Anda di halaman 1dari 21

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan pada Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan segala rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Kegiatan penulisan makalah ini merupakan salah satu syarat atau tugas pengganti Ujian akhir semester pertama keselamatan dan kesehatan kerja yang ditempuh di program Diploma III Teknik Elektronika. Adapun judul dari makalah ini yaitu : Hukum Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada bidang Kelistrikan. Kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kami mengimbau pembaca untuk memberi kritik serta saran yang bersifat membangun untuk membantu membuat makalah ini lebih baik lagi. Akhir kata penulis berharap semoga penulisan makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan khususnya bagi mahasiswa program Diploma III Teknik Elektro untuk lebih memahami dan menambah wawasan tentang Kesehatan dan

Keselamatan Kerja bidang Kelistrikan di perusahaan.

Makassar,

Januari 2014

Penyusun,

Keselamatan dan Kesehatan Kerja Bidang Kelistrikan

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................. DAFTAR ISI............................................................................................................. BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ..........................................................................................

ii iii

1.2 Rumusan Masalah...................................................................................... 2 1.3 Rumusan Tujuan ....................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Bahaya-bahaya dari Listrik Statis ............................................................. 3 2.2 Cara Mencegah Bahaya Listrik ............................................................ 2.3 K3 Kelistrikan .......................................................................................... 2.4 Langkah-langkah/ Prosedur/ Pedoman Pemberian Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) Bidang Pekerjaan Kelistrikan ............ 7 5 6

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan .............................................................................................. 10 3.2 Saran ....................................................................................................... 10

DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................. 11 LAMPIRAN ............................................................................................................ 12

Keselamatan dan Kesehatan Kerja Bidang Kelistrikan

ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kondisi keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di bidang Kelistrikan pada perusahaan di Indonesia secara umum diperkirakan termasuk rendah. Pada tahun 2005 Indonesia menempati posisi yang buruk jauh di bawah Singapura, Malaysia, Filipina dan Thailand. Kondisi tersebut mencerminkan kesiapan daya saing perusahaan Indonesia di dunia internasional masih sangat rendah. Indonesia akan sulit menghadapi pasar global karena mengalami ketidakefisienan pemanfaatan tenaga kerja (produktivitas kerja yang rendah). Padahal kemajuan perusahaan sangat ditentukan peranan mutu tenaga kerjanya. Karena itu disamping perhatian perusahaan, pemerintah juga perlu memfasilitasi dengan peraturan atau aturan perlindungan Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Nuansanya harus bersifat manusiawi atau bermartabat. Keselamatan kerja telah menjadi perhatian di kalangan pemerintah dan bisnis sejak lama. Faktor keselamatan kerja menjadi penting karena sangat terkait dengan kinerja karyawan dan pada gilirannya pada kinerja perusahaan. Semakin tersedianya fasilitas keselamatan kerja semakin sedikit kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja. Di era globalisasi dan pasar bebas WTO dan GATT yang akan berlaku tahun 2020 mendatang, kesehatan dan keselamatan kerja merupakan salah satu prasyarat yang ditetapkan dalam hubungan ekonomi perdagangan barang dan jasa antar negara yang harus dipenuhi oleh seluruh negara anggota, termasuk bangsa Indonesia. Untuk mengantisipasi hal tersebut serta mewujudkan perlindungan masyarakat pekerja Indonesia; telah ditetapkan Visi Indonesia Sehat 2010 yaitu gambaran masyarakat
Keselamatan dan Kesehatan Kerja Bidang Kelistrikan iii

Indonesia di masa depan, yang penduduknya hidup dalam lingkungan dan perilaku sehat, memperoleh pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata, serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Pelaksanaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) adalah salah satu bentuk upaya untuk menciptakan tempat kerja yang aman, sehat, bebas dari pencemaran lingkungan, sehingga dapat mengurangi dan atau bebas dari kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang pada akhirnya dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja. Kecelakaan kerja tidak saja menimbulkan korban jiwa maupun kerugian materi bagi pekerja dan pengusaha, tetapi juga dapat mengganggu proses produksi secara menyeluruh, merusak lingkungan yang pada akhirnya akan berdampak pada masyarakat luas. Penyakit Akibat Kerja (PAK) dan Kecelakaan Kerja (KK) di kalangan petugas kesehatan dan non kesehatan kesehatan di Indonesia belum terekam dengan baik. Jika kita pelajari angka kecelakaan dan penyakit akibat kerja di beberapa negara maju (dari beberapa pengamatan) menunjukan kecenderungan peningkatan prevalensi. Sebagai faktor penyebab, sering terjadi karena kurangnya kesadaran pekerja dan kualitas serta keterampilan pekerja yang kurang memadai. Banyak pekerja yang meremehkan risiko kerja, sehingga tidak menggunakan alat-alat pengaman walaupun sudah tersedia. Dalam penjelasan undang-undang nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan telah mengamanatkan antara lain, setiap tempat kerja harus melaksanakan upaya kesehatan kerja, agar tidak terjadi gangguan kesehatan pada pekerja, keluarga, masyarakat dan lingkungan disekitarnya. Setiap orang membutuhkan pekerjaan untuk memenuhi kebutuan hidupnya. Dalam bekerja Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan faktor yang sangat penting untuk diperhatikan karena seseorang yang mengalami sakit atau kecelakaan dalam bekerja akan berdampak pada diri, keluarga dan lingkungannya. Salah satu komponen yang dapat meminimalisir Kecelakaan dalam kerja adalah tenaga kesehatan. Tenaga kesehatan mempunyai kemampuan untuk menangani korban dalam kecelakaan kerja dan dapat memberikan penyuluhan kepada masyarakat untuk menyadari pentingnya keselamatan dan kesehatan kerja.

B. Permasalahan

Keselamatan dan Kesehatan Kerja Bidang Kelistrikan

iv

Berdasarkan penjelasan pada latar belakang di atas, maka permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini adalah bagaimana peran tenaga kesehatan dalam menangani korban kecelakaan kerja dan mencegah kecelakaan kerja dibidang kelistrikan guna meningkatkan kesehatan dan keselamatan kerja.

C. Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui peran tenaga kesehatan dalam menangani korban kecelakaan kerja dan mencegah kecelakaan kerja dibidang kelistrikan guna meningkatkan kesehatan dan keselamatan kerja.

Keselamatan dan Kesehatan Kerja Bidang Kelistrikan

BAB II PEMBAHASAN

A. Aspek Pencegahan Kecelakaan Listrik


Tindakan keselamatan kerja bertujuan untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan, baik jasmani maupun rohani manusia, serta hasil kerja dan budaya tertuju pada kesejahteraan masyarakat pada umumnya. Keselamatan kerja manusia secara terperinci antara meliputi : pencegahan terjadinya kecelakaan, mencegah dan atau mengurangi terjadinya penyakit akibat pekerjaan, mencegah dan atau mengurangi cacat tetap, mencegah dan atau mengurangi kematian, dan mengamankan material, konstruksi, pemeliharaan, yang kesemuanya itu menuju pada peningkatan taraf hidup dan kesejahteraan umat manusia. 1) Menunjang terlaksananya tugas-tugas pemerintah, khususnya di bidang peningkatan taraf hidup dan kesejahteraan tenaga kerja di perusahaan, industri, perkebunan, pertanian yang meliputi di antaranya tentang penanganan keselamatan kerja. 2)Menuju tercapainya keragaman tindak di dalam menanggulangi masalah antara lain keselamatan kerja. Standar Keselamatan Kerja Pengamanan sebagai tindakan keselamatan kerja ada beberapa hal yang perlu diperhatikan digolongkan sebagai berikut: a) Pelindung badan, meliputi pelindung mata, tangan, hidung, kaki, kepala, dan telinga. b) Pelindung mesin, sebagai tindakan untuk melindungi mesin dari bahaya yang mungkin timbul dari luar atau dari dalam atau dari pekerja itu sendiri c) Alat pengaman listrik, yang setiap saat dapat membahayakan.
Keselamatan dan Kesehatan Kerja Bidang Kelistrikan vi

d) Pengaman ruang, meliputi pemadam kebakaran, sistem alarm, air hidrant, penerangan yang cukup, ventilasi udara yang baik, dan sebagainya. Tindakan pencegahan terhadap kemungkinan terjadinya kecelakaan adalah hal yang lebih penting dibandingkan dengan mengatasi terjadinya kecelakaan. Kecelakaan dapat dicegah dengan menghindarkan sebab-sebab yang bisa mengakibatkan terjadinya kecelakaan. Tindakan pencegahan bisa dilakukan dengan cara penuh kehati-hatian dalam melakukan pekerjaan dan ditandai dengan rasa tanggung jawab. Mencegah kondisi kerja yang tidak aman, mengetahui apa yang harus dikerjakan dalam keadaan darurat, maka segera melaporkan segala kejadian, kejanggalan dan kerusakan peralatan sekecil apapun kepada atasannya. Kerusakan yang kecil atau ringan jika dibiarkan maka semakin lama akan semakin berkembang dan menjadi kesalahan yang serius jika hal tersebut tidak segera diperbaiki. Tindakan pencegahan terjadinya kecelakaan harus dilakukan dengan rasa bertanggung jawab sepenuhnya terhadap tindakan keselamatan kerja. Bertanggung jawab merupakan sikap yang perlu dijujung tinggi baik selama bekerja maupun saat beristirahat Hal ini akan sangat bermanfaat bagi keselamatan dalam bekerja. Peralatan perlindungan anggota badan dalam setiap bekerja harus selalu digunakan dengan menyesuaikan sifat pekerjaan yang dilakukan.beberapa alat pelindung keamanan anggota badan, terdiri dari pelindung mata, kepala, telinga, tangan, kaki dan hidung. Penggunaan alat pelindung ini disesuaikan dengan jenis pekerjaan yang dikerjakan. Sebagai contoh pelindung mata, pakailah kaca mata atau gogles untuk melindungi dari sinar yang kuat, loncatan bunga api, loncatan logam panas dan sebagainya. Gangguan listrik di Rumah banyak sekali penyebabnya, sedangkan yang dikemukakan disini hanya salah satu kondisi yang sering terjadi dan membuat pemilik rumah bingung dan terganggu dengan tiba-tiba listrik mati mendadak pada waktu hujan. Kadang-kadang karena tidak sabar dan kurangnya pengetahuan tentang listrik rumah tangga, pemilik rumah langsung mengembalikan posisi MCB (Mini Circuit Breaker) yang ada di meteran listrik ke posisi ON dan jatuh kembali ke posisi OFF karena gangguan yang sebenarnya belum diketemukan. Berikut ini TIP-TIP untuk mengatasi salah satu masalah gangguan listrik tersebut : 1. Langkah pertama, Matikan atau tempatkan/geser seluruh KONTAK yang ada di rumah pada posisi OFF 2. Langkah ke-dua, Cabut atau lepaskan seluruh STECKER yang masih terhubung dengan STOP KONTAK
Keselamatan dan Kesehatan Kerja Bidang Kelistrikan vii

3. Langkah ke-tiga, kembalikan MCB pada meter listrik ke posisi ON dan ternyata tidak jatuh ke posisi OFF 4. Langkah ke-empat, geser satu per satu secara bergantian KONTAK ke posisi ON dan apabila MCB pada meter listrik jatuh kembali ke posisi OFF setelah menggeser KONTAK yang ke Sekian, maka penyebab gangguan terletak pada instalasi yang terhubung dengan KONTAK terkait. 5. Langkah ke-lima, OFF kan KONTAK terkait, sebagai penanggulangan sementara sambil menunggu datangnya AHLI LISTRIK yang akan memperbaiki instalasi listrik yang terkait dengan KONTAK tersebut. 6. Bila dari KONTAK tidak ada masalah/gangguan, lakukan langkah-langkah diatas untuk STECKER yang terhubung dengan STOP KONTAK Mudah-mudahan TIP ini berguna bagi keluarga yang awam dengan instalasi listrik di rumah tangga.

B. Efek Arus Listrik terhadap Tubuh Manusia


Pada satu sisi, dalam menjalankan aktivitas sehari-hari kita sangat membutuhkan daya listrik. Namun pada sisi lain, listrik sangat membahayakan keselamatan kita kalau tidak dikelola dengan baik. Sebagian besar orang pernah mengalami/merasakan sengatan listrik, dari yang hanya merasa terkejut saja sampai dengan yang merasa sangat menderita. Oleh karena itu, untuk mencegah dari hal-hal yang tidak diinginkan, kita perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap bahaya listrik dan jalan yang terbaik adalah melalui peningkatan pemahaman terhadap sifat dasar kelistrikan yang kita gunakan.

Bahaya listrik dibedakan menjadi dua, yaitu bahaya primer dan bahaya sekunder. Bahaya primer adalah bahaya-bahaya yang disebabkan oleh listrik secara langsung, seperti bahaya sengatan listrik dan bahaya kebakaran atau ledakan.

Keselamatan dan Kesehatan Kerja Bidang Kelistrikan

viii

Sedangkan bahaya sekunder adalah bahaya-bahaya yang diakibatkan listrik secara tidak langsung. Namun bukan berarti bahwa akibat yang ditimbulkannya lebih ringan dari yang primer. Contoh bahaya sekunder antara lain adalah tubuh/bagian tubuh terbakar baik langsung maupun tidak langsung, jatuh dari suatu ketinggian, dan lain-lain.

1. Dampak Sengatan Listrik Bagi Manusia Dampak sengatan listrik antara lain adalah:

Gagal kerja jantung (Ventricular Fibrillation), yaitu berhentinya denyut jantung atau denyutan yang sangat lemah sehingga tidak mampu mensirkulasikan darah dengan baik. Untuk mengembalikannya perlu bantuan dari luar.
ix

Keselamatan dan Kesehatan Kerja Bidang Kelistrikan

Gangguan pernafasan akibat kontraksi hebat (suffocation) yang dialami oleh paruparu. Kerusakan sel tubuh akibat energi listrik yang mengalir di dalam tubuh, Terbakar akibat efek panas dari listrik

2. Tiga Faktor Penentu Tingkat Bahaya Listrik Ada tiga faktor yang menentukan tingkat bahaya listrik bagi manusia, yaitu tegangan (V), arus (I) dan tahanan (R). Ketiga faktor tersebut saling mempengaruhi antara satu dan lainnya yang ditunjukkan dalam hukum Ohm.

Tegangan (V) dalam satuan volt (V) merupakan tegangan sistem jaringan listrik atau sistem tegangan pada peralatan. Arus (I) dalam satuan ampere (A) atau miliampere (mA) adalah arus yang mengalir dalam rangkaian, dan tahanan (R) dalam satuan ohm, kilo ohm atau mega ohm adalah nilai tahanan atau resistansi total saluran yang tersambung pada sumber tegangan listrik. Sehingga berlaku: I = V/R; R= V/I; V= I x R Bila dalam hal ini titik perhatiannya pada unsur manusia, maka selain kabel (penghantar), sistem pentanahan, dan bagian dari peralatan lain, tubuh kita termasuk bagian dari tahanan rangkaian tersebut.

Tingkat bahaya listrik bagi manusia, salah satu faktornya ditentukan oleh tinggi rendah arus listrik yang mengalir ke dalam tubuh kita. Sedangkan kuantitas arus akan
Keselamatan dan Kesehatan Kerja Bidang Kelistrikan x

ditentukan oleh tegangan dan tahanan tubuh manusia serta tahanan lain yang menjadi bagian dari saluran. Berarti peristiwa bahaya listrik berawal dari sistem tegangan yang digunakan untuk mengoperasikan alat. Semakin tinggi sistem tegangan yang digunakan, semakin tinggi pula tingkat bahayanya. Jaringan listrik tegangan rendah di Indonesia mempunyai tegangan seperti yang ditunjukkan pada Gambar 1.5 dan sistem tegangan yang digunakan di Indonesia adalah: fasa-tunggal 220 V, dan fasa-tiga 220/380 V dengan frekuensi 50 Hz. Sistem tegangan ini sungguh sangat berbahaya bagi keselamatan manusia. Tidak dapat dipungkiri listrik sangat berguna bagi kehidupan. Manusia akan mengalami kesulitan hidup yang cukup serius manakala satu hari saja listrik di seluruh dunia ini harus dimatikan. Boleh dikatakan listrik merupakan kebutuhan primer kehidupan manusia, mengingat hampir semua kegiatan manusia membutuhkan listrik Sesuai dengan yang kita kenal listrik dibagi menjadi dua yaitu listrik arus AC dan DC. Namun, tidak banyak yang mengetahui pengertian dan perbedaannya. Secara umum, arus searah (DC) tidak terlalu berbahaya jika dibandingkan dengan arus bolak-balik (AC). Efek AC pada tubuh manusia sangat tergantung kepada kecepatan berubahnya arus (frekuensi), yang diukur dalam satuan siklus/detik (hertz). Arus frekuensi rendah (50-60 hertz) lebih berbahaya dari arus frekuensi tinggi dan 3-5 kali lebih berbahaya dari DC pada tegangan (voltase) dan kekuatan (ampere) yang sama. DC cenderung menyebabkan kontraksi otot yang kuat, yang seringkali mendorong jauh/melempar korbannya dari sumber arus. AC sebesar 60 hertz menyebabkan otot terpaku pada posisinya, sehingga korban tidak dapat melepaskan genggamannya pada sumber listrik. Akibatnya korban terkena sengatan listrik lebih lama sehingga terjadi luka bakar yang berat. Biasanya semakin tinggi tegangan dan kekuatannya, maka semakin besar kerusakan yang ditimbulkan oleh Kedua jenis arus listrik tersebut. Kekuatan arus listrik diukur dalam ampere. 1 miliampere (mA) sama dengan 1/1,000 ampere. Pada arus serendah 60-100 mA dengan tegangan rendah (110-220 volt), AC 60 hertz yang mengalir melalui dada dalam waktu sepersekian detik bisa menyebabkan irama jantung yang tidak beraturan, yang bisa berakibat fatal.

Keselamatan dan Kesehatan Kerja Bidang Kelistrikan

xi

Efek yang sama ditimbulkan oleh DC sebesar 300-500 mA. Jika arus langsung mengalir ke jantung, misalnya melalui sebuah pacemaker, maka bisa terjadi gangguan irama jantung meskipun arus listriknya jauh lebih rendah (kurang dari 1 mA). Akibat fatal dari sengatan listrik adalah kematian atau biasa disebut electrocution. Namun efek tidak fatal dari senggatan listrik (electric shock) juga cukup bervariasi. Beberapa indikasi sengatan listrik 1. Efek pada jantung (Cardiac) Arus AC 5A dapat menyebabkan asystole. Efek lainnya adalah rusaknya pembuluh jantung (myocardial). 2. Efek pada otot tulang Arus listrik lebih dari 15 -20 mA memunculkan gejala kontraksi yang hebat (tetanic contraction) yang menyebabkan tubuh sulit melepaskan diri darri sumber listrik mengakibatkan sindrome pelepasan lengan dan tulang belakang jika sengatan listrik mengenai lengan. 3. cedera otot Thrombosis dan occlusion yang menghasilkan ischaemia dan necrosis Yang terjadi pada lengan mengakibatkan kerusakan otot dan memerlukan amputasi. 4. Cedera susunan syaraf (Neurological injuries) Dapat terjadi kerusakan terpusat atau sebagian dan seketika maupun jangka panjang. Jika sengatan listrik melewati kedua bahu, maka kerusakaan sumsum tulang belakang dapat terjadi. Sementara sengatan listrik pada bagian kepala menyebabkan gangguan pada sistem pernafasan, dan pengaruh jangka panjangnya seperti epilepsy, encephalopathy, dan Parkinsonism. Efek lain dari sengatan listrik juga mengakibatkan gagal ginjal, pecahnya gendang telinga (tegangan tinggi), katarak.

C. Faktor yang Menentukan Efek Arus Listrik Terhadap Tubuh Manusia


Suatu kecelakaan sering terjadi yang diakibatkan oleh lebih dari satu sebab. Kecelakaan dapat dicegah dengan menghilangkan halhal yang menyebabkan kecelakan tersebut. Ada dua sebab utama terjadinya suatu kecelakaan. Pertama, tindakan yang tidak aman. Kedua, kondisi kerja yang tidak aman. Orang yang mendapat kecelakaan luka-luka sering kali disebabkan oleh orang lain atau karena tindakannya sendiri yang tidak menunjang keamanan. Berikut beberapa contoh tindakan yang tidak aman, antara lain:

Keselamatan dan Kesehatan Kerja Bidang Kelistrikan

xii

a) Memakai peralatan tanpa menerima pelatihan yang tepat b) Memakai alat atau peralatan dengan cara yang salah c) Tanpa memakai perlengkapan alat pelindung, seperti kacamata pengaman, sarung tangan atau pelindung kepala jika pekerjaan tersebut memerlukannya d) Bersendang gurau, tidak konsentrasi, bermain-main dengan teman sekerja atau alat perlengkapan lainnya. e) Sikap tergesa-gesa dalam melakukan pekerjaan dan membawa barang berbahaya di tenpat kerja f) Membuat gangguan atau mencegah orang lain dari pekerjaannya atau mengizinkan orang lain mengambil alih pekerjaannya, padahal orang tersebut belum mengetahui pekerjaan tersebut. Di sisi lain, kecelakaan sering terjadi akibat kondisi kerja yang tidak aman. Berikut ini beberapa contoh yang menggambarkan kondisi kerja tidak aman, antara lain :tidak ada instruksi tentang metode yang aman, tidak ada atau kurangnya pelatihan si pekerja, memakai pakaian yang tidak cocok untuk mengerjakan tugas pekerjaan tersebut, menderita cacat jasmani, penglihatan kabur, pendengarannya kurang, mempunyai rambut panjang yang mengganggu di dalam melakukan pekerjaan dan system penerangan ruang yang tidak mendukung.

BEKERJA YANG BERHUBUNGAN DENGAN LISTRIK. 1. Untuk lokasi-lokasi kerja tertentu (daerah terbuka dan daerah ketinggian) harus dilengkapi dengan penangkal petir 2. Pada saat bekerja, instalatir listrik harus memastikan tangan dan kakai pada kondisi kering. 3. Setiap pekerja harus menggunakan sepatu dari bahan karet atau berisolasi, tidak boleh telanjang kaki. 4. Setiap peralatan listrik yang mengandung voltage tinggi, harus diberi tanda bahaya. 5. Pastikan setiap kabel yang terkelupas harus segera ditutup dengan bahan isolator.

Keselamatan dan Kesehatan Kerja Bidang Kelistrikan

xiii

6. Pastikan bahwa sistem pentanahan untuk panel atau listrik yang dipakai untuk bekerja sudah terpasang dengan baik. 7. Pemeriksaan berkala terhadap panel atau kotak listrik harus dilakukan oleh petugas yang

berkompeten. 8. Jaringan atau instalasi listrik harus ditempatkan dan diatur sedemikian rupa untuk menghindari terjadinya kecelakaan akibat listrik. 9. Ukuran dan kualitas kabel harus sesuai dengan tingkat keperluannya.

Arus listrik bisa menyebabkan terjadinya cedera melalui 3 cara: 1. 2. 3. Henti jantung (cardiac arrest) akibat efek listrik terhadap jantung. Perusakan otot, saraf dan jaringan oleh arus listrik yang melewati tubuh. Luka bakar termal akibat kontak dengan sumber listrik.

D. Lima langkah aman bekerja pada Instalasi Listrik


Langkah -langkah yang harus ditempuh oleh seorang instalatir antara lain : A. Buat denah ruangan (seperti gambar 4.1). Penggunaan masing-masing ruangan dinyatakan dalam seperti : satu ruang tamu dan teras, 3 kamar tidur, sebuah ruang makan, dapur, kamar mandi, dan sebuah gudang. Tentukan letak perlengkapan hubung bagi. PHB utama harus dipasang di tempat yang mudah dicapai dari jalan masuk rumah (biasanya di gang atau serambi), dan tempatnya harus cukup bebas. Karena instalasinya kecil, sehingga hanya ada satu PHB yang ditempatkan di gudang (sesuai pasal 602 sub B). B. Menentukan jumlah kotak-kontak dinding, seperti tertera pada denah gambar bangunan. C. Menempatkan kotak -kontak dinding sesuai dengan ketentuan yang berlaku, seperti ayat 840 C5 menyatakan bahwa kotak -kontak dinding yang dipasang kurang dari 1,25 m dari lantai haus diberi tutup pengaman. Membuat pentanahan kotak-kontak dinding. Karena lantainya dibuat dari kayu yang tidak menghantarkan listrik, kotakkontak dinding di kamar tidur dan gudang tidak perlu ditanahkan, tetapi di ruangan dapur yang terdapat saluran air harus digunakan kontak pengaman. D. Setelah semua komponen perlengkapan yang akan dipasang sudah ditentukan,
Keselamatan dan Kesehatan Kerja Bidang Kelistrikan xiv

gambar instalasinya (seperti dijelaskan pada gambar 4.2. )

E.

Setelah gambar rencana instalasi sudah dibuat, maka buat juga diagram instalasi

dan rekapitulasi daya yang dibutuhkan (seperti dijelaskan pada gambar 4.3).

Luas penampang hantaran hubung antara kotak meter PLN dengan perlengkapan hubung bagi utama dari instalasi minimal 4 mm2.

Adapun Sumber lain :


1. Semua bagian instalasi yang terbuat dari logam (bukan instalasi listrik), harus dibumikan/ditanahkan dengan baik sehingga potensiaInya selalu sama dengan bumi dan tidak akan timbul tegangan sentuh yang membahayakan manusia. Bagian instalasi yang dimaksud dalam butir ini, misalnya: lemari panel dan pipa-pipa dari logam; 2. Titik-titik pentanahan atau pembumian harus selalu dijaga agar tidak rusak sehingga pentanahan atau pembumian yang tersebut dalam butir 1 di atas berlangsung dengan baik;

Keselamatan dan Kesehatan Kerja Bidang Kelistrikan

xv

3. Peredam las listrik yang dilakukan pada instalasi yang terbuat dari logam, misalnya: instalasi ketel uap PLTU, harus menggunakan tegangan yang cukup rendah sehingga tidak timbul tegangan sentuh yang membahayakan; 4. Bagian dari instalasi yang bertegangan, khususnya tegangan tinggi, harus dibuat sedemikian hingga tidak mudah disentuh orang; 5. Dalam melaksanakan pekerjaan di instalasi tegangan tinggi, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan: a. Jangan sekali-kali membuka sakelar pemisah (PMS) yang masih dilalui arus, karena hal ini dapat menimbulkan ledakan yang berbahaya. Untuk mencegah terjadinya hal ini, terlebih dahulu pemutus tenaga (PMT) harus dibuka agar tidak ada lagi arus yang melalui PMS bersangkutan. Instalasi yang baru (mutakhir) menggunakan sistem interlock di mana artinya PMS tidak dapat dibuka atau ditutup sebelum PMT dibuka atau ditutup terlebih dahulu. Bila tidak ada sistem interlock, maka bekerja dalam instalasi seperti itu perlu ekstra hati-hati di mana harus ada dua orang yang bekerja; seorang yang melakukan pembukaan atau, pemasukan PMS dan PMT, seorang lagi yang mengamati bahwa pelaksanaan pekerjaan ini tidak keliru; b. Bagian instalasi yang telah dibebaskan tegangannya dan akan disentuh, harus ditanahkan atau dibumikan terlebih dahulu; c. Jika pelaksanaan pekerjaan menyangkut beberapa orang, maka pembagian tanggung jawab harus jelas; d. Harus ada tanda pemberitahuan yang jelas bahwa sedang ada pekerjaan pemeliharaan sehingga tidak ada orang yang memasukkan PMT; e. Jika akan dilakukan pekerjaan di sisi sekunder transformator arus, misaInya untuk mengecek alat ukur atau mengecek relai, jangan lupa menghubung-singkatkan sisi sekunder transformator arus tersebut terlebih dahulu untuk mencegah timbulnya tegangan tinggi.

E. Langkah-Langkah / prosedur / Pedoman Pemberian Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) Untuk Bidang Pekerjaan Kelistrikan
Prosedur Pertolongan untuk Korban Sengatan Listrik Jika ada orang yang tersengat listrik, segera hubungi pertolongan medis jika tanda-tanda atau gejala-gejala di bawah ini tampak pada korban:
Keselamatan dan Kesehatan Kerja Bidang Kelistrikan xvi

Serangan jantung Masalah pada irama jantung (arrhythmias) Kegagalan bernafas Sakit dan kontraksi pada otot Epilepsi/ayan Kesemutan dan rasa geli Tidak sadar/pingsan Sementara menunggu korban pertolongan akan datang, ikuti anda langkah-langkah korban ini:

1. Lihat dulu! Jangan sentuh! Tubuh korban mungkin masih teraliri listrik. Menyentuh menjadikan berikutnya. 2. Jika mungkin, matikan sumber listriknya dulu. Jika tidak bisa, jauhkan sumber listrik dari korban dan penolong dengan menggunakan benda-benda non konduktif, misalnya kayu atau plastik (pastikan benda-benda tersebut dalam keadaan kering). 3. Cek tanda-tanda sirkulasi darah pada korban (pernafasan, batuk, atau gerakan tubuh). Jika tidak ada, segera mulai lakukan CPR (Cardiopulmonary Resuscitation). yaitu suatu teknik menyelamatkan nyawa yang digunakan ketika pernafasan atau detak jantung seseorang terhenti baik dengan cara memompa jantung atau dengan napas buatan. 4. Cegah shock, Baringkan korban dan jika mungkin posisikan kepala korban sedikit lebih rendah dari pinggang, dan naikkan kakinya.

PENCEGAHAN :

Jauhkan kabel listrik dari jangkauan anak-anak Gunakan pengaman pada colokan listrik Ajarkan kepada anak-anak mengenai bahaya dari listrik Ikuti petunjuk pabrik jika menggunakan alat-alat elektronik Hindari pemakaian alat listrik pada keadaan basah Jangan pernah menyentuh alat listrik ketika sedang memegang keran atau pipa air

Keselamatan dan Kesehatan Kerja Bidang Kelistrikan

xvii

Untuk menghindari sambaran petir sebaiknya tidak berada di tempat terbuka (lapangan) dan segera mencari tempat perlindungan selama pelindung yang hujan turun (tetapi jangan berada dibawah pohon atau akan lebih aman. Tersetrum terjadi bila seseorang memegang alat elektronik atau kabel listrik

terbuat dari logam). Segera tinggalkan kolam renang, berada di dalam mobil

yang rusak, bila sudah terjadi begitu otot-otot tangan tidak bisa lagi melepas benda yang menyebabkan penderita tersetrum. Bila Anda memegang penderita tanpa sebelumnya mematikan aliran listrik maka Anda akan terkena strum. Tindakan yang dapat Anda lakukan: 1. Segera matikan aliran listrik. Cabut steker. Atau matikan sikring pusat. 2. Jauhkan penderita dari sumber listrik. Untuk dapat memegang penderita tanpa kesetrum anda memerlukan benda yang tidak bisa mengantarkan listrik. Gunakan misalnya, sarung tangan karet yang kering (air juga dapat mengantarkan listrik !!), atau tongkat sapu. (lihat gbr disamping). 3. Periksa apakah penderita masih bernapas dengan normal. Bila tidak lakukan pernapasan mulut. 4. Bila penderita masih bernapas dengan normal baringkan dengan posisi sisi mantap . Yaitu miringkan penderita ke sisi kanan, tangan kiri penderita letakkan di pipi kanan.Hal ini dilakukan supaya penderita bisa bernapas spontan (tidak tertutup oleh lidah ). 5. Hubungi segera dokter atau ambulans 6. Letakkan kain atau pakaian yang kering dan tidak berbulu pada permukaan luka. Pengobatan bagi orang yang terkena cedera akibat listrik yaitu terdiri dari : 1. menjauhkan/memisahkan korban dari sumber listrik.
Keselamatan dan Kesehatan Kerja Bidang Kelistrikan xviii

2. memulihkan denyut jantung dan fungsi pernafasan melalui resusitasi jantung paru (jika diperlukan). 3. mengobati luka bakar dan cedera lainnya.

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan
Sebagai suatu sistem program yang dibuat bagi pekerja maupun pengusaha, kesehatan dan keselamatan kerja di bidang kelistrikan diharapkan dapat menjadi upaya preventif terhadap timbulnya kecelakaan kerja dan penyakit akibat hubungan kerja dengan listrik dalam lingkungan kerja. Pelaksanaan K3 diawali dengan cara mengenali hal-hal yang berpotensi menimbulkan kecelakaan kerja dan penyakit akibat hubungan kerja, dan tindakan antisipatif bila terjadi hal demikian. Tujuan dari dibuatnya sistem ini adalah untuk mengurangi biaya perusahaan apabila timbul kecelakaan kerja dan penyakit akibat hubungan kerja terutama dalam bidang kelistrikan.

Keselamatan dan Kesehatan Kerja Bidang Kelistrikan

xix

Peran tenaga kesehatan dalam menangani korban kecelakaan kerja dalam bidang kelistrikan adalah menjadi melalui pencegahan sekunder ini dilaksanakan melalui pemeriksaan kesehatan pekerja yang meliputi pemeriksaan awal, pemeriksaan berkala dan pemeriksaan khusus. Untuk mencegah terjadinya kecelakaan dan sakit pada tempat kerja dapat dilakukan dengan penyuluhan tentang kesehatan dan keselamatan kerja.

B. Saran
Kesehatan dan keselamatan kerja dalam bidang kelistrikan sangat penting dalam pembangunan karena sakit dan kecelakaan kerja akan menimbulkan kerugian ekonomi (lost benefit) suatu perusahaan atau negara olehnya itu kesehatan dan keselamatan kerja di bidang kelistrikan harus dikelola secara maksimal bukan saja oleh tenaga kesehatan tetapi seluruh masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA
http://arsvida.wordpress.com/2009/02/19/kesetrum-sengatan-listrik/ http://qodirnet.blogspot.com/2009/12/efek-sengatan-listrik.html http://fitzania.com/dampak-radiasi-arus-listrik-terhadap-kesehatan/] http://instalasilistrik.net/efek-bahaya-arus-listrik/ http://royers.wordpress.com/tag/bahaya-listrik/ http://deelectrical.wordpress.com/category/dasar-dasar-kelistrikan/ http://sutanrajodilangik.wordpress.com/2007/11/23/pertolongan-pertama-padakecelakaan/ http://dasetia.blogspot.com/2010/03/keselamatan-dan-kesehatan-kerja-di.html

Keselamatan dan Kesehatan Kerja Bidang Kelistrikan

xx

Keselamatan dan Kesehatan Kerja Bidang Kelistrikan

xxi