Anda di halaman 1dari 14

Algoritma Pemrograman

Pertemuan Ke-6
(Pengulangan atau Looping [1])

Sub Pokok Bahasan


Pendahuluan Struktur Pengulangan Pengulangan tanpa kondisi dan dengan kondisi Struktur FOR (menaik dan menurun)

Pendahuluan
Pengulangan (looping) adalah pelaksanaan suatu instruksi berulangkali Di dalam algoritma, pengulangan dapat dilakukan sejumlah kali, atau sampai kondisi berhenti pengulangan tercapai

Struktur Pengulangan
Bentuk Umum:
<inisialisasi> awal pengulangan badan pengulangan akhir pengulangan <terminasi>

<inisialisasi>: aksi yang dilakukan sebelum pengulangan dilakukan untuk pertama kalinya. badan pengulangan: bagian algoritma yang diulang <terminasi>: aksi yang dilakukan setelah pengulangan selesai dilaksanakan <inisialisasi> dan <terminasi> tidak selalu harus ada, namun pada berbagi kasus inisialisasi umumnya diperlukan awal dan akhir pengulangan dinyatakan sebagai kata kunci yang bergantung pada struktur pengulangan yang digunakan
4

Macam struktur pengulangan

Struktur FOR Struktur WHILE Struktur REPEAT

pengulangan tanpa kondisi (unconditional looping):


jumlah pengulangan sudah diketahui sebelum eksekusi

pengulangan dengan kondisi (conditional looping):


jumlah pengulangan tidak diketahui sebelum eksekusi program. Yang dapat ditentukan hanya kondisi berhenti pengulangan (instruksi-instruksi di dalam badan pengulangan diulangi sampai kondisi berhenti terpenuhi)

Struktur FOR
Jumlah pengulangan diketahui atau dapat ditentukan sebelum eksekusi. Untuk mencacah sudah jumlah pengulangan diperlukan sebuah peubah (variable) pencacah (counter). Peubah ini nilainya selalu bertambah satu setiap kali pengulangan dilakukan

Jika cacah pengulangan sudah mencapai jumlah yang dispesifikasikan, maka proses pengulangan berhenti
Bentuk umum struktur FOR:
Menaik (ascending) Menurun (descending)
6

Struktur FOR: menaik


for pencacah nilai_awal to nilai_akhir do aksi endfor

menggunakan tipe data yang memiliki predecessor dan pencacah successor, yaitu integer atau karakter (tipe riil tidak dapat digunakan sebagai pencacah) satu atau lebih instruksi yang diulang. aksi nilai_awal harus lebih kecil atau sama dengan nilai_akhir (jika nilai_awal lebih besar dari nilai_akhir, maka badan pengulangan tidak dimasuki) pada awalnya pencacah diinisialisasikan dengan nilai_awal. Nilai pencacah secara otomatis bertambah satu setiap kali aksi pengulangan dimasuki, sampai akhirnya nilai pencacah sama dengan nilai_akhir jumlah pengulangan yang terjadi = nilai_akhir nilai_awal + 1
7

Contoh 1: Mencetak tulisan Informatika sebanyak 5 kali


Algoritma CETAK_INFORMATIKA { Mencetak Informatika sebanyak 5 kali } DEKLARASI k : integer { pencacah pengulangan } DESKRIPSI : for k1 to 5 do {ulangi sebanyak 5 kali} write(Informatika) endfor Program CETAK_INFORMATIKA; { Mencetak Informatika sebanyak 5 kali } (* DEKLARASI *) var k : integer;

Jumlah pengulangan sudah ditentukan sebelumnya (5 kali) Badan pengulangan hanya berisi satu instruksi, yaitu write(Informatika) k adalah peubah pencacah yang bertipe integer pada mulanya k bernilai 1, nilai k selalu bertambah 1 setiap kali pengulangan dilakukan, sampai akhirnya k mencapai 5 Jumlah pengulangan yang dilakukan:
5 1 + 1 = 5 kali

Keluaran dari algoritma CETAK_INFORMATIKA adalah string Informatika sebanyak 5 kali:


Informatika Informatika Informatika Informatika Informatika
8

(* DESKRIPSI *) begin for k := 1 to 5 do writeln(Informatika); (*endfor*) end.

Contoh 2:

Menghitung jumlah angkaangka dari 1 sampai N


jumlah = 1 + 2 + 3 + ... + N

Algoritma PENJUMLAHAN_DERET { Menjumlahkan deret 1 + 2 + 3 + ... + N, dengan N adalah bilangan bulat positif yang dibaca dari piranti masukan }

Nilai N dibaca terlebih dahulu dari piranti masukan. Misalnya, jika N = 5, maka jumlah angka dari 1 sampai 5 adalah deret: 1 + 2 + 3 + 4 + 5 = 15

DEKLARASI k : integer { pencacah pengulangan } N, jumlah : integer


DESKRIPSI : read(N) { banyaknya suku deret } jumlah 0 for k1 to N do {ulangi sebanyak N kali} jumlah jumlah + k endfor write(jumlah)

Program PENJUMLAHAN_DERET; { Menjumlahkan deret 1 + 2 + 3 + ... + N, dengan N adalah bilangan bulat positif yang dibaca dari piranti masukan } (* DEKLARASI *) var k, N, jumlah : integer; (* DESKRIPSI *) begin write(Masukkan banyaknya suku deret : ); readln(N); jumlah := 0; for k := 1 to N do jumlah := jumlah + k; (*endfor*) writeln(jumlah); end.

10

Contoh 3:

Algoritma HITUNG_RATA_RATA { Menghitung rata-rata N buah bilangan bulat yang dibaca dari masukan. N > 0. } DEKLARASI k : integer { pencacah pengulangan } N : integer { jumlah data, > 0 } x : integer {bilangan bulat yang dibaca} jumlah : integer rata : real DESKRIPSI : read(N) { banyaknya suku deret } jumlah 0 for k1 to N do {ulangi sebanyak N kali}

piranti

Menghitung nilai rata-rata dari N buah data bilangan bulat yang dibaca dari piranti masukan. Nilai rata-rata adalah jumlah seluruh nilai dibagi dengan banyaknya nilai Misalkan, N = 5 dan data bilangan yang dibaca berturutturut adalah 12, 10, 6, 2, 4, maka nilai rata-ratanya adalah:
(12 +10 + 6 + 2 + 4)/5 = 34/5 = 6.8

read(x) jumlah jumlah + x


endfor rata jumlah/N

write(rata)

11

Program HITUNG_RATA_RATA; { Menghitung rata-rata N buah bilangan bulat yang dibaca dari piranti masukan. N > 0. } (* DEKLARASI *) var k, N, x, jumlah : integer; rata : real;
(* DESKRIPSI *) begin write(Masukkan banyaknya suku deret : ); readln(N); jumlah := 0; for k := 1 to N do begin write(Bilangan ke-,k, : );readln(x); jumlah := jumlah + x; end; rata := jumlah/N; writeln(rata); end.
12

Struktur FOR: menurun


for pencacah nilai_akhir downto nilai_awal do aksi endfor

menggunakan tipe data yang memilki predecessor dan pencacah successor, yaitu integer atau karakter (tipe riil tidak dapat digunakan sebagai pencacah. aksi adalah satu atau lebih instruksi yang diulang) nilai_akhir harus lebih besar atau sama dengan nilai_awal (Jika nilai_akhir lebih kecil dari nilai_awal, maka badan pengulangan tidak dimasuki) pada awalnya pencacah diinisialisasikan dengan nilai_akhir. Nilai pencacah secara otomatis berkurang satu setiap kali aksi diulangi, sampai akhirnya nilai pencacah sama dengan nilai_awal. jumlah pengulangan yang terjadi = nilai_akhir nilai_awal + 1
13

Contoh: Mencetak angka 5, 4, , 1


Algoritma CETAK_ANGKA_TURUN {Mencetak 5, 4, ..., 1 ke piranti keluaran} DEKLARASI k : integer { pencacah pengulangan } DESKRIPSI : for k5 downto 1 do write(k) endfor Program CETAK_ANGKA_TURUN; {Mencetak 5, 4, ..., 1 ke piranti keluaran}

(* DEKLARASI *) var k : integer;


(* DESKRIPSI *) begin for k := 5 downto 1 do write(k, ); (*endfor*) end.

Pada algoritma CETAK_ANGKA_TURUN, angka-angka yang dicetak bersesuaian dengan nilai pencacah pengulangan. Keluaran dari algoritma adalah angka 5 yang turun sampai ke angka 1: 54321

14