Anda di halaman 1dari 5

ILMU BEDAH MULUT Ilmu bedah Mulut adalah suatu cabang ilmu kedokteran gigi yang mengobati penyakit

gigi dan mulut dengan jalan operasi. Sejarah Profesi dan spesialisasi Bedah Mulut & Maksilofasial berkembang mulanya dari sebutan yang sederhana yaitu Bedah Mulut (Oral Surgery). Di banyak negara sebutan ini melekat pada dokter gigi praktisi yang mempunyai ketertarikan khusus terhadap bidang yang menyangkut aspek bedah dalam menjalankan profesinya. Selama perjalanan kurang lebih 100 tahun, para ahli Bedah Mulut kemudian mengembangkan keterampilan dan keahlian tidak hanya menangani kelainan di sekitar mulut dan rahang, tapi juga wajah dan leher. Banyak ahli Bedah Mulut menambah pendidikannya dengan menempuh pendidikan dokter dan atau memperoleh pengalaman yang lebih dalam tentang aspek bedah secara formal. Selama tahun 80-an ekstensi perluasan dan pendalaman spesialis ini direfleksikan dengan perubahan nama menjadi Bedah Mulut dan Maksilofasial (Oral & Maxillofacial Surgery). Maxillo berasal dari bahasa latin yang berarti rahang, facial juga berasal dari bahasa latin yang menunjukan keahlian spesialisasi ini untuk melakukan tindakan bedah di daerah wajah. Pendidikan Pendidikan Spesialis Bedah Mulut & Maksilofasial di Indonesia diikuti oleh yang seorang telah lulus menjalani program pendidikan profesi dokter gigi dan diselenggarakan di: 1) FKG UI Jakarta 2) FKG UNPAD Bandung 3) FKG UGM Yogyakarta 4) FKG UNAIR Surabaya Secara umum Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut yang diselenggarakan oleh ke-empat institusi pendidikan tersebut mangandung kurikulum yang berisi empat kelompok besar mata ajaran yaitu ilmu kedokteran dasar (basic medical science), ilmu kedokteran klinis (basic clininal science), ilmu bedah dasar (basic surgical science), dan ilmu bedah mulut & maksilofasial-nya sendiri. Ilmu kedokteran dasar terdiri dari ilmu-ilmu dasar misalnya anatomi bedah, fisiologi, farmakologi, patologi anatomi, patologi klinik, dll. Ilmu kedokteran klinis terdiri dari cabangcabang ilmu kedokteran klinis dasar yang harus dikuasai untuk menunjang keahlian sebagai seorang spesialis Bedah Mulut & Maksilofasial, terdiri dari ilmu penyakit dalam, ilmu kesehatan anak, anestesi dan reanimasi, ilmu peny THT-KL, radiologi, ilmu bedah, ilmu peny mata, ilmu peny saraf. Masing-masing pusat pendidikan memiliki kebijakan sendiri mengenai jumlah ilmu kedokteran klinis yang harus diikuti, tetapi biasanya pendidikan dilakukan melalui stase di bagian/cabang ilmu tersebut mirip sebagaimana halnya pendidikan yang harus dilalui oleh calon dokter umum. Ilmu Bedah Dasar harus dilalui oleh residen/trainee Bedah Mulut & Maksilofasial sebagaimana halnya program pendidikan untuk ahli bedah lainnya. Sementara ini, stase di bedah dasar pada setiap pusat pendidikan mempunyai kekhasan masing-masing, dengan waktu berkisar mulai

dari 6 bulan sampai 1,5 semester. Dan yang terakhir, ilmu bedah Mulut & Maksilofasial terdiri dari beberapa cabang ilmu berdasarkan kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang spesialis bedah Mulut & Maksilofasial, di antaranya adalah bedah dentoalveolar, bedah praprostetik, implantologi, infeksi, kelainan kongenital, kista-neoplasma jinak & ganas, kelainan kelenjar ludah, facial pain-kelainan syaraf kranial V & VII, traumatologi, kelainan & bedah TMJ, bedah ortognatik & osteodistraksi, special care in dentistry (pengelolaan medically compromised patient). Contoh penyakit penyakit yang memerlukan tindakan darurat : 1. Phlegmon atau disebut juga LUDWIC,S ANGINA a. Penyebab penyakit infeksi yang berasal dari geligi geraham rahang bawah yang menembus/ menyebar ke rongga submandibula, sublingual dan submental kiri dan kanan. Infeksinya merupakan selulitis yang menyebar dengan cepat. b. Gejala Awal pembengkakan jaringan lunak sekitar gigi yang berlubang, lidah terasa terangkat, untuk membuka mulut menjadi sulit, liur menetes, kesulitan menelan dan kesulitan bernafas. c. Perawatan sederhana sebelum ke Dokter kompres dingin pada daerah sekitar pembengkakan, kompres dingin dahi apabila dirasakan suhu tubuh meningkat, banyak minum untuk mencegah syok atau kekurangan caiaran, makanan lunak yang memadai gizi dan jumlahnya. d. Komplikasi penyakit septikemia, dehidrasi,syok, disfagia / tidak bisa menelan makanan, asfiksia / tidak bisa bernafas. e. Cara pencegahan kontrol keadaan umum tubuhnya ke dokter, menjaga kebersihan gigi dan mulut, kontrol ke dokter gigi secara teratur setiap tiga bulan walau tidak merasakan keluhan sakit. 2. DISLOKASI RAHANG BAWAH a. Penyebab Penyakit benturan atau desakan pada dagu sewaktu mulut dalam keadaan terbuka, misalnya karena kecelakaan, operasi gigi / mulut yang lama, menguap lebar, tertawa terbahak-bahak, menggigit makanan yang besar, berteriak ketakutan dan sejenisnya. b. Gejala awal yang perlu diketahui pasien tidak mampu menutup mulutnya dengan sempurna, terjadi penonjolan sendi rahang satu sisi atau dua sisi, terjadi bunyi klik atau gemeretak mengikuti pembukaan maupun penutupan

rahang . c. Perawatan sederhana sebelum ke dokter relaks supaya otot rahang dan oto muka tidak tegang, membebat rahang dengan kain kasa / pembalut dagu . d. Komplikasi penyakit rahang terkunci sehingga sulit untuk berbicara dan menelan makanan, terjadi pembengkakan, terbiasa mengalami dislokasi rahang. e. Cara pencegahan membatasi gerakan rahang, mengunyah makanan dengan geligi di kedua sisi rahang, segera mengganti gigi yang sudah dicabut dengan prokesa gigi di dokter gigi. 3. PATAH TULANG RAHANG. a. Penyebab penyakit penyakit penyakit tulang umum, penyakit penyakit tulang lokal,trauma karena kecelakaan lalu lintas, pukulan jatuh , olah raga, pencabutan gigi, kecelakaan kerja dan lain-lain. b. Gejala awal yang perlu diketahui nyeri perdarahan dalam mulut, memar, ada pembengkakan, perubahan warna jaringan sekitarnya, bunyi gesekan tulang, kemampuan mengigit menyimpang, ada pergerakan rahang yang tidak normal. c. Perawatan sederhana sebelum ke Dokter kompres dingin, mempertahankan posisi agar rahang tidak banyak bergerak dengan membalut kepala. d. Komplikasi penyakit tersumbatnya jalan nafas, infeksi, tidak menyambungnya ujung ujung tulang yang patah, membuka dan menutup mulut menjadi tidak normal, kerusakan syaraf oleh potongan tulang. e. Cara pencegahan memakai pengaman yang memadai, kontrol ke dokter / dokter gigi walautidak ada keluhan. 4. MALPOSISI GIGI AKIBAT TRAUMA a. Penyebab penyakit trauma benturan, kesalahan pencabuta gigi. b. Gejala awal gigi goyang, lepas dari tulang penyangganya padahal gigi tidak patah.

c. Perawatan sederhana sebelum ke dokter merendam gigi utuh yang lepas di dalam larutan garam atau air suling, tulang penyangga gigi yang berdarah ditutup tampon. d. Komplikasi gigi tidak dapat dikembalikan sempurna pada tulang penyangganya, gigi tetap goyang setelah 3 ( tiga ) bulan dilakukan replantasi, terjadi ankilosis, terjadi resorbsi akar gigi, terjadi kelainan tulang penyangga gigi. e. Cara pencegahan memakai pengaman yang memakai, berkomunikasi yang jelas dengan petugas kesehatan gigi bila akan mencabutkan gigi. 5. PERDARAHAN SETELAH PENCABUTAN / OPERASI GIGI / MULUT a. Penyebab rauma melanik atau kecelakaan, kelainan atau gangguan mekanisme pembekuan darah. b. Gejala awal darah tetap mengalir keluar dari luka bekas pencabutan / operasi gigi / mulut beberapa jam setelah tampon dilepas. c. Perawatan sederhana penekanan lokal, kompres dingin, mengulum es batu, tidak boleh untuk kumur atau dihisap. d. Komplikasi infeksi, pembengkakan dan syok karena kekurangan cairan tubuh atau kekurangan darah. e. Cara pencegahan terbuka kepada dokternya tentang riwayat penyakit, riwayat perdarahan dan pemakaian obatobatan, mengikuti test laboratorium yang berhubungan dengan faal darah dan gangguan pembekuan darah, menjaga kebersihan dan kesterilan luka operasi dari trauma. 6. NYERI GIGI DI MALAM HARI a. Penyebab gigi berlubang yang lama dan tidak terawat, infeksi yang menekan syaraf gigi atau mendesak selaput tulang penyangga gigi dan selaput tulang rahang. b. Gejala awal gigi nyeri berdenyut tanpa rangsangan dari luar, gigi terasa menonjol serasa mau keluar dari tempatnya. c. Perawatan sederhana

menempelkan kapas yang sudah ditetesi minyak cengkeh pada lubang gigi yang sakit. d. Komplikasi gigi mati membusuk, jaringan penyangga gigi rusak, pembengkakan tulang rahang. e. Cara pencegahan segera merawatkan gigi yang berlubang walau belum terasa sakit.