Anda di halaman 1dari 9

Jurnal Teknologi Kimia dan Industri

*)
danny@undip.ac.id)
REKRISTALISASI GARAM RAKYAT DARI DAERAH DEMAK
UNTUK MENCAPAI SNI GARAM INDUSTRI
Agustina Leokristi
Jurusan Teknik Kimia, Fakultas
Jln. Prof. Soedarto, Tembalang, Semarang, 50239, Telp/Fax: (024)7460058
Garam seperti yang kita kenal sehari
yang bagian utamanya adalah Natrium Klorid
MgSO
4
, MgCl
2
dan lain-lain. Namun untuk mendapatkan garam industri dari garam krosok tidak dapat
diperoleh hanya dengan jalan pencucian garam saja. Hal ini karena impuritas pada garam krosok ada di
dalam kisi kristal garam bukan hanya pada permukaan kristal garam saja
pemurnian garam krosok dengan jalan rekristalisasi. Dalam penelitian ini akan digunakan garam krosok
lokal kualitas II dari daerah Demak. Penelitian ini dibatasi pada upaya peningkatan kadar garam krosok
dari Demak agar dapat mem
sebagai variabel tetap. Non preparasi dan preparasi (penambahan Na
waktu kristalisasi (1; 1,5; 2 dan 2,5 jam) sebagai variabel berubah. Kadar pengotor dan kad
dihitung sebelum dan sesudah perlakuan kristalisasi. Kadar Ca, Mg dan Na ditentukan menggunakan
AAS. Hasil penelitian menunjukkan Kadar NaCl terbaik diperoleh pada garam hasil rekristalisasi
disertai preparasi dengan waktu kristalisasi 1,5 jam,
ini telah memenuhi SNI 06

Kata kunci:Rekristalisasi, NaCl, Demak, Pemurnian.
Salt as we known can be defined as chemicals compound which the main part is Sodium Chlori
with impurity substances consist of CaSO
the raw salt cant be obtained only by washing raw salt. This is caused by the fact that impurities not just
only on the surface of crystals sa
recrystallization. This research will use local raw salt 2nd quality from Demak. In this research will be
limited in efforts to increase the quality of salt to fullest the Indonesian
1989) by recrystallization method. Weight of raw salt used as fixed variable. Non
preparation (addition of Na
as change variables. Im
crystallization treatment. Concentration of Ca, Mg and Na ions was determined using AAS. Best
recrystallization results of NaCl salt concentration is obtained at crystallization with pre
hours, concentration 393,044.234 ppm (99.969%), which complied to SNI 06

Keywords:Recrystallization, NaCl, Demak,
1. Pendahuluan
Garam seperti yang kita kenal sehari
yang bagian utamanya adalah Natrium Klorida (NaCl) dengan zat
MgCl
2
dan lain-lain (Marihati dan Muryati, 2008). Garam dapat diperoleh dengan tiga cara, yaitu penguapan air
laut dengan sinar matahari, penambangan batuan garam (
hasil tambang berbeda-beda dalam komposisinya. Tergantung pada lokasi, namun biasanya mengandung lebih
dari 95% NaCl. Proses produksi garam di Indonesia, pada umumnya
laut dengan bantuan sinar matahari.
Indonesia berpotensi untuk manjadi penghasil garam, karena Indonesia memiliki garis pantai yang cukup
luas, namun potensi ini tidak diimbangi dengan peningkatan jumlah dan mutu prod
Menurut Djoko Wilarso mutu hasil produksi garam konsumsi yang dihasilkan pabrik
belum memenuhi standar dilihat dari kadar NaCl nya. Hal ini disebabkan oleh kondisi bahan baku yang sangat
Jurnal Teknologi Kimia dan Industri, Vol. 2, No. 4, Tahun 2013, Halaman
Online di: http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jtki
REKRISTALISASI GARAM RAKYAT DARI DAERAH DEMAK
UNTUK MENCAPAI SNI GARAM INDUSTRI


Agustina Leokristi Rositawati, Citra Metasari Taslim, Danny Soetrisnanto

Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro
darto, Tembalang, Semarang, 50239, Telp/Fax: (024)7460058

Abstrak

Garam seperti yang kita kenal sehari-hari dapat didefinisikan sebagai suatu kumpulan senyawa kimia
yang bagian utamanya adalah Natrium Klorida (NaCl) dengan zat-zat pengotor terdiri dari CaSO
lain. Namun untuk mendapatkan garam industri dari garam krosok tidak dapat
diperoleh hanya dengan jalan pencucian garam saja. Hal ini karena impuritas pada garam krosok ada di
dalam kisi kristal garam bukan hanya pada permukaan kristal garam saja, sehingga perlu dilakukan
pemurnian garam krosok dengan jalan rekristalisasi. Dalam penelitian ini akan digunakan garam krosok
lokal kualitas II dari daerah Demak. Penelitian ini dibatasi pada upaya peningkatan kadar garam krosok
dari Demak agar dapat memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI 06-0303-1989). Berat garam krosok
sebagai variabel tetap. Non preparasi dan preparasi (penambahan Na
2
CO
3
waktu kristalisasi (1; 1,5; 2 dan 2,5 jam) sebagai variabel berubah. Kadar pengotor dan kad
dihitung sebelum dan sesudah perlakuan kristalisasi. Kadar Ca, Mg dan Na ditentukan menggunakan
AAS. Hasil penelitian menunjukkan Kadar NaCl terbaik diperoleh pada garam hasil rekristalisasi
disertai preparasi dengan waktu kristalisasi 1,5 jam, dengan kadar 393044,234 ppm (99,969 %). Kadar
ini telah memenuhi SNI 06-0303-1989 sebesar (98.5% d.b).
Rekristalisasi, NaCl, Demak, Pemurnian.

Abstract

Salt as we known can be defined as chemicals compound which the main part is Sodium Chlori
with impurity substances consist of CaSO
4
, MgSO
4
, MgCl
2
, and others. But to get good quality salt from
the raw salt cant be obtained only by washing raw salt. This is caused by the fact that impurities not just
only on the surface of crystals salt but also in the crystal lattice salt, so that needs to be purified by
recrystallization. This research will use local raw salt 2nd quality from Demak. In this research will be
limited in efforts to increase the quality of salt to fullest the Indonesian National Standard (SNI 06
1989) by recrystallization method. Weight of raw salt used as fixed variable. Non
preparation (addition of Na
2
CO
3
, NaOH, and PAC) and crystallization time (1, 1.5, 2 and 2.5 hours) used
as change variables. Impurity content and NaCl concentration was calculated before and after
crystallization treatment. Concentration of Ca, Mg and Na ions was determined using AAS. Best
recrystallization results of NaCl salt concentration is obtained at crystallization with pre
hours, concentration 393,044.234 ppm (99.969%), which complied to SNI 06-0303
ecrystallization, NaCl, Demak, Purification

Garam seperti yang kita kenal sehari-hari dapat didefinisikan sebagai suatu kumpulan senyawa kimia
yang bagian utamanya adalah Natrium Klorida (NaCl) dengan zat-zat pengotor terdiri dari CaSO
lain (Marihati dan Muryati, 2008). Garam dapat diperoleh dengan tiga cara, yaitu penguapan air
atahari, penambangan batuan garam (rock salt) dan dari sumur air garam (
beda dalam komposisinya. Tergantung pada lokasi, namun biasanya mengandung lebih
dari 95% NaCl. Proses produksi garam di Indonesia, pada umumnya dilakukan dengan metode penguapan air
dengan bantuan sinar matahari.
Indonesia berpotensi untuk manjadi penghasil garam, karena Indonesia memiliki garis pantai yang cukup
luas, namun potensi ini tidak diimbangi dengan peningkatan jumlah dan mutu prod
Menurut Djoko Wilarso mutu hasil produksi garam konsumsi yang dihasilkan pabrik-
belum memenuhi standar dilihat dari kadar NaCl nya. Hal ini disebabkan oleh kondisi bahan baku yang sangat
, Tahun 2013, Halaman 217-225
s1.undip.ac.id/index.php/jtki
217
REKRISTALISASI GARAM RAKYAT DARI DAERAH DEMAK
UNTUK MENCAPAI SNI GARAM INDUSTRI
Danny Soetrisnanto
*)

Teknik, Universitas Diponegoro
darto, Tembalang, Semarang, 50239, Telp/Fax: (024)7460058
hari dapat didefinisikan sebagai suatu kumpulan senyawa kimia
zat pengotor terdiri dari CaSO
4
,
lain. Namun untuk mendapatkan garam industri dari garam krosok tidak dapat
diperoleh hanya dengan jalan pencucian garam saja. Hal ini karena impuritas pada garam krosok ada di
, sehingga perlu dilakukan
pemurnian garam krosok dengan jalan rekristalisasi. Dalam penelitian ini akan digunakan garam krosok
lokal kualitas II dari daerah Demak. Penelitian ini dibatasi pada upaya peningkatan kadar garam krosok
1989). Berat garam krosok
3
, NaOH, dan PAC) serta
waktu kristalisasi (1; 1,5; 2 dan 2,5 jam) sebagai variabel berubah. Kadar pengotor dan kadar NaCl
dihitung sebelum dan sesudah perlakuan kristalisasi. Kadar Ca, Mg dan Na ditentukan menggunakan
AAS. Hasil penelitian menunjukkan Kadar NaCl terbaik diperoleh pada garam hasil rekristalisasi
dengan kadar 393044,234 ppm (99,969 %). Kadar
Salt as we known can be defined as chemicals compound which the main part is Sodium Chloride (NaCl)
, and others. But to get good quality salt from
the raw salt cant be obtained only by washing raw salt. This is caused by the fact that impurities not just
lt but also in the crystal lattice salt, so that needs to be purified by
recrystallization. This research will use local raw salt 2nd quality from Demak. In this research will be
National Standard (SNI 06-0303-
1989) by recrystallization method. Weight of raw salt used as fixed variable. Non-preparation and
, NaOH, and PAC) and crystallization time (1, 1.5, 2 and 2.5 hours) used
purity content and NaCl concentration was calculated before and after
crystallization treatment. Concentration of Ca, Mg and Na ions was determined using AAS. Best
recrystallization results of NaCl salt concentration is obtained at crystallization with preparation in 1.5
0303-1989 (98.5% db).
suatu kumpulan senyawa kimia
zat pengotor terdiri dari CaSO
4
, MgSO
4
,
lain (Marihati dan Muryati, 2008). Garam dapat diperoleh dengan tiga cara, yaitu penguapan air
) dan dari sumur air garam (brine). Garam
beda dalam komposisinya. Tergantung pada lokasi, namun biasanya mengandung lebih
dilakukan dengan metode penguapan air
Indonesia berpotensi untuk manjadi penghasil garam, karena Indonesia memiliki garis pantai yang cukup
luas, namun potensi ini tidak diimbangi dengan peningkatan jumlah dan mutu produksi garam di Indonesia.
-pabrik masih banyak yang
belum memenuhi standar dilihat dari kadar NaCl nya. Hal ini disebabkan oleh kondisi bahan baku yang sangat
Jurnal Teknologi Kimia dan Industri



rendah mutunya, proses refining
profesional hal ini dapat dimaklumi karena industri garam ini masih dalam skala kecil. Kualitas garam yang
dikelola secara tradisional pada umumnya harus diolah kembali unt
garam industri.
Pembuatan garam dapat dilakukan dengan beberapa kategori berdasarkan perbedaan kandungan NaCl nya
sebagai unsur utama garam. Yaitu,
penguapan dengan tenaga panas bahan bakar dalam suatu
crystallizer, pemisahan elektrokimia larutan
crystallizer.
Sebagai negara tropis, pembuatan g
memanfaatkan sinar matahari. Ini merupakan proses yang paling mudah dikerjakan dan biaya operasionalnya
paling rendah. Yang perlu diperhitungkan adalah penggunaan lahan yang cukup luas dan f
mempangaruhinya, salah satunya laju penguapan. Laju penguapan ini sangat tergantung pada kelembaban udara,
kecepatan angin, dan laju energi matahari yang terabsorbsi. Cara ini merupakan cara yang paling populer untuk
pembuatan garam atau biasa disebut dengan
Proses pengerjaan pembuatan garam dilakukan pada musim kemarau, dimana lahan penguapan
(peminihan) dialiri air laut dengan menggunakan pompa. Di lahan ini air laut diuapkan sehin
Air tua dialirkan ke meja kristalisasi dimana nantinya garam akan mengkristal. Mutu garam dikendalikan dengan
cara membuang atau memisahkan
maksimal 30
0
Be. Kristal garam yang dipanen diangkut dan dibawa ke gudang pen
dilanjutkan dengan pencucian ataupun dapat langsung dijual sebagai garam curai. Garam yang dihasilkan berupa
kristal putih yang selain mengandung NaCl juga mengandung garam
Pada waktu proses pengkristalan air laut dialirkan ke tambak
akan terjadi pemekatan air laut secara bertahap.
Garam yang dibuat dengan cara penguapan air laut, dari meja kristalisasi
merupakan garam kasar (crude salt
kadar NaCl 97% lebih (maksimum 97,78%
Wilarsodan Wahyuningsih, 1995). Hal tersebut disebabakan kualitas air laut, cara pembuatan,dan hal lain yang
mempengaruhi kristalisasi garam.
Garam terbagi atas garam konsumsi dan garam industri. Garam kosumsi terbagi atas garam meja dan
garam dapur. Perbedaan keduanya terl
penggunaannya dapat dilihat pada industri soda elektrolisis dan industri perminyakan.
Penelitian tentang pembuatan garam industri yang sesuai dengan SNI telah dilakukan, antara lain
rekayasa alat purifikasi garam rakyat menjadi garam industri dengan metode pencucian oleh Marihati dkk.
(2001). Secara keseluruhan diperoleh hasil yaitu perbaikan kualitas garam dari garam krosok atau garam rakyat
menjadi garam murni dengan metode pencucian di
5,3%. Metode pencucian garam hanya mencuci garam dengan larutan garam yang bersih sehingga impuritas di
permukaan garam krosok dapat terpisah.
Namun untuk mendapatkan garam industri dari garam kroso
pencucian garam saja. Hal ini karena impuritas pada garam krosok ada di dalam kisi kristal garam bukan hanya
pada permukaan kristal garam saja, sehingga perlu dilakukan pemurnian garam krosok dengan jalan
rekristalisasi.
Rekristalisasi adalah teknik pemurnian suatu zat padat dari campuran atau pengotornya yang dilakukan
dengan cara mengkristalkan kembali zat tersebut setelah dilarutkan dalam pelarut (
cocok. Ada beberapa syarat agar suatu pe
perbedaan daya larut yang cukup besar antara zat yang dimurnikan dengan zat pengotor, tidak meninggalkan zat
pengotor pada kristal, dan mudah dipisahkan dari kristalnya.
Dalam kasus pemurnian garam NaCl dengan teknik
air. Prinsip dasar dari rekristalisasi adalah perbedaan kelarutan antara zat yang akan dimurnikan dengan
kelarutan zat pencampur atau pencemarnya. Larutan yang terbentuk dipisa
zat yang diinginkan dikristalkan dengan cara menjenuhkannya (mencapai kondisi supersaturasi atau larutan
lewat jenuh). Secara teoritis ada 4 metoda untuk menciptakan supersaturasi dengan mengubah temperatur,
menguapkan solven, reaksi kimia, dan mengubah komposisi
Jurnal Teknologi Kimia dan Industri, Vol. 2, No. 4, Tahun 2013, Halaman
Online di: http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jtki
refining yang tidak memenuhi syarat serta sistem pengelolaan pabrik yang kurang
profesional hal ini dapat dimaklumi karena industri garam ini masih dalam skala kecil. Kualitas garam yang
dikelola secara tradisional pada umumnya harus diolah kembali untuk dijadikan garam konsum
Pembuatan garam dapat dilakukan dengan beberapa kategori berdasarkan perbedaan kandungan NaCl nya
sebagai unsur utama garam. Yaitu, penguapan dengan tenaga sinar matahari di ladang pembuatan garam,
enguapan dengan tenaga panas bahan bakar dalam suatu evaporator dan kristalisasi garamnya dalam suatu
emisahan elektrokimia larutan garam dengan proses elektrolisa kemudian kristalisasi dengan
Sebagai negara tropis, pembuatan garam di Indonesia dilakukan dengan cara penguapan air laut dengan
memanfaatkan sinar matahari. Ini merupakan proses yang paling mudah dikerjakan dan biaya operasionalnya
paling rendah. Yang perlu diperhitungkan adalah penggunaan lahan yang cukup luas dan f
mempangaruhinya, salah satunya laju penguapan. Laju penguapan ini sangat tergantung pada kelembaban udara,
kecepatan angin, dan laju energi matahari yang terabsorbsi. Cara ini merupakan cara yang paling populer untuk
biasa disebut dengan solar evaporation (Djoko Wilarsodan Wahyuningsih
Proses pengerjaan pembuatan garam dilakukan pada musim kemarau, dimana lahan penguapan
(peminihan) dialiri air laut dengan menggunakan pompa. Di lahan ini air laut diuapkan sehin
Air tua dialirkan ke meja kristalisasi dimana nantinya garam akan mengkristal. Mutu garam dikendalikan dengan
cara membuang atau memisahkan bitern, yaitu hanya mengkristalkan garam pada kepekatan 25
garam yang dipanen diangkut dan dibawa ke gudang pen
dilanjutkan dengan pencucian ataupun dapat langsung dijual sebagai garam curai. Garam yang dihasilkan berupa
kristal putih yang selain mengandung NaCl juga mengandung garam-garam lain yang merupakan impuritas.
Pada waktu proses pengkristalan air laut dialirkan ke tambak-tambak, selanjutnya untuk menguapkan airnya
akan terjadi pemekatan air laut secara bertahap.
Garam yang dibuat dengan cara penguapan air laut, dari meja kristalisasi di ladang
crude salt). Secara teoritis, garam yang berasal dari penguapan air laut mempunyai
ih (maksimum 97,78% drybasis), akan tetapi dalam praktek umumnya lebih rendah (Djoko
, 1995). Hal tersebut disebabakan kualitas air laut, cara pembuatan,dan hal lain yang
mempengaruhi kristalisasi garam.
Garam terbagi atas garam konsumsi dan garam industri. Garam kosumsi terbagi atas garam meja dan
garam dapur. Perbedaan keduanya terletak pada kadar NaClnya dan spesifikasi mutu. Untuk garam industri,
penggunaannya dapat dilihat pada industri soda elektrolisis dan industri perminyakan.
Penelitian tentang pembuatan garam industri yang sesuai dengan SNI telah dilakukan, antara lain
asa alat purifikasi garam rakyat menjadi garam industri dengan metode pencucian oleh Marihati dkk.
(2001). Secara keseluruhan diperoleh hasil yaitu perbaikan kualitas garam dari garam krosok atau garam rakyat
menjadi garam murni dengan metode pencucian didapatkan konsentrasi NaCl mengalami peningkatan rata
5,3%. Metode pencucian garam hanya mencuci garam dengan larutan garam yang bersih sehingga impuritas di
permukaan garam krosok dapat terpisah.
Namun untuk mendapatkan garam industri dari garam krosok tidak dapat diperoleh hanya dengan jalan
pencucian garam saja. Hal ini karena impuritas pada garam krosok ada di dalam kisi kristal garam bukan hanya
pada permukaan kristal garam saja, sehingga perlu dilakukan pemurnian garam krosok dengan jalan
Rekristalisasi adalah teknik pemurnian suatu zat padat dari campuran atau pengotornya yang dilakukan
dengan cara mengkristalkan kembali zat tersebut setelah dilarutkan dalam pelarut (
cocok. Ada beberapa syarat agar suatu pelarut dapat digunakan dalam proses kristalisasi yaitu
perbedaan daya larut yang cukup besar antara zat yang dimurnikan dengan zat pengotor, tidak meninggalkan zat
mudah dipisahkan dari kristalnya.
garam NaCl dengan teknik rekristalisasi pelarut (solven
air. Prinsip dasar dari rekristalisasi adalah perbedaan kelarutan antara zat yang akan dimurnikan dengan
kelarutan zat pencampur atau pencemarnya. Larutan yang terbentuk dipisahkan satu sama lain, kemudian larutan
zat yang diinginkan dikristalkan dengan cara menjenuhkannya (mencapai kondisi supersaturasi atau larutan
lewat jenuh). Secara teoritis ada 4 metoda untuk menciptakan supersaturasi dengan mengubah temperatur,
, reaksi kimia, dan mengubah komposisi solven.
, Tahun 2013, Halaman 217-225
s1.undip.ac.id/index.php/jtki
218
yang tidak memenuhi syarat serta sistem pengelolaan pabrik yang kurang
profesional hal ini dapat dimaklumi karena industri garam ini masih dalam skala kecil. Kualitas garam yang
uk dijadikan garam konsumsi maupun untuk
Pembuatan garam dapat dilakukan dengan beberapa kategori berdasarkan perbedaan kandungan NaCl nya
enguapan dengan tenaga sinar matahari di ladang pembuatan garam,
dan kristalisasi garamnya dalam suatu
kemudian kristalisasi dengan
aram di Indonesia dilakukan dengan cara penguapan air laut dengan
memanfaatkan sinar matahari. Ini merupakan proses yang paling mudah dikerjakan dan biaya operasionalnya
paling rendah. Yang perlu diperhitungkan adalah penggunaan lahan yang cukup luas dan faktor-faktor yang
mempangaruhinya, salah satunya laju penguapan. Laju penguapan ini sangat tergantung pada kelembaban udara,
kecepatan angin, dan laju energi matahari yang terabsorbsi. Cara ini merupakan cara yang paling populer untuk
dan Wahyuningsih, 1995).
Proses pengerjaan pembuatan garam dilakukan pada musim kemarau, dimana lahan penguapan
(peminihan) dialiri air laut dengan menggunakan pompa. Di lahan ini air laut diuapkan sehingga menjadi air tua.
Air tua dialirkan ke meja kristalisasi dimana nantinya garam akan mengkristal. Mutu garam dikendalikan dengan
, yaitu hanya mengkristalkan garam pada kepekatan 25
0
sampai
garam yang dipanen diangkut dan dibawa ke gudang penyimpanan. Proses dapat
dilanjutkan dengan pencucian ataupun dapat langsung dijual sebagai garam curai. Garam yang dihasilkan berupa
in yang merupakan impuritas.
tambak, selanjutnya untuk menguapkan airnya
di ladang-ladang penggaraman
). Secara teoritis, garam yang berasal dari penguapan air laut mempunyai
), akan tetapi dalam praktek umumnya lebih rendah (Djoko
, 1995). Hal tersebut disebabakan kualitas air laut, cara pembuatan,dan hal lain yang
Garam terbagi atas garam konsumsi dan garam industri. Garam kosumsi terbagi atas garam meja dan
etak pada kadar NaClnya dan spesifikasi mutu. Untuk garam industri,

Penelitian tentang pembuatan garam industri yang sesuai dengan SNI telah dilakukan, antara lain
asa alat purifikasi garam rakyat menjadi garam industri dengan metode pencucian oleh Marihati dkk.
(2001). Secara keseluruhan diperoleh hasil yaitu perbaikan kualitas garam dari garam krosok atau garam rakyat
dapatkan konsentrasi NaCl mengalami peningkatan rata-rata
5,3%. Metode pencucian garam hanya mencuci garam dengan larutan garam yang bersih sehingga impuritas di
k tidak dapat diperoleh hanya dengan jalan
pencucian garam saja. Hal ini karena impuritas pada garam krosok ada di dalam kisi kristal garam bukan hanya
pada permukaan kristal garam saja, sehingga perlu dilakukan pemurnian garam krosok dengan jalan
Rekristalisasi adalah teknik pemurnian suatu zat padat dari campuran atau pengotornya yang dilakukan
dengan cara mengkristalkan kembali zat tersebut setelah dilarutkan dalam pelarut (solven) yang sesuai atau
larut dapat digunakan dalam proses kristalisasi yaitu memberikan
perbedaan daya larut yang cukup besar antara zat yang dimurnikan dengan zat pengotor, tidak meninggalkan zat
solven) yang digunakan adalah
air. Prinsip dasar dari rekristalisasi adalah perbedaan kelarutan antara zat yang akan dimurnikan dengan
hkan satu sama lain, kemudian larutan
zat yang diinginkan dikristalkan dengan cara menjenuhkannya (mencapai kondisi supersaturasi atau larutan
lewat jenuh). Secara teoritis ada 4 metoda untuk menciptakan supersaturasi dengan mengubah temperatur,
Jurnal Teknologi Kimia dan Industri



Gambar 1
Dalam hal ini untuk kasus garam NaCl adalah tidak ekonomis bila digunakan
karena kelarutan NaCl tidak dipengaruhi oleh suhu, hal ini terlihat dari grafik kelarutan NaCl hampir konstan
antara suhu 0
0
C hingga 100
0
C. Sehingga untuk kasus NaCl pasti digunakan metoda penguapan
ini adalah air).
Dalam penelitian ini akan digunakan garam krosok lokal kualitas II dari daerah Demak yang diperoleh
dari salah satu distributor garam yang terletak di Semarang. Garam krosok ini akan direkristalisasi dengan cara
melarutkan kembali garam krosok dengan air d
kembali dengan penguapan solven
tentu saja dengan kemurnian yang tinggi pula sehingga dapat sesuai dengan syarat SNI.
2. Bahan dan Metode Penelitian
Bahan utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah garam krosok lokal kualitas II yang berasal dari
petani garam dari daerah Demak dan a
umpan larutan garam jenuh pada 30
kristalisasi (1; 1,5; 2; 2,5) jam. Respon yang diamati adalah kemurnian garam yang diperoleh dari proses
rekristalisasi yaitu pangamatan terhadap kadar NaCl pada
analisa ayakan untuk mengetahui CSD (
Langkah pertama yang dilakukandalam penelitian ini adalah analisa bahan baku berupa analisa kadar Ca,
Mg, dan NaCl dengan menggunakan AAS. Langkah kedua adalah preparasi umpan rekristalisasi. Dilakukan
dengan cara membuat larutan garam krosok jenuh pada 30
penyaringan untuk memisahkan padatan. Sedangkan pada sampel deng
Na
2
CO
3
berdasarkan stoikiometri
Mg dan koagulan PAC (Poly Alumunium Chlorida
disaring. Untuk masing-masing sampel, baik non preparasi dan dengan preparasi langkah selanjutnya adalah
proses rekristalisasi dengan pemanasan umpan rekristalisasi, atur kecepatan pengadukan, lakukan pemanasan
untuk penguapan solven pada suhu o
menggunakan kertas saring dan
menggunakan oven dengan suhu 100
didapatkan berat kristal konstan. Langkah ketiga yaitu analisa produk yang meliputi analisa CSD dengan ayakan
bertingkat dan analisa Ca, Mg, dan NaCl garam hasil rekristalisasi dengan menggunakan AAS.
Jurnal Teknologi Kimia dan Industri, Vol. 2, No. 4, Tahun 2013, Halaman
Online di: http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jtki

Gambar 1. Kelarutan KNO
3
, CuSO
4
, dan NaCl terhadap Temperatur
Dalam hal ini untuk kasus garam NaCl adalah tidak ekonomis bila digunakan
karena kelarutan NaCl tidak dipengaruhi oleh suhu, hal ini terlihat dari grafik kelarutan NaCl hampir konstan
C. Sehingga untuk kasus NaCl pasti digunakan metoda penguapan
Dalam penelitian ini akan digunakan garam krosok lokal kualitas II dari daerah Demak yang diperoleh
dari salah satu distributor garam yang terletak di Semarang. Garam krosok ini akan direkristalisasi dengan cara
melarutkan kembali garam krosok dengan air dilanjutkan dengan penghilangan impurtas
solven, sehingga diharapkan mampu menghasilkan kadar NaCl yang lebih tinggi,
tentu saja dengan kemurnian yang tinggi pula sehingga dapat sesuai dengan syarat SNI.
an dan Metode Penelitian
Bahan utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah garam krosok lokal kualitas II yang berasal dari
petani garam dari daerah Demak dan akuades. Dalam penelitian ini digunakan variabel tetap adalah konsentrasi
garam jenuh pada 30
0
C. Variabel berubah adalah non preparasi dan dengan preparasi serta waktu
kristalisasi (1; 1,5; 2; 2,5) jam. Respon yang diamati adalah kemurnian garam yang diperoleh dari proses
rekristalisasi yaitu pangamatan terhadap kadar NaCl pada garam, serta dilakukan analisa sekunder yaitu dengan
analisa ayakan untuk mengetahui CSD (Crystal Size Distribution) garam hasil rekristalisasi.
Langkah pertama yang dilakukandalam penelitian ini adalah analisa bahan baku berupa analisa kadar Ca,
aCl dengan menggunakan AAS. Langkah kedua adalah preparasi umpan rekristalisasi. Dilakukan
dengan cara membuat larutan garam krosok jenuh pada 30
0
C. Untuk sampel non preparasi hanya dilakukan
penyaringan untuk memisahkan padatan. Sedangkan pada sampel dengan preparasi dilakukan penambahan
berdasarkan stoikiometri untuk mengendapkan ion Ca, NaOH hingga pH =12
Alumunium Chlorida) 10 ppm untuk mengendapkan padatan tersuspensi
masing sampel, baik non preparasi dan dengan preparasi langkah selanjutnya adalah
proses rekristalisasi dengan pemanasan umpan rekristalisasi, atur kecepatan pengadukan, lakukan pemanasan
pada suhu operasi 90
0
C ambil slurry yang terbentuk, kemudian saring deng
n saringan vakum. Setelah proses selesai, keringkan garam terbentuk dengan
menggunakan oven dengan suhu 100
0
C selama 10 menit kemudian ditimbang, pengovenan diulang
didapatkan berat kristal konstan. Langkah ketiga yaitu analisa produk yang meliputi analisa CSD dengan ayakan
bertingkat dan analisa Ca, Mg, dan NaCl garam hasil rekristalisasi dengan menggunakan AAS.
, Tahun 2013, Halaman 217-225
s1.undip.ac.id/index.php/jtki
219
, dan NaCl terhadap Temperatur
(Sumber : Mullin, 1972)
Dalam hal ini untuk kasus garam NaCl adalah tidak ekonomis bila digunakan cara perubahan temperatur
karena kelarutan NaCl tidak dipengaruhi oleh suhu, hal ini terlihat dari grafik kelarutan NaCl hampir konstan
C. Sehingga untuk kasus NaCl pasti digunakan metoda penguapan solven (dalam hal
Dalam penelitian ini akan digunakan garam krosok lokal kualitas II dari daerah Demak yang diperoleh
dari salah satu distributor garam yang terletak di Semarang. Garam krosok ini akan direkristalisasi dengan cara
lanjutkan dengan penghilangan impurtas kemudian dikristalkan
, sehingga diharapkan mampu menghasilkan kadar NaCl yang lebih tinggi,
tentu saja dengan kemurnian yang tinggi pula sehingga dapat sesuai dengan syarat SNI.
Bahan utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah garam krosok lokal kualitas II yang berasal dari
. Dalam penelitian ini digunakan variabel tetap adalah konsentrasi
C. Variabel berubah adalah non preparasi dan dengan preparasi serta waktu
kristalisasi (1; 1,5; 2; 2,5) jam. Respon yang diamati adalah kemurnian garam yang diperoleh dari proses
garam, serta dilakukan analisa sekunder yaitu dengan
) garam hasil rekristalisasi.
Langkah pertama yang dilakukandalam penelitian ini adalah analisa bahan baku berupa analisa kadar Ca,
aCl dengan menggunakan AAS. Langkah kedua adalah preparasi umpan rekristalisasi. Dilakukan
C. Untuk sampel non preparasi hanya dilakukan
an preparasi dilakukan penambahan
hingga pH =12 untuk mengendapkan ion
padatan tersuspensi, kemudian
masing sampel, baik non preparasi dan dengan preparasi langkah selanjutnya adalah
proses rekristalisasi dengan pemanasan umpan rekristalisasi, atur kecepatan pengadukan, lakukan pemanasan
yang terbentuk, kemudian saring dengan
saringan vakum. Setelah proses selesai, keringkan garam terbentuk dengan
C selama 10 menit kemudian ditimbang, pengovenan diulangi hingga
didapatkan berat kristal konstan. Langkah ketiga yaitu analisa produk yang meliputi analisa CSD dengan ayakan
bertingkat dan analisa Ca, Mg, dan NaCl garam hasil rekristalisasi dengan menggunakan AAS.
Jurnal Teknologi Kimia dan Industri



Keterangan :
1. Thermometer
2. Labu Leher 4
3. Motor Pengaduk
4. Pemanas Listrik
5. Pompa Vakum/Pompa Respirator
6. Statif
7. Klem

3. Hasil dan Pembahasan
Tabel 1
D Screen
(mm)
Non Preparasi
Waktu Kristalisasi (jam)
1 1,5
> 1 5,35 14,03
0,85 - 1 22,35 40,47
0,6-0,85 16,80 18,40
< 0,6 12,80 13,41
Total 57,30 86,31
Tabel 2
Waktu
Kristalisasi
(Jam)
Ca
0 1610,913
1 275,420
1,5 190,890
2 726,620
2,5 912,470
Tabel 3
Waktu
Kristalisasi
(Jam)
Non Preparasi
Ca
Jurnal Teknologi Kimia dan Industri, Vol. 2, No. 4, Tahun 2013, Halaman
Online di: http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jtki
Gambar 2. Rangkaian Alat Kristalisasi
Pompa Vakum/Pompa Respirator
Tabel 1. Hasil Pengukuran Massa Kristal Hasil Kristalisasi
Massa Kristal yang didapatkan (gr)
Non Preparasi Dengan Preparasi
Waktu Kristalisasi (jam) Waktu Kristalisasi (jam)
1,5 2 2,5 1 1,5
14,03 6,74 16,78 0,00 1,28
40,47 39,60 56,51 1,28 18,08
18,40 42,15 39,06 4,18 17,65
13,41 38,56 28,10 30,33 38,71
86,31 127,05 140,45 35,79 75,72

Tabel 2. Hasil Pengukuran Kadar Ca, Mg dan Na dalam ppm
Kadar dalam ppm
Non Preparasi Dengan Preparasi
Mg Na Ca Mg
3940,533 357602,042 1610,913 3940,533
836,587 390510,206 39,140 447,040
646,807 388316,329 20,950 22,853
654,297 326887,754 18,970 30,093
579,387 318112,246 112,530 222,270

Tabel 3. Hasil Pengukuran Kadar Ca, Mg dan Na dalam %
Kadar dalam %
Non Preparasi Dengan Preparasi
Mg NaCl Ca Mg
, Tahun 2013, Halaman 217-225
s1.undip.ac.id/index.php/jtki
220

. Hasil Pengukuran Massa Kristal Hasil Kristalisasi
Dengan Preparasi
Waktu Kristalisasi (jam)
2 2,5
3,20 1,08
16,89 23,55
23,56 57,18
35,39 86,00
79,04 167,81
. Hasil Pengukuran Kadar Ca, Mg dan Na dalam ppm
Dengan Preparasi
Mg Na
3940,533 357602,042
447,040 391447,773
22,853 393044,234
30,093 393021,374
222,270 392167,450

Dengan Preparasi
Mg NaCl
Jurnal Teknologi Kimia dan Industri



0 0,161
1 0,028
1,5 0,019
2 0,073
2,5 0,091

Jurnal Teknologi Kimia dan Industri, Vol. 2, No. 4, Tahun 2013, Halaman
Online di: http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jtki
0,394 90,955 0,161 0,394
0,084 99,325 0,004 0,045
0,065 98,767 0,002 0,002
0,065 83,143 0,002 0,003
0,058 80,911 0,011 0,022


, Tahun 2013, Halaman 217-225
s1.undip.ac.id/index.php/jtki
221
0,394 90,955
0,045 99,571
0,002 99,969
0,003 99,964
0,022 99,746
Jurnal Teknologi Kimia dan Industri



Hubungan Waktu Kristalisasi Dengan Massa Kristal

Gambar 3

Grafik di atas merupakan hubungan antara waktu kristalisasi dan massa kristal. Dari gambar grafik di atas
semakin lama waktu kristalisasi, jumlah kristal garam yang dihasilkan akan semakin banyak. Kristalisasi
beroperasi secara batch, dengan
yang teruapkan, sehingga akan diperoleh kristal garam yang semakin banyak.

Analisa Distribusi Ukuran Kristal

Gambar 4

Grafik di atas merupakan hubungan antara diameter kristal dengan ln N. Dari grafik terlihat jumlah
partikel kristal semakin banyak untuk diameter kristal yang lebih kecil. Hal ini sesuai dengan persamaan :
N =
W 1 buah kristal
Volume bola
Densitas garam

Dari persamaan diatas harga N berbanding terbalik dengan diameter partikel, sehingga jumlah kristal akan
semakin banyak pada ukuran kristal yang lebih kecil. Kecenderungan
Sehingga preparasi tidak mempengaruhi distribusi ukuran kristal.

0.00
50.00
100.00
150.00
200.00
M
a
s
s
a

K
r
i
s
t
a
l
(
g
r
a
m
)
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
0.4
l
n

N
Jurnal Teknologi Kimia dan Industri, Vol. 2, No. 4, Tahun 2013, Halaman
Online di: http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jtki
Waktu Kristalisasi Dengan Massa Kristal
Gambar 3. Hubungan Waktu Kristalisasi Dengan Massa Kristal
Grafik di atas merupakan hubungan antara waktu kristalisasi dan massa kristal. Dari gambar grafik di atas
semakin lama waktu kristalisasi, jumlah kristal garam yang dihasilkan akan semakin banyak. Kristalisasi
, dengan demikian semakin lama waktu kristalisasi akan semakin banyak
sehingga akan diperoleh kristal garam yang semakin banyak.
Analisa Distribusi Ukuran Kristal
Gambar 4. Hubungan Diameter Kristal dengan ln N
pakan hubungan antara diameter kristal dengan ln N. Dari grafik terlihat jumlah
partikel kristal semakin banyak untuk diameter kristal yang lebih kecil. Hal ini sesuai dengan persamaan :
=
W total kristal
W 1 buah kristal
W 1 buah kristal = volume x densitas garam
Volume bola =
4
r
3

3
Densitas garam = 2,163 gr/cc
Dari persamaan diatas harga N berbanding terbalik dengan diameter partikel, sehingga jumlah kristal akan
semakin banyak pada ukuran kristal yang lebih kecil. Kecenderungan distribusi yang diperoleh relatif konstan
Sehingga preparasi tidak mempengaruhi distribusi ukuran kristal.
0.00
50.00
100.00
150.00
200.00
0 0.5 1 1.5 2 2.5
Waktu Kristalisasi (Jam)
Waktu Kristalisasi vs Massa Kristal
Non Preparasi Dengan Preparasi
0.5 0.6 0.7 0.8 0.9 1
D Average (mm)
Hubungan Diameter Kristal vs ln N
Non Preparasi Dengan Preparasi
, Tahun 2013, Halaman 217-225
s1.undip.ac.id/index.php/jtki
222

Massa Kristal
Grafik di atas merupakan hubungan antara waktu kristalisasi dan massa kristal. Dari gambar grafik di atas
semakin lama waktu kristalisasi, jumlah kristal garam yang dihasilkan akan semakin banyak. Kristalisasi
demikian semakin lama waktu kristalisasi akan semakin banyak solven (air)

pakan hubungan antara diameter kristal dengan ln N. Dari grafik terlihat jumlah
partikel kristal semakin banyak untuk diameter kristal yang lebih kecil. Hal ini sesuai dengan persamaan :
Dari persamaan diatas harga N berbanding terbalik dengan diameter partikel, sehingga jumlah kristal akan
distribusi yang diperoleh relatif konstan.
3
1.1
Jurnal Teknologi Kimia dan Industri




Jurnal Teknologi Kimia dan Industri, Vol. 2, No. 4, Tahun 2013, Halaman
Online di: http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jtki

, Tahun 2013, Halaman 217-225
s1.undip.ac.id/index.php/jtki
223
Jurnal Teknologi Kimia dan Industri



Impuritas Ca dan Mg

Gambar 5. Hubungan Waktu Kristalisa
Gambar 6. Hubungan

Grafik di atas merupakan hubungan antara waktu kristalisasi dan kadar impuritas. Kadar impuritas Ca dan
Mg mengalami kenaikan dari waktu ke waktu baik dengan preparasi maupun non preparasi. Kadar Ca dan Mg
yang diperoleh dengan preparasi
dilakukan dengan penambahan Na
sampel non preparasi.
Peningkatan kadar Ca dan Mg di tiap peningkatan waktu krista
secara batch. Dengan meningkatnya waktu kristalisasi,
pemekatan yang berpengaruh menaikkan konsentrasi Ca dan Mg dalam larutan, sehingga Ca dan Mg yang ikut
terkristalkan (terperangkap dalam
Menurut SNI 06-0303-1989 syarat mutu untuk garam Industri soda elekt
(0.1%d.b) dan Mg (0.06% d.b). Pada hasil yang diperoleh untuk sampel dengan preparasi telah memenuhi
standar kualitas garam industri soda elektrolisis.


500
1000
1500
2000
K
a
d
a
r

d
a
l
a
m
p
p
m
1000
2000
3000
4000
5000
K
a
d
a
r

d
a
l
a
m
p
p
m
Jurnal Teknologi Kimia dan Industri, Vol. 2, No. 4, Tahun 2013, Halaman
Online di: http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jtki
. Hubungan Waktu Kristalisasi Dengan Kadar Impuritas Ca

. Hubungan Waktu Kristalisasi dengan Kadar Impurita
Grafik di atas merupakan hubungan antara waktu kristalisasi dan kadar impuritas. Kadar impuritas Ca dan
Mg mengalami kenaikan dari waktu ke waktu baik dengan preparasi maupun non preparasi. Kadar Ca dan Mg
yang diperoleh dengan preparasi lebih kecil dibandingkan non preparasi. Pada sampel dengan preparasi
dilakukan dengan penambahan Na
2
CO
3
, koagulan PAC, dan NaOH sehingga hasil yang diperoleh lebih baik dari
Peningkatan kadar Ca dan Mg di tiap peningkatan waktu kristalisasi terjadi karena sistem beroperasi
. Dengan meningkatnya waktu kristalisasi, solven yang teruapkan semakin banyak dan terjadi
pemekatan yang berpengaruh menaikkan konsentrasi Ca dan Mg dalam larutan, sehingga Ca dan Mg yang ikut
kan (terperangkap dalam kristal) juga semakin banyak.
1989 syarat mutu untuk garam Industri soda elektrolisis maksimal untuk Ca
). Pada hasil yang diperoleh untuk sampel dengan preparasi telah memenuhi
standar kualitas garam industri soda elektrolisis.

0
500
1000
1500
2000
0 0.5 1 1.5 2 2.5
Waktu Kristalisasi (Jam)
Kadar Impuritas Ca
Non Preparasi Dengan Preparasi
0
1000
2000
3000
4000
5000
0 0.5 1 1.5 2 2.5
Waktu Kristalisasi (Jam)
Kadar Impuritas Mg
Non Preparasi Dengan Preparasi
, Tahun 2013, Halaman 217-225
s1.undip.ac.id/index.php/jtki
224

i Dengan Kadar Impuritas Ca

Impuritas Mg
Grafik di atas merupakan hubungan antara waktu kristalisasi dan kadar impuritas. Kadar impuritas Ca dan
Mg mengalami kenaikan dari waktu ke waktu baik dengan preparasi maupun non preparasi. Kadar Ca dan Mg
lebih kecil dibandingkan non preparasi. Pada sampel dengan preparasi
NaOH sehingga hasil yang diperoleh lebih baik dari
lisasi terjadi karena sistem beroperasi
yang teruapkan semakin banyak dan terjadi
pemekatan yang berpengaruh menaikkan konsentrasi Ca dan Mg dalam larutan, sehingga Ca dan Mg yang ikut
rolisis maksimal untuk Ca
). Pada hasil yang diperoleh untuk sampel dengan preparasi telah memenuhi
3
3
Jurnal Teknologi Kimia dan Industri



Hubungan Kadar NaCl Dengan Waktu Kristalisasi

Gambar 7

Grafik di atas merupakan hubungan antara waktu kristalisasi dengan kadar kemurnian NaCl. Hasil t
diperoleh pada garam hasil rekristalisasi disertai preparasi dengan waktu kristalisasi 1,5 jam, dengan kadar
393044,234 ppm (99,969 %). Secara umum kadar NaCl yang diperoleh pada garam
dibanding garam non preparasi.
Preparasi yang dilakukan dengan penambahan Na
kemurnian NaCl. Penambah PAC bertujuan untuk menghilangkan padatan tersuspensi, sedangkan Na
NaOH bertujuan untuk menghilangkan impuritas
Pada garam non preparasi kadar NaCl mengalami penurunan. Kadar NaCl yang menurun sesuai dengan
kadar impuritas Ca & Mg yang semakin meningkat di dalam larutan pada waktu kristalisasi yang semakin lama
karena kristalisasi dilakukan secara
yang akan terperangkap dalam kristal NaCl dan menurunkan kadar NaCl produk.

4. Kesimpulan
Kadar NaCl terbaik diperoleh pada garam hasil rekristalisasi disertai preparasi dengan waktu kristalisasi
1,5 jam, dengan kadar 393044,234 ppm (99,969 %). Kadar ini telah memenuhi SNI 06
(98.5% d.b).

Ucapan Terima Kasih

Ucapan terima kasih disampaikan kepada
Pak Djari, Pak Wisnu, Ibu Nur, Nurhidayati, Mulkiya Zikri, dan Etna Mayasari atas bantuannya dalam penelitian
ini.

Daftar Pustaka

J. W. Mullin. Crystallization. 1972. London: Butterworths.
Marihati dan Muryati. 2008. Pemisahan dan Pemamfaatan Bitern Segabai Salah Satu
Pendapatan Petani Garam
Semarang.
Marihati, A., M. Soengkawati, S. Kartasanjaya, T. Sayekti. 2001.
Industri Kecil dan Menengah Untuk Konsumsi Garam Industri Pangan
Wiarso, D, dan Wahyuningsih. 1995.
Industri dengan Tenaga Surya
Wilarso, D. 1996. Peningkatan Kadar
dan Pengembangan Industri No. 21/Ags. Semarang.


80
85
90
95
100
K
a
d
a
r
d
a
l
a
m

%
Jurnal Teknologi Kimia dan Industri, Vol. 2, No. 4, Tahun 2013, Halaman
Online di: http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jtki
l Dengan Waktu Kristalisasi
Gambar 7. Hubungan Waktu Kristalisasi dengan Kadar NaCl
Grafik di atas merupakan hubungan antara waktu kristalisasi dengan kadar kemurnian NaCl. Hasil t
diperoleh pada garam hasil rekristalisasi disertai preparasi dengan waktu kristalisasi 1,5 jam, dengan kadar
393044,234 ppm (99,969 %). Secara umum kadar NaCl yang diperoleh pada garam dengan preparasi lebih baik

rasi yang dilakukan dengan penambahan Na
2
CO
3
, NaOH dan PAC dapat menaikkan kadar
kemurnian NaCl. Penambah PAC bertujuan untuk menghilangkan padatan tersuspensi, sedangkan Na
NaOH bertujuan untuk menghilangkan impuritas terlarut berupa ion Ca dan Mg.
Pada garam non preparasi kadar NaCl mengalami penurunan. Kadar NaCl yang menurun sesuai dengan
kadar impuritas Ca & Mg yang semakin meningkat di dalam larutan pada waktu kristalisasi yang semakin lama
karena kristalisasi dilakukan secara batch, sehingga semakin lama waktu kristalisasi semakin banyak impuritas
yang akan terperangkap dalam kristal NaCl dan menurunkan kadar NaCl produk.
Kadar NaCl terbaik diperoleh pada garam hasil rekristalisasi disertai preparasi dengan waktu kristalisasi
1,5 jam, dengan kadar 393044,234 ppm (99,969 %). Kadar ini telah memenuhi SNI 06
Ucapan terima kasih disampaikan kepada UD. Putra Bhakti Semarang, Ibu Marisa, Pak Murdiono, Pak Darto,
u, Ibu Nur, Nurhidayati, Mulkiya Zikri, dan Etna Mayasari atas bantuannya dalam penelitian
. 1972. London: Butterworths.
Pemisahan dan Pemamfaatan Bitern Segabai Salah Satu
Pendapatan Petani Garam. Buletin Penelitian dan Pengembangan Industri No. 2/Vol. II/Februari.
Marihati, A., M. Soengkawati, S. Kartasanjaya, T. Sayekti. 2001. Rekayasa Alat Purifikasi Garam Rakyat Pada
ngah Untuk Konsumsi Garam Industri Pangan. Semarang.
. 1995. Peningkatan Teknologi Proses Pengolahan Garam Rakyat Menjadi Garam
Industri dengan Tenaga Surya. Laporan Penelitian BPPI. Semarang.
Peningkatan Kadar NaCl Pada Proses Pencucian Garam Rakyat di Pabrik
dan Pengembangan Industri No. 21/Ags. Semarang.
80
85
90
95
100
1 1.5 2 2.5
Waktu Kristalisasi (Jam)
Kadar Kemurnian NaCl
Non Preparasi Dengan Preparasi
, Tahun 2013, Halaman 217-225
s1.undip.ac.id/index.php/jtki
225

engan Kadar NaCl
Grafik di atas merupakan hubungan antara waktu kristalisasi dengan kadar kemurnian NaCl. Hasil terbaik
diperoleh pada garam hasil rekristalisasi disertai preparasi dengan waktu kristalisasi 1,5 jam, dengan kadar
dengan preparasi lebih baik
, NaOH dan PAC dapat menaikkan kadar
kemurnian NaCl. Penambah PAC bertujuan untuk menghilangkan padatan tersuspensi, sedangkan Na
2
CO
3
dan
Pada garam non preparasi kadar NaCl mengalami penurunan. Kadar NaCl yang menurun sesuai dengan
kadar impuritas Ca & Mg yang semakin meningkat di dalam larutan pada waktu kristalisasi yang semakin lama
semakin lama waktu kristalisasi semakin banyak impuritas
Kadar NaCl terbaik diperoleh pada garam hasil rekristalisasi disertai preparasi dengan waktu kristalisasi
1,5 jam, dengan kadar 393044,234 ppm (99,969 %). Kadar ini telah memenuhi SNI 06-0303-1989 sebesar
Ibu Marisa, Pak Murdiono, Pak Darto,
u, Ibu Nur, Nurhidayati, Mulkiya Zikri, dan Etna Mayasari atas bantuannya dalam penelitian
Pemisahan dan Pemamfaatan Bitern Segabai Salah Satu Upaya Peningkatan
. Buletin Penelitian dan Pengembangan Industri No. 2/Vol. II/Februari.
Rekayasa Alat Purifikasi Garam Rakyat Pada
. Semarang.
Peningkatan Teknologi Proses Pengolahan Garam Rakyat Menjadi Garam
NaCl Pada Proses Pencucian Garam Rakyat di Pabrik. Buletin Penelitian
3

Anda mungkin juga menyukai