Anda di halaman 1dari 4

KEPUSTAKAAN

Cason J, Laboratory Textbook In Organc Chemstry Fessenden RJ, Fessenden JS, 1994, Organic Chemistry, 5th edition, Brooks/Cole Publishing Company Pasific Grove, California, 929-930 Mc Murry J, 2000, Organic Chemistry, 5th edition, Brooks/Cole Publishing Company Pasific Grove, USA, 1057

DASAR TEORI
Laktosa atau gula susu yang juga sering disebut saccharin lactis berupa serbuk hablur, putih, rasa agak manis. Laktosa stabil dalam air, dalam farmasi biasa digunakan sebagai zat pengisi pada pembuatan tablet, dan sebagai campuran dengan formalin juga pada makanan bayi. Laktosa merupakan disakarida alami yang kira-kira hanya dijumpai pada mamalia atau binatang menyusui, yaitu pada air susu sapi karena mencakup hampir 50% dari jumlah padatnya dan pada manusia kira-kira 5%. Kadar laktosa pada susu sapi adalah 6,8 gram per 100 ml, sedangkan pada Air Susu Ibu (ASI) 4,8 gram per 100 ml. Banyak orang, terutama orang kulit berwarna tak tahan terhadap susu sapi karena kurangnya enzim lactase, yang menyebabkan ketidaktahanan terhadap laktosa. Laktosa apabila tidak dicerna akan tetap berada disaluran cerna. Hal ini dipengaruhi oleh jenis mikroorganisme yang tumbuh, yang menyebabkan perut kembung, diare dan kejang perut. Laktosa adalah gula yang rasanya paling tidak manis ( manisnya dari

glukosa) dan lebih sukar larut dalam daripada disakarida lainnya. Laktosa diperoleh secara komersial sebagai hasil samping dari pabrik keju. Pada protein

LAPORAN ISOLASI LAKTOSA 1

susu yang terkoagulasi akan membentuk dua lapisan, yang mana lapisan bawah disebut sebagai whey. Dalam susu cair maupun susu bubuk terbagi dalam 2 macam jenis, yaitu: susu berlemak dan susu tak berlemak. Biasanya dalam produk susu mengandung minyak lemak, yang mana minyak lemak tersebut dapat dihilangkan dengaan menggunakan pelarut non polar, misalnya n-heksan, petroleum eter dan lainnya. Laktosa terdiri dari molekul D-galaktosa dan D-glukosa yang dihubungkan dengan ikatan -1,4-galaktosidik, dimana D-galaktopiranosa berhubungan dengan posisi 4 dari D-glukopiranosa. Laktosa memiliki gugus OH yang bebas pada atom C nomor 1 pada gugus glukosanya. Karena itu, laktosa mempunyai sifat pereduksi atau bersifat sebagai reduktor. Sifat reduktor tersebut akan memberi reaksi positif terhadap fehling dan menunjukkan sifat mutarotasi. Dimana campuran keseimbangannya mempunyai rotasi spesifik +55. Laktosa dapat terhidrolisa dengan katalisator asam atau enzim laktosa. Laktosa dapat terfermentasi menjadi asma laktat dengan bantuan aktivitas bakteri tertentu (misalnya lactobacillus bulgaricus), oleh karena itu jika reaksi fermentasi terjadi pada susu maka susu akan menjadi asam. Laktosa dalam system pencernaan tubuh manusia akan dipecah menjadi glukosa dan galaktosa oleh enzim lactase yang diproduksi oleh sel-sel di usus kecil. Dalam susu skim sudah tidak terdapat lagi minyak atau lemak, atau hampir tidak mengandung lemak. Selain laktosa, didalam susu juga mengandung beberapa komponen potein seperti casein, dan albumin yang mudah larut dalam air. Skimmed milk atau susu skim mengandung kurang lebih 4,5-5% laktosa, 30% casein, 0,7% albumin, dan 1% mineral. Laktosa dapat berada dalam 2 bentuk kristalnya, bentuk -hidrat dan bentuk -hidrat yang dapat ditemukan pada tahana amorf atau lirkaca. Bentuk paling umum di alam dari laktosa adalah bentuk -hidrat (C12H22O11.H2O).

LAPORAN ISOLASI LAKTOSA 2

TUJUAN PRAKTIKUM
1. Mampu menjelaskan cara isolasi laktosa dari susu skim

ALAT DAN BAHAN


1. Alat-alat yang digunakan : Termometer Corong Buchner Kaca Arloji Labu Hisap Batang Pengaduk Gelas Ukur Timbangan Gram dan Anak Timbangan Kertas Perkamen Corong kaca Kertas Saring Penangas Air dan Bunsen Pompa Hisap Sumbat Gabus Beaker Gelas

2. Bahan-bahan yang digunakan : 8,6 gram susu skim ml air gram CaCO3 ml asam asetat glasial ml etanol 95%

LAPORAN ISOLASI LAKTOSA 3

STRUKTUR SENYAWA

CARA KERJA
1. Timbang gram susu skim, lalu masukkan kedalam beker gelas dan tambahkan ml air lau aduk ad homogen. 2. Panaskan campuran sampai 40C dan jaga suhu pemanasan agar tetap konstan. 3. Selama pemanasan pada suhu konstan, tambahkan asam asetat glasial setets demi setetes dengan menggunakan pipet. Penambahan dan pengadukan terus dilakukan sampai terjadi endapan casein. Saring dengan corong dan kertas saring untuk diambil filtratnya. 4. Filtrat ditambah CaCO3 dengan segera, aduk ad homogeny. Tambahkan batu didih, panaskan 10 menit sampai terbentuk endapan albumin. 5. Saring dengan corong dan kertas saring untuk diambil filtratnya. Filtrat ditambah batu didih, diuapkan dalam beaker gelas sampai 13 ml. Tambahkan ml etanol 95% (dalam kondisi api dimatikan). 6. Saring kembali dengan corong dan kertas saring dalam botol cokelat mulut lebar, tutup dengan kertas saring yang telah dilubangi dan diamkan selama semalam untuk mendapatkan kristalnya. 7. Kristal yang didapat disaring dengan corong Buchner dan labu hisap. 8. Keringkan diudara dan tmbang hasilnya

LAPORAN ISOLASI LAKTOSA 4