Anda di halaman 1dari 4

ENTEROTOMI DAN ENTEREKTOMI

Nurul Sulfi Andini (Operator), Cristin Lupita L.D (As.operator 1), Raldy Palulungan (As.operator 2), Marhayani (As.Operator 3), Abd. Adi Sultan (As.Operator 4), Muh. Reza Basri (Anest)

Kelompok I, Fachira Ulfa Makmur (Asisten Dosen Ilmu Bedah) Praktikum Ilmu Bedah Khusus Veteriner I Bagian Bedah & Radiologi, Departemen Klinik, Reproduksi Dan Patologi Program Studi Kedokteran Hewan Universitas Hasanuddin Oleh : Nurul Sulfi Andini (O 111 11 007)

Abstrak Tujuan studi ini adalah memaparkan kasus bedah dan teknik enteretomi dan enterektomi pada hewan kecil. Seekor hewan dengan anamnesa bengkak pada abdomen, kesulitan untuk defekasi, nafsu makan berkurang. Temperature 390 C, frekuensi jantung 130/menit, frekuensi nafas yang sulit dideteksi. Diagnosa sementara adalah neoplasia disekitar abdomen dan prognosa fausta. Terapi yang dilakukan dengan tindakan operatif. Hasil operasi dan post operasinya berupa perawatan dan perencanaan pengobatan jika terjadi infeksi. Serta kesimpulan yang mengarah pada tujuan praktikum enterotomi dan enterektomi,prognosa dan prosedur pelaksaan praktikum. Kata kunci : hewan kasus, enterotomi, enterektomi, neoplasia, terapi

Pendahuluan Obstruksi usus karena menelan benda asing merupakan salah satu penyebab kolik pada kuda. Usus kecil adalah lokasi umum di mana benda asing dapat ditemukan . Tergantung pada lokasi obstruksi di usus kecil , teknik yang berbeda untuk mengusir benda asing ke wilayah di mana ia dapat dengan aman exteriorized dan dihapus dapat dicoba . Atau , pendekatan yang berbeda untuk perut dapat dilakukan untuk memfasilitasi exteriorization segmen terhambat dan pengangkatan benda asing. Obstruksi usus besar telah dihapus melalui enterotomy panggul menggunakan pendekatan garis tengah ventral , dan obstruksi usus kecil telah dihapus melalui enterotomy usus kecil menggunakan pendekatan paramedian (Antonio, 2009)

Selain pada kuda (hewan besar) enterotomi bisa juga dilakukan pada hewan kecil misalnya kucing. Pemeliharaan kucing yang semi intensif bisa saja menyebabkan adanya benda asing atau corpus allineum masuk kedalam usus hewan tersebut dan menyebabkan obtruksi pada saluran cerna dan menyebabkan gangguan pada saluran cerna. Untuk mengeluarkan benda asing tersebut maka dilakukanlah prosedur bedah yang disebut enterotomi yaitu penyeyatan pada bagian usus mulai dari serosa sampai pada bagian lumen mukosa. (Deni, 2009) Enterotomy sengaja dalam operasi laparoskopi perut sangat berbahaya jika tidak diakui selama operasi utama. Insiden IE dapat dikurangi secara signifikan dengan cermat penilaian risiko individual. Hanya ahli bedah yang terlatih dalam laparoskopi maju harus berusaha

menangani kasus rumit dan harus selalu waspada terhadap kemungkinan cedera usus. Setiap pasien dengan tanda-tanda peritonitis, sepsis, atau meningkat sakit perut setelah operasi laparoskopi harus segera diselidiki (Binenbaum, 2006) Selain itu adapula istilah enterektomi. Enterektomi menurut Kamus Saku Perawat adalah operasi pemotongan pada bagian usus Enterektomi adalah tindakan operatif memotong usus yang rusak akibat intususepsi, volvulus, strangulasi, tumor atau tersumbat oleh benda asing. Pelaksanaan enterektomi sendiri merupakan suatu keputusan yang berat bagi seorang dokter karena memiliki resiko kematian yang sama antara tidak dilaksanakan operasi atau melakukan operasi dengan metoda yang tidak benar (Dhirgo, 2012). Namun enterektomi yang ekstensif akan mengakibatkan hilangnya sebagian besar lapisan endotel di mukosa usus yang berfungsi untuk aktifitas digesti, absorbsi, dan sekresi. Enterektomi yang ekstensif juga dapat menyebabkan gangguan absorbsi nutrien, elektrolit dan vitamin sehingga terjadi sindrom malabsorbsi yang dikenal dengan Short Bowel Syndrome (Boedi, 2010). Maka betul bahwa enterektomi merupakan keputusan yang sangat berat bagi seorang dokter.

Frekuensi jantung Suhu Berat badan

130/menit 390C 5.1 kg

Diagnose, arah diagnose yang dapat diambil berdasarkan studi literatur dan gejala klinis yang timbul diduga hewan ini menderita neoplasia disekitar abdomen berdasarkan konsistensi pada bengkak tersebut. Prognosa. Kemungkinan kesembuhan hewan untuk pulih kembali sekitar 50%. Hal ini didasarkan jenis neoplasia yang dialami. Kemungkinan untuk mengarah kearah malignant tidak terlalu besar mengingat konsistensi tumor (bengkak) atau neoplasianya masih dapat digerakkan. Terapi, tindakan dan pengobatan yang dilakukan adalah pengangkatan pada neoplasia tersebut (enterektomy) agar tidak terjadi infeksi lanjut atau kemungkinan kearah malignant tidak terjadi. Adapun prosedur tindakan yaitu preparasi hewan, persiapan operator dan as.operator, dan prosedur bedah. Setelah dipersiapkan dan dianasthesi, hewan dibaringkan secara dorsal recumbensi. Kemudian dibersihkan dengan alcohol pada abdomen dan sekitarnya. Lalu diberi betadine dan dilakukan insisi pada bagian yang akan diangkat. Setelah itu, usus dipotong dan dijahit lalu dimasukkan kembali dalam abdomen

Kasus Anamnesa, pada kasus ini seekor hewan kecil (anjing) dengan bengkak disekitar abdomen. Awalnya pemilik menduga hewannya ini mengalami kegemukan atau habis makan namun bengkak ini semakin lama semakin membesar. Nafsu makan berkurang, lesu dan lemas. Pemeriksaan fisik berupa frekuensi nafas, jantung, suhu tubuh, berat badan diuraikan dalam table 1. Table 1 Hasil pemeriksaan fisik Parameter Frekuensi nafas Hasil Gambar 1. Enterektomi

mengingat bahwa untuk melakukan operasi ini membutuhkan waktu yang lama dan resiko terhadap hewan sangat besar. Usus yang telah ada diamati dan ditentukan daerah mana yang terdapat tumor (dimisalkan untuk kasus enterektomi end to end). Setelah menentukan daerah tersebut ligasi pembuluh darah yang menyuplai darah kedaerah tersebut. Pada praktikum ini, ada enam pembuluh darah yang diligasi, empat disekitar tumor dan duanya lagi merupakan pembuluh darah yang menyuplai keempat pembuluh darah tadi. Hatihati dalam meligasi karena salah meligasi mengakibatkan nekrosis pada daerah yang tidak diangkat. Setelah diligasi angkat usus tadi yang diibaratkan telah mengalami neoplasia. Sambung kembali usus yang terpisah. Dalam penyambungan ini dikenal tiga metode pertama, end to end, end to site, site to end. Ketika ujung usus yang satu dan yang lainnya sama besar digunakan lah sambungan end to end. Dan apabila tidak dilakukan end to site atau site to site. Pada kali ini, kami melakukan enterektomy dengan tiga metode dan enterotomy namun untuk metode enterektomy end to site dan site to site hanya sampai pada penutupan ujung usus yang lainnya karena penyambungan usus tersebut baik end to site maupun site to site pada saat penyambungan jahitannya sama dengan end to end. End to end sisa usus yang telah dipotong dipersatukan ujungnya (ujung yang satu dengan ujung lainnya),namun harus dipastikan terlebih dahulu ujung usus tersebut sama besar dengan ujung lainnya. Adapun caranya yaitu kedua sisi usus dipengang oleh as.operator.pertama jahit dari sisi dalam terlebih dahulu dengan jahitan continue. Setelah selesai lakukan tes kebocoran apabila ada bocor lakukan penjahitan dengan metode lambert. Dalam praktikum ini, usus yang kami jahit mengalami kebocoran maka dilakukan metode lambert. End to site sisa usus yang telah dipotong salah satunya ditutup dengan jahitan continue yang sedikit dimodifikasi. Pertama tama masukkan jarum serta benang seolah olah ingin menjahit metode continue. Sisakan ujung benang lalu

Gambar 2. Meligasi pemb. Darah

Gambar 3. Penjahitan end to end

Gambar 4. Enterotomi Hasil post operasi diperkirakan hewan dapat sembuh setelah 7 hari tanpa infeksi berkelanjutan.

Diskusi Dalam praktikum kali ini, kami menggunakan usus sapi yang telah disembelih sebagai peraga untuk melakukan enterektomi dan enterotomi

tahan dengan needle holder. Seberangkan jarum dan benang di ujung satunya sehingga terbentuk garis tegak lurus kemudian seberangkan disisi sebelahnya tahan benang tegak lurus dengan needle holder. Jahit dengan continue sehingga needle holder seolah olah terjahit. Setelah sampai diujung simpul. Maka pada akhir jahitan akan terbentuk seperti jahitan pada anus. Selanjutnya insisi pada usus yang telah dijahit ujungnya tadi sebesar ujung usus lainnya. Kemudian jahit dengan metode continue seperti pada metode end to end. Pada jahitan ini jangan sampai merusak lumennya. Site to site. Ujung usus yang satu dan lainnya sama sama ditutup seperti metode end to site kedua sisi di insisi sama besar kemudian disatukan dengan metode continue. Enterotomi. Usus yang terdapat benda asingnya diinsisi kemudian benda asing tersebut dikeluarkan kemudian usus dijahit dengan metode continue.

Evaluasi Kebocoran Enterektomi.pdf

Hasil

Operasi

Binenbaum, SJ1, Goldfarb MA.2006 Inadvertent enterotomy in minimally invasive abdominal surgery. Diakses tanggal 29 Maret 2014. Boedi. Sudarminto. Hertaningsih. 2010. Perbandingan Kadar Elektrolit Serum Pascaenterektomi Ekstensif 75 % pada Anjing yang Diterapi dengan Laktoferin.pdf Cezar, Antonio de Oliveira Dearo et al. 2009 Surgical Removal of a Descending (Small) Colon Foreign Body through a Secondary Paramedian Approach. Diakses tanggal 29 Maret 2014 Noviana, Deni. M. Esrawati, G. Soedjono. 2009. Pengaruh Anastesi Terhadap Sanuturasi Oksigen (SpO2) selama Enterotomi pada Kucing Lokal (Felix domestica).pdf Weller, Barbara, W. 2005. Kamus Saku Perawat Edisi 22

Kesimpulan 1. Tujuan enterektomi dan entrotomi adalah untuk mengeluarkan benda asing dari dalam tubuh 2. Adapun teknik nterotomi dan enterektomi yaitu : a) b) c) d) e) Persiapan ruangan Sterilisasi alat Persiapan dan preparasi hewan Persiapan operator dan asisten Prosedur bedah.

3. Kasus ini berprognosa dubius

Daftar Pustaka Adji, Dhirg. 2012. Analisis Leukosit Total, CReactive Protein (CRP) dan Fibrinogen untuk