Anda di halaman 1dari 13

Nama : Annisa Rahma NPM : 120110110140 Tugas Akuntansi Forensik

Kode Etik Akuntansi Forensik Atribut Seorang Akuntan Forensik


1. Menghindari pengumpulan fakta dan data yang berlebihan secara prematur. Identifikasi lebih dahulu siapa pelakunya. 2. Fraud auditor harus mampu membuktikan niat pelaku melakukan kecurangan. 3. Seorang auditor harus kreatif,berpikir seperti pelaku fraud,jangan dapat ditebak. 4. Auditor harus tahu bahwa banyak kecurangan dilakukan dengan persekongkolan. 5. Dalam memilih strategi untuk menemukan kecurangan dalam ininvestigasi proaktif. Dari nasihat tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut. a. Dari awal upayakan menduga siapa pelaku. b. Fokus pada pengambilan bukti dan barang bukti untuk pengadilan. c. Kreatif, jangan dapat ditebak. d. Investigator harus memiliki intuisi yang tajam untuk merumuskan teori mengenai persengkongkolan. e. Kenali pola fraud.

Karakteristik Seorang Pemeriksa Fraud


Pemeriksa fraud harus memiliki kemampuan yang unik. Kemampuan untuk memastikan kebenaran dari fakta yang dikumpulkan dan kemudian melaporkan fakta-fakta itu secara akurat dan tepat. Memiliki kepribadian yang menarik dan mampu memotivasi orang lain untuk membantunya. Memiliki kemampuan teknis untuk mengerti konsep-konsep keuangan dan mampu untuk menarik kesimpulan. Kualitas Akuntan Forensik antara lain : Kreatif, Rasa ingin tahu, Tak mudah menyerah, Memiliki akal sehat, Business sense, dan

Percaya diri

Independen, Objektif, Dan Skeptis merupakan sikap yang harus melekat pada diri seorang auditor. Ketiganya juga tidak dapat dipisahkan dari pekerjaan akuntan forensik.

Kode Etik Akuntan Forensik


Kode etik ini berisi nilai-nilai luhur yang amat penting bagi eksistensi profesi. Profesi bias eksis karena ada integritas (sikap jujur),rasa hormat dan kehoprmatan,dan nilai-nilai luhur lainnya yang menciptakan rasa percaya dari pengguna dan stackholders lainnya. 1. Tanggung Jawab Profesi Dalam melaksanakan tanggung jawabnya sebagai profesional, setiap anggota harus senantiasa menggunakan pertimbangan moral dan profesional dalam semua kegiatan yang dilakukannya. Sebagai profesional, anggota mempunyai peran penting dalam masyarakat. Sejalan dengan peran tersebut, anggota mempunyai tanggung jawab kepada semua pemakai jasa profesional mereka. Anggota juga harus selalu bertanggungjawab untuk bekerja sama dengan sesama anggota untuk mengembangkan profesi akuntansi, memelihara kepercayaan masyarakat dan menjalankan tanggung jawab profesi dalam mengatur dirinya sendiri. Usaha kolektif semua anggota diperlukan untuk memelihara dan meningkatkan tradisi profesi.

2. Kepentingan Publik Setiap anggota berkewajiban untuk senantiasa bertindak dalam kerangka pelayanan kepada publik, menghormati kepercayaan publik, dan menunjukan komitmen atas profesionalisme. Satu ciri utama dari suatu profesi adalah penerimaan tanggung jawab kepada publik. Profesi akuntan memegang peran yang penting di masyarakat, dimana publik dari profesi akuntan yang terdiri dari klien, pemberi kredit, pemerintah, pemberi kerja, pegawai, investor, dunia bisnis dan keuangan, dan pihak lainnya bergantung kepada obyektivitas dan integritas akuntan dalam memelihara berjalannya fungsi bisnis secara tertib. Ketergantungan ini menimbulkan tanggung jawab akuntan terhadap kepentingan publik. Kepentingan publik didefinisikan sebagai kepentingan masyarakat dan institusi yang dilayani anggota secara

keseluruhan. Ketergantungan ini menyebabkan sikap dan tingkah laku akuntan dalam menyediakan jasanya mempengaruhi kesejahteraan ekonomi masyarakat dan negara. Kepentingan utama profesi akuntan adalah untuk membuat pemakai jasa akuntan paham bahwa jasa akuntan dilakukan dengan tingkat prestasi tertinggi sesuai dengan persyaratan etika yang diperlukan untuk mencapai tingkat prestasi tersebut. Dan semua anggota mengikat dirinya untuk menghormati kepercayaan publik. Atas kepercayaan yang diberikan publik kepadanya, anggota harus secara terus menerus menunjukkan dedikasi mereka untuk mencapai profesionalisme yang tinggi.

3. Integritas Untuk memelihara dan meningkatkan kepercayaan publik, setiap anggota harus memenuhi tanggung jawab profesionalnya dengan integritas setinggi mungkin. Integritas adalah suatu elemen karakter yang mendasari timbulnya pengakuan profesional. Integritas merupakan kualitas yang melandasi kepercayaan publik dan merupakan patokan (benchmark) bagi anggota dalam menguji keputusan yang diambilnya. Integritas mengharuskan seorang anggota untuk, antara lain, bersikap jujur dan berterus terang tanpa harus mengorbankan rahasia penerima jasa. Pelayanan dan kepercayaan publik tidak boleh dikalahkan oleh keuntungan pribadi. Integritas dapat menerima kesalahan yang tidak disengaja dan perbedaan pendapat yang jujur, tetapi tidak menerima kecurangan atau peniadaan prinsip.

4. Objektivitas Setiap anggota harus menjaga obyektivitasnya dan bebas dari benturan kepentingan dalam pemenuhan kewajiban profesionalnya. Obyektivitasnya adalah suatu kualitas yang memberikan nilai atas jasa yang diberikan anggota. Prinsip obyektivitas mengharuskan anggota bersikap adil, tidak memihak, jujur secara intelektual, tidak berprasangka atau bias, serta bebas dari benturan kepentingan atau dibawah pengaruh pihak lain.

5. Kompetensi dan Kehati-hatian Profesional Setiap anggota harus melaksanakan jasa profesionalnya dengan berhati-hati, kompetensi dan ketekunan, serta mempunyai kewajiban untuk mempertahankan pengetahuan dan ketrampilan profesional pada tingkat yang diperlukan untuk memastikan bahwa klien atau pemberi kerja memperoleh manfaat dari jasa profesional dan teknik yang paling mutakhir. Hal ini mengandung arti bahwa anggota mempunyai kewajiban untuk melaksanakan jasa profesional dengan sebaik-baiknya sesuai dengan kemampuannya, demi kepentingan pengguna jasa dan konsisten dengan tanggung jawab profesi kepada publik.

6. Kerahasiaan Setiap anggota harus menghormati kerahasiaan informasi yang diperoleh selama melakukan jasa profesional dan tidak boleh memakai atau mengungkapkan informasi tersebut tanpa persetujuan, kecuali bila ada hak atau kewajiban profesional atau hukum untuk mengungkapkannya. Kepentingan umum dan profesi menuntut bahwa standar profesi yang berhubungan dengan kerahasiaan didefinisikan bahwa terdapat panduan mengenai sifat sifat dan luas kewajiban kerahasiaan serta mengenai berbagai keadaan di mana informasi yang diperoleh selama melakukan jasa profesional dapat atau perlu diungkapkan. Anggota mempunyai kewajiban untuk menghormati kerahasiaan informasi tentang klien atau pemberi kerja yang diperoleh melalui jasa profesional yang diberikannya. Kewajiban kerahasiaan berlanjut bahkan setelah hubungan antar anggota dan klien atau pemberi jasa berakhir.

7. Perilaku Profesional Setiap anggota harus berperilaku yang konsisten dengan reputasi profesi yang baik dan menjauhi tindakan yang dapat mendiskreditkan profesi.

Kewajiban untuk menjauhi tingkah laku yang dapat mendiskreditkan profesi harus dipenuhi oleh anggota sebagai perwujudan tanggung jawabnya kepada penerima jasa, pihak ketiga, anggota yang lain, staf, pemberi kerja dan masyarakat umum.

8. Standar Teknis Setiap anggota harus melaksanakan jasa profesionalnya sesuai dengan standar teknis dan standar profesional yang relevan. Sesuai dengan keahliannya dan dengan berhati-hati, anggota mempunyai kewajiban untuk melaksanakan penugasan dari penerima jasa selama penugasan tersebut sejalan dengan prinsip integritas dan obyektivitas. Standar teknis dan standar professional yang harus ditaati anggota adalah standar yang dikeluarkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia. Internasional Federation of Accountants, badan pengatur, dan pengaturan perundang-undangan yang relevan.

Standar Audit Investigatif


Seluruh investigasi harus dilandasi praktik terbaik yang diakui : Kumpulkan bukti-bukti dengan prinsip kehati-hatian sehingga bukti tadi dapat diterima di pengadilan Pastikan bahwa seluruh dokumentasi dalam keadaan aman,terlindungi dan diindeks dan dijejak audit tersedia. Pastikan bahwa para investigator mengerti hak-hak asasi pegawai dan senantiasa menghormatinya. Beban pembuktian ada pada yang menduga pegawainya melakukan kecurangan. Cakup seluruh subsatnsi investigasi Liput seluruh tahapan kunci dalam proses investigasi.

Nama : Annisa Rahma NPM : 120110110140 Tugas Akuntansi Forensik FRAUD PRINCIPLES

DEFINISI : APAKAH FRAUD ITU? Definisi fraud dapat berbeda-beda tergantung dari siapa yang mendefinisikannya dan bagaimana keadaan orang yang mendefinisikanya. Seseorang dapat mengartikan fraud dalam bentuk dari kecurangan yang disengaja (termasuk berbohong dan berbuat curang) adalah kebalikan dari kebenaran, keadilan, kejujuran, dan equity. Fraud juga dapat diartikan sebagai cedera. Seseorangdapat mengakibatkan orang lain cedera karena kekuatan atau melalui fraud.Fraud merupakan satu kata yang memiliki banyak definisi, diantaranya adalah sebagai berikut : Fraud sebagai tindak kriminal. Fraud (penipuan) merupakan kata yang

menggambarkan segala perbuatan tidak jujur (curang) yang dirancang/dilakukan oleh seseorang untuk memperolehkeuntungan, baik dengan cara mendiamkan,

memperdaya, licik dan cara-cara tidak adil untuk mencurangi orang lain. Corporate Fraud adalah fraud yang dilakukan oleh, untuk, dan terhadap suatu korporasi bisinis. Management Fraud adalah kesalahan penyajian yang disengaja oleh perusahaan atau unit-unitkerja didalamnya yang dilakukan oleh karyawan dalam lingkungan manajemen perusahaan dengantujuan promosi, bonus atau keuntungan ekonomis lainnya serta simbol status. Definisi Fraud menurut ACFE dapat berupa fraud pada pekerjaan dan penyalahgunaannya (penipuan karyawan), yaitu seseorang yang menggunakan pekerjaannya untuk memperoleh keuntungan personal dengan cara penyalahgunaan atau mencuri sumber daya atau aset perusahaan; fraud atas laporan keuangan yaitu kesalahan penyajian yang disengaja dari keadaan keuangan perusahaan melalui kesalahan dan kelalaian dalam menyajikan jumlah atau pengungkapan dalamlaporan keuangan untuk mengelabui pengguna laporan keuangan.

SINONIM : PENIPUAN, PENCURIAN, DAN PENGGELAPAN Penipuan, pencurian, penyalahgunaan wewenang, ketidakwajaran, kejahatan kerah putih dan penggelapan merupakan jenis kata-kata yang sering digunakan secara bergantian. Walaupun seluruhnya memiliki kesamaan, namun dari sisi hukum sama sekali tidak sama. Misalnya, dalam hukum Inggris, pencurian diartikan sebagai mengambil dan membawa hak milik orang lain dengan maksud untuk memilikinya, dalam pencurian tersebut pencurinya memiliki barang yang secara hukum bukan miliknya. Sedangkan dalam penggelapan, pelaku secara sah merupakan pemilik barang/properti namun digunakan oleh orang lain RISET KLASIK TENTANG FRAUD Fraud secara substansial sangat merugikan baik bagi masyarakat maupun dari segi bisnis secara individual, namun hanya sedikit orang yang mengerti tentang fraud tersebut. Untuk mengerti falsafah fraud serta ruang lingkup dan bagaimana fraud tersebut, maka diperlukan literatur-literatur terkait dengan fraud. Fraud biasanya dipersamakan dengan kejahatan kerah putih, hal ini antara lain disampaikan oleh Edwin H. Sutherland dalam White Collar Crime; Donald R. Cressey dalam Other Peoples Money; Norman Jaspan dan Hillel Black dalam The Thief in The Whit Collar; dan Frank E.Hartung dalam Crime, Law, and Society. FRAUD TRIANGLE (SEGITIGA FRAUD) Ada 3 hal yang mendorong terjadinya sebuah upaya fraud, yaitu pressure (dorongan), opportunity (peluang), dan rationalization (rasionalisasi), sebagaimana tergambar berikut ini: 1. Pressure Pressure adalah dorongan yang menyebabkan seseorang melakukan fraud, contohnya hutang atau tagihan yang menumpuk, gaya hidup mewah, ketergantungan narkoba, dll. Pada umumnya yang mendorong terjadinya fraud adalah kebutuhan atau masalah finansial. Tapi banyak juga yang hanya terdorong oleh keserakahan. 2. Opportunity Opportunity adalah peluang yang memungkinkan fraud terjadi. Biasanya disebabkan karena internal control suatu organisasi yang lemah, kurangnya pengawasan, dan/atau penyalahgunaan wewenang. Di antara 3 elemen fraud triangle, opportunity merupakan elemen yang paling memungkinkan untuk diminimalisir melalui penerapan proses, prosedur, dan control dan upaya deteksi dini terhadap fraud. 3. Rationalization

Rasionalisasi menjadi elemen penting dalam terjadinya fraud, dimana pelaku mencari pembenaran atas tindakannya, misalnya: 1. Bahwasanya tindakannya untuk membahagiakan keluarga dan orang-orang yang dicintainya. 2. Masa kerja pelaku cukup lama dan dia merasa seharusnya berhak mendapatkan lebih dari yang telah dia dapatkan sekarang (posisi, gaji, promosi, dll.) 3. Perusahaan telah mendapatkan keuntungan yang sangat besar dan tidak mengapa jika pelaku mengambil bagian sedikit dari keuntungan tersebut.

CIRI CIRI FRAUDSTERS


Aspek kunci dari pencegahan dan pendektesian fraud adalah dengan memahami ciri pelaku kecurangan (fraudsters) berdasarkan jenis fraud yang dilakukan. Pelaku biasanya adalah orang yang sama sekali tidak dicurigai, sehingga menyebabkan fraud semakin sulit untuk dicegah ataupun dideteksi. Menurut Gwynn Nettler (Lying, Cheating, and Stealing), pelaku kecurangan dan penipuan adalah sebagai berikut: a. Orang yang pernah mengalami kegagalan lebih mungkin untuk melakukan kecurangan b. Orang yang tidak disukai dan tidak menyukai dirinya sendiri lebih mungkin untuk menipu (licik) c. Orang yang impulsif, mudah digoda, dan tidak sabar dalam memperoleh sesuatu lebih mungkin terlibat didalam penipuan. d. Orang yang memiliki perasaan takut akan ditangkap dan dihukum, lebih tahan terhadap godaan untuk melakukan penipuan. e. Orang cerdas cenderung lebih jujur daripada orang tidak tahu. Orang kelas mengengah ke atas cenderung lebih jujur daripada orang kelas bawah f. Semakin mudah untuk melakukan kecurangan dan pencurian, semakin banyak orang yang akan melakukannya. g. Masing-masing orang memiliki tingkat kebutuhan berbeda yang akan mendorong untuk berbohong, berbuat curang, atau mencuri h. Kebohongan, Kecurangan, dan Pencurian meningkat ketika seseorang memiliki tekanan yang tinggi untuk mencapai suatu tujuan i. Perjuangan untuk bertahan dapat menyebabkan ketidakjujuran.

SIAPA YANG PALING SERING MENJADI KORBAN FRAUDSTER?


Pengendalian untuk melindungi dari fraud baik dari dalam maupun luar (vendor, supplier, atau kontraktor) haruslah memadai. Pengendalian tidak hanya dilakukan dari atas namun juga harus ada dukungan dari bawah. Pihak petinggi perusahaan harus dapat mempercayai bawahannya agar tercipta loyalitas dan kejujuran, karena rasa tidak percaya dari petinggi perusahaan kepada bawahannya biasanya menyebabkan terjadinya fraud. Namun, kepercayaan penuh tanpa adanya akuntabilitas juga merupakan benih terjadinya fraud. Bukti empiris menunjukkan bahwa faktor yang paling sering menjadi penyebab terjadinya fraud adalah karena kurangnya pemisahan tugas tanpa adanya pengendalian yang memadai biasanya terjadi pada perusahaan kecil. Sehingga biasanya perusahaan kecil memiliki resiko yang lebih tinggi untuk terjadinya fraud.

PENGKLASIFIKASIAN FRAUD
Hampir seluruh survei tentang fraud memiliki sistem yang berbeda dalam pengklasifikasian fraud. Sementara beberapa memiliki kesamaan, beberapa yang lainnya menimbulkan masalah dalam kegiatan antifraud. Pengelompokan Secara Umum Atas Frauds a. Investor dan Konsumen Frauds. Fraud dapat terjadi pada penjual, kreditor, investor, pemasok, bankir, atau otoritas pemerintah. b. Fraud Pidana dan Perdata. Fraud Pidana membutuhkan bukti adanya keinginan untuk melakukan penipuan, sedangkan fraud perdata harus ada kerugian yang diderita korban. c. Fraud yang menguntungkan dan merugikan perusahaan. Fraud perusahaan dapat dikelompokan menjadi dua kategori, yaitu (1) fraud yang merugikan perusahaan, dan (2) fraud yang menguntungkan perusahaan. d. Fraud dari dalam dan dari luar perusahaan. Fraud yang dilakukan oleh perusahaan atau manajemen dikategorikan sebagai internal fraud, sedangkan fraud eksternal adalah yang dilakukan oleh vendor, pemasok, dan kontraktor. e. Manajemen dan Non-Manajemen Fraud. Fraud terjadi pada setiap level perusahaan, tidak hanya dilakukan oleh tingkat eksekutif (pemilik perusahaan), namun juga dilakukan oleh manajer perusahaan.

KATEGORI DAN SPESIFIKASI FRAUD


Fraud merupakan bentuk penipuan yang dilakukan dengan sengaja, umumnya berupa suatu kebohongan atau penipuan. Akan tetapi pencurian dengan tipu daya dan penggelapan

terkadang juga dikategorikan sebagai suatu fraud. Unsur utama fraud ialah landasan sama yang mereka bagi. Adapun klasifikasi dari fraud antara lain sebagai berikut: Fraud yang dilakukan oleh orang dalam perusahaan, yaitu: Penyimpangan kas dan pencurian Pemalsuan pengesahan cek Manipulasi piutang seperli lapping dan manipulasi atas tagihan piutang, dll

Fraud yang dilakukan oleh pihak luar Fraud yang dilakukan oleh vendor, penyalur dan kontraktor, seperti mengganti barang dengan mutu yang lebih rendah, penagihan ganda, penagihan tetapi pengiriman kepada tempat yang lain. Korupsi yang dilakukan oleh karyawan vendor, Penyalur, dan kontraktor serta pelanggan Frauds yang dilakukan oleh perusahaan Merekayasa keuntungan dengan cara memanipulasi penjualan, menilai terlalu rendah beban, losses dan kewajiban yang tidak dilaporkan, menunda pencatatatn pengembalian penjualan.

SKEMA KECURANGAN

Skema-skema kecurangan dapat diklasifikasikan dalam berbagai cara. Format klasifikasi yang diambil dari Association of Certified Fraud Examiners. Ada tiga kategori skema kecurangan: kecurangan dalam laporan keuangan (kecurangan oleh pihak manajemen), korupsi, dan penyalahgunaan asset (kecurangan oleh karyawan).

KECURANGAN DALAM LAPORAN KEUANGAN


Kecurangan dalam laporan keuangan dikaitkan dengan kecurangan oleh pihak manajemen,. Walaupun semua kecurangan melibatkan suatu bentuk kesalahan penyajian keuangan, untuk dapat digolongkan sebagai skema kecurangan jenis ini, laporan itu sendiri harus memberikan manfaat keuangan baik langsung maupun tidak langsung kepada pelakunya. Dengan kata lain, laporan tersebut bukan sebagai kendaraan saja untuk menyamarkan atau menutupi suatu tindakan curang. Contohnya, kesalahan penyajian pada akun kas untuk menutupi kecurangan kas tidak termasuk dalam golongan skema kecurangan ini. Sebaliknya, menyatakan terlalu rendah kewajiban untuk dapat menyajikan gambaran keuangan perusahaan yang baik agar harga saham naik.

KORUPSI
Korupsi (corruption) mungkin adalah kejahatan kerah putih yang paling tua. Korupsi meliputi penyuapan, konflik kepentingan, pemebrian tanda terima kasih yang tidak sah, dan pemerasan secara ekonomi. Korupsi adalah tindakan seorang pejabat atau petugas yang secara tidak sah dan tidak dapat dibenerkan memanfaatkan perkerjaannya atau karakternya untuk mendapatkan keuntungan untuk dirinya maupun orang lain, dengan melanggar kewajiban dan hak orang lain. Berdasarkan Association of Certified Fraud Examiners (ACFE), korupsi merupakan 10 persen dari seluruh kasus kecurangan di tempat kerja dan 90 persen kerugian akibat korupsi ditimbulkan dari skema penyuapan. 1. Penyuapan Penyuapan melibatkan pemberian, penawaran, permohonan untuk menerima, atau penerimaan berbagai hal yang bernilai untuk memngaruhi seorang pejabat dalam melakukan kewajiban sahnya. Para pejabat di sini dapat diperkerjakan oleh berbagai lembaga pemerintah (atau pihak yang berwenang) atau perusahaan swasta. 2. Tanda Terima Kasih yang Tidak Sah

Tanda terima kasih yang tidak sah (illegal gratuity) melibatkan pemberian, penerimaan, penawaran , atau permohonan untuk menerima sesuatu yang bernilai karena telah melakukan tindakan yang resmi. Skema ini hampir sama dengan penyuapan, tetapi transaksinya terjadi setelah tindakan resmi tersebut dilakukan. 3. Konflik Kepentingan Setiap perusahaan harus mengharapkan karyawannya akan melakukan pekerjaan dengan cara yang dapat memenuhi berbagai kepentingan perusahaan. Konflik kepentingan terjadi ketika seorang karyawan bertindak atas nama pihak ketiga dalam melakukan pekerjaannya atau memiliki kepentingan pribadi dalam pekerjaannya yang dilakukannya. Jika konflik kepentingan karyawan tidak dikehaui oleh perusahaan dan mengakibatkan kerugian keuangan, maka telah terjadi kecurangan.

PENYALAHGUNAAN ASET
Bentuk skema kecurangan yang paling umum melibatkan beberapa bentuk penyalahgunaan aset. Delapan puluh lima persen dari kecurangan yang dimasukkan dalam penelitian ACFE masuk dalam kategori ini. Aset dapat disalahgunakan secara langsung atau tidak langsung demi keuntungan si pelaku. Transaksi yang melibatkan kas, akun cek, persediaan, peralatan, perlengkapan, dan informasi adalah yang paling rentan disalahgunakan. Berbagai contoh skema kecurangan yang melibatkan penyalahgunaan aset dijelaskan dibawah ini. 1. Pembebanan ke Akun Beban Pencurian aset menimbilkan ketidaksinambungan dalam pesamaan dasar akuntansi (aset = ekuitas) yang harus disesuaikan oleh si pelaku kejahatan jika ingin pencurian tersebut tidak terdeteksi. Cara yang paling umum untuk menyembunyikan ketidakseimbangan adalah membebankan aset ke akun beban dan mengurangi ekuitas dalam jumlah yang sama. 2. Gali Lubang Tutup Lubang (Lapping) Lapping melibatkan penggunaan cek dari para pelanggan, menerima pembayaran rekening mereka, untuk menutupi kas yang sebelumnya telah dicuri oleh seorang karyawan 3. Kecurangan Transaksi (transaction fraud) Hal ini melibatkan penghapusan, pengubahan, atau penambahan transaksi palsu untuk mengerahkan aset ke pelaku kecurangan. Salah satu contoh kecurangan yang umum dilakukan adalah melibatkan distribusi gaji palsu.

SKEMA KECURANGAN DENGAN KOMPUTER.


Berbagai macam kecurangan dengan komputer : 1. Pengumpulan data. Pelaku hanya perlu memahami bagaimana sistem kerja dalam memasukkan data. Tindakan kecurangan tersebut melibatkan usaha membuat data menjadi salah ketika data dimasukkan ke dalam sistem. 2. Pemrosesan Data. Kecurangan dalam pemrosesan data dibagi menjadi 2 kelompok : a. Kecurangan Program Contohnya, program yang digunakan sebuah bank untuk menghitung bunga rekening nasabahnya akan menghasilkan kesalahan pembulatan. Dengan kata lain, satu sen ditambahkan (atau dihapis dari) rekening nasabah secara acak. b. Kecurangan Operasional adalah penyalahgunaan atau pencurian sumber daya komputer perusahaan. Contohnya, seorang programer mungkin saja menggunakan waktu aktif komputer di perusahaan untuk membuat piranti lunak yang dijualnya secara komersial. 3. Manajemen Basis Data. Teknik yang paling umum digunakan adalah mengakses basis data dari jarak jauh dan menelusuri file untuk mencari informasi yang berguna, kemudian disalin, dan dijual ke pesaing perusahaan. 4. Pembuatan Informasi. Bentuk kecurangan yang umum pada tahap pembuatan informasi adalah pencurian, penyerahan ke pihak yang salah, atau penyalahgunaan output komputer. Salah satu tekniknya disebut mengais, melibatkan pencarian melalui tempat sampah di pusat komputer untuk mencari output yang dibuang.