Anda di halaman 1dari 18

TUGAS KELOMPOK PERISTIWA EPIDEMIK (EPIDEMIOLOGI) TRAUMATIS DAN PTSD (POST-TROUMATIC STRESS DISORDER) Disusun Untuk Memenuhi Tug

s M t Ku!i h "im#ing n $ n K%nse!ing Ke#en& n n $eng n D%sen Peng m'u ( D)* Im m T $+)i, M*P$

O!eh( K s! ni De2i Ek s )i Gi3%n% -.-//.0-1. -.-//.0-10 -.-//.0-14

PROGRAM STUDI "IM"INGAN KONSELING 5AKULTAS PROGRAM PASCA SAR6ANA UNI7ERSITAS NEGERI SEMARANG 8-.1

"A" I PENDA9ULUAN A* L t ) "e! k ng Peristiwa peperangan, pertengkaran, bencana alam, dan hal-hal lain semacamnya merupakan hal-hal yang selalu ada dalam kehidupan ini.Bagi anakanak, kejadian-kejadian tersebut belum bisa diterima sebagai suatu hal yang biasa. Bagi orang dewasa yang mentalnya tidak kuatpun akan memandang peristiwa tersebut sebagai sesuatu yang membebani dan bisa menimbulkan stress baginya, apalagi bagi anak-anak. Termasuk di dalamnya kejadian ditinggal mati oleh orang tua atau orang yang paling dekat dengannya atau orang yang sangat dicintainya akan menyebabkan terjadinya trauma psikologis. Terdapat perbedaan antara peristiwa trauma dan PTSD dilihat melalui beberapa aspek. salah satunya yaitu perbedaan jenis kelamin antara laki-laki dan perempuan. Penelitian epidemiologi yang dilakukan oleh Breslau dalam jurnalnya ( ol !"# $o. %# &""'( telah melaporkan bahwa sebagian besar warga masyarakat di )merika Serikat telah mengalami gangguan stres pasca trauma (PTSD( pada tingkat peristiwa traumatik, seperti yang dide*inisikan dalam DS+-, . -anya sebagian kecil dari korban trauma akahirnya berkembang menjadi PTSD (.!"/(. Peningkatan terjadinya trauma karena adanya gangguan lain terjadinya eksposur terutama di antara para korban trauma dengan PTSD. Perempuan korban peristiwa traumatik berada pada risiko tinggi untuk PTSD dibandingkan korban laki-laki. Bukti langsung tentang penyebab perbedaan jenis kelamin dalam risiko bersyarat PTSD adalah tidak tersedia. Dalam penelitian yang dilakukan oleh i0ia dll dalam jurnalnya ( ol %, $o.&1# &"!"( menemukan bahwa terdapat usia tingkat trauma yang dialami oleh indi0idu yang mengacu pada jenis kelamis seseorang. Perbedaan resiko yang berkaitan dengan usia yang mengalami trauma yaitu kekerasan seksual, kekerasan *isik, dan penelantaran, merupakan prediktor kuat dari PTSD yang dialami oleh remaja dan seorang dewasa awal.

Terjadinya kekerasan seksual merupakan prediktor awal pada peristiwa traumatik yang akan meningkatkan resiko dalam kehidupannya. )gar kita dapat memahami mengenai trauma dan PTSD maka dalam bab ini akan membahas mengenai epidemiologi traumatik dan PTSD. "* Rumus n M s ! h Terdapat beberapa rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini yaitu# !. )pa de*inisi dari peristiwa yang menimbulkan traumatis2 &. Bagaimana studi epidemiologi dari peristiwa yang menimbulkan traumatis dan PTSD2 %. Bagaimana epidemiologi PTSD2 3. Bagaimana kondisi kesehatan mental dan komordibitas apa yang ditimbulkan bagi penderita PTSD2 C* Tu+u n Beberapa tujuan yang ingin dicapai dalam pembahasan makalah ini adalah# !. Dapat mende*inisikan peristiwa yang menimbulkan traumatis. &. Dapat memahami dan mengerti mengenai studi epidemiologi dari peristiwa yang menimbulkan traumatis dan PTSD. %. Dapat memahami epidemiologi dari PTSD. 3. Dapat mengenal kondisi kesehatan mental dan komordibilitas pada indi0idu yang mengalami PTSD. D* M n: t Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk# !. +emberikan pengetahuan mengenai de*inisi dari trauma dan PTSD. &. +emberikan pengetahuan dan pemahaman mengenai studi epidemiologi yang dilakukan diberbagai belahan dunia mengenai peristiwa trauma dan PTSD.

"A" II KA6IAN TEORI A* De:inisi Pe)isti2 ; ng Menim#u!k n T) um tis * Penge)ti n T) um $ n PTSD Pada saat seseorang indi0idu mengalami peristiwa traumatik, maka beberapa indi0idu dapat dimungkinkan untuk berkembang menjadi gangguan stres postraumatik yang sebelumnya telah memberi in*ormasi mengenai peristiwa yang menimbulkan trauma dan hal tersebut dilihat secara umum. +enurut penelitian yang dilakukan oleh Tracie 4 )*i*i, 5ordon 65 )smundson, and 6itender Sareen dalam ($utt, &""'# !&( banyak orang mengalami peristiwa traumatik dan stres setelah trauma dalam hidupnya. Peristiwa yang menimbulkan stres pasca traumatik menurut DS+ (Diagnostik +anual 5angguan +ental( adalah peristiwa diluar jangkauan dari pengalaman hidup manusia, seperti kejadian luar biasa dan akan menimbulkan kesedihan dalam hidupnya ($utt, &""'(. De*inisi mengenai peristiwa yang menimbulkan trauma dilihat dari kriteria diagnostik manual gangguan mental (DS+ ,( mengenai kriteria untuk seseorang yang mengalami PTSD maka akan terkena suatu peritiwa traumatik. DS+ ,,, mende*inisikan suatu peristiwa traumatik seperti sebuah kegiatan di luar jangkauan dari pengalaman manusia yang pernah dialami dan menyedihkan hal ini juga dialami siapapun. Sementara itu menurut penelitian dari 7elly +. +urray dalam 8r*ort (&""3( menjelaskan bahwa seseorang akan sering menunjukkan mudah marah, kemarahan dan agresi, atau mungkin cukup dengan menunjukkan perilaku 0erbal mengenai peristiwa trauma dan yang mereka rasakan, sementara yang lain tidak ingin merasakan perasaan mereka atau tidak memperhatikannya. Seseorang yang mudah mengalami trauma dapat dengan berbagai gejalayang tercantum dalam DS+-, -T9. ,ni mungkin sebagian karena mereka tidak memiliki ketrampilan 0erbal atau kemampuan kogniti* yang diperlukan untuk berkomunikasi. 4leh karena itu, bayi, balita dan anak prasekolah dapat mengalami gejala-gejala kecemasan seperti kekhawatiran, kecemasan, pemisahan, dan takut dengan orang asing.
4

+enurut arus DS+-,

kriteria untuk mendiagnostik PTSD, melalui suatu

peristiwa traumatik pada sebuah peristiwa yang dialami atau menyaksikan dan melibatkan diri sebenarnya atau mengancam kematian, peristiwa perang, bencana alam, serangan seksual secara *isik atau kekerasan, ancaman dengan senjata, kecelakaan, penyakit serius, dan tak terduga yaitu kematian pada orang-orang yang dicintai. Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa suatu peristiwa traumatik adalah sebuah peristiwa yang dialami atau menyaksikan dan melibatkan diri secara nyata atau mengancam kematian, cedera serius, atau ancaman integritas *isik dari diri sendiri atau orang lain dan mengalami respon takut, ketidakberdayaan, atau horor banyak tipe yang berbeda dari peristiwa yang menimbulkan trauma yang termasuk di bawah DS+-, de*inisi seperti peristiwa perang, bencana alam, serangan *isik seksual atau kekerasan, ancaman dengan senjata, kecelakaan, penyakit serius, dan kematian tak terduga. #* Met%$e Meni! i $ ! m Pe)isti2 3 ng Menim#u!k n T) um tik +otode dalam menilai peristiwa trauma pada populasi umum dalam studi epidemiologi pada peristiwa yang menimbulkan trauma dan PTSD telah dilakukan dengan menggunakan sampel. Populasi umum kebanyakan dari penelitian ini menggunakan sampel dari )merika Serikat. Studi pertama dilakukan pada tahun !':"-an dengan menggunakan DS+-,,,, ditengah tahun !''"-an dipelajari dengan menggunakan kriteria DS+-, dan mulai diterbitkan. Pre0alensi peristiwa yang menimbulkan trauma dilaporkan dalam studi epidemiologi ber0ariasi tergantung pada metode dan kriteria yang digunakan untuk menilai peristiwa yang menimbulkan trauma yang berkaitan dengan metode yang digunakan, beberapa studi sebelumnya menggunakan kriteria DS+-,,, tentang peristiwa yang menimbulkan trauma menggunakan satu pertanyaan, sementara mempelajari DS+-, menggunakan kriteria responden dengan da*tar kuali*ikasi peristiwa yang menimbulkan trauma. +eode lain dalam studi yang berbeda ketika responden mengalami lebih dari satu peristiwa traumatik. 7etika responden telah mengalami beberapa peristiwa yang menimbulkan trauma, maka yang akan diidenti*ikasi adalah
5

peritiwa traumatik yang terburuk, sementara studi lain akan memilih secara acak dalam suatu peristiwa traumatik guna menilai atau mengetahui gejala PTSD ($utt, &""'(. 7essler et al.(!'';( dalam $utt (&""'( menyatakan, dalam mempelajari dan menggunakan metode, mungkin akan melebih-lebihkan peristiwa terburuk yang terasosiasi dari peristiwa itu dengan gejala PTSD, sementara menggunakan metode acak untuk memilih suatu peristiwa mungkin memberikan lebih banyak lagi in*ormasi akurat mengenai trauma. Perbandingan langsung dari kedua metode telah mengindikasikan bahwa pre0alensi dari ptsd berdasarkan metode peristiwa yang terburuk dan kegiatan metode acak adalah !%.1/ dan ',& /, pada masingmasing namun, penyelidikan lebih lanjut ditentukan kedua metode tersebut dengan mengidenti*ikasi jenis kelamin dan peritiwa yang menimbulkan trauma yang akan mengakibatkan gejala PTSD. Selain itu, dipelajari juga metode pengumpulan data yang lain yaitu lokasi pendataan, usia responden, dengan menggunakan metode wawancara dan masyarakat luas sebagai sampel. Semua *aktor ini mungkin akan bermain peran dalam mngungkapkan peristiwa traumatis dan PTSD yang telah dilaporkan dalam epidemiologi yang berbeda. "* Stu$i E'i$emi%!%gi P $ Pe)isti2 3 ng Menim#u!k n T) um $ n PTSD * P) < !ensi Pe)isti2 T) um tik Pada studi epidemiologi, mengambil populasi umum dilakukan untuk peristiwa yang menimbulkan trauma dan rincian dengan sur0ei juga yang menilai peristiwa yang menimbulkan trauma dan pre0elensi PTSD. Penyelidikan pertama epidemiologi sur0ei besar pada penderita PTSD dengan menggunakan kriteria DS+-,,,, dan sampel populasi umum dilakukan pada awal !':"-an dengan data dari st.<ouis menggunakan daerah resapan epidemiologi dan Piedmont wilayah $orth =arolina. Pada tahun !':', Breslau et al.(!''!( dalam $utt (&""'( melakukan penyelidikan pertama dari peristiwa yang menimbulkan trauma dan PTSD menggunakan kriteria DS+-,,, pada masyarakat dengan sampel dewasa muda dari Tenggara +ichigan. Berikut ini, kriteria DS+,,, yang digunakan untuk menilai pada peristiwa yang menimbulkan trauma pada
6

sebuah sampel dari tenggara kota (=harleston, 5reen0ille, =harlotte, dan Sa0annah(, sampel secara nasional pada orang dewasa. #* Pe)#e$ n 6enis Ke! min D ! m Pe)isti2 T) um tik +enurut 7essler (!'';( dalam $utt (&""'( ditemukan bahwa peristiwa traumatik yang tinggi adalah dalam bentuk umum, yaitu dengan prosentase 1",>/ laki-laki dan ;!,& / wanita menndukung bahwa peristiwa traumatis dapat terjadi dalam hidup manusia. Dan yang paling umum yang dialami peristiwa di penelitian ini adalah kematian yang tak terduga. Dari data ?innipeg mengemukakan bahwa sampel yang digunakan untuk menemukan banyaknya orang yang terkena traumatik dalam hidupnya, diantaranya kematian seorang teman atau anggota keluarga dan serangan secara *isik yang paling umum terjadi baik dialami laku-laki maupun perempuan. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Breslau et al (!''!( dalam $utt (&""'( menunjukkan bahwa semua orang dewasa muda dalam masyarakat menjadi sampel yang terkena suatu peristiwa traumatik, yaitu 1>,%/ mengalami salah satu peristiwa traumatik, &%,%/ mengalami dua peristiwa yang menimbulkan trauma dan ',3/ tiga mengalami peristiwa yang menimbulkan trauma, dengan sampel perwakilan perempuan-perempuan yang mengalami peristiwa yang menimbulkan trauma (crime-related( seperti pemerkosaan, serangan seksual, pembunuhan *isik dari anggota keluarga. Perbedaan jenis kelamin juga mempengaruhi peristiwa traumatik yang dialaminya, karena dalam penelitian telah diumumkan bahwa laki-laki lebih mungkin mengalami peristiwa yang menimbulkan trauma hidup dibandingkan wanita ($utt, !;-!1# &""'(. $amun beberapa perbedaan jenis kelamis ditemukan ketika menyelidiki peristiwa yang menimbulkan trauma diantara pria dan wanita. +isalnya, Breslau et al (!''!( dalam $utt (!1# &""'( ditemukan bahwa pemerkosaan merupakan peristiwa traumatik yang dilaporkan oleh wanita, sedangkan $orris et al (!''&( dalam $utt (!1# &""'( menemukan bahwa laki-laki lebih besar mengalami peristiwa traumatik dibandingkan wanita yaitu seperti serangan *isik saat berada dikendaraan bermotor yang dahsyat, terkena pertempuran, sementara wanita lebih besar kemungkinannya untuk mengalami
7

penyerangan secara *isik dibanding laki-laki, yaitu meng sementara wanita lebih besar daripada laki-laki yaitu mengalami serangan secara seksual. Tidak ada perbedaan jenis kelamin jika dideteksi pada penelitian ini yang berkaitan dengan paparan perampokan, bencana lainnya atau bahaya, dan kematian. Temuan yang paling konsisten umum di antara semua populasi studi dari peristiwa yang menimbulkan trauma yang berkaitan dengan perbedaan jenis kelamin adalah bahwa perempuan lebih mungkin mengalami traumati@ation seksual yang melibatkan pemerkosaan, seksual atau penganiayaan, sementara pria yang lebih besar kemungkinannya untuk mengalami pertempuran dan kekerasan seperti serangan-serangan *isik dan ancaman dengan senjata. $amun, membandingkan perbedaan jenis kelamin yang dipelajari ini menantang karena tidak semua mempelajari termasuk kuali*ikasi yang sama untuk peristiwa yang menimbulkan trauma ($utt, !># &""'(. &* 5 kt%) Resik% D ! m Pe)isti2 T) um tik Peristiwa yang menimbulkan traumatik pada beberapa yang dipelajari mengenai penggunaan sampel tertentu dalam populasi umum telah mengidenti*ikasi *aktor yang meningkatkan resiko untuk mengalami peristiwa traumatik. Selain itu yang berhubungan dengan jenis kelamin menjadi *aktor resiko pada beberapa peristiwa yang menimbulkan traumatik, seperti yang telah dibahas di atas, *aktor resiko lain telah diidenti*ikasi didalam literatur. +enurut $orris et al (!''&( dalam $utt (&""'# !1( telah ditemukan ras perbedaan, antara responden berkulit putih yang jauh lebih banyak dibanding responden berkulit hitam yang mengalami peristiwa yang menimbulkan trauma dalam hidupnya di masyarakat dengan mengambil sampel pada warga )merika Serikat di Tenggara kota. C* E'i$emi%!%gi D )i PTSD * P) <e!ensi PTSD Dalam dua studi mengenai PTSD dilakukan di awal !':"-an menggunakan sampel populasi umum dan DS+-,,, dengan disediakan serupa kriteria untuk memperkirakan dari pre0alensi PTSD selama seumur hidup. Studi pertama menggunakan data yang ditunjukkan bahwa hanya ! / dari total yang
8

ditemui dengan sampel penuh kriteria DS+-,,, untuk mendiagnosis PTSD namun, !; / laki-laki dan !1 / dari wanita mempunyai sebuah paling tidak satu gejala PTSD setelah mengalami suatu peristiwa traumatik. Demikian pula, data dari sebuah komunitas contoh dari $orth =arolina melaporkan bahwa !.%/ dari sampel yang ditemukan DS+-,,, kriteria untuk PTSD. Secara 7olekti*, bahwa pada awal tahun !':"-an menunjukkan bahwa secara umum pra0elensi PTSD dengan sampel dari pria dan wanita berkisar dari !/-!! /. Aaktor penurunan comparability dalam penelitian ini telah terjadi. $amun, harus dicatat bahwa kisaran besarnya jumlah dari PTSD diperkirakan mungkin dijelaskan oleh studi yang dilakukan di kota yang berbeda dan diberbagai negara. Pra0elensi dari peristiwa yang menimbulkan trauma, dan gejala PTSD, mungkin tergantung pada kejahatan, kemiskinan, politik, kekerasan dan *aktor lainnya, yang berbeda dalam berbagai belahan dunia. +isalnya, Blonick et al. (&""1( dalam $utt (&""'( berspekulasi bahwa perbedaan dalam pre0alensi PTSD yang ditemukan di +eksiko dan =ile terjadi karena kejahatan disana lebih besar dibandingkan dengan angka kemiskinan di +eksiko dan =ile. Terlepas dari kisaran terjadinya PTSD yang dilaporkan dengan populasi umum maka, temuan dari studi epidemiologi ini telah menentukan bahwa PTSD merata di populasi umum dan dianggap sebagai masalah penting kesehatan umum. #* Du) si Te)+ $in3 PTSD 5ejala-gejala PTSD telah ditemukan menjadi sebuah kondisi kronis bagi banyak indi0idu. De*inisi mengenai kondisi kronis dari PTSD tidak dide*inisikan dalam penelitian, namun banyak studi yang memahaminya melalui durasi gejala PTSD yang harus bertahan minimal enam bulan maka akan disebut sebagai kasus PTSD dengan kondisi kronis. Dari data 8=) ($utt, &""'# !:( bahwa data tersebut menunjukkan antara indi0idu yang mengalami gejala PTSD yang berlangsung selama kurang dari enam bulan hanya 3'/ indi0idu, dan hal ini berlangsung selama enam tahun untuk sepertiga dari gejala orang pada umumnya. Data menyebutkan bahwa panjangnya durasi ini terjadi pada laki-laki yang mengalami pertempuran
9

sedangkan pada wanita yang mengalami serangan *isik. Sampel yang di ambil di $orth =arolina, sekitar ;"/ indi0idu yang mengalami gejala PTSD dianggap menjadi kasus yang kronis seperti diukur dengan gejala yang berlangsung selama lebih dari enam bulan. Sejarah perilaku anti sosial dan perilaku seks pada perempuan adalah *aktor resiko tertentu untuk PTSD menjadi kronis. Data $S= perwakilan $asional juga mengemukakan bahwa PTSD kronis dengan sepertiga dari indi0idu yang tidak sembuh dari gejala tersebut mereka bahkan setelah bertahun-tahun dan terlepas dari pengobatan. Breslau et al (!'':( dalam $utt (&""'( menemukan bahwa &1/ dan 3'/ indi0idu dengan PTSD. Data menunjukkan bahwa durasi gejala berlangsung lebih lama pada wanita (rata-rata durasinya 3:.! bulan( dibandingkan dengan laki-laki (rata-rata durasi !&." bulan(. Sedangkan sampel yang dilakukan pada komunitas dari +eksiko menunjukkan bahwa 1&/ dari mereka yang mengalami PTSD gejalanya berlangsung lebih lama dari satu tahun dan dianggap sebagai kasus PTSD kronis. &* Pe)#e$ n 6enis Ke! min D ! m PTSD 8pidemiologi penyelidikan mengenai PTSD telah menunjukkan bahwa perempuan lebih rentan daripada laki-laki untuk mengembangkan PTSD setelah mengalami peristiwa traumatik. Beberapa studi juga mengemukakan bahwa PTSD terjadi lebih banyak pada perempuan dibanding laki-laki. Breslau et al (!''>( dalam $utt (&""'( memeriksa perbedaan jenis kelamin dalam PTSD secara detail yang digunakan di pada komunitas Tenggara +ichigan dengan sampel orang dewasa dan menemukan bahwa laki-laki dan perempuan tidak mengalami perbedaan dalam peristiwa traumatis, namun wanita dua kali lipat lebih memungkinkan untuk mengalami PTSD setelah suatu peristiwa traumatik yang dialaminya. Aaktor resiko yang menjelaskan mengenai perbedaan jenis kelamin dalam data tersebut ada yang sebelumnya mengalami gangguan kecemasan atau gangguan depresi utama dan peristiwa yang lebih besar seperti traumatis di masa kanak-kanak.

10

Penelitian menunjukkan bahwa wanita rentan mengalami gejala PTSD dengan prosentase mengalami kekerasan (%1/( dibandingkan laki-laki yang hanya (1/( data ini mengindikasikan kalau trauma ini menunjukkan peningkatan resiko PTSD yang kemudian diikuti dengan peristiwa traumatik. -al ini penting bahwa perbedaan jenis kelamin yang telah dikemukakan pada studi epidemiologi. -asil dari sampel di )ustralia menunjukkan bahwa selama !& bulan anatar laki-laki dan perempuan yang mengalami PTSD adalah serupa (!,&/ 0ersus !,3/(. $amun penelitian di 6erman menunjukkan bahwa jenis kelamin perempuan bukanlah *aktor resiko dalam PTSD, para penulis menyarankan bahwa peningkatan resiko PTSD pada perempuan mungkin karena mereka lebih besar mengalami peristiwa paling terkait dengan PTSD (yaitu, pemerkosaan, dan pelecehan seksual( dan memiliki gangguan yang berhubungan dangan peningkatan resiko PTSD, dibandingkan dengan laki-laki. Secara umum perempuan tidak memiliki kerentananlebih besar terhadap PTSD. $* Pe)isti2 P ' ) n T) um tik $ n PTSD Paparan dan peristiwa yang menimbulkan trauma dan PTSD telah ditemukan dengan berbagai 0ariasi tergantung pada jenis peristiwa traumatik yang dialaminya. Pria dan wanita juga mengalami peristiwa yang menimbulkan trauma tertentu, yang membedakan adalah peristiwa yang menimbulkan traumatik dengan pengembangan dari PTSD. Pada awal studi oleh hel@er et al.( !':> ( dalam $utt (&""'#!'(, hanya dua pengalaman yang berhubungan dengan PTSD antara lakilaki adalah pertempuran dan melihat seseorang sakit atau mati, sementara kecelakaan serius, serangan *isik, dan ancaman, sedangkan pada wanita, ini peristiwa yang menimbulkan trauma PTSD yang paling umum di kalangan wanita yang secara *isik diserang. Data ini juga mengindikasikan bahwa mengalami bencana alam tidak menjelaskan salah satu dari PTSD kasus di antara laki-laki atau perempuan.

11

e* 5 kt%) Resik% D ! m Pe)isti2 PTSD Aaktor resiko pada peristiwa PTSD seperti disebutkan sebelumnya, bahwa jenis kelamin perempuan dikaitkan dengan resiko yang lebih besar terhadap PTSD. Selain itu penelitian telah mengidenti*ikasi *aktor resiko pentiny yang lain untuk meningkatkan kemungkinan PTSD setelah mengalami peristiwa traumatik. +asalah perilaku pada masa kanak-kanak (yaitu berbohong, perkelahian dll( sebelum usia !; tahun maka telah ditemukan yang berhubungan dengan PTSD, yang mungkin mencerminkan kemungkinan besar peristiwa traumatis danCatau kecenderungan untuk mengalami gejala setelah peristiwa trauma. Aaktor-*aktor lain pada masa kanak-kanak dan keluarga telah diidenti*ikasi dalam sampel komunitas lain, yang menunjukkan bahwa indi0idu yang mengalami PTSD lebih cenderung dialami pada masa kanak-kanak, kemiskinan, riwayat keluarga penyakit jiwa, perceraian orangtua atau perpisahan sebelum anak usia !" tahun dan pelecehan anak. Dalam sebuah studi dari orang dewasa muda, bahwa PTSD adalah dikaitkannya dengan neurotisme, pemisahan dari orangtua dimasa kanak-kanak, kecemasan dan depresi, riwayat keluarga kecemasan atau perilaku anti sosial. D* Keseh t n Ment ! $ n K%m%)$i#it s * Keseh t n Ment ! 5angguan kejiwaan lain secara umum disamakan dengan indi0idu yang mengalami PTSD. -el@er dkk (!':>( dalam $utt (&""'#&"( menemukan bahwa indi0idu yang mengaami PTSD dua kali dimungkinkan akan memiliki komorbiditas gangguan kejiawaan, dengan obsessi0e compulsi0e disorder (4=D( dan gangguan manic depressi0e yang menjadi paling la@im didagnosa menjadi komorbiditas. Sementara itu Da0idso dll (!''!( dalam $utt (&""'#&"( menemukan bahwa bila dibandingkan dengan indi0idu tanpa PTSD dengan indi0idu yang mengalami PTSD lebih mungkin untuk mengalami somati@ation disorder, ski@o*renia, gangguan panik, *obia sosial, 4=D, penyalahggunaan obat atau ketergantungan, depresi, agorophobia, *obia sederhana dan gangguan kecemasan umum
12

Breslau dkk (!''!" dalam $utt (&""'" dengan ditemukan dalam posisi sampel populasi secara umum dari orang dewasa, :&,:/ dari mereka dengan gangguan PTSD yang juga memiliki satu atau lebih komorbiditas kelainan jiwa, termasuk 4=D, agorapobhia, manik, panik, depresi, 5)D, penyalahgunaan obat atau ketergantungan, penyalahan alkohol atau ketergantungan. Demikian pula hasil dari $S= menunjukkan bahwa ::,%/ laki-laki dan >'/ perempuan mengalami PTSD dengan memiliki setidaknya satu didiagnosis psikiatri mengalami komorbiditas lainnya. Perilaku bunuh diri dalam penelitian telah menemukan hubungan yang signi*ikan antara PTSD dan keinginan bunuh diri. Studi sebelumnya menemukan bahwa indi0idu dengan PTSD !3.' kali (';/ =, D ;.!" /( lebih cenderung mencoba untuk bunuh diri dibandingkan dengan indi0idu tanpa PTSD. +enurut penelitian yang lain bahwa perempuan yang diambil datanya dari $S= bahwa PTSD dikaitkan dengan peningkatan peluang keinginan untuk bunuh diri, PTSD dipertalikan dengan &,; kali lebih besar peluangnya dari keinginan bunuh diri dilihat dari e*ek sosiodemogra*i, pengalaman serangan seksual, karakteristik psikologi, penyalahgunaan alkohol, dan depresi. 7ondisi PTSD bagi kesehatan *isik ditemukan memiliki pengaruh terhadap kondisi kesehatan *isik. Sebuah studi pada komunitas telah ditemukan bahwa indi0idu yang mengalami PTSD dibandingkan dengan orang yang tanpa PTSD lebih mungkin memiliki penyakit asma bronkitis (!%,;/ 0ersus 3,:/, p D ","&(, ulkus peptikum (!&,:/ dibandingkan 3.!/, p D ","&( dan hipertensi (%!,3 / dibandingkan !:,;/, p D ","3(, data ini tidak mengungkapkan hubungan antara PTSD dengan kesehatan *isik lainnya seperti (paru-paru, diabetes, penyakit jantung, artrtis, penyakit serebro0askular, kanker, arteriosklerosis, dan ganguan neurologis(. PTSD kronis dide*inisikan sebagai gejala yang berlangsung setidaknya satu tahun yang juga telah ditemukan hubungannya dengan kemungkinan peningkatan dibandingkan dengan PTSD non kronis, yaitu penyakit rematik, bronkitis, migran, dan masalah-masalah 5inekologi (bagi perempuan(.

13

#* Ge+ ! -ge+ ! PTSD +enurut penelitian yang dilakukan oleh indah lestari dalam penelitiannya bahwa gejala-gejala yang dialami oleh indi0idu PTSD adalah# !( Pada gangguan PTSD orang mengalami *rekuwensi ingatan yang tidak diinginkan menimbulkan kembali peristiwa traumatik. &( +impi buruk adalah biasa. %( 7adangkalaperistiwa hidup kembali sebagaimana jika terjadi (*lashback(. 3( 5angguan hebat seringkali terjadi ketika orang berhadapan dengan peristiwa atau keadaan yang mengingatkan mereka pada trauma asal. ;( +isalkan beberapa ingatan adalah perasaan pada peristiwa traumatik tersebut, melihat senjata setelah dipukul dengan senjata ketika terjadi perampokan, dan berada diperahu kecil setelah kecelakaan dan tenggelam. Data penelitian yang diperoleh dari jurnal nasional (+argaretha dkk, &"!%( mengenai trauma masa kanak-kanak dan kekerasan relasi intim, menyebutkan bahwa data yang diperoleh memberikan bukti empiris atas pengaruh negati* jangka panjang trauma yang menyaksikan dan mengalami 7D9T masa kanak. Sedangkan studi berikutnya tidak menemukan hubungan antara trauma 7D9T dengan pengalaman sebagai korban kekerasan dalam relasi intim, namun dipertimbangkan hubungan ini dapat terjadi secara tidak langsung. +elihat dampak psikologis yang dapat ditimbulkan oleh peristiwa yang menyebabkan trauma, menjadikan setiap orang untuk dapat memahami dampakdampak yang terjadi. Dampak psikologis dari trauma dan PTSD diharapkan setiap indi0idu dapat pemahamannya maupun upaya penanganannya. -al ini memang belum mendapat perhatian maksimal dari pemerintah maupun anggota masyarakat. Perhatian pemerintah dan anggota masyarakat lebih terpusat pada penanganan bidang sosial dan materi. Epaya-upaya tersebut dapat terlihat dengan mengalirnya bantuan bagi pembangunan kembali tempat tinggal dan dilakukannya upaya perdamaian antara pihak yang bertikai serta pemulihan situasi keamanan. Sangat disayangkan bahwa upaya penyelesaian ini belum menyeluruh, karena dampak psikologisnya

14

Kete) ng n( DSM-I7 K)ite)i Di gn%stik Untuk G nggu n PTSD (Nutt, 8--4(8) ). 4rang yang telah terkena peristiwa traumatis dimana kedua hal berikut yang dialaminya# !( 4rang yang dialami, disaksaikan, atau dihadapkan dengan suatu peristiwa atau kejadian bahwa kematian terlibat aksi atau ancaman atau cedera serius, atau ancaman bagi integritas *isik diri sendiri atau orang lain &( 9espon seseorang yang terlibat ketakutan yang intens, tidak berdaya, atau horor. B. Peristiwa traumatis yang terus-menerus dialaminya lagi dalam satu atau lebih dengan cara sbb#
!(

Berulang dan kenangan menyedihkan yang mengganggu, termasuk gambar, pikiran dan persepsi . +empi menyedihkan yang berulang-ulang. Bertindak atau merasa seolah-olah peristiwa traumatik yang berulang Tekanan psikologis yang intens pada peristiwa isyarat internal dan eksternal yang melambangkan atau menyerupai suatu aspek dari peristiwa traumatik. 9eakti0itas *isiolpgis pada peristiwa internal atau eksternal yang

&( %( 3(

;(

melambangkan atau menyerupai aspek peristiwa traumatik. =. +enghindari rangsangan yang terkait dengan trauma dan respon mati rasa !( Epaya untuk menghindari pikiran, perasaan, atau percakapan yang berhubungan dengan trauma. &( Epaya untuk menghindari akti0itas, tempat, atau orang-orang yang membangkitkan kenangan trauma. %( 7etidakmampuan untuk mengingat aspek pentingdari trauma. 3( Secara nyata berkurangnya minat atau partisipasi dalam kenangan yang signi*ikan. ;( Perasaan keterasingan dari orang lain. 1( Dibatasinya kisaran yang mempengaruhi (misalnya# tidak dapat memiliki perasaan yang penuh kasih(.

15

>( +emiliki rasa masa depan yang menyempit (misalny tidak berharap untuk memiliki karir, pernikahan dll dalam jangka hidup yang normal( D. 5ejala Persistent peningkatan gairah ( tidak hadir sebelum trauma ( seperti yang ditunjukkan oleh dua ( atau lebih ( sebagai berikut#
!( &( %( 3( ;(

7esulitan jatuh atau tetap tertidur <ekas marah atau ledakan kemarahan 7esulitan berkonsentrasi hyper0igilance 9espon kejut berlebihan

8. Durasi dari gangguan ( gejala dalam kriteria B , = , dan D ( lebih dari satu bulan A. 5angguan menyebabkan distress klinis signi*ikan atau penurunan sosial bidang-bidang penting lainnya pada pekerjaan atau *ungsinya.

16

"A" III PENUTUP A* Kesim'u! n Peristiwa yang menimbulkan trauma merupakan peristiwa yang secara umum juga dialami oleh manusia. Dalam penelitian telah mengidenti*ikasikan *aktor tertentu yang menimbulkan trauma. Trauma dilihat dari segi kesehatan yang terpenting adalah sebuah masalah bukan saja karena tingginya pra0elensi yang ditemukan secara umum namun juga karena adanya komorbiditas dan hubungan yang ditemukan antara PTSD dengan komorbiditas lainnya, seperti gangguan kejiwaan, perilaku bunuh diri, masalah kesehatan dan *isik dll. Pengetahuan tentang studi epidemiologi pada peristiwa yang menimbulkan trauma dan PTSD akan membantu mengin*ormasikan upaya pencegahan dan peningkatan kemampuan untuk mengatasi PTSD dan indi0idu-indi0idu yang terkena *aktor resiko lainnya. "* S ) n Saran yang dapat diberikan dalam pembahasan makalah mengenai epidemiologi trauma dan PTSD adalah# !. &. +enggali lebih banyak lagi gejala-gejala lain yang menimbulkan trauma dan PTSD dari barbagai macam sumber . +enelaah beberapa penelitian mengenai epidemiologi trauma dan PTSD dari berbagai belahan duniaCpopulasi yang berbeda.

17

DA5TAR PUSTAKA
Breslau, $. &""'. Articles International The Epidemiology of Trauma, PTSD, and Other Posttrauma Disorders. http#CCwww.sagepublications.com 8r*ort, T. &""3. Professional School Counseling: Theories,Program " Pracices# TeFas# =)PS Press a Hand oo! of

<estari, ,ndah. &"!!. $onseling Post%Traumatic. A7,P Eni0ersitas +uria 7udus. 7udus +argaretha, dkk. &"!%. &urnal 'asional Trauma $e!erasan (asa $ana! dan $e!erasan dalam )elasi Intim. D4,# !".>3;3Cmssh.0!>i!.!:"" $utt, D. 6. &""'. Posttroumatic Stress Disorder: Diagnosti!, (ene*ement, and Treatment. E7. ,n*orma-ealthcare i0ia, dkk. &"!". &ournal International Age at Trauma E+posure and PTSD )is! in ,oung Adult -omen. ol &%, $o. 1 # -al !

18