Anda di halaman 1dari 34

Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II

Departemen Teknik Kimia ITB




-1/34-
MODUL 1.09 Tangki Berpengaduk

I. Pendahuluan

Pengadukan adalah operasi yang menciptakan terjadinya gerakan di dalam bahan
yang diaduk. Tujuan operasi pengadukan yang utama adalah terjadinya pencampuran.
Pencampuran merupakan operasi yang bertujuan mengurangi ketidaksamaan kondisi,
suhu, atau sifat lain yang terdapat dalam suatu bahan. Pencampuran dapat terjadi dengan
cara menimbulkan gerak di dalam bahan itu yang menyebabkan bagian-bagian bahan
saling bergerak satu terhadap yang lainnya, sehingga operasi pengadukan hanyalah salah
satu cara untuk operasi pencampuran. Pencampuran fasa cair merupakan hal yang cukup
penting dalam berbagai proses kimia. Pencampuran fasa cair dapat dibagi dalam dua
kelompok. Pertama, pencampuran antara cairan yang saling tercampur (miscible), dan
kedua adalah pencampuran antara cairan yang tidak tercampur atau tercampur sebagian
(immiscible). Selain pencampuran fasa cair dikenal pula operasi pencampuran fasa cair
yang pekat seperti lelehan, pasta, dan sebagainya; pencampuran fasa padat seperti bubuk
kering, pencampuran fasa gas, dan pencampuran antar fasa.
Pada percobaan yang akan dilakukan pada Laboratorium Teknologi Kimia I ini
proses pengadukan yang diteliti adalah pengadukan cairan dalam tangki, sehingga perlu
dibahas proses pencampuran fasa cair. Sebagai bahan petimbangan untuk mengkaji lebih
jauh proses pengadukan dan pencampuran, sebaiknya praktikan juga mempelajari dan
membandingkan sifat dan karakteristik, fluida cair terhadap fluida viscous lainnya seperti
lelehan, pasta, slurry. Sifat fisik dan viskositas ini sangat mempengaruhi karakter
pencampuran seperti daya pengadukan, waktu pencampuran, tipe pengaduk yang sesuai
dan sebagainya.
Praktikum ini diarahkan pada kajian hidrodinamika tangki berpengaduk dengan
draft tube. Aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam kajian hidrodinamika tangki
berpengaduk dengan draft tube ini adalah sebagai berikut.
1. Sifat fisik fluida meliputi densitas dan viskositas.
2. Jenis dan ukuran pengaduk.
3. Daya pengaduk.
4. Nisbah cair-padat.


Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II

Departemen Teknik Kimia ITB


Modul 1.09 Tangki Berpengaduk Halaman 2 dari 34
II. Tujuan

Praktikum ini dilakukan agar praktikan mempelajari proses pencampuran dalam
fluida yang diselenggarakan di dalam sistem tangki berpengaduk, serta mengidentifikasi
faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas pencampuran.

III. Sasaran

Sasaran praktikum modul Tangki Berpengaduk adalah:
1. Praktikan dapat menurunkan korelasi waktu pencampuran
2. Praktikan mampu menurunkan korelasi kebutuhan daya pengadukan melalui analisa
bilangan tidak berdimensi
3. Praktikan mampu melaksanakan observasi visual pola aliran dan memberikan analisa
terhadap pola aliran.

IV. Tinjauan Pustaka

IV.1 Proses Pencampuran
Proses pencampuran dalam fasa cair dilandasi oleh mekanisme perpindahan
mementum di dalam aliran turbulen. Pada aliran turbulen, pencampuran terjadi pada 3
skala yang berbeda, yaitu:
1. pencampuran sebagai akibat aliran cairan secara keseluruhan (bulk flow) yang disebut
mekanisme konvektif
2. pencampuran karena adanya gumpalan-gumpalan fluida yang terbentuk dan
tercampakkan di dalam medan aliran yang dikenal sebagai eddies, sehingga
mekanisme pencampuran ini disebut eddy diffusion
3. pencampuran karena gerak molekular yang merupakan mekanisme pencampuran
difusi.
Ketiga mekanisme terjadi secara bersama-sama, tetapi yang paling menentukan
adalah eddy diffusion. Mekanisme ini membedakan pencampuran dalam keadaan turbulen
daripada pencampuran dalam medan aliran laminer.Sifat fisik fluida yang berpengaruh
pada proses pengadukan adalah densitas dan viskositas.


Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II

Departemen Teknik Kimia ITB


Modul 1.09 Tangki Berpengaduk Halaman 3 dari 34

IV.2 Densitas Fluida
Densitas fluida merupakan hubungan antara massa fluida dan volume yang
ditempatinya. Hubungan ini ditunjukkan oleh persamaan di bawah ini:
V
m
= (1)
dengan = densitas fluida
m = massa fluida
V = volume fluida
Volume larutan dipengaruhi oleh komposisi dan temperatur. Sehingga densitas
larutan secara tidak langsung juga dipengaruhi oleh komposisi dan temperatur. Volume
larutan dapat diprediksi dengan menggunakan persamaan berikut.
B B A A sol
V n V n V + = (2)
dengan V
sol
= volume larutan

A
V = volume molar komponen A

B
V = volume molar komponen B

A
n = jumlah mol komponen A

B
n = jumlah mol komponen B
Hubungan antara volume molar dengan konsentrasi untuk tiap larutan dapat
dinyatakan dalam bentuk grafik. Untuk larutan ideal, kurva yang dihasilkan berbentuk
garis lurus. Lain halnya dengan larutan tidak ideal, kurva hubungan volume molar dan
konsentrasi tidak linier.

IV.3 Viskositas Fluida
Viskositas fluida merupakan indeks kelembaman cairan terhadap perubahan
kecepatan. Viskositas larutan dipengaruhi oleh konsentrasi dan temperatur.
Hubungan antar konsentrasi dengan hubungan dapat digambarkan dalam suatu
grafik. Grafik tersebut spesifik untuk masing-masing larutan. Hubungan viskositas
dengan konsentrasi larutan NaOH [Hatschek, 1928], ditunjukkan pada gambar berikut.

Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II

Departemen Teknik Kimia ITB


Modul 1.09 Tangki Berpengaduk Halaman 4 dari 34

Gambar 1 Hubungan viskositas dengan konsentrasi larutan NaOH pada 18
o
C
Viskositas semua cairan dan larutan akan turun seiring dengan kenaikan
temperatur. Analisis kuantitatif pertama kali mengenai hal ini dilakukan oleh Poiseuille.
Dia menemukan bahwa viskositas air pada temperatur tertentu dapat dihubungkan dengan
viskositas pada 0
o
C melalui persamaan empiris:
2
0
T T 1

+ +
= (3)
dengan , = konstanta Thrope dan Roger
= viskositas cairan pada temperatur T

o
= viskositas air pada temperatur 0
o
C

IV.4 Tangki Berpengaduk
Pengadukan dan pencampuran merupakan operasi yang penting dalam industri
kimia. Pencampuran (mixing) merupakan proses yang dilakukan untuk mengurangi
ketidakseragaman suatu sistem seperti konsentrasi, viskositas, temperatur dan lain-lain.
Pencampuran dilakukan dengan mendistribusikan secara acak dua fasa atau lebih yang
mula-mula heterogen sehingga menjadi campuran homogen.
Peralatan proses pencampuran merupakan hal yang sangat penting, tidak hanya
menentukan derajat homogenitas yang dapat dicapai, tapi juga mempengaruhi
perpindahan panas yang terjadi. Penggunaan peralatan yang tidak tepat dapat
menyebabkan konsumsi energi berlebihan dan merusak produk yang dihasilkan. Salah
satu peralatan yang menunjang keberhasilan pencampuran ialah pengaduk.

Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II

Departemen Teknik Kimia ITB


Modul 1.09 Tangki Berpengaduk Halaman 5 dari 34
Hal yang penting dari tangki pengaduk dalam penggunaannya antara lain:
1. Bentuk : pada umumnya digunakan bentuk silindris dan bagian bawahnya cekung
2. Ukuran: yaitu diameter dan tinggi tangki
3. Kelengkapannya:
a. ada tidaknya baffle, yang berpengaruh pada pola aliran di dalam tangki
b. jacket atau coil pendingin/pemanas yang berfungsi sebagai pengendali suhu
c. letak lubang pemasukan dan pengeluaran untuk proses kontinu
d. kelengkapan lainnya seperti tutup tangki, dan sebagainya.

Skema lengkap dari sebuah tangki berpengaduk sederhana ditunjukkan pada Gambar 2.











Gambar 2 Sketsa dan dimensi tangki pengaduk sederhana

IV.5 Jenis Pengaduk
Pengaduk dalam tangki memiliki fungsi sebagai pompa yang menghasilkan laju
volumetrik tertentu pada tiap kecepatan putaran dan input daya. Input daya dipengaruhi
oleh geometri peralatan dan fluida yang digunakan. Profil aliran dan derajat turbulensi
merupakan aspek penting yang mempengaruhi kualitas pencampuran.
Rancangan pengaduk sangat dipengaruhi oleh jenis aliran, laminar atau turbulen.
Aliran laminar biasanya membutuhkan pengaduk yang ukurannya hampir sebesar tangki
itu sendiri. Hal ini disebabkan karena aliran laminar tidak memindahkan momentum
sebaik aliran turbulen [Walas, 1988].
Pencampuran di dalam tangki pengaduk terjadi larena adanya gerak rotasi dari
pengaduk dalam fluida. Gerak pengaduk ini memotong fluida tersebut dan dapat

Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II

Departemen Teknik Kimia ITB


Modul 1.09 Tangki Berpengaduk Halaman 6 dari 34
menimbulkan arus eddy yang bergerak keseluruhan sistem fluida tersebut. Oleh sebab itu,
pengaduk merupakan bagian yang paling penting dalam suatu operasi pencampuran fasa
cair dengan tangki pengaduk.
Pencampuran yang baik akan diperoleh bila diperhatikan bentuk dan dimensi
pengaduk yang digunakan, karena akan mempengaruhi keefektifan proses pencampuran,
serta daya yang diperlukan.
Menurut aliran yang dihasilkan, pengaduk dapat dibagi menjadi tiga golongan:
1. Pengaduk aliran aksial yang akan menimbulkan aliran yang sejajar dengan sumbu
putaran
2. Pengaduk aliran radial yang akan menimbulkan aliran yang berarah tangensial dan
radial terhadap bidang rotasi pengaduk. Komponen aliran tangensial menyebabkan
timbulnya vortex dan terjadinya pusaran, dan dapat dihilangkan dengan pemasangan
baffle atau cruciform baffle
3. Pengaduk aliran campuran yang merupakan gabungan dari kedua jenis pengaduk di
atas.
Menurut bentuknya, pengaduk dapat dibagi menjadi 3 golongan:
1. Propeller
Kelompok ini biasa digunakan untuk kecepatan pengadukan tinggi dengan
arah aliran aksial. Pengaduk ini dapat digunakan untuk cairan yang memiliki
viskositas rendah dan tidak bergantung pada ukuran serta bentuk tangki. Kapasitas
sirkulasi yang dihasilkan besar dan sensitif terhadap beban head.
Dalam perancangan propeller, luas sudu biasa dinyatakan dalam
perbandingan luas area yang terbentuk dengan luas daerah disk. Nilai nisbah ini
berada pada rentang 0.45 sampai dengan 0.55.
Pengaduk propeler terutama menimbulkan aliran arah aksial, arus aliran
meninggalkan pengaduk secara kontinu melewati fluida ke satu arah tertentu
sampai dibelokkan oleh dinding atau dasar tangki.
2. Turbine
Istilah turbine ini diberikan bagi berbagai macam jenis pengaduk tanpa
memandang rancangan, arah discharge ataupun karakteristik aliran. Turbine
merupakan pengaduk dengan sudu tegak datar dan bersudut konstan. Pengaduk
jenis ini digunakan pada viskositas fluida rendah seperti halnya pengaduk jenis
propeller [Uhl & Gray, 1966]. Pengaduk turbin menimbulkan aliran arah radial dan

Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II

Departemen Teknik Kimia ITB


Modul 1.09 Tangki Berpengaduk Halaman 7 dari 34
tengensial. Di sekitar turbin terjadi daerah turbulensi yang kuat, arus dan geseran
yang kuat antar fluida.
Salah satu jenis pengaduk turbine adalah pitched blade. Pengaduk jenis ini
memiliki sudut sudu konstan. Aliran terjadi pada arah aksial, meski demikian
terdapat pule aliran pada arah radial. Aliran ini akan mendominasi jika sudu berada
dekat dengan dasar tangki.
3. Paddles
Pengaduk jenis ini sering memegang peranan penting pada proses
pencampuran dalam industri. Bentuk pengaduk ini memiliki minimum 2 sudu,
horizontal atau vertical, dengan nilai D/T yang tinggi. Paddle digunakan pada
aliran fluida laminar, transisi atau turbulen tanpa baffle.
Pengaduk padel menimbulkan aliran arah radial dan tangensial dan hampir
tannpa gerak vertikal sama sekali. Arus yang bergerak ke arah horisontal setelah
mencapai dinding akan dibelokkan ke atas atau ke bawah. Bila digunakan pada
kecepatan tinggi akan terjadi pusaran saja tanpa terjadi agitasi.


Gambar 3 Bentuk-bentuk pengaduk
(a) pengaduk paddle (b) pengaduk propeller (c) pengaduk turbine
Disamping itu, masih ada bentuk-bentuk pengaduk lain yang biasanya
merupakan modifikasi dari ketiga bentuk di atas.


a. Flate Blade
b. Curved Blade
c. Pitched Blade

Gambar 4 Tipe-tipe pengaduk jenis turbin

Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II

Departemen Teknik Kimia ITB


Modul 1.09 Tangki Berpengaduk Halaman 8 dari 34

a. Standard three
baldes
b. Weedless
c. Guarded
Gambar 5 Tipe-tipe pengaduk jenis propeler

a. Basic
b. Anchor
c. Glassed


Gambar 6 Tipe-tipe pengaduk jenis padel







Gambar 7 Pola aliran pada pengaduk jenis propeler

IV.6 Kecepatan Pengaduk
Kecepatan pengaduk yang umumnya digunakan pada operasi industri kimia
adalah sebagai berikut.
Kecepatan tinggi, berkisar pada kecepatan 1750 rpm.
Pengaduk dengan kecepatan ini umumnya digunakan untuk fluida dengan
viskositas rendah misalnya air.
Kecepatan sedang, berkisar pada kecepatan 1150 rpm.
Pengaduk dengan kecepatan ini umumnya digunakan untuk larutan sirup kental
dan minyak pernis.
Kecepatan rendah, berkisar pada kecepatan 400 rpm.
Pengaduk dengan kecepatan ini umumnya digunakan untuk minyak kental,
lumpur di mana terdapat serat atau pada cairan yang dapat menimbulkan busa.

Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II

Departemen Teknik Kimia ITB


Modul 1.09 Tangki Berpengaduk Halaman 9 dari 34
Untuk menjamin keamanan proses, pengaduk dengan kecepatan lebih tinggi dari
400 rpm sebaiknya tidak digunakan untuk cairan dengan viskositas lebih besar dari 200
cP, atau volume cairan lebih besar dari 2000 L. Pengaduk dengan kecepatan lebih besar
dari 1150 rpm sebaiknya tidak digunakan untuk cairan dengan viskositas lebih besar dari
50 cP atau volume cairan lebih besar dari 500 L. Kecepatan pengaduk ditentukan oleh
viskositas fluida dan ukuran geometri sistem pengadukan.

IV.7 Jumlah Pengaduk
Jumlah pengaduk yang digunakan ditentukan oleh viskositas fluida, diameter
pengaduk dan kedalaman fluida yang akan diaduk. Jumlah pengaduk yang umumnya
digunakan adalah 1 atau 2 buah pengaduk. Panduan dalam menentukan jumlah pengaduk
yang akan digunakan diperlihatkan pada Tabel 1.
Tabel 1 Kriteria penentuan jumlah pengaduk [Weber, 1963]
Satu Pengaduk Dua Pengaduk
fluida dengan viskositas rendah
fluida dengan viskositas sedang dan
tinggi
dapat menyapu dasar tangki untuk tangki yang dalam
kecepatan balik aliran tinggi gaya gesek aliran lebih besar
ketinggian permukaan cairan
bervariasi
dapat meminimalkan ukuran mounting
nozzle

IV.8 Pola Aliran dalam Tangki Berpengaduk
Pada tangki berpengaduk, pola aliran yang dihasilkan bergantung pada beberapa
faktor antara lain geometri tangki, sifat fisik fluida dan jenis pengaduk itu sendiri.
Pengaduk jenis turbine akan cenderung membentuk pola aliran radial sedangkan
propeller cenderung membentuk aliran aksial. Pengaduk jenis helical screw dapat
membentuk aliran aksial dari bawah tangki menuju ke atas permukaan cairan. Pola aliran
yang dihasilkan oleh tiap-tiap pengaduk tersebut dapat dilihat pada Gambar 8.

Gambar 8 Pola aliran fluida di dalam tangki berpengaduk
(a) flat-blade turbine (b) marine propeller (c) helical screw

Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II

Departemen Teknik Kimia ITB


Modul 1.09 Tangki Berpengaduk Halaman 10 dari 34
Pada dasarnya terdapat 3 komponen yang hadir dalam tangki berpengaduk yaitu:
a. komponen radial pada arah tegak lurus terhadap tangkai pengaduk
b. komponen aksial pada arah sejajar (paralel) terhadap tangkai pengaduk
c. komponen tangensial atau rotasional pada arah melingkar mengikuti putaran
sekitar tangkai pengaduk.
Komponen radial dan tangensial terletak pada daerah horizontal dan komponen
longitudinal pada daerah vertikal untuk kasus tangkai tegak (vertical shaft). Komponen
radial dan longitudinal sangat berguna untuk penentuan pola aliran yang diperlukan untuk
aksi pencampuran (mixing action).
Pengadukan pada kecepatan tinggi ada kalanya mengakibatkan pola aliran
melingkar di sekitar pengaduk. Gerakan melingkar tersebut dinamakan vorteks. Vorteks
dapat terbentuk di sekitar pengaduk ataupun di pusat tangki yang tidak menggunakan
baffle. Fenomena ini tidak diinginkan dalam industri karena beberapa alasan. Pertama
kualitas pencampuran buruk meski fluida berputar dalam tangki. Hal ini disebabkan oleh
kecepatan sudut pengaduk dan fluida sama. Kedua udara dapat masuk dengan mudahnya
ke dalam fluida karena tinggi fluida di pusat tangki jatuh hingga mencapai bagian atas
pengaduk. Ketiga, adanya vorteks akan mengakibatkan naiknya permukaan fluida pada
tepi tangki secara signifikan sehingga fluida tumpah. Upaya berikut ini dapat dilakukan
untuk menghindari vorteks, yaitu:
1. menempatkan tangkai pengaduk lebih ke tepi (off-center)
2. menempatkan tangkai pengaduk dengan posisi miring
3. menambahkan baffle pada dinding tangki.

IV.9 Draft Tube [Deddy, 2001]
Draft tube merupakan silinder ramping yang mengelilingi pengaduk dengan
diameter lebih besar dari diameter pengaduk. Alat ini digunakan untuk mengendalikan
arah dan kecepatan aliran serta sangat berguna untuk menghasilkan nilai shear pengaduk
yang tinggi. Penggunaan draft tube dengan pola aliran down-pumping menghasilkan pola
aliran kuat yang akan menyapu semua padatan dan menurunkan tingkat deposisi.
Dengan draft tube diharapkan partikel-partikel fluida mencapai path length yang
sama. Penggunaan draft tube menghasilkan peningkatan yang sangat signifikan dari
keseragaman aliran, terutama pada daerah dekat permukaan cairan. Tetapi, daya yang
dibutuhkan pada sistem pengadukan dengan draft tube lebih besar daripada sistem open
impeller. Walaupun demikian, jika sistem pengadukan dengan draft tube ternyata

Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II

Departemen Teknik Kimia ITB


Modul 1.09 Tangki Berpengaduk Halaman 11 dari 34
menghasilkan pencampuran yang lebih baik, maka penggunaan draft tube tetap menjadi
pilihan utama.
Posisi pengaduk dalam draft tube ditentukan oleh jenis pengaduk yang
digunakan. Untuk pengaduk jenis turbine, pengaduk diletakkan di bawah draft tube. Tapi
untuk pengaduk jenis propeller, pengaduk diletakkan di dalam draft tube. Gambar 9
merupakan sketsa sederhana tangki berpengaduk dengan draft tube.

Gambar 9 Tangki berpengaduk dengan draft tube
(a) pengaduk turbine (b) pengaduk propeller

IV.10 Laju dan Waktu Pencampuran (Rate & Time for Mixing)
Waktu pencampuran (mixing time) adalah waktu yang dibutuhkan sehingga
diperoleh keadaan yang serba sama untuk menghasilkan campuran atau produk dengan
kualitas yang telah ditentukan. Sedangkan laju pencampuran (rate of mixing) adalah laju
di mana proses pencampuran berlangsung hingga mencapai kondisi akhir [Coulson and
Richardson, 1999].
Pada operasi pencampuran dengan tangki pengaduk, waktu pencampuran ini
dipengaruhi oleh beberapa hal,
1. Yang berkaitan dengan alat, seperti:
a. ada tidalnya baffle atau cruciform baffle
b. bentuk atau jenis pengaduk (turbin, propeler, padel)
c. ukuran pengaduk (diameter, tinggi)
d. laju putaran pengaduk
e. kedudukan pengaduk pada tangki, seperti
1. jarak terhadap dasar tangki
2. pola pemasangannya:
- center, vertikal
- off center, vertikal
- miring (inciclined) dari atas

Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II

Departemen Teknik Kimia ITB


Modul 1.09 Tangki Berpengaduk Halaman 12 dari 34
- horisontal
f. jumlah daun pengaduk
g. jumlah pengaduk yang terpasang pada poros pengaduk
2. Yang berhubungan dengan cairan yang diaduk:
a. perbandingan kerapatan/ densitas cairan yang diaduk
b. perbandingan viskositas cairan yang diaduk
c. jumlah kedua cairan yang diaduk
d. jenis cairan yang diaduk (miscible, immiscible)
Untuk selanjutnya faktor-faktor tersebut dapat dijadikan variabel yang dapat
dimanipulasi untuk mengamati pengaruh setiap faktor terhadap karakteristik pengadukan,
terutama terhadap waktu pencampuran.
Beberapa teknik yang dapat digunakan untuk menentukan waktu dan laju
pencampuran, antara lain:
1. menambahkan pewarna dan mengukur waktu yang dibutuhkan untuk mencapai
keseragaman warna
2. menambahkan larutan garam dan mengukur konduktivitas elektrik saat
komposisi seragam
3. menambahkan asam atau basa serta mendeteksi perubahan warna indicator ketika
proses netralisasi sudah selesai
4. metoda distribusi waktu tinggal (residence time distribution) yang diukur dengan
memantau konsentrasi output
5. mengukur temperatur serta waktu yang dibutuhkan untuk mencapai keseragaman.
Waktu pencampuran ditentukan oleh beberapa variable proses dan operasi yang
ditunjukkan oleh hubungan berikut ini.

m = f
( , , N, D, g. dimensi geometri sistem)
dengan
m
= waktu pencampuran
= densitas fluida
= viskositas fluida
N = kecepatan putaran pengaduk
D = diameter pengaduk
g = percepatan gravitasi



Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II

Departemen Teknik Kimia ITB


Modul 1.09 Tangki Berpengaduk Halaman 13 dari 34
Jika faktor dimensi geometri dan bilangan Froude (DN
2
/g) diabaikan, maka
hubungan 2.5 dapat disederhanakan menjadi:
( ) Re
2
f
ND
f
m
=
|
|
.
|

\
|
=

(4)

IV. 11 Kebutuhan Daya
Untuk melakukan perhitungan dalam spesifikasi tangki pengaduk telah
dikembangkan berbagai teori dan hubungan empiris. Para peneliti telah mengembangkan
beberapa hubungan empiris yang dapat memperkirakan ukuran alat dalam pemakaian
nyata atas dasar percobaan yang dilakukan pada skala laboratorium.
Perkiraan kebutuhan daya yang diperlukan untuk mengaduk cairan dalam tangki
pengaduk dapat dihitung atas dasar percobaan pada skala laboratorium. Persyaratan
penggunaan hubungan empiris tersebut adalah adanya:
1. Kesamaan geometris yang menentukan kondisi batas peralatan, artinya bentuk kedua
alat harus sama dan perbandingan ukuran-ukuran geometris berikut ini sama untuk
keduanya:
D
H
,
D
W
,
D
S
,
D
J
,
D
C
,
D
D
T
(5)

Dimana: D
T
= diameter tangki
C = tinggi pengaduk dari dasar tangki
D = diameter pengaduk
H = tinggi cairan dalam tangki
J = lebar baffle
N = jumlah putaran pengaduk permenit
P = daya (power)
S = pitch dari pengaduk
W = lebar blade pengaduk
b. Kesamaan dinamik dan kesamaan kinematik, yaitu terdapat kesamaan harga
perbandingan antara gaya yang bekerja di suatu kedudukan (gaya viskos terhadap
gaya gravitasi, gaya inersia terhadap gaya viskos, dan sebagainya)

Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II

Departemen Teknik Kimia ITB


Modul 1.09 Tangki Berpengaduk Halaman 14 dari 34
Dua sistem yang sama secara geometri dapat dikatakan sama secara dinamik jika
perbandingan gaya-gaya yang bekerja pada sistem sama. Sedangkan kesamaan kinematik
terjadi jika kecepatan pada titik bersesuaian memiliki perbandingan yang sama.
Faktor yang mempengaruhi kebutuhan daya (power) P untuk pengadukan adalah
diameter pengaduk D, kekentalan cairan, kerapatan cairan, medan gravitasi g, dan laju
putar pengaduk N.
Maka secara matematis dapat ditulis sebagai berikut:
P = f (D ,, , g, N) (6)
Bila dianggap hubungan besaran-besaran tersebut seperti persamaan berikut:
P = K (D
a
,
b
,
f
, g
e
, N
g
) (7)
dimana K adalah konstanta, dengan analisa dimensi yang menggunakan dimensi M untuk
massa, L untuk panjang, dan T untuk waktu, maka:
g f
3
e
2
b
a
3
2
T
1
.
L
M
.
T
L
.
LT
M
. L
T
ML
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
= (8)

dengan menyelesaikan persamaan tersebut, diperoleh:
-e
2
-b
2
3 5
g
DN
.

.N D
K.
N D
P
|
|
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|
= (9)

dimana dari persamaan-persamaan tersebut dikenal bilangan tak berdimensi:

IV.12 Parameter Hidrodinamika dalam Tangki Berpengaduk
Hidrodinamika fluida yang terjadi dalam tangki berpengaduk dapat diturunkan
dalam suatu korelasi empiris antara bilangan Reynolds, Fraude dan Power.
1. Bilangan Reynolds
Bilangan Reynolds merupakan bilangan tak berdimensi yang menyatakan
perbandingan antara gaya inersia dan gaya viskos. Untuk sistem dengan
pengadukan:
( )

N D

ND D
Re
2
= = (10)
dengan = densitas fluida
= viskositas fluida
D = diameter pengaduk

Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II

Departemen Teknik Kimia ITB


Modul 1.09 Tangki Berpengaduk Halaman 15 dari 34
Dalam sistem pengadukan terdapat 3 jenis rejim aliran yaitu laminar,
transisi dan turbulen. Rejim aliran laminar terjadi pada bilangan Reynolds 10,
sedangkan turbulen terjadi pada bilangan Reynolds 10
4
[Broadkey, 1988].
2. Bilangan Fraude
Bilangan Fraude menunjukkan perbandingan antara gaya inersia dengan gaya
gravitasi. Bilangan Fraude dapat dihitung dengan persamaan berikut:
( )
g
D N
Dg
ND
Dg
v
Fr
2 2 2
= = = (11)
dengan Fr = bilangan Fraude
N = kecepatan putaran pengaduk
D = diameter pengaduk
g = percepatan gravitasi

Bilangan Fraude bukan merupakan variable yang signifikan. Bilangan ini
hanya diperhitungkan pada sistem pengadukan unbaffled. Pada sistem ini bentuk
permukaan cairan dalam tangki akan dipengaruhi gravitasi sehingga membentuk
vorteks. Vorteks menunjukkan keseimbangan antara gaya gravitasi dengan gaya
inersia.
3. Bilangan Power
Bilangan Power menunjukkan perbandingan antara perbedaan tekanan
yang dihasilkan aliran dengan gaya inersianya. Perubahan tekanan akibat
distribusi pada permukaan pengaduk dapat diintegrasikan menghasilkan torsi
total dan kecepatan pengaduk.
5 3
D N
P
Po = (12)
dengan Po = bilangan Power
N = kecepatan putaran pengaduk
= densitas fluida

Korelasi antara bilangan Power dengan Reynold serta Fraude ditunjukkan
pada persamaan-persamaan berikut:
Untuk sistem tanpa baffle :
c b
a Po Pr Re = (13)
Untuk sistem dengan baffle :
b
a Po Re = (14)
dengan Po = bilangan Power

Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II

Departemen Teknik Kimia ITB


Modul 1.09 Tangki Berpengaduk Halaman 16 dari 34
Re = bilangan Reynold
Pr = bilangan Prandtl
a, b, c = konstanta eksperimental
Persamaan pertama dapat diubah menjadi:
Re ln ln ln b a Po + = (15)
Dari hasil peneliti sebelumnya [Deddy, RSCE], hubungan antara Power dan
nisbah cair-padat disajikan pada Gambar 10 sedangkan hubungan antara bilangan
Reynold dan bilangan Power disajikan pada Gambar 11.


Gambar 10 Hubungan antara daya dan nisbah cair-padat

1
10
100
1000
5000 10000 15000 20000 25000 30000 35000 40000
Reynolds number (Re)
P
o
w
e
r

n
u
m
b
e
r

(
P
o
)
Tanpa TKS L/S = 10 L/S = 8 L/S = 6

Gambar 11 Korelasi bilangan Reynolds dan bilangan Power pengaduk turbin

IV.12 Karakteristik Pengadukan dan Pencampuran
Agar bejana proses bekerja efektif pada setiap masalah pengadukan, volume
fluida yang disirkulasikan impeller harus cukup besar agar dapat menyapu keseluruhan
bejana dalam waktu yang singkat. Demikian pula, kecepatan arus yang meninggalkan

Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II

Departemen Teknik Kimia ITB


Modul 1.09 Tangki Berpengaduk Halaman 17 dari 34
impeller harus cukup tinggi agar dapat mencapai semua sudut tangki. Keturbulenan aliran
adalah akibat arus yang terarah baik serta gradien kecepatan yang cukup besar di dalam
zat cair. Sirkulasi dan pembangkitan keturbulenan aliran memerlukan energi, dan terdapat
hubungan antara pemasukan daya dan parameter perancangan bejana pencampur
berpengaduk.
Sketsa dimensi tangki dapat dilihat pada Gambar 12.










Gambar 12. Dimensi Tangki dan Impeller
Agitator turbin pada prinsipnya adalah pompa impeller yang beroperasi tanpa
rumahan, dengan aliran masuk dan aliran keluar yang tidak terarah. Hubungan-hubungan
penentu untuk agitator turbin identik dengan hubungan untuk pompa sentrifugal. Jika
kecepatan tangensial zat cair merupakan fraksi k tertentu dari kecepatan di ujung daun,
maka
.n .D k. k.u u V'
a 2 2
= = (16)
karena u
2
= . D
a
.n, maka laju aliran volumetrik melalui impeller adalah:
q = V
r2
.A
p
(17)
Dimana: u
2
adalah kecepatan pada ujung daun
n adalah jumlah daun impeller
V
u2
dan V
r2
adalah kecepatan tangensial dan kecepatan radial zat cair yang
meninggalkan ujung daun impeller
V
2
adalah kecepatan total cairan pada titik tersebut
Profil vektor kecepatan pada ujung daun impeller ditunjukkan pada Gambar 13.




Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II

Departemen Teknik Kimia ITB


Modul 1.09 Tangki Berpengaduk Halaman 18 dari 34









Gambar 13 Profil Kecepatan pada Ujung Daun Impeller
A
p
diambil dari luas silinder yang terbentuk dari sapuan ujung daun impeller, atau:
A
p
= .D
a
.W (18)
Dimana: Da adalah diameter impeller
W adalah lebar daun impeller
Dari geometri terlihat bahwa:
V
r2
= (u
2
V
u2
)tan
2
(19)
Substitusi V
u2
memberikan:
V
r2
= . D
a
. n (1-k). tan
2
(20)
Maka laju alir volumeteri adalah:
q =
2
.D
a
2
.n.W.(1-k). tan
2
(21)
Untuk impeller bergeometri sama W sebanding dengan Da, sehingga untuk nilai k dan
2
berlaku
q n.D
a
3

(22)
Rasio antara kedua besaran tersebut disebut angka aliran (flow number) N
Q
yang
didefinisikan sebagai:
3
a
Q
n.D
q
N (23)
Untuk impeller turbin N
Q
adalah fungsi ukuran relatif impeller dan tangki. Untuk bejana
berpengaduk dan bersekat (untuk turbun rata berdaun 6 dengan W/D
a
= 1/5), nilai N
Q

adalah 1.3. Untuk turbin berdaun rata, aliran total, diperkirakan dari waktu sirkulasi rata-
rata cairan yang terlatut adalah:
|
|
.
|

\
|
=
a
t
3
a
D
D
. 0.92.n.D q (24)

Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II

Departemen Teknik Kimia ITB


Modul 1.09 Tangki Berpengaduk Halaman 19 dari 34
Salah satu pertimbangan yang sangat penting dalam merancang bejana pengaduk
adalah kebutuhan daya untuk memutar impeller. Bila aliran di dalam tangki adalah
turbulen, kebutuhan daya dapat diperkirakan dari hasil kali aliran q yang didapat dari
impeller dan energi kinetik Ek per satuan volume fluida. Besaran aliran q adalah:
q = n.D
a
3
.N
Q
(25)
Sedangkan energi kinetik aliran didiefinisikan sebagai:
c
2
2
k
2.g
) .(V'
E = (26)

Kecepatan V
2
sedikit lebih kecil dari kecepatan ujung u
2
. Jika rasio V
2
/u
2
disimbolkan
dengan , maka V
2
= ..n.D
a
, dan kebutuhan daya adalah:
( )
2
a
c
Q
3
a
..n.D
2.g

. .N n.D P = (27)
|
|
.
|

\
|
=
Q
2 2
c
5
a
3
N
2
.
g
.D .n
P (28)
Dalam bentuk tanpa dimensi persamaan tersebut menjadi:
Q
2 2
5
a
3
c
N
2
.
. .D n
P.g
= (29)
Ruas kiri persamaan tersebut dianamakan bilangan daya (power number) N
P,
yang
didefinisikan sebagai:
Q
5
a
3
c
P
. .D n
P.g
N = (30)
Untuk menaksir daya yang diperlukan untuk memutar impeller pada kecepatan
tertentu, diperlukan korelasi empirik mengenai daya (bilangan daya). Bentuk korelasi
demikian didapatkan dari analisis dimensi, bila spesifikasi tangki, sekat, dan impeller
diketahui.Variabel-variabel yang dianalisis adalah dimensi penting tangki, sekat, dan
impeller, viskositas, densitas, dan kecepatan zat cair, serta fenomena vorteks yang terjadi
di permukaan cairan. Sebagian zat cair akan terangkat lebih tinggi dari permukaan rata-
rata zat cair, yaitu permukaan dalam keadaan tidak teraduk, dan gaya angkat ini harus
diatasi oleh gaya gravitasi. Gugus-gugus tanpa dimensi yang berkorelasi dengan bilangan
daya adalah bilangan Reynolds, bilangan Froude, dan faktor bentuk, sehingga dapat
dirumuskan persamaan:

Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II

Departemen Teknik Kimia ITB


Modul 1.09 Tangki Berpengaduk Halaman 20 dari 34
Np = (N
RE
, N
FR
, S
1
, S
2
,.....,S
n
) (31)
Berbagai faktor bentuk dalam persamaan tersebut ditentukan oleh jenis dan
susunan alat. Ukuran-ukuran penting untuk bejana dengan pengaduk turbin yang umum
disajikan pada Gambar 14.








Gambar 14 Ukuran Bejana
Faktor-faktor bentuk yang berhubungan dengan dimensi bejana, sekat, dan
impeller tersebut adalah: S
1
= D
a
/D
t
, S
2
= E/D
a
, S
3
= L/D
a
, S
4
= W/D
a
, S
5
= J/D
t
dan S
6
=
H/D
t
. Faktor-faktor tersebutlah yang biasanya dikorelasikan dengan bilangan-bilangan tak
berdimensi dan diplot dalam grafik-grafik korelasi. Contoh grafik N
P
terhadap N
RE
untuk
tangki disajikan pada Gambar 15a dan Gambar 15b.






Gambar 15a dan 15b Korelasi bilangan Reynolds dan bilangan daya.

Kriteria keberhasilan pencampuran biasanya diamati secara visual. Kriteria lain
adalah fluktuasi konsentrasi setelah suatu pencampur diinjeksikan ke dalam aliran fluida,
variasi dalam analisis sampel yang diambil secara random dari berbagai titik dalam
campuran kecil, laju perpindahan zat terlarut dari suatu fasa cair ke dalam fasa lain, serta
keseragaman suspensi.
Pencampuran zat cair yang miscible di dalam tangki merupakan proses yang
berlangsung cepat dalam daerah aliran turbulen. Impeller akan menghasilkan arus
kecepatan tinggi, fluida dapat bercampur baik di daerah sekitar impeller karena adanya

Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II

Departemen Teknik Kimia ITB


Modul 1.09 Tangki Berpengaduk Halaman 21 dari 34
keturbulenan. Pada waktu arus melambat karena membawa serta aliran lain di sepanjang
dinding, terjadi juga pencampuran radial sedang pusaran-pusaran besar pecah menjadi
kecil, tetapi tidak banyak terjadi pencampuran pada arah aliran, Fluida akan mengalami
satu lingkaran penuh dan kembali ke pusat impeller, dan berkontak dengan massa fluida
yang lain dan terjadi pencampuran. Perhitungan yang didasarkan atas model ini
menunjukkan bahwa pencampuran yang hampir sempurna (99%) tercapai saat isi tangki
disirkulasikan sebanyak 5 kali. Waktu pencampuran dapat diperkirakan dari korelasi
aliran yang dihasilkan turbin standar berdaun 6, sebagai berikut:
|
|
.
|

\
|
=
a
t
3
a
D
D
n.D 0.92 q (32)
t
2
a
2
t
T
.D 0.92.n.D
1
.
4
.H D
5.
q
5V
t = (33)
atau
4.3 konstan
H
D
.
D
D
. n.t
t
2
t
a
T
= = |
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|
(34)
Untuk tangki dan impeller tertentu, atau untuk berbagai sistem yang serupa
secara geometri, waktu pencampuran diperkirakan akan berbanding terbalik dengan
kecepatan pengaduk. Grafik pada gambar 16 menyajikan hasil untuk berbagai sistem
yang dikorelasikan dalam n.t
T
terhadap N
RE.
Untuk turbin dengan spesifikasi D
a
/D
t
= 1/3
dan D
t
/H =1, nilai n.t
T
untuk N
RE
> 10
3
adalah 36.









Gambar 16 Korelasi Waktu Pencampuran
Waktu pencampuran akan jauh lebih besar bila N
RE
antara 10-1000 walaupun
konsumsi daya tidak banyak berbeda dengan keadaan turbulen. Waktu pencampuran

Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II

Departemen Teknik Kimia ITB


Modul 1.09 Tangki Berpengaduk Halaman 22 dari 34
dengan turbin bersekat berubah sesuai persamaan polinomial berorde 1.5 terhadap
kecepatan pengaduk dan meningkat lagi dengan cepat jika N
RE
diturunkan. Faktor waktu
pencampuran dapat disusun kembali untuk rejim turbulen sesuai persamaan Norwood dan
Metzner, sebagai berikut:
6 1/
a
2
1/2
t
2
t
a
T 3/2
t
1/2
2 / 1
a
1/6 2/3
a T
t
.D n
g
H
D
D
D
. n.t
.D H
.D .g ) (nD t
f
2
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|
= = (35)
Bilangan froude dalam persamaan tersebut menyiratkan adanya efek vorteks,
yang dapat terjadi pada bilangan reynolds yang rendah. Bilangan froude dapat diabaikan
pada tangki bersekat dengan aliran yang sangat turbulen (N
RE
sangat tinggi).

V. Rancangan Percobaan

V.1 Perangkat Alat dan Bahan
Pada percobaan pendahuluan, peralatan yang digunakan adalah piknometer
berukuran 25 mL dan viskometer Ostwald. Sedangkan pada percobaan utama, peralatan
yang digunakan adalah tangki berpengaduk dengan draft tube kapasitas 2 L yang terbuat
dari stainless steel. Tipe draft tube yang digunakan berdiameter 3 cm dan memiliki
daerah hisapan yang melebar 30
o
. Konfigurasi tangki berpengaduk dengan draft tube ini
dipilih berdasarkan mixing time tersingkat dan daya terkecil [Hermawan, 2001].
Pemanasan tangki berpengaduk dilakukan dengan merendamnya dalam water
bath. Temperatur pada water bath ini dijaga konstan pada nilai tertentu dengan
menggunakan pemanas listrik. Temperatur di dalam tangki berpengaduk diukur dengan 6
termokopel yang diletakkan pada arah aksial dan radial. Dan untuk mencatat temperatur
cairan dalam tangki berpengaduk digunakan temperature recorder.
Secara ringkas daftar alat yang dibutuhkan untuk praktikum ini adalah:
1. Dua set tangki berpengaduk seperti pada Gambar 17
2. draft tube
3. water bath
4. Stopwatch
5. Termometer
6. Viskometer
7. Gelas ukur
8. Perangkat titrasi

Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II

Departemen Teknik Kimia ITB


Modul 1.09 Tangki Berpengaduk Halaman 23 dari 34
9. Voltmeter
10. Amperemeter
Dan daftar bahan yang dibutuhkan untuk melaksanakan praktikum ini adalah:
1. Aliran air sebagai fluida dari kran
2. Aqua DM
3. Lindi
4. Larutan NaOH
5. Larutan HCl
6. Indikator pp

V.2 Langkah Percobaan
Percobaan terdiri dari 2 bagian yaitu percobaan pendahuluan dan
percobaan utama. Pengukuran sifat fisik cairan dalam tangki berpengaduk
dilakukan pada percobaan pendahuluan. Sifat fisik yang akan diukur ialah densitas
dan viskositas cairan. Pengukuran densitas cairan dilakukan dengan menggunakan
piknometer sedangkan penentuan viskositas dilakukan dengan menggunakan
viskometer Ostwald. Alat ini dipilih karena sederhana dan dapat dipakai untuk
cairan yang tidak kental. Penentuan sifat fisik cairan ini dilakukan pada beberapa
temperatur dengan tujuan untuk mengamati pengaruh temperatur terhadap sifat
fisik cairan. Jika sifat fisik tidak berubah secara signifikan terhadap temperatur,
maka pada percobaan selanjutnya pengaruh temperatur terhadap hidrodinamika
tangki berpengaduk tidak perlu diamati.
Pemanasan tangki berpengaduk akan dilakukan pada percobaan utama.
Data yang diamati pada percobaan ini ialah mixing time, waktu yang dibutuhkan
untuk mencapai keseragaman temperatur di dalam tangki. Mixing time ini dapat
dianalisa dari pengamatan temperatur tiap selang waktu tertentu. Pengamatan
dilakukan hingga temperatur di setiap titik pengukuran dianggap konstan (steady
state), yaitu dengan rentang perbedaan 5%.
Pengadukan diatur dengan speed regulator, dan daya yang diperlukan
dapat diukur dari tegangan dan arus. Pengukuran tegangan dan arus dilakukan
dengan menggunakan AVO meter.
Parameter hidrodinamika diperoleh dengan mengalurkan bilangan
Reynolds dan bilangan Power. Nilai dari kedua bilangan ini ditentukan dengan
menggunakan persamaan yang telah disebutkan pada bagian IV. Pada persamaan

Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II

Departemen Teknik Kimia ITB


Modul 1.09 Tangki Berpengaduk Halaman 24 dari 34
korelasi daya terdapat parameter P (daya). Nilai daya ini diukur dengan mengamati
tegangan dan arus yang dibutuhkan untuk menggerakkan pengaduk.

IV.2.1 Percobaan Pendahuluan
Penentuan sifat fisik akan dilaksanakan dalam percobaan pendahuluan.
Sifat fisik fluida cair yang diukur ialah densitas dan viskositas. Densitas
diukur dengan menggunakan piknometer sedangkan viskositas diukur
dengan menggunakan viskometer Ostwald.

IV.2.2 Percobaan Utama
Percobaan utama dilakukan dengan memanaskan tangki berpengaduk
dalam water bath (Gambar 17). Pemanasan dilakukan pada temperatur 50
o
C

dan 70
o
C pada kecepatan putaran pengaduk yang divariasikan. Data
yang diamati ialah temperatur tiap satu menit serta tegangan dan arus yang
mengalir dalam rangkaian. Pemanasan dihentikan saat temperatur cairan
yang terbaca di semua titik termokopel hanya beda 5 %.

Gambar 17 Alat percobaan tangki berpengaduk 2 L dengan draft tube





Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II

Departemen Teknik Kimia ITB


Modul 1.09 Tangki Berpengaduk Halaman 25 dari 34
Tabel 2 Konfigurasi tangki berpengaduk 2 L dengan draft tube
Dimensi Panduan Ukuran
Diameter tangki (cm) Dt 10
Tinggi tangki (cm) HT = 3,00 DT 30
Tinggi cairan (cm) HL = 2,30 DT 23
Diameter pengaduk (cm) DA = 0,25 DT 2,5
Pitch blade (cm) p= DT 2,5
Pengaduk turbine 1 buah
Clearance turbine (cm) HA = 0,25 DT 2,5
Diameter draft tube (cm) DD = 0,30 DT 3,0


Keterangan gambar:
1 = Tangki stainless steel 8 = Temperature recorder
2 = Draft tube 9 = Motor pengaduk
3 = Pengaduk 10 = Voltmeter
4 = Termokopel 11 = Amperemeter
5 = Tangki pemanas 12 = Sumber listrik PLN
7 = Kumparan pemanas

IV.3 Variasi Percobaan
Percobaan ini dilakukan dengan menggunakan draft tube dengan diameter 3 cm.
Variasi yang dilakukan pada percobaan ini adalah sebagai berikut:
1. Cairan yang disirkulasikan dalam tangki berpengaduk, yaitu:
a) Air
b) Lindi hitam
Variasi cairan dalam tangki berpengaduk ini dilakukan untuk mengamati pengaruh
sifat fluida, yaitu densitas dan viskositas, terhadap hidrodinamika tangki
berpengaduk dan daya pengadukan.
2. Temperatur pemanasan, yaitu 50
o
C dan 70
o
C.
Variasi temperatur ini dilakukan jika pengaruhnya terhadap sifat fisik cairan
(viskositas dan densitas) signifikan.
3. Kecepatan putaran pengaduk, yaitu 500 rpm, 1000 rpm dan 1500 rpm.
Peningkatan kecepatan putaran pengaduk akan meningkatan kualitas pengadukan.
Di lain pihak, hal ini juga mengakibatkan peningkatan daya pengaduk.
4. Jenis dan ukuran pengaduk, yaitu propeller, turbin 1,5 cm, turbin 2,5 cm dan
turbin 3,5 cm.
Perubahan diameter pengaduk mengakibatkan perubahan daya dan kualitas
pengadukan.


Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II

Departemen Teknik Kimia ITB


Modul 1.09 Tangki Berpengaduk Halaman 26 dari 34
Diagram kerja percobaan ini secara ringkas disajikan pada Gambar 18 berikut:


V.4 Data Literatur
Data literatur yang dibutuhkan dalam pengolahan data praktikum Tangki
Berpengaduk ini adalah:
1. densitas fluida yang diabuk sebagai fungsi waktu
2. Viskositas fluida yang diaduk sebagai fungsi waktu.
3. Konstanta grafitasi standar.



































Gambar 18. Diagram Alir Penelitian
Percobaan pendahuluan,
penentuan sifat fisik fluida
(viskositas dan densitas)
Hasil Percobaan
mixing time
daya pengadukan

H asil Intepretasi Data
Korelasi Hidrodinamika (Re, Po)

Variabel Percobaan :
Temperatur
Jenis cairan


Metode Pengukuran:
Viskositas : Ostwald
Densitas : Piknometer
Percobaan dingin model
draft tube dalam tangki
kapasitas 2 L dengan TKS
Variabel Percobaan:
Cairan dalam tangki
berpengaduk
Kecepatan putaran
pengaduk
Diameter pengaduk
Temperatur bath
Nisbah cair-padat
Metode Pengukuran:
Pengukuran temperatur
cairan dengan
pemanasan dari dinding

Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II

Departemen Teknik Kimia ITB


Modul 1.09 Tangki Berpengaduk Halaman 27 dari 34
V.5 Data Pengamatan Praktikum
V.5.1 Penentuan Diemnsi Tangki
Jenis Tangki
Karakteristik
Baffle Non-baffle
Diameter (cm)
Tinggi tangki (cm)
Jumlah baffle
Lebar baffle (cm)
Tebal baffle (cm)
Panjang baffle (cm)

V.5.2 Data Karakteristik Impeller
Karakteristik Turbin (blade disk) Propeler Turbin (Pitch-blade)
Diameter (cm)
Jumlah daun
Lebar daun (cm)
Panjang daun (cm)
Tebal daun (cm)

V.5.3 Data Kecepatan Impeller
Jenis Impeller :
No. Impeller :
Kecepatan (rpm)
Variasi Skala Daya
Center Off Center Incline


V.5.4 Data Korelasi Waktu Pencampuran
Waktu Pencampuran (s)
Jenis Pengaduk Jenis Tangki
Center Off Center Incline
Turbin (blade disk)
Propeller
Turbin (pitch-blade)
Baffle
Non-baffle


V.5.5 Perhitungan Densitas Cairan
Temperatur Percobaan :
Densitas air (literatur) pada temperatur percobaan :
Massa (g)
Pikno kosong
Pikno + aqua dm
Pikno + air fluida



Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II

Departemen Teknik Kimia ITB


Modul 1.09 Tangki Berpengaduk Halaman 28 dari 34
V.5.6 Perhitungan Viskositas Cairan
Temperatur Percobaan :
Viskositas air (literatur) pada temperatur percobaan :
t (s)
aqu dm
fluida

V.5.7 Profil Aliran
Jenis Tangki Jenis Pengaduk Centre Off-centre Incline
Turbin (blade dissk)
Propeler Baffle
Turbin (pitch blade)
Turbin (blade dissk)
Propeler Non-Baffle
Turbin (pitch blade)

V.6 Langkah-Langkah Pengolahan Data
Data yang diperoleh dari hasil percobaan adalah temperatur cairan tiap menit di
keenam titik termokopel. Data ini dialurkan dalam sebuah grafik temperatur terhadap
waktu. Pengaruh pengaduk terhadap kualitas pengadukan disajikan dengan mengalurkan
kecepatan putaran pengaduk terhadap mixing time dalam sebuah grafik pada berbagai
jenis pengaduk. Sedangkan pengaruhnya terhadap daya disajikan pada grafik daya
pengadukan dengan kecepatan putaran pengaduk. Dari kedua grafik tersebut dapat dilihat
pula pengaruh jenis cairan terhadap kualitas dan daya pengadukan.
Pengaruh nisbah cair-padat terhadap kualitas pengadukan disajikan dengan
mengalurkan grafik mixing time dengan nisbah cair-padat. Sedangkan pengaruhnya
terhadap daya pengadukan ditampilkan dalam bentuk grafik antara daya spesifik dengan
nisbah cair-padat pada berbagai temperatur untuk masing-masing jenis cairan.
Korelasi empiris antara bilangan Reynolds dengan bilangan Power diperoleh
dengan cara mengalurkan grafik logaritmik antara bilangan Reynolds (absis) dengan
bilangan Power (ordinat).





Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II

Departemen Teknik Kimia ITB


Modul 1.09 Tangki Berpengaduk Halaman 29 dari 34
V.6.1 Pengukuran Dimensi Tangki
Dimensi tangki diukur baik pada tangki yang dilengkapi baffle maupun yang
tidak dilengkapi baffle. Dimensi yang diukur adalah diameter tangki, tinggi fluida
dalam tangki, jumlah baffle dan lebar baffle.

V.6.2 Pengukuran Dimensi Pengaduk
Dimensi semua pengaduk yang digunakan harus diukur, baik jenis turbin, padel,
maupun propeler. Dimensi pengaduk yang diukur adalah diameter, jumlah daun,
lebar daun, panjang daun, dan ketinggian penagduk dari dasar tangki.

V.6.3 Penentuan Densitas Fluida
Densitas Fluida ditentukan dengan piknometer.
Persamaan yang digunakan:
T) suhu (pada
air
.
dm aqua massa
fluida massa
T) suhu (pada
fluidal
=
Contoh:
Misalkan data:
- massa piknometer kosong = 13.244g
- massa piknometer + aqua dm = 39.885 g
- massa piknometer + fluida = 39.866 g
- Data diambil pada T = 28
0
C, dimana
air
= 997.08 kg/m
3

Massa fluida = (massa piknometer + campuran) massa piknometer kosong
Massa aqua dm = (massa piknometer + aqua dm) massa piknometer kosong.

3
kg/m 996,369 28) suhu (pada
fluida

.997.08
13,244 - 39,885
13,244 - 39,866
28) suhu (pada
fluida

=
=


V.6.4 Penentuan Viskositas Fluida
Misalkan diperoleh data:
- Dua kali perhitungan waktu tempuh pada fluida air kran adalah 175, 176, dan
179 detik
- Densitas air kran adalah 996,369 kg/m
3
.
- Ketinggian fluida dari dasar tangki 15,7 cm

Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II

Departemen Teknik Kimia ITB


Modul 1.09 Tangki Berpengaduk Halaman 30 dari 34
Maka:
- waktu tempuh rata-rata adalah 176,67 detik
- Viskositas air kran = 0,0008528 kg/m.s

V.6.5 Penentuan Konstanta Korelasi Kebutuhan Daya
1. Penentuan Kecepatan Putar n, (dalam rps)
2. Penentuan Tegangan Listrik Motor Agitator (dalam Volt)
3. Penentuan Arus Listrik yang Dibutuhkan Motor Agitator (dalam mA)
4. Penentuan Daya Efektif (P
eff
) (dalam Watt)
Persamaan yang digunakan: P
eff
= I
eff
..V
eff
5. Penentuan Bilangan Daya (N
P
)
Persamaan yang digunakan:
. .D n
P.g
N
5
a
3
c
P
=
6. Penentuan Bilangan Reynolds (N
RE
)
Persamaan yang digunakan:

.N. D
N
2
RE
=
7. Penentuan Bilangan Freude (N
FR
)
Persamaan yang digunakan:
g
DN
N
2
FR
=
8. Perhitungan ln N
P,
ln N
RE
,

ln N
FR
.
9. Perhitungan (ln N
P
)
2
,
(ln N
RE
)
2
,

(ln N
FR
)
2

10. Perhitungan (ln N
P
* ln N
RE
), (ln N
RE
* ln N
FR
), dan (ln N
FR
* ln N
P
)
11. Umumnya diambil 7 seri data dan nilai-niali tersebut terletak dalam 1 kolom.
Nilai ln N
P,
ln N
RE
, dan

ln N
FR
;

(ln N
P
)
2
,
(ln N
RE
)
2
,

dan (ln N
FR
)
2
; (ln N
P
* ln
N
RE
), (ln N
RE
* ln N
FR
), dan (ln N
FR
* ln N
P
) dijumlahkan berurutan di bawah
kolom.
Berikut ini adalah contoh seri data dan perhitungannnya:
N' V I Vo Io Peff
(rps) (volt) (mA) (volt) (mA) (Watt)
N
PO
N
RE
N
FR

0.333 50 30 22.5 25 0.938 2773.420 1496.985 0.001
0.833 55 45 34 30 1.455 2754.463 3742.463 0.004
1.167 65 55 44 40 1.815 1252.154 5239.448 0.009
1.667 70 65 50 50 2.050 485.098 7484.926 0.018

Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II

Departemen Teknik Kimia ITB


Modul 1.09 Tangki Berpengaduk Halaman 31 dari 34
2.000 80 75 60 55 2.700 369.739 8981.911 0.025
2.333 90 90 70 65 2.650 228.527 10478.900 0.034

ln N
PO
* ln N
RE
* ln N
FR
*
ln N
PO
ln N
RE
ln N
FR
(ln N
PO
)
2
(ln N
RE
)
2
(ln N
FR
)
2

ln N
RE
ln N
FR
ln N
PO

7.928 7.311 -7.262 62.851 53.454 52.731 57.962 -53.091 -57.569
7.921 8.227 -5.428 62.742 67.692 29.468 65.170 -44.662 -42.998
7.133 8.564 -4.755 50.874 73.342 22.614 61.084 -40.725 -33.919
6.184 8.921 -4.042 38.246 79.578 16.338 55.168 -36.057 -24.997
5.913 9.103 -3.677 34.961 82.864 13.523 53.824 -33.475 -21.744
5.432 9.257 -3.369 29.503 85.694 11.351 50.281 -31.188 -18.300

V.6.6 Penentuan Korelasi Waktu Pencampuran
1. Penentuan kecepatan putar pengaduk (dalam rpm)
2. Perhitungan kecepatan putar pengaduk (dalam rps)
3. Penentuan waktu pencampuran (dalam detik), yaitu waktu yang dihitung
mulai saat suatu fluida jenis lain yang telah ditandai dimasukkan ke dalam
fluida di dalam tangi, sampai waktu pertama saat kedua fluida itu tercampur
sempurna dan terlihat homogen
4. Penentuan Bilangan Reynolds (N
RE
)
Persamaan yang digunakan:

.N. D
N
2
RE
=
5. Perhitungan tempuhan putaran impeller sampai 2 fluida tercampur
Persamaan yang digunakan d = n(rps).t
6. Perhitungan ln N
RE

7. Perhitungan ln [n(rps).t]
8. Pembuatan kurva korelasi pencampuran, dengan memplot antara ln N
RE
di
sumbu x dan ln [n(rps).t] di sumbu y
Berikut ini adalah contoh seri data dan langkah-langkah perhitungan korelasi
waktu pencampurannya:
N (rpm) n (rps) t (s) N
RE
n.t ln N
RE
ln (n.t)
20 0.3333 33 1496.985 10.9989 7.311208 2.397795
70 0.1667 11 5239.448 1.8337 8.563971 0.606336
100 0.6667 8 7484.926 5.3336 8.920646 1.674026
120 2 5 8981.911 10 9.102968 2.302585
140 2.3333 4 10478.9 9.3332 9.257119 2.233578

Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II

Departemen Teknik Kimia ITB


Modul 1.09 Tangki Berpengaduk Halaman 32 dari 34

Korelasi Waktu Pencampuran
y = 2.5201x
3
- 62.007x
2
+ 506.21x - 1369
R
2
= 0.5248
0
0.5
1
1.5
2
2.5
3
3.5
7 8 9 10
ln N RE
l
n

(
n
.
t
)

V.6.7 Penentuan Kondisi Optimum
Kondisi optimum tercapai saat kecepatan putaran minimum, daya
pengadukan minimum, dan waktu pencampuran tersingkat. Titik ini diketahui
dengan membuat grafik yang memplot N (rpm) terhadap t (detik) dan N (rpm)
terhadap P
eff
, dalam 1 grafik. Antara ke dua plot tersebut akan ditemukan 1 titik
perpotongan yang merupakan kondisi pencampuran optimum.

Dari grafik tersebut terlihat bahwa kondisi optimum proses pencampuran tercapai
dengan laju agitator 49 rpm, waktu pencampuran 1,47 detik dan daya
pencampuran yang diberikan 16 Watt.

V.6.8 Korelasi Empiris Kebutuhan Daya Pengadukan
n
FR
m
RE PO
N N k N ) ( * ) .( =
Persamaan di atas diperoleh dari:
1. P = f (D, , g, , N)
2. P = k (D
a
,
b
, g
e
,
f
, N
g
)
Jika dituliskan dalam basis LMT, diperoleh:
0
0.5
1
1.5
2
2.5
3
0 50 100 150
N (rpm)
t

(
s
)
0
5
10
15
20
25
30
35
P

e
f
f

(
W
a
t
t
)


Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II

Departemen Teknik Kimia ITB


Modul 1.09 Tangki Berpengaduk Halaman 33 dari 34
(
(

|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|
=
g f
e
2
a
3
2
T
1
.
L3
M
.
T
L
.
LT
M
. L
T
M.L
b

L : 2 = a-b+e-3f
M : 1 = b + f
T : -3 = -b-2e-g
f = 1 b
a = 2 +b-e+3-3b = 5-2b-e
g = -b-2e+3
P = k (D
5-2b-e
.
b
.g
e
.
1-b
.N
-b-2e+3
)
(
(

|
|
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|
=
e b
g
N D N D
k
N D
P
2 2
3 5
.
.
. .
.



n
FR
m
RE PO
N N k N ) ( * ) .( =
Hubungan korelasi antara bilangan daya, bilangan reybolds, dan bilangan
froud adalah:
FR RE PO
N n N m k N ln . ln ln ln + + =
Pada masing-masing impeller dapat dihitung besarnya nilai k,m, dan n dari data
percobaan dengan menggunakan metoda Least Square.
Persamaan:
FR RE PO
N n N m k N ln . ln ln ln + + =
Misalkan:
ln N
PO
= Y
ln k = A
m. ln N
RE
= m.X
1

n. ln N
FR
= n. X
2

Y
i
= A + m.X
1
+ n.X
2

( ) ( )
2
2 1
2

= = nX mX A Y Y Y S
i

Tujuan metoda ini adalah mencari nilai A, m, dan n yang
menyebabkan niali S minimum. Supaya nilai S minimum, maka
deferensiasi parsial S terhadap A, m, dan n harus 0.
Maka: 0 =

A
S
, 0 =

m
S
, 0 =

n
S

Untuk itu dapat digunakan matriks dan inversinya, sehingga diperoleh:

Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional I/II

Departemen Teknik Kimia ITB


Modul 1.09 Tangki Berpengaduk Halaman 34 dari 34
(
(
(

(
(
(

=
(
(
(




Y X
Y X
Y
X X X
X X X X
X X u
n
m
A
.
. . .
2
1
2
2 1 2
2 1
2
1 1
2 1

Daftar Pustaka
1. Mc Cabe, W.L., Unit Operation of Chemical Engineering, 3
rd
Edition, McGraw-Hill
2. Book Co., New York, 1978
3. Perry, R., Green, D.W., and Maloney, J.O., Perrys Chemical Engineers Handbook,
6
th
Edition, McGraw-Hill, Japan, 1984
4. Brodley, and Hershey, Transport Phenomena: A Unified Approach, McGaw-Hill
Book Co., New York, 1988, Chapter: Application of Mixing
5. Moo-Young et al., The Blending Efficiencies of Some Impellers in Batch Mixing,
AIChEJ, 18 (1), 1972, pp. 178-182
6. Tatterson, and Gary, B., Fluid Mixing and Gas Dispersion in Agitated Tanks,
McGraw-Hill Book Co., New York, 1991, Chapter 1,2, and 4.