Anda di halaman 1dari 3

I.

PENDAHULUAN

Udang merupakan salah satu komoditas dalam revitalisasi perikanan dengan produksi selama periode tahun 2003-2007 meningkat sebesar 16,39%, yaitu dari 192.926 ton pada tahun 2003 menjadi 352.220 ton pada tahun 2007 (KKP 2008). Produksi udang pada tahun 2014 diharapkan mencapai 699.000 ton, yang diharapkan disuplai dari 188.000 ton udang windu dan 511.000 ton dari udang vaname (KKP 2010). Data yang dikeluarkan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyebut kinerja udang tanah air pada tahun 2009 produksinya mengalami penurunan hingga 30% dari produksi 2008, yaitu hanya mencapai 338.060 ton. Masalah terbesar yang dihadapi dalam budidaya udang adalah infeksi penyakit bakterial dan viral. Serangan virus IMNV ( Infectious Myonecrosis Virus) terjadi pada semua sentra budidaya di Indonesia. Akibat serangan virus pada budidaya udang, KKP bahkan merevisi target produksi udang tahun ini dari 410.000 ton menjadi 350.000 ton. Total produksi udang nasional tahun 2010 berkisar 352.000 ton atau turun dari target semula 410.000 ton (KKP 2011). IMNV pertama kali ditemukan menyerang budidaya udang vaname pada tahun 2002 di Brazil (Costa et al. 2009). Di Indonesia, IMNV pertama kali ditemukan menyerang udang jenis vaname pada tahun 2006 di Situbondo. Gejala klinis yang ditimbulkan berupa rusaknya jaringan otot dan menyebabkan perubahan warna putih pada otot skeletal, otot kemerahan, dan mengakibatkan kematian hingga 70% (Tang et al. 2005). Saat ini, IMNV merupakan masalah utama yang dihadapi para petambak. Dampak yang ditimbulkan berupa menurunnya produktivitas dan menyebabkan kerugian yang besar bagi para petani, serta mempengaruhi perekonomian nasional akibat menurunnya devisa, sehingga diperlukan sebuah solusi untuk menangani masalah tersebut. Sinbiotik merupakan salah satu solusi yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah tersebut. Menurut Li et al. (2009) sinbiotik (gabungan antara probiotik dan prebiotik) terbukti mampu meningkatkan respon imun dan resistensi udang. Hasil penelitian Widagdo (2011) menunjukkan bahwa penambahan sinbiotik melalui pakan mampu meningkatkan kelangsungan hidup dan pertumbuhan udang vaname sebelum dan setelah diinfeksi Vibrio harveyi.

Probiotik merupakan mikroba hidup yang ditambahkan melalui pakan dan memberi pengaruh yang menguntungkan bagi inang dengan meningkatkan keseimbangan mikroba dalam saluran pencernaan (Fuller 1992). Prebiotik merupakan bahan pangan yang tidak dapat dicerna oleh inang tetapi memberikan efek menguntungkan bagi inang dengan cara merangsang pertumbuhan mikroflora normal di dalam saluran pencernaan inang. Sinbiotik merupakan kombinasi seimbang dari probiotik dan prebiotik dalam mendukung kelangsungan hidup dan pertumbuhan bakteri yang menguntungkan dalam saluran pencernaan makhluk hidup (Schrezenmeir dan Vrese 2001). Probiotik yang digunakan dalam penelitian ini adalah bakteri Vibrio alginolyticus SKT-b, bakteri ini mampu menghambat pertumbuhan V. harveyi dalam uji in vitro dan in vivo (Widanarni et al. 2003). Sedangkan prebiotik yang digunakan yaitu karbohidrat golongan oligosakarida yang berasal dari ubi jalar varietas sukuh (Marlis 2008). Fermentasi oligosakarida oleh bakteri akan menghasilkan energi metabolisme dan asam lemak rantai pendek. Hampir semua zat yang diproduksi oleh bakteri bersifat asam dan merupakan hasil fermentasi karbohidrat oligosakarida (Tomomatsu 1994 dalam Rini 2008). Gabungan antara keduanya pada penelitian ini diharapkan mampu meningkatkan sintasan, pertumbuhan, dan respon imun udang vaname. Dosis normal probiotik dan prebiotik yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada penelitian Wang (2007) dan Mahious (2006). Wang (2007) menyatakan bahwa pemberian probiotik pada udang vaname sebanyak 1%

memiliki pertumbuhan dan aktivitas enzim pencernaan yang lebih baik dibandingkan dengan kontrol. Pemberian prebiotik berupa oligofruktosa (Raftilose P95) 2% pada weaning turbot, Psetta maxima menunjukkan bobot ratarata yang lebih tinggi dibandingkan dengan inulin (Raftiline ST) 2% dan laktosukrosa 2%. Raftilose P95 juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber karbon oleh Bacillus sp. sehingga dapat menghasilkan pertumbuhan Bacillus sp. yang lebih cepat (Mahious 2006). Adanya penggunaan setengah dosis dan dua kali dosis dari dosis normal bertujuan untuk mencari dosis yang efektif dan efisien dalam pencegahan IMNV.

Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh pemberian sinbiotik dengan dosis berbeda pada pakan udang vaname untuk pencegahan infeksi IMNV melalui pengamatan kelangsungan hidup dan respon imun udang vaname.