Anda di halaman 1dari 22

Perdarahan Post Partum

ARDILA WARADUHITA 20090310182

Kasus
Ny. W, 31 th, kiriman bidan dg prdarahan pervaginam stlh melahirkan 4 jam yang lalu. Persalinan spontan, BBL bayi 3600 gr tanpa perdarahan yang banyak. Persalinan dipimpin jam 13.00,15 mnt kemudian bayi lahir, gunting pada jalan lahir(+), plasenta lahir 5 menit kemudian. Nyeri pada jalan lahir(+), lemas(+), pusing(-), BAK(+). Riw. ANC: di bidan, teratur, riwayat PEB(-), riwayat perdarahan(-) Riw. Obstetric: P2A0 Riw. KB: RPD: hipertensi(-), penyakit hematogenik(-), anemia() Di bidan sudah mendapat Injeksi Pospargin dan Infus berisi oksitosin 20 IU drip.

Px. Fisik KU: CM, tampak anemis TD: 80/50 mmHg HR: 96x/mnt Suhu: 36,7 C Abdomen : TFU: setinggi umbilicus, UC(+) keras Genital : Vulva tenang, perdarahan mengalir

pervaginam 300 cc, jahitan luka episiotomy (+) 4cm, luka robek di vestibulum bagian atas introitus vagina(+) VT: 2cm, teraba stosel(+), sisa jaringan dan selaput ketuban (+) Hasil lab:
AL= 18 x 103/l, AE = 2,73 x 106/l Hb = 8,6 gr/dl Ht = 25,8 % AT = 166.000 /L

PPP
Definisi:

Perdarahan 500 ml setelah bayi lahir pervaginam 1000 ml per section cesarean. perdarahan yang lebih dari normal yang menyebabkan perubahan tanda vital.
Klasifikasi: PPP primer (early post partum hemorrhage ): terjadi

dalam 24 jam setelah persalinan. Penyebab: atonia uteri, robekan jalan lahir, sisa hasil konsepsi. PPP sekunder (late postpartum hemorrhage) : terjadi setelah 24 jam sampai 6 minggu setelah persalinan. Penyebab: retensi sisa hasil konsepsi.

ETIOLOGI 4T
Tonus

: Atoni uteri Tissue : Retensi sisa jaringan (kotiledon atau selaput ketuban, plasenta susenturiata, plasentaakreta/inkreta/perkreta) Trauma : Laserasi jalan lahir, rupture uteri, inversi uteri Trombin : koagulopati, sindrom HELLP, IUFD,

Atonia Uteri
uterus gagal berkontraksi dan mengecil setelah janin

keluar dari uterus. Kontraksi miometrium menutup pembuluh darah pada bekas lekatan plasenta Sign symptom: o Perdarahan pervaginam segera setelah anak lahir o Uterus tidak berkontraksi dan lembek o Fundus uteri naik(jika darah tidak bisa keluar terhalang bekuan darah atau selaput janin) o Tanda syok

Faktor resiko: Manipulasi uterus yang berlebihan General anestesi

Uterus yang teregang berlebihan:


Kehamilan kembar Janin besar(4500-5000 gr)

Polihidramnion
Kehamilan lewat waktu Partus lama

Grandemultipara
Infeksi uterus

PENANGANAN

Lanjutkan masase uterus Berikan uterotonika Antisipasi kebutuhan darah segera dan lakukan tranfusi sesuai kebutuhan Jika perdarahan berlanjut
Periksa kembali kelengkapan plasenta Jika terdapat tanda-tanda retensi bagian plasenta, keluarkan sisa jaringan plasenta Periksa status pembekuan darah menggunakan uji pembekuan darah.

Jika masih berlanjut: Kompresi uterus bimanual Jika perdarahan berlanjut walau kompresi dilakukan:
Ligase arteri uterina Perdarahan masih berlanjut mengancam jiwa: histerektomi subtotal

Retensi Plasenta
plasenta belum lahir 30 mnt setelah bayi lahir.

Penyebab: Fungsional: his kurang, bentuk dan ukuran plasenta Anatomis: akreta inkreta, perkreta

Pembagian:
Retensio plasenta tanpa perdarahan

Terjadi bila belum ada bagian plasenta yang lepas atau seluruh plasenta sudah lepas dan plasenta terjepit dalam rahim. Retensio plasenta dengan perdarahan Menunjukkan bahwa sudah ada bagian plasenta yang terlepas, sedangkan bagian lain masih melekat, sehingga kontraksi uterus tidak sempurna.

Retensi plasenta plasenta manual

Retensi sisa plasenta


Sisa plasenta atau selaput ketuban menghalangi

kontraksi uterus pembuluh darah tetap terbuka Penilaian klinis menilai kelengkapan plasenta setelah plasenta lahir eksplorasi cavum uteri. Jika kelahiran oleh orang lain eksplorasi jalan lahir, kuret, usg

Manajemen ppp lanjut ec retensi plasenta& sisa plasenta: 1. Resusitasi 2. Drip oxytosin 20 IU dalam 500 RL atau NaCl 0.9% sampai uterus berkontraksi 3. Coba dilahirkan dg Brandt Andrews, jika berhasil lanjutkan dengan drips oksitosin untuk mempertahankan uterus. 4. Plasenta tidak lepas manual plasenta. 5. Jika tindakan manual plasenta tidak memungkinkan, jaringan dapat dikeluarkan dengan tang (cunam) abortus dilanjutkan kuret sisa plasenta 6. selesai tindakan pengeluaran sisa plasenta, dilanjutkan dengan pemberian obat uterotonika melalui suntikan atau per oral. 7. Tanda infeksi antibiotik

Trauma Jalan Lahir


Robekan perineum

Tingkat I : robekan hanya pada selaput lendir

vagina dengan atau tanpa mengenai kulit perineum Tingkat II : robekan mengenai selaput lendir vagina dan otot perinei transversalis, tetapi tidak mengenai sfingter ani Tingkat III : robekan mengenai seluruh perineum dan otot sfingter ani Tingkat IV : robekan sampai mukosa rektum

Inversio uteri
fundus uteri masuk ke dalam kavum uteri dapat terjadi pada uterus lembek, berdinding tipis,

kesalahan pengeluaran plasenta. Px: fundus menghilang di abdomen, teraba di kanalis servikalis Penanganan: Segera lakukan reposisi Jika ibu kesakitan dapat diberikan pethidin 1 mg/kgBB IM atau IV perlahan. Jangan berikan oksitosin sampai inversi telah direposisi Jika dicurigai terjadi nekrosis, lakukan histerektomi vaginal

Koagulopati
Hipofibrinogemia

Trombositopeni
ITP HELLP syndrome

DIC

Pencegahan
Manajemen kala III

Suntikan oksitosin 10 IU I.M segera setelah bayi

lahir Melakukan penegangan tali pusat terkendali Massase fundus uteri segera setelah plasenta lahir

Pembahasan
Perdarahan post partum dini/ primer

Dx: PPP ec sisa plasenta dan laserasi jalan lahir


Tx: ABC, kuretase dan reparasi jalan lahir.

Kesimpulan
Perdarahan postpartum adalah perdarahan yang

melebihi 500 ml setelah bayi lahir pervaginam atau lebih 1000 ml secara section cesarean. Penyebab perdarahan post partum:

Tonus Trauma Trombin Tissue

Prinsip penanganan perdarahan post partum: Perhatikan ABC Resusitasi dan nilai kehilangan darah Diagnosis penyebab Tatalaksana penyebab.

Anda mungkin juga menyukai