Anda di halaman 1dari 8

PENINJAUAN EKSISTENSI MONORAIL DI JAKARTA

PENDAHULUAN
Pertumbuhan teknologi yang pesat, mempengaruhi pola hidup masyarakat Untuk memperlancar kegiatan masyarakat, maka dibutuhkan alat transportasi yang lebih memadai dan terjangkau Jakarta sebagai ibukota, memiliki tingkat kepadatan yang tinggi sehingga berbagai moda transportasi sangat dibutuhkan. Sehubungan dengan tingkat kebutuhan itu PEMKOT Jakarta berinisiatif untuk mengadakan proyek perkeretaapian Monorail, dengan harapan dapat melegakan kemacetan lalu lintas dan polusi yang buruk. Proyek ini terdiri dari dua jalur kereta api layang yg akan beroperasi seantero kota.

TUJUAN
Mengatasi kemacetan yang terjadi di IbuKota Jakarta Mengurangi tingkat polusi yang disebabkan oleh kendaraan bermotor Sebagai alternatif lain dalam pemilihan moda transportasi di Jakarta Memberikan kenyamanan serta keamanan pada pengguna transportasi umum di Jakarta.

PERMASALAHAN
Apakah Jakarta dapat mewujudkan keinginannya untuk membangun kereta api monorail? Apakah masyarakat Jakarta dapat menikmatinya? Bagaimana pembangunan tersebut, memerlukan pembebasan lahan baru ataukah memaksimalkan lahan yang sudah ada?.

PEMBAHASAN
Keberadaan proyek kereta layang atau monorail di Jakarta bisa mengurangi tingkat kemacetan di Jakarta 30 %. Dengan biaya tiket sebesar Rp 4.000 sampai Rp 9.000 per penumpang, dengan tergantung jarak tempuh bisa memberikan keuntungan terhadap penumpang bila dibandingkan dengan moda transportasi lainnya. Meminimalkan pembebasan lahan karena jalur dan haltenya tidak berada di tanah. Monorail itu bisa dibangun di koridor yang volume lalu lintasnya tinggi. Jadi, keberadaan monorail tidak akan mematikan angkot, bahkan bisa saling melengkapi dengan penyediaan jalur menuju dan dari halte,

PERENCANAAN AWAL JALUR MONORAIL DI JAKARTA

PENUTUP
KESIMPULAN Selain dari segi BBM juga diharapkan adanya pengurangan energi yang terbuang sia sia ketika kendaraan pribadi terkena macet di jalan raya. MRT (Mass Rapid Transport) bisa mengakomodasi atau mengangkut sekitar 10 13 ribu penumpang per jam, jauh lebih efektif dibanding Bus TJ (TRANS JAKARTA) yang hanya mampu mengangkut 2.500 penumpang/jam.

SARAN: Setiap kebijakan dari pemerintah hendaknya diberitahukan secara terbuka (disosialisasikan) kepada masyarakat supaya nantinya masyarakat sudah siap menerima akibat dari kebijakan itu. Pemerintah lebih memperhatikan kesejahteraan rakyat yang secara langsung terkena dampak kebijakan,