Anda di halaman 1dari 5

13

arsitektur.net
2007 vol. 1 no. 1
Geometri menjadi salah satu ilmu matematika yang diterapkan dalam dunia ar-
sitektur; juga merupakan salah satu cabang ilmu yang berkaitan dengan bentuk,
komposisi, dan proporsi. Akan sangat baik jika kita melihat arsitektur tidak hanya
keberadaannya pada masa sekarang, namun berbalik ke belakang dan mendal-
ami hakekat berarsitektur sejak jaman primitif ketika kata arsitektur bukanlah
bermakna sebagai sebuah ilmu bangunan melainkan sebagai sebuah kebutuhan
bertinggal yang tidak diberi nama.
Arsitektur tradisional menjadi saksi bahwa arsitektur menjadi salah satu ilmu ter-
tua di dunia, yaitu dengan melihat dari adanya kebutuhan bertinggal/bernaung
sehingga memunculkan sebuah tempat/wadah bertinggal. Dari titik kebutuhan
itu, arsitektur mulai muncul dan lambat laun berkembang menjadi ilmu. Kebu-
tuhan bertinggal adalah kebutuhan primer, sehingga memunculkan sebuah wa-
dah yang mampu menjawab prasyarat untuk berlindung sehari-harinya. Manusia
tradisional membuat wadah yang mampu melindungi mereka dari cuaca dan iklim
sehingga dapat berkegiatan setiap saat tanpa terganggu oleh alam. Jawaban
akan kebutuhan primer ini kemudian berkembang lagi saat manusia sudah mulai
mengenal keindahan, dan keindahan berasal dari kebudayaan yang dianut.
"Kebudayaan datang dari manusia, ungkapan dirinya, baik dalam hal cara ber-
pikir, cita rasa serta seleranya, yang tentulah bersifat fana dan relatif" (Mangun-
wijaya, 1995). Keindahan adalah sesuatu yang subyektif. Kebudayaan manusia
inilah yang memberikan tolok ukur keindahan pada kelompoknya masing-masing
(orang Dayak dan orang Bugis mungkin memiliki pemahaman indah yang ber-
beda), memberikan sebuah pemahaman keindahan yang diajarkan turun temu-
run sehingga membentuk pola pikir 'indah' yang tertentu. Keindahan arsitektur
bangunan tradisional adalah salah satu yang berasal dari kebudayaan tersebut.
Arsitektur menjadi salah satu aspek terpenting dalam perkembangan kebuday-
aan dan adat daerah tertentu, menjadi sebuah simbol keindahan kebudayaan-
nya. Keindahan arsitektur tradisional sebuah daerah adalah sebuah penerapan
geometri secara tidak sadar. Berbagai kepercayaan mengajarkan keseimban-
gan, dualisme, orientasi, dsb. dan diinterpretasikan secara arsitektur pada pro-
porsi dan komposisi bangunannya. Arsitektur dengan proporsi dan komposisi
tertentu pada suatu daerah akan dianggap indah berdasarkan kebudayaan yang
dianutnya. ni adalah sebuah penilaian subyektif. Salah satu contoh ialah bentuk
atap yang berbentuk limas atau prisma memiliki proporsi simetris. Atap meru-
pakan salah satu prinsip berbudaya yang mengakar pada sebuah suku bangsa,
merupakan salah satu analogi dari penyambung antara kehidupan duniawi dan
surgawi. Dewa-dewi atau tuhan dipercaya berada di tempat tinggi, tempat tinggi
biasanya merujuk pada gunung, yaitu sebuah tempat yang tinggi. Jika dilihat
dari bentuknya, dapat dilihat bahwa bentuk atap merupakan adaptasi dari bentuk
gunung.
Gambar di bawah ini ialah salah satu rumah adat suku di ndonesia, yaitu suku
Dayak. Jika dilihat dari bentuknya, mungkin beberapa orang akan menganggap
rumah tersebut aneh dan tidak indah. Namun, orang Dayak menilai Rumah Pan-
jang sebagai salah satu bentuk keindahan. Rumah Panjang tidak didiami oleh
satu keluarga saja, melainkan oleh beberapa keluarga dan memiliki nilai guna
tertentu. Hal ini menunjukkan bahwa ada dua nilai dalam sebuah kata 'arsitek-
Novelisa Sondang D.
Geometri: Kebebasan Ekspresi Keindahan
14
arsitektur.net
2007 vol. 1 no. 1
tur', yakni nilai guna dan nilai citra (keindahan yang subyektif).
Citra menunjuk pada tingkat kebudayaan sedangkan guna lebih menuding pada
segi ketrampilan/kemampuan (Mangunwijaya, 1995: 31). Dan setiap keindahan
yang terkandung dalam sebuah obyek hendaklah mendukung nilai gunanya.
"Beauty is not only the spice and luxury of life, but it is a prerequisite of ecological
survival because it supports human life in all superior aspects - as ARISTOTLE
said, to 'maintain the just measure'" (Langhein, 2001). Citra dan guna tersebut
kemudian berujung pada geometri sebagai salah satu pangkal analisisnya.
Keindahan dan kegunaan yang kita bicarakan bukan hanya merujuk pada benda
buatan manusia saja, namun berlaku pula pada alam.
"Sayap kupu-kupu, tanduk rusa raja, bulu-bulu cendrawasih, sisik
ikan, bahkan sikap perangai dan ulah kelakuan lumba-lumba atau
anjing pun tidak cuma berbiologi belaka, menjalankan kelangsun-
gan diri dan mempertahankan diri fsik belaka. Ada unsur-unsur yang
"lebih dari asal berguna". Bulu-bulu cendrawasih dan bentuk-bentuk
rumah binatang koral maupun penampilan rupa ikan-ikan di Laut
Banda "tidak harus" seindah itu. . Para ahli biologi saat ini yakin:
ada sesuatu yang LEBIH daripada soal efsiensi teknis dan fung-
sional bertahan diri belaka. Ada dimensi "budayanya", bahkan ada
unsur-unsur yang merupakan bayangan semacam "nurani" pada diri
makhluk binatang." (Mangunwijaya 1995: 6-7)
Hal yang dipaparkan oleh Romo Mangun di atas adalah bukti keindahan alam
yang berlaku untuk alam, ada sebuah keteraturan (order) dan keindahan yang
tercermin di baliknya. Dan keindahan tersebut memiliki sebuah jalur budaya
yang mungkin tidak dapat dimengerti seluruhnya oleh manusia. Sebuah prin-
sip geometri yang secara terintegrasi menjadi bagian dalam kehidupan alam,
geometri alam hanya dapat dianalisis namun tidak dapat diciptakan oleh manu-
sia.
Gambar 1. Rumah Panjang, rumah adat suku Dayak.
Sumber: http://citizenimages.kompas.com
15
arsitektur.net
2007 vol. 1 no. 1
Arsitektur selalu saja berkaitan dengan perihal 'indah' dan 'tidak indah', dan tan-
pa disadari perihal inilah yang berkaitan dengan geometri. Salah satu sub judul
pada essay yang ditulis oleh Dr. Joachim Langhein berbunyi "Proportion as a
guiding pattern for establishing beauty". Disebutkan pula bahwa proporsi memi-
liki kaitan erat dengan geometri, walaupun prosedur non-geometri juga memung-
kinkan adanya proporsi. Geometri proporsi menyangkut simetri yang mengontrol
aksis pencerminan, rotasi, stretching, dll. Simetri pencerminan merupakan salah
satu pola simetris terpenting dalam arsitektur, khususnya pada ornamen arsitek-
tur.
Saya percaya akan paradigma 'simetris adalah indah'; tidak ada yang salah
dalam pola pikir tersebut. Dan lebih jauh lagi, saya mempercayai bahwa para-
digma tersebut muncul karena latar belakang budaya.
Bahkan arsitektur tradisional ndonesia juga menerapkan pola simetrikal yang
tidak jauh berbeda dengan apa yang diterapkan pada bangunan Romawi, sime-
tris dengan pencerminan; seimbang antara kiri dan kanan; bahkan terdapat pula
prinsip orientasi yang berakar pada makro dan mikro kosmos.
Pemaparan di atas menunjukkan bahwa geometri adalah sebuah pembebasan
berarsitektur. Mengapa? Jawabannya adalah karena penilaian keindahan hany-
alah hasil dari kebudayaan, bukan sebuah guideline atau pakem yang harus
diikuti dan dipercayai. Saya tidak mengesampingkan nilai budaya, namun kata
'hanyalah' adalah penekanan pada kepercayaan saya pada budaya itu send-
iri. Saya adalah manusia yang berbudaya, dan karena budaya tersebut saya
mampu mendefnisikan (lebih tepatnya: mengklasifkasikan) 'indah' dan 'tidak in-
Gambar 2. Sayap kupu-kupu yang indah, tulang daun simetris dan tanduk
rusa yang kurang efsien untuk pergerakan, namun indah
Sumber:
(2a) http://www.wetcircuit.com/./2006/03.butterfy.jpg
(2b) http://psychoactiveherbs.com/catalog.images/kratom-leaves2.jpg
(2c) http://www.travel2canada.com/pics/hide.deer.jpg
Gambar 3. Bangunan dengan proporsi simetris
Sumber: Langhein, 2001
16
arsitektur.net
2007 vol. 1 no. 1
dah' - keindahan dengan cara maupun sudut pandang masing-masing, dengan
geometri yang terintegrasi di dalamnya.
Geometri adaIah Ekspresi Diri
Ekspresi merupakan sebuah aktivitas yang tidak terbatasi, dan dapat dilakukan
oleh setiap makhluk, termasuk manusia, hewan, dan tumbuhan. Ekspresi yang
produk ungkapannya adalah cerminan budaya masing-masing individu, memi-
liki nilai guna dan nilai citra yang mampu dipertanggungjawabkan. Produk dari
ekspresi diri tidaklah memiliki batasan-batasan yang harus dipatuhi, namun jus-
tru menuntut tolok ukur keindahan itu sendiri.
Geometri yang diterapkan dalam ilmu arsitektur menjadi relevan dengan ke-
beradaan pengertian keindahan berlatar belakang kebudayaan, dan geome-
tri yang didefnisikan sebagai kesatuan antara proporsi dan komposisi. Ketika
merancang sesuatu, arsitektural maupun non-arsitektural, manusia berpikir ten-
tang nilai guna dan nilai keindahan. Ketika mengacu pada nilai keindahan, maka
pemahaman geometri akan terpikir secara tidak sadar. lmu komposisi dan pro-
porsi akan terintegrasi dalam proses tersebut. Pada titik ini saya lalu berpikir bah-
wa sebenarnya geometri mulai menjadi salah satu bagian dari budaya itu sendiri.
Setiap orang yang melalui proses merancang tersebut akan menghasilkan
produk berbeda-beda, walaupun diberikan pemicu yang sama. Keragaman yang
muncul pada masing-masing produk merupakan salah satu contoh kecil pada
'kebebasan berekspresi'. Kebebasan inilah yang kemudian merujuk pada se-
buah pemahaman bahwa geometri tidak mengikat kebebasan berekspresi dalam
arsitektur. Tidak perlu mempertanyakan adanya paham gaya atau style karena
keberadaan gaya atau style bukanlah sesuatu yang muncul dengan tujuan me-
mang untuk menjadi sebuah gaya atau style. Tidak ada produk baroque yang
sama persis satu dengan yang lain, begitu pula dengan produk art deco maupun
produk klasik. Gaya atau style muncul karena kemiripan penerapan budaya pada
arsitektur sehingga memunculkan klasifkasi tertentu.
Pada akhirnya, maka kita akan kembali pada hakekat berarsitektur. Romo Man-
gun dalam bukunya Wastu Citra menulis demikian: "Berarsitektur ialah berba-
hasa dengan ruang dan gatra, dengan garis dan bidang, dengan bahan dan
suasana, seudah sewajarnyalah kita berarsitektur secara budayawan, dengan
nurani dan tanggung jawab penggunaan bahasa arsitektural yang baik. Arsi-
tektur yang indah adalah arsitektur yang mempedulikan nilai gunanya, dengan
nilai keindahan sebagai tingkat spiritual di dalamnya. Bukanlah sebagai produk
yang hanya dipandangi sebagai "patung, namun sebagai sesuatu yang dapat
diselami makna maupun ke-tiga dimensi-annya (atau bahkan hingga dimensi ke-
empat). Geometri tidak pernah mengikat kita untuk mengekspresikan keindahan,
justru memberikan kebebasan berbahasa dengan ruang, garis, bidang,
17
arsitektur.net
2007 vol. 1 no. 1
Referensi
Hersey, George L. Architecture and Geometry in the Age of the Baroque. Chi-
cago and London: The University of Chicago Press
Mangunwijaya, Y. B. (1995). Wastu Citra: Pengantar ke Ilmu Budaya Bentuk
Arsitektur, Sendi-sendi Filsafatnya beserta Contoh-contoh Praktis. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama.
Ellen, Roy. The Cognitive Geometry of Nature A contextual Approach, dalam P.
Descola and G. Palsson (eds.), Nature and society: anthropological perspec-
tives. London: Routledge London. http://lucy.ukc.ac.uk/Rainforest/cog_intro.
html, diakses 3 Juni 2007.
Langhein, J. (2001). Proportion and Traditional Architecture. http://www.intbau.
org/ essay10.htm diakses 3 Juni 2007.
Mandelbrot, B. Fractals - A Geometry of Nature.
http://www.fortunecity.com/emachines/e11/86/mandel.html diakses 3 Juni 2007.