Anda di halaman 1dari 2

Memori

Klasifikasi memori. Memori adalah proses yang menghasilkan perubahan permanen dalam perilaku. Memori dibagi menjadi dua tipe, yaitu memori deklaratif dan memori prosedural. Memori deklaratif menyimpan informasi mengenai fakta, kejadian atau objek. Jenis memori ini dapat diakses untuk rekoleksi secara sadar. Mudah dibentuk tetapi mudah pula dilupakan. Memori ini memiliki keterbatasan dalam jumlah, kecepatan dan kemudahan penyimpanan. Memori prosedural merupakan jenis memori untuk ketrampilan atau perilaku. Memori jenis ini dapat ditampilkan tanpa rekoleksi sadar, misalnya bersepeda, bermain piano ataupun menyetir mobil yang merupakan repetisi dan praktek untuk membentuk memori. Sekali memori ini terbentuk maka akan sulit dilupakan, dikenal dengan istilah habit (Pear et al., 1996) Memori deklaratif meliputi memori jangka pendek dan memori jangka panjang. Memori jangka pendek bersifat temporer dengan periodik waktunya terbatas dalam hitungan detik sampai menit. Jenis memori ini memerlukan proses mengingat terus menerus dan kapasitas penyimpanannya terbatas. Sebaliknya, memori jangka panjang sifatnya lebih permanen, bisa bertahan selama beberapa jam atau sampai seumur hidup. Jenis memori ini tidak memerlukan pengulangan dan kapasitas penyimpanannya di otak besar. Proses penyimpanan memori jangka pendek ke memori jangka panjang membutuhkan proses konsolidasi memori (Bear et al., 1996). Proses pembentukan memori Memori adalah proses penyimpanan informasi-informasi sensorik yang penting. Memori secara fisiologis merupakan hasil dari perubahan kemampuan penjalaran sinaptik dari satu neuron ke neuron berikutnya. Perubahan ini menghasilkan jaras-jaras yang terfasilitasi yang disebut jejak-jejak ingatan (memory traces) (Guyton & Hall, 1997). Memori secara tradisional terbagi dalam tiga subproses yang berurutan: encoding, storage dan retrieval. Encoding adalah proses memasukkan informasi ke dalam sistem saraf. Setelah proses encoding dilanjutkan dengan proses storage dimana terjadi penyimpanan informasi ke dalam otak menjadi memori. Bagian terakhir dari proses pembentukan memori adalah retrieval, yaitu pemanggilan kembali informasi yang telah disimpan (Rains, 2001; Iskanda, 2002). Pengkategorian memori Pada umumnya memori dikategorikan menjadi memori implisit dan memori eksplisit. Memori implisit adalah penghimpunan kembali pengalaman masa lalu tanpa disertai kesadaran, ahli lain mengistilahkan dengan memori prosedural. Memori implisit bermanifestasi pada tingkah laku. Memori ini dapat berupa performa dari kemampuan motoris, seperti mengendarai sepeda, melempar bola baseball dengan akurat atau kemampuan preceptual, misalnya belajar untuk membaca huruf melalui cermin dengan cepat dan akurat. Mempelajari kemampuan kognitif, seperti metode yang efisien untuk memecahkan puzzle atau masalah juga termasuk dalam kategori memori implisit. Pembelajaran nonasosiatif (misal habituasi dan sensitasi) dan pengkondisian klasik juga tergolong dalam domain memori implisit (Rains, 2001).

Sedangkan memori eksplisit adalah rekoleksi pengalaman masa lalu secara sadar. Dalam memori eksplisit pengalaman nonprobadi dapat berupa fakta dan pengetahuan umum (memori semantik). Ahli lain ada yang menyebutnya sebagai memori deklaratif (Rains, 2001). Memori deklaratif ini meliputi memori jangka pendek dan memori jangka panjang. Memori jangka pendek bersifat temporer dengan periode terbatas hanya dalam hitungan detik sampai menit dan memori jangka pendek juga memiliki kapasitas penyimpanan yang terbatas (Rains 2001; Wiyono 2006). Sebaliknya memori jangka panjang bersifat lebih permanen, informasi yang dipelajari dipertahankan untuk waktu yang lama bahkan seumur hidup. Proses penyimpanan memori dari memori jangka pendek menjadi memori jangka panjang membutuhkan proses konsolidasi memori (Diaz, 1991; Wiyono 2006) Proses konsolidasi dari memori jangka pendek menjadi memori jangka panjang melibatkan fungsi dari lobus temporomedial otak