Anda di halaman 1dari 42

TUGAS PERANCANGAN PABRIK NANOKURKUMINOID DARI EKSTRAK TEMULAWAK

Oleh : Kelompok 15 Amilya Romdhani Feriska Dewita Sari Rayza Pranadipa Fatimah Jumiati Nadhira Afina Putri Djalal Romansyah F34100039 F34100074 F34100076 F34100111 F34100112 F34100113

DEPARTEMEN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2013

RINGKASAN
Kurkumin merupakan salah satu senyawa kimia yang banyak diteliti. Hingga kini, penelitian mengenai pemanfaatan senyawa ini sebagai bahan baku pembuatan obat telah banyak dilakukan. Oleh karena sifat kelarutannya dalam darah yang rendah dan bioavailibilitasnya yang rendah, maka perlu dilakukan suatu cara agar kurkumin ini dapat larut dan diserap dengan baik oleh tubuh dan dapat bertahan lama pada tubuh. Salah satu alternatif pengembangan yang sedang dilakukan saat ini adalah membuatnya menjadi senyawa berukuran nano, atau disebut dengan nano partikel kurkuminoid. Bentuk dan ukuran partikel merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi efektivitas obat, karena ukuran partikel sangat berpengaruh dalam proses kelarutan, absorbsi, dan distribusi obat. Dalam membuat nanokurkuminoid dilakukan dua langkah proses. Langkah pertama adalah proses mengambil ekstrak kurkumin dari temulawak. Proses pengambilan ekstrak temulawak dilakukan dengan ekstraksi metode maserasi dengan pelarut etanol. Langkah kedua adalah proses pembuatan nanokurkuminoid yang dipilih dari lima alternatif proses. Kelima alternatif proses ini adalah nanoemulsi dengan high speed homogenization, nano emulsi dengan high pressure homogenization, metode gelas ionik, metode ultrasonikasi satu kali dan metode ultrasonikasi dua kali. Berdasarkan perbandingan dari kelima alternatif tersebut dipilih alternatif 1 yaitu pembuatan nanoemulsi metode high speed homogenization. Metode ini dipilih karena kestabilan nanoemulsi yang dihasilkan sangat baik dengan waktu proses yang lebih pendek. Selain itu rendemen yang dihasilkan juga cukup tinggi. Ekstraksi serbuk temulawak dilakukan menggunakan metode maserasi dengan bantuan pengadukan pada kecepatan tetap selama 4 jam. Pengadukan berfungsi meningkatkan efektifitas ekstraksi. Pelarut yang digunakan untuk maserasi ini adalah etanol 70%. Etanol 70% bersifat semipolar sehingga mampu mengekstrak senyawa aktif. Menurut Harborne (1987), etanol merupakan pelarut yang baik untuk mengekstrak flavonoid. Etanol juga memiliki titik didih yang relatif rendah yaitu 780C dan mudah menguap, sehingga memperkecil jumlah yang terbawa dalam ekstrak. rendemen yang dihasilkan dari ekstraksi temulawak dengan metode ini adalah 23,19 %. Salah satu perkembangan teknologi nano adalah nanoemulsi. Nanokurkuminoid yang dihasilkan adalah jenis nanoemulsi. Metode yang digunakan adalah metode homogenisasi kecepatan tinggi. Pada proses ini, emulsi dihomogenkan menggunakan homogenizer virtis dengan kecepatan tinggi yaitu 12,879 G atau 24.000 rpm selama 40 menit. Nanoemulsi yang dihasilkan pada metode ini adalah fasa minyak dalam air, dimana fasa minyak sebagai fasa dalam dan fasa air sebagai fasa luar. Konsentrasi fasa minyaknya adalah 30%. Pada metode ini, tween 80 dipilih sebagai emulsifier karena penggunaanya sudah secara luas sebagai bahan pengemulsi dalam pembuatan emulsi minyak dan juga mempengaruhi proses solubilisasi. Semakin cepat dan lama putaran menghasilkan ukuran nanoemulsi paling kecil. Hal ini disebabkan karena adanya tumbukan antar molekul, semakin cepat dan lama putaran akan memperbesar intensitas bersentuhan antar molekul sehingga menghasilkan ukuran nanoemulsi yang kecil. Ukuran partikel yang didapatkan dengan metode ini adalah 74 nm.

DAFTAR ISI

RINGKASAN .......................................................................................................... i DAFTAR ISI ............................................................................................................ i PENDAHULUAN .................................................................................................. 1 Latar Belakang .................................................................................................... 1 Tujuan .................................................................................................................. 2 ANALISIS TEKNIS ............................................................................................... 2 Diagram Alir Proses ............................................................................................ 2 Ekstraksi Temulawak ....................................................................................... 2 Pembuatan Nanokurkuminoid ......................................................................... 4 Pemilihan Alternatif Proses ............................................................................... 14 Deskripsi Proses ................................................................................................ 15 Proses Pembuatan Ekstrak Temulawak ......................................................... 15 Proses Pembuatan Nanokurkuminoid ............................................................ 15 NERACA MASSA DAN NERACA ENERGI ..................................................... 19 Neraca Massa .................................................................................................... 19 Neraca Energi .................................................................................................... 23 Utilitas ............................................................................................................... 24 Listrik ............................................................................................................. 24 Air .................................................................................................................. 25 Compressed Air (Udara Bertekanan) ............................................................. 25 Steam (Uap Panas) ......................................................................................... 26 ALAT DAN BAHAN ........................................................................................... 26 Peralatan ............................................................................................................ 26 Spesifikasi Alat .............................................................................................. 26 Bahan ................................................................................................................. 32 DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 33

ii

PENDAHULUAN
Latar Belakang Kurkumin adalah senyawa polipenol yang merupakan senyawa aktif yang diekstrak dari tanaman Curcuma longa L. Namun berdasarkan penelitian terbaru, kurkumin juga dapat diisolasi dari Curcuma zedoaria dan Curcuma Aromatica. Kurkumin memiliki struktur kimia (1,7-bis (4- hydroxy-3-methoxyphenyl)-1,6heptadiene-3,5-dione) dan bersifat tidak larut air. Kurkumin sangat banyak digunakan pada obat tradisional cina dan di industri pangan (Ammon dan Wahl, 1991). Kurkumin merupakan salah satu senyawa kimia yang banyak diteliti. Hingga kini, penelitian mengenai pemanfaatan senyawa ini sebagai bahan baku pembuatan obat telah banyak dilakukan. kurkumin menunjukkan beberapa jenis aktivitas biologis dan farmakologis yang menguntungkan seperti antioksidan (anti radikal bebas), anti inflamasi (anti radang), anti kolesterol, dan anti kanker. Selain itu, kurkumin juga telah menunjukkan aktivitas yang berpotensi untuk memperlambat perkembangan penyakit Alzheimer dengan mengurangi amyloid B (Garcia-Alloza et al, 2007) dengan menunda serangan dari asam kainik yang diinduksi secara paksa (Sumanont et al, 2007). Selain itu juga dapat mengahalangi pembentukan tumor otak ( Purkayastha et al, 2009). Aktivitas kurkumin sebagai anti kanker terus dikembangkan, karena kurkumin memiliki beberapa kelemahan, seperti kelarutan dalam air yang rendah, bioavailibilitas (ketersediaan dalam darah) yang rendah, serta tidak dapat terdeteksi oleh darah jika digunakan secara per oral (dikonsumsi melalui mulut). Padahal, kurkumin sangat berpotensi sebagai anti kanker. Hal itu dibuktikan melalui sebuah penelitian yang menyatakan bahwa kurkumin mampu memicu program kematian sel kanker. Oleh karena sifat kelarutannya dalam darah yang rendah dan bioavailibilitasnya yang rendah, maka perlu dilakukan suatu cara agar kurkumin ini dapat larut dan diserap dengan baik oleh tubuh dan dapat bertahan lama pada tubuh. Salah satu alternatif pengembangan yang sedang dilakukan saat ini adalah membuatnya menjadi senyawa berukuran nano, atau disebut dengan nano partikel kurkuminoid. Penelitian yang dilakukan oleh Anand et al (2007) menunjukkan bahwa poliester nano partikel berbasis sistem pengantaran bersifat menguntungkan bagi senyawa hidrofobik dan meningkatkan bioavailabilitas dari perantara (agents) yang bersifat sangat susah larut di air. Hal ini sangat sesuai dengan kelemahan dari senyawa kurkumin, yang dapat diatasi dengan melakukan hal yang sama pada senyawa tersebut dengan membuatnya menjadi memiliki ukuran nanopartikel dengan metode nanopartikel. Metode nanopartikel merupakan cara yang efektif untuk meningkatkan kelarutan suatu obat. Ukuran nanopartikel memiliki kelarutan yang sangat baik, dan lebih mudah menembus sel karena ukurannya sangat kecil. Karena alasan-alasan tersebut, ingin dilakukan analisis dari sisi teknis dan kelayakan usaha produk nano kurkuminoid dari ekstrak Curcuma xanthoriza (temulawak). Analisis teknis yang dilakukan meliputi pemilihan alternatif proses yang baik dan menguntungkan untuk produksi nano kurkumin, penghitungan

neraca massa dan energi, analisis biaya meliputi biaya mesin, biaya bahan baku, biaya produksi, dan analisis kelayakan.

Tujuan Tujuan dari pelaksanaan projek ini adalah untuk menganalisis pengembangan produk nanokurkuminoid dari ekstrak temulawak berdasarkan analisis dari sisi teknis dan sisi ekonomis.

ANALISIS TEKNIS
Diagram Alir Proses Dalam membuat nanokurkuminoid dilakukan dua langkah proses. Langkah pertama adalah proses mengambil ekstrak kurkumin dari temulawak. Proses pengambilan ekstrak temulawak dilakukan dengan ekstraksi metode maserasi dengan pelarut etanol. Langkah kedua adalah proses pembuatan nanokurkuminoid yang dipilih dari lima alternatif proses. Berikut adalah beberapa diagram alir proses pembuatan nanokurkuminoid. Ekstraksi Temulawak Ekstraksi adalah proses penarikan komponen aktif dari suatu campuran padatan dan/atau cairan dengan enggunakan pelarut tertentu. Proses ini dilakukan untuk melkukan pengolahan terhadap tanaman obat, karena preparasi ekstrak kasar tanaman merupakan titik awal untuk isolasi dan pemurnian komponen kimia yang terdapat dalam tanaman (Mandal et al, 2007). Bombardelli (1991) menyatakan bahwa ekstraksi senyawa aktif dari tanaman obat adalah pemisahan secara fisik atau kimiawi dengan menggunakan cairan atau padatan dari bahan padat. Menurut Purseglove et al. (1981), ekstraksi rimpang temulawak untuk memperoleh oleoresin dapat dilakukan menggunakan pelarut polar. Somaatmadja (1981) menyatakan bahwa etilena diklorida merupakan pelarut yang paling banyak digunakan, tetapi etanol merupakan pelarut paling aman karena tidak beracun. Etanol dapat mengekstraksi oleoresin lebih banyak dibandingkan dengan pelarut organik lainnya, seperti aseton dan heksana. Perlakuan pendahuluan sebelum ekstraksi dilakukan bergantung pada sifat senyawa dalam bahan yang akan diekstraksi. Perlakuan pendahuluan untuk bahan yang mengandung minyak dapat dilakukan dengan beberapa cara, diantaranya dengan pengeringan bahan baku sampai kadar air tertentu danpenggilingan untuk mempermudah proses ekstraksi dengan memperbesar kontak antara bahan dan pelarut. (Horbone, 1987). Menurut List (1989), perendaman suatu bahan dapat menaikkan permeabilitas dinding sel melalui tiga tahapan: (1) masuknya pelarut ke dalam dinding sel tanaman dan membengkakkan sel; (2) senyawa yang terdapat pada dinding sel tanaman akan lepas dan masuk ke dalam pelarut; (3) difusi senyawa yang terekstraksi oleh pelarut keluar dari dinding sel tanaman. Proses ekstraksi

padat-cair dipengaruhi oleh banyak faktor, di antaranya lamanya ekstraksi, suhu yang digunakan, pengadukan, dan banyaknya pelarut yang digunakan (Harborne 1996). Proses ektraksi temulawak dilakukan berdasarkan penelitian Basalmah (2006). Penelitian dilakukan dengan menggunakan bahan-bahan diantaranya rimpang temulawak dan etanol 70 %. Rimpang temulawak dicuci dan ditiriskan, lalu diiris setebal 6-7 mm. Hasil irisan rimpang kemudian dikeringkan sampai kadar airnya kurang dari 10%. Setelah kering, simplisia yang diperoleh digiling dan diayak hingga dihasilkan serbuk temulawak berukuran 40 mesh. Selanjutnya serbuk temulawak dilakukan perendaman dengann etanol 70 % selama 4 jam dan dipanaskan sampai suhu 55 oC. Stelah itu ekstak temulawak dilakukan proses peyaringan . Filtrat yang dihasilkan dilakukan pemekatan dengan rotary vacuum evaporator pada suhu 40 oC sampai tidak ada distilat yang menetes.

Gambar 1. Diagram alir ekstraksi temulawak

Ekstraksi serbuk temulawak dilakukan menggunakan metode refluks dengan bantuan pengadukan pada kecepatan tetap. Ekstraksi dilakukan dengan bantuan pengaduk, kondensor, dan pengatur suhu pada kondisi tertutup. Perancangan alat ekstraksi didasarkan pada efektifitas ekstraksi. Etanol merupakan pelarut yang volatil, sehingga tidak memungkinkan ekstraksi dilakukan dalam keadaan terbuka karena akan mengakibatkan kehilangan pelarut dalam jumlah yang cukup banyak. Kondensor berfungsi menghindari terjadinya penguapan pelarut. Pengadukan berfungsi meningkatkan efektifitas ekstraksi. Penggunaan etanol sebagai pelarut disebabkan karena beberapa hal di antaranya kepolaran, toksisitas, dan penelitianpenelitian sebelumnya. Kurkuminoid merupakan senyawa yang bersifat polar, kepolarannya disebabkan oleh gugus OH yang terdapat pada struktur kurkuminoid. Kurkuminoid larut dalam pelarutpelarut mempunyai kepolaran yang hampir sama. Etanol memliki kepolaran mirip dengan kurkuminoid sehingga cocok digunakan untuk mengekstrak kurkuminoid. Hasil penelitian Sidik (1985) sebelumnya memperlihatkan kadar kurkuminoid terbesar yang terekstrak terdapat dalam pelarut aseton dan etanol. Pada umumnya ekstraksi menggunakan refluks tidak membutuhkan waktu yang cukup lama agar diperoleh hasil yang maksimal karena pelarut langsung bersatu dengan ekstrak. Adanya pengadukan dapat mempercepat ekstraksi sehingga refluks dengan pengadukan diperkirakan dapat maksimal dalam waktu yang lebih cepat. Metode refluks pada umumnya dilakukan pada suhu tinggi tanpa perlakuan pengadukan. Pemilihan suhu 55 C didasarkan pada pertimbangan bahwa etanol memiliki titik didih sekitar 78 C dan bersifat volatil meskipun pada suhu ruang sehingga perlakuan suhu yang terlalu tinggi dapat mengakibatkan penguapan pelarut yang lebih besar dan dapat merusak senyawa yang tidak tahan panas. Pembuatan Nanokurkuminoid Nanomaterial adalah suatu materi yang memiliki sifat yang khas dan banyak diminati karena memiliki ukuran sangat kecil (10-9 m), sehingga luas permukaannya sangat tinggi. Di samping itu, dengan ukuran yang sangat halus, sifat-sifat khas unsur tersebut akan muncul dan dapat direkayasa misalnya sifat kemagnetan, optik, kelistrikan, termal, dan lain-lain. Pemanfaatannya pun telah merambah di berbagai bidang kehidupan manusia seperti kesehatan, elektronik, otomotif, industri peralatan rumah tangga, energi, dan lain-lain (Arryanto et al, 2007). Nanoteknologi adalah teknologi untuk menciptakan, merekayasa dan mengubah material ataupun struktur fungsional ke dalam ukuran nanometer. Perbedaan nanopartikel dengan material sejenis yang lebih besar adalah ukurannya yang kecil sehingga memiliki perbandingan luas permukaan dan volume yang lebih besar. Ini membuat nanopartikel bersifat lebih reaktif. Reaktivitas material ditentukan oleh atom-atom di permukaan, karena hanya atom-atom tersebut yang bersentuhan langsung dengan material lain. Selain itu, hukum fisika yang berlaku didominasi hukum fisika kuantum (Rahman, 2008) Sifat dan karakteristik yang meliputi sifat fisis, kimiawi maupun biologi dari partikel berukuran nano tidak sama dengan sifat dan karakteristik partikel dalam ukuran normal. Fenomena kuantum sebagai akibat keterbatasan ruang gerak

elektron dan pembawa muatan lainnya dalam partikel akan berimbas pada perubahan warna yang dipancarkan, transparansi, kekuatan mekanik, konduktivitas listrik dan magnetisasi. Perubahan rasio jumlah atom yang menempati permukaan terhadap jumlah total atom berimbas pada perubahan titik didih, titik beku, dan reaktivitas kimia. Penyusunan ulang atom-atom dalam nanoteknologi mencapai tahap penyusunan ulang struktur atom individual, jadi bukan lagi tumpukan atom, sehingga ketepatannya semakin baik dan biaya produksi semakin murah. Satu aspek lain yang menarik dari nanoteknologi adalah self replication atau kemampuan untuk menduplikasi diri secara otomatis. Konsep ini memiliki kesamaan dengan kemampuan reproduksi mahluk hidup. Sel-sel dalam tubuh kita memiliki kemampuan memperbanyak diri sehingga sel yang rusak dan mati selalu digantikan dengan sel baru yang sehat (Nikmatin, 2012). Pada kegiatan ini diberikan beberapa alternatif proses dari pembuatan nanokurkuminoid. Alternatif proses yang diberikan diantaranya metode nanopartikel high speed homogenization (HSH), high pressure homogenization (HPH), gelas ionik, metode ultrasonikasi satu tahap dan ultrasonikasi dua tahap. 1. Metode High Speed Homogenization (HSH) Metode ini dilakukan dengan menggunakan alat homogenizer dengan kecepatan putaran mencapai 24.000 rpm. Metode ini merupakan perpaduan antara penelitian yang dilakukan oleh Prasetyorini (2011) dalam pembuatan nanopropolis dari Trigana spp dengan penelitian Mc Clement (2012). Prinsip pembuatan nanokurkuminoid dengan metode ini adalh dengan membentuk ananoemulsi pada ekstrak temulawak menggunakan system pencampuran pada kecepatan yang tinggi. Pmbuatan nanoemulsi dengan menggunakan bahan dasar temulawak dilakukan penambahan bahan lainnya yang berfungsi sebagai emulsifier agar tercipta suatu emulsi yang baik. Proses pengadukan dengan kecepatan tinggi digunakan untuk menghasilkan nanoemulsi yang homogen. Emulsi yang akan dihasilkan antara bahan ekstrak temulawak dan bahan lainnya adalah tipe emulsi o/w atau oil-inwater, dimana fasa minyak berperan sebagai fasa dalam dan fasa air sebagai fasa luar. Emulsifier yang digunakan pada proses ini adalah Tween 80, bahan ini digunakan karena Tween 80 telah banyak digunakan secara luas sebagai bahan pengemulsi dalam pembuatan emulsi minyak dan juga mempengaruhi proses solubilisasi. Diagram alir pembuatan nanoemulsi kurkuminoid dari ekstrak temulawak dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Diagram alir nanoemulsi high speed homogenization Berdasarkan alur proses yang dihasilkan diketahui bahwa pencampuran antara dua fasa yakni fasa minyak sebanyak 30 % di dalam fasa air dengan kecepatan pengadukan 24.000 rpm selama 40 menit mampu dihasilkan produk berupa cairan emulsi dengan ukuran partikel sebesar 74 nm. Ukuran partikel yang semakin kecil menandakan emulsi yang smakin stabil. Kecepatan pengadukan yang sangat tinggi menghasilkan tetesan-tetesan partikel yang sangat kecil, begitu pulas sebaliknya. Sutriyo et al (2004) menyatakan kesempurnaan penyalutan dipengaruhi oleh kecepatan dan lama pengadukan. Pada metode ini digunakan bahan-bahan seperti ekstrak temulawak, larutan buffer sodium dihidrogenpospat, etanol 98%, Tween 80, dan maltodekstrin. 2. Metode High Pressure Homogenization (HPH) High Pressure Homogenization (HPH) merupakan salah satu metode pembentukan nanoemulsi dengan menerapkan sistem injeksi menggunakan tekanan tinggi. HPH banyak digunakan pada industri makanan karena cukup mudah (scalable) untuk tingkat produksi besar. Namun untuk menciptakan produk dengan ukuran mikro atau nano dibutuhkan alat microfluidizer yang merupakan

perangkat homogenisasi mikro. Namun alat ini masih sulit dikembangkan untuk skala industri, terkendala dengan harganya yang sangat mahal. Perangkat HPH beroperasi dengan tekanan maksimum sebesar 150 MPa. Tekanan ini dicapai dengan adanya dorongan dari pompa piston. Pada proses HPH emulsi kasar dilewatkan melalui pompa piston bertekanan dengan ketinggian katup yang disesuaikan. Skema proses dalam metode high pressure homogenizer pembuatan nanoemulsi ditunjukkan oleh Gambar 3.

Gambar 3. Skema proses HPH Nanoemulsi merupakan dispersi koloidal sesuai untuk enkapsulasi dan penghantaran senyawa lipofilik dalam industri. Kurkumin yang merupakan ekstrak temulawak termasuk ke dalam golongan senyawa lipofilik (lebih mudah larut dalam minyak dan lemak). Nanoemulis mempunyai kelemahan yakni tidak stabil secara thermodinamika. Emulsi akan pecah selama masa penyimpanan. Pengemulisian dibantu dengan emulsifier berupa surfaktan dengan jenis Tween 80 dan Tween 20. Surfaktan Tween 80 dan Tween 20 merupakan jenis surfaktan non ionik dengan HLB 8-16 dan memiliki fungsi menstabilkan sistem emulsi minyak dalam air. Ekstrak kurkumin akan dilarutkan dalam minyak sawit merah yang kemudian didispersikan ke dalam aquadest sebagai fasa kontinyu. Pembuatan nanoemulsi curcumin ini menggunakan emulsifikasi high energy dengan High Pressure Homogenizer. Kondisi operasi emulsifikasi ini pada tekanan 1500 psi sebanyak 7 siklus. Sebelum diinjeksikan pada alat HPH, ekstrak kurkumin dan minyak diemulsikan terlebih dahulu dengan alat ultra turrax selama 5 menit dengan kecepatan 11.000 rpm. Digram alir metode HPH dapat dilihat pada Gambar 4.

Gambar 4. Metode high pressure homogenizer nanoemulsi kurkumin Proses nanoemulsifikasi ini menghasilkan rendemen kurkumin terbesar yakni 5,94% dengan produk akhir berupa serbuk. Jumlah ekstrak kurkumin ini memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kestabilan emulsi. Selain itu, jumlah ekstrak kurkumin juga berpengaruh terhadap ukuran diameter droplet emulsi. Ukuran diameter terkecil adalah 74,7 nm. Nilai indeks polidispersitas (PDI) memberikan informasi mengenai kestabilan emusi. Nilai PDI yang diperoleh adalah 0,272 PDI, hal tersebut menunjukkan distribusi ukuran partikel yang relatif sempit. Menurut Ahmed et.al (2012), nanoemulsi dikatakan terbentuk jika ukuran diameter partikel < 200 nm dengan nilai PDI 0,2<PDI<0,6 yang akan stabil dari kemungkinan terjadinya pertumbuhan partikel dan pemisah gravitasi. 3. Metode Gelas Ionik Gelasi atau pembentukan gel merupakan penggabungan silang rantai polimer sehingga membentuk jaringan tiga dimensi yang sinambung dan dapat mengikat air di dalamnya menjadi struktur yang kuat dan kompak serta tahan terhadap tekanan (Fardiaz, 1989 dalam Latifah, 2010). Metode paling umum untuk dapat membuat nanopartikel adalah dengan menggunakan metode gelas ionik dengan menggunakan metode magnetic stirer, metode homogenizer ultrasonik dan metode high speed. Metode gelas ionik dilakukan dengan cara mencampurkan polimer dengan polianion sodium tripoliposfat sehingga dapat menghasilkan keterkaitan reaksi antara muatan positif pada gugus amino dengan tripolifosfat.

Tirpolifosfat merupakan zat pengikat yang paling baik. Tripolifosfat digunakan untuk dapat membentuk gel sehingga dapat meningkatkkan sifat mekanik dari gel yang terbentuk. Hal ini dikarenakan tripolifosfat memiliki muatan negatif yang besar sehingga akan terjadi interaksi dengan polikationik yang lebih besar (Shu dan Zhu 2002). Surfaktan digunakan sebagai emulsifier yang dapat mengikat silang, selain itu juga manfaat dari penggunaan surfaktan adalah dapat digunakan untuk memperkecil ukuran partikel (Silva et al, 2006) . Zat pengikat silang yang sering digunakan adalah glutaraldehida, sedangkan surfaktan yang banyak dipakai adalah surfaktan nonionik (Tween 80 dan Span 80). Beberapa contoh surfaktan nonionik adalah Tween 80 (polietilena sorbitan monooleat) dan Span 80 (sorbitan monooleat). Metode pengeringan semprot merupakan metode pengeringan yang paling mudah untuk dilakukan. Terdapat beberapa tahapan pengeringan yaitu tahap pertama terjadi ketika produk berupa cairan didispersikan kedalam penyemprot, selanjutnya terjadi tahap kedua ketika terjadi kontak antara semprotan dengan udara panas, tahap ketiga terjadi pada saat pengeringan dengan menggunakan semprotan dan tahap keempat terjadi ketika pemisahan antara produk kering dengan udara. Keuntungan dengan menggunakan metode pengeringan semprot ini adalah dapat meningkatkan stabilitas serbuk, menggunakan biaya yang relatif rendah, menghasilkan serbuk berupa mikrokapsul yang kecil, ramah lingkungan, dan dapat dilakukan dengan satu tahap. Bahan yang digunakan dalam metode ini adalah ektrak temulawak , aquades, asam asetat 0,3%, dan tripoliphospat (TPP) 0,1 %, dan surfaktan (Tween 80) 0,1 %. Sedangkan alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah beaker glass, timbangan digital, gelas ukur, kertas pH, kompor listrik, saringan, alat pengaduk, termometer, magnetic stirer, homogenizer ultrasonik, Ultrasonics Processor (Cole-Parmer 20 kHz 130 watt), pipet, spray dryer. Tahapan awal pembuatan nanokurkuminoid dengan metode gelasi ionik yaitu ekstrak temulawak dilarutkan dalam asam asetat, yang memiliki bentuk gel lunak berantai panjang lurus, diambil sebanyak 50 ml. Setelah itu, dilakukan pembuatan nanopartikel temulawak dengan gelasi ionik dan perlakuan pengecilan ukuran (sizing) dengan metode metode homogenizer 60 menit. Kemudian ditambahkan 25 ml emulsifier (Tween 80) 0,2 % yang dapat memisahkan gel antara gel satu dengan gel lainnya. Surfaktan (Tween 80) diberikan dengan cara tetes demi tetes ke dalam ekstrak temulawak yang telah mengalami pemotongan, dan didiamkan memutar selama 30 menit. Setelah itu, ditambahkan 10 ml tripoliphospat 0,1 % yang bertujuan agar ukuran partikel yang dihasilkan tetap stabil. Kemudian didiamkan selama 30 menit. Diagram alir metode gelas ionik dapat dilihat pada Gambar 5.

10

Gambar 5. Metode gelas ionik Rendemen yang dihasilkan dari metode gelas ionik adalah sebesar 11,43% 13,87% dengan produk yang dihasilkan berupa serbuk kurkumin. Kelebihan dari metode gelas ionik adalah proses yang sederhana untuk dilakukan sehingga tidak membutuhkan waktu yang lama selain itu ringan dan teutan yang dihasilkan dari metode gelas ionik bersifat reversibel secara fisik dilakukan dengan elektrostatik. Tautan yang dihasilkan bukan merupakan tautan silang kimia sehingga akan terhindar dari toksisitas pereaksi dan efek yang tidak dikehendaki.

11

4. Metode Ultrasonikasi Ultrasonik merupakan vibrasi suara dengan frekuensi melebihi batas pendengaran manusia yaitu di atas 20 KHz (Tipler, 1998). Ultrasonikasi merupakan salah satu teknik paling efektif dalam pencampuran, proses reaksi, dan pemecahan bahan dengan bantuan energi tinggi (Pirrung, 2007). Batas atas rentang ultrasonik mencapai 5 MHz untuk gas dan 500 MHz untuk cairan dan padatan (Mason & Lorimer, 2002). Penggunaan ultasonik berdasarkan rentangnya yang luas ini dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama adalah suara beramplitudo rendah (frekuensi kebih tinggi). Gelombang beramplitudo rendah ini secara umum digunakan untuk analisis pengukuran kecepatan dan koefisien penyerapan gelombang pada rentang 2 hingga 10 MHz. Bagian kedua adalah gelombang berenergi tinggi dan terletak pada frekuensi 20 hingga 100 KHz. Gelombang ini dapat digunakan untuk pembersihan, pembentukan plastik, dan modifikasi bahan-bahan organik maupun anorganik (Mason & Lorimer, 2002). Ultrasonikasi adalah teknik penggunaan gelombang ultrasonik terutama gelombang akustik dengan frekuensi lebih besar dari 20 kHz. Gelombang ultrasonik adalah rambat energi dan momentum mekanik sehingga membutuhkan medium untuk merambat sebagai interaksi dengan molekul. Perambatan gelombang ultrasonik yang dihasilkan oleh peralatan ultrasonik dalam medium gas, cair, dan tubuh manusia disebabkan oleh getaran bolak-balik partikel melewati titik kesetimbangannya searah dengan arah rambat gelombangnya. Karakteristik gelombang ultrasonik yang melalui medium mengakibatkan getaran partikel dengan medium amplitudo sejajar dengan arah rambat secara longitudinal sehingga menyebabkan partikel medium membentuk rapatan (strain) dan regangan (stress). Proses kontinyu yang menyebabkan terjadinya rapatan dan regangan di dalam medium disebabkan oleh getaran partikel secara periodik selama gelombang ultrasonik melaluinya Ultrasonikasi dengan intensitas tinggi dapat menginduksi secara fisik dan kimia. Efek fisik dari ultrasonikasi intensitas tinggi salah satunya adalah emulsifikasi. Beberapa aplikasi ultrasonikasi ini adalah dispersi bahan pengisi dalam polimer dasar, emulsifikasi partikel anorganik pada polimer dasar, serta pembentukan dan pemotongan plastik (Suslick & Price, 1999). Efek kimia pada ultrasonikasi ini menyebabkan molekul-molekul berinteraksi sehingga terjadi perubahan kimia. Interaksi tersebut disebabkan panjang gelombang ultrasonik lebih tinggi dibandingkan panjang gelombang molekul-molekul. Interaksi gelombang ultrasonik dengan molekul-molekul terjadi melalui media cairan. Gelombang yang dihasilkan oleh tenaga listrik diteruskan oleh media cair ke medan yang dituju melalui fenomena kavitasi akustik yang menyebabkan kenaikan suhu dan tekanan lokal dalam cairan (Wardiyati et al. 2004). Ultrasonikasi pada cairan memiliki berbagai parameter seperti frekuensi, tekanan, suhu, viskositas, dan konsentrasi suatu sampel. Aplikasi ultrasonikasi pada polimer berpengaruh terhadap degradasi polimer tersebut (Wardiyati et al. 2004). Aplikasi gelombang ultrasonik yang terpenting adalah pemanfaatannya dalam menimbulkan efek kavitasi akustik. Efek ini akan digunakan dalam pembuatan bahan berukuran nano dengan metode emulsifikasi. Ketika gelombang ultrasonik menjalar pada fluida, terjadi siklus rapatan dan regangan. Hal ini

12

disebabkan oleh karakteristik gelombang ultrasonik yang melaui medium mengakibatkan getaran partikel secara periodik dengan medium amplitudo sejajar dengan arah rambat secara longitudinal sehingga menyebabkan partikel medium membentuk rapatan dan regangan. Tekanan negatif yang terjadi ketika regangan menyebabkan molekul dalam fluida tertarik dan terbentuk kehampaan, kemudian membentuk gelembung yang akan menyerap energi dari gelombang suara sehingga dapat memuai. Selama osilasi, sejumlah energi berdifusi masuk atau keluar gelembung. Pada pembuatan nanopartikel ekstrak temulawak metode ultrasonikasi, akan dibuat terlebih dahulu nanopartikel kitosan sebagai bahan penyalut ekstrak temulawak. Bahan lainnya yang digunakan selain kitosan dan ekstrak temulawak adalah TPP (tripoliphospat), etanol 70 %, asam asetat, dan akuades. Penambahan TPP berfungsi sebagai pembentuk ikatan silang ionik antar molekul kitosan sehingga dapat digunakan sebagai bahan penjerap (Mi et al, 1999). Ultrasonikasi digunakan untuk memecah molekul polimer menjadi berukuran lebih kecil dengan energi ultrasonik. Semakin lama waktu ultrasonikasi, proses pemecahan molekul polimer akan terus berjalan. Pada metode ini juga dilakukan proses pengeringan dengan pengeringan semprot atau spray dryer, sehingga dihasilkan produk akhir nanopartikel berbentuk serbuk. Alternatif proses dengan metode ultrasonokasi, dapat dilakukan dengan dua cara yaitu proses ultrasonikasi satu kali dan proses ultrasonikasi dua kali. Diagram alir metode ultrasonikasi dapat dilihat pada Gambar 6 dan 7.

Kitosan 2% + Asam asetat 2% TPP 0.5%

Pengadukan dengan magnetic stirrer

Ekstrak temulawak 5% dalam etanol 70%

Ultrasonikasi 60'

Pengeringan semprot

Nano ekstrak temulawak

Gambar 6. Metode ultrasonikasi satu kali

13

Kitosan 2% + Asam asetat 2%

TPP 0.5%

Pengadukan dengan magnetic stirrer

Ultrasonikasi 30'

Pengeringan semprot

Nanokitosan

Dilarutkan dengan asam asetat2% dan akuades

Ekstrak temulawak 5% dalam etanol 70%

Pengadukan dengan magnetic stirrer

Ultrasonikasi 60'

Pengeringan semprot

Nano ekstrak temulawak

Gambar 7. Metode ultrasonikasi dua kali Perbedaan perlakuan antara kedua metode tersebut juga menghasilkan produk akhir dengan karakteristik yang berbeda. Metode nanopartikel ultrasonikasi dengan ultrasonikasi satu kali, dengan waktu yang lebih singkat mampu menghasilkan produk dengan rendemen 37,48 %. Namun ukuran partikel yang dihasilkan masih sangat besar, yakni 400 5000 nm, sehingga partiket bersifat tidak stabil. Perlakuan dengan ultrasonikasi dua kali mampu menghasilkan sifat produk nanopartikel temulawak yang berbeda. Proses ultrasonikasi dua kali yang dilakukan mampu menghasilkan produk dengan ukuran partikel yang lebih kecil dan jauh lebih stabil, yakni sebesar 470 3000 nm. Akan tetapi pada metode ini hanya dihasilkan rendemen produk sebesar 5,47 % dengan produk yang dihasilkan berupa serbuk. Sedangkan waktu yang dibutuhkan untuk proses yaitu selama 90 menit. Mekanisme penjerapan ekstrak temulawak diduga merupakan penjerapan fisik dengan bantuan energy ultrasonikasi. Hal ini disebabkan senyawa aktif

14

dalam ekstrak temulawak dan kitosan tidak memiliki muatan sehingga tidak ada ikatan ionik yang terjadi. Menurut Mi et al. (1999), kitosan akan berikatan silang dengan TPP membentuk butiran manik-manik yang memiliki pori-pori. Pori-pori tersebut dapat digunakan untuk menjerap bahan seperti logam atau obat-obatan. Berdasarkan penelitian Kencana (2009), energi ultrasonikasi dapat memberikan tekanan terhadap partikel ekstrak temulawak sehingga masuk dalam kitosan melalui pori-pori hasil ikatan silang partikel kitosan dengan TPP.

Pemilihan Alternatif Proses Pemilihan alternative proses dilakukan berdasar potensi dari proses itu sendiri apakah mampu diaplikasikan atau scalable atau tidak. Pemilihan proses juga dilakukan berdasarkan karakteristik produk yang dihasilkan dari setiap alternatif yang tersedia. Tabel 1 menunjukkan perbandingan antara karakteristik produk yang dihasilkan. Tabel 1. Perbandingan produk dari setiap alternatif proses Alternatif 1 2 3 4 5 Waktu (menit) 40 120 60 90 60 Ukuran Partikel 74 nm 400-4000nm 77 nm 470 3000 nm 400 5000 nm Kestabilan Stabil Kurang stabil Stabil Stabil Kurang Stabil

Dalam hal ini rendemen yang dihasilkan tidak menjadi pertimbangan. Hal ini disebabkan karena perbandingan rendemen dari setiap proses terlihat cukup berbeda jauh antara jenis produk yang dihasilkan. Untuk produk cairan seperti nanoemulsi menghasilkan rendemn produk yang cukup besar, namun untuk produk akhir berupa serbuk akan dihasilkan rendemen produk yang cukup kecil akibat adanya proses pengeringan pada produk. Berdasarkan keterangan dari kelima alternatif, alternatif 1 yaitu pembuatan nanoemulsi metode high speed homogenization adalah metode yang dipilih. Metode ini dipilih karena kestabilan nanoemulsi yang dihasilkan sangat baik dengan waktu proses yang lebih pendek. Faktor penting dalam teknologi nano partikel adalah ukuran dari partikel yang dihasilkan. Bentuk dan ukuran partikel merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi efektifitas dari nanokurkuminoid yang ingin dihasilkan karena berpengaruh dalam proses kelarutan, absorbsi dan distribusi nanopartikel terutama jika ingin digunakan dalam bidang farmasi seperti pembawa dan sistem pengantar obat. Ukuran partikel berpengaruh pada kestabilan nanoemulsi yang dihasilkan. Semakin kecil ukuran partikel yang dihasilkan, nanoemulsi tersebut semakin stabil.

15

Deskripsi Proses Proses Pembuatan Ekstrak Temulawak Ekstraksi merupakan proses pemisahan dari bahan padat maupun bahan cair dengan bantuan pelarut. Menurut Pasto (1992), pelarut yang digunakan harus dapat mengekstraksi substansi yang diinginkan tanpa melarutkan material lainnya. Pemilihan jenis pelarut dilakukan dengan melihat derajat kepolarannya. Untuk mendapatkan pengektrak yang baik pelarut harus memiliki polaritas yang sama dengan senyawa yang akan diekstrak karena senyawa polar hanya dapat larut dengan baik dalam pelarut yang polar,begitu juga dengan senyawa nonpolar. Ekstraksi serbuk temulawak ini dilakukan menggunakan metode maserasi dengan bantuan pengadukan pada kecepatan tetap selama 4 jam. Pengadukan berfungsi meningkatkan efektifitas ekstraksi. Pelarut yang digunakan untuk maserasi ini adalah etanol 90%. Etanol 90% bersifat semipolar sehingga mampu mengekstrak senyawa aktif. Menurut Harborne (1987), etanol merupakan pelarut yang baik untuk mengekstrak flavonoid. Etanol juga memiliki titik didih yang relatif rendah yaitu 780C dan mudah menguap, sehingga memperkecil jumlah yang terbawa dalam ekstrak. Proses pembuatan ekstrak temulawak dimulai dengan pencucian rimpang temulawak , kemudian diiris dengan ketebalan sekitar 6-7 mm. Selanjutnya irisan tersebut dikeringkan hingga mendapatkan kadar air yang diinginkan yaitu sebanyak 7,12 %. Kemudian dilakukan penggilingan dan pengayakan sehingga diperoleh serbuk temulawak dengan ukuran 40 mesh. Proses penggilingan atau pengecilan ukuran dilakukan sebagai perlakuan pendahuluan pada bahan ekstraksi yang mengandung minyak. Hal ini dilakukan untuk mempermudah proses ekstraksi dengan memperbesar kontak antara bahan dan pelarut. Kemudian serbuk temulawak direndam dengan etanol 70%. Etanol 70 % bersifat semipolar sehingga mampu mengekstrak senyawa aktif dengan kepolaran yang berbeda dala temulawak. Menurut Harbone (1987), etanol 70 % merupakan pelarut yang baik untuk mengekstrak flavonoid. Etanol juga memiliki titik didih yang rendah dan mudah menguap, sehingga memperkecil jumlah yang terbawa dalam ekstrak. Proses perendaman dilakukan dengan perbandingan antara serbuk temulawak dan etanol yaitu 1 : 5. Hasil dari proses perendaman dengan etanol akan mengektraksi kandungan temulawak, sehingga didapatkan ekstrak temulawak kasar. Perendaman dilakukan selama 4 jam. Ekstrak temulawak kasar lalu disaring dan dipekatkan hingga didapatkan ekstrak temulawak. Dalam Nina (2013), rendemen yang dihasilkan dari ekstraksi temulawak dengan metode ini adalah 23,19 %. Proses ekstraksi temulawak dilakukan secara semi manual. Proses pencucian bahan baku dilakukan secara manual dengan menggunakan air, untuk menyisihkan kotoran pada temulawak segar. Alat yang digunakan dalam proses ekstraksi diantaranya adalah oven yang digunakan untuk proses pengeringan temulawak, alat penggiling atau disc mill, pengayak, dan rotary vacuum evaporator untuk proses pemekatan ekstrak temulawak. Hasil dari proses ekstraksi adalah ekstrak temulawak pekat yang terbebas dari etanol. Proses Pembuatan Nanokurkuminoid Nanoemulsi adalah sistem emulsi transparan atau bening dengan ukuran globul seragam dan sangat kecil (2 500 nm). Nanoemulsi stabil secara kinetic,

16

namun karena memiliki stabilitas dalam jangka panjang (tanpa flokulasi atau koalesens), membuat nanoemulsi menjadi unik dan mendekati stabilitas termodinamik. Nanoemulsi dibagi menjadi minyak dalam air (O/W), air dalam minyak (W/O), dan bicontinous yang merupakan bentuk transisi dari tipe (W/O) dan (O/W) dengan mengubah volume minyak dan air, dimana ketiga tipe tersebut bergantung pada konsentrasi dan sifat kimia surfaktan, minyak, dan bahan terlarut di dalamnya. Transisi antara berbagai tipe tersebut dapat terjadi dan disebabkan oleh perubahan suhu (surfaktan non ionik) atau modifikasi perbandingan surfaktan dan kosurfaktan (Swarbick, 2007). Pada proses terpilih yaitu dengan metode high speed homogenizer, nanokurkuminoid yang dihasilkan adalah jenis nanoemulsi. Nanoemulsi yang ingin dihasilkan dilakukan dengan metode homogenisasi kecepatan tinggi. Homogenisasi merupakan proses mengubah dua cairan yang sifatnya immisible (tidak bercampur) menjadi sebuah emulsi. Prinsip kerja homogenizer adalah mengecilkan ukuran partikel emulsi dengan menggerus dan memotong partikel emulsi yang besar menjadi partikel yang lebih kecil. Efektifitas pengurangan uukuran partikel oleh homogenizer ini dapat dipengaruhi oleh jumlah bahan yang dihomogenisasi, waktu homogenisasi dan kecepatan putaran homogenisasi. Pada proses terpilih ini,emulsi dihomogenkan menggunakan homogenizer virtis dengan kecepatan tinggi yaitu 12,879 G atau 24.000 rpm selama 40 menit. Nanoemulsi yang dihasilkan pada metode ini adalah fasa minyak dalam air, dimana fasa minyak sebagai fasa dalam dan fasa air sebagai fasa luar. Tween 80 dipilih sebagai emulsifier karena penggunaanya sudah secara luas sebagai bahan pengemulsi dalam pembuatan emulsi minyak dan juga mempengaruhi proses solubilisasi. Tween 80 adalah salah satu jenis surfaktan yang tergolong dalam non ionic surfaktan. Mustaufik et al (2000) menyatakan bahwa Tween dapat meningkatkan viskositas fasa pendispersi dan membentuk lapisan tipis yang kuat dan dapat mencegah penggabungan fasa terdispersi sehingga tidak terjadi pengendapan. Daya kerja pengemulsi disebabkan oleh bentuk molekul yang dapat terikat pada minyak dan air. Parameter yang sering digunakan untuk pemilihan jenis elmusifier adalah berdasarkan nilai HLB (Hydrophilic Lipophilic Balance), emulsifier yang memiliki nilai HLB rendah (2 4) cenderung larut minyak (lipofilik), sedangkan yang memiliki nilai HLB tinggi (14 18) cenderung larut air. Tween 80 memiliki nilai HLB sebesar 15 yang sifatnya cenderung larut dalam air (hidrofilik) dan cocok dengan sistem emulsi oil-in water. Spesifikasi surfaktan Tween 80 dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Spesifikasi surfaktan Tween 80 Nama Resmi Nama Lain Pemerian Kelarutan Polysorbatum 80 Polisorbat 80, Tween Cairan kental, transparan, tidak berwarna, hampir tidak mempunyai rasa Mudah larut dalam air, dalam etanol 95 %, dalam etil asetat dan dalam methanol. Sukar larut dalam paraffin cair dan dalam biji kapas Sebagai emulsifier fasa air (o/w)

Kegunaan

17

Penyimpanan Dalam wadah tertutup rapat HLB butuh 15 Sumber: Partang (2008) Pada proses pembuatan nanoemulsi ini dilakukan pencampuran antara fasa minyak 30% dan fasa air, dengan menggunakan emulsifier Tween 80. Untuk mendapatkan ukuran nanopartikel atau maka emulsi tersebut dihomogenkan dengan homogenizer pengadukan berkecepatan tinggi yaitu 12,879 G atau 24.000 rpm selama 40 menit. Menurut penelitian Nina (2013), dengan perlakuan tersebut menghasilkan karakteristik nanoemulsi yang lebih stabil dibanding perlakuan lain. Semakin cepat dan lama putaran menghasilkan nanoemulsi paling kecil. Hal ini disebabkan karena adanya tumbukan antar molekul, semakin cepat dan lama putaran akan memperbesar intensitas bersentuhan antar molekul sehingga menghasilkan ukuran nanoemulsi yang kecil. Pada proses pembuatan nanoemulsi dilakukan penambahan maltodekstrin (MDE) sebagai bahan penyalut. Penggunaan MDE dalam industri farmasi masih sangat terbatas atau tidak populer dibandingkan dalam industri makanan yang penggunaannya sudah sangat luas. Maltodekstrin merupakan salah satu produk turunan pati yang dihasilkan dari proses hidrolisis parsial oleh enzim -amilase dengan nilai dextrose equivalent (DE) kurang dari 20. DE menjelaskan persentase hidrolisis ikatan glikosidik dan penurunan kekuatannya. Alasan pemilihan maltodekstrin sebagai penyalut adalah larut dalam air, tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak toksik (Sukamdiyah, 2009). Turunan pati seperti maltodekstrin bersifat meningkatkan viskositas membentuk matriks hydrogel, dan memiliki daya rekat. Struktur DME yang lebih pendek dibandingkan pati sehingga saat mikroenkapsulasi menghasilkan mikrokapsul yang kering, berukuran seragam, dan tidak lengket (Suseno, 2009). Proses homogenisasi dilakukan dengan menggunakan alat homogenizer virtis 23. Penggunaan kecepatan putar homogenizer yang semakin tinggi akan menghasilkan gaya geser yang diterima oleh fluida akan semakin besar, hal ini akan menyebabkan minyak terpecah menjadi droplet yang semakin kecil. Kecepatan tinggi dalam pembuatan nanoemulsi dapat dikurangi dengan meningkatkan konsentrasi emulsifier dan/atau menambah jenis emulsifier yang digunakan. Stabilitas nanoemulsi tergantung pada ukuran droplet pada fase terdispersinya. Ukuran droplet yang semakin kecil menandakan produk emulsi yang semakin stabil. Kestabilan emulsi dapat disebabkan karena beberapa faktor, diantaranya ukuran partikel, jenis dan jumlah pengemulsi, perbedaan densitas antara kedua fasa, pergerakan partikel, serta viskositas fasa eksternal. Ukuran doplet emulsi dapat diperkecil dengan meningkatkan jumlah energi yang disuplai selama proses emulsifikasi, selama masih tersedia emulsifier yang cukup untuk menyelimuti permukaan droplet yang terbentuk. Konsentrasi fasa minyak juga turut berpengaruh terhadap ukuran nanoemulsi yang dihasilkan. Hal ini disebabkan karena dengan sedikitnya konsentrasi fasa minyak, berarti tumbukan antar molekul pun berkurang sehingga ukuran yang dihasilkan masih cenderung besar. Konsentrasi fasa minyak 30% dipilih karena berdasarkan penelitian Nina (2013), konsentrasi ini menghasilkan nanoemulsi yang lebih stabil. Ukuran partikel yang didapatkan dengan perlakuan ini adalah 74 nm. nanoemulsi

18

dikatakan terbentuk jika ukuran diameter partikel < 200 nm dengan nilai indeks polidispersitas 0.2<PDI<0.6 yang akan stabil dari kemungkinan terjadinya pertumbuhan partikel dan pemisahan gravitasi. Ukuran droplet yang kecil yang dihasilkan oleh proses homogenisasi dapat meningkatkan fasa terdispersi sehingga viskositas semakin meningkat dan penyerapan emulsifier dapat meningkat. Pengemulsian juga membutuhkan waktu homogenisasi yang tepat. Pada proses pembuatan nanoemulsi kurkumin ini, waktu homogenisasi adalah selama 40 menit. Intensitas dan lama proses pencampuran tergantung waktu yang diperlukan untuk melarutkan dan mendistribusikannya secara merata. Viskositas suatu emulsi diukur untuk menunjukkan ukuran partikel yang didistribusikan partikel pada suatu emulsi. Nanoemulsi dengan partikel yang semakin halus menunjukkan viskositas yang semakin besar dibandingkan dengan emulsi dengan partikel yang semakin besar. Pada sistem nanoemulsi tipe O/W, penambahan maltodekstrin akan meningkatkan viskositas sehingga dapat membentuk nanoemulsi yang lebih stabil. Homogenisasi merupakan proses emulsifikasi yang bertujuan memperkecil ukuran fase terdispersi (droplet) agar terdispersi dengan baik dalam fase kontinyu. Oleh karena homogenisasi dapat menghasilkan pengurangan ukuran droplet dan sebaran Tween 80 dan maltodekstrin yang merata, maka semakin lawa waktu homogenisasi, Tween 80 dan maltodekstrin akan terdistribusi merata melindungi droplet. Kondisi tersebut menyebabkan terjadinya interaksi yang kuat antara droplet dengan fase kontinyu sehingga meningkatkan viskositas sekaligus kestabilan emulsinya. Produk nanokurkumin yang dihasilkan dari proses high speed homogenizer adalah nanoemulsi. Mnurut Tadros (2005), beberapa kelebihan produk nanoemulsi diantaranya: - Ukuran tetesan sangat kecil menyebabkan penurunan pada gaya gravitasi dan gerak Brown yang mungkin cukup untuk mengatasi gravitasi. Hal ini berarti tidak terjadi creaming atau sedimentasi selama penyimpanan. - Ukuran tetesan yang kecil mencegah terjadinya flokulans dan memungkinkan sistem untuk tetap tersebar tanpa adanya pemisahan serta dapat mencegah koalesens. - Nanoemulsi cocok untuk penghantaran bahan aktif melalui kulit. Luas permukaan yang besar dari sistem emulsi memungkinkan penetrasi yang cepat dari bahan aktif. - Karena ukuran yang kecil, nanoemulsi dapat melewati permukaan kulit atau jaringan tubuh lainnya dan dapat meningkatkan penetrasi obat. - Karena sifatnya yang transparan dan fluiditasnya (pada konsentrasi minyak yang sesuai) dapat memberikan estetika yang menarik dan menyenangkan saat digunakan. - Ukuran tetesan yang kecil memudahkan penyebaran dan penetrasi mungkin dapat ditingkatkan karena tegangan permukaan dan tegangan antarmuka yang rendah.

19

NERACA MASSA DAN NERACA ENERGI


Neraca Massa Perancangan suatu proses yang baik dapat dilihat dari neraca massa yang didapatkan. Neraca massa merupakan perincian banyaknya bahan-bahan yang masuk, keluar, dan menumpuk dalam suatu alat pemroses. Neraca massa merupakan penerapan hukum kekekalan massa terhadap suatu proses. Massa memiliki jumlah tetap, tidak dapat diciptakan maupun dimusnahkan. Neraca massa dibuat untuk suatu alat atau unit dengan batasan tertentu, dimana bahanbahan diperinci banyaknya baik itu bahan yang masuk ataupu bahan yang keluar (Brown, 1998). Proses pembuatan nano kurkumin dimulai dengan pembuatan ekstrak temulawak. Pembuatan ekstrak temulawak ini menggunakan prinsip ekstraksi pelarut dengan menggunakan pelarut etanol 70%. Sebelum diekstrak, temulawak dilakukan penanganan bahan terlebih dahulu. Penangan bahan tersebut berupa pencucian, penirisan, dan pengecilan ukuran. Temulawak yang digunakan untuk pembuatan ekstrak temulawak ini sebanyak 1000 gr. Temulawak tersebut mulamula dicuci dengan menggunakan air mengalir sebanyak 10 L atau 10.000 gr. Hasil dari pencucian ini berupa kotoran sebanyak 0,744 % atau 7,44 gr. Temulawak yang keluar dari proses pencucian sebanyak 992,56 gr. Kotoran tersebut berupa tanah yang masih tersisa di rimpang temulawak. Temulawak yang sudah bersih kemudi ditiriskan untuk melepaskan air yang masih tersisa pada temulawak. Temulawak yang sudah ditiriskan tersebut kemudian dikecilkan ukuran dengan mengiris temulawak tersebut. Temulawak diiris dengan menggunakan slicer hingga ukuran temulawak tersebut 6-7 mm. Pada proses pengirisan ini diasumsikan tidak ada temulawak yang hilang sehingga massa temulawak yang dihasilkan tetap 992,56 gr.

Gambar 8. Neraca massan proses pencucian Irisan temulawak kemudian dikeringkan dengan menggunakan oven. Irisan temulawak mengandung kadar air sebesar 10,11 %. Kadar air tersebut kemudian dikeringkan hingga kadar airnya kurang dari 10 %. Pengeringan di oven menggunakan suhu 50 oC. Pengeringan tersebut menghilangkan kadar air

20

sebanyak 2,99 % atau 29,68 gr. Temulawak kering mempunyai massa sebasar 262,88 gr.

Gambar 9. Neraca massa proses pengeringan Temulawak kering kemudian dilakukan proses penggilingan dan pengayakan dengan ukuran 40 mesh hingga menjadi serbuk temulawak. Proses penggilingan menggunakan hammer Mill. Proses tersebut diasumsikan tidak mengalami kehilangan massa karena serbuk yang tidak lolos ayakan dikembalikan lagi pada hammer Mill untuk digiling kembali. Serbuk temulawak yang dihasilkan dari proses penggilingan ini sebesar 962,88 gr.

Gambar 10. Neraca massa proses penggilingan dan pengayakan Serbuk temulawak yang dihasilkan kemudian diekstrak kandungan kurkuminnya dengan menggunakan pelarut etanol 70%. Pengekstrakan ini dilakukan dengan cara merendam serbuk temulawak tersebut di dalam etanol. Perbandingan serbuk temulawak dan etanol yang digunakan adalah 1 : 5. Etanol yang digunakan sebanyak 4814,39 gr. Perendaman dilakukan selama 4 jam dengan suhu 55 oC. Pengekstrakan dilakukan dengan wadah tertutup sehingga tidak ada etanol yang hilang. Proses tersebut menghasilkan ekstrak temulawak kasar sebesar 5777,27 gr.

21

Gambar 11. Neraca massa proses perendaman Ekstrak temulawak kasar tidak dapat digunakan langsung untuk pembuatan nanoemulsi sehingga ekstrak temulawak kasar harus disaring terlebih dahulu untuk memisahkan residu berupa karbohidrat, protein, kadar abu, dan lemak. Residu yang dihasilkan dari proses tersebut sebanyak 36,25 % atau 2094,26 gr. Ekstrak temulawak yang dihasilkan sebanyak 3683,01 gr.

Gambar 12. Neraca massa proses penyaringan Ekstrak temulawak yang dihasilkan juga masih belum dapat digunakan untuk pembuatan nanoemulsi. Ekstrak temulawak tersebut juga harus dipekatkan terlebih dahulu. Pemekatan tersebut menggunakan rotavapor pada suhu 50o C. Pemekatan tersebut menghilangkan etanol yang terkandung di dalam ekstrak temulawak. Etanol yang diuapkan sebanyak 76,81 % atau 2828,92 gr. Ekstrak temulawak pekat yang dihasilkan sebanyak 854,09 gr.

Gambar 13. Neraca massa proses pemekatan

22

Ekstrak temulawak pekat ini yang digunakan untuk pembuatan nanoemulsi. Pembuatan nanoemulsi menggunakan fase minyak, fase air, dan surfaktan. Fase minyak yang digunakan dihasilkan dari pencampuran antara ekstrak temulawak pekat dengan etanol 70%. Etanol yang digunakan sebanyak 6747,31 gr dan ekstrak temulawak yang digunakan sebanyak 854,09 gr. Proses pencampuran ini diasumsikan tidak ada bahan yang terbuang, sehingga fase minyak yang dihasilkan adalah sebanyak 7601,4 gr.

Gambar 14. Neraca massa proses mixing Tahap akhir dari proses ini adalah pembuatan nanoemulsi dengan mencampurkan bahan-bahan yang diperlukan. Bahan-bahan tersevyt diantaranya yakni fase minyak, fase air berupa larutan buffer sodium dihidrogen pospat, surfaktan berupa Tween 80 dan maltodekstrin. Fase minyak yang digunakan sebanyak 30 % atau 7601,4 gr. Larutan buffr sodium dihidrogen pospat sebanyak 30% atau 7601,4 gr. Tween 80 yang digunakan sebanyak 10 % atau 2533,8 gr. Maltodekstrin yang digunakan sebanyak 30% atau 7601,4 gr. Proses pembuatan nanoemulsi ini menggunakan homogenizer dengan kecepatan 24.000 rpm selama 40 menit. Proses ini tidak terdapat bahan yang terbuang, sehingga nanoemulsi curcumin yang dihasilkan sebanyak 25,338 gr atau 30 L.

Gambar 15. Neraca massa proses homogenizer

23

Neraca Energi Dalam rangkaian proses produksi nanokurkumin dari pengambilan ekstrak hingga didapatkan nanoemulsi dengan metode high speed homeginization terdapat beberapa perubahan panas yang terjadi akibat adanya perubahan suhu proses setiap alat yang digunakan. Perubahan panas pada perancangan ini terjadi pada proses pengeringan, ekstraksi dan evaporasi. Basis yang digunakan adalah 1 jam operasi, satuan operasi kJ dan suhu referensi (Tref) adalah 25OC. Setelah dilakukan perhitungan neraca panas, berdasarkan kapasitas panas masing-masing bahan yang terlibat dalam reaksi diperoleh hasil sebagai berikut: 1. Pencucian Pada proses ini tidak terjadi pertukaran energi panas karena saat proses pencucian berlangsung tidak perubahan suhu. 2. Penirisan Pada proses ini tidak terjadi pertukaran energi panas karena saat proses penirisan berlangsung tidak terjadi perubahan suhu. 3. Pengirisan Pada proses ini tidak terjadi pertukaran energi panas karena saat proses pengirisan berlangsung tidak terjadi perubahan suhu. 4. Pengeringan Energi panas yang masuk pada proses pengeringan berasal dari panas dan uap yang terjadi pada alat pengering yaitu oven yang mengeringkan pada suhu 50OC. Kondisi proses pengeringan membutuhkan suhu suhu 50OC hingga kadar air bahan yang dikeringkan memiliki kadar air <10%. Bahan temulawak yang dikeringkan adalah sebesar 0,992 kg. Tabel 3. Neraca Panas Proses Pengeringan Panas masuk (kJ) Q in = 585,858 Panas keluar (kJ) Qout = 585,858 Jumlah Steam yang dibutuhkan (kg) 0, 23

5. Penggilingan Pada proses ini hanya merubah bentuk bahan temulawak menjadi lebih kecil agar mudah untuk mendapatkan ekstrak temulawak yang dibutuhkan. Pada proses ini juga tidak terjadi pertukaran energi panas karena saat proses berlangsung tidak terjadi perubahan suhu. 6. Pengayakan Pada proses pengayakan tidak terjadi pertukaran energi panas karena saat proses berlangsung tidak terjadi perubahan suhu.

24

7. Ekstraksi Ekstraksi dilakukan untuk mendapatkan ekstrak kasar temulawak yaitu pada suhu suhu 55 oC selama 4 jam. Tabel 4. Neraca Panas Proses Pendinginan Panas masuk (kJ) Qin = 3440,8 Panas keluar (kJ) Qout = 3440,8 Jumlah Steam yang dibutuhkan (kg) 1,4068 kg

8. Evaporasi Energi panas yang masuk pada proses evaporasi berasal dari panas alat dan steam dengan suhu 40 oC yang memekatkan ekstrak kasar hingga didapatkan distilat ekstrak temulawak yang diinginkan. Kondisi evaporasi dilakukan dengan suhu 40 oC. Tabel 5. Neraca Panas Proses Pengeringan Panas masuk (kJ) Qin = 1452,46 Panas keluar (kJ) Qout = 1452,46 Jumlah Steam yang dibutuhkan (kg) 0,58

9. Pencampuran Emulsi Pada proses pencampuran minyak dan air tidak terjadi perubahan suhu sehingga pada proses ini neraca panasnya tidak dihitung. 10. Homogenisisasi Pada proses homogenisasi tidak terjadi perubahan suhu. Pada proses ini hanya digunakan kecepatan pengadukan yaitu sebesar 24000 rpm. Oleh karena itu neraca panas proses ini juga tidak dihitung.

Utilitas Sistem utilitas digunakan untuk menyediakan sumber daya yang diperlukan untuk menunjang kegiatan dalam pabrik baik, agar pabrik dapat berproduksi sesuai kebutuhannya. Dalam proses pembuatan nanokurkuminoid ekstrak temulawak dibutuhkan beberapa sistem utilitas, diantaranya tenaga listrik, air, compressed air, dan steam. Listrik Penggunaan listrik proses produksi dihitung berdasarkan kebutuhan dalam pengoperasian alat dan kegiatan operasional lainnya. Kebutuhan listrik dapat disupplai dari PLN. Kebutuhan listrik diasumsikan dari seberapa sering

25

penggunaan alat dalam melakukan proses produksi. Proses produksi dilakukan selama 25 hari kerja per bulan, dengan waktu kerja alat per hari yaitu selama 4 jam. Kebutuhan suplai listrik untuk penggunaan alat diperkirakan sebesar 3900 Wh, sehingga penggunaan listrik dalam satu bulan diperkirakan sebesar 390000 Wh atau sekitar 390 kWh/bulan atau sekitar 523 kVA per bulan. Penggunaan listrik juga selain ditunjang oleh PLN juga dapat berasal dari mesin genset. Mesin genset digunakan sebagai alternatif apabila pasokan listrik dari PLN terhenti. Genset yang digunakan dapat menggunakan bahan bakar gas alam dengan kapasitas genset sebesar 640 kVA.

Gambar 16. Genset kapasitas 640 kVA (PT. Abbott Indonesia, 2013) Air Air merupakan hal penting yang harus terdapat pada industri nanokurkuminoid ekstrak temulawak. Jenis produk yang dihasilkan merupakan jenis produk kesehatan yang dimana dalam proses nya harus dilakukan secara steril termasuk air yang digunakan. Pada kegiatan produksi, air digunakan untuk melakukan proses diantaranya pencucian bahan baku dan proses pembentukan emulsi sebagai fase air. Kebutuhan air untuk proses diperkirakan sebanyak 18 L/batch atau dalam satu kali proses, dengan asumsi bahwa waktu yang digunakan per batch yaitu 1 jam. Sehingga air yang digunakan untuk proses sehari sekitar 72 L untuk melakukan proses pembuatan nanokurkuminoid. Kemudian air juga digunakan untuk operasional pabrik lainnya, seperti pencucian alat, proses sanitasi, dan aktivitas lainnya. Kebutuhan air untuk operasional pabrik diperkirakan sebanyak 2000 L perhari. Sumber air yang digunakan dapat berasal dari air tanah yang dilakukan serangkaian proses untuk menghasilkan air yang layak untuk proses produksi. Air dapat diambl dengan menggunaan pompa dari kedalaman 100 meter di bawah tanah. Compressed Air (Udara Bertekanan) Prinsip kerja dari udara bertekanan adalah dengan memasukkan udara ke dalam kompresor kemudian dikeringkan dengan air dryer. Dalam air dryer udara bersih dikeringkan dengan cara menghilangkan kandungan uap airnya, setelah itu baru dapat digunakan untuk proses produksi. Compressed air juga digunakan untuk mengoperasikan alat-alat/mesin yang tidak dapat dioperasikan dengan listrik, seperti mixer alkohol, yang merupakan alat yang sensitive terhadapair, sehingga dioperasikan dengan menggunakan angin. . Tekanan yang dihasilkan

26

oleh compressed air yaitu sebesar 7 bar agar dapat digunakan untuk mengoperasikan alat. Steam (Uap Panas) Uap panas dihasilkan oleh mesin boiler. Boiler yang digunakan merupakan boiler pipa api. Prinsip kerja dari alat ini adalah dengan mendidihkan air pada suhu 200oC dengan tekanan 8-10 bar untuk menghasilkan uap panas. Uap panas yang dihasilkan, dialirkan melalui sirkuit tertutup yang digunakan untuk proses produksi. Uap panas (steam) yang dibutuhkan untuk proses pengeringan, ekstraksi, dan pemekatan ekstrak temulawak. Proses pengeringan membutuhkan uap panas sekitar 0,23 kg, proses pendinginan ekstraksi membutuhkan uap panas sekitar 1,4068 kg, sedangkan proses pemekatan ekstrak temulawak membutuhkan steam atau uap panas sebanyak 0,58 kg. Kebutuhan uap panas yaitu dalam perlakuan satu kali proses selama satu jam.

ALAT DAN BAHAN


Peralatan Pembuatan nanokurkuminoid ekstrak temulawak dibutuhkan beberapa alat untuk menunjang kegiatan proses dan dihasilkan produk nanoemulsi sesuai kapasitas dan kualitas yang diinginkan. Spesifikasi Alat 1. Mesin Perajang/Pengiris Temulawak (Cube Cutter) Type Weight Power Voltage Dimension (L x W x H) Output Thickness Price : Cutter : 70 Kg : 0,75 KW : 380 V : 745 x 590 x 880 mm : 200 Kg/h : 1 10 mm : $ 1.300

Sumber: http://www.alibaba.com/productgs/888954291/AMS_CL600_Pineapple_cuber_cutter_cuber.html

27

Gambar 17. Cube Cutter 2. Mesin Penggiling (Disk Mill) Model Rotational speed Outer diameter Number of obglate gears Number of knuckle gears Circles of square gears Pitch betweet the oblate gear & screen Sieve size Motor Power Motor rotational speed Dimension (l x w x h) Weight Production capacity Voltage Price : FFC-15 : 9000 rpm : 150 mm : 3 p.c : 3 p.c : 1 circle : 9 mm : 0,6 and 1,2 mm : 1,1 KW : 2840 r/min : 565 x 305 x 610 mm : 18 kg : 55 kg/hour : 390 V : $ 1.500

Sumber : http://www.alibaba.com/product-gs/772604506/FFC_Disk_Mill.html?s=p

28

Gambar 18. Mesin penggiling

3. Mesin Pengayak (vibrating screen) Model Type Diameter of screen deck Valid area Vomule (mesh layer 1 to 3) (mm) Power Mesh Price : WXZ-600-2S :Circular : 550 mm : 0,2124 m2 : (880 x 880 x 680) to (800 x 800 x 880) : 0,55 KW : 5 200 mesh : $ 900

Sumber: http://www.alibaba.com/productgs/345390303/Rotary_vibrating_screen_filter_separator_for.html

Gambar 19. Vibrating screen

29

4. Mesin Pengering Type Model Number Dimension (L x W x H) Power Port Layers Package Temperature control system Voltage Weight Inner size Door Price : Drying Oven : YLED-2A : 1710 x 1080 x 860 mm : 6 KW : Shenzhen : 8 or 4 : Wooden Case : Installed : AC 380 V : 100 KGS : ( x 455) x 620 x 620 mm : Double : $ 1.142 1.428

Sumber : http://www.alibaba.com/productgs/1522880578/YLED_2A_curing_industrial_oven_Horizontal/showimage.html

Gambar 20. Mesin Pengering 5. Rotary Evaporator Process glassware Rotary Process Seal System Heating Bath & Volume Evaporation Vessel Capacity Heat Exchange & Surface Area : Borosilicate Glass ISO3585 (Process) : PTFFE & Graphite Carbon : Polished Stainless Steel, 150 L : 6 100 L Process Glass Vessel : Process Glass, Up to 1,6 m2

30

Collecting Vessels Evaporation vessel rotation speed Dimensions (W x D x H) Vacuum Capability Power Consumption Electrical Power Temperature control system Electrical Classification Data Interface Price

: Process Glass Vessels from 2 20 L : 15 100 rpm : 2000 x 840 x 2400 mm : 5 mmHg : 6 Kw : 380 V 60 Hz : Ambient to 150 oC : IP 55 or ATEX II 2 G b c IIB/IIA T3 : Via RS 232 Cable : $ 4283

Gambar 21. Rotary Evaporator 6. Extraction Tank TE-MT series extracting vessels : Small volume, small batch:6 series: Model TE-MT-01/03/10/30/50/100 Min. Size:1000ml;Max. Size: 100 Liter Built in heater, no steam required Simple operation, local or remote control Data logging, monitoring process status in-inline Central control available, expansion channel reserved, exams in batches flexible Data as below can be logged in-line: - Temperature time - PH Value - Vacuum Degree - Mix Speed - Mix Level Inspection - Inline Brix BOD

31

Heat Power : 3 15,5 KW Mix Power : 0,09 0,5 KW Price : $ 3.500 Sumber : http://www.triowinlab.com/en/products/machinery.aspx?id=7&classid=3

Gambar 22. Extraction tank 7. Homogenizer Name Series Product type Max sample size (mL) Speed (rpm) Generator included Brand Power (VAC) Power (Hz) Dispersion type Watts Price : Cole-Parmer LabGen 700 Homogenizer : EW 04727 : Homogenizer : 10000 : 5.000 to 30.000 : No : Cole-Parmer : 150 : 50/60 : Hard, Soft : 700 : $ 1,790

32

Sumber : www.coleparmer.com/Product/Cole_Parmer_LabGEN_700_Homogenizer_110va c/EW-04727-03

Gambar 23. Homogenizer

Bahan Bahan baku yang digunakan dalam pembuatan nanokurkuminoid adalah temulawak segar, etanol 70%, Tween 80, Sodium hydrogen phosphate, maltodekstrin, dan akuades. Berikut adalah harga bahan baku yang digunakan: Tabel 6. Bahan baku Bahan Baku Temulawak segar Etanol 70% Tween 80 Sodium hydrogen phosphate Maltodekstrin Akuades Harga 35.000/ Kg 29.000/ L 35.000/ Kg 10.000/Kg 20.000/ Kg 17.500/ 5L

33

DAFTAR PUSTAKA
Ammon, H., Wahl, M.A., 1991. Pharmacology of Curcuma longa. Planta Med. 57, 17. Anand, P., Kunnumakkara, A.B., Newman, R.A., Aggarwal, B.B., 2007. Bioavailability of curcumin: problems and promises. Mol. Pharm. 4, 807818. Arryanto, et al. 2007. Iptek nano di indonesia. Kementrian Negara Riset dan Teknologi, Deputi Bidang Riptek. Basalmah, Rahmat Sulaeman. 2006. Optimalisasi Kondisi Ekstraksi Kurkuminoid Temulawak: Waktu, Suhu, dan Nisbah. [Skripsi]. Separtemen Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. IPB. Bogor. Bombardelli E. 1991. Technologies for the Processing of Medical Plant. CRC Press. Florida Brown, G. G., 1998. Unit Operation, Modern Asia Edition, charler Tuttle Co. Tokyo Garcia-Alloza, M., Borrelli, L.A., Rozkalne, A., Hyman, B.T., Bacskai, B.J., 2007. Curcumin labels amyloid pathology in vivo, disrupts existing plaques, and partially restores distorted neurites in an Alzheimer mouse model. J. Neurochem. 102, 10951104. Harborne. 1987. Food Chemistry. Germany : Library of congres Cataloging in Publication Data. Kencana AL. 2009. Perlakuan sonikasi terhadap kitosan: viskositas dan bobot molekul [skripsi]. Bogor: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor. Latifah S. 2010. Stabilitas mikrokapsul ketoprofen dengan penyalut kitosan alginat [skripsi]. Bogor: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor List PH, Schmidt PC. 1989. Phytopharmaceutical Technology. Boston: CRC PR. Mandal V, Yogesh MH. 2007. Microwave assisted Extraction An Innovative and Promising Extraction Tool for Medicinal Plant Research. Pharmacognosy Rev 1: 7-18. Mason TJ, Lorimer JP. 2002. Applied Sonochemistry : The Uses of Power Ultrasound in Chemistry and Processing. Verlag: Whiley-VCH. Mi FL, Shyu SS, Lee ST, Wong TB. 1999. Kinetic study of chitosan tripolyphosphate complex reaction and acid-resistive properties of the chitosantripolyphosphate gel beads prepared by in-liquid curing method. J Polym Sci 37:1551-1564. Mustaufik, T. Susanto dan Purnawati. 2000. Pengaruh Penambahan Emulsifying Agent Tween 80 dan Stabilizer Emulsi Na-CMC terhadap Stabilitas SUsu Kacang . Jurnal Teknologi Pertanian vol 1, No. 2. Agustus 2000. 24-34 Nikmatin S. 2012. Bionanokomposit filler nanopartikel serat kulit rotan sebagai material pengganti komposit sintetis fiber glass pada komponen kendaraan bermotor. [disertasi]. Bogor: Fakultas Teknologi Pertanian Departemen Teknik Pertanian. Nina 2013. Produksi Nano Herbal dari Temulawak dengan High Speed Homogenization. [skripsi]. Pascasarjana IPB. Partang, VA. 2008. Chemistry of Spices. Oxford. CABI

34

Pasto, D., Johnson, C., Miller. M. 1992. Eksperiments and Techniquest in Organic Chemistry. New Jersey : PrenticeHall Inc. Pirrung MC. 2007. The Synthetic Organic Chemists Companion. New Jersey: John Wiley & Sons Inc. Prasetyorini. 2011. Penerapan Teknologi Nanopartikel Propolis Trigona Spp AsalBogor sebagai Antibakteri Eschericia Coli Secara In-Vitro, Ekologia. Vol 11. No. 1, April 2011: 36 - 43 Purkayastha, S., Berliner, A., Fernando, S.S., Ranasinghe, B., Ray, I., Tariq, H., Banerjee, P., 2009. Curcumin blocks brain tumor formation. Brain Res. 1266, 130138. Purseglove JW, EG Brown, GL Green, Robbins SRG. 1981. Spices Vol. II. New York: Longman. Rahman R. 2008. Pengaruh proses pengeringan, anil dan hidrotermal terhadap kristalinitas nanopartikel TiO2 hasil proses sol-gel. [skripsi]. Depok: Fakultas Teknik Departemen Metalurgi dan Material, Universitas Indonesia. Shu XZ and Zhu KJ. 2002. Controlled Drug Release Properties of Ionically CrossLinked Chitosan Beads: The Influence of Anion Structure. International Journal of Pharmaceutics 233:217-225. Sidik, Mulyono MW, Muhtadi A. 1992. Temulawak (Curcuma xanthorriza Robx). Jakarta: Yayasan Pengembangan Obat Bahan Alam Phytomedica. Silva CM, Riberio AJ, Figueiredo M, Ferreira D, Veiga F. 2006. Microencapsulation of hemoglobin in chitosan-coated alginate microspheres prepared by emulsification/ internal gelation. AAPS Journal 7:E903-E912. Somaatmadja D. 1981. Prospek Perkembangan Industri Oleoresin di Indonesia.[Komunikasi]. BBIHP no. 201. Sulisck KS, Price GJ. 1999. Applications of ultrasound to materials chemistry. Annu Rev Mater Sci. 29:295-326. Sumanont, Y., Murakami, Y., Tohda, M., Vajragupta, O., Watanabe, H., Matsumoto, K., 2007. Effects of manganese complexes of curcumin and diacetylcurcumin on kainic acid-induced neurotoxic responses in the rat hippocampus. Biol. Pharm.Bull. 30, 17321739. Suseno D. 2009. Aktivitas antibakteri propolis Trigona spp pada dua konsentrasi berbeda terhadap cairan rumen sapi [skripsi]. Bogor: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor. Sutriyo, Djajadisastra J, Novitasari A. 2004. Mikroenkapsulasi propanolol hidroklorida dengan penyalut etil selulosa menggunakan metode penguapan pelarut. Majalah Ilmu Kefarmasian 1:93-99. Tipler PA. 1998. Fisika untuk Sains dan Teknik. Prasetyo L & Adi RW, penerjemah. Jakarta: Erlangga. Terjemahan dari: Physics for Scientists and Engineers. Wardiyati S. 2004. Pemanfaatan ultrasonic dalam bidang kimia. Di dalam: Penguasaan IPTEK Bahan untuk Meningkatkan Kualitas Produk Nasional. Prosiding Pertemuan Ilmiah IPTEK Bahan; Serpong, 7 Sep 2004. Serpong: P3IB Batan. Hlm 419-424.

35

Lampiran 1. Perhitungan Neraca Panas Pembuatan Nano kurkumin 1. Pengeringan Proses pengeringan Temulawak menggunakan suhu 500C Qin = Qout Qtemulawak + Qair + Qhilang = = (0,992 kg . 19,2 kJ/kgoC (50-25)oC) + (0,029 kg . 334 kJ/kgoC) + (100 kJ) = (485,858+100) kJ = 585,858 kJ Qin = = Qout 585,858 kJ

Steam yang digunakan adalah pada suhu 150C dan bahan dikeringkan pada suhu 50C. Dari steam tabel diperoleh: H 150 = 2746 kJ/kg H 50 = 209,3 kJ/kg Kandungan panas steam: Banyaknya steam yang diperlukan:

2. Ekstraksi Qin = = = Qin = =

Qout Qbahan + Qhilang (5,8 kg . 19,2 kJ/kgoC (55-25) oC) + (100 kJ) 3440,8 kJ
=

Qout 3440,8 kJ

Uapa atau panas yang digunakan adalah pada suhu 100C dan ekstraksi dilakukan pada suhu 55C H (100C) = 2676 kJ/kg H (55C) = 230.2 kJ/kg ( ) ( )

Jumlah panas yang diperlukan:

36

3. Evaporator Qin = Qbahan + Qair + Qhilang = (3,68 kg . 19,2 kJ/kgoC (40-25) oC) + (2,8 kg . 104,2 kJ/kgoC) + 100 kJ = 1452,46 kJ Qin = = Qout 1452,46 kJ

Steam yang digunakan adalah pada suhu 100C dan pemekatan dilakukan pada suhu 40C. Dari steam tabel diperoleh: H 100 = 2676 kJ/kg H 40 = 167,5 kJ/kg Kandungan panas steam: Banyaknya steam yang diperlukan: