Anda di halaman 1dari 5

Tinjauan Pustaka

PENATALAKSANAAN OTITIS MEDIA EFUSI (OME)


Oleh KELOMPOK XXII D dan XXIII F

Ida Bagus Deny P. Ginta Aldamar Caterina Siregar Erna Yulida Sari Dianita Purnama

I1A008029 I1A009042 I1A008005 I1A009008 I1A009089

BAGIAN/SMF THT FAKULTAS KEDOKTERAN UNLAM/RSUD ULIN BANJARMASIN


Februari, 2014

BAB I PENDAHULUAN

Infeksi telinga tengah menjadi masalah medis yang paling sering pada bayi dan anak-anak umur pra sekolah, dan diagnosa utama yang paling sering pada anakanak kurang dari usia 15 tahun yang diperiksa di tempat praktek dokter. Penelitian menunjukkan 80-90% anak prasekolah pernah menderita Otitis Media Efusi (OME). Kasus OME berulang (OME rekuren) pun menunjukkan prevalensi yang cukup tinggi terutama pada anak usia prasekolah, yaitu sekitar 28-38%.1 Otitis media efusi (OME) adalah keadaan terdapatnya sekret yang nonpurulen di telinga tengah, sedangkan membran timpani utuh tanpa tanda-tanda infeksi. Apabila efusi tersebut encer disebut otitis media serosa dan apabila efusi tersebut kental seperti lem disebut otitis media mukoid (glue ear).2 Penyebab otitis media bersifat multifaktorial yaitu disfungsi tuba eustachius, infeksi bakteri atau virus pada telinga tengah, peradangan nasal karena rinitis alergi atau karena infeksi virus saluran pernafasan bagian atas. Pelepasan mediator dan sitokin oleh sel mast dan sel radang lainnya menyebabkan edema mukosa hidung dan nasofaring sehingga terjadi obstruksi tuba eustachius (TE). Obstruksi tuba mengakibatkan fungsi ventilasi di telinga tengah terganggu dan timbul tekanan negatif yang terus menerus sehingga terjadi akumulasi cairan di telinga tengah.2 Pada anak, OME kadang-kadang bersifat asimtomatik sehingga sulit terdeteksi. OME baru terdeteksi ketika terdapat perubahan perilaku, gangguan pendengaran dan berbicara serta sulit berkonsentrasi pada anak. Jika hal ini tidak cepat dikenali dan diatasi maka akan menjadi faktor predisposisi gangguan berbicara di kemudian harinya.2.3 Pengobatan OME langsung diarahkan untuk memperbaiki ventilasi normal telinga tengah. Untuk kebanyakan penderita, kondisi ini diperoleh secara alamiah, terutama jika berasosiasi dengan ISPA yang berhasil disembuhkan. Artinya banyak OME yang tidak membutuhkan pengobatan medis. Akan lebih baik menangani

faktor predisposisi-nya, misalnya: jika dikarenakan barotrauma, maka aktivitas yang berpotensi untuk memperoleh barotrauma berikutnya, seperti: penerbangan atau menyelam, sebaiknya dihindarkan. Strategi lainnya adalah menghilangkan atau menjauhkan dari pengaruh asap rokok, menghindarkan anak dari fasilitas penitipan anak, menghindarkan berbagai alergen makanan atau lingkungan jika anak diduga kuat alergi atau sensitif terhadap bahan-bahan tersebut.3 Pedoman dari National Institute for Health and Clinical Excellence tahun 2008 merekomendasikan terapi bedah pada anak di bawah 12 tahun, tetapi juga memperbolehkan bentuk terapi lain.3 Sedangkan The American Academy of Pediatrics, American Academy of Family Physicians, dan American Academy of Otolaryngology- Head and Neck Surgery membuat komite yang terdiri dari ahli di bidang perawatan primer, THT, penyakit menular, epidemiologi, pendengaran, bicara dan bahasa, dan praktek keperawatan untuk merevisi pedoman OME. Komite membuat rekomendasi bahwa dokter harus mendokumentasikan durasi efusi, keberadaan dan tingkat keparahan gejala yang berhubungan dengan OME di setiap penilaian dari anak, 2) membedakan tingkatan resiko anak dengan OME terkait dengan gangguan tumbuh kembang, dan 3) mengelola anak dengan OME yang tidak beresiko dengan observasi 3 bulan sejak onset efusi (jika diketahui) atau diagnosis (jika onset tidak diketahui).4,5 Saat ini OME telah dikaitkan dengan gangguan pendengaran dan gangguan perkembangan pada anak-anak, bukti terbaru menunjukkan bahwa efusi telinga tengah persisten pada anak-anak yang normal tidak menyebabkan gangguan perkembangan jangka panjang. Terapi bedah pada OME kronis dapat mencegah komplikasi telinga tengah termasuk: atelektasis membran timpani, gangguan pendengaran konduktif permanen, kolesteatoma, dan lain-lain.6 Hasil utama yang dipertimbangkan dalam tatalaksana termasuk gangguan pendengaran, efek pada bicara, bahasa, dan pembelajaran; sekuelae fisiologis, pemanfaatan perawatan kesehatan (medis, bedah), dan kualitas hidup. Tingginya prevalensi OME, kesulitan dalam diagnosis dan durasi, peningkatan risiko gangguan pendengaran konduktif, dampak potensial terhadap bahasa dan kognisi, dan variasi klinis yang signifikan membuat OME membutuhkan tatalaksana yang tepat dan sesuai pedoman.7

BAB III PENUTUP OME adalah peradangan telinga tengah yang di tandai dengan adanya cairan efusi di rongga telinga tengah dengan membran timpani utuh tanpa disertai dengan tanda-tanda infeksi akut. OME termasuk dalam golongan otitis media non supuratif. Etiologi dan patogenesis OME bersifat multifaktorial antara lain infeksi virus atau bakteri, gangguan fungsi tuba Eustachius, status imunologi, alergi, faktor lingkungan dan sosial. Walaupun demikian tekanan telinga tengah yang negatif, abnormalitas imunologi, atau kombinasi dari kedua faktor tersebut diperkirakan menjadi faktor utama dalam pathogenesis OME. Untuk mendiagnosis OME pada pemeriksaan fisik perlu dilakukan pemeriksaan otoskopi, timpanogram, audiogram dan kadang tindakan miringotomi untuk memastikan adanya cairan dalam telinga tengah. Pengobatan pada OME meliputi pengobatan konservatif dan tindakan operatif. Pengobatan konservatif secara local (obat tetes hidung atau spray) dan sistemik antara lain antibiotika spektrum luas, antihistamin, dekongestan, dengan atau tanpa kortikosteroid walau dalam penggunaan dinilai kurang efektif. Antihistamin diberikan bila ada tanda rinitis alergi. Pengobatan dan kontrol terhadap alergi dapat mengurangi atau menyembuhkan otitis media efusi. Logaritma yang tepat untuk otitis media efusi yaitu antimikroba adalah satu-satunya obat yang sementara telah terbukti paling baik untuk meningkatkan tingkat kesembuhan otitis media efusi (OME). Pengobatan secara operatif dilakukan pada kasus dimana setelah dilakukan pengobatan konservatif selama lebih dari 3 bulan tidak sembuh.

Daftar Pustaka 1. Megantara, Imam. Informasi Kesehatan THT: Otitis Media Efusi. Diambil dari: http://www.perhati-kl.org/. Diakses tanggal 18 Januari 2014 2. Soepardi, Efiaty Arsyad; Iskandar, Nurbaiti. Editor: Otitis Media NonSupuratif. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga-Hidung-Tenggorokan Kepala Leher. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2001. p 58-60. 3. NICE. Surgical management of otitis media with effusion in children. London: National Institute for Health and Clinical Excellence, 2008 4. American Academy of Pediatrics. Clinical Practice Guideline: Otitis Media With Effusion. PEDIATRICS 2004: 113; 1412-29. 5. Rosenfeld, et al. Clinical practice guideline: Otitis media with effusion. Otolaryngology Head and Neck Surgery 2004: 130; S95-S118 6. Guidelines & Protocols Advisory Committee. Otitis Media: Acute Otitis Media (AOM) & Otitis Media with Effusion (OME). Canada: Ministry of Health Services, 2010