Anda di halaman 1dari 116

UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN KARAGINAN

DALAM ALGA MERAH JENIS


Eucheuma spinosum dan Gracillaria verrucosa



SKRIPSI



Oleh :
MELKA NURUL HIJAZ
NIM: 04530016








UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MALANG
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
JURUSAN KIMIA
2009



UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN KARAGINAN
DALAM ALGA MERAH JENIS
Eucheuma spinosum dan Gracillaria verrucosa




SKRIPSI




Diajukan Kepada:
Universitas Islam Negeri (UIN) Malang
Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Dalam
Memperoleh Gelar Sarjana Sains (S.Si)






Oleh:
Melka Nurul Hijaz
NIM: 04530016







UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MALANG
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
JURUSAN KIMIA
2009


DALAM ALGA MERAH JENIS
Eucheuma spinosum dan Gracillaria verrucosa


SKRIPSI




Oleh:

Melka Nurul Hijaz
NIM: 04530002




Telah disetujui oleh:


Pembimbing I





Akyunul Jannah, S.Si, M.P
NIP: 150 368 798
Pembimbing II





Ahmad Barizi, MA
NIP: 150 283 991




Mengetahui,
Ketua Jurusan Kimia
Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri (UIN) Malang





Diana Candra Dewi, M.Si
NIP: 150 327 251

UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN KARAGINAN
DALAM ALGA MERAH JENIS
Eucheuma spinosum dan Gracillaria verrucosa


SKRIPSI


Oleh:
Melka Nurul Hijaz
NIM: 04530016

Telah Dipertahankan di Depan Dewan Penguji Skripsi
dan Dinyatakan Diterima Sebagai Salah Satu
Persyaratan untuk Memperoleh Gelar Sarjana Sains (S.Si)

Tanggal 2008

Susunan Dewan Penguji : Tanda Tangan

1. Penguji Utama : Diana Candra Dewi, M.Si
NIP. 150 327 251
( ................................ ... )


2. Ketua Penguji : Anton Prasetyo, M.Si
NIP. 150 377 252

( ................................ ... )
3. Sekr. Penguji : Akyunul Jannah, S.Si, M.P
NIP. 150 368 798

( ................................ ... )
4. Anggota Penguji : Ahmad Barizi, MA
NIP. 150 283 991
( ................................ ... )

Mengetahui dan Mengesahkan
Ketua Jurusan Kimia
fakultas Sains Dan Teknologi
Universitas Islam Negeri (UIN) Malang




Diana Candra Dewi, M.Si
NIP. 150 327 251

PERSEMBAHAN



Karya ini saya persembahkan kepada:

ABAH..yang telah memberi kurun waktu termahal dalam ABAH..yang telah memberi kurun waktu termahal dalam ABAH..yang telah memberi kurun waktu termahal dalam ABAH..yang telah memberi kurun waktu termahal dalam
hidup. hidup. hidup. hidup.

Abi M. Ainul Yaqien dan Ummi Mutia Farida yang Abi M. Ainul Yaqien dan Ummi Mutia Farida yang Abi M. Ainul Yaqien dan Ummi Mutia Farida yang Abi M. Ainul Yaqien dan Ummi Mutia Farida yang
tiada pern tiada pern tiada pern tiada pernah lelah mencurahkan kasih sayang, doa, ah lelah mencurahkan kasih sayang, doa, ah lelah mencurahkan kasih sayang, doa, ah lelah mencurahkan kasih sayang, doa,
motivasi, nasehat motivasi, nasehat motivasi, nasehat motivasi, nasehat- -- -nasehat dan segalanya yang tak kan nasehat dan segalanya yang tak kan nasehat dan segalanya yang tak kan nasehat dan segalanya yang tak kan
pernah lekang oleh waktu. pernah lekang oleh waktu. pernah lekang oleh waktu. pernah lekang oleh waktu.
Semoga melka bisa menjadi nahkoda yang piawai Semoga melka bisa menjadi nahkoda yang piawai Semoga melka bisa menjadi nahkoda yang piawai Semoga melka bisa menjadi nahkoda yang piawai
ataupun sopir yang hebat dan dapat membanggakan Abi ataupun sopir yang hebat dan dapat membanggakan Abi ataupun sopir yang hebat dan dapat membanggakan Abi ataupun sopir yang hebat dan dapat membanggakan Abi
dan Ummi kelak. Amin... dan Ummi kelak. Amin... dan Ummi kelak. Amin... dan Ummi kelak. Amin...

Adik Adik Adik Adik- -- -adikku; adikku; adikku; adikku; Umar Farouq, Muh. Umar Farouq, Muh. Umar Farouq, Muh. Umar Farouq, Muh. Zakaria, dan fira, Zakaria, dan fira, Zakaria, dan fira, Zakaria, dan fira,
terima kasih sudah menerima kakak apa adanyakalian terima kasih sudah menerima kakak apa adanyakalian terima kasih sudah menerima kakak apa adanyakalian terima kasih sudah menerima kakak apa adanyakalian
adalah harta yang paling berharga. adalah harta yang paling berharga. adalah harta yang paling berharga. adalah harta yang paling berharga. kakak sayang kakak sayang kakak sayang kakak sayang
kalian kalian kalian kalian

Mbah Bu, mbah Kung, Alm. Engkong, dan enek tercinta Mbah Bu, mbah Kung, Alm. Engkong, dan enek tercinta Mbah Bu, mbah Kung, Alm. Engkong, dan enek tercinta Mbah Bu, mbah Kung, Alm. Engkong, dan enek tercinta
yang selalu mendoakan melka. yang selalu mendoakan melka. yang selalu mendoakan melka. yang selalu mendoakan melka.

Big Family from Jakarta Big Family from Jakarta Big Family from Jakarta Big Family from Jakarta yang selalu memberikan doa yang selalu memberikan doa yang selalu memberikan doa yang selalu memberikan doa
serta motivasi tiada henti. serta motivasi tiada henti. serta motivasi tiada henti. serta motivasi tiada henti.

All my teacher dari TK hingga Perguruan Tinggi yang All my teacher dari TK hingga Perguruan Tinggi yang All my teacher dari TK hingga Perguruan Tinggi yang All my teacher dari TK hingga Perguruan Tinggi yang
dengan tulus mendidik dan memberikan ilmunya. dengan tulus mendidik dan memberikan ilmunya. dengan tulus mendidik dan memberikan ilmunya. dengan tulus mendidik dan memberikan ilmunya.


UCAPAN TERIMA KASIH.

Dia, malam, dan Semua tentang Kitayang hadir dengan ketiadaan,
sederhana dalam ketidakmengertian

ierbeduagekita bisa buat everythings will be OK!
we are strong women

Friends Chemistry 04 (Moe-Chib, Ely, Sun-Tea, D-vi, Iefa, Ucwah,
Atus, Fatimah, Hairi, Ndes, Faijal, Topik, Mike) yang udah buat jeda
tak lagi kosong..
Lophe U
Mb Nurul, Mb Susi, MbCici, Mb Akyun, Mas Abi, Mas Nain, Mas
Taufik..Makacih nyak
Adek-adek chemistry yang selalu memberikan doa serta semangat,
Tetep Semangat!!, perjalanan baru dimulai

Girls in EBLAZ (Intan, Lyly, Rini, Rizka and Fha) yang udah
nemenin and jadi saksi hidup sebuah perjalanan yang tak
tergantikan. teterere reret..ehem-ehem

Kost 48 (R-lina, Mamuk, Rida, Dina, Ratih, Menyun, Eka and Maya)
Kebersamaan adalah segalanya.
Thanks for All

Kost 15 (Junet, Mama, Aicho, Anik, Za, Mb Siti, Dian, Bu Nyai, Riris,
and Yuyun) yang udah mau berbincang-bincang dengan makhluk
setengah Dewi.
tengkyu very much-much

Lalake lan Bebini yang da di IKMASS, makasih buat sekelumit cerita
yang sungguh menarik.

ForBidden..yang telah memberi warna dan celah tuk berhenti
sejenak.

Uncle Sam yang telah membantu dengan tulus untuk
mendapatkan sampel.

Serta rekan-rekan dan semua pihak yang tidak dapat disebutkan
satu persatu, yang telah membantu penulis dari awal kuliah hingga
tersusunnya skripsi ini. Terimakasih..

MOTTO







%! `>,9 =2!.9 !`>9 !L `>.`. => !.,=. .
=9 > -.,.9 &#. 6=-9 `3:.
Artinya:
Dan Dia-lah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat
memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari
lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar
padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya
kamu bersyukur. (QS.An-Nahl:14)













Walaupun berada di tempat segelap dan serendah apapun... Walaupun berada di tempat segelap dan serendah apapun... Walaupun berada di tempat segelap dan serendah apapun... Walaupun berada di tempat segelap dan serendah apapun...
Tak ada kehidupan yang tak bisa diperbaiki Tak ada kehidupan yang tak bisa diperbaiki Tak ada kehidupan yang tak bisa diperbaiki Tak ada kehidupan yang tak bisa diperbaiki
Karena masih ada pelangi sehabis hujan... Karena masih ada pelangi sehabis hujan... Karena masih ada pelangi sehabis hujan... Karena masih ada pelangi sehabis hujan...

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.
Segala puji bagi Allah SWT karena atas limpahan nikmat-Nya, penulis
dapat menyelesaikan penulisan skripsi sebagai salah satu syarat memperoleh gelar
Sarjana Sains (S.Si). Penulis menyadari bahwa banyak pihak yang berpartisipasi
dan membantu dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini. Penulis sampaikan
terimakasih yang sebesar-besarnya teriring doa Jazakumullah ahsanal jazaa
kepada:
1. Prof. Dr. H. Imam Suprayogo selaku rektor Universitas Islam Negeri
Malang.
2. Prof. Dr. Sutiman Bambang Sumitro, SU, DSc selaku Dekan Fakultas
Sains dan Teknologi UIN Malang.
3. Diana Candra Dewi, M.Si. selaku Ketua Jurusan Kimia Fakultas Sains
Dan Teknologi UIN Malang.
4. Akyunul Jannah, MP, Elok Kamilah Hayati, M. Si, dan Ahmad barizi, MA
selaku dosen pembimbing selaku dosen pembimbing yang dengan
kesabarannya memberikan bimbingan dan arahan serta masukan-masukan
yang sangat berarti kepada penulis selama penyusunan skripsi ini.
5. Abi dan Umi tercinta yang dengan sepenuh hati memberikan dukungan
baik moril maupun sprituil sehingga penulisan skripsi ini dapat
terselesaikan.


6. Bapak-Ibu Dosen dan seluruh civitas akademik Fakultas Sains dan
Teknologi yang telah memberikan ilmu dan kemudahan selama penulis
berada di Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Malang.
7. Kakak-kakak serta adik-adikku yang telah banyak memberikan doa,
motivasi, dan dorongan dalam penyelesaian skripsi ini serta semua saudara
di rumah.
8. Teman-teman Kimia04 seperjuangan, Kimia05, Kimia06-08, baik yang
sama-sama sedang berjuang maupun yang akan berjuang dan teman-teman
kosan.
9. Serta seluruh pihak yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini.
Penulis mengakui bahwa skripsi ini masih banyak kekurangan, kelemahan,
dan masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik
dan saran yang membangun guna perbaikan ke depan.
Akhirnya semoga karya ini diterima di sisi Allah SWT. dan semoga
mendapatkan balasan yang setimpal dari-Nya. Harapan penulis semoga karya tulis
ilmiah ini dapat bermanfaat bagi penyusun khususnya, dan para pembaca pada
umumnya, untuk dijadikan bahan pertimbangan dalam pengembangan pendidikan
Islam ke depan dan dapat memperluas cakrawala ke-Islaman terutama untuk ilmu.
Wassalamualaikum Wr. Wb.
Malang, 16 April 2009

Penulis

DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ...................................................................................... i
DAFTAR ISI .................................................................................................... iii
DAFTAR TABEL ............................................................................................ v
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................ vi
DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................... vii
ABSTRAK ...................................................................................................... viii

BAB I PENDAHULUAN ................................................................................ 1
1.1. Latar Belakang ............................................................................... 1
1.2. Rumusan Masalah .......................................................................... 5
1.3 Tujuan ............................................................................................. 6
1.4 Batasan Masalah ............................................................................. 6
1.5 Manfaat ........................................................................................... 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ..................................................................... 8
2.1 Kekayaan Laut ................................................................................ 8
2.2 Alga (Rumput Laut) Merah ............................................................ 10
2.2.1 Alga Merah Eucheuma spinosum................................................. 13
2.2.2 Alga Merah Gracillaria verrucosa .............................................. 15
2.3 Karaginan ........................................................................................ 17
2.3.1 Struktur dan Sifat Karaginan ........................................................ 17
2.3.2 Manfaat Karaginan ....................................................................... 23
2.3.3 Isolasi, Fraksinasi dan Pemurnian Karaginan .............................. 25
2.3.4 Pemisahan Karaginan dengan Kromatografi Lapis Tipis
Preparatif (KLTP) ......................................................................... 27
2.4 Antioksidan ..................................................................................... 28
2.4.1 Mekanisme Antioksidan............................................................... 30
2.4.2 Antioksidan Alami ....................................................................... 33
2.4.3 Antioksidan Sintetik ..................................................................... 36
2.5 Pengujian Aktivitas Antioksidan dengan metode DPPH ................ 37
2.6 Identifikasi Spektofotometer UV-Vis ............................................. 40

BAB III METODE PENELITIAN ................................................................ 43
3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian .......................................................... 43
3.2 Bahan-Bahan Penelitian .................................................................. 43
3.2.1 Bahan Sampel .............................................................................. 43
3.2.2 Bahan Kimia ................................................................................ 43
3.2.3 Alat-Alat Penelitian ...................................................................... 44
3.3 Tahapan Penelitian .......................................................................... 44

3.4 Rancangan Penelitian ...................................................................... 45
3.5 Cara Kerja ....................................................................................... 46
3.5.1 Preparasi Sampel .......................................................................... 46
3.5.2 Penentuan Kadar Air Secara Thermogravimetri .......................... 46
3.5.3 Ekstraksi Karaginan dengan Metode Maserasi ............................ 46
3.5.4 Uji Aktivitas Antioksidan Hasil Ekstraksi Dengan
Metode DPPH .............................................................................. 47
3.5.5 Fraksinasi dengan Larutan KCl 2,5% .......................................... 48
3.5.6 Pemurnian Karaginan dengan larutan H
2
O
2
30% ........................ 49
3.5.7 Pemisahan Karaginan dengan Kromatografi
Lapis Tipis (KLT) ........................................................................ 49
3.5.7.1 KLT Analitik ............................................................................. 49
3.5.7.2 KLT Preparatif .......................................................................... 50
3.5.8 Uji Aktivitas Antioksidan Hasil Ekstraksi Dengan
Metode DPPH .............................................................................. 51
3.6 Analisis Data ................................................................................... 51

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ........................................................ 52
4.1 Ekstraksi Karaginan Dengan Metode Maserasi .............................. 54
4.2 Uji Aktivitas Antioksidan Hasil Ekstraksi Dengan
Metode DPPH ................................................................................. 58
4.3 Fraksinasi dengan Larutan KCl 2,5% ............................................. 58
4.4 Pemisahan Karaginan dengan Kromatografi
Lapis Tipis (KLT) ........................................................................... 61
4.5 Uji Aktivitas Antioksidan Hasil Ekstraksi Dengan
Metode DPPH ................................................................................. 65

BAB V PENUTUP ........................................................................................... 67
5.1 Kesimpulan ..................................................................................... 67
5.2 Saran ................................................................................................ 68

DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 69
LAMPIRAN ..................................................................................................... 74







DAFTAR TABEL


No Judul Halaman
2.1 Kandungan Unsur-Unsur Mikro Dalam Alga Merah.................................... 13
2.2 Komposisi Nilai Nutrisi Alga Merah Eucheuma spinosium...........................15
2.3 Komposisi Nilai Nutrisi Alga Merah Gracillaria verrucosa ............... .........16
2.4 Unit-Unit Monomer Karaginan ............................................................ .........20
2.5 Daya Kelarutan Karaginan pada Berbagai Media Pelarut ................... .........21
2.6 Stabilitas Karaginan dalam Berbagai Media Pelarut......................................22
4.1 Perubahan Warna dan Perhitungan Kadar Air pada Alga Merah...........51
4.2 Data Rendemen Karaginan Hasil Ekstraksi Alga Merah............55
4.3 Aktivitas Antioksidan (%) Ekstrak Kasar dan Pembanding...........................56
4.4 Nilai Hasil Fraksinasi Karaginan dengan Larutan KCl 2,5%.........................59
4.5 Nilai Hasil Pemurnian Karaginan dengan larutan H
2
O
2
30%.........................61
4.6 Nilai Rf Karaginan dengan Variasi Eluen.......................................................62
4.7 Nilai Rf dan Penampak Noda pada Kromatogram Hasil KLT
Preparatif Ekstrak Alga Merah dengan Eluen
Metanol:Air (5:1
v
v
).......................................................................................64
4.8 Perbandingan Presentasi Aktivitas Antioksidan Antara
Ekstrak Kasar dan Fraksi Aktif Masing-Masing
Sampel Alga Merah ....65




















DAFTAR GAMBAR

No. Gambar Halaman
2.1 Alga Merah Eucheuma spinosium..............................................................14
2.2 Alga Merah Gracillaria verrucosa.............................................................15
2.3 Struktur Dasar Karaginan...........................................................................17
2.4 Struktur -Karaginan..................................................................................18
2.5 Struktur -Karaginan...................................................................................19
2.6 Struktur -Karaginan..................................................................................19
2.7 Struktur dari -Karaginan...........................................................................20
2.8 Struktur dari -Karaginan...........................................................................20
2.9 Struktur Silika Gel......................................................................................28
3.0 Reaksi Penghambatan Antioksidan Primer Terhadap Radikal Lipida.......32
3.1 Reaksi Penghambatan Antioksidan Antar Radikal Antioksidan................32
3.2 Antioksidan Bertindak sebagai Prooksidan pada Konsentrasi Tinggi........33
3.3 Struktur Kimia Asam Askorbat..................................................................35
3.4 Struktur BHT (Butyl Hydroxy Toluen)......................................................36
3.5 Reaksi Antara Antioksidan dengan Molekul DPPH..................................39
4.1 Aktivitas Penangkapan Radikal Bebas dengan Berbagai Konsentrasi.......57
4.2 Mekanisme penambahan ion K
+
pada molekul karaginan..........................59
4.3 Hasil KLT Analitik Masing-Masing Sampel......62
4.4 Hasil Identifikasi KLT dengan lampu UV dengan eluen metanol:air
(5:1
v
v
)......................................................................................................63
4.5 Hasil Identifikasi KLT dari masing-masing sampel dengan eluen
metanol:air (5:1
v
v
)...................................................................................64
















DAFTAR LAMPIRAN


Lampiran Halaman
Lampiran 1 Skema Kerja Prosedur Penelitian ................................................ ..74
Lampiran 2 Pembuatan Larutan dan Bahan ................................................... ..84
Lampiran 3 Perhitungan kadar air alga merah ................................................ ..88
Lampiran 4 Perhitungan rendemen karaginan hasil ekstraksi
alga merah ................................................................................... ..89
Lampiran 5 Data hasil pengukuran aktivitas antioksidan dengan
metode DPPH ............................................................................. ..90
Lampiran 6 Perhitungan nilai Rf masing-masing alga merah ........................ ..94
Lampiran 7 Reaksi dugaan antara antioksidan (ekstrak karaginan,
vitamin C dan BHT) dengan molekul DPPH.................................95
Lampiran 8 Dokumentasi Penelitian .............................................................. ..97



























ABSTRAK


Hijaz, M. N., 2009, Uji Aktivitas Antioksidan Karaginan dalam Alga Merah
Jenis Eucheuma spinosium dan Gracillaria verrucosa.

Pembimbing Utama : Akyunul Jannah, M.P
Pembimbing Kedua : Ahmad Barizi, MA


Sumber daya laut merupakan kekayaan alam yang memiliki peluang besar
untuk dimanfaatkan. Allah telah menjelaskan dalam al-Quran surat An-Nahl [16]
ayat 14; Dan Dia-lah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu
dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan
dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar
padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya
kamu bersyukur.. Salah satunya adalah alga merah. Alga merah yang digunakan
adalah jenis Eucheuma spinosium dan Gracillaria verrucosa. Tujuan penelitian
ini adalah untuk mengetahui aktivitas antioksidan ekstrak kasar dan fraksi aktif
karaginan dalam alga merah jenis Eucheuma spinosum dan Gracillaria verrucosa
dengan metode DPPH (1,1-difenil-2-pikrilhidrasil).
Ekstraksi bahan aktif ekstrak karaginan dilakukan dengan metode
maserasi menggunakan etanol, uji identifikasi kualitatif karaginan dilakukan
dengan menggunakan metode pemisahan KLT. Uji aktivitas antioksidan
menggunakan metode DPPH ((1,1-difenil-2-pikrilhidrasil) dengan berbagai
konsentrasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa alga merah Eucheuma spinosium
memiliki kadar air 12,01% dan Gracillaria verrucosa 12,08%. Rendemen yang
dihasilkan adalah sebesar 35% untuk Eucheuma spinosium dan 25,4% untuk
Gracillaria verrucosa. Pada uji KLT telah didapatkan satu noda senyawa
karaginan dengan nilai Rf 0,74 pada masing-masing alga merah serta standart
yang menggunakan fase gerak metanol:air (5:1
v
v
). Ekstrak kasar karaginan
dalam alga merah jenis Eucheuma spinosium, Gracillaria verrucosa, vitamin C
serta BHT mengalami peningkatan konsentrasi pada semua perlakuan sehingga
menyebabkan peningkatan aktivitas antioksidan. Adapun aktivitas antioksidan
ekstrak kasar yang diperoleh adalah Eucheuma spinosum pada 750 ppm sebesar
83,37%, Gracillaria verrucosa pada 750 ppm sebesar 85,79%, vitamin C pada
500 ppm sebesar 83,03% dan BHT pada 350 ppm sebesar 77,34%. Aktivitas
antioksidan ekstrak fraksi aktif karaginan pada konsentrasi 750 ppm yang
diperoleh adalah Eucheuma spinosum sebesar 54,04%, Gracillaria verrucosa
sebesar 55,35% dan standar sebesar 38,12%.

Kata kunci: karaginan, Alga Merah Eucheuma spinosium, Alga Merah
Gracillaria verrucosa, antioksidan

ABSTRACT


Hijaz, M. N., 2009, Antioxidant Activities Test of Carrageenan in Red
Seaweed of The Kind Eucheuma spinosium dan Gracillaria verrucosa.

Main Conselor : Akyunul Jannah, M.P
Second Conselor : Ahmad Barizi, MA


Ocean research as natural weath has a great oppurtinity to be useful.
Allah has explained in Al-Quran section An-Nahl subsection 14 That is HIM
Allah who defeates ocean for you in order to eat from it fresh meat of fish, and
you take of the ocean the jewelry you wear and you see boat sailing on it and you
take benefit of god blessing and you be grateful. One of them is red seaweed.
The red seaweed that has been used is the kind of Eucheuma spinosium and
Gracillaria verrucosa. The aim of the research is to know the activities of crude
extract antioxidant and carrageenan active fraction in red seaweed of the kind of
Eucheuma spinosium and Gracillaria verrucosa with DPPH (1,1-difenil-2-
pikrilhidrasil) methode.
Carrageenan extraction is executed with maceration methode by using
ethanol, quality identification test of carrageenan is executed by using KLT
separation methode. Antioxidant activities test uses DPPH (1,1-difenil-2-
pikrilhidrasil) methode with varietes concentration.
Research result indicates that red seaweed Eucheuma spinosum has
water level 12,01% and Gracillaria verrucossa 12,08%. The sample is 35% for
Eucheuma spinosum and 25,4 % for Gracillaria verrucossa. In KLT test has
gotten spot of carrageenan with the values of Rf 0,74 in each red seaweed as the
standard that uses water:methanol movement phase (5:1
v
v
). Carrageenan crude
extract in red seaweed of the kind Eucheuma spinosum, Gracillaria verrucossa,
vitamine C and BHT has increasing concentration in every antioxidant activities.
Crude extract antioxidant activities of Eucheuma spinosum is 83,37% in 750 ppm,
Gracillaria verrucosa is 85,79% in 750 ppm, vitamine C is 83,03% in 500 ppm
and BHT is 77,79% in 350 ppm. Antioxidant activities carrageenan extract active
fraction in 750 ppm of Eucheuma spinosum is 54,04%, Gracillaria verrucosa is
55,35% and standard is 38,12%.

Key word : carrageenan, red saweed of Eucheuma spinosu, red seaweed of
Gracillaria verrucosa, antioxidant



BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan salah satu Negara bahari terbesar di dunia.
Karakteristik geografis Indonesia struktur dan tipologi ekosistemnya yang
didominasi oleh lautan telah menjadikan Indonesia sebagai pemilik
keanekaragaman hayati terbesar dunia. Sumber daya kelautan merupakan
kekayaan alam yang memiliki peluang besar untuk dimanfaatkan.
Dalam surat an-Nahl/16 ayat 14 Allah berfirman :
%! `>,9 =2!.9 !`>9 !L `>.`. => !.,=. .
=9 > -.,.9 &#. 6=-9 `3:.
Dan Dia-lah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat
memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari
lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar
padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya
kamu bersyukur. (QS.16:14).

Makna dari firman Allah SWT sakhkhara al-bahra menerangkan bahwa
Laut juga ditundukkan sebagai sumber daya alam yang tak ternilai harganya. Laut
adalah lambang dari kesuburan sekaligus kemakmuran. Di laut terdapat beraneka
ragam potensi sumberdaya alam yang dapat diperbaharui (renewable resources)
seperti ikan, udang, kepiting, rumput laut dan lain sebagainya serta potensi
sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui (unrenewable resources) seperti
gas dan minyak bumi, mineral dan aneka bahan tambang serta enersi ramah
lingkungan.

Menurut Ibnu Katsir Penciptaan laut sebagai tempat penyimpanan yang
tidak pernah kering merupakan nikmat yang besar dari Allah SWT. Laut tidak
pernah kering dari sumber-sumber makanan yang merupakan hal yang mendasar
dalam kehidupan semua bangsa. Laut juga dapat dijadikan sebagai cadangan
makanan untuk manusia (Djamil,A., 2004:71).
Dalam kitab Al-Mawa Al-Hayat baina Al-Ilm wa Al-Quran disebutkan,
kalau kemajuan dalam produksi pangan secara kimiawi telah memungkinkan
berdirinya pabrik-pabrik makanan baru hingga maraknya pengeksploitasian
sumber daya laut yang menghasilkan kekayaan melimpah dan dapat memacu
perkembangan zaman, maka dalam waktu dekat laut akan menjadi sumber
penghasilan yang padat protein.
Salah satu sumber daya alam laut yang dapat dimanfaatkan adalah rumput
laut. Rumput laut adalah nama umum dalam dunia perdagangan yang digunakan
untuk menyebutkan kelompok alga laut yang hidup di laut. Alga merupakan salah
satu sumber devisa negara dan sumber pendapatan bagi masyarakat pesisir. Selain
dapat digunakan sebagai bahan makanan, minuman dan obat-obatan, beberapa
hasil olahan alga seperti agar-agar, alginat dan karaginan merupakan senyawa
yang cukup penting dalam industri (Istini, 1998).
Pemanfaatan alga masih perlu dikembangkan lagi agar memberikan nilai
tambah, baik secara ekonomi maupun lingkungan. Seiring dengan perkembangan
teknologi, alga telah ditingkatkan pemanfaatannya sehingga memberikan nilai
yang lebih tinggi. Salah satu pemanfaatannya adalah sebagai antioksidan.

Antioksidan merupakan senyawa yang dapat menghambat spesies oksigen
reaktif/spesies nitrogen aktif (ROS/RNS) dan juga radikal bebas sehingga
antioksidan dapat mencegah penyakit-penyakit yang dihubungkan dengan radikal
bebas seperti karsinogenesis, kardiovaskuler dan penuaan. Antioksidan alami
secara toksikologi lebih aman untuk dikonsumsi dan lebih mudah diserap oleh
tubuh daripada antioksidan sintesis (Madhavi et al, 1996).
Antioksidan sintetik BHA, BHT, PG dan TBHQ sering digunakan untuk
mengontrol terjadinya oksidasi. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan
antioksidan tersebut menyebabkan efek karsinogenik. Oleh karena itu penelitian
dan pengembangan antioksidan yang berasal dari alam sedang banyak dilakukan
sebagai alternatif pengganti antioksidan sintetik. Penelitian menunjukkan bahwa
antioksidan alami memiliki aktivitas antioksidatif lebih tinggi daripada
antioksidan sintetis. Karena itu, antioksidan alami mulai meningkat
penggunaannya dan menggantikan antioksidan sintesis (Paiva dan Robert, 1999).
Pemanfaatan alga sebagai antioksidan telah dilakukan oleh beberapa
peneliti, Omar, dkk (2007) melakukan penelitian menggunakan alga coklat jenis
Padina antillarium yang menghasilkan ekstrak fukoidan (polisakarida kompleks
pada dinding sel alga) sebagai antioksidan dengan nilai EC
50
sebesar 0,337 g/mL
dengan metode DPPH. Cristiane, dkk (2006) menggunakan alga coklat jenis
Fucus vesiculosus yang menghasilkan ekstrak fukoidan (polisakarida kompleks
pada dinding sel alga) sebagai antioksidan dengan nilai EC
50
sebesar 2,341
g/mL, alga merah jenis Gigartina acicularis yang menghasilkan ekstrak lambda
karaginan sebagai antioksidan dengan nilai EC
50
sebesar 0,323 g/mL, alga merah

jenis Eucheuma cottoni yang menghasilkan ekstrak kappa karaginan sebagai
antioksidan dengan nilai EC
50
sebesar 2,697 g/mL, serta alga merah jenis
Eucheuma spinosium yang menghasilkan ekstrak iota karaginan sebagai
antioksidan dengan nilai EC
50
sebesar 0,830 g/mL dengan metode TBA (asam 2-
tiobarbiturat).
Salah satu jenis rumput laut yang banyak dibudidayakan di Indonesia
terutama kabupaten Probolinggo adalah alga merah jenis Eucheuma spinosium
dan Gracillaria verrucosa. Penelitian ini salah satunya dilakukan untuk
memanfaatkan alga merah jenis Eucheuma spinosium dan Gracillaria verrucosa
yang banyak dibudidayakan di kabupaten Probolinggo. Kandungan kimia dari
alga merah jenis Eucheuma spinosium adalah iota karaginan adalah 65,75%
(Mubarak, 1982). Kandungan kimia dari alga merah jenis Gracillaria verrucosa
adalah karaginan (47,34%) (Istini, 1998). Iota karaginan merupakan polisakarida
tersulfatkan dimana kandungan ester sulfatnya adalah 28-35%. Adanya atom
sulfur (S) dan oksigen (O) pada ester sulfat, -OH dan COOH pada polisakarida,
merupakan situs aktif tempat berinteraksi dengan radikal bebas (Atmadja, 1996).
Beberapa senyawa sulfur pada iota karaginan merupakan pemecah peroksida yang
efektif. Peranan ini dapat berupa reaksi transfer satu elektron, dan struktur
permulaannya mungkin hanya prekusor inhibitor aktif (Cahyadi, 2006).
Pada penelitian Cristiane, dkk (2006) dilakukan uji aktivitas antioksidan
karaginan dengan menggunakan metode TBA, sehingga pada penelitian ini
dilakukan uji aktivitas antioksidan karaginan dengan menggunakan metode lain
yaitu metode DPPH, dikarenakan setiap metode memberikan hasil yang berbeda

pula. Metode DPPH digunakan untuk mengukur daya antioksidan yang diperoleh
dengan menghitung jumlah pengurangan atau peluruhan warna ungu DPPH yang
sebanding dengan pengurangan konsentrasi larutan DPPH melalui pengukuran
absorbansi larutan uji. Metode DPPH dipilih karena sederhana, mudah, cepat dan
peka serta hanya memerlukan sedikit sampel walaupun terbilang harganya mahal.
Metode DPPH juga merupakan metode yang tidak terbatas untuk mengukur
komponen yang larut dalam pelarut yang digunakan dalam analisa (dapat
mengukur aktivitas total antioksidan baik dalam pelarut polar maupun nonpolar)
(Hafid, 2003).
Penelitian mengenai penangkapan radikal bebas oleh suatu senyawa
antioksidan ini juga perlu untuk dilakukan mengingat efek negatif yang dapat
ditimbulkan oleh suatu radikal bebas jika berada di dalam tubuh. Berdasarkan
penelitian Cristiane, dkk (2006) tersebut, maka dilakukan penelitian uji aktivitas
antioksidan karaginan dari dua jenis alga merah jenis Eucheuma spinosium dan
Gracillaria verrucosa dengan metode DPPH karena dimungkinkan dalam alga
merah jenis Eucheuma spinosium dan Gracillaria verrucosa terkandung
karaginan yang merupakan senyawa antioksidan.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah disampaikan diatas maka dapat
diambil rumusan masalah yaitu :

1. Bagaimana aktivitas antioksidan ekstrak kasar karaginan dalam alga merah
jenis Eucheuma spinosum dan Gracillaria verrucosa dengan metode DPPH
(1,1-difenil-2-pikrilhidrasil)?
2. Bagaimana aktivitas antioksidan ekstrak fraksi aktif karaginan dalam alga
merah jenis Eucheuma spinosum dan Gracillaria verrucosa dengan metode
DPPH (1,1-difenil-2-pikrilhidrasil)?

1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan diadakannya penelitian ini adalah :
1. Mengetahui aktivitas antioksidan ekstrak kasar karaginan dalam alga merah
jenis Eucheuma spinosum dan Gracillaria verrucosa dengan metode DPPH
(1,1-difenil-2-pikrilhidrasil).
2. Mengetahui aktivitas antioksidan ekstrak fraksi aktif karaginan dalam alga
merah jenis Eucheuma spinosum dan Gracillaria verrucosa dengan metode
DPPH (1,1-difenil-2-pikrilhidrasil).

1.4 Batasan Masalah
1. Pada penelitian ini, sampel yang digunakan adalah alga merah jenis Eucheuma
spinosum yang berasal dari perairan Mayangan dan Gracillaria verrucosa
yang berasal dari tambak pada daerah Kraksaan Kabupaten Probolinggo yang
berumur 49 hari (7 minggu).

2. Metode untuk uji aktivitas antioksidan ekstrak karaginan dalam dua jenis alga
merah adalah DPPH (1,1-difenil-2-pikrilhidrasil) dengan menggunakan
pembanding BHT serta vitamin C.

1.5 Manfaat Penelitian
Dengan diadakannya penelitian ini, diharapkan dapat memberikan
pengetahuan kepada masyarakat tentang manfaat alga merah jenis Eucheuma
spinosum dan Gracillaria verrucosa yang tidak hanya untuk bahan makanan
tetapi mengandung senyawa antioksidan yang baik bagi kesehatan yaitu
karaginan. Selain itu, memberikan informasi tentang aktivitas antioksidan
karaginan menggunakan metode DPPH (1,1-difenil-2-pikrilhidrasil) dengan
menggunakan pembanding BHT serta vitamin C.












BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kekayaan Laut
Indonesia merupakan negara dengan wilayah laut yang lebih besar
dibanding darat (75% laut). Laut adalah lambang dari kesuburan sekaligus
kemakmuran karena mempunyai potensi sumberdaya alam yang tak ternilai
harganya. Laut mempunyai peranan penting dalam kehidupan manusia.
Dalam surat an-Nahl/16 ayat 14 Allah berfirman :
%! `>,9 =2!.9 !`>9 !L `>.`. => !.,=. .
=9 > -.,.9 &#. 6=-9 `3:.
Dan Dia-lah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat
memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari
lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar
padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya
kamu bersyukur. (QS.16:14).

Apabila dicermati ayat-ayat tersebut di atas tampak bahwa Allah SWT
menciptakan laut dengan beberapa kandungan kekayaan yang terdapat di
dalamnya. Adapun tiga kandungan kekayaan laut :
1. Kekayaan makanan, hal ini terdapat dalam firman Allah SWT !L !`>9
=2!.9 menjelaskan bahwa laut menyediakan sumber makanan/daging yang

segar (Faathir/35:12) diantaranya ikan, udang, kepiting, rumput laut dan lain


sebagainya yang penting bagi kehidupan manusia karena makanan yang segar
memiliki nilai positif bagi kesehatan. Pengelolaan kekayaan tersebut bisa
berupa penjaringan ikan, atau pembudidayaan kelautan lainnya yang bisa
dijadikan komoditas perdagangan di tingkat nasional ataupun internasional.
2. Kandungan kekayaan laut yang kedua yaitu kekayaan berupa perhiasan, hal ini
terdapat dalam firman Allah SWT !.,=. => `>.`. menjelaskan
bahwa Allah SWT memberikan manusia tidak saja sarana untuk mencari
kebutuhan pokok, seperti air dan makanan, tapi juga memberinya bahan-bahan
perhiasan (Faathir/35:12) seperti mutiara (Ar-Rahman/55:19-24), timah, emas,
perak dan lain sebagainya. Seolah-olah Al-Quran mengatakan, Agar kalian
dapat menambang mutiara berharga yang terdapat di dasar laut, dengan cara
menyelam, demi menghiasi pakaian kalian serta istri-istri kalian: dan kamu
mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai. Laut menyediakan
manusia perhiasan alamiah terbaik.
3. Kandungan kekayaan laut yang ketiga yaitu kekayaan berupa sarana
transportasi, hal ini terdapat dalam firman Allah SWT >=9 .
menjelaskan bahwa Allah SWT memberikan manusia alat transportasi yaitu
kapal (Luqman/3:31 dan Al-Jatsiyah/45:12) untuk berlayar di laut.
Pengelolaan kekayaan tersebut bisa digunakan untuk kegiatan pelayaran dan
juga untuk mata pencaharian (bagi nelayan).
8

Sehingga dari ayat di atas dapat ditemukan secara jelas tentang potensi
kekayaan laut, serta kemungkinan pengelolaan dan pemanfataanya bagi keperluan
manusia karena sumber daya alam itu baru dikatakan bermanfaat setelah
dirasakan atau digunakan oleh manusia. Salah satu sumber kekayaan laut yang
dapat dimanfaatkan adalah alga (rumput laut).

2.2 Alga (Rumput Laut) Merah
Alga (jamak Algae) adalah biota laut yang umumnya tumbuh melekat pada
substrat tertentu, tidak mempunyai akar, batang maupun daun sejati tetapi hanya
menyerupai batang yang disebut thallus. Alga tumbuh dengan mendekatkan
dirinya pada karang lumpur, pasir, batu dan tumbuhan lain secara spesifik
(Anggadiredja, dkk, 2006). Untuk susunan tubuhnya, umumnya bersel banyak
(multiseluler), tetapi ada juga yang bersel tunggal (uniseluler) dan sering juga
membentuk filamen (benang) (Hidayat, 2006).
Proses metabolisme alga memerlukan kesesuaian faktor-faktor fisika dan
kimia perairan seperti gerakan air, suhu, kadar garam, nutrisi atau zat hara seperti
nitrat dan fosfat, dan pencahayaan sinar matahari. Pada masa pertumbuhannya, zat
hara diserap dari media air melalui thallus, sedangkan proses fotosintesis
berlangsung dengan bantuan sinar matahari yang menembus ke perairan di tempat
pertumbuhannya (Atmadja, 2007). Setiap jenis alga mempunyai perbedaan dalam
proses metabolismenya. Pertumbuhan alga yang mempunyai perbedaan dalam
kesesuaian faktor-faktor fisika dan kimia dapat dijelaskan dalam firman Allah
surat Al Furqon/25 ayat 53 :

%! _ `>,9 ',s , _= _l> -> !], l>, >>
>>

Dan Dialah yang membiarkan dua laut yang mengalir (berdampingan); yang ini
tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya
dinding dan batas yang menghalangi(QS.25:53).


Dari ayat di atas dapat dijelaskan bahwa dua lautan yang bertemu dan
dipisahkan oleh dinding batas. Akibat adanya batas ini, menjadikan laut yang satu
mempunyai karakter yang berbeda, yaitu dalam suhu, kadar keasinan (salinitas),
berat jenis, dan tekanan dengan laut yang berdampingan dengannya. Oleh
karenanya, makhluk hidup seperti alga mempunyai karakter yang berbeda pula
antara jenis satu dengan lainnya ataupun dari tempat satu dengan lainnya.
Alga merah merupakan salah satu hasil perikanan yang penting di
Indonesia. Alga merah mempunyai nilai ekonomi tinggi dibandingkan jenis alga
merah yang lain karena mengandung karaginan dan agar. Jenis-jenis alga merah
antara lain Gracilaria gigas, Gracilaria salicornia, Gracillaria verrucosa,
Amphiroa rigida, Hypnea asperi, Eucheuma denticulatum, Eucheuma edule,
Kappaphycus alvarezii, Eucheuma spinosum, Laurencia elata, Gelidium
latifolium dan lain sebagainya.
Alga kelompok merah memiliki pigmen fikoeretrin (phycoerethrin) dan
fikosianin (phycocyanin) yang struktur dasarnya pirol dan berprotein. Fikoeretrin
adalah pigmen yang berwarna merah cerah dan memancarkan warna oranye,
sedangkan fikosianin berwarna biru dan memancarkan warna merah tua. Alga
merah mempunyai sifat adaptik kromatik, yaitu mempunyai penyesuaian antara

proporsi pigmen dengan berbagai kualitas pencahayaan sehingga pada kenyataan
di alam, alga merah menunjukkan variasi warna lain seperti pirang, violet, merah
tua, merah muda, cokelat, kuning dan hijau (Atmadja, 2007).
Fikosianin merupakan salah satu dari tiga pigmen (klorofil, fikosianin dan
karotenoid) yang mampu menangkap radiasi yang tersedia dari matahari paling
efisien. Fikosianin bermanfaat dalam proses fotosintesis karena merupakan
prekursor bagi klorofil dan hemoglobin dengan kandungan magnesium dan besi
(Suhartono, 2000 dalam Arlyza, 2005).
Perbedaan warna yang didasarkan atas perbedaan kandungan pigmen
tersebut telah dijelaskan dalam surat Az-Zumar/39 ayat 21 tentang tanaman yang
memiliki bermacam-macam warna:
9 . < !.9 ! 3=. _, _{ . _ ,
l. !=. 9 . _ 1. `.` . `&#-> !L`> | 9
.%! <`{ ,9{

Apakah kamu tidak memperhatikan, bahwa Sesungguhnya Allah menurunkan air
dari langit, Maka diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi kemudian
ditumbuhkan-Nya dengan air itu tanam-tanaman yang bermacam-macam
warnanya, lalu menjadi kering lalu kamu melihatnya kekuning-kuningan,
kemudian dijadikan-Nya hancur berderai-derai. Sesungguhnya pada yang
demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai
akal. (QS.39:21).

Perkembangbiakan dari alga merah, umumnya secara vegetatif (tidak
melalui proses perkawinan) yaitu dengan fragmentasi, sporik dan gametik.
Kelompok tumbuhan ini mempunyai peranan yang sangat besar di lingkungan

laut, karena hanya merekalah yang dapat menghasilkan oksigen yang sangat
dibutuhkan oleh semua penghuni laut (Hidayat, 2006).
Adapun kandungan unsur-unsur mikro dalam alga merah terdapat dalam
tabel di bawah ini :
Tabel 2.1 Kandungan unsur-unsur mikro dalam alga merah
Komponen Jumlah (%)
Air 27,8
Karbohidrat 33,3
Protein 5,4
Lemak 8,60
Abu 22,25
Cl 1,5-3,5
K 1,0-2,2
Na 1,0-7,9
Mg 0,3-1,0
S 0,5-1,8
Si 0,2-0,3
P 0,2-0,3
Ca 0,4-1,5
Fe 0,1-0,15
I 0,1-0,15
Br 0,005
Sumber : Winarno, 1990

2.2.1 Alga Merah Eucheuma spinosum
Genus ini mempunyai thallus berwarna kuning kecoklat-coklatan sampai
merah keungu-unguan, berbentuk agak pipih dan bercabang-cabang tidak
beraturan. Percabangan yang terjadi pada genus ini adalah dua (dichotome) atau
tiga (trichotome) buah (Hidayat, 2006). Ciri khusus secara morfologis, jenis ini
memiliki duri-duri yang tumbuh berderet melingkari thallus dengan interval yang
bervariasi sehingga terbentuk ruas-ruas thallus di antara lingkaran duri.

Percabangan berlawanan atau berselang-seling dan timbul teratur pada deretan
duri antar ruas dan merupakan perpanjangan dari duri tersebut. Ujung
percabangan mudah melekat pada substrat (Anggadiredja, dkk, 2006).


Gambar 2.1 Alga Eucheuma spinosum (Anggadiredja, dkk, 2006)

Eucheuma spinosum mempunyai taksonomi sebagai berikut
(Anggadiredja, dkk, 2006) :
Divisio : Rhodophyta
Kelas : Rhodophyceae
Bangsa : Gigartinales
Suku : Solierisceae
Marga : Eucheuma
Jenis : Eucheuma Spinosum

Eucheuma spinosum tumbuh melekat pada rataan terumbu karang, batu
karang, batuan, benda keras dan cangkang kerang (epilitic). Eucheuma spinosum
memerlukan sinar matahari untuk proses fotosintesis sehingga hanya hidup pada
lapisan fotik (permukaan atas laut) dan karena pertumbuhannya membutuhkan
salinitas 28-33 per mil (Anggadiredja, dkk, 2006). Adapun komposisi nilai nutrisi
alga merah Eucheuma spinosium terdapat dalam tabel di bawah ini :



Tabel 2.2 Komposisi nilai nutrisi alga merah Eucheuma spinosium
Komponen Jumlah
Kadar air (%) 12,90
Karbohidrat (%) 5,12
Protein (%) 0,13
Lemak (%) 13,38
Serat kasar (%) 1,39
Abu (%) 14,21
Mineral : Ca (ppm) 52,820
Fe (ppm) 0,0108
Cu (ppm) 0,768
Pb (ppm) -
Vitamin B
1
(Thiamin) (mg/100 g) 0,21
Vitamin B
2
(Riboflavin) (mg/100 g) 2,26
Vitamin C (mg/100 g) 43,00
Karaginan (%) 65,75
Sumber : Mubarak, 1982

2.2.2 Alga Merah Gracillaria verrucosa
Genus ini mempunyai thallus berbentuk silindris, permukaannya licin,
warna kuning-coklat atau kuning-hijau. Percabangan berlawanan atau berselang-
seling tidak beraturan, memusat kerah pangkal. Cabang lateral memanjang
menyerupai rambut, ukuran panjang sekitar 25 cm dengan diameter thallus 0,5-1,5
mm (Anggadiredja, dkk, 2006).


Gambar 2.2 Alga Gracillaria verrucosa (Anggadiredja, dkk, 2006)

Gracillaria verrucosa mempunyai taksonomi sebagai berikut
(Anggadiredja, dkk, 2006) :
Divisio : Rhodophyta
Kelas : Rhodophyceae
Bangsa : Gigartinales
Suku : Gracilariaceae
Marga : Glacillaria
Jenis : Gracillaria verrucosa

Gracillaria verrucosa tumbuh melekat pada substrat karang di terumbu
karang berarus sedang (epizoic) dan dapat dibudidayakan di tambak. Alga merah
ini membutuhkan salinitas 15 per mil dan juga dapat terlindungi dari hempasan
gelombang air laut karena Gracillaria verrucosa mempunyai thalli yang mudah
patah dan mudah lepas atau dipatahkan gelombang (Anggadiredja, dkk, 2006).
Adapun komposisi nilai nutrisi alga merah Gracillaria verrucosa terdapat dalam
tabel di bawah ini :

Tabel 2.3 Komposisi nilai nutrisi alga merah Gracillaria verrucosa
Komponen Jumlah
Kadar air (%) 12,90
Karbohidrat (%) 4,94
Protein (%) 7,30
Lemak (%) 0,09
Serat kasar (%) 2,50
Abu (%) 12,54
Mineral : Ca (ppm) 29,925
Fe (ppm) 0,701
Cu (ppm) 3,581
Pb (ppm) 0,190
Vitamin B
1
(Thiamin) (mg/100 g) 0,019
Vitamin B
2
(Riboflavin) (mg/100 g) 4,00
Vitamin C (mg/100 g) 12,00
Karaginan (%) 47,34
Sumber : Istini, 1998

2.3 Karaginan
2.3.1 Struktur dan Sifat Karaginan
Karaginan merupakan hasil ekstraksi getah rumput laut dalam air atau
larutan alkali dari sepsies tertentu alga merah (Rhodophyceae), yang termasuk
senyawa golongan polisakarida galaktan sulfat. Karaginan merupakan penyusun
utama dinding sel tanaman alga merah. Struktur dasar karaginan adalah ester
sulfat kalium, natrium, kalsium, magnesium, atau amonium dari polimer
D-galatosa yang terikat secara -1,3 dan -1,4. Struktur dasar seperti terlihat pada
gambar 2.3 (cPKelco ApS, 2004):

O
H
H
H
OR H
CH
2
OH
H
RO
O
O
H
H
H
OR H
OH
CH
2
OSO
3
-
H
O
O

R = H atau SO
3
-

Gambar 2.3. Struktur dasar karaginan (cPKelco ApS, 2004)



Berdasarkan strukturnya, karaginan dibagi menjadi lima jenis yaitu kappa
(), iota (), lamda (), mu (), dan nu (). Kelima jenis karaginan tersebut
mempunyai sifat kimia dan fisika yang berbeda. Faktor penyebabnya adalah
gugus sulfat yang jumlah dan letaknya bervariasi. Di samping itu, adanya gugus
sulfat yang terikat pada atom C-6 unit D-galaktosa ikatan 1,4 yang dapat
dikonversi secara enzimatis di dalam tanaman itu maupun secara kimia
membentuk 3,6-anhidro- D-galaktosa (cPKelco ApS, 2004).

Berikut diuraikan secara umum kelima jenis karaginan :
a. -Karaginan
-Karaginan merupakan kopolimer linier yang disusun oleh residu
D-galaktosa-4-sulfat dengan ikatan pada posisi 1,3 dan residu 3,6-anhidro-
D-galaktosa dengan ikatan pada posisi 1,4. Beberapa satuan yang berikatan pada
posisi 1,4 kadang-kadang sebagai 3,6-anhidro-D-galaktosa-2-sulfat, D-galaktosa-
2,6-disulfat atau D-galaktosa-6-sulfat. -Karaginan disusun oleh 38,1%
D-galaktosa, 28,1% 3,6-anhidro-D-galaktosa dan 25-28% sulfat sebagai OSO
3
Na.
Struktur -Karaginan ditunjukkan pada gambar 2.4 (cPKelco ApS, 2004):


O
OSO
3
-
H
H
HO
H
H
OH
H
O
OH
O
H
O
OH
O
H
H
H
CH
2

Gambar 2.4 Struktur -Karaginan (cPKelco ApS, 2004)

b. -Karaginan
Struktur -Karaginan hampir sama dengan struktur -Karaginan,
perbedaannya hanya pada kandungan sulfatnya. Pada -Karaginan terdapat gugus
sulfat pada posisi C-2 residu 3,6-anhidro-D-galaktosa. Adanya gugus sulfat
tambahan tersebut menyebabkan sifat gel dan -karaginan berbeda (Booth,
1975). Menurut Winarno (1990), -Karaginan ditandai dengan adanya ester
4-sulfat pada setiap residu D-galaktosa dan gugusan ester 2-sulfat pada setiap
gugusan 3,6-anhidro-D-galaktosa. Struktur -Karaginan terlihat pada gambar 2.5
(cPKelco ApS, 2004):


O
OSO
3
-
H
H
HO
H
H
OH
H
O
OH
O
H
O
OSO
3
-
O
H
H
H
CH
2

Gambar 2.5 Struktur -Karaginan (cPKelco ApS, 2004)

c. -Karaginan
-Karaginan disusun oleh residu D-galaktosa-2-sulfat dengan ikatan
pada posisi 1,3 dan residu D-galaktosa-2,6-disulfat dengan ikatan pada posisi
1,4. Beberapa satuan -Karaginan kadang-kadang tidak mengandung gugus sulfat
atau sebagai 3,6-anhidro-D-galaktosa. Jumlah ester sulfat dalam -Karaginan
sekitar 35%. Struktur dari -Karaginan terlihat pada gambar 2.6 (cPKelco ApS,
2004):


O
HO
H
H
HO
H
H
OSO
3
-
H
O
OH
O
O
OSO
3
-
OH
H
H
H
H
CH
2
OSO
3
-

Gambar 2.6 Struktur -Karaginan (cPKelco ApS, 2004)

d. dan -Karaginan
dan -Karaginan relatif jarang ditemukan dalam tanaman alga merah,
-Karaginan terdapat dalam jumlah relatif kecil dalam spesies Chondrus crispus,
sedangkan -Karaginan ditemukan dalam jumlah yang sangat kecil pada spesies
Eucheuma uncinatium. Dalam fraksinasi karaginan dengan larutan KCl 2,5%

dan -Karaginan terdapat bersama-sama -Karaginan sebagai fraksi larut.
Struktur dari -Karaginan tampak pada gambar 2.7 dan struktur -Karaginan
tampak pada gambar 2.8 (cPKelco ApS, 2004):


O
OSO
3
-
H
H
HO
H
H
OH
H
O
OH
O
H
O
OH
O
H
H
H
CH
2
OSO
3
-

Gambar 2.7 Struktur dari -Karaginan (cPKelco ApS, 2004)



O
OSO
3
-
H
H
HO
H
H
OH
H
O
OH
O
H
O
OSO
3
-
O
H
H
H
CH
2
OSO
3
-

Gambar 2.8 Struktur dari -Karaginan (cPKelco ApS, 2004)


Adapun unit-unit monomer karaginan terdapat dalam tabel di bawah ini :

Tabel 2.4 Unit-unit monomer karaginan
Fraksi
Karaginan
Monomer
Kappa D-galaktosa 4-sulfat
3,6-anhidro-D-galaktosa
Iota D-galaktosa 4-sulfat
3,6-anhidro-D-galaktosa 2-sulfat
Lambda D-galaktosa 2-sulfat
D-galaktosa 2,6-sulfat
Sumber : Towle, 1973


Sifat dasar karaginan terdiri dari tiga tipe yaitu kappa, iota dan lambda.
Sifat-sifat karaginan meliputi kelarutan, viskositas, pembentukan gel dan stabilitas
pH.
- Kelarutan
Kelarutan karaginan dalam air dipengaruhi oleh beberapa faktor
diantaranya tipe karaginan, temperatur, pH, dan zat-zat terlarut lainnya. Gugus
hidroksil dan sulfat pada karaginan bersifat hidrofilik sedangkan gugus 3,6-
anhidro-D-galaktosa lebih hidrofobik. Lambda karaginan mudah larut pada semua
kondisi karena tanpa unit 3,6-anhidro-D-galaktosa dan mengandung gugus sulfat
yang tinggi. Karaginan jenis iota bersifat lebih hidrofilik karena adanya gugus
2-sulfat dapat menetralkan 3,6-anhidro-D-galaktosa yang kurang hidrofilik.
Karaginan jenis kappa kurang hidrofilik karena lebih banyak memiliki gugus 3,6-
anhidro-D-galaktosa (Towle, 1973). Daya kelarutan karaginan pada berbagai
media dapat dilihat pada Tabel 2.5 :

Tabel 2.5 Daya kelarutan karaginan pada berbagai media pelarut
Sifat-sifat Kappa Iota Lambda
Air panas Larut suhu >
60C
Larut suhu
> 60C
Larut
Air dingin Larut Na Larut Na Larut garam
Susu panas Larut Larut Larut
Susu dingin Kental Kental Lebih kental
Larutan gula Larut (panas) Susah larut Larut (panas)
Larutan garam Tidak larut Tidak larut Larut (panas)
Larutan organik Tidak larut Tidak larut Tidak larut
Sumber: cPKelco ApS (2004)



- Stabilitas pH
Karaginan dalam larutan memiliki stabilitas maksimum pada pH 8,5 dan
akan terhidrolisis pada pH dibawah 3,5. Hidrolisis dipercepat oleh panas pada pH
rendah. Penurunan pH menyebabkan terjadinya hidrolisis dari ikatan glikosidik
yang mengakibatkan kehilangan viskositas. Stabilitas karaginan dalam berbagai
media pelarut dapat dilihat pada Tabel 2.6 :

Tabel 2.6 Stabilitas karaginan dalam berbagai media pelarut
Stabilitas Kappa Iota Lambda
pH netral
dan alkali
Stabil Stabil Stabil
pH asam Terhidrolisis
jika
dipanaskan.
Stabil dalam
bentuk gel
Terhidrolisis
jika
dipanaskan.
Stabil dalam
bentuk gel
Terhidrolisis
Sumber: Glicksman (1983)

- Viskositas
Viskositas adalah daya aliran molekul dalam sistem larutan. Viskositas
suatu hidrokoloid dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu konsentrasi karaginan,
temperatur, jenis karaginan, berat molekul dan adanya molekul-molekul lain
(Towle, 1973). Viskositas larutan karaginan terutama disebabkan oleh sifat
karaginan sebagai polielektrolit. Gaya tolakan (repulsion) antar muatan-muatan
negatif gugus sulfat sepanjang rantai polimer, mengakibatkan rantai molekul
menegang. Polimer tersebut bersifat hidrofilik karena dikelilingi oleh molekul-
molekul air yang terimobilisasi (tak bergerak), sehingga menyebabkan larutan
karaginan bersifat kental (Guiseley et al, 1980).

- Pembentukan Gel
Kappa-karaginan dan iota-karaginan merupakan fraksi yang mampu
membentuk gel dalam air dan bersifat reversible yaitu meleleh jika dipanaskan
dan membentuk gel kembali jika didinginkan. Kemampuan pembentukan gel pada
Kappa-karaginan dan iota-karaginan terjadi pada saat larutan panas yang
dibiarkan menjadi dingin karena mengandung gugus 3,6-anhidrogalaktosa. Pada
pH rendah akan menurunkan kemampuan pembentukan gel dan viskositas larutan
karaginan. Hal ini dikarenakan ion H+ membantu proses hidrolisis ikatan
glikosidik pada molekul karaginan. Karaginan dapat membentuk gel yang
bervariasi antara lain bentuk gel yang keras, rapuh, lunak dan elastis. Variasi
bentuk gel tersebut bergantung pada jenis karaginan, jenis ion yang dapat
berasosiasi, adanya solut senyawa lain dan adanya senyawa hidrokoloid lain yang
tidak dapat membentuk gel (Towle, 1973).

2.3.2 Manfaat Karaginan
Allah menciptakan semua yang ada di dunia ini tidaklah sia-sia dari yang
kecil hingga yang besar. Makhluk hidup (hewan, tumbuhan dan lain-lain)
semuanya dapat dimanfaatkan oleh manusia jika manusia itu berfikir. Seperti
dalam firman Allah dalam surat Yasiin/36 ayat 73:
; ! _ ,!: `3:

Dan mereka memperoleh padanya manfaat-manfaat dan minuman. Maka
Mengapakah mereka tidak bersyukur?(QS.36:73).


Makna dari firman Allah SWT ; ! _ adalah bahwa Allah
menciptakan semua yang ada di dunia ini bermanfaat. Seperti halnya senyawa
karaginan yang terkandung dalam alga banyak memberikan manfaat jika
dikonsumsi oleh manusia.
Karaginan merupakan suatu jenis galaktan yang umum digunakan pada
industri makanan, industri minuman, industri kosmetik, tekstil, obat-obatan, dan
cat (Aslan, 1998). Pada bidang farmasi, karaginan banyak digunakan sebagai
stabilisator, emulsi, suspensi, pembentuk gel dan pengikat tablet. Penggunaan
karaginan yang paling luas adalah dalam bidang industri makanan dan minuman,
misalnya dalam industri es krim, susu, bir dan makanan kaleng. Pada industri
kosmetik, karaginan digunakan sebagai sediaan krem, master, pasta gigi dan
lotion. Pada bidang teknologi digunakan sebagai sediaan kultur bakteri dan
sebagai imobilisasi enzim. Di bidang industri kue dan roti, kombinasi garam
natrium dengan -Karaginan dapat meningkatkan mutu adonan. Pada jumlah kecil
karaginan juga dapat digunakan pada produk makanan lain, misalnya makaroni,
jelly, dan sari buah (Winarno, 1990).
Karaginan juga berpotensi sebagai antioksidan yang dapat mencegah
penyakit-penyakit yang dihubungkan dengan radikal bebas seperti karsinogenesis,
kardiovaskuler dan penuaan. Kita semua telah mengetahui bahwa kesehatan
merupakan salah satu nikmat besar yang Allah berikan kepada manusia. Dalam
sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda Setiap penyakit ada obatnya. apabila
obat telah mengenai penyakit, maka akan mendatangkan kesembuhan dengan izin

Allah,. (HR Muslim). Di kesempatan lain Rasulullah bersabda dalam hadits yang
diriwayatkan oleh Abu Daud dan At Tirmidzi ..Allah menciptakan obat bagi
setiap penyakit yang Dia ciptakan...kecuali penyakit Tua. Oleh karena itu,
karaginan dapat bermanfaat bagi kesehatan.
Pada penelitian Cristiane, dkk (2006) alga merah jenis Gigartina
acicularis yang menghasilkan ekstrak lamda karaginan berpotensi sebagai
antioksidan. Alga merah jenis Eucheuma cottoni menghasilkan ekstrak kappa
karaginan juga berpotensi sebagai antioksidan. Alga merah jenis Eucheuma
spinosium menghasilkan ekstrak iota karaginan juga sebagai antioksidan.

2.3.3 Isolasi, Fraksinasi dan Pemurnian Karaginan
Prosedur isolasi karaginan dari berbagai alga telah banyak dikembangkan.
Umumnya prosedur ini terdiri dari tiga tahapan kerja yaitu : ekstraksi,
penyaringan dan pengendapan. Pada tahapan ekstraksi, kecepatan dan daya larut
karaginan dalam air dipengaruhi oleh temperatur dan waktu proses bergabungnya
seluruh fraksi karaginan dari alga dengan fraksi air yang digunakan sebagai media
pelarut. Di samping itu, stabilitas karaginan sangat ditentukan oleh pH larutan
(Sarjana, 1998).
Maserasi merupakan proses perendaman sampel dengan pelarut organik
yang digunakan pada temperatur ruangan. Proses ini sangat menguntungkan
dalam isolasi senyawa bahan alam. Pada proses perendaman, dinding serta
membran sel sampel tumbuhan akan terpecah akibat perbedaan tekanan antara di
dalam dan di luar sel. Hal tersebut mengakibatkan metabolit sekunder yang ada

dalam sitoplasma akan terlarut dalam pelarut organik. Lama perendaman yang
diatur akan menghasilkan ekstraksi yang sempurna. Pemilihan pelarut untuk
proses maserasi akan memberikan efektifitas yang tinggi dengan memperhatikan
kelarutan senyawa bahan alam pelarut tersebut (Indrayani, 2006).
Karaginan dapat dipisahkan menjadi fraksi larut dan fraksi tidak larut.
Fraksi yang tidak larut terdiri dari dan -karaginan yang dapat dibedakan
berdasarkan sifat fisik dan kimianya. Fraksi larut terdiri dari -karaginan dan
kadang-kadang dalam spesies tertentu juga dan -karaginan dalam jumlah yang
kecil (Booth, 1975).
Pemurnian bertujuan untuk menghasilkan karaginan yang putih. Derajat
putih merupakan gambaran secara umum dari warna suatu bahan pada
umumnya. Derajat putih karaginan diharapkan mendekati 100 % karena
karaginan yang bermutu tinggi biasanya tidak berwarna, sehingga
aplikasinya lebih luas. Tingginya nilai derajat putih pada tepung karaginan
komersial disebabkan karena bahan baku yang digunakan, penyaringan dan
pengendapan. Hal lain yang mempengaruhi nilai derajat putih yaitu
konsentrasi bahan pengekstrak karena selama proses berlangsung, suasana
basa dari bahan pengekstrak dapat mengoksidasi pigmen menjadi senyawa lain
yang tidak berwarna sehingga produk yang dihasilkan berwarna lebih putih.



2.3.4 Pemisahan Karaginan dengan Kromatografi Lapis Tipis Preparatif
(KLTP)
Kromatografi adalah suatu nama yang diberikan untuk teknik pemisahan
tertentu. Pada dasarnya semua cara kromatografi menggunakan dua fase yaitu fase
diam dan fase gerak. Pemisahan-pemisahan ini bergantung pada gerakan relatif
dari dua fase ini. Prinsip dari pemisahan adalah adanya perbedaan sifat fisik dan
kimiawi dari senyawa yaitu kecenderungan dari molekul untuk melarut dalam
cairan (kelarutan), kecenderungan molekul untuk melekat pada permukaan serbuk
halus (adsorpsi, penyerapan) (Sastrohamidjojo, 2005).
Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dapat digunakan untuk tujuan analitik
dan preparatif. KLT analitik digunakan untuk menganalisa senyawa-senyawa
organik dalam jumlah kecil misalnya, menentukan jumlah komponen dalam
campuran dan menentukan pelarut yang tepat untuk pemisahan dengan KLT
preparatif. Sedangkan KLT preparatif digunakan untuk memisahkan campuran
senyawa dari sampel dalam jumlah besar berdasarkan fraksinya, yang selanjutnya
fraksi-fraksi tersebut dikumpulkan dan digunakan untuk analisa berikutnya
(Sastrohamidjojo, 2005).
Untuk identifikasi dari senyawa-senyawa yang terpisah dari lapisan tipis
menggunakan harga Rf. Harga Rf untuk senyawa-senyawa murni dapat
dibandingkan dengan harga Rf standart. Harga Rf didefinisikan sebagai berikut
(Sastrohamidjojo, 2005):
Harga Rf =
asal titik dari pelarut oleh digerakkan yang Jarak
asal titik dari senyawa oleh digerakkan yang Jarak
.......................(2.1)

Adsorben yang digunakan pada KLT adalah silika gel. Silika gel secara
umum dibuat dengan menambahkan asam ke dalam larutan natrium silikat.
Natrium silikat tersebut diencerkan ke dalam air, sehingga dihasilkan asam
monosilikat (Hennisch, 1988 dalam Alviera, 2006) :
Na
2
SiO
3

(aq)
+ 3H
2
O H
4
SiO
4

(aq)
+ 2NaOH
(aq)
Asam monosilikat selanjutnya membentuk polimer sehingga diperoleh sistem tiga
dimensi dengan rantai Si-O-Si. Air sebagai produk samping akan menguap
menyebabkan gel menyusut kemudian mengeras, seperti terlihat dalam reaksi
berikut :

OH OH OH OH
HO Si OH + HO Si OH HO Si O Si OH + H
2
O
OH OH OH OH
O O
HO Si O Si OH
O O
HO Si O Si OH
OH OH
Gambar 2.9 Struktur silika gel (Hennisch, 1988 dalam Alviera, 2006)

2.4 Antioksidan
Antioksidan adalah senyawa yang (dalam jumlah kecil dibanding substrat)
mampu untuk menunda atau mencegah terjadinya reaksi oksidasi dari substrat

yang mudah teroksidasi melalui reaksi oksidasi radikal bebas dengan zat
antioksidan (Hafid, 2003). Menurut Best (2006), antioksidan adalah molekul
yang menetralkan radikal bebas dengan cara menerima atau memberikan elektron
untuk mengeliminasi kondisi tidak berpasangan. Ini berarti antioksidan menjadi
radikal pada proses netralisasi molekul radikal bebas. Tetapi radikal antioksidan
lebih tidak reaktif dari pada radikal bebas yang akan dinetralisasi. Radikal
antioksidan ini dapat dinetralkan oleh antioksidan lain dan atau dengan
mekanisme lain yang menghentikan radikal (Best, 2006).
Menurut Coppen (1983), antioksidan diharapkan memiliki ciri-ciri sebagai
berikut (a) aman dalam penggunaan, (b) tidak memberi flavor dan warna pada
produk, (c) efektif pada konsentrasi rendah, (d) tahan terhadap proses pengolahan
produk (berkemampuan antioksidan yang baik), (e) tersedia dengan harga yang
murah. Ciri keempat merupakan hal yang sangat penting karena sebagian proses
pengolahan menggunakan suhu tinggi. Suhu tinggi akan merusak lipida dan
stabilitas antioksidan yang ditambahkan sebagai bahan tambahan pangan.
Kemampuan bertahan antioksidan terhadap proses pengolahan sangat diperlukan
untuk dapat melindungi produk akhir (Coppen, 1983).
Sebagaimana suatu benda pada umumnya, antioksidan juga memiliki
keterbatasan-keterbatasan. Keterbatasan tersebut meliputi (a) antioksidan tidak
dapat memperbaiki flavor lipida yang berkualitas rendah, (b) antioksidan tidak
dapat memperbaiki lipida yang sudah tengik, (c) antioksidan tidak dapat
mencegah kerusakan hidrolisis, maupun kerusakan mikroba (Coppen, 1983).

Sifat-sifat kimia pada antioksidan antara lain sinergisme dapat diartikan
sebagai peranan gabungan antara dua atau lebih agensia sedemikian rupa
sehingga masing-masing agensia bila tanpa dilakukan penggabungan. Kombinasi
beberapa jenis antioksidan memberikan perlindungan yang lebih baik
(sinergisme) terhadap oksidasi dibanding dengan satu jenis antioksidan saja.
Sebagai contoh asam askorbat seringkali dicampur dengan antioksidan yang
merupakan senyawa fenolik untuk mencegah reaksi oksidasi lemak (Cahyadi,
2006).
Fungsi Antioksidan digunakan untuk melindungi komponen-komponen
makanan yang bersifat tidak jenuh (mempunyai ikatan rangkap), terutama lemak
dan minyak. Meskipun demikian antioksidan dapat pula digunakan untuk
melindungi komponen-komponen lain seperti vitamin dan pigmen, yang juga
banyak mengandung ikatan rangkap di dalam strukturnya. Antioksidan efektif
dalam mengurangi ketengikan oksidatif dan polimerisasi tetapi tidak
mempengaruhi hidrolisis. Penggunaan antioksidan secara berlebihan
menyebabkan lemah otot, mual-mual, pusing, dan kehilangan kesadaran,
sedangkan penggunaan dosis rendah secara terus-menerus menyebabkan tumor,
kandung kemih, kanker sekitar lambung dan kanker paru-paru (Cahyadi, 2006).

2.4.1 Mekanisme Antioksidan
Menurut Kochar dan Rossel (1990) antioksidan dapat bekerja dengan dua
cara :

1) Berperan sebagai donor atom hidrogen pada radikal bebas lemak untuk
membentuk kembali molekul lemak. Dengan demikian jika antioksidan
diberikan maka akan menghambat proses autooksidasi.
2) Berperan sebagai donor atom hidrogen pada radikal bebas untuk
membentuk hidroperoksida dan sebuah radikal bebas antioksidan. Radikal
bebas antioksidan ini lebih stabil daripada radikal bebas lemak karena
struktur resonansi elektron dalam cincin aromatik antioksidan. Dengan
demikian akan menghentikan reaksi oksidasi berantai.
Mekanisme kerja antioksidan memiliki dua fungsi. Fungsi pertama
merupakan fungsi utama dari antioksidan yaitu sebagai pemberi atom hidrogen.
Antioksidan (AH) yang mempunyai fungsi utama tersebut sering disebut sebagai
antioksidan primer. Senyawa ini dapat memberikan atom hidrogen secara cepat ke
radikal lipida (R*, ROO*) atau mengubahnya ke bentuk lebih stabil, sementara
turunan radikal antioksidan (A*) tersebut memiliki keadaan lebih stabil dibanding
radikal lipida (Gordon, 1990). Menurut Gordon (1990), fungsi kedua merupakan
fungsi sekunder antioksidan, yaitu memperlambat laju autooksidasi dengan
berbagai mekanisme diluar mekanisme pemutusan rantai autooksidasi dengan
pengubahan radikal lipida ke bentuk lebih stabil.
Penambahan antioksidan (AH) primer dengan konsentrasi rendah pada
lipida dapat menghambat atau mencegah reaksi autooksidasi lemak dan minyak.
Penambahan tersebut dapat menghalangi reaksi oksidasi pada tahap inisiasi
maupun propagasi (Gambar 3.0). Radikal-radikal antioksidan (A*) yang
terbentuk pada reaksi tersebut relatif stabil dan tidak mempunyai cukup energi

untuk dapat bereaksi dengan molekul lipida lain membentuk radikal lipida baru
(Gordon, 1990).


Inisiasi : R* + AH -> RH + A*
Radikal lipida
Propagasi : ROO* + AH -> ROOH + A*

Gambar 3.0 Reaksi Penghambatan antioksidan primer terhadap radikal lipida
(Gordon, 1990)



Autooksidasi dapat dihambat dengan menambahkan antioksidan (AH)
dalam konsentrasi rendah yang dapat berasal dari penginterferensian rantai
propagasi atau inisiasi. Radikal-radikal antioksidan dapat saling bereaksi
membentuk produk non radikal (Hamilton, 1983).


ROO

+ AH ROOH + A


A

+ ROO


A

+ A


Gambar 3.1 Reaksi penghambatan antioksidan antar radikal antioksidan
(Hamilton, 1983)



Konsentrasi antioksidan yang ditambahkan dapat berpengaruh pada laju
oksidasi. Pada konsentrasi tinggi, aktivitas antioksidan grup fenolik sering lenyap
bahkan antioksidan tersebut menjadi prooksidan (Gambar 3.2). Pengaruh jumlah
konsentrasi pada laju oksidasi tergantung pada struktur antioksidan, kondisi dan
sampel yang akan diuji (Gordon, 1990).

Produk non radikal

AH + O2 > A* + HOO*
AH + ROOH > RO* + H2O + A*
Gambar 3.2 Antioksidan bertindak sebagai prooksidan pada konsentrasi tinggi
(Gordon, 1990)


Pada umumnya, antioksidan mengandung struktur inti yang sama yaitu
mengandung cincin benzena tidak jenuh disertai gugus hidroksil atau gugus
amino. Antioksidan digolongkan atas fenol, amin dan amino-fenol (Cahyadi,
2006).
Antioksidan dapat berperan sebagai inhibitor atau pemecah peroksida.
Pada umumnya antioksidan dapat menghentikan rantai reaksi oksidatif sebagai
berikut: (1) dengan donasi elektron pada radikal peroksi, (2) dengan donasi atom
hidrogen pada radikal peroksi, (3) dengan adisi pada radikal peroksi sebelum atau
sesudah terjadi oksidasi parsial, (4) dengan metode lain yang belum diketahui dan
memungkinkan dan berkaitan dengan radikal hidrokarbon bukannya radikal
peroksi (Cahyadi, 2006).

2.4.2 Antioksidan Alami
Berdasarkan sumbernya, antioksidan dibagi dalam dua kelompok, yaitu
antioksidan sintetik dan antioksidan alami. Antioksidan alami merupakan
antioksidan yang diperoleh dari hasil ekstrak bahan alami. Antioksidan alami
dalam makanan dapat berasal dari (a) senyawa antioksidan yang sudah ada dari
satu atau dua komponen makanan, (b) senyawa antioksidan yang terbentuk dari
reaksi-reaksi selama proses pengolahan, (c) senyawa antioksidan yang diisolasi

dari sumber alami dan ditambahkan ke makanan sebagai bahan tambahan pangan
(Pratt, 1992).
Menurut Pratt dan Hudson (1990), kebanyakan senyawa antioksidan yang
diisolasi dari sumber alami adalah berasal dari tumbuhan. Tumbuhan Angiosperm
memiliki kira-kira 250.000 sampai 300.000 spesies dan dari jumlah ini kurang
lebih 400 spesies yang telah dikenal dapat menjadi bahan pangan manusia.
Senyawa antioksidan alami tumbuhan umumnya adalah senyawa fenolik
atau polifenolik. Senyawa antioksidan alami polifenolik adalah multifungsional
dan dapat bereaksi sebagai (a) pereduksi (b) penangkap radikal bebas(c) pengkelat
logam (d) peredam terbentuknya singlet oksigen. Senyawa fenolik mencakup
sejumlah senyawa yang umumnya mempunyai sebuah cincin aromatik dengan
satu atau lebih gugus hidroksil (OHO), karboksil (COOH), metolenil (-O-CH
3
)
dan sering juga struktur cincin bukan aromatik. Senyawa fenol cenderung larut
dalam air, karena paling sering terdapat dalam bentuk senyawa glukosida dan
biasanya terdapat dalam rongga sel. Adanya ion logam, terutama besi dan
tembaga, dapat mendorong terjadinya oksidasi lemak. Ion-ion logam ini
seringkali diinaktivasi dengan penambahan senyawa pengkelat dapat juga disebut
bersifat sinergistik dengan antioksidan karena menaikkan efektivitas antioksidan
utamanya (Pratt dan Hudson, 1990).

Vitamin C (Asam Askorbat)
Vitamin C sebagai antioksidan berfungsi untuk mengikat oksigen sehingga
tidak mendukung reaksi oksidasi. Namun vitamin C bersifat tidak stabil, bila
terkena cahaya dan pada suhu tinggi mudah mengalami kerusakan. Vitamin C

selain sebagai senyawa antioksidan tetapi juga bersifat prooksidan (Cahyadi,
2006).
Vitamin C adalah kristal padat, berwarna putih, tidak berbau, mencair pada
suhu 190-192C. Asam askorbat berbentuk kristal stabil di udara sampai bertahun-
tahun, tetapi dalam bentuk larutan mudah teroksidasi dan ketidakstabilannya
meningkat dengan kenaikan pH larutan. Asam askorbat mudah larut dalam air (1 g
dalam 3 ml air), etil alkohol (1 g dalam 50 ml etil alkohol) dan gliserol (1 g dalam
1000 ml gliserol), tidak larut dalam benzene, eter, petroleum eter dan senyawa
organik lainnya. Larutan asam askorbat pada pH kurang dari 4,5 mempunyai
absorpsi maksimum pada panjang gelombang 265 nm dan sedikit pada panjang
gelombang 350 nm dan 400 nm (Cahyadi, 2006).
Adapun struktur kimia asam askorbat (Cahyadi, 2006):



OH
OH
HO
O
O
HO

Gambar 3.3 Struktur kimia asam askorbat (Cahyadi, 2006).

Vitamin C sebagai sumber antioksidan memiliki manfaat bagi tubuh antara
lain membantu menjaga pembuluh-pembuluh kapiler, meningkatkan penyerapan
asupan zat besi, menghambat produksi nitrosamin, zat pemicu kanker dan
memperbaiki sistem kekebalan tubuh. Senyawa yang digunakan sebagai
pembanding (kontrol positif) dalam uji aktivitas penangkapan radikal hidroksil
dalam penelitian ini adalah vitamin C (Cahyadi, 2006).

2.4.3 Antioksidan Sintetik
Antioksidan sintetik merupakan antioksidan yang diperoleh dari hasil
sintesis reaksi kimia. Diantara beberapa contoh antioksidan sintetik yang diijinkan
untuk makanan, ada empat antioksidan yang penggunaannya meluas dan
menyebar di seluruh dunia, yaitu Butil Hidroksi Anisol (BHA), Butil Hidroksi
Toluen (BHT), propil galat, Tert-Butil Hidoksi Quinon (TBHQ) dan tokoferol.
Antioksidan tersebut merupakan antioksidan alami yang telah diproduksi secara
sintesis untuk tujuan komersial (Trilaksani, 2003).

BHT (Butil Hidroksi Toluen)
BHT sebagai salah satu antioksidan sintetik. Adapun sifat-sifat antioksidan
BHT : mempunyai rumus kimia C
15
H
24
O, berat molekul 220,36, titik lebur 69-
70C, sinergis dengan BHA dan galat. (Hamilton dan Allen, 1994).
Adapun struktur dari BHT (Cahyadi, 2006) :


CH
3
C(CH
3
)
3
(H
3
C)
3
C
OH

Gambar 3.4 Struktur BHT (Butyl Hydroxy Toluen) (Cahyadi, 2006).


Menurut Bennion (1980), senyawa fenolat berfungsi sebagai sumber
hidrogen dari group-group OH dalam posisi orto/para yang dapat menghentikan

reaksi berantai yang terjadi dalam autooksidasi. Reaksi berantai dari autooksidasi
dimulai saat mulai terbentuk radikal bebas. Antioksidan dari tipe fenolik
mensuplai H untuk bereaksi dengan radikal bebas sewaktu terbentuk pertama kali
dan memutuskan reaksi berantai yang terjadi sebelum produk akhir terbentuk.
Senyawa yang terbentuk pada struktur anti fenolik setelah pelepasan dari H adalah
stabil, tidak berbau dan tak berbahaya dalam jumlah yang tidak terlalu banyak.

2.5 Pengujian Aktivitas Antioksidan dengan metode DPPH
Penangkap radikal bebas (radical scavenger) merupakan mekanisme
utama antioksidan bereaksi dalam makanan. Salah satu cara untuk menguji
aktivitas suatu senyawa sebagai zat antioksidan adalah dengan mereaksikannya
dengan reagen DPPH secara spektrofotometri. Penangkapan radikal DPPH
merupakan radikal sintesis dalam pelarut organik polar seperti metanol atau etanol
pada suhu kamar. Metode DPPH tidak spesifik untuk komponen antioksidan
tertentu, tetapi untuk semua senyawa antioksidan dalam sampel. Pengukuran
kapasitas total antioksidan akan membantu memahami sifat fungsional suatu
makanan (Prakash, 2001).
Metode DPPH (1,1-difenil-2-pikrilhidrasil) digunakan secara luas untuk
menguji kemampuan senyawa yang berperan sebagai pendonor elektron atau
hidrogen. Metode DPPH merupakan metode yang dapat mengukur aktivitas total
antioksidan baik dalam pelarut polar maupun nonpolar. Beberapa metode lain
terbatas mengukur komponen yang larut dalam pelarut yang digunakan dalam

analisa. Metode DPPH mengukur semua komponen antioksidan, baik yang larut
dalam lemak ataupun dalam air (Prakash, 2001).
Metode DPPH dipilih karena sederhana, mudah, cepat dan peka serta
hanya memerlukan sedikit sampel. DPPH (1,1-difenil-2-pikrilhidrasil) adalah
senyawa radikal bebas stabil kelompok nitrit oksid. Senyawa ini mempunyai ciri-
ciri padatannya berwarna ungu kehitaman, larut dalam pelarut DMF atau
etanol/metanol, titik didih 127-129C, panjang gelombang maksimal sebesar 517
nm, berat molekul 394,3 g/mol, rumus molekul C
18
H
12
N
5
O
6
(Prakash, 2001).
Radikal bebas DPPH yang memiliki elektron tidak berpasangan
memberikan warna ungu dan menghasilkan absorbansi maksimum pada panjang
gelombang 517 nm. Warna akan berubah menjadi kuning saat elektron tidak
berpasangan. Pengurangan intensitas warna yang terjadi berhubungan dengan
jumlah elektron DPPH yang menangkap atom hidrogen. Sehingga peningkatan
Pengurangan intensitas warna mengindikasikan peningkatan kemampuan
antioksidan untuk menangkap radikal bebas (Prakash, 2001). Dengan kata lain,
daya antioksidan diperoleh dengan menghitung jumlah pengurangan intensitas
warna ungu DPPH yang sebanding dengan pengurangan konsentrasi larutan
DPPH melalui pengukuran absorbansi larutan uji (Prakash, 2001).
DPPH yang bereaksi dengan antioksidan akan menghasilkan bentuk
tereduksi difenilpikrilhidrazin dan radikal antioksidan (Prakash, 2001). Reaksi
antara antioksidan dengan molekul DPPH (Prakash, 2001):



Gambar 3.5 Reaksi antara antioksidan dengan molekul DPPH (Prakash, 2001)

Aktivitas antioksidan dapat dinyatakan dengan satuan % aktivitas. Nilai ini
diperoleh dengan rumus (Molyneux, 2003):
% Aktivitas anti radikal =


kontrol absorbansi
x sampel kontrol absorbansi 100 ) (

.............(2.2)

Absorbansi kontrol yang digunakan dalam prosedur DPPH ini adalah
absorbansi DPPH, sedangkan blanko yang digunakan adalah etanol 95%.
Berdasarkan rumus tersebut, semakin besar tingkat diskolorisasi (absorbansi
semakin kecil) maka semakin tinggi nilai aktivitas penangkapan radikal bebas
(Molyneux, 2003).
Absorbansi kontrol yang digunakan dalam prosedur DPPH ini adalah
absorbansi DPPH sebelum ditambahkan sampel. Kontrol digunakan untuk
mengkonfirmasi kestabilan sistem pengukuran. Nilai Absorbansi kontrol dapat
berkurang dari hari ke hari dikarenakan kehilangan aktivitasnya saat dalam stok
larutan DPPH, tetapi nilai absorbansi kontrol tetap dapat memberikan baseline
untuk pengukuran saat itu. Apabila tidak ada perubahan-perubahan nyata pada
nilai ini (seperti contoh, ketika mengulang pengukuran pada saat itu)
mengindikasikan bahwa sistem pengukuran tersebut (termasuk spektrofotometer
+ + RH R

atau fotometer) adalah sangat stabil. Kontrol juga berfungsi menjaga kekonstanan
total konsentrasi DPPH dalam serangkaian pengukuran.

2.6 Identifikasi Spektofotometer UV-Vis
Spektrofotometri merupakan suatu metode pengukuran yang mempelajari
interaksi antara atom atau molekul dengan radiasi elektromagnetik, berdasarkan
fakta bahwa substansi kimia secara selektif menghamburkan (scatter), menyerap
(absorb) atau mengemisi (emit) energi elektromagnetik pada panjang gelombang
yang digunakan dalan range ultraviolet (200-400 nm), sinar tampak (400-700 nm),
atau cahaya yang mendekati inframerah (700-800 nm). Namun sebagian besar
instrumen dioperasikan dalam range panjang gelombang sinar tampak (Khopkar,
1990). Spektrofotometer terdiri atas spektrometer untuk menghasilkan cahaya
dengan panjang gelombang terseleksi serta suatu fotometer yaitu piranti untuk
mengukur intensitas berkas cahaya monokromatik.
Warna merupakan pancaran cahaya yang mempunyai panjang gelombang
dan energi tertentu yang diteruskan ke retina mata, sehingga manusia/hewan dapat
mengidentifikasi warna dengan panjang gelombang masing-masing. Cahaya yang
diteruskan ke penglihatan mengakibatkan manusia dapat membedakan warna
yang terdapat dalam alam ini. Dalam firman Allah surat Faathir/35 ayat 27 :
`9 . < !.9 ! !>>! , ,. !=. !9 !,>9 `>
"_, "`> #=. !9 ,s

Tidakkah kamu melihat bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit lalu
Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka macam jenisnya.

dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka
macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat.(QS. 35:27).

Allah SWT menjelaskan dalam Al-Quran bahwa Allah SWT menciptakan
berbagai warna di alam semesta ini untuk membedakan satu sama lain. Sinar atau
cahaya merupakan penyebab timbulnya warna dari benda tertentu yang dapat
memantulkan cahaya dan diteruskan ke penglihatan. Allah SWT menjadikan
proses penglihatan berkaitan secara langsung dengan jatuhnya cahaya ke benda
itu, kemudian ditangkap oleh mata. Kata-kata garis putih dan merah (bidh wa
humur) yang beraneka macam warnanya merupakan fenomena alam yang sudah
terlebih dahulu diungkapkan dalam al-Quran, kemudian disempurnakan dengan
penemuan Isaac Newton pada tahun 1665 tentang spektrum cahaya tampak. Teori
spektrum cahaya semakin mantap dengan dibuktikannya ciri panjang gelombang
untuk masing-masing spektrum.
Bila cahaya jatuh pada suatu senyawa, maka sebagian dari cahaya tersebut
akan diserap oleh molekul-molekul sesuai dengan struktur dari molekul itu
sendiri. Setiap senyawa mempunyai tingkatan tenaga yang spesifik. Bila cahaya
mempunyai tenaga yang sama dengan perbedaan tenaga antara tingkatan dasar
dan tenaga tingkatan tereksitasi pada senyawa, maka elektron-elektron pada
tingkatan dasar dieksitasikan ke tingkatan tereksitasi, dan sebagian tenaga cahaya
yang sesuai dengan panjang gelombang ini diserap. Elektron yang tereksitasikan
melepaskan tenaga dengan proses radiasi panas dan kembali ke tingkatan dasar
asal (Sastrohamidjojo, 2001).
Prinsip penentuan spektrofotometer UV-Vis adalah aplikasi dari Hukum
Lambert-Beer, yaitu (Day and Underwood, 1999) :

A = - log T = - log It / Io = . b . C ...........................................(2.3)
Dimana : A = Absorbansi dari sampel yang akan diukur
T = Transmitansi
Io = Intensitas sinar masuk
It = Intensitas sinar yang diteruskan
= Koefisien ekstingsi
b = Tebal kuvet yang digunakan
C = Konsentrasi dari sampel

Ada tiga macam distribusi elektron di dalam suatu senyawa organik secara
umum, yang selanjutnya dikenal sebagai orbital elektron pi (), sigma () dan
elektron non bonding (n). apabila pada molekul tersebut dikenakan radiasi
elektromagnetik maka akan terjadi eksitasi elektron ke tingkat yang lebih tinggi
yang dikenal sebagai orbital elektron anti bonding (Hayati, 2007).
Kebanyakan penerapan spektrofotometri ultraviolet dan cahaya tampak
(UV-Vis) pada senyawa organik didasarkan pada transisi n-* ataupun -* dan
karenanya memerlukan kehadiran gugus kromofor dalam molekul itu. Transisi ini
terjadi dalam daerah spektrum (sekitar 200 hingga 700 nm) yang praktis untuk
digunakan dalam eksperimen (Day and Underwood, 1999).
















BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilaksakan di Laboratorium Kimia Universitas Islam
Negeri Malang, Laboratorium Biologi dan Teknologi (BIOTEK) Universitas
Muhammadiyah Malang dan Laboratorium Teknologi Hasil Pangan (THP)
Universitas Brawijaya pada bulan Oktober 2008-Januari 2009.

3.2 Bahan-Bahan Penelitian
3.2.1 Bahan Sampel
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah alga merah jenis
Eucheuma spinosum di dapat dari laut mayangan Probolinggo dan Gracillaria
verrucosa yang dikembangbiakkan di tambak daerah Kraksaan Probolinggo
karena tingkat toleransi hidup yang tinggi sampai pada salinitas 15 per mil yang
berumur 49 hari (7 minggu).

3.2.2 Bahan Kimia
Bahan kimia yang digunakan dalam penelitian ini adalah etanol 95%,
aquades, reagen DPPH (1,1-difenil-2-pikrilhidrasil), vitamin C, BHT, natrium
hidroksida 2%, KCl 2,5%, metanol 90%, asam sulfat 10% dan NaCl 10%.


3.2.3 Alat-Alat Penelitian
Alat-alat yang digunakan meliputi seperangkat alat gelas, blender, kertas
saring Whatman No. 40, kertas pH, timbangan analitik, spektrofotometer UV-Vis
Shimadzu 1700 pharmaspek, penangas air merk SABINCO L32, sentrifuge,
desikator, desikator vakum, inkubator, rotary evaporator, magnetic stirrer, plat
silica gel GF
254
dan penyaring vakum buchner.

3.3 Tahapan Penelitian
Adapun tahap penelitian yang dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Preparasi sampel
2. Penentuan kadar air
3. Ekstraksi karaginan dengan metode maserasi
4. Uji aktivitas antioksidan ekstrak kasar karaginan dengan metode DPPH
(1,1-difenil-2-pikrilhidrasil) dengan pembanding vitamin C dan BHT
5. Fraksinasi karaginan dengan larutan KCl 2,5%
6. Pemurnian karaginan dengan larutan H
2
O
2
30%
7. Pemisahan karaginan dengan Kromatografi Lapis Tipis (KLT)
a. Kromatografi Lapis Tipis Analitik (KLTA)
b. Kromatografi Lapis Tipis Preparatif (KLTP)
8. Uji aktivitas antioksidan fraksi aktif karaginan dengan metode DPPH (1,1-
difenil-2-pikrilhidrasil) dengan pembanding vitamin C dan BHT
9. Analisis Data


3.4 Rancangan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan dari
karaginan dalam alga merah jenis Eucheuma spinosum dan Gracillaria verrucosa
dengan pembanding BHT serta vitamin C. Pada pengujian aktivitas antioksidan
menggunakan variasi konsentrasi (C) yaitu :
C
1
= 1 ppm, C
10
= 250 ppm
C
2
= 5 ppm, C
11
= 300 ppm
C
3
= 10 ppm, C
12
= 350 ppm
C
4
= 25 ppm, C
13
= 500 ppm
C
5
= 50 ppm, C
14
= 750 ppm
C
6
= 75 ppm, C
15
= 1000 ppm
C
7
= 100 ppm, C
16
= 1100 ppm
C
8
= 150 ppm, C
17
= 1200 ppm
C
9
= 200 ppm
Beberapa konsentrasi tersebut akan diulang sebanyak 3 ulangan. Berdasarkan
variasi konsentrasi tersebut, maka akan diperoleh konsentrasi (C) terbaik pada
masing-masing bahan yang diuji.
Pada penelitian ini dilakukan fraksinasi karaginan dengan larutan KCl
2,5%, pemurnian karaginan dengan larutan H
2
O
2
30% dan pemisahan karaginan
dengan Kromatografi Lapis Tipis (KLT) untuk mengetahui jenis karaginan yang
memberikan aktivitas antioksidan terbaik dengan menggunakan konsentrasi
terbaik.


3.5 Cara Kerja
3.5.1 Preparasi Sampel
Alga merah jenis Eucheuma spinosum dan Gracillaria verrucosa
sebanyak 300 gram dicuci dengan air, kemudian dihaluskan dengan blender,
disaring lalu dikeringkan di udara terbuka sampai diperoleh berat konstan dan
ditimbang (Modifikasi Bawa, dkk, 2007).

3.5.2 Penentuan Kadar Air Secara Thermogravimetri (AOAC, 1984)
Sebanyak 5 gram sampel dimasukkan dalam cawan porselen, kemudian
dimasukkan dalam oven dan dikeringkan pada suhu 105C selama 24 jam. Lalu
didinginkan dalam desikator dan ditimbang sehingga diperoleh berat konstan.
Dihitung kadar air menggunakan rumus (AOAC, 1984):
Kadar air = % 100
) (
x
a b
c b

(AOAC, 1984)
Dimana : a = bobot cawan kosong
b = bobot sampel + cawan sebelum dikeringkan
c = bobot cawan + sampel setelah dikeringkan


3.5.3 Ekstraksi Karaginan dengan Metode Maserasi (Bawa, 2007)
Alga merah jenis Eucheuma spinosium dan Gracillaria verrucosa kering
ditimbang sebanyak 50 gram, lalu ditambahkan 200 mL aquades dan larutan
natrium hidroksida 2% sampai di dapatkan pH 8,5. Selanjutnya dipanaskan dalam
penangas air sampai temperatur 80C. Temperatur dipertahankan sambil diaduk
selama 90 menit. Kemudian disaring dalam keadaan panas melalui kertas saring

Whatman No. 41 dengan bantuan penyaring vakum buchner. Selanjutnya
ditambahkan etanol 95% sebanyak 300 mL ke dalam filtrat sambil diaduk lalu
didiamkan semalam. Setelah terbentuk endapan, seluruh endapannya disaring
dengan kertas saring. Endapan tersebut ditambahkan etanol 95% sebanyak 200
mL, sambil diaduk kemudian didiamkan semalam. Selanjutnya disaring melalui
kertas saring yang pertama. Kemudian kertas saring dikeringkan beserta endapan
di dalam desikator. Setelah beberapa jam, kertas saring tersebut ditimbang sampai
diperoleh bobot yang konstan. Ekstrak yang dihasilkan dihitung nilai
rendemennya (Khopkar, 2003) :
% Rendemen = % 100 x
sampel berat
ekstrak berat
(Khopkar, 2003)
Kemudian ekstrak karaginan ini selanjutnya digunakan untuk uji aktivitas
antioksidan, difraksinasi dengan larutan KCl 2,5%, dimurnikan dengan larutan
H
2
O
2
serta dipisahkan karaginan dengan Kromatografi Lapis Tipis (KLT).

3.5.4 Uji Aktivitas Antioksidan Hasil Ekstraksi Dengan Metode DPPH (Blois,
1958 dalam Molyneux, 2004)
Ekstrak pekat hasil perlakuan (3.5.3) dilarutkan dalam etanol 95% 10 mL
dengan variasi konsentrasi 100, 150, 200, 250, 300 dan 350 ppm. Kemudian
masing-masing konsentrasi diambil 3 mL dan ditambahkan DPPH sebanyak 1 mL
dengan konsentrasi 0,2 M. Setelah itu diinkubasi pada suhu 37C selama 30
menit. Kemudian diukur absorbansinya pada 517 nm. Perlakuan ini diulang
sebanyak 3 kali.

Aktivitas antioksidan dapat dinyatakan dengan satuan % aktivitas. Nilai ini
diperoleh dengan rumus (Molyneux, 2003):
% Aktivitas antiradikal =
kontrol Absorbansi
100% x sampel) Absorbansi - kontrol i (Absorbans

(Molyneux, 2003)
Blanko dibuat dengan cara yang sama tetapi tidak menggunakan ekstrak.
Sedangkan untuk pembanding dibuat dengan cara yang sama tetapi ekstrak diganti
dengan BHT dan vitamin C.

3.5.5 Fraksinasi dengan Larutan KCl 2,5% (Stancioff dan Stanley dalam
Hidayati, 2005)
Pada penelitian ini fraksinasi dilakukan dengan metode Stancioff dan
Stanley. Fraksinasi ini menggunakan larutan KCl 2,5 %. Sebanyak 5 gram serbuk
halus karaginan dimasukkan ke dalam gelas beaker 1 L dan ditambahkan dengan
500 mL larutan KCl 2,5%, diaduk dengan pengaduk magnet selama 1 jam dan
didiamkan dalam suhu kamar. Larutan kemudian diaduk kembali selama 1 jam
dengan pengaduk magnet dan disentrifuge dengan kecepatan 7500 rpm selama 15
menit pada suhu kamar. Endapan kemudian ditambah dengan 50 mL larutan KCl
2,5%, diaduk dan disentrifuge dengan kecepatan 7500 rpm selama 15 menit pada
suhu kamar dan disaring. Filtrat kemudian ditambahkan 800 mL aquades panas
dan disaring dengan kertas saring biasa, kemudian filtrat ditambah 20 mL larutan
NaCl 10%, diaduk dan dipekatkan dengan alat rotary evaporator. Filtrat
kemudian diendapkan dengan etanol 95% (1:2,5), kemudian disaring, diperas,
dikeringkan dan dihaluskan.

3.5.6 Pemurnian Karaginan dengan larutan H
2
O
2
30% (Hidayati, 2005)
Sebanyak 5 gram serbuk karaginan dilarutkan dalam 250 mL aquades,
selanjutnya ditambahkan larutan hidrogen peroksida 30% tetes demi tetes
sebanyak 3 mL sambil diaduk sampai larutannya tak berwarna, kemudian
diendapkan dengan menggunakan etanol 95% (1:2,5). Endapan dikeringkan di
atas waterbath sehingga diperoleh serbuk karaginan warna putih.

3.5.7 Pemisahan Karaginan dengan Kromatografi Lapis Tipis (KLT)
3.5.7.1 KLT Analitik (Bawa, 2007)
Pemisahan dengan KLT analitik menggunakan plat silika gel GF
254

dengan ukuran 1 x 10 cm
2
yang sudah diaktifkan dengan pemanasan dalam oven
pada suhu 30-40

C selama 10 menit. Ekstrak karaginan hasil pemurnian


ditotolkan pada jarak 1 cm dari tepi bawah plat dengan pipa kapiler kemudian
dikeringkan dan dielusikan sejauh 8 cm dengan fase gerak metanol:air (5:1
v
v
)
dan etanol:air (3:1
v
v
). Setelah gerakan larutan pengembang sampai pada garis
batas, elusi dihentikan. Plat hasil elusi dikeringkan, noda yang terbentuk diamati
dengan lampu UV panjang gelombang maksimum 254 nm dan warna ungu
menunjukkan adanya karaginan dan diuji kimia dengan menyemprotkan larutan
H
2
SO
4
10%, timbulnya

warna coklat menunjukkan adanya karaginan. Kemudian
nilai Rf dihitung dan dibandingkan dengan nilai Rf standart, untuk standar
karaginan yang diidentifikasi KLT dengan fase gerak metanol:air (5:1
v
v
) nilai

Rf-nya 0,74 sedangkan etanol:air (3:1
v
v
) nilai Rf-nya 0,75. Selanjutnya dengan
memperhatikan bentuk noda pada berbagai larutan pengembang ditentukan
perbandingan larutan pengembang yang paling baik untuk keperluan preparatif.
Adapun perbandingan larutan pengembang yang paling baik dilihat dari
terbentuknya noda yang jelas dan tidak berdekatan atau tidak saling tumpang
tindih.
3.5.7.2 KLT Preparatif (Bawa, 2007)
Pemisahan dengan KLT preparatif menggunakan plat silika gel GF
254

dengan ukuran 5 x 20 cm
2
. Ekstrak karaginan hasil pemisahan KLT analitik
ditotolkan pada jarak 1 cm dari tepi bawah plat dengan pipa kapiler kemudian
dikeringkan dan dielusikan sejauh 18 cm dengan eluen yang memberikan
pemisahan terbaik pada KLT analitik. Setelah gerakan larutan pengembang
sampai pada garis batas, elusi dihentikan. Plat hasil elusi dikeringkan, noda yang
terbentuk diamati dengan lampu UV panjang gelombang maksimum 254 nm dan
warna ungu menunjukkan adanya karaginan dan diuji kimia dengan
menyemprotkan larutan H
2
SO
4
10%, timbulnya

warna coklat menunjukkan
adanya karaginan. Noda yang diperoleh dikerok dan dilarutkan dalam etanol
kemudian disentrifugasi untuk mengendapkan silikanya. Filtrat hasil sentrifuge
diuapkan pelarutnya dengan dimasukkan dalam desikator vakum kemudian diuji
aktivitas antioksidan dengan konsentrasi terbaik pada perlakuan (3.5.3).

3.5.8 Uji Aktivitas Antioksidan Fraksi Aktif Karaginan Dengan Metode
DPPH (Blois, 1958 dalam Molyneux, 2004)
Ekstrak pekat hasil perlakuan (3.5.5) dilarutkan dalam etanol 95% 10 mL
dengan konsentrasi terbaik. Kemudian diambil 3 mL dan ditambahkan DPPH
sebanyak 1 mL dengan konsentrasi 0,2 M. Setelah itu diinkubasi pada suhu 37C
selama 30 menit. Kemudian diukur absorbansinya pada 517 nm. Perlakuan ini
diulang sebanyak 3 kali.
Aktivitas antioksidan dapat dinyatakan dengan satuan % aktivitas. Nilai ini
diperoleh dengan rumus (Molyneux, 2003):
% Aktivitas antiradikal =
kontrol Absorbansi
100% x sampel) Absorbansi - kontrol i (Absorbans

(Molyneux, 2003)
Blanko dibuat dengan cara yang sama tetapi tidak menggunakan ekstrak.
3.6 Analisis Data
Analisis data pada penelitian ini, dilakukan dengan cara mendiskripsikan
data-data yang diperoleh dalam bentuk tabel dan grafik untuk mengetahui
perbandingan aktivitas antioksidan dalam ekstrak kasar serta fraksi aktif karaginan
alga merah jenis Eucheuma spinosum dan Gracillaria verrucosa yang berasal dari
Probolinggo dengan pembanding vitamin C dan BHT.





BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian ini mempelajari makna yang terkandung di dalam al-Quran
karena al-Quran merupakan jalan terang bagi akal untuk mempelajari sains dan
teknologi.
Berdasarkan QS. al-Araaf/07 ayat 10:
)9 63 _{ !=-> 39 ! _- =% ! `3:.
Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami
adakan bagimu di muka bumi (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu
bersyukur.(QS.07:10).

Ayat di atas menjelaskan sebuah alasan manusia untuk mengingat segala
rahmat-rahmat Allah yaitu memafaatkan segala pemberian-Nya sebaik-baiknya.
Salah satunya adalah alga merah.
Penelitian ini menggunakan alga merah Eucheuma spinosum dan
Gracillaria verrucosa yang berumur 49 hari guna memperoleh rendemen dan
viskositas tinggi. Alga yang sudah dibersihkan dan dihaluskan, dikeringkan di
bawah sinar matahari pada suhu normal selama 2 hari untuk mengurangi kadar air.
Masing-masing alga merah ini tidak menggunakan suhu tinggi dikarenakan dapat
menyebabkan terjadinya perubahan kimia yaitu karaginan dalam alga merah
mengalami perubahan konformasi senyawaan kimia yang terkandung dalam alga
merah tersebut serta terjadi perubahan biologi yaitu dapat membusuk sehingga
menghasilkan mikroorganisme.
52

Tabel 4.1 Perubahan warna dan perhitungan kadar air pada alga merah
Jenis alga
merah
Warna Kadar air (%)
Sebelum Sesudah Berat
basah
(gram)
Berat
kering
(gram)
Kadar
air (%)
Eucheuma
spinosum
kuning
kecoklatan
coklat 300 265 12,01
Gracillaria
verrucosa
hijau
kekuningan
hijau
muda
300 272 12,08



Perubahan warna tersebut disebabkan oleh adanya sifat adaptik kromatik,
yaitu mempunyai penyesuaian antara proporsi pigmen dengan berbagai kualitas
pencahayaan, sedangkan perubahan tekstur dan berat disebabkan kedua jenis alga
merah kehilangan beberapa persen kandungan airnya. Pengujian kadar air
dimaksudkan untuk mengetahui kandungan air dalam alga merah yang
berpengaruh terhadap daya simpannya. Kadar air yang diperoleh tersebut sesuai
dengan standar mutu yang telah dikeluarkan oleh Food Agriculture Organization
(FAO) dan Food Chemicals Codex (FCC) yaitu mempunyai nilai maksimal 12%.
Perhitungan kadar air disajikan pada lampiran 3.
Alga yang mempunyai perbedaan dalam kesesuaian faktor-faktor fisika
dan kimia dapat dijelaskan dalam firman Allah surat al-Furqon ayat 53 :
%! _ `>,9 ',s , _= _l> -> !],
l>, >> >>

Dan Dialah yang membiarkan dua laut yang mengalir (berdampingan); yang ini
tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya
dinding dan batas yang menghalangi(QS. 25: 53).



Dari ayat di atas dapat dijelaskan bahwa dua lautan yang bertemu dan
dipisahkan oleh dinding batas. Akibat adanya batas ini, menjadikan laut yang satu
mempunyai karakter yang berbeda, yaitu dalam suhu, kadar keasinan (salinitas),
berat jenis, dan tekanan dengan laut yang berdampingan dengannya. Oleh
karenanya, makhluk hidup seperti alga mempunyai karakter yang berbeda pula
antara jenis satu dengan lainnya ataupun dari tempat satu dengan lainnya.

4.1 Ekstraksi Karaginan Dengan Metode Maserasi
Proses ekstraksi merupakan proses penarikan senyawa aktif dengan
menggunakan pelarut tertentu (Robinson, 1995). Senyawa aktif yang diambil
adalah senyawa karaginan yang menggunakan aquades. Pada penambahan
aquades, dua jenis alga merah tersebut larut karena adanya gugus yang bersifat
hidrofilik yaitu gugus sulfat dan gugus hidroksil. Proses pemanasan bertujuan
untuk mempercepat daya larut air karena dapat mengurangi daya tarik-menarik
antara molekul-molekul air dan memberikan cukup energi kepada molekul-
molekul air itu sehingga dapat mengatasi daya tarik antar molekul karaginan.
Larutan tersebut dibasakan dengan NaOH 2% hingga mencapai pH
optimum yaitu 8,5 (Bawa, 2007). Towle (1973) menyatakan bahwa proses
ekstraksi dengan alkali mempunyai fungsi untuk membantu ekstraksi karaginan
dari alga merah dan berfungsi untuk mengkatalisis hilangnya gugus-6-sulfat dari
unit monomernya dengan membentuk 3,6-anhidrogalaktosa. Adanya 3,6-
anhidrogalaktosa menyebabkan sifat anhidrofilik dan meningkatkan pembentukan
struktur heliks rangkap sehingga terbentuk gel yang tinggi.

Proses maserasi tersebut menghasilkan endapan yang kemudian dihitung
nilai rendemennya. Perhitungan rendemen disajikan pada lampiran 4.


Tabel 4.2 Data rendemen dan sifat fisik karaginan hasil ekstraksi alga merah
Jenis alga merah Berat
awal
(gram)
Berat
akhir
(gram)
Rendemen
karaginan (%)
Sifat
gel
Eucheuma
spinosum
50 17,5 35 elastis
Gracillaria
verrucosa
50 12,7 25,4 keras



Perhitungan rendemen dilakukan berdasarkan umur panen dan lama
ekstraksi. Semakin tua umur panen, maka kandungan polisakarida yang
dihasilkan semakin banyak sehingga karaginannya juga semakin tinggi dan
semakin lama alga merah kontak dengan panas maupun dengan larutan
pengekstrak, maka semakin banyak karaginan yang terlepas dari dinding sel
dan menyebabkan rendemen karaginan semakin tinggi.. Terdapat perbedaan
nilai rendemen karaginan pada kedua alga merah tersebut dikarenakan perbedaan
jenis sehingga berbeda pula kandungan karaginannya.

4.2 Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Kasar Karaginan Dengan Metode
DPPH (1,1-Difenil-2-Pikrilhidrasil)
Ekstrak kasar masing-masing jenis alga merah tersebut ditambahkan
larutan DPPH kemudian diinkubasi selama 30 menit untuk mencapai kondisi yang
steady state atau waktu dimana nilai absorbansi sudah konstan. Secara umum

semua konsentrasi dari ekstrak dan pembanding mengalami perubahan warna
ungu menuju kuning setelah pengukuran absorbansi. Perubahan warna ungu
menjadi kuning seiring dengan menurunnya absorptivitas molar dari molekul
DPPH. Perubahan warna secara stoikiometri berdasarkan jumlah elektron yang
tertangkap. Presentasi aktivitas penangkap radikal menunjukkan seberapa besar
kemampuan antioksidan untuk menurunkan aktivitas radikal DPPH.

Tabel 4.3 Aktivitas antioksidan (%) ekstrak kasar dan pembanding
(x)
Konsentrasi
DPPH
(ppm)
(y) Aktivitas antioksidan (%)
Eucheuma
spinosum
Gracillaria
verrucosa
Vitamin
C
BHT
1 13.24 12.08 12.12 17.69
5 17.29 16.79 15.79 29.13
10 29.27 23.83 21.01 32.41
25 38.46 33.87 28.58 40.62
50 46.75 47.18 36.28 49.42
75 53.07 53.81 41.40 51.84
100 56.78 58.27 58.70 58.49
150 60.44 60.42 61.56 60.44
200 68.15 68.05 68.25 68.15
250 70.38 70.37 70.72 70.38
300 76.41 76.14 70.93 76.89
350 78.34 77.96 78.94 77.34
500 80.75 81.24 83.03 56.76
750 83.37 85.79 68.79 50.49
800 80.26 82.20 - -
900 76.54 74.94 - -
1000 71.28 69.89 56.56 44.47
1100 64.33 65.69 - -
1200 58.48 58.02 - -

aktivitas penangkapan radikal bebas
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
100
0 50 100 150 200 250 300 350 400 450 500 550 600 650 700 750 800 850 900 950 1000 1050
konsentrasi (ppm)
a
k
t
i
v
i
t
a
s

a
n
t
i
o
k
s
i
d
a
n

(
%
)
BHT
vitamin C
Eucheuma spinosum
Gracillaria verrucosa

Gambar 4.1 Aktivitas penangkapan radikal bebas dengan berbagai konsentrasi



Dari hasil tabel dan grafik tersebut, menunjukkan bahwa peningkatan
konsentrasi ekstrak antioksidan pada semua perlakuan menyebabkan peningkatan
aktivitas antioksidan. Aktivitas antioksidan tertinggi pada ekstrak alga merah
Eucheuma spinosum sebesar 83.37% dan Gracillaria verrucosa sebesar 85.79%
dicapai pada konsentrasi 750 ppm. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas
antioksidan pada ekstrak masih efektif sampai konsentrasi 750 ppm dan pada
konsentrasi di atas 750 ppm mengalami penurunan. Aktivitas antioksidan efektif
pada vitamin C sebesar 83,03% pada konsentrasi 500 ppm sedangkan BHT
dicapai pada konsentrasi 350 ppm sebesar 77,34%.
Dengan penambahan jumlah konsentrasi yang semakin besar maka dapat
memberikan pengaruh berlawanan arah yaitu semakin tinggi konsentrasi maka
semakin kecil aktivitas antioksidannya. Besar konsentrasi antioksidan yang
ditambahkan dapat merubah aktivitas apabila melebihi batas sehingga dapat

merubah fungsi aktivitasnya yaitu dari aktivitas sebagai antioksidan berubah
menjadi aktivitas sebagai prooksidan. Perbedaan aktivitas antar ekstrak tersebut
kemungkinan disebabkan adanya perbedaan beberapa kandungan senyawa aktif
yang terdapat dalam ekstrak dan jumlahnya, sehingga aktivitas antioksidannya
dalam menangkap radikal bebas DPPH hasilnya juga berbeda.
Reaksi dugaan antara antioksidan (ekstrak karaginan, vitamin C dan BHT)
dengan molekul DPPH (lampiran 7) dapat dijelaskan bahwa antioksidan adalah
molekul yang menetralkan radikal bebas dengan cara memberikan atom hidrogen
untuk mengeliminasi kondisi tidak berpasangan. Ini berarti antioksidan menjadi
radikal bebas pada proses netralisasi, akan tetapi radikal antioksidan lebih tidak
reaktif daripada radikal bebas karena tidak mempunyai cukup energi untuk dapat
bereaksi dengan molekul lain untuk membentuk radikal baru.
Sesuai dengan Madhavi et al., (1996), BHT merupakan antioksidan primer
yang memiliki mekanisme antioksidan sama dengan senyawa fenolat yaitu
mendonorkan atom hidrogen. Aktivitas antioksidan BHT dan fenol ditentukan
oleh adanya gugus hidroksil. BHT mempunyai 1 gugus hidroksil sehingga
aktivitas antioksidannya lebih rendah daripada vitamin C.

4.3 Fraksinasi Karaginan dengan Larutan KCl 2,5%
Pembentukan gel juga terkait dengan ketersediaan ion kalsium.
Penambahan KCl ini berfungsi untuk membentuk gelatin, sehingga dapat
diketahui jenis karaginan pada kedua jenis alga merah tersebut. Penambahan ion
K
+
dapat menetralkan gugus sulfat pada molekul karaginan sehingga akan

membentuk struktur double helix (pilihan ganda). Semakin bertambahnya bentuk
heliks maka akan membentuk gel yang kuat.
Adapun penjelasan mekanisme penambahan ion K
+
pada molekul
karaginan sehingga terbentuk gel dapat dilihat pada gambar 4.2:


Gambar 4.2 Mekanisme penambahan ion K
+
pada molekul karaginan
(Bubnis, 2000)



Pada fraksinasi ini memperoleh ekstrak alga merah Eucheuma spinosium
dan Gracillaria verrucosa berwarna berwarna krem keputih-putihan.


Tabel 4.4 Nilai hasil fraksinasi karaginan dengan Larutan KCl 2,5%
Jenis alga merah Berat sampel awal
(gram)
Berat sampel akhir
(gram)
Eucheuma spinosum 5 11,5
Gracillaria verrucosa 5 7,3

Pada penelitian Cristiane, dkk (2006) menyebutkan bahwa alga merah
Eucheuma spinosium mengandung -karaginan. Hal ini dijelaskan melalui adanya
gugus sulfat tambahan pada posisi C-2 residu 3,6-anhidro-D-galaktosa.
Sedangkan pada alga merah Gracillaria verrucosa mengandung -karaginan.
Menurut Booth, sifat pembentukan gel dipengaaruhi adanya perbedaan jumlah,
tipe, dan posisi gugus sulfat. Sifat gel Eucheuma spinosium lebih rendah daripada
Gracillaria verrucosa, dikarenakan pada -Karaginan terdapat tambahan gugus
sulfat. Peningkatan kekuatan gel berbanding lurus dengan banyaknya kandungan
3,6-anhidrogalaktosa dan berbanding terbalik dengan kandungan sulfatnya.
Kandungan sulfat yang tinggi menyebabkan lebih banyak gaya tolak menolak
antar gugus sulfat yang bermuatan negatif, sehingga rantai polmer kaku dan
tertarik kencang, sehingga menyebabkan viskositas meningkat. Semakin kecil
kandungan sulfatnya maka semakin kecil pula viskositasnya tetapi konsistensi
gelnya semakin meningkat. Adapun bentuk gel dari senyawa karaginan seperti
yang telah disebutkan dalam tabel 4.2.
Penambahan larutan hidrogen peroksida 30% bertujuan untuk melarutkan
dan mengoksidasi pengotor yang terjebak dalam karaginan sehingga
menghasilkan perubahan warna dari krem kekuning-kuningan menjadi putih.
Penambahan larutan hidrogen peroksida 30% sebanyak 50 tetes. Jumlah tetes ini
relatif banyak, hal ini menunjukkan bahwa dalam fraksi tidak larut tersebut masih
banyak mengandung senyawa organik tertentu yang yang mengendap bersama
karaginan.


Tabel 4.5 Nilai hasil pemurnian karaginan dengan larutan H
2
O
2
30%
Jenis alga merah Berat sampel awal
(gram)
Berat sampel akhir
(gram)
Eucheuma spinosum 5 3,9867
Gracillaria verrucosa 5 3,9062

4.4 Pemisahan Karaginan dengan Kromatografi Lapis Tipis (KLT)
a. Kromatografi Lapis Tipis Analitik (KLTA)
Pendugaan secara kualitatif senyawa karaginan dari masing-masing
sampel dilakukan dengan metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT). KLT
merupakan metode pemisahan senyawa kimia dengan menggunakan fase diam
dan fase gerak.
Sampel ditotolkan pada plat KLT yang berukuran 1 x 10 cm
2
. Penotolan
dilakukan sekecil dan sesempit mungkin untuk mendapatkan hasil yang optimal.
Kemudian dielusi sampai garis batas pelarut. Penggunaan berbagai macam eluen
pada pemisahan ini untuk mencari eluen terbaik yang dapat memisahkan senyawa
karaginan sehingga dapat dilanjutkan pada KLT preparatif.
Bercak karaginan pada KLT tidak berwarna karena karaginan sendiri
berwarna putih, sehingga perlu dideteksi dengan sinar UV yang menghasilkan
warna ungu kehitam-hitaman dan menyemprotkan H
2
SO
4
10% yang
menghasilkan warna kecoklat-coklatan. Pada eluen metanol:air (5:1
v
v
) diperoleh
nilai Rf 0,74 dan eluen etanol:air (3:1
v
v
) diperoleh nilai Rf 0,75, hal ini sesuai
dengan penelitian Bawa, dkk (2007).


Tabel 4.6 Nilai Rf karaginan dengan Variasi Eluen
Karaginan
Nilai Rf
metanol:air
(5:1
v
v
)
etanol:air
(3:1
v
v
)
Standar
Eucheuma spinosum
Gracillaria verrucosa
0,74
0,74
0,74
0,75
0,76
0,77



1 2 3 1 2 3
(a) (b)

Gambar 4.3 Hasil KLT Analitik masing-masing sampel
Keterangan: -(a) ekstrak karaginan eluen metanol:air (5:1
v
v
), (b) ekstrak
karagenan etanol:air (3:1
v
v
)
- Sampel 1 : ekstrak Eucheuma spinosum
Sampel 2 : karagenan standar
Sampel 3 : ekstrak Gracillaria verrucosa


Hasil pemisahan dari kedua ekstrak menunjukkan bahwa eluen metanol:air
(5:1
v
v
) mampu memisahkan ekstrak pekat yang baik karena menghasilkan noda
dengan pemisahan yang jelas dari ketepatan dengan nilai Rf standar (tabel 4.6).
Munculnya noda ini tergantung kelarutan senyawa dalam pelarut yaitu interaksi
antara molekul-molekul senyawa dengan pelarut (fase gerak) dan melekatnya
senyawa pada fase diam yaitu interaksi antara senyawa dengan silika gel. Adanya

interaksi tersebut maka akan muncul noda akibat mudahnya senyawa tertarik oleh
fase gerak (pelarut) keluar dari permukaan fase diam (silika gel). Noda juga
muncul karena kepolaran senyawa-senyawa yang dipisahkan pada tingkatan yang
sama dan dapat larut dalam fase gerak (pelarut) yang sama.
Silika gel mempunyai situs aktif yang berupa gugus okso (O-Si-O) atau
gugus hidroksi (Si-OH), dengan rumus molekul SiO
2
. xH
2
O yang terdiri dari SiO
4

tetahedral dengan bentuk amorf. Gugus hidroksi pada silika gel inilah yang akan
bereaksi dengan gugus hidroksi pada metanol, sehingga daya adsorbsi dan daya
rambat senyawa karaginan dalam metanol lebih cepat. Eluen hasil KLTA ini
kemudian digunakan dalam pemisahan senyawa karagenan dengan KLT
preparatif. Hasil identifikasi KLT di tunjukkan dalam gambar di bawah ini:


1 2 3
Gambar 4.4 Hasil Identifikasi KLT dengan lampu UV dengan
eluen metanol:air (5:1
v
v
)
Keterangan: Sampel 1 : ekstrak Eucheuma spinosum
Sampel 2 : karagenan standar
Sampel 3 : ekstrak Gracillaria verrucosa


b. Kromatografi Lapis Tipis Preparatif (KLTP)
Metode pemisahan kromatografi lapis tipis preparatif hampir sama dengan
KLT kualitatif hanya berbeda pada kuantitas dari ekstrak yang digunakan. Pada

KLT prepararif digunakan plat KLT silika gel dengan ukuran yang lebih besar
yaitu 5 x 20 cm
2
dengan ketebalan 1 mm dan menggunakan eluen campuran
terbaik dari KLTA yaitu metanol:air (5:1
v
v
). KLTP menghasilkan noda yang
terpisah jelas pada ekstrak Eucheuma spinosum dan ekstrak Gracillaria
verrucosa. Hasil noda pada KLTP ditunjukkan Gambar 4.5:


1 2 1 2

(a) (b)

Gambar 4.5 Hasil Identifikasi KLT dari masing-masing sampel dengan
eluen metanol:air (5:1
v
v
)
Keterangan: - Hasil Identifikasi KLT dengan (a) lampu UV, (b) larutan H
2
SO
4

10%.
- Sampel 1 : ekstrak Eucheuma spinosum
Sampel 2 : ekstrak Gracillaria verrucosa

Pada gambar 4.5 kedua sampel, baik ekstrak Eucheuma spinosum dan
ekstrak Gracillaria verrucosa menghasilkan 1 noda. Berdasarkan perhitungan
pada lampiran 6 diperoleh nilai Rf sebagai berikut:

Tabel 4.7 Nilai Rf dan penampak noda pada kromatogram hasil KLT Preparatif
ekstrak alga merah dengan eluen metanol:air (5:1
v
v
)
Sampel Rf
Penampak Noda
Lampu UV H
2
SO
4
10%
1 0,74 Ungu coklat
2 0,74 Ungu coklat

Noda yang dihasilkan dikerok sebelum diberi penampak noda dan
didapatkan berat sebesar 1,9402 gram untuk alga merah Eucheuma spinosium,
sedangkan Gracillaria verrucosa sebesar 1,7792 gram. Hasil tersebut dilarutkan
dalam etanol dengan perbandingan 1:15, kemudian disentrifugasi untuk
mengendapkan silikanya. Filtrat hasil sentrifuge diuapkan pelarutnya dengan
dimasukkan dalam desikator vakum. Hasil yang diperoleh sebesar 0.9701 gram
untuk alga merah Eucheuma spinosium, sedangkan alga merah Gracillaria
verrucosa sebesar 0.8896 gram. Kemudian diuji aktivitas antioksidan karaginan
pada kedua jenis alga merah tersebut dengan konsentrasi terbaik yaitu 750 ppm.

4.5 Uji Aktivitas Antioksidan Fraksi Aktif Karaginan dengan Metode DPPH
(1,1-difenil-2-pikrilhidrasil)
Karaginan hasil dari KLTP diuji aktivitas antioksidan dengan konsentrasi
tertinggi yaitu 750 ppm. Hasil presentasi aktivitas penangkap radikal tersebut
dapat dilihat pada tabel 4.8:

Tabel 4.8 Hasil presentasi aktivitas penangkap radikal antara ekstrak kasar dan
fraksi aktif masing-masing sampel alga merah

Sampel Aktivitas antioksidan (%)
ekstrak kasar
Aktivitas antioksidan (%)
fraksi aktif
Standart karaginan - 38,12
Eucheuma spinosium 83,42 54,04
Gracillaria verrucosa 85,74 55,35




Berdasarkan data tersebut, maka aktivitas antioksidan fraksi aktif
karaginan lebih rendah daripada aktivitas antioksidan pada ekstrak kasar.
Perbedaan tersebut dikarenakan ekstrak kasar terdapat senyawa flavonoid yang
berpotensi sebagai antioksidan. Dibandingkan dengan standar, aktivitas
penangkapan radikal ekstrak fraksi aktif karaginan lebih baik karena nilainya dua
kali lebih kecil. Perbedaan nilai aktivitas antioksidan antara standart dengan
sampel kemungkinan disebabkan perbedaan jenis alga. Sehingga karaginan pada
alga merah Eucheuma spinosium dan Gracillaria verrucosa berpotensi sebagai
senyawa antioksidan.





























BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil uji aktivitas antioksidan DPPH melalui mekanisme
donor atom hidrogen, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa:
a. Aktivitas antioksidan ekstrak kasar yang diperoleh adalah Eucheuma
spinosum pada 750 ppm sebesar 83,37%, Gracillaria verrucosa pada 750 ppm
sebesar 85,79%, vitamin C pada 500 ppm sebesar 83,03% dan BHT pada 350
ppm sebesar 77,34%.
b. Aktivitas antioksidan pada ekstrak fraksi aktif karaginan pada 750 ppm yang
diperoleh adalah Eucheuma spinosum sebesar 54,04%, Gracillaria verrucosa
sebesar 55,35% dan standar karaginan sebesar 38,12%.
Aktivitas antioksidan pada fraksi aktif karaginan dalam alga merah jenis
Eucheuma spinosum dan Gracillaria verrucosa lebih rendah daripada ekstrak
kasar dikarenakan pada ekstrak kasar terdapat senyawa flavonoid yang berpotensi
sebagai antioksidan. Sedangkan perbedaan nilai aktivitas antioksidan karaginan
antara standart dengan fraksi aktif kemungkinan disebabkan perbedaan jenis alga
merah. Apabila dilihat dengan pembanding, maka aktivitas penangkapan radikal
yang paling efektif adalah BHT.



67

5.2 Saran
Perlu adanya penelitian lebih lanjut tentang uji aktivitas antioksidan pada
alga merah jenis Eucheuma spinosum dan alga merah jenis Gracillaria verrucosa
yang dibudidayakan di Kabupaten Probolinggo dengan metode TBA (tio
barbiturat acid), demikian juga penelitian untuk jenis alga merah yang lain.


































DAFTAR PUSTAKA



Alviera, L., 2006, Studi Kemampuan Adsorben Silika gel Hasil Sintesis dari
Natrium Silikat Terhadap Kromium (IV), Jurusan Kimia, Fakultas MIPA,
Malang : Universitas Brawijaya Malang

Anggadiredja, J., Irawati, S., dan Kusmiyati, 2006, Rumput Laut :
Pembudidayaan, Pengolahan, dan Pemasaran Komoditas perikanan
Potensial, Jakarta : Penebar Swadaya

AOAC, 1984, Official Methods of Analysis of the Association of Official
Analitycal Chemist, Inc. Washington DC, p 185-189

Ardiansyah, 2007, Antioksidan dan Peranannya Bagi Kesehatan,
http://www.mailarchive.com/idakrisnashow@yahoogroups.com/msg15815
.html, Diakses pada tanggal 18 Maret 2008

Arlyza, I., 2005, Phycocyanin dari Mikroalga Bernilai Ekonomis Tinggi Sebagai
Produk Industri, Oseana Vol XXX No. 3: 27-36.
http://www.spirulinasource.com/earthfoodch2b.html. Diakses pada 26
Agustus 2008

Aslan, L. M., 1998, Budidaya Rumput Laut, Yogyakarta : Kanisius

Atmadja, 2007, Apa Rumput Laut Sebenarnya?, Semarang : Divisi Penelitian dan
Pengembangan Rumput Laut UNDIP, www. rumputlaut.org. Diakses pada
26 Juli 2008

Bawa, A., Putra, B., dan Laila, I., 2007, Penentuan pH Optimum Isolasi
Karaginan dari Rumput Laut Jenis Eucheuma cottoni, Bali : Jurusan
Kimia Fakultas Matematika Ilmu Pengetahuan dan Alam Universitas
Udayana

Bennion, 1980, The Science of Food, John Willey & Suns, New York

Best, B, 2006, General AntiOxidant Actions.
www.benbest.com/nutrceut/AntiOxidants.html, Tanggal akses 21 Maret 2008

69

Booth, E, 1975, Seaweed In Industry, vol 4, England:Academic Press

Bubnis,2002,Carrageenan,http://www.fao.org/ag/agn/jecfaadditives/specs/Monog
raph1/Additive-117.pdf, diakses tanggal 14 februari 2009

Cahyadi, W, 2006, Analisis dan Aspek Kesehatan Bahan Tambahan Makanan,
Jakarta : Penerbit Bumi Aksara

Coppen, P.P 1983. The use of antioxidant. Di dalam: J.C. Allen dan R.J
Hamilton, editor. Rancidity in Foods. Applied Science Publishers,
London

cP Kelco Aps, Carrageenan, Denmark, http://www.cPKelco.com, diakses tanggal
29 Januari 2009

Cristiane, M., Marques, C., Maria, C., Roberto, F., Alexandre, H., dan Leite, E.,
2006, Antioxidant Activities of Sulfated Polysaccharides From Brown and
Red Seaweeds, J Appl Phycol (2007)19:153-160. Diakses pada 14 Agustus
2008

Day, Jr and underwood, Al, 1999, Analisis Kimia Kuantitatif, Jakarta : Penerbit
Erlangga

Djamil, A., 2004, Al-Quran dan Lautan, Bandung : Penerbit Arasy PT Mizan
Pustaka

FAO, 1990, Training Manual on Gracilaria Culture and Seaweed Processing in
China, Rome, p 37-42

Ferdiansyah, I., A, 2006, Ekstraksi Daun Mindi Melia Adedarach Linn kering
secara maserasi menggunakan pelarut etanol 90%, Malang : Fakultas
Teknik Perikanan Universitas Brawijaya

Food Chemical Codex, 1981, Carrageenan, National Academy Press Washington,
p 74 -75

Gordon, M.H 1990. The mechanism of antioxidants action in vitro. Di dalam:
B.J.F. Hudson, editor. Food Antioxidants. Elsivier Applied Science,
London
Glicksman M, 1969, Gum Technology in the Food Industry, New York:
Academic Press, p 214- 224


Guiseley KB, Stanley NF, Whitehouse PA, 1980, Carrageenan, Di dalam:
Davids RL (editor), Hand Book of Water Soluble Gums and Resins, New
York, Toronto, London: Mc Graw Hill Book Company

Hafid, A. F, 2003, Aktivitas Antiradikal Bebas DPPH Fraksi Metanol Fagraea
auriculta dan Fagraea ceilanica, Majalah Farmasi Airlangga, III (1); 34-
39

Hamilton, R.J and J. C Allen, 1994, Rancidity in Foods, Blackie Academic and
Professional, London

Hanani, E., Munim, A., dan Sekarini, R, 2005, Identifikasi senyawa antioksidan
dalam Spons Callispongia Sp. dari Kepulauan Seribu, Majalah Ilmu
Kefarmasian, Vol. II, No.3, Desember 2005, 127 133, ISSN : 1693-9883

Hayati, Elok, K., 2007, Dasar-Dasar Analisis Spektrofotometri, Malang : UIN
Malang

Hennisch, H. K., 1988, Crystal In Gels, Cambridge University Press, Cambridge,
New York, 29-31

Hidayat, A, 2006, Budidaya Rumput Laut, Surabaya:Penerbit Usaha Nasional

Hidayati, S, 2005, Isolasi Karaginan Fraksi Tidak Larut KCl 2,5% dari Alga
Merah Eucheuma spinosium dan Uji Aktivitasnya Sebagai Antikoagulan,
Skripsi, Malang :fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Jurusan Kimia Universitas Negeri Malang

Indrayani, L., Soetjipto,H., dan Sihasale, L, 2006, Skrining Fitokimia dan Uji
Toksisitas Ekstrak Daun Pecut Kuda (stachytarpheta jamaicensis L. Vahl)
Terhadap Larva Udang Artemia Salina Leach. Berk, Penelitian. Hayati: 12
(57-61), 2006

Istini, S. dan Suhaimi., 1998, Manfaat dan Pengolahan Rumput Laut, Jakarta :
Lembaga Oseanologi Nasional

Khopkar, 2003, Konsep Dasar Kimia Analitik, Jakarta : Universitas Indonesia


Madhavi, D.L, S. S. Dhespande and D. K Salunke, 1996, Food Antioxidant
Technological, Toxicological and Healt Perpectures, Marcel Dekker Inc.
New York

Molyneux, P, 2003, The Use Of The Stable Free Radical Diphenylpicrylhydrazyl
(DPPH), For Estimating Antioxidant Activity. Songklanakarin J. Sci.
Technol., 2004, 26(2) : 211-219. www.sjst.psu.ac.th/journal/26-2.pdf/07-
DPPH.pdf, Diakses tanggal 21 Maret 2008

Mubarak, H., 1982, Teknik Budidaya Rumput Laut, Jakarta : Sub Balai Penelitian
Perikanan Laut

Omar, M., Khoo, k. s, Lim, Y. Y dan Chem Y. L., 2007, Antioxidant Activity of
Yhree Seaweeds from Two Areas In South East Asia,
www.B/serier.com/locate/lwt, Diakses tanggal 26 Mei 2008

Paiva, A.R and Robert, M.R. 1999. -Carotene and and Carotenoids As
Antioxidants. Journal of the American College of Nutrition, Vol. 18,
No. 5, 426-433 (1999). Diakses tanggal 14 Agustus 2008

Prakash, A. Rigelhof, F., Miller, E, 2001, Medallion laboratories: analytical
progress,AntioxidantActivity,www.terranostrachocolate.com/files/Compar
ative_and_General_Antioxidant_Information.pdf, Tanggal akses 21 Maret
2008

Pratt, D.E. 1992. Natural Antioxidants From Plant Material. Di dalam : M.T.
Huang, C.T. Ho, dan C.Y. Lee, editor. Phenolic Compounds in Food and
Their Effects on Health H. American Society, Washington DC.

Pratt, D.E. dan B.J.F. Hudson. 1990. Natural Antioxidants not Exploited
Comercially. Di dalam : B.J.F. Hudson, editor. Food Antioxidants.
Elsevier Applied Science, London.

Robinson, T., 1995, Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi, Penerjemah : Kosasih
Padmawinata, Bandung: Penerbit ITB

Sarjana, P, 1998, Mempelajari Teknik Pengolahan Rumput Laut Menjadi
Karaginan Secara Hidrasi, Denpasar : Universitas Udayana

Sastrohamidjojo, 2005, Kromatografi, Yogyakarta : UGM Press


Sastrohamidjojo, 2001, Spektroskopi, Yogyakarta : UGM Press

Syamsuari, 2007, Karakteristik Karaginan Rumput Laut eucheuma cottonii Pada
Berbagai Umur Panen, Konsentrasi Koh dan Lama Ekstraksi, Jakarta :
Institut Pertanian Bogor, (http://www.damandiri.or.id/detail.php?id=457,
diakses tanggal 29 Januari 2009)

Towle, G. A., 1973, Carrageenan. Denmark : The Copenhagen Pectin Factory
Ltd

Trilaksani, W, 2003, Antioksidan : Jenis, sumber, Mekanisme Kerja dan Peran
Terhadap Kesehatan, (online), (http//rudyct-tripod.com/sem2-023/wini-
trilaksani.htm., diakses tanggal 21 Maret 2008)

Voight, R., 1995, Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Penerjemah Soendari, N. S,
Jogjakarta : Univewrsitas Gajah Mada

Winarno, F. G, 1990, Teknologi Pengolahan Rumput Laut, Bogor


























LAMPIRAN

Lampiran 1. Skema Kerja
1. Diagram Alir Penelitian






































- Preparasi sampel
Sampel
Fraksi aktif

Ekstrak pekat

Alga Merah
- Diisolasi
- dilakukan uji aktivitas
antioksidan
- diidentifikasi dengan
spektrofotometer UV

Data

Ekstrak pekat

- dilakukan fraksinasi dengan
larutan KCl 2,5%
- dilakukan pemurnian dengan
larutan H
2
O
2
30%
- dilakukan pemisahan dengan
KLT (KLTA dan KLTP)

Data

- dilakukan uji aktivitas
antioksidan
- diidentifikasi dengan
spektrofotometer UV


Lanjutan lampiran 1

2. Preparasi Sampel









































Alga Merah
- Diambil sebanyak 300 gram dicuci dengan air
- Ditiriskan
- Dipotong-potong kecil
- Dihaluskan dengan blender
- Disaring
- Dikeringkan
- Ditimbang
- Dianalisis kadar air
-
Hasil
74


Lanjutan lampiran 1

3. Isolasi Karaginan dalam Alga Merah Jenis Eucheuma spinosum dan Gracillaria
verrucosa (Bawa, 2007)


Lanjutan lampiran 1

4. Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Kasar Karaginan Dengan Metode DPPH
(1,1-difenil-2-pikrilhidrasil) (Blois, 1958 dalam Molyneux, 2004)
50 gram sampel
- ditambahkan 200 mL aquades
- ditambahkan larutan natrium hidroksida 2%
hingga pH 8,5
- dipanaskan dalam penangas air sampai temperatur
80C
- diaduk selama 90 menit
- disaring melalui kertas saring Whatman No. 40
dengan penyaring vakum buchner

residu filtrat
- ditambahkan etanol 95% 300 mL
- diaduk
- didiamkan 24 jam
- disaring
- ditambahkan etanol 95% 200 mL
- diaduk
- didiamkan 24 jam
- disaring melalui kertas saring yang pertama
residu filtrat
- dikeringkan beserta endapan di dalam
desikator
- ditimbang
- dihitung nilai rendemen
residu filtrat
hasil















Lanjutan lampiran 1
5. Fraksinasi dengan Larutan KCl 2,5% (Stancioff dan Stanley dalam Hidayati,
2005)
Ekstrak pekat
- dilarutkan dalam etanol 95% 10 mL dengan
beberapa variasi konsentrasi
- masing-masing konsentrasi diambil 3 mL
- ditambahkan DPPH sebanyak 1 mL dengan
konsentrasi 0,2 M
- diinkubasi pada suhu 37C selama 30 menit
- diukur absorbansinya pada 517 nm
Hasil





5 gram karaginan kasar + 500 mL larutan KCl 2,5%
- diaduk (t=1 jam)
- didiamkan (t=20 jam)
- diaduk lagi (t=1 jam)
- disentrifuge (v=7500 rpm, t=15 menit)
- disaring
residu filtrat
- ditambah dengan 50 mL larutan KCl 2,5%
- diaduk
- disentrifuge (v=7500 rpm, t=15 menit)
- disaring
- ditambahkan 800 mL aquades panas
- disaring
residu filtrat
- ditambah 20 mL larutan NaCl 10%
- diaduk
- dipekatkan dengan alat rotary
evaporator
residu filtrat
residu Filtrat kental




































- diendapkan dengan etanol 95%
(1:2,5)
- disaring
- diperas
- dikeringkan
- dihaluskan
hasil
filtrat

Lanjutan lampiran 1

6. Pemurnian Karaginan dengan larutan H
2
O
2
30% (Hidayati, 2005)




















- dilarutkan dalam 250 mL aquades
- ditambahkan H
2
O
2
30%
Larutan jernih karaginan
5 gram sampel
- dipekatkan
Larutan pekat
- Dituang ke dalam etanol 95%
Terbentuk 2 lapisan
- disaring
- dikeringkan
filtrat Serbuk putih karaginan

Lanjutan lampiran 1

7. Pemisahan Karaginan dengan Kromatografi Lapis Tipis Analitik (KLTA)
(Bawa, 2007)










































- ditotolkan ditepi plat silika gel 1x 10 cm
2
pada jarak 1 cm
di tepi bawah.
- dikeringkan plat dan dielusi sejauh 8 cm dengan eluen dengan fase
gerak metanol:air (5:1
v
v
) dan etanol:air (3:1
v
v
)
- elusi dihentikan setelah gerakan larutan pengembang sampai pada
garis batas
- dikeringkan
- diamati kromatogram dengan lampu UV
- disemprot dengan H
2
SO
4
10%
- diamati warnanya dan dihitung Rf-nya

Ekstrak pekat hasil pemurnian
Hasil

Lanjutan lampiran 1

8. Pemisahan Karaginan dengan Kromatografi Lapis Tipis Preparatif (KLTP)
(Bawa, 2007)










































- ditotolkan ditepi plat silika gel 5x 20 cm
2
pada jarak 1 cm
di tepi bawah.
- dikeringkan plat dan dielusi sejauh 18 cm dengan eluen terbaik dari
KLT analitik
- elusi dihentikan setelah gerakan larutan pengembang sampai pada
garis batas
- dikeringkan
- diamati kromatogram dengan lampu UV
- disemprot dengan H
2
SO
4
10%
- diamati warnanya dan dihitung Rf-nya
- dikerok dan dilarutkan dalam etanol
- disentrifugasi
- diuapkan pelarutnya dalam desikator vakum

Ekstrak pekat hasil KLT analitik
Hasil

Lanjutan lampiran 1

9. Uji aktivitas antioksidan fraksi aktif karaginan dengan metode DPPH (1,1-
difenil-2-pikrilhidrasil) (Blois, 1958 dalam Molyneux, 2004)




























Ekstrak pekat
- dilarutkan dalam etanol 95% 10 mL dengan
konsentrasi terbaik
- diambil 3 mL
- ditambahkan DPPH sebanyak 1 mL dengan
konsentrasi 0,2 M
- diinkubasi pada suhu 37C selama 30 menit
- diukur absorbansinya pada 517 nm
Hasil

Lampiran 2. Pembuatan Larutan dan Bahan

1. Pembuatan Larutan DPPH 0,2 M dengan Berbagai Konsentrasi

Larutan DPPH 0,2 M
Mr DPPH (C
15
H
12
N
5
O
6
) = 394,33 gr/mol
Mol = 50 mL x 0,2 M
= 10 mol
= 0,00001 mol
Gram = mol x Mr DPPH
= 0,00001 mol x 394,33 gr/mol
= 0,0039433 gr
= 3,9433 mg
= 4 mg

Pembuatan Bahan (ppm)

Metode DPPH
Volume etanol 95% = 10 mL = 0,01 L
ppm = mg/L
- 1 ppm = mg x 0,01 L
mg
sampel
= 0,01 x 1
= 0.01
- 5 ppm = mg x 0,01 L
mg
sampel
= 0,01 x 5
= 0.05
- 10 ppm = mg x 0,01 L
mg
sampel
= 0,01 x 10
= 0.1
- 25 ppm = mg x 0,01 L
mg
sampel
= 0,01 x 25
= 0.25
- 50 ppm = mg x 0,01 L
mg
sampel
= 0,01 x 50
= 0.5
- 75 ppm = mg x 0,01 L
mg
sampel
= 0,01 x 75
= 0.75

Lanjutan lampiran 2


- 100 ppm = mg x 0,01 L
mg
sampel
= 0,01 x 100
= 1
- 150 ppm = mg x 0,01 L
mg
sampel
= 0,01 x 150
= 1,5
- 200 ppm = mg x 0,01 L
mg
sampel
= 0,01 x 200
= 2
- 250 ppm = mg x 0,01 L
mg
sampel
= 0,01 x 250
= 2,5
- 300 ppm = mg x 0,01 L
mg
sampel
= 0,01 x 300
= 3
- 350 ppm = mg x 0,01 L
mg
sampel
= 0,01 x 350
= 3,5
- 500 ppm = mg x 0,01 L
mg
sampel
= 0,01 x 500
= 5
- 750 ppm = mg x 0,01 L
mg
sampel
= 0,01 x 750
= 7.5
- 800 ppm = mg x 0,01 L
mg
sampel
= 0,01 x 800
= 8
- 900 ppm = mg x 0,01 L
mg
sampel
= 0,01 x 900
= 9
- 1000 ppm = mg x 0,01 L
mg
sampel
= 0,01 x 1000
= 10
- 1100 ppm = mg x 0,01 L
mg
sampel
= 0,01 x 1100
= 11
- 1200 ppm = mg x 0,01 L
mg
sampel
= 0,01 x 1200
= 12





Lanjutan lampiran 2


3. Pembuatan Larutan NaOH 2% dan NaCl 10%


Larutan NaOH 2%
Pembuatan larutan dengan berbagai konsentrasi dibuat dengan
menggunakan persamaan sebagai berikut :
Konsentrasi (%) =
larutan berat
zat berat
x 100%
Larutan NaOH dibuat dengan cara :
NaOH 2% =
gram 100
NaOH gram
x 100%
gram NaOH =
100%
gram 100 x 2%

gram NaOH = 2 gram
Jadi larutan NaOH 2% 100 mL dapat dibuat dengan cara melarutkan 2
gram NaOH dalam 98 gram aquades.

Larutan NaCl 10%
NaCl 10% =
gram 100
NaCl gram
x 100%
gram NaCl =
100%
gram 100 x 10%

gram NaCl = 10 gram
Jadi larutan NaCl 10% dapat dibuat dengan cara melarutkan 10 gram NaCl
dalam 90 gram aquades.






Lanjutan lampiran 2

4. Pembuatan Larutan KCl 2,5% dan H
2
SO
4
10%


Larutan KCl 2,5%
KCl 2,5% =
gram 1000
KCl gram
x 100%
gram KCl =
100%
gram 1000 x 2,5%

gram KCl = 25 gram
Jadi larutan KCl 2,5% dapat dibuat dengan cara melarutkan 25 gram KCl
dalam 975 gram aquades.

Larutan H
2
SO
4
10%
Pada perlakuan ini dilakukan pengenceran dari larutan H
2
SO
4
97%,
sehingga cara perhitungannya:
M
1
x V
1
= M
2
x V
2

97 x V
1
= 10 x 25 mL
V
1
=
97
250

= 2,57 mL
Jadi larutan H
2
SO
4
10% dapat dibuat dengan cara melarutkan 2,57 mL
H
2
SO
4
97% dalam 25 mL aquadest.









Lampiran 3. Perhitungan kadar air alga merah

Adapun rumus perhitungan kadar air:
Kadar air = % 100
) (
x
a b
c b


Dimana : a = bobot cawan kosong
b = bobot sampel + cawan sebelum dikeringkan
c = bobot cawan + sampel setelah dikeringkan

- Alga merah Eucheuma spinosum
Kadar air = % 100
) (
x
a b
c b


= % 100
234 , 10 239 , 13
) 878 , 12 239 , 13 (
x


= % 100
005 , 3
361 , 0
x
= 12,01%


- Alga merah Gracillaria verrucosa

Kadar air = % 100
) (
x
a b
c b


= % 100
300 , 10 287 , 13
) 926 , 12 287 , 13 (
x


= % 100
987 , 2
361 , 0
x
= 12,08%



Lampiran 4. Perhitungan rendemen karaginan hasil ekstraksi alga merah

- Berat kertas saring untuk Alga merah Eucheuma spinosum = 0.5892 gram
- Berat kertas saring untuk Alga merah Gracillaria verrucosa = 0.5863 gram

- Alga merah Eucheuma spinosum

Rendemen =

(gram) awal sampel Berat


(gram) akhir sampel Berat
X 100%
Rendemen =

50
5 . 17
X 100%
= 35%

- Alga merah Gracillaria verrucosa

Rendemen =

(gram) awal sampel Berat


(gram) akhir sampel Berat
X 100%
Rendemen =

50
7 . 12
X 100%
= 25.4%












Lampiran 5. Data hasil pengukuran aktivitas antioksidan metode DPPH

Adapun rumus % Aktivitas anti radikal =


kontrol absorbansi
x sampel kontrol absorbansi 100 ) (

=
= 13.24 %

Tabel 1 Hubungan antara kadar ekstrak kasar alga merah Eucheuma spinosum
dengan aktivitas antioksidan dengan metode DPPH
Eucheuma spinosum
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
0 200 400 600 800 1000 1200
konsentrasi (ppm)
a
k
t
i
v
i
t
a
s

a
n
t
i
o
k
s
i
d
a
n

(
%
)

konsentrasi DPPH
(ppm)
Absorbansi sampel Aktivitas penangkap
radikal (%) I II III
1 2.1513 2.1587 2.1493 13.24
5 2.0592 2.0523 2.0466 17.29
10 1.7510 1.7569 1.7583 29.27
25 1.5253 1.5245 1.5317 38.46
50 1.3185 1.3286 1.3173 46.75
75 1.1690 1.1619 1.1632 53.07
100 1.0299 1.0300 1.0304 56.78
150 0.9753 0.9811 0.9887 60.44
200 0.7899 0.7901 0.7915 68.15
250 0.7281 0.7320 0.7452 70.38
300 0.5842 0.5850 0.5867 76.41
350 0.5355 0.5361 0.5406 78.34
500 0.4817 0.4793 0.4725 80.75
750 0.4097 0.4136 0.4152 83.37
800 0.4971 0.4925 0.4798 80.26
900 0.5824 0.5873 0.5807 76.54
1000 0.2164 0.2134 0.2081 71.28
1100 0.8865 0.8874 0.8816 64.33
1200 1.0314 1.0304 1.0297 58.48




2.4817
(
2.4817
2.1531 ) 100 x

Lanjutan lampiran 5


Tabel 2 Hubungan antara kadar ekstrak kasar alga merah Gracillaria verrucosa
dengan aktivitas antioksidan dengan metode DPPH

Gracillaria verrucosa
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
100
0 200 400 600 800 1000 1200
konsentrasi (ppm)
a
k
t
i
v
i
t
a
s

a
n
t
i
o
k
s
i
d
a
n

(
%
)


konsentrasi DPPH
(ppm)
Absorbansi sampel Aktivitas penangkap
radikal (%)
I II III
1 2.0890 2.0813 2.0754 12.08
5 2.0613 2.0675 2.0658 16.79
10 1.8905 1.8857 1.8943 23.83
25 1.6458 1.6473 1.6302 33.87
50 1.3058 1.3092 1.3175 47.18
75 1.1413 1.1484 1.1495 53.81
100 1.0349 1.0351 1.0365 58.27
150 0.9801 0.9828 0.9834 60.42
200 0.7910 0.7920 0.7954 68.05
250 0.7311 0.7350 0.7395 70.37
300 0.5903 0.5929 0.5931 76.14
350 0.5463 0.5471 0.5473 77.96
500 0.4639 0.4675 0.4518 81.24
750 0.3531 0.3472 0.3577 85.79
800 0.4415 0.4432 0.4404 82.20
900 0.6204 0.6254 0.6197 74.94
1000 0.1463 0.1415 0.1542 69.89
1100 0.8510 0.8553 0.8478 65.69
1200 1.0425 1.0432 1.0401 58.02


Lanjutan lampiran 5


Tabel 3 Hubungan antara kadar Vitamin C dengan aktivitas antioksidan dengan
metode DPPH

vitamin C
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
0 200 400 600 800 1000 1200
konsentrasi (ppm)
a
k
t
i
v
i
t
a
s

a
n
t
i
o
k
s
i
d
a
n

(
%
)


konsentrasi DPPH
(ppm)
Absorbansi sampel Aktivitas penangkap
radikal (%) I II III
1 2.1802 2.1830 2.1793 12.12
5 2.0937 2.0922 2.0836 15.79
10 1.9612 1.9585 1.9608 21.01
25 1.7726 1.7754 1.7691 28.58
50 1.5823 1.5875 1.5743 36.28
75 1.4533 1.4582 1.4521 41.40
100 1.0230 1.0258 1.0259 58.70
150 0.9528 0.9751 0.9342 61.56
200 0.7748 0.7821 0.8068 68.25
250 0.7198 0.7209 0.7393 70.72
300 0.6025 0.6091 0.5788 70.93
350 0.5174 0.5227 0.5274 78.94
500 0.4214 0.4234 0.4185 83.03
750 0.7713 0.7754 0.7768 68.79
1000 1.0811 1.0783 1.0748 56.56






Lanjutan lampiran 5


Tabel 4 Hubungan antara kadar BHT dengan aktivitas antioksidan dengan
metode DPPH

BHT
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
0 200 400 600 800 1000 1200
konsentrasi (ppm)
a
k
t
i
v
i
t
a
s

a
n
t
i
o
k
s
i
d
a
n

(
%
)

konsentrasi DPPH
(ppm)
Absorbansi sampel Aktivitas penangkap
radikal (%) I II III
1 2.0489 2.0375 2.0415 17.69
5 1.7518 1.7345 1.7902 29.13
10 1.6718 1.6137 1.5980 32.41
25 1.4708 1.4542 1.4962 40.62
50 1.2490 1.2713 1.2451 49.42
75 1.1931 1.1945 1.1976 51.84
100 1.0299 1.0300 1.0304 58.49
150 0.9753 0.9811 0.9887 60.44
200 0.7899 0.7901 0.7915 68.15
250 0.7281 0.7320 0.7452 70.38
300 0.5842 0.5850 0.5867 76.89
350 0.5355 0.5361 0.5406 77.34
500 1.0758 1.0692 1.0745 56.76
750 1.2232 1.2359 1.2267 50.49
1000 1.3591 1.3573 1.3435 45.47






Lampiran 6. Perhitungan nilai Rf masing-masing alga merah



Nilai Rf = Jarak yang digerakkan oleh senyawa dari titik asal
Jarak yang digerakkan oleh pelarut dari titik asal

Eluen metanol:air (5:1
v
v
)
- Nilai Rf isolat dari standar karaginan
Rf = = 0,74125 = 0,74 cm
- Nilai Rf isolat dari ekstrak serbuk alga merah Eucheuma spinosium
Rf = = 0,73625 = 0,74 cm
- Nilai Rf isolat dari ekstrak serbuk alga merah Gracillaria verrucosa
Rf = = 0,73875 = 0,74 cm


Eluen etanol:air (3:1
v
v
)
- Nilai Rf isolat dari standar karaginan
Rf = = 0,74875 = 0,75 cm
- Nilai Rf isolat dari ekstrak serbuk alga merah Eucheuma spinosium
Rf = = 0,75625 = 0,76 cm
- Nilai Rf isolat dari ekstrak serbuk alga merah Gracillaria verrucosa

Rf = = 0,76625 = 0,77 cm











5.89
8
5.91
8
5.93
8
6,05
8
6,13
8
5,99
8


Lampiran 7. Reaksi dugaan antara antioksidan (ekstrak karaginan, vitamin
C dan BHT) dengan molekul DPPH



Reaksi yang terjadi antara karaginan dengan DPPH adalah dimungkinkan
sebagai berikut:








Reaksi yang terjadi antara vitamin C dengan DPPH adalah dimungkinkan
sebagai berikut:


OH
OH
HO
O
O
HO





OH
OH
HO
O
O
O


O
OSO
3
-
H
H
H O
H
H
O H
H
O
OH
O
H
O
O
O
H
H
H
C H
2
O
OSO
3
-
H
H
H O
H
H
O H
H
O
O H
O
H
O
O H
O
H
H
H
C H
2
+
Radikal DPPH
DPPH tereduksi
+
Radikal DPPH Vitamin C
DPPH tereduksi
karaginan
+
+
Radikal karaginan
Radikal vitamin C


Lanjutan lampiran 7

Reaksi yang terjadi antara BHT dengan DPPH adalah dimungkinkan
sebagai berikut:


CH
3
C(CH
3
)
3
(H3C)3C
OH





CH
3
C(CH
3
)
3
(H
3
C)
3
C
O


























+
Radikal DPPH
BHT
+
DPPH tereduksi
Radikal BHT

Lampiran 8 Dokumentasi Penelitian

A. Preparasi Sampel

Eucheuma spinosum Gracillaria verrucosa

B. Ekstraksi maserasi dan fraksinasi

Penambahan aquades Penambahan KCl 2,5% Pemekatan dengan rotary
evaporator


Hasil pemurnian alga merah Hasil pemurnian alga merah
Gracillaria verrucosa Eucheuma spinosum

C. Pemisahan ekstrak pekat dengan Kromatografi Lapis Tipis (KLT)

Eluen metanol:air (5:1
v
v
)

Eucheuma spinosum Gracillaria verrucosa Standar karaginan


Lanjutan lampiran 8


Eluen etanol:air (3:1
v
v
)

Eucheuma spinosum Gracillaria verrucosa Standar karaginan


Hasil KLTA Eucheuma spinosum Hasil KLTA Gracillaria verrucosa


D. Aktivitas antioksidan ekstrak kasar karaginan


Vit C BHT Larutan DPPH


Eucheuma spinosum Gracillaria verrucosa



Lanjutan lampiran 8


D. Aktivitas antioksidan fraksi aktif karaginan






Eucheuma spinosum Gracillaria verrucosa




E. Alat untuk perlakuan


Spektrofotometer UV-Vis Sentrifuge Timbangan analitik



Desikator Oven