Anda di halaman 1dari 4

Alfonsa R.

Asthingkara 122110085 / A
Tugas Enterprise Resource Planning Perencanaan Sistem ERP: Analisis dan Tren Masa Depan (Injazz J. Chen)

Pendahuluan Enterprise Resource Planning (ERP) ketika berhasil diterapkan, akan menghubungkan semua area perusahaan termasuk manajemen pemesanan, manufaktur, sumber daya manusia, sistem keuangan, dan distribusi dengan pemasok eksternal dan pelanggan menjadi sistem terintegrasi dengan data dan visibilitas bersama. Perusahaan seperti Cisco System, Eastmen Kodak, dan Tektronix telah menuai manfaat yang diharapkan dari sistem ERP. Beberapa bisnis ada yang menganggap bahwa ERP mereka adalah mimpi buruk, contohnya FoxMeyer Drug, Boeing, Dow Chemical, Mobil Europe, Applied Materials, Hershey, dan Kelloggs. Studi terbaru menunjukkan bahwa 40 persen dari semua instalasi ERP hanya mencapai implementasi parsial dan 20 persen usaha mengadopsi ERP ini dianggap sebagai kegagalan total. Perencaan adopsi ERP umumnya terjadi ketika sebuah organisasi menyadari bahwa proses dan prosedur bisnis saat ini tidak memadai untuk kebutuhan strategi mereka saat ini dan / atau masa depan. Pembenaran proyek ERP membahas pentingnya menciptakan visi untuk proyek dan persyaratan organisasi yang baru sebelum menerapkan sistem ERP.

Evolusi ERP Pada tahun 1990an, MRP II selanjutnya diperluas menjadi ERP, istilah yang diciptakan oleh Gartner Group of Stamford, Connecticut, USA. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan perencanaan sumber daya dengan memperluas ruang lingkup perencanaan untuk melibatkan rantai pasok yang lebih dari MRP II. Perbedaan utama antara MRP II dan ERP adalah bahwa sementara MRP II secara tradisional berfokus pada perencanaan dan penjadwalan sumber daya internal, ERP berusaha untuk merencanakan dan menjadwalkan pemasok sumber daya yang didasarkan pada permintaan pelanggan yang dinamis dan jadwal. Singkatnya, aplikasi MRP dan MRP II mungkin tidak sampai menjawab tantangan yang diciptakan oleh manufaktur yang berusaha untuk memanfaatkan keunggulan kompetitif yang

ditawarkan oleh rantai pasokan yang terintegrasi. ERP, sementara itu, telah berkembang dari sebelumnya untuk memainkan peran pendukung yang terintegrasi dalam penciptaan rantai nilai.

Masalah Perencanaan Menentukan kebutuhan dan memilih sistem ERP yang tepat Langkah pertama dalam perencanaan adalah penentuan kebutuhan internal yang dapat menggambarkan apakah perusahaan perlu mengembangkan sistem yang sudah ada atau mengimplementasikan sistem ERP yang baru. Setelah perusahaan menentukan akan mengimplementasikan sistem ERP baru, langkah selanjutnya adalah menentukan visi yang akan dicapai di akhir proyek ERP. Motif utama dari penerapan ERP adalah potensi untuk meningkatkan daya saing perusahaan, termasuk di dalamnya adalah strategi, target segmen pasar, kebutuhan konsumen, lingkungan manufaktur, karakteristik proses manufaktur, strategi rantai pasok, dan sumber daya yang ada. Memadukan proses bisnis dengan sistem ERP Awalnya ketika mengembangkan sistem informasi, perusahaan akan menentukan terlebih dahulu bagaimana mereka berbisnis kemudian memilih software terbaik yang mendukung proses bisnis. Namun sekarang berbeda dengan sistem ERP dimana terkadang proses bisnis harus diubah agar sesuai dengan sistem. Kebanyakan perusahaan yang sukses mengaplikasi sistem ERP, merangkai ulang proses bisnis mereka agar sesuai dengan kebutuhan sistem. Contohnya IBM, dimana mereka mengubah sistemnya dari merakit PC untuk distributor menjadi pengiriman komponen ke distributornya. Contoh perusahaan lain yang mengubah proses bisnisnya adalah Davenport, Hammer and Champy, Altinkemer,Hammer and Stanton. Memahami kebutuhan organisator Beberapa perusahaan yang gagal mengembangkan keuntungan dari sistem ERP adalah karena mereka tidak terorganisasi sedemikian rupa untuk memanfaatkan informasi baru yang ada, kebutuhan disiplin, dari sistem perusahaan. Dengan banyaknya perubahan besar, keberatan dan penolakan akan muncul dalam proses penataan ulang dan implementasi ERP dan hal ini hanya bisa diselesaikan dengan campur tangan top management secara personal. Kebijakan ekonomi dan strategi Biaya dari implementasi ERP biasanya dapat diukur, terkadang kemungkinan besar dari biaya yang dikeluarkan untuk implementasi ERP akan sama dengan biaya karena tidak

menggunakan sistem ERP. Kebijakan ekonomi dan strategi dari proyek ERP terutama untuk instalasi diperlukan tidak hanya karena investasi sangat besar dan resiko yang terlibat, proses kebijakan membantu mengidentifikasi semua potensi manfaat yang dapat divapai dengan implementasi ERP, yang kemudian menjadi tolok ukur untuk evaluasi kinerja. Contohnya ketika penjualan dan pemasaran terintegrasi dengan fungsi laporan financial, manajemen mampu membuat keputusan berdasarkan pemahaman detail dari profit produk dan konsumen daripada dengan insting.

Trend dan Tantangan Masa Depan Perencanaan lebih lanjut pada manajemen rantai pasok Perusahaan yang telah menjalankan ERP dengan baik, Advance Planning System (APS) dapat menambah manfaat dan pemanfaatan maksimal dari investasi ERP. Perlu diingat bahwa perusahaan harus siap untuk mengubah proses pasok internal dan jika diperlukan melakukan penyesuaian ulang denga supplier. Integrasi APS dengan ERP memerlukan kepercayaan dan keterbukaan tingkat tinggi antar mitra dagang. Customer relationship management Bukan rahasia lagi jika menciptakan hubungan yang lama dengan konsumen lebih menguntungkan daripada mencari konsumen baru. Customer Relationship Management (CRM) adalah bisnis dengan model customer-centric. CRM dapat memanfaatkan kemampuan data mining sistem ERP dan data warehousing untuk mengungkap profil pelanggan utama, profitabilitas pelanggan, dan pola pembelian. Implementasi CRM yang sukses membutuhkan perubahan signifikan, terutama jika diintegrasi dengan sistem ERP. Perlunya mendesain ulang inti proses bisnis di tengah konsumen, karena tujuan customer-centric adalah menemukan produk atau jasa yang susai dengan kebutuhan konsumen, bukan mencari konsumen yang sesuai dengan produk.

Perbaikan berkelanjutan dengan proses ERP Saat ini semakin banyak perusahaan yang menyadari bahwa hidup dengan ERP adalah awal dari perjalanan yang menjajikan, dan telah mengambil langkah untuk mendapatkan kapabilitas dan manfaat penuh dari proses ERP. Semakin organisasi mempelajari sistem perusahaan dan proses bisnis yang baru, semakin mereka menyadari bahwa manfaat akan

tercapai di masa depan. organisasi bisnis saat ini cukup terampil dalam menciptakan dan memperoleh pengetahuan. sehingga, perubahan perilaku diperlukan untuk mendukung cara baru melakukan bisnis yang paling penting untuk menyediakan perusahaan dengan kompetensi ERP belum pernah terjadi sebelumnya.

Kesimpulan Disamping ERP memiliki sentuhan magis yang secara dramatis dapat meningkatkan performansi proses bisnis dari banyak perusahaan, ERP juga mahal, rumit, dan dikenal susah untuk diimplementasikan. Banyak alasan atas kegagalan ERP, beberapa menganggap dikarenakan ekspetasi yang tidak masuk akal, lainnya mengarah kepada kurangnya dukungan dari penyedia software dan hardware. Secara keseluruhan, proses bisnis ERP dirancang untuk berkembang dan tumbuh dalam kekuasaan bagi organisasi yang meluangkan waktu dan usaha untuk tumbuh bersama mereka. tingkat di mana organisasi dapat terus belajar dan memodifikasi perilaku mereka sesuai kebutuhan dapat menjadi satu-satunya sumber keunggulan kompetitif yang berkelanjutan dalam waktu dekat.