Anda di halaman 1dari 2

Pendidikan ABK, Tanggung Jawab Siapa?

Dalam perkembangannya, istilah anak berkebutuhan khusus (child with special needs) mengalami sejarah yang panjang. Anak cacat, anak tuna, anak berkelainan, anak menyimpang, anak luar biasa, hingga istilah yang berkembang, yaitu difabel. Difabel merupakan kependekan dari diference ability. Sejalan dengan diakuinya hak asasi manusia, maka digunakan istilah anak berkebutuhan khusus. Sehingga istilah ini tidak hanya mengandung makna anak dengan cacat fsik, mental maupun akademis, melainkan lebih pada kebutuhan anak untuk mencapai prestasi sesuai dengan potensinya. Namun, masih banyak orang yang mempersepsikan bahwa anak berkebutuhan khusus adalah anak-anak yang memiliki kekurangan atau keterbatasan, padahal pengertian dari anak berkebutuhan khusus tidak sesempit itu. Anak berbakat atau gifted juga termasuk ke dalam kategori anak berkebutuhan khusus. Beberapa tahun silam, Pemerintah Indonesia mengukuhkan komitmen untuk

melakukan perubahan fundamental bagi perwujudan hak-hak anak berkebutuhan khusus dengan mengesahkan Undang-Undang No. 19 Tahun 2011, tentang Ratifikasi Konvensi Internasional Hak-hak Penyandang Disabilitas sebagai upaya pemajuan, penghormatan, pemenuhan dan perlindungan hak-hak kaum difabel di seluruh Indonesia. Aktualisasi dari UU tersebut, pemerintah mengupayakan pendidikan dengan sistem segregasi dan sistem integrasi. Bentuk penyelenggaraan pendidikan dengan sistem segregasi, yaitu Sekolah Luar Biasa (SLB), SLB Berasrama, Kelas Jauh (Kelas Kunjung) dan SDLB (Sekolah Dasar Luar Biasa). Sedangkan penyelenggaraan pendidikan dengan sistem integrasi, yaitu Bentuk Kelas Biasa, Kelas Biasa dengan Ruang Bimbingan Khusus dan Bentuk Kelas Khusus. Namun, mayoritas anak berbakat (gifted) lebih memilih bersekolah di sekolah umum dengan jalur akselerasi. Padahal anak berbakat juga membutuhkan layanan khusus untuk menunjang potensi yang dimiliki dimana pasti berbeda dengan anak normal. Mayoritas persepsi masyarakat masih sempit mengenai anak berkebutuhan khusus. Masih banyak orangtua yang merasa putus asa dan menyalahkan diri mereka karena melahirkan anak yang tidak sama dengan anak-anak lain. Para orangtua ini kemudian tenggelam dalam kesedihan yang semakin menghancurkan. Masih banyak masyarakat yang apatis terhadap keberlangsungan hidup sosial ABK. Anak-anak sering tidak diterima di lingkungannya karena perilakunya dianggap aneh hingga dikucilkan dari pergaulan. Masih banyak juga sekolah umum menolak anak-anak berkebutuhan khusus. Selain diyakini akan

menghambat proses pembelajaraan, para guru juga banyak yang tidak siap secara mental menerima murid spesial seperti itu. Pertanyaan mendasar, sebenarnya tanggung jawab ABK itu siapa? Tanggung jawab pendidikan terhadap anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) sesungguhnya terletak di pundak orangtua. Pendidik, psikolog, terapis, dokter, dan tenaga pendamping khusus berperan hanya membantu orangtua mengenai perkembangan anak. Walaupun begitu, seemua elemen mulai dari orang tua hingga masyarakat harus bisa bersinergi baik dalam menangani ABK. Sehingga ada kesamaan persepsi dan visi yang sama tentang arah pendidikan ABK ke depannya. Sedari awal, orangtua harus menyadari dan memahami tentang kekurangan anaknya. Diharapkan orangtua tidak minder, tetapi justru menjadikan tantangan untuk bisa melejitkan potensi yang dimiliki anak. Harus sadar akan hak anak-anak berkebutuhan khusus atas pendidikan dan hak untuk mendapatkan perlakuan yang sama dengan anak-anak normal. Ayo generasi muda! Stop bersikap apatis terhadap anak-anak berkebutuhan khusus. Kita berikan kesempatan seluas-luasnya kepada mereka untuk membuktikan kepada dunia bahwa mereka istimewa, mereka special. Jangan biarkan ketidaksabaran dan

kekurangpedulian kita menghancurkan masa depan mereka. #SaveABK #StopDiscrimination