Anda di halaman 1dari 27

I.

JUDUL PERCOBAAN

: ALDEHID DAN KETON

II.

TANGGAL PERCOBAAN

: Kamis 29 Maret 2012

III.

SELESAI PERCOBAAN

: Senin, 01 April 2012

IV.

TUJUAN PERCOBAAN

1. Azas-azas reaksi dari senyawa karbonil


2. Perbedaan reaksi antara aldehid dan keton
3. Jenis pengujian kimia sederhana yang dapat membedakan aldehid dan keton
V.

DASAR TEORI

Aldehid dan keton adalah nama dua golongan senyawa organic yang masing
masing mengandung unsure unsure C, H, dan O. Kedua golongan senyawa ini
mempunyai gugus fungsi karbonil C=O oleh karena itu diantara keduanya terdapat
beberapa persamaan sifat.
Rumus umum aldehid adalah RC=O dan untuk keton RC=O
H

Dari rumus umum tersebut dapat diketahui perbedaan antara atom / gugus yang
terikat pada gugus karbonil dalam aldehid dan keton. Perbedaan inilah yang
mengakibatkan aldehid dan keton tidak memiliki sifat sifat yang identik.
Perbedaan antara aldehid dan keton adalah keberadaan sebuah atom hydrogen yang
terikat pada ikatan rangkap C=O dalam aldehid, sedangkan pada keton tidak ditemukan
hydrogen seperti ini. Keberadaan atom hydrogen tersebut menjadikan aldehid sangat
mudah teroksidasi atau dengan kata lain, aldehid adalah agen pereduksi yang kuat.
Karena keton tidak memiliki atom hydrogen ini, maka keton sangat sulit dioksidasi.
Hanya agen pengoksidasi sangat kuat seperti larutan kalium manganat ( VII ) yang bisa
mengoksidasi keton. Itupn dengan mekanisme yang tidak rapi, dengan memutus ikatan
ikatan C C. Dengan tidak memperhitungkan agen pengoksidasi yang kuat ini, kita bisa
dengan mudah menjelaskan perbedaan antara sebuah aldehid dan keton. Aldehid dapat
dengan mudah dioksidasi dengan menggunakan semua jenis agen pengoksidasi,
sedanglan keton tidak.
Salah satu agen pengoksidasi yang digunakan dalam laboratorium untuk
membedakan senyawa aldehid dan keton adalah reagen Fehling dan reagen Tollens.
Pereaksi Fehling terdiri atas larutan Fehling A dan larutan Fehling B. larutan Fehling A
terdiri atas larutan CuSO4, sedangkan larutan Fehling B terdiri atas larutan NaOH dan

larutan kalium-natrium tartrat. Pereaksi Fehling dibuat dengan cara mencampur larutan
fehling A dan larutan Fehling B dalam jumlah yang sama banyak. Larutan fehling
merupakan ion kompleks Cu2+ dalam suasana basa, dan dalam asam persamaan reaksi
cukup ditulis CuO (aq). Aldehid dengan pereaksi Fehling dapat bereaksi menghasilkan
endapan merah bata, yaitu Cu2O.
Sifat sifat Fisika aldehid dan Keton sebagai berikut :
1. Formaldehida yang merupakan suku pertama deret aldehid berwujud gas,
sedangkan asetaldehida merupakan cairan yang mendidih pada suhu 21C.
Sehingga penyimpanan asetaldehida biasanya disimpan dalam lemari es. Suku
suku aldehida yang berikutnya ( yag mengandung 3 sampai 12 atom C ) semuanya
berwujud cairan tanpa warna. Dua suku pertama dalam deret aldehid baunya tidak
enak, tetapi suku suku yang mengandung 3 sampai 12 atom C adalah cairan
yang baunya sedap. Selebihnya adalah berbentuk padat.
2. Senyawa senyawa keton yang mengandung 3 sampai dengan 13 atom C berupa
cairan dengan bau sedap, sedangkan suku suku yang lebih banyak atom C-nya
berwujud padat.
3. Suku suku rendah ( memiliki jumlah atom C sedikit ) golongan aldehid dan
keton dapat larut dalam air, sedangkan suku suku yang tinggi ( memilki jumlah
atom C yang banyak ) sukar atau tidak dapat larut dalam air.
4. Jika R adalah gugus hidrokarbon, maka diperoleh keton. Banyak keton dapat
menghasilkan reaksi ini, tetapi semua keton tersebut memiliki sebuah gugus metal
pada salah satu sisi ikatan rangkap C=O.
5. Jika R adalah gugus hidrokarbon, maka diperoleh keton. Banyak keton dapat
menghasilkan reaksi ini, tetapi semua keton tersebut memiliki sebuah gugus metal
pada salah satu sisi ikatan rangkap C=O.
6. Jika R adalah gugus hidrokarbon, maka diperoleh keton. Banyak keton dapat
menghasilkan reaksi ini, tetapi semua keton tersebut memiliki sebuah gugus metal
pada salah satu sisi ikatan rangkap C=O.

Reaksi reaksi dapat terjadi pada aldehid dan keton :

1. Oksidasi
Aldehid mudah sekali dioksidasi sehingga dengan demikian aldehid bersifat
sebagai reduktor yang kuat. Aldehid dapat mereduksi larutan Fehling dan
menghasilkan tembaga (I) oksida yang berupa endapan merah bata. Contoh
persamaan reaksi yang sederhana adalah :
RCHO + 2Cu2+ + NaOH + H2O RCOONa + Cu2O + 4H+
Aldehid

( dari lar. Fehling )

Aldehid dapat pula mereduksi larutan Tollens dan menghasilkan endapan logam
perak. Reaksi yang terjadi dapat dituliskan sebagai berikut :
RCHO + 2Ag(NH3)2OH
Aldehid

RCOONH4 + 2Ag + 3NH3 + H2O

( dari lar. Tollens )

2. Kondensasi aldol
Yang dimaksud dengan reaksi kondensasi adalah suatu reaksi penyatuan atom
atom dalam satu molekul atau dalam molekul molekul yang berbeda dan
membentuk senyawa baru yang lebih kompleks. Kondensasi aldol adalah sebuah
reaksi organic antara ion enolat dengan senyawa karbonil, membentuk aldol. Bila
aldehid direaksikan dengan larutan basa encer, ia akan berkondensasi sesamanya
menghasilkan aldol, yang bila dipanaskan akan membebaskan air dan
menghasilkan aldehid tak jenuh, yakni krotonaldehid.

3. Adisi natrium hidrogensulfit pada keton

Natrium hidrogensulfit biasa juga dikenal sebagai natrium bisulfit. Reaksi ini
hanya berlangsung dengan baik untuk aldehid. Sedangkan untuk keton, salah satu
gugus hidrokarbon yang terikat pada gugus karbonil harus berupa gugus metal.
Gugus gugus besar yang terikat pada gugus karbonil terlibat pada proses reaksi
yang berlangsung.

Keton dicampur / dikocok dengan sebuah larutan jenuh dari natrium


hidrogensulfit dalam air. Jika produk telah terbentuk, produk tersebut akan
terpisah sebagai Kristal putih.

Senyawa senyawa yang dihasilkan ini jarang diberi nama secara sistemastis
dan biasanya dikenal sebagai senyawa adisi hidrogensulfit atau bisulfit.

4. Reaksi haloform
Larutan iodine dimasukkan ke dalam sedikit keton atau aldehid diikuti dengan
larutan natrium hidroksida secukupnya untuk menghilangkan warna iodine. Hasil
positif ditunjukkan oleh adanya endapa kuning pucat-pasi dari triiodometana
( yang dulunya disebut iodoform ) CHI 3. Selain dikenali dari warnanya,
triiodometana dapat juga dikenali dari baunya yang mirip aroma obat. Hasil positif
endapan kuning pucat-pasi dari triiodometana ( iodoform ) dihasilkan oleh sebuah
keton atau aldehid. R bisa berupa sebuah atom hydrogen atau sebuah gugus
hidrokarbon ( misalnya gugus alkil ). Jika adalah hydrogen, maka diperoleh
aldehid etanal, CH3CHO.

Etanal / aseton merupakan satu-satunya aldehid yang bisa menghasilkan reaksi


triiodometana.

Jika R adalah gugus hidrokarbon, maka diperoleh keton. Banyak keton dapat
menghasilkan reaksi ini, tetapi semua keton tersebut memiliki sebuah gugus
metal pada salah satu sisi ikatan rangkap C=O.

Pembuatan Aldehid :
1. Oksidasi alcohol primer
Dalam laboratorium, oksidator yang lazim digunakan untuk mengoksidasi alcohol
adalah larutan Kalium bikromat dan asam sulfat.
Contoh :

oksidasi

CH3CH2OH + CH3

C =O + H2O
K2Cr2O7 + H2SO4

Mengingat bahwa aldehid mudah mengalami oksidasi menjadi asam karboksilat,


maka dalam pembuatan ini harus diupayakan pencegahan oksidasi lebih lanjut
tersebut, yaitu dengan segera menyisihkan aldehid yang terjadi dari campuran
reaksinya.

2. Mengalirkan uap alcohol primer di atas tembaga panas


Contoh :

Cu

CH3CH2OH

CH3 C =O + H2O
200-350C

Pada reaksi di atas terlihat bahwa aldehid yang diperoleh adalah sebagian dari
pelepasan hydrogen dan alcohol. Proses inilah yang melahirkan istilah alcohol
dehidrogenatum, yang selanjutnya berubah menjadi aldehid dalam arti alcohol
yang kekurangan hydrogen.

3. Memanaskan garam kalsium suatu asam monokarboksilat jenuh dengan kalsium


format

Pembuatan Keton

1. Oksidasi alcohol sekunder


Contoh :

oksidasi

CH3CHCH3

CH3 C CH3 + H2O

OH

Isopropyl alcohol

aseton

2. Mengalirkan uap alcohol sekunder di atas tembaga panas

3. Memanaskan garam kalsium asam monokarboksilat jenuh


Cara ini diterapkan untuk membuat keton sederhana maupun keton campuran.
Garam kalsium yang dipanaskan harus disesuaikan dengan keton yang dibuat.

Untuk membuat sejumlah keton dapat ditempuh dengan cara mengalirkan uap
suatu asam monokarboksilat / anhidrida asam monokarboksilat di atas katalis
logam / oksida logam yang dipanaskan. Sebagai contoh, aseton dapat diperoleh
dengan mengalirkan uap asam asetat di atas katalis MnO.

VI.

Alat dan Bahan


Alat

Bahan

Tabung reaksi
Termometer
Erlenmeyer 50 Ml
Corong Hirsch
Corong Buchner
Labu penyaring + Kertas saring
Pembakar Bunsen
Labu dasar bulat 50 mL
Pendingin refluks

Asetaldehid
Sikloheksanon
n-Heptaldehida
2-Pentanon
Formalin
Isopropil alcohol
Etanol
Reagen Benedict (atau Reagen Felling)
Larutan 10% natrium hidroksida
Larutan 5% natrium hidroksida
Larutan perak nitrat 5%
Larutan 2% ammonium hidroksida
Larutan jenuh natrium bisulfit
Asam Klorida
Reagen fenilhidrasin
Hidroksiamin hidroklorida
Natrium asetat trihidrat
Larutan iodium
Es

VII.

CARA KERJA

2 mL AgNO3 5%

Uji Tollens

Dimasukkan ke tabung reaksi


Ditambah 2 tetes NaOH 5%
Dicampur
Ditambah NH4OH 2% tetes demi
Reagen Tollens
tetes (sampai endapan larut)

1 mL reagen Tollens

1 mL reagen Tollens

+ 2 tetes benzaldehid
Dikocok
Didiamkan 10 menit

+ 2 tetes aseton
Dikocok
Didiamkan 10 menit
Dipanaskan bila tidak
bereaksi

Dipanaskan bila tidak


bereaksi
Hasil

Catatan

: pemanasan 35 -50

terjadi reaksi

1 mL reagen Tollens

Hasil

selama 5 menit dilakukan bila tidak

1 mL reagen Tollens

+ 2 tetes
sikloheksanon
Dikocok
Didiamkan 10 menit
Dipanaskan bila tidak
bereaksi

Hasil

+ 2 tetes formalin
Dikocok
Didiamkan 10 menit
Dipanaskan bila
tidak bereaksi

Hasil

2. Uji fehling dan benedict

5 mL benedict

5 mL benedict

5 mL benedict

5 mL benedict

Tabung reaksi 1

Tabung reaksi 2

Tabung reaksi 3

Tabung reaksi 4

+ 5mL fehling
+ formaldehid
Dipanaskan dalam
penangas
Diamati sesuda 10-15
Hasil menit

Catatan

+ 5mL fehling
+ n-heptal dehid
Dipanaskan dalam
penangas
Diamati sesuda 10-15
menit

Hasil

+ 5mL fehling
+ aseton
Dipanaskan dalam
penangas
Diamati sesuda 10-15
menit

Hasil

: Larutan fehling dari 10 mL fehling A dan 10 mL fehling B

+ 5mL fehling
+ sikloheksana
Dipanaskan dalam
penangas
Diamati sesuda 10-15
menit

Hasil

3. adisi bauksit

5 mL Na-bisulfit jenuh
Dimasukkan dalam Erlenmeyer 50 mL
Didinginkan dalam air es
Ditambah 2,5 mL aseton tetes demi tetes
sambil dikocok
Setelah 5 menit ditambah 10 mL etanol
HablurDisaring dengan corong penyaring
Ditambah HCl pekat beberapa tetes
Hasil

5 mL fenilhidrasin

4. pengujian dengan
fenilhidrasin
Tabung 1

Tabung 2

Ditambah benzaldehid

Ditambah sikloheksanon
Ditutup, digoyang sampai
terbentuk hablur
disaring

Ditutup, digoyang sampai


terbentuk hablur
disaring
hablur

hablur

Dicuci dengan air dingin

Dicuci dengan air dingin


Dihablurkan kembali dengan
ditambah methanol/etanol
Dibiarkan kering
Ditentukan titik lelehnya

Dihablurkan kembali dengan


ditambah methanol/etanol
Dibiarkan kering
hasil Ditentukan titik lelehnya

hasil

6. reaksi haloform

3 mL NaOH 5%

Tabung 1

Tabung 2
Ditambah 5 tetes isopropyl alkohol
Ditambah iodin 10mL (sampai
warna iodin tidak hilang)

Ditambah 5 tetes aseton


Ditambah iodin 10mL
(sampai warna iodin tidak
hilang)
Iodoform mengendap
7. kondensasi aldol

Iodoform mengendap

4 mL NaOH 1%
Ditambah asetaldehid
Digoncangkan
dibau
hasil
Didinginkan 3 menit
dibau
hasil

VIII. HASIL PENGAMATAN

IX.

PEMBAHASAN

Pada percobaan pertama yaitu menguji reaksi yang terjadi pada reagen
Tollens dengan senyawa aldehid dan keton pertama tama dalam pembuatan reagent
tollens pada tabung raksi dimasukkan 2 mL AgNO3 5% + 2 mL NaOH 5 % dan
dihasilkan larutan yang berwarna coklat serta terdapat endapan coklat keruh, endapan
tersebut merupakan endapan Ag2O sesuai dengan reaksi sebagai berikut :
2AgNO3 + 2 NaOH Ag2O + 2 NaNO3 + H2
Kemudian ditambahkan NH4OH 2% pada tabung tersebut dan didapatkan hasil larutan
menjadi jernih, dan endapan perlahan menghilang dan larutan tersebut merupakan
reagen tollens dengan rumus Ag(NH3)2OH dengan reaksi sebagai berikut :
Ag2O + NH4OH Ag(NH3)2OH
Selanjutnya larutan reagen tollens tersebut dimasukkan ke dalam 4 tabung reaksi
dengan volume sama banyak.

Pada tabung 1 larutan tollens ditambahkan 2 tetes benzaldehid dan didapatkan


hasil larutan menjadi putih keruh, dan terdapat sedikit cermin perak pada dinding
tabung reaksi, hal ini sesuai berdasarkan reaksi berikut :

2Ag(NH3)2OH

+ 2Ag + 3NH3 + H2O

Reagen tollens [(Ag(NH3)2OH)] akan mengoksidasi aldehid menjadi garam asam


karboksilat, dan ion Ag+ direduksi menjadi logam perak (Ag). Adanya endapan

coklat keabuabuan membuktikan bahwa terdapat Ag yang mengendap. Ini


membuktikan bahwa ion perak beramoniak direduksi oleh benzaldehid menjadi
logam perak, sedangkan aldehida dioksidasi menjadi asam karboksilat. Dimaana
aldehid (benzaldehid) dapat dioksidasi karena adanya atom hydrogen yang terikat
pada karbon karbonil yang akan mudah dolepaskan selama oksidasi.
Pada tabung 2 Larutan tollens ditambahkan 2 tetes aseton dan didapatkan hasil
larutan menjadi jernih tak berwarna, dan tidak menghasilkan cermin perak, pada
pereaksian antara reagen tollens dengan aseton tidak terbentuk cermin perak karena
aseton tidak mempunyai gugus OH, sehingga tidak dapat terbentuk garam asam
karboksilat. Reaksi yang terjadi :

+ 2Ag(NH3)2OH

Pada tabung 3 Larutan tollens ditambahkan 2 tetes sikloheksanon dan didapatkan


hasil larutan menjadi berwarna coklat jernih, dan gelembung pada dasar tabung,
pada percobaan ini juga tidak terrbentuk cermin perak, sama seperti percobaan
sebelumnya, pereaksian antara reagen tollens dengan sikloheksanon tidak terbentuk
cermin perak karena sikloheksanon tidak mempunyai gugus OH, sehingga tidak
dapat terbentuk garam asam karboksilat. Reaksi yang terjadi :

+ 2Ag(NH3)2OH

Pada tabung 4 larutan tollens ditambahkan 2 tetes formalin dan dihasilkan larutan
berwarna hitam dan terdapat cermin perak pada dinding tabung reaksi, hal ini
dikarenakan Reagen tollens [(Ag(NH3)2OH)] akan mengoksidasi aldehid menjadi
garam asam karboksilat, dan ion Ag+ direduksi menjadi logam perak (Ag). Adanya
endapan coklat keabuabuan membuktikan bahwa terdapat Ag yang mengendap.
Ini membuktikan bahwa ion perak beramoniak direduksi oleh benzaldehid menjadi
logam perak, sedangkan aldehida dioksidasi menjadi asam karboksilat. Dimaana
aldehid (benzaldehid) dapat dioksidasi karena adanya atom hydrogen yang terikat
pada karbon karbonil yang akan mudah dolepaskan selama oksidasi. Sesuai reaksi
berikut :

+ 2Ag(NH3)2OH

+ 2Ag + 3NH3 + H2O

Pada percobaan 2 dimana 5 mL benedict dituang pada 3 tabung reaksi dengan


volume sama banyak.

Pada tabung 1 Larutan Benedict dan fehling ditambahkan formaldehid,


kemudian didihkan 10 menit. Larutan berwarna hijau kehitaman ada lapisan
berwarna emas. Reaksi yang terjadi sebagai berikut. Timbulnya endapan ini
menunjukkan bahwa formal dehid yang termasuk kelompok aldehid dapat
bereaksi dengan Larutan Benedict dan juga fehling.

+ 2CuO Cu2O + H2O

Pada tabung 2 Larutan Benedict dan fehling ditambahkan aseton, kemudian


didihkan 10 menit dan setelah itu didapatkan hasil larutan berwarna biru tua
dan terdapat lapisan biru muda.

+ 2CuO

Pada tabung 3 Larutan Benedict dan Fehling ditambahkan sikloheksanon,


kemudian didihkan 10 menit dan setelah itu didapatkan hasil larutan berwarna
biru tua, serta terdapat lapisan cekung.

+ 2CuO

Jadi, ion Cu2+ pada reagen bennedict dan fehling dapat mengoksidasi gugus
aldehid

(formaldehid) tetapi

tidak

dapat

mengoksidasi gugus keton (aseton dan

sikloheksanon).

Pada percobaan 3 dimana 5 mL Natrium Bisulfit, didinginkan dalam air es


kemudian ditambahkan 2,5 mL aseton, larutan tetap menjadi jernih tidak berwarna.
Kemuadian ditambahkan 10 mL etanol, terbentuk hablur berwarna putih. Setelah
ditambah HCl pekat maka didapatkan hasil larutan menjadi jernih tak berwarna,
hablur terlarut dalam HCl. Reaksi yang seharusnya adalah sebagai berikut :
C2H5OH

+ HSO3Na+

Setelah direaksikan dengan HCl hablur larut kembali menghasilkan aseton. Hal ini terbukti
bahwa setelah bereaksidengn asam akan membebaskan kembali senyawa karbonil. Jadi,
reaksi ketondengan natrium bisulfit ini dapat digunakan untuk memisahkan keton dari
senyawa hidrokarbon.
Pada percobaan 4 dimana 2 mL fenilhidrasin dibagi dalam 2 tabung dengan volume
sama banyak.

Pada tabung 1 fenilhidrasin ditambahkan benzaldehid dan didapatkan hasil


larutan menjadi jingga keruh terbentuk hablur, dan kemudian disaring
didapatkan residu berwarna coklat muda, setelah itu di keringkan dan diamati
titik lelehnya. Pada reaksi ini membuktikan bahwa benzaldehid dapat bereaksi
dengan fenil hidrasil yang menghasilkan fenildrazonbenzena. Hal tersebut dapat
terjadi

karena

pasangan

bebas

elektron

pada

atom

fenilhidrasil

menebabkansenyawa-senyawa ini bereaksi membentuk fenil hidrason yang


mula-mula membebaskan 1 mol air. Hasil dari reaksi ini adalah berupa hablur.
Dimana hablur ini nantinya dapat mengidentifikasi senyawa benzaldehid.
Diperoleh titik lelehnya sebesar 110oC. menurut teori titik leleh benzaldehid
adalah sebesar 130 oC, terjadi ketidaksesuaian dengan teori hal ini disebabkan
pada percobaan thermometer yang digunakan hanyalah thermometer 110 oC.
sehingga hasilnya kurang akurat.

+ H2O

Pada tabung 2 fenilhidrasin ditambahkan sikloheksanon dan sama pada


percobaan dengan benzaldehid, fenilhidrazin + sikloheksanon menghasilkan
larutan yang berwarna cokelat keruh. Sikloheksanon juga dapat di identifikasi
dengan direaksikan dengan fenilhidrazin. Hal tersebut dapat terjadi karena
pasangan bebas elektron pada atom fenilhidrasil menebabkansenyawa-senyawa
ini bereaksi membentuk fenil hidrason yang mula-mula membebaskan 1 mol
air. Hasil dari reaksi ini adalah berupa hablur. Dimana hablur ini nantinya dapat
mengidentifikasi senyawa keton. Setelah itu disaring dan hablur dikeringkan
sehingga dapat diukur titik lelehnya. Berdasarkan percobaan ini diperoleh titik
leleh 76oC. berdasarkan teorinya titik leleh sikloheksanon (senyawa keton
adalah berkisar 80 oC. reksi yang terjadi sebagai berikut :

H2O

Jika dibandingkan dengan keton benzaldehid lebih tinggi titik lelehnya


dibandingkan keton. Hal ini dikarenakan pada aldehid terdapat ikatan hidrogen antar
molekul sehingga mengakibatkan ikatan nya kuat sehingga titik lelehnya tinggi.
Sedangkan Jika dibandingkan dengan benzaldehid, sukloheksanon lebih rendah titik
lelehnya dibandingkan benzaldehid. Hal ini dikarenakan pada keton tidak terdapat
ikatan hidrogen antar molekul sehingga mengakibatkan ikatannya lemah sehingga titik
lelehnya rendah.
Percobaan 5 tidak dilakukan, sehingga langsung pada percobaan 6. Percobaan
6 ini bertujuan untuk mengetahui reaksi keton dengan senyawa halogen dalam hal ini
senyawa halogen yang digunakan adalah I2.

Pada tabung 1 : 5 tetes aseton ditambahkan 3 mL NaOH 5% dan Iodium,


kemudian digoncang dan didapatkan hasil endapan yang berwarna kuning.
Dengan reaksi sebagai berikut :

+ CH3I

Pada tabung 2 : 5 tetes isopropyl alcohol ditambahkan 3 mL NaOH 5% dan


Iodium, sama halnya dengan tabung 1 yaitu dihasilkan endapan berwarna
kuning. Dengan reaksi sebagai berikut :

Atom hidrogen yang terikat pada atom

+ CH3I
karbon alfa dari aldehida

dan keton mudah diganti oleh halogen di dalam larutan basa. Reaksi ini, didasarkan
pada reaksi yang cepat antara ion enolat dengan halogen. Oleh karena pengaruh
tarikan elektron dari halogen, maka atom hidrogen yang masih ada pada karbon alfa
akan lebih asam, dan semakin mudah tertukar oleh halogen. Oleh karena itu, gugus
metil yang terikat pada atom karbonil mudah sekali diubah menjadi senyawa
trihalometil oleh halogen dan basa.senyawa trihalo yang dihasilkan ini mudah sekali
diuraikan oleh basa menghasilkan haloform. Endapan kuning yang menghablur dan
berbau obat dikarenakan reagen dalam reaksi ini adalah suatu oksidator, maka suatu
alkohol yang mengandung suatu gugus -CH(OH)-CH3sehingga akan menghasilkan
pengujian yang positif.
Percobaan tujuh dilakukan bertujuan untuk membuat aldol, percobaan ini
dilakukan dengan memasukkan 4 mL larutan 1% NaOH dan 0,5 mL asetaldehid
kedalam tabung reaksi dimana NaOH merupakan larutan tidak berwarna dan
asetaldehid juga larutan tidak berwarna. Setelah kedua campuran bercampur Setelah
menghasilkan bau balon tengik yaitu bau dari asetaldehid yang tidak bereaksi.
Kemudian mendidihkan campuran larutan selama 3 menit, kemudian dihasilkan bau
yang semakin tengik dari larutan. Setelah pemanasan maka terjadi penyingkiran air
sehingga menghasilkan aldehid tak jenuh hasil kondensasi aldol yaitu krotonaldehid
dengan persamaan reaksi :

+ H2O

X.

KESIMPULAN

Aldehid bereaksi dengan reagen Tollens membentuk Asan karboksilat dan


menghasilkan cermin perak sedangkan keton tidak bereaksi dengan Tollens
sehingga tidak menghasilkan cermin perak.

Aldehid bereaksi dengan reagen Fehling dan Benedict sedangkan keton tidak
dapat bereaksi.

Aseton yang direaksikan dengan NaHSO3 akan mengadisi aseton dan


membentuk larutan yang sama dengan larutan sebelumnya dan membentuk
hablur saat ditambah etanol. Hablur yang ditetesi HCl pekat menjadi larut.

Titik leleh benzaldehida 110OC.

Titk leleh sikloheksanon: 76OC.

Gugus metil yang terikat pada atom karbon karbonil diubah menjadi senyawa
trihalometil oleh halogen dan basa. Senyawa trihalometri mudah diuraikan oleh
basa menghasilkan haloform.

Setelah asetaldehid direksikan dengan larutan 1% NaOH maka berkondensasi


menghasilkan aldol dan setelah pemanasan akar menyingkirkan air sehingga
menghasilkan aldehida tak jenuh.

XI.

JAWABAN PERTANYAAN
1.

Reaksi Tollen dengan Formaldehid

Pembuatan senyawa adisi aseton bisulfit

Pembuatan sikloheksanon oksim


O
C

H
N

Pengujian iodoform terhadap 2-pentanon

NH 2

C
H

NHC 6H 5

+ H 2O

2.

Kondensasi antara aseton dengn benzaldehid yang dikatalis oleh basa

3.

Uji iodoform dapat digunakan untuk membedakan antara metanol dan etanol
Pengujian iodoform dapat digunakan untuk membedakan antara metanol
dan etanol karena uji idoform memberikan hasil yang berbeda yaitu pada
etanol menghasilkan larutan dan endapan warna kuning. Hal ini
membuktikan bahwa alkohol primer yang dapat diji dengan iodoform adalah
etanol.
Pengujian iodoform dapat digunakan untuk isopropil alkohol dengan n-butil
alkohol. Karena keduanya tidak beraksi dengan iodoform. Isopropil alkohol
merupakan alkohol tersier yang tidak beraksi dengan alkohol. Sedangkan
pada n-butil alkohol merupakan alkohol primer tetapi alkohol primer yang
yang dapat diji dengan iodoform hanya etanol.

4.

Penggunaan yang praktis dari reaksi Tollens sapat dilakukan dengan cara
menambahkan beberapa tetes pereaksi Tollens kedalam zat yang akan diuji
sampai terbentuk cermin perak, apabila terjadi reaksi maka dilakukan
pemanasan.

5.

Dibedakan dengan:
a. 2-pentanon dan 3-pentanon
Dengan menggunakan reaksi haloform dapat membedakan 2-pentanon
dan 3-pentanon. Reaksi pada 2-pentanon reaksinya lebih lama dibandingkan
3-pentanon karena memilki kereaktifan yang rendah dan reaksi haloform dapat
menunjukkan adanya metil keton
b. 3-pentanon dan pentanol

Dapat dibedakan dengan menggunakan cara haloform. Sebab pentanol


akan menunjukkan hasil pengujian yang positif dengan reagen tersebut.
c. Benzaldehida dan asetofenin
Dapat dibedakan dengan menggunakan kondensasi aldol karena
benzaldehid tidak bisa menjalankan reaksi aldol.
6.

7.

Persamaan reaksi bisulfit dengan HCl

Pada percobaan ini kami hanya melakukan pengujian dengan fenilhidrazin dan
didapatkan titik leleh sebagai berikut:

8.

Benzaldehid

: 110 C

Sikloheksanon

: 76C

Peranan Natrium asetat dalam pembuatan oksim adalah untuk embebaskan basa
dari garam-garamnya.

XII.

DAFTAR BPUSTAKA
Fesenden, J Ralp, dan Joan s. Fessenden. 2006. Kimia Organik Jilid II.
Terjemahan Aloysius Hadyana Pudjaatmaka. Jakarta: Penerbit Erlangga
Tim Dosen Kimia Organik.2012. Buku Penuntun Kimia Organik I. Surabaya:
Universitas Negeri Surabaya.
Tanpa nama.20011.Benzaldehida.Online.
(http://id.wikipedia.org/wiki/Benzaldehida) diakses pada 4 April 2012
Rahayu,Triyas.2011. Laporan Organik aldehid keton. Online
(http://triyasrahayu.blogspot.com/2011/10/laporan-organik-aldehid-dan-keton.html)
diakses pada 4 April 2012.
Rahmayanti,Maulidita.2011.Reaksi Aldehid dan keton.Online
(http://www.scribd.com/doc/76644703/laporan-organik) diakses pada 3 April 2012.

LAMPIRAN

NaOH +
AgNO3

Kanan : sikloheksanon
Kiri : benzaldehid

Larutan
Fehling A +
B

Fehling A

Reagen
Benedict

Percobaan ke 2
sebelum dididihkan

Na-bisulfit + etanol +
aseton

Reagen
Benedict/reagen
Fehling

Percobaan ke 2
setelah dipanaskan

Penambahan I2