Anda di halaman 1dari 18

1

BAB I LAPORAN KASUS

I.

IDENTITAS PASIEN Nama Umur Jenis kelamin Alamat : Sdr. N : 21 tahun : Laki-laki : Kaponan, Pakis, magelang

Diagnosis Pre-Op : Open fraktur os digitorum 2, 3, 4 Tindakan Op Jenis anestesi Tanggal masuk Tanggal Operasi : Pasang wire di digitorum 2, 3, 4 : General anestesi : 8 Oktober 2012 : 9 Oktober 2012

II. PEMERIKSAAN PRE-ANESTESI BB: 55kg B1 (Brain) GCS : 15 TB : 160cm

Riwayat operasi : Riwayat Alergi obat : B2 (Breath) Respiratory Rate : 22x/mnt T1-T8 Mallapati B3 (Blood) Tekanan darah Nadi Hasil Lab : 130/90 mmHg : 69x/mnt : WBC 15,2 Lym 14,3 B4 (Bladder) : dbn :1

DBN B5 (Bowel) Bising usus Nyeri tekan B6 (Bone) Open fraktur os digitorum II, III, IV Kesimpulan ASA PS 2 : 8x/mnt :-

Acc Anestesi: Puasa 6 jam pre-op

III. RENCANA ANESTESI 1. Persiapan Anestesi : Informed conse Pasien puasa 6 jam pre-op Infus RL 20tpm

2. Jenis Anestesi : General Endo Trakeal Anestesi (GETA) 3. Monitoring : tanda vital setiap 5 menit, kedalaman anestesi, perdarahan, dan cairan 4. Perawatan pasca anestesi di Recoovery Room (RR)

IV.

TATALAKSANA ANESTESI

1. Persiapan Persiapan Pasien a. Periksa persetujuan operasi dan identitas penderita. b. Pemeriksaan tanda-tanda vital : T : 134/87 mmHg R : 20 X/menit N : 80 x/menit S : 36,5 C

c. Infus RL 24 tts/menit yang terpasang pada tangan kiri

Persiapan obat a. Premedikasi : Midazolam, Petidin b. Induksi : Propofol c. Pelumpuh otot : Vecuronium bromide 4mg d. Maintenance : O2, N2O, dan sevofluran Persiapan Alat a. Scope : Stetoscope b. Tube : Endotrakeal tube c. Airways : Guedel d. Tape : plester e. Introducer : Stilet f. Suction : penyedot lendir dan ludah g. Mesin anestesi 2. Pelaksanaan Anestesi a. Jam 11.50 pasien masuk kamar operasi, ditidurkan telentang di atas meja operasi, manset dan monitor dipasang. b. Jam 11.55 dilakukan premedikasi yaitu dengan pemberian Midazolam 3mg, Petidin 50 g i.v c. Jam 11.58 dilakukan induksi dengan propofol 100 mg i.v. Setelah reflek bulu mata menghilang d. Pre-Oxigenasi : O2 6L/mnt dengan ventilasi tekanan positif selama 3menit e. Fasilitas intubasi : vecorumium bromide 4mg f. Jam 12.01 Sesudah pasien rileks dilakukan intubasi dengan endotracheal tube no.7,5, kedalaman 22cm, kembangkan cuff, test masuk trakea dengan penekanan di sternum terdapat hembusan udara (+) fiksasi dengan plester. Hubungkan dengan mesin anestesi. Dengarkan dengan menggunakan stetoscope kesamaan hembusan udara dwi paru kanan dan kiri g. Pemeliharaan dengan mengalirkan O2 2 l/menit dan N2O 2 l/menit. Untuk maintenance digunakan Sevo 2 vol %

h. Jam 12.05 ahli bedah dipersilakan memulai operasi, selama operasi tanda vital, perdarahan dan saturasi O2 dimonitor tiap 5 menit. i. Jam 13.00 operasi selesai j. Jam 13.05 pasien sadar, ekstubasi, dan penderita dipindahkan ke ruang pulih sadar.

Monitoring selama operasi. Jam 11.50 11.55 Tensi 130/87 134/86 Nadi 88 80 Si02 99 99 Keterangan Terpasang infus RL 500cc20 tpm premedikasi :Midazolam 3mg I.V. dan Petidin 50 mg I.V 12.00 114/62 95 99 Induksi Propofol 100 mg I.V,

Vecorumium bromida 4 mg I.V, O2 6 L / menit dan intubasi. 12.05 120/68 89 99 N20 : 02 = 2 : 2 total flow 4 L / menit, Sevofluran 2 vol %. Operasi dimulai dan monitoring tanda tanda vital tiap 5 menit. 12.10 12.15 12.20 12.25 12.30 12.35 12.40 109/67 105/50 110/55 110/58 118/67 128/75 120/64 79 78 70 67 75 76 76 99 99 99 99 99 99 99 RL 500cc 20tpm N2O di matikan

12.45 12.50 12.55 13.00 13.05

129/68 130/76 110/75 115/70 117/75

74 60 85 68 64

99 99 99 99 99 Sevo di matikan Operasi selesai Ekstubasi

3. Di Ruang Pemulihan Jam 13.10 : pasien dipindahkan ke recovery room dalam keadaan setengah sadar, posisi terlentang, kepala di ekstensikan, diberikan O2 2 liter/menit, dan tanda-tanda vital dimonitoring tiap 10 menit. Jam 13.30 : pasien stabil baik, dipindahkan ke Bangsal Edelweise

Monitoring Pasca Anestesi Jam Tensi Nadi 56 64 68 RR 20 20 20 Aldrette scor 9, pasien pindah ke bangsal Edelweise Keterangan O2 2 L/menit, monitoring tanda vital

13.10 120/70 13.20 120/70 13.30 120/80

4. Instruksi Pasca Anestesi a. Rawat pasien posisi terlentang, kontrol vital sign. Bila tensi turun di bawah 90/60 mmHg, infus dipercepat. Bila muntah, berikan Ondansetron 1 ampul. Bila kesakitan, berikan Ketorolac 1 ampul. b. Lain-lain Antibiotik dari bagian Bedah Ortoped.

Analgetik dari bagian Anestesi : ketorolac 3x30mg, dan ketorolac drip

Kontrol balance cairan. Monitor vital sign.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

General anestesi atau anestesi umum adalah tindakan meniadakan rasa sakit seluruh tubuh secara sentral disertai hilangnya kesadaran dan bersifat reversibel. Anestesia umum yang paling sempurna menghasilkan ketidaksadaraan, analgesia dan relaksasi otot tanpa menimbulkan resiko anestesi yang tidak diinginkan pasien.

A. Persiapan pra-anestesi Persiapan pra anestesi sangat mempengaruhi keberhasilan anestesi dan pembedahan. Kunjungan pra anestesi harus dipersiapkan dengan baik, pada bedah elektif umumnya dilakukan 1-2 hari sebelumnya, sedangkan pada bedah darurat waktu yang tersedia lebih singkat. Adapun tujuan kunjungan pra anestesi adalah : 1. 2. Mempersiapkan mental dan fisik secara optimal. Merencanakan dan memilih tehnik serta obat obat anestesi yang sesuai dengan fisik dan kehendak pasien. 3. Menentukan status fisik penderita dengan klasifikasi ASA ( American Society Anesthesiology ). Dimana klasifikasi ASA terdiri dari: a. ASA I, pasien normal sehat, kelainan bedah terlokalisir, tanpa disertai kelainan faali,biokimiawi,dan psikiatris. b. ASA II, pasien dengan gangguan sistemik ringan sampai dengan sedang sebagai akibat kelainan bedah atau proses patofisiologis. c. ASA III, pasien dengan gangguan sistemik berat sehingga aktivitas harian terbatas. d. ASA IV, pasien dengan gangguan sistemik berat yang mengancam jiwa, tidak selalu sembuh dengan operasi. Misal : insufisiensi fungsi organ, angina menetap. e. ASA V, pasien dengan kemungkinan hidup kecil. Tidak diharapkan hidup dalam 24 jam tanpa operasi / dengan operasi.

Untuk operasi cito, ASA ditambah huruf E (Emergency) tanda darurat.

PREMEDIKASI ANESTESI Premedikasi ringan banyak digunakan terutama untuk menenangkan pasien sebagai persiapan anestesia dan masa pulih setelah pembedahan singkat. Adapun tujuan dari premedikasi antara lain : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Memberikan rasa nyaman bagi pasien. Membuat amnesia. Memberikan analgesia. Mencegah muntah. Memperlancar induksi. Mengurangi jumlah obat obat anestesika. Menekan reflek reflek yang tidak diinginkan. Mengurangi sekresi kelenjar saluran nafas. Obat premedikasi yang digunakan disesuaikan dengan kebutuhan masingmasing pasien karena kebutuhan masing-masing pasien berbeda. Pemberian premedikasi secara intramuskular dianjurkan 1 jam sebelum operasi, sedangkan untuk kasus darurat yang perlu tindakan cepat bisa diberikan secara intravena. Adapun obat obat yang sering digunakan sebagai premedikasi adalah : 1. 2. 3. 4. 5. Golongan hipnotik sedatif : barbiturat, benzodiazepin, transquilizer. Analgetik narkotik : morfin, petidin, pentanil. Neuroleptik : droperidol, dehidrobenzoperidol. Anti kolinergik : Atropin, skopolamin. Vasodilator : nitrogliserin

Obat obat premedikasi : 1. Midazolam Adalah obat induksi tidur jangka pendek untuk premedikasi, induksi dan pemeliharaan anestesi. Dibandingkan dengan diazepam, midazolam bekerja

cepat kerana transformasi metabolitnya cepat dan lama kerjanya singkat. Pada pasien orang tua dengan perubahan organik otak atau gangguan fungsi jantung dan pernafasan dosis yang diberikan harus hati-hati. Efek obat timbul dalam 2 menit setelah penyuntikan. Dosis premedikasi dewasa 0,07-0,10 mg/kgBB, disesuaikan dengan umur dan keadaan pasien. Dosis lazim adalah 5mg. Efek sampingnya terjadi perubahan tekanan darah arteri, denyut nadi dan pernafasan umumnya hanya sedikit 2. Petidin Petidin merupakan derivat fenil piperidin yang efek utamanya adalah depresi susunan saraf pusat. Gejala yang timbul antara lain adalah analgesia, sedasi, euforia dan efek sentral lainnya. Sebagai analgesia diperkirakan

potensinya 80 kali morfin. Lamanya efek depresi napas lebih pendek dibanding meperidin. Dosis tinggi menimbulkan kekakuan pada otot lurik, ini dapat diantagonis oleh nalokson. Setelah pemberian sistemik, petidin akan menghilangkan reflek kornea akan tetapi diameter pupil dan refleknya tidak terpengaruh. Obat ini juga meningkatkan kepekaan alat keseimbangan sehingga dapat menimbulkan muntah muntah, pusing terutama pada penderita yang berobat jalan. Pada penderita rawat baring obat ini tidak mempengaruhi sistem kardiovaskular, tetapi pada penderita berobat jalan dapat timbul sinkop orthostatik karena terjadi hipotensi akibat vasodilatasi perifer karena pelepasan histamin. Petidin dimetabolisme dihati, sehingga pada penderita penyakit hati dosis harus dikurangi. Petidin tidak mengganggu kontraksi atau involusi uterus pasca persalinan dan tidak menambah frekuensi perdarahan pasca persalinan . Preparat oral tersedia dalam tablet 50 mg, untuk parenteral tersedia dalam bentuk ampul 50 mg per cc. Dosis dewasa adalah 50 100 mg, disuntikkan secara SC atau IM. Bila diberikan secara IV efek analgetiknya tercapai dalam waktu 15 menit.

10

A. Induksi Induksi merupakan saat dimasukkannya zat anestesi sampai

tercapainya stadium pembedahan yang selanjutnya diteruskan dengan tahap pemeliharaan anestesi untuk mempertahankan atau memperdalam stadium anestesi setelah induksi. Pada kasus ini digunakan Propofol. Propofol adalah campuran 1% obat dalam air dan emulsi yang berisi 10% soya bean oil, 1,2% phosphatide telur dan 2,25% glycerol. Pemberian intravena propofol (2 mg/kg BB) menginduksi anestesi secara cepat seperti tiopental. Setelah injeksi intravena secara cepat disalurkan ke otak, jantung, hati, dan ginjal. Rasa nyeri kadang-kadang terjadi di tempat suntikan, tetapi jarang disertai dengan plebitis atau trombosis. Anestesi dapat dipertahankan dengan infus propofol yang berkesinambungan dengan opiat, N2 dan atau anestesi inhalasi lain. Propofol menurunkan tekanan arteri sistemik kira-kira 80% teapi efek ini lebih disebabkan karena vasodilatsai perifer daripada penurunan curah jantung. Tekanan sismatik kembali normal dengan intubasi trakea. Propofol tidak menimbulkan aritmia atau iskemik otot jantung. Sesudah pemberian propofol IV terjadi depresi pernafasan sampai apnea selama 30 detik. Hal ini diperkuat dengan premediaksi dengan opiat. Propofol tidak merusak fungsi hati dan ginjal. Aliran darah ke otak, metabolisme otak dan tekanan intrakranial akan menurun. Tak jelas adanya interaksi dengan obat pelemas otot. Keuntungan propofol karena bekerja lebih cepat dari tiopental dan konfusi pasca operasi yang minimal. Terjadi mual, muntah dan sakit kepala mirip dengan tiopental.

11

B. Pemeliharaan 1. Sevofluran Sevofluran adalah halogenasi eter. Induksi dan pulih dari anestesi lebih cepat dibandingkan dengan isofluran. Baunya tidak menyengat dan tidak merangsang jalan nafas, sehingga digemari untuk induksi anestesia. Efek terhadap kardiovaskular cukup stabil, jarang menyebabkan aritmia. Efek terhadap sistem saraf pusat dan belum ada laporan toksik terhadap hepar. Setelah pemberian dihentikan sevofluran dengan cepat dikeluarkan oleh tubuh. 2. Nitrous Oksida / Gas Gelak / N2O Merupakan gas yang tidak berwarna, berbau amis, dan tidak iritasi. Mempunyai sifat analgetik kuat tapi sifat anestesinyalemah, tetapi dapat melalui stadium induksi dengan cepat, karena gas ini tidak larut dalam darah. Gas ini tidak mempunyai relaksasi otot, oleh karena itu operasi abdomen dan ortopedi perlu tambahan dengan zat relaksasi otot. Depresi nafas terjadi pada masa pemulihan, hal ini terjadi kaena Nitrous Oksida mendesak oksigen dengan ruangan ruangan tubuh. Hipoksia difusi dapat dicegah dengan pemberian oksigen konsentrasi tinggi beberapa menit sebelum anestesi selesai. Penggunaan biasanya dipakai perbandingan atau kombinasi dengan oksigen. Perbandingan N2O : O2 adalah sebagai berikut 60% : 40 % ; 70% : 30% atau 50% : 50%.

C. Obat Pelumpuh Otot ( Muscle Relaxant ) 1. Succynil choline Merupakan pelumpuh otot depolarisasi dengan mula kerja cepat, sekitar 1 2 menit dan lama kerja singkat sekitar 3 5 menit sehingga obat ini sering digunakan dalam tindakan intubai trakea. Lama kerja dapat memanjang jika kadar enzim kolinesterase berkurang, misalnya pada penyakit hati parenkimal, kakeksia, anemia dan hipoproteinemia.

12

Komplikasi dan efek samping dari obat ini adalah bradikardi, bradiaritma dan asistole, takikardi dan takiaritmia, peningkatan tekanan intra okuler, hiperkalemi dan nyeri otot fasikulasi. Obat ini tersedia dalam flacon berisi bubuk 100mg dan 500 mg. Pengenceran dengan garam fisiologis / aquabidest steril 5 atau 25 ml sehingga membentuk larutan 2% sebagai pelumpuh otot jangka pendek. Dosis untuk intubasi 1 2 mg / kgBB/IV. 2. Atrakurium besilat (tracrium) Merupakan obat pelumpuh otot non depolarisasi yang mempunyai struktur benzilisoquinolin yang berasal dari tanaman leontice

leontopetaltum. Beberapa keunggulan atrakurium dibandingkan dengan obat terdahulu antara lain adalah : Metabolisme terjadi dalam darah (plasma) terutama melalui suatu reaksi kimia unik yang disebut reaksi kimia hoffman. Reaksi ini tidak bergantung pada fungsi hati dan ginjal. Tidak mempunyai efek kumulasi pada pemberian berulang. Tidak menyebabkan perubahan fungsi kardiovaskuler yang bermakna Mula dan lama kerja antrakurium bergantung pada dosis yang dipakai. Pada umumnya mulai kerja antrakium pada dosis intubasi adalah 2-3 menit, sedang lama kerja antrakium dengan dosis relaksasi 15-35 menit. Pemulihan fungsi saraf otot dapat terjadi secara spontan (sesudah lama kerja obat berakhir) atau dibantu dengan pemberian antikolinesterase. Antrakurium dapat menjadi obat terpilih untuk pasien geriatrik atau pasien dengan penyakit jantung dan ginjal yang berat. Kemasan 1 ampul berisi 5 ml yang mengandung 50 mg atrakurium besilat. Stabilitas larutan sangat bergantung pada penyimpanan pada suhu dingin dan perlindungan terhadap penyinaran. Dosis intubasi : 0,5 0,6 mg/kgBB/iv Dosis relaksasi otot : 0,5 0,6 mg/kgBB/iv

13

Dosis pemeliharaan : 0,1 0,2 mg/kgBB/ iv

D. Intubasi Trakea Suatu tindakan untuk memasukkan pipa khusus ke dalam trakea, sehingga jalan nafas bebas hambatan dan nafas mudah dikendalikan. Intubasi trakea bertujuan untuk : 1. Mempermudah pemberian anestesi. 2. Mempertahankan jalan nafas agar tetap bebas dan kelancaran pernafasan. 3. Mencegah kemungkinan aspirasi lambung. 4. Mempermudah penghisapan sekret trakheobronkial. 5. Pemakaian ventilasi yang lama. 6. Mengatasi obstruksi laring akut.

E. Terapi Cairan Terapi cairan perioperatif bertujuan untuk : 1. Mencukupi kebutuhan cairan, elektrolit dan darah yang hilang selama operasi. 2. Replacement dan dapat untuk tindakan emergency pemberian obat. Pemberian cairan operasi dibagi : 1. Pra operasi Dapat terjadi defisit cairan kaena kurang makan, puasa, muntah, penghisapan isi lambung, penumpukan cairan pada ruang ketiga seperti pada ileus obstruktif, perdarahan, luka bakar dan lain lain. Kebutuhan cairan untuk dewasa dalam 24 jam adalah 2 ml / kgBB / jam. Bila terjadi dehidrasi ringan 2% BB, sedang 5% BB, berat 7% BB. Setiap kenaikan suhu 10 Celcius kebutuhan cairan bertambah 10 15 %. 2. Selama operasi

14

Dapat terjadi kehilangan cairan karena proses operasi. Kebutuhan cairan pada dewasa untuk operasi : a. Ringan b. Sedang c. Berat = 4 ml / kgBB / jam = 6 ml / kgBB / jam = 8 ml / kg BB / jam

Bila terjadi perdarahan selama operasi, dimana perdarahan kurang dari 10% EBV maka cukup digantikan dengan cairan kristaloid sebanyak 3 kali volume darah yang hilang. Apabila perdarahan lebih dari 10 % maka dapat dipertimbangkan pemberian plasma / koloid / dekstran dengan dosis 1 2 kali darah yang hilang. 3. Setelah operasi Pemberian cairan pasca operasi ditentukan berdasarkan defisit cairan selama operasi ditambah kebutuhan sehari hari pasien.

F. Pemulihan Pasca anestesi dilakukan pemulihan dan perawatan pasca operasi dan anestesi yang biasanya dilakukan di ruang pulih sadar atau recovery room yaitu ruangan untuk observasi pasien pasca operasi atau anestesi. Ruang pulih sadar adalah batu loncatan sebelum pasien dipindahkan ke bangsal atau masih memerlukan perawatan intensif di ICU. Dengan demikian pasien pasca operasi atau anestesi dapat terhindar dari komplikasi yang disebabkan karena operasi atau pengaruh anestesinya.

15

BAB III PEMBAHASAN

3.1.Pre Operatif Persiapan pra operatif pada pasien ini meliputi persiapan alat, penilaian dan persiapan pasien, serta persiapan obat anestesi yang diperlukan. Penilaian dan persiapan pasien di antaranya meliputi : a. Penilaian klinis penanggulangan keadaan darurat b. Informasi 1) Riwayat alergi obat, hipertensi, diabetes mellitus, operasi sebelumnya, asma 2) Riwayat keluarga (penyakit dan komplikasi anestesia) 3) Menilai jalan nafas (gigi geligi, lidah, tonsil, tempuromandibula-joice, tumor, tiroid, tyro-mental-distance, trakea) Pada pasien ini di dapatkan nilai malllampati 1 4) Menilai nadi, tekanan darah 5) Makan minum terakhir (mencegah aspirasi isi lambung karena regurgitasi atau muntah pada saat anestesi) c. Persiapan informed concent, suatu persetujuan medis untuk

mendapatkan ijin dari pasien sendiri dan keluarga pasien untuk melakukan tindakan anestesi dan operasi, sebelumnya pasien. Setelah dilakukan pemeriksaan pada pasien, maka pasien termasuk dalam klasifikasi ASA II.

3.2.Durante Operatif a. Premedikasi Obat yang dipakai untuk pasien Midazolam 3 mcg, adalah obat anestesi umum golongan benzodiazepin. tujuan diberikan ini sebagai terapi premedikasi sedatif selain itu midazolam juga mengurangi rasa cemas dan amnesia retrograd. Obat ini dipilih karena efek kerja midazolam yang relatif cepat.

16

Petidin 50mg adalah obat anestesi umum gilongan analgesik narkotik, opioid. Diberikan sebagai terapi premedikasi analgetik dan juga bisa untuk mengurangi rasa cemas b. Induksi Dengan menggunakan Propofol 100mg untuk induksi keuntungannya memiliki efek analgesik, anti emetik, pemulihan yang lebih cepat dibandingkan dengan obat lainnyadan memiliki rasa nyaman ketika bangun. Efek sampingnya adalah depresi nafas. c. Fasilitas Vecorumium bromid 4mg, adalah obat pelumpuh otot jangka pendek. Untuk pemasangan ET untuk mengurangi cedera dan untuk memudahkan tindakan bedah dan ventilasi kendali. d. Pemasangan ETT Tindakan memasukkan suatu lubang atau pipa melalui mulu t atau melalui hidung, dengan sasaran jalan napas bagian atas atau trakea. Tujuan penggunaan ETT pada pasien ini : e. Menjaga patensi jalan napas karena durasi pembedahan diperkirakan lebih dari 60menit Mempermudah ventilasi positif dan oksigenasi Pencegahan terhadap aspirasi dan regurgitasi

Maintenance N2O dan O2 dengan perbandingan 2l : 2l serta sevofluran 2vol%. N2O adalah anestetik inhalasi digunakan sebagai pembawa anestetik inhalasi lainnya. Pemberiannya tidak boleh terlalu lama karna akan mengakibatkan hipoksia. Sevofluran 2vol% adalah anestetik inhalasi baru yang memberikan induksi dan pemulihan yang lebih cepat.

f.

Terapi cairan

Pasien sudah tidak makan dan minum 10 jam, namun sudah di pelihara kekurangan cairannya dengan memberikan cairan infus selama di bangsal

17

Untuk kebutuhan selama operasi berlangsung: BB = 55 kg a. Maintenance = 4 x 10kg = 40 = 2 x 10kg = 20 = 1 x 35kg = 35 total 95cc/jam b. Stress operasi c. Perdarahan d. EBV = 2cc/kgBB/jam = 20cc = 70 cc/kgBB/jam = 70 x 55 = 3850 cc/jam = 2 x 55 = 110 cc/jam

Pemberian Cairan : Kebutuhan cairan selama operasi sedang 1 jam = perdarahan + maintenance + stress operasi = 20 + 95 + 110 = 225 cc Cairan yang sudah diberikan 1) Saat operasi = 500 cc

3.1.Post operatif Setelah operasi selesai, pasien dibawa ke recovery room. Observasi post operasi dengan dilakukan pemantauan secara ketat meliputi vital sign (tekanan darah, nadi, suhu dan respirasi). Oksigen tetap diberikan 2-3 liter/menit. Dari hasil Aldrrete score di dapatkan Aldrete Score Motorik Point 4 ekstermitas 2 ekstremitas Respirasi Spontan + batuk Nafas kurang Sirkulasi Beda <20% 20-50% Nilai 2 1 0 2 1 0 2 1 Pada Pasien

18

>50% Kesadaran Sadar penuh Ketika dipanggil Kulit Kemerahan Pucat Sianosis Total

0 2 1 0 2 1 0 9

Apabila total Aldrete score >8 pasien sudah dapat dipindah ke bangsal. Pada saat malam hari post operasi. B1 (Brain) GCS : 15

B2 (Breath) Respiratory Rate : 23x/mnt B3 (Blood) Tekanan darah Nadi B4 (Bladder) DBN B5 (Bowel) Bising usus B6 (Bone) Wire terpasang pada digiti 2,3,4 : 8x/mnt : 120/80 mmHg : 60x/mnt