Anda di halaman 1dari 3

ISLAM UNTUK DISIPLIN ILMU 2 (IDI 2) Dosen pengampu Dr. Ir.

Suheimi Nurusman

Disusun Oleh : Andri Atun Nimah (1001135007) Elis Dahlia (1001135018) Kartika (1001135027)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR. HAMKA 2013

Dikotomi merupakan pemisahan antara ilmu agama dan ilmu umum. Praktek dikotomi tersebut telah banyak menimbulkan problem dalam sistem pendidikan. Problem pertama, pendukung ilmu agama menganggap bahwa ilmu-ilmu umum itu bidah atau haram dipelajari karena berasal dari orang-orang kafir, sementara para pendukung ilmu umum menganggap ilmu agama sebagai pseudoilmiah, sebuah mitologi yang tidak akan mencapai tingkat ilmiah karena objeknya tidak bersifat empiris. Problem kedua yang muncul adalah timbulnya kesenjangan tentang sumber ilmu agama dan ilmu umum. Pendukung ilmu agama hanya menganggap valid sumber informasi yang berasal dari kitab suci dan sunnah Nabi, sedangkan pendukung ilmu umum hanya mengganggap valid informasi yang diperoleh melalui pengamatam indriawi. Problem ketiga berkenaan dengan objek-objek ilmu yang dianggap sah untuk sebuah disiplin ilmu. Sains modern menentukan objek ilmu yang sah adalah segala sesuatu yang dapat diamati oleh indera, sedangkan ilmu yang mempelajari objek yang tidak bisa diobservasi tidak akan dapat mencapai status ilmiah. Problem keempat adalah munculnya disintegrasi pada tatanan klasifikasi ilmu. Penekanan sains modern pada objek empiris menimbulkan kecenderungan untuk mempelajari ilmu fisika beserta cabangnya, sampai-sampai mereka mengabaikan ilmuilmu lain, seperti etika dan agama. Problem kelima yang muncul menyangkut metodologi ilmiah, sains modern pada dasarnya hanya mengenal satu metode yaitu observasi. Di pihak lain, kaum agamais tradisional mengembangkan metode yang menjauhkan umatnya dari penggunaan pengamatan indera dan penalaran akal dalam ilmu-ilmu agama. Problem keenam adalah sulitnya mengintegrasikan berbagai pengalaman manusia, khususnya indra, intelektual, dan intuisi sebagai pengalaman riil dari manusia yang sering dianggap tidak objektif oleh sains modern. Tawaran solusi untuk mengatasi segala problem yang timbul akibat adanya dikotomi ilmu antara ilmu agama dan ilmu umum adalah islamisasi ilmu pengetahuan sebagaimana yang dirumuskan oleh Al-faruqi yang secara umum mengusung rumusan konsep paduan antara logika dengan iman kepada wahyu Allah atau berpadu antara pikir dan zikir. Tawaran Al-faruqi sebagai solusi problem dikotomi pendidikan adalah Islamisasi ilmu dalam pendidikan, yakni pemaduan kedua sistem pendidikan antara Islam klasik dan Barat modern melalui filterisasi ilmu. Pola pendidikan yang diterapkan harus selalu dikaitkan dengan sistem keimanan yang berlandaskan ruh islam. Ruh adalah semangat dan daya yang menghidupkan dan mengarahkan untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam hal ini, ruh Islam adalah Al-quran, atau cahaya Allah, atau Al-huda. Ajaran ajaran alquran harus diinternalisasikan ke dalam jiwa dan keseharian, sehingga menjadi

potensi dan kekuatan yang menghidupkan. Proses internalisasi Al-quran dapat dilaksanakan melalui proses belajar mengajar, pengaturan situasi dan kondisi serta suri teladan pejabat serta dosen. Potensi Al-quran yang ada dalam hati akan memadukan pikir dan zikir, sehingga ilmu tidak akan dikotomis. Solusi selanjutnya, adalah modernisasi islam. Modernisasi berarti berfikir dan bekerja menurut fitrah atau sunnatullah yang hak. Untuk melangkah modern, umat Islam dituntut memahami hukum alam (perintah Allah swt) sebelumnya yang pada giliran berikutnya akan melahirkan ilmu pengetahuan. Modern berarti bersikap ilmiah, rasional, menyadari keterbatasan yang dimiliki dan kebenaran yang didapat bersifat relatif, progresif-dinamis, dan senantiasa memiliki semangat untuk maju dan bangun dari keterpurukan dan ketertinggalan. Pandangan sains modern barat yang sering menganggap rendah status keilmuan ilmu-ilmu agama karena tidak bisa dipandang ilmiah karena objeknya bersifat empiris. Meskipun ilmu agama banyak mengandung unsur-unsur yang bersifat transedental yang tidak bisa dikatakan ilmiah karena objeknya yang tidak bersifat empiris tentang keabsahannya. Solusi berikutnya, integrasi proses yaitu memadukan kembali ilmu umum dengan ilmu agama, guru matematika dan bidang studi lainnya harus menyampaikan pesan-pesan dan nilainilai agama di setiap pelajaran yang disampaikannya kepada siswa. misalnya dengan menganjurkan siswa agar ilmu yang mereka pahami harus digunakan kepada hal-hal yang berguna bagi orang lain, begitu juga guru sains misalnya ketika mengajarkan tentang makhluk hidup, planet dsb guru harus menyampaikan bahwa semua makhluk itu adalah ciptaan Allah Swt. Adapun guru Agama juga harus menekankan kepada siswa tentang pentingnya belajar baik pelajaran umum maupun agama. Solusi terbaik adalah dengan memadukan ketiga tersebut dan menggembangkannya dalam sebuah buku pengetahuan yang didalamnya sudah terbentuk relevensi antara ilmu agama dan ilmu pengetahuan yang terpadu, yakni yang bersumber dari Alquran, al-hadits dan alam. namun hal tersebut dapat dibuktikan melalui sejarah