Anda di halaman 1dari 33

10

BAB II
LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS
A. Tinjauan Tentang Kesiapan Belajar
1. Pengertian Kesiapan Belajar
Kesiapan belajar adalah kemauan individu untuk berkembang dan terjadi
melalui proses waktu (membutuhkan waktu yang cukup lama untuk
mencapainya). Kesiapan belajar akan membawa seseorang untuk siap
memberikan respon terhadap situasi yang dihadapi melalui caranya sendiri, seperti
yang diungkapkan oleh Slameto (2003:113) bahwa Kesiapan adalah keseluruhan
semua kondisi individu yang membuatnya siap untuk memberi respon atau
jawaban di dalam cara tertentu terhadap suatu situasi. Kondisi individu yang
dimaksud adalah kondisi fisik dan psikologisnya, sehingga untuk mencapai
tingkat kesiapan yang maksimal diperlukan kondisi fisik dan psikologis yang
saling menunjang kesiapan individu tersebut dalam proses pembelajaran.
Kondisi fisik yang dimaksud adalah kondisi fisik yang temporer seperti
lelah, keadaan, alat indera dan lain-lain, sedangkan kondisi psikologisnya
menyangkut kecerdasan. Anak yang berbakat (yang diatas normal)
memungkinkan untuk melaksanakan tugas-tugas yang lebih tinggi. Kondisi
emosional juga mempengaruhi kesiapan untuk berbuat sesuatu, hal ini karena ada
hubungannya dengan motif seperti insentif positif, insentif negative, hadiah dan
hukuman.
Sejalan dengan itu, Wayan Nurkancana (1986:221) menambahkan bahwa :
11



Kesiapan belajar dapat diartikan sebagai sejumlah tingkat perkembangan
yang harus dicapai oleh seseorang untuk dapat menerima suatu pelajaran
baru. Kesiapan belajar erat hubungannya dengan kematangan. Kesiapan
untuk menerima pelajaran baru akan tercapai apabila seseorang telah
mencapai tingkat kematangan tertentu maka ia akan siap untuk menerima
pelajaran-pelajaran baru.

Selain dua teori tentang kesiapan belajar di atas, Nasution (1987:179)
berpendapat bahwa Kesiapan belajar adalah kondisi-kondisi yang mendahului
kegiatan belajar itu sendiri. Tanpa kesiapan atau kesediaan ini, proses belajar tidak
akan terjadi. Pernyataan ini menerangkan bahwa hal-hal yang dilakukan siswa
atau ditunjukkan oleh perilaku siswa sebelum terjadinya proses belajar, hal
tersebut perlu dilakukan oleh siswa agar lebih mendukung terlaksananya proses
belajar yang lebih optimal, jika dibandingkan dengan siswa yang tidak memiliki
kesiapan dalam menghadapi proses belajar tersebut. Seperti yang dikemukakan
oleh Muhammad Ali (1987:15) bahwa Kesiapan (readiness) yaitu kapasitas baik
fisik maupun mental untuk melakukan sesuatu.
Atas dasar pengertian-pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa
kesiapan belajar adalah kondisi yang ada pada siswa yang dapat mendukung
terlaksananya proses belajar dengan baik, kondisi-kondisi tersebut meliputi
kondisi fisik dan kondisi mental.
2. Aspek-Aspek Kesiapan Belajar
Kesiapan belajar adalah kondisi-kondisi yang mendahului kegiatan
belajar itu sendiri. Tanpa kesiapan atau kesediaan ini, proses belajar tidak
akan terjadi. Pra kondisi belajar itu terdiri atas perhatian, motivasi, dan
perkembangan kesiapan. (Nasution, 1987 : 179).

Sejalan dengan hal di atas, Wayan Nurkancana (1986:21) menambahkan
bahwa Kesiapan belajar erat hubungannya dengan kematangan, kesiapan untuk
12



menerima pelajaran baru tercapai apabila seseorang telah mencapai tingkat
kematangan tertentu.
Dari beberapa teori tentang kesiapan belajar tersebut di atas, dapat
disimpulkan bahwa kesiapan belajar memiliki tiga aspek yang dapat
mempengaruhinya yaitu perhatian, motivasi, dan perkembangan kesiapan.
a. Perhatian
Kata perhatian tidak selalu digunakan dalam arti yang sama. Oleh karena
itu, definisi perhatian yang diberikan oleh para ahli psikologi ada dua macam,
yang intinya dapat dirumuskan sebagai berikut :
1) Perhatian adalah pemusatan tenaga psikis tertuju kepada suatu objek.
2) Perhatian adalah banyak sedikitnya kesadaran yang menyertai sesuatu
aktivitas yang dilakukan.
(Sumadi Suryabrata, 1985:16)
Dalam tulisan ini, kedua pengertian itu dipakai keduanya secara bertukar-
tukar. Untuk menangkap maksudnya, hendaknya pengertian tersebut tidak
dilepaskan dari konteksnya. Sejalan dengan pengertian yang telah dikemukakan
oleh Sumadi Suryabrata di atas. Team Didadik Metodik kurikulum IKIP Surabaya
(1984:24), mengartikan perhatian sebagai berikut :
1) Perhatian adalah suatu gejala kejiwaan yang ada hubungannya dengan
dorongan minat dan kegiatan sendiri.
2) Perhatian adalah suatu keadaan sikap dalam kesadaran dipusatkan dan
diarahkan pada objek tertentu dengan disertai organis yang selanjutnya dapat
memungkinkan pengamatan secara tajam dan jelas terhadap objek itu.

Selanjutnya, Slameto (2003:105) juga mengartikan bahwa Perhatian adalah
kegiatan yang dilakukan seseorang dalam hubungannya dengan pemilihan
rangsangan yang datang dari lingkungannya.
13



Dari teori di atas, suatu perhatian dapat diartikan sebagai kondisi jiwa dari
seseorang yang terfokus pada suatu hal tertentu terutama dalam belajar, maka
hasil belajar yang disertai dengan perhatian yang baik diharapkan akan mencapai
hasil belajar yang baik pula. Sedangkan yang tidak menggunakan perhatiannya
dalam proses pembelajaran, maka hasilnya pun tidak akan sebaik bila
dibandingkan dengan seseorang siswa yang memfokuskan perhatiannya. Seperti
yang diungkapkan oleh Gazali dalam Slameto (2003:56) bahwa Keaktifan jiwa
yang dipertinggi, jiwa itu pun tertuju pada suatu objek atau sekumpulan objek.
Untuk dapat menjamin hasil belajar yang baik, maka siswa harus mempunyai
perhatian terhadap bahan yang dipelajarinya, jika bahan pelajaran tidak menjadi
perhatian siswa, maka timbullah kebosanan sehingga menyebabkan ke tidak
senangan terhadap belajar.
Perhatian ini tidak seluruhnya menjadi tanggungjawab dari siswa, akan
tetapi erat juga hubungannya dengan tugas-tugas guru/pendidik. Bila seorang
siswa tidak dapat memberikan perhatian yang cukup terhadap suatu pelajaran
tertentu, maka tugas guru adalah menarik perhatian dari siswa itu agar
dapat memberikan perhatiannya dan juga menjaga perhatian tersebut agar tetap
ada dalam diri siswa. Seperti yang diungkapkan oleh Slameto (2003:106) bahwa
Salah satu masalah yang harus dihadapi oleh seorang guru di dalam kelas adalah
menarik perhatian siswa dan kemudian menjaga perhatian itu tetap ada.
Selanjutnya Slameto (2003:106) juga mengemukakan tentang beberapa prinsip
penting yang berkaitan dengan perhatian, yaitu :
14



1) Perhatian tertuju atau diarahkan pada hal-hal yanga baru, hal-hal yang
berlawanan dengan pengalaman yang baru saja diperoleh atau dengan
pengalaman yang didapat selama hidupnya.
2) Perhatian seseorang tertuju atau tetap berada dan diarahkan atau tertuju pada
hal-hal yang dianggap rumit, selama kerumitan tidak melampaui batas
kemampuan orang tersebut.
3) Orang mengarahkan perhatiannya pada hal-hal yang dikehendakinya, yaitu
hal-hal yang sesuai dengan minat, pengalaman, dan kebutuhannya.

Jadi jelaslah bahwa tugas guru di dalam kelas tidak hanya sebatas
memberikan ilmunya saja kepada siswa, akan tetapi ada tugas lain yang tidak
kalah pentingnya, yaitu menarik perhatian siswa. Hal ini bertujuan agar pada saat
mereka berada di dalam kelas proses pembelajaran, mereka dapat lebih
mempehatikan penjelasaan guru tersebut. Setelah seorang guru dapat menarik
perhatian siswa maka tugas selanjutnya adalah menjaganya agar perhatian itu
tetap ada pada diri siswa.
Sejalan dengan itu bahwa perhatian siswa diharapkan tidak hanya datang
dari luar saja karena adanya rangsangan/stimulus dari luar tetapi sangat
diharapkan stimulus itu datang dari dalam diri siswa itu sendiri. Dengan kata lain
siswa lebih dituntut untuk mengembangkan sikap perhatiannya setiap proses
pembelajaran itu berlangsung., sehingga perhatian itu dapat diukur oleh dirinya
sendiri seperti yang dikemukakan oleh Nasution (1987:180) Namun lebih
penting ialah memupuk attentional set, sikap memperhatikan pada anak, sehingga
perhatian juga diatur secara inten oleh anak itu, sehingga anak itu dapat
memberikan perhatiannya.


15



b. Motivasi Belajar
Iskandar (2009:180) menerangkan bahwa Istilah motivasi berasal dari
bahasa latin movere yang bermakna bergerak, istilah ini bermakna mendorong,
mengarahkan tingkah laku manusia. Thomas L. Good dan Jere B. Brophy dalam
Elida Prayitno (1989:1) mendefiniskan motivasi sebagai suatu energi penggerak,
pengarah, dan memperkuat tingkah laku. Sedangkan Marx dan Tornbouch dalam
Elida Prayitno (1989:1) mengumpamakan motivasi sebagai bahan bakar dalam
beroperasinya mesin gasoline. Dari dua pengertian tentang motivasi ini dapat
diartikan bahwa betapa pun baiknya potensi anak yang meliputi kemampuan
intelektual atau bakat siswa dan materi yang akan diajarkan dan lengkapnya
sarana belajar, namun siswa tidak termotivasi dalam belajar, maka proses belajar
tidak akan berlangsung dengan optimal.
Motivasi tidak lepas dari adanya rangsangan. Rangsangan tersebut dapat
dapat dalam bentuk hadiah dan hukuman yang diberikan oleh seorang guru
kepada siswanya. Motivasi juga menyangkut kebiasaan yang telah dimiliki oleh
siswa itu sendiri dan juga dapat menguatkan suatu motif tertentu. Seperti yang
diungkapkan oleh Muhammad Ali (1987:15) bahwa Motivasi yaitu dorongan
dari dalam diri sendiri untuk melakukan sesuatu. Motivasi dapat berpengaruh
kepada proses belajar dari seseorang siswa, oleh karena itu motivasi tidak lepas
dari stimulus yang akan mempengaruhinya.
Dalam proses belajar mengajar dikenal dengan motivasi belajar.
Sebagaimana yang diungkapkan oleh Winkels dalam Iskandar (2009:180) bahwa
Motivasi belajar merupakan motivasi yang diterapkan dalam kegiatan belajar
16



mengajar dengan keseluruhan penggerak psikis dalam diri siswa yang
menimbulkan kegiatan belajar. Motivasi belajar mempunyai perana penting
dalam memberi rangsangan, semangat dan rasa senang dalam belajar sehingga
yang mempunyai motivasi tinggi dia juga mempunyai energi yang banyak untuk
melaksanakan proses pembelajaran.
Motivasi dan pembelajaran adalah dua hal yang saling mempengaruhi.
Iskandar (2009:181) mengemukakan bahwa:
Pembelajaran adalah kegiatan yang mengubah tingkah laku melalui
latihan dan pengalaman sehingga menjadi lebih baik sebagai hasil dari
penguatan yang dilandasai untuk mencapai tujuan. Motivasi adalah salah
satu determinan penting dalam proses pembelajaran, seseorang siswa tidak
mempunyai motivasi untuk belajar, maka tidak akan mungkin aktivitas
belajar akan terlaksana dengan baik. Motivasi belajar adalah daya penggerak
dari dalam diri individu untuk melakukan kegiatan belajar untuk menambah
pengetahuan dan keterampilan serta pengalamannya.

Motivasi belajar bisa timbul karena adanya faktor instrinsik atau faktor dari
dalam diri siswa yang disebabkan oleh dorongan atau keinginan akan kebutuhan
belajar, harapan dan cita-cita. Faktor ekstrinsik juga mempengaruhi dalam
motivasi belajar. Faktor ekstrinsik berupa adanya penghargaan dan lingkungan
belajar yang menarik. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Iskandar (2009:188)
bahwa :
Motivasi intrinsik merupakan daya dorong dari dalam diri seseorang untuk
melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Jika kita bawa
ke dalam kegiatan pembelajaran motivasi intriksik merupakan daya dorong
seseorang individu (siswa) untuk terus belajar berdasarkan suatu kebutuhan
dan dorongan yang secara mutlak yang berhubungan dengan aktivitas
belajar.

Di dalam proses belajar, siswa yang bermotivasi secara instinsik dapat
dilihat dari kegiatannya yang tekun dalam mengerjakan tugas-tugas belajar karena
17



merasa butuh dan ingin mencapai tujuan belajar yang sebenarnya. Tujuan belajar
yang sebenarnya adalah untuk menguasai apa yang sedang dipelajari, bukan
karena ingin mendapatkan pujian dari guru.
Motivasi ekstrinsik merupakan dorongan dari luar diri seseorang siswa,
berhubungan dengan kegiatan belajarnya sendiri. Dalam kegiatan
pembelajaran motivasi ekstrinsik dari luar diri siswa, baik positif maupun
negatif. (Iskandar, 2009:189)

Motivasi ekstrinsik timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu siswa,
apakah karena adanya ajakan, suruhan, atau paksaan dari orang lain sehingga
keadaan demikian siswa mau melakukan sesuatu atau belajar.
Motivasi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah motivasi yang
rangsangan berasal dari dalam diri siswa itu sendiri (motivasi intrinsik), karena
motivasi yang berasal dari dalam diri siswa itu sendiri lebih bisa diandalkan
dibandingkan dengan motivasi yang berasal luar siswa. Hal ini disebabkan karena
bila motivasi yang ada pada diri siswa adalah motivasi ekstrinsik, maka siswa itu
akan merasa tergantung oleh perhatian dan pengarahan yang khusus dari guru dan
bila ia tidak mendapatkannya maka kerja dari siswa itu akan lamban.
Hal itu sejalan dengan apa yang di kemukakan oleh Phil Louther dalam
Elida Prayitno (1989:7) :
Di dalam kelas banyak sekali siswa yang dorongan belajarnya adalah
motivasi ekstrinsik. Mereka memerlukan perhatian dan pengarahan yang
khusus dari guru. Seringkali jika mereka tidak menerima umpan balik yang
baik berkenaan dengan hasil pekerjaan mereka dan tidak diberikan tepat
pada waktunya maka kerja mereka jadi lamban.

Phil Louther dalam Elida Prayitno (1989:7) juga mengemukakan bahwa
Siswa-siswa seperti ini sangat tergantung kepada keharusan-keharusan yang
ditentukan oleh guru untuk mendorong mereka dalam belajar atau mengerjakan
18



tugas-tugas. Sementara itu Rochman Natawidjaya (1985:73) mengemukakan
bahwa Motivasi adalah suatu proses yang menguatkan motif jadi perbuatan
tingkah laku serta mengukur perbuatan atau untuk mencapai tujuan atau
memuaskan kebutuhan. Dengan adanya motivasi yang besar, maka seseorang
individu mempunyai dorongan untuk melakukan sesuatu.
Dengan demikian motivasi dapat diartikan sebagai kegiatan memberi
dorongan kepada seseorang individu untuk mengambil suatu tindakan yang
dikehendakinya. Dalam proses pembelajaran maka motivasi berhubungan dengan
kebutuhan untuk belajar. Teori behaviorisme menjelaskan motivasi sebagai fungsi
rangsangan (stimulus) dan respon, sedangkan apabila dikaji menggunakan teori
kognitif, motivasi merupakan fungsi dinamika psikologis yang lebih rumit,
melibatkan kerangka berfikir siswa terhadap aspek perilaku. Ada beberapa peran
motivasi yang penting dalam belajar dan pembelajaran, sebagaimana yang
dikemukakan oleh Iskandar (2009:182), yaitu :
1) Peran motivasi dalam penguatan belajar. Peran motivasi dalam hal ini
dihadapkan pada suatu kasus yang memerlukan pemecahan masalah.
2) Usaha untuk memberikan bantuan dengan rumus matematika dapat
menimbulkan penguatan belajar. Motivasi ini dapat menentukan hal-hal apa
yang di lingkungan anak yang dapat memperkuat perbuatan belajar.
3) Peran motivasi dalam menjelaskan tujuan belajar. Peran ini berkaitan dengan
kemaknaan belajar yaitu anak tertarik untuk belajar jika yang dipelajarinya
sedikitnya sudah diketahui manfaatnya bagi anak.
4) Peran motivasi menentukan ketekunan dalam belajar. Seseorang yang
termotivasi untuk belajar sesuatu akan berusaha mempelajari sesuatu dengan
baik dan tekun, dan berharap memperoleh hasil yang baik.

Hakikat dari motivasi belajar adalah dorongan yang berasal dari dalam dan
luar diri siswa yang sedang belajar untuk mengadakan perubahan pada tingkah
laku pada umumnya dan semangat untuk keinginan untuk belajar lebih semangat
19



lagi. Menurut Iskandar (2009:184) mengungkapkan tentang indikator atau
petunjuk yang dapat dijadikan acuan bagi motivasi belajar siswa adalah sebagai
berikut :
1) Adanya hasrat dan keinginan untuk berhasil dalam belajar.
2) Adanya keinginan, semangat dan kebutuhan dalam belajar.
3) Memiliki harapan dan cita-cita masa depan.
4) Adanya pemberian penghargan dalam proses belajar.
5) Adanya lingkungan yang kondusif untuk belajar dengan baik.

Hakikat dari motivasi belajar adalah dorongan yang berasal dari dalam diri
siswa yang sedang belajar untuk mengadakan perubahan pada tingkah laku pada
umunya dan semangat atau keinginan untuk belajar lebih semangat lagi.
c. Perkembangan Kesiapan
Menurut Abin Syamsuddin Makmun (2004:78) menyatakan bahwa:
Perkembangan disini dimaksudkan sebagai perubahan-perubahan yang
dialami oleh individu atau organisme menuju tingkat kedewasaannya
(maturity) yang berlangsung secara sistematik, progresif, dan
berkesinambungan, baik mengenai fisik (jasmani) maupun psikis.

Sedangkan yang dimaksud dengan kesiapan menurut Slameto (2003:113)
adalah Keseluruhan semua kondisi individu yang membuatnya siap untuk
memberi respon atau jawaban di dalam cara tertentu terhadap suatu situasi. Maka
yang dimaksud dengan perkembangan kesiapan adalah suatu proses yang dapat
menimbulkan perubahan pada diri seseorang, perubahan itu terjadi karena adanya
pertumbuhan dan perkembangan sesuai dengan bertambahnya usia dari seseorang
itu. Kesiapan juga dapat diartikan sebagai kematangan membentuk sifat dan
kekuatan dalam diri untuk bereaksi dengan cara tertentu.
20



Kematangan disini yaitu sesuatu yang dapat membentuk karakteristik dan
kekuatan dalam diri seseorang untuk dapat bereaksi dengan caranya sendiri yang
dapat disebut dengan kesiapan. Kesiapan yang dimaksud adalah kesiapan untuk
melakukan suatu hal menggunakan pikiran. Menurut Slameto (2003:115)
Kematangan adalah proses yang menimbulkan perubahan tingkah laku sebagai
akibat dari pertumbuhan dan perkembangan. Kematangan yang dimaksud adalah
kesiapan bertingkah laku yang terjadi secara instingtif atau tingkah laku yang
menggunakan pikiran.
Setiap orang memiliki pertumbuhan dan perkembangan masing-masing
yang tidak sama satu dengan lainnya, hal ini terjadi karena adanya faktor-faktor
yang mempengaruhi perkembangan tersebut, diantaranya faktor fisik, psikologis
dan faktor sosial. Ketiga faktor yang mempengaruhi perkembangan tersebut dapat
menentukan karakteristik dari diri seseorang/individu. Sebagaimana yang
diungkapkan Muhibbin Syah (1997:60) bahwa proses-proses perkembangan yang
berkaitan langsung dengan kegiatan belajar siswa adalah sebagai berikut:
1) Perkembangan motor (motor development), yakni proses perkembangan yang
progresif dan berhubungan dengan perolehan aneka ragam keterampilan fisik
anak (motor skills);
2) Perkembangan koginitif (cognitif development), yakni perkembangan fungsi
intelektual atau proses perkembangan kemampuan/kecerdasan otak anak; dan
3) Perkembangan sosial dan moral (social and moral development), yakni proses
perkembangan mental yang berhubungan dengan perubahan-perubahan cara
anak berkomunikasi dengan orang lain, baik sebagai individu maupun
kelompok.

Perkembangan kesiapan yang harus dicapai oleh siswa setelah mempelajari
dan menyelesaikan proses pembelajaran membaca gambar teknik mesin
khususnya materi proyeksi memahami cara aplikasi sistem proyeksi eropa dan
21



proyeksi amerika serta mampu mengevaluasi hasil belajar secara mandiri saat
melakukan perbaikan terhadap kekurangan-kekurangan. Pemahaman mengenai
prinsip-prinsip memilih, menggunakan, membersihkan dan menyimpan peralatan
dan media untuk menggambar serta aturan-aturan dalam membaca gambar teknik
mesin akan sangat berguna bagi siswa sebagai pembentukkan watak dalam
bekerja dalam bidang keahlian teknik mesin dan akan menjadi kebiasaan positif
setelah bekerja di industri sehingga menjadi salah satu penunjang budaya mutu
dan budaya kerja profesional. Hal ini akan menunjang pula terhadap peningkatan
kemampuan pengetahuan, keterampilan dan sikap siswa dalam menguasai
kompetensi lainnya dalam bidang keahlian yang sama.
B. Tinjauan Tentang Prestasi Belajar
1. Pengertian Prestasi Belajar
Setiap individu melakukan kegiatan belajar, maka pada individu tersebut
akan terjadi perubahan-perubahan perilaku, baik pengetahuan, sikap, maupun
keterampilan. Besar kecilnya atau tinggi rendahnya hasil belajar pada lembaga-
lembaga pendidikan formal atau sekolah yang dinyatakan dengan angka-angka
atau nilai-nilai. Tinggi nilai tersebut sering disebut hasil belajar. Prestasi proses
belajar yang dievaluasi oleh suatu tes atau evaluasi, merupakan cerminan dari
kemampuan seseorang dalam menguasai ilmu pengetahuan.
Menurut Muhibbin Syah (1999:7) bahwa Prestasi belajar merupakan
indikator dari perubahan dan perkembangan perilaku dalam teori kognitif
(penalaran), afektif (penghayatan) dan konatif (keterampilan). Perubahan dan
perkembangan ini mempunyai arah positif atau negatif dan kualifikasinya akan
22



terbagi-bagi seperti tinggi, sedang, rendah, berhasil/tidak berhasil, dan lulus atau
tidak lulus. Prestasi belajar yang dicapai seorang individu merupakan hasil
pengaruh individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya (M. Surya,
1992:23).
Selanjutnya Nana Syaodih (1983 : 124), menerangkan bahwa :
Prestasi belajar merupakan segala perilaku yang dimiliki siswa sebagai
akibat dari proses belajar yang ditempuhnya, meliputi semua akibat dari
proses belajar yang berlangsung di sekolah maupun di luar sekolah yang
bersifat kognitif, afektif, maupun psikomotor yang sengaja maupun tidak
disengaja.

Prestasi belajar yang dimiliki seseorang merupakan gambaran dari potensi
diri yang dimilikinya dan merupakan aktualisasi potensi yang dimilikinya, artinya
belajar merupakan manifestasi kemampuan potensi individu. Prestasi belajar yang
dicapai seseorang merupakan perilaku sebagai hasil usaha yang disadari dan dapat
diukur serta dievaluasi berdasarkan norma-norma tertentu yang sudah ditetapkan.
Maher dalam Arif Sarifudin, 1995:23 menyatakan bahwa :
(1)Prestasi belajar merupakan tingkah laku yang dapat diukur. Pengukuran
perubahan perilaku itu dapat dilakukan dengan menggunakan tes prestasi
(Achievment Test). (2) Prestasi belajar merupakan hasil dari perbuatan
individu itu sendiri dan bukan dari hasil peribahan orang lain. (3) Prestasi
belajar dapat dievaluasi tinggi rendahnya berdasarkan kriteria yang telah
ditetapkan oleh penilai atau standar yang telah dicapai oleh kelompok. (4)
prestasi belajar merupakan hasil kegiatan yang dilakukan secara sengaja dan
disadari, jadi bukan suatu kebiasaan atau perilaku yang tidak disadari.

Prestasi belajar yang dicapai siswa menurut Sudjana (1990: 56), melalui
proses belajar mengajar yang optimal ditunjukkan dengan ciri-ciri sebagai berikut:
a. Kepuasan dan kebanggaan yang dapat menumbuhkan motivasi belajar
intrinsik pada diri siswa.
b. Menambah keyakinan dan kemampuan dirinya, artinya ia tahu kemampuan
dirinya dan percaya bahwa ia mempunyai potensi yang tidak kalah dari
orang lain apabila ia berusaha sebagaimana mestinya.
23



c. Pretasi belajar yang dicapai bermakna bagi dirinya, seperti akan tahan lama
diingat, membentuk perilaku, bermanfaat untuk mempelajari aspek lain,
kemauan dan kemampuan untuk belajar sendiri dan mengembangkan
kreativitasnya.
d. Prestasi belajar yang diperoleh siswa secara menyeluruh (komprehensif),
yakni mencakup ranah kognitif, pengetahuan atau wawasan, ranah afektif
(sikap) dan ranah psikomotorik, keterampilan atau perilaku.
e. Kemampuan siswa untuk mengontrol atau menilai dan mengendalikan diri
terutama dalam menilai hasil yang dicapainya maupun menilai dan
mengendalikan proses dan usaha belajarnya

Berdasarkan beberapa teori tentang prestasi belajar di atas dapat diambil
kesimpulan bahwa prestasi belajar yang dicapai oleh seseorang merupakan hasil
usaha yang disadari dan dapat diukur melalui tes yang dituangkan dalam bentuk
nilai. Prestasi belajar yang dimaksud penelitian ini adalah tes yang dituangkan
dalam bentuk nilai (angka-angka) tertulis yang diperoleh oleh siswa pada mata
pelajaran membaca gambar teknik mesin di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 2
Kota Bandung kelas X. Nilai tersebut merupakan hasil belajar yang telah dicapai
oleh siswa setelah mengikuti tes yang diberikan oleh guru yang bersangkutan pada
saat ujian.
2. Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
Belajar merupakan hal yang kompleks. Apabila ini dikaitkan dengan hasil
belajar siswa, ada beberapa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar. Menurut
Sumadi Suryabrata (2004: 142), faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar
digolongkan menjadi tiga, yaitu:
a. Fisiologi, meliputi kondisi jasmaniah secara umum dan kondisi panca
indra.
b. Kondisi psikologis, yaitu beberapa faktor psikologis utama yang dapat
mempengaruhi proses dan hasil belajar adalah kecerdasan, bakat, minat,
motivasi, emosi dan kemampuan kognitif.
1) Faktor kecerdasan yang dibawa individu mempengaruhi belajar siswa.
24



2) Bakat individu satu dengan lainnya tidak sama, sehingga menimbulkan
belajarnya pun berbeda.
3) Minat individu merupakan ketertarikan individu terhadap sesuatu.
4) Motivasi belajar antara siswa yang satu dengan siswa lainnya tidaklah
sama.
5) Emosi merupakan kondisi psikologi (ilmu jiwa) individu untuk
melakukan kegiatan, dalam hal ini adalah untuk belajar.
6) Kemampuan kognitif siswa yang mempengaruhi belajar mulai dari aspek
pengamatan, perhatian, ingatan, dan daya pikir siswa.
7) Faktor dari luar yaitu faktor-faktor yang berasal dari luar siswa yang
mempengaruhi proses dan hasil belajar. Faktor-faktor ini meliputi :
a) Lingkungan alami
Lingkungan alami yaitu faktor yang mempengaruhi dalam proses
belajar misalnya keadaan udara, cuaca, waktu, tempat atau
gedungnya, alat-alat yang dipakai untuk belajar seperti alat-alat
pelajaran.
b) Lingkungan sosial
Lingkungan sosial di sini adalah manusia atau sesama manusia, baik
manusia itu ada (kehadirannya) ataupun tidak langsung hadir.
8) Faktor instrumental adalah faktor yang adanya dan penggunaannya
dirancang sesuai dengan hasil yang diharapkan. Faktor instrumen ini
antara lain: kurikulum, struktur program, sarana dan prasarana, serta
guru

C. Hubungan antara Kesiapan Belajar dengan Prestasi Belajar
1. Pengertian Proses Belajar Mengajar
Chaplin dalam Muhibbin Syah (1999 : 90) membatasi belajar dengan dua
macam rumusan yaitu Pertama, belajar adalah perolehan perubahan tingkah laku
yang relatif menetap sebagai akibat latihan dan pengalaman; kedua, belajar ialah
proses memperoleh respon-respon sebagai akibat adanya latihan khusus.
Sedangkan Hitzman dalam Muhibbin Syah (1999:90) berpendapat bahwa Belajar
adalah suatu perubahan yang terjadi dalam organisme yang disebabkan oleh
pengalaman yang dapat mempengaruhi tingkah laku organisme tersebut. Jadi,
dalam pandangannya, perubahan yang ditimbulkan oleh pengalaman tersebut baru
dapat dikatakan belajar apabila mempengaruhi organisme. Pengalaman hidup
25



sehari-hari dalam bentuk apapun sangat memungkinkan untuk diartikan sebagai
belajar, sebab sampai batas tertentu pengalaman hidup juga berpengaruh besar
terhadap pembentukan kepribadian organisme yang bersangkutan.
Berdasarkan beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa belajar
adalah proses perubahan tingkah laku sebagai akibat interaksi dengan
lingkungannya. Perilaku ini mengandung pengertian yang sangat luas mencakup
pengetahuan, kemampuan berpikir, keterampilan, penghargaan terhadap sesuatu,
sikap, minat dan sebagainya. Tidak semua perubahan dalam diri individu
merupakan perubahan alam arti belajar, ada diantaranya sebagai akibat dari proses
pertumbuhan dan perkembangan.
Mengajar merupakan suatu proses kompleks, banyak kegiatan yang harus
dilakukan oleh guru jika menginginkan hasil yang baik dari seluruh siswa. Salah
satu pengertian mengajar menurut Burton dalam Pupuh Fathurohman dan Sobry
Sutikno (2007:7) bahwa Mengajar merupakan upaya dalam memberi perangsang
(stimulus), bimbingan, pengarahan, dan dorongan kepada siswa agar terjadi proses
belajar. Beliau memandang bahwa pelajaran hanya sebagai bahan perangsang
saja, sedangkan arah yang akan dituju dalam proses belajar adalah tujuan
pelajaran yang diketahui oleh siswa.
Hamalik dalam Pupuh Fathurohman dan Sobry Sutikno (2007:7)
mendefinisikan bahwa:
Mengajar sebagai proses menyampaikan pengetahuan dan kecakapan
kepada siswa. Dalam pengertian yang lain juga dijelaskan bahwa mengajar
adalah suatu aktifitas profesional yang memerlukan keterampilan tingkat
tinggi dan menyangkut pengambilan keputusan.

26



Jadi jelas bahwa mengajar itu merupakan proses menyampaikan
pengetahuan dalam bentuk informasi dari guru kepada siswa. Senada dengan itu
Suharto dalam Pupuh Fathurrohman dan Sobry Sutikno, (2007:7) mengemukakan
bahwa:
Mengajar merupakan suatau aktifitas mengorganisasi atau mengatur
(mengelola) lingkungan sehingga tercipta suasana yang sebaik-baiknya dan
menghubunginya dengan siswa sehingga terjadi suatu proses belajar yang
menyenangkan.

Inti dari proses pendidikan secara formal adalah mengajar, sedangkan inti
dari proses pengajaran adalah belajar. Jadi antara keduanya terdapat hubungan
yang sangat erat, bahkan keduanya terdapat kaitan interaksi, saling mempengaruhi
dan saling menunjang satu sama lain. Menurut Abin Syamsuddin Makmun
(2004:156) bahwa Proses belajar mengajar dapat diartikan sebagai suatu
rangkaian interaksi antara siswa dan guru dalam rangka mencapai tujuannya.
Definisi ini hendaknya kita pahami bahwa terjadinya perilaku belajar pada pihak
siswa dan perilaku mengajar pada pihak guru tidak berlangsung satu arah (one
way system) melainkan terjadinya secara timbal balik (interaktif, two way traffic
system) dimana kedua pihak berperan berbuat secara aktif di dalam suatu
kerangka berpikir (frame of reference) yang seyogianya dipahami dan disepakati
bersama.
Setiap kegiatan yang dilakukan oleh siswa akan menghasilkan perubahan-
perubahan dalam diri siswa. Secara sinergi perubahan tingkah laku tersebut
dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah kesiapan belajar yang
terdapat pada diri individu itu tersebut, menurut pendapat Abin Syamsudin
Makmun (2004:165), dapat digambarkan tentang kondisi yang berpengaruh
27



terhadap pencapaian prestasi belajar individu, seperti terlihat pada bagan berikut
ini:
















Gambar 2.1
Bagan Kondisi yang Berpengaruh Terhadap Pencapaian prestasi Belajar
(Abin Syamsudin makmun, 2004:165)

Dari gambar di atas tampak bahwa sistematik keempat komponen utama
dari Proses Belajar Mengajar akan mempengaruhi Performance dan outputnya,
seperti:
a. The Expected output, menunjukkan kepada tingkat kualifikasi ukuran baku
(standar norms) akan menjadi daya penarik (insentif) dan motivasi (motivating
factors), jadi akan merupakan stimulating factor (S) pula di samping termasuk
ke dalam respons (R) faktor.
b. Raw input (karakteristik siswa), menunjukkan kepada faktor-faktor yang
terdapat dalam diri individu mungkin akan memberikan fasilitas (facilitative)
Instrument input (sarana): metode/Teknik/media, guru, Program/Tugas,
bahan, sumber
PBM
Kesiapan
Belajar :
- Perhatian
- Motivasi
- Perkembangan
Kesiapan
Perilaku kognitif
Perilaku afektif
Perilaku Psikomotorik
Environmental input: Fisik, Sosial, Kultur
Raw input Expected output
28



atau pembatas (limitation) sebagai faktor organismik (O) di samping pula
mungkin jadi motivating and stimulating factors.
c. Intrumental input (sarana), menunjukkan kepada dan kualifikasi serta
kelengkapan sarana yang diperlukan untuk dapat berlangsungnya proses
belajar mengajar.
d. Enviromental input, menunjukkan situasi dan keadaan fisik (kampus, sekolah,
iklim, letak sekolah atau school site dan sebagainya), hubungan antarinasi
(human relationships) baik dengan teman (classmate, peers) maupun dengan
guru dan orang-orang lainnya. Hal ini juga mungkin menjadi faktor
penunjang atau penghambat
2. Hubungan antara Kesiapan Belajar dengan Prestasi Belajar
Kesiapan belajar seorang siswa sangat berkaitan erat dengan perolehan
prestasi belajarnya, mencapai kemajuan studi, dan akan meraih sukses belajar di
sekolahnya. Tetapi sebaliknya, jika seorang siswa memiliki kesiapan belajar yang
buruk akan mempersulit dirinya memahami pengetahuan, menghambat kemajuan
studi dan akhirnya mengalami kegagalan dalam meraih prestasi di sekolahnya.
Penjelasan di atas menyatakan bahwa kesiapan belajar merupakan salah satu
faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa yang akan dicapai.
Nasution (1987:179) menyatakan bahwa Kesiapan belajar adalah kondisi-
kondisi yang mendahului kegiatan belajar itu sendiri. Berdasarkan teori tersebut
dapat dikatakan bahwa apabila siswa memiliki kesiapan belajar yang baik, efektif
dan efesien, maka prestasi belajarnya akan tinggi, sedangkan bila siswa tersebut
tidak memiliki kesiapan belajar yang cukup baik dalam menghadapi proses belajar
29



mengajar, maka prestasi yang akan dicapainya akan rendah/tidak sesuai dengan
apa yang diharapkan.
D. Evaluasi Hasil Belajar
1. Pengertian dan Tujuan Evaluasi
Pengertian evaluasi sering dikaitkan dengan pengertian pengukuran.
Perbedaannya terletak dalam sifatnya, dimana evaluasi lebih luas dan bersifat
kualitatif, sedangkan pengukuran bersifat kuantitatif. Evaluasi merupakan suatu
proses deskripsi tingkah laku siswa secara kuantitatif. Evaluasi dalam kegiatan di
sekolah bertujuan :
a. Untuk mengetahui tingkat kemajuan yang telah dicapai oleh siswa dalam
suatu periode proses belajar tertentu. Pengetahuan tentang kemajuan yang
telah dicapai oleh siswa, akan berguna untuk mengetahui sampai sejauh mana
perubahan tingkah laku yang telah tercapai sebagai hasil dari proses belajar.
Dengan demikian dapat ditetapkan tingkatan keberhasilan atau kegagalan
siswa dalam belajar. Dan ini sangat bermanfaat untuk memperoleh suatu
tindakan belajar yang efektif.
b. Untuk mengetahui posisi atau kedudukan siswa di dalam kelompok. Dengan
evaluasi, kita dapat mengetahui bagaimana kedudukan siswa dalam kelompok,
baik kelompok kelas sekolah maupun kelompok-kelompok tertentu. Kita dapat
menetapkan apakah seorang siswa tergolong kelompok cepat, lambat atau
rata-rata dengan melihat kedudukan dalam kelompoknya. Tingkat kemajuan
seorang siswa akan nampak apabila dibandingkan dengan kelompoknya.
30



c. Untuk mengetahui tingkat usaha yang telah dilakukan siswa dalam kegiatan
belajar. Hal ini didasarkan atas anggapan bahwa suatu tujuan atau hasil belajar
akan dicapai dengan suatu usaha yang besar atau kecilnya tergantung motif
yang mendorongnya. Hasil yang dicapai seseorang akan mengambarkan
tingkat usahanya dalam mencapai tujuan. Demikian pula hasil belajar yang
telah dicapai seorang siswa akan merupakan gambaran tingkat usaha.
Pengetahuan tentang tingkat usaha siswa dalam mencapai hasil belajar sangat
bermanfaat, dalam membantu mereka untuk mencapai hasil yang maksimal
dalam belajar.
d. Untuk mengetahui sampai berapa jauh anak merealisasikan kapasitasnya
menjadi suatu hasil belajar melalui proses belajar. Seorang anak tidak akan
mencapai hasil belajar yang melebihi tingkat kapasitasnya. Hasil suatu
evaluasi akan memberikan gambaran tingkatan hasil belajarnya dibandingkan
dengan kapasitasnya. Sehingga dapat dibuat rencana pendidikan yang realistis
bagi siswa.
e. Untuk mengetahui efesiensi metode mengajar yang dipergunakan, Dari hasil
evaluasi dapat diketahui sampai sejauh mana efesiensi metode mengajar yang
dipergunakan. jika berdasarkan suatu evaluasi ternyata metode yang
dipergunakan kurang memberikan hasil yang memuaskan, maka kita akan
berusaha untuk mencari metode lain. Mempertahankan suatu metode yang
kurang efisien dapat menimbulkan ketidakpuasan bagi berbagai pihak. Karena
metode mengajar merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi hasil
belajar.
31



2. Fungsi Evaluasi dalam Pendidikan
Hasil belajar yang dicapai dari kegiatan evaluasi akan mempunyai fungsi
yang sangat penting dalam kegiatan pendidikan secara keseluruhan. Hasil dari
evaluasi dapat dipergunakan untuk berbagai kegiatan pendidikan seperti kegiatan
administratif, pengajaran, penelitian dan pengembangan. Berikut ini akan
dibicarakan fungsi evaluasi dalam kegiatan pendidikan.
a. Dalam kegiatan administratif, hasil evaluasi dipergunakan sebagai bahan
untuk memenuhi tugas-tugas administratif, salah satu tugas administratif yang
harus dilakukan oleh seorang guru ialah memberikan laporan evaluasi hasil
belajar siswanya. Laporan tersebut dapat berupa rapot yang akan ditunjukkan
kepada kepala sekolah dan orang tua siswa.
b. Dalam kegiatan instruksional atau pengajaran hasil evaluasi berfungsi sebagai
bahan dalam menciptakan situasi belajar yang efisien atau dengan kata lain
mengajar dengan baik. Untuk itu guru harus mempertimbangkan berbagai
faktor seperti tingkat kemajuan belajar yang telah dicapai siswa, potensi yang
dimiliki oleh siswa, kedudukan siswa dalam kelompok, metode mengajar dan
minat dan perhatian siswa, yang semua itu dapat diperoleh dari evaluasi
belajar.
c. Dalam kegiatan bimbingan dan penyuluhan, kegiatan evaluasi sebagai salah
satu cara memperoleh data tentang siswa. Kegiatan bimbingan memberikan
pemahaman dan bantuan kepada siswa untuk mencapai tingkat pengembangan
yang optimal. Kegiatan bimbingan hanya mungkin dapat dilaksanakan secara
efisien jika telah diketahui data tentang siswa. Berdasarkan evaluasi yang
32



diperoleh kita dapat menetapkan jenis bantuan yang dapat diberikan kepada
siswa.
d. Evaluasi berfungsi sebagai alat diagnostik kesulitan, artinya dengan evaluasi
kita dapat menganalisa jenis dan tingkat serta latar belakang kesulitan belajar
yang dialami siswa. Setiap siswa akan memiliki tingkat kesulitan yang
berbeda-beda antara satu sama lain, sehingga memerlukan bantuan yang
berbeda pula. Hasil diagnostik kesulitan belajar ini dapat dijadikan sebagai
dasar penyuluhan program pengajaran remedial.
e. Usaha penelitian dan pengembangan evaluasi berfungsi sebagai alat untuk
mengumpulkan data yang obyektif. Data yang terkumpul dapat dijadikan
sebagai bahan pertimbangan untuk mengembangkan kegiatan-kegiatan
pendidikan secara keseluruhan seperti kurikulum, metode mengajar, materi
pelajaran, alat evaluasi dan sebagainya
f. Untuk keperluan promosi, yaitu untuk penentuan kenaikan siswa ketingkat
yang lebih tinggi. Lazimnya yang kita kenal sebagai kenaikan kelas, kenaikan
tingkat atau penentuan lulus ujian kahir.
3. Evaluasi yang Diharapkan Dalam Pendidikan
Evaluasi yang diharapkan dalam pendidikan ialah evaluasi yang dapat
menunjang efektivitas program pendidikan. Atau dengan kata lain evaluasi yang
baik yaitu evaluasi yang dapat memberikan gambaran yang benar tentang
kemajuan anak pada suatu ketika. Suatu evaluasi yang baik sekurang-kurangnya
dapat memenuhi syarat sebagai berikut :
33



a. Menetapkan dengan jelas aspek-aspek pribadi siswa yang akan dievaluasi. Ini
berarti setiap guru harus menetapkan terlebih dahulu aspek pribadi siswa yang
akan dievaluasi. seperti yang dikatakan dalam taksonomi Bloom ada tiga
aspek yang akan diukur yaitu ranah kognitif, ranah afektif dan ranah
psikomotor. Suatu evaluasi yang baik menetapkan secara tegas dan jelas apa
yang akan dievaluasi, dan suatu alat evaluasi yang baik hendaknya bersifat
komprehensif artinya menilai berbagai aspek secara menyeluruh dari hasil
belajar.
b. Bahan atau keterangan tentang siswa yang diperoleh berdasarkan hasil
evaluasi, harus merupakan behavior sampling yang mungkin dari seluruh
tingkah laku yang dievaluasi. Ini berarti angka-angka hendaknya
mencerminkan atau menggambarkan prestasi yang dicapainya.
c. Menggunakan alat evaluasi yang memenuhi syarat kebaikan alat evaluasi.
Suatu alat evaluasi yang baik, hendaknya memenuhi syarat-syarat sebagai
berikut :
1) Valid artinya menunjukkan ketepatan dilihat dari aspek tujuan pelajaran,
tujuan evaluasi, aspek yang dievaluasi, isi evaluasi, bentuk dan korelasi
dengan aspek yang lain. Suatu alat evaluasi hendaknya memiliki validitas
yang tinggi.
2) Realibitas artinya menunjukan keandalan dalam hasilnya alat di evaluasi
dahulu tingkat reliabitasnya.
3) Obyektif artinya dapat menggambarkan tingkat kemajuan yang
sebenarnya.
34



4) Memiliki daya pembeda yang baik yaitu alat evaluasi itu mampu
membedakan antara kelompok siswa yang tergolong kurang dengan yang
tergolong baik.
5) Memiliki tingkat kesukaran yang seimbang artinya seluruh alat evaluasi
terdiri atau item-item yang tergolong sukar, sedang dan mudah secara
imbang. Secara ideal alat evaluasi yang baik terdiri atas 20% yang sukar,
50% yang sedang dan 30% yang mudah.
6) Practicable atau useable artinya alat itu dapat digunakan secara praktis
dengan situasi dan kondisi yang ada.
d. Data yang diperoleh dengan evaluasi diolah secara seksama sesuai dengan
tujuan evaluasi, pengolahan data dapat secara statistik atau non statistik.
Tujuan pengolahan data ialah mengubah data yang mentah menjadi skor
terjabar. Skor terjabar ialah skor yang sudah mengandung makna tertentu dan
dapat ditafsirkan, sesuai dengan tujuan yang diharapkan.
e. Didalam memberikan tafsiran data yang sedang diolah hendaknya
berpedoman kepada suatu kriteria yang jelas rumusannya serta dapat
dipertanggung jawabkan. Dengan kriteria kita dapat memberikan tafsiran
secara obyektif kepada data yang diolah. Penentuan kriteria ini hendaknya
dirumuskan dengan sebaik-baiknya tidak terlalu ringan atau terlalu berat.
4. Peranan Evaluasi dalam Pendidikan
Evaluasi merupakan suatu proses yang bersifat berkelanjutan dan mendasari
seluruh proses mengajar dan belajar yang baik. Dalam situasi belajar mengajar,
evaluasi bersifat intrinsik artinya sudah tercakup didalamnya. Pengumpulan data
35



yang cermat melalui suatu kegiatan evaluasi dapat membantu guru dalam
memahani siswa, merencanakan pengalaman belajar yang memadai dan
menentukan tingkat tercapainya tujuan intruksional.
Dalam setiap kegiatan proses belajar mengajar setiap guru senantiasa
dihadapkan kepada berbagai keputusan, yang disebut keputusan instruksional.
Keputusan intruksional akan lebih memadai apabila didasarkan kepada informasi
yang akurat, relevan, komprehensif berdasarkan kegiatan evaluasi.
5. Alat Evaluasi
a. Teknik Tes
Menurut Suharsimi Arikunto (1996:29) mengemukakan bahwa tes adalah
suatu alat atau prosedur yang sistematis dan obyektif untuk memperoleh data-data
atau keterangan-keterangan yang diinginkan tentang seseorang dengan cara yang
boleh dikatakan tepat dan cepat. Selanjutnya Muchtar Bukhori (Suharsimi
Arikunto, 1996:29) menyatakan bahwa tes adalah suatu percobaan yang
diadakan untuk mengetahui ada atau tidaknya hasil-hasil pelajaran tertentu pada
seseorang murid atau kelompok murid.
Dari beberapa kutipan diatas dapat disimpulkan bahwa tes merupakan suatu
alat pengumpul informasi tetapi jika dibandingkan dengan alat-alat yang lain, tes
ini bersifat lebih resmi karena penuh dengan batasan-batasan. Tipe dan bentuk alat
evaluasi tes adalah sebagai berikut:


36



1) Tes Tipe Subyektif
Istilah subyektif adalah adanya faktor lain dari kemampuan peserta tes dan
perlengkapan instrumen tes yang mempengaruhi proses pemeriksaan dan hasil
akhir berupa skor atau nilai. Bentuk tipe subyektif adalah bentuk uraian (essay
terurai), hal ini dikarenakan untuk menjawab soal tersebut, siswa dituntut untuk
menyusun jawaban secara terurai dan jawaban tidak cukup hanya dengan satu atau
dua kata saja, tetapi memerlukan uraian yang lengkap dan jelas. Selain materi tes,
siswa dituntut untuk bisa mengungkapkannya dalam bahasa tulisan yang baik.
2) Tes tipe Obyektif
Istilah obyektif tidak adanya faktor lain yang mempengaruhi proses
pemeriksaaan pekerjaan peserta tes dan penentuan skor atau nilai yang diberikan
tester. Istilah lain dari tes obyektif (essay terstruktur) adalah tes dengan jawaban
singkat. Dinamakan demikian karena tes ini hanya memerlukan jawaban pendek,
singkat dan jelas. Siswa yang diuji tidak perlu menjawab secara terurai namun
hanya cukup dengan memberikan kata-kata seperlunya, bahkan bisa cukup hanya
dengan memberikan tanda silang (X) atau tanda cek () saja pada jawaban yang
paling tepat yang telah tersedia. Menurut bentuknya tes tipe obyektif terdiri dari
empat macam, diantaranya :
a) Bentuk benar salah (True or False)
b) Bentuk pilihan ganda (Multiple Choice)
c) Bentuk menjodohkan (Matching Item)
d) Bentuk melengkapi
37



b. Teknik Non Tes
Teknik non tes biasanya digunakan untuk mengevaluasi bidak afektif atau
psikomotorik. Hal ini bisa dilakukan dengan cara sebagai berikut :
1) Angket (Quetioner)
Angket adalah sebuah daftar pertanyaan yang harus diisi oleh orang yang akan
dievaluasi (responden). Angket berfungsi sebagai pengumpul data dimana data
tersebut berupa keadaan atau data diri, pengalaman, pengetahuan, sikap atau
pendapat mengenai suatu hal.
2) Wawancara (Interview)
Wawancara merupakan teknik non tes yang disajikan secara lisan. Teknik ini
dilakukan secara langsung dan dimaksudkan untuk memperoleh bahan-bahan
penilaian siswa.
3) Observasi (Pengamatan)
Observasi adalah suatu teknik evaluasi non tes yang menginventariskan data-
data tentang sikap dan kepribadian siswa dalam kegiatan belajarnya.
Observasi dilakukan untuk mengamati kegiatan dan perilaku siswa secara
langsung. Data yang diperoleh dijadikan bahan evaluasi.
4) Daftar Cek (Checklist ) dan Daftar Skala Bertingkat (Rating Scale)
Daftar cek digunakan untuk mengungkapkan kemampuan siswa dalam hal
keterampilan dan perubahan tingkah laku dalam hal sikap, minat, kebiasaan
dan penyesuaian diri. Daftar cek timbul untuk mengatasi kekurangan pada tes
tertulis biasa yang hanya dapat mengukur aspek kognitif saja. Skala bertingkat
38



adalah jenis daftar cek dengan kemungkinan jawaban terurut sesuai dengan
tingkatan atau hierarki.
E. Tinjauan Kurikulum SMK
Diberlakukannya Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang
Standar Nasional Pendidikan dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional
Republik Indonesia No. 22, 23 dan 24 Tahun 2006, maka kurikulum untuk satuan
pendidikan dasar menengah yang semula mempergunakan kurikulum 2004 atau
Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) disempurnakan dan dirubah menjadi
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan merupakan suatu bentuk operasional kurikulum dalam konteks
desentralisasi pendidikan dan otonomi daerah.
Beban belajar yang digunakan di SMK Negeri 2 Kota Bandung adalah
beban belajar dengan sistem paket. Sistem Paket adalah sistem penyelenggaraan
program pendidikan yang siswanya diwajibkan mengikuti seluruh program
pembelajaran dan beban belajar yang sudah ditetapkan untuk setiap kelas sesuai
dengan struktur kurikulum yang berlaku pada satuan pendidikan. Beban belajar
pada mata pelajaran Membaca Gambar Teknik Mesin pada sistem paket ini
dinyatakan dalam 80 jam pembelajaran. Beban belajar dirumuskan dalam bentuk
satuan waktu yang dibutuhkan oleh siswa untuk mengikuti program pembelajaran
melalui sistem tatap muka, dan penugasan terstruktur. Semua itu dimaksudkan
untuk mencapai standar kompetensi lulusan dengan memperhatikan tingkat
perkembangan siswa.
39



a. Kegiatan tatap muka adalah kegiatan pembelajaran yang berupa proses
interaksi antara siswa dengan guru. Beban belajar kegiatan tatap muka per jam
pembelajaran pada mata pelajaran membaca gambar teknik mesin berlangsung
selama 45menit. Beban belajar kegiatan tatap muka per minggu pada mata
pelajaran membaca gambar teknik mesin adalah selama 180 menit.
b. Penugasan terstruktur adalah kegiatan pembelajaran yang berupa pendalaman
materi pembelajaran oleh siswa yang dirancang oleh guru untuk mencapai
standar kompetensi. Waktu penyelesaian penugasan terstruktur ditentukan oleh
guru. Waktu untuk penugasan terstruktur bagi siswa di SMK Negeri 2 Bandung
pada mata pelajaran membaca gambar teknik mesin maksimum 60% dari
jumlah waktu kegiatan tatap muka.
F. Tinjauan Umum Tentang Mata Pelajaran Membaca Gambar Teknik
Mesin
Mata Pelajaran Membaca Gambar Teknik Mesin merupakan salah satu mata
pelajaran yang temasuk ke dalam program produktif. Mata Pelajaran Membaca
Gambar Teknik Mesin merupakan kumpulan bahan kajian dan pelajaran tentang
penyampaian informasi teknik, dokumentasi benda teknik dan penuangan gagasan
dalam bentuk simbol-simbol gambar. Di dalam proses pembelajarannya
digunakan dua metode penerapan yaitu penerapan pembelajaran dengan
pemberian kemampuan pada penguasaan sejumlah teori membaca gambar teknik
mesin dengan lebih menekankan pada aspek kognitif dan penerapan pembelajaran
pada pemberian sejumlah keterampilan praktik lebih ditekankan pada aspek
psikomotorik.
40



Tujuan akhir mata pelajaran Membaca Gambar Teknik Mesin adalah agar
mampu memiliki pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman dalam penggunaan
peralatan gambar, mampu membaca gambar yang terdapat dalam lembar kerja
(job shet), serta mampu mengidentifikasi jumlah benda kerja yang terdapat dalam
gambar, sehingga pada saat praktik permesinan tidak mengalami kesulitan dan
sekaligus bekal untuk mengembangkan diri di industri nanti.
Mata Pelajaran Membaca Gambar Teknik Mesin memiliki nilai standar
kelulusan/minimum yaitu 7,00. Jika siswa mencapai tingkat penguasaan 7,00 ke
atas, maka siswa dapat meneruskan kegiatan belajar berikutnya, tetapi jika kurang
dari 7,00 sebaliknya siswa harus mengulang pembelajaran sampai mendapatkan
nilai 7,00 atau batas nilai kelulusan. Bobot penilaian kemampuan dan
keberhasilan belajar hasil akhir (nilai raport) didasarkan pada kehadiran 80% dari
keseluruhan kegiatan tatap muka dan berpartisipasi aktif dalam pelajaran, diskusi
dan pengumpulan tugas-tugas/pekerjaan rumah, ujian tengah semester (UTS) dan
ujian akhir semester (UAS). Adapun ruang lingkup dan teori mata pelajaran
membaca gambar teknik mesin, seperti pada tabel yang terdapat pada lampiran 1
dan lampiran 2.
Evaluasi yang digunakan oleh pengajar dalam mata pelajaran membaca
gambar teknik mesin adalah evaluasi jenis tes dengan tipe subyektif, dikarenakan
untuk menjawab soal tersebut, siswa dituntut untuk menyusun jawaban secara
terurai dan jawaban tidak cukup hanya dengan satu atau dua kata saja, tetapi
memerlukan uraian yang lengkap dan jelas.

41



G. Anggapan Dasar
Menurut Winarno Surakhmad dalam Suharsimi Arikunto (2002:58)
mengemukakan bahwa Asumsi atau postulat yang menjadi tumpuan segala
pandangan dan kegiatan terhadap masalah yang dihadapi. Postulat ini menjadi
titik tolak dimana tidak lagi menjadi keraguan penyelidik. Sedangkan Menurut
Arikunto (2002 : 58) Anggapan dasar merupakan suatu landasan atau titik tolak
pemikiran yang kebenarannya diterima oleh peneliti. Anggapan dasar yang
menjadi landasan dalam penelitian ini adalah:
1. Kesiapan belajar adalah keseluruhan kondisi individu yang membuatnya siap
untuk memberi respon atau jawaban di dalam cara tertentu terhadap suatu
situasi.
2. Prestasi belajar yang dicapai tiap siswa pada mata pelajaran membaca gambar
teknik mesin merupakan gambaran daya serap siswa selama proses belajar
mengajar.
H. Hipotesis
Suharsimi Arikunto (2002:64) menyatakan bahwa:
Hipotesis merupakan dugaan atau jawaban sementara terhadap
permasalahan yang sedang dihadapi. Jadi hipotesis bukan merupakan
kesimpulan akhir yang pasti benar, tetapi hal ini perlu diuji kebenarannya
terlebih dahulu.

Selain yang telah dikemukakan di atas, Sudjana (1989:219) mengemukakan
bahwa
Hipotesis adalah asumsi atau dugaan mengenai sesuatu hal yang dibuat
untuk menjelaskan hal itu yang sering dituntut untuk melakukan
pengecekannya. Jika asumsi atau dugaan itu dikhususkan mengenai
42



populasi, umumnya mengenai nilai-nilai parameter populasi, maka hipotesis
itu disebut hipotesis statistik.

Adapun hipotesis dari penelitian ini adalah : Terdapat hubungan yang positif
dan signifikan antara kesiapan belajar dengan prestasi belajar siswa pada Mata
Pelajaran Membaca Gambar Teknik Mesin di Sekolah Menengah Kejuaran Negeri
2 Kota Bandung Kelas X.