Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI PRODUKSI BENIH

Produksi Benih Lapang Pada Kacang Hijau

Oleh : Nama NIM Kelompok Asisten : Riko Aditya Pratama : 115040200111107 : Rabu, 06.00 WIB : Ulin

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2013

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Perbedaan tumbuhan dan tanaman adalah proses pengelolaannya. Tumbuhan mencangkup umum sedangkan pada tanaman merupakan tumbuhan yang dibudidayakan. Perbedaan ini dilakukan karena pola pikir manusia akan keberlangsungan hidupnya, karena tidak bisa dipungkiri bahwa manusia akan bergantung pada makanan dengan demikian manusia akan melestarikan dan membudidayakn tanaman untuk mencungkupi kebutuhan hidupnya. Seiring dengan berjalannya waktu cara berococok tanam pun berbeda dan berkembang hal ini mengakibatkan pola tanam yang berbeda sesuai dengan kebutuhan dan komoditas yang akan ditanam. Biji dan/atau benih yang merupakan dasar dari awal pembentukan tanaman mempunyai peranan penting, dimulai dari kematangan benih tersebut sampai proses pembibitan. Hal ini tidak lepas dari pengawasan dan pemeliharaan yang intensif karena bila kualitas benih buruk maka tingkat produksi tanaman akan menurun dan bahkan tanaman akan mudah mati karena serangan penyakit. Perkecambahan benih merupakan proses pengaktifan kembali aktifitas pertumbuhan embrio di dalam biji yang terhenti (dormansi) untuk kemudian mem bentuk bibit. Alam moenunjang perkecambahan kembali banyak faktor yang dilibatkan antara lain, lingkungan dan faktor dari dalam benih itu sendiri. Pada benih terdapat istilah daya perkecambahan merupakan kemampuan benih untuk tumbuh pada keadaan optimum. Terdapat bermacam-macam metode uji perkecambahan benih, setiap metode memiliki sifat masing masing ini berhuungan dengan jenis benih yang diuji, jenis alat perkecambahan yang digunakan, dan jenis parameter viabilitas benih dinilai. Berdasarkan substratnya, metode uji perkecambahan benih dapat digolongkan kedalam beberapa metode yaitu

menggunakan kertas, pasir dan tanah. Pada kesempatan ini yang akan dipelajari metode uji daya kecambah (SGT), uji kecepatan berkecambah (IVT), uji hitung pertama (FCT), uji pertumbuhan akar dan batang (RSGT). Kondisi lingkungan perkecambahan pada semua metode ini adalah optimum

1.2

Tujuan Adapun tujuan dilaksanakannya praktikum ini adalah sebagai berikut : 1. Bagaimana cara memproduksi benih 2. Jarak tanam yang ideal untuk produksi benih 3. Memahami masalah masalah dalam produksi benih

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Klasifikasi dan Morfologi 2.1.1 Klasifikasi Tanman Kacang Hijau Kingdom Subkingdom Super Divisi Divisi Kelas Sub Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Plantae (Tumbuhan) : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh) : Spermatophyta (Menghasilkan biji) : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga) : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil) : Rosidae : Fabales : Fabaceae (suku polong-polongan) : Phaseolus : Phaseolus radiatus L. (Anonymousa, 2013)

2.1.2 Morfologi Kacang Hijau Kacang hijau merupakan tanaman pendek bercabang tegak , yang terdiri dari akar, batang, daun, bunga, buah dan biji. 1. Akar Kacang hijau memiliki akar yang bersifat akar tunggang, sistem prakarannya dibagi menjadi dua, yaitu mesophytes dan xerophytes. Mesophytes mempunyai banyak cabang akar pada permukaan tanah dan tipe pertumbuhannya menyebar. Sedangkan xerophytes memiliki akar cabang lebih sedikit danmemanjang kearah bawah.

2. Batang Batang kacang hijau bebrrntuk bulat dan berbuku-buku. Ukuran batangnya kecil, berbulu, berwarna hijau kecoklatan atau kemerahan. Setiap buku batang menghasilkan satu tnagkai daun, kecuali pada daun pertama berupa sepasan g daun yang berhadapan danmasing masing daun berupa daun tunggal. Batang kacang hijau tumbu tegak dengan ketinggian mencapai 1 meter cabangnya menyebar kessemua arah. 3. Daun Daun kacang hijau tumbuh majemuk, terdiri dari tiga helai anak daun setiap tangkai. Helai daun berbentuk oval dengan bagian ujung lancip dan berwarna hijau muda hingga hijau tua. Letak daun berseling. Tangkai daun lebih panjang daripada daunnya sendiri. 4. Bunga Bunga kacang hijau berbrntuk seperti kupu kupu dan berwarna kuning kehijauan atau kuning pucat. Bunganya termasuk jenis hermaprodit atau berkelamin sempurna. Proses penyerbukan terjadi pada malam hari sehingga pada pagi hari bunga akan mekar dan pada sore hari menjadi layu. 5. Buah Buha kacang hijau berbentuk polong. Panjang polong sekitar 5 15 cm. Setiap polong berisi 10 15 biji. Polong kacang hijau berbentuk bulat silindris atau pipih dengan ujung agak runcing atau tumpul. Polong muda berwarna hijau, setelah tua berubah menajdi kecoklatan atau kehitaman. Polongnya mempunyai rambut-rambut pendek atau berbulu. 6. Biji Biji kacang hijau berbentuk bulat dan lebih kecil dibandingkan dengan biji kacang tanah atau kedelai, yaitu bobotnya hany sekitar 0,5 0.8 mg. Kulitnya hijau berbiji putih. Bijinya seirng dibuat kecambah atau taoge. (Hartono & Purwini, 2005)

2.2 Budidaya Tanaman Kacang Hijau 2.2.1 Syarat Tumbuh Kacang hijau tumbuh pada tekstur tanah liat berlempung dengan pH 5,8 7 yang memiliki struktur tanah gembur dan berdrainase baik. Curah hujan optimal pada 50-200 mm/bulan dengan temperatur 250 C -270 C dan kelembaban udaranya 50-80%.

2.2.2 Pengolahan Tanah Pada lahan sawah bekas tanaman padi tidak perlu dilakukan pengolahan tanah (TOT), dan penyipaan lahan dilakukan sebelum tanam. Pada lahan kering (tegalan) pengolahan tanah dilakukan intensif dibersihkan dari rumput, dicangkul hingga gembur (untuk tanah tegalan yang berat pembajakan dilakukan sedalam 15-20 cm), dibuat petakan 3-4 meter. - Tanah tegalan bekas tanaman jagung, kedelai atau padi gogo perlu pengolahan tanah minimal. - Pemberian mulsa jerami sekitar 5 ton/ha agar dapat meneka serangan lalat bibit, menekan pertumbuhan gulma, mencegah penguapan air dan perbaikan struktur tanah.

2.2.3 Penanaman Waktu tanam Pada lahan sawah, tanaman kacang hijau ditanam pada musim kemarau setelah padi. Sedangkan di lahan tegalan dilaukan pada awal sampai musim hujan. - Cara tanam Benih ditanam dengan cara ditugal, dengan jarak 40 cm x 10 cm atau 40 cm x 15 cm, tiap lubang diisi 2 biji (Anonymousb, 2013)

2.3 Teknologi Produksi Benih Hal hal yang perlu dilakukan dalam memproduksi benih kacang hijau adalah sebagai berikut : 2.3.1 Benih Memiliki daya tumbuh 80-100% dengan kebutuhan benih per hektarnya adalah 20-25 kg. Varietas yang dianjurkan adalah No. 129, Nuri, Manyar, Merak, Walet, Galatik, Parkit, Merpati, Camar, Kenari.

2.3.2 Penyiapan Lahan Lokasi pembenihan harus sesuai dan disetujui oleh BPSB untuk memenuhi persyaratan-persyaratan sertifikasi benih. Membuat saluran drainase denga lebar dan kedalaman 20-30 cm, jarak antar saluran 3 3,5 m. dan lahan sawah bekas tanaman padi yang barudipanen tidak perlu diolah, jeraminya cukup dipotong rata dengan tanah. Pada lahankering dan sawah yang sudah agak lama tidak ditanammi perlu dilakukan pengolahan tanah secara sempurna.

2.3.3 Tanam Benih ditanam secara tugal 2-3 biji/luabng dengan kealaman 3-5 cm, kemudian ditutup denganabu jerami atau tanah. Jarak tanamnya adalah 40-50 x 10 cm populasi 400.000-500.000 tanaman/ ha.

2.3.4 Pemupukan Pemupukan pertama 90-1 minggu setelah tanam) 25 kg urea, 60 kg SP36, 50 kg KCl per hektar. Ketiga pupuk dicampur dan diberikan secara berlarik disamping baris tanaman atau dengan tugaal. Sedangkan pemupukan kedua umur 2-3 minggu setelah tanam dengan 25 kg Urea yang diberikan secara larikan diseblah tanaman.

2.3.5 Penyiangan Penyiangan dilakukan 2 kali selama pertumbuhan tanamn yaitu : pada umur 10-15 HST dan pada umur 25-30 HST. Penyiangan dilakukan dengan cara dikored atau menggunakan cangkul.

2.3.6 Pengairan Kacang hijau termask tanaman yang toleran terhadap kekurangan air yang penting tanah cukup kelembabannya. Bila tanahnya kering, sebaiknya segera diairi terutama pad aperiode kritis yakni pada saat tanam, saat berbunga dan saat pengisian biji.

2.3.7 Pengendalian Hama dan Penyakit Untukpengendalian hama pada ulat daun maupun penggerek polong dapat digunakan insektisida : Marshal, Fastac, Matador dan Atabron. Untuk mengendalikan kutu dan kepik yang menyerang daun maupun polong dapat digunakan insektisida diantaranya : Decis, Basso, Kiltop, Ambush, Larvin Sedangkan untuk penyakit yang disebabkan oleh jamur dapat dikendalikan dengan menanam varieta tahan seperti Walet, Nuri, Gelatik dan Kenari serta membuat saluran drainase. Kemudian pengaplikasian fungisida scat tanam dan p;ada pertanamn dengan Benlate, Dithene M-45. Untuk penyakit yang disebabkan oleh virus dapat dikendalikandengan penanamna varietas tahan, mencabut dan membakar tanaman terserang, menggunakan insektisida dan melaukan pergiliran tanaman.

2.3.8 Seleksi Tanaman Seleksi tanaman pada saat vegetatid yaitu umur 7 -15 HST, caranya adalah : 1. Membuang tanama yang berbeda warna hipokotilnya 2. Membuang tanaman yang berbeda bentuk daunnya 3. Membuang tanaman yang berbeda bulu daunnya Pada seleksi generatif yaitu pada saat scat berbunga dan setelah keluar polong 1. 2. Membuang tanaman yang berbeda tipe pertumbuhannya Membuang tanaman yang berbeda warna polong

2.3.9

Panen Umur panen bervariasi dari 55 70 hari, panen dilakukan jika polong

telah kering danmudah pecah.

2.3.10

Pengeringan dan Pengolahan

Haisl panen langsung dijemur diatas lantai berlaskan terpal atau karung dengan ketebalan 2-3 c,, pembalikan dilakukan setiap 3 jam. Kemudian polong yang sudah kering dipukul pukul sampai kulit poloong pecah dan

pemisahan biji dari kult polong dilakukan dengan nyiru, tampi atau blower. Biji yang sudah bersih dijemur lagi hingga mencapai kadar air 8-9 %.

2.3.11

Sortasi dan Penyimpanan

Biji yang sudah mencapai kadar air 8-9% ditampi untuk memisahkan benih bagus dan jelek. Biji yang sudah disortir diamsukkan dalam kantong plastik berukuran 5-10 kg, ditutup dengan sistem rapat udara. Biila tidak tersedia kantong palstik dapat juga digunakan kaleng minyak adan ditutup dengan parafin/lilin. Sebelum disimpan dalam blek, benih dicampur dengan abis dapur atau insektisida. (Mastro, 2000)

BAB III METODOLOGI


3.1 Alat, Bahan, dan Fungsi 3.1.1 Alat - Cetok - Rafia - Tugal -Alat tulis 3.1.2 Bahan - Benih - Pupuk : 30 butir benih kangkung : Pupuk N 30 gr, pupuk P 10 gr, dan pupuk K 20 gr dan pupuk kompos 3.2 Keterangan Lahan 3.2.1 Ketinggian Tempat Pada praktikum produksi benih lapang ini dilakukan di Kebun Praktikum Budidaya Pertanian, Universitas Brawijaya Malang.Ketinggian dari kebun praktikum adalah 545 mdpl. : untuk menggemburkan tanah : untuk menandai jarak tanam : untuk melubangi tanah : untuk mencatat

3.2.2 Sejarah Penggunaan Lahan Kebun Praktikum Budidaya Pertanian, Universitas Brawijaya sebelumnya telah banyak digunakan untuk praktikum praktikum lain dan dengan komoditas yang berbeda beda. Oleh karena itu, bukan tidak mungkin ketika kita menanam tanaman kacang hijau juga tumbuh tanaman lain, selain itu juga banyak gulma-gulma yang tumbuh.

3.3 Waktu Pelaksanaan Waktu pelaksanaan praktikum lapang Teknologi Produksi benih ini dilakukan pada bulan April 2013 yang berlokasi pada kebun praktikum jurusan Budidaya Pertanian.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil Pengamatan (dokumetasi disertakan) Tabel 1: Pengamatan Tanaman Parameter A. Fase Vegetative - Tinggi Tanaman (cm) - Jumlah Daun (buah) - Jumlah Cabang (buah) B. Fase Generative - Awal Berbunga (hst) - Berbunga 50% (hst) - Berbunga 75% (hst) - Jumlah bunga per tanaman - Jumlah polong per tanaman - Produksi buah/biji per petak 48 50 54 2 2 56 58 62 2 2 48 50 54 2 0 42 44 48 4 8 35 37 41 5 9
50,5cm 47 cm 50,5cm 56 cm 59 cm

Sampel Tanaman Ke1 2 3 4 5

16 5

12 4

9 3

12 4

12 4

Tidak dihitung, karena polong banyak yang terserang hama dan mati

Tabel 2: Pengamatan Roguing Jumlah Tanaman Off Type Jumlah Tanaman Volunter

Parameter

Hasil rouguing

Bentuk dan warna daun Warna bunga Bentuk dan warna buah Waktu berbunga

4.2 Pembahasan dibandingkan literatur. 4.2.1 Pembahasan Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan didapat hasil bahwa proses awal pembungaan pada kacang hijau tidak sama dan selisih antara tanaman sampel sangat jauh, karena pada saat proses produksi biji dana taubenih tidak dilakukan penyiangan dan peratan secara rutin sehingga pemasakan fase vegetatif menuju generati tidak merata sehingga yang timbul adalah gulma yang menghambat perkembangan dan pertumbuhan tanaman. Hal ini berdampak pada hasil pembungaan pada tanaman sampel, diketahui jumlah bunga yang muncul sangat sedikit sehingga ketika dijadikan dasar produksi benih tidak dapat menguntungkan, namun bila dilakukan dengan baik akan menciptakan hasil produksi benih yang bernilai ekonomi cukkup tinggi apabila hal serupa terjadi pada tanaman sampel 4 dan 5 yang jumlah bunganya cukup banyak. Menurut (Rudy Soehendi et al., 2001) kacang hijau merupakan komoditas potensial yang memiliki kelebihan ditinjau dari segi agronomis maupun ekonomis seperti lebih tahan terhadap kekeringan, dapat dipanen sekitar umur 60 hari setelah tanam, resiko kegagalan panen secara total kecil, budidayanya mudah dan dapat ditanam pada tanah yang kurang subur, harga jual tinggi dan stabil. Jumlah polong pertanaman kacang hijau varietas kenari paling sedikit pada sampel yaitu hanya ada 2 dan yang paling banyak adalah 9 polong per tanamannya. Hal ini banyak dipengaruhi oleh faktor genetik, lingkungan, pemupukan serta perawatan tanaman yang dilakukan sehingga

mengakibatkan pertumbuhan dari awal fase hingga masa generatif tidak maksimal dan kurang baik. Untuk hasil produksi buah pertanamn tidak dapat dilakukan perhitungan disebabkan oleh kematian pada tanaman dan kehilangan biji karena hama dan atau penyakit. Menurut Astanto (1993) menyatakan kelemahan atau kekurangan kacang hijau adalah hasilnya yang tidak stabil, disebabkan bukan oleh tingkat adaptasi tanaman yang belum

memadai dalam mengatasi cakupan lingkungan fisik terutama kompetisi dengan gulma, serangan hama trips, penyakit embun tepung, kudis, Rizoctonia dan virus. Kurang tanggap terhadap pemupukan juga sering dianggap sebagai salah satu unsur menyebabkan hasilnya tidak stabil.

4.2.2 Kondisi Lapang Dari hasil pengamatan yang dilakukan dilahan Budidaya Pertanian dapat diketahui tingkat keberhasilan dalam menghasilkan calon benih kurang berhasil pada tahap akhir yaitu penghitungan jumlah biji. Namun pada fase pembungaan dapat dikatakan cukup berhasil mengingat terdapat bunga dan muncul polong yang tumbuh banyak. Penyebab ketidakteraturan ini disebabkan oleh waktu yang dilakukan untuk penyemaian dan perawatan kurang maksimal, dapat dikatakan human eror. Sehingga banyak mengalami kegagalan dalam produksi benihnya sehingga tidak dapat dipanen.

BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan Dari hasil pembahasan yang telah dilakukan pada produksi benih tanaman kacang hijau varietas kenari dapat disimpulkan bahwa, tanaman yang dibudidayakan pada awal fase generatif sangat baik dengan ketinggian tanaman pada akhir vegetatif rata rata mencapai 52 cm dengan jumlah daun rata rata untuk tanaman sampel adalah 12 helai. Namun ketika dilakukan pengamtan hasilnya turun, hal ini dikarenakan kurangnya waktu dalam pemeliharaan. Namun sampai fase pembungaan telah banyak bunga yang bermunculan walaupun hanya sebagian yang banyak ini dapat dikatakan berhasil karena mayoritas tanaman berbunga. Dan ketka menjelang masa panen tidak dapat diketahui jumlah polong yang dihasilkan pada akhir masa pengamatan karena terdapat tanaman ataupun polong yang mati dan terserang penyakit. 5.2 saran Untuk praktikum ini lebih baik dilakukan pada awal pertemuan praktikum sehingga dapat ddengan mudah mengontrol tanaman, selain itu sempitnya lahan menjadi kendala utama dan output yang diterima mahasiswa juga berkurang karena tidak mendapat tanggung jawab masing masing pertanaman. Saran untuk praktikan, lebih serius dalam mempelajari bahan bahan ajar praktikum dan lebih dikondufsikan supaya dapat menerima materi dengan baik.

DAFTAR PUSTAKA

Anonymousa, 2013. Klasifikasi Kacang Hijau. http://sumberajaran.blogspot.com/ 2012/06/klasifikasi-kacang-hijau-phaseolus.html. Diakses pada 28 Mei 2013 Purwini dan Hartono, Rudi. 2005. Teknik Budidaya Kacang Hijau (Kacang

Hijau). Depok; Penebar Swadaya. Anonymousb. Budidaya Kacang Hijau. http://epetani.deptan.go.id/budidaya/ budidaya-kacang-hijau-20 Diakses pada 29 Mei 2013.

Imade Mastro Sunantara, 2000. Pusat penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan (Teknologi Produksi Benih Kacang Hijau). http://pustaka.litbang. deptan.go.id/agritek/bali0209.pdf . Diakses pada 29 Mei 2013 Rudy Soehendi, M. Anwari, Rudi Iswanto dan Sumartini. 2001. Keragaan Kacang Hijau Galur VC. 2750 dan Ketahanannya Terhadap Penyakit Embun Tepung. Prosiding Seminar Nasional Pengembangan Teknologi Pertanian Dalam Upaya Optimalisasi Potensi Wilayah Mendukung Otonomi Daerah. Pusat Litbang Sosial Ekonomi Pertanian. Badan Litbang Pertanian Bekerja sama Dengan Universitas Udayana. Denpasar bali. 2001. Kasno. A. 1993. Perbaikan Genetik Kacang Hijau Untuk Stabilitas Hasil. Monograf Balittan Malang. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Balittan Malang. Monograf Kacang Hijau No. 4.

Lampiran Sampel ke-

Fase Vegetative

Fase Generative