Anda di halaman 1dari 54

Mokh.

Suef Yudha Prasetyawan

PROSES MANUFAKTUR
Apa yang disebut dengan manufaktur? Masih ingatkah dengan perbedaan antara industri jasa dan industri manufaktur (atau belum tahu??) Bagaimana industri manufaktur dapat menghasilkan produk-nya? Tahapan lengkap apa yang sudah kita ketahui sebagai calon Sarjana TI tentang bagaimana produk dibuat dan sampai ke tangan customer

Perencanaan Produksi Bill of Material, Jadwal Produksi, Layout Fasilitas

Bahan baku
PROSES MANUFAKTUR

Barang jadi

Menggambar Teknik: Perwujudan Desain

Customer Order

Order Fulfilment

MATERI KULIAH
Proses-proses pembuatan produk manufaktur mulai

dari proses pengecoran, pembentukan hingga finishing. Selanjutnya dibahas pula tentang metalurgi serbuk, proses manufaktur untuk bahan baku plastik, dan non tradisional proses permesinan seperti kimiawi, elektrokimia, water jet, microwave dan micromachining

TUJUAN KOMPETENSI
1. Mahasiswa mampu memahami dasar-dasar proses pengecoran,

permesinan dan pembentukan (proses manufaktur tradisional) produk khususnya berbahan baku logam dan plastik 2. Mahasiswa mampu memahami proses manufaktur (non tradisional) modern sebagai pengembangan proses manufaktur tradisional 3. Mahasiswa mampu memahami kelebihan dan kekurangan dari masing-masing proses manufaktur 4. Mahasiswa mampu mencari, mengumpulkan dan memahami data-data teknologi proses manufaktur 5. Mahasiswa mampu menganalisa kebutuhan proses manufaktur dari sebuah produk berbahan logam dan plastik

PROSES MANUFAKTUR TRADISIONAL PROSES MANUFAKTUR MODERN NON TRADITIONAL MACHINING ADVANCED MANUFACTURING TECHNOLOGY

ANALISA KEBUTUHAN PROSES DARI SEBUAH PRODUK

KELEBIHAN DAN KEKURANGAN SETIAP JENIS PROSES/TEKNOLOGI

PENGUMPULAN/PENGGALIAN DATA SPESIFIKASI/KEMAMPUAN PROSES/TEKNOLOGI

COMPUTER INTEGRATED MANUFACTURING

PROCESS OPTIMIZATION PROCESS AUTOMATION

CAD/CAM, CAE ROBOTIC CONTROL SYSTEM

RESEARCH ROADMAP

QUALITY MANAGEMENT SYSTEM QUALITY MANAGEMENT TOOLS QUALITY MANAGEMENT IN ACTION

QUALITY

MANUFACTURING MANUFACTURING SYSTEM SYSTEM

LAYOUT DESIGN

MANUFACTURING SYSTEM DESIGN

PRODUCTIVITY MAINTANANCE

RELIABILITY ENGINEERING

WARRANTY

SAFETY

DFX

SUSTAINABLE MANUFACTURING

QFD & CE

CLEANER PRODUCTION SYSTEM

MATERI
Berisi pemahaman dasar tentang proses manufaktur, terutama

dalam proses pengecoran, proses pembentukan dan proses permesinan secara konvensional maupun modern. Sebagai tambahan diberikan wawasan tentang rapid prototyping Sesi Pertama Gambaran umum proses manufaktur Proses manufaktur konvensional Sesi ke Dua Proses manufaktur modern Rapid Prototyping

GAMBARAN UMUM PROSES MANUFAKTUR


Ditinjau dari aktivitas pembuatan produk, beberapa literatur

menuliskan bahwa industri manufaktur dimulai sekitar 5000-4000 SM (dibuatnya ornamen dari kayu, keramik atau batu serta logam) Istilah manufaktur berasal dari bahasa Latin, manu factus yang artinya dibuat dengan tangan. Mengingat keterbatasan tenaga manusia sehingga pada perkembangannya, tenaga dari hewan dan air digunakan untuk menggerakan roda. Tahun 1567 muncul istilah manufacture dan kemudian tahun 1683 muncul istilah manufacturing, yang diartikan sebagai aktivitas pembuatan produk dari bahan-baku menggunakan berbagai macam proses, mesin dan operasi, dan diorganisasikan untuk mencapai tujuan tertentu.

Perkembangan proses manufaktur modern dimulai sekitar

tahun 1800. Perang sipil membuat banyak kemajuan proses manufaktur di Amerika. Ekperimen dan analisa pertama dalam proses manufaktur dibuat oleh Fred W. Tailor ketika memerbitkan tulisan tentang pemotongan logam yang merupakan dasar dari proses manufaktur. Kemudian Myron L. Begemen memberikan lanjutan pengembangan proses manufaktur. Tahapan dalam proses manufaktur

KLASIFIKASI METODE
Proses pengubahan bentuk bahan baku Pengecoran (cetak dan tuang) Pembentukan (hot and cold working) Pemrosesan dengan serbuk Proses Pemesinan (Pemotongan) Pemesinan tradisional (chip removal) Pemesinan non-tradisional Proses pengerjaan akhir Chip removal Polishing Pelapisan Proses Penyambungan Proses pengubahan sifat fisik

TUJUAN DASAR
Produk mencapai spesifikasi rancangan produk. Metode yang digunakan paling ekonomis Kualitas produk menjadi tujuan, mulai dari perancangan, proses,

perakitan sampai pengujian. Metode produksi harus fleksibel dalam merespon pasar (variasi, laju, jumlah dan waktu) Pengembangan teknologi dan aktivitas manajerial diarahkan pada pertimbangan waktu dan ekonomis. Aktivitas manufaktur dapat dimodelkan (pendekatan sistem global) terhadap pengaruh dari faktor-faktor seperti permintaan pasar, material, dan macam-macam variasi biaya dan metode produksi. Industri manufaktur harus selalu meningkatkan produktivitas, dalam pengertian optimum terhadap penggunaaan input produksi dan teknologi. Sehingga dicapai harga keluaran per jam-orang maksimum.

PERTIMBANGAN PROSES
Fungsi produk
Jumlah produk Metode produksi Kualitas produk Bahan baku Fasilitas produksi Biaya

AKTIVITAS PERANCANGAN PROSES


Analisa spesifikasi
Analisa membuat-membeli Pemilihan bahan Pemilihan proses manufaktur Analisa dimensi produk Penentuan operasi manufaktur Pemilihan fasilitas produksi Penetapkan urutan operasi manufaktur

RINCIAN AKTIVITAS PERANCANGAN PROSES


Pengumpulan data Gambar kerja ( bill of material, dan spesifikasi produk) Jumlah produk, Laju produksi, Tanggal penyerahan produk Ketersediaan komponen (beli atau buat) Analisa gambar kerja per komponen Karakteristik komponen (material, urutan proses dan laju produksi) Operasi perakitan antar komponen, Analisa suaian, Alternatif bahan & proses Penyusunan urutan proses, dengan memperhatikan ; Prioritas & efisiensi Rincian peralatan dan perkakas Daftar peralatan / mesin, Daftar perkakas dan alat ukur Perkiraan ongkos produksi tiap alternatif Biaya tahunan, Pendapatan atas investasi Ukuran kelayakan, Biaya per satuan produk

PROSES PENGECORAN DENGAN CETAKAN PASIR


Jenis pengecoran expendable yang paling umum dan sering

digunakan, karena: Bisa digunakan untuk logam logam dengan melting point yang sangat tinggi Tidak dibatasi oleh kesulitan berkenaan dengan ukuran cetakan Hampir semua pengecoran dengan logam paduan bisa dibentuk oleh cetakan ini. Proses pada sand casting meliputi heating - pouring solidification remove the cast dan proses metalurgi untuk penyempurnaan. Cetakan itu sendiri paada proses pemindahan hasil coran harus dikorbankan (sehingga expendable). Cetakan juga dapat diberi core kalau jika diperlukan lubang dalam hasil coran

PROSES PENGECORAN DENGAN CETAKAN SEKALI PAKAI LAINNYA

Shell Moulding Terbuat dari kulit dengan tebal 3/8 inchi dan merupakan paduan dari pasir dengan thermosetting resin binder. Keuntungan dari penggunaan ini adalah akurasi serta finishing yang bagus. Selain itu collapsbility dari shell moulding juga cukup bagus Kelemahannya terletak pada mahalnya biaya pembuatan pattern. Vacuum Moulding Dengan kombinasi pasir dan tekanan udara. Keuntungannya, pasir yang telah digunakan tidak perlu di-recovery dan langsung bisa digunakan sebagai cetakan lagi. Investment Casting Penambahan lilin sebagai pelapis dimana lilin kemudian dipindahkan dari cetakan saat terkadi penuangan. Yang dimaksud sebagai investment disini adalah penambahan lilin sebagai pelapis. Keuntungannya adalah akurasi yang dihasilkan dari cetakan akan sangat tinggi sehingga toleransi sangat minim, tanpa proses machining tambahan, dan kehalusan permukaan finishing yang baik. Plester mold and ceramic mold casting Bahan yang digunakan untuk plastic mold casting adalah plaster Paris (2 CaSO4 H20). Ada penambahan beberapa aditif seperti tepung silica dan talc guna mengontrol terjadinya konstraksi, mereduksi cracking, dan meningkatkan kekuatan.Kerugian penggunaan metode cetakan ini adalah permeabilitynya rendah. Plaster mold tidak bisa dipergunakan untuk logam coran yang bersuhu tinggi, hanya terbatas pada suhu yang tidak terlalu tinggi seperti alumunium. Keuntungan dari proses ini adalah keakuratan, permukaan finishing yang halus, dan kemudahan membuat bentuk silang tipis pada coran

PROSES PENGECORAN DENGAN CETAKAN PERMANEN

Basic Permanent Mold Casting


Bentuk dasar dari permanen mold casting adalah adanya pembagian bentuk cetakan menjadi 2 belahan/bagian yang presisi dan memberikan kemudahan untuk dibuka maupun ditutup. Posisi inti juga diharapkan mudah dipindahkan dari hasil coran. Untuk cetakan biasanya dibuat dari baja atau cast iron (besi tuang) karena alasan kekerasan. Inti juga hendaknya dibuat dari logam yang sejenis, tapi tetap harus dipertimbangkan syarat diatas yaotu kemudahan dipindahkan apabila hasil coran siap diambil dari cetakan.

Variasi pada permanen mold cast

Slush Casting, Lower preassure casting, Vacuum Permanent Mold casting

Die casting
Dikenal sebagai die casting karena menggunakan logam khusus sebagai cetakan yang dikenal dengan sebutan dies. Pengisian cairan logam ke dalam cetakan pada proses ini menggunakan mesin tekanan tinggi sehingga coran yang dihasilkan punya permukaan yang sehalus dengan cetakan yang dipergunakan. Sehingga otomatis finishing tidak terlalu diperlukan disini. Keuntungan: Tidak memerlukan proses permesinan selanjutnya,presisi,cocok untuk produksi masal Kerugian: Harga mesin dan cetakan mahal,kurang ekonomis untuk volume produksi rendah, umur cetakan logam berkurang dengan naiknya suhu logam

Centrifugal casting
Pada proses in, cara penuangannya adalah dengan cara bagian tengah cetakan dihubungkan secara radial dengan bagian tengah gaya sentrifugal yang bekerja pada logam cair, sehingga menghasilkan benda coran yang padat. Metode ini dapat digunakan baik untuk membentuk simetris maupun bentuk tidak tertentu tapi tetap yang simple. Contoh produk coran yang dibuat oleh metode ini adalah tengkorak, model manusia, dan lainnya.

BAHAN LOGAM UNTUK PENGECORAN

Ferrous casting alloys

Cast Iron (besi tuang) : contohnya adalah Besi Tuang kelabu, besi tuang nodular, besi tuang putih, malleable cast iron, dan alloy cast iron Steel (baja) Allumunium alloys Magnesium alloys Copper alloys Tin- based alloys Zinc alloys Nickel alloys Titanium alloys

Non Ferrous casting alloys


PERTIMBANGAN DESAIN PRODUK


Kemudahan bentuk geometri : semakin simple dan mudah, semakin banyak pilihan proses yang memungkinkan Pojok : Sudut di pojok dan sudut sudutt karena akan mengakibatkan konsentrasi tegangan di titik-titik tersebut Section thickness : harus diperhatikan guna menghindari shrinkage cavity Penggunaan core/inti Adanya draft guna keperluan standarisasi Toleransi dimensi dan batasan allowance pada proses permesinan.

PROSES PEMBENTUKAN
Proses pembentukan panas (hot-working) Proses perubahan bentuk secara plastis dari logam yang dilakukan pada saat logam tersebut mencapai di atas suhu rekristalisasi. Proses pembentukan dingin (cold-working) Perubahan bentuk logam dengan temperatur dibawah suhu rekristalisasi. Dalam banyak kasus pembentukan ini dilakukan dalam temperatur kamar. Meskipun begitu, proses pembentukan dingin dapat dilakukan dalam suhu yang lebih tinggi, akan tetapi tetap dilakukan dibawah suhu rekristalisasi. Contohnya magnesium, pembentukan dingin terhadap material ini adalah dengan frekuensi suhu 300 - 400 F.

RAGAM PROSES HOT-WORKING


ROLLING/PENGGILINGAN FORGING/TEMPA EKSTRUSI PEMBUATAN PIPA DAN TABUNG PIERCING HOT DRAWING

RAGAM PROSES COLD-WORKING


SQUEZING ATAU

RADIAL FORGING BENDING SHEARING DRAWING HIGH ENERGY RATE FORMING (HERF)

Riveting (paku keling)

POWDER METALURGY
Proses pembuatan part/produk dari serbuk logam melalui

penekanan dengan pemanasan sampai pada suhu di bawah titik cair serbuk Metalurgi serbuk atau sintering process, mulai dikenal sebagai salah satu proses pembuatan benda mulai sekitar tahun 1930 dengan hasil produk tungsten carbide tip untuk pahat potong dan self lubricating porous bronze bearing. Pada proses ini, pemanasan diberikan dibawah temperatur cair logam sampai mencapai daerah tertentu, sehingga bila ditekan serbuk logam panas ini akan saling mengikat dengan baik. Material yang dipakai dibedakan menjadi dua macam, yaitu bahan pengikat dan serbuk logam.

LANGKAH-LANGKAH PROSES
Pembuatan Serbuk Logam yang akan disinter Proses Pencampuran Proses Pembentukan

Proses Penyelesaian

Proses Sintering

PROSES PERMESINAN

Proses pemesinan (machining) merupakan proses pembuatan benda kerja melalui proses perautan dengan menggunakan mesin-mesin perkakas dimana terjadi gerakan relatif antara pahat potong dan benda kerja. Pahat yang bergerak relatif terhadap benda kerja akan menghasilkan geram selanjutnya permukaan benda kerja secara bertahap akan terbentuk menjadi komponen yang dikehendaki. Pahat bermata potong tunggal (single point cutting tools) Pahat bermata potong jamak (multiple points cutting tools)

ELEMEN DASAR PROSES PEMOTONGAN


Kecepatan potong (cutting speed): v (m/min) Kecepatan makan (feeding speed): vf (mm/min) Kedalaman potong (depth of cut): a (mm) Waktu pemotongan (cutting time): tc (min) Kecepatan penghasilan geram (rate of metal removal): Z

(cm3 / min)

BUBUT (TURNING)
Pada proses membubut (turning), benda kerja dipegang oleh

pencekam yang dipasangkan diujung poros utama (chuck). Dengan mengatur lengan pengatur yang terdapat pada sisi muka kepala diam, putaran poros utama umumnya (n) dapat dipilih. Harga putaran poros utama umumnya dibuat bertingkat, dengan aturan yang telah distandarkan, misalkan : 630, 710, 800, 900, 1000, 1120, 1250, 1400, 1600, 1800, dan 2000 rpm.

FREIS (MILING)
Pahat freis termasuk bermata potong jamak dengan jumlah mata potong sama dengan jumlah gigi freis (z). Sesuai dengan jenis pahat yang digunakan, dikenal dua macam cara yaitu yaitu mengefreis datar (slab milling) dengan sumbu putaran pahat freis selubung sejajar permukaan benda kerja, dan mengefreis tegak (face milling) dengan sumbu putaran pahat freis muka tegak lurus permukaan benda kerja. Mengefreis datar dibedakan menjadi dua macam, yaitu mengefreis naik (up milling/convention milling) dan mengefreis turun (down milling).

Perbedaan antara mesin CNC dan mesin bubut manual

MESIN TURNING & MILING CNC

adalah bahwa pergerakkan sumbu mesin CNC dikontrol oleh komputer Komputer dapat mengendalikan pergerakan dalam 2 arah turning (X dan Z) atau 3 arah miling (X,Y,Z) pada satu waktu. Artinya mesin CNC mampu menggerakkan pahat potong pada berbagai macam sudut karena terdapat gerakan sesuai garis lurus dan busur Mesin CNC tidak perlu hand wheel untuk mengendalikan pergerakan sumbu

Mesin Turning CNC

Mesin Miling CNC

COMPUTER NUMERICAL CONTROL (CNC)


CNC merupakan sebuah sistem dimana pahat potong

mesin bekerja sesuai dengan instruksi dari komputer bukan dari operator. Jauh sebelum penemuan komputer, kebutuhan akan mesin otomatis telah muncul. Pada tahun 1725, mesin otomatis pertama ditemukan. Mesin otomatis ini adalah mesin knitting. Tipe dari mesin otomatis ini diketahui sebagai mesin Numerically Controlled (NC).

PROGRAM CNC Perintah - perintah yang digunakan programmer untuk berkomunikasi


dengan pengendali CNC dan mesin bubut dikenal sebagai kode G dan kode M. Programer memakai sistem koordinat untuk menata letak dan merencanakan program. Pada mesin CNC, benda kerja dan pahat potong bergerak sepanjang pola yang diindikasikan oleh koordinat. Program CNC adalah satu kumpulan instruksi yang mengiformasikan kepada pahat seberapa jauh dan seberapa cepat untuk bergerak, kapan melakukan penggantian mata pahat dan kapan memutarkan spindle dan kapan sebuah program berakhir. Pengendali mesin CNC tidak mengerti tentang bahasa manusia, sehingga harus menggunakan bahasa pemrograman untuk berkomunikasi dengan pengendali.

FORMAT PROGRAM CNC cont


Dalam Word address format, setiap huruf memiliki

arti khusus dan nilai kombinasi dari tiap angka berhubungan dengan huruf, contoh:
N10 G20 G98 N20 M06 T1 N30 M03 S100 N40 G00 X1.5 Z.125 N50 G01 X1.375 F3 N60 G01 Z-2.5 N70 G01 X1.5 N80 G00 Z.125 N90 M05 N100 M30

MICROWAVE SPECTRUM

INDUSTRIAL FREQUENCIES
The following frequencies are allocated for industrial process;

915 MHz, 2.45 GHz, 5.8 GHz and 24.125 GHz

They are called the Industrial Scientific Medical frequencies (ISM).

Other parts of the spectrum are allocated to telecommunications, TV, Radio, Radio astronomy and Radar. The purpose of the strict allocation of ISM frequencies is to prevent interference with the other users of the spectrum.

Scared of Radiation?
Classification
Radio 300.0E+6 1.0E+0

Frequency (Hz) 300.0E+6 30.0E+9


30.0E+9 3.0E+12 3.0E+12 430.0E+12 430.0E+12 750.0E+12 750.0E+12 300.0E+15 300.0E+15 30.0E+18 30.0E+18

Wavelength (m) 1.0E+0 10.0E-3


10.0E-3 100.0E-6 100.0E-6 697.7E-9 697.7E-9 400.0E-9 400.0E-9 1.0E-9 1.0E-9 10.0E-12 10.0E-12

Microwave
Millimetre wave Infra-Red Visible Ultra-Violet X-Rays Gamma Rays

Ionising

CONVENTIONAL & MICROWAVE HEATING Exhaust


Microwave Power
Heat loss

Flame

ABRASIVE WATER JET & WATER JET


High-Pressure Water Jet Generation System
Water preparation unit Pumping and accessories High-pressure plumbing

The cutting head


Nozzle assembly Motion control system

Bulk abrasive transfer and metering system


The receiver

Schematic (OMAX)

LASER MANUFACTURING PROCESS


A device that amplifies light

Light Amplification by Stimulated Emission of Radiation


Lasers come in a great variety of forms, using many different materials, many different systems and many different excitation mechanisms

PROSES LASER
Stimulated emission Photons of spontaneous emission interact with atoms in the upper laser level and stimulate the emission of more photons

Inverted laser medium

Input light beam

Amplified light beam

Laser sources used for materials processing

Of the many laser sources discovered over the years the dominant lasers in Materials processing: Carbon dioxide laser Nd:YAG laser Diode laser Disc laser Fibre laser

Stationary-workpiece CO2 laser cutting system

CNC based systems Accuracy and precision Large processing envelopes High speed (100 m/min, 1G) High cost ( $ 0.5 M to $ 1M)

5 axis CO2 laser processing system

Robotic laser cutting and welding

Robot based systems Limited processing envelope Flexibility ( 6 axis processing ) Low cost Lower processing speed ( ~ 3 m/min) Path accuracy a problem

LASER MICROMACHINING
Many of products developments were made for bring more functions into

a single product. The first generation of mobile phone only perform single function as a communication device, but then it has been developed to bring more functions such as radio player, songs player (like MP3 format), camera and even movie recorder. Thus the radio, tape, camera and movie recorder electronic devices will be scaled into a very small size of a mobile phone. Similarly, other electronic application such as sensor is also being developed in smaller and smaller size to gain its faster performance and power consumption reduction. Therefore, the machining is not a millimeter size anymore but requires micro size and tolerance machined components. However, electronic application is not the only benefits of micromachining technology, since miniaturization is also needed by medical, chemistry, physics and military area.

LASER MICROMACHINING (2) Minimizing material consumption


Arrays and redundancy Simplify a system and electronics integration Increased selectivity and sensitivity Wider dynamic range New effects exploitation through the breakdown of continuum theory in the microdomain Improved reproducibility Improved accuracy and reliability

PRODUCT DEMAND
4500 4000 3500 1996 2002

Millions units

3000 2500 2000 1500 1000 500 0 Ink Jet Print Heads Pressure Sensors In Vitro Diagnostics Chemical Sensors Hard Disk Heads

RAPID PROTOTYPING

RAPID PROTOTYPING CLASSIFICATION

RAPID PROTOTYPING CLASSIFICATION

RAPID PROTOTYPING CLASSIFICATION

Referensi
Kalpakjian, Seroke, Manufacturing Engineering and Technology, Third

Edition, Addison-Wesley Pub Company, 1995 Amited, B. M., P. F. Ostwald, M. L. Bagenan, Manufacturing Processes, Seventh Edition, John Wiley and Sons, 1979 Schey, John A., Introduction to Manufacturing Processes, Second Edition, Mc Graw Hill Book Co., 1987 Taufik, Rochim, Teori dan Teknologi Proses Permesinan, Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung, 1985 Ostwald, Philip F., Manufacturing Process and System, John Wiley and Sons, 1997 C.K, Chua, K.F., Leong, & C.S. Lim, Rapid Prototyping: Principles & Applications, 2nd edition, 2004 (Computer Aided Learning Material) Masood, S.H, Advanced CAD/CAM Lecture Notes, Swinburne University of Technology, Melbourne, 2005 Brandt, Milan, et.al, Advanced Manufacturing Process Lecture Notes, Swinburne University of Technology, Melbourne, 2005