Anda di halaman 1dari 8

1

1. Paham Liberalisme Thomas Hobbes Liberalisme adalah sebuah ideologi, pandangan filsafat, dan tradisi politik yang didasarkan pada pemahaman bahwa kebebasan adalah nilai politik yang utama.Secara umum, liberalisme mencita-citakan suatu masyarakat yang bebas, dicirikan oleh kebebasan berpikir bagi para individu. Paham liberalisme menolak adanya pembatasan, khususnya dari pemerintah dan agama.Dalam masyarakat modern, liberalisme akan dapat tumbuh dalam sistem demokrasi, hal ini dikarenakan keduanya sama-sama mendasarkan kebebasan mayoritas Liberalisme adalah sebuah ideologi yang mengagungkan kebebasan. da dua macam Liberalisme, yakni Liberalisme !lasik dan Liberallisme "odern. Liberalisme !lasik timbul pada awal abad ke 1#. Sedangkan Liberalisme "odern mulai muncul se$ak abad ke-%&. 'amun, bukan berarti setelah ada Liberalisme "odern, Liberalisme !lasik akan hilang begitu sa$a atau tergantikan oleh Liberalisme "odern, karena hingga kini, nilai-nilai dari Liberalisme !lasik itu masih ada. Liberalisme "odern tidak mengubah hal-hal yang mendasar ( hanya mengubah hal-hal lainnya atau dengan kata lain, nilai intinya )core values* tidak berubah hanya ada tambahan-tanbahan sa$a dalam versi yang baru. +adi sesungguhnya, masa Liberalisme !lasik itu tidak pernah berakhir. Dalam Liberalisme !lasik, keberadaan individu dan kebebasannya sangatlah diagungkan. Setiap individu memiliki kebebasan berpikir masingmasing , yang akan menghasilkan paham baru. da dua paham, yakni demokrasi )politik* dan kapitalisme )ekonomi*. "eskipun begitu, bukan berarti kebebasan yang dimiliki individu itu adalah kebebasan yang mutlak, karena kebebasan itu adalah kebebasan yang harus dipertanggung$awabkan. +adi, tetap ada keteraturan di dalam ideologi ini, atau dengan kata lain, bukan bebas yang sebebas-bebasnya. Paham liberalisme menolak adanya pembatasan, khususnya dari pemerintah dan agama. Liberalisme menghendaki adanya, pertukaran gagasan yang bebas, ekonomi pasar yang mendukung usaha pribadi )private enterprise* yang relatif bebas, dan suatu sistem pemerintahan yang transparan, dan menolak adanya pembatasan terhadap pemilikan individu. -leh karena itu paham liberalisme lebih lan$ut men$adi dasar bagi tumbuhnya kapitalisme.

Dalam masyarakat modern, liberalisme akan dapat tumbuh dalam sistem demokrasi, hal ini dikarenakan keduanya sama-sama mendasarkan kebebasan mayoritas. .andingkan -/ford "anifesto dari Liberal 0nternasional 1 23ak-hak dan kondisi ini hanya dapat diperoleh melalui demokrasi yang se$ati. Demokrasi se$ati tidak terpisahkan dari kebebasan politik dan didasarkan pada persetu$uan yang dilakukan dengan sadar, bebas, dan yang diketahui benar ) enlightened* dari kelompok mayoritas, yang diungkapkan melalui surat suara yang bebas dan rahasia, dengan menghargai kebebasan dan pandangan-pandangan kaum minoritas 2. Pokok-Pokok Liberalisme da tiga hal yang mendasar dari 0deologi Liberalisme yakni !ehidupan, !ebebasan dan 3ak "ilik )Life, Liberty and Property*. Dibawah ini, adalah nilainilai pokok yang bersumber dari tiga nilai dasar Liberalisme tadi1

!esempatan yang sama. (Hold the Basic Equality of All Human Being) . .ahwa manusia mempunyai kesempatan yang sama, di dalam segala bidang kehidupan baik politik, sosial, ekonomi dan kebudayaan. karena kualitas manusia yang berbeda-beda,
4%5

'amun dalam

sehingga

menggunakan persamaan kesempatan itu akan berlainan tergantung kepada kemampuannya masing-masing. 6erlepas dari itu semua, hal ini )persamaan kesempatan* adalah suatu nilai yang mutlak dari demokrasi.

Dengan adanya pengakuan terhadap persamaan manusia, dimana setiap orang mempunyai hak yang sama untuk mengemukakan pendapatnya, maka dalam setiap penyelesaian masalah-masalah yang dihadapi baik dalam kehidupan politik, sosial, ekonomi, kebudayaan dan kenegaraan dilakukan secara diskusi dan dilaksanakan dengan persetu$uan , dimana hal ini sangat penting untuk menghilangkan egoisme individu ( Treat the Others Reason Equally.)

Pemerintah harus mendapat persetu$uan dari yang diperintah. Pemerintah tidak boleh bertindak menurut kehendaknya sendiri, tetapi harus bertindak menurut kehendak rakyat.(Government y the !onsent of The "eo#le or The Governed).

.er$alannya hukum (The Rule of $a%). 8ungsi 'egara adalah untuk membela dan mengabdi pada rakyat. 6erhadap hal asasi manusia yang merupakan hukum abadi dimana seluruh peraturan atau hukum dibuat oleh pemerintah adalah untuk melindungi dan mempertahankannya. "aka untuk menciptakan rule of la%, harus ada patokan terhadap hukum tertinggi )9ndang-undang*, persamaan dimuka umum, dan persamaan sosial.

:ang men$adi pemusatan kepentingan adalah individu. (The Em#hasis of &ndividual) 'egara hanyalah alat (The 'tate is &nstrument). 'egara itu sebagai suatu mekanisme yang digunakan untuk tu$uan-tu$uan yang lebih besar dibandingkan negara itu sendiri. Di dalam a$aran Liberal !lasik, ditekankan bahwa masyarakat pada dasarnya dianggap, dapat memenuhi dirinya sendiri, dan negara hanyalah merupakan suatu langkah sa$a ketika usaha yang secara sukarela masyarakat telah mengalami kegagalan.

Dalam liberalisme tidak dapat menerima a$aran dogmatisme (Refuse (ogatism). 3al ini disebabkan karena pandangan filsafat dari +ohn Locke )1#7%-1;&<* yang menyatakan bahwa semua pengetahuan itu didasarkan pada pengalaman. Dalam pandangan ini, kebenaran itu adalah berubah.

3. Thomas Hobbes Dalam Hubungan Internasional 6homas 3obbes merupakan salah seorang tokoh realis yang terkenal dengan karyanya yang ber$udul $eviathan. Dalam karyanya tersebut 3obbes menulis tiga asumsi dasar yang pertama bahwa manusia itu sama, yang kedua manusia berinteraksi pada kondisi anarki, dan yang ketiga yaitu manusia dilingkupi oleh kompetisi. sumsi 3obbes ini sanagt mempengaruhi manusia agar tetap dapat berrtahan dalam state of nature dimana yang kuatlah yang bisa menang karena tidak ada pemerintah atau kekuatan yang mngatur mereka )anarki*. !arena setipa individu akan mempertahankan dirinya sendiri dengan keegoiannya yang akan meynyebabkan sebuah kompetisi dari individu lainya. Pendapat 3obbes ini tak $auh berbeda dari pendapat-pendapatsebelumnya, sehingga disini penulis bisa menyimpulkan bahwa asumsi dasar realis adalah human selfishness )=egoism>* konsekuensi dari asumsi man are equal, anarchy

<

)tidak adanya pemerintahan tunggal atau international order*, #o%er, dan rationality. !ontribusi pemikiran hobbes dalam hubungan international terletak pada pandangan bahwa 'egara merupakan satu kesatuan utuh yang mempunyai wewenang memonopoli masyarakat atas lembaga yang beker$a, gara terhidar dari ke$ahata yang dilakukan oleh masnuis, antar masyarakat, antar individu. Dari pengertian bahwa menusia merupakan Leviatan yang dapat berubah setiap waktu, $ika digambarkan dalam bentuk sebuah 'egara yang utuh, 'egara akan men$adi leviathan ketika kepentingan dan dorongan dari sifat alamiah manusia didalamnya )lembaga?penguasa* akan meciptakan sebuah perang,dimana sifat negara dalam leviathan adalah nafsu demi kepentiangan nasional. Dalam politik international pandangan @ealisme sangat berperan ketika perang dunia 00, ketika ada beda pandangan antara kebi$akan S dan 9nisovyet dalam menyikapi ter$adinya perang karena ideology atau kekuasaan . .isa dilihat dalam perang dingin yang ada ter$adi bipolaritas power, yang kemudian bipolar runtuh dengan menghasilkan satu kekuatan tunggal yang menciptakan sistem international berubah haluan, dari pandangan realist kental akan nafsu kekuasaan manusia, ber$alan ke proses cooperative. 0tu pen$elasan bahwa pandangan hobbes $uga mempunyai kontribusi terhadap hubungan politik international, dimana intinya adalah pada sifat kodrat alamiah manusia yang menginginkan sesuatu yang lebih karena nafsu mereka, yaitu power. Dapat ditaraik kesimpulan dalam pemikiran 3obbes adalah letak dari posisi manusia sebagai penggerak sistem 'egara, untuk dapat berperan penuh tanpa ada tekanan dari pihak lainya,karena 'egara adalah bentuk utuh kedaulatan yang diakui oleh masyarakat atas kontraksosial yang disepakati dalam masyarakat itu. 4. Thomas Hobbes; Konsep tate !" #ature 6okoh ini berangkat dari sebuah konsep sama. :akni sebuah konsep yang dinamakan konsep negara alamaiahA atau yang lebih dikenal dengan konsep State of 'ature. 'amun dalam perkembangannya, kedua pemikir ini memiliki pemikiran yang sama sekali bertolak belakang satu sama lainnya. +ika ditin$au dari awal, konsepsi State of 'ature yang mereka pahami itu sesungguhnya berbeda. 3obbes )1BCC , 1#;D* berpandangan bahwa dalam =>State of 'ature>>,

individu itu pada dasarnya $elek )egois* , sesuai dengan fitrahnya. 'amun, manusia ingin hidup damai. -leh karena itu mereka membentuk suatu masyarakat baru , suatu masyarakat politik yang terkumpul untuk membuat per$an$ian demi melindungi hak-haknya dari individu lain dimana per$an$ian ini memerlukan pihak ketiga )penguasa*. .erbeda dengan 3obbes, +ohn Locke )1#7% , 1;&<* berpendapat bahwa individu pada State of 'ature adalah baik, namun karena adanya kesen$angan akibat harta atau kekayaan, maka khawatir $ika hak individu akan diambil oleh orang lain sehingga mereka membuat per$an$ian yang diserahkan oleh penguasa sebagai pihak penengah namun harus ada syarat bagi penguasa sehingga tidak seperti =membeli kucing dalam karung>. Sehingga, mereka memiliki bentuk akhir dari sebuah penguasa? pihak ketiga )'egara*, dimana 3obbes berpendapat akan timbul 'egara "onarkhi .ertolak dari kesemua bsolute sedangkan Locke, "onarkhi !onstitusional. hal tersebut, kedua pemikir ini sama-sama

menyumbangkan pemikiran mereka dalam konsepsi individualisme. 0nti dari terbentuknya 'egara, menurut 3obbes adalah demi kepentingan umum )masingmasing individu* meskipun baik atau tidaknya 'egara itu kedepannya tergantung pemimpin negara. Sedangkan Locke berpendapat, keberadaan 'egara itu akan dibatasi oleh individu sehingga kekuasaan 'egara men$adi terbatas , hanya sebagai 2pen$aga malamE atau hanya bertindak sebagai penetralisasi konflik. 3obbes, yang terkonstruksi oleh lingkungan yang teringkas sebagai state of %ar, pada akhirnya menekankan ke)tidak*amanan, force, dan keberlangsungan hidup sebagai salah satu derivasi pandangan pesimisnya terhadap sifat dasar manusia di tengah sistem yang anarkis. Setengah abad berikutnya, kesengsaraan yang dirasakan 0nggris sudah tidak seperti dahulu lagi, sehingga kondisi anarki tidak terlalu mengancam seperti dahulu, dan +ohn Locke dapat berpandangan lebih optimis dengan argumennya bahwa walaupun state of nature tidak memiliki kedaulatan bersama, masyarakat tetap dapat mengembangkan hubungan dan membuat per$an$ian. Dapat kita lihat se$ak prekursor awal terbentuknya kedua perspektif ini sangat berlawanan. Dalam perkembangannya, kedua perspektif ini pun bagai air dengan minyak. Dalam tataran asumsi dasar, realisme menyatakan bahwa manusia tidak selamanya baik, sementara liberalisme menyatakan bahwa manusia bersifat baik

secara inheren. @ealisme meyakini bahwa konflik sangat inheren dalam sifat dasar manusia karena perbedaan kepentingan, sementara liberalisme meyakini bahwa manusia lebih memilih damai daripada konflik. 'icollo "achiavelli, merepresentasi kalangan realis, mengan$urkan bahwa politik harus dibedakan secara $elas dari moralitas, dan menekankan politik di atas moralitas )manifestasi politik imoral*. 0mmanuel !ant, merepresentasi kalangan liberalis, menekankan moralitas di atas politik. @ealisme menekankan konsepsi kedaulatan nasional, sementara liberalisme memandangnya sebagai sesuatu yang ambigu dan rapuh. Senada dengan kritik liberalisme ini, kita dapat melihat bahwa realisme, sebaku apapun teori umumnya, tetap sa$a dapat dikatakan tidak matang secara konseptual. 3al ini dapat ditin$au dari tidak adanya suatu formulasi standar serta adanya suatu ambiguitas mengenai konsep-konsep fundamental dalam perspektif ini, seperti #o%er, alance of #o%er, dan kepentingan nasional.

!alangan realis memahami sistem dunia hierarkis berdasarkan kepemilikan sumber-sumber #o%er. 'amun, apa yang dimaksud dengan #o%er iniF 3ans +. "orgenthau membedakannya dengan influence dan force serta membedakan antara usa le dengan unusa le #o%er dan legitimate dengan illegitimate #o%er. 'amun, perbedaan yang diungkapkannya setipis kertas, sulit untuk akhirnya sampai pada persetu$uan bersama tentang konsepsi #o%er yang standar. Sama seperti istilah alance of #o%er. +oseph S. 'ye mendefinisikannya antara lain sebagai distribusi #o%er, kebi$akan, maupun sistem multipolar. 'amun, Daniel S. Papp mengungkapkan bahwa pengertian pasti istilah ini masih dalam perdebatan1 dalam satu kasus, alance of #o%er berarti dua negara memiliki kapabilitas yang kira-kira seimbang( namun dalam kasus lain, ia $ustru berarti ada suatu ketidakseimbangan( dan dalam kasus lain, ia menggambarkan hubungan yang dinamis dan berubah. Serupa dengan konsepsi kepentingan nasional. Papp menga$ukan berbagai pertanyaan yang menun$ukkan ambiguitas konsepsi ini, seperti, Siapa di dalam negara melalui yang mendefinisikan kepentingan di nasionalF negara pakah yang kepentingan nasional berubah ketika pemerintahan bertransisi, baik secara damai atau kudetaF !elompok mana dalam mendefinisikan negara mana yang merupakan kawan maupun lawan suatu

negaraF Dapat kita lihat bahwa pertanyaan-pertanyaan yang dia$ukan Papp memiliki gaung liberalisme, yang berasumsi bahwa negara adalah aktor yang nonuniter dan terfragmentasi. Padahal, konsepsi kepentingan nasional merupakan konsepsi tolak ukur mendasar dalam realisme. "en$awab kritik di atas, kalangan realis balik menyerang liberalisme. genda politik internasional liberalisme yang sangat plural membuyarkan fokus analisis. 9nit analisis yang sangat $amak dalam negara men$adikan kalangan liberalis sulit mengagregasi faktor-faktor yang berperan dalam mengelaborasi fenomena. !onstelasi pengaruh yang terfragmen dalam aktor-aktornya membuat proses decision ma)ing dalam liberalisme tidak praktis. sumsi bahwa negara bukanlah aktor rasional, negara tidak #redetermined, dan variasi pada tu$uan membuat fungsi prediksi perspektif ini tidak sepraktis realisme. .anyaknya varian liberalisme, baik secara filosofis )seperti pasifisme liberal, imperialism liberal, dan internasionalisme liberal( liberalisme sosial dan liberalisme kosmopolitan( kosmopolitanisme moral dan komunitarianisme moral( serta liberalisme restraint dan im#osition* maupun secara epistemologis )liberalisme ideasional, liberalisme komersial, dan liberalisme republikan* membuat sulit menyintesis suatu analisis bersama antara seluruh varian tersebut, sehingga tidak dapat dilakukan generalisasi. !alangan realis menglaim bahwa kalangan liberalis tidak dapat men$elaskan kontinuitas konflik dan perang yang inheren dalam kehidupan manusia sebagaimana $uga dalam pergaulan internasional antarnegara. "ereka tidak menerima argumentasi liberalis yang membedakan fenomena-fenomena yang ter$adi dalam *one of %ar dan yang ter$adi dalam *one of #eace. 3al ini disebabkan kalangan realis meyakini pentingnya satu teori umum yang universal, yang dapat men$elaskan fenomena-fenomena yang ter$adi dalam hubungan internasional, di manapun ia ter$adi. !alangan liberalis, sebaliknya, menglaim bahwa kalangan realis cenderung men$ustifikasi dan melegitimasi validitas teorinya melalui fenomena yang ter$adi. "enurut mereka, realis akan terus mempertahankan gagasan ideasionalnya bahwa manusia akan cenderung berkonflik satu sama lain dengan menyodorkan contoh berbagai peperangan yang ter$adi secara kontinu di dunia, yang bagi liberalis hanyalah satu aspek dalam politik antarnegara. Liberalis tidak dapat menerima pandangan realis yang

abai terhadap berbagai ancaman nonmiliter dan nontradisional, di mana asumsi liberalis mengklaim ekstensivitas agenda yang dapat men$adi bahasan politik internasional serta tidak ada dikotomi antara high #olitics dengan lo% #olitics.