Anda di halaman 1dari 17

4.

Pekerjaan bored pile Pondasi tiang dapat dibedakan atas 2 macam cara yaitu: 1. Displacement piles 2. Non displacement pile a. Displacement Piles Displacement piles adalah suatu tiang yang masif atau berongga, yang pada proses pemancangannya ke dalam tanah mengakibatkan terjadinya perpindahan sejumlah tanah baik dalam arah horizontal maupun vertical. Berdasarkan banyaknya tanah yang dipindahkan karena

pemancangan, dapat dibedakan displacement piles menjadi dua yaitu : large displacement pile dan small displacement pile. a. Large Displacement Pile Terdiri dari tiang masif, atau tiang yang bersifat seperti tiang masif, jika dipancang akan mendesak tanah. b. Small displacement Pile Yaitu tiang yang bentuk pemancangannya tidak mendesak tanah terlalu besar jika dipancang. b. Non displacement pile Non displacement pile atau replacement pile adalah suatu tiang yang dilakukan dengan cara membuat lubang di dalam tanah terlebih dahulu, kemudian struktur tiang yang terdiri dari beton di cor ke dalam lubang tersebut. Dengan cara pemasangan tersebut di atas, maka pada non displacement pile tidak terjadi perpindahan tanah akibat desakan tiang sewaktu di pancang. Ditinjau dari bahan tiang, terdiri atas : 1. Tiang beton dicor di lubang (bored and cast in situ concrete pile) 2. Tiang pipa baja dimasukkan di dalani Iubang bor dan diisi beton Keuntungan dari pondasi bor pile adalah : 1. Kebisingan pada saat melaksanakan pekerjaan relatif kecil sehingga cocok untuk pekerjaan pada daerah yang padat penduduknya.

2. Diameter biasanya lebih besar dari pada tiang pracetak dan daya dukung setiap tiang juga lebih besar, sehingga pile cap dapat dibuat lebih kecil. 3. Pada pelaksanaan pengeboran jenis tanah atau batuan yang dikeluarkan dapat diperbandingkan dengan hasil penyelidikan tanah. 4. Alat bor dapat menembus lapisan tanah keras atau rintangan lainnya yang tidak dapat ditembus oleh tiang pancang. Sedangkan kerugiannya adalah : 1. pengeboran dapat mengakibatkan gangguan kepadatan tanah disekitar lubang dan keruntuhan tanah kedalam lubang bila tanah berupa pasir atau tanah yang berkerikil. 2. Dalam banyak hal, beton dari tubuh tiang diletakkan di bawah air sehingga kualitasnya menjadi lebih rendah dari tiang-tiang pracetak. 3. Ketika beton dituangkan, ada kemungkinan adukan beton akan tercampur dengan runtuhan tanah jika lubang tidak diberi casing. 4. Pembesaran ujung bawah tiang tidak dapat dilakukan bila tanah berupa pasir atau tanah non kohesif umumnya.

4.4

Daya Dukung Tiang Anggapan dasar dalam menghitung daya dukung ultimete tanah untuk pondasi tiang biasanya dituangkan dengan rumus : Qult = Qub + Qas-Wt ....(1) Karena berat sendiri tiang (Wt) biasanya dianggap sama berat dengan tanah yang dipindahkan, maka rumus (1) di atas disederhanakan menjadi : Qult dimana: Qut = daya dukung ultimit total Qub = tahanan tekan ultimit ujung tiang Qus = tahanan friksi ultimit / kulit tiang Ab = luas penampang ujung tiang = Qub + Qus= qbu. Ab + Z . f i . Aps..(2)

qbu = tekanan ultimit ujung tiang APi = luas permukaan kulit tiang pada lapisan tanah fi = tegangan friksi ultimit pada lapisan tanah

persamaan (2) secara eksplisit menyatakan bahwa daya dukung ultimit fondasi tiang adalah jumlah aljabar tahanan tekanan ultimit ujung tiang ditambah jumlah tahanan friksi ultimit permukaan dari masing-masing lapisan tanah. Dengan demikian, rumus tersebut juga menyatakan bahwa tahanan friksi ultimit masing-masing lapisan tanah dapat dimobilisasi secara bersamaan pada keadaan ultimit. Pada dasarnya rumus (2) dapat dipakai, namun cara perhitungan yang akan lebih dibahas adalah cara perhitungan berdasarkan laboratorium, SPT dan CPT. 4.4.1 Daya dukung berdasarkan data laboratorium a. Cara Skempton (1966) Qu = w * Cu * Nc * Ab + a * C * As (ton) Dimana : w = factor daya dukung = 0.8 untuk diameter tiang <1,00 m = 0.75 untuk diameter tiang >1,00 m Nc = factor daya dukung Ab = luas penampang dasar tiang (m2) As = luas selimut tiang yang dihitung dan keliling dikalikan dengan panjang tiang (m2). Cu = kohesi tanah sepanjang tiang (t/m2) C = kohesi tanah (t/m2) 4.4.2 Daya dukung tiang berdasarkan data SPT a. Metode Meyerhof Qult = 1/3 * 40 *N* Ab + 02 *N * Aps (tm) Dimana : N = Nilai N-SPT pada setiap lapisan atau ujung tiang Ab = Luas penampang tiang (m2) b. Shioi & Fukui Qult = 10 * N * Ab + 0 1 * N * Aps

4.4.3 Daya dukung berdasarkan data CPT a. Metode Meyerhof (1956) Pu= 1/3 * qc * Ap + Vt *K * JHP Dimana : qc Ap K = Tahanan ujung konus (kg/cm2) = luas penampang tiang (cm2) = keliling tiang (cm)zwaAZS

JHP = Jumlah hambatan pelekat (kg/cm) b. Bustamante M & Gianeselli L Pu = Kc * qc * Ab + n * d * qf Dimana : Kc Kc qc qf = 0.45 untuk qc > 50 kg/cm = 0.40 untuk qc > 50 kg/cm tetapi < 120 kg/cm = Tahanan ujung konus (kg/cm2) = Total Friksi (kg/cm)

4.5

Perhitungan daya dukung tiang Perhitungan yang dibahas dalam laporan kerja praktek adalah perhitungan daya dukung tiang bor pada proyek gedung Medan Focal Point berdasarkan data test dilaboratorium dan dilapangan yaitu SPT dengan menggunakan beberapa rumus yang telah dijelaskan dalam metode diatas. Dari hasil perhitungan daya dukung tiang bor tersebut kemudian dilakukan perbandingan dengan hasil uji pembebanan yaitu hasil loading test. Data yang digunakan sebagai parameter untuk menghitung daya dukung tiang bor pada proyek ini antara lain: a. Data dimensi masing-masing tiang b. Data kedalaman masing-masing tiang c. Data tanah (masing-masing terlampir)

4.5.1 Perhitungan daya dukung tiang berdasarkan data SPT Data Tiang No. Type P5 (BH-01) a. Diameter tiang : 60 cm

b. Panjang tiang : 23 m c. N value setiap lapisan tanah : 1. N lapisan 1 = 14 2. N lapisan 2 = 5 3. N lapisan 3 = 4. N lapisan 4 =

5 8 12 19 10 17 11.833 6

27 29 28 2

5. N lapisan 5 = 60 d. Ab = =

1 d2 4 1 (3.14) (0.60) 2 4

= 0.283 m2 1. Perhitungan daya dukung satu ting dengan Metode Mayerhof : Qult = 1/3 * 40 *N* Ab + 02 *N * Aps (tm) Aps = d = 3.14 *0.60 = 1.884 m2 Untuk lapisan 1 (kedalaman 9.5-10.5) QS1 = 0.2 * N * Aps = 0.2 * 14 * 1.884 m2 * 2 m QS1 = 10.550 ton Untuk lapisan 2 (kedalaman10.5-13.0) QS2 = 0.2 * N * Aps = 0.2 * 5 * 1.884 m2 * 2.5 m QS2 = 4.710 ton

Untuk lapisan 3 (kedalaman 13.0-23.0) QS3 = 0.2 * N * Aps = 0.2 * 11.883 * 1.884 m2 * 10 m QS3 = 44.775 ton Untuk lapisan 4 (kedalaman 23.0-27.5) QS4 = 0.2 * N * Aps = 0.2 * 28 * 1.884 m2 * 4.5 m QS4 = 47.476 ton Untuk lapisan 5 (kedalaman 27.5-30.0) QS5 = 0.2 * N * Aps = 0.2 * 60 * 1.884 m2 * 2.5 m QS5 = 56.52 ton Untuk ujung tiang Qbase = 1/3 * 40 * N * Ab = 1/3 * 40 * 60 * 0.283 m2 Qbase = 226.40 ton Maka, Qult = 226.40 ton + 56.52 t0n Qult = 282. 92 ton 2. Perhitungan daya dukung satu ting dengan Metode Shioi & Fukui : Qult = 10 * N * Ab + 0 1 * N * Aps Aps = d = 3.14 *0.60 Aps = 1.884 m2 Untuk lapisan 1 (kedalaman 9.5-10.5) QS1 = 0.1 * N * Aps = 0.1 * 14 * 1.884 m2 * 2 m QS1 = 5.275 ton Untuk lapisan 2 (kedalaman10.5-13.0) QS2 = 0.1 * N * Aps = 0.1 * 5 * 1.884 m2 * 2.5 m QS2 = 2.335 ton

Untuk lapisan 3 (kedalaman 13.0-23.0) QS3 = 0.1 * N * Aps = 0.1 * 11.883 * 1.884 m2 * 10 m QS3 = 22.387 ton Untuk lapisan 4 (kedalaman 23.0-27.5) QS4 = 0.1 * N * Aps = 0.1 * 28 * 1.884 m2 * 4.5 m QS4 = 23.738 ton Untuk lapisan 5 (kedalaman 27.5-30.0) QS5 = 0.1 * N * Aps = 0.1 * 60 * 1.884 m2 * 2.5 m QS5 = 28.260 ton Qs total Qs total = QS1 + QS2 + QS3 + QS4 + QS5 = 5.275 + 2.335 + 22.387 + 23.738 + 28.260 = 81.995 ton

Untuk ujung tiang Qbase = 10 * N * Ab = 10 * 60 * 0.283 m2 Qbase = 169.80 ton Maka, Qult = 169.80 ton + 81.995 ton Qult = 251.795 ton

4.6

Uji Pembebanan Pembebanan pada sebuah tiang uji memungkinkan dilakukannya penentuan secara langsung beban ultimitnya dan merapakan suatu cara untuk memperkirakan keakuratan nilai yang diramalkan. Pengujian tersebut dapat juga dilakukan dengan menghentikan pembebanan ketika beban kerja yang diusulkan telah dilewati persentase yang telah dispeksifikasikan. Hasilhasil pengujian pada sebuah tiang utama belum tentu mencerminkan kemampuan semua tiang lainnya yarig berada di tempat yang sama, karena itu diperlukan beberapa kali pengiijian yang cukup memadai yang tergantung pada luasnya penyelidikan tanah.

Tiang yang dipancangkan ke dalam lempung tidak boleh diuji untuk paling sedikit satu bulan setelah pemancangan untuk memberi kesempatan bertambahnya friksi kulit. Pembebanan dilakukan dengan menambah beban sedikit demi sedikit, setiap beban dibiarkan sampai penurunan berbenti. Penuranan diukur dan dicatat selama 24 jam, misalnya setiap jam. Dengan demikian kita dapat membuat grafik beban dan penurunan terhadap waktu daii juga dapat dibuat grafik penurunan terhadap beban. Dari grafik inilah yang dapat menunjukkan daya dukung tiang. Dalam uji beban i'ni terdapat berbagai macam cara, namun dibawah ini hanya akan disebut beberapa saja yang dianggap cukup terkenal dan mempunyai nilai kegunaan praktis tersendiri. a. Cara Chin Cara Chin didasari anggapan bahwa bentuk grafik hubungan pembebanan vs penurunan adalah hyperbola. Meskipun uji beban belum dilakukan sampai batas beban kegagalan, dengan aggapan grafik berbentuk hyperbola, maka beban kegagalan dapat diperkirakan. Grafik hubungan pembebanan vs penurunan digambarkan dengan bentuk d/Q sebagai sumber tegak dan d sebagai sumber datar, sehingga grafik kurva berbentuk hypembola menjadi garis lurus. Dari hubungan d/Q = d*C1 + C2 Didapat Quc = 1/C1 Beban ultimit dikoreksi dengan rumus = (0.8-0.9) b. Cara Mazurkiewicz"s Cara Mazurkiewiecs didasari anggapan bahwa bentuk grafik hubungan pembebanan vs penurunan adalah sedemikian rupa sehingga jika dilakukan manipulasi gambar, bisa ditentukan beban kegagalan. Evaluasi uji pembebanan pada proyek pembanguna gedung Medan Focal Point adalah sebagai berikut :

4.6.1

Evaluasi uji Pembebanan Pengujian daya dukung tiang bor dengan uji beban statik adalah uji standard untuk setiap bangunan, yaitu pembebanan langsung tiang pondasi dengan besar beban 200 % atau 300 % daya dukung ijiin (working load) tiang. Uji beban sebesar 200 % lebih ditujukan untuk proof-test saat konstruksi, sedangkan uji beban sebesar 300 % ditujukan untuk mencari daya dukung batas tiang, untuk keperluan design. Yang perlu diperhatikan pada uji tiang bor adalah pengujian boleh dilakukan setelah 14 - 30 hari, agar beton mencapai kekuatan yang diinginkan dan keadaan tanah yang terganggu dapat kembali seperti keadaan semula. Rencana pondasi bangunan ini adalah bore pile dengan diameter 600 mm pada kedalaman 23 m dari cut of level (COL). Percobaan pembebanan dilakukan pada pile terpakai (use pile) dengan beban maksimum percobaan 2 x 150 ton. Sistem pembabanan yang digunakan adalah Pembebanan memakai sistim kentledge, yaitu dengan menumpuk blok-blok beton atau material lain sesuai yang dibutuhkan. Cara lainnya dengan menggunakan reaction pile (Anchor System) yaitu menggunakan tiang bor lain atau ground anchor yang akan berfungsi sebagai tiang tarik. Pembebanan pada kepala tiang dilakukan dengan dongkrak hidrolik (gambar 4.17).

Gambar 4.17. Pengujian dengan system kentledge Pelaksanaan sistem pembebanan di atas memerlukan waktu yang lama dan tempat yang luas serta biaya besar. Selama pembebanan semua kegiatan di sekitar area tesebut harus berhenti karena dapat mengganggu ketelitian hasil pengujian. Data penting dari pengujian ini adalah diperolehnya graphik hubungan antara penurunan tiang (settlement) vs beban (load). Dari grafik ini, dengan menggunakan berbagai metoda, seperti metoda CHIN, metoda Davission, metoda Log P vs. Log S dan Mazurkiewich dapat diprediksi daya dukung batas dari tiang. a. Data Tiang Bor Test pile yang dilaksanakan adalah axial static compresi pada 1 (satu ) tiang bor dengan diameter 600 mm. test pile ini dimaksudkan untuk mengetahui besarnya kapasitas ijin tiang. Data tiang bor yang diuji dilihat pada tabel 4.1 berikut :

Tabel 4.1. Data tiang bor No. pile Diameter pile Tanggal pengeboran Tanggal pengecoran Tanggal pengujian Type test Volume beton Ground level Cut of level Kedalaman bor dari ground level Pile length Concrete grade Slump P 108 600 mm 2 Februari 2011 2 Februari 2011 6 April 2011 - 8 April 2011 Axial static compressi 12 m3 -2.540 -9.500 29.960 28. 00 Fc350 mpa 18 2 cm

b. Prosedur pengujian Uji pembebanan dialakukan sesuai dengan prosedur ASTM D 1143 81, pembebanan siklik dengan 4 siklus loading-unloading. Pembebanan maksimum adalah 200% design load, dimana step pembebanan adalah 25% design load. Kentledge system digunakan untuk memberikan reaksi pada hidrolik jack. Untuk mengukur penurunan tiang digunakan 4 (empat) buah dial guage, yang terletak diseputar tiang dan bertumpu pada reference beam yang bebas dari pengaruh penurunan tanah akibat beban pada tiang. Prosedur pengujian uji pembebanan anatara lain sebagai berikut : 1. Persiapan tiang yang akan di uji Sebelum pengujian dilakukan pada pile yang akan diuji dilakukan persiapan tiang yang akan di uji yakni dengan pengetesan kepala tiang (permukaan tiang diratakan) sampai mencapai beton keras sehingga saat pengujian kepala tiang tidak pecah. Area yang digunakan pada pengujian harus diratakan disekitar area tiang yang akan diuji dengan ukuran 10 x 12 m. area tersebut difungsikan

untuk pembuatan/penyusunan block beton sebagai kaki test pile. Elevasi as pembabanan ditentukan pada tiang yang akan diuji untuk meletakkan jack hidrolic, dial gauges dan perlengkapan test lainnya.

2. Pembacaan loading test Setiap tahap pemberian beban, pembacaan harus dicatat oleh pelaksanan pengujian. Penerapan beban pada tiang yang diuji diukur oleh pressure gauge. Pembacaan dial gauge dan scale rule yang terbaca selama pergerakan tiang/penurunan tiang. Sedangkan syarat-syarat prosedur percobaan : 1. Percobaan pembebanan dilaksanakan sesuai dengan American society for testing material (ASTM) designation D 1143-81. 2. Rencana pembebanan Prosentasi dari design load : a. Cycle I b. Cycle II : 0%-25%-50%-25%-0% : 0%-50%-75%-100%-75%-50%-0%

c. Cycle III : 0%-50%-100%-125%-150%-125%-100%-50%-0% d. Cycle IV : 0%-50%-100%-150%-175%-200%-175%-150%100%-50%-0% Semau pencatatan pembacaan harus ditandatangani oleh semua pihak. Ditambahkan keterangan kondisi cuaca dan pencatatan waktu. 3. Pengajuan laporan Kurva load-deflection yang harus direncanakan selama berjalannya test. Pengajuan laporan harus menemui perencanaan sebagai berikut : a. Kurva load deflection b. Laporan akhir, dimana pada laporan akhir terdiri atas : 1. Kurva load-deflection dan load-time-deflection 2. Semua hasil pencatatan data 3. Dokumentasi selama pengetesan 4. Kalibrasi alat test yang digunakan

4. Pencatatan waktu, beban dan perpindahan 1. Selama pembabanan beban a. Menjelang dan setelah pemberian beban b. Jarak waktu 5 menit c. Setelah pemberian baban maksimum, jarak waktu 5 menit. 2. Selama penurunan a. Menjelang dan setelah pemberian beban b. Jarak waktu 5 menit c. Setelah beban total diturunkan, pembacaan dilakukan pada waktu 15 dan 30 menit. 3. Tipe reaksi Pemberian beban dilakukan dengan hidrolik pump yang ditransfer lewat jack hidrolic yang memberikan beban ke tiang yang di test. Semua system reaksi harus direncanakan dan dibuat untuk menahan beban 25% lebih besar dari beban maksimum. 4. Pengukuran perpindahan 1. Jarak antara tiang test ke refrensi beam tidak lebih dari 2 m 2. Minimal menggunakan 4 (empat) dial gauge. Hasil test factual untuk test aksial kompressi (tekan) berupa besarnya settlement tiang untuk beban 100% design load, 200% design load, dan residual settlement dirangkum dalam tabel 4.2 berikut. Dari datadata factual ini diprediksdi kinerja tiang yang di test. Tabel 4.2. Rangkuman data factual hasil test No. Tiang bor 108 Diameter (mm) 600 Panjang total (m) 28 settlement 100% DL 2.668 200% DL 5.443 residual 1.965

4.6.2

Evaluasi Hasil Pile Load Test Hasil test di interprestasikan untuk mendapatkan kapasitas batas (ultimate) tiang. Tersedia berapa metoda interpestasi untuk mendapatkan kapasitas batas tiang, dimana metoda yang diguanakan tersebut digolongkan dalam 2 golongan yaitu :

1. Metode interprestasi yang menghasilkan ultimate capacity, dan 2. Metode interprestasi yang menghasilkan yield capacity. Factor keamanan 2.5 harus diberikan pada metoda-metoda interprestasi yang menghsilkan ultimate capacity untuk mendapatkan kapasitas ijin tiang, sedangkan factor keamanan 2 harus diberikan pada metodemetode interprestasi yang menghasilkan yield capacity. Metode interprestasi yang digunakan untuk mendapatkan kapsitas ijin tiang pada proyek ini adalah dengan menggunakan metode Chin. Metode chin (ultimate load) didefinisikan sebagai inverse slope dari garis yang menyatakan hubungan settlement/load versus settlement. Ultimate load versus settlement. Ultimate load yang diperoleh dari metode ini harusdibagi dengan faktor koreksi yang besarnya berkisar antara 1.0 sampai 1.4. semakin dekat beban test maksimum dengan ultimate load, semakin kecil factor koreksinya. Load test ini dilakukan dari permukaan tanah dengan kedalaman tiang diukur dari top pile. Dengan demikian maka nilai ultimate capacity tersebut tidak perlu dikurangi tahanan friksi tiang diatas COL (cut of level) untuk mendapatkan revised Ultimate Capacity, Pult, Pult (rev). Selanjutnya, Pult (rev) tersebut dibagi dengan factor keamanan minimum, atau faktor koreksi (FK) minimum masing-masing metode interprestasi, untuk mendapatkan daya dukung ijin tiang bor, seperti ditunjukkan pada tabel 4.3. Besarnya tekanan friksi tiang diatas C.O.L dianggap kecil. Tabel 4.3 Rangkuman hasil evaluasi test axial static compressi Metode evaluasi CHIN Catatan : 1. Pult (rev) = Pult dikurangi friksi tiang diatas C.O.L 2. Friksi diatas C.O.L diabaikan 3. P(ijin) = Pult (rev) /FK (min) Nilai kapasitas ijin tiang sebesar 297.619 ton adalah nilai kapasitas ijin pada waktu loading test. Untuk production pile nilai ini perlu dikalikan Pult (ton) 416.667 Pult (rev) (ton) 416.667 FK (min) 1.4 P (ijin) (ton) 297.619

dengan faktor workmanship sebesar 0.9 sehingga untuk production pile, besarnya kapasitas ijin tiang bor dengan diameter 60 cm serta panjang efektif 28 m = 0.9 x 297.619 ton = 267.857 ton. Dari data hasil pengujian maka dengan metode chins didapat grafik hubungan antara penurunan dengan beban sebagai berikut : Tabel 4.4 Data loading test BP. 108 Settlement (mm) 0.000 0.303 0.743 1.165 1.655 2.260 2.803 3.363 5.443 Load (Ton) 0.000 37.500 75.000 112.500 150.000 187.500 225.000 262.500 300.000 Settlement/load (mm/Ton) 0.000 0.008 0.010 0.010 0.011 0.012 0.012 0.013 0.018

Tabel 4.5. Load displacement data cycle Percent (%) 0.00 25.00 50.00 25.00 0.00 50 75 100 75 50 0 50 100 125 150 125 100 50 0 50 100 150 175 200 150 100 50 0 loads (tons) 0.00 37.50 75.50 37.50 0.00 75 112.5 150 112.5 75 0 75 150 187.5 255 187.5 150 75 0 75 150 225 262.5 300 225 150 75 0 settlement (mm) 0.000 0.303 0.743 0.645 0.177 0.738 1.165 1.655 1.648 1.478 0.368 0.828 1.678 2.260 2.803 2.693 2.583 1.658 0.420 1.023 1.765 2.783 3.363 5.443 5.288 4.540 3.538 1.965

II

III

IV

Dari data displacement maka diperole grafik hubungan antara beban (ton) dengan penurunan (settlement) yang ditunjukkan pada grafik sebagai berikut :