Anda di halaman 1dari 12

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL PROGRAM STUDI GEOFISIKA JURUSAN FISIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS GADJAH MADA


LAPORAN PRAKTIKUM INSTRUMENTASI GEOFISIKA ACARA : PENGUKURAN GRAVITASI

DISUSUN OLEH

DWI NOVIYANTO 10/300079/PA/13132 ASISTEN ACARA : LUTFI AZIZA

YOGYAKARTA APRIL 2012

PENGUKURAN PERCEPATAN GRAVITASI (MUTLAK) DENGAN BENDA JATUH BEBAS DAN AYUNAN MATEMATIS

I.

Tujuan 1. Mengukur langsung percepatan gravitasi (mutlak) dengan menggunakan benda jatuh bebas dari beberapa ketinggian yang berbeda. 2. Mengukur langsung percepatan gravitasi (mutlak) dengan menggunakan beberapa panjang tali yang berbeda (variasi l) 3. Mengamati grafik hubungan antara keitnggian (h) terhadap waktu jatuh bebas (t) danmencari rumus pendekatan (formula) untuk percepatan gravitasi dari hubungan tersebut. Dasar Teori 1. Gerak Jatuh Bebas Gerak jatuh bebas atau GJB adalah salah satu bentuk gerak lurus dalam satu dimensi yang hanya dipengaruhi oleh adanya gaya gravitasi. Variasi dari gerak ini adalah gerak jatuh dipercepat dan gerak peluru. Secara umum gerak yang hanya dipengaruhi oleh gaya gravitasi memiliki bentuk : = 0 + 0 +
1 2

II.

(i)

Dimana : t = waktu (s) y = posisi saat t (m) y0 = posisi awal (m) v0 = kecepatan awal (m/s) g = percepatan gravitasi (m/s2) Akan tetapi khusus untuk GJB diperlukan syarat tambahan yaitu v0 = 0. Sehingga rumusan (i) akan menjadi : = 0 +
1 2

(ii)

2. Bandul Matematis Periode adalah selang waktu yang diperlukan oleh benda untuk melakukan satu getaran lengkap. Getaran adalah gerakan bolak-balik yang ada di sekitar titik keseimbangan dimana kuat lemahnya dipengaruhi besar kecilnya energi yang diberikan. Satu getaran frekuensi adalah satu kali gerak bolak balik penuh. Satu getaran lengkap adalah gerakan dari a-b-c-b-a, sesuai pada gambar.

Gambar 2.1 Gerakan bergetar satu getaran lengkap

Periode ayunan bandul adalah : 2


(iii)

Dimana : L = panjang tali (m) g = percepatan gravitasi (m/s2) untuk menentukan g kita turunkan dari rumus di atas : 2 = 4 2 = 4 2 tan =
2 2

(iv) (v) (vi) (vii)

= 4 2 tan

Periode juga dapat dicari dengan L dibagi dengan frekuensi. Frekuensi adalah banyaknya getaran yang terjadi dalam kurun waktu satu detik. Rumus frekuensi adalah jumlah getaran dibagi jumlah detik waktu. Frekuensi memiliki satuan Hertz atau Hz.

III.

Skema Pengukuran 1. Gerak jatuh bebas

Magnetic holder

Batang bermistar Bola besi Sensor infrared

Timer digital

Gambar 3.1 Skema percobaan gerak jatuh bebas

2. Ayunan Bandul matematis

Pengatur panjang tali

Bola besi timer Sensor infrared


Gambar 3.2 Skema percobaan ayunan bandul matematis

IV.

Petunjuk Praktikum 1. Sistem dihidupkan, tombol reset ditekan sehingga pada timer terbaca angka 0 2. Bola besi dipasan pada magnetic holder 3. Tombol start ditekan , bola akan jatuh dan timer akan mulai menghitung waktu jatuh bebasnya 4. Setelah sensor infrared mendeteksi bola besi, maka timer akan berhenti menghitung 5. Waktu yang tercatat pada timer dibaca 6. Percobaan yang sama diulangi untuk variasi nilai ketinggian (h) lain, untuk masing-masing nilai ketinggian dilakukan tiga kali percobaan. Data dan Grafik Tabel 4.1 Tabel hasil pengukuran waktu (t) terhadap ketinggian (h) Percobaan gerak jatuh bebas

V.

no
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

h (mm)
100 120 140 160 180 200 220 240 260 280 300 320 340 360 380 400 420 440 460 480

t (ms) t1
132 147 162 174 186 197 207 217 226 235 246 254 262 269 278 286 292 299 307 313

t2
131 147 160 174 186 197 207 217 226 235 245 254 261 270 279 284 291 299 306 313

t3
131 146 161 174 186 197 207 217 226 236 245 254 261 269 277 285 292 299 307 313

Tabel 4.2 Tabel data setelah dilakukan perhitungan t rata-rata

no
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

h (m)
0.1 0.12 0.14 0.16 0.18 0.2 0.22 0.24 0.26 0.28 0.3 0.32 0.34 0.36 0.38 0.4 0.42 0.44 0.46 0.48

t rata-rata (s)
0.131 0.147 0.161 0.174 0.186 0.197 0.207 0.217 0.226 0.235 0.245 0.254 0.261 0.269 0.278 0.285 0.292 0.299 0.307 0.313

Tabel 4.3 Tabel hasil pengukuran waktu (t) terhadap ketinggian (h) Percobaan ayunan matematis no 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 l (cm) 80 78 76 74 72 70 68 66 64 62 60 t (ms) t1 1799 1777 1750 1734 1706 1682 1663 1628 1608 1585 1558

t2 1802 1774 1750 1729 1704 1680 1658 1635 1607 1582 1558

t3 1797 1774 1753 1728 1705 1683 1656 1629 1606 1579 1552

12 13 14 15 16 17 18 19 20

58 56 54 52 50 48 46 44 42

1531 1506 1475 1448 1421 1391 1365 1334 1300

1529 1506 1476 1446 1421 1391 1361 1333 1304

1533 1503 1475 1448 1419 1392 1361 1334 1303

Tabel 4.4 Tabel data setelah dilakukan perhitungan t rata-rata

no 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

l (m) 0.8 0.78 0.76 0.74 0.72 0.7 0.68 0.66 0.64 0.62 0.6 0.58 0.56 0.54 0.52 0.5 0.48 0.46 0.44 0.42

t rata-rata (s) 1.799 1.775 1.751 1.730 1.705 1.682 1.659 1.631 1.607 1.582 1.556 1.531 1.505 1.475 1.447 1.420 1.391 1.362 1.334 1.302

Gambar 4.1 Grafik hubungan antara ketinggian bola dijatuhkan (h) dengan kuadrat 2 Waktu tempuh bola (t )

Gambar 4.2 Grafik hubungan antara panjang tali bandul (l) dengan kuadrat periode 2 Ayunan bandul (T )

VI.

Analisa data dan Perhitungan Untuk mendapatkan nilai percepatan gravitasi (g) dari percobaan gerak jatuh bebas digunakan persamaan sebagai berikut : = () ( ) 20 0,391529 5,8 1,15529 1,129893 = = = 0,2124 2 ( )2 20 1,948 (5,8)2 5,32 ( )2 = 2 2 ( )2 0 =0 2 2 ( )2

Sehingga , = 2 2 = = 9,4 / 2 0,2124

Karena m sama dengan 0, maka g pun akan bernilai 0. Begitupula dengan penghitungan nilai percepatan gravitasi (g) dari percobaan ayunan bandul matematis digunakan persamaan sebagai berikut : = () ( ) 20 31,1288 12,2 49,2652 21,54 = = = 4,049 2 2 2 ( ) 20 7,708 (12,2) 5,32

Dengan m sebagai berikut : 2 2


2

0 2 2

=0

Sehingga, =
4 2

39,478 4,049

= 9,75 / 2

Karena m sama dengan 0, maka g pun akan bernilai 0.

VII.

Pembahasan Pengukuran nilai percepatan gravitasi ini dilakukan di laboratorium dengan menggunakan metode gerak jatuh bebas dan ayunan bandul matematis. Metode ini sudah cukup baik digunakan sebagai dasar pengukuran nilai percepatan gravitasi. Karena sudah didukung alat-alat yang cukup memadai, misalnya timer dengan orde milisekon (ms) dan mistar dengan orde millimeter (mm). Data hasil pengukuran juga dinilai sudah cukup baik, dengan 20 variasi ketinggian (h) (pada metode gerak jatuh bebas) dan panjang tali (l) (pada metode ayunan bandul matematis) disertai dengan tiga kali pengambilan data selang waktu (t) dan periode (T) untuk setiap variasi h dan l sudah cukup dapat meminimalisir kesalahan dalam pengukuran. Sementara dari hasil penghitungan nilai percepatan gravitasi didapat nilai 9,4 2 m/s dari percobaan dengan metode gerak jatuh bebas, sedangkan dari percobaan dengan metode ayunan bandul matematis didapat nilai percepatan gravitasi sebesar 9,75 m/s2 . adanya perbedaan nilai percepatan gravitasi dari kedua metode yang digunakan dimungkinkan karena adanya kesalahan dalam membaca ketinggian (h) dan panjang tali (l). kesalahan lain yang mungkin adalah nilai sudut ( ) dalam simpangan bandul matematis sebelum diayunkan harus sangat kecil dan dibuat konstan, karena keterbatasan praktikan maka sangat mungkin sudut () yang dibentuk dan besar simpangan awal tidak konstan, sehingga mempengaruhi perhitungan akhir nilai percepatan gravitasi. Kesimpulan 1. Nilai percepatan gravitasi di lokasi pengukuran (Laboratorium Geofisika FMIPA UGM) adalah sebesar : 9,4 m/s2 , diukur dengan metode gerak jatuh bebas . 9,75 m/s2 , diukur dengan metode ayunan bandul matematis. 2. Grafik hubungan antara ketinggian terhadap selang waktu yang dibutuhkan bola besi untuk mencapai sensor infrared akan sebanding, bilamana nilai ketinggian (h) semakin besar, maka nilai selang waktu sampai (t) akan semakin besar pula. Begitu juga dengan grafik hubungan antara panjang tali (l) terhadap periode ayunan (T), semakin panjang tali ayunan bandul maka nilai periode ayunan bandul akan semakin lama.

VIII.

IX.

Daftar Referensi Suparwoto, Drs., M.Sc., . 2012. Instrumentasi Geofisika Teori dan Aplikasi Instrumentasi dalam Geofisika . Yogyakarta.