Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN DISKUSI FISIOLOGI TUMBUHAN

SEMESTER GENAP
TAHUN AJARAN 2014/2015

SIFAT KIMIA YANG TERDAPAT PADA TANAH GAMBUT SERTA


PENANGANNYA AGAR MENJADI TANAH PERTANIAN

WULAN RATNA KOMALA


140410120072
KELOMPOK 13

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PADJADJARAN
JATINANGOR
2014

BAB I
PENDAHULUAN

Gambut adalah bahan organis setengah lapuk berserat atau suatu


tanah yang mengandung bahan organis berserat dalam jumlah besar. Gambut
mempunyai angka pori yang sangat tinggi dan sangat kompresibel (Dunn
dkk., 1980).
Lapisan tanah gambut adalah tipe lapisan tanah lempung atau lanau
yang bercampur dengan serat-serat flora dari tumbuhan tebal di atasnya. Pada
kondisi tanah dengan serat yang melapuk atau fauna yang membusuk maka
tanah tersebut menjadi tipe lapisan tanah organik (Nasution, 2004).
Menurut Terzaghi dan Peck (1967) gambut adalah agregat agak
berserat yang berasal dari serpihan makroskopik dan mikroskopik tumbuhtumbuhan.
Menurut Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Lahan
Pertanian (2008) Indonesia memiliki lahan gambut terluas di antara Negara tropis,
yaitu sekitas 21 juta ha, yang tersebar terutama di Sumatera, Kalimantan dan
Papua yang mana di Sumatera sendiri luasnya mencapai 2.253.733 ha. Seiring
dengan semakin pesatnya pertambahan penduduk mengakibatkan lahan-lahan
pertanian semakin terdesak untuk penggunaan non pertanian maka lahan-lahan
marginal seperti gambut harus dimanfaatkan sebagai areal pertanian.
Perluasan pemanfaatan lahan gambut meningkat pesat di beberapa
propinsi yang memiliki areal gambut luas, seperti Riau, Kalimantan Barat dan
Kalimantan Tengah. Antara tahun 1982 sampai 2007 telah dikonversi seluas 1,83
juta ha atau 57% dari luas total hutan gambut seluas 3,2 juta ha di Provinsi Riau.
Laju konversi lahan gambut cenderung meningkat dengan cepat, sedangkan untuk
lahan non gambut peningkatannya relatif lebih lambat (WWF, 2008)

Dalam pemanfaatannya sebagai areal pertanian lahan gambut memiliki


banyak masalah yang dihadapi diantaranya : Kejenuhan basa yang rendah,
kemasaman tanah yang cukup tinggi, dan C/N yang tinggi serta sifat fisik yang
kurang baik dalam menyokong pertumbuhan tanaman.
Pengembangan pertanian pada lahan gambut harus mempertimbangkan
sifat tanah gambut. Menurut Mawardi et al, (2001), secara umum sifat kimia tanah
gambut didominasi oleh asam-asam organik yang merupakan suatu hasil
akumulasi sisa-sisa tanaman. Asam organik yang dihasilkan selama proses
dekomposisi tersebut merupakan bahan yang bersifat toksik bagi tanaman,
sehingga mengganggu proses metabolisme tanaman yang akan berakibat langsung
terhadap produktifitasnya. Sementara itu secara fisik tanah gambut bersifat lebih
berpori dibandingkan tanah mineral sehingga hal ini akan mengakibatkan
cepatnya pergerakan air pada gambut yang belum terdekomposisi dengan
sempurna sehingga jumlah air yang tersedia bagi tanaman sangat terbatas.
Beberapa sifat kimia tanah gambut lain yang berpengaruh terhadap
dinamika hara dan penyediaan hara bagi tanaman yaitu: kemasaman tanah,
kapasitas tukar kation dan basa-basa dapat ditukar, fosfor, unsur mikro, komposisi
kimia dan asam fenolat gambut.

BAB II
ISI

Seiring dengan semakin pesatnya pertambahan penduduk mengakibatkan


lahan-lahan pertanian semakin terdesak untuk penggunaan non pertanian maka
lahan-lahan marginal seperti gambut harus dimanfaatkan sebagai areal pertanian.
Perluasan pemanfaatan lahan gambut meningkat pesat di beberapa propinsi yang
memiliki areal gambut luas, seperti Riau, Kalimantan Barat dan Kalimantan
Tengah. Antara tahun 1982 sampai 2007 telah dikonversi seluas 1,83 juta ha atau
57% dari luas total hutan gambut seluas 3,2 juta ha di Provinsi Riau. Laju
konversi lahan gambut cenderung meningkat dengan cepat, sedangkan untuk
lahan non gambut peningkatannya relatif lebih lambat (WWF, 2008).
Dalam pemanfataan lahan gambut menjadi lahan pertanian, kita harus
mengetahui karakteristik, sifat, dan unsur hara yang terdapat dalam tanah gambut
tersebut.
Sifat kimia dan fisika tanah gambut merupakan sifat-sifat tanah gambut
yang penting diperhatikan dalam pengelolaan lahan gambut. Sifat kimia seperti
pH, kadar abu, kadar N, P, K, kejenuhan basa (KB), dan hara mikro merupakan
informasi yang perlu diperhatikan dalam pemupukan di tanah gambut.
Karakterisitik lahan gambut di Indonesia
Karakteristik kimia lahan gambut di Indonesia sangat ditentukan oleh
kandungan mineral, ketebalan, jenis mineral pada substratum (di dasar gambut),
dan tingkat dekomposisi gambut. Kandungan mineral gambut di Indonesia
umumnya kurang dari 5% dan sisanya adalah bahan organik. Fraksi organik
terdiri dari senyawa-senyawa humat sekitar 10 hingga 20% dan sebagian besar
lainnya adalah 10 senyawa lignin, selulosa, hemiselulosa, lilin, tannin, resin,
suberin, protein, dan senyawa lainnya.

Tanah gambut Indonesia mempunyai pH berkisar antara 2,8 4,5 dan


kemasaman potensial mencapai >50 cmol kg-1. Ketersediaan unsur-unsur makro,
N,P, dan K serta sejumlah unsur mikro pada umumnya juga rendah. Kapasitas
tukar kation (KTK) tanah gambut cukup tinggi apabila dihitung berdasarkan berat
bahan kering mutlak (115-270 cmol kg-1), tetapi relatif lebih rendah bila dihitung
berdasarkan berat volume tanah di lapangan. Kejenuhan basa (KB) tanah gambut
biasanya rendah pada kisaran 5,4 - 13% dengan rasio C/N tinggi yaitu 24-33.4
(Suhardjo & Widjaya-Adhi, 1976). Gambut Indonesia memiliki karbohidrat yang
sangat rendah, dan sifatnya berbeda dengan gambut yang berada di daerah
subtropis.
Gambut di Indonesia (dan di daerah tropis lainnya) mempunyai kandungan
lignin yang lebih tinggi dibandingkan dengan gambut yang berada di daerah
beriklim sedang, karena terbentuk dari pohon-pohohan (Driessen dan Suhardjo,
1976).
Lignin yang mengalami proses degradasi dalam keadaan anaerob akan
terurai menjadi senyawa humat dan asam-asam fenolat (Kononova, 1968). Asamasam fenolat dan derivatnya bersifat fitotoksik (meracuni tanaman) dan
menyebabkan pertumbuhan tanaman terhambat (Driessen, 1978; Stevenson, 1994;
Rachim, 1995).
Asam fenolat merusak sel akar tanaman, sehingga asam-asam amino dan
bahan lain mengalir keluar dari sel, menghambat pertumbuhan akar dan serapan
hara sehingga pertumbuhan tanaman menjadi kerdil, daun mengalami klorosis
(menguning) dan pada akhirnya tanaman akan mati. Turunan asam fenolat yang
bersifat fitotoksik antara lain adalah asam ferulat, siringat , p-hidroksibenzoat,
vanilat, p-kumarat, sinapat, suksinat, propionat, butirat, dan tartrat (Dr. Wiwik
Hartatik dan Dr. Diah Setyorini, komunikasi pribadi).
Kemasaman tanah
Tanah gambut Indonesia mempunyai pH berkisar antara 2,8 4,5 dan
kemasaman potensial mencapai >50 cmol kg-1. Menurut Jones (1984), nilai pH

rendah itu disebabkan oleh asam-asam organik dan ion hidrogen dapat ditukar (Hdd) yang tinggi terkandung dalam tanah gambut.
Menurut Buckman dan Brady (1982), secara umum kompleks koloid
gambut dipengaruhi oleh hidrogen yang menyebabkan pH tanah gambut
lebih rendah daripada tanah mineral. Bahan organik yang telah mengalami
dekomposisi mengandung gugus-gugus reaktif yang mendominasi kompleks
tukaran dan dapat bertindak sebagai asam lemah sehingga dapat terdisosiasi dan
menghasilkan ion H+dalam jumlah banyak, tergantung pada jumlah gugus
fungsional dan derajat disosiasi. Diperkirakan 85 sampai 95 % muatan pada
bahan organik disebabkan oleh gugus karboksil dan fenol (Rachim, 1995).
Lahan gambut umumnya mempunyai tingkat kemasaman yang relatif
tinggi dengan kisaran pH 3 - 5. Gambut oligotropik yang memiliki substratum
pasir kuarsa di Berengbengkel, Kalimantan Tengah memiliki kisaran pH 3,25
3,75 (Halim, 1987; Salampak, 1999). Sementara itu gambut di sekitar Air Sugihan
Kiri, Sumatera Selatan memiliki kisaran pH yang lebih tinggi yaitu antara 4,1
sampai 4,3 (Hartatik et al., 2004).
Kejenuhan Basa (KB)
Kejenuhan basa (KB) tanah gambut biasanya rendah pada kisaran 5,4 13% dengan rasio C/N tinggi yaitu 24-33.4. Gambut oligotropik, seperti banyak
ditemukan di Kalimantan, mempunyai kandungan kation basa seperti Ca, Mg, K,
dan Na sangat rendah terutama pada gambut tebal. Semakin tebal gambut, basabasa yang dikandungnya semakin rendah dan reaksi tanah menjadi semakin
masam (Driessen dan Suhardjo, 1976). Di sisi lain kapasitas tukar kation (KTK)
gambut tergolong tinggi, sehingga kejenuhan basa (KB) menjadi sangat rendah.
Tim Institut Pertanian Bogor (1974) melaporkanbahwa tanah gambut pedalaman
di Kalampangan, Kalimantan Tengah mempunyai nilai KB kurang dari 10%,
demikian juga gambut di pantai Timur Riau (Suhardjo dan Widjaja-Adhi, 1976).
Nilai Kejenuhan Basa (KB) adalah persentase dari total kapasitas tukar
kation yang ditempati oleh kation-kation basa seperti kalsium, magnesium,
kalium, dan natrium. Nilai KB berhubungan erat dengan pH dan tingkat

kesuburan tanah. Kemasaman akan menurun dan kesuburan tanah akan meningkat
dengan meningkatnya KB. Laju pelepasan kation terjerap bagi tanaman
bergantung pada tingkat KB suatu tanah. Suatu tanah dikatakan sangat subur jika
KB-nya lebih besar dari 80%, kesuburan sedang jika KB-nya berkisar antara 50%
sampai 80%, dan dikatakan tidak subur jika KB-nya kurang dari 50% (Tan, 1993).
Nitrogen
Ketersediaan N bagi tanaman pada tanah gambut umumnya rendah,
walaupun analisis N total umumnya relatif tinggi karena berasal dari N-organik.
Perbandingan kandungan C dan N tanah gambut relatif tinggi, umumnya berkisar
20-45 dan meningkat dengan semakin meningkatnya kedalaman (Radjagukguk,
1997). Oleh karena itu untuk mencukupi kebutuhan N tanaman yang optimum
diperlukan pemupukan N.
Fosfor
Unsur P dalam tanah dapat berasal dari : bahan organik (pupuk kandang,
sisa-sisa tanaman), pupuk buatan dan mineral-mineral dalam tanah (apatit).
Ketersedian P dipengaruhi sangat nyata oleh pH . bentuk ion P dalam tanah juga
tergantung pada pH larutan . pada pH agak tinggi ( basa ) ion HPO4 2- adalah
dominan. Bila pH tanah turun ion H2PO4 dan HPO4 akan dijumpai bersamaan.
makin masam reaksi tanah ion H2PO4 lah yang dominan. (Lutz, Genter dab
Hawskins, 1972)
Pada pH rendah ion P mudah bersenyawa dengan Al, Fe dan Mn ,
membentuk senyawa yang tidak larut akan diikat oleh Ca membentuk senyawa
tidak larut. Dulu dipertahankan orang sekitar kisaran pH 6 hingga 7 untuk
membentuk P agar lebih tersedia. Belakangan ditemukan bahwa pada pH lebih
dari 6.0 P sudah kurang tersedia (Ferina,Sumner,Plank, dan Litsch, 1980;
NurhayatiHakim, 1982). Tampaknya kelarutan maksimum dari P berada pada pH
5,5 . mempertahankan pH 5.5 hingga 6 sangat berarti bagi penyediaan P pada
tanaman.
Karena P mudah difiksasi maka pemberian pupuk P sebaiknya jangan
disebarkan tetapi diberikan dalam larikan agar kontak dengan tanah sedikit
mungik sehingga fiksasi dapat dikurangi.

Unsur P berfungsi dalam pembelahan sel, pembentukan albumin,


pembentukan bunga, buah dan biji, mempercepat pematangan, memperkuat
batang agar tidak mudah roboh, perkembangan akar, memperbaiki kualitas
tanaman terutama sayur-mayur dan makanan ternak, tahan terhadap penyakit,
membentuk nucleoprotein, metabolism karbohidrat, menyimpan dan
memindahkan energi.
Gejala-gejala yang akan ditampakkan tanaman budidaya jika kekurangan
unsure hara P antara lain pertumbuhan terhambat, karena pembelahan sel
terganggu, daun-daun menjadi ungu atau coklat mulai dari ujung daun, terlihat
jelas pada tanaman yang masih muda dan pada jagung, tongkol jagung menjadi
tidak sempurna dan kecil-kecil.
Cara agar tanah gambut dapat digunakan untuk lahan pertanian
Diantara sifat inheren yang membatasi pengembangan usaha pertanian
pada tanah gambut di daerah tropis adalah dalam keadaan tergenang, sifat
menyusut dan subsidence (penurunan permukaan gambut) karena drainase, kering
tidak balik, pH yang sangat rendah dan status kesuburan tanah yang rendah
(Andriesse, 1988).
Secara alamiah lahan gambut memiliki tingkat kesuburan rendah karena
kandungan unsur haranya rendah dan mengandung beragam asam-asam organik
yang sebagian bersifat racun bagi tanaman. Namun demikian asam-asam tersebut
merupakan bagian aktif dari tanah yang menentukan kemampuan gambut untuk
menahan unsur hara. Karakteristik dari asam-asam organik ini akan menentukan
sifat kimia gambut.
Untuk mengurangi pengaruh buruk asam-asam organik yang beracun
dapat dilakukan dengan menambahkan bahan-bahan yang banyak mengandung
kation polivalen seperti Fe, Al, Cu dan Zn. Kation-kation tersebut membentuk
ikatan koordinasi dengan ligan organik membentuk senyawa komplek/khelat.
Oleh karenanya bahan-bahan yang mengandung kation polivalen tersebut bisa
dimanfaatkan sebagai bahan amelioran gambut (Sabiham et al., 1997; Saragih,
1996).
Tanah gambut bereaksi masam. Dengan demikian diperlukan upaya
ameliorasi untuk meningkatkan pH sehingga memperbaiki media perakaran

tanaman. Kapur, tanah mineral, pupuk kandang dan abu sisa pembakaran dapat
diberikan sebagai bahan amelioran untuk meningkatkan pH dan basa-basa tanah
(Subiksa et al, 1997; Mario, 2002; Salampak, 1999; Tabel 2).
Tabel 2. Dosis anjuran dan manfaat pemberian amelioran pada tanah
gambut.
Dosis

Jenis amelioran

Manfaat

(t ha-1 tahun-1)

Kapur

12

Meningkatkan basa-basa

Pupuk kandang

5 10

dan pH tanah
Memperkaya unsur hara

25

makro/mikro
Mengurangi

Terak baja

Tanah mineral

10 20

fitotoksik

asam

organik,

meningkatkan

efisiensi

pupuk P
Mengurangi
asam

fitotoksik
organik,

meningkatkan kadar hara


Abu
Lumpur sungai

10 20

makro/mikro
Meningkatkan basa-basa,

10 20

dan pH tanah
Mengurangi
asam

fitotoksik
organik,

meningkatkan basa-basa,
unsur hara
Keterangan: Beberapa amelioran dapat menggantikan fungsi amelioran lainnya.
Misalnya, dengan pemberian kapur, pemberian abu dapat dikurangi dan sebaliknya.

Tidak seperti tanah mineral, pH tanah gambut cukup ditingkatkan sampai


pH 5 saja karena gambut tidak memiliki potensi Al yang beracun. Peningkatan pH
sampai tidak lebih dari 5 dapat memperlambat laju dekomposisi gambut.
Pengaruh buruk asam-asam organik beracun juga dapat dikurangi dengan
menambahkan bahan-bahan amelioran yang banyak mengandung kation polivalen
seperti terak baja, tanah mineral laterit atau lumpur sungai (Salampak, 1999;

Sabiham et al, 1997). Pemberian tanah mineral berkadar besi tinggi dapat
meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman padi (Mario, 2002; Salampak,
1999; Suastika, 2004; Subiksa et al., 1997).
Muatan negatif (yang menentukan KTK) pada tanah gambut seluruhnya
adalah muatan tergantung pH (pH dependent charge), dimana KTK akan naik bila
pH gambut ditingkatkan. Muatan negatif yang terbentuk adalah hasil dissosiasi
hidroksil pada gugus karboksilat atau fenol. Oleh karenanya penetapan KTK
menggunakan pengekstrak amonium acetat pH 7 akan menghasilkan nilai KTK
yang tinggi, sedangkan penetapan KTK dengan pengekstrak amonium klorida
(pada pH aktual) akan menghasilkan nilai yang lebih rendah. KTK tinggi
menunjukkan kapasitas jerapan (sorption capacity) gambut tinggi, namun
kekuatan jerapan (sorption power) lemah, sehingga kation-kation K, Ca, Mg dan
Na yang tidak membentuk ikatan koordinasi akan mudah tercuci.
Pemupukan sangat dibutuhkan karena kandungan hara gambut sangat
rendah. Jenis pupuk yang diperlukan adalah yang mengandung N, P, K, Ca dan
Mg. Walaupun KTK gambut tinggi, namun daya pegangnya rendah terhadap
kation yang dapat dipertukarkan sehingga pemupukan harus dilakukan beberapa
kali (split application) dengan dosis rendah agar hara tidak banyak tercuci.
Penggunaan pupuk yang tersedianya lambat seperti fosfat alam akan lebih baik
dibandingkan dengan SP36, karena akan lebih efisien, harganya murah dan dapat
meningkatkan pH tanah (Subiksa et al., 1991). Penambahan kation polivalen
seperti Fe dan Al akan menciptakan tapak jerapan bagi ion fosfat sehingga bisa
mengurangi kehilangan hara P melalui pencucian (Rachim, 1995).

BAB III
KESIMPULAN

Lahan gambut berdasarkan sifat kimianya, dapat digunakan untuk lahan


pertanian dengan merubah unsur kimianya, yaitu dengan cara sebagai berikut;
1. Sifat pH tanah gambut yang rendah dapat ditingkatkan dengan cara

ameliorasi sehingga memperbaiki media perakaran tanaman


2. Untuk mengurangi pengaruh buruk asam-asam organik yang beracun
dapat dilakukan dengan menambahkan bahan-bahan yang banyak
mengandung kation polivalen seperti Fe, Al, Cu dan Zn
3. Kandungan unsur hara yang rendah dapat ditingkatkan dengan cara
pemupukan, dengan pupuk yang mengandung N, P, K, Ca dan Mg.

DAFTAR PUSTAKA

Andriesse. 1998. Nature and Management of Tropical Peat Soils. FAO Soils
Bulletin 59. Food and Agriculture Organisation of The United Nations.
Rome
Buckman, H.O., and N. C. Brady. 1982. Ilmu tanah. Terjemahan Soegiman.
Bharata Karya Aksara, Jakarta.
Driessen, P.M., dan H. Suhardjo. 1976. On the defective grain formation of sawah
rice on peat. Soil Res. Inst. Bull. 3: 20 44. Bogor.
Dunn, I. S., Anderson L. R. & Kiefer F. W., 1992. Dasar-Dasar
Geoteknik.

Analisis

Alih Bahasa Toekiman, 1992. Semarang, IKIP Semarang

Press
Halim, A. 1987. Pengaruh pencampuran tanah mineral dan basa dengan tanah
gambut pedalaman Kalimantan Tengah dalam budidaya tanaman kedelai.
Disertasi Fakultas Pascasarjana, IPB. Bogor.
Hartatik, W., K. Idris, S. Sabiham, S. Djuniwati, dan J.S. Adiningsih. 2004.
Pengaruh pemberian fosfat alam dan SP-36 pada tanah gambut yang diberi
bahan amelioran tanah mineral terhadap serapan P dan efisiensi
pemupukan P. Prosiding Kongres Nasional VIII HITI. Universitas
Andalas. Padang.
Jones, J.B. 1984. A laboratory guide of exercises for conducting soil test and plant
analysis. Benton Laboratories, Athens, GA.
Kononova, M.M. 1968. Transformation of organic matter and their relation to soil
fertility. Sov. Soil. Sci. 8:1047-1056.

Mario, M.D. 2002. Peningkatan produktivitas dan stabilitas tanah gambut dengan
pemberian tanah mineral yang diperkaya oleh bahan berkadar besi tinggi.
Disertasi Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.
Mawardi, E., Azwar dan Tambidjo, A., 2001. Potensi dan Peluang Pemanfaatan
Harzeburgite sebagai Amelioran Lahan Gambut. Prosiding Seminar
Nasional Memantapkan Rekayasa Paket Teknologi Pertanian dan
Ketahanan Pangan dalam Era Otonomi Daerah, 31 Oktober 1 November
2001. Bengkulu.
Rachim, B. 1995. Penggunaan logam-logam polivalen untuk meningkatkan
ketersediaan

fosfat

dan

produksi

jagung

pada

tanah

gambut.

Disertasi.Prog.Pascasarjana IPB,Bogor.
Radjagukguk, B. 1997. Peat soil of Indonesia: Location, classification, and
problems for sustainability.pp. 45-54.

In

J.O. Rieley and S.E. Page

( Eds .).Biodiversity and Sustainability of Tropical Peat and Peatland.


Proceedings

of

the

International

Symposium

on

Biodiversity,

Environmental Importance and Sustainability of Tropical Peat and


Peatlands, Palangkaraya, Central Kalimantan 4-8 September 1999. Samara
Publishing Ltd. Cardigan. UK.
Sabiham, S., TB, Prasetyo and S. Dohong. 1997. Phenolic acid in Indonesian peat.
In: Rieley and Page (Eds.). pp. 289-292. Biodiversity and sustainability of
tropical peat and peatland. Samara Publishing Ltd. Cardigan. UK.
Salampak. 1999. Peningkatan produktivitas tanah gambut yang disawahkan
dengan pemberian bahan amelioran tanah mineral berkadar besi tinggi.
Disertasi Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Saragih, E.S. 1996. Pengendalian Asam-Asam Organik Meracun dengan
Penambahan Fe (III) pada Tanah Gambut Jambi, Sumatera. Tesis S2.
Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Stevenson, F.J. 1994. Humus Chemistry. Genesis, Composition, and Reactions.
John Wiley and Sons. Inc. New York. 443 p.

Suastika, I W. 2004. Efektivitas amelioran tanah mineral berpirit yang telah


diturunkan kadar sulfatnya pada peningkatan produktivitas tanah gambut.
Tesis S2. Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Subiksa, IGM., K. ugroho, Sholeh and IPG. Widjaja Adhi. 1997. The effect of
ameliorants on the chemical properties and productivity of peat soil. In:
Rieley and Page (Eds). Pp:321-326. Biodiversity and Sustainability of
Tropical Peatlands.Samara Publishing Limited, UK.
Suhardjo, H., & I.P.G. Widjaja-Adhi. 1976. Chemical characteristics of the
upper 30 cms of peat soils from Riau . Dalam: Peat and Podzolic Soils and
Their Potential for Agriculture in Indonesia. Proceedings ATA 106
Terzaghi, K. & Peck, B.P., 1967. Mekanika Tanah Dalam Praktek Rekayasa.
Alih Bahasa Witjaksono dan Krisna, 1993. Jakarta, Erlangga