Anda di halaman 1dari 18

BAB VII PENENTUAN TETAPAN PENGIONAN SECARA SPEKTROFOTOMETRI

7.1. Tujuan Percobaan Menentukan tetapan pengionan indikator metil merah dengan menggunakan spektrofotometer UV/VIS. 7.2. T njauan Pu!"a#a Spektrofotometri dapat dibayangkan sebagai suatu perpanjangan dari penilikan visual dalam mana studi yang lebih terinci mengenai penyerapan energi cahaya oleh spesies kimia memungkinkan kecermatan yang lebih besar dalam pencirian dan pengukuran kuantitatif. Dalam penggunaan de asa ini! istilah spektrofotometri menyiratkan pengukuran jauhnya penyerapan energi cahaya oleh suatu sistem kimia sebagai fungsi dari panjang gelombang radiasi! demikian pula pengukuran penerapan yang menyendiri pada suatu panjang gelombang tertentu. Spektrofotometri merupakan suatu metoda analisa yang didasarkan pada pengukuran serapan sinar monokromatis oleh suatu lajur larutan ber arna pada panjang gelombamg spesifik dengan menggunakan monokromator prisma atau kisi difraksi dengan detektor fototube. Spektrofotometer sesuai dengan namanya adalah alat yang terdiri dari spektrometer dan fotometer. Spektrometer menghasilkan sinar dari spektrum dengan panjang gelombang tertentu dan fotometer adalah alat pengukur intensitas cahaya yang ditransmisikan atau yang diabsorpsi. "agan #ptis Sumber Monokromator Sampel Detektor

'engganda

'iranti baca
Ga$bar 7.2.1 $omponen%komponen spektrofotometri

$omponen dalam spektrofotometer! antara lain&

% Suatu sumber energi cahaya yang berkesinambungan yang meliputi daerah spektrum dalam mana instrumen itu dirancang untuk beroperasi. Sumber energy cahaya yang biasa untuk daerah tampak (dari) spektrum itu maupun daerah ultraviolet dekat dan inframerah dekat adalah sebuah lampu pijar dengan ka at rambut terbuat dari olfram. % Suatu monokromator yakni suatu piranti untuk memencilkan pita sempit panjang% panjang gelombang dari spektrum lebar yang dipancarkan oleh sumber cahaya (tentu saja kemonokromatikan yang benar%benar! tidaklah tercapai). % Suatu adah untuk sampel. $ebanyakan spektrofotometri melibatkan larutan! dan karenanya kebanyakan adah sampel adalah sel untuk menaruh cairan ke dalam berkas cahaya spektrofotometer. Sel itu haruslah meneruskan energy cahaya dalam daerah spektral yang diminati. % Suatu detektor! yang berupa transduser yang mengubah energi cahaya menjadi suatu isyarat listrik. Dalam sebuah detektor untuk suatu spektrofometer! kita menginginkan kepekaan yang tinggi dalam daerah spektral yang diminati! respons yang linear terhadap daya radiasi aktu respons yang cepat % Suatu pengganda (amplifier) dan rangkaian yang berkaitan yang membuat isyarat listrik itu memadai untuk dibaca. % Suatu sistem baca pada mana diperagakan besarnya isyarat listrik. *ukum "eer menyatakan absorbansi cahaya berbanding lurus dengan konsentrasi dan ketebalam bahan atau medium! yaitu& +,l Di mana adalah molar absorbsitivitas untuk panjang gelombang tertentu! atau disebut juga sebagai koefisien (dalam - mol%- cm%-)! c adalah konsentrasi molar (mol -%-)! l adalah panjang/ketebalan dari bahan/medium yang dilintasi oleh cahaya (cm)..-/ 'anjang gelombang yang digunakan untuk analisa kuantitatif adalah panjang gelombang yang mempunyai absorbansi maksimal. Untuk memilih panjang gelombang maksimal! dilakukan dengan membuat kurva hubungan antara absorbansi dengan panjang gelombang dari suatu larutan baku pada konsentrasi tertentu..0/ 1etapan pengionan asam lemah Suatu kesetimbangan antara ion dan molekul dapat ditangani secara matematis dengan cara yang sama seperti suatu kesetimbangan dalam mana semua spesinya adalah molekul. 'engionan asam monoprotik (berproton satu) lemah apa saja! *+! dalam larutan air& *+ 2 *0# *3#2 2 +%..............................................................................(4.0.-) .* # + /.+ / $c = 3 .................................................................................................... .*+/.* 0 #/ (4.0.0) Setelah menggantikan .*3#2/ dengan .*2/ diperoleh
$c 55 = $a = .* + /.+ / ........................................................................................ .*+/

(4.0.3)

1etapan pengionan basa lemah 6umus untuk tetapan kesetimbangan untuk larutan encer basa lemah dapat diperoleh dengan cara yang sama seperti untuk asam lemah. 'erhatikan larutan encer dalam air dari basa "ronsted%7o ry lemah dan tak bermuatan! yang ditandai dengan lambang ". 'ersamaan kesetimbangan dan rumus $c%nya adalah& " 2 *0# "*2 2 #*%.................................................................................(4.0.8)
$c = ."* + /.#* / ..................................................................................................(4.0.5) ."/.* 0 #/
."* + /.#* / ..................................................................................(4.0.9) ."/

Untuk larutan encer! dengan konsentrasi *0# sekitar 55 M! maka


$c 55 = $b =

$b disebut tetapan pengionan basa..3/ Semakin besar nilai $a! maka semakin banyak pembentukan *2! sehingga p* larutan semakin kecil. :ilai $a asam lemah berkisar antara -.;<-=%-9 dan 55.5. +sam dengan $a diba ah -.;<-=%-9! merupakan asam yang lebih lemah daripada air! sehingga bersifat basa. Sedangkan asam dengan $a di atas 55.5 adalah asam kuat yang hampir terdisosiasi dengan sempurna saat dilarutkan dalam air. Sebagian besar asam adalah asam lemah. +sam%asam organik adalah anggota terbesar dari asam lemah. +sam lemah terdapat di rumah tangga seperti asam asetat dalam cuka dan asam sitrat dalam jeruk. Indikator asam%basa adalah senya a halokromik yang ditambahkan dalam jumlah kecil ke dalam sampel! umumnya adalah larutan yang akan memberikan arna sesuai dengan kondisi .p*/ larutan tersebut. 'ada temperatur 05> ?elsius! nilai p* untuk larutan netral adalah 4!=. Di ba ah nilai tersebut larutan dikatakan asam! dan di atas nilai tersebut larutan dikatakan basa. $ebanyakan senya a organik yang dihasilkan makhluk hidup mudah melepaskan proton (bersifat sebagai +sam 7e is)! umumnya asam karboksilat dan amina! sehingga indikator asam%basa banyak digunakan dalam bidang kimia hayati dan kimia analitik. Mekanisme perubahan arna oleh indikator adalah reaksi asam%basa! pembentukan kompleks! dan reaksi redoks..8/ 1abel 4.0.-. @enis%jenis indikator asam%basa In% #a"or 1imol biru 'entametoksi merah 1ropeolin ## 0!8%Dinitrofenol Metil kuning Metil oranye "romfenol biru 1etrabromfenol Ren"an& '( -!0%0!; -!0%0!3 -!3%3!0 0!8%8!= 0!B%8!= 3!-%8!8 3!=%8!9 3!=%8!9 Kuan" "a! 'en&&unaan 'er 1) $* -%0 tetes =!-A larutan - tetes =!-A dlm larutan =A alkohol - tetes -A larutan -%0 tetes =!-A larutan dlm 5=A alkohol - tetes =!-A larutan dlm B=A alkohol - tetes =!-A larutan - tetes =!-A larutan - tetes =!-A larutan A!a$ merah merah% ungu merah tak ber arna merah merah kuning kuning Ba!a kuning tak ber arna kuning kuning kuning oranye biru%ungu biru

biru +liCarin natrium sulfonat D%:aftil merah p%Etoksikrisoidin "romkresol hijau Metil merah "romkresol ungu $lorfenol merah "romfenol biru p%:itrofenol +Colitmin Fenol merah :eutral merah 6osolik acid $resol merah D%:aftolftalein 1ropeolin ### 1imol biru Fenolftalein (pp) D%:aftolbenCein 1imolftalein :ile biru +liCarin kuning Salisil kuning DiaCo ungu 1ropeolin # :itramin 'oirrierGs biru +sam trinitrobenCoat ?iri%ciri metil merah&

3!4%5!0 3!4%5!= 3!5%5!5 8!=%5!9 8!8%9!0 5!0%9!; 5!8%9!; 9!0%4!9 5!=%4!= 5!=%;!= 9!8%;!= 9!;%;!= 9!;%;!= 4!0%;!; 4!3%;!4 4!9%;!B ;!=%B!9 ;!=%-=!= B!=%--!= B!8%-=!9 -=!-%--!-=!=%-0!= -=!=%-0!= -=!-%-0!= --!=%-3!= --!=%-3!= --!=%-3!= -0!=%-3!8

- tetes =!-A larutan - tetes =!-A larutan dlm 4=A alkohol - tetes =!-A larutan - tetes =!-A larutan - tetes =!-A larutan - tetes =!-A larutan - tetes =!-A larutan - tetes =!-A larutan -%5 tetes =!-A larutan 5 tetes =!5A larutan - tetes =!-A larutan - tetes =!-A larutan dlm 4=A alkohol - tetes =!-A larutan dlm B=A alkohol - tetes =!-A larutan -%5 tetes =!-A larutan dlm 4=A alkohol - tetes =!-A larutan -%5 tetes =!-A larutan -%5 tetes =!-A larutan dlm 4=A alkohol -%5 tetes =!-A larutan dlm B=A alkohol - tetes =!-A larutan dlm B=A alkohol - tetes =!-A larutan - tetes =!-A larutan -%5 tetes =!-A larutan dlm B=A alkohol - tetes =!-A larutan - tetes =!-A larutan -%0 tetes =!-A larutan dlm 4=A alkohol - tetes =!-A larutan - tetes =!-A larutan

kuning merah merah kuning merah kuning kuning kuning tak ber arna merah kuning merah kuning kuning merah ma ar kuning kuning tak ber arna kuning tak ber arna biru kuning kuning kuning kuning tak ber arna biru tak ber arna

ungu kuning kuning biru kuning ungu merah biru kuning biru merah kuning merah merah hijau merah ma ar biru merah biru biru merah lilac oranye% coklat ungu oranye% coklat oranye% coklat ungu%pink oranye% merah .5/

-. Mempunyai struktur& 0. 6umus molekul & ?-5*-9:3#0 3. "erat molekul & 09B!0BB g/mol 8. 1itik lebur & (-4B%-;0)o? 5. 1rayek p* & 8!8 H 9!0.9/ 6eaksi pengionan metil merah adalah sebagai berikut& *M6 *2 2 M6%......................................................................................(4.0.4)

$a ,

.....................................................................................................(4.0.;)

*arga $a bisa dihitung dari persamaan (0)! dengan cara pengukuran perbandingan .M6% //.*M6/ pada p* tertentu yang diketahui. $arena kedua bentuk metil merah mengabsorbsi kuat di daerah cahaya tampak! maka perbandingan tersebut dapat ditentukan secara spektrofotometri sinar tampak.

p$a ,

..............................................................................................(4.0.B)

"aik *M6 maupun M6% mempunyai peak absorbsi yang kuat dalam daerah nampak dari spektrum selang perubahan arna dari p* 8 ke p* 9 dapat diperoleh tanpa kesukaran tanpa sistem buffer natrium asetat%asam asetat.

Ga$bar 7.2.2 *ubungan absorbsi dan I pada metil merah

Indeks absorbansi molar *M6 pada I- (a-!*M6) dan pada I0 (a0!*M6). Demikian pula indeks absorbansi molar M6% pada I- (a-!M6%) dan pada I0 (a0!M6%) ditentukan pada

berbagai konsentrasi dengan menggunakan persamaan +, abc. $omposisi campuran *M6 dan M6% pada suatu p* tertentu dihitung dari absorbansi + - dan +0! masing% masing pada I- dan I0! dan tebal sel - cm (b,- cm)! maka& +-,a-!*M6 .*M6/ 2a-! M6% .M6%/ +-,a0!*M6 .*M6/ 2a0! M6% .M6%/.;/.......................... ...(4.0.-=) 7.+. A*a" %an Ba,an +. +lat%alat yang digunakan& % batang pengaduk % beakerglass % botol aJuadest % corong kaca % gelas arloji % indikator p* % karet penghisap % kuvet % labu ukur % neraca % pipet tetes % pipet volume % spektrofotometer visible 7.-. Pro!e%ur Percobaan +. 'reparasi larutan Membuat larutan metil merah -=== ppm dengan cara melarutkan =!5 gram metil merah ke dalam etanol -5= ml kemudian menambahkan dengan aJuadest sebanyak -== ml Membuat larutan metil merah -== ppm dari larutan metil merah -=== ppm sebanyak -== ml Membuat larutan metil merah -= ppm dari larutan metil merah -== ppm sebanyak -== ml Membuat larutan metil merah 5 ppm dari larutan metil merah -= ppm sebanyak 5= ml Membuat larutan metil merah 8 ppm dari larutan metil merah -= ppm sebanyak 5= ml Membuat larutan metil merah 3 ppm dari larutan metil merah -= ppm sebanyak 5= ml Membuat larutan metil merah 0 ppm dari larutan metil merah -= ppm sebanyak 5= ml Membuat larutan asam klorida =!- : sebanyak -== ml Membuat larutan natrium hidroksida =!=- : sebanyak 05= ml ". "ahan%bahan yang digunakan& % aJuadest (*0#) % asam asetat (?*3?##*) % asam klorida (*?l) % etanol (?0*5#*) % metil merah (?-5*-5:3#0) % natrium asetat (?*3?##:a) % natrium hidroksida (:a#*)

".

?. % %

% D.

Membuat larutan asam asetat =!=8 : sebanyak 05= ml Membuat larutan natrium asetat =!=8 : sebanyak 05= ml. Menentukan I maksimum larutan metil merah dalam suasana asam 7arutan 0! 3! 8 dan 5 ppm masing%masing ditambah dengan 5 ml asam klorida =!- : dan diencerkan dengan aJuadest sampai 5= ml Mengukur besar transmitan pada larutan asam 5 ppm dengan spektrofotometer pada panjang gelombang antara 8== nm sampai 55= nm dan menentukan Ipada absorbansi maksimum larutan asam. Menentukan I maksimum larutan metil merah dalam suasana basa 7arutan 0! 3! 8 dan 5 ppm masing%masing ditambahkan dengan -0!5 ml natrium hidroksida =!=- : dan diencerkan dengan aJuadest sampai 5= ml Mengukur besar transmitan pada larutan asam 5 ppm dengan spektrofotometer pada panjang gelombang antara 8== nm sampai 55= nm dan tentukan I- pada absorbansi maksimum larutan basa Mengukur A 1 untuk larutan asam dan basa 0! 3! 8 dan 5 ppm pada I- dan I0. 'engukuran transmitan asam basa pada I- dan I0 Mengambil 5 m7 larutan metil merah -=== ppm! menambahkan 0 m7 larutan natrium asetat =!=8 : dan menambahkan sampai -== m7 dengan asam asetat =!=0 : Mengambil 5 m7 larutan metil merah -=== ppm! menambahkan 05 m7 larutan natriumasetat =!=8 : dan menambahkan 5= m7 asam asetat =!=0 :! kemudian menambahkan aJuadest sampai -== m7 Mengambil 5 m7 larutan metil merah -=== ppm! menambahkan 05 m7 larutan natrium asetat =!=8 : dan -= m7 asam asetat =!=0 : serta menambahkan aJuadest sampai -== m7 Menentukan transmitan dengan spektrofotometer pada panjang gelombang (I -) dan (I0) dan menentukan p* larutan - sampai 3 di atas.

7... /a"a Pen&a$a"an 1abel 4.5.- Data kalibrasi metil merah pada larutan asam dan basa 5 ppm I 8== 8-= 80= 83= 88= 85= 89= 84= 8;= 8B= 5== 5-= 50= 53= 58= 55= +sam A1 B4!B4 B9!8 B5!3 B3!4 B-!3 ;;!8 ;8!9 ;-!B 4;!0 44!B 49!5 48!5 40!5 44!B 4B!; + =!=-0 =!=-3 =!=-9 =!=0= =!=0; =!=3B =!=53 =!=40 =!=;9 =!-=0 =!-=; =!--9 =!-04 =!-3B =!-=; =!=B4 A1 9; 94 99!B 99!8 95!0 95!4 99!B 9B!8 48!4 4B ;0!B ;9!8 ;B B=!4 B-!9 B0!; "asa + =!-94 =!-43 =!-48 =!-44 =!-;5 =!-;0 =!-48 =!-5; =!-09 =!-=0 =!=;=!=93 =!=5= =!=80 =!=3; =!=30

1abel 4.5.0 Mengukur A 1ransmitan dan +bsorbansi larutan asam dan basa pada I- dan I0. +sam ppm I-,8== A1 + =!=-==!=-03 =!=-04 ; I0,53= A1 + =!--8 0 3 8 B4!4 B4!0 B4!49!; 9B!4 99!3 9 =!-59 4 =!-4; 8 B;!B B4!5 B4!8 I-,55= A1 + =!==8 ; =!=-= B =!=-8 ;;!B 95 93!0 =!=5 =!-; =!-B "asa I0,88= A1 +

1abel 4.5.3 Mengukur A 1ransmitan dan +bsorbansi larutan pada I- dan I0. 7arutan I II III 7.0. Gra1 # +. $urva antara panjang gelombang dengan absorbansi (+) pada larutan asam dan basa 5 ppm. p* 9 9 9 I-,8== A1 34!0 05!0 09!5 + =!80B8 =!5B;5 =!5494 A1 50 9;!3 95!4 I0,55= + =!0;3B =!-955 =!-;08

Ga$bar 7.0.1 *ubungan antara panjang gelombang(I) terhadap absorbansi

". $urva antara konsentrasi terhadap absorbansi dalam larutan asam dengan panjang gelombang 8== dan 53=.

Gra1 # 7.0.2 *ubungan antara konsentrasi terhadap absorbansi pada I 8== dan I 53=

?. $urva antara konsentrasi terhadap absorbansi dalam larutan basa dengan panjang gelombang 55= da 88=.

Gra1 # 7.0.+ *ubungan antara konsentrasi terhadap absorbansi pada I 55= dan I 88=

D. $urva antara konsentrasi terhadap p* pada I- dan I0

Gra1 # 7.0.- *ubungan antara konsentrasi terhadap p*

7.7. Pe$ba,a!an % 'ada percobaan ini! penggunaan indikator asam%basa metil merah dikarenakan kedua bentuk metil merah mengabsorbsi kuat di daerah cahaya tampak! maka perbandingan tersebut dapat ditentukan secara spektrofotometri sinar tampak. % "erdasarkan grafik 4.9.- dapat dibuat kalibrasi antara absorbansi terhadap panjang gelombang sehingga diperoleh gelombang maksimum 53= nm dengan absorbansi (+) =!-3B pada larutan asam dan panjang gelombang maksimum 88= nm dengan absorbansi (+) =!-;5 pada larutan basa. *al ini sesuai dengan

teori bah a 'anjang gelombang yang digunakan adalah panjang gelombang yang mempunyai absorbansi maksimal. % "erdasarkan grafik 4.9.0 yang menunjukkan hubungan konsentrasi terhadap absorbansi dalam larutan asam dengan panjang gelombang 8== nm dan 53= nm diperoleh semakin besar konsentrasi maka semakin besar pula absorbansi dan memberikan indikasi arna merah sesuai kondisi p*! dan indikator asam%basa yang digunakan. *al ini sesuai dengan teori bah a indikator metil merah menunjukkan arna merah pada asam. % "erdasarkan grafik 4.9.3 yang menunjukkan hubungan konsentrasi terhadap absorbansi dalam larutan basa dengan panjang gelombang 55= nm dan 88= nm diperoleh semakin besar konsentrasi maka semakin besar pula absorbansi dan memberikan indikasi arna kuning sesuai kondisi p*! dan indikator asam%basa yang digunakan. *al ini sesuai dengan teori bah a indikator metil merah menunjukkan arna kuning pada basa. % Dari hasil percobaan seperti pada gambar 4.4.8 hubungan konsentrasi terhadap p* larutan berbanding lurus sehingga dapat diperoleh harga p$a metil merah sebesar 3!9;3 dan p* 3!-4. Secara teoritis hasil ini tidak sesuai! dimana p$a metil merah adalah 5! dengan p* antara 8!8 sampai 9!0. % Dari hasil percobaan! hubungan konsentrasi terhadap p* larutan berbanding lurus. 7.1. Ke! $'u*an 'anjang gelombang maksimum metil merah pada larutan asam adalah 55= dan panjang gelombang maksimum metil merah pada larutan basa adalah 8==.

VII. Penen"uan "e"a'an 'en& onan !ecara !'e#"ro1o"o$e"r +. Membuat larutan metil merah -== ppm dari larutan metil merah -=== ppm sebanyak -== m7. :- . V, :0 . V0 V- , -= m7 ". Membuat larutan metil merah -= ppm dari larutan metil merah -== ppm sebanyak -== m7. :- . V- , :0 . V0 -== . V- , -= . -== V- , -= m7 ?. Membuat larutan metil merah 5 ppm dari larutan -= ppm metil merah sebanyak 5= m7. :- . V- , :0 . V0 5 . 5= D. , -= . V0 V0 , 05 m7 Membuat larutan metil merah 8 ppm dari larutan -= ppm metil merah sebanyak 5= m7. :- . V- , :0 . V0 8 . 5= E. , -= . V0 V0 , 0= m7 Membuat larutan metil merah 3 ppm dari larutan -= ppm metil merah sebanyak 5= m7. :- . V- , :0 . V0 3 . 5= F. , -= . V0 V0 , -5 m7 Membuat larutan metil merah 0 ppm dari larutan -= ppm metil merah sebanyak 5= m7. :- . V- , :0 . V0 0 . 5= , -= . V0 V0 , -= m7 -=== . V- , -== . -==

K.

Membuat larutan asam klorida =!- : sebanyak 05= m7. Diketahui & A*?l , 30 A L *?l , -!-B- g/cm3 "E *?l , 39!5
:=
:=

A *Cl L *?l -=== "E *?l


=!30 -!-B- -=== 39!5

: , -=!88 :

V=!- -==
:V0 *.

V0 , -=!88 V0
,:0 , =!B54; m7

Membuat larutan :a#* =!=- : sebanyak 05= ml "E (:a#*) , 8=


M =
M =

: V "E -===

:a#*

=!=- 05= 8= -===

M , =!- g I. Membuat larutan ?*3?##* =!=8 : sebanyak 05= ml Diketahui & , BB!; A

, -!=8B g/cm3

, 9=

:=
:=

A ?* 3?##* L ?* 3?##* -=== "E ?* 3?##*


=!BB; -!=8B -=== 9=

: , -4!88; : :-

V-

,:0

V0

=!=8 @.

05=

, -4!88;

V0

V0 , =!54 m7 Membuat larutan ?*3?##:a =!=8 : sebanyak 05= ml , ;0

M =
M =

: V "E ?* 3?##:a -===


=!=8 05= ;0 -===

M , =!;0 g $. Menentukan konsentrasi masing%masing slope metil merah 6umus& +- , a-.*M6 .*M6/ 2 a-.M6%.M6%/ +0 , a0.*M6.*M6/ 2 a0.M6%.M6%/ p$a , p* log Dimana& ++0 a-.*M6 a0.*M6 a-.M6% a0.M6% a-.*M6 a-.M6% a0.M6% a. ++0 , absorbansi molar pada I- , 50= nm , absorbansi molar pada I0 , 83= nm , absorbtivitas molar *M6 pada I- (50= nm) , absorbtivitas molar *M6 pada I0 (83= nm) , absorbtivitas molar M6% pada I- (50= nm) , absorbtivitas molar M6% pada I0 (83= nm) , =!=;9 , =!-=8 , =!==3 7arutan I , =!80B8 , =!0;3B <<B

[ *M6 ]

[M6 ]

a0.*M6 , =!==-

=!80B8 , =!==B .*M6/ 2 =!=8- .M6%/ =!0;3B , =!==- .*M6/ 2 =!==; .M6%/

=!80B8 , =!==B .*M6/ 2 =!=8- .M6%/ 0!555- , =!==B .*M6/ 2 =!=40 .M6%/ %0!-054 , %=!=3-.M6%/ .M6%/ , 9;!54=B =!0;3B , =!==- .*M6/ 2 =!==; .M6%/ =!0;3B , =!==- .*M6/ 2 =!==; (9;!54=B) =!0;3B , =!==- .*M6/ 2 =!58;9 %=!0984 , =!==- .*M6/ .*M6/ , %098!4 p$a , p* log , 9 log

[ *M6 ]

[M6 ]

[ 9;!54=B] [ 098!4]

, 9 H (=!5;4) , 5!8-3 b. ++0 7arutan II , =!5B;5 , =!-995 , =!==B .*M6/ 2 =!=8- .M6%/ , =!==- .*M6/ 2 =!==; .M6%/ , =!==B .*M6/ 2 =!=8- .M6%/ , =!==B .*M6/ 2 =!=40 .M6%/ , %=!=3- .M6%/ , 33!3=B4 , =!==- .*M6/ 2 =!==; .M6%/ , =!==- .*M6/ 2 =!==; (33!3=B4) , =!==- .*M6/ 2 =!099; , =!==- .*M6/ , %-=-!5 , p* log , 9 log <<B

=!5B;5 =!-995 =!895B -!8B;5 %-!=309 .M6%/ =!-995 =!-995 =!-995 %=!-=-5 .*M6/ p$a

[ *M6 ]

[M6 ]

[33!3=B4] [ -=-!5]

, 9 H (=!8;3B) , 5!5-9c. ++0 7arutan III , =!5494 , =!-;08 , =!==B .*M6/ 2 =!=8- .M6%/ , =!==- .*M6/ 2 =!==; .M6%/ , =!==B .*M6/ 2 =!=8- .M6%/ , =!==B .*M6/ 2 =!=40 .M6%/ , %=!=3-.M6%/ , 38!35-9 , =!==- .*M6/ 2 =!==; .M6%/ , =!==- .*M6/ 2 =!==; (38!35-9) , =!==- .*M6/ 2 =!048; , =!==- .*M6/ , %B0!8 , p* log , 9 log <<B

=!5494 =!-;08 =!5494 -!98-9 %-!=98B .M6%/ =!-;08 =!-;08 =!-;08 %=!=B08 .*M6/ p$a

[ *M6 ]

[M6 ]

[38!35-9] [ B0!8]

, 9 H (=!80B4) , 5!54=3 1abel 4.9.- Data .*M6/! .M6%/! dan p$ 7arutan I II III +=!80B 8 =!5B; 5 =!549 4 , +0 =!0;3 B =!-99 5 =!-;0 8 .*M6/ %098!4 %-=-!5 %B0!8 .M6 / 9;!54= B 33!3=B 4 38!359
%

p* (N) 9 9 9

log

.M6%/ ( .*M6/

p$a 5!8-3 5!5-95!54=3

y) =!5;4 =!8;34 =!80B4

p$arata%rata

p$a 7arI + p$a 7arII + p$a 7arIII 3

5!8-3 + 5!5-9- + 5!54=3 3

, 5!8BB; $arata%rata , -=%5!8BB;

D+F1+6 'US1+$+ -. 0. 3. 8. 5. 9. 4. ;. S. M.$hopkar! Konsep Dasar Kimia Analitik! Universitas Indonesia 'ress! @akarta! -BB= Kandjar! Ibnu Kholib. 0==4.Kimia Farmasi Analisa. 'ustaka 'elajar& Oogyakarta $eenan! Ilmu Kimia Untuk Universitas! Erlangga! -BB; (PPPPP!http// ikipedia.com (PPPPP!http&// (PPPPP!http&// (PPPPP!http&// pengionan.pdf) .ilmukimia.com .sciencelab.com .chem%is%try.org

(PPPPP!http&//repository.usu.ac.id/bitstream/-038594;B/-5;-=/-/tetapan