Anda di halaman 1dari 73

Oleh :

Kurniawan Akbar, ST
PENDAHULUAN :
Kartografi Seni, ilmu dan teknik membuat peta, termasuk
pengertian peta sebagai suatu dokumen yang bersifat ilmiah dan
peta sebagai karya seni. ..................................................................................... (ICA)
Peta penyajian grafis dari sebagian atau seluruh permukaan bumi
dengan menggunakan skala tertentu dan digambarkan diatas bidang
datar melalui sistem proyeksi peta. ......................................... (Geopdesi)
Pengumpulan
Data
Keadaan Dunia
Sesungguhnya
Sumber
Konsep
Kartografi
Klasifikasi
dan
Analisis Data
Pe t a
Encode sinyal
- Reproduksi
- Evaluasi
- Penafsiran Peta
Pemakai
Decoder
Ruang Lingkup Pekerjan Kartografi (ICA )
Keadaan bumi sesungguhnya
Konsep Kartografi
P e t a
Pemakai
Source
Encoder
Sinyal
Decoder
Pemetaan Teristrial
Pemetaan Fotogrametrik
Pemetaan Digital (Inkonvensional)
Proses Kartografi
METODE PEMETAAN DAN PROSES
KARTOGRAFI
Menujukkan posisi atau lokasi relatif ( letak suatu tempat dalam
hubungannya dengan tempat lain dipermukaan bumi )
Memperlihatkan ukuran ( dari peta dapat diukur luas daerah dan
jarak-jarak diatas permukaan bumi)
Memperlihatkan bentuk ( misalnya bentuk dari benua-benua,
Negara-negara, gunung-gunung, dsb )
Mengumpulkan dan mengoleksi data-data dari suatu daerah dan
menyajikannya diatas peta.
FUNGSI PETA
+ Untuk komunikasi informasi ruang
+ Untuk menyimpan informasi
+ Untuk membantu suatu pekerjaan,
+ Untuk membantu dalam suatu desain.
+ Untuk analisa data special.
TUJUAN PEMBUATAN PETA
O Skala Angka/Skala Pecahan (Numerical Scale).

Misalkan Skala Peta 1 : 250.000
Artinya 1 cm jarak di peta = 250.000 cm jarak di permukaan bumi
atau 1 cm di peta = 2,5 km di permukaan bumi (lapangan).

Skala grafiknya digambar dengan masing-masing berjarak tiap 1 cm
menunjukkan 2,5 km di permukaan bumi atau 2 cm menjukkan 5 km
di permukaan bumi.
0 2,5 5 10 15 20 25 Km
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 cm
0 4 8 2 MIL
O Skala Verbal (Non metric system).
Misalkan Penulisan skala suatu peta nautical chart
1 inch to 4 mil (Skala Inci terhadap mil)
Artinya 1 inch jarak di peta = 4 Mil jarak di permukaan bumi
1 mil = 63.000 inci, atau 4 mil = 252.000 inch
Maka 1 Inch = 252.000 inch / 63.000 inch / mil
= 3,95 mil
= 4 mil (dibulatkan)
Skala grafiknya digambar dengan masing-masing berjarak tiap 1 inch
menunjukkan 4 mil di permukaan bumi (dilapangan)
0 1 2 3 INCH
Sistem koordinat titik di permukaan bumi yang posisinya
ditentukan oleh perpotongan garis meridian dan garis paralel.
Garis Meridian : Garis-garis setengah lingkaran yang sama
besarnya. yang menghubungkan antara kutub utara dan kutub
selatan.
Garis Paralel : Garis-garis yang sejajar dengan ekuator berupa
lingkaran-lingkaran yang tidak sama besarnya, makin jauh dari
ekuator, lingkarannya makin kecil. Jadi lingkaran terbesar adalah
ekuator.
Perpotongan garis paralel dan garis meridian disetiap tempat
dibola bumi membentuk sudut 90, kecuali didaerah kutub.
Garis Meridian
Garis Parallel
Sistem Koordinat geografis suatu titik dipermukaan bumi dapat
ditentukan berdasar koordinat geodetik, dari perpotongan meridian
dan parallel yang melalui titik tersebut, besarnya ditentukan dengan :
Nilai lintang pada belahan bumi Utara bertanda positif (+)
Nilai lintang pada belahan bumi Selatan bertanda negatif ()
Bujur / Longitude () : Bujur suatu titik yang diukur (dalam derajat)
pada suatu paralel antara meridian tempat tersebut dgn Meridian
Greenwich (PrimeMeridian ) yang mempunyia harga bujur 0
Dari 0- 180 kearah Barat dari Meridian nol disebut Bujur Barat ( BB ).
Dari 0 - 180 kearah Timur dari Meridian nol disebut Bujur Timur ( BT ).
Lintang / Latitude () : Lintang suatu tempat (titik) didefinisikan
sebagai busur yang diukur (dalam derajat ) pada suatu meridian antara
tempat tersebut dengan ekuator. Lintang mempunyai harga dari 0
pada ekuator sampai 90 di Kutub Utara dan Kutub Selatan.
Dari 0 - 90 kearah KU dari ekuator disebut Lintang Utara ( LU ).
Dari 0 - 90 kearah KS dari ekuator disebut Lintang Selatan ( LS ).
Greenwich
Meridian
(Prime Meridian)
.
E q u a t o r
GARIS-GARIS
MERIDIAN
GARIS-GARIS
PARALLEL
S 300000.0
W 300000.0
atau
300000.0 LU
900000.0 BT
N 300000.0
E 900000.0
300000.0 LS
300000.0 BB
atau
Contoh :
Kota Makassar mempunyai koordinat geografis : 119 22BT - 119 33 BT
dan 05 03 LS - 0514 LS
Peta representasi sebagian atau keseluruhan permukaan bumi
dalam ukuran yang lebih kecil di atas media bidang datar dengan
menggunakan skala tertentu.
Inti pemetaan adalah menggambarkan titik yang ada di permukaan
bumi pada bidang datar.
Permukaan fisis bumi permukaan lengkung, tidak teratur tidak
memungkinkan dibentangkan menjadi bidang datar yang sempurna
tanpa mengalami perubahan (distorsi).
Perubahan bentuk yang terjadi pada saat melakukan proses
pemetaan :
@ Sudut @ Jarak @ Luas
Proses perubahan bidang lengkung ke bidang datar kaidah-
kaidah matematik Metode-metode Proyeksi Peta.

Proyeksi peta teknik - teknik yang digunakan untuk
menggambarkan sebagian atau keseluruhan permukaan tiga
dimensi yang secara kasaran berbentuk bola ke permukaan datar
dua dimensi dengan distorsi sesedikit mungkin.
Sistem proyeksi peta dibuat untuk mereduksi sekecil mungkin distorsi
tersebut di atas.
Dalam proyeksi peta diupayakan sistem yang memberikan
hubungan antara posisi titik - titik di muka bumi dan di peta.
Akibat proses proyeksi peta, maka
koordinat proyeksi petanya akan
disesuaikan dengan bidang
proyeksinya
PROYEKSI SELINDER
PROYEKSI AZIMUTAL
PROYEKSI KERUCUT
Contoh Jenis Peta Topografi
Yang dibuat Indonesia dalam
Proyeksi Polyeder
Dan
Proyeksi Lambert Conical Orthomorphic
Permukaan bumi dalam Proyeksi Mercator
PROYEKSI MERCATOR
PROYEKSI UNIVERSAL TRANSVERSE MERCATOR ( U T M )
Karakteristik Proyeksi UTM
Bidang silinder memotong ( secan ) bola bumi di dua buah meridian, disebut
meridian standar dengan faktor skala ( k ) = 1.
Seluruh permukaan bumi terbagi dalam 60 zone, lebar zone 6. Proyeksinya
simetris untuk setiap Zone ( wilayah ),
Transformasi koordinat dari Zone ke Zone dapat dikerjakan dengan rumus yang
sama untuk setiap Zone diseluruh dunia.
Tiap zone diproyeksikan pada 1 silinder
Perbesaran dimeridian tengah = 0,9996
Distorsinya antara -40 cm / 1000 m dan + 70 cm / 1000 m.
Seluruh permukaan bumi dibagi dalam 60 zone, lebar
setiap zone 6
o
Bujur atau sekitar (665 km x 885 km).
Zone 1, terletak 180 BB - 174 BB selanjutnya kearah
timur sampai zone 60, antara 174 BT - 180 BT
setiap jalur 8 Lintang, dengan batas paralel = 80 LS
( bagian bawah ) hingga 84 LU ( bagian atas ), kecuali lajur
72 LU - 84 LU, zone 6 x 12
Setiap jalur dinotasikan dengan abjad diawali C, D, E, F
hingga X, ( kecuali I dan O tidak digunakan )
Sistem Grid Zone UTM
Pembagian Zone UTM untuk seluruh permukaan bumi
2
9 3 5 7 1 19 11 13 15 17 29 21 23 25 27 39 31 33 35 37 41 43 45 47 49 51 53 55 57
18 4 6 8 10 12 14 16 50 52 54 56 58
59
60 20 22 24 26 28 30 48 36 32 34 38 40 42 44 46
E
J
H
G
F
D
C
K
P
N
M
L
Q
T
U
S
R
180 168
X
W
V
156 144 132 72 120 108 96 84 12 60 48 36 24 48 0 12 24 36
56
24
32
40
48
64
72
80
108 60 72 84 96 120 132 144 168 156 180
84
72
64
32
56
48
40
24
16
16
8
0
8
Eq
Suatu grid metrik ( E , N ) ditetapkan untuk setiap zone
untuk menghindari koordinat negatif, meridian tengah
didalam setiap zone diberi :
- Absis fiktif sebesar 500.000 m Timur ( East), sebelah
timut meridian tengah adalah 500.000 m + E dan
sebelah barat adalah 500.000 E
- Ordinat ke arah utara, Equator sebagai bidang datum
diberi harga 0 m Utara ( North ).
- bagian selatan Equator diberi ordinat sebesar
10.000.000 m Utara ( North )

Sistem Koordinat UTM
Sistem Koordinat UTM
Seluruh wilayah Indonesia terbagi dalam 9 zone, mulai dari
meridian 90 BT sampai 144 BT
Batas garis paralel 10 LU dan 15 LS dengan 4 Satuan jalur,
yaitu L, M, N dan P,
Bidang referensi digunakan Spheroid : Geodetic Reference
System ( GRS ) 1967, dengan dimensi :
- Radius ekuator ( a ) = 6378160 m
- Pegepengan ( f ) = 1 : 298.25

( Sejak tahun 1996, berdasarkan keputusan Ketua Bakosurtanal No.
02.04/II/KA/1996, tgl. 12 Pebruari 1996. Selanjutnya semua kegiatan
survey dan pemetaan di wilayah RI menngunakan datum DGN-95
sebagai sistem rujukan koordinat nasional yang homogen )

INDEKS UTM GRID ZONE ( 6 X 8 ) WILAYAH INDONESIA
Batas : BARAT MERIDIAN 90 TIMUR GREENWICH
TIMUR MERIDIAN 144 TIMUR GREENWICH
UTARA 10 LINTANG UTARA
SELATAN 15 LINTANG SELATAN
T
H
A
IL
A
N
D
M
A

L
A
Y
S
I A
M
A

L
A
Y
S
I A
T
H
A
IL
A
N
D
PHILIPINA
TIMOR LESTE
A U S T R A L I A A U S T R A L I A A U S T R A L I A
A U S T R A L I A
A U S T R A L I A
A U S T R A L I A A U S T R A L I A A U S T R A L I A A U S T R A L I A
PAPUA
NUGINI
46 M
46 L 47 L
96 90
15
8
0
96
47 N
46 N
46 P 47 P
90 102
8
10
48 N
48 M 49 M
48 L
49 L
106 102
48 P
47 M
49 P 50 P
49 N
106 114 120
50 M
50 N
50 L 51 L 52 L
126 120 114
51 P
52 P
126 132
52 N
51 M 52 M 53 M
54 M
51 N
0
15
53 L 54 L
8
144 136 132
144
53 N
53 P 54 P
54 N
136
10
8
M
A

L
A
Y
S
I A
M
A

L
A
Y
S
I A
PHILIPINA
TIMOR LESTE
A U S T R A L I A A U S T R A L I A A U S T R A L I A
A U S T R A L I A
A U S T R A L I A
A U S T R A L I A A U S T R A L I A A U S T R A L I A A U S T R A L I A
PAPUA
NUGINI
NB 46
Banda Aceh
NB 47
Lhok Seumawe
NB 48
Kota Baru
NB 49
Kep. Natuna
NA 46
Sibigo
NA 47
Medan
NA 48
Batan
NA 49
Singkawang
LA 49
Jember
MB 48
Jakarta
MA 47
Padang
MB 49
Surabaya
MA 48
Palembang
MA 49
Pontianak
NA 51
Manado
NB 52
Essang
NB 50
Nunukan
NB 51
Davao
NA 50
Bontang
LA 52
Baucau
MA 52
Ambon
NA 52
Ternate
NA 53
Kep. Mapia
MA 54
Jayapura
MA 53
Manokwari
MA 51
Kendari
MA 50
Samarinda
LA 54
Merauke
LA 53
Kladar
MB 50
Upandang
MB 51
Baubau
MB 52
Saumlaki
MB 53
Tembagapura
MB 54
Wamena
LA 50
Denpasar
LA 51
Kupang
8
4
90
0
-4
96 90
15
8
-12
96 102
106 102
106 114 120
126 114 120
126 132 136
15
8
144 136 132
-12
4
0
-4
144
8
PEMBAGIAN LEMBAR PETA INDEKS UTM GRID ZONE WILAYAH INDONESIA
UKURAN 6 X 4 SKALA 1 : 1.000.000
No. Zone
46 47 48 49 50 51 52 53 54
ZONE UTM P. SULAWESI SEKITARNYA
Skala 1 : 1.000.000
M

A

L

A

Y

S

I

A
M

A

L

A

Y

S

I

A
PHILIPINA
TIMOR LESTE
A U S T R A L I A
A U S T R A L I A
A U S T R A L I A
A U S T R A L I A
A U S T R A L I A
A U S T R A L I A
A U S T R A L I A
A U S T R A L I A
A U S T R A L I A
PAPUA
NUGINI
NB 46
Banda Aceh
NB 47
Lhok Seumawe
NB 48
Kota Baru
NB 49
Kep. Natuna
NA 46
Sibigo
NA 47
Medan
NA 48
Batan
NA 49
Singkawang
LA 49
Jember
MB 48
Jakarta
MA 47
Padang
MB 49
Surabaya
MA 48
Palembang
MA 49
Pontianak
NA 51
Manado
NB 52
Essang
NB 50
Nunukan
NB 51
Davao
NA 50
Bontang
LA 52
Baucau
MA 52
Ambon
NA 52
Ternate
NA 53
Kep. Mapia
MA 54
Jayapura
MA 53
Manokwari
MA 51
Kendari
MA 50
Samarinda
LA 54
Merauke
LA 53
Kladar
MB 50
Upandang
MB 51
Baubau
MB 52
Saumlaki
MB 53
Tembagapura
MB 54
Wamena
LA 50
Denpasar
LA 51
Kupang
8
4
90
0
-4
96 90
15
8
-12
96 102
106 102
106 114 120
126 114 120
126 132 136
15
8
144 136 132
-12
4
0
-4
144
8
114 126
4
0
-4
-8
120
90
01 02 03 04 05
96
06 07 08 09 10 11 12
102 106
13 16 14 15
114
20
19
11
12
13
14
15
16
17
18
10
08
02
03
04
05
06
07
09
17
01
21
22
23
24
25
35 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28
8
0
29 30 31 32 33 34 36
10
120 126 132 136
8
140
15
Indeks Pembagian dan Penomoran lembar peta seluruh wilayah Indonesia skala 1 : 250.000,
sistem Grid UTM, terbitan Bakosurtanal
Lembar Peta No. 2010
U T M
PROYEKSI UNIVERSAL TRANSVERSE MERCATOR
( U T M )
Lembar Peta
No. 2010
Uk. 1,5

x 1


Skala 1 : 250.000

Diturunkan ke
Skala 1 : 100.000
Uk. 30 x 30
Peta dibagi 6 lembar

2010- 4

2010 - 5

2010- 6

2010 - 3

2010 - 1

2010 - 63

2010 - 64

2010 - 61

2010 - 62

107 30

109 00

7 00

8 00

107 30

108 00

108 30

108 00

108 15

108 30

7 30

8 00

7 45

Sistem pembagian dan penomoran lembar peta
seluruh wilayah Indonesia, Dari Skala 1 : 250.000 ke
Skala 1 : 100.000 dan 1 : 50.000, Sistem Grid UTM,
terbitan Bakosurtanal
2010 - 2

Diturunkan ke
Skala 1 : 50 000
Setiap lbr terbagi 4
Uk. 15 x 15
Contoh lbr
No. 2010-6

7 00

7 30

8 00

109 00

T




E




L




U




K













B




O




N




E
2010-63
MAROS
2010-33
JENEPONTO
2010-52
TAKALAR
2010-54
UJUNG
PANDANG
2011-31
PANGKAJENE
2011-32
CAMBA
2111-11
CAMMING
2111-12
KADAI
2110-44
SINJAI
2110-43
BULUPODO
2010-64
MALINO
2011-22
BALANG
LOMPO
2011-61
BARRU 2
0
1
1
-
6
2
W
A
T
A
N
S
O
P
P
E
N
G
2111-41
OLOE
2111-42
TOKASENG
2111-14
WATAMPONE
2111-13
TACCIPI
2011-33
SEGERI
2011-34
LALEBATA
2010-24
LAIKANG
2010-61
SAPAYA
2010-62
MALAKAJI
2110-41
TANETE
2110-42
KASSI
2110-14
TANAHBERU
2110-13
BULUKUMBA
2010-34
BANTAENG
2011-33
SEGERI
2011-31
PANGKAJENE
2011-32
CAMBA
2011-34
LALEBATA
Contoh sistem penomoran Lembar Peta
Pada Peta Rupa Bumi
Skala 1 : 50.000
Dengan Grid Zone UTM

Terbitan Bakosurtanal
Peta kenampakan roman muka bumi yang memperlihatkan unsur-
unsur alam dan unsur-unsur buatan manusia yang digambarkan
pada posisi yang sebenarnya dengan memperhitungkan skala yang
sangat terbatas
Unsur-unsur alam, seperti : sungai, danau, bentuk garis pantai,
rawa ( unsur-unsur hidrografi ), gunung,
hutan dsb.
Unsur-unsur buatan manusia seperti : Jalan, jembatan, rel
keretaapi, jaringan transmisi, kampung,
pemukiman, persawahan, batas-batas
administrasi , dsb.
sifatnya menyajikan semua unsur permukaan bumi peta umum.
Metode Pemetaan Topografi
Metode Teristris
Metode Fotogrametri
Metode Menurunkan dari Peta yang sudah ada
(manual / digitasi komputer)
Pemetaan topografi sesungguhnya merupakan proses
transformasi dimana datadata kualitatif dan kuantitatif yang
berdimensi ruang ( x, y, z ) diubah menjadi informasi dalam
bentuk analog ( peta topografi ).


Peta Dasar ( Base Map ) : Peta topografi sering digunakan
sebagai peta dasar ( Base map ) dalam pembuatan peta-peta
tematik, peta-peta topografi atau peta-peta turunan.
Peta dasar untuk pembuatan peta peta tematik dinamakan peta
kerangka, peta dasar untuk peta-peta topografi dan peta-peta
turunan disebut Peta Induk ( Basic Map ). Peta induk untuk peta
topografi adalah peta topografi yang disusun dari survey
langsung, biasanya berskala 1 : 10.000 sampai 1 : 50.000

Peta Manuskrip : Produk pertama dari suatu proses peta
yang akan direproduksikan dalam keseluruhan proses
pemetaan.
Peta manuskrip dapat berupa :
Hasil penggambaran dengan tangan, hasil survey lapangan
( dalam skala besar )
Hasil plotting fotogrametris
Hasil penggambaran peta-peta tematik, dan sebagainya.

Peta Turunan ( Derived Map ) : peta yang diturunkan dari
peta induk dan skalanya lebih kecil dari pada induknya. Peta
turunan umumnya sudah mengalami proses generalisas
( penyederhanaan ).

Simbol
Titik
Simbol
Garis
Simbol
Luas
Simbol
Grafik
- Abstrak
- Deskriptif
- Deskriptif
- Abstrak
- batang (bar graph)
- lingkaran (pie graph)
- Garis lurus (line graph)
- Geometrik
- Piktorial
- huruf
Kuantitatif
Kualitatif

+ + + + +
+ - + - + -

+ + + + +
+ - + - + -

+ + + + +
+ - + - + -

Simbol Titik ( Point) Simbol
Garis ( Line )
Ibu Kota
(Geometrik)
Gunung / Ttk triangulasi (Geometrik)
Pelabuhan Laut (Piktorial)
Bandar Udara (Piktorial)
Mercusuar (Piktorial)
Gedung (Piktorial)
Tugu (Piktorial)
Pertambangan (Piktorial)
Pemboran Minyak (Piktorial)
Batas negara
(Abstrak)
Batas Provinsi (Abstrak)
Batas Kabupaten / Kota (Abstrak)
Jalan Utama (Abstrak)
Jalan Sekunder (Abstrak)
Jalan Kampung /setapak (Abstrak)
Rel Kereta api (Deskriptif)
Sungai (Deskriptif)
Garis Kontur (Abstrak)
Danau (Deskriptif)
Sawah (Deskriptif)
Rawa (Deskriptif)
Perkebunan (Deskriptif)
(Abstrak)
Simbol Luas (
Area )
Beberapa warna pokok yang umumnya digunakan pada peta topografi
Hitam : Detail planimetris, daerah hunian, tapal batas,
tumbuhan karang, mataair, jalan kereta api. Terumbu
karang, lettering nama kota / kampung, dsb
Biru : Unsur-unsur hidrografi termasuk lettering nama dari
unsur tsb seperti sungai, danau, garis pantai, laut, dsb.
Hijau : Unsur-unsur vegetasi / tumbuhan, dataran rendah,
dsb
Kuning : Daerah kering, vegetasi yg sedikit, elevasi intermediate
Coklat : Garis-garis kontur, daerah berbukit, gunung
Merah : Daerah panas, unsur-unsur peta yang penting seperti
jalan utama, kota, mercusuar, dsb
Penggunaan simbol warna pada peta topografi
RELI EF :
perbedaan ketinggian antara puncak-puncak bukit
dengan dasar-dasar lembah.

Penyajian ( representasi ) relief penting untuk memberikan
informasi tentang keadaan terrain dari suatu permukaan bumi,
juga untuk semua keperluan pembuatan peta turunan.
RELI EF :
perbedaan ketinggian antara puncak-puncak bukit
dengan dasar-dasar lembah.

Penyajian ( representasi ) relief penting untuk memberikan
informasi tentang keadaan terrain dari suatu permukaan bumi,
juga untuk semua keperluan pembuatan peta turunan.
Kontur adalah garis khayal untuk menggambarkan semua
titik yang mempunyai ketinggian yang sama di atas atau di
bawah permukaan datum tertentu yang disebut permukaan
laut rata-rata.

P E N YA J I A N R E L I E F :

Gar i s Kont ur ( Contour )
Setiap titik pada garis kontur yang sama mempunyai ketinggian yang sama.
Garis kontur yang berbeda menunjukkan ketinggian yang berbeda.
Garis kontur membulat pada punggungan bukit
Garis-garis kontur tidak berpotongan satu sama lain.
Setiap garis kontur menutup pada dirinya sendiri didalam maupun diluar peta
Garis kontur tidak bercabang.
Garis kontur yang berspasi seragam menunjukkan suatu lereng yang
seragam
Garis kontur yang rapat menunjukkan suatu kemiringan lereng yang
curam
Garis kontur yang berjauhan ( jarang ) menunjukkan suatu lereng yang
landai atau datar
Garis kontur membentuk huruf V yang tajam pada alur / lembah
sungai
Garis kontur yang bergigi menunjukkan suatu bentuk depresi
(daerah rendah), gerigi atau garis-garis pendek menunjukkan daerah
depresi tersebut
Bentuk Depresi

Garis kontur membelok kearah hulu suatu lembah dan memotong
tegak lurus sungai.
Suatu tebing vertika l tergambar pada peta sebagai garis kontur berhimpit
Garis kontur maksimum suatu punggungan bukit dan garis kontur
minimum suatu lembah harus selalu terdapat berpasangan
5 0
400 400
5
0
0
5
0
0
5
0
0
5
0
0 5
0
0
5
0
0
5
0
0
5
0
0
5
0
0
7
0
0
7
0
0
7
0
0
7
0
0
7
0
0
7
0
0
7
0
0
7
0
0
7
0
0
6
0
0
6
0
0
6
0
0
6
0
0
6
0
0
6
0
0
6
0
0
6
0
0
6
0
0
785 785 785
785
785
785 785 785 785
3
0
0
3
0
0
3
0
0
3
0
0
3
0
0
3
0
0
3
0
0
3
0
0
3
0
0
300
440
337
265
366
470 380
272
480 480
445
485
555
455
263
4
0
0
4
0
0
4
0
0
4
0
0
4
0
0
4
0
0
4
0
0
4
0
0
4
0
0
235
242
340
365
340
438
437
460
5
0
0
505
310
2
0
0
3
0
0
3
0
0
280
215 285
2
0
0
311
214
279
4
0
0
Cartography and Remote sensing image @ Nuhung 2008
Ditetapkan Berdasarkan Surat Keputusan Ketua Bakosurtanal
No.: 02.04/II/KA/2006, Tgl. 12 Pebruari 1996.
DGN 95 Merupakan Sistem Rujukan Koordinat Nasional Yang
Homogen
Setiap Kegiatan Survey Dan Pemetaan Di Wilayah Ri Harus
Menggunakan DGN 95
Semua Produk Survey Dan Pemetaan Secara Bertahap Diupayakan
Perubahannya Ke DGN 95
DGN 95 Ditentukan Dengan Elipsoid WGS 84 [ a = 6378137 M, 1/f
= 298.257223563
Cartography and Remote sensing image @ Nuhung 2008
Nama Elipsoid
a [ sb.panjang ]
( meter )
Penggepengan
( 1 / f )
Airy-1830 6378563.396 299.324
Bessel-1841* 6377397.155 299.153
Clarke 1866 6378206.400 294.979
Hayford-1909 6378388.000 297.000
Krassovki-1940 6378245.000 298.300
Mercury-1960 6378166.000 298.300
GRS-1967* 6378160.000 298.247
WGS-1972 6378135.000 298.260
NWL-9D 6378145.000 298.250`
WGS-1984* 6378137.000 298.257223563
Cartography and Remote sensing image @ Nuhung 2008
Bentuk bumi bukanlah bola tetapi lebih menyerupai ellips 3
dimensi atau ellipsoid. Istilah ini sinonim dengan istilah
spheroid yang digunakan untuk menyatakan bentuk bumi.
Karena bumi tidak uniform, maka digunakan istilah geoid
untuk menyatakan bentuk bumi yang menyerupai ellipsoid
tetapi dengan bentuk muka yang sangat tidak beraturan.
Peta Geologi Indonesia Digital
Peta geologi adalah bentuk ungkapan data dan informasi
geologi suatu daerah / wilayah / kawasan dengan
tingkat kualitas yang tergantung pada skala peta yang
digunakan dan menggambarkan informasi sebaran, jenis
dan sifat batuan, umur, stratigrafi, struktur, tektonika,
fisiografi dan potensi sumber daya mineral serta energi
yang disajikan dalam bentuk gambar dengan warna,
simbol dan corak atau gabungan ketiganya.
(wikantika.wordpress.com)