Anda di halaman 1dari 13

Materi Sub materi

: Proses Memimpin : Mengawasi

Fungsi dari pengawasan merupakan fungsi pimpinan yang berhubungan dengan usaha menyelamatkan jalannya perusahaan kearah pulau cita-cita yakni kepada tujuan yang telah direncanakan. Melakukan suatu tugas, hanya mungkin dengan baik bila seseorang yang melaksanakan tugas itu mengerti arti dan tujuan dari tugas yang dilaksanakan. Demikian pun seorang pemimpin yang melakukan tugas pengawasan, haruslah sunguh-sungguh mengerti arti dan tuuan daripada pelaksanaan tugas pengawasan. Untuk menciptakan keberhasilan kerja seorang karyawan, seorang pimpinan harus melakukan suatu langkah manajemen agar tujuan organisasi dapat tercapai. Salah satu langkah tersebut adalah melakukan pengawasan terhadap segala sesuatu pekerjaan yang dilakukan seorang karyawan. Pengawasan menjadi suatu unsur yang terpenting dalam pembinaan individu didalam organisasi, karena pengawasan merupakan tenaga penggerak bagi para bawahan atau karyawan agar dapat bertindak sesuai dengan apa yang telah direncanakan menurut aturan yang berlaku. Pengawasan juga merupakan kewajiban setiap atasan untuk mengawasi bawahannya yang bersifat preventif dan pembinaan. Dengan adanya pengawasan pimpinan dapat mengetahui kegiatan-kegiatan nyata dari setiap aspek dan setiap permasalahan pelaksanaan tugas-tugas dalam lingkungan satuan organisasi yang masing-masing selanjutnya bilamana terjadi penyimpangan, maka dapat dengan segera langsung mengambil langkah perbaikan dan tindakan seperlunya sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya serta peraturan perundang-undangan yang berlaku. Tugas seorang pemimpin untuk mengawasi para karyawan yang ada dalam lingkup organisasinya dalam proses pelaksanaan pekerjaan maupun faktor-faktor yang ada dalam setiap diri individu karyawan yang menyebabkan karyawan tersebut giat dan mempunyai disiplin yang tinggi dalam bekerja. Organisasi yang baik memiliki struktur organisasi dan tugas yang jelas, sehingga fungsi pengawasan yang menjadi tugas para pimpinan dapat dengan mudah dilaksanakan. Terjadinya penyimpangan mengakibatkan hasil kerja menurun karena itu setiap kegiatan yang sedang berlangsung dalam

organisasi haruslah berdasarkan fungsi-fungsi manajemen, dimana salah satu diantaranya adalah fungsi pengawasan agar tujuan organisasi dapat tercapai secara efesien dan efektif. Pelaksanaan kegiatan suatu organisasi tanpa adanya suatu pengawasan, dapat mengakibatkan secara otomatis disiplin kerja menurun dan akan berpengaruh langsung kepada kegiatan-kegiatan lainnya. Sehingga dapat menghambat proses kegiatan proses kegiatan suatu organisasi. Oleh karena itu dibutuhkan suatu sistem pengawasan yang efektif sehingga diharapkan dapat menghasilkan dampak yang positif untuk perkembangan organisasi tersebut.

A. Pengertian Pengawasan Suatu sistem pengawasan yang baik sangat penting dan berpengaruh dalam proses pelaksanaan kegiatan, baik dalam organisasi pemerintah maupun swasta. Karena tujuan pengawasan adalah mengamati apa yang sebenarnya terjadi dan membandingkan dengan apa yang seharusnya terjadi dengan maksud untuk secepatnya melaporkan penyimpangan atau hambatan kepada pimpinan yang bersangkutan agar diambil tindakan korektif yang perlu. Secara umum pengawasan dapat diartikan sebagai perbuatan untuk melihat dan memonitor terhadap orang agar sesuai dengan kehendak yang telah ditentukan sebelumnya. Menurut Manullang (2002 : 173), pengawasan adalah suatu proses untuk menetapkan pekerjaan apa yang sudah dilaksanakan, menilainya dan mengoreksi bila perlu dengan maksud supaya pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan rencana-rencana semula. Herujito (2001 : 242) pengawasan ialah mengamati dan mengalokasikan dengan tepat penyimpangan-penyimpangan yang terjadi. Henry Fayol, sebagaimana dikutip oleh Harahap (2001 : 10) mengatakan bahwa pengawasan mencakup upaya memeriksa apakah semua terjadi sesuai dengan rencana yang ditetapkan, perintah yang dikeluarkan dan prinsip yang dianut juga dimaksudkan untuk mengetahui kelemahan dan kesalahan agar dapat dihindari kejadiannya dikemudian hari. Robert J. Mocklear (dalam Handoko, 1994:360-361). Mendefinisikan

pengawasan sebagai usaha sistematik untuk menetapkan standar pelaksanaan dengan

tujuan-tujuan perencanaan, merancang sistem informasi, umpan balik, membandingkan kegiatan nyata dengan standar yang telah ditetapkan sebelumnya, menentukan dan mengukur penyimpangan-penyimpangan serta mengambil tindakan koreksi yang diperlukan guna menjamin bahwa semua unsur sumber daya organisasi digunakan dengan cara paling efektif dan efisien dalam pencapain tujuan organisasi. Dari pendapat diatas dapat dikatakan bahwa pengawasan merupakan tugas serta tanggung jawab dari pimpinan untuk melakukan penelitian atau pengkajian ulang terhadap bawahan ataupun organisasi yang dipimpinnya. Dengan demikian apa bila terjadi penyimpangan atau penyelewengan maka pimpinan dapat segera mengambil langkah penertiban, penyempurnaan, perbaikan demi menjamin kegiatan tetapi sesuai dengan rencana yang telah ditentukan sebelumnya. Pada dasarnya pengawasan merupakan kegiatan yang dapat dilakukan setiap saat baik selama proses manajemen berlangsung maupun setelah berakhir untuk mengetahui tingkat pencapaian tujuan organisasi. Kegiatan pengawasan dimaksudkan untuk mencegah atau untuk

memperbaiki kesalahan, penyimpangan, ketidaksesuaian, penyelewengan dan lainnya yang tidak sesuai dengan tugas dan wewenang yang telah ditentukan. Jadi maksud pengawasan bukan mencari kesalahan terhadap orangnya tetapi mencari kebenaran terhadap hasil pelaksanaan pekerjaannya.

B. Prinsip-prinsip Pengawasan. Untuk mendapatkan suatu sistem pengawasan yang efektif, maka perlu dipenuhi beberapa prinsip pengawasan. Dua prinsip pokok bagi suatu sistem pengawasan yang efektif ialah adanya rencana tertentu dan adanya pemberian instruksi-instruksi, serta wewenang-wewenang kepada bawahan. Prinsip pokok pertama merupakan suatu keharusan, rencana itu merupakan standar atau alat pengukur daripada pekerjaan yang dilaksanakan oleh bawahan. Rencana tersebut menjadi penunjuk apakah suatu pelaksanaan pekerjaan berhasil atau tidak. Demikian pun, prinsip pokok kedua merupakan suatu keharusan yang perlu ada, agar sistem pengawasan itu memang benarbenar dapat efektif dilaksanakan. Wewenang dan instruksi-instruksi yang jelas harus dapat diberikan kepada bawahan, karena berdasarkan itulah dapat diketahui apakah

bawahan sudah menjalankan tugas tugasnya dengan baik. Atas dasar instruksi yang diberikan kepada bawahan, pekerjaan seorang bawahan dapat diawasi. Selain kedua prinsip pokok diatas, maka suatu sistem pengawasan haruslah pula mengandung prinsip-prinsip berikut: 1) Dapat mereflektir sifat-sifat dan kebutuhan kebutuhan dari kegiatan-kegiatan yang harus diawasi. 2) Dapat dengan segera melaporkan penyimpangan-penyimpangan. 3) Fleksibel. 4) Dapat mereflektir pola organisasi. 5) Ekonomis. 6) Dapat dimengerti. 7) Dapat menjamin diadakannya tindakan korektif. Masing-masing kegiatan membutuhkan sistem pengawasan tertentu yang berlainan dengan sistem pengawasan bagi kegiatan lain. Pengawasan dibidang produksi umumnya tertuju kepada kuantitas dan kualitas, sedang pengawasan dibidang penjualan tertuju kepada kualitas hasil yang terjual. Tujuan utama dari pengawasan ialah mengusahakan agar apa yang direncanakan menjadi kenyataan. Oleh karenanya, agar sistem pengawasan itu benar-benar efektif maka suatu sistem pengawasan setidaknya harus dapat dengan segera melaporkan adanya penyimpangan-penyimpangan dari rencana. Apa yang telah terjadi memang sukar untuk mengubahnya, tetapi apa yang akan terjadi dapat diarahkan ke tujuan tertentu. Oleh karena itulah, suatu sistem pengawasan yang efektif harus dapat segera melaporkan penyimpangan-penyimpangan, sehingga berdasarkan penyimpanganpenyimpangan itu dapat diambil tindakan untuk pelaksanaan selanjutnya agar pelaksanaan kesuluran benar benar dapat sesuai atau mendekati apa yang direncanakan sebelumnya. Mereka yang mengawasi kegiatan-kegiatan, haruslah memahami dan menguasai sistem pengawasan yang dianut oleh perusahaannya. Tanpa pengertian dan pemahaman yang demikian, sistem pengawasan yang diterapkannya tidaklah efektif. Tidak tepat misalnya bila seorang mandor yang tidak paham matematika mempergunakan sistem

pengawasan yang memakai rumusan-rumusan ilmu pasti. Suatu sistem pengawasan barulah dapat dikatakan efektif, bila dapat segera melaporkan kegiatan-kegiatan yang salah dimana kesalahan-kesalahan itu terjadi, dan siapa yang bertanggung jawab akan terjadinya kesalahan tersebut.

C. Jenis-jenis Pengawasan dalam Manajemen Fungsi pengawasan dalam manajemen mempunyai empat macam dasar penggolongan jenis pengawasan dalam manajemen, yakni : 1. Waktu Pengawasan Macam-macam pengawasan yang ada dalam waktu pengawasan ini antara lain : 1) Pengawasan Preventif, maksudnya yaitu pengawasan yang dilakukan sebelum terjadinya penyelewengan-penyelewengan, kesalahan-kesalahan atau deviation. 2) Pengawasan Represif, maksudnya yaitu pengawasan setelah rencana sudah dilakukan 2. Obyek Pengawasan Berdasarkan obyek pengawasan, pengawasan dapat dibedakan atas pengawasan di bidang-bidang sebagai berikut : 1) Produksi 2) Keuangan 3) Waktu dan 4) Manusia dengan kegiatan-kegiatannya. Menurut Beishline, pengawasan berdasarkan obyeknya dapat dibedakan atas: 1) Kontrol administratif, yakni berurusan baik dengan tindakan maupun fikiran. 2) Kontrol operatif, yakni untuk bagian terbesar berurusan dengan tindakan. Menurut William R. Spriegel, Administrative Control meliputi lima aktivitas, yaitu : 1) Production planning and control 2) Budgeting 3) Inspection and quality control 4) Standing orders, dan 5) Policies.

3.

Subyek Pengawasan Dalam subyek pengawasan, pengawasan dapat dibedakan atas :

1) Pengawasan intern (pengawasan vertikal atau formal), maksudnya pengawasan yang dilakukan oleh atasan dari petugas bersangkutan. Dan 2) Pengawasan ekstern (pengawasan sosial atau informal), bilamana orang-orang yang melakukan pengawasan itu adalah orang-orang diluar organisasi

bersangkutan. 4. Cara Mengumpulkan Fakta-fakta guna Pengawasan Dalam pengawasan ini dapat di golongkan atas : 1) Personal observation (Personal Inspection) 2) Oral report (laporan lisan) 3) Written report (laporan tertulis) 4) Control by expection. D. Ciri Ciri Pengawasan yang efektif Pelaksanaan pengawasan yang efektif merupakan salah satu refleksi dari efektivitas manajerial seorang pemimpin. Oleh karena itu tidaklah mengherankan bahwa setiap orang yang menduduki jabatan manjerial mulai dari manajer paling rendah hingga manajer puncak, selalu menginginkan agar baginya tersedia suatu sistem informasi yang handal agar pelaksanaan berbagai kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya benar-benar terlaksana sesuai dengan hal-hal yang telah ditetapkan dalam rencana. Bahkan dilihat dari segi pengawasan, sebagian besar kegiatan yang diselenggarakan oleh berbagai satuan kerja penunjang dalam organisasi sebenarnya dilakukan dalam rangka penyediaan informasi, seperti informasi keuangan, informasi kepegawaiaan, informasi logistik, informasi ketatausahaan dan lain sebagainya sebagai bahan untuk memperlancar jalannya pengawasan. Maka dalam hal ini pengawasan akan berlangsung dengan efektif apabila memiliki ciri-ciri sebagai berikut Siagian (1992 :175) : 1. Pengawasan harus merefleksikan sifat dari berbagai kegiatan yang diselenggarakan.

Yaitu bahwa teknik pengawasan harus sesuai antara lain dengan penemuan informasi tentang siapa yang melakukan pengawasan dan kegiatan apa yang menjadi sasaran pengawasan tersebut. 2. Pengawasan harus segera memberikan petunjuk tentang kemungkinan adanya deviasi dari rencana. Yaitu pengawasan harus mampu mendeteksi deviasi atau penyimpangan yang mungkin terjadi sebelum penyimpangan itu menjadi kenyataan. Usaha deteksi seperti itu harus dilakukan sedini mungkin dan informasi tentang hasil deteksi itu harus segera tiba ditangan manajer yang secara fungsional bertanggung jawab agar ia segera dapat mengambil tindakan pencegahannya. 3. Objektivitas dalam melakukan pengawasan. Salah satu komponen yang harus jelas terlihat dalam rencana ialah standar prestasi kerja yang diharapkan dipenuhi oleh para pelaksana kegiatan operasional. Standar demikian harus jelas terlihat bukan saja dalam prosedur dan mekanisme kerja, akan tetapi juga dalam rangka kriteria yang menggambarkan persyaratan kuantitatif dan kualitatif dan sedapat mungkin dinyatakan secara tertulis. Kriteria demikian lebih bermakna lagi apa bila para pelaksana mengetahui, memahami dan menerima kriteria itu. Dengan adanya kriteria tersebut, maka pengawasan dapat dilakukan dengan lebih objektif. 4. Keluwesan pengawasan. Hal ini berarti pengawasan harus tetap bisa berlangsung meskipun organisasi menghadapi perubahan karena timbulnya keadaan yang tidak diduga sebelumnya tau bahkan juga bila terjadi kegagalan atau perubahaan tersebut dan dengan demikian penyesuaian pengawasan. 5. Efisiensi pelaksanaan pengawasan. Pengawasan dilakukan supaya keseluruhan organisasi bekerja dengan tingkat efisiensi yang semakin tinggi. Hal ini berarti, setiap organisasi harus menciptakan satu sistem pengawasan yang sesuai dengan kebutuhan organisasi yang bersangkutan karena hanya dengan demikianlah efisiensi pengawasan dapat ditingkatkan. yang diperlukan dapat dilakukuan dalam pelaksanaan kegiatan

6.

Pengawasan mencari apa yang tidak beres. Teori pengawasan menonjolkan usaha peningkatan efisiensi dan efektivitas kerja

dengan menyoroti sistem kerja yang berlaku bagi orangisasi. Artinya yang menjadi sorotan utama adalah usaha mencari dan menemukan apa yang tidak beres dalam organisasi apalagi jika terjadi penyimpangan dari rencana yang telah ditetapkan sebelumnya. Dalam hal ini, pengawasan yang baik juga harus menemukan siap yang salah dan faktor-faktor apa yang menyebabkan terjadinya kesalahan tersebut. 7. Pengawasan harus bersifat membimbing. Jika telah ditemukan apa yang tidak beres dan siapa yang salah serta telah diketahui pula faktor-faktor penyebabnya, seorang manajer harus berani mengambil tindakan yang dipandang paling tepat, sehingga kesalahan yang diperbuat oleh bawahan tidak terulang kembali meskipun kecenderungan berbuat kesalahan yang lain tidak dapat dihilangkan sama sekali mengingat sifat manusia yang tidak sempurna itu. Bahkan pengenaan sanksi berupa hukuman pun bila diperlukan harus dilakukan sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku. Hanya saja dalam pengenaan sanksi, terutama yang bersifat puinitif, tetap harus membimbing, mendidik, objektif dan rasional serta didasarkan pada kriteria yang dipahami dan diterima oleh-oleh orang yang bersangkutan. Dalam hubungan ini harus ditekankan, bahwa tindakan pengenaan sanksi terhadap bawahan menuntut keteladanan pada diri manajer yang bersangkutan.

E. Sifat-Sifat pengawasan Pengawasan hendaknya jangan dianggap sebagai kegiatan untuk mencari kesalahan orang lain tetapi hendaknya dilaksanakan untuk mencari kebenaran dari hasil pelaksanaan kerja. Oleh karena itu, perlu diperhatikan sifat-sifat dari pengawasan. Menurut Siagian (1982 : 137), sifat-sifat pengawasan yang baik adalah sebagai berikut: 1) Pengawasan harus bersifat Fact Finding dalam arti bahwa pelaksanaan fungsi pengawasan harus menemukan fakta-fakta tentang bagaimana tugas dilaksanakan didalam organisasi. Terpaut dengan tugas tentunya ada faktor-faktor lain seperti faktor biaya, tenaga kerja, sistem dan prosedur kerja, struktur organisasi dan faktorfaktor psikologis seperti dihormati, dihargai kemajuan dalam karier dan sebagainya.

2) Pengawasan harus bersifat Preventif yang berarti bahwa proses pengawasan dijalankan untuk mencegah timbulnya penyelewengan -penyelewengan dari rencana yang ditentukan. 3) Pengawasan diarahkan untuk masa sekarang yang berarti bahwa pengawasan hanya ditujukan terhadap kegiatan -kegiatan yang kini dilaksanakan. 4) Pengawasan hanyalah sekedar alat untuk meningkatkan efisiensi, pengawasan tidak boleh dianggap tujuan. 5) Pengawasan hanyalah sekedar alat administrasi dan manajemen maka pelaksanaan pengawasan itu harus mempermudah pencapaian tujuan. 6) Proses pelaksanaan pengawasan harus efisiensi jangan sampai terjadi pengawasan yang menghambat usaha peningkatan efisiensi. 7) Pengawasan tidak dimaksudkan untuk menentukan siapa yang salah jika ada ketidakberesan akan tetapi untuk menemukan apa yang tidak benar. 8) Pengawasan harus bersifat membimbing agar supaya pelaksanaan meningkatkan kemampuannya untuk melaksanakan tugas yang ditentukan kepadanya. Sifat-sifat pengawasan diatas dapat juga digunakan sebagai dasar penyusunan rencana dan pelaksanaan pengawasan agar rencana dan penyusunan rencana efektif harus diketahui terlebih dahulu siapa dan apa saja subjek serta objek dari pengawasan.

F. Fungsi-Fungsi Pengawasan 1) Penetapan standar pelaksana. 2) Penentuan ukuran-ukuran pelaksana. 3) Pengukuran pelaksanaan nyata dan membandingkan dengan standar yang telah ditetapkan. 4) Mengambil tindakan koreksi yang diperlukan bila pelaksanaan menyimpang dari standar.

G. Sasaran dan Sarana Pengawasan Pengawasan dimaksudkan untuk mencegah ataupun untuk memperbaiki kesalahan, penyimpangan, ketidaksesuaian dan penyelesaian lainnya yang tidak sesuai

dengan tugas dan wewenang yang telah ditentukan. Sasaran pengawasan ini dilakukan untuk: a. Mempertebal rasa tanggung jawab terhadap pimpinan yang diserahi tugas dan wewenang dalam melaksanakan pekerjaan. b. Mendidik para pegawai agar mereka melaksanakan pekerjaannya sesuai dengan prosedur yang telah ditentukan. c. mencegah terjadinya penyimpangan, kelainan dan kelemahan agar tidak terjadi kerugian yang tidak diinginkan. d. memperbaiki kesalahan dan penyelewengan, agar pelaksanaan pekerjaan tidak mengalami hambatan-hambatan dan pemborosan. e. Melalui pengawasan tugas-tugas yang telah ditentukan sungguh-sungguh

dilaksanakan sesuai dengan pola-pola yang telah digariskan dalam rencana. Adapun sarana pengawasan itu yakni, adanya struktur organisasi yang jelas, pelaksanaan yang bijaksana, perencanaan kerja yang telah tersusun, prosedur kerja, pencatatan dan hasil kerja, serta pembinaan personil.

H. Tujuan Pengawasan a. b. Untuk mengetahui jalannya pekerjaan apakah lancar atau tidak Untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh pegawai dan mengusahakan pencegahan agar supaya tidak terulang kesalahan yang sama atau timbulnya kesalahan-kesalahan yang baru. c. Untuk mengetahui apakah penggunaan budget yang telah ditetapkan dalam perencanaan terarah pada sasarannya dan sesuai dengan yang telah ditentukan d. Untuk mengetahui apakah biaya sesuai dengan program ( tingkat pelaksanaan ) seperti yang telah ditetapkan dalam rencana e. Untuk mengetahui hasil pekerjaan dengan dibandingkan dengan yang telah ditetapkan dalam rencana f. Untuk mengetahui apakah pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan prosedur dan kebijaksanaan yang telah ditetapkan

Dengan demikian maksud dan tujuan pengawasan adalah untuk memperbaiki atau mencegah adanya kesalahan, penyimpangan-penyimpangan atau penyelewengan dalam pelaksanaan pekerjaan yang tidak sesuai dengan apa yang telah ditetapkan dan untuk menghindari kerugian-kerugian yang dilakukan sejak suatu pekerjaan dimulai, sedang dikerjakan maupun setelah selesai pekerjaan dilakukan. I. Cara-cara Mengawasi. Agar pengawasan yang dilakukan seorang atasan efektif, maka haruslah terkumpul fakta-fakta ditangan pemimpin yang bersangkutan. Ada beberapa cara untuk mengumpulkan fakta-fakta yaitu, 1) Peninjauan pribadi (personal inspection, personal observation),adalah mengawasi dengan jalanmeninjau secara pribadi sehingga dapat dilihat sendiri pelaksanaan pekerjaan. 2) Interview atau lisan (pengawasan melalui laporan lisan), ialah pengawasan melalui orang report. 3) Pengawasan melalui laporan tertulis (Written report), laporan tertulis merupakan suatu pertanggung jawaban kepada atasannya mengenai pekerjaan yang dilaksanakannya, sesuai dengan instruksi dan tugas-tugas yang diberikan oleh atasannya kepadanya. 4) Pengawasan melalui laporan kepada hal-hal yang bersifat khusus, pengawasan yang berdasarkan kekecualian atau control by expection adalah suatu sistem pengawasan dimana pengawasan itu ditujukan kepada soal-soal kekecualian.

J.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Pengawasan Mutu Hal-hal yang mempengaruhi tingkat pengawasa mutu yang dilakukan tergantung

pada faktor-faktor berikut ini : 1. Kemampuan proses Batas-batas yang ingin kita capai haruslah disesuaikan dengan kemampuan proses yang ada. Tidak akan ada gunanya kita mengawasi suatu proses dalam batasbatas yang melebihi kemampuan proses yang ada. 2. Spesifikasi yang berlaku

Spesifikasi dari hasil produksi yang ingin dicapai harus dapat berlaku, bila ditinjau dari segi kemampuan proses tadi dan keinginan atatu kebutuhan konsumen. Dalam hal ini harus dapat dipastikan dulu apakah spesifikasi yang ditentukan tersebut dapat berlaku dari kedua sisi yang dapat disebutkan, sebelim pengawasan mutu pada proses dapat dimulai. 3. Apkiran/Scrap yang dapat diterima Tujuan mengawasi suatu proses adalah untuk mengurangi bahan-bahan dibawah standar, bahan-bahan yang terbuang atau bahan-bahan apkiran menjadi seminimal mungkin. Tingkat pengawasan yang dilakukan tergantung banyaknya bahan-bahan yang berada dibawah standar atau apkiran (scrap) yang dapat diterima. Banyaknya produk yang rusak yang dapat diterima harus ditentukan dan disetujiu sebelumnya. 4. Ekonomisnya kegiatan produksi Ekonomis atau efisiennya suatu kegiatan produksi tergantung pada seluruh proses-proses yang ada didalamnya. Suatu barang yang sama dapat dihasilkan dengan biaya-biaya produksi yang berbeda, dan dengan jumlah barang-barang apkiran yang berbeda. Tidaklah selalu ekonomis untuk memilih proses dengan jumlahbarang apkiran yang sedikit, karena biaya untuk pengerjaan (processing cost) lebih lanjut mungkin akan lebih mahal.

DAFTAR PUSTAKA

Astuti,

Novia.

2010.

Pengawasan

dalam

Organisasi.

http://pyia.wordpress.com/2010/01/ 03/tugas-teori-organisasi-umum/. (Diakses pada tanggal 25 Februari 2014). Anonim. 2014. Fungsi Pengawasan dalam Manajemen. http://www.ensiklopedia1.com/ fungsi-pengawasan-dalam-manajemen. (Diakses pada tanggal 25 Februari 2014). Busra. 2012. Pengawasan Produksi Terhadap Kualitas.

http://abangbusra.blogspot.com/

2012/01/pengawasan-produksi-terhadap-

kualitas.html. (Diakses pada tanggal 25 Februari 2014). Manullang, M.,Drs. 1983. Dasar-Dasar Manajemen. Jakarta Timur: Ghalia Indonesia.