Anda di halaman 1dari 8

SPECTRUM LIFE FORM

LAPORAN PRAKTIKUM Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Ekologi Dasar Yang Dibina Oleh Bapak Hadi Suwono

Oleh Kelompok 2 Offering A 2012 Bilkis Istikhoroh ( )

Binti Hifdhotun A A (120341421999) Lely Mardiyanti Nur Afifah Z Siti Nur Arifah Ulfatun Hasanah (120341421998) (120341400027) (120341400022) (120341400024)

The Learning University

UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM JURUSAN BIOLOGI PROGRAM STUDI PENDIDIKAN Maret 2014

1. Topik Topik dari praktikum kali ini adalah Spectrum Life Form 2. Tujuan Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengamati dan menentukan spektrum life form pada tipe tegakan/stand yang berbeda (daerah ternaung, transisi dan terdedah). 3. Dasar Teori Metode untuk menunjukkan spektruk biologi yang paling banyak digunakan adalah sistem life form Raunkier. Raunkier membuat klasifikasi dunia tumbuhan yang didasarkan atas letak kuncup pertumbuhan terhadap permukaan tanah. Ia membagi dunia tumbuhan ke dalam 5 golongan yaitu : 1) Phanerophyte (P) Merupakan kelompok tumbuhan yang mempunyai letak titik kuncup pertumbuhan minimal 25 cm di atas permukaan tanah. Ke dalam kelompok tumbuhan ini termasuk semua tumbuhan berkayu, baik pohon, perdu, semak yang tinggi, liana, tumbuhan yang merambat berkayu, epifit dan batang succulen yang tinggi. 2) Chamaephyte (Ch) Kelompok tumbuhan ini juga merupakan tumbuhan berkayu, tetapi letak kuncup pertumbuhannya kurang dari 25 cm di atas permukaan tanah. Ke dalam kelompok tumbuhan ini termasuk tumbuhan setengah perdu atau suffruticosa (perdu rendah kecil, bagian pangkal berkayu dengan tunas berbatang basah), stoloniferus, sukulen rendah dna tumbuhan berbentuk bantalan. 3) Hemicrytophyte (H) Tumbuhan kelompok ini mempunyai titik kuncup pertumbuhan tepat di atas permukaan tanah. Dalam kelompok ini termasuk herba berdaun lebar musiman, rerumputan dan tumbuhan roset. 4) Cryptophyte (Cr) Titik kuncup pertumbuhan berada di bawah tanah atau di dalam air. Dalam kelompok ini termasuk tumbuhan umbi, rimpang, tumbuhan perairan emergent, mengapung dan berakar pada air. 5) Therophyte (Th) Termasuk semua tumbuhan satu musim, dimana pada kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan titik pertumbuhan berupa embrio dalam biji. Biasanya dalam pengungkapan vegetasi berdasarkan klasifikasi Raunkier, vegetasi dijabarkan dalam bentuk spektrum yang menggambarkan jumlah setiap tumbuhan untuk

setiap bentuk tadi. Hasilnya akan memperlihatkan perbedaan struktur tumbuhan untuk daerah-daerah dengan kondisi regional tertentu. Dengan demikian sifat klimatik habitat yang berbeda tercermin oleh karakteristik fisiognomi anggota komunitas dan karakteristik akan diturunkan pada bentuk struktur yang dikenal dengan life form suatu spesies. Dengan membandingkan life form dua atau lebih komunitas akan didapatkan sifat klimatik penting yang mengendalikan komposisi komunitas. Sifat komunitas terhadap berbagai faktor lingkungan yang mengendalikan ruang (yang mengendalikan nilai penutupan) dan hubungan kompetitif komunitas tersebut. Untuk membantu dalam menginterpretasi spektrum life form suatu komunitas tumbuhan, Raunkier membuat spektrum life form normal untuk flora dunia. Spektrum life form ini didasarkan pada 1000 spesies yang dipilih secara acak dan digunakan sebagai pembanding. Persentasi spesies dalam kelas untuk spektrum life form normal tersebut adalah: P 46 Ch 9 H 26 Cr 6 Th 13 (100 %)

Untuk mengadakan deskripsi vegetasi pada setiap stand dapat digunakan skala Braun Blaquet. Skala ini merupakan skala mutlak yang dikaitkan dengan cara tertentu yang didasarkan pada releve dengan ukuran pasti. Cara ini banyak digunakan untuk komunitas tumbuhan tinggi dan rendah (Muller Dombois, 1974). Nilai skala tersebut adalah : Tabel 1. Nilai penutupan kemelimpahan Braun Blaquet yang dikonversikan ke derajat rerata penutupan. Besaran BB 5 4 3 2 1 + r (Tim Dosen, 1999) Kisaran cover (%) 76 100 51 75 26 50 5 25 <5 <5 value ignored Rerata derajat cover 87,5 62,5 37,5 15,0 2,5* 0,1*

4. Alat dan Bahan 1) Meteran rol 2) Etiket gantung 3) Sasak herbarium 4) Kantong plastik 5) Kertas label 5. Cara Kerja 1) Mencari lingkungan sekitar hutan batakan, tiga lingkungan yang berbeda, yaitu daerah dengan naungan pohon, daerah transisi dan daerah terdedah. 2) Meletakkan dua plot (kuadrat) dengan ukuran 10 x 10 m2 secara subjektif pada masing-masing daerah. 3) Mencatat semua jenis tumbuhan yang ada pada setiap plot, menghitung penutupan masing-masing spesies. 4) Mengelompokkan jenis tumbuhan tersebut menurut sistem klasifikasi life form Raunkier yaitu Phanerophyte, Chamaephyte, Hemicryptophyte, Cryptophyte dan Therophyte. 5) Menggambarkan spektrum life form tersebut dalam bentuk grafik batang dan membandingkan grafik life form antara satu daerah dengan daerah lainnya, dan dengan spektrum life form normal. 6. Data Pengamatan Tabel 2. Identifikasi Spektrum Life Form No. Nama species R (cm) Cover ( r2) Ph Spectrum life form Ch He Cr Th

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 10.

Bignonace sp Plalem Lilium sp Rumput Teki Talas Putri Malu Daun Merah Glodogan Tiang Bouhinia

8 2 4 63 5 7 3 1 2

13 8 2,5 0,5 2 0,5 1 11 14

4245,28 401,92 39,25 49,455 62,8 5,495 9,42 379,94 1230,88

11. 12. 13.

Waru Laos Mangivera Indica

4 2 2

11,5 1,5 37

1661,06 14,13 8597,32

Tabel 2. Rata-rata No. Nama species Cover ( r ) 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 10. 11. 12. 13. Bignonace sp Plalem Lilium sp Rumput Teki Talas Putri Malu Daun Merah Glodogan Tiang Bouhinia Waru Laos Mangivera Indica Jumlah Persentasi 4245,28 401,92 39,25 49,455 62,8 5,495 9,42 379,94 1230,88 1661,06 14,13 8597,32 16696,95 2 19 18,45 % 5 4,85 % 79 76,7 % 1 2 4 2 3
2

Spectrum life form Ph 8 2 4 63 5 7 Ch He Cr Th

Tabel 3. Tabel covered SLF rata-rata (%) Data Persentasi Runkier 7. Analisis Data Pengamatan yang dilakukan yang berlokasi di Jl. Jakarta Malang adalah dilakukan untuk mengukur densitas populasi yaitu besaran populasi dalam hubungannya dengan unit dan ruang. Hal ini disebabkan karena pada daerah ini memiliki penyebaran individu yang tidak teratur maka dipakai suatu ukuran banyak relative (relative abudance) yaitu dengan cara melihat cover atau persen dari permukaan tanah yang ditutupi dari suatu luas. Pada daerah amatan didominasi oleh golongan Hemicrytophyte (He) sebayak 76,7 %. Sedangkan untuk golongan Phanerophyte (Ph) dan Chamaephyte (Ch) hanya mendiami secara berturut-turut SLF Rata-rata Ph 18,45 % 46 Ch 4,85 % 9 He 76,7 % 26 Cr 6 Th 13

sekitar 18,45 % dan 4,85 % saja. Sehingga berikut data yang ada jika disajikan dalam sebuah histogram.
90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 Ph Ch He Cr Th Jumlah Persentasi

Histogram Perbandingan jumlah dan Persentase tiap Golongan Life Form 8. Pembahasan Dari data dan analisisnya dapat dilihat bahwa persentase dominansi diakibatkan adanya jumlah golongan Hemicrytophyte (He) yang lebih banyak dari dua golongan lain yang ada di tempat amatan yakni Phanerophyte (Ph) dan Chamaephyte (Ch). Jumlah spesies untuk ketiganya berturut-turut yakni 79, 19, 5. Jenis golongan tumbuhan yang dominan dalam daerah ini sangat erat kaitannya dengan faktor-faktor lingkungan. Walaupun golongan Phanerophyte (Ph) memiliki diameter dan perawakan besar, ternyata pada perhitungannya tidaklah memberikan kontribusi cover yang relatif besar dibandingkan dengan golongan Hemicrytophyte (He) yang justru mempunyai perawakan kecil. Hal ini menunjukkan bahwa penutupan (cover) oleh suatu golongan life form dipengaruhi oleh jumlah dan perawakannya. Meskipun golongan Phanerophyte (Ph) kurang memberikan kontribusi cover pada wilayah tersebut, tapi persentasenya jauh lebih besar dibandingkan dengan golongan Chamaephyte (Ch) yakni 18,45 % > 4,85 %. Hal ini dikarenakan jumlah spesies golongan Phanerophyte (Ph) lebih banyak dari spesies golongan Chamaephyte (Ch) yakni secara berturut-turut 19 > 5. Tentunya itu semua dapat terlihat jelas pada histogram yang ada. Cover atau penutupan kanopi tumbuhan dalam suatu area tertentu dapat dihitung berdasrkan prosentase. Penutupan penuh suatu vegetasi merupakan prosentase 100%.

Bilangan penutupan dapat melebihi 100 %, disebabkan tumbuhan penyusun suatu vegetasi

terdiri dari beberapa

lapisan kanopi yang saling tumpang tindih, kuang dari 100%

menunjukan adanya tanah gundul pada suau area yang diamati. Menurut Arief (1994), perhitungan secara akurat untuk kelimpahan kadang kala sulit untuk dilakukan, karena itu kelimpahan tiap-tiap life form dipakai skala rating Braun-Blanquet, Domin Krajina ataupun Daubenmire.yang kemudian dikonversikan menjadi rerata penutupan seperti dalam tabel berikut: Tabel 4. Rentang Cover menggunakan Braun Blanquet, Domin Krajina dan Daubenmire (diambil dari Barbaur, 1992) Braun Blanquet Class Range of Cover (%) 5 4 3 2 1 + R 75-100 50-75 25-50 5-25 1-5 <1 <<1 87.5 62.5 37.5 15.0 2.5 0.1 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 r Sumber: Arief, 2002 M Class Domin Krajina Range of Cover (%) 100 75-99 50-75 33-50 25-33 10-25 5-10 1-5 <1 <<1 <<<1 100 87.0 62.5 41.5 29.0 17.5 7.5 2.5 0.5 + + 6 5 4 3 2 1 M Class Daubenmire Range of Cover (%) 95-100 75-95 50-75 25-50 5-25 0-5 97.5 85.0 62.5 37.5 15.0 2.5 M

Gambar 1. Pertumbuhan bentuk kehidupan (Life Form) (Suhendang, 2002)

Dengan membandingkan life form dua atau lebih komunitas akan didapatkan sifat klimatik penting yang mengendalikan komposisi komunitas. Sifat komunitas terhadap berbagai faktor lingkungan yang mengendalikan ruang (yang mengendalikan nilai penutupan) dan hubungan kompetitif komunitas tersebut (Weidelt, 1995). Tabel 5. Porsentase spesies dalam berbagai klas life form untuk spektru berdasar Raunkier (Whitmore, 1984)

9.

Kesimpulan Berikut adalah kesimpulan dari praktikum kali ini.

1) Pada daerah amatan, yang mendominasi adalah Hemicrytophyte (He). 2) Hasil perbandingan dengan spectrum life normal terlihat bahwa data pada daerah amatan, sangat jauh kisarannya dengan spectrum normal.

DAFTAR RUJUKAN Arief, Arifin. 1994. Hutan: Hakikat dan Pengaruhnya terhadap Lingkungan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Arief, Arifin. 2002. Hutan dan Kehutanan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. Suhendang, Endang. 2002. Pengantar Ilmu Kehutanan. Bogor: Yayasan Penerbit Fakultas Kehutanan IPB. Tim Dosen. 1999. Petunjuk Praktikum Ekologi. Malang: Biologi FMIPA UM. Weidelt, H. J. 1995. Silvikultur Hutan Alam Tropika (Diterjemahkan oleh : Nunuk Supriyanto). Yogyakarta: Fakultas Kehutanan UGM. Whitmore, T. C. 1984. Tropical Rain Forest of The Far East (Second Edition), Oxford: Oxford University Press.