Anda di halaman 1dari 14

REGENERASI

Oleh : Nama NIM Rombongan Kelompok Asisten : Khairina Dewi Handayani : B1J012182 : II :2 : Devi Olivia Muliawati

LAPORAN PRAKTIKUM STRUKTUR DAN PERKEMBANGAN HEWAN II

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS BIOLOGI PURWOKERTO 2013

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Setiap hewan mempunyai kemampuan hidup yang bervariasi antara makhluk yang satu dengan yang lainnya. Salah satu contoh adalah regenerasi dari organ. Hewan-hewan yang termasuk dalam sub phylum vertebrata mempunyai daya regenerasi yang lebih randah dibandingkan dengan daya regenerasi pada hewanhewan yang termasuk dalam avertebrata (regenerasi tertinggi terjadi pada Urodela). Regenerasi adalah memperbaiki bagian tubuh yang rusak atau lepas kembali seperti semula. Kebanyakan vertebrata memiliki kemampuan regenerasi. Kemampuan ini tergantung pada bagian tubuh yang dipotong. Segmen-segmen yang terjadi pada regenerasi pada umumnya lebih sedikit dari pada jumlah segmen yang hilang (Radiopoetra, 1986). Daya regenerasi pada berbagai organisme tidak sama, ada yang tinggi seperti Coelenterata, Platyhelminthes, Annelida, Crustacea dan Urodela. Dikalangan sub phylum ini yang tertinggi adalah Urodela. Banyak dipakai dalam regenerasi eksperimental. Vertebrata adalah yang paling rendah daya regenerasinya

dibandingkan dengan avertebrata, dimana bagian tubuh yang lepas tidak dapat ditumbuhkan kembali. Anura regenerasinya terbatas pada tingkat larva dan hanya pada anggota gerak dan ekor, yang dewasa tidak bisa beregenerasi sama sekali. Praktikum regenerasi dilakukan untuk memberikan pengetahuan dan bukti nyata tentang makhluk hidup yang dapat meregenerasi bagian tubuhnya sendiri tanpa pengaruh dari luar. Praktikum regenerasi kali ini menggunakan ikan nilem (Osteochillus hasselti) dan kecoa sebagai hewan uji. Ikan nilem dan kecoa dipilih sebagai hewan uji sebab mudah didapat, mudah dalam pemeliharaan serta dianggap

mewakili vertebrata dan avertebrata. Daerah pemotongan pada ikan dan kecoa berbeda karena setiap organisme memiliki kemampuan regenerasi pada bagian tubuh tertentu. Kecoa dipotong kaki belakangnya yang paling panjang maka potongan bagian anteriornya itu akan segera terbentuk kaki baru. Segmen-segmen yang terjadi pada regenerasi umumnya lebih sedikit daripada jumlah segmen yang hilang. Sedangkan ikan dipotong pada bagian cauda cagak bawah atau atas untuk diamati regenerasinya berupa pertumbuhan panjang pada cauda.

B. Tujuan

Tujuan praktikum kali ini adalah dapat mengetahui proses regenerasi pada sirip ikan dan mengetahui kemampuan regenerasi pada berbagai sirip ikan Nilem (Osteochilus hasselti).

II. MATERI DAN METODE

A. Materi

Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah gunting, milimeter blok, loupe, dan baki. Bahan yang digunakan dalam praktikum adalah ikan nilem (Osteochillus hasselti).

B. Metode

Cara kerja untuk melakukan praktikum memban ekstra embrional ini adalah sebagai berikut: 1. Ikan nilem diambil dari akuarium menggunakan seser. 2. Panjang ikan total diukur menggunakan milimeter blok. 3. Bagian distal ekor pada cagak bagian atas atau bawah dipotong. 4. Bagian ekor yang terpotong diukur sehingga diketahui panjang tubuh yang tersisa. 5. Ikan dimasukkan kembali ke dalam akuarium dan dipelihara selama dua minggu. 6. Setiap hari ikan diberi pakan pelet dan air akuarium disipon setiap dua hari sekali. 7. Pada minggu pertama dan kedua, panjang tubuh diukur kembali untuk mengetahui ada tidaknya pertumbuhan pada ekor yang dipotong. 8. Hasil praktikum dicatat dan digunakan sebagai dasar penyusunan laporan.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Tabel 1. Pertumbuhan Sirip Ikan Kelompok 2 Panjang Sirip Sebelum Dipotong (mm) 18 11 12 12 Panjang Sirip Setelah Dipotong (mm) 8 10 3 5 8

Kelompok

Sirip

Minggu1 (mm) 10 11 4 11 9

Minggu2 (mm) X X 7 17 11

1 2 3 4 5

Caudal fin atas Caudal fin bawah Anal fin Abdominal fin Pectoral fin

Tabel 1. Pertumbuhan Sirip Ikan Kelompok 4 Panjang Sirip Sebelum Dipotong (mm) 18 19 9 9 13 Panjang Sirip Setelah Dipotong (mm) 3 9 1 4 7

Kelompok

Sirip

Minggu1 (mm) 7 12 4 6 8

Minggu2 (mm) 11 X X 8 8

1 2 3 4 5 Keterangan : X

Caudal fin atas Caudal fin bawah Anal fin Abdominal fin Pectoral fin

: ikan mati

Gambar 1. Ikan Nilem (Osteochillus hasselti) Sebelum Dipotong Siripnya

Gambar 2. Ikan Nilem (Osteochillus hasselti) Setelah Dipotong Siripnya

Gambar 3. Sirip Ikan Nilem Setelah Satu Minggu

B. Pembahasan

Regenerasi pada ikan nilem termasuk dalam tipe regenerasi epimorfosis yang khas pada regenerasi membra. Regenerasi epimorfosis merupakan tipe regenerasi lewat mekanisme yang melibatkan dediferensiasi struktur dewasa untuk membentuk masa sel yang terdiferensiasi, yang kemudian direspesifikasi (Sounder, 1982). Proses regenerasi epimorfis, setelah pemotongan proses untuk sembuh dari luka mulai berlangsung. Dalam waktu satu jam pertama setelah amputasi, sel epitel mulai berimigrasi sebagai lembar dan mulai menutupi jaringan mesenchymal. Selama periode ini banyak yang rusak dan sel-sel terluka menjadi apoptosis dan dihapus dari lokasi amputasi. Setelah itu, lokasi amputasi menjadi meradang dan proses penyembuhan dimulai (Suresh, et al. 2010). Regenerasi sangat luas cakupannya, hewan yang satu dengan yang lain

berbeda kemampuan tubuhnya dalam melakukan regenerasi organ tubuh yang hilang atau rusak. Cicak memiliki kemampuan untuk memperbaiki dirinya sangat menakjubkan hingga dia mencapai dewasa. Kemampuan regenerasinya tidak terbatas pada tingkat sel atau jaringan, tetapi sampai pada tingkat organ (Garcia, 2002). Perlakuan yang dilakukan pada ikan nilem yaitu ikan digunting pada bagian sirip yang berbeda untuk setiap kelompok. Terlebih dahulu dilakukan pengukuran panjang ekor awal kemudian digunting sesuai bagian setiap kelompok. Bagian yang dipotong antara lain sirip caudal atas untuk kelompok satu, sirip caudal bawah untuk kelompok dua, kedua sirip anal untuk kelompok tiga, sirip abdominan untuk kelompok empat, sirip pektoral untuk kelompok lima. Sisa potongan diukur dan dicatat sebagai panjang sisa. Ikan dimasukkan kembali ke dalam akuarium yang telah diberi aerator dan dipelihara selama satu minggu. Ikan diberi makan pelet setiap hari dan akuarium dibersihkan setiap dua hari sekali. Pengamatan dilakukan setelah satu

minggu dan diukur panjang tubuhnya untuk mengetahui ada tidaknya pertumbuhan ekor yang dipotong. Berdasarkan hasil pengamatan dapat diketahui bahwa terdapat pertambahan panjang pada ekor ikan yang dipotong setelah satu minggu pemeliharaan. Hasil ratarata Potongan sirip caudal bawah mengalami pertambahan panjang 2mm, sirip caudal atas 3mm, sirip pectoral 1mm, sirip abdominal 4mm dan sirip anal 2mm. Hal ini dapat disebabkan kurangnya nutrisi saat pemeliharaan sehingga memperlambat proses penyembuhan pada bekas amputasi. Faktor lain yang dapat mempengaruhi yaitu kondisi lingkungan tempat pemeliharaan yang kurang lembab dan sirkulasi udara yang tidak baik. Menurut Kalthoff (1996), faktor-faktor yang mempengaruhi petumbuhan dan perkembangan hewan dapat dibagi menjadi dua, yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi gen dan hormon. Faktor eksternal meliputi air, makanan dan cahaya. Berdasarkan pertambahan panjang setelah satu minggu, dapat diketahui bahwa pertambahan panjang yang cepat terjadi pada potongan sirip abdominal. Pertambahan panjang yang cepat ini dapat dilihat dari selisih pertambahan panjang pada sirip caudal dengan sirip pectoral, abdominal maupun anal. Dari perhitungan rata-rata setelah minggu kedua, sirip caudal atas mengalami pertambahan panjang 4mm dan caudal bawah tidak diketahui karena hewan ujinya mati, sedangkan sirip anal mengalami pertambahan 3mm, sirip abdominal bertambah 3,5mm, dan sirip pectoral mengalami pertambahan 1mm. Hal ini dapat disebabkan peran atau fungsi dari sirip caudal yang lebih penting atau lebih dominan pada pergerakan ikan. Kondisi yang dapat diamati pada pertumbuhan sirip ikan adalah terbentuk daerah transparan pada bekas potongan sirip setelah lima hari masa pemeliharaan. Hal ini sesuai dengan literatur bahwa proses regenerasi ekor ikan berlangsung secara

bertahap. Pada hari pertama dan kedua setelah pemotongan ekor ikan tidak langsung tumbuh melainkan mengalami penyembuhan luka terlebih dahulu. Pada hari ketiga baru muncul calon ekor dengan warna putih transparan, ini merupakan tahap pertumbuhan (Paxton, 1986). Menurut Morgan (1989), regenerasi dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah temperatur, proses biologi dan faktor bahan makanan. Kenaikan dari temperatur, pada hal tertentu, mempercepat regenerasi. Regenerasi menjadi lebih cepat pada suhu 29,7o C. Faktor bahan makanan tidak begitu mempengaruhi dalam proses regenerasi. Regenerasi melalui beberapa tahapan, yaitu : 1. Luka akan tertutup oleh darah yang mengalir, lalu membeku membentuk scab yang bersifat sebagai pelindung. 2. Sel epitel bergerak secara amoeboid menyebar di bawah permukaan luka, di bawah scab. Proses ini membutuhkan waktu selama dua hari, dimana pada saat itu luka telah tertutup oleh kulit. 3. Diferensiasi sel-sel jaringan sekitar luka, sehingga menjadi bersifat muda kembali dan pluripotent untuk membentuk berbagai jenis jaringan baru. Matriks tulang dan tulang rawan akan melarut, sel-selnya lepas tersebar di bawah epitel. Serat jaringan ikat juga berdisintegrasi dan semua sel-selnya mengalami diferensiasi. Sehingga dapat dibedakan antara sel tulang, tulang rawan, dan jaringan ikat. Setelah itu sel-sel otot akan berdiferensiasi, serat miofibril hilang, inti membesar dan sitoplasma menyempit. 4. Pembentukan kuncup regenerasi (blastema) pada permukaan bekas luka. Pada saat ini scab mungkin sudah terlepas. Blastema berasal dari penimbunan sel-sel diferensiasi atau sel-sel satelit pengembara yang ada dalam jaringan, terutama di dinding kapiler darah. Pada saatnya nanti, sel-sel pengembara akan berproliferasi

membentuk blastema. 5. Proliferasi sel-sel berdiferensiasi secara mitosis, yang terjadi secara serentak dengan proses dediferensiasi dan memuncak pada waktu blastema mempunyai besar yang maksimal dan tidak membesar lagi. 6. Rediferensiasi sel-sel dediferensiasi, serentak dengan berhentinya proliferasi selsel blastema tersebut. Sel-sel yang berasal dari parenkim dapat menumbuhkan alat derifat mesodermal, jaringan saraf dan saluran pencernaan. Sehingga bagian yang dipotong akan tumbuh lagi dengan struktur anatomis dan histologis yang serupa dengan asalnya. Sedangkan menurut Sudarwati (1990), regenerasi dipengaruhi oleh beberapa factor antara lain : 1. Temperatur, dimana peningkatan temperatur sampai titik tertentu maka akan meningkatkan regenerasi. 2. Makanan, tingkat regenerasi akan cepat jika memperhatikan aspek makanan. Makanan yang cukup dapat membantu mempercepat proses regenerasi. 3. System saraf, sel-sel yang membentuk regenerasi baru berasal dari sel sekitar luka. Hal ini dapat dibuktikan dengan radisai seluruh bagian tubuh terkecuali bagian yang terpotong, maka terjadilah regenerasi dan faktor yang menentukan macam organ yang diregenerasi. Menurut Stoner (1981) regenerasi sangat bergantung pada proses-proses yang terjadi di dalam tubuh, suhu serta makanan tetapi pengaruhnya tidak terlalu besar. Regenerasi meliputi tiga cara, yaitu : 1. Pertama lewat mekanisme yang melibatkan dediferensiasi struktur dewasa untuk membentuk masa sel yang terdiferensiasi. yang kemudian direspesifikasi. Tipe regenerasi seperti ini disebut regenerasi epimorfis, dan ini khas pada regenerasi

membra. Contohnya pada insecta, pisces dan reptilia. 2. Mekanisme regenerasi kedua disebut mofolaksis. Regenerasi semacam ini terjadi lewat pemolaan kembali jaringan yang masih ada (tersisa), yang tidak disertai dengan perbanyakan sel. Regenarasi mofolaksis terjadi pada Hydra. 3. Tipe regenerasi ketiga adalah regenerasi intermediet, dan diduga sebagai regenerasi konsenpatori. Pada regenerasi ini, sel-sel membelah, tetapi

mempertahankan fungsi sel yang telah terdiferensiasi. Tipe regenerasi konsenpatori khas pada hati manusia .

IV. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan sebelumnya, dapat ditarik beberapa kesimpulan bahwa: 1. Regenerasi adalah memperbaiki bagian tubuh yang rusak atau lepas kembali seperti semula. Kemampuan regenerasi berbeda-beda pada setiap hewan baik pada kecoa (avertebrata) maupun ikan (vertebrata). 2. Regenerasi pada ikan nilem termasuk dalam tipe regenerasi epimorfosis yang khas pada regenerasi membra. 3. Faktor-faktor yang mempengaruhi petumbuhan dan perkembangan hewan dapat dibagi menjadi dua, yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi gen dan hormon. Faktor eksternal meliputi air, temperatur, makanan dan cahaya.

B. Saran

Memerlukan ketelitian dalam mengamati pertumbuhan bagian sirip yang telah dipotong. Selain itu pemeliharaan ikan dilakukan dengan baik agar ikan tidak mati selama masih dalam waktu pengamatan.

DAFTAR REFERENSI

Garcia, Carlos Lopez et al., 2002. The Lizard Cerebral Cortex as a Model to Study Neuronal regeneration. An. Acad. Bras. Cienc. Vol. 74. No. 1. Hal. 85-104. Kalthoff, Klaus. 1996. Analysis of Biological Development. Mc Graw-Hill Mc, New York. Morgan, W. 1989. Comparative Anatomy. John Willey and Sons Inc., New York. Paxton, M. J. W. 1986. Endocrinology Biological and Medical Perspectives. Wm. C. Brown Publisher, Dubuque, Loa. Radiopoetra. 1986. Zoologi. Erlangga. Jakarta. Sounder, J. W. 1982. Developmental Biology. Macmillan Publishing Co. New York. Storer and Usinger. 1981. Elements of Zoology. Mc. Graw Hill Book Company Inc., New York. Sudarwati, 1990. Struktur Hewan. Bandung : Jurusan Biologi FMIPA ITB Suresh, B. Yadav, M. And Desai, I. 2010. Influence of FGF-2 on the Antioxidant Status in Tissues During Various Stages of Tail Regeneration in the Northern House Gecko, Hemidactylus flaviviridis. Journal of Cell and Tissue Research Vol. 10(1) 2091-2100.