Anda di halaman 1dari 24

PENELITIAN SOSIOLOGI DAMPAK SISWA YANG TERLAMBAT SEKOLAH TERHADAP PRESTASI BELAJAR DI MAN 2 MUARA BUNGO

Guru pembimbing: Gusneti fitri handayani, S.Sos,M.Si

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah Berbicara tentang sistem pendidikan dengan berbagai lembaga yang menyertainya ibarat membicarakan gelombang air laut yang tiada hentinya. Asumsi ini tidaklah berlebihan karena banyak hal yang bisa ditinjau di dalamnya serta banyak pula persoalan fundamental melingkupinya yang nota bene membutuhkan upaya-upaya untuk memecahkan permasalahan

pendidikan tersebut. Anak usia sekolah atau siswa mempunyai peran yang penting dalam pembangunan bangsa dan negara, karena mereka merupakan generasi penerus yang diharapkan dapat membangun dan menghasilkan karya-karya yang berguna bagi negara. Di tangan siswa inilah bagaimana perkembangan suatu negara ditentukan. Anak-anak yang terdidik, berdisiplin,dan berkualitas secara intelektual, mental dan spiritual akan mampu berkompeten dalam menjalankan roda kehidupan berbangsa dan bernegara, sehingga

kelangsungan dan martabat bangsa dapat terjamin. Kedisiplinan pada anak usia sekolah atau siswa sangat penting diperhatikan, adanya peraturan-peraturan yang jelas dan terarah sangat mempengaruhi anak pada masa dewasanya nanti. Kedisiplinan pada siswa harus dilakukan, salah satunya adalah kedisiplinan harus masuk akal dan adanya konsekuensi jika kedisiplinan dilanggar. Seorang siswa dalam mengikuti kegiatan belajar di sekolah tidak akan lepas dari berbagai peraturan dan tata tertib yang diberlakukan sekolah. Setiap siswa dituntut untuk dapat berperilaku sesuai dengan aturan dan tata tertib yang berlaku di sekolah. Ketika kedisiplinan dirasa sangat penting bagi siswa SMA Negeri 13 Pekanbaru, maka pihak sekolah pertama kali perlu menertibkan siswa yang terlambat sekolah. Untuk itu, kedisiplinan adalah hal yang penting dan merupakan ciri kepribadian seseorang untuk meraih kesuksesan. Perlu diketahui bahwa di SMA Negeri 13 Pekanbaru sudah mempunyai tata tertib yang akan mendisiplinkan siswa yang terlambat. Peran

guru dalam mendisiplinkan siswa yang terlambat haruslah tegas dan mendidik, dengan begitu siswa diharapkan tidak akan terlambat lagi datang ke sekolah. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa masih banyak siswa yang sering terlambat. Dalam aturan sekolah mengharuskan siswa datang sebelum jam 07.15 WIB, tetapi kenyataannya masih ada siswa yang datang lewat jam tersebut. Banyaknya siswa yang terlambat mengakibatkan kurang lancarnya proses kegiatan belajar mengajar pada saat jam pertama pelajaran. Keterlambatan pada siswa tersebut bukan berarti tanpa sebab, berbagai macam alasan diungkapkan para siswa yang sering terlambat, diantaranya adalah siswa yang tinggal jauh dari sekolah, masalah transportasi, bangun kesiangan dan sebagainya. Alasan-alasan seperti inilah yang sering dikemukakan siswa ketika datang terlambat pada saat jam pelajaran pertama sudah dimulai. Namun, apapun alasan para siswa yang datang terlambat menunjukkan tingkat kedisiplinan yang rendah. Hal ini tidak boleh dibiarkan begitu saja sehingga pada akhirnya akan menjadi budaya yang tidak baik pada lembaga pendidikan yang bersangkutan. Untuk mengatasi hal ini maka diperlukan suatu aturan yang tegas yang disertai dengan sanksi yang dapat membuat siswa menjadi disiplin yang nantinya akan berguna bagi ketertiban sekolah dan bagi diri siswa itu sendiri. Adapun kebijakan yang diambil adalah dengan mengadakan suatu tindakan disiplin untuk memperbaiki sistem atau aturan pada saat jam pelajaran dimulai. Kebijakan ini dilaksanakan secara terpadu dengan melibatkan semua pihak yang terkait yaitu siswa, guru piket, guru pelajaran jam pertama, wali kelas, guru BP/BK dan kesiswaan. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat terutama bagi siswa bahwa keterlambatan dapat mempengaruhi kedisiplinan siswa yang pada akhirnya berpengaruh terhadap prestasi belajar di sekolah. Karena penilaian guru dalam kegiatan belajar meliputi penilaian kognitif, afektif dan psikomotorik.

Berdasarkan uraian di atas, maka judul dalam penelitian ini adalah DAMPAK SISWA YANG TERLAMBAT SEKOLAH TERHADAP PRESTASI BELAJAR DI SMA N 13 PEKANBARU 1.2 Perumusan Masalah 1. 2. 3. Apakah faktor-faktor penyebab keterlambatan siswa? Apakah sanksi yang diterima oleh siswa yang sering terlambat? Bagaimana solusi dalam mengatasi siswa yang terlambat?

1.3 Tujuan Penelitian 1. 2. 3. Untuk mengetahui faktor penyebab keterlambatan siswa Untuk mengetahui sanksi yang diterima oleh siswa yang terlambat Untuk mengetahui solusi dalam mengatasi siswa yang terlambat

1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 1. Bagi Siswa Siswa dapat hidup disiplin dengan mematuhi peraturan yang ditetapkan

sekolah, terutama pada saat masuk jam pelajaran pertama. 2. Siswa dapat mengatur waktu pada semua aktivitas yang dihadapinya, baik di

sekolah maupun di luar sekolah. 1.4.2 Bagi Guru

Guru dapat melaksanakan kegiatan mengajar pada saat pelajaran pertama tanpa terganggu adanya permasalahan siswa yang sering datang terlambat. 1.4.3 Bagi Peneliti

Menambah pengalaman dan wawasan peneliti dalam melakukan penelitian terutama yang berhubungan dengan masalah siswa yang datang terlambat ke sekolah. 1.4.4 Bagi Sekolah

Dapat menumbuhkan citra sekolah yang tertib dan disiplin dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajarnya.

BAB II KERANGKA TEORI

2.1 Tinjauan Pustaka Pengertian dari siswa adalah seorang anak yang menuntut ilmu menurut STRUK, D.J. (1950) : Lectures on classical Differential Geomtry, Addison Wesley Press. Sedangkan sekolah adalah salah satu tempat untuk menuntut ilmu menurut WEATHERBRU, C.E. (1971) : Differential Geometry Of Three Dimensions, Cambridge University Press. Dan pengertian dari terlambat adalah datang tidak pada waktunya, menurut WILIMORE, T.J. (1959) : An Introduction to Differential Geometry, Oxford University Press. Disiplin sekolah adalah usaha sekolah untuk memelihara perilaku siswa agar tidak menyimpang dan dapat mendorong siswa untuk berperilaku sesuai dengan norma, peraturan dan tata tertib yang berlaku di sekolah. Kepatuhan dan ketaatan siswa terhadap berbagai aturan dan tata tertib yang berlaku di sekolahnya itu biasa disebut disiplin siswa. Menurut Wikipedia (1993) disiplin sekolah Refers to students coplying with a code of behavior often known as the school rules. Yang dimaksud dengan aturan sekolah (school rule) tersebut, seperti aturan tentang standar berpakaian (standards of clothing), ketepatan waktu, perilaku sosial dan etika belajar. Pengertian disiplin sekolah kadangkala diterapkan pula untuk memberikan hukuman (sanksi) sebagai konsekuensi dari pelanggaran terhadap aturan, meski kadangkala menjadi kontroversi dalam menerapkan metode pendisiplinannya, sehingga terjebak dalam bentuk kesalahan perlakuan fisik (Physical maltreatment) dan kesalahan perlakuan psikologis ( Phsychological maltreatment), sebagaimana diungkapkan oleh Irwin A. Hyman dan Pamela A. Snock dalam bukunya Dangerous School (1999). Berkenaan dengan tujuan disiplin sekolah, Maman Rachman (1999)

mengemukakan bahwa tujuan disiplin sekolah adalah: 1) 2) Memberi dukungan bagi terciptanya perilaku yang tidak menyimpang. Mendorong siswa melakukan yang baik dan benar.

3)

Membantu siswa memahami dan menyesuaikan diri dengan tuntutan

lingkungannya dan menjauhi hal-hal yang dilarang oleh sekolah 4) Siswa belajar hidup dengan kebiasaan-kebiasaan yang baik dan bermanfaat

baginya serta bagi lingkungannya. Sementara itu, dengan mengutip pemikiran Moles, Joan Gaustad (1992) mengemukakan: School discipline has two main goals: (1) Ensure the safety of staff and students, and (2) Create an environment conducive to learning. Sedangkan Wendy Schwartz (2001) menyebutkan bahwa : The goals of discipline, once the need for it is determined, should be to help students accept personal responsibility for their actions, understand why a behavior change is necessary, and commit themselves to change. Hal senada dikemukakan oleh Wikipedia (1993) bahwa tujuan disiplin sekolah adalah untuk menciptakan keamanan dan lingkungan belajar yang nyaman terutama di kelas. Di dalam kelas, jika seorang guru tidak mampu menerapkan disiplin dengan baik maka siswa mungkin menjadi kurang termotivasi dan memperoleh penekanan tertentu, dan suasana belajar menjadi kurang kondusif untuk mencapai prestasi belajar siswa. Keith Devis mengatakan, Discipline is management action to enforce organization standarts. Dan oleh karena itu perlu dikembangkan disiplin preventif dan disiplin korektif. Disiplin preventif adalah upaya menggerakkan siswa mengikuti dan mematuhi peraturan yang berlaku. Sedangkan disiplin korektif adalah upaya mengarahkan siswa untuk tetap mematuhi peraturan. Bagi yang melanggar diberi sanksi untuk memberi pelajaran dan memperbaiki dirinya sehingga memelihara dan mengikuti aturan yang ada. Karena pada hakikatnya tata tertib sekolah baik yang berlaku umum maupun khusus meliputi tiga unsur (Arikunto, 1990:123-124) yaitu: 1. 2. Perbuatan atau tingkah laku yang diharuskan dan yang dilarang. Akibat atau sanksi yang menjadi tanggungjawab pelaku atau pelanggar

peraturan. 3. Cara atau prosedur untuk menyampaikan peraturan kepada subjek yang

dikenai tata tertib sekolah tersebut. Sehubungan dengan permasalahan keterlambatan siswa, seorang guru hendaknya mampu menumbuhkan disiplin dalam diri siswa, terutama disiplin diri.

Dalam kaitan ini guru dapat melakukan hal-hal sebagai berikut: 1. Membantu siswa mengembangkan pola perilaku untuk dirinya, setiap siswa

berasal dari berbagai latar belakang, karakteristik yang berbeda dan kemampuan yang berbeda pula. Dalam hal ini guru harus dapat melayani berbagai perbedaan tersebut agar setiap siswa dapat menemukan jati dirinya dan mengembangkan dirinya secara optimal. 2. 3. Membantu siswa meningkatkan standar perilakunya. Menggunakan pelaksanaan aturan sebagai alat; peraturan-peraturan atau tata

tertib sekolah harus dijunjung tinggi dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya agar tidak terjadi pelanggaran-pelanggaran yang mendorong perilaku negatif atau tidak disiplin, diantaranya siswa datang terlambat ke sekolah.

2.2 Kerangka Teoritis Perilaku menyimpang yang juga biasa dikenal dengan nama penyimpangan sosial adalah semua tindakan yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku dalam suatu sistem sosial dan menimbulkan usaha dari mereka yang berwenang dalam sistem itu untuk memperbaiki perilaku yang menyimpang tersebut. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, perilaku menyimpang diartikan sebagai tingkah laku, perbuatan, atau tanggapan seseorang terhadap lingkungan yang bertentangan dengan norma-norma dan hukum yang ada di dalam masyarakat. Dalam kehidupan masyarakat, semua tindakan manusia dibatasi oleh aturan (norma) untuk berbuat dan berperilaku sesuai dengan sesuatu yang dianggap baik oleh masyarakat. Namun demikian di tengah kehidupan masyarakat kadangkadang masih kita jumpai tindakan-tindakan yang tidak sesuai dengan aturan (norma) yang berlaku pada masyarakat, misalnya seorang siswa yang terlambat datang ke sekolah, seorang siswa yang menyontek pada saat ulangan, berbohong, mencuri, dan mengganggu siswa lain. Penyimpangan terhadap norma-norma atau nilai-nilai masyarakat disebut deviasi (deviation), sedangkan pelaku atau individu yang melakukan penyimpangan disebut devian (deviant). Kebalikan dari perilaku menyimpang adalah perilaku yang tidak menyimpang yang sering disebut dengan konformitas. Konformitas

adalah bentuk interaksi sosial yang di dalamnya seseorang berperilaku sesuai dengan harapan kelompok. Definisi perilaku menyimpang menurut para ahli: James Vander Zenden Penyimpangan sosial adalah perilaku yang oleh sejumlah besar orang dianggap sebagai hal yang tercela dan di luar batas toleransi. Robert M.Z. Lawang Penyimpangan sosial adalah semua tindakan yang menyimpang dari norma yang berlaku dalam sistem sosial dan menimbulkan usaha dari mereka yang berwenang dalam sistem itu untuk memperbaiki perilaku yang menyimpang itu. Bruce J. Cohen Perilaku menyimpang adalah setiap perilaku yang tidak berhasil menyesuaikan diri dengan kehendak-kehendak masyarakat atau kelompok tertentu dalam masyarakat. Paul B. Horton Penyimpangan adalah setiap perilaku yang dinyatakan sebagai pelanggaran terhadap norma-norma kelompok atau masyarakat. Lewis Coser Mengemukakan bahwa perilaku menyimpang merupakan salah satu cara untuk menyesuaikan kebudayaan dengan perubahan sosial. Ada 2 proses pembentukan perilaku menyimpang, yaitu: 1. Penyimpangan sebagai hasil sosialisasi dari nilai-nilai subkebudayaan

menyimpang 2. Penyimpangan dari sosialisasi yang tidak sempurna.

Menurut Wilnes dalam bukunya Punishment and Reformation, sebab-sebab penyimpangan dibagi menjadi dua, yaitu sebagai berikut: 1) Faktor subjektif adalah faktor yang berasal dari seseorang itu sendiri (sifat

pembawaan yang dibawa sejak lahir). 2) Faktor objektif adalah faktor yang berasal dari luar (lingkungan).

Bentuk-bentuk perilaku menyimpang:

1.

Penyimpangan primer dan sekunder Penyimpangan sosial primer

Penyimpangan sosial primer adalah penyimpangan yang bersifat sementara (temporer). Orang yang melakukan penyimpangan primer masih tetap dapat diterima oleh kelompok sosialnya karena tidak secara terus-menerus melanggar norma-norma umum. Penyimpangan sosial sekunder

Penyimpangan sosial sekunder adalah penyimpangan sosial yang dilakukan secara terus-menerus meskipun sanksi telah diberikan kepadanya sehingga para pelakunya secara umum dikenal sebagai orang yang berperilaku menyimpang. Misalnya, seorang siswa yang terus-menerus datang terlambat ke sekolah atau seorang siswa SMA yang terus menerus menyontek pekerjaan temannya di kelas. Seseorang yang telah dikategorikan berperilaku menyimpang sekunder tidak diinginkan kehadirannya di tengah-tengah masyarakat (dibenci). 2. Perilaku menyimpang menurut pelakunya Penyimpangan individual

Penyimpangan individual biasanya dilakukan oleh orang yang telah mengabaikan dan menolak norma-norma yang berlaku dalam kehidupan masyarakat. Orang seperti itu biasanya mempunyai penyakit mental sehingga tak dapat

mengendalikan dirinya. Penyimpangan perilaku yang bersifat individual sesuai dengan kadar panyimpangannya adalah sebagai berikut: Pembandel, yaitu penyimpangan karena tidak patuh pada nasihat orang tua

agar mengubah pendiriannya yang kurang baik. Pembangkang, yaitu penyimpangan karena tidak taat pada peringatan pada

orang-orang. Pelanggar, yaitu penyimpangan karena melanggar norma-norma umum

yang berlaku. Perusuh atau penjahat, yaitu penyimpangan karena mengabaikan norma-

norma umum sehingga menimbulkan kerugian harta benda atau jiwa di lingkungannya. Munafik, yaitu penyimpangan karena tidak menepati janji, berkata bohong,

berkhianat kepercayaan dan berlagak membela.

Penyimpangan kelompok

Penyimpangan kelompok dilakukan oleh sekelompok orang yang tunduk pada norma kelompok, namun bertentangan dengan norma masyarakat yang berlaku. Menurut Paul B. Horton, penyimpangan sosial memiliki enam ciri sebagai berikut: 1) 2) 3) 4) 5) 6) Penyimpangan harus dapat didefinisikan. Penyimpangan bisa diterima bisa juga ditolak. Penyimpangan relatif dan penyimpangan mutlak. Penyimpangan terhadap budaya nyata ataukah budaya ideal. Terdapat norma-norma penghindaran dalam penyimpangan. Penyimpangan bersifat adaptif (menyesuaikan).

Penyimpangan mempunyai dua sifat, yaitu: 1. Penyimpangan yang bersifat positif.

Penyimpangan yang bersifat positif adalah penyimpangan yang tidak sesuai dengan aturan-aturan atau norma-norma yang berlaku, tetapi mempunyai dampak positif terhadap sistem sosial. 2. Penyimpangan yang bersifat negatif.

Dalam penyimpangan yang bersifat negatif, pelaku bertindak ke arah nilai-nilai sosial yang dipandang rendah dan berakibat buruk, yang dapat mengganggu sistem sosial itu.

Teori-teori penyimpangan sosial: a) Teori Differential Association (kelompok yang berbeda)

Edward H. Sutherland memandang bahwa perilaku menyimpang bersumber dari pergaulan yang berbeda, artinya seorang individu mempelajari perilaku menyimpang dari interaksinya dengan seorang individu yang berbeda latar belakang asal, kelompok dan budaya. b) Teori Labelling

Dikemukakan oleh Edwin M. Lemert, menurut teori ini seseorang menjadi menyimpang karena proses labelling berupa julukan, cap atau etiket yang ditujukan pada seseorang oleh masyarakat. Mula-mula sifat penyimpangan

primer, tetapi adanya julukan membuat pelaku mengidentifikasi dirinya sesuai dengan julukan tersebut. Teori psikologi dari Sigmud Freud, perilaku menyimpang terjadi karena id tidak bisa dikendalikan oleh ego yang seharusnya dominan maupun superego yang tidak aktif. Id adalah bagian diri yang tidak sadar atau naluri, ego adalah bagian diri yang bersifat sadar dan rasional. Superego adalah bagian diri yang telah menyerap nilai-nilai dan norma dan berfungsi sebagai suara hati. c) Teori K. Merton

Perilaku menyimpang timbul karena anomi yaitu adanya ketidakharmonisan antara tujuan budaya dengan cara-cara yang dipakai untuk mencapai tujuan budaya tersebut. Menurut K. Merton terdapat lima cara pencapaian tujuan budaya dari cara yang wajar sampai dengan yang menyimpang, yaitu: 1) 2) 3) 4) 5) d) Konformitas Inovasi Ritualisme Retrealisme (pengunduran diri) Rebellion (pemberontakan) Teori Fungsi

Dikemukakan oleh Emile Durkheim, yang menyatakan bahwa tercapainya kesadaran moral dari semua anggota masyarakat karena faktor keturunan, perbedaan lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Artinya kejahatan itu selalu ada, sebab orang yang berwatak jahat pun akan selalu ada. Bahkan Durkheim berpandangan bahwa kejahatan itu perlu agar moralitas dan hukum dapat berkembang secara normal.

Dalam perspektif sosiologi, kajian perilaku menyimpang dipelajari karena berkaitan dengan pelanggaran terhadap norma-norma sosial dan nilai-nilai kultural yang telah ditegakkan oleh masyarakat. Selain itu, sosiologi membantu masyarakat untuk dapat menggali akar-akar penyebab terjadinya tindakan penyimpangan dan upaya untuk menghentikan atau paling tidak menahan bertambahnya penyimpangan perilaku tersebut.

BAB III METODOLOGI

3.1.Pendekatan Penelitian Dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, yaitu suatu proses penelitian dan pemahaman yang berdasarkan pada metodologi yang menyelidiki suatu fenomena sosial dan masalah manusia. Pada pendekatan ini, peneliti membuat suatu gambaran kompleks, meneliti kata-kata, laporan terinci dari pandangan responden, dan melakukan studi pada situasi yang alami (Creswell, 1998:15). Bog dan dan Taylor (Moleong, 2007:3) mengemukakan bahwa metodologi kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis maupun lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati. Penelitian kualitatif dilakukan pada kondisi alamiah dan bersifat penemuan. Dalam penelitian kualitatif, peneliti adalah instrumen kunci. Oleh karena itu, peneliti harus memiliki bekal teori dan wawasan yang luas jadi bisa bertanya, menganalisis, dan mengkonstruksi obyek yang diteliti menjadi lebih jelas. Penelitian ini lebih menekankan pada makna dan terikat nilai. Penelitian kualitatif digunakan jika masalah belum jelas, untuk mengetahui makna yang tersembunyi, untuk memahami interaksi sosial, untuk mengembangkan teori, untuk memastikan kebenaran data, dan meneliti sejarah perkembangan.

3.2 Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang dapat diartikan sebagai prosedur penulisan yag menghasilkan data data deskriptif kata-kata tertulis atau lisan dari perilaku orang-orang yang diamati. Sedangkan penulisan penelitian ini bersifat deskriptif, yaitu memberikan gambaran suatu keadaan tertentu secara rinci disertai dengan bukti.

3.3.Tempat dan Waktu Pelaksanaan Penelitian ini bertempat di SMA Negeri 13 Pekanbaru, sedangkan waktu penelitian dilaksanakan mulai tanggal 3 Desember 5 Desember 2012.

3.4 Populasi dan Sampel 3.4.1 Populasi Arikunto (2006:130) menyatakan populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Jika seseorang ingin meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian, maka penelitiannya merupakan penelitian populasi atau studi populasi atau sensus. Subyek penelitian adalah tempat variabel melekat. Variabel penelitian adalah objek penelitian. Sementara itu Sukardi (2010:53) menyatakan populasi adalah semua anggota kelompok manusia, binatang, peristiwa, atau benda yang tinggal bersama dalam satu tempat dan secara terencana menjadi target kesimpulan dari hasil akhir suatu penelitian. Di pihak lain, Sisworo dalam Mardalis (2009:54) mendefenisikan populasi sebagai sejumlah kasus yang memenuhi seperangkat kriteria yang ditentukan peneliti. Jadi dapat disimpulkan populasi adalah sekelompok manusia, binatang, benda atau keadaan dengan kriteria tertentu yang ditetapkan peneliti sebagai subjek penelitian dan menjadi target kesimpulan dari hasil suatu penelitian.

3.4.2 Sampel Sampel adalah sebagian atau wakil dari pupulasi yang diteliti (Arikunto, 2006:131). Mardalis (2009:55) menyatakan sampel adalah contoh, yaitu sebagian dari seluruh individu yang menjadi objek penelitian. Jadi sampel adalah contoh yang diambil dari sebagain populasi penelitian yang dapat mewakili populasi. Walaupun yang diteliti adalah sampel, tetapi hasil penelitian atau kesimpulan penelitian berlaku untuk populasi atau kesimpulan penelitian digeneralisasikan terhadap populasi. Yang dimaksud menggeneralisasikan adalah mengangkat kesimpulan penelitian dari sampel sebagai sesuatu yang berlaku bagi populasi. Dalam penelitian ini subjek penelitian berupa sampel yaitu siswa kelas X dan siswa kelas XI SMA Negeri 13 Pekanbaru yang sering datang terlambat ke sekolah.

3.5 Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang digunakan untuk menyusun penelitian ini adalah dengan metode wawancara. Budiyono (2003:52) mengatakan bahwa metode wawancara (disebut pula interview) adalah cara pengumpulan data yang

dilakukan melalui percakapan antara peneliti dengan subjek penelitian atau responden atau sumber data. Dalam hal ini pewawancara menggunakan percakapan hingga yang diwawancara bersedia terbuka mengeluarkan

pendapatnya. Biasanya yang diminta bukan kemampuan tetapi informasi mengenai sesuatu. Dalam jurnal oleh Koichu dan Harel (2007) dikemukakan bahwa: A clinical taskbased interview can be seen as a situation where the interview-interviewee interaction on a task is regulated by a system of explicit and implicit norms, values, and rules. Dalam jurnal lain, Hurst (2007 : 274) mengungkapkan bahwa: Interview were chosen as the main data gathering strategy for the original project because it was felt that potentially data rich environment this afforded would provide the best context for assesistry and probing for presence of three models of thinking (mathematical knowledge, contextual knowledge and strategic knowledge) both before and following the intevention phase of project. Dari pengertian wawancara yang dikemukakan para ahli atau pakar di atas dapat dijelaskan bahwa wawancara adalah situasi dimana terjadi interaksi antara pewawancara dan yang diwawancarai dengan pedoman wawancara berdasarkan pada hasil tes yang telah diberikan kepada yang diwawancarai. Wawancara ini digunakan untuk memperoleh data primer yang terbaik sesuai dengan maksud dan tujuan penelitian.

3.6 Teknik Analisa Data Proses analisis data dimulai dengan menelah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber, yaitu wawancara, pengamatan, yang sudah ditulis dalam catatan lapangan, dokumen pribadi, dokumen resmi, gambar foto, dan sebagainya. Data tersebut banyak sekali, setelah dibaca, dipelajari, dan ditelah maka langkah

berikutnya adalah mengadakan reduksi data yang dilakukan dengan jalan membuat abstraksi. Abstraksi merupakan usaha membuat rangkuman yang inti, proses dan pernyataan-pernyataan yang perlu dijaga sehingga tetap berada di dalamnya. Langkah selanjutnya adalah menyusunya dalam satuan-satuan. Satuansatuan itu kemudian dikategorisasikan pada langkah berikutnya. Kategori-kategori itu dilakukan sambil membuat koding. Tahap akhir dari analisis data ialah mengadakan pemeriksaan keabsahan data.. setelah selesai tahap ini, mulailah kini tahap penafsiran data dalam mengolah hasil sementaramenjadi teori substantif dengan menggunakan beberapa metode tertentu. Menurut Patton, 1980 (dalam Lexy J. Moleong 2002: 103) menjelaskan bahwa analisis data adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikanya ke dalam suatu pola, kategori, dan satuan uraian dasar. Sedangkan menurut Taylor, (1975: 79) mendefinisikan analisis data sebagai proses yang merinci usaha secara formal untuk menemukan tema dan merumuskan hipotesis (ide) seperti yang disarankan dan sebagai usaha untuk memberikan bantuan dan tema pada hipotesis. Dengan demikian definisi tersebut dapat disintesiskan menjadi: Analisis data proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang didasarkan oleh data. Dari uraian tersebut di atas dapatlah kita menarik garis bawah analisis data bermaksud pertama- tama mengorganisasikan data. Data yang terkumpul banyak sekali dan terdiri dari catatan lapangan dan komentar peneliti, gambar, foto, dokumen, berupa laporan, biografi, artikel, dan sebagainya. Pekerjaan analisis data dalam hal ini ialah mengatur, mengurutkan, mengelompokkan, memberikan kode, dan mengategorikannya. Pengorganisasian dan pengelolaan data tersebut bertujuan menemukan tema dan hipotesis kerja yang akhirnya diangkat menjadi teori substantif.

BAB IV HASIL PENELITIAN

Pada bab ini peneliti akan menguraikan sejumlah hasil penelitian yang dilaksanakan di SMA Negeri 13 Pekanbaru. Pembahasan yang diteliti yaitu mengenai dampak siswa yang terlambat sekolah terhadap prestasi belajar di SMA Negeri 13 Pekanbaru. Untuk mendapatkan data-data yang diperlukan peneliti, peneliti melakukan wawancara sebagai metode penelitian utama secara mendalam kepada siswa-siswi di SMA Negeri 13 Pekanbaru. Wawancara yang dilakukan adalah wawancara tentang seputar faktor-faktor penyebab keterlambatan siswa, sanksi yang diterima oleh siswa yang sering terlambat serta solusi dalam mengatasi siswa yang terlambat, kemudian peneliti akan menganalisa dan membahas data yang telah diperoleh. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan metode kualitatif. Dengan metode tersebut, peneliti berusaha memaparkan data yang diperoleh dari hasil daftar pertanyaan penelitian. Tabel 1.1 DATA WAWANCARA INFORMAN

No Hari/Tanggal Nama Siswa Kelas 1 Senin / 3 Desember 2012 Marshitoh XI. IPS 2 Senin / 3 Desember 2012

Nia XI. IPS 2 3 Senin / 3 Desember 2012 Syahroni XI. IPS 4 Senin / 3 Desember 2012 M.Ridwan XI. IPS 1 5 Rabu / 4 Desember 2012 Jimmy X.1 (Sumber: Arsip peneliti,2012) Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan melalui proses wawancara, maka pembahasan dari hasil penelitian sebagai berikut: 4.1. Faktor Penyebab Keterlambatan Siswa Dari hasil wawancara yang telah peneliti lakukan, sebagian besar siswa SMA Negeri 13 Pekanbaru masih belum bisa beradaptasi dengan jam masuk sekolah yang dimajukan 15 menit lebih awal menjadi pukul 7.15, dari yang awalnya siswa-siswi masuk sekolah pukul 7.30 WIB. Berbagai macam alasan dikemukakan oleh para siswa yang terlambat seperti jarak dari rumah ke sekolah yang jauh, bangun kesiangan, faktor angkutan umum, ban motor bocor, dan berbagai macam lagi alasan yang diberikan siswa terlambat. Hal ini sesuai yang dikatakan oleh syahroni bahwa saya datang terlambat ke sekolah karena ban motor bocor serta belum ada bengkel yang buka pada pagi hari, makanya saya terlambat. Namun ada juga beberapa alasan lain siswa yang terlambat seperti sebelum berangkat ke sekolah para siswa bermain hp dulu serta menonton acara tv kesukaan mereka, hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan Marshitoh bahwa Saya sebelum berangkat ke sekolah biasanya main hp, dengerin lagu atau

menonton tv. Sedangkan menurut Nia mengatakan bahwa saya datang terlambat karena rumah saya jauh dari sekolah serta kadang-kadang menunggu teman untuk pergi bareng.

4.2. Sanksi yang Diterima Siswa Terlambat Dari hasil wawancara yang dilakukan, sanksi yang diterima siswa SMA Negeri 13 Pekanbaru yang terlambat ada bermacam-macam, mulai dari dikurung di luar pagar, mengisi buku hukum, berdiri di lapangan voli, mencabut rumput,

mengutip sampah yang ada di pekarangan sekolah serta ada juga yang sampai di suruh pulang untuk dipanggil orang tuanya datang ke sekolah.

4.3. Solusi mengatasi Siswa yang Terlambat Siswa-siswi yang datang terlambat datang ke sekolah hampir menjadi pemandangan yang umum. Keterlambatan para siswa ini tentu saja dapat mengganggu proses belajar mengajar yang sedang berlangsung di kelas. Konsentrasi siswa dan guru di dalam kelas bisa saja menjadi buyar. Untuk itu, dari penelitian yang telah dilakukan peneliti, cara atau solusi untuk mengatasi siswa yang terlambat ke sekolah adalah: 1. adanya pemberian sanksi yang tegas dan dapat memberikan efek jera kepada

siswa yang melanggar yang diberikan oleh pihak sekolah. 2. Adanya peran guru yang dapat memberikan contoh kepada siswanya agar

tidak datang terlambat. Karena gimana siswanya dapat mematuhi peraturan sekolah kalau gurunya sendiri juga tidak mengikuti peraturan yang ada. 3. Peran orang tua di rumah juga sangat diperlukan dalam mengatasi siswa

terlambat. Misalnya dengan mengingatkan anaknya jangan bersantai-santai di depan tv agar tidak terlambat. 4. Yang paling penting dalam mengatasi siswa yang terlambat ke sekolah

adalah dari kesadaran siswa itu sendiri untuk terbiasa mendisiplin diri dalam memanfaatkan waktu. Karena tidak ada gunanya pemberian sanksi yang tegas yang diberikan sekolah apabila tidak adanya kesadaran atau keinginan dari siswa itu sendiri untuk datang ke sekolah tepat pada waktunya.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian diatas, dapat disimpulkan bahwa tingkat kedisiplinan siswa SMA Negeri 13 Pekanbaru masih rendah. Hal ini dikarenakan masih ada saja siswa yang terlambat setiap harinya. Keterlambatan pada siswa tersebut bukan berarti tanpa sebab, berbagai macam alasan diungkapkan para siswa yang sering terlambat, diantaranya adalah siswa yang tinggal jauh dari sekolah, masalah transportasi, bangun kesiangan dan sebagainya. Alasan-alasan seperti inilah yang sering dikemukakan siswa ketika datang terlambat pada saat jam pelajaran pertama sudah dimulai. Berbagai macam sanksi yang dibuat oleh sekolah untuk mengatasi siswa terlambat, mulai dari sanksi yang ringan seperti mencabut rumput, mengambil sampah yang bertebaran di pekarangan sekolah dan sebagainya sampai kepada pemberian sanksi yang berat yaitu dipulangkan dan pemanggilan orang tua siswa yang terlambat. Namun, hal tersebut belum sepenuhnya mampu untuk mengatasi siswa terlambat meskipun frekuensi siswa terlambat semakin sedikit setiap hari. Siswa yang terlambat sangat besar pengaruhnya terhadap prestasi belajarnya karena dapat mempengaruhi konsentrasi belajar yang pada akhirnya dapat mengganggu fikiran tentang materi yang sedang dibahas atau diterangkan oleh Bapak atau Ibu guru terutama pada mata pelajaran jam pertama.

B.

Saran

Dalam rangka meningkatkan kedisiplinan siswa yang terlambat datang ke sekolah, ada beberapa upaya yang mungkin bisa dilakukan diantaranya: 1. Untuk menumbuhkan konsep diri siswa sehingga siswa dapat berperilaku

disiplin, guru disarankan untuk bersikap empatik, menerima, hangat danterbuka;

2.

Guru terampil berkomunikasi yang efektif sehingga mampu menerima

perasaan dan mendorong kepatuhan siswa; 3. Guru disarankan dapat menunjukkan secara tepat perilaku yang

salah,sehingga membantu siswa dalam mengatasinya; dan memanfaatkan akibatakibat logis dan alami dari perilaku yang salah;

DAFTAR PUSTAKA

www.google.com Zuhro. Sosiologi SMA Kelas XII. 2007. Jakarta : penerbit Yudistira. Agus Sulistyo dan Adi Mulyono. 2004. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia.

Surakarta : Penerbit Ita. Nazir, Moh. 1988. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia. Prasetyo, Bambang. 2001. Penyusunan Laporan Penelitian. Bungin, B. 2007. Penelitian Kualitatif. Prenada Media Group: Jakarta. Bungin, B. 2003. Analisis Data Penelitian Kualitatif. PT Rajagrafindo

Persada: Jakarta. Creswell, J. W. 1998. Qualitatif Inquiry and Research Design. Sage

Publications, Inc: California. 1988 Sukardi. 2010. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara STRUK, D.J. (1950) : Lectures on classical Differential Geomtry, Addison Nasir, Mohammad. Metode Penelitian. Cet.3. Jakarta: Ghalia Indonesia,

Wesley Press WEATHERBRU, C.E. (1971) : Differential Geometry Of Three

Dimensions, Cambridge University Press WILIMORE, T.J. (1959) : An Introduction to Differential Geometry,

Oxford University Press

KATA PENGANTAR Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, yang selalu melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan penelitian sosial ini yang berjudul PENGARUH SISWA YANG TERLAMBAT SEKOLAH TERHADAP PRESTASI BELAJARNYA dengan baik sesuai dengan apa yang diharapkan. Penelitian sosial ini juga merupakan salah satu kelengkapan tugas siswa-siswi kelas XII IPS SMA Negeri 13 Pekanbaru sebagai syarat kelulusan pada tahun ajaran 2012/2013. Dalam kesempatan ini, peneliti mengucapkan terima kasih yang sebesarbesarnya kepada semua pihak yang memberikan dukungan dan bantuan secara moral maupun material dalam proses penyelesaian penelitian sosial ini. Ucapan terima kasih tersebut ditujukan kepada: 1. Ibu Gusneti Fitri Handayani, selaku pembimbing penelitian sosial yang turut

membantu dan membimbing kami dalam pembuatan penelitian ini. 2. 3. Orang tua yang telah memberikan doa dan dukungannya. Siswa-siswi SMA Negeri 13 Pekanbaru yang telah berpartisipasi sebagai

responden. 4. Teman-teman kelas XII.IPS yang telah banyak membantu peneliti dalam

menyelesaikan penelitian ini. Semoga hasil penelitian ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca. Walaupun penelitian ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Penulis mohon untuk saran dan kritik yang membangun. Terima kasih,

DAFTAR ISI

LEMBAR

PENGESAHAN

PENGUJI

............................................................................. KATA ...................................................................................................... DAFTAR .................................................................................................................... DAFTAR ............................................................................................................ BAB I PENDAHULUAN TABEL ISI PENGANTAR

1.1 Latar Belakang Masalah ..................................................................... 1.2 Perumusan Masalah ............................................................................ 1.3 Tujuan Penelitian ................................................................................ 1.4 Manfaat penelitian .............................................................................. 1.4.1 Manfaat Bagi Siswa ................................................................... 1.4.2 Manfaat Bagi Guru .................................................................... 1.4.3 Manfaat Bagi Peneliti ................................................................. 1.4.4 Manfaat Bagi Sekolah ................................................................. BAB II KERANGKA TEORI

2.1 Tinjauan Pustaka ................................................................................ 2.2 Kerangka Teoritis ...............................................................................

BAB III

METODOLOGI 3.1 Pendekatan Penelitian

........................................................................ 3.2 Jenis Penelitian

.................................................................................. 3.3 Tempat dan Waktu Pelaksana

........................................................... 3.4 Populasi dan Sampel

.........................................................................

3.4.1 .............................................................................. 3.4.2 Sampel ................................................................................. 3.5 Teknik Pengumpulan Data ................................................................. 3.6 Teknik Analisa

Populasi

Data

........................................................................... BAB IV HASIL PENELITIAN

4.1 Faktor penyebab keterlambatan siswa ................................................ 4.2 Sanksi yang diterima oleh siswa yang terlambat ................................. 4.3 Solusi dalam mengatasi siswa yang terlambat .................................... BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 ........................................................................................ 5.2 .................................................................................................. DAFTAR ...................................................................................................... LAMPIRAN .................................................................................................................... PUSTAKA Saran Kesimpulan

DAFTAR TABEL

Tabel

1.1

Data

Wawancara

Informan...........................................................................