ntr'nrl x't lrilrrrrgkan ttrjrrh p,rr,rntctcr lr,rnsforrrr,tsi y,rrrpg rrrr,lrpuli lipi,r

(jari-jari kutub b) dan eksentrisitas e = (a'?-b2)lb2 = f(2-f) dapat dihitung dari a, b dan f. Cambar 2.3 memperlihatkan parameter-parameter sebuah elipsoid.

l')

!.':'J''!'t'!r

Er.E--D - - D- E - - r- r'r'r- --3 jr-ErrEr-E p, y) tl,rrr .,,rltr ltaramt,tcr translasi (t,, t,.,t,), tiEa l)ilramcter rotasi (cv, parameter skala (Cambar ).4). Rumus-rumus yang digunakan r-rttlul< melal<ukan konversi posisi titil< pada sustu datum ke datum lain didokumentasikan pada Lampiran A.

; ;,;,;,; ;;;- " ;; ;; ;;; ;;ffi


rrnlul< lx.rrr'rrlrr,rrr lr,rl,r,. wrl,ry,rlr Berdirs.rrl<,rrr l<r'lrtrtuhan

1x.r ,rir,rn, nrr'trggtrtr,rl<,ttt pt oyll<st [rtttlotttt, yirrrg mr.rrglr,rrrlL,rn pr.ilfiill\ilt,il1 strrltrl, j;rrilk rl;rrr,rr,rlr rlt'ng,rrr rlrsltltsr y,rtr;1 minimtrnr tlilr,rrrrlrrrllk,ur rk'trg,tn proycksi lain.

:;: ; ; i;;

; ; :,

dan karakteristik area yilnll rlit,rl<up, pilrlr,rrr

proyeksi yang cocok untuk peta laut adalah:

. . . .

Mercator
Lambert Transverse Mercator Stereografik

Semua proyeksi di atas merupakan proyeksi yang l<onform (l;cttttrl< tl,rtt

X
Cambar 2.4 Transformasi datum

c. Proyeksi Peta
Bentuk bumi yang didekati dengan elipsoid mempunyai permukaan yang melengkung. Karenanya, proyeksi posisi titik di permukaan bumi pada peta tidal< mungkin dilakukan tanpa distorsi. Salah satu proyeksi peta yang lazim digunakan dalam geodesi adalah proyeksi konform. Proyeksi ini mempertahankan sudut yang dibentuk oleh perpotongan dua kurva, sehingga sudut yang digambar di peta akan sama dengan sudut yang berada di permukaan elipsoid. Proyeksi peta dipilih sedemikian rupa sehingga meminimasi beberapa distorsi teftentu (karena tidak mungkin semua distorsi dihilangkan). Dengan demikian, dalam proses pembuatan peta, dilakukan pemilihan proyeksi peta al(an tergantunB pada persyaratan khusus dari peta
yang akan dibuat.

sudut di peta sama dengan di atas elipsoid). Namun demikian, proyt'l<st Mercator cocok untuk daerah sekitar ekuator (lintang <15") clengarr pililr,rrr skala peta yang sesuai karena distorsi akan beftambah besar paclrt 1x't,r sl<,rl,r kecil. Proyeksi lambert cocok untuk daerah lintang 4" hingga 72" rk'tr1i,rtr distorsi luas yang cukup kecil (sekitar 2oh). Proyeksi Transversc Mtrt,tntt menggunakan silinder transversal sebagai bidang proyeksinya, st'ltitt111'1,r ,rr',r di sekitar meridian yang bersinggungan dengan silinder memptrtry,rt rlt"l,t',t yang minimum. Proyeksi Universal Transverse Mercator (l.ilM) I'lrrr',rt'. dipakai di seluruh dunia dengan menggunakan meridian pus.rl sl,rttrl,tt ;r,trl,r setiap interval 6" dari meridian bumi. Proyeksi stereografik tergolorrli ptoy,'1.',t azimutal konform yang berpusat di kutub dan dianjurkan ttttltrl. rltp,rl,rt pada daerah dengan lintang di atas 80".
'.

Bagi keperluan pembuatan Peta Navigasi Laut lndonesia, yangtliprxlrrlr',r


ttrt

oleh Dishidros TNI-AL digunakan Proyeksi Mercator. Sistem proycl<st

Peta laut yang digunakan untuk navigasi memilih proyeksi Mercator yang menggunal<an silinder tegak sebagai bidang proyeksi. Proyel<si ini menggambarkan /oxodrome (garis jarak terpendek yang menghubungkan dua titik di permukaan bumi) sebagai garis lurus (mempunyai azimut y;trtg

dianggap paling sesuai dengan karakteristik wilayah perairan lnrlrtnt'si,t y,rtrg terletak di sekitar ekuator. Untuk keperluan tertentu, seperti pemhu.tl,ttt l'r'l,t Lingkungan Pantai Indonesia (LPl)dan Peta Lingkungan Laut Nasion.rl ([ [ N) digunakan Proyeksi UTM karena dapat menyajikan data yang l<'ritttt'gt,tst antara daratan dan Iautan. Peta Rupa Bumi produksi Bal<osurl,ttt,tl menggunakan Proyeksi UTM. Dengan demikian, saat inidi lnrl<ltrt'si,r, lt'lrrlt banyak menggunakan dua macam jenis sistem proyelksi pt'lit s,ri,r, y,rtlu

Mercator dan UTM.


Sislern l'royr.ksi Mercator
!,r,,lr.nr proyr,Lrr Mr.rr .rlor mcrtl.lgtrlt,tk,ttt llirl,rttg ptrryt'k.,i stltnrl,'t r['tt1i.tn

tetap). Kelemahan proyeksi ir-ri adalah i;rrak clirn luas yang tcr<li'.lor',r

srrrrrlrrr .,rrrllr

lrrrl.rnlg proycl<sirry,r

lrcrirnllil rlr'rr1i,rtr rrrnrlrtt lltp',otrl

t\

*:'!'!T

'!-a

r B --

---

- rr

BEr'--i

r rEB

- E - E D - D - - E 'l

--

(n11rmal)

rliyt

li<lal< tcrrl;rpal <lislorsi llt'ttttrk/su<lut atau tlist'l rut ',r'lr,r1i,ri

cylinder normal coniorm. Proyeksi ini diperkenalkan oleh Mcrc,ttot 1r.tt.l.r tahun 1550 dan 4O tahun kemudian Wright memberikan penielasan matematisnya. Karakteristik yang dimiliki oleh proyeksi ini adalah:

llrpsoir l, rrr,rl.,r

lt.,l, ,r.,r ;,rr,rl. ,r, l,rl,rl r trol r lt cl<tt,tlrlr, ll,lllltll l \('lll,ll\lll ttl,'lttl x ",,tt r['rr13,rrr lx,rt,rrrrl r,rlrrry,r lrrrt,rrrli. I )r lculttlr, <lislt>rsi sl<,tl,t tttt'tt;,lrlr l,rl. lx'tltttr1i1i,r
r

iil,-,;.:;;;;;;; ;;';;,;;", ;;;;;" ;;, " i;,

. . . . .

Faktor skala tetap di sekitar ekuator. Konvergensi meridian sama dengan nol.

Meridian dan paralel berpotongan teBak lurus' lnterval antar meridian sama. lnterval antar paralel membesar semakin jauh dari ekuator.

Lrlx<lr/r9rrrc y.1ll,, nl('nlotorrg mcridian-mericliart <lcng.rtt lx's,rt'strtlttl y,rtr1', silma alal [,rrgl<rr1g,rrr rlengan azimut yanB tetap, al<atr tlillroyt'ksil<,ttt sol r,t11,tt garis lurus cli bidang proyeksi Mercator. Hal ini sesu,'ti ttttlttl< l<t'lrct ltr,rrt navigasi, karena pelaut sangat membutuhkan informasi tc'rttattg .tt',tlt ,tltl,tt dua titik posisiyang benar pada peta dengan fakta sesungguhny;r

tli

l,tp.rttg,rtr,

Sistem Proyeksi fransverse Mercator


Proyeksi Transverse Mercator (TM) menggunakan bidang proyeksi silitt<lt'r

Peta Navigasi Laut lndonesia yang dipublikasikan Dishidros TNI-AL menggunakan sistem Proyeksi Mercator. Pada Proyeksi Mercator umumnya sumbu-X merupakan proyeksi dari ekuator (lintang nol), sedangkan Peta Navigasi Laut lndonesia menggunakan proyeksi lintang tengah sebagai sumbu-X. Proyeksi sumbu-Y dapat dipilih sesuai keperluan. Biasanya, menggunakan proyeksi meridian Jakarta (Cambar 2.5).

dengan sumbu simetri bidang proyeksi tegak lurus dengan sumbu clilrsoirl (transverse) dan tidak terjadi distorsi bentuk/suduI (conform) atau clisirrgk,rt cylincler transverse conform. Proyeksi ini diperkenalkan oleh Lantht'rl p,rrl,r tahun 1772 dan 5O tahun kemudian Causs memberikan p('rltrrtrrr,rlr analitisnya. Tahun 1912, Krliger menyelesaikan penurunan malt'm,ttistty,r,

sehirrgga memudahkarr dalam perhitungan-perhitungan nul'11('l istry,r Karakteristik lain yang lebih spesifik yang dimiliki oleh proyeksi itri ,rrl,tl,tlr

. . . . .

Faktor skala tetap di meridian sentral.

Semakin .fauh dari meridian sentral, konvergensi mcritli,rtr ,rl.,rtr semakin membesar.

Meridian dan paralel berpotongan tegak lurus. Pada lintang yang sama (satu garis paralel), faktor sk;rl,r ,rk,rrr membesar dengan membesarnya bujur relatif terhadap nlt'ri<li,rrr
sentral.

Pada bujur yang sama (satu garis meridian), faktor sk;rla mengecil dengan membesarnya lintang.

.tl<,ttr

Pada sistem proyeksi Transverse Mercator, sumbu-X merupakan proyt'l<si

dari ekuator (lintang nol), sedangkan sumbu-Y dapat dipilih sesuai l<t'1x'rltr,ttt (Cambar 2.5).

Sistem Proyeksi Universal Transverse Mercator


Proyel<si Universal Transverse Mercator (UTM) tt'rg()lotlg proycl.sr /1",111svcrsc Mr.rcak>r (TM) yang mempr-rnyiri kar,rklt'rislik khttsrrs rl,rtl k'l,rlr rlill,rl.rrl.,rrr rrrrlul. ,,r.lrrrrrlr rltrrria. K;rr.rktt'rislil< kltttstts y,rrrg lcl,lll tlrlr,rkrrl.,rrr
Cambar 2..5 Sistem koordinat bidang Proyeksi Mercator
It,t ,,t,l

rttl rlr,rnl,rr,rn1,,t lr,rrl,trrli llcrnll,tgi,tn, lx'tl()ttl()t ,ttt rl,ttl

lrlttr'tlltl,lll

lx)',1',1

1A

t7

,\^.ut, //,,/.ort.al, ':':':':'tr'*

- -:

- -ar--r-

ErBt

-:EB---

- - D --

- - - ' r -

I""t ' ,.=r,, 1', 1,,,,,'.', ,,,', 1, t,l' ,t 1" ""'r""" 1""'r"' 'l' j j_ G-t ---DDDD->>>>>>------_-----D --

scntral

lll0"Bll

l7,1"BB

l6li"BB
L)

I?lUBT
niversal rransyerse Mercaktr

ll()"

lt'l

c ambar 2.7 Pembagian zona proyeksi

Cambar 2.6 Proyeksi fransverse Mercator

ini pertama zona, faktor skala clan sistem koordinat (cambar 2.7\. Proyeksi keperluan kali digunakan oleh Amerika Serikat di awal tahun 1950-an untuk sera8am peta yanE militer negara-negara NATO sebagai sistem proyeksi dari untuk seluruh dunia kecuali di daerah kutub. Beberapa karakteristik
proyeksi U niversal Transverse Mercator adalah: yang terbagi Elipsoi<1 referensi yang digunakan terserah pemakai,
titik *ol sernu belahan burni Ulara

t
1

meridian

"

i111H.

I
1

rore UIM

i i I
2

t
1

dalam 60 zona, dengan lebar setiap zona 6" ' Penomoran zona, dimulai dari 180" BB (Buiur Barat) terus ke Timur sampai 180" BT (Bujur Timud. Wilayah pemakaian meliputi 84" LU (Lintang Utara) sampai 80"
LS (Lintang Selatan).

>x

proyeksr Untuk koordinat proyeksi ditetapkan sumbu-X sebagai meridian dari proyeksi linrang nol (ekuator) dan sumbu-Y sebagai yang sentral di setiap zona yang disebut dengan sistem koordinat mengacu pada titik nol sejati. nol Koordinat proyeksi UTM biasanya dinyatakan terhadap titik Untuk Y5p,a71 Yrrru = semLl, dengan Xr., u = Xrrt^r,+ 500,000 m dan .10,000,000 m untuk + Y561,t d;n"i'rrr, = belahan bumi Utara belahan bumi Selatan (Cambar 2.8). Konsep titik nol semu ini digtrnakan agar tidak ada koordinat berharga negatif. Faktor skala cli meri<li;rn st'ntral = O'(X)()(r'

titik nslsemu belahan burni


Selatan

F x o (3 {3

titik nol sejati

t.
..^

. ". *:..-.-.,,;4
a

>x

(,antbar

2 .U

Sketsa zona sistem koordin.tl bitlang proyt'kri I lttivrrsal

fransverse Mercator

'!':'J!!'z|!rrrr

B.
oleh,

-r!.rErEr PENENTUAN POSISI DI LAUT


lr. Samsul Bachri. llEng..?h.D.

rf,BrlD-D*,,,u

Posisi suatu titik di atas bidang datar dapat ditentukan dengan l<ombinasi (perpotongan) dua atau lebih garis posisi (Line of Position - LOP). LOP adalah lokasi atau l<eberadaan titik-titik dari suatu pengamat yang memiliki satu besaran pengamatan tetap (dari titik referensi ke titik yang ditentul<an posisinya) yang dapat berupa: arah, jarak, sudut atau beda jarak. Di atas permukaan laut, besaran penBamatan tetap tersebut diperoleh menggunakan instrumen-instrumen pengukuran yang bekerja dengan memanfaatkan prinsip-prinsip optik (cahaya tampak) atau elektronik (gelombang radio).

,",u,

(a) Caris Iurus

(b) Lingkaran konserrtrik

a. Geometri Garis Posisi


Besaran pengamatan tetap pada setiap LOP memberikan geometri garis-garis posrsi: garis lurus, lingkaran konsentrik, lingl<aran el<sentris dan hiperbolil<. Cambar 2.9 memperlihatkan masing-masing geometri garis posisi tersebut, sedangl<an model-model matematika untuk masing-masing besaran pengamatan dari suatu garis posisi didol<umentasikan pada Lampiran B. Berikut ini diberikan penjelasan lebih jauh tentang empat geometri garis
posisi.
(c) Lingkaran eksentrik (d) Caris hipcrlrolrk

Garis Lurus Jika i adalah pengamat yang menjadi referensi dan ditetapl<an satu acuan arah yang didefinisikan sebagai 0', maka titik-titil( u1,ut,ut, ..., u,j berada pada garis sepanjang iu pada arah a,,,. Posisi u berada pada LOP garis Iurus yang diamati arahnya dari satu titik referensi (Cambar 2.9a). Pada sistem koordinat kartesian dua dimensi, dengan arah 0" sebagai sumbu Y dan ditetapkan sumbu X yang tegak lurus Y, mal<a posisi titik u menjadi fungsi dari posisi titik I dan pengamatan a,.
Lingkaran Konsentris
Li

Cambar 2.9 Garis posisi

arah 0" sebagai sumbu Ydan ditetapkan sumbu Xyangtegal< lrrrus Y, ttt,rl,,r posisi titik u merupakan fungsi dari posisi titik i dan pengamatan \,,,.

Iingkaran Eksentrik
Lingkaran eksentrik adalah lingkaran-lingkaran yang melewati tltr.r lilil<. Jika titik i dan titik I adalah pengamat yang menjadi referensi, maka titil< titik

ngkaran konsentri

l<

ada lah i ngkaran-l


I

gkaran yan g pusatnya bersel<utu

di satu titik. Jika titik I adalah pengamat yang menjadi referensi dan dari i ditarik suatu garis sejauh 5,,,, maka titik-titik u,, u, t)r, ..., u,, berada pada lingkaran yang clibentuk oleh titik i sebagai pusat dan jari-jari 5.,,. Posisi u
beracla parla LOP ling,karan yang rliamali jarakrrya dari satu titil< rcfcrcrrsi (C,rrllr,tr 2.()ll) l',rrl,r sislcnt koorrlirr,rl k,rrlcsi;trt rlrr;r rlimt'lrsi, rlr,trli,rrr
?o

un berada pada garis sepanjang lingkaran y;lttg lt't lrt'ttlttI oleh titik-titik i, i dan u. Posisi u berada pada LOP lingl<aran ol<scrrlril< rl,rrr dua titik referensi (Cambar 2.9c). Pada sistem koorclinal l<,rrl<'si,rrr rlu,r dimensi, dengan arah 0'sebagai sumbu Y rlan rlilct;rpl<.rn surrlrtr X y,rrrli tegak ltrrrrs Y, maka posisi titil< u adalah fr-rngsi <l;rri posisi tilil< l, lilili 7 rl,rrr surlrrl ; x't rli,rnt,rl,ttt /1,,,,.

ut,u2,tJ.r ...r

*:'J!'!'t::!r

- r E -,- -- ri

r r a r f, r r - - D r -. - t - -D - - > - r D -

-G3--;;;;,-.,
4.

Hiperbolik
Caris-garis hiperbolik adalah garis-garis yang terbentul< olt'lr lrlil<-titik yang selisih jaraknya ke dua titik lain konstan. Jika titik I dan titrk l adalah pengamat yang menjadi referensi, maka titik-titik u,, u2,u3, ..., un berada pada sepanjang garis hiperbolik yang dibentuk oleh titik-titik yang selalu tetap selisih jaraknya ke titik idan titik i. Posisi titik u ditentukan berada pada LOP hiperbolik dari dua titik referensi (Cambar 2.9d). Pada sistem koordinat kartesian dua dimensi, dengan arah 0" sebagai sumbu Y dan ditetapkan sumbu X yang tegak lurus Y, maka posisi titik u menjadi fungsi dari posisi titik i, titik I dan pengamatan jarak S, dan 5,,.

,tl,tttrh'trp,,rtr.rl,rl
I)r't1xrlotrl.i,rrr

;;;i;;l;;;,t ;;, ;. rlrl.lt,r ;;;;: ;,", t()l,tttttl


rrl

rltl'

/,rst't /r,',tttt.

rl,rtt tnttrttn,tl /i. l)osisi titik u rlitcrrtrrl<,rn tl,rri 1x.r1lolon1i,rrr ant,rr,r l( )l' y,rrrg nrcnrpunyai beda jarak A.Sr (A\r ls,, s, ,l konst.rn) rlan A5, (ASr= l5,u-5;u I = konstan) yan,l siun,r ,rrrl,rr',r lrlrl. referensi (disebut: master) dengan titik il<at pcrrtrnj.rrr13 (rlist,lrrrl: s/ave) (Cambar 2.10d). Kombinasi LOP i ni dipal<ai rl.rl,rnr l x'n(,nl u, u posisi menggunakan gelombang rad io. Beda .jaral< dilxrrok'l r r k.n1;, rn mengukur beda pulsa antara ketiga titik tersebut.
lig,r lilrk tlh,rlt
rsr r,

lt ll'lrrlx,tlxrlil<: ltrsisi litik u rlrkcl,rlrrri


l rl,rrr

b.

Penentuan Posisi Berbasis Garis Posisi

Kombinasi (perpotongan) LOP untuk penentuan posisi suatu titik di atas bidang datar dapat diperoleh dengan pasangan LOP garis lurus (kombinasi pengamatan arah), lingkaran konsentrik (kombinasi pengamatan iarak), lingkaran eksentrik (kombinasi pengamatan sudut) dan hiperbolik (kombinasi pengamatan selisih jarak). Visualisasi masing-masing pasang garis posisi tersebut ditunjukkan pada Cambar 2.10 dengan keterangan lebih lanjut sebagai berikut:
1

(a) Perpotongan garis lurus-garis lurus

arah-arah

Perpotongan LOP garis lurus: posisi u diperoleh dengan mengukur a. dan a,.dari dua buah titik ikat (referensi) I dan i di
s",,

pantai. our'i'p"rpo18ngan kedua garis lurus (pengamatan arah) tersebut dapat diperoleh posisi titik u (Cambar 2.10a). Pengukuran arah biasanya dilakukan menggunakan teodolit kompas.
2.

',
s,,,

5.,, dan 5,. Posisi titik u ditentukan jarak terhadap titik referensi tersebut dari perpotongan dua (Cambar 2.10b). Jarak horisontal dapat diperoleh dengan

Perpotongan LOP lingkaran konsentrik: posisi u diperoleh dari minimal dua titik referensi i dan I yang diketahui posisinya dan
pengamatan jarak-jarak horisontal

>: ,,'

memanfaatkan cahaya tampak (menggunakan substence bar), gelombang radio (mengukur beda fase atau beda pulsa) atau sinar
laser. 3.

(c) Perpotongan lingkaran eksentris


Cambar

(d) Perpotongan lrillcrllol,r

2./0 Geometri konfigurasi penentuan posisi

Perpotongan LOP lingkaran eksentrik atau disebut juga metode perpotongan sudut (resection): posisi titik u diketahui dari minimal tiga titik referensi i, j dan k yang koordinat-koordinatnya diketahui. Koordinat titik u ditentukan dari perpotong,an antara dua sttrltrt f),,,, rlan p,,^ y;rtrg rlitrl<trr rlari tt terharlap kctiga titik rt'ft'rcltsi k't',r'l rrtl

?2

/t

'!,':' !/'!"1: lE r E r B E r. E E - - - - E ] r r B E D. = - - G - - r - B -, St'l,rinorlr[),lt l)(ls,lnl.l L()l'sr'1x'rti y,rtrgrlilunjul<k,tn1t,trl,t(r,uttl r,rt .'lo, secara teorctil<, enam komtlinasi LOP lair-rnya rlapat clrperolt'lr rl,rri cntpat jenis geometri LOP. Contoh kombinasi LOP tersebut misalnya: L()1'} garis lurus dan LOP lingkaran konsentrik (kombinasi pengamatan arah dan jarak), LOP garis lurus dan LOP lingkaran eksentrik (kombinasi pengamatan arah dan sudut) dan sebagainya. Estimasi ketelitian penentuan posisi dengan kombinasi garis posisi didokumentasikan dalam Lampiran C.
Pada kondisi tertentu, kombinasi LOP belum cukup memberikan posisi

;;;;

Ittslrttntt'tt ok'kltotttl.,ltliun,rl\,urrrrrlrrI tnr'l,rkrrk.rrr lx,rrgtrl<ru,rrr;,rr,tk rL,rr11,rrr tlt'nrattfit,tlk,ttt l, r',r't , rl, rr t ;illott rl r, rr rg clt'ktronr,rgrrctik .rl,rt I gck rrr rll,rr t1; r', rr lro. Ittslrumttrt tttttuk pcncr rlu,ur posisi sccara <>ptik dan clckto-o1 rtik tlnurrrrry,r <ligunakan untttl< 1x:ttgtrl<uralr daerah pesisir deng.rn jarrg,k.ruirrr .rrrl,rr',r 2(X) meter hingga 5 kilometer dari garis pantai.
Penggunaan metode optik untuk penentuan posisi menuntut lilr,.l('l y,urg harus terlihat dari pengamat. Faktor-faktor dominan yang m('nrlr,rr,rsi kemampuan pengamat untuk melihat target adalah kelengkungan lrtrnrr rl,rrr refraksi. Jika lukisan jalannya berkas cahaya diasumsikan berupa girris ltrrtrs, maka untuk penggunaan instrumen optik di permLrkaan bumi y;rrrg melengkung akan terjadi kondisi sebagaimana ditunjukkan p,rrl,r cambar 2.12. Fenomena yang disebut dengan keterbatasan garis penglih;rr,rn (line of slght) ini merupakan akibat melengkungnya permukaan bumi.

;;,;:;ffi:l;; ;;;;;:;.:; ::;'


"

definitif. Kombinasi dua LOP lingkaran l<onsentrik memberikan dua titik


potong yang belum memberikan l<epastian posisi titil< yang akan ditentukan. Demikian pula halnya pada kombinasi LOP garis lurus dan lingkaran konsentrik. Pada suatu keadaan tertentu ke dua LOP tersebut dapat menghasilkan dua titik potong (Cambar 2.11). Kejadian ini diistilahkan dengan LOP ambiguity atau l<eraguan garis posisi. Untuk mengatasi persoalan tersebut perlu ditambahkan satu LOP sehingga penentuan posisi dilakukan menggunakan lebih dari dua LOP.

,1
i

.".a"".
!t'

jr
j

lh t

P ,.,

I !
I

---'*'--Cambar 2. / 7 Keraguan garis posisi

.R \
!

ln
I
I

'\

I
!1

'il{)/

Cambar 2.12 Garis pengamatan pada permukaan melengkung

c. Teknik

Penentuan Posisi secara Optik


Pengamat di titik P akan melihat target di f yang hcrjarak.s 1r.rrl,r ketinggian h. Artinya, semakin jauh 5 (jarak pengamat kc largcl) sr.m,rl<irr besar pula h. Hubungan ini dinyatakan dengan:

Penentuan posisi secara optik dilakukan dengan teodolit (theodolit). Berkas cahaya pada garis bidik instrumen menBgantikan garis-garis pengamatan. Jenis kombinasi LOP yang dapat diterapkan dengan metode ini adalah garis lurus (pengamatan arah), lingkaran konsentrik (pengamatan jarak) dan lingl<aran eksentrik (pengamatan sudut). Metode optil< mtrrni
hanya mr.manfaatkan berkas sinartampak schag.-ti pengganti garis 1x'tt1i,rttt,rl,ttt. Inslnrrrrcrr clcl<lronil< dipakai lrcrs,rr-r'r,r-s,rnt;r rk'rrg;rn ittslnttttltr opltl.

t'tts(/
<lcttg,ttr

- ill r lt
S

(].

t)

/i

l,rrt l,rrt lrrtttt rl,rn

rlirlt'k,rti rk'n1i,rrr /(/). W,rl,rrrl,rrrr rlr,nrrlrr,rl,


,r.

)4

'!':'J/!t'!- - -- - -- --E-EE-, r, -E - E - - -- efek l<clt-'r-rg,kung,itlt lrumi ltattya tncnrIrcri pcrrg.rrurlr kct rl p,rrl.r l\(,nr,ilil1)u.il1

alat ukur optik karena kebanyakan instrumen optik memiliki l<t'tt'rlr,rt,rs,rn jangkauan pandang, sehingga hanya dapat dipakai pada daerah scmpit di atas permukaan bumi yang dapat dianggap sebagai bidang datar. Selain efek kelengkungan bumi, penentuan posisi optik dipengaruhi pula oleh efek refraksi (pembiasan) yang disebabkan oleh perbedaan densitas atmosfer (yang menjadi medium rambat cahaya tampak) karena variasi suhu, tekanan dan kelembapan udara. Refraksi akan 'membelokkan' berkas sinar yang dipakai sebagai garis pengamatan. Pengaruh refraksi direduksi dengan prosedur pengukuran. Teknikteknik reduksi kesalahan pengukuran optik lebih jauh dapat dilihat di Davis et al. (1981)

Metode Optik Murni


Metode penentuan posisi secara optik murni mengaplikasikan kombinasi LOP garis lurus, lingkaran konsentrik dan lingkaran eksentrik. Cambar 2.13 memperlihatkan penggunaan dua teodolit kompas untuk mengul<ur arah-arah a,, dan d,,, dari titik-titik referensi i dan I ke titik u. Teknik ini disebut dengan theodolit tracking (Cambar 2.14a). Pengukuran jarak dapat pula dilakukan dengan cara optik murni menggunakan teknik sextant-substence bar. )arak diperoleh dengan mengukur sudut y yang dibentuk oleh posisi kapal dengan ujung-ujung lengan substence bar (Cambar 2.14b). Jika panjang lengan substence bar diketahui maka jarak pengamat u ke titil< referensi i dapat dihitung. Posisi diperoleh dengan pengamatan dua jarak ke dua titil< referensi. Selain itu, metode optik murni dapat pula dipakai untuk melakukan pengukuran sudut. Pengukuran tersebut dilakukan dengan teknik sekstan yang dilakukan dengan mengukur sudut yang dibentuk oleh kapal dengan dua titik referensi di darat (Cambar 2.14c). Posisi diperoleh dengan pengamatan dua sudut ke tiga titik referensi.
Cambar 2. /3 Penentuan posisi u dengan perpotongan arah di i dan

I
It,r'\

. l,'

p p

/(,2

(a) Teknik theodolit tracking

(b) Teknik sextant - sub-stt'rrr r' /r,u

Metode Elektro-optik
Instrumen elektro-optik terutama dipakai untuk mengaplikasikan kombinasi LOP lingkaran konsentrik (pengamatan jarak). Cambar 2.15
memperlihatkan penggunaan sistem Polarfix dari Atlas untuk mengukur jarak dan arah dari titil(-titik referensi di pantai ke kapal di laut yang ditentukan posisinya. Posisi diperoleh dengan kombinasikan pengukuran jarak secara elektronik (dengan gelombang radio) dan pengukuran arah (srrrlrrt) rk'rrg;rn cara optik. Pacla litil< y,rng tlilr:ntukan J;osisinya dilcmpalk;rrr rr'l/r,r tor rl,rrr p;rrl;r titik r('f('r(.nsi rli rl,rr,rl rlitr.rnp,rll<.tn ,tl,rl clcl<tro oJrlik.
26

(c) Teknik sekstarr


| ,,ttttl t.tt .'
I

/ Perrgukuran .rr.rh, jarak dan srrrlrrl

se<

ara opliL

Metode Elektro-optik

lnstrumen elektro-optik terutama dipakai untuk meng,al)lil(.rsikan kombinasi LOP lingkaran konsentrik (pengamatan jarak). Cambar 2.15
memperlihatkan penggunaan sistem Polarfix dariAtlas untuk mengukur jarak dan arah dari titik+itik referensi di pantai ke kapal di laut yang ditentukan posisinya. Posisi diperoleh dengan kombinasikan pengukuran jarak secara elektronik (dengan gelombang radio) dan pengukuran arah (sudut) dengan cara optik. Pada titik yang ditentukan posisinya ditempatkan reflector dan pada titik referensi di darat ditempatkan alat elektro optik.

;:il ;; ;r; ";;; il ; il ;:;;ilil,


",,r r r.,,,,1,.111. ,{ l',.,,.,,rt,,.,,' 1,,,,.r,,r,1r I ,,,,r

',r.r.,,, l',1,,.

Parl.l llitl,rrrgrl,tl,tr (( r,unl r,u .'.l(rr ). 5tr<lut /1,,, y.rrrgtlilx.rrtrrk ok'l t k,r1r,rl rl,rrr titik-titik rt'lt'tctrrr r rl,rrr 1tlrrl,rr,rt tlitlctcksi ricngalr ll.rrrtu,rrr rt'llt.ktor rr.lk,kkrr
.

Celombarrg y.tttg r lilr,rtrlrrlk,rn kcnrbali akan dideteksi olt-.h alal irri rl,rrr rlip,rk.rr untuk memlrcri tatttla .rr.rh-arah (relatif dari kapal) rcflcktor i tl.rrr I. Strrlrrt

yang dibentuk merupakan selisih arah i terhadap i.

--"-Q,,,

sw lt72 0

Snring llead 000

(a) Tcknik laser alignment beam

(b) Teknik tracking lac/rcorrrr,tr,r (",,,) dan rotating /aser /x',rrrr (\,,,)

u./\ -/a-/ ,,--..1-?

-rr"rr*
AZ t026 A
OO0

-----1

FJ,

Oo-Board St.tion

Control Unir

swltT0Aool

-vi fi
d.

(c) Teknik rotating laser beam

Cambar 2. /5 Penentuan posisi u dengan perpotongan arah dan jarak dari titik referensi (sumber: Krupp Atlas) Pengamatan jarak dapat pula diperoleh dengan teknik-teknik pengukuran laser alignment beam, tracking tacheometer dan rotating laser beam. Dengan teknik laser alignment beam, pengamatan jarak 5, secara elektronik dilakukan dengan bantuan reflektor di titik referensii (Cambar 2.16a). Teknik tracking tacheometer dilakukan untuk mengukur jarak 5.,, atau S,, dengan bantuan reflektor optik di kapal yang ditentukan posisinya (Cambar 2. t(rh). Tacheometer adalah suatu sistem pengukr-rr jarak clengan gr,lonrlr,rrrg t.lt.ktrom.rgrrr.lik. Tr.knik nilatittl-i, /;rsr,r /rr'.urr rl;r1l;rt ltrrl,t rli;r,rk,rr rlrlrrh 28

Cambar 2. / 6 Pengukuran jarak dan sudut secara optik-hibrid

Penentuan Posisi secara Elektronik

Penggunaan gelombang elektromagnetik untuk mendapatkan [)cs,rr,ul pengamatan jarak merupakan prinsip penting dalam penentuan posisi elektronik. Metode penentuan posisi yang digunakan adalah komhin,rsi L( )1, lingkaran konsentrik (pengukuran jarak) dan hiperbolik (1-rr:rr1.ltrkrrr,rrr sr.lisilr jarak). Pt'ngukuran jarak tidak dilakukan secara langsunl3 nrcl.rirrl<,rr r r lilx.rok.lr cltttrg,ttt tttottgcn,tli laju gelombang, c'lekromagnctik p,rrl,r nlvlirrnr ,rlrrrorft'r tl,tlt rt'l,tttg w.rLlrr ',r';,rk gclomlrirngrlip,rn<,rrk.rrr rl,rri 1x'ng,rrn,rl r,rrn; r,rirlr.rrg,rrr

f r -E L*-saat

,\'u.ur, //,,/.ooral,

-r

rE=E-rrEr-r

r-rr

r--r--D----DD

(lil('rim.l oleh target. lnstrumen elektrorrik <ligunak.rrr UnlUl\ ilrr,il,lukur jarak yang relatif jauh, yang tidak dapat dijangkau oleh irrslrrrtrtcrr oplik. Celombang elektromagnetik memiliki spektrum yang sangat luas. l.rlrcl 2.1 memperlihatkan spektrum Belombang elektromagnetik menurut panjang
gelombang (2) dan frekuensinya
(f).

rtri tl,tp,rl rlt1t,ll.,rt tttrlrtl, nr|l,rIuL,rtr 1x,ttr'ttltt,ttt lx)st\t (L'r r;i,trr rrrr,l,rkrrL,ilr ll0ttgtlkttr,ttt l,ll,ll\ l.il,rl\ y,rrli rr'l,rltl pcilrlt'k rk'rtg,rrr sislr,rrr,rl,rl,rrrl,rr,r l,rrrr Ilc<lroni<' /)rsl,rrrr r'fuft'tr,r (t l)M) ,rt,ru tODM (E/r,< lro ()1tti< I )rst,rrrr t'Mt'lt'rl.

^;;

il;;;;;;" ;l;,;;;, ;;;; ;,;;;;;';::;

Tabel 2.1 Spektrum gelombang elektromagnetik

f (Hz)
>3x10r5M 3x108-3x10r5M
3x.l 0"-3x',I 0BM

i (cm)
>3.1 0-r0

GETOMBANC
Radiasi kosm ik Sinar-X, gamma, ultra violet. cahava tamoak

Teknik oneway rangit)Btlilakukandengan menggunak;ur s,rlu rrrslrrrrrrt,rr l)emancar yang disebut dengan transmitter dan satu inslrtrllcn lx'n(.1 ltl,t yang disebut dengan receiver. Pada sistem ini pemancar tlisclrrrt sr.l r,rg,rr unit aktif dan penerima disebut sebagai unit pasif. Pengukuran s<'lirrrg w,rlilrr

3x10-ro-3x10

30000-3x l 0sM
3000-10000M
3

0.01-3x10-r 1-0.01
10-1
1x1O'z-10

lnfra
(EHF)

erah

dilakukan oleh jam pada recelver yang mengukur selang, wal<lu sr';,rk gelombang meninggalkan transmitter hingga diterima oleh re<riycr. /,/r,rrr, discriminator di receiver mendeteksi saat gelombang cliterrim,r rl,rn
membandingkannya dengan saat gelombang dipancarkan untuk mentlx'rr rk,lr informasi selang waktu. Pada sistem ini, jam pada transmitter hants s.rrrr,r dengan jam pada receiver I l<arena kesalahan pengukuran selang waklt r sr,lx,s, rr
1ms mengakibatkan kesalahan pengukuran jarak hingga 300 m. Tt'krrik
rrrr

Extra H igh Frequency

Super H igh Frequencl


(SH F)

00-3 000M

Ultra Hig,h Freguency


(U H F)

30-300M
3-3 0M

1x10r-1x1O']

(VHF)

Very High Frequency

300k-3M 30-300k 3-30k

xl04-1x lxl05-1x
l
1

0.r

04 0n

x 1 06-

x 0s

lx.l 07-1x

High Frequ ency (H F) Medium Freq uency (M F) Low F reclue n cy (L F) Very Low Frequency (VLF)

dapat dipakai untuk melakukan penentuan posisi dengan rlr,l,rkrr[,rrr pengukuran jarak-jarak menengah. Sistem navigasi dan pent'rrtu,ur lx).,r,,r yang menggunakan teknik ini misalnya adalah Hi-Fix dan Dcr < ,r.
Teknik range differencing dilakukan dengan menggunak,rrr rIr,r ,rl,rrr lebih instrumen pemancargelombangyangdisebutdengan transnrlllcr (rrr,rrlr.r) dan dua instrumen penerima gelombang dari master yang rlisr.lrrrt ,,/,rvr,,, Master dan s/aves ditempatkan pada titiktitik referensi. Master mcrrgirrrrrl.,rrr sinyal ke s/ave pertama dan kedua yang melakukan pengukur,rrr .,r,l,rrrg waktu perambatan gelombang dan meneruskan perambatan g,elonrlr,rrrli kr, receiver di kapal (titik yang ditentukan posisinya). Beda waktu at,rrr lrr.rl,r fase dari sinyal yang diterima dari dua slaves diukur di receiver sr.hingl;,r beda iarak ke master dan s/ave pertama serta s/ave kedua dapat ditt.nluk,rrr. Sistem penentuan posisi Loran C dikembangkan dengan teknik ini. Sistorn lain yang juga memanfaatkan teknik ini adalah Omega dan satelit [)op1rk.r.
Pemanfaatan Gelombang Radio

Celombang elektromagnetik dengan frekuensi 3 hingga 3x106 MHz tergolong gelombang radio dan gelombang mikro. Beberapa sistem naviBasi dan penentuan posisi elektron i k memanfaatkan gelomban g elektromagneti k pada rentang frekuensi ini. Sistem navigasi Omega menggunakan VLF, sistem Decca dan Loran C menggunakan LF, sistem radiobeacons menggunakan LF darr MF, sistem NAVSAT menggunakan VHF dan UHF, sistem NAVSTAR menggunakan UHF, sedangkan sistem RADAR menggunakan UHF, SHF dan VHF.
Pengukuran farak secara Elektronik
Pengul<uran jarak secara elektronik dilakukan dengan metode-metode

two way ranging, one way ranging atau range difference. Teknik two way ranging dilakukan deng,an satu instrumen pemancar g,elombang yang disebut dengan ma.ster dan satu instrumen pemantlrl gelombang yang disollut k'rtg;trt r('mot(. ;rl:ttr rcfloktor. Pt.ngukuriln selang waktu clilakukalr ololr j,rttt 1l.rrl,t r)),rslr,r y,lnli n'r(,nliul<rrr sr'l,rrr13 w,rl<ltr st'j,rk gr.lonrll;rn11 rnltrrtrlili,rll..,,',
<

Hingga kini, gelombang radio mempunyai sejarah yang p,rrrj,rrrg rl,rl,rrrr penentttan posisi di laut. Metode penentuan posisi yang rligrrn,rkirn un)unlny,t komlrirt,rsi l()P lingkaran konsentrik (pengamatarr j.rrirl<). (lt'lorrrlr,rrrg r,r<lro yitrrg rli;irtlr,rk,ttr rl,tl,rttt pcngukuran jarak elc.klrorrik rl,rgr,rt rlikl,rsilil<,rsil<,rn Irt'rrl,r',,rr[,rrr lrr'l\urn',rrry,r y,ritrr Llltr,t t tigh I r<,t1tt<'rt< y ((,1 lt ), lt4ttlirttrt IrcAtl,'tttr tlvll ) '.r'rl,t /r,tt, ltt'(11('1(y (LI) rl,rrr Vty, lrtw lrptllt,l( y, (Vl l)

l1'ttlttltt,ttt llnlil'il rlltrll,ttt

1rr,1.111,1,,,,

littlilqi rltlirrrr,rk,trr rrrrlrrk 1x.11i1krrr,t1

1,rr,rl.

ln

,\L.x; //,i/,oo,oth - --- &J

,,,1, r,l. ,.1


-----

l',.,,,.,,r,,,,,,
! ---

,,,,1,1,,,,r
--D--

dengan jangkauan sekitar.l0 km. ['arla konrlisi cuirr.ir yirrrg lr,rrl. lrr,l x'r ,rp,r sistem dapat mengukur jarak sampai 100 km. Contoh sistem ini rrris,rlrrya: Syledis, Miniranger, Trisponder, Microfix dan Autotape.

Penentuan posisi ini menggunakan gelombang menengah dengan


frekuensi antara 1.5 hingga 5 MHz dapat mencapai jarak maksimum antara 150 hingga 1200 km. Pencapaian jarak pengukuran sangat tergantung pada
P,

p,
'\. ----.)#.''

refleksi dari ionosfer dan lintasan gelombang melalui daratan atau lautan. Contoh darisistem gelombang menengah ini misalnya: Argo, Hi-Fix, Raydist, Ceoloc dan Hydrotac. Frekuensi rendah digunakan untuk navigasi di laut lepas dan seluruh dunia yang tidak memerlukan ketelitian tinggi. Sistem

tt

'''t.,,

Loran C memanfaatkan rentang frekuensi ini (sekitar 100 kHz) untuk menjangkau jarak pengukuran sekitar 1000 km pada siang hari dan sekitar 2000 km pada malam hari. Untuk navigasi dengan jangkauan seluruh dunia, posisinya dapat ditentukan dengan sistem Omega yang menggunakan frel<uensi 10 kHz.

C.

PENENTUAN POSISI DENGAN GPS


]{asanuddin Z. .4bidin.,tr[1c..

Cambar

2./

olefu lr.

q{ D.

Z Prinsip penentuan posisi dengan pengukuran iarak ke tiga satelit

CPS (C/obal Positioning System) adalah sistem satelit navigasi dan penentuan posisi yang dimiliki dan dikelola oleh Amerika Serikat. Sistem ini didesain untuk memberikan posisi dan kecepatan tiga-dimensi serta informasi mengenai waktu, secara kontinyu di seluruh dunia tanpa tergantung waktu dan cuaca, kepada banyak orang secara simultan. Pada saat ini, sistem CPS sudah sangat banyak digunakan orang di seluruh dunia. Di lndonesia pun,

Penjelasan yang lebih detil tentang CPS dan aplikasinya dall.rl rlilrlr,rr Abidin (2000).

rlr

a. Karakteristik Sistem GPS


cPS adalah sistem radio navigasi dan penentuan posisi menggtrrr,rk,rrr satelit. Nama formalnya adalah NAVSTAR CPS, kependekan dari NAVigatiotr Sate//ite Timing and Ranging clobal Positioning system. Sistem yang rl,rp,rt digunakan oleh banyak orang sekaligus dalam segala cuaca ini, rlirk,s,rirr untuk memberikan posisi dan kecepatan tiga-dimensi yang teliti scrta inforrrr,rsi mengenai waktu secara kontinyu di seluruh dunia. Arsitektur sistcnr (il,S disetujui oleh Departemen Peftahanan Amerika Serikat pacla t.rhun l()z l. Satelit pertama diluncurkan pada tahun 1978 dan secara rcsmr CPS rlirry,rt,rk,rrr operasional pada tahun 1994.
(

CPS sudah banyak diaplikasikan, terutama yang terkait dengan


aplikasi-aplikasi yang menuntut informasi tentang posisi. Prinsip dasar penentuan posisi dengan CPS adalah pengukuran jarak ke beberapa satelit (yang koordinatnya telah diketahui) sekaligus, yang tidak lain merupakan kombinasi dari beberapa permukaan posisi bola konsentrik dalam ruang, seperti yang ditunjukkan pada Cambar 2.17. Dibandingkan dengan sistem dan metode penentuan posisi lainnya,

CPS mempunyai banyak kelebihan dan menawarkan lebih banyak keuntungan, baik dalam segi operasionalisas maupun kualitas posisi yang diberikan. Saat ini ada juga sistem penentuan lrosisi berl-rasis s,rlolil y,rng operasional, yaitu CLONASS yang dimiliki Rusia. Di samlrirrli iltt, rl,rl,rtrr w.rkltr rk'k;rl Konrrrrril,rs Iro1l,r ,rkirn mr.lrrn< trrkirrr sisk'nr s,rk'lrl (,2\l ll l( )

il'\ t.rrliri ,rr;rs lig;r segmen utama, yaitu: (i) s(,gnr(lr'r ,rrrgl<,rs,r (s1r,rr r,
1x.rrt,rl<,ri (rrsr,, .,r,ll,n(,,r1)

sr'1;rrrlrrt) y,rrrpi tr,rr lrri <l,rri satelitsirtclit CpS, (ii) sogntcn sislcrl l<orrlrol (t ttttlrt r/ ',\ .'lrttt ',t'l:tttt'ttl\ y,rrrg lcrrliri rl.rri rl,tsirrrr-sl,tsirrn ;x,rrlorrrlor rl,rrr

;x,rrgnrrlrll ',,rlllrt rl,rl (rrr) ',r,l,int('n

y,nrli lr,rrlrrrrl,rrr

r &iE

,\n.,n,

//,,/roor,u{,

&*r

r r--BE---

---rGrr-rG-:--

GG>*

>-

Gr r

(ll)S tt'nn,rstrk,rl,rt-.rl.rl Ix'r)('rir]ril <l.rrt 1x'trgol,rlr srrry,rl rl,rrr rl,rl,r CPS. Ketiga seSmen CPS ini cligambarkan secar.l sk('nr,rlrI p,rt.l,r
ponrill<ai

;;; ;;;l;';;;l; ;;;

;,;

;;i; ;; ; ;,

rlrgtrtr,rl<,tn rrtrlrrk 1)(,nr,il1il,ilr 1ril',r',r ',('t l,r,r1rltk,rsi ,ll)lll\,1\l l,rttltry,l

Cambar 2.1

B.

SATELIT -jumlah; 21+3 "periode orbit: 12 jam -ketinggian orbit: PENGGUNA -mengamali sinyal -hitung posisi dan kecepatan -dapalkan informasi waktu

SISTEM KONTROL -sinkronisasi waktu -predik$i orbit -injeksi data -monitor kesehatan satelit

Cambar 2. / 9 Konfigurasi orbit satelit GPS Gambar


2. I 8

Sistem penentuan posisi global GPS (Wells et al., 1986)

Setiap satelit CPS secara kontinyu memancarkan sinyal-sinyal gt'lorrtlr,rrrg

di angkasa, yang dilengkapi dengan a.ntena-antena untuk mengirim dan menerima


Satelit CPS bisa dianalogikan sebagai stasiun radio sinyal-sinyal gelombang. Sinyal-sinyal ini selanjutnya diterima oleh receiver CPS di atau dekat permukaan bumi dan digunakan untuk menentukan posisi, kecepatan maupun waktu. Selain itu, satelit CPS juga dilengkapi

padaduafrekuensi L-band yangdinamakan L.l and 12. SinyalLl lx'rfrokrrltr.'r 1575.42 MHz dan sinyal L2 berfrekuensi 1227.60 MHz. Sinyal L'l ntt'tttlr,rw,r

2 buah kode biner yang dinamakan kode-P (P-code; P = Preclst' ,rl,rtr Private) dan kode-ClA (ClA-code; CIA = Clear Access atau ('rt,trsr'
Acquisation), sedangkan sinyal L2 hanya membawa kode-C/A. S;r.rt ini kode-P telah diubah menjadi kode-Y yang strukturnya dirahasiakan ttttttrk umum. Jadi, saat ini kode yang dipancarkan oleh satelit-satelit CPS arlal;rh kode-C/A dan kode-P (Y).
Dengan mengamati sinyal-sinyal dari satelit dalam iumlah dan w.tklu yang cukup, seseorang kemudian dapat memprosesnya untuk men<lapalk,ttt

dengan peralatan untuk mengontrol 'tingkah-laku' (attitude) satelit serta sensor-sensor untuk mendeteksi peledakan nuklir dan lokasinya.
Konstelasi standar satelit CPS terdiri dari 24 satelit yang menempati enam bidang orbit yang bentuknya sangat mendekati lingkaran, seperti yang diilustrasikan pada Cambar 2.19. Orbit satelit CPS berinklinasi 55" terhadap

bidang ekuator dengan ketinggian rata-rata dari permukaan bumi sekitar 20,200 km. Satelit CPS bergerak dalam orbitnyadengan kecepatan kira-kira 3.87 km/s dan mempunyai periode 11 jam dan 58 menit (sekitar 12lam). Dengan adanya 24 satelit yang mengangkasa tersebut, 4 sampai l0 satclit CPS al<an sc.lalu dapat cliamati parla sotiap waklr-r rl;rrimana ptrrr rli 1x't tntrli,r,rn bumi. S,r,rl ini (l;rntr,rri 2(X)5), k,lrcr'r,l ,r<l,rttyit () silt('lil (il)S gcrrlt,r',t ,rw,rl

informasi mengenai posisi, kecepatan dan waktu ataupun par(lm('l('r' parameter turunannya. Sinyal CPS dibagi atas tiga kompottcn, y,tiltt: (i) pcnginformasi .iarak (kode) yang berupa kodc-P rlarr korlt'-C/A, (ii) lrcrrgirrftrrrnilsi posisi satelit (navigation rttr'.s"sagt') rl.rrr (iii) gclotttlr,utli Jx'rnlr,rw,r |,trtitr w,rvr,) Ll dan L2. Strr-rktur fn'kttcnsi tl,rtr l<,tt,rl<lctislil. rl.rt,rr rl,rrr l.r'tr1i,r k,)illl)()r'r(,n siny.rl (il'S lCtsClrrrl rlrl)('lll\,ilr l),1(l,t (i,rtttlr,rt .'.'tl
t5

l4

,\".tt,
r r.i

fi,/.t,1tt11,
lit J r.r --' ! -

rD-t-E:-F---

EB-

G>-

-r

--

204600 Frekuens Dasar (0silatorAtom)


10.23M1'tz
I

10

x154

---r;
" '-':t* -Q1

-1
I |
1

V
Kode-ClA
1.023M1"12

t
Kode-P {Y} 10.23MH2

, t I ,
t

y,lt.lll t'n(.trutrtrrl kr,tr.lrlr,rn lx.l x,r.rp,r rlttt, st'1x'rti: sttrvt'i rl,ttt 1x'tlx't,t,lll rl('()l()Bl rlan lxtrtantlr,rrrll,rrr, lx,t(,nt,tl,t,ttl 1x'lir, scrt;r lrmlraltgtttt,ttt tl,ttt 1x't.cttl,ti,t,ttt Jtasis data Sislcnr lrrkrnrr,rsi ( ir,ogr.r[i (SlC). Sedartgkatt rer-t'ivt'r tilx'gt'rxft'lik

;;;;;;;il;: i;,;:;;;';;i;;: ;; ;: ;il;


Penentuan Posisi dengan GPS

?
Naviphon
Message 50Hz

rumumnya <lig,trrr.rk.rrr trrrttrk .rplikasi-aplikasi yan,l menutrttrt kt'tt'liti.rtl y,rltF, relatif tinggi (clari orde mm sampai cm), sepefti untuk llcngarlitatl lilik lilik

--}i'

1875.47WH2

kontrol geodesi, pemantauan deformasi dan studi geoclinamikit'

i'30m

.:.:T:
Kode-P

b. Metode
10.23MH2

{Y} 1

Navigatian
Message

1227.60MH2

:**
panjang: perioda:

i'3om
2fi7 harl

',, Y:Y

Konsep dasar penentuan posisi dengan CPS adalah reseksi (pcngikitl.rrr ke belakang) dengan jarak, yaitu dengan pengukuran jarak secara simttlt,trt ke beberapa satelit CPS yang koordinatnya telah diketahui. Secara vcktor,

$23

chips

2,3547x10"cirps

1500hrh

prinsip dasar penentuan posisi dengan CPS diperlihatkan

1r,rtl,r

'1ms

Canbar 2.20 Struktur f rekuensi dan parameter dasar komponen sinyal

GPS

Untuk dapat menerima dan memproses sinyal-sinyal yang dipancarakan dari satelit CPS yang selanjutnya digunakan dalam penentuan posisi,

Cambar 2.22. Dalam hal ini, parameter yang akan ditentukan adalah vcklot posisi geosentrik pengamat (R). Untuk itu, karena vektor posisi gt'ost'trtrtk satelit CPS (r) telah diketahui, maka yang perlu ditentukan adal.rh vcklot posisi toposentris satelit terhadap pengamat (p):

R=r-P

(2.',l)

kecepatan maupun waktu, diperlukan alat penerima sinyal CPS (CPS receiver). Receiver CPS untuk penentuan posisi, seperti yang ditunjukkan pada Cambar 2.21, dapat dibagi atas receiver tipe navigasi, tipe pemetaan dan tipe geodetik. Receiver tipe navigasi (navigation type) yang kadang disebut tipe genggam (handheld receiver) umumnya digunakan untuk penentuan posisi absolut secara instan yang tidak menuntut ketelitian terlalu tinggi. Receiyer navigasi tipe sipil dapat memberikan ketelitian posisi sekitar 5 hingga 10 meter dan tipe militer sekitar 3 hingga 5 meter.

r (diketahui)

Tipe Navigasi Penentuan Posisi Receiver GPS Tipe Pemetaan

\rc

--o

TiPe SiPil

Tipe Militer Tipe Satu-Frekuens

Pusat bumi

Cambar 2.22 Prinsip dasar penentuan posisi dengan GPS (pendekatan vektor) Pada pengamatan dengan CPS, yang bisa diukur harryalalr i,tr,tk ,tttt,tr,t

Tipe Geodetik
Trpe Dua-Frekuensi

penfiamat dengan satelit dan bukan vektornya, olt:h scball


Penentuan

ilu

['t'rs,rtrt,t,trt
postsi

o---4Tining

Receiver

2.2 lirl,rk rl,rp,rl <lilcrapkan. Untuk meng,atasi hal itti, 1x'ttt'ttltt,ltt


lx-1g.utt,tl
rfu1,rhrrL.rrr

rk.rr11rrr mt'l;rktrk;rn;x'rrg,tnt;tl,ttt k'rlt.ttl,r1r Ix'l x'r,r1r,r s,rlclil

,,rrrrlt,rr.' .r / Klasifik.psi 71,1 1.jvpr Cl'S (Abirlirl, 20(l(l)

sr.k,rligtt', '[ilr.tl,t ',ttrtrtll.rtt, rl,rrt tirl,rk ll,ttty,t lctll,r<l.tp s,tltt s,tk'ltl, ',r'1x'tlt

E Er-

,\i,.*, //,l,rjro/,
I d.r -. -E-it:--

r-

Er---ra--EEF

D -

Er - - -t

-D-G->->>>-

!., l' 1,,,,. ' r r,,,,1,1,1. .\i l'.,,.,,r,,,,,, I i,.,r.,r,1, I ,,,,t rl > - - - - -- ----Dl,DlD]-F'

yang ditunjul<kitn pa(la Cat]tl)ar ).2). l)a<lit ollttrasiott,tlts,t',ttty,r, llr lrr\rl) penentuan posisi dasar dengan CPS tergantung Jl.rtl,r lr)('l\,rrrisl'll(l
pengaplikasiannya dan dapat diklasifikasikan atas beberapa met(xle l)('ncntuan posisi yang akan dijelaskan lebih lanjut pada sub-bab berikutnya.
I
|

ilr1rrn

lltilll Posisidenqatt GPS

M'
\.r'
p1
I

' ,*,
D if -tn ..
,

ere nsia

Dilerensia

P,

.&.
r..,i

p,

'1. l,

raE
Pseudo-kinematic Statik Singkat

seudoran ge (DGPS)l

p{rsaf barnl

Caml..ar 2.23 Prinsip dasar penenlu.ln posisi dengan GPS

Posisi yang diberikan oleh CPS adalah posisi tiSa-dimensi (X, Y, Z ataupun tp, ),, h) yang dinyatakan dalam datum WCS-1984. Dengan CPS, titik yang akan ditentukan posisinya dapat diam (statlc positioning) ataupun bergerak (kinematic positioning). Posisi titik dapat ditentukan dengan menggunakan satu receiver CPS terhadap pusat bumi dengan menggunakan metode penentuan posisi absolut, ataupun terhadap titik lainnya yang telah diketahui koordinatnya (stasiun referensi) dengan menggunakan metode diferensial (relatifl yang menggunakan minimal dua receiver CPS. CPS dapat
pula memberikan posisi secara instan (real-time)ataupun sesudah pengamatan

Cambar 2.24 Melode dan sistem penentuan posisi dengan Gl'S (dimodifikasi dari LangleY, 1998)

meskipun dengan berkembangnya sistem RTK (Rea/Time Kinelt,tltr ), ',tttvlt CPS secara real-time juga mulai dapat terealisasi.

c. Ketelitian Posisi

GPS

setelah data pengamatannya diproses secara lebih ekstensif (post processing) yang biasanya dilakukan untuk mendapatkan ketelitian yang
lebih baik. Secara umum dikenal beberapa metode dan sistem penentuan posisi dengan CPS, yaitu seperti yang secara skematis ditunjukkan pada Cambar 2.24. Survei CPS dapat didefinisikan sebagai proses penentuan koordinat dari sejumlah titlk terhaclap beberapa buah titik yang telah clikt:tahui koordinatnya, dengan menggunakan metode penentuan lxrsisi rlik'tcrrsi,tl st.rl;r rlirt.r pcng,tmatan f.tsc rlari sinyal C['S. ['arl;t sttrvt'i (il'S, 1x'rtlyrl,llr.rrr rl,rl,r lrlrrrrrrry,r <lrl,rktrk,rrr sclcl,rlr pr.tr11,utt,tl,ttt st'lt's,ti (ltttrl lttrtt r",',ttttil,

Ketelitian posisi yang didapat dengan pengamatan CPS akan tcrgittrtttttg pada empat faktor yaitu: metode penentuan posisi yang digunakan, gt'ontclri dan distribusi satelit-satelit yang diamati, ketelitian data yang digunakarr rl,rtt strategi atau metode pengolahan data yang diterapkan (Tabel 2.2). ( .tr.r

memperhitungkan dan memperlakukan faktor-faktrlr terst:bttl,tk,ttt


mengakibatkan tingkat ketelitian yang berbeda. Karenanya, CPS mt'ntlx'tik,rtt ketelitian posisi yang spektrumnya cukup luas, dari ting,k;rt kctt'liti,rrr lirrggl (orde milimeter) hingga tingkat ketelitian sedanS, (orclc mt'lt'r), sr'1x'rli y,rrtli
dilrrrrjrrl<l<an pada Cambar 2,25.

i9

r rr-4.{r

,\7,*, //,/,oo.rl,

- G--r-r--EE------'f

----}-}}--

--rr

Tabel 2.2 Faktor-faktor yang, mempeng,aruhi ketelitian pencnlu.ur dengan GPS (dimodifikasi dari Abidin, 2000)

lx,!tasa

AESOIUIt lrosl lt( )NlN(,


.Sl'S wrllr selecltve

availabilily

<
50m

FAKTOR

SUMBER

Ketelitian data

. Tipe data yang digunakan

. .
Ceometri satelit

SPS wrlhoul se/eclrve

w:
Strategi pemrosesan data

Kualitas receiver Level dari kesalahan dan bias . Jumlah satelit . Lokasi dan distribusi satelit

availabilrtv '

<

.o
10m

l>

PPS wrlh antt-spoofing

+
.@

5m

DIFF ERENTI AL POS]NON/NG

3m

. Stati k, r apid-static, pseudo-ki nematic .stop and go, kinematik . One and multi-monitor station . Rea/ time dan post processing . Strategi eliminasi dan pengkoreksian
kesalahan dan bias

differenltalcode

,{--*.-.---.--..-'
+------t-------r5cm

1m

carrier-smoothedcode

ambig uity+e solv ed cani e r ph a se

. Metode estimasi yang digunakan . Pemrosesan base/ine dan perataan jaringan . Kontrol kualitas
Sejak 1 Mei 2000, kebijakan SA (Se/ective Availability) sudah ditiadakan,

slallc survey (carrier phase)

lmm
SPS

1cm

1Ocm

1m

Slandard Pos{ronlng Sewice {for civilian)

PPS = Frecise Posrlronlng Service {for military and authoriud users)

Cambar 2.25 Spektrum ketelitian posisi GPS (Abidin, 2000)

sehingga tingkat ketelitian penentuan posisi real-tirne secara absolut dengan CPS menjadi bertambah baik dari kisaran 50 hingga 100 m menjadi sekitar 5 hingga 10 m. Luasnya spektrum ketelitian posisi yang diberikan oleh CPS

di Amerika Serikat juga telah menggunakan CPS, dikombinasil<,ttt

tlr'trf i,rrr

ini adalah salah satu keindahan CPS, karena pemakai CPS mempunyai
keleluasaan dalam melaksanakan penentuan posisi sesuai dengan tingkat ketelitian yang diperlukan secara optimal dan effisien (baik waktu maupun biaya). Oleh karena itu, CPS dapat melayani cukup banyak aplikasi dengan tuntutan ketelitian yang beragam.

sistim penentuan posisi akustik, untuk menentukan posisi titil<-titik rli rl,r',,rr laut secara teliti, dalam rangka mempelajari dinamika lempcng-lt'rtllx'rrti benua di bawah lautan. CPS juga telah digunakan untuk membattttt l)r()\(", pengerukan pelabuhan. Patutdicatatdi sini bahwa sebelum adanya CPS, survei hidro-ost',tttogt,rlt umumnya menggunakan sistem penentuan posisi elektronik y,rtrli memanfaatkan gelombang radio seperti Mini Ranger, Polarfix, Sylt'tlis, Hyperfix dan Argo untuk mendapatkan informasitcntang posisi. Kittl,rrrgl<,rl,r
sekstan dan theodolit juga masih digunal<an. Satc'lit Dopplor (Tr,rnsit) itrg,r digunakan oleh beberapa pihak. Saat ini penBg,Llnaatr Cl'>S rl,tl,trtt stttvt't

d. Aplikasi
Kelautan

Penentuan Posisi GPS dalam Bidang Survei

Dalam hal survei dan pemetaan sefta penentuan posisi di laut, CPS telah digunakan untuk keperluan survei hidro-oseanografi, survei seismik, penentuan posisi rambu-rambu dan peralatan bantu navigasi serta titik-titik pengeboran minyak lepas pantai, ataupun untuk mempelajari kirrirktcrislik artrs, golomlr;rrrg, atarrl'run l),lsul rli lepas p;tnt,ri. B;rlrkarr lx'lx't ,tp,r 1x'ttcltli

hidro-oseanografi terutama terkait dengan

' ' .

1x'rrcnltr;rr-r posisi

titik-titik kontrol cli 1xurl,ri,

n,rvrli,r.,r k,rp,rl srrrvui,

lx,ru'trln,ur

1rn.,r..r lilrl<-lilil< 1lr.r'trrrr (sorttxlittl:),

40

4l

,\),,*, Err-L

//,,/.ro.o(,

. '

J - - Er

r-EE--G-----E-Eti

-B-

-DD>>

> - - -

--

-,],],i;;,

l)('n('nlu,ln lx)sisi s('r'rs()r-s('nsor lri<lr<lgr,rli <l,tn,rs,',rn,)lI,rlt, ',('t l,t

penontuan posisi struktur atau obiek


penBeboran (rig).

di

latrt s('lx'llt w,rlr,rtt,t

Dalam kaitannya dengan aktivitas pemetaan laut di atas, metode


penentuan posisi yang digunakan umumnya adalah:

1. 2.

Metode survei CPS: untuk penentuan posisi titik-titik kontrol di


pantai;

\(,\t lx.trll,rnt,rl,ln (r,/r,,r,rvrrrl: st'rslrtlt) rl,tp,rl rlt,tttt,rlt lllrrlr rl,rlt'.,rlrt /r,r.sr'/irrc sr,L,rlr;irr,,. | ),rl,rrrr lx,l,ll\\,ur,r,ur survr'i (il'S, st'l.rrrt tlt'tt11ttt tttorl,t j:rrinlg.ttt y,ulll (lrlrrrr;rrkL,tn p,trl,r (i,tm[t.tr'2.)6 rli .lt.ts, lx'll('llltl,lll lx]\l\l titik-titik jrrg,r rl,rp.rt rlil,rkrrl<.rrr rlalam mocla raclial scsuiti tlt'ttg.ttt l<r'1 x't ltt,rtr. Proses lterrerrtuan koordinat dari titik-titik dalam suatu jitrittgittt tl,tl,tttt survei CPS, terdiri atas tiga tahap, yaitu: (i) perrgolahan rl.tl.t rl,tri scli,tlr
1l,rrl,t s,tlrt

;ffi ;i ;;;; ;;;; i; ;;; i:,; ;,

Metode kinematik diferensial: untuk tahapan lainnya, baik menggunakan data pseudorange untuk aplikasi-aplikasi yang
menuntut ketelitian menengah (level meter), maupun menggunakan data fase untuk ketelitian yang lebih tinggi (level cm);

l:;aseline dalam jaringan, (ii) perataan jaringan yang melibatl<itn setnrtt.t b,tsr'/tttr' untuk menentukan koordinat dari titik-titik dalam jaringan dan (iii) lrattsfornt,tst

3.

Sistem DCPS dan RTK; untuk aplikasi-aplikasi yang menuntut informasi posisi secara instan (real-time); dimana sistem DCPS umumnya digunakan untuk melayani aplikasi berketelitian menengah dan sistem RTK untuk aplikasi berketelitian lebih tinggi.

koordinat titik-titik tersebut dari datum WCS-84 ke datr-rm yang tlipt'rltrk,rrr oleh pengguna. Penjelasan lebih detil tentang metode survei CPS ini tl,r1r,rl dilihat dalam Abidin et al. (2002). Penentuan Posisi secara Kinematik

Metode Survei GPS Metode survei CPS pada dasarnya bertumpu pada metode penentuan posisi statik secara diferensial dengan menggunakan data fase. Dalam hal ini, pengamatan satelit CPS umumnya dilakukan baseline per base/lne selama selang waktu tertentu (beberapa menit sampai beberapa iam tergantung tingkat ketelitian yang diinginkan), dalam suatu jaringan (kerangka) dari titik-titik yang akan ditentukan posisinya, seperti contoh yang ditunjukkan pada Cambar 2.26.

Penentuan posisi secara kinematik (klnematic positioning),r<l,rl,rlr penentuan posisi dari titik-titik yang bergerak dan receiver CPS tirlak rl,r1r,rt atau tidak punya kesempatan untuk berhenti pada titik-titik tersobtrl, \('lx'rlr dalam kasus lingkungan laut. Penentuan posisikinematik inidapatrlil,rkrrk,rrr secara absolut ataupun diferensial (lihat Cambar 2.27) dengan mt'trggtttr,rk,ttt data pseudorange dan/atau fase. Hasil penentuan posisi bisa tligx'rlrrk,rrr saat pengamatan (real-time) ataupun sesudah p('lll-l,lttt,tl,ttt (post-processing). Untuk real-time differentian positioning rlipcrlrrk,rtr komunikasi data antara stasiun referensi dengan receiver yang lx'r1y'r,rk,

*-

stasiun referensi (titik tetap)

l
i
l I

%
:
I

satelit GPS

satelil GPS

\
'1
stasiun referensi

I
I
I

ii
t

1, \:

,r,Lllfr/[,llllr;,
titik yang akan ditentukan posisinya

(itttttltttr2.26 I'cnentuanposisititik-titikdclrgatrnrctodcstrrvci
(lrrrxlit.iaringalr)

(,lltS
( ,,ttrtl,,rt

' ' ' t'r.nr.rrlrr,rrr;xrsisi

kincmalik Cl'S, rnorl.t.tlr.'oltrl rlan rli[r'rt'nsi.tl

4?

4t

*:!*f!-

-:--

E- -E r --3

-.-

r - ---r

- E---

- F D D,

DE-

rlittit y;urg rligunakan s(]rl.l nl('l(xh, pr,rrlntrr,rn posisi yang digunakan, ketelitian posisi kinematik yang diberik.rrr ok'lr (il)S dapat berkisar dari tingkat: rendah (penentuan posisi absolut rlcngan pseudorange) sampai tingkat tinggi (penentuan posisi diferensial dengan fase). Dari segi aplikasinya, metode kinematik CPS ini akan bermanfaat
untuk navigasi, pemantauan (surveillance), guidance, fotogrametri, airborne gravimetry, survei hidrografi dan lainnya. Sistem DGPS

Tttrgantuttl3, gracla jcnis

;;, ;;,;, :ffiffi1;;;;;:-;;;il;;il:


lX;l'S itti
rrtrtrrrrr rlrlirrn,rl.,rrr p,rrl,r,,rrrvci sulvci kol,tttl,rtr.

lctli,rtrltttrli 1r,rrl,r lLr.rs wil,ry,rlr (,rl\up,rn l.,rrr,k,,rrf,r, sistcnt lX;l'}S tttlltttlltty,r rlilrcrl,rk,rrr ,rl,r., Lo< al An,a l X ;l'\ (l n t X il'S) <l,rrr Wirle Area DCPS (Wn l X;l'S).

Sistem RTK Sistem RTK (Rea/-fime Kinematic) adalah suatu akrotrim y.rrrg stul,rlr umum digunakan untuk sistem penentuan posisi real-trme s()( ara rli[r'rcrrsi,rl menggunakan data fase. Untuk merealisasikan tuntutan real-tlnrt,-ny,r, sl,rsrr rrr referensi harus mengirimkan data fase dan pseudorange-nya ke 1x'nggrrrr,r secara real-time menggunakan sistem komunikasi data tertentu, scpr.rli y,rng diilustrasikan pada Cambar 2.29.

DCPS adalah akronim yang sudah umum digunakan untuk sistem penentuan posisi real-time secara diferensial menggunakan data pseudorange. Sistem ini umumnya digunakan untuk penentuan posisi objek-objek yang bergerak. Untuk merealisasikan tuntutan real-time-nya, maka monitor station harus mengirimkan koreksi diferensial ke pengguna secara real-time menggunakan sistem komunikasi data teftentu, seperti yang dilustrasikan pada Cambar 2.28. Koreksi diferensial ini dapat berupa koreksi pseudorange (seperti RTCM SC-104) maupun koreksi koordinat. Dalam hal ini, yang umum digunakan adalah koreksi pseudorange. Koreksi koordinat jarang digunakan, karena koreksi ini menuntut bahwa stasiun referensi pengirim koreksi serta pengamat mengamati set satelit yang sama, dimana hal ini umumnya tidak selalu dapat direalisir dalam operasional lapangannya. Ketelitian tipikal posisi yang diberikan oleh sistem DCPS ini adalah berkisar

slasiun
referensi

satelit GPS

Cantbar 2.29 Sistem RTK

pengguna

shsiun
referensi

/'\.rt
(

Ketelitian posisi yang diberikan oleh sistem RTK ini aclalah sckil.rr I hingga 5 cm. Sistem RTK dapat pula digunakan untuk pencnltr.rrr lxrsisi objek-objek yang diam maupun bergerak, sehingga sistem RTK irri lirl,rk
hanya dapat merealisakan survei C PS real -ti me, tapi j uga navi gasi [x'rkr.t
iIit

koreksi

i,rr

diferensial

tinggi.

,,rrrtlttr

2.211 Sislt

m l)GPS

44

4tt

e. Keunggulan Metode

Penentuan Posisl GPS

kctr.liti,rrr
l<r.l,rtrt.rrr.

y,rrr1-,,

rllrrtrrl,r

,,r,r

t.r,l,rrr,r y,rtr11lrtsctlt,t, ttttlttk',('lIltl,l l,rlr,rlr,rtI',1llvr'l


(gr

Pertama, CPS dapat digunakan setiap saat tanpa tcrg.ttltttttg w,rl<ttr <litn

cuaca, baik siang maupun malam hari, dalam kondisi cuaca y.tttg bttruk sekalipun seperti hujan ataupun kabut. Karena karakteristiknya ini maka penggunaan cPS dapat meningkatkan efisiensi dan fleksibilitas dari pelaksanaan aktivitas-aktivitas yang terkait dengan penentuan posisi, yang pada akhirnya dapat diharapkan akan dapat memperpendek waktu pelaksanaan aktivitas tersebut serta menekan biaya operasionalnya'
Kedua, satelit-satelit CPS mempunyai ketinggian orbit yang cukup tinggi,

Ke6;ndnt,lx,nt,tl\,lt,ut ,,t\lr.nt ( il'5 ti<l.tk rlikctt.rk,rtr lli,ry,r

,rlrs). Sr'l,ttlt,r

penggula nrprlilrki ,rl,rl pt,rtt'rima (rer:eiygr)

siny,rl (il'S

ttt,ll<,r

y,rrr11

bersangkutan <l,lpat rncnl3l3unakan sistem CPS untLrk lrcrltitg,ri ;tlllil<,rsi l,rtrp,r dikenakan biaya oleh pihak yang memiliki satelit, clalam hal irri l)r'lt,ttlctttctt Pertahanan Keamanan, Amerika Serikat. Jadi, investasi y.lng lxrrltl tlil,rkrtl<,rrr oleh pengguna hanyalah untuk alat penerima sinyal CPS hescrla 1x'r,tttgk,tl keras dan lunak untuk pemprosesan datanya.

yaitu sekitar 20,000 km di atas permukaan bumi, dan jumlahnya relatif cukup banyak, yaitu setidaknya 24 satelit. lni menyebabkan CPS dapat meliput wilayah yang cukup luas, sehingga akan dapat digunakan oleh banyak orang pada saat yang sama, serta pemakaiannya menjadi tidak tergantunB pada batas-batas politik dan batas alam. Selama yang bersangkutan mempunyai alat penerima sinyal (receiver) CPS, maka ia akan dapat menggunakan CPS untuk penentuan posisi. Ketiga, penggunaan CPS dalam penentuan posisi relatif tidak terlalu terpengaruh dengan kondisi topografis dan pantai sekitar kawasan survei kelautan, serta jarak kawasan survei dari pantai, dibandingkan dengan penggunaan metode optik maupun metode elektronik. Penentuan posisi dengan CPS juga tidak memerlukan adanya saling keterlihatan antara titik di pantai dengan titik lainnya di laut. Yang diperlukan dalam penentuan posisi titik dengan CPS adalah saling keterlihatan antara titik tersebut dengan
satelit. Karena kawasan laut adalah kawasan yang umumnya terbuka ruang pandangnya ke langit, maka penggunaan CPS pada umumnya efektif dan
efisien.

Ketujuh, alat penerima sinyal (receiver) CPS cenderung mctri,trli lclrilt l<ecil ukurannya, lebih murah harganya, lebih baik kualitas cl;ti.t y.rtrg diberikannya, dan lebih tinggi keandalannya. lni terutama disebahk,rrr rtk'lr kemajuan di bidang elektronika dan komputer yang sangat pesal rlt'w,tr,t ini. Perangkat lunak komersil untuk pengolahan data CPS juga st'ttt,tkitt
banyak tersedia dengan harga yang relatif murah. Selain itu, karena llittry,rktry,r merk dan jenis receiver yang beredar, kompetisi antar sesam;t 1x'tttlrtt,rt receiver juga semakin tinggi, yang salah satu dampaknya ad;rlalt lt'tlt,trl,rp tersedianya semakin banyak receiver CPS yang lebih user-orit'ttlcr/.

f. Kendala GPS dalam Penentuan

Posisi

Meskipun keuntungan yang dapat diperoleh dari penggt[r,t,tll ( il", ;,rttlr lebih banyak, ada beberapa hal dan keterbatasan yang harus rlilx'tlt,rlt[,rtt dalam pemakaian CPS dalam bidang survei kelautan, agar pcnl.lk,ri,rtttty,r dapat optimal dan tepat sasaran. Beberapa hal dan keterbatasart lt'tst'lrttl dijelaskan secara singkat berikut ini.
Pertama, agar alat penerima sinyal CPS dapat menerima sinyal (il'S, maka tidak boleh ada penghalang antara alat penerima tersebr.tl rk'ttg,ttt

Keempat, posisi yang ditentukan dengan CPS akan mengacu ke suatu

datum global yang dinamakan WCS-84. Dengan kata lain, posisi yang
diberikan oleh CPS akan selalu mengacu ke datum yang sama, tidak tergantung pada lokasi dari kawasan-kawasan survei laut yang ditangani. Karakteristik ini sangat menguntungkan untuk kondisi lndonesia yang wilayahnya sangat

luas dan terdiri dari banyak pulau, tempat kawasan-kawasan laut secara topografis banyak'terpisah' oleh pulau-pulau.

satelit yang bersangkutan. lni harus secara serius diperhitungkan, tt'rtrl,tt'tt,t dalam penempatan antena di kapal survei. Antena sebaiknya dipitsittlg p,r<l,r bagian kapal yang paling tinggi untuk meminimalkan obstrttksi sirry,rl rl,rrr bagian-bagian badan kapal.

Kelima, CPS dapat memberikan ketelitian posisi yang spektrumnya cukup luas. Dari yang sangat teliti (orde milimiter) sampai yang biasa-lriasa saia (orcle pulrrhan meter). Ltr:tsnya spcktrum kctclitian yang bis;t rlilx'ril<,rrr irri ntcnrrrngl<ink,rn lx'tll-ll.lun,l,ln (ll'S scr,tr.r <'fcktif tl.rtt t'[isictt s('\tl,tt rk'tr1i,rtr
411

Kedua, datum penentuan posisi yang cligLrrrakarr olclr cil's ,trl,rl,rlr WGS tl4. Seandainya posisi harus dipresentasikatt rl,tl,un tl,tlttttt l,titrny,r, m.rk,r rlilx,r lul<,rrr proscs transformasi ko<lrdin.tt rlitri tl,rtttrtt W(;\ l')ll'l kr' rl,rlrrrrr lx.r,,,rrrliLrrl,rrr l'rolllcm transformasi rl;tlttnt,tk,ttt tttt'ttj,trlr L'lrrlr lx"',rl sr,,urrl,rrrry,r lr,r'.rl '.rrrv,,r rl,rn IX'nt('l,l,ul rk'ng,rtr (,1'\ ,rk,rrt tlttr'grtr",r'tll,t',ll\,llt

A1

I
dalam suatu datum lokal yang hubungan geomL'trisny,t (l('nll,rlr (l,lltrrll WCS-84 tidak diketahui atau tidak jelas. Ketiga, komponen tinggi koordinat tiga-dimensi yang diberikan CPS adalah tinggiyang mengacu ke permukaan ellipsoid, yaitu ellipsoid referensi WCS-84. Jadi, tinggi titik yang didapatkan dengan CPS bukanlah tinggi
oftometris, yaitu tinggi yang mengacu ke permukaan geoid (umum didekati dengan muka laut rata-rata, MSL), yang umum digunakan sehari-hari untuk keperluan praktis. Perlu diingat bahwa tinggi CPS tidak boleh langsung diintegrasikan dengan tinggi yang diperoleh dari pengukuran terestris dengan metode sipat datar (levelling) ataupun dengan MSL yang diestimasi dari hasil pengamatan pasut. Keempat, karena CPS merupakan teknologi yang relatif baru, maka sumberdaya manusia yang menguasai masalah teknologi ini di lndonesia relatif masih belum terlalu banyak. Oleh sebab itu, seandainya suatu instansi
pemerintah ingin menggunakan teknologi CPS ini untuk mendukung pekerjaanpekerjaan survei kelautan di lingkungan mereka, maka selain pengadaan perangkat keras dan perangkat lunak CPS, penyiapan sumber daya manusia yang terkait .iuga tidak boleh dilupakan. Tanpa didukung dengan sumber daya manusia CPS dengan kuantitas dan kualitas yang memadai, maka peralatan-peralatan yang canggih sekalipun akan menjadi kurang berarti.

l)trstakir
L,ttt1;t'r,t,rr,

W (|'lll,l)

',

1,,v(,yi,)li .urr/ ('h,rrtlrrg

l/rr' \r',r, I lsr.vrlr


K

()< r',trrogr ,r1rlry \r'r ir,s. Arrrsterclam, Thr: Ncthr:rl,rrr<ls.

lngham, A.f.(t()7.1)..5r,.r Surveying. John Wiley & Sons. Lorrrlon, tJ.

Kelompok Bidang Keahlian Kelautan (1989). Pendidikan.srrrvci llitht4;r,rlr lTB-PERTAMINA. Diktat Kuliah. Jurusan Teknik Cc<xk.si, trrstrlrrt Teknologi Bandung.
Ferrara,

A. (1967). Electronic Positioning Systems for Surveyor.s. Co.rst ,rrrrl Ceodetic Survey, Engineering Division. Rockville, M.D.

Referensi
Abidin, H. Z. (2000). Penentuan Posisi Dengan CPS dan Aplikasinya. P.f
.

Pradnya Paramita, Jakarta. Edisi Kedua. ISBN 979-408-377-1. 268pp.

Abidin,

H.2.,

Jones,

A., &

Kahar,

). (2002). Survei dengan CPs.

P.T.

Pradnya Paramita, Jakarta. ISBN 979-408-380-1. Edisi Kedua. 280pp.

Davis, R.E., Foote, F. S., Anderson,.l. M. & Mikhail, E. M. (1981). Surveying. Theory and Practice. McCraw-Hill. New York, USA.
Langley, R. B. (199S). RfK CPs. CPS World, Vol. 9, No. 9, September,

pp. 70-76.
Wells, D. 8., Beck, N., DelikaraogloU, D., Kleusberg, A., Krakiwsky, E. J., Lachapelle, C., Langley, R. B., Nakiboglu, M., Schwarz, K. P., Tranquilla, J. M. & Vanicek, P. (1986). Cuide to CPS PositioninS4. Canadian CPS Associates. Fredericton, N.8., Canada.

]D

,\"",". /il.,'!rql,
-r l:*

f
r -t ----r.-B-BD-l;G-_ D _ > _ _ _ E_
I

Pasut dan l):rtum

Ilnh il lurl

A.

PASUT
Pasut laut (ocean tide) adalah fenomena naik dan turunnya pcrnrtrk,r,rrr

air laut secara periodik yang disebabkan oleh pengaruh

gr,rvrr,rsr

benda-benda langit terutama bulan dan matahari. pengarulr gr,rvir,r,,r benda-benda langit terhadap bumi tidak hanya menyebabkan p,rsrrr l,rrrr, tetapi .iuga mengakibatkan perubahan bentuk bumi (bodily tides) rl,rrr ,rtrrro,,lr,r (atmospheric tldes). lstilah 'pasut laut'pada buku ini akan dinyat,rk,rrr rft,rrpi,rrr 'pasl;t'yan8 merupakan gerak naik dan turun muka laut deng.rrr p.r r,rrr, rata-rata sekitar 12.4 jam atau 24.Bjam. Fenomena lain yang berhtrl)unti,ur dengan pasut adalah arus pasut, yaitu gerak badan air mr.rrujrr tr,rrr meninggalkan pantai saat air pasang dan surut.
Permukaan air laut dipakai sebagai tinggi nol. Kedalaman su.rtu rirrk di dasar perairan atau ketinggian titik di pantai mengacu pada permuk,r.rrr laut yang dianggap sebagai bidang referensi (atau datum) vertikal. K,rrcn,r posisi muka laut selalu berubah, maka penentuan tinggi nol harus clilakuk,rrr dengan merata-ratakan data tinggi muka air yang diamati pada rcnt.rng

waktu tertentu. Data tinggi muka air pada rentang waktu tertenlu jtrg,r
berguna untuk keperluan peramalan pasut. Analisis data pengamatan lirrggi muka air juga akan berguna untuk mengenali karakter pasut dan ft.rronrcrr,r lain yang mempengaruhi tinggi muka air laut.

cravitasi bulan merupakan pembangkit utama pasLrt. w,rlirtrprrrr lrr(lss,r mal,rlr,rri j,rrrh lchih hesar dibanding massa btrl.rrr, n.lnr.u,r k.rrt,1,r j,rr,rk lltll,rtt y,rrrli l,rrrlr L'lrilt tlt'l<;rt ke bumi rlibanrlirrg n'r,rl,rlr,rri, rrr,rl,rlr,r;r lt,rrry,r rrtcrrrlrrrrl,,rrr 1,r'rrp,,rrulr y,urg lcltih kt.<'il terh,trl,tp pr,rrrlr,rrrlSl<il,rrr p,rsrrl rlr lrtrrtrr l.i,r',r,r nl,r',',,r l,rrl,rn lrrrrrri,r<l,rl,rlr scl<il,rr l:ll,r, sr,rl,rrr11k,rrr r,r,,ro nr,r.,\,r lrrrl,ilr ril,rt,rlr,rrr,r,l,rl,rlr,.''l.rr,rr l r. lrrrlo". f,rr,rk r,rl,r r,rl,r prr,,,rl rrr,r,,,,,r lrrrlrr
50

!":'!l!'r'!r - - ! rr - ] r<lt'tt13,ttl

r,ri- t r-.D -- E- D > - >

D,

l)tts,tl lt),lss,t ttt,rl,rlt,rri ,r<l,rl,rlr scl<il,rr ()li,{l }0,O0o rryl, ,,r.rl,rrr1il<,rrr jaral< rata-rata pusat massa [runri r.lcng;ur [)Lrsat m.]ssa llul,rrr,rrl,rl,rlr scl<il,rr 238,862 mil, al<ibatnya perbandingan gravitasi bulan rl.rn rrr,rrahari (masing-masing terhadap bumi) adalalr sekitar 1:0.46.

-l.lB---

F-->>>>>-----D

| ',, ,,,r ,1,,,, I ,,,r,,,,, \/, , r,l.,,l


----ED-i

(-

Irrrrrrr

')
',
!!

a. Teori Pasut
Fenomena pasut dijelasl<an dengan 'teori pasut setimbang, yang dikemukal<an oleh Bapak Fisika Klasik, sir lsaac Newton pada abad ke-|7. Teori ini menganggap bahwa bumi berbentuk bola sempurna dan dilingkupi air dengan distribusi massa yang seragam. Pembangkitan pasut dijelaskan dengan 'teori gravitasi universal', yang menyatakan bahwa: pada slstem dua benda dengan massa m, dan m, akan terjadi gaya tarik menarik sebesar F di antara keduanya yang besarnya sebanding dengan perkalian massanya dan berbanding terbalik dengan l<uadrat jaraknya:

{>

D,;

F.

P'i

bulan

\ -'.1--1i,,.&

t.;

i,i

tl

>"

F^

*u:;r{

Cambar 3. / Arah gaya sentrifugal dan gaya gravitasi bulan yang hekerj.r di permukaan bumi

F = 6mtYz

r'

(3.1)

Pada sistem bumi-bulan t gaya-gaya pembangkit pasut (tide generating forces) adalah resultan gaya-gaya yang menyebabl<an terjadinya pasut, yaitu:

gaya sentrifugal sistem bumi-bulan (Fr) dan gaya gravitasi bulan (Fr). F, bekerja dalam persekutuan pusat gravitasi bumi-bulan yang titik massanya terletal< di sekitar % jari-jari bumi dari titik pusat bumi. F, bekerja dengan kekuatan yang seragam di selurLrh titik di permukaan bumi dengan arah yang selalu menjauhi bulan pada garis yang sejajar dengan garis yang menghubungkan pusat bumi dan bulan. Besar F, tergantung pada jarak pusat massa suatu titik partikel air di permukaan bumi terhadap pusat massa bulan. Resultan F, dan F,, menghasilkan gaya pembangl<it pasut di sekujur permukaan bumi (Cambar 3.'l).

Fenomena pembangkitan pasut menyebabkan perbedaan lirrgl;r permukaan air laut pada kondisi kedudukan-kedudukan tertentu rlari lrrrnrr, bulan dan matahari. SaaI spring, yaitu saat kedudukan matah,rri \('t{,ut,, dengan sumbu bumi-bulan, maka terjadi pasang maksimum 1t,rrl,r trtrk rlr permukaan bumi yang berada di sumbu kedudukan relatif bLrmi, lrrrl,rrr rl,rrr matahari (Cambar 3.2). Saat tersebut terjadi ketika bulan harrr rl,rrr lrrrl,rrr purnama. Fenomena pasut pada kedudukan demikian disebut rk'rrg,rrr ,,l,nnt tlde atau pasut perbani.

/t (t
\'rt-

bumi
._,.___._.

\1
/

,bulan

m atah ari

//

=-?_-

-/

titik P yang lokasinya terdekat dengan bulan dan segaris dengan sumbu bumi-bulan, gaya gravitasi bulan yang bekerja pada titik pengamat tersebut lebih besar dibanding dengan gaya sentrifugalnya (F/r > Fs). Di titik P badan air tertarik menjauhi bumi ke arah bulan. seiring dengan menjauhnya lokasi titik pengamat terhadap bulan, gaya gravitasi yang bekerja pada
Pada

Cambar 3.2 Kedudukan bumi, bulan dan matahari saat sprrng (bulan baru dan purnama)

titik-titik di permukaan bumi pun akan semakin kecil. Di tilik /,', gaya
sentrifugal lebih dominan dihanrJing llaya gr;rvitasi bulan (F,, < barlan ;rir lt'rtlril< nrt'nj,ruhi lrrrnri p,rrl;r ;rr,rh ntr.nj,rrrlti lrLrl,rrr.
/-,,)

,,r,lrirr1i1i,r

Saat neap, yaitu saat kedudukan matahari tegal< lurrrs tk'ng,rn srrrrrlrtr bumi-brrlan, terjadi pasut minimum pada titik di pcrmtrk,r.rrr lrrrnri y,rrrli teg;tk lttrrtr sttntlxt btrmi-hulan (Cambar 3.3). Saal tersclrul lr.rj,rrlr rli pcrr,nrp,rt bttl,ttt ,tw,rl rl,ttt pctctttpitl bulan akltir. Fcnom('n,t l),lsul 1l,rrl,r l<r,tlurlrrli,rrr rk'ntikr,rtr rlr',r'lrrrl r|r'rr1i,rrr rrr',111 llrle ;rt,rrr p,rsrrl rrr,rli. Irrlr;i1i,rrr1i p,r.,rrl (;,rr,rk vcrlrl.,rl Ir'rlrrrlrtl ,rrr pr'rnlul\,r,ur ,trr lcrlirrggi rl,rn lcrr,rrrl,rlr) s,r,rl .,1 rrrr11; h'lrrlr lrr,,,,rt rltlr,tttrltnll',,r,rl rrr,.11r

5?

,\',,rrr,

/lihyr(,

--E-E-f

lE---r-trr-r--tr-rrE-f

:=f

--'r

l-Dr

*' ;- ;;;;;;;"-;;.;; !r,= A,cos(rul+r/) ;, ;;-; ;;;;;


(|..i)
l),rsttl rlttttorl,,ll.,rrI rlr.ttll,uI Ix't\.ln),1(ln:

bulan

()

matahari

>

rlengan yn = Iinggi muka air saat t, An = amplitudo pitstrl, rr) = l<r'<r'p,rt,rrr sudut = 2td, t = waktu dan @ = keterlambatan fasc. Pasul y,rrrg torj,rrli di suatu titik di permukaan bumi merupakan resultan dari j;rr;rl< rl;rn l<rrltrr lrrl<,rrr bulan dan matahari terhadap bumi yang selalu berLrbah scc;rr.r pcriorlil,. Fenomena ini dinyatakan dengan superposisi dari persamaan-p(.rs,urr,l,ln
gelombang pasut karena bulan, mataharidan kedudukan-kedudukan rcl,rli[ny,r.

Cambar 3.3 Kedudukan bumi, bulan dan matahari saat neap (perempat bulan awaldan perempat bulan akhir)

Perbandingan amplitudo dan fase akibat atraksi benda-bencla l,rrrliir tertentu pada pola pasut dinyatakan dengan konstanta-konstanta pcntlr,rrrrlrrrli dengan simbol dan nilai tertentu untuk menjelaskan al<ibat atraksi gr.rvrt,rsr bulan atau matahari dengan kedudukan tertentu terhadap tinggi nlul\,r ,lr

Cambar 3.4 memperlihatkan data pengamatan tinggi muka air y,,(t) terhadap waktu t (jam) selama 1 piantan atau 25 jam saat pasut perbani dengan tunggang pasut sekitar 2 meter dan 1 bulan atau 744 jam. Tipe pasut yang diperlihatkan tergolong harian ganda dengan jarak waktu dua posisi muka air tertinggi sekitar 6 jam. Pasut perbani dan pasut mati berjarak waktu sekitar 7 hari, sedangkan jarak waktu dua pasut perbani adalah sekitar 14 hari.

Konstanta-konstanta tersebut disebut sebagai komponen


periodanya.

lr,rr ntorrrl.
lrr,r rl.rrt

Tabel 3.1 memperlihatkan komponen-komponen harmonik utilnl,l

c. Tipe Pasut
Pasut di satu lokasi pengamatan dipisahkan menurut lipc r/rurrr,r/, semi-diurnal dan mixed. Pasut diurnal(harian tunggal) terjadi d,rri s,rtrr [,rlr kedudukan permukaan air tertinggi dan satu kali kedudukan pcrmuk,l,ln ,ur terendah dalam satu hari pengamatan. Pasut di pantai utara Jawa tcnn,rsrrl.

jenis ini. Pasut semi-diurnal(harian ganda) terjadi dari dua kali kerlurltrl<,rrr permukaan air tinggi dan dua kali kedudukan permukaan air rendalr rl,rl,rrrr satu hari pengamatan. Pasut mixed (campuran) terjadi dari gabtrng,rrr diurnal dan seml-diurnal. Defant (1958) mengelompokkan pasLrt nt('nrrrut perbandingan jumlah amplitudo komponen diurnal terharlap jrrrrrl,rlr amplitudo komponen semi-diurnal, yang,dinyatakan cleng,an
:

180 186 192 198


I
(hour)

200 400
I
(iour)

600

800

't[- - M,-5"
<lil,rrrrlrtll.,rrr 1r,rrl.r

A/

Kr+O,

{l

r)

Cambar 3.4 Dala pengamatan tinggi muka air 1 piantan (25 iam) dan 1 bulan (744iam) diDelta Mahakam, Kalimantan (sumberd.rta: Tol.tl [ & P lndonesie)

llr.rrl,r,,,rr[,ut N,, 1rnrr.,, dikelompol<l<an ntcrrrtrul lipr, tr;]r' y,utfl l,rlrr.l 1..r.

,\7,*., //,,/,0y.,(,
r IrI-f, -rrI;-rr-r -EII rIIrI-IG:-; -E----3

Tabel 3.1 Komponen-komponen harmonik pasut utama


SPESIES

l.rlrr.l t..l l'r.rrgr.lrxnpokkan lipr. ;nsrrl

NAMA KOMPONEN
M2

Semi-diurnal

PERIODA FENOMENA (iam) 12.42 Cravitasi bulan dengan orbit lingkaran dan sejajar

NI[AI
BENTUK

frNrs
PASUT

FENOMENA

0<N,<0.25
o.25 < Nf < 1.5

ganda 2x pasang st:hari rlcng,rrr murni tinggi yang rr:l;rlif sirm,r


Harian
Campuran
berganda

s2

N2

K2

Diurnal

K1

o
Perioda

M,
25M2

panjang
Perairan

dangkal
MN52

ekuator bumi 1 2.00 Cravitasi matahari dengan orbit lingkaran dan sejajar ekuator bumi 12.66 Perubahan jarak bulan ke bumi akibat lintasan yang berbentuk elips 11 .97 Perubahan jarak matahari ke bumi akibat lintasan yang berbentuk elips 23.93 Deklinasi sistem bulan dan matahari 25.82 Deklinasi bulan 24.07 Deklinasimatahari 327.86 Variasi setengah bulanan 661.30 Variasi bulanan 2191.43 Variasi semi tahunan 11 .61 lnteraksi bulan dan matahari 1 3.1 3 lnteraksi bulan dan matahari dengan perubahan jarak matahari akibat lintasan berbentuk

2x pasang seh,rri <k.rrg,rrr perbedaan tinggi rl:rrr


interval yan,{ bcrbcrl;r 1 x atau 2x pasang sehari dengan interval yang berbeda 'l x pasang sehari, sa;rt spring dapat terjacli 2x
pasang sehari

1.5<Nf<3
N,>
3

Campuran tunggal Tunggal

murni

B.

ARUS PASUT

MKt

B.1B

eliPs

Cerak vertikal (naik dan turunnya) permukaan air laut kitrt'n,t p,t',rtl pada wilayah perairan dan interaksinya dengan batas-batas perair,ttt lcnrp,rl pasut tersebut terjadi menimbulkan gerak badan air ke arah lrorisorrl,rl Batas-batas perairan tersebut dapat berupa dinding (pantai dan kc'rl,rtrgl<,rl,rrr) dan lantai (dasar) perairan. Fenomena ini sangat terasa pada wilayah pcr,rit,rtr tertutup (teluk), perairan dangkal, kanal-kanal pasut dan muara sung,ai (rlcll,r dan estuari). lstilah tidal stream atau tidal current atau arus pasut kcntu<li,rrr diberikan pada fenomena ini yang merupakan gerak horisontal barlatt ,rir menuju dan menjauhi pantai seiring dengan naik dan turunnya muka l,rul yang disebabkan oleh gaya-gaya pembangkit pasut.
Arus pasut mempunyai sifat bergerak dengan arah yang saling lrcrlol,rk belakang atau bi-directional. Arah arus saat air meninggi hiasanya lx.rlol,rl<

lnteraksi bulan dan

matahari dengan
perubahan jarak bulan akibat lintasan berbentuk elips 2x kecepatan sudut M, interaksi M, dan S

Mo

6.21

MS

2.20

belakang dengan arah arus saat air merendah. Kcr.epalan ,trtrs ll.rsrrl minimum atau efektif nol terjadi saat air ting,gi .rt,ru air rt'rrrlah (s/,rr ( wat('r\). 1),r<la s;rat-saat tersebut terjadi perubahan ;rrah artrs p;rsrrt. Kct r'p,rl,rtr arus l),r\rl rrr,rIsirrrrrrrr tcrjadi pada saat-saat antara;rir lirrggi rl,rrr,rir rcrrrl,rlr. Dcttl.i,rrr rlcrrrrl,r,rrr, pcr iorl,r l<r:ccpatan artrs llirsrrl irl<,rrt ntcrrliil<rrli ;rcrrorl,r p,rslrl y,rrrli urltrrl,,rrrlgl.rll.,rrrrry,r. C.rnrlrirr.i.5 tttcrnlrol lilr,rll<,rn lrrrlrrrrrli,rn llr,ng,rttt,rl,rtt lr,r',rl \rlr (ti,lrr,, lrPis) rlcrtg,rrt,rr,rlr,r(l) rl,rl,tttt rlr,r,r;,rl lr,rlr,rrl,rp

56

trl

'!:'!'!f!D]D

D-,- --- -=- r - -- r----!.;>D

DD

---

Ut,tr,t tl,ttt kt'ktt.tt.ltl ,trtts lt,tsttt tr(l) <litl.rnt nt/s (g,rris [,11,, lr.l,,rl) lrrgrolr,lrli pada p;rntai yang memclnjarrg pada ilrah Timur-B;rrat <k'rr1i.rrr lr,r11,rrr l,rlr terletak di sebelah Selatan. Cambar 3.6 menunjukl<an lrulrtrrrg,rrr ,urlar.r arus pasut dan tinggi muka air pada pengamatan arus di sepanjang pen.lmpang sebuah kanal pasut selama 21 jam.

il
g

----;:;;:,

,rl<s('l('t,l\r l(,ilr'il,1 llr,rvrl,r',r l,rttrrt tl,ttl r/ l<r'tl,rl,rttt,rtr l)r'l,lll,lll.'r|lr,tt,ttt vt'l<lrlr l)('nl.i,ln,tl,ll ,lu,, p,rrl,r ,,rr,rltr l<,tw,ts,ttt ltosisit ttl('tttl),rl\,tn tttlot ttt,t',t 1lt'nting Lrllul\ nr('nlir'l,rlrtrt pol,r 1lr:rgcr,ll(.lll .ll'tls <l,tti w,tlittl l\(' w,lkltl. Kcccpalan lrrtrs rl,rp.rl rlip,tl<,ri utttul< mc'mperkirak;rn lrt's,trtty,t t'ttcrlii y,rttli bokcrja di dasar pr:rairan yang mampu meminclahkan st'rlinrott rl,tt'i srt,rlrt tempat ke tempat lain. Al<ibat perprndahan sedimen itti ,tl<,ttt lcri,ttli ctosi atau deposisi (sedimentasi).

;;;, :^-;:;

-,-

:;:,;;, ::;

180

-)

) s1

120

s.

)
1

os
-1

C. DATUM

VERTIKAL

60

-2
0 -3 t80

180 185 190 195 200 tt

Tinggi titik di pantai atau kedalaman titik di laut hanya dapat clilt'tttul<,rrr secara relatif terhadap bidang yang disepakati sebagai referensi tirtggi ,rl,rtr datum vertikal. Datum vertikal ditentukan dengan merata-ratakan <l;tt,t p,rsul

205

1m

cambar 3.5 Hubungan antara pasut dengan arah (kiri) dan kekuatan arus pasut

sepanjang rentang waktu pengamatan. Permukaan laut ratil-r,ll,t ,rl,ill Mean Sea Leve/ (MSL) diperoleh dari satu atau beberapa stasiLrn l)('nll,un,rl pasut dan dipakai sebagai datum vertikal (de Jong, et al., 2002). lllttkul ttrt diperkenalkan beberapa istilah tinggi rata-rata pasut yang dapat rlip,r[,u rrrrlrrlr membandingkan karakteristik pasut dan penentuan datum verlil<,rl rl,ttt rl,rl,t
pengamatan pasut (Tabel 3.3).
Tabel 3.3 Beberapa istilah* dan definisi datum vertikal (CARIS, 2(Xl:t)

f;;0 ,
i -r,,
ro
depth (m)

"e '''
n/s
a

qe

NO.
1

ISTITAH

DEFINISI

a
lt1

1.s

Approximate
Lowest

xl I

An arbitrary level, usually within +0.3m front tlr,rt ol lowest astronomical tlc/e (LAT). (Hydrographi< Scrvrr
Royal Australian Navy)

,JIi

; 0.5

Astronomical
Tide
2.

,0

Approximate Mean Low


Water

An arbitrary level, usually within t0..int front tlt,rt ol mean low water (MLW). (Hydrographic Servict', l{oy,rl
Australian Navy) An arbitrary level, usually within *0...lrrt frorrt llt,rt ol mean low water springs (MLWS). (Hyrlr<>gralrhit St'rvtt t Royal Australian Navy) An arbitrary level, usually within !0.lrrt Irttrrr tlrtt ol mean lower low water (MLLW). (llytlrogr,rltlrit \t'rvtt t', Royal Australlan l!uy) An arbitrary level, usu;tlly witltin ]t). )rtr lrotrt tlt,tl rtl r))(';rn sea /eve/ (MSL). (l'lyrlrogr,rplrrr \r'rvx r', l(rry,rl
Arr',tr,rli,rrr N,rvy)

cambar 3.6 Hubungan antara pengamatan tinggi muka air dan kekuatan arus pasut (dimodifikasi dari poerbandono, 2003) Kekuatan maksimum arus pasut dapat diperkirakan dari ampritudo pasut dan kedalaman perairan pada daerah yang diamati dan dinyatakan dengan (Knauss, 1979):

-1.

4pproximate Vean Low

Nater
4.

Spring,s

Approximate Mean Lower

lctw Water
a

z\y

11

rr

ox irrr.r

lc
I

A'lr,,rtt

"r,,t

r,vr'/

(t,l)

I tllltut,t ll,tl rrl r, liltl I l\ l

llt,, l,,vtl of low w,rlcr


Ir/1,,/lrt\

syrrirrl;s ttr',rr l/tr, lnrrt

ttl

,rn

It.rtrr
58
tl ()

I
Irglt W,rtt'r
//rr'/rr1.;ht'st /t,vr'/ rr',rr /rcr/,rt ,r ltll:- t lty,l/r. rr,rlr,r in ot-rt, ti<!al <.y<lt. Also t tlltt! ltrt:lt lrrlr' tll l( ) Dictionary, S-.12, 5th Editiorr, 2251\; wlrt'tt r,\(,r / ( )/r inland (non-tidal) waters it is generally del.irtrrl,rs ,r icve which the daily mean water level exceeds lt:ss tltan 5,,/o
sur/,r( (,

F--

--FID;.GG!GG>---

l(

o! zr,l / r rt\ W,ttt,r l,rrlir

l/rr .rr, t,t1',',,/ l/rr'lotvr",l /rrtv tt /'l 1 r..il, I tl t,lt.,t't v,tllt)tl\.

It

It

t7. Iowr,rl

.,r(/{'(l lWl lr
Astrotuttttit,tl

High Water

of the time. An arbitrary level, approximating that of mean high Springs (MHWS) water springs. (Hydrographic Service, Royal Australian
The average of the highest high waters, one from eaclt of 19 years of observations.

firle
18.

(LA I)

I /r,. /r,rvlrl tt lt'it,al wiu lii ,,,, ltr' ltrttlt lttl lrt ru t rtr urrr/r,r ,rvcr,tgt'ntet<rroltlgi<,tl rtttxIititttts,rrtr/ ttttt/r't ,ttt\ r orrr/rirr,rtir;n of astronomi< al < otttlitio ur. (ll l( )

Higher High
Water Large Iide (HHWLT) Highest

Lowest Low Water 19. Lowest Low Water Springs

Dictionary, S-32,5th Edition, ___ An arbitrary level confornrittSt to tlte /r.rwcsl lirlt'
observed at a place, o An arbitrary level conforming to the /owe.sl w,rtcr lt'vt'l observed at a place at spring tides cluring a 1x'ritxt ol time shorter than l9 years. (Hydrographic Scrvitt', ltoy,r Australian Navy) The average height of all high waters at;t ytl;t<t'ovt'r ,r
19-year period. (lHO Dictionary, S-32,5th E(lition,

Astronomical

ride (HAT)
lndian Spring Low Water

Creat lakes

Datum 1985
(ICLD 1985)
Local Datum

The highest tidal level which can be predicted to occLtr under average meteorological conditions and under any combination of astronomical conditions (lHO Dictionary, S-32, 5th Edition, 2244) An arbitrary tidal datum approximating the level of the mean of the lower low water at spring tides. Also called lndian tidalplane. (lHO Dictionary, S-32, 5th Edition, 2427) A tidal datum approximating the lowest water level observed at a place, originated by C.H. Darwin for the tides of lndia at a level below MSL being equal to the sum of amplitudes of the harmonic constituents M2, 52, Kl and O1; usually below that of the lower low water at spring tides. Also called lndian tide plane. (Hydroeraohic Service. Roval Australian N A vertical reference system with its zero based on the mean water level at RimouskilPointe-au-Pire, Quebec, over the period 1970 to l9BB.

20. Mean High Water (MHW)


21

t1 41\ Mean High


Water Springs (MHWS) 22. Mean Higher High Water

of spring titlt's Also called spring high water. (lHO Dictionary, S- l.f 5th Edition, 31 44) The average height of higher high waters al .r p/,rr ,' r,r,,'r a 19-year period. (lHO Dictionary, S-'32,5th Itlrlrorr,
The average height of the high waters

(MHHW)
23. Mean Low Water (MLW)

3l40)

)4. Mean Low


Water Springs (MLWS)
25. Mean Lower Low Water (MLLW) 26. Mean Lower Low Water Springs (MLLWS) 27. Mean Sea Level
(MSL)

The average height of all low waters at a 1)/,rt l ,vr't 19-year period. (lHO Dictionary, S-32,511r lrlrlrorr, 31 47) The average height of the low waters of sprittti lrtlt", Also called spring low water. (lHO Diction;rry, \ l.t

,t

5th Edition,

31 50)

The average height of the lower low waters irl ,r I)/,r( over a 19-year period. (lHO Dictionary, S-32, 5tlr

An arbitrary datum defined by a local harbour authority, from which levels and tidal heights are measured by thi An approximation of ntean low water adopted as the reference level for a limited area, irrespective of better determinations at a later date. Used mostly in harbour and river engineering. used ln inland (non-tidal) waters. It is generally defined as a level which the daily mean water level would f all below less than 5o/" of the time and by no more than 0.2 metres during the navigation season. A single level surface is usually chosen as the low water datum for a whole lake. On a river, low
water datum is a sloping surface which approximates the river surface at a low state. (Canadian Hydrographic
Service)

Edition,

31 45)
,r

The average height of lower low water springs at p/ace. (lHO Dictionary, S-32, 5th Edition, 314(,)

28. Mean Water


Level

29. Nearly Highest

lligh Water
l() Nr',rr /t' I ,,rviitJ-I r rtt,

The average height of the surface o/ the sea at ,r lirlr' station for all stages o{ the tide over a l9-year 1x'rirxl, usually determined from hourly heig,ht reartings measured from a fixed precleterntined refert'rrct' /r'vr'/. (lHO Dictionary, S-32,5th Edition, 3156) The average of all hourly water /evt'/s over (ltc ,rvtrl,rltlr period o{ record. An arbitrary level approxintaling lhe /rig/rcsl w,ttt'r ltvt'l observed at a place, usually erluiva/r'ttl to llrr' lriglt w,tlt'r
sytrings. Art ,rrbitrary level ;tpprtxint,tlttril l/tr' /owcsl w,tltt h'vr'l rtlt:r,tvrtl nt a /)/a( (,, ttstt,rlly ctlttiv,rlr'ttt trt tltl lttrlt,ttt \ltt ttt!: lt)\\/ w,rlcr (lSl W). (l lytlrolir,rlrlrrr \r'rvrr r', l(oy,rl

5S.,rings

An arbitrary level, apytroximating that <'tf ntt,;'rn hny w;tlor springs (MIWS). (l lyclrogralthi< Servir 1,, l(rry,rl
Arrstr,rli,rrr N,rvV)

ll/,tlr'l

'\rr,,lr,rlr,trr N,rvy)

rltttrtrll',til ltlr lillrill .rl'l

60

6t

- D D D D D l r D r D - D - r - - r - D D !. D > > D - D r r LJrtttrl< l<t'pttrlttittt rt.tvi1.;.tsi tligutr,rk.rtt ntul<;t;rir lcrorrrl,rlr ,,,,lr,r1i,rr rl,rltrnr vertikal untuk angk;r-angka keclalaman laut yang, dinyat.rk.rrr l.lr,r1i,rr ,rngl<,rangka dan garis-garis kontur kedalaman pada peta navigasi l.rut. Muk,r air terendah dipilih sedemikian rupa sehingga hampir tidak pernah terjadi l<eadaan ketika angka kedalaman yang tercantum di peta lebih kecil dari kedalaman aktual. Datum vertikal ini disebut sebagai chart datum atau muka surutan. Penentuan muka surutan ditu.jukan untuk menjamin keselamatan pelayaran. Muka surutan yang ditetapkan dari pengamatan pasut umumnya lebih rendah dari tinggi rata-rata permukaan air laut terendah saat bulan perbani. Pada Cambar 3.7 diperlihatkan kedudukan relatif beberapa datum vertikal.
D

'!': !'!r!t

l',,,,,t ,l',,' I t,,t,,,', \',


DD ---D>-->D >>*>---->D-DD----G-

rrl.,'l

->

/.o ),1, rl

(L")

rlt:ngan A, =.rrrrPlilrrrlo konrl-ronen patsut kc-i, n -- ittrttl,tlt l<trtttpottctt. Standar pengB,un.l.lrr irmplitudo komponen harmonik rli lx'lrt'r,r1r,l lr('fl,ll,r clalam penentuan muka surutan berbeda-beda. Bahkatt ll.trlit s,llrr ll('ll,ll,l scl<ali pun, misalnya di lnggris, digunakan beberapa muka sttrttl,ttr st'l<,rligrrr (Adams, 2OO4). Tabel 3.4 memperlihatkan beberapa standar 1)t'ttt't'tltt,ttt /,, yang digunakan oleh beberapa negara di dunia. Saat irli cctrtlcrttttll direl<omendasikan penggunaan LAT sebagai muka surutan.
Tabel 3.4 Beberapa persamaan untuk menentukan 2,,

NEGARA Amerika
lnggris Prancis

zo

Zn= M, Zn = 1.1(Mr+Sr) Zn = 1.2(Mr+Sr+Kr)


lrltttrt;rtl

Pada peta navigasi laut jugadisajikan informasiBaris pantaiyitttg

dengan kedudukan muka air pada saat tertinggi. Pengguna(llr rrrtrl\,r ,rrr tinggi sebagai referensi elevasi dimaksudkan untuk menjamin kt'scl,tttt,tl,ttt investasi di wilayah pesisir dan dataran rendah di sekitarnya. Dattrttr vctltl.,rl yang dipakai untuk referensi bagi elevasi atau tinggi nol bagi titik lilrl\ (lr daratan biasanya ditentukan dari muka laut rata-rata'

a. Pengamatan Pasut
Cambar 3.7 Visualisasi kedudukan beberapa datum vertikal (de f ong et al., 2002)

Melalui analisis harmonik terhadap data pengamatan pasut akan diperoleh amplitudo komponen-komponen pasut. Berdasarkan amplitudo komponen harmonik tersebut ditetapkan muka surutan yang berada pada jarak sebesar Zo terhadap MSL. Z0 diperoleh dengan penjumlahan amplitudo komponenkomponen pasut tertentu. Banyaknya komponen pasut yang digunakan tergantung dari banyaknya komponen harmonik pasut yang diperoleh rlari analisis harmonik. Sclisih jarak MSL kc muka surutan berdasarkan st,rrrrl,rr
inlern,rsior.r,rI <li1rcr<lk'h rlt.rrg,rn
:

Pengamatan pasut dilakukan untuk memperoleh data tinggi nlttl<,t ,ttt laut di suatu lokasi. Berdasarkan hasil pengamatan tersebut dapal tlitct,rlrk,rrr datum vertikal tertentu yang sesuai untuk keperluan-keperluan tcrlt'ttttt pttl,t.

Pengamatan pasut dilakukan dengan mencatat atau merekam rl,rl,r lrlr1i1li muka air laut pada setiap interval waktu tertentu. Rtlntang 1lt'ttg,tttt,tl,ttt pasut sebaiknya dilakukan selama selang wal<tu kcsc'lttrttlt,ttt poriotltt,ttt benrla-hcncla langit yang mempengaruhi terjaclinya pasttl tt'litlt kcntlr,rli p,r<l,t 'scrnulrt'. Rcntang waktu penSamatan [)i)srtl y,tttg l,tzittt rlil.rkrrk,rrr
llpsisirry,r

lrrlrrL l.,,p,,t ltt,ttt grr,rl'tis arlalah 15 atatl 2() pi,tttl,ttt (l pi,rtrl,rtt .'', l,tttl) Irrlr,rv,rl rr,,rltr plrrr,rt,rl,rrr,rl,rtr llcrkitnt,rrr lirrggi rttttk,r l,lttl lrt,ts,ttty,t,trl,tl,rlr lrr, l(I ,tl,ltt l'lI tttltttl

6?

6l

'!':' !!!r!

r.

i ] - ! - D- ! i

r. D

] r E - - - - D D - D D. > > D P i - - -

I
- - -,:,;,;.;,,

C.tr.r y,trtg p,rlitrg scrlcrlr,rn.t trrrltrl< ntorrg,rr.r.t,rli ll,rsrrl rlrl,rl..rrl',rrr rlt'rr1i,rn palem al,ru ramhrr l)eng,lmat ltasut (C.rmllar J.li). Tirrggr rrirr[,r ,ur scli,rp jam diamati secara manual oleh operator (pencatat) dan dicatat p.t<l.r suatu formulir pengamatan pasut. Pada palem dilukis tanda-tanda skala bacaan dalam satuan desimeter. Pencatat akan menuliskan kedudukan tinggi muka air laut relatif terhadap palem pada jam-jam tertentu sesuai dengan skala bacaan yang tertulis pada palem. Muka air laut yang relatif tidak tenang membatasi kemampuan pencatatan dalam menaksir bacaan skala. Walaupun demikian, cara ini cukup efektif untuk memperoleh data pasut dengan ketelitian hingga sekitar 2.5 cm. Tinggi palem disesuaikan dengan karakter tunggang air pada wilayah perairan yang diamati pola pasutnya, yang biasanya sekitar 4 hingga 6 meter.

;,;;,;;;;, ';; (,lr,l pt,lltl,ll rl,rrr rrr,,1r,,rlrrl.,rrr ()t,url.l y(ulll <littr1l,rsi rtttlttl< tltcttli,lttt,tlt ,:;;
; ; ; ;;;;

;;; ;;;;;;.

rl,rn

rrrppr';tl.rt tirrlilgr ptrrl.,r ,rrr. 5r'lltt.rh alat l)('l'lSilrr,ll ll,tsttl tltt'l<,ttttl. y,tttli rligunakan lpt1k ini .rrl,rl,th tide gauge. Ceral<att naik rl.rll lrtrtttltty,t,rir l,tttl rliclctel<si dengan selruah pelampung yang digantungkirtr p,rrl.r l<,rw,rl lr'ri,r, Kawat baja tersebut digulungkan pada suatu silinder pcnggtrlttttg St'lrtt'tlr sistem mekanik melakukan peredaman dan konversi gt'ral<,ttl silirrtlcr penggulung kawat baja dari ke arah vertikal menjadi ke arah horisottl,tl.
Cerakan horisontal bolak-bal ik tersebut kemudian disambungkan ;larl.r st'lrt t,rl t pena yang menggoreskan tinta pada gulungan kertas perekam dat;r y,tttg

digulungkan pada suatu silinder. Cambar 3.9 memperlihatkan rt'l<,tnt,ttt tinggi muka air pacla kertas perekam berskala dari pengukuran menggtttt;tk,ttt tide gauge mekanik.

g
tg.

(s

Cambar 3.8 Pengamatan pasut dengan palem

+-.i

(Foto: Bramasto A. Wifaya)

;.

'i-r

f.

l,rfilrll,rr | 'r lll'lr.tttt,ttt rl.rla pcng;rmal.ln pnsul tlt'ngan lidc g,tttgt' nx'k'rlrik

'!':'

!(f!-,

- : - = E - r D r - . - - 3 r - D D B -, - D > D - - - - r r

Kt'rl,rs llort'l<,rrtt <ligcr,rl<l<,rn <lt'ng,rn sislr,t'n rttt,k.rrrrk lrr,rlr,rr,r1i,r lrstrl. sehingga mcmungl<inkan nrc'mbcrikan kecepatan surJut y.utH l\orrrl,rrr rl,rrr setara dengan jam pengamatan. Pada kertas perekam juga tcr<l,rp,rl sl<ala bacaan yang memungkinkan untuk melakukan kalibrasi dan pcmbacaan rekaman data yang efisien. Tide gauge semacam ini disebut dengan tide
gauge mekanik, l<arena sensor tinggi muka air dan pencatatannya pun dilakukan

l',,,,,,r ,1,,,, I r.,t,,,,, \,, , trt.,,l


-D D t GD-D-D->E>>-*----'b->----D -

secara mekanik. Pelampung biasanya diletakkan pada pipa dalam sistem bejana berhubungan untuk mereduksi gerak muka laut sesaat karena gelombang dan angin. Pengembangan dari sistem ini adalah penggunaan sensor akustik atau optik (sebagai pengganti sensor mekanik) untul< mengukur tinggi muka air dengan perekaman secara digital.

pasur pengamal pasut penBlkatan stasiun staslun pengamat Cambar 3. I0 Skema pengikatan

Untuk skala regional dan global, satelit altimetri Topex/Poseidon yang


bekerja menggunakan pulsa RADAR kini dapat dimanfaatkan untuk mengukur tinggi muka air laut yang berada jauh dari pantai. Satelit altimetri adalah satelit pengamat global dan dipakai untuk memantau tinggi permukaan laut Beberapa persyaratan untuk penempatan lokasi stasiun pasut yang lt,rrrts dipenuhi antara lain adalah:

. . . . . .

di seluruh bagian bumi. Sistem ini mempunyai footprint beam pada radius sekitar 7 km dan sangat rentan terhadap noise yang ditimbulkan oleh daratan,
sehingga tidak memungkinkan untuk pemantauan lokal. Sistem pengamatan pasut lokal dan dekat pantai yang paling maju saat ini adalah dengan suatu sebaran stasiun pengamat pasut permanen dengan sensor laser dan perekaman secara
atar"r

Lokasi stasiun pasut harus mengSambarkan karakterislil< l)ir\,rrrfl surut di daerah sekitarnYa' Tanah di daerah lokasi stasiun pasut harus keras (tidak lrtrltttttPrtr)

digital. Data pengamatan ditransmisikan melalui jaringan telepon

Lokasi stasiun pasut sebaiknya .lauh dari muara stttt13,ti, tttrlrrl. menghindari pengarulr aliran serta endapan dan s,rtltp,rlr y,rrrp, terbawa menuju ke laut.
Perairan di lokasi stasiun pasut diupayakan bersih datt it'rtrilt ',r'tl,r tidak terganggu oleh tetumbuhan laut yang ada di sekil,rrrry,r. Lokasi dicari sedemikian rupa agar memudahkan pengaw,ts,ttt rl,ttr pemeliharaan stasun Pasut'

gelombang radio ke suatu stasiun pusat pengolahan data.

b. Pengikatan Stasiun

Pengamat Pasut

Pengikatan stasiun pengamat pasut adalah prosedur standar yang dilakukan untuk mengetahui kedudukan nol palem relatif terhadap suatu titik di pantai yang ditetapkan untuk keperluan rekonstruksi. Titil< pengil<atan nol palem tersebut perlu didokumentasikan (atau dibuat permanen sebagai bench mark) dengan baik agar mudah ditentukan kembali. Pengikatan stasiun pengamat pasut dilakukan dengan pengukuran sipat datar untuk menentukan beda tinggi nol palem relatif terhadap titik pengikat. Jika selisih tinggi palem terhadap titik ikat diketahui, maka selisih tinggi tersebut nantinya akan digunakan untuk mendefinisikan tinggi titik ikat itu sendiri setelah datum vertikal ditentukan dari pengamatan pasut. Cambar 3.10 memperlihatkan kedudukan palem (atau alat pengamat pasut lain) di P sebesar Ah,,, tcrh,rrl,rll titik pengil<al Z. Finggi muka air yang cliamati, rliukur rclatif tt'rlr,rtl,r;r trol palt'm lrcrrl.rs,rrk;rn lrcrl,r tinggi y,rrrg rlitrktrr rl<'rrg.tn sip,tt rl,tt,tr.

Terlindung dari pengaruh ombak dan gelombang serta pcttg,trtrlr lai nnya secara langsung'

D. PREDIKSI

PASUT

Prediksi pasut dituiukan untuk memperoleh informasi tirrggi nrtrl<,t l,rtrl di masa mendatang pada saat dan lokasi tertentu. Hasil prcrlil<si rlit,rrtrpill<,rrr clalam tabel yang berisi .iam dan tinggi muka air. Tabt'l-t,rlrt'l prt'tliksi P'rsrrl (',tr,t l,rttt cli lrclrcr,rp;r lokasi clipublikasikan dalam se[;uah bltktt 1l,tsttt. trrrtrrl< rrrr,rry.riil<.rrr irr[ormasi prediksi tinggi muka ;rir.r<l,rl,rlr tk'tt1i.ttt t tt titl,rl

<lr,trl ( r, lrrl,tlrlr,rrlrlrlr,rngrrrrclcng;rnintcrpolitsi (ltrttgg,rttpi ,tl,tttl<r'lcrl,ttttlr,tl,ttt l',rrr, 1r,r.,1ll ,l,rrr l,r,llr.t,rp,t ,,l,rsirrrr ;tt.ngitntat p,tsrtl. I )itri ittlt'tpol,tst lt'tlt,rrl,rP I1lHtl,1ttl ,rl,lr lr,lr,tl,rtttlr,tl,ttt l,tst' ;l,tsttl lctsr'lrttl ,rk,ttr rltrl,tP,rlh,rtt

66

hl

'!':' !'"!'!''!r

- ! i' n t B, - t - ]. ! . - r - B - r- - l > > - - - - t r tlt,tsittg-ttt,tsitt13 to-r,rttgt'tl.ttt ro-11/r,rsc rlr,rr.l. l)t'rry,l,t,ut (lr.rr1i,rrr r,u,r 1lt memhreri informasi tirrggi mul<;r air 1;arla lokasi-lokasi y,rrrg lrrl,rl, tt,rst'rli.r
Prediksi pasut dilakukan dengan menurunkan atau mencari komponen-

;:;",

;;;,

;;^";

stasiun pengamat pasut.

komponen pasut dari data pasut dengan rentang pengamatan tertentu. Pendekatan yang dipakai untuk mendapatl<an komponen-komponen pasut adalah analisis harmonik. Cara yang Iazim dipakai adalah metode Admiralty (Hydrografisch Bureau, 1949) atau kuadrat terkecil (misalnya: crant, 19BB). Penggunaan metode Admiralty biasanya diterapkan pada panjang data 15 atau 29 piantan dengan interval waktu pengamatan 1 jam. Untuk data dengan interval waktu pengamatan yang lebih kecil dengan
rentang waktu pengaman yang lebih panjang, metode l<uadrat terkecil cukup efektif dipakai untuk mendapatkan komponen-komponen harmonik dari data penBamatan pasut.

pr:latihan.hlnt. I )r,rr;i,ril trtr,l.,rl,, rrrr, ,rrl,r sr'tttlrtl,rn Lr)ltllrr)lt('lr l),t',rll y,tll,l tl,rpat dilrrrrrrrk,rrr, Mr,torL,Irr,rrlr,rl lcrl<r'< il<lirl,rs,rrl<,rn 1r,r<l,r 1lt't tlttltt,ttr ltnligt muka air m<ult'l y,rrr11 rrrcrrrlrr,r il<,rrr l<tr.rclral l<esalalt,tn lt'rlr,rrl,rp ltttglii ttttt[,t air pengamatan y;rrtg rninimum. Dari wel;site yang s.lnl,l, rl,tll,tl tlipt'tolclr program yang dapat digunal<an untuk melal<ul<an anitlisis p,rsttl rlt'ttg,rtr metode kuadrat terkecil.

"

;;:,

;,;;;,",;;;,;,-,:

;;;;,;

b. Prediksi

LAT

LAT merupakan kedudukan muka air laut terendah hasil prcdil<si st'l,tttt,r periode waktu '18,6 tahun. Model prediksi kedudukan muka air laLrt tlitlt'l<,rti dengan:

a. Analisis Harmonik
cerakan vertikal muka air laut yang periodik merupakan resultan atraksi gravitasi bulan dan matahari pada waktu dan kedudukan tertentu. Maka gelombang pasut yang diamati di suatu lokasi merupakan superposisi dari beberapa gelombang yang masing-masing pada setiap saat tertentu dibangkitkan oleh kedudukan benda langit tertentu. Deviasi muka laut terhadap kedudukan rata-ratanya dinyatakan dengan:

y(t)= !usr*Lr,O,.or(r,,
l-1

Foi + f"t

+Q,)

(\,7t

dengan y(t) = kedudukan muka air laut saat t, /r.r, = keduduk,ttt ttttrlr,t,rtt laut rata-rata atau MSL (Mean Sea [eve/) terhadap alat pcttg,tnt,tl p,t.'rtl, v; = faktor nodal komponen pasut i, A, = amplitudo komJrrtttt'tt l),t\ttl ,, (D = kecepatan sudut komponen pasut i, F' + F = fase komll<lttt'tt p,t',ttl kesetimbangan i, dan 0, = fase komponen pasut i. Keduduk;rn MSI ',r'rl,r amplitudo dan fase masing-masing komponen pasut yang dilib:rtl<,ttt tl,rl,rttt

y(t) =yu + i A, cos(a,t - Q,)


i-l

model diperoleh dari hasil analisis harmonik. Kecepat;rtt stt<lttl masing-masing komponen pasut diketahui berdasarkan hasil att,tlisis
(3.6)
astronomis. Sedangkan faktor nodaldan fase komponen pasut kesetimlr;tttg,ttt dihitung berdasarkan argumen waktu. Data kedudukan mul<a air latrt y,rtrg

dengan, /(t) = tinggi muka laut sesaat, )zo = tinggi muka laut rata-rata, A. = amplitudo komponen pasut I dan n jumlah komponen pasut yang
dilibatkan. Dari data pengamatan pasut akan diperoleh data untuk persamaan 3.6 di ruas kiri yaitu y(t) dan dengan mengasumsikan keterlambatan fase untuk komponen pasut i, maka Persamaan 3.6 dapat dipecahkan untuk menemukan A-. Metode Admiralty dikembangkan oleh A. T. Doodson, Direktu r Ticlal lnstitute di Liverpool dan digunakan untuk l<eperluan kantor hidrografi lnggris, yaitu British Admiralty. Doodson mengembangkan sistematika pcngol,rlr,rrr data pengamatatt pitsut rlenglln lranlrr;rrr sl<t ma rl;rrr ta[rcl-l,rlx,l 1r,,rr1i,rli. Kt'lt'ttltt.ltr rl,rrr l,rttgl<,rlr-l,rtrgl<;rlt y,lnl.l lx'nllllurrrllt rnclork. ,4r/lrrrr,r/lr rrrrtrrl,
68

dibutuhkan untuk melakukan analisis harmonik bervariasi, namun ntittint,rl dibutuhkan data pasut selama setahun.

c. Pengaruh Faktor-faktor Non-Harmonik


Pada kondisi tertentu, faktor-faktor non-harmonil< mcnrputty,ti lrcttli,rrulr yang pctrting terhadap tinggi muka laut pacJa sl<;rla lokirl, rcgiott,rl ,rl,rrr glolr,rl y,urll n'r(\ng,lkihatkan perubahan (positif alatr nt'g,ttif) lirrligi tttuk,r l,rrrl scl,rrrr,r,,,r,rl ,,,r,rl llrlcnlrr ,rlltr terrrs mcnorus. Pt'rttlr,tlr,ttt litt,l,li tttttk,r l,rttl It.rsr,lrrrl rl,rlr,rl rlr',,'lr,rlrl.,rn ololr [,rl<lor nrclt.oroklgis (lirrliliirry,r lrt;,ttr,,ttr1glt llt,r,rr, rr,rtl" ,rl,rtt lurrrr\,,r'.rrlrrr likrll,rl rl,rn st.lr,rli,ritry,r),tl,rtt lttrlt,,l,rlit', (,rlrt,rtr

/r0

- I - DDDDD>>- - i D- stttll3lti, ll,rrrjir rl,rrr st'll,t1"i,titty,t). Kotttporrcrr rron-lt.rrrr)orrrk rl,r1r,rl rlrllrrrrrlt,rl dari panjartg rJala pcnBamatan pasut yang cukup dan kort'l,rsr rL,rrli,rrr tl,rt.r penBamatan lainnya, seperti: curalr hujan dan debit air. Lok.rsi lok,rsr y,rng terpengaruh oleh komponen non-harmonik adalah daerah-dacr.rlr pantai yang dekat dengan muara sungai atau dataran-dataran rendah pantai yang berada pada daerah aliran sungai.
D
G

'!t:,' !'!f!

; -. -, - ],

3 D r. r r r D -

.,

Pt-.morumiln

Referensi
Adams, R. (2004). Seam/ess Data and Vertical Datums - Reconci/ing Chart Datum with a Clobal Reference Frame. The Hydrographic Journal
.t13.

Pemeruman adalah proses dan aktivitas yang ditujukan rntlrrl<

cA

(2

003

).

v e rti

al D atu m .

http ://www. ca ri s. com/s -57 I atrributtdef/d-

verdat.htm.

de Jong, C. D., Lachapelle C., Skone, S. & Elema,

l. A. (2002). Hydrography. Delft University Press. Delft, The Netherlands. Defant, A. (1985). Ebb and F/ow. University of Michigan Press, Ann

Arbor, USA. Crant, t. t. (,988). Simplified Tidal Analysis and Predictton. Lighthouse, 37, Canadian Hydrographic Service, Nova Scotia, Canada.
Hidrografisch Bureau (1949). overzichtder cetijleer. Afdeling Hydrografie, Ministerie van Marine, Staat der Nederlanden.

memperoleh gambaran (model) bentuk permukaan (topografi)dasar ;)t'r,tir,ttt (seabed surface). Proses penggambaran dasar perairan tersebut (sci,rk pengukuran, pengolahan hingga visualisasinya) disebut sebag,ri \ttrvr'l batimetri. Cambaran dasar perairan dapat disajikan dalam garis-g.rris kottlttt atau model permukaan digital. Cambar 4.1 dan 4.2 memllt'rlrlr,rtL,rrr visualisasi dasar perairan sebuah pulau terumbu karang di gugusan Kr'pttl,ttt,ttr
Seribu.

Knauss, J.

A. (1979). lntroduction to Physical

Oceanography.

Prentice-Hall. New Jersey, USA. Poerbandono (2003). sediment T ransport Measu rements and Model t i ng i n the Meldorf Bight Tidal Channels, Cerman North Sea Coast. Dissertation. University of Kiel, Cermany.

(a)

Mozaik citra foto udara


(su

mber: Pemeri ntah Kabupaten

(b) Caris-garis kontur, angka-arrgk,r menyatakan kedalaman tla ltrnr

Admi nistratif Kepulauan Seribu)

meter

Cambar 4.I Visualisasi dasar perairan dengan garis-garis kontur kedal.rman (a) dari pemeruman di sebuah putau terumbu karang (b)

(i,rris g,rris kontur kedalaman atau mocJel hatimetri rlipcrrllt'lr rk'ng,rrr mr.rr1.;,irrk.r ;xrl,rrik,rrr lilik lilik pengukuran kedalamarr yang tr.rst.ll,rr;r,rrl,r lol<,rsr y,rrrg rlrh,r;r hr,r,rp,rl,rrr lrlik litik pengukr.rr;rn kcrl.ll,lnl,rrr llt.rli,rrrtrrng gr,rrl,r sk,rl,r rrr,,,L,l y,rrr11 lrlrr,l,rl, rlrlrrr,rl. [)r.rsy,rr,rtk,rn kcr,rp,tl,rrr rttirrirrtrrttr lrlrI lrlrk lx.nl,irrkrtt,rtr llrl.rl.rrrr,rtr rl,rp,rl rlrlrlr,rl rli l ,rntpir,rrr l ). I rlrk lrtrl grtrrlirrl.trr,rrr
70 1t

'Y:'!Y

-,

r-

-r --

-.

- D]

B -,

-r

-. -. D -

------

> D D D,

I
; ;;;;,;;;;;;;-->>D>-D>

-'

>r

- ->

lct'tl,tl,ttll,ttt llcr,lrl,t 1t,rrl,r l,titrr l,tjtrr pcrrl3rrl<rrr,rrr l<r'rl,rl,rrn,rrr y,1rll (lrsr,lrtrl sebagai lajur pcrum atau -sounc/inyl lint: (Cam[-rar 4..t). l,,rtl.r r orrloh rli cambar 4.1 dan 4.2 jarak antar lajur perum adarah lo0 m yang rrt,lingl<upi daerah survei seluas sekitar 3x6 km2.

l)t'ttgttl<ttt,ttr l.r'rl,rl,rttt,rtr tlrl,rl'rrli,rrt 1t,rrl,r lilil< tilili y,rrrli rlrprlrlr rrrrlrrl. tttt:w.tkili l<t'st'ltttttlr,rtr rl,rct,rlr y,rtt13.tl<.tn rlipt'l,rl<,rrr. l',rrl,r lilik lrlrli lr,rsr,lrrrl iuga dilakul<.ttt pcngttl<Ltr,tn untuk pencntuarr posisi. tilil( lilil. tcrnlr,rt rlilakukannya pengukuran untuk penentuan posisi rlarr l<t'rl,rl,rrrr,rrr rlisr.lrtrt sebagai titik fiks perum. Pada setiap titik fiks prrLrm h.rrus jrrg,r rlil,rIrrL,rrr pencatatan waktu (saat) pengukuran untuk reduksi hasil pengul<trr,rrr l<,rrcrr,r
pasut.

a. Desain Lajur

Perum

Pemeruman dilakukan dengan membuat profil (potongan) pr.ngtrkt rr,rrr l<edalaman. Lajur perum dapat berbentuk garis-garis lurus, lingkaran-linlili,rr,rrr
(a)

Model batimetri dalam penyajian tiga dimensi


Cambar 4.2 Model permukaan dasar perairan (batimetri)

konsentrik, atau lainnya sesuai metode yang digunakan untul< llr,rrorrtu,rrr posisi titik-titik fiks perumnya. Lajur-lajur perum didesain serk,rrril<i,rrr rrrlr,r sehingga memungkinkan pendeteksian perubahan kedalaman y,rrrlg lr,l,rlr

ekstrem. Untuk itu, desain lajur-laj ur perum harus mt.rrrpr,rlr,rtrl.,rrr


ii
kecenderungan bentuk dan topografi pantai sekitar perairan yanpi ,t l<, r rr r lr,,r
rrvr,r

Agar mampu mendeteksi perubahan kedalaman yang lebih clistrr,rrr l,r1rr perum dipilih dengan arah yang tegak lurus terhadap kecenrk,r'urrli,rrr ,rr,rlr garis pantai (Cambar 4.4).

-,-- muka laut


salah satu titik fiks perum

Cambar 4.3 Laiur-laiur perum

Jarak antar titik-titik fiks perum pada suatu lajur pemeruman setidak-tidaknya sama dengan atau lebih rapat dari interval lajur perum. saat ini, teknik perekaman data kedalaman sudah dapat dilakukan scr:ara digital. Laju perekaman data telah mencapai kecepatan yang lebih lr,rik rl,rri 1 titik pcr rlctik

perairan

( ,,trrrlt,rr

./ ,/ l.rirrr-laiur perum garis lurus dengan ar:rh lt gak lrrrus garis ;tanl.ri

7?

Y:'%:

-B

D r - r -E--.-

a--B-r

r 3r--E-

D>D D > - - r r

I
Irtk ryrrl

Dari Ptltt13Ltl<ttrittt l<crl.tl,rnr,rrr (li tilik-lilik [il<s llcrrrrrr p,rrl,r l,r;rrr l,r;rrr perum yang telah didesain, akan didapatkan sebararr titil(-litik lrls rprsrT) f pada daerah survei yang nilai-nilai pengukuran kedalamannya claJrat rlipakai untuk menggambarkan batimetri yang diinginkan (Cambar 4.5). Berdasarkan sebaran angka-angka kedalaman pada titik-titik fiks perum itu, batimetri perairan yang disurvei dapat diperoleh dengan menarik garis-garis kontur kedalaman. Penarikan garis kontur kedalaman dilakukan dengan membangun grid dari sebaran data kedalaman. Dari grid yang dibangun, dapat ditarik garis-garis yang menunjukkan angka-angka kedalaman yang sama.

o t 1. J
D
.'5

a
titik kedalanrar
Pengukuran

S,.3

Cambar 4.6 Penentuan nilaititik grid daritiga titik terdekat

qaris
.

pintai.--.".-..- -i
\
t\

'i -.12.s . 1. 7.5" .18.7 .it.o \


J

muka

,r'

laut

Metode Mekanik

.g.g

.17.4

.22.2

24.1

,,,

,, -.

.6.3 .11,6 .20.g x.1 .

.LJ.L

nrt,n

Cambar 4.5 Angka-angka kedalaman pada titik_titik fiks perum

b. Prinsip Penarikan Garis Kontur


Teknik yang paling sederhana untul< menarik garis kontur adalah dengan teknik triangulasi menggunakan interpolasi Iinier. crid dengan interval yang seragam dibangun di atas sebaran titik-titik tersebut. Nilai kedalaman di
setiap titik-titik grid dihitung berdasarkan tiga titik kedalaman terdekat dengan

Metode mekanik merupakan metode yang paling awal yarrg pcrrr,rlr dilakukan manusia untuk melakukan pengukuran kedalaman. Mctorll rrrr sering disebut juga dengan metode pengukuran kedalaman secarir l,rrrlgsrrrrg Pada beberapa kondisi lapangan tertentu, misalnya daerah [x.r,ur,ur yirrrH sangat dangkal atau rawa, cara ini masih cukup efektif untuk rlrpirrrr,rl,,rrr lnstrumen yang dipakai untuk melakukan pengukuran kedalanr,rrr rlr,rr1.i,rrr metode ini adalah tongkat ukur atau rantai ukur yang dilakul<,rrr rl.rrg,rrr bantuan wahana apung. Bentuk dan penampilan tongkat ukLrr krrr,rrrli L,lrrlr tidak jauh berbeda dengan rambu ukur yang dipakai untul< llcrrgul\ur,ur sipat datar. Sedangkan rantai ukur, karena fleksibilitas bentuknya, lri,rs,rrry,r dipakai untuk melakukan pengukuran kedalaman perairan yang r,rl,r r,rl,r lebih dalam dibanding tongkat ukur.
Pada tongkat ukur terdapat garis-garis dan angka-angka tanrl,r sk,rl,r
bacaan ul<uran. Pada rantai ukur terdapat tanda-tanda skala bacaan rk'rrg,rn warna-warna tertentu. Bacaan skala kadang-kadang ditempatkan jtrg,r p,rrl,r

grid, dapat dihubungkan dari titik-titik yang mempunyai nilai kedalaman yang sama. cambar 4.6 memperlihatkan teknik penentuan tinggi pada suatu titik grid (D) dari tiga titik kedalaman pengukuran terdekat (1, 2 dan
3).

pembobotan menurut.jarak. Dari angka-angka kedalaman di setiap titik-tirik

silinder penggulung rantai. Pada ujung rantai (nolsl<ala haca.rn)dig.rrrlurrgl<,rn pemberat untuk menghindari sapuan arus perairan clan mcnj,lg.r ,ll.l,r' r,u)l,rr

senantiasa relatif tegak. Pengukuran keclalaman rlilakrrl<,rrr rlcrrg,rrr menenggelamkan alat hingga menyentuh dasar perairan. Kcrltrrltrl<,rrr ,rl,rl
diusahakan tegak lurus terhadap permukaan air. Saat pt.ngrrl<rrr,rn kcrl,rl,rrrr,rrr rlil,rkrrk,rrr, p,trl;r sumhu vertikal alat pengukLrr kr.rlirl,rrnirrr rlilt'nrp,rtl<,rn sljlrrr,, l,tr1y'l y,rrrlgr ltp,rl.,ti unlttl< lx.nentuan posisi. Pt.n13grrn,r,rn r',rrrl,ri rrl<rrr tn(,nlutlul l<t,lct',r'rlt,r,rn n,,rlr,ur,r ,rl)unll, n(rnrun tirl,rk rk'rnil<i,rn lr,rlrry,r rk'rr1i,rn lorrli[,rl ttl<ttt l',r,l,r l','1,,'t,1;,,t f,rtttlr',r l,rp,ttt1;,ttt, stttv('y()t lt,rttt,, lrtttttt l.r'rl,rl,rttr,ttt

c. Teknik

Pengukuran Kedalaman

Pengukuran kedalaman merupakan bagian terpenting dari pem.rtrman yang menurut prinsip dan karakte'r tel<nologi yang digunakan dapal rlil,rl<trl,,rrr clengan mr.lrtrk' mt.k;rrrik, optik .rt;rrr aktrslil<.

ttttlttl. tttlnllrtlrtr l,',l,tl,tnt,rtr rlr,trlg,rn lorrlil<,rl rtIrrr l'r'trliul\ut,ln lr,,rl,rl,rrrr,rrr


74

'y'ru

-- E- -r---.t

-r r - - - rlD-

r,D.

DD- D - -

tlcttg,ttt t)x)t(xlo tttttl<attik t'[t'l<tif rligrrrr,rl<,rn unlul( l)cnt('l,r,rn 1r,rrl,r Ir,rl,r,,,l,r,,r,rlr survei yang relatif tidak luas deng,an sl<ala yang cukup [rcs.rr. Metode Optik Pengukuran kedalaman dengan metode optik merupal<an cara terbaru yang digunakan untuk pemeruman. Metode ini memanfaatkan transmisi sinar laser dari pesawat terbang dan prinsip-prinsip optik untuk mengukur kedalaman perairan. Teknologi ini dikenal dengan sebutan laser airborne bathymetry (LAB)dan telah dikembangkan menjadi suatu sistem pemeruman oleh beberapa negara di Amerika dan Australia. Di Kanada dikenal sistem Light Detecting and Ranging (LIDAR), di Amerika Serikat dikenal sistem Airborne Oceanographic LTDAR (AOL) dan Hydrographic Airborne Laser Sounder (HALS) sedangkan di Australia dikenal sistem Laser Airborne Depth

-;:;,.;;;

lr'llr,rrl,r1r lr,rrrsntisi sirr,rr l,r,,r.r rl,rrr pr,,,,rw,rl lr.rlr,rng tk'ng,ttr stttlttl srrnttlu vcrlik,rl Ir'lrr,lnul\,r,ur,rrr, l',rrl.r tilik tli pcttttttl<,t,ttt,rir y,rtrg rltl,r'tr,rt lr.rnsmisi, sr.lr,rgi,rrr liclorrrlr,rrr13 sitr.rr lilser rlip,ttttttll<,rrt <l,ttt tltllt,trk,ttt l<c segala ar,rh rl.rrr s,rl.rlt satu berkasnya akan ntcttcntJlus l<r' tl,tl,trtt ,rrt. Berl<as sinar laser yang menembus ke dalam air adalah st:l<it,tr()li'/, rl,rti cnergi awalnya dan akan dibiaskan dengan arah menclck;rti g,rris ttotttl,tl (garis vertikal) akibat perubahan dari densitas medium yang lcbih r('rrtitl,rrrtl ke densitas medium yang lebih rapat.

;;; ;,;; ;, ;;1",;,;.:;,;;ffi lltl('tlltt

Berkas gelombang sinar laser akan meneruskan peri.tl,ttt,ttt


perambatannya di dalam air hingga menyentuh dasar perairan dan <lillanltrll<,rtr l<e segala arah dan salah satu berkasnya dipantulkan kembali ke ar,tlt srttlul datangnya. Berkas sinar yang memantul ke arah sudut datangnya l<cntttrli,ttt meneruskan perjalanan perambatannya dan menembus batas air tl,ttt ttrl,tt,r, Karena perubahan densitas medium yang lebih rapat ke medium y,rttli L'lrtlr renggang, berkas sinar akan dibiaskan menjauhi garis normal clan rttcr,ttttlr,rl pada garis lintasan yang searah dengan saat pertama kali ditransrrtistk,ttt rl,rtr diterima kembali di pesawat terbang oleh unit penerima gelontlr,tttg,

sounder (LADS). Teknologi LADS milik Royal Australian Navy pernah dicobakan untuk digunakan di lndonesia pada pertengahan tahun 90-an
dengan mengambil daerah survei di perairan sekitar pulau Enggano, Bengkulu, bekerja sama dengan BPP Teknologi.dan Dishidros TNI-AL.

Pada metode ini sudut transmisi sinar laser diarahkan tegak lurus
terhadap arah lintasan pesawat. cambar 4.7 menunjul<kan profil prinsip kerja LADS dalam melakukan pengukuran kedalaman di titik p.

Untuk mendapatkan kedalaman pengukuran/ parametclr y,tttg lr,ttrt', diketahui adalah sudut transmisi gelombang terhadap garis vcrlik,rl ltt,t, tinggi terbang pesawat (h) dan indeks bias udara-air di daerah sttrvct (rt,,,) (lihat: Cambar 4.7). Panjang lintasan sinar dari pesawat ke pt:rmttk,t,ttt ,ttt
(r") diperoleh dengan:

Soz

+hz

(4. t) indeks bias (n"*) diperoleh hubungan:

dengan S, =

htan0. Dari

0,

--1
I

.t \,i

on n =',, = 1in ttw

vw sin0,

(4.

))

iS"
o"\

I
I

\,"
\

dengan v" = kecepatan cahaya pada medium udara dan v* = l<t'tcl r,tl,ttt cahaya pada medium air laut. Dari hubungan tersebttt rlipcrolclt:

r-" t\

sitt

,[ ,,, .,n 0,, ]

r',,

(4.

r)

(,,rrrr/l.rr 4.2 Pengukuran kedal;rman dengan sinar lasr.r

76

t7

'y'Y--

rE-r

--:-

r --

--

r-

- r-r

rE--D

DDD

D, f, E

B EE

-D-->

>D>>G=

c-->---r-DD

DDD-D>--

l',,,,,,',,,,,,,,
-PlF

l)t'lt<,tl.tl w.tkltt tli 1x's.tw,tt t<'r[r,rrrg nrcngrrkrrr st'l,rrrg w,rklrr tot,rl (Al) sejak gelombang clitransmisikan hingga diterima kcmtrali rli 1x's,rw,rt. l,,rn;.rn13
lintasan yang ditempuh sinar laser adalah r, dengan r = r,,+ maka:

r*.

lik,r

= vAt

I
l l i

f = fn l
sehingga:

rr.

= (r,,Lt,,+ v *Lt*)

(4.4) ,,

(x,'t,),t. ....t.
|,.

/
(4.s)

0j
t'.
S

.,t1. "-)-"-

Lt = z(Lt,,+Lt,)

/'
arah lintasan
pesawat

Jika v" telah diketahui, maka At, dapat dihitung dengan persamaan 4.5, sehingga r. dapat pula dihitung. Jika v* telah diketahui, maka kedalaman perairan di titik P diperoleh dengan:

Cambar 4.8 Penentuan posisi relatif titik Pterhadap koordinat pesawal

d=

r cos9
D'W

@.6)

Arah transmisi gelombang sinar laser selalu dibuat tegak lurus terhadap arah lintasan pesawat terbang. .farak horisontal pesawat ke titik p (titik yang diukur kedalamannya)adalah sebesar5 =50+ 5_. Jarak horisontaldari titil< p ke titik pembiasan sinar laser (5*) diperolei-l d"ngun'

dengan pembangkitan daya sebesar 1 MW. Sistem ini dapat rlip,rk,ri rrrrlrrl. melakukan pemeruman pada rentang kedalaman 2 hingga 50 ntctct rllttg,rtr kondisi air yang jernih dan terbuka, cakupan daerah survei y,tttlg ltt,t', rl,rtr untuk pemetaan pada skala kecil. Daerah-daerah yang sulil rlrj,rrrgk,ttt olrlr wahana apung dengan teknologi mekanik atau akustik dapat <lrlilrrtl olrlr sistem ini. Air laut hampir tidak dapat ditembus oleh hampir seffiLr,r gclontlr,rt r1i elektromagnetik. Celombang elektromagnetik pada frekuensi HF, VLI lrrrrpif i,r cahaya akan kehilangan intensitasnya pada kedalaman kurang <l;tri l()o trt Teknik pengukuran kedalaman dengan metode optik efelctif digunak,rtt p,ttl,r perairan dangkal yang jernih dengan kedalaman sekitar 50 m. Metode Akustik
Penggunaan gelombang akustik untuk pengukuran-pengukurart lr,tw,rlr air (termasuk: pengukuran kedalaman, arus dan sedimen) merupal<irtt tt'ktrtl< yang paling populer dalam hidrografi hingga saat ini. Celomh;rng ;rktrstik

S = dtan) x,w
Posisi

(4.7)

titik P ditentukan relatif terhadap posisi pesawat saat pengukuran dilakukan (cambar 4.8), karenanya, posisi pesawat (x,,y,) dan arah lintasan terbangnya (a) harus selalu diketahui. Posisi titik p dapat dihitung dengan:

xr= x, + Ssin(a-180')

(4. B)

!r= !, + Scos(a-180')

@.9)

Teknologi LADS dioperasikan menggunakan pesawat terbang sekeras Fokker-27 seri 500 dengan kecepatan terbang sekitar r45 knot pada ketinggian sekitar 500 meter di atas permukaan laut menggunakan sistem penonlu,rr posisi kinematic differential CPS. Celombang yang digunakan arl,rl,rlr.,irr,rr laser infr.r nrt'r,rh rlr-ngan p,rnjang gclonrlr;urg 512 rrm rlan 1x'rrorl,r ,r rr,,

Hz akan mempertalranl<att l<r'hil,rtrg,rtr dengan frekuensi 5 kHz atau intensitasnya hingga kurang dari 10"/o pada keclalamatl l0 km, st'rl,ttrgl<,ttt gelomhang akustik dengan frekuensi 500 kHz akan kchilartg,tn inlcttstl,rsny,t parlir l<r'rl,tlaman kurang dari 100 m. Secara kltustts, lt'krrrk rrti rlipt'l,ri,rri rlal,rrrr lrrrlro ,rl<ustil< tintrrk pengukuran kerlalitm,tn, tligutt,tl<,rtt tt lttxtttrth't ,rl,rtr pr,nlnl llr,nt,r y,ulfl lx'rl,lma kali rlikcnrllitttgk,tn rli lcrttt,rtt l,tltrrtt l().to
(l rrrlorr, ,'lll

,l00

l.') Al.rl rnr rl,rgr,rl <lip,rkiri trrrltrl< trtottglr,rsill<,rrr llrolrl kcrl,rl,tttt,ttt


\r'p.lrl.lrli
l,r1ut pcrrtnt rlong,ttt l<r'lllrlr,rtr y,tnli ( rrkrrp lr,rrk

y,rrrg l.nnlln!'u

l8

- -rE-D - DE -- Drr - - -- - -. - ---D -3-I--Al,rl Pt'rtrnr g('nr.l nlcnl.l,gun.rk.rn prirrsip pt:rrgrrktrr,ur lilr,rl. rl,rrg,rrr memanfailtkan gelombang akustik yang dipancarkan tl.rrr rr,rrrrlusur (cambar 4.9). Transduser adalah bagian dari alat perum gema yang me.gubah energi listrik menjadi mekanik (untuk membangkitkan gelombang suara) dan sebaliknya. celombang akustik tersebut merambat pada medium air -dengan cepat rambat yang relatif diketahui atau dapat diprediksi- hingga menyentuh dasar perairan dan dipantulkan kembali ke transduser

'2'%

ffi;;;;;;;;

(t'< ltr4;t,rtrl). ( i,rtis g,lrrs vttltl.,rl 1x'ngul<rrr,rrr kr.rl,rl,rnr,rrr p,rrl,r kr,rl,r\ l)('r'rrttl nrpprrpjtrl<l<,tn s,r,rl ,,,r.rl grr,rrr.rrltt,rn posisi tlil,rl<trk,rrt rl,rtr tliscllrtl sclr,tli,tt

";,;;;,il;;;;,",

;;,

g,tris-garis fiks (/ix rrr,tr(). l',rtla garis-garis fiks tcr:;cllttt, w;ll<ltt 1x'rt'l<,tttt,ttr

rlata juga harus dit atat untuk sinkronisasi dengan korcksi 1l,rsttl. l'rolil l<eclalaman yang dicontohkan pada Cambar 4.10 sangal cur;lm, st'ltitrgg,r setiap potongan profil harus dibaca menurut skala pengukuran yang Jrt'rlrt'tl,t.

Gambar 4.9 pengukuran kedalaman secara akustik

Perum gema menghitung selang waktu sejak gelombang dipancarkan dan diterima kembali (At), 5sh;r*ga jarak dasar perairan relatif terhadap transduser adalah:

d,,2 =lvvt
dengan

Cambar 4./0 Rekaman pengukuran kedalaman pada kertas perum

(4.10)

4 = kedalaman hasil ukuran dan v = kecepatan gelombang akustik pada medium air. Hasil pengukuran kedalaman akan direkam sel<aligus ditampilkan pada suatu gulungan kertas (rol/ paper) yang disebut sebagai echogram (kertas perum) atau direkam dan ditampilkan secara digital. pada kertas perum akan terlukis profil kedalaman perairan sepanjang jalur survei kapal (lajur perum). Jika pada titik-titik terrentu ditandai saat (waktu) pengukurannya dan pengukuran untuk penentuan posisi dilakukan s(.(.ara kontinyu dengan saat yang tercatat, maka hasil pencatatan wakttr rcr.,r.lrrrr rlapat digLrnakan tttttuk mcrc.konslrrrksi ;tosisi kapal sa,tt 11r,l,rl,rr[,rrr
80

B.
oleh'

AKUSTIK BAWAH AIR UNTUK PEMERUMAN


lr. lrdam Adil. l,{.7.

Cepat rambat gelombang akustik pada suatu meclium lrt'rgattlttttg P,trl,t massa jcnis medium yang dilaluinya dan dinyatakan rlcttl3,ttr htttrttttg,ttr (Lrtrtott,2()O2):

', V,,

lr

(.1

ll)
,t1

'Y'Y*r

-EDEr --r--:r -- -==3l tlt'ng.tn v = 11rl)irl r,lntl),rl gclorrtll,rng.tktrslik, K = nt(xlulu., r,l,r.,lr,,rl,r., llrritl,r dan r = densitas fluida. Modulus fluida menyatakan kompn'silrrlit,rs, yaitu rasio perubahan tekanan terhadap perubahan volume. Pada medium yang lebih padat, misalnya: air dan udara, untuk mengubah volume suatu zat diperlukan perubahan tekanan yang lebih besar. Karenanya, gelombang akustik merambat lebih cepat di air (sekitar 1450 hingga 1500 m/s) daripada di udara (sekitar 300 m/s), sebab air lebih tidak compressible dibanding
udara.

f,a-

3--

- - - * - r j

I
-! ]lD-----DP-D --*

i3-D--

EE-_--

" ->F;

,,r' ,,,,,',,,,

tt.

ror,,lt

//

',,',,,1

;,,

:or,'u[

(.r r'r)

rr'[t'r0ttst; t.lcngan /L = tingkat irrtensitas akustik dan /, = intensilas.tkttstil< yonipud, medir.rm udara dipakai ambang terbawah kemamptt,ttt 1x'trrlt'trg'tt'Itt 1 kHz' Dalilnl ,tl<ttstil< manusia yaitu 1xl0-12 Watt dengan frekuensi rata-rata

a. Sifat Gelombang Akustik


Kompresibilitas medium merupakan fungsi dari densitasnya, sehingga cepat rambat gelombang akustik pun merupakan fungsi densitas. Densitas air (laut) dipengaruhi oleh terutama suhu, salinitas dan tekanan hidrostatik (kedalaman perairan). Pada suhu air laut 20'C, densitasnya adalah sekitar 1023.4 kg/m:t dan modulus elastisitasnya 2.28x10e N/m2, sehingga cepat rambat Belombang akustik adalah 1492.6 mls atau hampir 1 500 m/s. Akurasi pengukuran jarak akustik akan dipengaruhi oleh estimasi cepat rambat gelombang akustik. Untuk mengestimasi cepat rambat gelombang aksutik, beberapa formula empirik dapat digunakan, yan6 salah satunya adalah

arlalah l ptl"r bawah air, tekanan akustik referensi (P,) yang digunakan (mikro Paskal; 1 PPa = 1 N2/m). Kehilattg'rrt lntensitas akustik akan berkurang sejak dibangkitkan.
jarak terhadap sumber gelomb'tttg intensitas akustik tersebut sebanding dengan

(sebaran geometrik). sil,rt yang disebut sebagai geometrica! spreading Semakill i'rrrlr dibangkitkan, gelombang akan menyebar ke semua arah' ltt'tc jarak perambatan gelombang dari titik pembangkitnya akan semakitt pLrl,t lritl'rrr;i luas tidung medium rambat yang dilaluinya sehingga semakin konst,trr, ttt,tl''r medium rambat gelombang. Karena energi pembangkitnya intensitas akustik pun akan semakin kecil' (attenuation) yang disebabkan oleh penyerapan energi untuk rt'l.tkr'tr|t oleh variasi tt:k'rtt'ttt molekul-molekul pada meclium rambat yang diakibatkan Laju pelcrn'rlr'rrr karena perambatan gelombang akustik (Lurton' 2OO2)' gelombang aktrslrk clipengaruhi oleh sifal medium rambat dan frekuensi sebag'ri rr yang melaluinya. Laju pelemahan intensitas akustik disimbolkan
merupakan f'rklor dan'dinyatakan dalam dB/m. Frekuensi gelombang akustik pelemahan akustik' yrng priing berpengaruh pada dan sebanding dengan laju dipakai karena itu, instrumen akustik berfrekuensi tinggi hanya dapat mengalami 1x'lt'rtr,rlr'rrr Selain sebaratl geometrik, gelombang akustik akan

(Medwin, 1975\:
v
dengan

1449.2 + 4.67

(t.34- 0.017)(s-

- 0.05572 + 0.00029T
35) + 0.0r6d

+ (4.12)

f = temperatur dalam "C, 5 = salinitas dalam psu dan d = kedalaman

dalam m. Formula di atas berlaku untuk kedalaman hingga.l000 m. Celombang akustik merambat pada suatu medium dengan memindahkan energinya melalui partikel-partikel medium rambatnya. lntensitas gelombang akustik adalah besarnya energi yang mengalir pada selang waktu tertentu

melalui satu satuan luas medium rambatnya:

Oleh padaperairandangkalkarenatingginyaintensitaspelemahanaktrstil<. digunakan r"rnlttk sebaliknya, instrumen akustik berfrekuensi rendah banyak aplikasi laut dalam.

t=L A

b. Alat Perum Gema


(4.13)

dengan I = intensitas akustik, P = daya dan A = luas bidang medium rambat. lntensitas akustik dinyatakan dalam WatVm2 clan merupakan krrarlr.,rt dari tekanan (p dalam N/m')). lntensitas akustik mempunyai rr.nt,rrrli y,rn1i sangat lclrar, sehingl3;t trnttrk ntonyatal<;tnnya, rligunakan sk,rl,r lo;i,lrtrrrrl' rk,r'r13.rrr siltu,rn k.siIr<'l (r|[])
<

Alat perum gema bekerja pada kisaran frckucnsi .rllt,lr,l l2 lrirlgg'r 'l0a hingga 10ts. Ct'lontlr'ttrg 'tl<ttslik 700 kl lz rlirn gelombang sekitar lrrrlik'rl l5 lrirlgg'r 5 arll.lril panCarall sttdut rlcrtg,tn rlilr,rrrliliill.,rrr

lx.ra<la p;r<la rct'ttitt.tg ittlcttsit,ts,lllt,ll',1 /()() lrirrlili'r lx.rrrlr,rrrlil.rt,rrr 11,hrnrlr,rrr1i I lo rlll 1r,ilr,,, 1il,.,'r ilr,,rilP,rl<,ilr ll,rgi,rll 1lt'tltitlg rl,lti sclltl,tlt ,tl,tl 1r|tttttt y'ttl;i lru"ll'rl y,1fll rlrlrrr,rl ,l,rrr l,,rlr,l1 y,rltll lrltsif,tl ltit'trt t'fit lrir ll,rlr'rtr
fl(,ptrr

,\:* /&ral
3 t I E r,l t n E G=&G GE-.Lt E G___D i D _ _t E _ !_

rL'ttttl<i'rtr,rl<,rtr l)('r'B('l,lr Ik,r <likclr.ri listril< tl,rrr st'lr,rlikrry,r, rrr.rrrlr,rrrril.rll<,rrr


I

istril<

l<r:t

il<,r rligct.trl<,rn.

;-;;;,

eksternal; untuk keperluan ini, biasanya arat perum gema dihubungkan dengan sebuah komputer).

elektronik-analog (pada pita magnetik)atau secara digital (pada unit penyimpan

melalui sebr-rah switching unit dan dialirkan ke transduser, kemudian dikonversi menjadi pursa gerombang suara. pursa gerombang suara yang dipantulkan oleh dasar laut diterima kembali oleh trinsduser pienerima dan dikonversi kembali menjadi energi ristrik yang diperkuat oreh sebuah amplifying unlr. Energi listrik hasil penguatan tersebut direkam pada sebuah unit secara mekanik (dengan kertas perum gema atau echogram), secara

Pada alat perum gema, ristrir< dibangkitkan dengan sebuah catu daya

lcr.s,rntllrrrrg rk,rr;q,rrr pl,rt pr.rrlirrnrp,rrr rl.rn tttcttg,tlttk,rn lislrrk l.r' lt,tttrltt,,r,t

;;;l;;,;;",,,;;-,;;;;, ; ;;:; ;;,:

lx.mitncr(lr A. l',rrl,r \,l,ll y,ulB s,rnr,l, l)('n,l stiltrs jtrg,r tt'r,rliri lrslril. rl,rrr mcnggoreskan joi,rk gcnr,r rli posisi A pada kertas [x]runr. S,r,rl l<r'<ltttlrtl<,rtr saklar transmisi di posisi t3, saklar terpisah deng,an pl.tt pt'ngutttp,ttt tl,tn aliran listrik ke transduser pemancar A terhenti . Transclr-rst'r llcrrt'ritr,r /i yang dibangkitkan oleh gelombang pantul dari dasar laut yang clikottvcrsi dan diperkuat akan mengaktifkan pena stilus untuk menggoresk,rrr jci,rk gema di posisi B pada kertas perum.
Bentuk gelombang yang dibangkitkan melalui transduser sebuah Jx'runl gema akan berbentuk seperti pancaran yang menghasilkan jejak (fo<ttpritrtit berbentuk lingkaran pada dasar perairan. Jari-jari lingkaran yang, rlilretrlttk sebanding dengan kedalaman yang diukur. Sudut pancaran gelomharrg rlarr transduser membentuk lebar pancaran B sehingga pada profil dasar Jrt'r,tit,ttt dengan kemiringan y akan terjadi kesalahan pengukuran o,;tkilr,tl rl,ttt pantulan gelombang yang berasal dari pancaran parla sisi lrt,rr (Cambar 4.12).

cambar 4.1 1 memperrihatkan bagian-bagian utama sebuah arat perum gema. selain mengalirkan listrik ke transduser, catu daya juga menggerakkan motor, sabuk stilus (dengan pena stilus yang terpasang pada sabuk) dan

nn,$lar saklar skala transmisi

+
l
I

--i-.--

Pe*a
sti,u$

lo.

Iti
i
I

",

-..L-."..''1'

".1,,
,...',1 ,V,:=

VV (r{i

ii
I

l
I

Y"
kerlas
n6nrM Psl uil
l

Cambar 4.12 Kesalahan pengukuran akibat lebar pancaran gelombang

plat
pemburni

sabuk stilus

plat pengumpan

transduser tra*sduser pemancar penerima

(,artrlt.rr 4. / / Ilaglrn-bagi.rn ulama.rlal perum gema (dimodifikasi rl.rri KtlK Kr.larrlan, .l ()ll())
84

Akibat pengaruh lebar pancaran gelombang terselrut, rr.l<;lnr,lrr krll,tl,tttt,rtr yangrlirrkrrrok'lr 1x.rum gcma pada puncak-puncak tl,tri pcrltrrl,r,rtr kcrl,rl,tttr,ttt yatrg r,krlr('nr,rk,rtr tttctttllt'ntuk kr,rrva-krt rv,l s('l('nll,tlr lttrgl<,tt,rtt,

(l,uttlr,rt
<hrg,r,rtr

,l I I tttr.tttpr.rlrlr,rlL,rrr

prrltl rl.r.',rr 1r'r,rr,rrr

(1,i,rrr,,

rck,rrtt,ttt kcrl,rl,rrn,rrr p,rrl,r kr.rl,rs pr.trttn rl,rn prrlrr., prrlrrr) y,rtrlg lksltcrtt.

,\,t* /tur$,
>---D----Blfr___l___

-D---.---*>>_-D>]D__

D'D

D =-

FDFD>>>>Gf,

>ts

D'D

> -

-';

*'-:I']'

Ialx.l

4.

I Srrnrlx.r lrr.rl,rlr.rrr
(KllK l(r.larrl.rrr)

;x.rrgrrkrrr.rn kctl.rl.rtrtatr tlt'ttg.ttt p('rtrttr H('itt.t

I'rrlrm

-SU,3ER

genu

KrsAL\lrAN Ilrrgrw'l,rr I rrls.t,rw,rl

KCI\DISI lxrlt sliltts ttrlxl,rl rrtl<,,rtt arus listrik chri gr:l<nllrttg lrttx,tr lit l tl<
Gxesan saat
berada pada skrla 0 Keterbatasan le*xr l<crtas pnrnt rrengaki batkan keterbatasat rLnl,

Fase perrgukuran

u u.l

pengukuran keclalanan
Azbkani

snp

kerj a

je.jak genu

perekanan Kelelahan bahan dan korqxn:n m'k,rrtil< pada alat atau kdidakpresisi.ur perrasangan konporrn-kr)rr[x nx Ir

rrekanik alat
Kestabi lan transnisi energi

Kdidaktabilan tegangan cattr

Lry,t

l<r'

listrik

alat perum gen atau pada rtttgk,ri,rtr listrik pada alat


Tranduser diletakkan di htw,tlt lunrs kapal Transcluser perrnncar tevlis.rlr t I t 11i rt r

cambar

4./3

Rekaman profir kedaraman pada perubahan kedaraman perairan yang ekstrem

Kedudukan Kedudukanrzertikal

transduser

tranduser terhadap
perm.rkaan laut Penisahan transduser

pulsa merupakan keterbatasan alat perum gema yang berasal dari desain dan kemampuan teknologi pemeruman hingga ,rrt ini, sehingga pada umumnya ketelitian pengukuran kedalaman dengan teknik akustik ini berkisar pada angka i dm. Jika profil kedalaman yang rinci diperlukan, maka harus dilakukan interpretasi terhadap hasil perekaman data pada kertas perum.

besar dari setengah panjang pursanya. Lebar pancaran gerombang dan panjang

Ketelitian pendeteksian perubahan kedaraman pada arat perum gema juga dipengaruhi oleh panjang pursa, yaitu jarak antar pembangkitan gelombang. Jika perubahan kedaraman rebih kecir dari setengah panjang pulsa, maka perubahan tersebut tidak akan terdeteksi oleh perum gema. Perum gema hanya dapat mendeteksi perubahan kedaraman yang rebih

peffarrar dengan tranduser transduser penerina

pErerira
Wahana aBrnS
Squat

Sett/erBnt

Kedudukan kapal yang cerxk'rttttg tenggelam saat berlalan Kedudukan buritan kapal yang trrx k t lebih tenggelam di bandi ng haluanrty,r saat berlalan
t tt
t11

apung
Sifat

Laju dan arah gerak

uahana Kermnpuan pengendalian wal'ntrt .rllrrtg


oleh jurumrdi
Perubahan kerapatan nrcli r-rm air littrl karena perbdaan suhu, tekatr.rn rl.ttt salinitas

Variasi cepat rantat

gdonbang
akustik
Kondisi lapangan

gelontrang Celorrbang pantul yang bukan dari dasar laut

c. Sumber Kesalahan dan Kalibrasi


sumber-sumber kesalahan dalam operasi pengukuran kedalaman dengan alat perum gema di lapangan ditunjukkan oleh Tabel
4.1 . Kesalahan-kesalahan

Kerurunan ikan di lxrwalt trattvlttv'r, pertrdaan n-rxliLrm ranllrl y,tttg rlr,tslts


karena polut:tn clan x*lt1.i ritty,r, .rlir,rtt ,rir

tauar di bar,rah g'rmrl<ilttt ;tit l,tttl,

runT{l.q!,ufll!,illjlll_
(

clapat rJiclesain.ara mengatasinya untuk mendapatkan h;rsil pr,rrllrrkrrr,rrr


y,rrrg lrt'n,rr.
tt6

tersebut dapat terjadi sendiri-sendiri atau bersamaan. Hampir semua strnrlr.r kesalahan yang ditunjukkan tersebirt merupakan kesalahan sistemati k, sr,l
ri
r

i.l,;rir,,,l,l

lr@kr"rir
mrry*rilrku'r
1x't't

l,rt rt y,,r4i

tlulltn

kr r lt r h tl" rt t

rgg,r

llrr Irr rg

l',t..td

l,trI

.lxrnuka,ttt itit'

lirtilltlrttt
rtt
l.
rt

l<rhrhrl.,ur vrrlrk,rl

lrllllll\,l,ll
l, rt

r.ftrrlr'.t

tl

l\, tt('t

t,t, tlt, tl\',t I I r x l, r I r r x l, t

rlitt

-Y!

--

- - D F..- -l-.r

D----D--DD--DDDF-

- -

j, J,l : - - - ;I ] = -G-G >;= = > j J, 7 - -' - <lt,tnt rl'rn

lrl:l'l'

(..tr.r y,rng t,lcl<lil rrnttrk rncrrj.rg,r ketclitian p(-rm(.rum.ur ,rrl,rl.rlr rlt.ngarr melakukan kalibrasi mcnggunakan cakra lera(bar check). K.rlihr,rsr rnr s,ur13.rt
membantu untuk mendapatkan ukuran kedalaman yang benar akih.rt lxrbcrapa sumber kesalahan sekaligus. Bar check terbuat dari lempeng logam berbentuk lingkaran atau segi empat yang digantungkan pada tali atau rantai berskala dan diletakkan di bawah transduser. Tali atau rantai berskala dipakai sebagai pembanding hasil pengukuran dengan alat perum gema. Pembandingan pengukuran kedalaman dilakukan untuk setiap perubahan kedalaman, mulai dari kedalaman 0 hingga kedalaman maksimum yang akan diperum dengan interval 1 m. Kalibrasi dengan bar check dilakukan setelah pengesetan pulsa awal nol dilakukan (goresan saat pena stilus mendapatkan arus listrik dari gelombang pancar ditepatkan pada skala 0) dan dimulai dari kedalaman tali skala bar check 1 meter. Setelah itu, kedudukan bar check diturunkan

l'r1"tl l"'r11t'r'rl' "'l'rl (})I).lsrtl,tlr.tt1,,,,rtt[.rr,.l...rlrrr1i1irtrrttk.r.rirl.tttlst.s.t.tl(.,tlttttt/tttIir/.tlttttl) lr.rlt.ttl,rlltitrgg,tllrtl.rrrgtt.lt.t.t'ttsivt'rtil<.rl(MSl..rl.rtrrlr.trlr/.rlrtttt) [)'lstll' yang tlrpcroklll tl'rri 1x'trgolaltan data 1lt:t113'ltll'll'll'l

,m-t

1'

o6PTl{ hl

t{Till3

FAYTHI0N C0. I'{ANCHESTER,

}tH.

dengan selang satu meter hingga kedalaman maksimum daerah yang akan diperum. Selanjutnya, dari kedalaman maksimum, tali bar check ditarik dengan selang 1 meter hingga kembali pada kedudukan 1 meter. Berdasarkan mekanisme kalibrasi itu, akan didapatkan jejak seperti tangga pada kertas perum (Cambar 4.14). Anak-anak tangga yang

menunjukkan pengukuran kedalaman dengan bar check kemudian


dibandingkan dengan skala bacaan kertas perum, sehingga didapatkan tabel kalibrasi pemeruman. Tabel kalibrasi tersebut dipakai untuk memberi koreksi pada hasil pengukuran kedalaman.

Kalibrasi dengan bar check harus dilakukan langsung sebelum dan setelah pemeruman dilakukan pada satu sesi atau satu hari pemeruman. Sebelum pemeruman dilakukan, dipilih suatu kawasan air yang relatif tenang

dan dalam dengan kapal yang berhenti untuk kalibrasi awal.


Pemilihan lokasi bar check pada air tenang dilakukan agar lempeng logam tidak melayang karena arus, sehingga tetap berada di bawah transduser. Kedalaman tempat kalibrasi juga penting untuk memperoleh kedalaman kalibrasi yang maksimum. Data ukuran kedalaman yang telah dikoreksi dengan kalibrasi menggunaka n bar check dapat dianggap terbebas dari sumber kesalahan karena sifat perambatan gelombang pada medium air laut. Selain kalibrasi dengan bar check, data hasil pengukuran kedalaman harus diberi koreksi-koreksi karena kesalahan akibat:

,lt.
dengan bar check Cambar 4.14 Kalibrasi perum gema

,tr ,ll

d. Pemeriksaan Data Pemeruman


Lajur-lajurUtamapemerumanperludiperiksadenganmcnyt'lr'tlgg.tt..tl<.ttr l,tirt yaitu lajur perum yang, mcmot.rrg s.rnrr,r laf ur silang (.ror, ,orlJing) pada aralt TitrtLrr-[]'tr'tl p'rtl't utama. Laiur-laiur perum yang meman;ang tttttttl< rtt(|ttt0t iks't 4l.r,rrl.rl;rh laiLrr-lafur silang yang digtrn:tkatt

(1) (2)

Sarat transduser, dengan mengukur kedudukan (jarak vertikal) permukaan transduser terhadap bidang permukaan laut.
.Sett/emt.ntdan.squal (yika rlianggalt lrcrarti), deng,an mcmlr.rrrrlirr;ik,rrr kcrlrrrltrk,rn vertikal lr;tnsrltrsr.r tr.rlt,rrl.rp ;lt.rmtrk,ul oir r.t.rl k,rp,rl

cirnrh,rr

rlil;rl<ttkittt r1'tt11'ttr lt.tt'tt ' h,rsil gx,rrgtrkrrr,*r l,ritrr l.ritrr trtama. lika llcngLrktrr;lrt rlttl'rP'rlk'rtr
m,rL,r P.rrl,r

lrlrl trtrl. 1u,t,,,,1i l,ritrr ttt;tnlil <l<'ttg,ltr l,ritrr sil'rrr11 'tl<'rtr h.trtlSrr.trgtll,ttt,rtt!,.rl,rl.rttt.ttty.lllll\.llll.l.lt.liIlIl('Itl('trttlliltllr.t.rtl.'r

tili

.f.4,
r--

lrtW
-D-D--*D--D-- - E----r rD-D>- - i D -

ltllt'rittlsi kt'tt'liti.rrr lx.ngukrrr.ln krrl,rl,rrrr,rrr rl,r,,rt rlrlilr,rl pada Lampiran D. .f ika selisih kecraraman yang dipc,roleh p,rrr,r lx,rrx)rorgir. lajur utama dengan lajur sirang merebihi toreransi, .ukr'p"ng.-rkrrr.rn pacJa lajur utama yang bersangkutan harus diulang.

Itl[ornt'tsi l('rIl,llll-]

;,,:;,;;;

;;;;;;;,,

;;:,

cl<slrt'ttt tcl,tltl llrlt,rrl,t1,1,,'rl,rl,rttt,ttt l)r'l,lll,lll

.;;;,";;;;, ";;;,., scl<tl,lttly,t

C. DETIL SITUASI DAN

GARIS PANTAI

Detil situasi yang dimaksud disini adalah ulrsur-unstrl' y.rrtll lcrrl,rp,rl


rli sepanjang pantai, yang seringkali ikut tergambarl<an patla 1rcl,t-pt'l,r l,rrrl, Untuk keperluan pelayaran, detil situasi dibutuhkan olclt 1rt'l,ttrl rttrltrk melakukan navigasi secara visual. Artinya, detil tersebut dibtrttrhl<,rtt ok'lt pelaut untuk membantunya dalam penentuan posisi kapal. Su(:ar.l rlrlllllll, detil situasi yang terdapat di sepanjang pantai, dapat berupa ulrsrrr-tllr\trr alam (misalnya: pohon kelapa, bakau, karang, tebing dan l.tin-l,titt) ,tl,trt buatan manusia (pelabuhan, mercusuar, menara, bangunan darr l,rirl l,rirr). Seberapa jauh detil yang harus diukur untuk keperluan pembual.rrr pt'l,r l,rrrl sangat tergantung dari tujuan pembuatan peta lautnya. Yang jcl,ts, ',r'trt,rl.rrr besar skala peta yang akan dibuat, akan semakin rapat ck'til silrr,r',r y,rrr11
harus diul<ur.
Gambar

4./5 Lajur_lajur perum utama (Utara_Selatan) dan


lajur-lajur perum silang (Timur_Barat)

a. Garis Pantai
Caris pantai merupakan garis pertemuan antara pantai (rl;tt,rl,rtr) rl,ttt,ttt (lautan). Walaupun secara periodik permukaan air laut sclaltr lrctttlr,tlr, suatu tinggi muka air tertentu yang tetap harus dipilih untuk ntt'rrit'l,rsl.,rtr posisi garis pantai. Pada peta laut biasanya digunakan garis ,tir li1g11r (high water /ine) sebagai garis pantai (Cambar 4.16). Sedangl<.ttr ttttltrl. acuan kedalaman biasanya digunakan garis air rendah (low watt'r lirx').

di antara lalur-laiur perum ttlama

biasa. Pemeriksaan ini disebut deteksi anomali kedalaman yungirr,,, clil;rkrrk,r, l-rila survci ditujLrkan'uni,,t

Pengukuran kedalaman pada rajur perum utama akan menghasirkan potongan atau profil yang kontinu, sementara data kedaraman yang berada di antara dua lajur perum dianggap mengikuti kedaraman yang diperum dengan teknik interpolasi data. pada kenyataannya di rapangan, mungkin saja terjadi suatu kondisi kedaraman yang berbeda jauh deng;'n kedaraman pengukuran pada lajur perum, misalnya tonjolan karang,lirng pun.rng dalam air dan sebagainya. Untuk itu, dirakukanrah teknik- sweeping, yaitu suatu cara merapatkan pengambiran data yang berada di antara dua rajur perum' Sweeping dapat dirakukan secara mekanik, dengan batang baja yang digantungkan pada dua sekoci perum yang mengikuti .iejak rajur perum utama. sweeping dapat pura dirakukan dengan metode akustik, yaitu dengan alat side scan sonar yang bekerja menggunakan gerombang akustik untuk mendapatkan citra dasar perairan. lnterpretasi terhadap citra dilakukan dalam mengidentifikasi anomali kedalaman yang tidak terdeteksi dengan pemeruman l)(,r(,n(,rr(r,r)

Walaupun secara teoritis, garis pantai diambil dari kedudukatt g,rri.' ,rtt tinggi, pada kenyataannya, penentuan Saris pantai di lapang,ttt ,tk,rtt menghadapi berbagai kendala dalam penentuan titik represcrtl,rlil y,rrtg mewakili batas antar daratan dan perairan pada pantai-ll.ttrt,li tk'ttg,rtt karakteristik seperti : pantai lumpur, pantai pasir, patrlai ll,tttt/lr,tltt l<t'tsil./ batu besar, pantai karang/karang terjal, pantai ctLlritm, p,tttl,ri pr'poltott,ttt, pantai rerumputan atau pantai buatan. Penenluan garis llant,ri rli l,rp,rtrli,rtl
dap;rl rlil;rl<ukan dengan ketentuan sebagai beriktrt:

(,r)

tlntul< rl,rr.r',rh lxrntai yang landai (bt:rp;rsir), g,tris p,tnt,ri <lilcttlrtl<,rtl


rlr,rrli,rrr rrrr,lilr,rl jr'j,rl< alatr bckas gr'rt,tttgrur s,r,rl ,tit p,rs,rttg lt'tlttr1i11t.

(lrl

Ilrrtrrl lr,rrrt,rr I'r,rlrrrngrtrr', g,rris p,rnl,ri tliw,rkilrolclt ti,tti" Plllltttll,ttl ,urt,r,r rl,rr,rl.rrr lt,rrr,rlr l<,r'r,rs) rlcrrli,lt l,tttl,ttt. ( i,ttts ;t,tttl,tt tl,rl,rlrl lr,rl
(,l

90

'y'Y ---r

D- -I-Dr-

D-D

--

r,

Dr DDD>

F;.'

EDr D]

(liw.rl(ili ok'lr g,rris.rir lirr1.i1.;i, lrcrup,r jr,j.rl< lx,nnul\,r,rlr ,rrr l,rrrl yang paling tinggi yang dapat tcr;adi parJa dar.rr.rn.

ilr

;;;;;;;;;;;;;;" ;;;;I ;
pantai (Cambar 4.17).
titik referensi
1_l

(c)
(d)

Untuk daerah pantai yang bertebing terjal, garis pantainy.r arlalah bibir tebing tersebut. Untuk daerah rawa dan tumbuhan semak, garis pantainya adalah
batas tumbuhan terluar ke arah laut.

llrtmi y.trrg tirl.rk tr,rgr,rr,rrrg) rl,rrr l,rrrl,rrt (1x'rntttk.t,ttt ltttlttt y,tttli lt'ltl('ll,tllH) Pacla dasarny,r, lx,rrgrrLrrr,rrr rk.til situirsi rlrtn garis Jl.tnt,ti ittg,t rrtct up.tk.ttr kegiatan pencntu,ul posisi titik-titik detil sepanjang toptlgrafi 1r,rni,ti tl,rtt titik-titik yang terletak pada garis pantai. Dengan dc'mikian, mitka tt'kttik CPS dapat diterapkan untuk keperluan pengukuran detil sitt-t1si tl,ltt g,trir

(e) Untuk

pantai buatan, garis pantainya diwakili oleh garis batas terluar suatu bangunan permanen buatan manusia yang terletak di pinggir pantai.

l!r\

garis pantai

a) Cara teresffis

r$i&
Cambar 4.16 Garis pantai dari garis air tinggi
satelit
,*.. 16'-

sebelum kegiatan pengukuran garis pantai dilakukan, sebaiknya terlebih dahulu harus dilakukan survei pendahuluan untuk mengenal karakteristik pantai yang akan ditemui. Hal ini dapat dilakukan dengan cara memeriksa peta-peta lama yang tersedia. Kegiatan ini dapat dianggap sebagai bagian

gafis pantai

dari kegiatan perencanaan sebelum survei lapangan dilaksanakan.


Berdasarkan informasi awal ini, dapat ditentukan metode dan peralatan apa yang akan digunakan untuk penentuan garis pantai.

receiver

u*s-riii

,d,

f
1i

.-

'\\'\\

recewer ..s-tetaP

ilr

liit\

l/ll\\

b.

Pengukuran Detil Situasi dan Garis Pantai

b) Menggunakan CPS

Pengukuran detil situasi dimaksudkan untuk mengumpulkan data detil pada permukaan bumi (unsur alam maupun buatan manusia) yang diperlukan bagi pelaksanaan pemetaan situasi yang bertujuan memberikan gamlraran situasi secara lengkap pada suatu daerah di sepanjang parrrai rlcrrli,rrr sl<,rl,r

Ctmbar 4.17 Pengukuran detilsituasidan garis panlai

tert('ntu rrntuk llorbag,ri kcllcrlu;rn. Sr.rlarrgkan pcngukrrr,rrr ll,ur,, l),u)t,u


92

9t

Y'Y

---i - D--

- ] --

- D-----]*---

- DID

-, D -

harus diukur. Demikian juga, kerumitan bentuk garis pantai akan memperbanyak titik detil yang harus diukur. Ketelitian detil situasi dan garis pantai yang disyaratkan umumnya adalah 1 mm pada skala peta. Sebagai contoh, untuk peta dengan skala I :5000, maka ketelitian yang disyaratkan adalah 1 mm x 5000 = 5 m. Jika dikaitkan dengan ketelitian yang dapar dicapai oleh cPS, maka penentuan posisinya harus dilakukan secara
diferensial dan cukup menggunakan data pseudo range (yangdapat mencapai ketelitian t hingga 5 m). Sedangkan jika menggunakan ntetode Rea/ flme Kinematic (RTK)flsng2n menggunakan data fase, ketelitian yang dapat dicapai

lt'tlgttkttr,ttt l.l,lris l)(lltl,li tl,tp.tl lrula dil,rkuk.rrr ntcnggrrrr,rl.,rrr r ,rr,r 1//spl atau polar (tacimetri). Untuk keperluan ini, diperlukan scdikitrry,r s(fl),rs,utg, titik kontrol (kerangka dasar) sebagai referensi posisi. Keraparan titik detil pantai tergantung dari skala peta yang akan dibuat, serta bentuk geometris garis pantai. semakin besar skala peta, semakin rapattitik ddiil pantai yang

-D D ! - - -D e- - - > - -'i I',1'!"J' n('ll,lt,t n('ll,tl,t ,utlJ,llnl,lny,r ll l( ) lll,rll tttlttcl,t;)l\,lll lll,llll ,r',Ill. l',rtlo|lt,rlt >>=-->s,rtuan, kt'tt'liti,rrr (sl.,rl,r),',rrttlr,rl tl,ttt w,trlt,t (Iirllcl 4.l).
1lt't,t l,tttt, y,tiltt. rl,tlttttt vr,ttr[,r], rl.rlttttt llottsottl,tl,',t',lctll l]l()y('l\',1,',1',1('lll

Tabel 4.3 Aspek kartografi peta laul


ASPEK

Datum vertikal

Datum horisontal

t hingga 5 cm. Tabel 4.2 memperlihatkan syarat pengambilan detil situasi dan garis pantai untuk beberapa orde ketelitian survei.
adalah Tabel4.2 Standar ketelitian detil situasi dan garis pantai

Sistem proyeksi

SURVEI ORDE
SPESIAT

SURVE!

SURVEI

Sistem satuan

ORDE

Alat bantu navigasi tetap dan detil enting basi navieasi Caris oantai alami Posisi alat bantu
navrSasr

2m
10 m 10 m

2m

ORDE 2 dan 3

Ketelitian

5m

20m
10 m

Detil topograii

apung _

20m

Simbol dan warna

D. BEBERAPA KETENTUAN
PETA LAUT

TENTANG KARTOGRAFI

KETENTUAN Lokal dengan chart datum, disebr-ttl<;rrr kedudukan muka surutannya terhaclal> tlttrltrk tengah Titik kontrol horisontal pada elipsoicla referensi WGS '84 dalam sistem gratiktrl (jaring garis proyeksi lintang dan l^ruiur) p,rrl,r interval 1O-20 cm di peta dengan grarlrt,rtttttt frame (skala pembagi gratikul) di tt.pi-tr'pr batas muka petanya Mercator untuk 75'LU-75'LS Polar Stereografis untuk 75o-90"1[.] rl,rrr 750-9001S Metrik, dalam meter atau mil laut 2 1:10.000 untuk bandar, pelabulr:ttr, ,rlrtr pelayaran dan perairan wajib panclu 2 1 :20.000 untuk alur pendekat pel.tItttlt,rtr dan perairan lain yang digunakan ter,tlttr untuk pelayaran > 1 :50.000 untuk daerah pantai sampai kedalaman rata-rata sekurang-kurangny;t l0tlt 1:50.000-1 :100.000 untuk daerah cleng,ttt kedalaman antara E@_ Peta konvensional: mengikuti Peta Laut No. I Peta disital: mengikuti SP-52 IHO tetrt,rtll-i Aspek Kartografi ECDIS dan SP-.57 lH() tqnlang Standar Pertuk !lL-

lHo telah mempublikasikan ketentuan pokok mengenai pemilihan dan penggunaan simbol dan warna yang diterbitkan dengan nama Peta Laut Nomor 1: simbol-simbol dan singkatan peta Laut (Chart Number l: Nautical Chart Simbols and Abbreviations). Publikasi tcrsr.lrut berisi legenda untuk peng,lLrnan siml^rol (termasuk warna) rla, sirrgl<,rr,r, llagi 1lr'l,l-1x'l.t l,tttl y;ttt13 tlitorllilk.tn ll l() ,rl,rtr k,rrrlor-k,rnlor hirlrogr,rlr rr,r,,rorr,rl
94

lika data peta laut disajikan dalam wuiud digital mitl<,t rl,rl,r lorsclrttl |r,rrtrs rf isirrrp,trr rl;rlam format dxf (digital cx< /t.utgt' l'orrtt,rt\ rl,rl,tttt stt,tltt sislr.rrr lr,r,.r,. rl,rl,r rl,rrr llcmberian kode yang rlisl,tnrl,rrrlis,tsi prrl,r rl,tl,rttt 51t r,,' ll l{ ) llr.lrr.r,r1,,r pr.r,rngk,rl lrrrr,rk gr,rfis rrrrlrtk l<r'pr,tltt,rrr k,rtlolgr,rlr rlrgtt,rl rl,r;r,rl trrctt;r,,1,,'t,r',tl',rn l'otrtl,tl rl,ttt sislcttt ll,tsis rl,tl,r ttrt

q
?% -G, r.--EE-F--DrD -DD-D-D I DD - -- -

Ii.ef'erensi

de Jong, C. D., Lachapelle C., Skone, S. & Elema, l. A. (2002).


Hydrography. Delft University Press. Delft, The Netherlands.

lnternational Hydrographic Organization - IHO (1998). Standards for Hydrographic Surveys. Special Publication No. 44, 4th Edition. lHB. Monaco. Medwin, H. (1975). Speed of Sound in Water: A Simple Equation for Rea/istic Parameters. Journal of the Acoustical Society of America (58), 1318-1319.
Kelompok Bidang Keahlian Kelautan (1989). Pendidikan Survei Hidrografi ITB-PERTAMINA. Diktat Kuliah. Jurusan Teknik Ceodesi, lnstitut Teknologi Bandung.

Pongukuran Arus dan Sedlmen

A.

PENGUKURAN ARUS

Lurton, X. (2002). An lntroduction to Underwater Acoustics.


Springer

Praxis Publishing. Chichester, UK.

tl,rrrgk'rl, Arus adalah gerakan badan air. Di pantai dengan perairan dan -sampai tingkat tt'rl0ttltt arus dapat dibangkitkan oleh pasut, gelombang wilayith 1x't'ttt'ttt angin. Pengetahuan mengenai dinamika arus pada suatu ,uigu, p"niing r-rntuk ka.iian mengenai dinamika dan kualitas litrgktttrg'rtr r['ttg'ttt ,ert, ,ekryasa wilayah. Teknik pengukuran arus dapat dilakuk.lrr

dilaktrk'rrr rh'ttg'ttr pendel<atan Lagrangian atau Eulerian. Pendekatan Lagrangian

tt'rlt'ttltt pengamatan gerakan massa air permukaan dalam rentanS wakttt pelampr-r.g S.l'tttt'r impiem"ntasinya biasanya dilakukan dengan sebuah yang tertentu pula, lx'lr8,lnl'rt selang waktu tertentu dan dalam interval waktu clt'miki'ttt ,unJu,u, posisi pelampung tersebut. Studi dinamika arus yan,

SanSatpenting-misalnya-untukmengkajimode|tumpahanminyak.tt.ttt petrclck'tl'ttr pengangkutan materi oleh badan air di permukaan. sementara, pada suatu posisi tertcttttt tli Eulerian dilakukan dengan pengamatan arus pendekatan ini aclalah kcktt'tt'ttt suatu kolom air. Data yang diperoleh dengan Bukr-r irri lr;ttty'r dan arah arus pada suatu tempat sebagai fungsi dari waktu.
al<an mendiskusikan

teknik pengukuran arus dengan pendekatarr Eult'ri,rtt'

a. Sifat Gerakan

Badan Air

ftltlgsi tl,lri Kecepatan arus U pada suatu penampanS A merrrpakatl ((2 ataLr <lt'ltit) tl'ttr ltt'ts volume air yang clialirkan dalam setiap satuan wakttt
pen.rml)ang yang di laluinYa
:

lt

()tA

(5

1)

I )r 1x,r,ilt,ttl

rl,r,.,rr ;,r1r,1r.ur

(l,rrr;il.,rl, lratlittt air y.rng llt'rgt'r,tk'l'llt'r,ts,lk,lll' lt'r'lrt't'trl't'ttt r\l,tl,,rlrty,r l1,ri,rrli [riksi,rl,rrl 1it'rcl<,rtt,llll'll'l lr'r;it'rtt lr'r;it'rtr
al ,

95

,\7,*,

//^/n,,pnr,l, D Dr-blr

-DD-

-r-rt-_

__

__-D_

_DtD_

t_

_D

> _

r.

,lir y,rrrg lrr'rgt'r,ll< rk'ttg.rtr rl,ts,tr pt'r,rir,rrr. I ril<sr irrr rrrprrli,rl.rlr,rll<,r1 perlambiitan yang, sistematik pada kekuatan arLrs cJi suatr-r kol<1nr ,rir, st,lrirrgga distribusi kekuatan arus u di perairan dangkal pada satu vertikal clengan kedalaman total h akan membentuk profil logaritmik (Cambar 5.1a). Jika data lapisan-lapisan kedalaman d dikonversi ke ekspresi logaritmik normal, maka sebaran data kekuatan arus pada kolom air yang dekat dengan dasar akan cenderung membentuk sebuah garis lurus (Cambar 5.jb).
lllilss'{l

lx'nrittl\ttt,ltl,tllt\ p,ttl,t',tl.tltt;tolottli,ttt lr,ttr,rl lt.rsrtl ill(.nlllliltr,ll,,rrr lr.l.rrrl. ,rl.ttsltk tlcttg,ttt tt'srtlttst vt'tltl.,rl O 'r lll (l,lll rcsoltrsi lt<lrisorrl,rl ,,r,[rl,rr (r nr s,l.rl rttcttjt'l,trtg sttrttl. l)r'rl,ttttlr,rl,rtt stslcttt,tltlr tt.rlihat clerng,rn lrr,rl x'<l,r,rrr li.r'krr,rt,rn itrus di rlt'kitt l.rul rl,ts,tr <l,ur rli rk'l.,rl
( i,rtttlr,rt

', .'ntr,ltl,r,rlrlr,rll..rtr

lr,r',tl

1rt'rmul<aan air.

m/s

0.5'

u (m/ s\

'1

1.5

0.5

a (m/s) '1

1.5

1.5

I
1

5+
6

;.

gO
-1.

0.1

lnr
7X{1
1

.)

n00

.,I

(a) Profil pengukuran kecepatan arus u

Cambar 5.2 Hasil pengukuran arus pada suatu penampang kanal pastrl

pada kedalaman-kedalaman d

(b) Visualisasi profil pengukuran

(Poerbandono & Mayerle, 2005)

kecepatan arus secara semi-

logaritmik cambar 5. / Profil vertikal kecepatan arus di perairan dangkal dengan kedataman h

pada aliran badan air di sungai atau kanar buatan. Dinding-dinding kanal memperlambat aliran arus secara sistematik sehingga kecepatan arus tertinggi terletak di tengah-tengah kanal. Di perairan dangkal, morfologi dasar perairan

Perlambatan sistematik pada ariran arus di perairan dangkal juga berlaku

mempengaruhi distribusi vertikal profil kecepatan arus. Morfologi dasar perairan yang dimaksud adalah kerut yang terjadi akibat usikan gelombang dan arus di perairan dangkal yang disebut sebagai beclform atau bed feature. Dimensi morfologi dasar perairan biasanya dinyatakan dalam tinggi dan panjang. Tinggi morfologi dasar perairan mempunyai sifat memperlambat gerakan badan air. Akibatnya, distribusi vertikal kekuatan arus clengan kecepatan dan pada kedalaman yang sama akan mempunyai l-rentLrk yang herbeda pada claerah yang m.miriki ketinggian morf.rog,i rl,rs,rr p.r,rrr,rrr y;lng lrerberh.
98

Morfologi dasar perairan cenderung terbentuk di wilayah pant,ri y,rrrg berpasir. Pada kondisi pantai berpasir yang memperoleh pengaruh ;rrus tl,ttt gelombang yang cukup kuat, butiran-butiran pasir relatif lebih mutl,rlr dipindahkan untuk membentuk kerut-kerut di dasar perairan. Semcnt.tr.t, karena memiliki sifat kohesif, butiran-butiran lumpur cenderung saling t,rrik menarik dan terpadatkan sehingga lebih sulit dipindahkan oleh arus rl,ttt gelombang. Akibatnya, di wilayah pantai yang mengandung lttmltttr, morfologi dasar perairan cenderung tidak terbentuk. Efek perlambal,tn p,ul,r gerak badan air relatif lebih lemah pada lingkungan ini. Kondisi yarrg lt'lrilr kompleks terjadi pada sistem estuari tempat bercampurnya air law,tt'<l.rtt ,tir asin serta terakumulasinya sedimen yang dibawa oleh sttng,ti tlari lrulrr. Pacla lirrgktrngan ini, kadang-kadang terjadi, alat perum gcm.l ti(l.rk rll,rrlll)u mt'rrrlt,lr.k.,i l<r'rl,rl,rm,rrr karena adanya lumpur cair (fiuirl rttur/) y,tttg lrcrly'r,rL rlt'rrg,,rrr l\r,( r'l),rl,ur .,,rrr1g,rl renclah di atas rlas;rr 1lt'r,rir-,ln y,lnl.l kct,rs. l',trl,r l,rpi,,,rn lrrtrr;,rrr rtrt, l.r.r r'p,rl,rrr ,lnrs s(!( <lnr r.fcktif tirl,rk lx'r,rrti.

qr)

.\n,*, E--

1,,/,ro.t,(,

! L L. - -E -rE

E-E

b. Prosedur Pengukuran

--

rDtrrr,-E

E---._.-

- _-

_ _ t r _

Arus

t-tll----->}GF-==-*

--EE-]-

l', ',,1',1.,,,,,,, ,\,,,, ,1,,,, .',.1,,,,, Dlr D F


-D -'

',

pengukuran arus adalah sekurang-kurangnya 25 jam. sementara, untuk daerah dengan sifat pasut yang semi-diurnal, maka durasi pengukuran arus adalah sekurang-kurangnya 13 jam. Cakupan waktu tersebut sangat diperlukan untuk memperoleh gambaran yang menyeluruh tentang arah dan kecepatan arus pasut pada satu perioda pasut.

Pada lingkungan laut yang didominasi oreh pasr-rt, m,rr<,r <rrr;rsi pengukuran arus pasut setidak-tidaknya adalah sepanjang perioda pasut. Untuk daerah dengan sifat pasut yang diurnal atau campuran, maka durasi

potongan lokasi pengukuran arus

t
v
.

/.
^

t.

\"''

saat pengukuran arus pasut, sebaiknya diatur sedemikian rupa sehingga mewakili kondisi pada saat bulan purnama dan bulan perbani. Untuk itu, pengukuran perlu dijadwarkan serama dua kali dengan selang waktu sekitar 7 hari. Buku pasut yang diterbitkan Dishidros TNI-AL untuk pengukuran pada pantai yang mempunyai sifat pasut diurnal. Pada pantai yang mempunyai sifat pasut semi-diurnal dan campuran sebaiknya pengukuran dilakukan sekurang-kurangnya dengan interval
3O',.

"i

arah arus

akan sangat membantu dalam mengambil keputusan untuk merencanakan saat pengukuran arus. lnterval pengukuran dapat dilakukan setiap 1 jam

pantai
Pemilihan lokasi pengukuran ditentukan berdasarkan pertimbangan

kemampuan alat, kondisi rapangan, dan permintaan keteritian (cambar 5.3). Jika yang digunakan adalah alat ukur mekanik, maka sebaiknya pengukuran dilaktrkan di ketinggian sekitar 4o%o dari dasar perairan. Tempat yang diukur harus mewakili kondisi batimetri perairan setempat. Jika pengukuran dilakukan di suatu sungai atau kanal pasut, maka alat ukur ditempatkan setidak-tidaknya di tengah-tengah sungai dan jika mungkin ditambahkan 2 lokasi antara sumbu dan tepi-tepi sungai. Pada suatu sistem sungai atau kanal pasut (yang bercabangcabang), pengukuran arus dilakukan pada setiap percabangan. Untuk muara sungai, pengukuran perlu dilakukan pada 2 potongan. potongan
tersebut hendaknya tegak lurus terhadap kecenderungan arah arus. Untuk pantai, pengukuran arus dilakukan pada beberapa potongan tegak lurus garis pantai. walaupun demikian, keputusan pemirihan lokasi pengukuran

cambar5.3 Beberapa saran penentuan Iokasi stasiun pengukuran arus

akan bervariasi menurut tujuan survei.

Pengukuran arus dengan cara mekanik Current meter adalah alat pengukur arus yang sanSat populer. Pada (Cambar 5'4)' saat awal dikembangkannya, alat ini bekerja secara mekanik Badan air yang bergerak memutar baling-baling yang dihubungkan deng,att (counter)dan sebuah roda gigi. Pada roda gigi tersebutterdapat penghitung pencatat waktu (time-keeper) yang merekam jumlah putaran untuk setialr satuan waktu. Melalui suatu proses kalibrasi, jumlah putaran per satu,llr waktu yang dicatat dari alat ini dikonversi ke kecepatan arus dalam mctcr per sekon (mA). Alat ukur ini mempunyai ketelitian pengukuran yang relatif perubahan sangat baik. Beberapa desain current meter mampu mengukur kecepatan gerak badan air sampai dengan 1 mm/s. Kini, telah berkembapg current meter yang bekerja secara elektronik dan mempunyai kemampuan
perekaman data yang sangat besar.
I lirrgga clewasa

ini, currentmetersan,lat umumdipakai untuk mcnguktrr

rlari ,rr,rlr rl,rrr l<r,r.r.p;rtarr;rrrrs 1l,rrl,r su,rlrt lok;tsi rlt'lrg,ttt kr'trnggi,rn lertcntu

rm

'f

rlilcrint,r,rl<,rrr rrtctrll,rl,rtrrr,'1,,f I lrrgrgrlr.r ,rl,rrr lrlrulr,rlr ltlkttlttsttty,t. l'r'tttlr,tlr,rrr lrt'l<ut'nsi itti st,lr,rtrrlrrrll rlr,tt)-1,1n llr,tlrr,rl,r,rrr lior t'1l,tl,ttt ,rttl,tt.,r ,ll,ll ul\1il ,ilil', ,rl<rrstil< tkrnl3.trr l,rprs,rrr ,rru,, y,urli rlrrrIrrr. Alat ul<trr ,trLts .tl<ttslik tttcttttltIt hclterapa kelebilr.rrr rlilr,rnrlrrrgk,rrr r rrrrt'rrl lneter konvensional. (-urtcttl tttclr't rnempunyai sifat merrgganBgu badan air yang diukur (intru-sive), s('nr('nl,u,r

alat ukur arus akustik cukup dioperasikan dari permukaan air deng,rtt posi'r menghadap ke dasar perairan. Resolusi spasial dan temporal alat rrl<ur,rnrt akustik juga lauh lebih baik dibanding current meter.

a) USGS Price Type AA

b) Neyrpic Dumas

Cambar 5.4 Beberapa tipe awal current rneter mekanik

dasar perairan. Kedalaman pengukuran yang dipilih biasanya sekitar 60% dari permukaan air (arau 4oo/" kedalaman dari dasar perairan). pada kedalaman

tersebut kecepatan yang terukur biasanya sama dengan kecepatan arus rata-ratanya. Jika pada suatu kolom air diperlukan lebih dari satu data pengukuran arus, maka akan diperlukan dua atau lebih current meter yang digantung pada kedalaman pengukuran yang berbeda. Keputusan mengenai jumlah alat yang dipakai pada suatu kolom pengukuran akan sangat tergantung pada kebutuhan dan penggunaan data pengukuran tersebut, ketersediaan sumberdaya (alat dan biaya) dan kondisi lapangan (utamanya sifat gerakan
badan air).

(a) Acoustic

Doppler

Prof iler

(ADP)

(b) Acoustic Doppler Current Prolih'r

produksi SonTek

lnc.

(ADCP) produksi RD lnstrumerrls (Foto: Catot H. Pramono)

Cambar 5.-5 Beberapa jenis produk alat ukur arus akustik

Pengukuran arus dengan cara akustik


Teknik pengukuran arus yang saat ini merupakan state-of-the-art dilakukan

c. Prinsip

Pengukuran Arus dengan Cara Akustik

dengan memanfaatkan gelombang akustik. Beberapa diantaranya adalah Acoustic Doppler Profiler. (ADp) dan Acousric Doppler Current profiler (ADCP) (cambar 5.5). Pada alat ini, gelombang akustik dipancarkan melalui transduser dan merambat di bepanjang kolom air. pada suatu lapisan air yang diukur kecepatan arusnya, gelombang dipantulkan kembali menuju transduser oleh partikel sedimen dan prankton (yang bergerak dengan
kecepatan sama dengan kecepatan gerak air). Karena adanya gcrak relatif pemantulgelombang tcrhadap alat ukur arus akustik, mak.r gr.lrrrrlr,rrrg y,rrrg

Efek Doppler adalah fenomena kesetaraan perubahan frekuensi stt,tlrr bunyi (yang diterima oleh pengamat) dengan perubahan kecepatan stttttlrt't bunyi. Peristiwa ini biasanya dijelaskan dengan peluit kereta api yang terrlt'tt1i,tt meninggi saat mendekati pengamat dan merendah saat kereta api merri,rulrr pen8amat. Di dalam air terdapat material-material padat yang tersusl)('n',r (mis,rlny,r: st'rlimcn, plankton dan lainnya) dan bergerak dcngan itr,tlr rl,rn kt.r r'p,rl,rn y,rrrll \,rn,l rlengan arus. lika gelombang akustil< rlt.ngirn l.rckttctr',t <l,rrr rrrlr,rr'.rl,r', lr'rlr'rrlrr rlill,rngkilk,rrr rl,rrr rlitorrtlr,rkl<,rtr l<r'su,rltt l<olottt,rtt,

10?

,\".u,
--

lD

/1,/.,,,t.a(,
b.!rr--f r--.--r rDrD-ED_D__i___ D_ -_ _

{
ltlkttt'ttst /, rl,ttt l,rpt',,rtr tr,rrh'l',rl ri'n,.l,ln lr,ttls(lttscr). Al,tt 1lt'ttr,tl,tl w,tl.ltl ,rir y,rrrg llcrl,rrrr,r mt'ltitn(l.ri s,till lx't)('t rttl,r,rtt lr'tsll rttl (tlt'ttgiln l= l,). Dari pengct.rltu,rrr nt('ng('t1,li rr-.pat rambat gcl<lmbang,rkr"rslil< v, rl,tl,rttt m/s dan selang wal<tu At, = t, - t,, dalam s, maka iirrak rl;rri lr,tttstlttrt't l<e lapisan air yang pertama diukur (r,) dalam meter akan rlil<t't,rlrtri tl,rtt
rttrrl,rr rttt'rrt'rittt,r p,rrrlrrl,rrr 1i,,l,,lrl',rnli,rl\rl',ltl(tlr'ttg,ttt
(y,rrr11

mdk.l nliltcri.tl-nt.tlt'ri,rl l)(l(l(ll t('rsusl)('nsi l),r(la lapisarr,ur y,urli (lr1l\1r ,ll(,11 memantuIkan Selombang yang ditembakkan tersebut kembaIi l<t' ;1'prlr,rpg,kit. Karena material pemantul bergerak relatif terhadap sumber gelombang, mal<a frekuensi gelombang pantul akan mengalami efek Doppler. Jika perbedaan frekuensi gelombang pantul relatif terhadap gelombang pancar diketahui, maka l<ecepatan relatif antara pembangkit gelombang dengan lapisan air yang diukur akan dapat dihitung.

hubungan: rr = v,

Kekuatan Arus

atr

(5

"2)

Melalui transduser, alat ukur arus akustik menembakkan gelombang


akustik (ping) dengan panjang gelombang sekitar 10 ps dan 'mendengarkan, pantulannya. Alat ukur arus akustik kemudian mengukur frekuensi gelombang

pantulnya dan menghitung kecepatan relatif arus pada lapisan air yang diukur terhadap alat ukur arus akustik (Simpson, 2001). penggerbangan waktu dilakukan untuk memperoleh profil kecepatan arus di sepanjang kolom air (cambar 5.6). Ketika transduser bergetar dan mulai mengirim gelombang akustik ke kolom air dengan frekuensi tertentu (fo) selama selang waktu ato, alat pencatat waktu mulai bekerja dan menandai saat pengiriman tersebut (dengan t = L). sebelum menerima pantulan gelombang dari badan air, transduser terdiam sejenak. setelah waktu terdiam tersebut, transduser

Kemudian dengan memanfaatkan efek Doppler, perbedaan frekucnsi A/, dipakai untuk menghitung perbedaan kecepatan arah arus relatif Av, p.rrl,r lapisan air yang diukur. Penggerbangan waktu ini dilakukan samp,ti rlr'tt1;,rtt lapisan air yang terbawah (terdekat dengan dasar perairan utrtttl<,tl,rl y,rrrli menghadap ke bawah) atau teratas (terdekat dengan permuka,ttt ,tir rrtrlrrL alat yang menghadap ke atas). Dalam terminologi ADCP, lapis,ttt l,t1rr','rtr air yang diukur pada sepanjang kolom pengukuran discllut st'lr,r11,rt /rttr,

sedangkan kolom pengukuran itu sendiri disebut scllitg,ti lttr,'ttt/r/,' (Cordon, 1996).Ketebalanbindiaturolehselangwaktudalamlx'tt111y'tl,,rttp,,rtt waktu. Semakin panjang rentang waktunya, maka bin pun .tk,trr ',r'ttt,tl*ttt tebal dan sebaliknya. Satu ensemb/e dapat merupakan rk,lrllrlll \,lltl l,rrrl: atau rata-rata dari beberapa ping. Pada selang-selang wakttr Al,, lcrkrrrrrl,rrl satu atau lebih ping yang dirata-ratakan untuk mendapatkarr gt'lottrlr,rtrg representatif yang mewakili bin (Ad,) yang diukur. Bln pert,rm,t (rlctrg,rtr ketebalan Ad,) berjarak r, dari transduser dan merupakan rata-r,rt;t lt'tlrolxrl (dengan bobot terbesar diberikan pada gelombang pantul dari r/ = t,) tl,ttt gelombang pantul selama At,.

Arah Cerak

d
jarak

dari

)O-*)$' 6 *6'

transduser

Alat ukur arus akustik menentukan arah gerakan badan itir Jr;trl,t litltts,ttt yang diukur dengan memanfaatkan konfigurasi multi tr;rnsrlttst'r. Scll,rg,rt ilustrasi, ADCP mempunyai empat transduser yang mengharl;tp kt' ('rlll),rl arah yang berbeda dengan kemiringan masing-masing terh,rriap sttttllrtt lr'1i,tk selrsar 20". Kedua pasang transduser ADCP tersehut memllctrlttl< sisllttt

Cambar 5.6 Penggerbangan waktu (At) untuk mendapatkan data kekuatan arus di suatu kolom air pada lapisan-lapisan (A4) yang diukur (Poerbandono, 2005a)

krxlrrlirr,rl k,rrlcsi,ttr yitng disebut sebagai sumbu Ut.lIa tltlttrl< rllt,r p,r',,rtr;i tr,rrrsrlrr.,r,r y,rrrli r,rlrnli lrcrtolak hclakirng rlan stttrtlrtt Tinttrr ttttlttli rltt,t l),1\,tltli ('unll)u IJl,rr.t rnt'rrrlr.lcl<si gcr',rl<,ttt ll,rtl,ttt ,tit It,rrr,,rlrr,,r.r l,rrrrrry,r ;l,rrl,r ,rr,rlr srrrnlrrr mr'trrk'lcl.st Iitttttt vr.rlrl.rlt.,,r,rl.rn1ik,rrr IJl,rr,t {rl.rrt licr,rk,rtr lt,ttl,ttt,ttt

104

,\',,,ur, /1,/.r,t n,il,


r D-lrl>r-lD--llD_]D_,_B_ _irBDD --> D _ _ ]

l),1(l,l,lr,lllJitttLrr(rl,rnvt'rtik,rl)rl,rrrr-rr,tsirrg-nl,tsirUlrlisr,lrrrl,_(,1),rll,rl.r,rr,1r,rl,rrr Utara dan kecepatan Timur, sching,ga r<ec.c1;ata, arus (r/) rrirrittrrrg rr.rrli,rrr:

--

u=
dengan

*ur'

,1

(s.J)

= kecepatan arus representatif pada sumbu Timur dalam m/s. Arah geral< arus (a) pada kuadran r, il, Iil dan rV ciapat dihitung sebagai fungsi dari u, dan u,.

dan

il,

r,

= kecepatan arus representatif pada sumbu Utara daram m/s

nl,l\llli nt,r,,ntllrl,rl,ru,rl,ur lr,, y,rttg tttt'tttlrctt ittlotttt,tst kt'r r'p,tl,ttt pacla arLrs strrllrtr Irrlrrr (rr,). I)t'ng.tt.r (.ar(l y,lnll s('t.ttl),t 1rrtl,r, rlirl,rp,tll.,rtr data proyeksi clcl< Dollplcr pada bidangvertikal (trrrtl,ttt ttu") y,tttg tltt'tltlrct informasi kekuatan gerak badan air pada arah vcrtik,rlrTu/. l),rl,tnt lctntittolo1gr ADCP, kelebihan data pengukuran pada arah vertil<al rlisclrrrt sclr,rg,ti t'ttot velocity. lnformasi ini berguna untuk menguji konsislct.tsi itsttt.ttsi lr,rlrw,r arus pada suatu bidang horisontal bergerak dcngan kekLralan rl,trr irr,rlr y,rrrli
rli<l.r1t.rtl<,rn
t

l;,;-;..;, ;;;:;;,;; ;;;-,,;;;,"';,;,; ;:-,

kekuatan gerak badan air pada arah vertikal fiuu.

cambar 5.2 memperrihatkan pasangan transduser Utara-seratan yang masing-masing mendeteksi efek Dopprer pada arah bidikan gerombang yant saling bertolak belakang. proyeksi efek Doppler dari transduser Utara pada sumbu horisontal (ur) dan proyeksi efek Dopprer dari transduser seratan pada sumbu horisontal (ur) memberi informasi kekuatan gerak badan air pada bidang horisontal di lapisan yang diukur sebagai komplnen kecepatan arus pada sumbu lJtara (uu). Data proyeksi efek Dopprer dari transduser Utara dan selatan pada bidang vertikar (uru dan uus) memberi informasi

sama. Kecepatan arus absolut (relatif terhadap dasar perairan) clitentuk,tn rlt'ttg,ttt cara yang serupa dengan pengukuran kecepatan arus pada kolont,rir. Al,rt

ukur akustik memanfaatkan efek Doppler untuk menerima frtlkttcttst y,ttr;i dipantulkan oleh dasar perairan. Perubahan frekuensi akihat pt'ttt,rttlrtl,ttt
daridasar perairan memberi korel<siatas kecepatan relatif yangrlitrl<trr k'tlt,rrl,rp alat. Penginderaan dasar perairan dilakul<an dengan memcril<s,r tttlltt',tl,t', gelombang yang diterima. Karena massa jenis dasar perair,ln tcl,rlrl h'lrtlr

tinggi dibanding massa jenis air laut, maka intensitas yarrg rlitlr rrrr,r l,rrrr lebih l<uat dibanding intensitas yang diterima dari l<olottt ,ttt l),rl,rrrr terminologi ADCP, teknik ini disebut sebagai l>rtllttrrr lr,tt ktrr1l (Cordon, 1996).

d.

Pengolahan dan Penyaiian Data Pengukuran Arus

,,2
j\

.,t

-'

v"

tl

cambar 5.7 Konfigurasi murti transduser pada arat ukur arus akustik

untuk mengindera gerak badan air secara tiga dimensi pada suatu lapisan air yang diukur (poerbandono, 2005a)

Arus memiliki energi atau kapasitas angkut (carrying cap,lt lty) y,rrrli sebanding dengan kecepatannya. Kapasitas angkut tersebut mcrttp,tk,ttt representasi dari tekanan (stress)yang terjadi akibat gesekan (frictictn),tttl,tt,t lapisan badan air yang bergerak dan dengan dasar perairan. Tcl<ittt.ttr y,rrrll bel<erja di dasar perairan disebut sebagai tekanan geser dasar (Irt'r/ sltr',tt stress)dan dinotasikan sebagairn. Pada sisi lain, sedimen rli rlas,rr pcr,tir',ttt memiliki resistensi atau sifat enggan bergerak yang sccara Llmtlm st'll,ttttltttli dengan ukurannya sehingga laju pengangkutan serlimt'n mcrttp,tk,ttr kesetimbangan antara kapasitas angkut dengan ukttr;tn scrlirrtt'rr. ( )lclr karonanya, hasil kajian mengenai dinamika badan itir ntr:rttp,rl<,rtt ittlirtttt,t',r y.rrril 1rt'ttling trntuk kaj ian-kaj ian lan jutan, s('lx)rl i: ,tttgkttl,ttt sctlitltctr, llcnyr,l r,rr,ur rrttltit'tr rl;rrr ol<si13cn, ;lnalisis lx'tt( ('tl),lr,ltt rl,rrt s,'l ),tli,tttry,r

106

,\^",r, h,/,tj.,(,

H
D _ D,

-t

-Db&rr---_D__t_DDD-______DD__-__

Penghitungan l)chit Air

Jika pengukuran arus sepaniang korom vertrkar tcrs.rri.r, ,r,rl<,r nirai representatif pengukuran arus(17)dari pengukuran di beberapa ketinggian di atas dasar perairan dihitung dengan nilai rata-rata terbobot menurut
kedalaman:

;;1,;;, ;- -::;-:- ;;,,;-;;;,.;;;,;;;;;-';;


rl,ttt r/ = j.rr,rk vr,rtrk,tl l'.,,1,,,,,,,,, y,rrrlirlrw,rkili pCtrgttkttt,ttt tt,. ltl.,r l\r'( (,1),rl,rrl ;lrus rcpres('nl,rlil t('l,rll rlrlrrlrrrrg, rrr,rl<,r rlcllit air ((l,rrrrlr,rr li.tllr) rl,rp,rl rlrlrrlrrnli
dengan:

=!*A

* u,*,)(2,*, - Z,)

o=i)@, .o,.,);fu, * h,.,b,,,.,


(s.4) dengan

(5. t,1

sekitar 40"h dari dasar perairan (Cambar 5.Ba). Karenanya, jika hanya tersedia sebuah current meter maka pengukuran arus direkomendasikan
representatif

dengan h = kedalaman perairan, z tinggi pengukuran = (dari dasar perairan), a = jumlah pengukuran pada suatu vertikal dan u(z) = kekuatan arus u di ketinggian z. Pada umumnya, kecepatan arus representatif atau yang secara praktis sering disebut sebagai kecepatan arus rata-rata berada pada ketinggian

= jumlah stasiun pengukuran dan

b = jarak lateral anlilr

sl,rsrtrrr

pengukuran.

Deskripsi Dinamika Badan Air Cambar 5.9 memperlihatkan hasil pengukuran arus pada srr.rlrr \l,r',rrl tetap selama satu siklus pasut. Pada gambar tersebut hasil pcngrrl<rrt,rrr ,rrrr', (kekuatan dan arah) dengan interval sekitar 1 jam disalikan scr,tt,r p,rl,l (Cambar 5.9a) dan dengan vektor menurut waktu (Camlr,tr 'r ')lr) l),rrt gambar tersebut dapat dipelajari pola arus saat air pasang clan ,tir \urrl y,url{ menunjukkan bahwa komponen arus ke arah Utara relatif lr.lrilr rirnlrrr.rrr dibanding komponen arus ke arah Selatan. Jika arah dan kt'ku,rt,ln,uu., pasut diasumsikan bi-directionaldengan kekuatan yang sama, m,rk,r rcsrrlrr dari arus pasang dan arus surut dapat dipakai untuk mendugit.rr,rlr rl,rrr kekuatan arus tetap yang bukan dibangkitkan oleh pasut.

untuk dilakukan pada kedaraman 6o"h dari permukaan air. Arah arus

ditentukan dengan (poerbandono, 2005b):

=lw,a,

(s.s)

i
I

Cambar 5.10 memperlihatkan hasil pengukuran arus sesart

,).r(l,r

ii
ir
Ir

beberapa stasiun pengukuran saat menjelang surut. Hasil pengukuran rlis;rjik,rrr

dengan vektor arus yang menunjukkan secara umum kekuatan rlarr ,rr,rlr arus di lokasi yang disurvei.

B.
a. Estirnasi kecepatan dan arah arus
representatif

PENGUKURAN DAN ANALISIS SEDTMEN

b. Penghitungan debit air

I
j

Gambar 5'B Visuariasasi estimasi kecepatan dan arah arus representa dan peng,hitungan debit air

Sedimen adalah bahan utama pembentuk morfologi (topogr,rfi <l,rrr batimetri) pesisir. Sedimen berasal dari fragmentasi (pemet'ahan) h,tltr,rrt. Pemecahan tersebut terjadi karena pelapukan (weatherinB) yang tl,tp,rl berl:rngsung secara fisik, kimiawi atau biologis. Berubahnya morfologi 1x'sisir tr.rj,rrli sclr;rgiri akibat berpindahnya sedimen yang Ircrl.rngsur]ll nrr,l,rlrri lrtr,k,ttrirtttc ctori, perrgangkutan (transport) dan 1x'rrl3orrrl,tpirn (r/ryrosrlirrlr). St'tltttt,'tr y,tttl-i (ltpttrrl,11,;,,,,' adalah scclimcn y.tng tt'rlt'titk lt,rrl,r llprntttk,t,ttt (Lr\rt pr'r,ut.rtr z\p,r'rr y,rrrg lrr.rpr.ritn rl,tl,tnt llr,rpirrrl,tlr,rn sr.rlrrrlr,n rrrr ,rrl,rl,rlr

108

.\ur*, //r,/.oora/, - = t -'L &. - - rr

I.-r

rG-

t--E

--E--

--

E-

r r f, r E E - -

l',,,.1,,1.,,,.,,' .\,,,,1,,,,',,,1,,,,.,,
-B-->DDDD]=->D-D-DD--5-DDl-DD->D-

> 0.5m/s

a) Secara polar
0.5

mhd

Cambar.5. l0 Vektor kecepatan arus dari pengukuran sesaat pada beberapa stasiun pengukuran ketika menielang surut (dimodifikasi dari Ali, 2004)

IiII1/
(c lolal

t li!/r,
1-

L-'__l_t l-.

/ /t,

L-\ t -r 1---r-7- z-/ r t ,/ ,:

arus. Sebagian besar kandungan sedimen di bumi adalah kuarsa dengan massa jenis rata-rata p, - 265Okg/mj. Angka tersebut lazim dipakai untuk berbagai aplikasi kajian sedimentasi. Walaupun clemikian, pada lokasi-lokasi tertentu, misalnya pantai berterumbu karang atau pantai yang bahan sedimennya didominasi oleh produksi erupsi vulkanik atau bahan organik, massa jenis sedimen rata-ratanya harus ditentukan berdasarkan hasil survei (pengambilan contoh sedimen) setempat.

a. Karakter Sedimen
b) Dengan vektor menurut waktu
Cambar 5.9 Visualisasi pengukuran arus pada stasiun tetap selama satu siklus pasut (Ali, 2OO4)

Sedimen dicirr atau dikarakterisasi menurut sifat-sifat alami yang climilikinya, yaitu misalnya: ukuran butir (grain size), densitas, kecepirl,rrr jatuh, komposisi, porositas, bentuk dan sebagainya. Dalam studi angkul,rrr sedimen, ukuran butir merupakan karakter sedimen yang sangat penting karena dipakai untuk merepresentasikan resistensinya terhadap agcrr t)engangkut. Ukuran butir sedimen diwakili oleh diameternya yanB biasarry.r rlisimlrolk,ur sr'lr;rg;ri d. Satuan yang lazim digunakan untuk ukuran butir scrlinrr.rr ,ul,rl,rlr rrrilinrr:ter (mm) dan mikrometer (pm). Berdasarkan ukurarr lrrrlirrry,r, rr,rlurrr.n rhl<l,rsifikasikan menurut: lumpur (mud), pasir (.sand) clarr l<r,rikrl gy,n,t,h h l,r,,rlrL,r.,i tr.rsehut mcngikuti kriteria Wentworth (Wttntwrlrllr,

ttn

,\1.n, //,/roo,aL
r ri -

t
--.=--D!D-DD-D >> D D E

(-L--F-f

'

DD

- -D

DDD

F>>>>D

>

DD

-';:'::':'l':l';:'':,'-'l'r'l'
l./ tttltttlx'rlrlr,rll.,rrr lrrtlrrrtrll,rtr

1922). Cambar 5.1'l memperlihatkan klasifikasi se(lun('n nr('rrunrl ul\ur,ur butirnya berdasarkan skala Wentworth. Cara lain untuk mcny,r(.rl(,ur l<l,rsr[il<asi sedimen berdasarkan ukuran butirnya adalah menggunakan Q @lti): Q=
sehing8a,

-log, d

(s.7)

',rttll),tt 'r. (,l,,ll,ut profi k<lttst:trlr.tsi st'tlitrtt'tt rlcttll,rrr lok,rst ,rrrrr d,ur l kt'< ,ln(,tr,t pcrrgambilan <;olrl<lh srrlimcrr <li dasar perair;tt't tlan yartg lt'r,tttgktrl scl r,rg,tt suspensi pada suatu kolom air.

rur.rrgikrrli l\(.( (,1,,r(,ln rl,ur,rr.rlr,rrur. (

d=2-o
dengan d dalam mm.
sand

(s. B)

pengambitan , ;;,i;h;; muka air...,i-- ".-i -*- -,... l-/ i


volume

Prolil

kecepatan

-"--,r\._-,_ ""' 'lr--- - --r i --.*,r


i..,a

rrg!_u ,-

-r'

i i i'

'*t
Profil konsentrasi

hrsuspensi

;r,- Tdimen

mud
$

r
a)
U)

I \I
l

"'rr-,:

bo otr
>{I

.Julv

Rhb xo0)

^o SoP

ob i:o

o,,a
I I I

i.....*,,,,**;-]'*./-t]
nioang

L--.

penga;!il---i.-..

|*1:/\'
\l \..*._-,-

-"
\
r-._...

""

-*..

0,0005 0.0002 0,0625


(0,5rrm) (0,2rrm) (62.5pm)

0.125

0.25 0,5 I

256mm

(125pm)

Cantbar 5.1 / Skala Wentworth untuk klasifikasi sedimen menurut ukuran butir

Cambar 5. l2 Visualisasi hubungan antara profil kecepatan arus dan konsenlr.rsi sedimen dengan pengambilan contoh sedimen di dasar perairatr dan yang terangkut sebagai suspensi pada suatu kolom air

b. Pengambilan Contoh

Sedimen

Kajian terhadap contoh sedimen sangat berguna untuk penentuan sifat fisik sedimen serta komposisi kandungannya. lnterpretasi terhadap informasi tentang sifat fisik dan komposisi kandungan sedimen sangat penting untuk dikembangkan menjadi kajian lanjutan untuk, antara lain, analisis dinamika batimetri, ketahanan tanah, potensi penambangan atau pencemaran. Sedimen yang berukuran besar (misalnya: pasir kasar dan kerikil) cenderung resisten terhadap gerakan arus. Jika kekuatan arus cukup besar, sedimen tersebut cenderung terangkut dengan kontak yang kontinu (menggelinding, meluncur atau melompat-lompat) dengan dasar perairan. Sedimen yanB lrcrtrkttran lebih kecil (misalnya: lumpur dengan konsentrasi rendah al;ttt p,r',it lr,rltrs) cr.ndt'rurrg tcr;rngktrt sobagai srrs;lt'r'rsi rk'ngan kt'r'r.p.rl,rtt tl,rtr ,rr,rlr y,rrrli

di dasar perairan dikaji dengan mengambil contoh (.s,rrrrp/r') menggunakan grab sampler (Cambar 5.13). Berat contoh sedimcn y,tttg diambil bervariasi menurut ukuran grab sampler yang digunakarr, l',rrl,r
Sedimen

umumnya, berat contoh sedimen 1 kg sudah cukup untuk dipakai st'lr,tg,ri bahan untuk menganalisis beberapa karakter sedimen dari suit{tt tl,ts,tt perairan. Contoh sedimen yang diambil mewakili karakter sedimctt y,rtrg terletak di lapisan teratas dari suatu dasar perairan.
Selain sedimen yang berada di dasar perairan, terrlall:rt
ittl-3,t sotlttttctr

yang tt.r,rrrgl<rrl oleh arus sebagai suspensi. PengukLtran strlimctt y.tttg tt't,tttgktrl

irri rlil,rkrrk,rn rk'rrgan mcrrgambil contoh air tl;rrr sualtt k<llotn 1x'ttgttkttt,ttt, l)t,nli,rrrrlrrl,rrr r orrlolr rl,rp,rt rlil,rkukan st,r',tra s('s,t,ll ttt('rtl.l11tttt,tl<,rtt l,,tl),rl,ttt /roll/r,r,rrrrlr/r'r {(r,rrrrlr,rr ',.l,l). l)r'rrg.rrnlril,rrt trtttlolr rl,rgl,rt pttl,r rlrl,rkttk,rtt

ttl

,\o.*, //,,/rno. :---lL

T
--t::-IIE-Er]i:EEEESl__D_ D > _ _ a_ _ Er

;;;;;;;;

;;;

; ;;:;;

;,",;;;;;,

;,,

Kotlsentrasi sedimen dapat dinyatakan secara altsolut rl,rl,rnr kg/rrrr lrrr,rss,r stlclimen per volume contoh air) atau relatif dalam mi/m' (volrrrtr, strlirrrr,n per volume contoh air).

Cara lain yang dapat dipakai untuk mengukur konserrtr.rsi scrlinrprr tersuspensi adalah dengan teknik optik atau akustik. cara-qrrl t('rst,lrrrt digolongkan sebagai pengukuran tak langsung (indirectsamplinc). ponguktrr,rrr kekeruhan (turb id ity). Teknik ini memanfaatkan perambatan (transnrlsslep)
(Cambar 5.1 5a) atau pembelokan (scatte ring) cahayatampak (Cambar 5. I 5lr) (biasanya cahaya merah dengan panjang gelombang sekitar 660 nm). Al,rr yang dipakai biasanya optical beam transmissometer untuk sistem lrarrsnrisi

dan optical Backscatterance Sensor (oBS) untuk teknik pemlx,lok,rrr. Pengukuran konsentrasi sedimen dengan teknik akustik (Cambar 5.1'rr )
Cambar 5.13 Grab sampler (Foto: Catot H. pramono)

dilakukan dengan pengukuran intensitas akustik (dari gelombang ,rkrr,,trk berfrekuensi tinggi, sekitar 1000 kHz) yang dipantulkan (back.sr,rflu) olr,lr sedimen yang terdapat pada kolom air. Pengukuran secara tak l,rrrg.,trnp. dengan teknik optik maupun akustik hanya memberi informasi korrslrrtr,r,,r relatif, oleh karena itu, kalibrasi menggunakan pengambilan conlolr l,rpg,.rrrr11 harus dilakukan.
Hubungan antara pengukuran optik dengan konsentrasi serlinx,rr rrrrtrrlr teknik transmisi dan teknik pembelokan masing-masing dinyatakarr rft'rr1g,rrr (van Rijn, .1993):

I _=
I

Io
tI .t

kre-k"

(5.9)

- p.n-kzr' Io "-1'

(5'1o)

Carnbar 5.14 Bottle sampler (Foto: Catot H. pramono)

dengan /, = intensitas perambatan yang diterima receiver, /,, = intr.rrsil,rs yangdikirim melalui transmitter, c = konsentrasi sedimen dan k,, k., st,rl.r k, adalah konstanta-konstanta kalibrasi yang dapat diperoleh mcl;rlui .rnirlisis
regresi menggunakan beberapa data konsentrasi sedimen yang cliukur s(,( ,rr,r langsrrrrg. I lttlrtrtrg,rtt,tttlilra pengukuran akustikdengan konsenlr,rsi srrlilrx.rr

menggunakan pump sampler untuk mengamati perubahan atau dinamika


konsentrasi sedimen dalam selang waktu pengamatan. Teknik pengambilan contoh ini disebut sebagai pengukuran langsu ng(direct sampting). pengambilan

\(\

,y,r

cnrgririk rlrny,rl,rL,rrr rk,rrgan (Cartner, 2OO2*

contoh sedimen tersuspensi terutama ditujukan untuk mcngt.l,rlrrri k11ps3ptrirsi


114

lllluHtr) ,r/ t/r

(,ill)

,\1.,*, //n/.19.fi,
! f, r t L

*rr-E-.EE---t----t---E--->---D
.,1

-Br

T
;;;-;;, ;;;, ;;;;;;; ;;;,;;;
rrtlttttrtt
konstarrta-k<llrsl,rrtl,r t(.Htr.\t nlr.nflflun,lk,ttt 1x'llt'r,t1t,t rl,tl,t kottscttlt,tst

pembelokan

yang diukur sc( .ir,t l,tttlisttttli.


absorpsi

a) Memanfaatkan perambatan cahaya tampak

c. Analisis Distribusi Ukuran Butir


Sedimen di alam tidak akan pernah memiliki ukuran yanS s(.ra8,tnr. lik,r contoh sedimen yang terletak pada suatu permukaan dasar perairan cli;rntlril,

pembelokan

abs0rpsi

b) Memanfaatkan pembelokan cahaya tampak


alal ukur arus akustik

maka analisis akan menunjukkan bahwa contoh sedimen terscllut tt'nliri dari berbagai macam ukuran butir. Ukuran representatif yang dipak;ri urrttrk mewakili contoh sedimen tersebut biasanya adalah diameter merli,trrtty,t yang ditentukan menurut berat. Diameter median tersebut dinotasikarr st'lt,tg,ti dro, yang artinya: 50% berat contoh sedimen, memiliki ukuran lltrtir y,rrrg sama dengan atau lebih kecil dari dro tersebut. Distribusi ukur,rn lrrtlit rl,tti suatu contoh sedimen juga merupakan parameter yang pentinB tl,tl,tttt rlttrli angkutan sedimen. Menyempit atau melebarnya distribusi ukttr,ttt lrttlit rl,ttt Suatu contoh sedimen dapat ditentukan berdasarkan rentang .lr)l,ll.,t t/,,,. rl,ttt d,o. Dyer (1986) mengelompokkan contoh sedimen yitttg tttl.ttttltLl dsAldrc<2 sebagai sedimen yang terurut (wel/-sorted) sedangk.ttt t/,,.,/r/,,,'ll' sebagai sedimen yang tercampur (well-mixed). Distribusi ukttr,ttt lrttltt rl,rrt suatu contoh sedimen dapat pula dinyatakan dengan statttl,tr tllvt,tst
geometrik (q):

o, =
transduser

(doold,,u)o's

('r.

I 2)

intensitas

terkirim

a*/
t

ti

/ i/ inlensitas / i pantulan / / batik

// I /

Teknik baku yang dipakai untuk menganalisis sebaran ukur;ttr lrtttit sedimen adalah sieving. Untuk itu, contoh sedimen terlebih rlithtrltr dikeringkan, kemudian disaring melalui saringan-saringan yang tlktrr,ttr kerapatan jaringnya berbeda-beda (terkecil 0.063 mm dan terbesar 20 mnt). Contoh sedimen yang tertinggal pada sebuah saringan pasti mcmptrrly,ri ukuran butir yang lebih besar dari kerapatan iaring pada saringan tt'rst'lrttt dan lebih kecil dari ukuran kerapatan jaring pada saringan scht'lumtty,t. Selanjutnya, sedimen yang tertinggal pada setiap saring;rn masirtg-nt,tsitrg
ditimhang beratnya. Dari hasil penimbangan tersebut akan clipt'rolt'lt rlislrrlrrrsi ber;rt sr.rlirttt'n Jrcrdasarkan rentang ukuran kcrapatirn iaring s,tritt1.;,ttt. Talrr'l ', I rrrr.rrrpr,rlilr,rlk;rn hasil penimbangan sLtitttt t otttolt sr'<litttctt tl,ts,tt [)(.r,yt,l1 rk.rrp,,rrr lr.l rrrl. sicving. Dari talrcl tt'rst'ltttl rl,t1l,tl tlilr,tttgt Iristogr ,lrrlrr,!rrr,rr,.r ((',unl),u 5.I6,r) tl,rrrrlistrilltrsi ktrrttrrl,rlif ltkttt,ttlst'tlttttr.tt (( i,ttttl r,rt ', I I'l rl
117

material padal yang tersuspensi

c) Memanfaatkan pantulan balik gelombang akustik


Cambar.5. /5 Teknik-teknik pengukuran konsentrasi sedimen scorr1 lak l.rrrgsung

,
i i:

ttr scl rtt,tll

116

,\".",,

] t - r L { r r. D r -, r - } r t D - r - } r _ } r _ D}

//,,/,uo.ul,

}}

_ _ _ D _. _ } r

--

Tabel 5.1 Data hipotetik hasil penimbangan sualu ((,trt(,lr sedimen dasar perairan dengan teknik sieving
Diameter Diameter Diameter
Pertengahan
iMassa

Minimum
(mm)

Makimum
(mm)

IMassa

iVlassa

(mm)

(e)

(%)

Kumulatif (%)

0.425 0.3s5 0.300 0.250 0.212


0.1 B0 0.1 50

0.500 o.425 0.355 0.300 0.250 0.212


0.1 B0 0.1 50

0.125 0.1 06 0.090 0.075 0.063 0.053 0.045

0.125 0.'t06 0.090 0.075 0.063 0.053


TOTAL

0.46 0.39 0.33 0.28 0.23 0.20 o.17 o.14 o.12 0.10 0.08 0.07 0.06 0.05

0.00 0.10 0.28 4.07 19.99 53.55 19.47 30.90


'16.80

0 0 0
2
12

0
100
100

llr.llr.rirll;r l<,tr',tl<lr,t .,r,lt,tt,ttt ttl\ttt,ttt lrtlltr st'tlttllt'tt, y,ttltt: t/,,,, O l'r() tttttt, si[al sehilran y,rrrg wr.// sttrlt'rl, k,rrr<luttg.ttr lltnrpttr l'1, tl,ttt sl,ttrtl,tt tI'vt,tst ge6metrik o, = l. tt,. l),rl.t sr.tlimcn (lasar perair;rtt <lrs;riik,rrr tl,rl,rttt lrt'ttlttl< peta sebaran sedimL'n yang dibangun melalui intcrpol,tsi lr.ttty,tI lolr,tst pengambilan contoh sedimen. Cambar 5.17 mem[)orlill,tll<.ttt 1x'try,t;t,rtr peta sebaran sedimen dasar perairan menurut diameter mtlrli.ttttty,t.

l;;.;;,

;;;;;;; ;;;;;;;:;;,' ;;,;;,;,;,


"

100 97
B5

phi li: > 4


i::
.'ri

mm 0.063

I KilornctrcsO I statutcmrtesoiffi
Mcdian grain diameter

33
12 19 10
5

i-::l-4 0'125 {'063 :: 2-3 0.25 -o.l ?s

53
41

:0-l
j

l*2

o's-.o ?s

r.0-0

pebbles, mustcls

22
12

I manh elc);

8.16 7.94 2.16 0.59 0.36

5
1

7
2
1

0 0
100

0
cambar 5.17 Peta sebaran sedimen dasar perairan menurut dr,, di Tay I slttdry, lnggris (Buller & McManus,1975)

164.37
100

d. Analisis Konsentrasi
I

Sedimen

iu 4

li

Contoh air yang diambil dari suatu kolom air akan melaltri l)r()\('\ filtrasi untuk memisahkan partikel-partikel sedimen dari air mclaltri st'lrtt,tlt filter. Massa sedimen pada contoh air yang diambil diperolch rlt'tr1i,ttt
menimbang selisih berat kering filter setelah dan sebelum filtrasi. Kortst'ttlt,tst

ii;n
a.
25

/:)

sedimen diperoleh dengan membagi massa sedimen tlr:t.l1-i.rtl vttlttrtlt' 'ttt contoh. Data l<onsentrasi sedimen tersuspensi dipcrltrkatr lerttl,tttt,t tlttlttk
mengukur laju pengangkutan sedimen (dan material pacl;ll t('rstlslx'ttsi l,titltty,t)

{1

:i ; I (mm)

{} (}.1 0.2
r/ (nrnr)

{).3

0.4

pada suatu kolom air atau bidang potongan pengukttr;tn. fik,r tlikcl,rlrrri konst'tttrasi Sedimen cdalam kg/mldan kc'ceplatan ilrtls t/ rlirl,rm tlt/s, ltt,rk'r lljrr ,rrr1ll.rrl,ur s('(limen q dalam kg/m's clipcr<lklh rlt'tl1-i,ttt:

tl

ttt

('r.ll)

(,aml>ar 5. / (r Hasil analisis contoh sedimen

118

ll(,

E"

bahwa tidak ada sumber sedimen rain kecuari yang berasar dari dasar perairan. Pada sistem yang ditujukkan pada Cambar S. t A, lika e,,1eou,maka kapasitas angkut yang dimiliki arus mengangkat sedimen dari dasar ierairan sehingga akan terjadi erosi (pengikisan). i"brriknyr, jik" q,,r%,,, maka arus kehirangan sebagian kapasitas angkutnya drn ,"nluirhkan sedimen yang diangkutnya ke dasar perairan sehingga terjadi aup*iri (pengendapan).

,fnn l,i/-o.rl, r= r _:__t ---rG&r D_ r__r-__t:-_-] _ ___: __ _r Lalu .rrrgkut.l, sulim('a (/ nro,)y.ltak(rn m(rss(r s(\li,r(,a y,lrH rr.r,rrgkrr pada setiap m2 ruas pe'ampang daram setiap detik. lrrf,rrrr,rsi raju pengangkutan sedimen dari dua penampang pengukuran ditujukan untuk kajian dinamika batimetri (perubahan erevasi dasar perairan) di antara dua lokasi potongan pengukuran (cambar 5.18). pendekatan ini mengasumsikan

--

st'lltlrti inttlraksi ,ttll,lr,r l),rlr,rlr z\lrr,rrr Sungai dcngirrr kaw.rs,rrr lx,\rc1. l,,r,,1l.,rrr stlclimen yang rli,rrrgktrl oh'h sttttgai adalah salah salu lrah,lr y,yrA l)('1t1rli untuk menjaga stabilitas pantar scbagai penggantisedimcn yang hil,rpg,rkilr,rr c'nergi yang bekerja di pantai karena aksi gelombang rl.rn l)itsul. l).rl,rrrr lr,rl ini, sumber sedimen lain (selain yang berasar dari dasar llcr,riran) y,,r,.r berasal dari permukaan tanah pada suatu sistem aliran sungai jug.r hartrs

;;,,:,;;;;;;;-;;;;;r;,, ;;, ;; ; :; ;;'; ;. ;

diperhitungkan. Kelebihan pasokan dari sungai akan mengakibatk,rrr pengendapan di pantai, sebaliknya kekurangan pasokan sedimen dari sulg.rr
akan mengakibatkan mundurnya garis pantai.

h
A

Referensi

l ."
Q,n

Ali, M. (2004). Lapctran Pengukuran Arus pulau


Tidak dipublikasikan.

SenraI<

l)tun

i---.,^...
I

Buller, A. T. & McManus, ). (197S). Sediments r>f lht, I,ry Estuary. r. Bottom sediments of the lJpper and L)py,r Mnrtlrr
Reaches. Proceedings of RoyalSociety Edinburgh (7t>),

4l4vl.

^Q*
dhJ

t
--.rx

darcarperairar

Cambar 5./B Model perubahan elevasi dasar perairan dengan lebar satu satuan panjang

dengan (misalnya: Soulsby, 1997):

Perubahan elevasi.dasar perairan per satuan waktu

0hl0t dimodelkan

L A. (2()o2) Hydrography. Delft University press. Delft, The Nerhcrr,rntrs. Dyer, K. R. (1986). Coastal and Estuarine Sediment Dynami<:s. Wik'y,rrrrl Sons, Chichester, England, 2nd edition. Cartner, ).W. (2002). Estimation of Suspended Solids Concentrations /t,rrr,r/ on Acoustic Backscatter lntensity: Theoretical tsar kgrouttt!. Turbidity and Other Sediment Surrogates Workshop. cordon, R. L. (1996). Acoustic Doppler Current profiler: prinriltl<,s ttl Operation. RD lnstruments, San Diego, USA, 2nd edition. Poerbandono & Mayerle, R. (2005). Measurement of Sedlment Translttrt Dynamics. Submitted to ,Die Kueste,. Poerbandono (2005a). Penggunaan Alat L)kur Arus cli perairan D,rngk; B agi an I : T ekn ik d an Kete r and al an Penguku r an . D iscra h ka n l<r' I rrr r, I
r
r

de Jong, C. D., Lachapelle C., Skone, S. & Elema,

ITENAS.

ah

dq

0t
dengan a

I- e 0x

(s.14)

Poerbandono (2005b). Penggunaan Alat L-Jkur Arus cli l)cr,rirap l),rtrt:k,rl ll,tgi,trr ll: Estimasi Parameter Dinamika /t,slslr. [)iscr,rlrk,rrr l<r'lrrrrr,rl

tltNAS

erosi tcrjadi ketika Ohtdt<o.


120

= porositas sedimen. Akresi terjadi ketika dhtdt>0, sehaliknya

Sittt;r',r,tr, N,l li

,t llttt.trl li,tttrl,'\r orrsrlc r\4t1ilt'r tll I Il',(,',, ( ,rltlorrrr,r, USA.

(2001). Disr'lr,rr/lc Mr,,trrrr ttrrt,nt., u,,r,,lt ( rtrtt,rtr r'trtrrlt,r ( )pr,rr r rlr, r(r';r,rrr

q
'!:'!/tT - - D- - - - DFr - ] D- - - DDFF>D>>- E 5<rtrlslry, li. L. (l<)()7). Dytt,ttrri<s <tl Marint, -\.rrrr/r. llrorrr,r,, lollor<l Pr-rblications, Lonclorr, UK. van Rijn, L. C. (1993). Principles of Sedlment Transport rn llivcr.s, [.stu.rries and Coasta/ 5eas. Aqua Publications, Amsterdam, Tlre Netherlands. Wentworth, C. K. (1922). A Scale of Crade and Class Terms for Clastic Sediments. Journal Ceology (30), 377-392.
D,

'!,>

,,

Penetap:rn lBart'us l'lrrrl

kepastian httl<ttrrt lt'ttl'rtt1"" Penetapan batas lautditujukan untuk meniamin .'tr'rlrt (dalam konteks internasi6n'tl) 'tl'trt batas-batas laut suatu negara pantai

penetapan Iral,ts l'rttl ''tt'rlrt daerah pantai (dalam konteks nasional). Kegiatan

neSarapantaimerupakanimplementasidariKonvensillrtkrtrtrl,rrrl

perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) atau United Nation Cottvt'ttlrr ttt ri lltr' sejak tahun l()ll'' rl'ttt t'"'tttt Law of the Sea (uNCLOS) yang disepakati berlaku pada tanggal 16 November 1994' lndonesia tttttl'rt lr'rtry'rl Penetapan batas laut daerah (nasional) di (UU) No' 7'', l'rlrrttr dibicarakan setelah clikeluarkannya Undang-undang .lggg, Pasal 1o Ay,rl l, y'rttg terutama yang tercantum dalam Pasal 3 dan kol'r daerah propinsi dan kabupatt'rt

'tl'ttt menyebutkan hahwa wilayah l'tttl y'ttrg 12 mil masing-masing laut, wilayah terdiii dari wilayah daratdan perairan l<t'pttl'ttt'rtr diukur dari garis pantai ke arah laut lepas dan atau
untukwilayahlar-rtpropinsidansejauhsepertiganyauntukwilayalrl.rrrl
pemerintah propinsi dan l<itlrttp'rlt'tt kabupaten atau kota. Dengan demikian, daerahnya, baik wil.ry,rlr atau kota harus menetapkln batas-batas wirayah yang dimiliki clallat rlil'rl<s'rrt'rk'rtr darat maupun wilayah laut, ag,ar kewenangan dengan baik.

kctcnturtn-kt'lt'ttltl'ttt Dalam konteks batas laut neSara (internasional), tentangpenetapanbataslauttercantumdalamKonvensiHtlkumL.ttttl,llll mclalLri Lll'l No lT 1g82. lndonesia telah meratifikasi konvensi tersebut

TahunlgB5padatanggal3lDesemberlgB.5,karenanya,lltrltlttr.lt.t
ketcntuatl-kt'lt'tlltt'ttl berkewajiban untuk Secara konsisten melaksanakan tt,tsiott'tl perunclartg-ttnrl,lt.tg,ttt produk tcrcilat.m clalam konvensi. Semua
tirl,rk

y'tttg

lr.llI

lrcrtgnt,rng,an dengan k<.1nvenSi, tcrmasttk y'rrrg

Ix'rk'lit'ttt r|'ttg'ttt

scllagai s,tl,rh s,tltt 1tr.rrr,l,r1r,rn lr,rl,rr l,rrrt

ll,tgi,ln 1lt'tttitlg <l,tl,trtt 1x'trr'1i'rkk'rtr

Itttkttttt l,trtl ttlllrrr.r,'irltt,tl.


122

r/

'Y'

!:t':y-

A.

- r - - r - r DD- - - - DDr i D-

DD

- ED- - >Dr -

l',,,,
-.f, DDD ----i-l->-----DD---i:--

r,,1,,,,, 1t,,r,,,, L,,,r


-*D --

KONSEP BATAS LAUT BERDASARKAN UNCI,oS T982


Negara-negara pantai berkewajiban menyajikan batas wirayah

penting adalah garis-garis pangkal (base/ines) yang digunakan untuk mengukui batas-batas wilayah laut (maritime zone). Konsep penetapan batas laut yang tercantum dalam konvensi dimaksudkan untuk penentuan wilayah perairan negara-negara pantai di dunia terutama negara-negara yang telah meratifikasi konvensi tersebut.

perairannya dalam bentuk peta laut atau daftar koordinat geografis dari titik-titik dasar (basepoints) terluar wilayahnya. Dalam peta laut tersebut harus disajikan informasi yang dibutuhkan bagi pelayaran, serta yang paling

.::i garis air rendah = garis pangkal normal

a)3
penutup

-r-=
penutup teluk

tlarrs arr rerrrlirh

yurisdiksi yang ditentukan dari suatu garis pangkal, yaitu:


(1) Perairan Pedalaman (lnternal Waters): pasal B, (2) Laut Teritorial (Territorialsea): pasal 3 _

Dalam uNCLos 'r982 ada beberapa wirayah atau zona perairan

*re
grrirprngk\C)/
kepulauan

16,

(3) Zona Tambahan (Contiguous Zone): pasal 33,

pelabuhan
_
75,

(4) Zona Ekonomi Eksklusif (Exclusive Economic Zone): pasal 55 (5) Landas Kontinen (Continentat Shetft: pasal 76 _ 85, (6) Laut Lepas (High Sea): pasal 86 _ 120.

Cambar 6.7 Macam-macam garis pangkal

caris pangkal merupakan acuan penarikan batas terruar (outer rimit) dari wilayah-wilayah perairan yurisdiksi tersebut. Ada dua macam garis
pangkal yang tercantum dalam UNCLOS 1982, yaitu: (1) Caris pangkal normal (normalbaseline); dan

sendiri garis pangkal wilayahnya dan harus diperlihatkan pada peta l,rrri atau dibuatkan daftar koordinat geografis dari titiktitik dasarnya. Selanjutny,r, salinan dokumen tersebut diserahkan kepada Sekretaris Jenderal PBB. l-l,rl
khusus yang harus diperhatikan adalah apabila dalam penetapan garis pangk,rl

tersebut berpengaruh pada hak negara pantai yang bersebelahan atau


berhadapan.

(2)

(arch i pe I agi c b asel i ne).

penutup sungai dan teluk serta garis pangkal kepulauan


rendah

Caris pangkal lurus (straight baseline), termasuk di dalamnya garis

(low water /lne) sebagaimana yang terrihat sebagai garis kedaraman nor pada peta laut skala besar yang diakui secara resmi di negara tersebut.
sedangkan garis pangkal lurus adalah garis rurus yang menghubungkan dua titik dasar yang terletak pada garis air rendah (Cambar 6.tj.

caris pangkal normar dapat diartikan sebagai garis air

B. WILAYAH PERAIRAN BERDASARKAN UNCLOS 1982


Wilayah-wilayah perairan berdasarkan UNCLOS 1982 ditunjukkan olch Cambar 6.2 dengan penjelasan sebagai berikut.

a. Perairan Pedalaman
Berdasarkan pasal B UNCLOS 1982, perairan pedalaman adalah perair.rrr yang terletak pada sisi darat garis pangkal laut teritorial.

Dalam uNCLos r9B2 disebutkan juga bahwa setiap negara pantai bebas menentukan dan memilih garis-garis pangkal yang akan digunakan untuk menetapkan batas wilayah perairannya, asarkan memenuhi beberapa persyaratan yang diatur dalam konvensi. Kewajiban suatu negilr.,r p,rrrai berkaitan dengan penetapan batas wilayah pcrairan aclal,rh n,r('rr.rrtul\,ln
124

b. Lnut Terltorial
| ),rl,rrrr ;r,r,,,rl

I tlN('t ()S 1 982 disehutkan hahwa

seti,rp nog,aril [)ar)t,u

-f
\7rx,
r 3-,

//,i/roXtn/,
D Dri-.-t,f D1-tD-DBE--EDD5 D

-'

;;,;1.;,;;,:;;;;;;;,; ;;,; ;; ;
r1,it

y.rrrg rliguttitk.ttt trrrl r tl* t ttt't


trlik

tkt

tt l,tttt torit0ri,tl.

;;;

;;

i; ; ;,

pailgkal

d. Zona Ekonomi Eksklusif


Pada kawasan ini suatu negara pantai mempunyai hak cl<skltrsif r-rrrtrrk melakukan eksplorasi dan eksploitasi, pelestarian dan pengelolaan sumlx'r daya alam (hayati dan non-hayati) di dasar, di bawah dan di atas laut, st:rl,t

350mil alau 25il0m

100mil.

,/

kegiatan lain seperti produksi energi dari air, arus dan angin. Namun demikian, semua negara lain dapat menikmati kebebasan pelayaran dan penerbangan, sefta kebebasan meletakkan kabeldan pipa bawah laut, dengan memperhatikan hak dan kewa.iiban negara pantai serta harus mentaati peraturan yang ditetapkan oleh negara pantai. Lebar zona ekonomi eksklusif tidak boleh melebihi 200 mil laut dari garis pangkal yang digunakan untuk mengukur laut teritorial.

Cambar 6.2 Wilayah Perairan berdasarkan UNCTOS l9B2

e. Landas Kontinen
Landas kontinen suatu negara pantai meliputi suatu kawasan dasar laut dan tanah di bawahnya dari daerah di bawah permukaan laut yang terletak di luar laut teritorial, sepanjang kelanjutan alamiah daratan hingga pinggiran luar tepi kontinen atau hingga suatu jarak 200 mil laut dari garis pangkal,

berhak menetapkan lebar laut teritorialnya hingga suatu batas yang tidak boleh melebihi 12 mil laut, diukur dari garis pangkal yang telah ditentukan. Di dalam kawasan ini, negara pantai mempunyai hak berdaulat atas ruang udara di atas laut teritorial, dasar laut serta tanah di bawahnya. penarikan garis batas wilayah laut teritorial antara dua negara pantai yang berhadapan atau berdampingan didasarkan pada garis tengah (median /lne) yang titik-titiknya mempunyai jarak yang sama terhadap titik-titik terdekat pada garis pangkal kedua negara, kecuali karena alasan historis atau keadaan khusus. Caris pangkal untuk mengukur lebar laut teritorial harus dicantumkan dalam peta dengan skala yang memadai atau diberikan dalam bentuk koordinat geografis.

dalam hal ini tepi kontinen tidak mencapai jarak tersebut. Jika jarak tepian kontinen lebih dari 200 mil laut, maka penetapan pinggiran luar kontinen dilakukan dengan cara: (i) Menghubungkan titik-titik tetap terluar dimana ketebalan batu endapan paling sedikit 1"/" dari jarak terdekat antara titik tersehut dan kaki lereng kontinen (titik perubahan maksimum); atau

(ii) Suatu garis lurus yang ditarik dari titik-titik

tetap yang terletak tidak

lebih dari 60 mil laut dari kaki lereng kontinen.


Namun demikian, garis batas terluar tidak boleh melebihi 350 mil lltrt atau 100 mil laut dari garis kedalaman (isobath) 2500 m, kecuali tttttttk elevasi dasar laut yang merupakan bagian alamiah tepian kontinen, 5,1'pt'r'li pelataran (plateau), tanjakan, puncak (caps), ketinggian yang datar 1/;.rrlL) dan puncak gunung yang bulat (spurs). Negara pantai harus menetapk,rn batas lt.rluar landas kontinennya yang melebihi 200 mil laut dcngan t,tr,t nt('n,lrk li,rris-g,tris lurus yang panjangnya tidak melebihi (t0 mil lattt, rlt'ttg.ttt rrrr,rrp,lrrrlrrrnlgl',rn litik-titik tctap yang nlcmltuttyai k<l<lrrlitl,tl gt'o1ir,tfis.

c. Zona (i)

Tambahan

Zona tambahan dimaksudkan agar negara pantai dapat melaksanakan pengawasan yang diperlukan untuk:

Mencegah pelanggaran peraturan bea cukai, fiskal, imigrasi di dalam wilayah laut teritorial; dan
pelanggaran tersebut di atas yang dilakukan di clalam

(ii) Menghukum

wilayah laut teritorial.

176

,\i,n ///n1n/,
--rD-L---'----3--D- - -r (iit.ltb'tr (r"i ntt'ttltrl.rlih.rlk.rrr l)('n(,rnruan llatas lancJas k,rrr,rr,rr lr,,rtl,rs,rrk.rn konvensi Hukum Laut pBB tahun i982. -i-------D-E

;;;f"-

- - - - - - - - - - - B - - - - - - I:r'l',ri :

l'] : i :'

Scmua lr.rgi,rrr rl,rrr l,rul y,rng tirlak tcrtnirsrrk rl,rl,rnr /()n,l (,1\()n()ilil eksklusif, laut tcritori.rl <l.rn lrcrairan pedalaman su.ltu n(,B.lr,r ,rl,rrr pr,r,rrr,rrr l<epulauan suatu neg,ara kepulauan merupakan k:rwirs.ur l,rut k'p,rs. l,rrrl lepas terbuka untuk negara pantaiatau negara tidak berpantai unluk rrrt'l,rl<ul<,rrr
kegiatan-kegiatan:

(1) Berlayar di bawah satu bendera negara, (2) Penerbangan, (3) Memasang pipa dan kabel bawah laut, (4) Membangun pulau buatan dan instalasi (5) Menangkap ikan, dan (6) Penelitian ilmiah.

lainnya,

Kebebasan ini dilaksanakan oleh semua negara dengan nr()rlrlx,rlr,rlrl,,rrr kepentingan negara lain dan ketentuan lainnya dalam konvensi. l,rrrt lr,p,r,, pada dasarnya memang dicadangkan untuk maksud damai.

C.

PENETAPAN BATAS LAUT

DI INDONESIA

Dalam kaitannya dengan penetapan batas-batas wilayah pcr,rir,rrr rr,pr.rtr yang diuraikan di atas, maka kegiatan yang harus dilakukan mcliprrti:
Cambar 6.3 Batas landas kontinen (lHO, 1993)

(1) Penggambaran garis-garis pangkal. (2) Penentuan wilayah laut secara teliti. (3) Penentuan batas-batas lepas pantai (Laut Teritorial, Zona Tamb,rlr,r n, (4)
Zona Ekonomi Eksklusif dan Landas Kontinen). Pendefinisian batas-batas ekuidistan (sama jarak) untuk lx)n('t.rl),ur batas laut dengan negara tetangga, jika batas yang norm,rl tirl,rk dapat diterapkan.

itu, negara pantai mempunyai kewajiban untuk melakukan pembayrrun rruu'rumbangan berupa barang merarui pihak berwenang bertarian dengan eksproitasi sumber kekayaan alam non-hayati landas kontinen di luar 200 mil laut.

atau terganggunya kegiatan eksplorasidin eksploitari."oi

Negara pantai mempunyai hak berdaurat atas sumber kekayaan aram (hak eksklusi0 untuk tujuan eksprorasi dan eksproitasi. Jika negara pantai tidak memanfaarkan haknya, tidak seorangprr'aup; kegiatan eksplorasi dan eksproitasi tanpa persetujuan tegas dari negara pantai yang berhak' Negara pantaijuga berhak menetapkan persyaratan bagi pemasangan pipa dan kabel bawah raut negara rain di atas randas kontine-nnya, dengan maksud untuk pencegahan, p"ngrrrngun, dan pengendalian pun."rrrrn

,;r;;;r"

Semua kegiatan

di

atas banyak terkait dengan aspek tc.knis, l('rul,rn,r

aspek geodetik dan hidrografik yang dalam implementasinya tid;rk

llirr lrcrtrlr,r

,r*tr!

kegiatan survei dan pemetaan laut. Produk akhir dari kegial;rrr lx'n('t,rl),ur batas seperti yang disyaratkan dalam UNCLOS 1982 lrcrtrp,r pcl,r l,rrrl ,rl,rtr dalam bentuk daftar koordinat geocletik (gcogra[is) rl,rri titik titik lr,rl,rs
Kotr.,r,p y,rrrg acla rlalam 1..,N( t()S

l()li2 sr.lrcrr,trny,r rl,rp,rl

rlrtr.r ,rpl.,rrr

\('(,lt,l l,rtrg',rttrpi rrrrtrrk kcgi,rt.ln l)('n(,l,tl),rrr lr,rl,rs l,rrrl rrnlrrk rl,rr,r,rlt l)r()l)lr,,t rl,ttt [,tl,rt;r,rllrr ,rl.ru kol.r rlr ltrrlotrr,rr,r 5t,r ,rr,r 1rr,rl.lr,,, ntr.nt,ttl]i rlrl,r.rlrr[,rrr llt'ltrtt,tl ra lrrtltyr',iu,r.ln, lr,rul,iln,t y,rng lrr.tL,rtl,rtr (h.nH,ln lrr,lrrt,t;r,r lr,rl, y,rtlrr

128

l', ''. r"1""' l\"r" DGi--Fl _--DF-EDP>>---i!-Ea-l!Dti

1 Dt

""r

tl,rl,tttt t'tl l)t,rtrlt,lirrisi,rrr g.rris lt,rrrt.ri sr.1x'tti y,rrlg tlrrtr.rl<sttrl .l pacla l<eclucluk.rtr llltll\'r l'lrrl; 'rp'rk'rh Tal-run 999, harus ielas mengacLl

Nrr. /2

mukalautrenclah(sepertidalamUNCLoSlgB2),nrlrl<.ll.rttll..ll.l-rilt.] (sepcrti clalam (seperti dalam peta rupa bumi), atau muka laut tinggi
peta-peta
h id

rograf i).

apakah garis pantai lurus (yang Jenis garis pantai yang akan digunakan; ke arah laut yang terletak pada garis

,"ngiubr'ngkan dua"titik terlJar topografis pantai)' pantli), garii pantai normal (yang mengikuti bentuk ,tru to,iUinasi keduanya (seperti dalam UNCLOS 1982)'

maka harus Jika garis pantai lurus dapat digunakan, 'Oi garis pantat (terutama panllng maksimum dari garis pantai lurus tersebut sufgri, teluk, dan pelabuhan, serta pulau-pulau)'

!1:':1

*11:

<24mtl

lurus untuk menutupi

dari yang berlaku umum/ Harus ada ketentuan yang bersifat pengecualian

(terutamabagiwilayah."wilayah'lautyangSecarahistorismerupakan propinsi tertentu)' frrgirn yang"tidak terpisahkan dari suatu wilayah sebagai contoh KePulauan Seribu' dapat mencup.ui, 2 mil laut Batas terluar wilayah laut propinsi yang Laut Teritorial yang sudah ticlak boleh metebihi batas ierluar dari bitas
UNCLOS 1982' clitetapkan sebelumnya dalam rangka implementasi

propinsi B

Konseppenetapanbatasyansdikemukakandiatasselanjutnyaditerapkan untuk wilayah laut yang terdiri dari: meliputi wilayah laut yang dibatasi oleh

(1) Wilayah laut propinsi,

laut dari garis garis pantai hinggu batas terluar seiauh 12 mil apabila lebar laut pantai. Satas terlilr 12 mil laut dapat berkurang tersebut kurang dari 24 yang berbatmun l'ng'ung dengan propinsi mil. Dalam kasus inl, maka penetapan batas terluar menggunakan lain' Jika batas prinsip sama jarak terhadap garis pantai propinsi lain' maka,batas terluar terluar rngrung berbatasan d"ngun negara yang sudah ditetapkan yang digunatui tiAat boleh meiebihi batas tetanSEa' Sedangkan batas antara negara lndonesia dengan negara juga ditetapkan laut dengan p,opinsi yaig bersebel'ahan (Cambar 6'4)' prinsip sama jarak ^unggrnukan (2) wilayah laut kabupaten atau kota atau kota, terdiri dari sepertiga wilayahlautpropinsi.Bataslautdengankabupatenataukotayang prinsip sama iarak bersebelahun frg, dilakukan dengan
f

titik pangkal

oaris batas oroPinsi ,i /


, , I

garis pantai

( ,,rrrrb;tr (r.5

Penarikan garis balas

lnl'rr propillsi

y'rng' llerst'belalr'rn

(Cambar 6.5)'
Dalam konteks batas antar dua negara pantai juga dapat diterapkan. atau bersebelahan, konsep di atas
bertetangga yang berhadapan

''::'

|,.,,, t,,|,,,,, I\,,r,,,, L,,,r

!! :!-

D. a.

- - F . r t - i - - -., - - - - - D - > > - > D - - r D - r, IMPLEMEN'l'ASI PENETAPAN BATAS I.Atlt l)AllllAlt DI LAPANGAN

a]-i3t

Dt-----DD>>-

--

---

_G-_,-

_ -

-D

Dr

t-r

Penentuan Lokasi Daerah Survei


gans all

Agar penetapan bratas wilayah laut antar propinsi di lndonesia dapat dilakukan, maka diperlukan survei daratan dan lautan, yang terdiri dari:

retttlitlt

(1) (2) (3)

Survei geodetik dan topografik Pengamatan pasut Survei batimetrik

iltik

referensi
Cambar

'*

Survei geodetik dan topografik diperlukan dalam rangka penentuan garis pantai (sebagai acuan penarikan batas) dan titik-titik panglcal (yang terletak pada garis pantai), sebagai dasar untuk meng-klaim wilayah laut sejauh 12 mil laut dari garis pantai ke arah laut atau perairan kepulauan, sesuai ketentuan pasal 3 UU No. 22 tahun 1999. Survei ini juga diperlukan untuk penentuan koordinat geodetik titik-titik referensi yang di lapangan diwakili secara fisis dalam bentuk BM (bench mark).

6'6

Daerah survei

Survei

di

garis pantai belum diketahui' lrk'r atas diperlukan apabila

telahtersediapetadasar(PetaRupaBumiatauPetaNavigasiLaut).'[.rl,r t r'tttt'tt garis p"*i dapat juga ditentukan


besar, maka

Untuk menentukan lokasi daerah survei bagi penempatan titik-titik referensi, diperlukan peta-peta seperti Peta Laut, Peta Rupa Bumi, Peta Lingkungan Pantai, Peta Lingkungan Laut Nasional atau peta lainnya yang relevan. lnformasi utama dari peta tersebut yang diperlukan bagi kegiatan
penetapan batas laut, adalah garis parrtai yang tergambar dengan baik atau telah diperlihatkan secara jelas pada peta. Berdasarkan bentuk garis pantai,
selanjutnya dapat cliperkirakan letak titik-titik dasar (sesuai dengan penBertian yang telah ditetapkan).

'"'t*:'11-11:'-*ut garis pantai pasut rt'ttrl'rlr dengan asumsi bahwa yang ada pada peta tersebut peta' garrs pantai yang ada dalam
berimpit dengan

b.

Pemasangan Pilar

Titik Referensi

Spesifikasipilartitikreferensidiperlukanagarterjadikeseragaman<l.tl.rrtr

pembuatanpila,oan,ntukkemudahanidentifikasidilapangan.Spesilrk.r.'r
yang diusulkan adalah:

Lokasi titik-titik referensi sebaiknya ditempatkan

di sekitar pantai dan

.Titikreferensimerupakantitikyangdigurrakansebagaiacuantlttlttk titik-titik pangkal di tapangan'


menetapkan

berada di dekat titik-titik dasar, pada tempat yang aman dan tidak tergenang air pasang, agar dapat bertahan lama. Secara visual diupayakan posisi

dapat menjangkau posisi titik-titik dasar dengan alat ukur optis. Survei batimetri dan pengukuran topografi pantai, idealnya dilakukan di sepanjang pantai di dekat lokasi titik referensi dengan cakupan ke arah laut sejauh garis pasang surut. Akibatnya, panjang jalur survei ke arah laut akan bervariasi, tergantung
pada kelandaian topografi dasar Iaut dan besarnya tunggang pasut. Semakin landai dan semakin besar tunggang air, maka semakin panjang jalur survei yang diperlukan. Pengamatan pasut sebaiknya dilakukan pada dua lokasi

titik-titik referensi ini terletak sedemikian rupa sehin6ga masih

pilar beton bera.ngka besi dt'rrgttt Titik referensi diwakili oleh sebuah pada Lampiran ll clan tlir 'rl bentul< dan ukuran seperti '"'iihut dt'1t11'ttt pada tanah yang cukup keras warna biru laut, serta ditanam tanah 'lo t trt' sedangkan yang di atas bagian yang ditanam 70 cm'

.Padabagiantengahataspilardipasangsebuahkuni.nganllt'rht.ttttrk til d"ngun tulisan Ktttlt' tl'ttt l"mp"ng'n bullt berdiameteri0 pada buglr: samping Pil,rr kr' Nomor Titik Referensi, sedangkan arahlautdiberimarm.,u",ut.,,un)o*r6cm,dengantLllis.rrrlitrk relatif 'tttt'ttr tl'ttt sedemikian rupa sehingga ol.,r',i pil'rr rlipasang 's'lat memttngl<irrl<irtr rlilltrll'rll''rtr ,"' l'"'l fasang' dan iika i,rrrp,l.,rrr,rrr tl'tt'r'tlr' rlt It.tl,rtrt,ur l"rttlot 1rcttlcritll'tltittl
I

Referensi Batas Laut ProPinsi'

yang mewakili daerah survei batimetri. Lokasi daerah survei, secara keselurr:han dapat dilihat pada Cambar 6.6.
1\)

t::

=l

!!:'!-

c.

r r - - - - B r - - - - -- - rr - r - DID' F - G - - -, Penggambaran dan Penentuan Koordlnat 'l'lllk lfntas


r.

I'l'l']-'l I i': !':t > - - i ] B - r r - ]- - F- - G - - - D D - - - - - Itclcl'cnsi (|()()l). Icr /ttttr 'rl ;\s, t|r ll' Intt,rrr.rtional Ilytlrogr .rplrrr ( )lg,rrrtz,tliot-t - ll-l() of tl-re L,tw ,l rir,' s,',,. .Strxr.ia/ ['ttl.,lir:ttti<ttt Ntltttlr.r '; l' l"t ltlrlrtttr' lnternational l-lyclrographic Bureau - IHB' Mot.titt <l' Pustaka
Ktrliah' [)t'trt'tlril Djunarsjah, E. (2003). Aspek Teknik Hukum Laut. Diktat lTB. Bandung, lndonesia'

Berdasarkan berbagai kemungkinan letak titik-titik parrgk,rl, nt,rl<,t su;rlu titik pangkal dapat:

. . .

Terletal< pada kontur kedalaman nol (garis air rendah sepanjang pantai). Terletak pada bentukan alamiah (misalnya: batu, karang, dan gosong) yang tampak di permukaan laut pada waktu air surut.

Terletak di tepi pantai yang terjal/curam, sehinBga tidak mungkin

diperoleh kontur kedalaman nol, akibatnya posisi titik pangkal


ditempatkan pada tepi tebing. Apabila koordinat titik-titik dasar telah tergambar, maka letak koordinat titik batas wilayah laut propinsi dan kabupaten atau kota dapat ditentukan. Posisi titik dan garis batas terluar sejauh 12 mil laut dapat ditentukan secara grafis atau digambarkan pada lembar lukis teliti skala 1:25000 berdasarkan posisi titik{itik pangkal tersebut (Cambar 6.7).

Apabila dalam konteks negara pantai, informasi mengenai batas harus diserahkan kepada Sekjen PBB, maka dalam konteks batas daerah, Menteri Dalam Negeri lndonesia yang berwenang untuk mengesahkan batas laut antar daerah (Propinsi atau Kabupaten/Kota).

titik batas

titik batas 2
1

L---:;:^:;:-;, garis batas terluar


l2millaul

l2millaut

titik pangkal

titik pangkal 2
1

.'1

garis Pangkal lurus

Canrbar 6.7 Penentuan titik batas wilayah laut dari garis pangkal lurus

1ld

il5

,lir* //,,/.yte/,
----,---,b--!-D--_ ___DD-__DDDb-_ r __D _D

=l

Transformasi l(oord i nrtl

Berikut ini adalah rumus yang digunakan untuk melakukan tratrsfot'ttt,tsi dari sistem koordinat kartesian ke sistem koordinat geodetik.

orur(

Z + e'2.bsin3 0 p e2 acost g

7 = atanZ(Y,X)

t^- P n=--N(E)
cos(q)

(4. r)

dengan (p,1,h = lintang, bujur dan tinggi di atas elipsoid darr X, Y, koordinat kartesian ECEF serta parameter-parameter lainnya:

N(rP) =

- e2 sinz rp
'-

deng;rn ,t = setengah sumbu panjang elipsoi<l rr'[t'rcnsi, /r lrt.rrrlr,k clipsoirl,

st'lct rg,tlt rt ttttl rtt

f = (a-b)lb

dan e2 =

2[

l'.

1]6

ll

,(,*, //,/.g.(,
!--f rGrI r----IlG!-;-I-:-!-t]-=D

q
*t E , S rGf D -F',-D!D--_ --_t G"=Etr-, ;

rr,,1't'

JC'O

""

Rr.rrlrus y,lng (li!lun,tl<;rrt trtrlrrk t)r('l.lkukiln tr.tttsfortn,rst rl,rtt',t',llnt Io()t(llll,ll geodetik ke sistem koordinat kartesian adalah:

R,,=

,l l,

X =(N+tu)cosEcos/.

Jt-,';

sin(9n )r

f = (N + ft)cosE sin 2
z =(w$- r')* h)sintp

(4.2)

I
S

aB

in(E

),Y

Berikut ini ditunjukkan penggunaan rumus baku Molodensky untuk konversi posisi suatu titik, misalnya, pada datum Bessel 1841 ke WCS-84, jika diketahui koordinat geodetik pada datum Bessel 1841 rp* .lrdan hu serta parameter-parameter elipsoid du, f s, e*2 = 2f ,-fr,2*"rno dan f*"rno. Parameter-parameter datum shift Bessel 1841 ke WCS-84 diketahui 6X, ,Y dan 62.
Pergeseran lintang, bujur dan tinggi di atas elipsoid referensi adalah:

dengan: Konversi ke datum WCS-84 diperoleh

@*crso

Qu+6E
6)"

tr*orro

-' )'u +

(4.4)

l'*orro=hB+6h

-"[d1.,,*R.
61 _

- (t- f ,)),i,,a,

cos(pB

-dX

sin

7, y 6Y cos2a

(R,,

+ hr)costpu

(4.3)

6h = 6X cos (pB cos +

/.,

+ 6I/ cos rp, sin ,1., + 6Z sin

tp u

- 6aa'

R,,

6/(l - f ,\R,,sin rp, sin @B

dengan 1-fu = brlau dan pergeseran parameter-parameter elipsoid:

6a = a*"rno-au

6f

= f*.rno-fo
:

]:l

ll8

l19

Y' 'l
,\i.n,
//,,/.,y.a/,
-IEIItr_DDD __ _ _ _ r _r -ElrBEtt-E-G-lEl--rf

t
Model Matematika Penentuan lDosisi

Hubungan fungsional antara pengamatan (besaran yang diukur) dc'ttg.ttt parameter (besaran yang akan ditentukan nilainya) dinyatakan dalam morl'l matematika penentuan posisi. Besaran-besaran yang diukur adalah ,rr,tlt, sudut, jarak dan selisih jarak.
Semua model matematika yang telah dilinierkan dapat ditulis dalanr lrcrrtrrl.

umum:

W+AX-V =

(lt.l)

dengan W = nilai pendekatan yang dihitung berdasarkan koorrlttt,tl pendekatan minus nilai yang diukur (misalnya, d'.,,-d';,,), A = fi,tlrtk', desain, X = parameter yang dicari, yairu dx,,, dy,, atau d{p,,,c17,,<latr V = residu pengamatan. Persamaan 2.1 diselesaikan dengan mtllorlr' kuadrat terkecil:
X=-(ArpA)'1(ArpW) (8.2)

dengan p = matriks berat pengamatan. Selanjutnya koordinat rlcfinitif titik u dapat dihitung dengan:

*=Xo+X

(8.3)

dengan f = prtr*eter, .lP = parameter pendekatan dan X = koreksi [r,ttl,t parameter pendekatan. Persamaan 2.2 dan 2.3 diselesaikan sccar;t ilcr,tlil.
Parameter pendekatan dapat ditentukan secara grafis, berdasarkan dal,t ttktrr,rrr

atau scmbarang.

140

t4r

,\;,.*, //,,/Htrdl,
D-D-Df-E-----t-D--BD----D----DlD -D-

Pengamatan Arah

-rlErEtr-D-----------r,=--ttt,tl<,t l)<'rs,rnt.r,rr r ll.

- -----rr tr,r

I , ,,,t1,,,.,,, D---

dengan:

Hubungan antara arah su;rtu garis dengan titik-titik yang dik.t,rlrrri rr.r, akan ditentukan nilai koordinatnya pada sisteir koordinat
kartesian dapat dinyatakan

i'

rl,rr lr

Fi,, =a!, -dl',, * o")'u - li

{}

x'-xitanC,iu !,-!i
atau dapat ditulis sebagai fungsi yang tidak linier:

dl,,'

1r.

- o"!"

-Ji

7*'

(8.4)

-0_* *; p"

't:),"

d?,,'

::'

d),u

Y; - p"
d!,

..0

l,

d*u

-vai,, :

(ll

rl)

F,, = d(x,, !i, xr,

yr)-

diu = run-'(

dengan a,,= drah iLt, (x,,.-I,,) = koordinat titik u sebagai titik yang akan ditentukan koordinatnya', (x,, y,) koordinat = titik i sebagai titik kontrol yang diketahui koordinatnya.' persamaan 8.5 dapat diririerkan dengan uraian menurut deret Taylor:

*u- *, \- o .r,, v', [ )-"

(B's)

dengan 8,,= f(x,-x0,,)2+0,- y',)'l* = jarak pendekatan titik iu. [)r'rrg,rrr cara yang sama dapat juga dibentuk model matematika untuk pcn6i,ul,rt,ur azimut, jika digunakan sistem koordinat geodetik, yaitu:

Fi, = al, - alu +

Y;"i"

dEi

r-: "*,r,1,cosalu dAi

F,,=
dengan

F',,,- dF,

r, M ,, sinol, ',ru+ Nr, .orraf .ora,f, dlu -va,,,, = g


dio,,
oi,,

(ll

'))

(B.6)

dFo

,, = ob,,yi,xl,yl)-ok,

aFf -xo _aFf-* dF, tu_ '

dengan M dan M, = jari-jari kelengkungan meridian yang m<'l,rr.,r rrrrk i dan titik u, N. dan N, = jari-jari kelengkungan normal parla lrirl,rrrg yang tegak lurus bidang meridian i dan meridian u, (e,, A,) = koorrlrrr,rl geodetik titik i, (cp,,,7,,) = koordinat geodetik titik u, q = buiur rl,rrr l, = lintang.

Oxl*o
(xo,,,!o,,)

OLlro

X = (xr!rx,,,!,),

Pengamatan Sudut
Pada dasarnya, sudut adalah selisih dua arah sehingga dapat clitulis:

= koordinat pendekatan titik u, L = a,,u = arah iu definitif danLo =-4r,',,'- arah iu rf,r[n. tika 0F/0X= _1 dan misalkan (L- L') adalah harga residLt (vg,),maka persamaaan a.s dapat
dituris:
P,, = d(xi,!ito,,yo,)
dengan

P = (x,,y,,'un,,.yu,,),

fri,i=

d,la,,i

(ll . l0)

-ff ,+da(x,,!;,x,,,!,,) -

Vd,,=

(8.7)

sehingga model matematika pengamatan sudut merupakan sclisih rrrork,l matematika arah F., dan F;,. Pada sistem koordinat kartcsian, rn.rk,r rnorh,l matematika penBamatan sudut adalah:

da(x,,li,x,,.yu )= ?o or,*do ou, * dxi d*, / (


142

Oo 0.r,,
,

-t
I

,\'o.*, //,,/.o1.d,
--E l:EE-E rrtrtr-Ir-r----I.rt l-l - - D - - r -r
I

- - - - - - - - - - r - -E D - -'- -' :"Jr'J'

;;;;;

;;;;---

4 +or, - vl -!ax. - 'll-', ,,,,


dy,' dy,'
d'],"
Fiuj = a?ri -a,Yui

IltrllLrngan antarit l)(.nl.i,u]l,rl,ltr iarak clcngan k<ltlrtlitt,tl litik y,rrrg,rk,rrr clitentukan dalam sistem koordittat bidang datar arlalah sclr,tg,ri lx'tilittl:

-p

#,. l+#),,

d.(x,,lr x,, !u) = [(/,

- *,)'+

Or

y,,)'

l^

(lt. I ])

atau dapat ditulis dalam bentuk fungsi sebagai berikut:

Fiil =d(x..v..x.v)-d. \ I,rt u.ru,


dengan

tu

=0

(8. r 4)

d, = harga jarak definitif dan d(x,, Yi, X,,Y,\ = har8a iar;tk y'rtrg'

_Vfrirj =0
Jika sistem koordinat geodetik yang digunakan, maka model matematika
pengamatan sudut adalah:

dihitung dari Persamaan 8.13. Persamaan 8.14 dilinierkan menggtttt,tk,ttt deret Taylor dan dengan cara yang sama seperti model matematik,l ttttlrtI pengamatan arah diperoleh:

Fi, =bY, -

dk)-.?':r\0,,-#or,
=o
(ll l")
u iu

Fiuj =

p?,- ui,-,,':,:,!?v aqi*Nlcosql'1osal't


t

il.i
adalah:

-*2;*, o*, -Yl, oYi dy, -vdiu


d',u

**

:;,"1,

oq ,

_Nl

colco]rp'oL

Dalam sistem koordinat geodetik model matematika untuk pengam,tt.trt i,tt,tlt

at
roraf;i

*M (ti"of; -rinaf, "[

dl'

d?"

v,

l,o a ju - N,ol ldL" | .orrpf ,otaf;,

"ot,pl

Fiu =by,
(B.
1

- dr,)-M

' "ool,"?' a,p'i +

N! cosq:;ina?'

o^" (ll. l(,)

2)

i.-

_M u.orafi aE,, tu +lr,? p"


Pengamatan Selisih Jarak

ryjql sing,! d)",, -vtt,,, =0


p"

dl,

-Vfriuj =0
dengan

= jarak pendekatan lu dan ju yang dihitung dari koordinat pendekatan titik u, ff,ui = harga sudut yang dihitung dari koordinat pendekatan titik u dan ff = harga sudut hasil pengu kura n.

d."

Model matematika selisih jarak diturunkan dari m<xlt'l matcmatik,t 1x'tlg,trtt,rl,rrr


jarak:

dan cP,,

".

duu=d Ju-d.

(lr I /)
l4'l

Iu

144

t::'

fl
!'!''f"!r
B G r r G -- - r r -. : r - i - E B - r D - E - D - - - - r r r,

Model m;tlcntatika l)()n,l.lrnillarr sclisilr j.rr.rl< lr.rrla sistcrrr koorrlrrr,rt l',rrlr.sr,rrr


adalah:

l,anr;linrn

Fij, =b?, - dY,)- d#,

+'i d*,*\d,i-+dx dY, df, aju ^*, '


(

oo."o

Segiempat dan BIiPs Kesalahrtn

y!,

y,

a', 'l''

*[-',

,y,-

_ rg:r,

(,|,-r' .l1f

ai, lar, )
(8. 1 B)

yl-y,) -;f)dYu-vdii'=o

Pendekatan Trigonometrik dan Segiempat Kesalahan


Cambar C.1 memperlihatkan penentuan posisi k menggunakan kollllritt,trt

Pada sistem koordinat geodetik, model matematika pengamatan selisih jarak adalah:

l. Jika [)orrl],rrrr,rl,rrr (a,u!.o,r <l;ttr rr,^ lrl^), kesalahan mengandung dari i dan l<e arah k dari i maka k akan berada pada bidang yang dibatasi garis-gar-is l<r's,rl,rlr,ttt
LOp garis lurus dengan pengamatan arah di titik i dan titik pengamatan ik dan

F,j,

=bi, - al,)- a?,, -*,"ol,oio,


M

aE',

Nf cosEf sin ol,,


p"

ik. Bidang itu disebut sebagai segiempat kcs.tl,tlr,rtr y,rtrg merupakan visualisasi geometrik ketelitian penenttl,ttt po',r',r l' Cambar C.2 memperlihatkan segiempat kesalahan yang t('rlx'rrlrrl' rl'rrt
pengamatan arah-arah dari kombinasi LOP,, dan LOPr,..

al,,

,cosal, " ,.^,, ( u , rotol,

P"

oEj-l

_u ,"r""?r)Or;
(B.19)

P"

ff.$

(
-l
dengan

Nl

rrt,plsina,g,

IP"
(f . d.. oP . o,o
lu tu lu ill

_N! c2;olsinai;
p"

),t-

-vd,t, =g
(O',,, Lu,,).

dihitung dari (rp, 7,), (e1,2,) dan

I r,.,"

rl

)r/ /\.
Gambar

C.l

Penentuan posisi titik k dari i dan pengamatan arah-arah ik clan ik

I dcngan

146

t4l

,\i,,,t,
t-

//,,/.,,y.
-

t/,
DD---lD__il t_t._ilD___>__ _D>_ t l

g.lris yillr!r s,l.r-r.rt r<.rir, g,rris,r.lrr l()r,,, tr,rJr,rr rlr,rrr1i1i,r1r o*o,,dan LoP,, seiaiardengan 13*.,,, schingg,r,rk,rrrrlrpt,rel,h dua segitiga siku-siku yang dibentuk oleh sisi-sisi a da,.' o s.rt,r.lelr sisi-sisi b dan or. panjang d, yang merupal<an ukuran k"rrgr_rrgrrn penentuan posisi k, berbanding terbalik ketelitian penentuan posisi k. Artinya, semal<in panjang d semakin ruas pura segiempat kesarahan yang terbentur< atau semakin rendah pula confidence region posisi k. serain d, 0 juga
sejajardengan merupakan parameter segiempat kesalahan dengan pendekatan trigonometri.

l)'trlit

p,l,r8,l.

;:;-

strrltrl y.rng bcrharl,tp,rn rk'rrg,rrr r/ pilcla st:gilig,r runr.rs c-osinus dari scgitiga lll diperolelr:

;; ;;, ;;,,,,;;;;;;;;;,;;l;,"
lll ,rrl,rl,rlr (llt( l l,)
=
a2

;;

l)r'tr1i,rtr

b2

-2abcos(180-0)

(c.

))

l<arena cos(180-0) sebagai beril<ut:

= -CoS?, maka Persamaan C.3 dapat ditulis kembali


(c.4)

cP=a2+b2+2abcos9

F*on
Dari Persamaan-persamaan C.2 dan C.3 diperoleh: (c.s) (c.6)
l<e

---'t',' lll d -*-j


CTr, \'

6,r.CSC0

= oo.csc9

Substitusi Persamaan-persamaan C.5 dan C.6


menghasill<an:

Persamaan C.4

G*tr,
LOpr
Gambar C.2 Segiempat kesalahan dari pengamatan LOpodan
11

= cscOi\o&

ttTt

* ob +2ooo B cosO/

(c.7)

[Op,

dengan e,= e,rooSo, op= olorp.Slr, Su = panjang LOP,, dan 5p = panjang LOPr. Besarnya 0dinyatakan dengan persamaan:
g

diperoreh dengan tahapan yang dijelaskan berikut ini. Dari segitiga I diperoleh:

Parameter segiempat kesalahan

d dan

= mod lajr'a,r+360",1 Bo"l

(C.B)

oa
sin 0 (C.1)

0 = min

[A 180"-0]

(c.e)

Dari segitiga ll diperoleh:

Cambar C.3 memperlihatkan segiempat kesalahan dalam penentuan posisi dengan kombinasi LOP garis lurus. Pada titik k, 0 = 180"-(diL-a,,,-180"), sedangkan pada titik l, 0 = d,u -4, -.180".

b=

oa
sin 0

G.2)

148

1Acl

,\l,tn; //,/.,y,r/,
--E--t----E--B!-E-EE_:__;D->_ __ ! r _i E_

rl<'rt'l T.tylttr dillt'rolt'll lirrit'ris,rsi tttrluk 1x'rsitrtl,t.tlt lct"r'lrttl

;::;;,; ;;; l;;;;;


J4)=.r(r.)*#

;;;;;;;;ffi ;;: ;.,- .,;';


"r'lr't1-1'tt

",

lx'ttIttl
(c. r r)

*.WL*

+ .!t;l:)

Ax"

-0

saja ddri dengan n = oo. Jika sementara digunakan suku pertama dan ke dua persamaan C.13 maka diperoleh linerisasi Persamaan C.11 sebagai:

L+v=f(x,).q#)*=o

(c.14)

iteratif' lika Suku-suku ke-3 dan selaniutnya akan ditemukan kembali secara fungsi dari X,,, Xn adalah parameter pendekatan maka diperoleh L, sebagai yangdinyatakandenganLo=f(X,,),kemudiandXdinyatakandenganmatriks X dan turunan parsial p"rtrru f(X) terhadap X sebagai matriks A, maka persamaan C.14 dapat dituliskan kembali menjadi,

v=AX-F
Gambar

(c.1 s)

c.3

segiempat kesalahan dik dan / menggunakan kombinasi garis lurus dari i danl

top

dengan 5 = (L-Lo). A disebut sebagai matriks koefisien atau matriks desain, penutup' sebagai matriks parameter dan F disebut sebagai kesalahan
X disebut

Pendekatan

Analitik dan Elips Kesalahan

Persamaan C.1 2 dituliskan kembali sebagai:

Hubungan antara pengamatan dengan parameter dinyatakan dengan model umum:

@=vrv mln
substitusi Persamaan C.15 ke Persamaan C.16 memberikan:

(c.1 6)

L= f(*)

(c.10)

Jika u adalah besaran yang hendak ditentukan nilainya dan n aclalah data pengukuran maka redundansi r = n-u. Jika L adalah pengamatan yang mengandung kesalahan dan L adalah pengamatan yang diangap benar maka hubungan antara ke dua pengamatan tersebut dinyatakan dengan:

vrv =

(Arxr-r)(Ax-o = ArA{X-AXFI-ArYF+FIF

(C.17)
X,

Minimasi persamaan C.1 7 diperoleh dengan turunan parsialnya terhadap yang memberikan:

v=L-L

(c.1

1)

x = (ArA)-tArF

(c.1

B)

dengan v sebagai koreksi atau residu. prinsip kuadrat terkecil menyatakan:

c.1B termodifikasi lil<a bobot pengamatan p tak seragam maka Persamaan nrcrr j,rrli:

(c.12)
150

.\.

(At pA) trt pF


t

(c. re)
151

$|rx, r rr

//n/.01,a/,

r I ! D El.-G-

E f,

It

Gr-._rGGr-Il

- > l D, ' F D G E

rleng,an

1r.lr,r

1l.rr13.lrn(rl(ur 1t

r'3 - = ! Err'-

-sC,

Grf

r -'J--==

Ir=

DDl = GI Er 3 r ' I

L rlrl'lrr

rtt
I

1/ol .

q,

diperoleh dari ketelitian alat.

aclalatr v.lri,lrrsr r)(,rrH.r,,rr,rr y,rrrl

selringga diperoleh koortlittitt titik k sebagai beriktrt:

'cambar C.4 memperlihatkan penentuan posisi k dengan kombinasi garis posisi lingkaran konsentrik dari i dan l.

=rl +tr ,1,=ri +lv


xl

(c.2 3)

(^:

dengan xr, = koordinat pendekatan untuk xu dan yuo = koordinat pendekatan untuk y*. xur dan yu, adalah koordinat titik k yang diperoleh dari iterasi pertama. Selanjutnya, koordinat tersebut dipakai sebagai koordinat k

0,r.,.
(x,f,),,,,,..11'

'

pendekatan untuk tahap iterasi berikutnya. lterasi dilakukan terus hingga konvergen ((Ax, Ay)+Q). Selanjutnya, disusun matriks variansi-kovariansi :

\d, \
\

\ /(d'J4,
II

Ix

(e'pt| = I "i o.,l


Lo,, "i

(c.24\

-r"

Kualitas pengukuran yang diselesaikan dengan pendekatan analitik


direpresentasikan dengan elips kesalahan (error ellipse) yang dibangun dari matriks variansi-kovariansi di atas. Ellips kesalahan ini menjelaskan kualitas pengukuran (atau pengamatan) secara visual. cambar 2.41 adalah elips kesalahan yang diperoleh dari matriks variansi-kovariansi.

Gambar C.4 penentuan posisi titik k dari titik i dan titikl menggunakan kombinasi garis posisi lingkaran konsentrik

Modelfungsional untuk masing-masing pengamatan jarak pada kasus seperti yang ditunjukkan pada Cambar C.4 dinyatakan dengan:

F,=i,*=(i* - fr,)' +(y* - i,)rlt'i F, = i 1r= (.io - i,l+(io - r,y)


Koreksi v pacla pengamatan memberikan:

(c.20)

[ao,

!f I
(c.21)

t;t

r;l L# #lr^ir
I

Solusi aplikasi prinsip kuadrat terkecil dinotasi dengan:


Gambar C.5 Elips kesalahan

* = fA'l
lA,
152

((" t2)
151

,tl,r,r, //,,/r,yr,(,
D] i ---t r _-_ _ _ __i__.__t _ _-D*D-.D_
--i--

sumbu probabilitas variabel x) yang diperoleh dengan:

tlips l<r's,rl,rlrirrr rIill.rrrgun (lilri unsur._unsLr-.r (sct(.nu,llr b (setengah sumbu ptnclek) clan g (rotasj sumbu

srrrrrl,rr

r,rtr;,rrrg),
lcr lr,rrl,rtrr

ul.trrr.r tlrps

l,rrntlrir:rn
h---"

lD

o' =;(oi * o)*

iG: -ol)+oi,

(c.2 s)

Standar l(etelitian Survei Hidrografi

o'=)(o? *",?)tan20= , 'r. o; -o;


2o

)b: - oi)+ oi,

(c.26)
Sejalan dengan perkembangan teknologi baru dalam bidang survei dan pemetaan, terutama dalam l<aitannya dengan semakin luasnya pemanfaatan

(c.27)

negatif.

analisis untuk menentukan kuaritas pengukuran. Erips kesarahan yang berbentuk lingkaran atau nyaris lingkaran (a = b) menunlul<kan bahwa tidak ada korelasi antara x dan y. Kemiringan erips terhadap iumbu probabiristik x menunjukkan korelasi antara variaber x dan y.Jika erips t"rutrr,r, miring ke kiri, maka dikatakan bahwa x dan y berkorerasi positif, sebariknya jika elips kesalahan miring ke ka.an maka dikatakan bahwa x dan yberkorerasi

Tiga persamaan terakhir di atas diturunkan dari fungsi probabiristik variaber x dan y. Berdasarkan geometri erips kesarahan yang diperoreh, dapat dirakukan

teknologi satelit (misalnya: CPS) untuk keperluan penentuan posisi berketelitian tinggi, penggunaan multibeam echosounder atau swatll sonar untuk pengukuran kedalaman dan penyelidikan dasar laut yang dapat
mencakup 100% area survei dasar laut, serta kemajuan teknologi komputer untuk perkapalan, IHO menetapkan standar hidrografi baru yang dipublikasikan pada bulan April 1998. Standar survei hidrografi tersebut merupakan pedoman bagi negara-n('gara anggota IHO (termasuk lndonesra) da la m menyelenggara lca n survei -su rvei h idrografi.

IHO Standards for Hydrographic Surveys dipublikasikan dalam bentuk


Special Publication Number 44 (SP-44 IHO) Edisi ke-4, menggantikan standarstandar survei hidrografi sebelumnya yanB dipublikasikan berturut-turut tahun

1958 (Edisi ke-1), tahun 1 982 (Edisi ke-2) dan tahun 1987 (Edisi ke-3). Ketiga standar survei hidrografi tersebut dimaksudkan untuk keperluan pembuatan peta navigasi laut yang digunakan sebagai pedoman untuk pelayaran. Penentuan skala survei didasarkan pada fase-fase rravigasi laut yang dicerminkan oleh semakin besarnya sl<ala peta untuk fase navigasi yang semakin dekat dengan pelabuhan. Skala survei selanjutnya dijadikan sebagai dasar untuk penentuan standar ketelitian penentuan posisi, mulai dari l<etelitian posisi titik-titik kontrol pantai lringga ketelitian dari objek-objek yang akan clipetakan.
Pada edisi ke-4, penekanan diarahkan pada pengumpulan data untuk

memenuhi berbagai kebutuhan pengguna. Standar ini tidak hanya


drmaksLrdkan untuk keperluan pembuatan peta navigasi laut dan publikasi navig,rsi, tetapi juga untuk memenuhi keperluan seperti: pengumpulan data

Irirlrolir,rli lr,rgi manaiemerr kawasan pesisir, pengawasan lingkungan, 1rr,rrll,r1r,rrr lr,rl,rs l,rul nasional (implementasi UU Rl No. 22119()9) rl,-rn
154

sxl%rr

r.E E- E E- - E r r : Br - - E r rr r - r D - - ] r r. r - internasional (implementasi uNCLos 1gB2), pcmork,l,ur l,rur rlan

meteorologi, serta berbagai proyek kerekayasaan termasuk untuk lx,nggalian sumber daya ketautan (lHo, 1998). sP-44 ini akan diperbaharui setiap lima tahun sekali (Monahan & wells, 2000). Di samping perubahan dalam standar ketelitian penentuan posisi (berbasis sateli0 maupun cakupan area surveidasar laut 10}o/o (dengan multibeam echosounder), pemakaian Sp-44

;;;;;;;; il;;,;, ;;;;,;


Fenentuan Poslsl

:,, : ; ; ;:; ;; ;,

edisi terbaril irti disertai pemahaman tentang teori kesalahan, terutama


pengertian tentang tingkat kepercay aan g|Yo yang berkaitan dengan ketelitian posisi dan kedalaman.

berllahaya (misalnya: pasir). Standar yang digunak,ttt p,trl,t otrlt' rlli l('l,rlr cligunakan pada edisi-edisi SP-44 sebelumnya. Survei ()rtlt' 2 rl,tp,tt rlilxrkai untuk daerah dengan kedalaman kurang dari 200 m yang tidak tercakup '1, sedangkan spesifikasi untuk Survei oleh kriteiia Orde Spesial atau Orde Orde 3 dapat dipakai untuk daerah dengan kedalaman lebih dari 2O0 m.

Klaclflkaal Survel
Survei hidrografi dibagi berdasarkan berbagai persyaratan ketelitian untuk daerah yang disurvei (Tabel D.1). Standar ketelitian untuk masing-masing orde survei mencerminkan kepentingan ini dan secara efektif menggantikan standar penentuan posisidan kerapatan data berdasarkan skala yang digunakan pada standar survei hidrografi edisi sebelumnya.
Tabel

Pada SP-44 Edisi ke-3, disebutkan bahwa kedalaman ditentukan relatlf terhadap titik kontrol sedemikian Fupa sehingga kemungkinan 95% posisi kedalaman yang benar terletak dalam lingkaran dengan .iari-iari 1.5 mm pada skala survei. Sebagai contoh, untuk skala survei 1:5,000 kedalaman terletak 0-7.5 m terhadap posisi sebenarnya dengan tingkat kepercayaan 95%. Dengan demikian, semua peralatan dan kemungkinan kesalahan yang berkaitan dengan penentuan posisi, serta kesalahan penggambaran titik-titik kedalaman (baik secara manual maupun dengan alat plotter), termasuk di dalamnya.

D.l l0.rtrilrcl

nrryel
2 Daerah yang
3

ontr
CONTOH
DAERAH

Spesid
Pelabuhan,

Pelabuhan, pelabuhan tempat berlabuh, dan nrendekati terusan kritis terusan, jalur dengan anjuran, dan hambatan daerah sarat kapal perairan

DaerAh lepas

tidak tercakup pantai yang dalam Orde tidak tercakup Spesial dan 1, dalam Orde
atau daerah Spesial, 1, dengan dan 2 kedalaman hingga 200 m

Dalam standar survei hidrografi yang baru (SP-44 Edisi ke-4), ditetapkan berbagai ketelitian posisi horisontal dengan tingkat kepercayaan yang sama, yaitu 95o/o, namun untuk empat macam orde survei. Salah satu konsep baru yang muncul adalah adanya standar ketelitian posisi yang bergantung pada faktor kedalaman (depth-dependent) yang dikaitkan dengan ketidakpastian posisi kedalaman dari sistem multibeam sonar dengan bertambahnya kedalaman (Tabel D.2).
Tabel D.2 Standar ketelitian posisi titik kedalaman ORDE
KETELITIAN Spesia!

minimum

dengan

kedalaman hinesa 100 m

t
5

2m

m*

5o/d

20 m+ 5"h d 150 m t5"/"d

Survei hidrografi orde spesial mencakup daerah dengan karakteristik dasar

HORISONTAL d = kedalaman dalam m

laut yang berbahaya bagi keselamatan pelayaran. Orde survei ini membutuhkan ketelitian yang lebih tinggi dibandingkan dengan standar ketelitian yang lama. Kantor atau dinas hidrografi negara anggota IHO bertanggung jawab untuk menentukan daerah mana saja yang harus disurvei dengan orde ini, termasuk kualitas data hasil survei. Survci ()r<le l dimaksudkan untuk daerah pclabuhan, perairan pantai d,ln pr.rl,ll,yrr,ul,
r56

Ketelitian relatif titik kontrol primer yang digunakan sebagai acuan untuk pencntuan posisi titik kedalaman dalam standar survei hidrografi edisi baru a{,rl,rlr I :100,000 (survei terestris). Jika penentuan posisi dilakukan dengan satr.lrl (trtr,,,rlrry,r: CPS), maka kesalahan posisi titik kontrol yang dihasilkan lirl,rk lrnh,lr rrrrL.lrilri 10 <'m rlertgan tingkat kepcrcayaan 95'2,. Stxlangkan
157

'!':' !!f!-

DB

-E- ] - - - -- r r - - -r r - ->- - - D - - D r D r
lol<,rl

--;.;:; ,;;;;;:;,.,,
a' + (ua)'

(tidak boleh digunakan untuk memperbanyak titik korrtrol) rrrcnrprrrry.ri ketelitian relatif 1:10,000 jika penentuannya dilakukan se(:(rr(r lr,ristris flan kesalahan posisi maksimal 50 cm jika menggunakan teknik penerrtuan posisi dengan satelit. Posisi horisontal alat-alat bantu navigasi dan fitur-fitur lainnya
yang penting dalam survei hidrografi dalam standar baru, ditentukan dengan standar ketelitian yang diperlihatkan pada Tabel D.3.
Tabe! D.3 Standar ketelitian posisi alat bantu navigasi dan fitur penting lainnya

trntuk titik krltttr<ll sttkttttrlcr y,tttg rligtrnirl<.rn trrrtrrl< lx'n(,nlu,ul po,,rsr

;.- ;,"-,;;

;;;;;;:;
(D.1)

llirt;rs-ltatas kesalaharr (o) urrtuk ketelitian keclalam,rrr rlrlrrlrrtrg tttt'trggtttt,tl<,ttt:

dengan a = kesalahan kedalaman independen (jumlah kesalahan yang bersifat tetap), b = faktor kesalahan kedalaman yang dependen, d = kedalaman dan bd = kesalahan kedalaman yang dependen (jumlah semua kesalahan kedalaman yang dependen). Nilai a dan b untuk masing-masing orde survei ditentukan berdasarkan Tabel D.4.

ORDE
SPESIAT

ORDE

ORDE2&3
5m
20m 20m 20m
ORDE KETEL!TIAN

Alat bantu navigasi tetap dan fitur pentine baei navieasi Caris pantai alami Posisi alat bantu navigasi apunq
Fitur topoerafis

Tabel D.4 Standar ketelitian pengukuran kedalaman Spesial


1

2m
10 m

2m
20m

10m 10m

l0m
20m

a=0.25m
b = 0.0075

KEDALAMAN

a = 0.5m b = 0.013

a = 1.0m b = 0.023

a = 1.0m b = 0.023

Pengukuran Kedalaman
Kesalahan total dalam pengukuran kedalaman, mengacu pada Sp-44 Edisi

Kerapatan Data dan Deteksi Fitur Bawah Laut


Untuk mengantisipasi tuntutan akan kerapatan data yang dibutuhkan untuk
penyelidikan bawah laut, terutama yanB berpotensi membahayakan pelayaran, maka standar tentang hal ini disediakan pada standar survei hidrografi Edisi ke-4. Pada edisi sebelumnya, lebar lajur survei (berkaitan dengan daerah

ke-3, tidak boleh melebihi 0.3 m untuk kedalaman kurang dari 30 m atau 1'/' dari kedalaman untuk kedalaman yang lebih dari 30 m, dengan tingkat kepercayaan 9o'h. lni tidak termasuk kesalahan yang berkaitan dengan

pengukuran pasut, penentuan datum kedalaman dan transfer datum kedalaman dari lokasi pengamatan pasut (palem atau tide gauge). Kombinasi kesalahan-kesalahan yang berhubungan dengan pasut tidak boleh melebihi kesalahan yang diizinkan untuk pengukuran kedalaman. Sedangkan konsep atau hal baru yang dimasukkan dalam SP-44 Edisi ke-4 terdiri dari:

(1)
(2)

Peningkatan tingkat kepercayaan dari 9oo/. menjadi 95Y" agar dapat digunakan untuk pengukuran-pengukuran dalam survei yang lebih
I

cakupan dasar laut) didasarkan pada skala survei, yaitu tidak boleh melebihi satu sentimeter pada skala survei dan interval titik kedalaman tidak boleh melebihi 4 hingga 6 cm pada skala survei kecuali pada daerah yang relatif datar atau dasar laut yang beraturan. Pendekatan yang lebih ilmiah dilakukan oleh IHO sejalan dengan perkembangan kemampuan komputer pengolah data serta kemajuan teknologi side scan sonar dan multibeam sonar yang
telah dicapai. Realisasi dari konsep baru tersebut adalah dengan penentuan kedalaman dasar laut terbaik yang disebut model batimetrik dengan metode interpolasi kedalaman hasil pengukuran. Data survei yang dapat diterima atau ditolak, dinilai dengan membandingkan model kesalahan yang dihasilkan dengan nil,ri yang didasarkan pada Persamaan D.1 untuk ketelitian kedalaman dengan rril,rr ,r rl,rn /r seperti yang ditunjukkan pada Tabel D.5. Jika melebihi statrrlitr y,rll, {lrlrr,r rl.,rrr, rn;rl<a titik-titik kcdalam;ln harus lellih rlirapatkarr.

uas.

Standar ketelitian kedalaman terbagi menjadi kesalahan yang bersifat tetap (flxed error) dan kesalahan yang bergantung pada kedalaman yang bervariasi untuk masing-masing orde survei.

(3)

Kesalahan-kesalahan pengamatan pasut, penentuan datum dan


transfer datum kedalaman telah termasuk dalam penentuan ketclitiarr

kedalaman secara keseluruhan.


158

l5(,

,\im
If

r..l-l.f

l,J.2.a/,
-E-Br:r.f I_L_E:__f I:___>Da _ - I r r: r

Tabel D.5 Standar kerapatan data, deteksi fitur bawah raur, rr:'ar rajur maksimum dan ketelitian model batimetrik

;;;;"-;;;;,;,;il;,
untuk penentuan ketelitian

;;;,

daerah survei harus dikombinasikan dengan kesalah,ttt 1x'trgttkttr,trt ktrl,tl,tttt,ttl

;;;;;, ;

titiktitik

kedalaman.

Mungkin

diperlukan pada

Beberapa pengukuran lainnya, seperti pengambilan sampel bawah laut dan pengamatan arus laut juga masih dicantumkan dalam SP-44 Edisi ke-4. Pengambilan sampel bawah laut dimaksudkan untuk menentukan kondisi
dasar laut (dapat juga disimpulkan dari berbagai sensor, seperti: echosounder,

side scan sonar atau sub-bottom profiler). Kondisi dasar laut ini diperlukan

antara lain untuk penentuan lokasi peniangkaran kapal. Pada kondisi


10%d jika lebih

normal, pengambilan sampel tidak diperlukan pada daerah dengan kedalaman

TIMETRIK TINGKAT

b = 0.05m

lebih dari 200 m. Jarak antar sampel umumnya 10 kali dari lebar jalur survei yang terpilih. Untuk penentuan daerah lokasi penjangkaran, jarak antar sampel dapat semakin dirapatkan. Sedangkan pengamatan arus laut biasanya dilakukan pada daerah sekitar pelabuhan dan terusan, terutama jika kecepatan arus melebihi 0.5 knot. Secara umum, pengamatan arus
sebaiknya dilakukan sepanjang mereka dapat membawa pengaruh terhadap navigasi permukaan. Lamanya pengamatan tidak kurang dari 15 hari (dapat

mencapai 29 hari) dengan interval minimal satu jam'


Agar dapat dilakukan pengkajian secara komprehensif terhadap kualitas data survei, diperlukan dokumen untuk memfasilitasi penggunaan data tersebut untuk berbagai keperluan pengguna. Semua informasi yang berkaitan dengan kualitas data (metadata) hendaknya tidak hanya berkaitan dengan kapal

lebar lajur survei dapat saja dirakukan, jika prosedur-prosedur yang ada telah dipenuhisehingga menjamin deteksi bahaya secara baik. Sistem-sistem sonar yang digunakan untuk masing-masing orde survei harus mampu mendeteksi fitur bawah raut, sesuai dengan standar yang diberikan.

pada skala survei, sedangkan pada standar yang baru bergantung pada kedalaman rata-rata perairan (lihat: Tabel D.5). pengecualian berlaku untuk orde spesial yang menggunakan cakupan dasar laut 1oo%. pembesaran

Berkaitan dengan lebar lajur survei pada edisi-edisi sebelumnya, bergantung

survei, daerah, tanggal dan peralatan yang digunakan, tetapi iuga tentang prosedur-prosedur kalibrasi, penentuan kecepatan gelombang akustik dan
metode-metode reduksi pasut. Estimasi tentang ketelitian data yang berkaitan dengan tingkat kepercayaan sebaiknya juga dimasukkan.

Referensi
lnternational Hydrographic Organization, (1998). IHO Standards for Hydrographic Surveys. Special Publication Number 44, 4th Edition. lnternational Hydrographic Bureau - lHB, Monaco' Monahan, D. & Wells, D. (2000). IHO SP 44 Standards for Hydrographic Surveys and the Demands of the New Century, Ocean Mapping Croup, UNB, Canada.

Lain-lain
Dalam standar survei yang baru, persyaratan yang berkaitan dengan pengukuran tinggi (pengamatan) pasut juga terah ditetapkan. Kesarahan pengukuran total tidak boreh merebihi t 5 cm pada tingkat kepercayaan 95% untuk orde spesiar dan t 10 cm untuk orde survei rainnya. Kesarahan pengukuran tinggi pasut ditambah dengan kesalahan pada pr,rs,., rx,rontuan
160

161

!':'!'!T
Pustaka

"!nDD

-D r -- -.r

D- r--D

D.-r---

-- - - D, r, -

Djunarsjah, E. (2001). Standar Survei (Baru) clalam .strrvcl t tidrograf i (sP - 44 lHo Edisi ke-4 Tahun t99B). Forum rlmiah Tahunan rsr.
Surabaya.

Federal ceographic Data Committee (2000). ceospatial positioning Accuracy Standards. subcomrnittee on Marine and Coastal spatial Data, Federal Ceographic Data Committee. Virginia, USA. Janhidros TNI-AL (1983). Standar Ketelitian Survey Hidrografi, Jawatan Hidro-oseanografi TNI-AL. Jakarta. Mills, J. (1998). New /nrernational standards for Hydrographic Adoptect. Newsletter Seahorse. The Hydrographic society of America, vol. Vll No.4. Rockville, USA. Thomson, D.8., Wells, D.& Falkenberg, w. H. (r981). An rntroduction to Hydrographic surveying. Lecture Notes No. 53. University of New Brunswick, Canada.
Dr. der Nal. Poerbandono,

Poerbandono menyelesaikan riset doktoral tentang pengukuran dan pemodelan arus dan angkutan

sedimen

Departemen llmu-ilmu Kebumian, Fakultas.-Matematika dan llmu Pengetahuan Alam, Universitas Kiel, Jerman 1999 -2003' Sejak diangkat

di

menjadi.dosen

di

Kelompok Keahlian (KK)

s.T., M.M.

Hidrografi, Departemen Teknik Ceodesi, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) - lnstitut Teknologi Bandung ilfg) t 997, ia mulai tertarik

dengan kajian dinamika fisik kawasan pesisir, angkutan sedimen dan instrumen akustik bawah air. Publikasi-publikasinya di konferensidan workshop ilmiah internasional dalam 3 tahun terakhir, seperti: lnternational Conference on

Coastal Engineering, Coastal Sediment, ADCP

Users

Workshop, F/C dan IEEE Working Conference on Current Measurement Technology, bertopik pengukuran dan pemodelan angkutan sedimen serta
penggunaan instrumen akustik untuk pendugaan kandungan dan laju angkutan

sedimen. Poerbandono adalah dosen di Departemen Teknik Ceodesi ITB yang bertugas mengajar mata kuliah Hidrografi, Angkutan sedimen dan Dinamika Pesisir pada program sar.iana dan mata kuliah Dinamika Pesisir pada program magister. Tahun ini hingga dua tahun mendatang ia diminta sebagai post-doctorate research fellow di Universitas Kiel, Jerman untuk menjalankan penelitian tentang pengukuran dan pemodelan dinamika badan air dan sedimen di perairan tropis serta beberapa tugas akademik lainnya dalam rangka kerjasama penelitian dan pendidikan antara ITB dan Universitas Kiel, Jerman. Lahir di Jember, 25 Januari 1970. Menamatkan
Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP)dan Sekolah Menengah At;rs (SMA) rli kota yang sama. Menikah dengan salsalia Anggaraswati sejak 1()()') rl,rrr '.r'i,rk 2000 dikaruniai satu anak laki-laki.

"162

161

Ilonlrlbulor

Eka Djunarsjah adalah Magister Teknik alumni Departemen Teknik Ceodesi FTSP - ITB tahun 1996 dan kandidat doktor dalam bidang teknik geodesi dan geomatika di departemen yang sama. la menaruh minat pada pengembangan peta laut elektronik, teori navigasi laut dan spektrum implementasi Aspek-aspek Ceodetik Hukum Laut (Ceodeti c Aspects of the Law of the lr. Eka Djunarsiah, M,T. Sea-CALOS)- yang menjadi tema riset doktoralnya. Diangkat menjadi dosen di KK Hidrografi, Departemen Teknik Ceodesi FTSP - ITB tahun 1994 dan banyak terlibat dalam kegiatan nasional yang berkaitan dengan kajian pemetaan pesisir dan laut serta penetapan batas wilayah di laut. Telah menghasilkan beberapa diktat kuliah tentang hidrografi dan Aspek Teknik Hukum Laut untuk Departemen Teknik Ceodesi FTSP lTB. Di Departemen Teknik Ceodesi lTB, saat ini Eka Djunarsjah aktif mengajar mata kuliah Hidrografi, Aspek Teknis Hukum Laut dan Sistem Pendukung Keputusan pada program sarjana dan mata kuliah Batimetri dan Penentuan Posisi pada program magister. Selain itu, ia pun adalah dosen di Sekolah Tirtggi Teknologi Angkatan Laut (STTAL) yang bertugas mengajar mata kuliah Survei dan Penentuan Posisi Kelautan. Beberapa penelitian yang pernah dilakukannya antara lain: Pemetaan Batas Propinsi Laut dalam Perspektif UU No. 22 tentang Pemerintahan Daerah, Kajian Batas Laut lndonesia dan Timor Leste, Kajian lmplementasi Kadaster Kelautan di lndonesia, Kajian Batas Maritim lndonesia dan Negara Tetangga, Kajian Datum Maritim Batas Laut lndonesia dan Negara Tetangga dan Model Prediksi LAT untuk Penetapan Batas Laut di Perairan lndonesia. Lahir di Curup, 27 luli 1967 dan menyelesaikan SD di kota yang sama, menamatkan SMP hingga SMA di Bandung. Tahun 1996 menikah dengan Laksmi dan dikaruniai satu anak perempuan yang lahir tahun 1 997.
1AA

Setelah menamatkan program magister di Universitas New Brunswick dengan topik tesis

- menyelesaikan penelitian radio, Samsul Bachri doktoral di Universitas Curtin, Australia pada tahun 1999 dengan topik disertasi tentang deteksi
i: lr. Samsul Bachri, M.Eng., Ph.D.

penentuan posisi horisontal di laut dengan gelombang

berkontribusi pada Forum llmiah Tahunan lkatan Surveyor lndonesia dan


beberapa konferensi CALOS. Memi nati Sistem I nformasi Ceografi dan apl i kasi data penginderaan jauh untuk hidrografi pesisir dan perairan pedalaman.

Telah menjadi akademisi di KK Hidrografi, Deparremen Teknik ceodesi FTSP - ITB sejak tahun 1979 dan telah

perubahan daerah aliran sungai dengan penginderaan jauh dan sejak ZOO3 menjabat Ketua KK Hidrografi.

Lahir di Bandung, 28 Maret 1954 dan menyelesaikan pendidikan dasar dan

menengah di kota yang sama. Tahun 1985 menikah dengan Lina Herlina (198{} dan dikaruniai seorang anak perempuan (1985) dan dua anak laki-laki

dan 2002).

Hasanuddin Z. Abidin menyelesaikan penelitian doktoral di Departemen Teknik Ceodesi dan Ceomatika, Universitas New Brunswick, Kanada pada tahun 1 992 dengan topik disertasi tentanS, aspek-aspek geometrik dan komputasi pemecahan
ambiguity secara on-the-fly pada pengamatan sinyal Clobal Positining System (CPS). Sejak tahun 1986

di KK Ceodesi, Departemcn lr. ]larantrtltlin Zainal Abidin, menjadi akademisi M.Sr.. Ph.l). Teknik Ceodesi FTSP ITB dan telah barry;rk rrrprrrl,rrlrlrl.,r,,rk,rrr lr,rsil-hasilJrenr.litiitnnya pada iurnal-f urnal rlan krlnfi'rctrsi

165

ilmiah ittlt'rtt;tsiott;rl <littr tt.tsiottitl st:rl,t lclirlt ptrllr nrlrrrrlr,,

lr,,l r,,r,rp,r lrrrl<rr

teks. Meminati aplil<asi CPS untirl< berbagari aplil<asi peren(.ln,r,urrl,rrr irrrltrslri, mitigasi bencana dan vulkanologi. Pernah menerima beberapa pcnglrargaan

nasional dan internasional sebagai dosen dan peneliti teladan. Lahir di Jakarta, B Agustus 1960 serta menyelesaikan SD di Jakarta dan Aceh serta SMP dan SMA di Jakarta. Menikah dengan Budi Mulyanti (1 985) dan dikaruniai anak perempuan (1986) serta tiga anak laki-lal<i (dua di antaranya tahun 1 990 dan 1 995).

lrdam Adil adalah Magister Tel<nik dari Program Studi Ceofisika Terapan, Fal<ultas llmu Kebumian dan Teknologi Mineral - ITB 1994 dan saat ini merupakan akademisi di KK Hidrografi, Departemen Teknik Ceodesi FTSP - ITB yang paling berpengalaman dalam hidrografi praktis. Selak menjadi dosen ITB 1984 hingga kini, ia menaruh
perhatian besar pada instrumentasi dan otomatisasi al<uisisi dan transmisi data batimetri serta telah banyak terlibat dalam berbagai kegiatan survei hidrografi untul< perencanaan wilayah perairan dan eksplorasi lepas pantai. Pengetahuan hidrografinya diperkuat saat menjalani pendidikan lanjutan di Universitas New Brunswick, Kanada 1989-1990. Kelahiran Jal<arta, 21 September 1952 dan di l<ota yang sama pula menyelesaikan SD hingga SMA. Menil<ah dengan Neny Widya sejal< 1983 dan dikaruniai dua anak lal<i-lal<i (1984 dan 1990) dan seorang anak perempuan (1998).
lr. lrdam Adil,
M.T.

l6fr

Anda mungkin juga menyukai