Anda di halaman 1dari 62

NASKAH AKADEMIK RAPERDA PEREMAJAAN ANGKUTAN UMUM BERMOTOR PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta adalah daerah provinsi yang mempunyai keistimewaan dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam bunyi pasal 1 ayat (1) Undang-Undang No. 13 Tahun 2012 tentang

Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta. Yogyakarta memang istimewa, baik ditinjau dari aspek sejarahnya, budayanya, pendidikan, maupun aspek yang lain. Keistimewaan inilah yang sudah selayaknya kita jaga bersama. Meskipun Istimewa, Daerah Istimewa Yogyakarta atau dalam hal ini kota Yogyakarta sebenarnya sama dengan kota-kota besar yang lain di pulau Jawa seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, dan Malang. Yogyakarta adalah pusat pemerintahan, pusat perekonomian, dan pusat pendidikan. Bila ditinjau dari pemerintahan, Yogyakarta merupakan ibukota provinsi DIY yang sudah jelas bahwa pusat pemerintahan provinsi dan kota ada disana. Ditinjau dari perekonomian, Yogyakarta merupakan pusat perputaran uang yang ada di DIY. Adanya beberapa pusat perekonomian seperti Malioboro, pasar tradisional, pasar swalayan, dll merupakan beberapa bukti bahwa roda perekonomian DIY ada di kota Yogyakarta. Ditinjau dari pendidikan, predikat Yogyakarta sebagai kota pelajar memperkuat bahwa Yogyakarta memanglah pusat pendidikan. Yogyakarta sebagai pusat pemerintahan, pusat perekonomian, dan pusat pendidikan tersebut tentunya mempunyai dampak terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakatnya. Dan yang paling nyata terlihat adalah masalah kepadatan penduduk. Ini adalah dampak langsung dari predikat Yogyakarta sebagai kota pelajar. Tiga perguruan tinggi negeri dan ratusan perguruan tinggi swasta menjadi bukti konkrit bahwa Yogyakarta memanglah kota pelajar.

Sudah tidak terhitung lagi berapa jumlah persis mahasiswa yang ada di Yogyakarta. Universitas Gadjah Mada sebagai universitas terbesar di Yogyakarta pada tahun 2013 menerima sekitar 9.000 mahasiswa baru. Universitas Negeri Yogyakarta pada tahun 2013 menerima sekitar 7.000 mahasiswa baru. Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga pada tahun 2013 menerima sekitar 4.000 mahasiswa baru. Belum lagi perguruan tinggi swasta. Setiap tahunnya selalu berulang seperti itu. Sedangkan tingkat kelulusan mahasiswa setiap tahunnya tidak seimbang dengan jumlah mahasiswa baru yang datang ke Yogyakarta. Bisa dibayangkan sendiri betapa padatnya Yogyakarta jika terus terjadi kondisi yang seperti ini. Kepadatan Yogyakarta ini mempunyai dampak pada beberapa aspek kehidupan warganya. Mulai tingkat keamanan, tingkat perekonomian, sampai tingkat kelancaran di dalam berlalu lintas. Kasus pencurian yang akhir-akhir ini banyak terjadi merupakan salah satu dampak dari adanya kepadatan yang ada di Yogyakarta. Para pelaku kejahatan dapat dengan leluasa mengintai siapa saja yang dianggapnya berpeluang. Tidak pandang bulu, baik dari kaum proletarian sampai kaum dengan strata sosial tinggi. Berkaitan dengan tingkat perekonomian, dengan jumlah penduduk yang padat tersebut akan membuat perputaran uang di Yogyakarta lebih cepat. Alur perekonomian di Yogyakarta bisa dikatakan lancar. Yang terakhir terkait dengan kelancaran dalam berlalu lintas. Jalanan kota Yogyakarta kian tahun kian padat. Pada jam-jam sibuk semisal pagi hari maupun sore hari atau pada saat malam minggu, jalanan kota Yogyakarta sangatlah padat. Inilah dampak konkrit dari adanya kepadatan penduduk yang ada di Yogyakarta. Kepadatan di Yogyakarta memang belumlah separah di Jakarta. Tapi dengan kondisi yang ada seperti ini, dengan penambahan jumlah kendaraan bermotor setiap tahun tanpa dibarengi penambahan ruas jalan, maka Yogyakarta akan menjadi Jakarta selanjutnya dalam kurun waktu 5 - 10 tahun mendatang. Pertumbuhan jumlah kendaraan di Yogyakarta terhitung menginjak angka yang fantastis. Dinas Pengelolaan Kas dan Aset Daerah (DPKAD) DIY mencatat total kendaraan bermotor baik roda dua maupun roda empat mencapai 1.053.482 unit per Oktober 2012. Sedangkan laju pertumbuhan kendaraan bermotor DIY mencapai 105.628 unit kendaraan baru di DIY yang terdiri dari 93.849 unit roda

dua dan 11.809 unit roda empat sejak Januari hingga Oktober 2012. Jumlah yang cukup fantantis mengingat DIY merupakan provinsi dengan wilayah yang relatif kecil. Dan jumlah tersebut akan semakin bertambah setiap tahunnya. Masyarakat cenderung memilih menggunakan kendaraan pribadi

dibandingkan dengan kendaraan umum karena: 1. 2. Fasilitas kendaraan umum yang kurang nyaman bagi para penggunanya. Rendahnya kualitas pelayanan angkutan umum di perkotaan Indonesia menyebabkan masyarakat lebih menyukai menggunakan kendaraan pribadi. 3. Fasilitas kendaraan umum yang kurang memadai bagi anak-anak, ibu hamil, orang difabel. 4. Tidak adanya fasilitas atau perlakuan khusus bagi ibu hamil, anak-anak dan orang-orang difabel jika menggunakan kendaraan umum darat bermotor. Contohnya dalam bis kota dimana tidak disediakan bangku yang diprioritaskan bagi golongan tersebut. 5. 6. Rute kendaraan umum yang belum menyentuh semua daerah. Masih banyaknya daerah yang tidak tersentuh akses kendaraan umum darat bermotor sama sekali. Adanya tumpang tindih rute dari kendaraan umum angkutan darat. contoh konret adalah tidak adanya rute bis kota yang melewati Jl. Sagan. 7. 8. Kurangnya keamanan bagi para pengguna kendaraan umum Tindakan kriminal seperti pencopetan dan hipnotis masih kerap terjadi di dalam Angkutan Umum Darat Bermotor darat yang ada di Yogyakarta, terutama terjadi di dalam bis kota. 9. Umur kendaraan umum yang sudah sangat tua sehingga mengurangi rasa nyaman dan rasa aman. 10. Keadaan fisik dan fasilitas dari kendaraan umum yang tua mengurangi rasa nyaman. Dilain pihak, kondisi mesin kendaraan tua yangtudak terawatt, sangat riskan menyebabkan kecelakaan sehingga mengurangi rasa aman bagi para penumpang.Jumlah kendaraan umum yang

terbatas, sehingga tidak semua penduduk dapat diangkut menggunakan kendaraan umum Dalam rangka mengurai kemacetan yang ada di Yogyakarta tersebut, ada beberapa cara yang dapat dilakukan oleh pemerintah. Antara lain penyediaan kantong-kantong parkir, menetralisasi bahu jalan agar nyaman untuk pejalan kaki, adanya car free day, maupun melakukan perbaikan terhadap angkutan umum. Diantara beberapa pilihan tersebut, yang paling dimungkinkan untuk segera dilakukan adalah dengan melakukan perbaikan terhadap angkutan umum. Salah satu sebab penggunaan kendaraan pribadi oleh sebagian besar masyarakat Yogyakarta dikarenakan kondisi kendaraan umum yang tidak aman, tidak nyaman, dan tidak layak jalan. Kursi rusak, AC yang sudah tidak berfungsi, bodi kendaraan kropos, tingkat emisi yang tinggi, asap yang berwarna hitam pekat, dan masalah-masalah terkait lainnya merupakan gambaran kendaraan umum yang ada di Yogyakarta saat ini. Dilihat dari sisi penyedia jasa angkutan umum, menciptakan angkutan umum yang aman, nyaman, dan layak jalan merupakan sebuah hal yang dicitacitakan. Namun hal tersebut belum dapat mereka lakukan karena beberapa hal. Salah satu penyebabnya adalah masalah finansial. Pendapatan yang mereka dapatkan tidak sebanding dengan apa yang harus mereka keluarkan. Penyedia jasa angkutan umum di Yogyakarta sering mengalami kerugian daripada memperoleh keuntungan. Mereka rela kebut-kebutan dengan angkutan umum yang lain guna mendapatkan uang setoran. Minimnya hasil yang didapat itulah yang mengakibatkan para penyedia jasa angkutan umum tidak mampu melakukan perawatan apalagi peremajaan armadanya. Pemerintah dalam hal ini haruslah jeli melihat keadaan seperti ini. Tidak hanya melihat dari sisi masyarakat umum saja, tapi juga melihat dari sisi penyedia jasa angkutan umum tersebut. Tidak hanya memaksa para penyedia jasa angkutan umum untuk menyediakan armada yang aman, nyaman, dan layak jalan saja, tapi juga harus memberikan solusi konkrit agar para penyedia jasa angkutan umum dapat memenuhi permintaan pemerintah tersebut.

Ada beberapa strategi yang dapat diterapkan oleh pemerintah dalam hal ini. Mulai dari pinjaman modal kepada kepada penyedia jasa angkutan umum, adanya penyediaan angkutan umum oleh pemerintah, adanya proyek angkutan tua untuk dibesi tuakan, dan masih banyak lainnya. Strategi- strategi tersebut dapat dilakukan dengan penyusunan sebuah Peraturan Daerah tentang Peremajaan Angkutan Umum Darat Bermotor. Perlunya pengaturan tentang Peremajaan Angkutan Umum Darat Bermotor secara tersendiri disebabkan oleh belum adanya peraturan daerah Daerah Istimewa Yogyakarta yang mengatur tentang hal tersebut. Perlunya diatur di dalam peraturan daerah agar masing-masing pihak yang terlibat di dalam strategi pemerintah dalam rangka melakukan perbaikan angkutan umum tersebut mendapatkan kepastian hukum atas apa yang dia lakukan. Peraturan daerah tersebut diharapkan akan mengatur secara komprehensif mengenai asas dan tujuan, standarisasi kendaraan umum darat, hak dan kewajiban pengelola atau penyedia jasa angkutan umum, tugas, kewajiban, dan kewenangan pemerintah daerah, strategi-strategi dalam rangka melakukan peremajaan kendaraan umum darat, serta sanksi-sanksi bagi para pihak yang melakukan pelanggaran terhadap peraturan daerah ini. Sasaran yang ingin diwujudkan oleh peraturan daerah ini adalah mengetahui penyebab utama dari banyaknya penyedia jasa kendaraan / angkutan umum darat untuk tidak melakukan perawatan terhadap armadanya,

terumuskannya pengaturan terkait standarisasi fasilitas kendaraan / angkutan umum yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, terumuskan pengaturan terkait hak dan kewajiban para penyedia jasa kendaraan / angkutan umum darat, terlaksananya pengaturan terkait tugas, kewajiban, dan kewenangan pemerintah selaku pemangku kebijakan terkait dengan kendaraan / angkutan umum ini dan membuat strategi yang bisa dilakukan untuk melakukan peremajaan kendaraan / angkutan umum darat sehingga tercipta sebuah kendaraan / angkutan umum yang aman, nyaman, dan hemat dari segi waktu dan biaya. Dalam rangka mencapai sasaran tersebut, dibentuklah tim untuk menyusunan Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah tentang Peremajaan

Angkutan Umum Darat Bermotor dengan melakukan pengkajian dan mempelajari pengaturan serta pengalaman daearah lain dalam menangani permasalahan yang serupa. Dengan adanya Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah ini nantinya, maka diharapkan upaya pemerintah dalam rangka menciptakan transportasi masal yang aman, nyaman, dan lancar kepada masyarakat terwujud.

B. Identifikasi Masalah 1. Permasalahan terkait yang muncul mengenai pentingnya pengaturan segera oleh Pemerintah Daerah mengenai peremajaan angkutan umum darat bermotor adalah dirasa kurangnya kesadaran masyarakat akan permasalahan sosial dan lingkungan, yang lebih spesifik kali ini mengarah kepada permasalahan kemacetan dan emisi gas buang kendaraan bermotor. Permasalahan kemacetan ini akan berimbas pada ketidakteraturan tata kota. Sedangkan emisi gas buang yang tidak sesuai standard lama kelamaan akan menimbulkan polutan yang melebihi ambang batas dan menjadi permasalahan lingkungan yang kompleks dan berimbas pada kesehatan masyarakat. Selain itu hal ini bisa juga dianggap sebagai pengurangan hak hidup masyarakat untuk hidup di lingkungan yang terjamin kenyamanan dan kebersihannya. 2. Permasalahan berikutnya yang menjadi pokok pengaturan dalam peremajaan angkutan umum darat bermotor adalah mengenai apa yang menjadi penyebab utama dari banyaknya penyedia jasa kendaraan / angkutan umum darat untuk tidak melakukan perawatan terhadap armadanya, bagaimana pengaturan terkait standarisasi fasilitas

kendaraan / angkutan umum yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, pengaturan terkait hak dan kewajiban para penyedia jasa kendaraan / angkutan umum darat di Daerah Istimewa Yogyakarta, pengaturan terkait tugas, kewajiban, dan kewenangan pemerintah selaku pemangku kebijakan terkait dengan

kendaraan / angkutan umum darat di Daerah Istimewa Yogyakarta dan bagaimana strategi yang bisa dilakukan untuk melakukan peremajaan kendaraan / angkutan umum darat sehingga tercipta sebuah kendaraan / angkutan umum yang aman, nyaman, dan hemat dari segi waktu dan biaya. 3. Permasalahan terkait perundang-undangan sebelumnya yang mengatur hal yang sama adalah mengenai kurang effektif dan kurang berfungsinya strategi implementasi dalam menciptakan angkutan umum darat bermotor yang aman dan nyaman. Sehingga hal ini kurang solutif dalam mengurangi kemacetan. Masyarakat menjadi lebih berminat dengan kendaraan pribadi. Kurang baiknya manajemen pengelolaan angkutan umum darat bermotor juga menjadi permasalahan yang harus diselesaikan. 4. Sasaran yang ingin diwujudkan dalam peremajaan angkutan umum darat bermotor adalah sebagai berikut: a. Mengetahui penyebab utama dari banyaknya penyedia jasa kendaraan / angkutan umum darat untuk tidak melakukan perawatan terhadap armadanya b. Terumuskannya pengaturan terkait standarisasi fasilitas kendaraan / angkutan umum yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. c. Terumuskan pengaturan terkait hak dan kewajiban para penyedia jasa kendaraan / angkutan umum darat. d. Terlaksananya pengaturan terkait tugas, kewajiban, dan

kewenangan pemerintah selaku pemangku kebijakan terkait dengan kendaraan / angkutan umum ini. e. Membuat strategi yang bisa dilakukan untuk melakukan

peremajaan kendaraan / angkutan umum darat sehingga tercipta sebuah kendaraan / angkutan umum yang aman, nyaman, dan hemat dari segi waktu dan biaya.

C. Tujuan dan Kegunaan Kegiatan Penyusunan Naskah Akademik 1. Tujuan Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah ini adalah bahan awal yang memuat gagasan-gagasan tentang urgensi,

pendekatan, luas lingkup dan materi muatan dan digunakan untuk merumuskan pokok-pokok pikiran yang akan menjadi bahan dan dasar bagi penyusunan Rancangan Peraturan Daerah tentang Peremajaan Angkutan Umum Darat Bermotor tersebut. 2. Kegunaan penyusunan Naskah Akademik Raperda Peremajaan Angkutan Umum Darat Bermotor ini adalah merupakan masukan pemikiran dalam penyusunan Rancangan Peraturan Daerah tentang Peremajaan Kendaraan Umum dan/atau sebagai acuan atau referensi penyusunan dan pembahasan Rancangan Peraturan Daerah tersebut.

D. Metode Kajian 1. Tipe Kajian dan Pendekatannya Metode pendekatan yang digunakan dalam penyusunan Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah tentang Peremajaan

Angkutan Umum Darat Bermotor adalah metode yuridis normatif. Metode yuridis normatif merupakan yaitu penelitian yang mengacu kepada norma-norma hukum yang terdapat dalam peraturan

perundang-undangan, keputusan pengadilan dan norma-norma yang berlaku dan mengikat masyarakat atau juga menyangkut kebiasaan yang berlaku di masyarakat.1Penelitian ini dilakukan secara deduktif dimulai terhadap pasal-pasal dalam peraturan perundang-undangan yang mengatur terhadap permasalahan di atas. Pendekatan secara yuridis merupakan penelitian yang mengacu pada studi kepustakaan yang ada ataupun terhadap data sekunder yang digunakan. Di sisi lain pendekatan yang bersifat normatif merupakan penelitian hukum yang bertujuan untuk memperoleh pengetahuan

Lihat Lawrence M. Friedman, American Law, (New York: W.W. Norton & Co., 1984), hal. 6-8.

normatif tentang hubungan antara satu peraturan dengan peraturan lain serta penerapan dalam praktek.2 Metode pendekatan lainnya digunakan dalam penyusunan Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah tentang Peremajaan Angkutan Umum Darat Bermotor kali ini adalah metode sosio-legal atau metode empiris. Metode empiris merupakan penelitian yang diawali dengan penelitian normatif guna menelaah peraturan perundang-undangan, kemudian dilanjutkan dengan melibatkan ahli/pakar dari kalangan akademisi, praktisi, penguasa, penyedia jasa angkutan umum, masyarakat, dan lain sebagainya.

2. Jenis Data dan Cara Perolehannya a. Penelitian Kepustakaan

b. Forum Group Discussion (FGD) 3. Analisis Data

LP3M Adil Indonesia, 21 Januari 2011, Tentang Metode Penelitian, http://lp3madilindonesia.blogspot.com/2011/01/divinisi-penelitian-metode-dasar.html, 16 Desember 2013

BAB II KAJIAN TEORITIS TERHADAP KONSEP PEREMAJAAN ANGKUTAN UMUM DARAT BERMOTOR DAN PRAKTIK EMPIRIS

A. Kajian terhadap praktik penyelenggaraan, kondisi yang ada, serta permasalahan yang dihadapi masyarakat. Kemacetan adalah fenomena yang tidak asing lagi bagi warga Yogyakarta, kondisi dimana jumlah kendaran semakin meningkat dengan kenyataan tidak dapat ditambahnya ruas jalan adalah salah satu penyebab dari kemacetan ini. Setiap tahunnya angka pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor semakin meningkat. Namun jumlah kendaraan yang terus meningkat ini tidak di dukung dengan pengurangan kendaraan yang sudah tidak layak pakai sehingga volume kendaraan di jalan akan tetap meningkat dan kondisi jalan akan bertambah padat. Jumlah total kendaraan bermotor yang saat ini ada di Daerah Istimewa Yogyakarta per Oktober 2012 adalah 1.053.482 unit yang terdiri dari 925.445 unit

kendaraan roda 2 dan 128.027 unit kendaraan roda 4.3 Sedangkan, jumlah kendaraan baru yang terdapat di Yogyakarta terhitung sejak Januari hingga Oktober 2012 adalah 105.628 unit yang terdiri dari 93.849 unit kendaraa roda 2 dan 11.809 unit kendaraan roda empat. Angka ini merupakan jumlah yang cukup besar mengingat pertambahan jumlah kendaraan ini tidak diikuti dengan penanganan kendaraan tua yang sudah tidak layak pakai lagi. Kondisi ini dapat menimbulkan banyak dampak negative, yang mana diantaranya adalah tingkat polusi udara yang semakin besar yang dapat berakibat buruk bagi kesehatan masyarakat, pemborosan bahan bakar yang saat ini jumlahnya semakin sedikit dan kemacetan yang dapat mengganggu mobilitas masyarakat Pemerintah Negara tersebut menetapkan kebijakan bagi kendaraan yang beroprasi di Negara tersebut Salah satu kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah singapura adalah Preferential Additional Registration Fee (PARF), kebijakan ini bertujuan untuk mengurngi jumlah kendaraan lama yang sudah tidak laya pakai. Hal ini jelas menangani jumlah kendaran yang ada di Singapura. Rata rata pertumbuhan kendaraan bermotor di Kabupaten Sleman sejak tahun 2001 sampai dengan 2010 adalah 9,8% per tahun, sedangkan sejak tahun 2001 sampai dengan 2010, Kota Yogyakarta memiliki rata rata pertumbuhan kendaraan bermotor 5,8%., Hal ini dapat dilihat pada bagan yang terdapat pada gambar dibawah ini

Munawar, A.a. 2013. Rombak Sistem Transportasi DIY, Koran Kedaulatan Rakyat Tgl 03 Januari 2013 hal. 1. Yogyakarta.

Pertumbuhan Jumlah Kendaraan Bermotor di Kabupaten Sleman


14 12 10 8 6 4 2 0 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Persentase (%)

Gambar 1 Pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor di Kabupaten Sleman Tahun 2001-2010

Pertumbuhan Jumlah Kendaraan Bermotor di Kota Yogyakarta


9 8 7 6 5 4 3 2 1 0 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Persentase (%)

Gambar 2 Pertumbuhan Jumlah Kendaraan Bermotor di Kota Yogyakarta Tahun 2001 - 2010

Dari perbandingan data di atas, dapat disimpulkan bahwa jumlah rata-rata pertumbuhan kendaraan bermotor kota Yogyakarta lebih rendah dibandingkan dengan Kabupaten sleman. Walaupun tidak stabil namun jumlah pertumbuhan ini hampir setiap tahun mengalami peningkatan. Apabila kenaikan angka ini terus terjadi maka bukan hal yang aneh apabila di Tahun 2015 nanti Yogyakarta menjadi kota dengan tingkat kemacetan yang tinggi seperti Kota Jakarta saat ini. Meningkatnya angka pertumbuhan kendaraan bermotor ini dipicu oleh beberapa alasan yaitu 1. Pelayanan angkutan umum yang tidak memberikan keamanan, kenyamanan, dan ketepatan waktu bagi penumpang Hal ini dapat terlihat dari masih banyaknya jumlah kendaraan umum tua yang masih dioperasikan dan kurangnya perawatan bus atau angkutan umum. Kendaraan bermotor merupakan salah satu dari produk teknologi yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomis. Kendaraan bermotor terdiri dari ribuan komponen yang bekerja keras mengawal mobilitas Anda sehari hari yang mana komponen komponen tersebut memerlukan perawatan agar kesatuan komponen tersebut dapat melakukan fungsinya dengan bai. pada dasarnya seua kendaraan memerlukan perawatan dan sevice berkala untuk menjaga kondisi kendaraan serta menjaga kenyamanan dan keamanan saat menggunakan kendaraan tersebut.Pada kenyataanya, biaya perawatan kendaraan saat ini semakin tinggi. Menurut Keputusan Direktorat Jendral Perhubungan Darat Nomor SK.687/AJ.206/DRJD/ 2002 dan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM. 89 Tahun 2002, komponen biaya operasi kendaraan sendri dibagi dalam 3 kelompok yang masing masing masig memiliki subkompon, yaitu : a. biaya tetap (Standing Cost) Yang terdiri dari Biaya modal kendaraan, biaya penyusutan, biaya perijinan dan administrasi serta biaya asuransi b. biaya tidak tetap (Running Cost)

Biaya tidak tetap merupakan biaya yang dikeluarkan pada saat kendaraan beroperasi. Komponen biaya yang termasuk ke dalam biaya tidak tetap ini adalah : i. ii. iii. iv. v. Biaya Bahan Bakar Biaya Pemakaian Ban Biaya Perawatan dan Perbaikan Kendaraan Biaya Pendapatan Sopir Biaya Retribusi Terminal

c. biaya overhead. Jika dilihat dari data diatas, maka bukanlah hal yang aneh apabila perawatan kendaraan jarang dilakukan oleh penyedia jasa angkutan umum dan berakibat pada kondisi kendaraan yang buruk dan tidak layak lagi untuk digunakan. untuk menjaga agar keadaa kendaraan prima dibutuhkan biaya yang tidak sedikit, namun penghasilan yang dihasilkan tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk menjaga kondisi kendaraan. Biaya operasional akan lebih besar dibandingkan dengan pendapatan yang didapat.

2. Harga kendaraan bermotor yang samakin terjangkau oleh masyarakat. Semakin berkembangnya globalisasi dan moderenisasi di Dunia berdampak pada semakin besarnya kebutuhan masyarakat akan media transportasi untuk mobilitasnya sehari hari, hal ini menjadikan industry otomotif untuk saling berkompetisi untuk menciptakan alat trasnportasi yang murah, berkualitas bagus sehingga akan diminati oleh masyarakat. Dewasa ini, Indonesia sedang gencar gencarnya meluncurkan program low cost green car yang dianggap dapat memuhi kebutuhan akan ala transportasi dan mobilitas masyarakat dan ramah akan lingkungan. Namun keberadaan mobil murah ini masih mengundang pro dan kontra, keberadaan mobil murah ini akan mengakibatkan semakin banyaknya jumlah kendaraan bermotor dan semakin memperparah kemacetan yang

terjadi.Keberadaan mobil murah ini bukanlah solusi yang baik dalam menangani besarnya kebutuhan masyarakat akan alat transportasi.

3. Anggapan bahwa kendaraan pribadi masyarakat

lebih efektif dan efisien oleh

Pelayanan angkutan umum yang tidak memberikan kenyamanan dan keamanan serta semakin terjangkaunya harga kendaraan bermotor saat ini mengakibatkan timbulnya anggapan masyarakat bahwa kendaraan pribadi dirasa akan lebih efektif dan efisien untuk memenuhi kebutuhan mobilitasnya sehari hari. Kedua faktor diatas dan anggapan masyarakat adalah alasan mengapa semakin banyaknya masyarakat yang beralih untuk menggunakan kendaraan pribadi dibandingkan kendaraan umum.

B. Kajian terhadap implikasi penerapan sistembaru yang akan diatur dalam Undang-Undang atau Peraturan Daerah terhadap aspek kehidupan masyarakat dan dampaknya terhadap aspek keuangan negara. Angkutan umum merupakan salah satu moda transportasi alternative yang memiliki banyak dampak positif. Keberadaan angkutan umum merupakan salah satu cara untuk mengatasi kebutuhan mobilitas masyarakat yang semakin tinggi, kedaan jalan yang semakin padat, tingkat kemacetan yang semakin tinggi dan tingkat polusi udara yang semakin memprihatinkan. Semakin banyak masyarakat yang menggunakan kendaraan umum, semakin efektif pula penggunaan jalan raya. Kenyataannya kendaraan pribadi hanya mengangkut rata rata satu sampai dua orang dalam satu kali perjalanan, sementara dalam satu kali perjalanan, angkutan umum dapat mengangkut manusia dalam jumlah yang banyak, misalnya saja kereta api, satu kali perjalanan, kereta api dapat mengangkut sampai 500 orang. Hal ini merupakan salah satu cara yang baik untuk menangani kemacetan yang saat ini semakin parah. Penyediaan angkutan umum yang dapat menjamin kenyamanan, keamanan dan keselamatan penumpang adalah alternative terbaik untuk menangani masalah kemacetan di jalan. Realita yang ada adalah kondisi angkutan umum di

Yogyakarta saat ini sangat memprihatinkan, jadi bukan hal yang aneh apabila masyarakat banyak beralih dari kendaraan umum ke kendaraan pribadi. Untuk meangani masalah tersebut, maka diperlukan ketentuan standar bagi para penyedia jasa angkutan umum baik yang dikelola oleh pemerintah ataupun swasta. Dengan keberadaan ketentuan standar ini, pengelola jasa angkutan umum, mau tidak mau akan melakukan perawatan terhadap kendaraan yang nantinya dapat memberikan kenyamanan kepada masyarakat dan menarik minat masyarakat untuk menggunakan kendaraan umum dan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi. Standarisasi fasilitas angkutan umum dilakukan dengan jalan melakukan peremajaan kendaraan. Banyaknya jumlah kendaraan umum tua dengan kondisi yang sudah tidak layak pakai perlu ditanggulangi dengan penggantian armada baru yang kemadian harus dilakukan perawatan. Sistem perawatan yang baik akan memberikan keuntungan kepada pengusaha angkutan, karena meskipun kendaraan telah habis umur ekonomisnya tetapi kendaraan tersebut masih dapat dioperasikan untuk beberapa tahun lagi sehingga dapat memberikan keuntungan bagi perusahaan dan bagi pendapan daerah. Dalam penerapannya, peraturan ini juga harus didukung oleh pemerintah dengan pemberian modal kepada penyedia jasa angkutan umum terutama yang dikelola oleh pemerintah daerah. Pemberian modal dari pemerintah dapat

dilakukan dengan penyediaan Biaya modal kendaraan. Karena pada umumnya, pengusaha penyediaan jasa angkutan umum memilih system kredit dalam pemilikan kendaraan yang mana pembayaran dilakukan secara berkala (angsuran) dengan sejumlah bunga yang harus di bayarkan. Dengan pemberian modal berupa biaya modal kendaran bagi penyedia jasa angkutan umum, maka pengusaha jasa angkutan umum dapat focus dalam mengelola penghasilannya untuk melakukan perawatan kendaraan dan

memperbaiki kualitas jasa untuk menarik minat masyarakat menggunakan kendaraan umum. Bantuan lain yang dapat diberikan pemerintah adalah dengan mempermudah perijinan dan administrasi bagi pengusaha jasa angkutan umum.

Pemberian modal ini juga harus didukung dengan pengawasan penerapan peraturan agar modal dasar yang bertujuan untuk memperbaikin sistem transportasi umum tadi dapat direalisasikan dan nantinya dapat menarik minat masyarakat lagi untuk menggunakan kendaraan umum, menambah pendapatan daerah dan mengurangi kemacetan di jalan. Penggantian armada angkutan umum yang lama dengan armada baru nantinya juga dapat digunakan untuk menambah pendapatan daerah dengan cara mendaur ulang besi kendaraan tua agar armada tua tadi tidak menjadi sampah yang menumpuk. Penggantian armada tua dengan armada baru ini juga didukung oleh penyediaan tempat penampungan bagi kendaraan tua yang sudah tidak layak pakai sebelum akhirnya kendaraan kendaraan ini didaur ulang. Peremajaan angkutan umum ini nantinya akan memberikan pelayanan yang leih baik serta jaminan keselamatan bagi para pengguna jasa angkutan umu diharapkan akan menarik minat masyarakat untuk kembali menggunakan angkutan umum demi mengurangi kemacetan dijalan, mengurangi penggunaan bahan bakar yang semakin berkuran, serta mengurangi polusi udara. Efisiensi dalam mobilitas yang ditawarkan oleh angkutan umum merupakan cara terbaik untuk mengurangi kepadatan di jalan yang diakibatkan oleh semakin banyaknya jumlah kendaraan dijalan baik kednaraan roda dua ataupun kendaraan roda empat. Hal lain yang menjadi sasaran dari penerapan peraturan ini adalah perbaikan management perusahaan penyedia jasa angkutan umum. Dengan adanya peraturan mengenai standarisasi fasilitas angkutan umum ini juga diharpak perusahaan jasa angkutan umum dapat memberikan pengajaran dan pelajaran bagi para sopir angkutan umum agar tetap tertib dalam berkendara. Faktor ini dapat mendjadi faktor pendukung untuk merealisasikan peningkatan jaminan

keselamatan bagi penumpang. Kebijakan peremajaan angkutan umum ini diharapkan akan mendapat respon yang baik dari masyarakat dikarenakan dengan adanya kebijakan peremajaan angkutan kota ini membawa berbagai dampak positif bagi pelayanan publik karena dapat terciptanya keamanan, kenyamanan dan keselamatan.

BAB III EVALUASI DAN ANALISIS PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN TERKAIT

A. Hasil Inventarisasi Peraturan Perundang-undangan yang Menjadi Rujukan Sebagai Acuan Pengaturan Rancangan Peraturan Daerah Secara hirarki dan kronologis peraturan perundang-undangan yang menjadi rujukan sebagai acuan dalam pengaturan Raperda Daerah Istimewa Yogykarta tentang Peremajaan Kendaraan Umum Darat, yaitu: 1. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

2. Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437); 3. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 170, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5339); 4. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5234); 5. Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Umum Darat (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 96, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5025); 6. Peraturan Pemerintah Nomor 80 Tahun 2012 tentang Tata Cara Pemeriksaan Kendaraan Bermotor Di Jalan Dan Penindakan Pelanggaran Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 187, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5346); 7. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1993 tentang Angkutan Jalan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1993 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3530); 8. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM. 35 Tahun 2003 tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang di Jalan Dengan Kendaraan Umum; 9. Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2008 tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2001 tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang Di Jalan Dengan Kendaraan Umum Di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta;

Setiap pemerintah daerah akan merujuk pada norma-norma yang tertuang dalam berbagai peraturan perundang-undangan tersebut dalam menyusun atau membuat peraturan daerah tentang Peremajaan Kendaraan Umum Darat. Karena itu, berbagai norma yang tertuang dalam peraturan perundangundangan tersebut akan menjadi acuan dalam penyusunan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Daerah Istimewa Yogykarta tentang Peremajaan Kendaraan Umum Darat. B. Keterkaitan Rancangan Peraturan Daerah Dengan Peraturan

Perundang-undangan yang Menjadi Rujukan Pengaturan Rancangan Peraturan Daerah Dalam menyusun Raperda tentang Peremajaan Kendaraan Umum Darat perlu diperhatikan berbagai peraturan perundang-undangan, yaitu: peraturan perundang-undangan yang setara dengan undang-undang; peraturan pemerintah; peraturan menteri; dan peraturan daerah; yang memiliki

hubungan dengan Raperda Daerah Istimewa Yogykarta tentang Peremajaan Kendaraan Umum Darat. Dengan menganalisis hubungan tersebut dapat dirancang pasal-pasal di dalam Raperda Daerah Istimewa Yogykarta tentang Peremajaan Kendaraan Umum Darat. Beberapa peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan Peremajaan Kendaraan Umum Darat antara lain: 1. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; Undang-Undang Dasar sebagai sumber dari segala peraturan perundang-undangan yang ada dibawahnya memberikan delegasi kepada daerah untuk dapat menentukan dan mengatur arah kebijakan dari masingmasing daerah. Dalam Undang-Undang Dasar Tahun 1945 sebagai peraturan perundang-undangan tertinggi dalam Negara disebutkan pada Pasal 18 ayat (6) bahwa Pemerintahan daerah berhak menetapkan peraturan daerah dan peraturan lain untuk melaksanakan otonomi dan tugas pembantuan.

Sesuai dengan bunyi dari Pasal tersebut di atas maka tidak semua urusan pemerintahan diatur dan diurus oleh pemerintah pusat, tetapi dapat diserahkan untuk diatur atau dilaksanakan atas bantuan satuan-satuan pemerintahan yang lebih rendah dalam bentuk otonomi dan tugas pembantuan. Urusan pemerintahan yang telah diserahkan dan menjadi urusan rumah tangga daerah diikuti atau disertai dengan pemberian kewenangan, sehingga daerah dapat berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dengan cara membentuk peraturan perundangundangan sendiri. 2. Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437); Peraturan perundang-undangan tersebut digunakan sebagai dasar dalam menyusun ketentuan kewajiban, tugas, tanggung jawab dan kewenangan Pemerintah Daerah Istimewa Yogykarta sebagai Daerah Otonom. Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, pemerintahan daerah, yang mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan, diarahkan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan, pelayanan, pemberdayaan, dan peran serta masyarakat, serta peningkatan daya saing daerah dengan memperhatikan prinsip demokrasi, pemerataan, keadilan, keistimewaan dan kekhususan suatu daerah dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. Untuk efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pemerintahan daerah perlu ditingkatkan dengan lebih memperhatikan aspek-aspek hubungan antar susunan pemerintahan dan antar pemerintahan daerah, potensi dan keanekaragaman daerah, peluang dan tantangan persaingan global dengan memberikan kewenangan yang seluas-luasnya kepada daerah disertai dengan pemberian hak dan kewajiban menyelenggarakan

otonomi daerah dalam kesatuan sistem penyelenggaraan pemerintahan Negara. Sebagai daerah otonom, pemerintah daerah provinsi, kabupaten dan kota, berwenang untuk membuat peraturan daerah dan peraturan kepala daerah, guna menyelenggarakan urusan otonomi daerah dan tugas pembantuan. Peraturan daerah (Perda) ditetapkan oleh kepala daerah,

setelah mendapat persetujuan bersama Dewan perwakilan Rakyat (DPRD). Substansi atau muatan materi Perda adalah penjabaran dari peraturan perundang-undangan yang tingkatannya lebih tinggi, dengan

memperhatikan ciri khas masing-masing daerah, dan substansi materi tidak boleh bertentangan dengan kepentingan umum dan/atau peraturan perundangan yang lebih tinggi. 3. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 170, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5339); Peraturan perundang-undangan tersebut merupakan dasar

pembentukan Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai suatu daerah otonom yang bersifat khusus. Sebagai suatu daerah otonom yang bersifat khusus Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta memiiki beberapa kewenangan pengaturan daerah yang berbeda dibandingkan dengan daerah otonom biasa. Kekhususan yang dimiliki oleh Pemerintah Daerah Istimewa Daerah Yogyakarta Istimewa memberikan Yogyakarta kemungkinan dalam bahwa

Pemerintah

penyelenggaraan

pemerintahan di daerah dapat mengacu pada sistem otonomi khusus yang dimilikinya. Penyelengaraan pemerintahan daerah dalam suatu daerah

otonom khusus tidak mutlak harus sesuai dengan Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah namun dapat memperhatikan terkait pada corak kekhususan yang dimiliki sebagai suatu daerah otonom khusus.

4. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5234); Dalam penyusunan Raperda tentang Peremajaan Kendaraan Umum Darat maka secara umum Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, digunakan sebagai

pedoman teknis yuridis dalam penyusunan Raperda tentang Peremajaan Kendaraan Umum Darat. Sehingga Raperda itu nanti tersusun secara sistematis dari segi asas pembentukan, jenis, hierarki, materi muatan, perencanaan, penyusunan, teknik penyusunan, pembahasan hingga akhirnya penetapan Rancangan Peraturan Daerah Istimewa Yogyakarta tentang Peremajaan Kendaraan Umum Darat menjadi Perda tentang Peremajaan Kendaraan Umum Darat. 5. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Umum Darat (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 96, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5025); Ada beberapa Pasal dalam Undang-Undang ini yang kiranya memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan Raperda tentang Peremajaan Kendaraan Umum Darat Yang Akan di tetapkan nantinya, yakni: Pasal 138 (1) Angkutan umum diselenggarakan dalam upaya memenuhi kebutuhan angkutan yang selamat, aman, nyaman, dan terjangkau. (2) Pemerintah bertanggung jawab atas penyelenggaraan angkutan umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (3) Angkutan umum orang dan/atau barang hanya dilakukan dengan Kendaraan Bermotor Umum. Pasal 139

a.

Pemerintah wajib menjamin tersedianya angkutan umum untuk jasa angkutan orang dan/atau barang antarkota antarprovinsi serta lintas batas negara.

b.

Pemerintah Daerah provinsi wajib menjamin tersedianya angkutan umum untuk jasa angkutan orang dan/atau barang antarkota dalam provinsi.

c.

Pemerintah Daerah kabupaten/kota wajib menjamin tersedianya angkutan umum untuk jasa angkutan orang dan/atau barang dalam wilayah kabupaten/kota.

d.

Penyediaan jasa angkutan umum dilaksanakan oleh badan usaha milik negara, badan usaha milik daerah, dan/atau badan hukum lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Dalam Penjelasan undang-undang ini dikatakan bahwa lalu Lintas

dan Angkutan Jalan mempunyai peran strategis dalam mendukung pembangunan dan integrasi nasional sebagai bagian dari upaya memajukan kesejahteraan umum sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Sebagai bagian dari sistem transportasi nasional, Lalu Lintas dan Angkutan Jalan harus dikembangkan potensi dan perannya untuk mewujudkan keamanan, kesejahteraan, ketertiban berlalu lintas dan Angkutan Jalan dalam rangka mendukung pembangunan ekonomi dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, otonomi daerah, serta akuntabilitas penyelenggaraan negara. 6. Peraturan Pemerintah Nomor 80 Tahun 2012 tentang Tata Cara Pemeriksaan Kendaraan Bermotor Di Jalan Dan Penindakan Pelanggaran Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 187, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5346); Ada beberapa Pasal dalam Peraturan Pemerintah ini yang kiranya memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan Raperda tentang Peremajaan Kendaraan Umum Darat Yang Akan di tetapkan nantinya, yakni:

Pasal 5 Pemeriksaan tanda bukti lulus uji bagi kendaraan wajib uji sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf b meliputi: a. kepemilikan; b. kesesuaian tanda bukti lulus uji dengan identitas Kendaraan Bermotor; c. masa berlaku; dan d. keaslian. Pasal 6 (1) Pemeriksaan fisik Kendaraan Bermotor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf c meliputi pemeriksaan atas persyaratan teknis dan persyaratan laik jalan Kendaraan Bermotor. (3) Pemeriksaan atas persyaratan laik jalan Kendaraan Bermotor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. emisi gas buang; b. kebisingan suara; c. efisiensi sistem rem utama; d. efisiensi sistem rem parkir; e. kincup roda depan; f. suara klakson; g. daya pancar dan arah sinar lampu utama; h. radius putar; i. akurasi alat penunjuk kecepatan; j. kesesuaian kinerja roda dan kondisi ban; dan/atau k. kesesuaian daya mesin penggerak terhadap berat kendaraan. Pasal 12 Pemeriksaan Kendaraan Bermotor di Jalan dapat dilakukan secara berkala setiap 6 (enam) bulan atau insidental sesuai dengan kebutuhan. Pasal 32 (1) Petugas Pemeriksa Kendaraan Bermotor di Jalan dapat melakukan penyitaan atas:

a. Surat Izin Mengemudi; b. Surat Tanda Nomor Kendaraan Bermotor; c. surat izin penyelenggaraan angkutan umum; d. tanda bukti lulus uji; e. barang muatan; dan/atau f. Kendaraan Bermotor yang digunakan melakukan pelanggaran. (5) Penyitaan atas tanda bukti lulus uji sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d dilakukan jika Kendaraan Bermotor tidak memenuhi persyaratan teknis dan persyaratan laik jalan atau pelanggaran daya angkut dan/atau cara pengangkutan barang. Pasal 33 a. Selain tindakan penyitaan, Petugas Pemeriksa dapat memerintahkan secara tertulis kepada pengemudi Kendaraan Bermotor yang tidak memenuhi persyaratan teknis dan persyaratan laik jalan untuk melakukan: a. pemenuhan persyaratan teknis dan persyaratan laik jalan yang tidak dipenuhi; dan/atau b. uji berkala ulang. (2) Dalam hal Kendaraan Bermotor tidak memenuhi persyaratan teknis dan persyaratan laik jalan, Petugas Pemeriksa dapat melarang atau menunda pengoperasian Kendaraan Bermotor. 7. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1993 tentang Angkutan Jalan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1993 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3530); Peraturan perundang-undangan tersebut memiliki keterkaitan erat dengan pembentukan Raperda Daerah Istimewa Yogykarta tentang Peremajaan Kendaraan Umum Darat. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1993 tentang Angkutan Jalan merupakan suatu

peraturan yang mendasari penyusunan pasal terkait dengan kendaraan umum darat sebagai suatu bagian dari sarana angkutan jalan. Dengan melihat fakta empiris bahwa kendaraan umum merupakan suatu bagian dari sarana angkutan jalan yang memiliki fungsi yang vital dan strategis bagi kesejahteraan, keamanan, serta kenyamanan masyarakat perlulah diatur pasal-pasal terkait dengan pendayagunaan kendaraan angkutan umum darat guna mewujudkan fungsi vital dan strategis dari kendaraan umum darat sebagai suatu bagian dari sarana angkutan jalan. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1993 tentang Angkutan Jalan sebagai suatu produk hukum yang memiliki susunan hierarkis lebih tinggi memberikan gambaran nyata tentang angkutan jalan secara global yang akan menjadi suatu pedoman dalam penyusunan butir pasal demi pasal dalam pembentukan Raperda Daerah Istimewa Yogykarta tentang Peremajaan Kendaraan Umum Darat yang memiliki keterkaitan baik langsung maupun tidak langsung dengan adanya peraturan tentang angkutan jalan tersebut. 8. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM. 35 Tahun 2003 tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang di Jalan Dengan Kendaraan Umum. Peraturan Perundang-Undangan Penyelenggaraan Angkutan Orang di Jalan Dengan Kendaraan Umum tersebut di dalamnya termuat pengaturan tentang pemberian ijin usaha angkutan kepada perusahaan angkutan umum. Ijin usaha angkutan dapat diberikan kepada Badan Usaha Milik Negara atau Badan Usaha Milik Daerah, badan usaha milik swasta nasional, koperasi, maupun perorangan warga negara Indonesia. Pemberian ijin tersebut disertai dengan pemberian kewajiban bagi perusahaan angkutan pemegang ijin trayek terkait, sebagian daripada kewajiban tersebut antara lain kewajiban tentang mengoperasikan kendaraan yang memenuhi persyaratan teknis dan layak jalan,

mengoperasikan kendaraan dilengkapi dokumen perjalanan yang syah yang terdiri dari kartu pengawasan, surat tanda nomor kendaraan, buku uji dan tanda uji kendaraan bermotor;

Pengaturan tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang di Jalan Dengan Kendaraan Umum yang tertuang dalam pasal demi pasal Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM. 35 Tahun 2003 tersebut hubungan keterkaitan yang erat dalam proses penyusunan Raperda Daerah Istimewa Yogykarta tentang Peremajaan Kendaraan Umum Darat yang terkait dengan ketentuan yang telah daitur dalam peraturan perundangundangan tersebut. Ketentuan dalam Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM. 35 Tahun 2003 tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang di Jalan Dengan Kendaraan Umum yang berupa produk peraturan perundang-undangan nasional akan dijadikan bahan kajian dan

pertimbangan dalam merumuskan ketentuan terkait dengan pemberian ijin usaha angkutan serta pengaturan mengenai trayek angkutan dalam Raperda Daerah Istimewa Yogykarta tentang Peremajaan Kendaraan Umum Darat. 9. Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2008 tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2001 tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang Di Jalan Dengan Kendaraan Umum Di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta; Peraturan Daerah Nomor 1 tahun 2008 tersebut sebagai aturan pelaksana dari Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM. 35 Tahun 2003 akan djiadikan suatu ketentuan rujukan dalam penyelenggaraan ketentuan-ketentuan terkait dengan teknis dari Penyelenggaraan Angkutan Orang di Jalan Dengan Kendaraan Umum di Daerah istimewa Yogyakarta. Peraturan Daerah Nomor 1 tahun 2008 akan digunakan sebagai suatu ketentuan pelaksanaan yang mengatur lebih rinci tentang pasal yang berhubungan dengan Penyelenggaraan Angkutan Orang di Jalan Dengan Kendaraan Umum yang rumusannya terdapat dalam Raperda Daerah Istimewa Yogykarta tentang Peremajaan Kendaraan Umum Darat

BAB IV

LANDASAN FILOSOFIS, SOSIOLOGIS DAN YURIDIS

A. Landasan Filosofis Menurut Plato dalam karya tulis ketiganya yang bertajuk Nomoi, mengemukakan bahwa penyelenggaraan negara yang baik ialah yang didasarkan pada pengaturan (hukum) yang baik.4 Pengaturan kehidupan berbangsa dan bernegara yang dijewantahkan dengan norma hukum menjadi landasan bergeraknya kehidupan berbangsa dan bernegara. Hukum menjadi arahan untuk bertindak dan menjadi pengawas serta pengeksekusi semua sendi kehidupan suatu negara. Hukum menjadi sebuah kekuasaan yang memiliki legitimasi atas nama rakyat dan semua aspek kehidupan baik rakyat maupun para pemangku jabatan suatu negara harus tunduk pada kedaulatan hukum. Menurut teori kedaulatan hukum atau rechts-souvereiniteit yang dikemukakan oleh Krabbe hukum merupakan kekuasaan tertinggi dalam suatu negara. Semua sikap, tingkah laku, dan perbuatan harus sesuai atau menurut hukum. Jadi menurut Krabbe yang berdaulat itu adalah hukum.5 Dari penjelasan diatas negara hukum disyaratkan adanya peraturan perundang-undangan sebagai dasar sebuah penyelenggaraan negara. Peraturan perundang-undangan dasar yang dimaksud adalah konstitusi. Istilah konstitusi menurut Wirjono Prodjodikoro6 berasal dari constituer yang artinya pembentukan. Maka konstitusi mengandung makna permulaan dari segala macam peraturan pokok mengenai sendi-sendi pertama untuk menegakan bangunan besar bernama negara. Menurut pandangan Roesseau dalam teorinya due contract social manusia tidak bisa menjamin dirinya sendiri-sendiri, sehingga membentuk perjanjian masarakat. Dari perjanjian awal tersebut akan terbentuk

Tahir Azhary, 1992, Negara Hukum, Bulan Bintang, Jakarta, hlm. 63. Lihat dalam Ridwan H.R., 2006, Hukum Administrasi Negara, Raja Grafindo Persada, Jakarta, hlm. 2. 5 Soehino, 2005, Ilmu Negara, Liberty, Yogyakarta, hlm. 156. 6 Wijono Prodjodikiro, 1977, Asas-Asas Tata Negara di Indonesia, Dian Rakyat, Jakarta, hlm. 10.

konsepsi negara, negara kemudian memperoleh segaian hak dari masyarakat untuk memasakkan peraturan demi mensejahterakan rakyat. Maka untuk menggerakannya diperlukan suatu badan lembaga dibentuk oleh rakyat yang disebut pemerintah. Diamana pembentukan dan oprasionalnya ditentukan oleh hukum yang bersumber dari kedaulatan rakyat, sehingga pemerintahannya berdasarkan hukum.7 Sehingga dapat dikatakan bahwa negara yang diinginkan oleh bangsa indonesia ialah negara yang menjamin kesejahteraan yang menjamin keadilan dan hak asasi manusia. Prinsip ini telah dituangkan dalam Pancasila sebagai phylosopische of grondslag. Dalam sila ke-5 pancasila keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia yang

mengandung prinsip yang menegaskan bahwa ketika negara ini terbentuk adalah memberikann keadilan bagi seluruh individu yang tergabung dalam bangsa indonesia. Sila kemudian ini dimanifestasikan kedalam ketentuan pasal 34 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berbunyi Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak. Ketentuan ini mengamantkan kepada Negara untuk mewujudkan adanya suatu jaminan atas pelayanan umum yang lebih baik. Terlepas dari fungsi Negara sebagai penjamin pelayanan umum yang baik, tidak dapat dipungkiri bahwa daerah juga memiliki fungsi yang sama. Hal ini dikarenakan adanya pelaksanaan otonomi daerah yang memberikan penyerahan kewenangan kewengangan dari Pemerintah pusat kepada daerah untuk mengurus rumah tangganya sendiri. Hal ini tercantum pada ketentuan pasal 18 ayat (2) Pemerintah daerah provinsi, daerah kabupaten, dan kota mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan. Ketentuan ini mengindikasikan adanya sebuah Verordnung & Autonome

Azhary, 1996, Negara Hukum Indonesia : Analisis Yuridis Normatif tentang Unsur-Unsurnya, UIPress, Jakarta, hlm. 29-30.

Satzung 8(Aturan pelaksana/Aturan otonom) seperti diusulkan oleh Hans Nawiasky yang mempunyai fungsi yang sama dengan peraturan yang lebih tinggi dan serta menjamin adanya pelaksanaan yang pasti dari fungsi Negara. Mencermati secara mendalam semangat dari semboyan provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yaitu Memayu Hayuning Bawono9 (mengusahakan/mengupayakan Keselamatan, Kebahagiaan, dan

Kesejahteraan Hidup di Dunia). Menjadi salah satu langkah dalam mewujudkan slogan tersebut adalah mengupayakan adanya jaminan dari pemerintah daerah untuk melakukan pembenahan kendaraan umum. Oleh sebab itu sangat krusial bila Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki perangkat peraturan yang memberikan jaminan mengenai pelayanan masyarakat mengenai fasilitas umum berupa kendaraan umum. Hal ini penting untuk mewujudkan adanya penerapan terhadap semboyan tersebut. Apalagi Undang-Undang Dasar 1945 sendiri memberikan kesempatan besar untuk itu melalui Pasal 18 (Perubahan II, 18 agustus 2000) ayat 5 yang berbunyi: Pemerintahan daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya, kecuali urusan pemerintahan yang oleh undang-undang ditentukan sebagai urusan Pemerintah; dan ayat 6 yang berbunyi: Pemerintahan daerah berhak menetapkan peraturan daerah dan peraturan-peraturan lain untuk melaksanakan otonomi dan tugas pembantuan.

Mochamad Iman Santoso,2004, Perspektif imigrasi dalam pembangunan ekonomi dan ketahanan nasional, UI-Press, Jakarta, hlm. 73
9

M. Nasruddin Anshoriy Ch, 2008, Kearifan lingkungan dalam perspektif budaya Jawa, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, hlm. 151

B. Landasan Sosiologis Saat ini, kota Yogyakarta sedang menghadapi masalah yang cukup rumit dan sulit untuk diselesaikan berkaitan dengan transportasi darat yang ada. Meningkatnya jumlah penduduk dan juga meningkatnya daya beli masyrakat terutama terhadapt kendaraan bermotor memicu melonjaknya jumlah kendaraan bermotor di Yogyakarta. Padatnya penduduk Kota Yogyakarta juga

mengakibatkan kebutuhan akan mobilitas yang tinggi. Namun pada kenyataannya, peningkatan jumlah kendaran bermotor, sebagian besar merupakan peningkatan pada jumlah kendaraan pribadi dibandingkan kendaraan umum.Sejatinya, penggunaan kendaraan umum dirasa akan lebih efektif dibandingkan penggunaan kendaraan pribadi, yang mana kendaraan umum dapat mengangkut penumpang dalam jumlah yang banyak sedangkan kendaraan pribadi pada umumnya hanya mengangkut satu atau dua penumpang dalam satu kali perjalanan. Kenyataanya, dalam satu keluarga dapat memiliki dua sampai tiga kendaraan pribadi yang mana satu kendaraan dipergunakan oleh satu orang dengan daerah tujuan yang mungkin tidak berjauhan satu sama lain, yang mana keadaan ini seharusnya dapat diatasi dengan

penggunaan kendaraan umum yang akan memberikan banyak dampak positif seperti penghematan bahan bakar yang saat ini jumlahnya semakin sedikit, mengurangi polusi, serta mengurangi kepadatan dan jumlah kendaraan di jalan. Saat ini, kendaraan umum bukanlah pilihan masyarakat dalam melakukan mobilitasnya, terdapat beberapa alasan yang menjadi dasar mengapa masyarakat lebih memilih untuk menggunakan kendaaran pribadi dibandingkan kendaraan umum. Alasan alasan tersebut diantaranya adalah faktor fisik dari kendaraan umum yang ada di Yogyakarta. Masyarakat jelas ragu untuk menggunakan kendaraan umum dikarenakan kondisi fisik kendaraan yang meragukan, terdapat banyak cacat dan kerusakan baik di bagian dalam maupun luar kendaraan umum.kondisi fisik yang demikian juga memberikan pengaruh kepada pemikiran masyarakat mengenai kondisi mesin dari kendaraan umum, masyarakat akan beranggapan bahwa apabila kondisi fisik kendaraan yang secara kasat mata dapat dilihat yang mana hal tersebut dapat menjadi kesan pertama standar kenyamanan

yang diberikan oleh kendaraan umum tidak dirawat dengan baik, bagaimana dengan kondisi mesin yang jelas sangat berpengaruh terhadap keselamatan para pengguna kendaraan umum. Kebanyakan masyarakat beranggapan bahwa perusahaan penyediaan jasa angkutan umum tidak memberikan perawatan pada kendaraan umum.

Kenyamanan dan jaminan keselamatan dirasa belum didapatkan oleh masyarakat ketika menggunakan kendaraan umum. Keadaan tersebut didukung dengan semakin banyaknya kendaraan bermotor yang dijual dengan harga yang relative murah dan dapat dijangkau oleh masyarakat. Kendaraan murah inilah yang banyak diminati masyarakat karena dirasa dengan harga yang lebih murah, masyarakat dapat menggunakannya sebagai sarana mobilitas dengan kenyamanan dan jamianan keselamatan yang lebih baik dibandingkan kendaraan umum saat ini. Beberapa faktor tersebutlah yang menjadi alasan mengapa masyarakat lebih memilih untuk menggunakan kendaraan pribadi dibandingkan menggunakan kendaraan umum. Karena hal tersebutlah diperlukan adanya peraturan yang mengatur standar pelayanan jasa angkutan umum baik yang di kelola oleh Pemerintah ataupun oleh swasta agar kondisi kendaraan umum yang ada dapat layak untuk digunakan serta memberikan kenyamanan dan jaminan keselamatan bagi para penggunanya. Landasan Yuridis Berdasarkan Undang - Undang No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, Lalu Lintas dan Angkutan Jalan mempunyai peran strategis dalam mendukung pembangunan dan integrasi nasional sebagai bagian dari upaya memajukan kesejahteraan umum sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Dengan diberlakukannya UndangUndang No. 22 Tahun 2009 maka tujuan yang ingin dicapai adalah terwujudnya penyelenggaraan pelayanan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yang aman, selamat, tertib, lancar, dan terpadu dengan moda angkutan lain untuk mendorong perekonomian nasional maupun daerah.

Penyelenggaraan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dilakukan oleh Pemerintah dan pemerintah daerah yang meliputi penyusunan rencana program pelaksanaan pengaturan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan serta penetapan tingkat pelayanan jalan yang diinginkan dengan melakukan pengelolaan kebutuhan lalu lintas. Kendaraan umum darat sebagai suatu bagian dari kesatuan sistem lalu lntas dan angkutan jalan memiliki peran yang cukup vital dan strategis dalam mewujudkan tujuan terciptanya Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yang aman, selamat, tertib, lancar, dan terpadu dengan moda angkutan lain untuk mendorong perekonomian nasional maupun daerah. Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah memberikan kewajiban kepada Daerah sebagai bagian dari negara untuk mengatur urusan daerahnya, sesuai dengan asas otonomi daerah. Sebagian dari kewajiban tersebut adalah yang menyangkut tentang pengaturan mengenai penyelenggaran angkutan umum di daerah yang salah satunya dilaksanakan dengan mengunakan moda transportasi yang tersedia, diantaranya berupa kendaraan umum darat. Undang-Undang nomor 22 tahun 2009 memberikan kewajiban kepada pemerintah daerah dalam menyelenggarakan lalu angkutan umum di daerah. Ketentuan tentang pemberian kewajiban tersebut terdapat dalam :

Pasal 138 (1) Angkutan umum diselenggarakan dalam upaya memenuhi kebutuhan angkutan yang selamat, aman, nyaman, dan terjangkau.

(2) Pemerintah bertanggung jawab atas penyelenggaraan angkutan umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

(3) Angkutan umum orang dan/atau barang hanya dilakukan dengan Kendaraan Bermotor Umum.

Pasal 139

(1) Pemerintah wajib menjamin tersedianya angkutan umum untuk jasa angkutan orang dan/atau barang antarkota antarprovinsi serta lintas batas negara.

(2) Pemerintah Daerah provinsi wajib menjamin tersedianya angkutan umum untuk jasa angkutan orang dan/atau barang antarkota dalam provinsi.

(3) Pemerintah Daerah kabupaten/kota wajib menjamin tersedianya angkutan umum untuk jasa angkutan orang dan/atau barang dalam wilayah kabupaten/kota.

(4) Penyediaan jasa angkutan umum dilaksanakan oleh badan usaha milik negara, badan usaha milik daerah, dan/atau badan hukum lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Mencermati konteks Pasal 138 dan 139 Undang-Undang No. 22 Tahun 2009 tersebut, dimana Pemerintah daerah untuk mewujudkan tujuan terwujudnya penyelenggaraan pelayanan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yang aman, selamat, tertib, lancar, dan terpadu dengan moda angkutan lain untuk mendorong perekonomian nasional maupun daerah, maka perlu kiranya ada penetapan kebijakan dengan Peraturan Daerah untuk mengakomodir mengenai peremajaan dari kendaraan umum darat. Inilah yang menjadi alasan kenapa perlunya segera di buat peraturan daerah yang mengatur tentang peremajaan kendaraan umum darat. Peraturan Daerah berdasarkan Undang-Undang No. 12 Tahun 2011 adalah bentuk peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang, perpu, Peraturan Pemerintah, Peraturan Presiden, dan Perda Provinsi. Namun jika dilihat dari segi isinya maupun mekanisme pembentukannya, Perda tersebut mirip dengan undangundang. Seperti undang-undang, maka organ negara yang terlibat dalam proses pembentukan Perda itu adalah lembaga legislatif dan eksekutif daerah secara bersama-sama. Dengan perkataan lain, sama dengan undang-undang, Perda juga merupakan produk legislatif yang melibatkan para wakil rakyat yang dipilih secara langsung oleh rakyat berdaulat.

Perlu dibentuknya peraturan daerah ini bukan lagi sekedar suatu keinginan sesaat semata namun lebih kepada suatu kebutuhan manusia yang perlu untuk direalisasikan. Hal ini dimaksudkan pula untuk mengoptimalkan penggunaan kendaraan umum darat sebagai bagian dari sistem lalu lintas dan angkutan jalan secara nasional, dalam rangka mewujudkan tujuan terciptanya jaminan keamanan, keselamatan, ketertiban dan kelancaran lalu lintas dan angkutan jalan.

BAB V JANGKAUAN, ARAH PENGATURAN DAN RUANG LINGKUP MATERI MUATAN PERDA

A. SASARAN

YANG

INGIN

DIWUJUDKAN

DARI

PERDA

PEREMAJAAN ANGKUTAN UMUM DARAT BERMOTOR Sasaran yang ingin diwujudkan oleh peraturan daerah ini adalah pengurangan jumlah kendaraan pribadi wilayah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, pengurangan emisi gas buang kendaraan di wilayah DIY, mengurangi kemacetan jalan, peningkatan minat masyarakat untuk menggunakan kendaraan umum, peningkatan dan jaminan kenyamanan dan keamanan kepada masyarakat pengguna angkutan umum darat, standarisasi fasilitas angkutan umum darat,serta peremajaan angkutan umum darat yang sudah melewati ambang batas umur layak beroperasi. Sasaran yang ingin diwujudkan dari adanya Perda Peremajaan Angkutan Umum Darat adalah: 1. Mengetahui penyebab utama dari banyaknya penyedia jasa kendaraan / angkutan umum darat untuk tidak melakukan perawatan terhadap armadanya 2. Terumuskannya pengaturan terkait standarisasi fasilitas kendaraan / angkutan umum yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. 3. Terumuskan pengaturan terkait hak dan kewajiban para penyedia jasa kendaraan / angkutan umum darat.

4. Terlaksananya pengaturan terkait tugas, kewajiban, dan kewenangan pemerintah selaku pemangku kebijakan terkait dengan kendaraan / angkutan umum ini. 5. Membuat strategi yang bisa dilakukan untuk melakukan peremajaan kendaraan / angkutan umum darat sehingga tercipta sebuah kendaraan / angkutan umum yang aman, nyaman, dan hemat dari segi waktu dan biaya. B. ARAH PENGATURAN PERDA PEREMAJAAN ANGKUTAN UMUM DARAT BERMOTOR Perda Nomor 1 Tahun 2008 juncto Perda Nomor 10 Tahun 2001 memiliki peran penting terkait dengan penyelenggaraan angkutan orang di jalan dengan kendaraan umum di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dimana dalam peraturan lama ini mengatur mengenai mekanisme pelayanan angkutan publik. Namun nampaknya perda lama ini belum cukup mengakomodir permasalahan yang saat ini muncul di lapangan sehingga kemacetan masih terus bertambah. Perda baru ini diharapkan mampu memberikan solusi atas masalah kemacetan dan masalah sosial lainnya yang muncul dengan menjangkau arah pengaturan yang meliputi pelaksana, pengelola dan penyedia jasa angkutan umum darat bermotor serta Pemerintah Daerah dalam mengatur dan mengawasi pelaksanaannya.

C. MATERI MUATAN PERDA PEREMAJAAN ANGKUTAN UMUM DARAT BERMOTOR 1. Ketentuan Umum Perda Peremajaan Angkutan Umum Darat Peremajaan angkutan umum darat memuat mengenai

peristilahan, etika dan tujuan peremajaan angkutan umum darat, standardisasi fasilitas angkutan umum darat, hak dan kewajiban pengelola jasa angkutan umum darat, pihak-pihak yang berkewajiban bertanggung jawab dan memiliki kewenangan dalam pengelolaan

angkutan umum darat serta tata cara pengalihan fungsi angkutan umum darat yang sudah tidak layak pakai. a. Etika dan tujuan peremajaan angkutan umum darat bermotor Upaya dan prinsip-prinsip dasar yang diangkat dalam

pembahasan peremajaan angkutan umum darat meliputi: i. Upaya peningkatan angkutan umum darat sebagai solusi pengurangan kemacetan ini harus terintegrasi dengan

pelayanan publik. ii. Upaya pelayanan publik ini dilakukan dengan berbasis pada standar kenyamanan pengguna jasa. Standar kenyamanan pengguna jasa ini ditentukan sebagai berikut: a. Kapasitas penumpang angkutan umum darat dalam beroperasi disesuaikan dengan jumlah tempat duduk di dalamnya. b. Kebersihan angkutan umum darat yang beroperasi minimal diwujudkan sesuai dengan standar kebersihan umum dengan mengutamakan estetika. c. Keselamatan pengguna jasa terjamin dengan

meminimalisir faktor terjadinya kecelakaan dan tindak kejahatan lainnya. d. Armada pengoperasian angkutan umum darat harus memenuhi etika pelayanan umum. iii. Perlu ditentukan adanya indikator sebuah angkutan umum yang layak pakai untuk mempermudah kontrol dalam pelayanan publik yang sesuai standard. Penentuan standard pelayanan angkutan umum bermotor didasarkan pada faktor keselamatan, keamanan, kenyamanan dan pemenuhan hak yang meliputi hal-hal: a. Tersedia kursi dengan prioritas untuk orang sakit, cacat, lanjut usia dan/atau ibu hamil; b. Dapat mengangkut satu sampai dua orang berkursi roda;

c. d. e. f. g. h.

Dapat mengangkut satu sampai dua kereta bayi; Titian tangga untuk menaiki kendaraan tidak terlalu tinggi; Tersedia rem darurat; Tersedia palu pemecah kaca; Tersedia pintu darurat; dan Tersedia pemadam api.

Standard di atas juga menjadi salah satu wujud pelayanan yang baik dengan cara memberikan akses yang mudah bagi pengguna jasa. iv. Peningkatan angkutan umum darat beserta pelayanan

publiknya harus didukung oleh para pemangku kepentingan (stakeholder) dengan mengutamakan kepentingan publik dan proses pengelolaan yang didasari transparansi dan

akuntabilitas. v. Pelayanan yang disediakan Pemerintah Daerah bersifat semi monopoli dengan penentuan harga yang distandarkan oleh Pemerintah Daerah. vi. Terkait dengan upaya mewujudkan jaminan keamanan pengguna jasa maka perlu pengoptimalan sumber daya pengelola didukung dengan kerjasama aparat kepolisian. vii. Terkait dengan upaya mewujudkan kenyamanan dan

keselamatan pengguna jasa maka perlu pengoptimalan sarana dan prasarana angkutan umum darat. viii. Upaya memaksimalkan kerjasama dengan sektor swasta dalam peningkatan kesadaran akan penyelenggaraan pelayanan publik dengan mengingat effektivitas dan effisiensi serta dengan tetap mengutamakan kepentingan umum. ix. Peningkatan pengelolaan pengawasan angkutan penggunaan darat anggaran demi dalam

umum

tercapainya

effektivitas dan effisiensi.

x. Keterlibatan masyarakat dalam upaya perwujudan pelayanan publik yang ideal demi tercapainya sebuah transparansi. xi. Hal penting lagi yang saat ini menjadi perhatian adalah terkait lingkungan hidup. Berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Provinsi Yogyakarta diperoleh data penelitian di tahun 2012 berdasarkan pemantauan kualitas udara pada 30 (tiga puluh) lokasi bahwa kualitas udara ambien dengan menggunakan parameter utama yaitu konsentrasi Carbon Monoksida (CO), Hidro Carbon (HC), Ozon (O3), Plumbum (Pb), Nitrogen Dioksida (NOx), Sulfur Dioksida (SO2) dan konsentrasi partikulat lainnya, didapatkan kondisi sebagai berikut: a. Carbon Monoksida (CO), berkisar antara 0,1-11 ppm; b. Ozon (O3), berkisar antara 0,0012-0,0158 ppm; c. Timbal atau Plumbum (Pb), berkisar antara 0,054-0,62 g/m3; d. Hidrokarbon (HC), berkisar antara 16,22-117 g/m3 (kombinasi pengukuran bulan Maret dan bulan Agustus tahun 2012); e. Nitrogen Dioksida (NOx), berkisar antara 0,0012-0,0333 ppm; dan f. Sulfur Dioksida (SO2), berkisar antara 0.008-0,0379 ppm. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kualitas udara di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta masih dibawah baku mutu yang ditetapkan. Hal ini juga dipengaruhi oleh buruknya kondisi mesin angkutan umum bermotor khususnya, dimana masih banyak angkutan umum bermotor yang tidak layak pakai yang masih beroperasi. Oleh karena itu, perlu adanya standard kualitas mesin yang baik guna menjaga kestabilan emisi gas buang dan mendukung upaya pelestarian lingkungan

hidup. Dalam kegiatan pengelolaan angkutan umum darat harus memperhatikan dampak dan biaya lingkungan hidup. xii. Fakta yang berkembang di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta mengenai kemacetan adalah bahwa biaya

kemacetan yang harus dipikul oleh masyarakat saat ini sekitar Rp 600.000.000.000,00 per tahun. Bila diasumsikan dengan nilai waktu masing-masing orang adalah Rp 2.000,00 per jam. Biaya ini akan semakin bertambah dengan bertambahnya tingkat kemacetan dan naiknya tingkat pendapatan masyarakat. Berdasarkan penelitian, hal ini juga akan berimbas pada tingkat kecelakaan yang menimbulkan biaya yang tinggi pula. Oleh karena itu, perlu adanya kebijakan yang menekan dari biara-biaya tersebut. Disini peran Pemerintah sangat

berpengaruh besar. Salah satu yang dapat dilakukan adalah dengan pemberian pinjaman guna menekan biaya kemacetan. Jalan lainnya adalah dengan pengalihan biaya kenaikan bahan bakar minyak kepada peningkatan kualitas pengelolaan angkutan umum bermotor. xiii. Pengelolaan dan pengoperasian angkutan umum darat akan diserahkan kepada pihak swasta dengan menjunjung tinggi transparansi, akuntabilitas, kepentingan umum dan sesuai standard kualitas sarana prasarana yang ditentukan oleh Pemerintah. xiv. Salah satu faktor penyebab kemacetan lainnya adalah ketidakjelasan trayek beroperasinya angkutan umum darat. Tidak adanya trayek yang jelas ini menyebabkan banyak armada pelaksana yang menurun naikkan penumpang dengan tidak teratur. Imbasnya adalah menimbulkan kemacetan di jalan. Oleh karena itu, harus ada trayek yang jelas dalam pengoperasian angkutan umum.

xv. Kondisi yang menjadi salah satu faktor yang menyebabkan kurang massive nya angkutan umum darat dalam beroperasi serta menyebabkan lesunya bisnis ini adalah kurangnya penjaminan kesejahteraan armada pelaksana angkutan umum Salah satu bentuk nyata yang terjadi adalah adanya penunggakan upah armada pelaksana angkutan umum darat. Beberapa waktu yang lalu sering terjadi demo dan aksi mogok kerja dari armada pelaksana angkutan umum darat tersebut. Oleh karena itu, ini pula yang akan menyebabkan munculnya masalah-masalah lain terkait upaya pelayanan publik yang tidak maksimal. xvi. Kerjasama yang baik juga dibutuhkan dari pihak Pemerintah Daerah khususnya dalam hal ini yang akan mengemban tugas secara langsung adalah Dinas Perhubungan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Dalam Surat Keputusan Gubernur Nomor 11/KEP/2005 juga dijelaskan peranan bahwa Dinas

Perhubungan

mempunyai

sebagai

pelaksana

pengawasan dan pengendalian terhadap penyelenggaraan angkutan bus perkotaan di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, yang meliputi: a. b. c. d. Pemantauan operasi angkutan; Evaluasi trayek dan evaluasi izin operasi; Penilaian kinerja angkutan dan kinerja kendaraan; dan Pengembangan dan perluasan trayek dan izin operasi.

Hal ini juga berfungsi sebagai kontrol kualitas pelayanan agar minat masyarakat sebagai pengguna jasa angkutan umum semakin meningkat. xvii. Hal yang penting lainnya yang perlu dikembangkan dalam peremajaan angkutan umum darat bermotor adalah

pengembangan kompetisi yang sehat diantara pengelola jasa angkutan umum darat bermotor.

xviii. Demi kelancaran dan ketertiban dalam berlalu lintas maka perlu adanya jadwal beroperasinya angkutan umum yang jelas. Selain itu armada pelaksana juga harus tetap menjalankan segala peraturan lalu lintas. xix. Sasaran penting yang perlu dicapai di sisi lain adalah peningkatan pemasukan APBD. Oleh karena itu, perlu dibentuk sistem yang memberikan keuntungan baik bagi Pemerintah Daerah dan sektor swasta sebagai pengelola jasa angkutan umum darat bermotor. Sistem yang dinilai tepat dalam pembagian keuntungan ini nantinya adalah bagi hasil keuntungan. Bagian ideal yang ditentukan meliputi 15% untuk Pemerintah Daerah dan 85% untuk pengelola jasa angkutan umum darat bermotor. xx. Dalam menjamin kenyaman dan keamanan pengguna jasa maka perlu diterapkan adanya pembatasan usia kendaraan yang ideal. Hal ini mengingat pula upaya untuk usia dari besi-besi tua yang akan dimanfaatkan kemudian agar masih memiliki nilai produktivitas. xxi. Pengaturan jumlah kendaraan yang disesuaikan kebutuhan mengingat upaya mengurangi kemacetan. xxii. Objek yang diatur jelas terkait jenis dari angkutan umum darat bermotor yang akan menjadi sasaran. xxiii. Perizinan dilakukan dengan mengutamakan birokrasi yang effektif dan effisien. Setiap langkah perizinan harus tetap menjamin kepastian hukum dari pihak-pihak terkait.

a. Hak dan Kewajiban Pengelola Jasa AngkutanUmum Darat Berdasarkan UU No 22 Tahun 2009 pengertian Perusahaan Angkutan Umum adalah badan hukum yang menyediakan jasa angkutan orang dan/atau barang dengan Kendaraan Bermotor Umum. Dalam pelaksanaan usaha angkutan umum tersebut, perusahaan atau

pengelola jasa angkutan umum memiliki hak dan kewajiban yang harus diperoleh dan harus dilakukan. a. Hak Hak adalah merupakan suatu kekuasaan yang benar atas sesuatu dan untuk menuntut sesuatu. Dala peraturan peremajaan kendaraan bermotor, hak dari pengelola jasa dirinci sebagai berikut : 1. Mengoperasionalkan angkutan umum miliknya sesuai dengan jadwal yang ditentukan perusahaannya 2. Menerima keuntungan dari hasil pengoperasionalan angkutan umum yang dimiliki b. Kewajiban Kewajiban merupakan sesuatu yang harus dilaksanakan. Dalam peraturan peremajaan angkutan umum bermotor ini, kewajiban dari pengelola jasa angkutan umum terkait dengan apa yang harus dilakukan oleh pengelola jasa angkutan umum selama menjalankan usaha jasa pengelolaan angkutan umum.

Kewajiban pengelola jasa angkutan umum diuraikan sebagai berikut : 1. Memiliki izin usaha mengelola jasa angkutan umum Dalam hal penyediaan dan penyelenggaraan jasa layanan angkutan orang dalam trayek, pemerintah mengendalikannya dengan menerbitkan Ijin. Hakekat diterbitkannya Ijin oleh pemerintah adalah dalam rangka untuk : i. Memberikan jaminan bagi pengguna jasa angkutan untuk mendapatkan jasa angkutan sesuai dengan keinginan dan kebutuhannya. Untuk mewujudkan kepastian pelayanan jasa angkutan umum tersebut maka setiap operator harus dapat melaksanakan kewajiban yang telah ditetapkan. ii. Memberikan perlindungan kepada penyedia jasa/operator dengan menjaga keseimbangan antara penyediaan

angkutan (supply) dan permintaan angkutan (demand), agar perusahaan dapat menjaga dan mengembangkan usahanya. Berikut ini akan disampaikan bagan terkait Perizinan Angkutan :

Bagan Pemberian Izin Angkutan Orang

2. Membawa angkutan umum miliknya untuk melakukan service secara berkala.

3. Mengikuti tarif angkutan umum sesuai apa yang ditentukan pemerintah.Jika pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta

mengeluarkan peraturan terkait penerapan tarif harga angkutan umum maka harus diataati oleh pengelola angkutan umum. namun apabila tidak, maka pengelola jasa berhak untuk menentukan tarif harga karcis untuk menumpang. 4. Membayar pajak terkait usaha angkutan umum yang dimilikinya. Pengusaha pemilik usaha pengelolaan jasa angkutan umum harus membayar pajak usahanya dan pajak kendaraan yang dipergunakan untuk meningkatkan kualitas sarana dan prasarana perhubungan khususnya angkutan umum darat bermotor. 5. Bertanggung jawab terhadap kecelakaan yang disebabkan oleh faktor kelalaian. Pemilik usaha jasa angkutan umum harus bertanggung jawab terhadap kecelakaan yang terjadi yang melibatkan kendaraan umum miliknya yang disebabkan kelalaian supir atau keadaan kendaraan yang rusak atau karena hal-hal lain yang oleh UndangUndang menjadi tanggung jawab pengelola jasa angkutan umum. b. Tugas dan Kewenangan Pemerintah Daerah Permasalahaan transportasi, semakin lama akan semakin berkembang. Pada awalnya kemacetan terjadi di kota-kota besar, namun sekarang telah marambah hingga di kota-kota kecil. Penyelesaian kemacetan lalulintas konvensional yang berorientasi

pada aspek fisik, misalnya dengan adanya penambahan panjang jalan bukanlah lagi menjadi pilihan utama. Kemacetan ini merupakan masalah serius yang harus ditangani. Kemacetan disebabkan semakin banyaknya kepemilikan kendaraan bermotor. Dimulai tahun 1950-an dimana era

idustrialisasi dimulai dan pendapatan penduduk dunia meningkat tajam, kepemilikan kendaraan meningkat.10 Sejak tahun 1995, tercatat perjalanan dengan kendaraan bermotor di kota-kota besar sangat tinggi, salah satunya adalah di Jogjakarta dimana penggunaan kendaran mencapai 1,42 juta kendaraan/jam.11 Hal ini disebabkan karena belum adanya sistem transportasi yang baik seperti belum didukung dengan adanya trasportasi public yang memadai. Sehingga disini diperlukan peran manajemen lalulintas, karena memalui manajemen lalulintas yang baik maka dapat memindahkan orang atau barang sebanyak-banyaknya, bukan memindahkan kendaraan sebanyak-banyaknya.12 Perlu adanya pihak yang memiliki kekuasaan untuk membuat peraturan dan menetapkan pelaksanaannya dalam praktek lalu lintas di Yogyakarta. Salah satu cara baik dalam menghadapi masalah kemacatan adalah dengan memingkatkan okupasi kendaraan.13 Perwujudan okupasi kendaraan salah satunya dengan meningkatkan pemakain angkutan umum. Dengan penggunaan kendaraan unum dapat tercapai inti dari okupasi yaitu banyak

memindahkan

orang

banyak,

bukan

memindahkan

kendaraan. Selain itu, keselamatan juga akan meningkat seiring semakin banyaknya penggunaan angkutan umum dibandingkan

10

Sigit Priyanto, 2010, Pidato Pengukuhan Guru Besar : Peran Manajemen Lalulintas Dalam Mengurangi Kemacetan, Yogyakarta, hlm 5 11 Priyanto dan Sukamto, 2009, 12 Sigit Priyanto, 2010, Pidato Pengukuhan Guru Besar : Peran Manajemen Lalulintas Dalam Mengurangi Kemacetan, Yogyakarta, hlm 5 13 Ibid

kendaraan pribadi. Karena dapat menekan jumlah kecelakaan yang melibatkan kendaraan pribadi. Di sinilah peran pemerintah sangat diperlukan untuk mengatur manajemen lalu lintas tersebut. Pemerintah DIY harus membuat suatu regulasi terkait penggunaan kendaraan umum ini agar dapat dimanfaatkan secara efektif. Kendaraan umum yang ada akan didukung dengan kualitas yang sesuai dengan standar yang ditentukan, sebagaimana telah diatur dalam bab sebelumnya. Dalam pengaturan terkait peremajaan kendaraan umum ini, pemerintah memiliki tugas, kewajiban dan wewenang yang tidak bisa dihilangkan begitu saja. Yang dimaksud dengan tugas disini adalah satu kewajiban yang menjadi tanggung jawab dari pemerintah daerah Yogyakarta. Tugas ini terkait tentang peraturan peremajaan kendaraan bermotor. Tugas pemerintah dirinci sebagai berikut : 1. Menyediakan angkutan umum perkotaan yang layak, menarik, murah. 2. Membuat suatu peraturan yang mengatur terkait peremajaan kendaraan umum di Daerah Istimewa Yogyakarta yang dapat meningkatkan minat masyarakat untuk menggunakan

kendaraan umum. 3. Mendelegasikan wewenang terkait pelaksanaan lapangan kepada departemen perhubungan 4. Membentuk/menunjuk suatu badan usaha untuk mengolah kendaraan umum bekas menjadi suatu hal yang dapat dimanfaatkan. 5. Menyediakan/menujuk badan yang akan menyelesaikan urusan terkait pemberhentian izin operasional bagi kendaraankendaraan umum yang sudah tidak memenuhi standar ketika peraturan dibuat.

6.

Dalam

peraturan

mengenai

revitalisi

kendaran

umum

bermotor, pemerintah Daerah Yogyakarta memiliki kewajiban sebagai sesuatu yang harus dilaksanakan. Kewajiban

pemerintah Yogyakarta dalam peraturan ini dirinci sebagai berikut : 7. Memastikan bahwa peraturan yang dibuat tersebut akan dapat berdayaguna dan berhasilguna. 8. Melakukan pengecekan secara berkala bagi kendaraan umum darat bermotor yang beroperasi 9. Menegakkan sanksi yang diatur dalam peraturan dengan baik.

10. Selain tugas dan kewajiba, pemerintah Yogyakarta juga memiliki wewenang yang diatur di dalam peraturan ini . Wewenang Pemerintah Yogyakarta dirumuskan sebagai berikut : 11. Membuat peraturan terkait peremajaan kendaraan umum darat bermotor. 12. Menentukan standar teknis dan sertifikat kelayakan bagi suatu kendaraan umum darat 13. Menetapkan pedoman untuk menetapkan standar teknis pengecekan rutin kendaran umum darat bermotor 14. Menetapkan standar pengujian kelayakan Angkutan Umum Darat Bermotor yang beroperasi di jalan. 15. Menetapkan ketentuan mengenai usaha angkutan umum yang dilakukan oleh masyarakat. 16. Menetapkan standar teknis pelayanan yang dilakukan oleh para pengusaha angkutan umum darat bermotor. 17. Pemberian izin usaha angkutan umum darat bermotor 18. Menetapkan tarif angkutan umum yang disediakan. 19. Melarang angkutan umum darat yang tidak memenuhi strandar untuk beroperasi

c.

Strategi Pengelolaan Angkutan Umum Darat Bermotor yang Sudah Melebihi Batas Usia Tempat penampungan angkutan umum merupakan tempat yang disediakan oleh Pemerintah Daerah untuk menampung kendaraan umum yang mempunyai batas usia tertentu untuk tidak dioperasikan lagi. Penampungan dikelola oleh Badan Usaha Daerah atau pihak swasta yang telah mendapatkan izin dari Pemerintah Daerah. Pembagian keuntungan atas kerjasama yang dilakukan didasarkan pada prinsip bagi hasil. Penampungan memperoleh kendaraan dengan cara membeli kendaraan tersebut pada perusahaan angkutan umum. Penampungan berhak melakukan daur ulang materi kendaraan dan suku cadang yang masing-masing dapat dipakai, diperbaharui dan dikelola juga dengan Pemerintah Daerah. Keuntungan dari hasil penjualan materi-materi tersebut akan dibagi berdasarkan porsi yang seimbang sesuai dengan kesepakatan pihak terkait.

2.

Ketentuan Teknis Perda Peremajaan Angkutan Umum Darat a. Jenis dan Usia Angkutan Umum Darat Bermotor Umur angkutan umum bermotor darat akan diatur di dalam peraturan terkait peremajaan angkutan umum darat bermotor. Dalam peraturan ini ditentukan umur angkutan umum bermotor dibatasi sesuai dengan jenis kendaraan. Dalam pengaturan mengenai peremajaan kendaraan bermotor ini, pengangkutan orang dengan kendaraan bermotor dilakukan dengan menggunakan sepeda motor, mobil penumpang, mobil bus dan kendaraan khusus. Penjabaran sebagai berikut : 1. Motor

Kendaraan bermotor beroda 2 (dua) atau 3 (tiga) tanpa rumahrumah, baik dengan atau tanpa kereta samping. 2. Mobil penumpang

Setiap kendaraan bermotor yang dilengkapi sebanyak-banyaknya 8 (delapan) tempat duduk tidak termasuk tempat duduk pengemudi, baik dengan maupun tanpa perlengkapan pengangkutan bagasi. Yang termasuk criteria ini adalah : a. Mobil penumpang

b.

Kendaraan penumpang Bonet

c.

Taxi

Kendaraan umum dengan jenis mobil penumpang yang diberi tanda khusus dan dilengkapi dengan argometer 3. Mobil bus

Setiap kendaraan bermotor yang dilengkapi lebih dari 8 (delapan) tempat duduk tidak termasuk tempat duduk pengemudi, baik dengan maupun tanpa perlengkapan pengangkutan bagasi. Secara garis besar, mobil bus dibagi menjadi: b. Minibus

Kendaraan jenis ini umumnya dioperasionalkan oleh pengusaha angkutan antar jemput (travel). Kapasitas kendaraan jenis ini adalah 9 sampai 10 tempat duduk (termasuk pengemudi)

c.

Microbus

Jenis kendaraan ini diciptakan untuk memenuhi permintaan pasar yang membutuhkan sebuah angkutan yang dapat diisi lebih banyak penumpang. Umumnya kendaraan jenis ini berbasis chassis kendaraan Light Truck yang dimodifikasi menjadi kendaraan Microbus. Dalam kategori ini terdapat dua jens model kendaraan yaitu : 1. Model Microbus

Kapasitas kendaraan jenis ini adalah 10 sampai dengan 17 tempat duduk (termasuk pengemudi).

2.

Bus Kecil

Kapasitas kendaraan jenis ini adalah 10 sampai dengan 17 tempat duduk (termasuk pengemudi).

3.

Bus Sedang

Bus sedang merupakan kendaraan angkutan penumpang yang mempunyai kapasitas 15 sampai dengan 30 tempat duduk (termasuk pengemudi). Kendaraan ini digunakan untuk kebutuhan sebagai berikut : i. ii. iii. iv. Bus Kota Bus Karyawan Bus Pariwisata Bus Antar Kota

4.

Bus Besar

Merupakan kendaraan angkutan oenumpang yang mempunyai kapasitas 28 sampai 60 tempat duduk (termasuk supir). Kendaraan ini digunakan untuk kebutuhan sebagai berikut : i. ii. iii. iv. Bus Kota Bus Karyawan Bus Pariwisata Bus Antar Kota

4.

Kendaraan khusus

Sebagaimana dimaksud dalam ketentuan ini adalah kendaraan bermotor untuk angkutan orang yang dirancang dan digunakan secara khusus, seperti kendaraan khusus jenis caravan, kendaraan khusus untuk mengangkut narapidana, ambulans dan sebagainya. Jangka waktu yang ditentukan bagi kendaraan dalam peraturan mengenai peremajaan angkutan umum darat bermotor kemudian akan ditentukan berdasarkan jenis kendaraan yang ada. Pembagiannya ditentukan sebagai berikut : 1. Bus Besar dan Bus Sedang Ditentukan memiliki batasan usia pengoperasionalan selama 10 tahun 2. Bus Kecil Meliputi micro bus dan kendaraan penumpang. Ditentukan memiliki batasan usia pengoperasionalan selama 13 tahun Jangka waktu ini ditentukan berdasarkan pertimbangan kelayakan bagi angkutan umum tersebut untuk beroperasi. Semakin tua umur suatu kendaraan, maka tingkat kelayakan bagi kendaraan tersebut untuk dapat digunakan juga semakin rendah. Dasar pertimbangan yang digunakan terhadap pencapaian batas usia tersebut adalah: 1. Pada usia tersebut, fasilitas yang dimiliki kendaraan sudah tidak

layak untuk dipergunakan. Pada usia kendaraan yang semakin tua, maka fasilitas seperti kursi, diding kendaraan, cat kendaraan,dll sudah tidak layak untuk dapat memberikan kenyamanan bagi para pengguna Angkutan Umum Darat Bermotor tersebut. 2. Pada usia tersebut keuntungan yang didapatkan oleh para pengelola

jasa angkutan umum sudah menutupi modal. Dalam menjalankan usaha angkutan umum, pengelola jasa angkutan membutuhkan modal yang diperlukan untuk memulai usahanya. Seperti modal yang dibutuhkan untuk membeli kendaraan, operasional kendaraan, penggantian sparepart, dan biaya-biaya lain diluar apa yang ditentukan. Dalam batas waktu yang ditentukan terhadap kendaraan

yang dibuat oleh pemerintah diharapkan modal yang telah dikeluarkan oleh para pengelola jasa angkutan umum telah tertutup oleh keuntungan yang didapatkan dari usaha angkutan umum tersebut. 3. Pada batas usia yang ditentukan, kondisi mesin dari angkutan

umum sudah kurang baik.Semakin tua usia suatu kendaraan, maka kualitas mesin dari kendaraan tersebut akan semakin memburuk. Kualitas mesin memang dapat dipertahankan dengan membawa kendaraan untuk service berkala. Namun, keadaan mesin tua tetap tudak akan sama dengan keadaan mesian kendaraan yang masih baru. Selain itu, mengingat intensitas penggunaan kendaraan angkutan umum yang jauh ebih tinggi dari kendaraan pribadi, membuat mesin kendaraan akan jauh lebih riskan rusak dibandingkan kendaraan pribadi. Ini dapat menimbulkan tingkat keamanan bagi para pengguna kendaraan umum semakin rendah. 4. Semakin tinggi usia kendaran maka semakin berbahaya emisi gas

buang yang dikeluarkan oleh kendaraan bermotor. Pada dasarnya semua kendaraan bermotor yang melakukan pembakaran di dalam mesinnya akan menghasilkan gas buang yang beracun dan akan merusak ozon. Bila kendaraan bermotor yang masa pakainya (umurnya) terlalu lama masih dipergunakan di jalan raya, maka akan membahayakan pengendara dan menyebabkan polusi udara yang makin parah. Ditinjau dari emisi gas buang yang dikeluarkan dari proses pembakaran dalam silinder maka komponen pendukung terjadinya pembakaran merupakan factor yang sangat penting dalam mengendalikan gas buang yang berbahaya. Jika komponen tersebut mengalami perubahan maka gas buang yang berbahaya akan terbentuk semakin banyak. Peningkatan jumlah polutan yang berbahaya bagi lingkungan juga diperparah dengan rendahnya tingkat pemahaman masyarakat tentang bahaya gas buang kendaraan bermotor dan juga peraturan pembatasan

kadar emisi gas buang yang berlaku di Indonesia belum begitu ketat.14 Bila dibiarkan terus menerus tanpa penanggulangan, maka akan berbahaya bagi kelestarian lingkungan dan kesehatan masyarakat. Semakin tua umur sepeda motor maka komponen- komponen mesin (yang berperan penting pada prosespembakaran) telah banyak mengalami keausan. Kerak atau enddapan arang yang menumpuk di ruang bakar akan semakin tebal sehingga quenching effect akan semakin tinggi maka kemungkinan terjadinya pembakaran yang kurang sempurna akan semakin besar oleh karena itu makin tinggi pula emisi HC yang timbul.15 Semua hal tersebut menjadi dasar penentuan batasan umur kendaraan bermotor. Batasan usia yang ditentukan berdasarkab jenis kendaraan tersebut dirasa sudah memenuhi unsur kelayakan, tidak terlalu cepat maupun tidak terlalu lama. b. Standarisasi Fasilitas Angkutan Umum Darat Dalam pelaksanaan usaha angkutan umu, suatu kendaraan umum darat bermotor berupa bus dan mobil penumpang harus dilengkapi dengan fasilitas : Fasilitas Umum Yang Harus Ada 1. Tempat duduk yang layak Fasilitas tempat duduk yang empuk dan keadaan tempat duduk tersebut masih baik. Busa dalam tempat duduk dilapisi oleh pembungkus luar. Pembungkus l luar tempat duduk tidak robek-robek maupun bolong-bolong. 2. Alat yang berfungsi untuk berpegangan tangan Dalam angkutan umum jenis bus, harus disediakan alat yang digunakan untuk berpegangan bagi penumpang yang berdiri.

14

http://ejournal.ftunram.ac.id/FullPaper/adisayogaPengaruh%20masa%20pakai%20dan%20tingkat%20transmisi %20terhadap%20kadar%20emisi%20gas%20baung%20sepeda%20motor%20Honda%20astrea%2 0grand.pdf. 13 Desember 2013 15 Ibid.

Sehingga dapat menjaga keselamatan dan kenyamanan para penumpang yang harus berdiri karena tidak mendapat tempat duduk. 3. Pintu bagi kendaran berupa bus Kendaraan angkutan jenis bus harus dilengkapi dengan pintu yang selalu ditutup, dan hanya akan dibuka ketika menaikkan dan menurunkan penumpang. Ini berfungsi untuk mencegah pengamen dan penjual asongan untuk masuk ke dalam bus. Karena hal tersebut akan mengurangi rasa nyaman bagi para penumpang. Terutama penumpang yang berdiri. 4. Tempat sampah Disediakan tempat sampah kecil di setiap kendaraan umum. Ini untuk menjaga kebersihan dari kendaraan umu tersebut. Banyaknya jumlah tempat sampah yang disediakan di dalam angkutan umum tergantung pada ukuran dari angkutan tersebut. 5. Tempat menaruh barang Disediakan tempat untuk menaruh barang terutama bagi angkutan umum jenis bus. Sehingga barang-barang bawaan dari para penumpang dapat ditaruh di tempat khusus menaruh barang. Sehingga bagian isi kendaraan, dapat dioptimalkan untuk para penumpang. Ini juga mampu meningkatkan rasa nyaman dari penumpang. Tempat menaruh barang dapat diletakkan di atas tempat duduk seperti pada angkutan bus antar provinsi dan pada pesawat.

c.

Fasilitas Pendukung Bagi Orang Tua, Anak-anak, Ibu Hamil dan Orang Difabel 1. Tersedia kursi dengan prioritas untuk orang sakit, cacat, lanjut usia, atau hamil

Adanya kursi yang ditujukan khusus bagi orang tua, anakanak, ibu hamil dan orang difabel. Sehingga juka adanya penumpang yang masuk ke dalam criteria tersebut maka akan menggunakan tempat duduk yang diprioritaskan bagi mereka tersebut. 2. Dapat mengangkut satu sampai dua orang berkursi roda Disediakannya ruang khusus untuk tempat orang yang berkursi roda atau adanya fasilitas pelayanan khusus bagi orang-orang yang berkursi roda. Misalnya adanya pelayanan untuk membantu orang yang berkursi roda agar dapat naik ke kendaraan umum dan untuk membantu meletakkan kursi rodanya pada tempat menaruh khusus kursi roda selama perjalanan. Kemudian pada saat turun akan dibantu lagi untuk turun dan menyiapkan kursi roda. 3. Dapat mengangkut satu sampai dua kereta bayi Adanya tempat khusus untuk meletakkan kereta bayi bagi yang membawa kereta bayi. 4. Titian tangga untuk menaiki kendaraan tidak terlalu tinggi Untuk kendaraan umum jenis bus, untuk dapat naik ke dalamnya jarak jarak antara permukaan tanah dengan pijakan pada pinu bus cukup tinggi. Maka dibutukjan titian yang membatu untuk naik ke dalam bus. Titian tersebut harus dibuat cukup rendah, tidak boleh terlalu tinggi. Ini untuk membantu bagi orang tua, anak-anak dan ibu hamil untuk naik ke dalam kendaraan. 5. Fasilitas Yang Menunjang Keselamatan b. Tersedia rem darurat . Rem darurat ini wajib dimiliki dalam angkutan umum darat bermotor berjenis bus. Rem darurat akan digunakan untuk mencegah kecelakaan akibat rem yang blong pada bus.

c. Tersedia palu pemecah kaca. Palu pemecah kaca diletakkan di dinding kendaraan umum berjenis bus, mobil angkutan dan kendaraan khusus. d. Tersedia pintu darurat. Wajib tersedia dalam kendaraan umum berjenis bus. Digunakan pada saat darurat dan ketika pintu utama kendaraan tidak bisa dibuka. e. Tersedia pemadam api. Pemadam api digunakan pada saat angkutan umum selain ojek mengalami kebakaran. f. Kotak Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K). Kotak P3K digunakan ketika ada pengguna jasa yang mengalami sakit ringan dan membutuhkan obat-obatan standar.

d. Ketentuan Teknis Mengenai Standard Armada Pengoperasian Angkutan Umum Darat Bermotor Dalam pengoperasian angkutan umum darat bermotor tidak bisa terlepas dari adanya risiko kecelakaan. Sebagai upaya preventif atas risiko tersebut maka perlu ada standard yang menjamin keamanan bagi pengguna jasa. Pengawasan terhadap kecelakaan adalah sebagai berikut : 1. Pengendara angkutan umum darat bermotor wajib memiliki Surat Izin Mengemudi sebagai indikator apakah pengemudi tersebut layak mengendarai angkutan umum darat bermotor atau tidak diperkenankan untuk itu; 2. Pengemudi harus memiliki pengalaman terlebih dahulu minimal 1 tahun bekerja dalam profesi yang sama menyangkut keselamatan pengguna jasa; 3. Semua standar fasilitas yang telah ditetapkan wajib dipenuhi oleh pihak penyelenggara angkutan umum darat bermotor dengan tujuan mengurangi risiko kecelakaan;

4.

Pihak pengelola angkutan umum wajib menyediakan layanan pengguna jasa guna memfasilitasi pengaduan atas pelanggaran yang dilakukan oleh armada pengoperasian angkutan umum darat bermotor. Segala bentuk pengaduan wajib ditindaklanjuti dalam jangka waktu paling lama 30 hari; dan

5.

Pengelola angkutan umum darat bermotor wajib mendapatkan izin dari instansi Pemerintah Daerah terkait. Izin diberikan berdasarkan prinsip quality licensing yang didasarkan pada tingkat kualitas pelayanan yang akan diberikan.

e. Ketentuan Teknis Perawatan Atas Mesin dan Fasilitas Angkutan Umum Darat Bermotor 1) Pelarangan bensin bertimbal, bertujuan untuk memperpanjang umur mesin dan mengurangi emisi gas buang dari kendaraan bermotor yang dapat menambah dampak dari global warming. 2) Penggunaan catalyc converter pada mobil, bertujuan untuk pengaruh putaran mesin terhadap kebisingan.

3.

Ketentuan umum memuat rumusan akademik mengenai pengertian istilah dan frasa

Materi yang akan diatur Ketentuan sanksi Ketentuan peralihan

BAB VI PENUTUP A. Kesimpulan Pengaturan dalam Rancangan Peraturan Daerah tentang Peremajaan Angkutan Umum Darat Bermotor ini menawarkan strategi baru dalam pengelolaan angkutan umum darat guna meningkatkan standar pelayanan publik. Materi muatan dalam Peraturan Daerah yang baru masih mengacu dan mengadopsi pada peraturan-peraturan lama namun disertai beberapa perubahan di dalamnya. B. Saran b. c. Mengingat pentingnya tujuan, sasaran dan materi muatan dari Rancangan Peraturan Daerah tentang Peremajaan Angkutan Umum Darat Bermotor maka diharapkan Pemerintah Daerah khususnya yang diberikan kewenangan langsung dalam perancangan, penanganan dan pengelolaan angkutan umum dapat segera membentuk kelembagaan terkait urgensi materi yang diatur. Koordinasi secara vertikal dan horizontal antar lembaga itu harus tetap dijaga harmonisasinya agar tercapai sasaran dan tujuan yang diinginkan. d. C.