Anda di halaman 1dari 9

Golongan Deterjen

Pemakaian deterjen untuk irigasi saluran akar akan menambah kebersihan karena efektif menghilangkan sisa jaringan lemak (Barbosa et al, 1994). Bahan ini efektif sebagai agen pembersih karena mempunyai tegangan permukaan yang aktif, dapat mengemulsi organisme dan debris organik sehingga bisa dikeluarkan dari dalam saluran akar. Efek antibakterinya dengan cara mengganggu lipoprotein membran sel (Kolstad dan White, 1995), tetapi lebih lemah dari NaOCI (Spangberg, 1994). Bahan irigasi yang termasuk deterjen kationik adalah golongan quartenary ammonium compound. Meskipun mempunyai efek pembersih yang baik tetapi bahan ini bukan larutan irigasi yang ideal karena efek antibakterinya lemah, dan dapat menghambat atau memperlama penyembuhan luka (Weine, 1985; Spangberg, 1994). Contoh deterjen kationik yaitu EDTAG, Zephiran, aminoquinal diacetate/Salvizol, Bis-dequalinium acetate atau Solvidont (Spangberg, 1988), Biosept 0,1% dan 1% (Spangberg, 1994), Bardac 22 0,5% (Panighi dan Jacquot, 1995). Biosept lebih toksik dari NaOCI, iodofor dan klorheksidin (gambar 1). Daya iritasi jaringan Salvizol sama dengan iodofor, tetapi lebib rendah dari NaOCI dan Zephiran (Spangberg, 1994). Larutan irigasi yang termasuk deterjen anionik (nonionik) antara lain lauryl sulphate dan Sabun (Kolstad dan White, 1995). Kombinasi larutan kalsium hidroksida dengan lauryl-diethylene-glycol-ether-sodium sulphate 10% dan 20% memiliki efek antibakteri lebib besar dari larutan kalsium hidroksida terhadap bakteri S.faecalis, S.sanguis,

Smutans,S.salivarius, Neissseria sp, diphteroid, S.aureus, Lactobacillus sp, S.epidermidis, B. subtilis dan C.albicans (Barbosa et al, 1994). Akan tetapi, Herlofson dan Barkvoll (1996), menemukan deskuamasi mukosa mulut pada 75% subyek pemakai pasta gigi mengandung SLS.

Gambar 1. Toksisitas dan efek antimikroba dari medikamen endodontik untuk irigasi A. Efek toksisitas pada sel L929 in vitro. Bar hitam menunjukkan pengenceran antiseptik yang dapat membunuh kultur sel selama periode 4 jam. Semakin panjang bar, toksisitas semakin tinggi (skala logaritma). B. Efek antimikroba terhadap berbagai strain mikroba yang diisolasi dari saluran akar. Bar menunjukkan pengenceran antiseptik yang efektif dan membunuh organisme di daIam kultur. Semakin panjang bar, efek antimikroba semakin kuat (skala logaritma). *Dilution menunjukkan pengenceran dari konsentrasi yang ditunjukkan oleh diagram. (Biosept adalah agen deterjen kationik; Iodopax dan Wescodyne adalah lodophores, Hibitane adalah klorheksidin (dikutip dari Spangberg. 1994).

Detergen sering digunakan sebagai larutan irigasi, karena sangat efektif menghilangkan sisa jaringan lemak hasil dari jaringan-jaringan yang nekrosis. Bahan dari golongan ini yang sering digunakan adalah dari komponen quaternary ammonium. Komponen ini dahulunya dianggap sangat optimal untuk terapi antimikroba dan efektif dalam konsentrasi yang rendah. Namun terbukti salah, sebenarnya komponen ini juga lebih toksik dari larutan irigasi lain serta sifat bakterisidalnya yang lemah. Antiseptik quaternary ammonium biasanya digunakan antara 0.1% - 1% konsentrasi larutan air.2 Zephiron Chloride adalah suatu komponen yang sering dipakai sebagai bahan irigasi endodonti, tetapi karena bersifat toksiksitas serta efektivitas antibakteri yang lemah, maka lebih baik menggunakan larutan Sodium hypochlorite yang konsentrasinya kurang dari 1%. Detergen ini juga dapat dicampur dengan Calcium hydroxide (CaOH2) untuk mengirigasi.2

MTAD Mixture of a tetracycline isomer, an acid and a detergent (MTAD) merupakan bahan irigasi saluran akar baru yang dirancang untuk membersihkan dan mendesinfeksi saluran akar secara kimiawi pada perawatan endodonti yang pertama sekali diperkenalkan oleh Torabinejad et al. (2003). MTAD merupakan bahan irigasi yang bersifat asam (pH = 2,15) dalam bentuk sediaan liquid (cairan) dengan komposisi berupa isomer tetrasiklin yaitu doksisiklin 3%, asam yaitu asam sitrat 4,25%, dan deterjen yaitu TWEEN 80 0,5%.

a. Doksisiklin Doksisiklin merupakan isomer tetrasiklin dengan pengertian bahwa doksisiklin dan tetrasiklin bervariasi dalam struktur bangunnya (gambar 1-2), bukan pada komposisinya (tabel 1). Tabel 1. Struktur Kimia Golongan Tetrasiklin

Berdasarkan sifat farmakokinetiknya yang mencakup nasib obat di dalam tubuh yaitu absorpsi, distribusi, metabolisme dan ekskresinya maka antibiotic golongan tetrasiklin dibagi menjadi 3 golongan dimana doksisiklin termasuk salah satu di dalamnya dengan daya absorpsi yang paling baik dan masa paruh yang paling panjang. Golongan tetrasiklin memperlihatkan efek antibakteri spektrum luas meliputi kuman gram positif dan negatif, aerob dan anaerob. Golongan tetrasiklin termasuk antibiotik yang

bersifat bakteriostatik, dengan pH rendah dan aktivitas antikolagenase dapat meningkatkan kemampuan antibakteri. Daya penetrasi doksisiklin ke jaringan lebih baik dibandingkan dengan tetrasiklin demikian pula efek diskolorisasi yang ditimbulkannya terhadap gigidesidui maupun gigi permanen lebih rendah dibandingkan dengan tetrasiklin. Doksisiklin dapat mengikat jaringan terkalsifikasi dan dapat membebaskannya dalam satu periode waktu.

b. Asam Sitrat Asam sitrat merupakan salah satu bahan yang dapat dipergunakan sebagai chelating solution yaitu bahan yang dapat membuang ion logam atau meningkatkan ekskresi ion logam, misalnya kalsium dengan mengikatnya secara kimia dan mencegah atau menghilangkan efek toksik ion logam tersebut. Sebagai larutan irigasi asam sitrat memiliki kemampuan membuang smear layer terutama debris anorganik, membersihkan dinding dentin dan memiliki aktivitas desinfeksi saluran akar. Asam sitrat 10% menunjukkan kapasitas daya pembersih yang tinggi dan dalam berbagai konsentrasi berbeda dapat digunakan sebagai bahan demineralisasi dentin yang efekif. Asam sitrat yang dipaparkan pada dentin dapat memperlebar pembukaan tubulus dentin dan meningkatkan permeabilitas permukaan dentin.

c. TWEEN 80 TWEEN 80 polysorbate 80, PEG (80), sorbitan monooleate,

polyoxyethylenesorbitan monooleate adalah ester dari polyethylene sorbitol. Perhitungan berat molekul Polysorbate 80 adalah 1.310 dalton yang diperkirakan terdiri dari 20 unit oxide

ethylene, 1 sorbitol dan asam oleat sebagai asam lemak primer. Struktur bangun Polysorbate 80 dapat dilihat pada gambar

Deterjen yang dipergunakan berupa TWEEN 80 adalah surfaktan hidrofilik non-ion yang dapat mengurangi tegangan permukaan sehingga memungkinkan bagi cairan irigasi untuk mengalir ke dalam tubulus dentin, memiliki aktivitas antibakteri dan di sisi lain dapat mengurangi kemampuan berbagai jenis pengawet. Bahan ini umumnya digunakan dalam ramuan yang dipergunakan pada penelitian in-vivo pre klinik dan secara luas telah dipergunakan dalam aplikasi biochemical termasuk pelarutan protein, pemisahan nukleat dari sel dalam proses pengkulturan, pertumbuhan basil tuberculosis serta emulsi dan dispersi zat dalam produk obat dan makanan. TWEEN 80 dapat bercampur dengan air menghasilkan larutan bening hingga berwarna kuning pucat yang sedikit keruh, dapat larut dalam alkohol, minyak jagung, ethyl acetate, methanol dan toluene namun tidak dapat larut dalam air mineral dan tidak cocok dengan alkalis, garam logam berat, phenol, dan asam tannic. Penggabungan doksisiklin, asam sitrat dan deterjen menjadi suatu bahan irigasi saluran akar yang baru yaitu MTAD didasarkan pada penelitian yang dilakukan oleh Torabinejad et al. (2003). Pemeriksaan mikroskopik saluran akar menunjukkan bahwa saluran akar memiliki bentuk yang tidak teratur dan memiliki sistem yang kompleks. Mikroorganisme yang terdapat pada saluran akar tidak hanya menyerang ketidakteraturan

anatomis dari sistem saluran akar tetapi juga menyerang tubulus dentin dan menginfeksi kembali saluran akar jika bakteri yang tersisa pada saluran akar dapat bertahan hidup setelah perawatan endodonti yang inadekuat. Salah satu tujuan utama perawatan saluran akar adalah membersihkan dan membentuk saluran akar kemudian mengisi sistem saluran akar dalam tiga dimensi untuk mencegah infeksi ulang. Smear layer terdiri dari substansi organik dan anorganik, termasuk fragmen dari proses odontoblastik, mikroorganisme dan materi yang nekrose. Smear layer yang terdapat pada saluran akar akan menghambat penetrasi medikamen intrakanal ke dalam sistem saluran akar yang tidak teratur termasuk ke dalam tubulus dentin, juga dapat menghalangi adaptasi sempurna bahan obturasi pada permukaan dinding saluran akar. Sebagaimana halnya dengan berbagai jenis asam, alat ultrasonik dan laser, tetrasiklin telah direkomendasikan sebagai bahan chelator selama perawatan periodontal dan endodonti dikarenakan efek antibakteri dan kemampuan chelating yang dimilikinya. Barkhordar et al. (1997) dan Haznedaeroglu dan Ersev (2001) merekomendasikan penggunaan tetrasiklin-HCl untuk mengangkat smear layer dari permukaan dan ujung saluran akar yang telah diinstrumentasi. Tetrasiklin juga memiliki beberapa kemampuan unik lainnya di samping efek antimikroba yang dimilikinya. Tetrasiklin memiliki pH rendah dan karenanya dapat bertindak sebagai kalsium chelator dan menyebabkan terjadinya demineralisasi permukaan enamel dan dentin. Demineralisasi permukaan dentin yang terjadi dengan penggunaan tetrasiklin sebanding dengan yang terlihat dengan penggunaan asam sitrat. Efek tetrasiklin dalam membuang smear layer dari permukaan saluran akar yang diinstrumentasi dan pada ujung akar juga telah diteliti. Melalui sebuah pilot study yang dilakukan

Torabinejad et al. (2003) saluran akar diinstrumentasi, smear layer dibuang, tubulus dentin diinfeksi dengan saliva utuh atau dengan memberikan Enterococcus faecalis dan setelah 2 minggu saluran akar diirigasi dengan 5 ml doksisiklin yang memiliki konsentrasi berbeda dalam suatu interval waktu. Hasilnya menunjukkan bahwa doksisiklin konsentrasi rendah yang ditempatkan di dalam saluran akar selama 5 menit menunjukkan keefektifannya sebagai antibakteri dan 100% mencegah pertumbuhan sampel bakteri yang dipergunakan dalam percobaan. Percobaan yang sama juga diberikan pada penisilin dan eritromisin namun keduanya tidak efektif. Pembuangan smear layer dari permukaan saluran akar yang diinstrumentasi memungkinkan penetrasi doksisiklin ke dalam saluran akar yang tidak teratur dan tubulus dentin. Berbagai bahan kimia telah digunakan untuk membuang smear layer. Bahan-bahan kimia tersebut termasuk EDTA, asam asetat, asam sitrat, polyacrylic acid, asam tannic, Bisdequalinium-acetate. Torabinejad et al. (2003) mengkombinasikan sejumlah asam asetat, asam sitrat, polyacrylic acid dengan konsentrasi berbeda sebagai larutan irigasi awal dengan doksisiklin konsentrasi rendah sebagai larutan irigasi akhir diujikan selama 1-10 menit pada saluran akar yang telah dinstrumentasi sebelumnya. Hasilnya menunjukkan bahwa kombinasi 5 ml doksisiklin dan 5 ml asam sitrat yang diuji selama 1-5 menit merupakan larutan yang paling efektif membuang smear layer. Kombinasi doksisiklin dan asam sitrat ini kemudian dicampur dengan sejumlah deterjen yang memiliki konsentrasi berbeda untuk mendapatkan tegangan permukaan yang lebih rendah sehingga dapat meningkatkan daya penetrasi larutan. Hasil percobaan menunjukkan bahwa

campuran doksisiklin, asam sitrat dan TWEEN 80 mampu membuang smear layer dari permukaan saluran akar lebih baik dibanding dengan kombinasi doksisiklin dan asam sitrat saja. Berdasarkan hasil penelitian tersebut diperoleh bahan irigasi baru yang terdiri atas beberapa bahan yang masing-masing memiliki kemampuan dalam membersihkan saluran akar pada perawatan endodonti.