Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

A. Alasan Pemilihan Judul

Penulis mengambil judul ” Kemiskinan Sebagai Lubang Hitam


Bangsa Indonsesia “ karena berkaitan dengan Kompetensi Dasar
pembelajaran yang dibahas pada GBPP kelas IV SD semester 2, yaitu
mengenal permasalahan sosial yang ada di daerahnya.
Penulis disini lebih menitikberatkan pada masalah kemiskinan yang
telah melanda khususnya di Indonesia. Sejak krisis, angka kemiskinan dan
pengangguran masih tinggi. Berdasar data Badan Pusat Statistik Nasional
Indonesia (BPS) bahwa 17,7 persen atau 39 juta penduduk Indonesia
tergolong kategori penduduk miskin. Pengangguran sebanyak 10,4 persen.
Diantara 100 juta angkatan kerja menganggur, 10,5 juta pengangguran
terbuka. Penulis juga mengaitkan masalah kemiskinan yang melanda
Indonesia dengan kompetensi dasar pembelajaran yang dijelaskan pada GBPP
kelas IV semester 2, yaitu mengenal permasalahan sosial di daeerahnya serta
bagaimana cara mengatasi masalah-masalah sosial di daerahnya.

B. Tujuan

Penulis membuat makalah ini dengan tujuan untuk memberikan


informasi kepada para pembaca tentang hal – hal yang berkaitan dengan
KEMISKINAN baik di Indonesia maupun di Dunia. Informasi yang akan
diberikan oleh penulis antara lain :
1. Memahami pengertian masalah sosial yang terjadi di sekitar kita.
2. Mengidentifikasi penyebab terjadinya masalah kemiskinan yang
berkelanjutan.
3. Mengidentifikasi tingkat kemiskinan di Indonesia.

1
4. Mengetahui cara menyelesaikan masalah kemiskinan di Indonesia.

C. Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud kemiskinan serta apa penyebab kemiskinan di
Indonesia?
2. Seberapa tinggi tingkat kemiskinan di Indonesia?
3. Dampak apa saja yang akan terjadi akibat kemiskinan?
4. Bagaimana cara mengatasi dan mengurangi kemiskinan?

2
BAB II

PEMBAHASAN

1. Pengertian Kemiskinan

Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi kekurangan hal-hal yang


biasa untuk dipunyai seperti makanan , pakaian , tempat berlindung dan air
minum, hal-hal ini berhubungan erat dengan kualitas hidup. Kemiskinan
kadang juga berarti tidak adanya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan
yang mampu mengatasi masalah kemiskinan dan mendapatkan kehormatan
yang layak sebagai warga negara. Kemiskinan merupakan masalah global.
Sebagian orang memahami istilah ini secara subyektif dan komparatif,
sementara yang lainnya melihatnya dari segi moral dan evaluatif, dan yang
lainnya lagi memahaminya dari sudut ilmiah yang telah mapan. Istilah "negara
berkembang" biasanya digunakan untuk merujuk kepada negara-negara yang
"miskin".

Menurut Nasikun (1995) yang dikutip oleh Gunawan dan Sugiyanto


(2004), kemiskinan adalah sebuah fenomena multidimensional dimana hidup
miskin diartikan tidak hanya hidup kekurangan dalam hal papan, sandang dan
papan tetapi juga berarti akses yang rendah terhadap bermacam sumberdaya
dan asset produktif yang dibutuhkan untuk pemenuhan kebutuhan yang paling
dasar tersebut. Kemiskinan menurut BPS, adalah kondisi seseorang yang
hanya dapat memenuhi kebutuhan makannya kurang dari 2100
kalori/kapita/hari. Kemiskinan dapat pula diartikan sebagai kondisi dimana
tidak tercapainya kehidupan yang layak dengan penghasilan US$ 1/hari
(World Bank). Menurut BAPPENAS (2002), kemiskinan adalah suatu kondisi
yang dialami oleh seseorang/ kelompok orang yang tidak mampu menjalankan
hidupnya sampai suatu taraf yang dipandang manusiawi (Sumedi dan Supadi,
2004). Kemiskinan dapat pula diartikan sebagai: (a). lacking of both money

3
and basic necessities needed to successfully live such as food, water,
education and shelter, (b). the economic condition of lacking predictable and
stable means of meeting basic life needs. (Hasanuddin, 2008).
Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa kemiskinan
dibedakan dalam empat dimensi: (a). dimensi ekonomi: ketidakmampuan
mansyarakat memenuhi kebutuhan dasarnya akibat rendahnya penghasilan
(lack of choice); (b). dimensi politik: rendahnya kemampuan berpartisipasi
dalam politik (lack of voice); (c). dimensi sosial: rendahnya status sosial
dalam masyarakat (lack of status); (d). dimensi psikologis: rendahnya rasa
percaya diri (lack of self-confidence) (WIM.Poli, dkk, 2006: 81). Karenanya,
ciri-ciri masyarakat miskin adalah: (a). minimnya akses politis dalam proses
pengambilan keputusan terkait hidup mereka, (b). tersingkir dari lembaga
sosial masyarakat yang utama, (c). rendahnya kualitas SDM, kesehatan,
pendidikan, keterampilan yang berpengaruh terhadap rendahnya penghasilan
secara ekonomi, (d). memiliki budaya/nilai etos kerja yang rendah, berpikir
praktis dan fatalism, dan (e). minimnya kepemilikan aset fisik, seperti aset
lingkungan hidup (air bersih dan penerangan).

Kemiskinan juga dapat dipahami dalam berbagai cara. Pemahaman utamanya


mencakup:

• Gambaran kekurangan materi, yang biasanya mencakup kebutuhan


pangan sehari-hari, sandang, perumahan, dan pelayanan kesehatan.
Kemiskinan dalam arti ini dipahami sebagai situasi kelangkaan
barang-barang dan pelayanan dasar.
• Gambaran tentang kebutuhan sosial, termasuk keterkucilan sosial,
ketergantungan, dan ketidakmampuan untuk berpartisipasi dalam
masyarakat. Hal ini termasuk pendidikan dan informasi. Keterkucilan
sosial biasanya dibedakan dari kemiskinan, karena hal ini mencakup

4
masalah-masalah politik dan moral, dan tidak dibatasi pada bidang
ekonomi.
• Gambaran tentang kurangnya penghasilan dan kekayaan yang
memadai. Makna "memadai" di sini sangat berbeda-beda melintasi
bagian-bagian politik dan ekonomi di seluruh dunia.

Permasalahan dasar kemiskinan di Indonesia dapat digambarkan


dengan kondisi dimana masih tingginya jumlah penduduk miskin yaitu 39,05
juta jiwa atau sekitar 17,75 persen (BPS, Maret 2006), masih tingginya
Rumah Tangga Miskin di Indonesia yaitu 19,2 juta KK ( BPS, 2006), masih
tingginya angka pengangguran sebesar 10,24 persen dari total angkatan kerja
yang berjumlah 103 juta jiwa (2006). Selain itu, dalam hal akses pelayanan
kesehatan, pendidikan, perumahan & permukiman, infrastruktur,
permodalan/kredit dan informasi bagi masyarakat miskin dirasakan masih
sangat terbatas. Jika diamati dengan seksama di sebagian wilayah nusantara
ini, masih terdapat luasnya kawasan kumuh dan kantong-kantong kemiskinan
yang jumlahnya sekitar 56.000 hektar kawasan kumuh di perkotaan di 110
kota-kota, dan 42.000 desa dari sejumlah 66.000 desa dikategorikan desa
miskin.

Tingkat kinerja penanggulangan kemiskinan dan pengangguran di


Indonesia kondisinya masih belum optimal. Koordinasi yang dalam hal
pendataan, pendanaan dan kelembagaan masih lemah. Kelemahan ini juga
dirasakan pada koordinasi antar program-program penanggulangan
kemiskinan di antara instansi pemerintah pusat dan daerah, begitu juga dengan
integrasi program pada tahap perencanaan, sinkronisasi program pada tahap
pelaksanaan, serta sinergi antar pelaku (pemerintah, dunia usaha, masyarakat
madani) dalam penyelenggaraan keseluruhan upaya penanggulangan
kemiskinan. Selain kelembagaan di pemerintah, kita masih dihadapkan pada
fakta pada belum optimalnya dunia usaha, LSM, dan masyarakat madani

5
dalam bermitra dan bekerjasama dalam penanggulangan kemiskinan serta
penciptaan lapangan kerja.

2. Penyebab Kemiskinan

Dalam studi akademik, penyebab kemiskinan meliputi tiga unsur:


kemiskinan yang disebabkan oleh hambatan badaniah atau mental seseorang;
kemiskinan yang disebabkan oleh bencana alam; dan kemiskinan buatan.
Yang terakhir ini sering dikenal sebagai kemiskinan struktural, yaitu
kemiskinan yang disebabkan oleh manusia, dari manusia, dan terhadap
manusia pula. Artinya, kemiskinan yang timbul oleh dan dari struktur-struktur
buatan manusia, baik struktur ekonomi, politik, sosial, dan budaya.
Kemiskinan buatan itu timbul dan dimantapkan oleh berkembangnya sikap
nrimo, sebagai nasib, dan sikap neglect, atau sikap tidak menghiraukan,
menganggap enteng dan tidak penting.
Kemiskinan juga banyak dihubungkan dengan:penyebab individual, atau
patologis, yang melihat kemiskinan sebagai akibat dari perilaku, pilihan, atau
kemampuan dari si miskin;

• Penyebab keluarga, yang menghubungkan kemiskinan dengan


pendidikan keluarga;
• Penyebab sub-budaya (subcultural), yang menghubungkan kemiskinan
dengan kehidupan sehari-hari, dipelajari atau dijalankan dalam
lingkungan sekitar;
• Penyebab agensi, yang melihat kemiskinan sebagai akibat dari aksi
orang lain, termasuk perang, pemerintah, dan ekonomi;
• Penyebab struktural, yang memberikan alasan bahwa kemiskinan
merupakan hasil dari struktur sosial.

Sedangkan menurut Valeriana Darwis (2004), faktor penyebab


kemiskinan dapat dibagi dua: faktor internal (SDM dan SD fisik), dimana

6
hasil penelitiannya menunjukkan bahwa keluarga miskin rata-rata memiliki
tingkat pendidikan yang rendah (tidak tamat SMP). Terkait dengan SD fisik,
sebagian besar respondennya memiliki kondisi rumah yang jauh dari layak
untuk ukuran kesehatan ideal. Selain itu hasil risetnya menunjukkan bahwa
penduduk miskin memiliki lahan pertanian yang kecil (0,16 ha) bahkan
banyak diantaranya hanya sebagai petani penggarap. Faktor kedua adalah
faktor eksternal (potensi/keadaan wilayah, sarana/prasarana, kelembagaan,
aksesibilitas terhadap: produksi, modal, pasar dan faktor ekonomi lainnya),
dimana hasil riset ini menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk yang
berkategori miskin hidup dalam wilayah yang kurang potensial dan memiliki
akses yang rendah terhadap faktor-faktor ekonomi yang mendukung mereka
untuk hidup cukup.

3. Tingkat Kemiskinan Di Indonesia

Jumlah penduduk miskin bulan Maret 2006 sebesar 39,05 juta


(17,75%). Jika dibandingkan dengan bulan Februari 2005 yang berjumlah
35,10 juta (15,97%), terdapat kenaikan sebesar 3,9 juta. Kenaikan ini
merupakan kenaikan pertama kali setelah Indonesia mengalami krisis
ekonomi.

Kemiskinan merupakan salah satu masalah yang kompleks sehingga


penyebab kenaikan jumlah penduduk miskin sesungguhnya sangat banyak dan
bermacam-macam. Tetapi penyebab yang paling utama melanda negeri ini
adalah adanya kenaikan harga beras sekitar 33%, kenaikan harga BBM
sebesar rata-rata 114% dimana harga minyak tanah naik hampir tiga kali lipat.
Kondisi tersebut meningkatkan inflasi menjadi 17,95% dan pengeluaran
penduduk miskin naik 6%. Selain itu, perubahan metodologi perhitungan
jumlah penduduk miskin dan jumlah sampel yang kurang mencukupi.

7
Tabel 1
Perkembangan Jumlah Penduduk Miskin

4. Dampak dari kemiskinan.

a. Dampak positif

Kemiskinan memang banyak di sekitar kita. selama ini yang


kita ketahui adalam dampak negatif dari kemiskinan. antara lain
kriminalitas dan prostitusi.
tapi bila kita perhatikan, kemiskinan juga memiliki guna. antara lain:

a) Menambah nilai guna suatu barang. kalo kita ada baju bekas,
pasti kalo ngak di jadiin kain lap, pasti di kasi orang. elo ngak
mungkin ngasi baju bekas ama orang kaya kan? pasti orang
miskin! nilai guna baju tersebut juga akan lebih panjang atau
berguna bila di pakai orang miskin.
b) Memperkuat status sosial seseorang. kalo kita orang kaya, kita
akan lebih terpandang bila punya anak buah yang banyak.

8
apakah anak buahnya atau pembantunya orang kaya? tentu
tidak!! pasti orang miskin.
c) Untuk mengerjakan pekerjaan paling Hina dan kotor. kalo
tidak ada orang miskin, siap yang akan menyapu jalan raya?
siapa yang mau membersihkan parit dan riol yang bau? siapa
yang mau menguras septik tank kalo penuh? apakah orang
kaya mau melakukan pekerjaan itu?
d) Sebagai TUMBAL PEMBANGUNAN. kalo kita punya tanah
dan tanah tersebut akan di jadikan sarana umum, maka tanah
kita tsb akan di bayar dengan layak! sedangkan untuk
pemukiman kumuh, hal tsb jarang sekali terjadi.
e) Sebagai sarana ibadah. setiap agama pasti diajarkan
menyantuni orang miskin. dalam agama saya (islam), zakat
(sejenis sedekah tapi hukumnya WAJIB) termasuk dalam
hukum islam. jika saya tidak berzakat maka saya belum
sempurna Islamnya. bagai mana kalo semua orang di dunia ini
jadi kaya, mau sama siapa saya berikan zakat saya?? sedangkan
syarat zakat harus di berikan pada fakir miskin!!!??
f) Membuka lapangan kerja. aneh memang. tapi dari kemiskinan
akan terbuka lapangan kerja baru. antara lain, tukang kredit,
jasa transportasi (becak) dan yang paling menghasilkan dan
beromzet milyaran dollar per hari dari seluruh dunia adalah
JUDI. judi merupakan sarana untuk menjadikan duit yang
sedikit menjadi berlipat. 80% orang yang berjudi adalah orang
miskin.

Jadi kemiskinan bukan selalu berdampak negatif. kemiskinan bisa


dikatakan sebagai kebahagiaan dan kekayaan yang di pergilirkan Tuhan
bagi kita para umatNya. jadi bila anda miskin, jangan di sesali. berdoa saja
pada Tuhan yang anda percayai.

9
b. Dampak Negatif

Dampak kemiskinan di Indonesia memunculkan berbagai


penyakit pada kelompok risiko tinggi seperti ibu hamil, ibu menyusui,
bayi, balita, dan lanjut usia. “Kita mengakui sejak krisis ekonomi
tahun 1997 jumlah penduduk miskin di Indonesia meningkat”. Kata
Azrul Azwar dari Direktorat Jenderal Bina kesehatan Depkes di
Semarang. Ia mengatakan, kemiskinan yang terjadi di Indonesia
menyebabkan cakupan gizi rendah, pemeliharaan kesehatan kurang,
lingkungan buruk, dan biaya untuk berobat tidak ada. Akibat terkena
penyakit, katanya pada lokakarya “Pengentasan Kemiskinan Melalui
Pengembangan Industri Agromedicine Terpadu”, menyebabkan
produktivitas rendah, penghasilan rendah dan pengeluaran bertambah.
Kemiskinan memang tidak pernah berhenti dan tidak bosan
menghancurkan cita-cita masyarakat Indonesia khususnya para
generasi muda. Kemiskinan sudah banyak “membutakan” segala aspek
seperti pendidikan. Sebagian dari penduduk Indonesia lantaran
keterbatasan ekonomi yang tidak mendukung, oleh contoh kecil yang
terjadi di lapangan banyak anak yang putus sekolah karena menunggak
SPP, siswa SD yang nekat bunuh diri karena malu sering ditagih oleh
pihak sekolah, anak di bawah umur bekerja keras dengan tujuan
memberi sesuap nasi untuk keluarganya, dll. Bagaimana Indonesia
mau maju kalau generasi muda yang seharusnya sekolah sekarang ikut
merasakan korban faktor kemiskinan.

Rendahnya mutu pendidikan kita adalah salah satu efek


kemiskinan struktural. Sebagaimana pernah diungkapkan dalam Tajuk
Rencana Kompas (13/7/2004), kemiskinan kita akibat ketamakan para
elite politik yang tidak malu-malu menyalahgunakan wewenang. Kita
miskin karena dirongrong praktik KKN yang menggurita sehingga

10
tidak punya cukup duit untuk mencerdaskan putra-putri kita lewat
pendidikan bermutu.

Sepintas, efek kemiskinan atas pendidikan tidak terlalu terlihat


di kota-kota. Tetapi jika kita berani mengalihkan pandangan ke desa-
desa, akan terlihat suatu panorama ketidakadilan yang luar biasa.
Selain kekurangan sarana dan prasarana pendidikan yang memadai,
mutu dan jumlah guru amat terbatas. Penempatan guru di desa tidak
merata dan banyak guru (negeri) yang ditempatkan di desa hanya
muncul beberapa kali sebulan untuk mengambil gaji karena mereka
tinggal di kota atau tempat lain untuk nyambi usaha. Mutu guru di
Indonesia tergolong rendah karena orang-orang cerdas dan berprestasi
enggan menjadi guru. Penyebabnya, rendahnya penghargaan yang
diberikan pemerintah dan masyarakat kepada mereka. Profesi guru
tidak menarik bagi kebanyakan orang muda Indonesia dan menjadi
pilihan terakhir bagi mereka untuk menentukan pilihan pekerjaan. Ada
adagium yang umum diterima masyarakat: kalau mau menjadi guru,
relalah hidup miskin!

Kondisi inilah yang membuat sebagian besar anak-anak bangsa


di desa-desa dan daerah terpencil tidak mempunyai akses pada
pendidikan bermutu. Kadang ada orangtua yang nekat menyekolahkan
anak-anaknya ke kota-kota terdekat dengan harapan mendapat
pendidikan lebih baik. Tidak banyak yang berhasil karena sekolah-
sekolah bermutu di kota-kota sudah menerapkan sistem seleksi
sehingga makin sedikit orang desa yang dapat mengecap pendidikan
bermutu.

Kini, dengan makin maraknya sekolah- sekolah global bertaraf


internasional di kota-kota besar, dengan uang sekolah jutaan rupiah,
disparitas mutu pendidikan menjadi kian besar. Anak-anak kota dan
kaya makin pintar, sementara anak-anak orang desa makin didera
11
berbagai ketinggalan. Secara tidak sadar praksis pendidikan kita kian
menampilkan sosok ketidakadilan: anak-anak miskin makin dijauhkan
dari haknya untuk mendapat pendidikan bermutu, sedangkan anak-
anak orang berduit dimanja dengan aneka macam pilihan sekolah
bermerek global dan internasional. Kesempatan untuk meningkatkan
taraf hidup bagi orang desa pun makin kecil.

5. Cara Mengatasi dan Mengurangi Kemiskinan.

Pemerintah berencana memberikan subsidi makanan langsung (food


scheme) kepada rumah tangga miskin (RTM) pada pertengahan tahun depan.
Program ini diluncurkan untuk mengantisipasi lonjakan angka kemiskinan
akibat dampak krisis ekonomi global yang diprediksi semakin berat tahun
depan. Dengan program ini diharapkan angka kemiskinan 2009 tidak
melewati target pengurangan kemiskinan sebesar 12-13%.

Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala


Bappenas Paskah Suzetta mengatakan saat ini pemerintah memang telah
menyusun berbagai program untuk menanggulangi dampak krisis, seperti
program padat karya untuk mengurangi pengangguran akibat PHK. Selain itu
pemerintah juga bakal menggulirkan program food scheme.

"Program food scheme dilakukan pemerintah dengan cara memberikan


makanan langsung kepada masyarakat miskin. Pendanaannya masih kita
pikirkan, karena pada tahun depan kita juga harus efektifkan program-
program JPS (Jaring Pengaman Sosial) lainnya," katanya, Rabu (10/12).

Dalam program itu, pemerintah kemungkinan akan menambah jumlah


beras untuk masyarakat miskin (miskin) dan memberikan beberapa jenis
makanan pokok lain seperti tepung, terigu, gula pasir, dan minyak goreng.

12
Untuk pendanaannya, pemerintah bisa menambah alokasi subsidi di APBN
atau menggunakan dana-dana pinjaman luar negeri.

Ia memperkirakan, pelaksanaan program ini kemungkinan baru pada


pertengahan tahun 2009 mendatang. Selain menunggu hasil penghitungan data
kemiskinan periode Maret 2009, pemberiaannya menunggu selesainya
pendistribusian dana bantuan langsung tunai (BLT). Pemerintah akan
berpegangan pada jumlah rumah tangga miskin (RTM) 18,5 juta seperti hasil
survey Badan Pusat Statistik (BPS) terkait RTM penerima BLT September
lalu.

Pemerintah memperkirakan, puncak krisis kemungkinan terjadi pada


Maret 2009, sehingga potensi kemiskinan akan bertambah. Puncak krisis
perekonomian global berupa pemutusan hubungan kerja (PHK) akan ditambah
dengan selesainya pembagian BLT.

"Kalau Januari-Maret saya kira masih belum ada lonjakan karena masih kita
bagikan dana BLT yang berdampak pada penjagaan daya beli masyarakat,"
tuturnya. ( dikutip dari Kontan Online, Kamis 11 Desember 2008 | 09:02 )

13
Tabel 2
Perkembangan Jumlah Anggaran Program & Proyek Penanggulangan
Kemiskinan di APBN

Untuk menanggulangi kemiskinan di desa adalah

a. Membuka peluang dan kesempatan berusaha bagi orang miskin untuk


berpartisipasi dalam proses pembangunan ekonomi. Pemerintah harus
menciptakan iklim agar pertumbuhan ekonomi dapat dinikmati oleh
semua lapisan masyarakat, terutama oleh penduduk miskin. Karena
itu, kebijakan dan program yang memihak orang miskin perlu
difokuskan kepada sektor ekonomi riil (misalnya; pertanian,
perikanan, manufaktur, usaha kecil menengah), terutama di sektor
informal yang menjadi tulang punggung orang miskin. Agar
pertumbuhan ekonomi ini berjalan dan berkelanjutan, maka di tingkat
nasional diperlukan syarat; (a) stabilitas makro ekonomi, khususnya
laju inflasi yang rendah dan iklim sosial politik dan ekonomi yang
mendukung investasi dan inovasi para pelaku ekonomi. Secara garis
besar hal ini menjadi tanggungjawab pemerintah pusat; (b) diperlukan
kebijakan yang berlandaskan pradigma keberpihakan kepada orang

14
miskin agar mereka dapat sepenuhnya memanfaatkan kesempatan
yang terbuka dalam proses pembangunan ekonomi; (c) memberikan
prioritas tinggi pada kebijakan dan pembangunan sarana sosial dan
sarana fisik yang penting bagi masyarakat miskin, seperti jalan desa,
irigasi, sekolah, air minum, air bersih, sanitasi, pemukiman, rumah
sakit, dan poliklinik di tingkat nasional maupun daerah. Beberapa
program yang bisa dijalankan dengan menggunakan kebijakan ini
adalah;

• Program penyediaan sarana kesehatan bagi masyarakat miskin


(PUSKESMAS, POSYANDU), dan sebagainya program
peningkatan sarana dan prasarana pendidikan, serta
penyediaan pendidikan gratis bagi orang miskin;
• Program pemberdayaan masyarakat, peningkatan pendidikan
informal dan keterampilan bagi masyarakat miskin, melalui
inisiatif dari pemerintah daerah, juga melalui kerjasama dengan
badan pendidikan, perguruan tinggi atau dengan LSM lokal;
• Program pembentukan modal usaha melalui peningkatan akses
masyarakat miskin terhadap lembaga-lembaga keuangan agar
mereka ikut serta dalam program kredit dan tabungan;
• Program sertifikasi tanah dan tempat usaha bagi orang miskin
untuk menjaga asetnya dengan baik;
• Program pengembangan pusat pasar pertanian dan pusat
informasi perdagangan.

b. Kebijakan dan program untuk memberdayakan kelompok miskin.


Kemiskinan memiliki sifat multidimensional, maka penanggulanganya
tidak cukup hanya dengan mengandalkan pendekatan ekonomi, akan
tetapi juga mengandalkan kebijakan dan program di bidang sosial,
politik, hukum dan kelembagaan. Kebijakan dalam memberdayakan

15
kelompok miskin harus diarahkan untuk memberikan kelompok
miskin akses terhadap lembaga-lembaga sosial, politik dan hukum
yang menentukan kehidupan mereka. Untuk memperluas akses
penduduk miskin diperlukan; (a) tatanan pemerintahan yang baik
(good governance), terutama birokrasi pemerintahan, lembaga hukum,
dan pelayanan umum lainnya; (b) dalam tatanan pemerintahan
diperlukan keterbukaan, pertanggungjawaban publik, dan penegakan
hukum, serta partisipasi yang luas masyarakat miskin dalam proses
pengambilan keputusan. Beberapa program yang bisa dilaksanakan
adalah;

• Program penguatan organisasi sosial, kelompok ekonomi, dan


organisasi swamasyarakat lainnya seperti kelompok arisan,
kelompok petani pangan, pedagang kecil, simpan-pinjam dan
sebagainya;
• Program keterlibatan kelompok miskin dalam proses
pendidikan demokrasi, misalnya dalam pengambilan keputusan
melalui public hearing, penggunaan hak tanya dan sebagainya;
• Program keterlibatan kelompok miskin dalam pemantauan dan
evaluasi pembangunan.

c. Kebijakan dan Program yang Melindungi Kelompok Miskin.


Kelompok masyarakat miskin sangat rentan terhadap goncangan
internal (misalnya kepala keluarga meninggal, jatuh sakit, kena PHK)
maupun goncangan eksternal (misalnya kehilangan pekerjaan, bencana
alam, konflik sosial), karena tidak memiliki ketahanan atau jaminan
dalam menghadapi goncangan-goncangan tersebut. Kebijakan dan
program yang diperlukan mencakup upaya untuk; (a) mengurangi
sumber-sumber resiko goncangan; (b) meningkatkan kemampuan
kelompok miskin untuk mengatasi goncangan dan; (c) menciptakan

16
sistem perlindungan sosial yang efektif. Beberapa program yang bisa
dilaksanakan untuk kategori ini adalah;

• Program lumbung desa yang sudah dikenal sejak lama.


Program ini dapat disempurnakan dengan memasukkan metode
yang lebih baik;
• Program kredit mikro atau koprasi simpan pinjam untuk
kelompok miskin yang mudah diakses, dengan persyaratan atau
agunan yang mudah dan syarat pengembalian yang fleksibel;
• Program pengembangan modal usaha dan kewiraswastaan
untuk mendorong kelompok miskin meningkatkan kemampuan
pemupukan modal usahanya secara mandiri dan berkelanjutan;
• Program pembentukan lembaga khusus penanggulangan
bencana alam dan sosial yang terpadu, efektif dan responsif di
daerah.

d. Kebijakan dan Program untuk memutus pewarisan kemiskinan antar


generasi; hak anak dan peranan perempuan. Kemiskinan seringkali
diwariskan dari generasi ke generasi berikutnya. Karena itu, rantai
pewarisan kemiskinan harus diputus. Meningkatkan pendidikan dan
peranan perempuan dalam keluarga adalah salah satu kunci memutus
rantai kemiskinan. Beberapa program yang dapat dikembangkan dalam
kategori ini adalah;

• Program pemberian bantuan sarana dan beasiswa untuk


masyarakat miskin;
• Program pemberian makanan tambahan bagi anak-anak miskin
di sekolah;
• Program magang atau menyerap lulusan sekolah kejuruan atau
diploma;

17
• Program pemberdayaan perempuan melalui kegiatan produktif;
• Program penyuluhan bagi para ibu, bapak dan remaja, tentang
hak-hak dan kewajiban mereka dalam berumah tangga.

e. Kebijakan dan program penguatan otonomi desa. Otonomi desa dapat


menjadi ruang yang memungkinkan masyarakat desa dapat
menanggulangi sendiri kemiskinannya. Kadang-kadang pemerintah
menganggap bahwa yang dibutuhkan masyarakat miskin adalah
sumber-sumber material bagi kelangsungan hidup penduduk miskin.
Anggapan tersebut, tidak selamanya benar, karena toh dalam kondisi
tertentu, masyarakat desa yang miskin dapat keluar dari persoalan
kemiskinan tanpa bantuan material pemerintah. Inisiatif dan kreativitas
mereka dapat menjadi modal yang berharga untuk keluar dari lilitan
kemiskinan. Otonomi desa merupakan ruang yang dapat digunakan
oleh masyarakat desa untuk mengelola inisiatif dan kreativitas mereka
dengan baik, menjadi sumber daya yang melimpah untuk keluar dari
jeratan kemiskinan. Kebijakan dan program yang bisa dilakukan untuk
penguatan otonomi desa adalah;

• Meningkatkan mutu sumber daya manusia desa melalui


pendidikan formal dan nonformal;
• Meningkatkan ketersediaan sumber-sumber biaya
pembangunan desa dengan alokasi anggaran yang jelas dari
pusat, provinsi dan kabupaten;
• Menata lembaga pemerintahan desa yang lebih efektif dan
demokratis;
• Membangun sistem regulasi (PERDes) yang jelas dan tegas;
• ewujudkan otonomi desa untuk memberikan ruang partisipasi
dan kreativitas masyarakat;

18
• Mengurangi praktek korupsi di birokrasi pemerintah desa
melalui penerapan tatanan pemerintahan yang baik;
• Menciptakan sistem pemerintahan dan birokrasi yang bersih,
akuntabel, transparan, efisien dan berwibawa;
• Meningkatnya partisipasi masyarakat desa dalam pengambilan
kebijakan publik;
• Memberikan ruang yang cukup luas bagi keterlibatan
perempuan dalam proses pengambilan kebijakan publik.

Berbagai program dan kebijakan penanggulangan kemiskinan tersebut,


membutuhkan usaha yang serius untuk melaksanakannya. Disamping itu
diperlukan komitmen pemerintah dan semua pihak untuk melihat kemiskinan
sebagai masalah fundamental yang harus ditangani dengan baik, berkelanjutan
dan dengan dukungan anggaran yang jelas.

Untuk menunjang keberhasilan kegiatan tersebut, diperlukan unsur-unsur


berikut;

• Upaya penanggulangan kemiskinan tersebut sebaiknya dilakukan


secara menyeluruh, terpadu, lintas sektor, dan sesuai dengan kondisi
dan budaya lokal, karena tidak ada satu kebijakan kemiskinan yang
sesuai untuk semua;
• Memberikan perhatian terhadap aspek proses, tanpa mengabaikan hasil
akhir dari proses tersebut. Biarkan orang miskin merasakan bagaimana
proses mereka bisa keluar dari lingkaran setan kemiskinan;
• Melibatkan dan merupakan hasil proses dialog dengan berbagai pihak
dan konsultan dengan segenap pihak yang berkepentingan terutama
masyarakat miskin;

19
• eningkatkan kesadaran dan kepedulian di kalangan semua pihak yang
terkait, serta membangkitkan gairah mereka yang terlibat untuk
mengambil peran yang sesuai agar tercipta rasa memiliki program;
• Menyediakan ruang gerak yang seluas-luasnya, bagi munculnya aneka
inisiatif dan kreativitas masyarakat di berbagai tingkat. Dalam hal ini,
pemerintah lebih berperan hanya sebagai inisiator, selanjutnya
bertindak sebagai fasilitator dalam proses tersebut, sehingga akhirnya,
kerangka dan pendekatan penanggulangan kemiskinan disepakati
bersama;
• Pemerintah dan pihak lainnya (ORNOP, Perguruan Tinggi, pengusaha,
masyarakat madani, partai politik dan lembaga sosial keagamaan)
dapat bergabung menjadi kekuatan yang saling mendukung;
• Mereka yang bertanggungjawab dalam menyusun anggaran belanja
harus menyadari pentingnya penanggulangan kemiskinan ini sehingga
upaya ini ditempatkan dan mendapat prioritas utama dalam setiap
program di setiap instansi. Dengan demikian, penanggulangan
kemiskinan menjadi gerakan dari, oleh dan untuk rakyat.

20
BAB III

PENUTUP

1. Kesimpulan

Penanggulangan kemiskinan adalah tanggung jawab semua pihak,


pemerintah, organisasi sosial dan swasta, masyarakat dengan peningkatan
taraf hidup ekonomi, peningkatan mutu pendidikan serta pemberdayaan
masyarakat. Langkah pemerintah dalam mengatasi masalah kemiskinan yang
selama ini bersifat top-down sudah saatnya dirubah karena terbukti menemui
kegagalan dalam implementasinya. Perumusan strategi penanggulangan
kemiskinan harus mengakomodasi suara rakyat yang menderita kemiskinan
(bottom-up) agar program yang dijalankan tepat sasaran dan berkelanjutan.

Pemberdayaan masyarakat dalam arti seluas-luasnya perlu terus


digalakkan oleh semua pihak di semua aspek kehidupan masyarakat dengan
menitikberatkan pada upaya mengubah tata nilai dan perilaku masyarakat
sejak usia dini. Usaha pemberdayaan ini dilakukan dengan membangun faktor
yang nampak (fisik) dan mengembangkan faktor yang tidak nampak, seperti
budaya lokal masyarakat setempat, nilai-nilai moral dan agama.

2. Saran

Kita sebagai orang yang peduli akan orang miskin kita harus berupaya
membantu semampunya, bisa dalam bentuk fisik maupun non fisik. Kemudian
bagi para orang-orang yang berkecukupan, janganlah kita bersenang-senang di
atas penderitaan orang lain. Masih banyak di luar sana yang sangat
membutuhkan uluran tangan kita.

21
Bagi pemerintah tingkatkan lagi upaya-upaya pemberantasan
kemiskinan dengan berbagai program-progam pemberdayaan manusia,
adapun program-program tersebut antara lain:

a. Membuka lapangan kerja seluas-luasnya.


b. Pemberdayaan SDM dengan cara memberikan pelatihan-pelatihan
mandiri kepada masyarakat miskin yang kelak mampu menciptakan
lapangan kerja.
c. Membuka sekolah-sekolah bagi rakyat miskin, stop komersialisasi
pendidikan karena pendidikan merupakan sesuatu yang sangat
berpengaruh terhadap perkembangan Negara serta meningkatkan
kualitas pendidikan.
d. Memberikan subsidi kepada rakyat miskin.
e. Membenahi tatanan Negara sehingga tidak menimbulkan berbagai
masalah-masalah sosial yang berkelanjutan.

22
DAFTAR PUSTAKA

Tim Penyusun. 2008. Jurnal Dialog Kebijakan Publik ( Mengurai Benang


Kusut Masalah Kemiskinan di Indonesia). Jakarta: Departemen
Komunikasi dan Informatika.

Berita Resmi Statistik No. 47 / IX / 1 September 2006.

www.wikipedia.org

www.kontanonline.com

www.pondokmungil.blogspot.com

www.indonesiaindonesia.com

www.kompas.com

www.infoindonesia.com

www.gatra.com

www.duniaesai.com

www.halamanputih.multiply.com

www.fatkhul83.ohlog.com

www.infodiknas.com

www.els.bappenas.go.id

www.kabarindonesia.com

www.pnpm-mandiri.org

23