Anda di halaman 1dari 4

1. PENGERTIAN FILSAFAT a.

Pengertian Filsafat dari Segi Bahasa Kata filsafat berasa dari bahasa Arab yang berhubungan rapat dengan bahasa Yunani yaitu philosophia. Dalam bahasa Yunani kata philosophia merupakan kata majemuk yang terdiri dari kata philo dan shophia; philo artinya cinta dalam arti yang luas, yaitu ingin, dan karena itu lalu berusaha mencapai yang diinginkannya itu; Sophia artinya kebijakan yang artinya pandai, pengertian yang mendalam. Jadi, menurut namanya saja filsafat boleh diartikan ingin mencapai pandai, cinta pada kebijakan (Poedjawinata 1974:1 dalam Tafsir:9). Jadi dari segi bahasa filsafat dapat diartikan sebagi keinginan yang mendalam untuk menjadi bijak. b. Pengertian Filsafat dari Segi Terminologi atau Istilah Plato menyatakan bahwa fisafat adalah pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran asli (Tafsir: 10). Aristoteles berpendapat bahwa filsafat adalah pengetahuan yang meliputi kebenaran yang tergabung di dalamnya metafisika, logika, retorika, ekonomi, politik, dan estetika (Tafsir: 10). Al-Farabi mengatakan bahwa filsafat adalah pengetahuan tentang alam ujud bagaimana hakikatnya yang sebenarnya (Tafsir: 10). Phytagoras orang yang mula- mula menggunakan kata filsafat, menggunakan definisi filsafat sebagai the love of wisdom. Menurut Phytagoras, manusia yang paling tinggi nilainya ialah manusia pecinta kebijakan (lover of wisdom), sedangkan yang dimaksudnya dengan wisdom ialah kegiatan melakukan perenungan tentang Tuhan. Ia membagi kualitas manusia menjadi tiga tingkatan: lovers of wisdom, lovers of success dan lovers of pleasure (Mayer, 1950:26 dalam Tafsir: 10) Poedjawinata (1974:11) mendefinisikan filsafat sebagai sejenis pengetahuan yang berusaha mencari sebab yang sedalam- dalamnya bagi sesuatu berdasarkan pikiran belaka.(Poedjawinata 1974: 11 dalam Tafsir:10) Hasbullah Bakry (1971:11) mengatakan bahwa filsafat adalah pengetahuan yang menyelidiki segala sesuatu secara mendalam tentang ketuhanan, alam semesta, dan manusia sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakikatnya sejauh yang dapat dicapai akal manusia dan bagaimana sikap manusia itu seharusnya setelah mencapai pengetahuan itu. (Hasbullah Bakry 1971:11 dalam Tafsir 10) Immanuel Kant mendefinisikan filsafat sebagai pengetahuan yang menjadi pokok pangkal segala pengetahuan yang di dalamnya tercakup empat persoalan: Apa yang dapat diketahui? (Jawabannya :Metafisika). Apa yang seharusnya diketahuai? (Jawabannya: Etika) Sampai dimana harapan kita?(Jawabannya: Agama)

Apa itu manusia?(Jawabannya: Antropologi).(Bakry, 1971:11 dalam Tafsir :11). Betrand Russel mendefinisikan filsafat sebagai the attempt to answer ultimate question critically (Park, 1960:3 dalam Tafsir 11) Filsafat adalah pemikiran teoritis tentang susunan kenyataan sebagai keseluruhan.(Mulder, 1966:10 dalam Tafsir 11). William james mendefinisikan filsafat sebagai a collective name for question which have not been answered to the statisfaction of all that have asked them (Encyclopedia of Philosophy,1967:219 dalam Tafsir:11) 2. KARAKTERISTIK FILSAFAT a. Menyeluruh, seorang filosof tidak puas lagi mengenal suatu ilmu hanya dari segi pandang atau disiplin ilmu itu sendiri. Dia ingin melihat hakikat ilmu dalam konstelasi pengetahuan yang lainnnya. Dia ingin tahu kaitan ilmu dengan moral, kaitan ilmu dengan agama, dia ingin mengetahuai kebenaran ilmu itu dan apakan ilmu itu membawa kebahagiaan terhadap dirinya ataukah tidak. b. Mendasar, seorang filosof tidak percaya lagi bahwa ilmu itu benar. Mengapa ilmuitu disebut benar?,lalu benar sendiri itu apa? Pertanyaan itu akan terus beruntun keluar seperti sebuah lingkaran, dan kita harus memulai dari satu titik sebagai awal dan akhir. Dan bagaimana menentukan titik awal yang benar?. Begitulah cara orang berfikir filsafati. c. Spekulatif, menyusuri sebuah lingkaran ilmu harus dimulai dari satu titik, dan tidak dapat diyakini manakah titik yang benar dalam memulai ilmu itu, kebenaran ilmu itu hanya sebuah spekulasi, yang dipikirkan tanpa bukti empiris. Yang terpenting dalam spekulasi ini adalah dalam prosesnya, baik dalam analisis maupun pembuktiannya harus dapat memisahkan manakah spekulasi yang dapat diandalkan. Semua pengetahuan yang ada dimulai dari serangkaian spekulasi. Dari serangkaian spekulasi dapat dipilih buah buah pikiran yang dapat diandalkan yang merupakan titik awal dari penjelajahan pengetahuan. Tanpa menetapkan criteria tentang apa yang disebut benar atau salah maka tidak mungkin pengetahuan lain berkembang di atas kebenaran. Tanpa menetapkan apa yang disebut baik atau buruk maka kita tidak mungki berbicara tentang moral. Demikian juga tentang wawasan apa yang disebut indah atau jelek tidak mungkin kita berbicara tentang seni.

3. BIDANG TELAAH / OBJEK FILSAFAT Objek yang dipikirkan oleh filsafat adalah segala ada dan yang mungkin ada, jadi objeknya luas sekali. Objek yang dipelajari filsafat ini disebut objek materia, yaitu segala sesuatu dan yang mungkin terjadi tadi. Tentang objek materia ini banyak kesamaan dengan objek yang dipelajari sains. Bedanya dalam dua hal yaitu. Pertama, sains menyelidiki objek yang empiris; filsafat mempelajari objek itu juga, tetapi bukan bagian yang empiris, melainkan bagian yang abstraknya. Kedua,ada objek material filsafat

yang memang tidak dapat diteliti oleh sains, seperti Tuhan, hari akhir, yaitu objek material yang selamalamanyatidak empiris. Jadi objek materia filsafat tetap saja lebih luas dari objek materia sains. Selain objek materia, ada objekforma, yaitu sifat penyelidikan. Objek forma filsafat adalah penyelidikan yang mendalam. Kata mendalam artinya ingin tahu tentang objek dari hal yang tidak empirisnya. Objek penelitian filsafat adalah pada daerah yang tidak dapat diriset, tetapi dapat dipikirkan secara logis. Jawaban- jawaban atas suatu pertanyaan hanya berdasarkan pemikiran yang logis, tanpa dukungan fakta empiris, berfikir tanpa dukungan fakta empiris inilah yang disebut berfikir spekulatif, dan inilah yang disebut filsafat. Selaras dengan dasar filsafat ini sendiri yang spekulatif, filsafat ini menelaah segala masalah yang mungkin dapat dipikirkan oleh manusia. Filsafat mempermasalahkan hal- hal yang pokok: terjawab suatu masalah, maka filsafat akan merambah pertanyaan lain seiring dengan erkembangan zaman. 4. BATAS DAN RELATIVITAS FILSAFAT 5. PENGERTIAN KEINDAHAN 6. ESTETIKA KEINDAHAN DAN SENI 7. SENSIBILITAS / PERASAAN KEIINDAHAN

DAFTAR PUSTAKA Suriasumantri, Jujun S. 2003, FILSAFAT ILMU Sebuah Pengantar populer, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan Tafsir, ahmad. 2002, FILSAFAT ILMU Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Chapra, Bandung: Rosda