Anda di halaman 1dari 25

STARTING DYALISIS IS DANGEROUS

GHEA ANANTA 0808015038 Pembimbing : dr. KUNTJORO YAKTI, Sp. PD

ABSTRAK
Penelitian terbaru tentang waktu yang tepat untuk melakukan dialisis telah menemukan tantangan baru untuk melakukan terapi dini. Hasil yang diamati adalah konsekuensi keseimbangan antara resiko peningkatan ureum dengan bahaya yang berhubungan dengan dialisis itu sendiri. Artikel ini bertujuan untuk menghasilkan sebuah diskusi berkaitan dengan hasil dari keseimbangan pada kerentanan pasien tertentu terhadap risiko yang menyertainya.

PENDAHULUAN
Dialisis telah lama diterima sebagai pengobatan yang menyelamatkan jiwa dan sekarang bisa digunakan sebagai pengobatan untuk sekitar 2 juta orang di seluruh dunia. Meskipun ini sebagai life saving theraphy, dialisis juga berbahaya. Hal ini memiliki keuntungan dan kerugian yang masih di kembangkan.

PENDAHULUAN
Sejak tahun 2001, 11 penelitian observasional telah meneliti masalah komorbiditas disesuaikan angka survival dengan tingkat estimasi laju filtrasi glomerulus (eGFR). Studi ini menemukan kelemahan hidup komorbiditas disesuaikan inisiasi dialisis dini, mungkin dipengaruhi oleh 'lead time Bias', dan baru-baru ini berbagai studi observasional telah melaporkan manfaat kelangsungan hidup dinilai terkait dengan EGFR yang rendah.

PENDAHULUAN
Artikel ini menjelaskan tentang konsep yang didapat dari dialisis adalah gabungan dari hasil efek negatif CKD, diseimbangkan oleh resiko terapi dialisis. Dan didorong oleh jumlah pasien yang rentan terkena penyakit. Dinamika ini mungkin lebih dipengaruhi oleh upaya untuk mengurangi banyak risiko tersebut.

KEUNTUNGAN MEMULAI DIALISIS


Rekomendasi dari berbagai pedoman adalah selain dari hiperkalemi dan oliguri, malnutrisi juga menjadi alasan utama untuk dilakukan terapi dini. Hal ini sebagian besar dipengaruhi oleh pengamatan yang mengidentifikasi serum albumin yang rendah sebagai penyebab dari kematian pada pasien dialisis.

Namun, saat ini tidak ada penelitian yang secara langsung mendukung kemampuan konvensional tiga kali seminggu dialisis untuk meningkatkan parameter gizi, terutama tanpa peningkatan suplemen gizi.

RISIKO DIALISIS
Pengobatan dialisis konvensional memiliki banyak risiko terhadap pasien. Dalam studi yang melihat hasil dialisis jangka panjang, efek dari risiko ini tidak merata. Dengan angka kematian diringkas menjadi 612 bulan pertama terapi. Angka kehidupan pada tahun pertama setelah dialisis (di Amerika Serikat) mengalami penurunan.

RISIKO DIALISIS
Pada daerah tertentu risiko yang harus dipertimbangkan ketika memulai dialisis adalah sebagai berikut :
Masalah Akses Terkait Infeksi Dekompensasi Nutrisi dan Masalah Psikososial

INFEKSI TERKAIT DENGAN DIALISIS


Infeksi melalui kateter bisa disebabkan dari migrasi organisme kulit sepanjang kateter ke dalam aliran darah atau kontaminasi dan kolonisasi lumen kateter. Pembentukan biofilm (terbentuk dari kombinasi host dan molekul bakteri) pada permukaan kateter juga memiliki peran penting dalam memfasilitasi kolonisasi dan resistensi terhadap terapi antibiotik.

INFEKSI TERKAIT DENGAN DIALISIS


Pasien dialisis 100 kali lipat lebih mungkin untuk mengembangkan Staphylococcus aureus yang resisten methicillin septicemia daripada populasi umum dan 800 kali lipat lebih mungkin dibandingkan jika tidak didialisis. Paparan infeksi yang didapat di rumah sakit hanya salah satu dari berbagai bahaya yang terkait dengan peningkatan jumlah pasien rawat inap, yang khas. Yang lain mungkin termasuk eksaserbasi malnutrisi, pneumonia hipostatik, dan resiko tromboemboli vena.

DEKOMPENSASI NUTRISI DAN MASALAH PSIKOSOSIAL


6 bulan setelah pengobatan dialisis pertama mungkin akan menyebabkan penurunan diet, depresi, kecemasan, dan mengurangi nafsu makan. Terapi Dialisis pada CKD berat akan menyebabkan lesu, gatal, pusing nyeri, dan kembung atau gangguan pencernaan sementara.

DEKOMPENSASI NUTRISI DAN MASALAH PSIKOSOSIAL


Faktor-faktor ini akan mengganggu aktivitas, olahraga, dan hubungan sosial. Depresi dan masalah psikososial lainnya sering dimulai atau diperburuk karena dialisis, dan sering dikaitkan dengan kemampuan pasien untuk bersosialisasi. Depresi klinis yang sangat lazim terjadi, mempengaruhi sekitar 25% dari pasien, dan berkorelasi dengan risiko kematian.

RESIKO SPESIFIK YANG BERHUBUNGAN DENGAN DIALISIS


Efek Kardiovaskular Fungsi Residual Ginjal Peritoneal Dialisis Vs Hemodialisis

EFEK KARDIOVASKULAR
Aritmia jantung dan resiko kematian mendadak mejadi hal yang penting pada pasien HD. Torsade de pointes sering terjadi karena beberapa faktor termasuk interval QT yang memanjang dengan bradikardi atau kelainan elektrolit seperti hipokalemi, hipomagnesium dan hipokalsemia.

FUNGSI RESIDUAL GINJAL


Pengaturan fungsi residu ginjal merupakan salah satu hal penting yang dapat berhubungan dengan tingkat keberhasilan pasien-pasien dengan HD. Dengan bertambahnya penurunan fungsi residu ginjal, sebuah ciri khas untuk melakukan dialysis tiga kali seminggu. Hal ini menghasilkan keduanya, pengurangan volume urin dan penurunan keseluruhan tingkat pembersihan racun-racun uremik

FUNGSI RESIDUAL GINJAL


Sirkulasi renal pun rentan dan proses yang sama bisa mengkontribusikan iskemia ginjal yang rekuren, mengacu pada kurangnya fungsi residual ginjal. Hal ini menyebabkan siklus berulang dari turunnya FRG, menghasilkan peningkatan hasil cairan intradialitik, serta bahkan kebutuhan ultrafitrasi yang lebih tinggi, menyebabkan kerusakan tambahan pada jaringan vaskuler Dialysis yang berhubungan dengan kehilangan FRG juga dikaitkan dengan meningkatnya kematian jantung tibatiba.

PERITONEAL DIALISIS VS HEMODIALISIS


Apabila dibandingkan dengan pasien nondialisis, keduanya pasien HD dan PD memiliki peningkatan 8 kali lipat resiko kematian kardiovaskuler serta non-kardiovaskuler. Mekanisme patofisiologis yang menghasilkan tingginya angka kematian ini tidak dapat dimengerti sepenuhnya dan mungkin berbeda pada pasien PD dan pasien HD.

PERITONEAL DIALISIS VS HEMODIALISIS


Pada pasien HD, gangguan kardiovaskuler muncul sebagai hemodinamik predominan dan dapat mempengaruhi pembagian biokompatibilitas penggunaan dialyzer. Pasien dengan PD menghasilkan efek hemodinamik, tetapi respon yang berhubungan dengan rendahnya laju ultrafiltrasi tidak secara khas hipotensi dan tidak menghasilkan kerusakan jantung akut.

PERITONEAL DIALISIS VS HEMODIALISIS


Penyimpanan produk hasil akhir pemecahan glukosa dalam jaringan pembuluh darah dapat mengurangi angka komplians dari arteri dan otot-otot ventricular.

PERITONEAL DIALISIS VS HEMODIALISIS


Baik faktor metabolic jangka pendek maupun jangka panjang dapat mengubah reaktivitas otonomik. Keseluruhan perubahan ini dapat menerangkan mengapa terjadi perubahan aliran darah ke organ vital

Conflation of Risk and Susceptibility: Future Directions of Study


Pasien-pasien yang membutuhkan dialysis, adalah subjek dengan keabnormalitasan fungsional dan struktural, yang mana sensitive cenderung pada resiko kematian konvensional Kemungkinan kematian ini bisa berhubungan dengan CKD stadium akhir, terapi dialysis, serta kemungkinan tiap individu untuk keduanya. Belum ada percobaan yang dibuat untuk menilai hubungan relative antara seluruh resiko ini dalam berbagai macam keadaan pasien.

CONCLUSION
Masih terdapat beberapa keraguan mengenai waktu yang tepat penginisiasian dialysis. Hal ini sesuai pada sebagian besar orang, khususnya kelompok pasien usia tua, dan diabetes.

CONCLUSION
Pada akhir akhir ini belum ada penelitian yang memikirkan interaksi antara kebutuhan uremic, bahayanya dialysis, serta cirri khas pasien pada kemungkinan akan faktor-faktor ini. Keseimbangan ini sangatlah penting karena belakangan ini terdapat keterbatasan untuk menilai rentan tidaknya seseorang untuk menjadi CKD atau pun menerima dialysis.

TERIMA KASIH