Anda di halaman 1dari 111

EKSTRAKSI DAN PENGUJIAN AKTIVITAS ANTIBAKTERI SENYAWA

TANIN PADA DAUN BELIMBING WULUH (Averrhoa bilimbi L.)

(Kajian Variasi Pelarut)

SKRIPSI

Oleh :

MASITHAH KHAIRUL UMMAH NIM: 05530001

Pelarut) SKRIPSI Oleh : MASITHAH KHAIRUL UMMAH NIM: 05530001 JURUSAN KIMIA FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS

JURUSAN KIMIA

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM

MALANG

2010

EKTRAKSI DAN PENGUJIAN AKTIVITAS ANTIBAKTERI SENYAWA TANIN PADA DAUN BELIMBING WULUH (Averrhoa bilimbi L.) (Kajian Variasi Pelarut)

SKRIPSI

Diajukan Kepada:

Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Dalam Memperoleh Gelar Sarjana Sains (S. Si)

Oleh:

Masithah Khairul Ummah NIM: 05530001

JURUSAN KIMIA FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG

2010

PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN

Saya yang bertanda tangan dibawah ini:

Nama : Masithah Khairul Ummah

NIM : 0553001

Jurusan : Kimia

Fakultas : Sains dan Teknologi

Menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa skripsi yang saya tulis ini

benar-benar merupakan hasil karya saya sendiri, bukan merupakan

pengambilalihan data, tulisan atau pikiran orang lain yang saya akui sebagai hasil

tulisan atau pikiran saya sendiri.

Apabila di kemudian hari terbukti terdapat unsur-unsur jiplakan, maka

saya bersedia untuk mempertanggung jawabkan, serta diproses sesuai paraturan

yang berlaku.

Malang, 26 Januari 2010

Yang membuat pernyataan

Masithah Khairul Ummah NIM. 05530001

EKSTRAKSI DAN PENGUJIAN AKTIVITAS ANTIBAKTERI SENYAWA

TANIN PADA DAUN BELIMBING WULUH (Averrhoa bilimbi L.)

(Kajian Variasi Pelarut)

SKRIPSI

Oleh:

Masithah Khairul Ummah

NIM: 05530001

Telah Dipertahankan di Depan Dewan Penguji Skripsi

dan Dinyatakan Diterima Sebagai Salah Satu

Persyaratan untuk Memperoleh Gelar Sarjana Sains (S. Si)

Tanggal

2010

Susunan Dewan Penguji :

Tanda Tangan

1. Penguji Utama

: Rini Nafsiati Astuti, M.Pd NIP. 19750531 200312 2 003

(

)

2. Ketua Penguji

: Eny Yulianti, M.Si NIP. 19760611 200501 2 006

(

)

3. Sekr. Penguji

: Elok Kamilah Hayati, M.Si NIP. 19790620 200604 2 002

(

)

4. Anggota Penguji

: Anton Prasetyo, M.Si NIP. 19770925 200604 1 003

(

)

Mengetahui dan Mengesahkan Ketua Jurusan Kimia

Diana Candra Dewi, M.Si NIP. 19770720 200312 2 001

PERSEMBAHAN

Alhamdulillaahirabbil'aalamiin

Dengan senantiasa memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT, ku persembahkan buah karya ini untuk:

Ayah dan Ibunda tercinta, Maswar, S.Pd dan Mastutik engkaulah guru pertama dalam hidupku yang telah mengasuhku dan banyak memberikan kasih sayang dengan jutaan kasih sesejuk embun pagi dan sesuci doa di malam hari, ananda haturkan terima kasih atas semuanya.

Adikku tersayang Nasrul Haq Al-masbi terima kasih atas dukungan dan do’a nya, sehingga kakak bisa terus berpacu dan termotivasi untuk mewujudkan cita-cita,belajarlah yang rajin Teruslah menjadi kebanggaan orang tua dan teruntuk Pendamping hidupku KELAK calon suamiku, imam dan ayah bagi putra-putriku

KATA PENGANTAR

ÉÉÉΟΟŠÉΟΟŠŠŠÏÏÏmmÏmm§§§§9999$$$###$# ÇÇÇ≈Ç≈≈≈uuuΗΗuΗΗ÷÷÷qqq÷q§§§§9999$$$###$# «««!!«!!$$$###$# ÉÉÉΟΟÉΟΟóóó¡¡ó¡¡ÎÎÎ00Î00

Puji syukur Alhamdulillah ke hadirat Allah SWT atas segala rahmat, hidayah dan kemudahan yang selalu diberikan kepada hamba-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul “ Ekstraksi dan Pengujian Aktivitas Antibakteri Senyawa Tanin Pada Daun Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L.) Dengan Variasi Pelarut sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Sains. Penulis mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini, terutama kepada:

1. Prof. Dr. H. Imam Suprayogo selaku Rektor UIN Malang beserta stafnya, terima kasih atas fasilitas yang diberikan selama kuliah di UIN Malang.

2. Prof. Drs. Sutiman Bambang Sumitro, SU., D.Sc selaku Dekan Fakultas Sains dan Teknologi UIN Malang.

3. Diana Candra Dewi, M.Si selaku Ketua Jurusan Kimia Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri (UIN) Malang.

4. Elok Kamilah Hayati, M.Si Akyunul Jannah, S.Si, MP, Anton Prasetyo M.Si selaku dosen pembimbing yang telah banyak memberikan bimbingan dan arahan dalam penyusunan skripsi ini.

5. Rini Nafsiati Astuti selaku penguji utama dan Eny Yulianti, M.Si selaku ketua penguji

6. Bapak dan Ibu Dosen Jurusan Kimia Fakultas Sains dan Teknologi yang telah banyak memberikan ilmunya.

7. Moh. Taufik, S.Si , M Kholid Al-Ayubi, Zulkarnain, S.Si selaku Laboran Kimia UIN Maliki Malang.

8. Bapak dan ibuku yang dengan penuh kasih sayang dan keikhlasan telah mengasuh, membesarkan dan membiayai baik materil maupun spirituil serta

mengalirkan doa-doanya untuk kebahagiaan putri tercintanya baik di dunia maupun di akhirat

9. Adikku tersayang dan Seseorang yang istimewa dihati yang telah banyak dan selalu memberikan bantuan, dukungan, semangat dan doanya.

10. Sheva, Erna, Lalu, Afifa dan Keluarga besar Simpang Gajayana 611 J yang telah memberikan bantuan, semangat dan keceriaan setiap waktu.

11. Teman-temanku chemistry 05 (Aisy, Lailis, Warda, Halim, U_mi, Nur RA, Fajar, Ieza, Naily, Asri, Helmi) yang telah memberikan arahan, bantuan serta ilmunya dalam penelitian.

12. Kakak-kakak dan adik-adik keluarga besar kimia terus semangat dan lanjutkan perjuangan.

13. Semua pihak yang telah banyak membantu penulis demi terselesainya skripsi ini.

Akhir kata dengan jujur penulis mengakui bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu saran dan kritik yang bersifat membangun sangat penulis harapkan demi lebih sempurnanya skripsi ini. Penulis berharap semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi penulis pada khususnya dan pembaca pada umumnya dan semoga penulisan skripsi ini mendapatkan ridho dari Allah SWT. Amiin.

Malang, Januari 2010

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

i

DAFTAR ISI

iii

DAFTAR TABEL

vi

DAFTAR

GAMBAR

vii

DAFTAR

LAMPIRAN

vii

ABSTRAK

ix

BAB I PENDAHULUAN

1

1.1 Latar Belakang

1

1.2 Rumusan Masalah

6

1.3 Tujuan

6

1.4 Batasan Masalah

6

1.5 Manfaat Penelitian

7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

8

2.1 Tanaman Belimbing Wuluh Perspektif Islam

9

2.2 Sejarah Penggunaan Tumbuhan Sebagai Obat

11

2.3 Tanaman Belimbing Wuluh Perspektif Ilmu Pengetahuan

14

2.3.1 Kandungan Kimia Daun Belimbing Wuluh

16

2.3.2 Manfaat Belimbing Wuluh

17

2.4 Senyawa Metabolit Primer dan Sekunder

17

2.5 Senyawa Tanin

18

2.6 Pemisahan Senyawa Tanin

21

2.6.1

Ekstraksi Senyawa Tanin

21

2.6.1.1

Ekstraksi Tanin dengan Metode Maserasi

23

2.6.2

Identifikasi Senyawa Tanin

25

2.6.2.1 Uji Fitokimia

25

2.6.2.2 Identifikasi dengan Kromatografi

26

2.6.3.1

Penentuan Kadar Tanin dengan Metode Lowenthah-Procter

27

2.6.3.2 Penentuan Kadar Tanin dengan Metode Spektrofometer

28

2.6.3.3 Penentuan Kadar Tanin dengan Metode Stiansy Test

29

2.7

Antibakteri

30

2.7.1 Tanin Sebagai Antibakteri

33

2.7.2 Mekanisme Penghambatan Antibakteri

37

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

39

3.1 Pelaksanaan Penelitian

39

3.2 Alat dan Bahan

39

3.2.1 Alat

39

3.2.2 Bahan

39

3.3 Rancangan Penelitian

40

3.4 Tahapan Penelitian

40

3.5 Pelaksanaan Penelitian

41

3.5.1 Preparasi Sampel

41

3.5.2 Ekstraksi Tanin dengan Metode Maserasi

41

3.5.3 Uji Tanin

41

 

3.5.4 Uji

Kadar Tanin Metode Lowenthal-Procter

42

3.5.5 Uji Antibakteri

43

3.5.5.1 Sterilisasi Alat

43

3.5.5.2 Pembuatan Media

43

3.5.5.3 Peremajaan Biakan Murni

44

3.5.5.4 Pembuatan Biakan Aktif

44

3.5.5.5 Uji Antibakteri

44

3.6

Analisis Data

45

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

46

4.1 Preparasi Sampel Daun Belimbing Wuluh

46

4.2 Ekstraksi Senyawa Tanin

47

4.3.1

Uji Fitokimia Senyawa Tanin dengan Menggunakan FeCl 3

51

4.3.2 Uji Fitokimia Senyawa Tanin dengan Menggunakan Larutan Gelatin

52

4.3.3 Uji Fitokimia Senyawa Tanin dengan Menggunakan Formalin : HCl

54

4.4

Uji Kuantitatif Senyawa Tanin dengan Metode Lowenthal-procter 56

4.5

Uji Aktivitas Antibakteri Senyawa Tanin Berdasarkan Pelarut Terbaik

59

4.7

Hasil Penelitian tentang Pemanfaatan Tanin dalam Daun Belimbing

Wuluh dalam Prespektif Islam

67

BAB V KESIMPULAN DAN SARA

70

5.1 Kesimpulan

70

5.2 Saran

70

71

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN

76

DAFTAR TABEL

2.1

Tetapan dielektrikum pelarut

25

2.2

Nilai Rf dari Beberapa ekstrak daun jambu biji

27

2.3

Perbedaan susunan dinding sel bakteri Gram positif dan negatif.33

2.4

Aktivitas Antibakteri Senyawa Tanin

36

4.1

Warna

filtrat dari masing-masing pelarut

48

4.2

Warna

fase air dari masing-masing Pelarut

49

4.3

Hasil uji fitokimia ekstrak tanin menggunakan FeCl 3

52

4.4

Hasil uji fitokimia ekstrak tanin menggunakan larutan gelatin

54

4.5

Hasil uji fitokimia ekstrak tanin menggunakan Formalin : HCl.55

4.6

Hasil uji kuantitatif senyawa tanin dengan metode Lowenthal Procter

58

4.7

Data zona hambat senyawa tanin ekstrak daun belimbing wuluh

sebagai antibakteri S. aureus

62

4.8

Data zona hambat senyawa tanin ekstrak daun belimbing wuluh

sebagai antibakteri E. coli

62

DAFTAR GAMBAR

2.1

Daun Muda Belimbing Wuluh

15

2.2

Struktur Senyawa Tanin

18

4.1

Reaksi dugaan antra gugus fenol pada tanin dengan FeCl 3

51

4.2

Reaksi dugaaan antara gugus fenol pada tanin dengan gugus protein pada gelatin

53

4.3

Reaksi dugaaan terjadinya ikatan hidrogen gugus fenol pada tanin

dengan protein

64

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1.

Skema Kerja

76

Lampiran 2. Perhitungan, Pembuatan Reagen dan Larutan

81

Lampiran 3. Perhitungan Kekuatan Cakram

81

Lampiran 4. Ukuran Daerah dan Interpretasinya untuk Kemoterapeutik

 

yang sering Digunakan

84

Lampiran 5. Perhitungan Kadar Tanin Metode Lowenthal Procter

85

Lampiran 6. Hasil Uji Antibakteri Ekstrak Daun Belimbing Wuluh dengan Pelarut Terbaik

87

Lampiran

7.

Uji Statistik

89

Lampiran 8. Dokumentasi Penelitian

93

ABSTRAK

Ummah, M.K. 2010. Ekstraksi dan Pengujian Aktivitas Antibakteri Senyawa Tanin dari Daun Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi. L) KajianVariasi Pelarut. Pembimbing :Elok Kamilah Hayati, M.Si . Pembimbing Pendamping : Anton Prasetyo, M.Si

Kata Kunci : Daun Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi. L), Tanin,

Antibakteri

Penggunaan antibakteri sintetik atau pengawet sintetik pada makanan seperti penambahan formalin jika dikonsumsi secara terus menerus akan menyebabkan penyakit, adanya fenomena di atas mendorong manusia untuk mencari solusi yang terbaik bagi kesehatan. Solusi yang dilakukan adalah mencari alternatif pengganti antibakteri sintetis dengan menggunakan antibakteri alami yang dapat diperoleh dari tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan bahan alam sebagai antibakteri alami. Penelitian ini ingin mengetahui bahwa senyawa tanin yang diduga terdapat dalam daun belimbing wuluh dapat menghambat bakteri S. aureus dan E. coli. Penelitian ini meliputi ekstraksi yang dilakukan dengan metode maserasi menggunakan 4 jenis pelarut yang berbeda yaitu air hangat, metanol, etanol, dan Aseton:air (7:3). Penentuan pelarut terbaik hasil ekstraksi adalah dengan menggunakan metode Lowenthal-Procter Uji efektifitas antibakteri dilakukan terhadap bakteri S. aureus dan E. coli menggunakan metode difusi cakram dengan konsentrasi ekstrak 50, 100, 150, 200, 250, 300, 350, dan 400 mg/mL. Hasil penelitiaan menunjukkan bahwa berdasarkan uji fitokimia daun belimbing wuluh mengandung senyawa tanin. Pelarut terbaik yang dapat mengekstrak tanin dengan kadar tertinggi adalah Aseton:air (7:3). Hasil perhitungan zona hambat ekstrak tanin dari pelarut terbaik terhadap bakteri S. aureus pada konsentrasi 50 mg/ml:6,1 mm, 100 mg/ml:6,3mm, 150 mg/ml:7,1mm, 200 mg/ml:10,67 mm, 250 mg/ml:11,6 mm, 300 mg/ml:13,5 mm,

350 mg/ml:14,16 mm, dan 400 mg/ml:15,1 mm. Nilai zona hambat untuk E. coli

pada konsentrasi 50 mg/ml:7,4 mm, 100 mg/ml:9,7 mm, 150 mg/ml:11,2 mm, 200 mg/ml:12,6 mm, 250 mg/ml:13 mm, 300 mg/ml:13,9 mm, 350 mg/ml:14,2, dan

400 mg/ml:15,27 mm. Konsentrasi terbaik untuk kedua bakteri adalah 400 mg/ml,

dan berdasarkan hasil zona hambat yang terbentuk bahwa senyawa tanin bersifat

resisiten terhadap kedua bakteri uji.

ABSTRACT

Ummah, M.K. 2010 The Extraction and Antibacterial Activity Examination of Tannin compound at Averrhoa bilimbi L. Leaves (Solvent Variation Study)

Key words: Averrhoa bilimbi . L leaves, Tannin, Antibacterial

The usage of synthetic antibacterial or preservative synthetic food likes formaline addition, if it is consumed continually, it will cause diseases, the phenomenon above make the people it finding the best solution for health. The solution done is finding the substitution alternative of synthetic antibacterial by using of antibacterial of plant. This research intents to utilize the natural material as the natural antibacterial. The objective of this research is to know that tannin compound which is probably available in averrhoa bilimbi L leaves constrain bacteria S. aureus and E. coli . This research cover the extraction done by maceration method using different 4 dissolving types which are water, methanol, ethanol, and aceton :water (7:3 ). The best dissolving determination of the extraction result is by using of Lowenthal Procter method. The antibacterial activity test is done to bacteria S. aureus and E. coli using the disk diffusion method by concentration extract 50, 100, 150, 200, 250, 300, 350, and 400 mg / mL. The result of experiment based on the fitokimia test of averrhoa bilimbi L leaves contain of tannin compound. The best dissolving that can extract tannin by extract aceton :water (7:3 ) as highest concentration. The result showed that all concentration of averrhoa bilimbi L extract with acetone : water (7:3) influenced the zone of inhibition. The Zone of inhibition result constrain the tannin extract of the best dissolving to bacteria S. aureus on concentration 50 mg / ml:6,1 mm, 100 mg / ml:6,3mm, 150 mg / ml:7,1mm, 200 mg / ml:10,67 mm, 250 mg / ml:11,6 mm, 300 mg / ml:13,5 mm, 350 mg / ml:14,16 mm, and 400 mg / ml:15,1 mm. Zone of inhibition constrains to E. coli on concentration 50 mg / ml:7,4 mm, 100 mg / ml:9,7 mm, 150 mg / ml:11,2 mm, 200 mg / ml:12,6 mm, 250 mg / ml:13 mm, 300 mg / ml:13,9 mm, 350 mg / ml:14,2, and 400 mg / ml:15,27 mm. The best concentration for both bacteria is 400 mg / ml, and bases on zone of inhibition result that was formed can be stated that tannin compound gets resistance to bacteria S. aureus and E. coli

1.1 Latar Belakang

Penemuan

berbagai

BAB I

PENDAHULUAN

senyawa

obat

baru

dari

bahan

alam

semakin

memperjelas peran penting metabolit sekunder tanaman sebagai sumber bahan

baku obat. Metabolit sekunder adalah senyawa hasil biogenesis dari metabolit

primer.

Umumnya

dihasilkan

oleh

tumbuhan

tingkat

tinggi,

yang

bukan

merupakan senyawa penentu kelangsungan hidup secara langsung, tetapi lebih

sebagai

hasil

mekanisme

pertahanan

diri

organisma.

Kandungan

senyawa

metabolit sekunder telah terbukti bekerja sebagai derivat antikanker, antibakteri

dan antioksidan, antara lain adalah golongan alkaloid, tanin, golongan polifenol

dan turunanya.

Indonesia yang beriklim tropis memiliki aneka ragam tumbuhan, dan

beberapa tumbuhan dapat digunakan sebagai bahan obat tradisional. Senyawa

metabolit sekunder yang terdapat pada tumbuhan selain sebagai obat tradisional

juga

dapat

digunakan

sebagai

antibakteri

dan

pengawet

alami.

Penggunaan

antibakteri sintetik atau pengawet sintetik pada makanan seperti penambahan

formalin jika dikonsumsi secara terus menerus akan menyebabkan penyakit.

Adanya fenomena di atas mendorong manusia untuk mencari solusi yang terbaik

bagi kesehatan. Solusi yang dilakukan adalah

mencari alternatif pengganti

antibakteri sintetis dengan menggunakan antibakteri alami yang dapat diperoleh

dari tanaman.

Keanekaragaman tumbuhan yang dimiliki Indonesia merupakan salah satu

nikmat yang diberikan oleh Allah kepada kita, sehingga kita patut bersyukur dan

memanfaatkanya dengan baik, didalam firmannya Allah telah menjelaskan dalam

surat Al-an’am ayat 99

çµ÷ΨÏΒ $oΨô_t÷zr'sù &óx« Èeä. |N$t7tΡ ϵÎ/ $oΨô_t÷zr'sù [!$tΒ Ï!$yϑ¡¡9$# zÏΒ tΑtΡr& üÏ%©!$# θèδuρ

ôÏiΒ ;M¨Ψy_uρ ×πuŠÏΡ#yŠ ×β#uθ÷ΖÏ% $yγÏèù=sÛ ÏΒ È÷¨Ζ9$# zÏΒuρ $Y6Å2#uŽtIΒ ${6ym çµ÷ΨÏΒ ßl̍øƒ

Υ #ZŽÅØyz

ÿϵÏè÷Ζtƒuρ tyϑøOr& !#sŒÎ) ÿÍν̍yϑrO 4n<Î) (#ÿρãÝàΡ$# 3 >µÎ7t±tFãΒ uŽöxîuρ $YγÎ6oKô±ãΒ tβ$¨Β9$#uρ tβθçG÷ƒ¨9$#uρ 5>$oΨôãr&

∩∪ tβθãΖÏΒ÷σム5Θöθs)Ïj9 ;MtƒUψ öΝä3Ï9≡sŒ Îû ¨βÎ) 4

” Dan dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan Maka kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau. kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang kurma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah dan (perhatikan pulalah) kematangannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman.”

Ayat diatas menjelaskan

bagaimana buah diciptakan dan berkembang pada fase

yang berbeda-beda sehingga sampai pada fase kematangan secara sempurna, dan

berbagai unsur yang beraneka ragam didalamnya yang salah satunya dapat kita

manfaatkan sebagai obat tradisional dan senyawa antibakteri, dalam Q.S Asyu’ara

ayat 7 Allah berfirman:

∩∠∪ AΟƒÍx. 8l÷ρyÈeä. ÏΒ $pκŽÏù $oΨ÷Gu;/Ρr& ö/x. ÇÚöF{$# n<Î) (#÷ρttƒ öΝs9uρr&

“Dan apakah mereka tidak memperhatikan bumi, berapakah banyaknya kami tumbuhkan di bumi itu pelbagai macam tumbuh-tumbuhan yang baik?

Shihab (2002) menjelaskan bahwa Allah menembuhkan dari berbagai

macam tumbuhan yang baik, yaitu subur dan bermanfaat seperti halnya daun

belimbing wuluh yang dapat digunakan sebagai peneurun panas, serta antibakteri

karena

memliki

kandungan

senyawa

tanin.

Ayat

diatas

juga

menjelaskan

bahwasanya Allah menciptakan berbagai jenis tumbuhan dibumi ini, dan semua

itu tiada yang sia-sia, oleh sebab itu manusia yang telah dibekali akal oleh Allah

mempunyai kewajiban untuk memikirkan, mengkaji serta meneliti apa-apa yang

telah Allah berikan untuk kita. Banyak hasil penelitian yang menyebutkan potensi

suatu tanaman dalam mengobati penyakit tertentu ataupun sebagai antibakteri dan

salah satu bahan alam yang dapat digunakan untuk pengobatan tradisional adalah

belimbing wuluh (Averhoa bilimbi L).

Belimbing

wuluh

(Averrhoa

bilimbi

L)

merupakan

salah

satu

jenis

tanaman yang sering digunakan sebagai obat tradisional. Tanaman ini banyak

dimanfaatkan

mengatasi

berbagai

penyakit

seperti

batuk,

diabetes,

rematik,

gondongan, sariawan, sakit gigi, gusi berdarah, jerawat, diare sampai tekanan

darah tinggi

(Wijayakusuma,

2006) bagian tanaman yang sering digunakan

sebagai obat adalah buah dan daunnya.

Kandungan senyawa aktif dalam daun belimbing wuluh adalah tanin,

sulfur, asam format, dan flavonoid (Wijayakusuma, 2006). Senyawa metabolit

sekunder pada tumbuhan misalkan flavonoid, tanin dan saponin berdasarkan

beberapa hasil penelitian diduga mempunyai kemampuan untuk menghambat

pertumbuhan bakteri, di dalam daun belimbing wuluh mengandung senyawa

metabolit sekunder yaitu flavonoid dan tanin sehingga dapat diduga senyawa aktif

tersebut dapat digunakan sebagai antibakteri. Penggunaan daun belimbing wuluh

sebagai

antibakteri

misalnya

sebagai

pengawet

alami

sangat

efisien

karena

jumlahnya melimpah, tanaman ini juga sangat mudah didapatkan .

Tanin dapat digunakan sebagai antibakteri karena mempunyai gugus fenol,

sehingga tanin mempunyai sifat-sifat seperti alkohol yaitu bersifat antiseptik yang

dapat digunakan sebagai komponen antimikroba. Abiyasa (2008) menyebutkan

kemampuan senyawa tanin yang terkandung dalam rebusan daun jambu biji dapat

menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli (E. coli) dan Staphylococcus

aureus (S. aureus). Konsentrasi ekstrak 2% pada daun jambu biji 2% dapat

menghambat pertumbuhan S. aureus, sedangkan pada konsentrasi ekstrak 10%

dapat

menghambat

pertumbuhan

E.

coli

dan

hasil

penelitian

Min

(2008)

menunjukkan

bahwa

ekstrak

tanin

pada

tanaman

Sericea

lespedeza

dapat

menghambat bakteri S. aureus dan E. coli pada konsentrasi minimum 50 mg/ml.

Tanin

merupakan

senyawa

protein berlebih dalam tubuh. Pada

yang

dapat

mengikat

dan

mengendapkan

bidang pengobatan tanin digunakan sebagai

obat diare, hemostatik (menghentikan pendarahan), dan wasir (Naim, 2004).

Siswantoro (2006) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa tanin yang terdapat

dalam

tanaman

dapat

digunakan

untuk

membunuh

bakteri

baik

pada

Streptococcus pyogenes maupun Pasteurella multocida secara in vitro. Tanin

merupakan zat kimia yang terdapat dalam tanaman yang memiliki kemampuan

menghambat sintesis dinding sel bakteri dan sintesis protein sel kuman gram

positif maupun gram negatif.

Efektivitas antibakteri senyawa

tanin yang terdapat dalam

tumbuhan

misalnya daun jambu biji salah satunya dipengaruhi oleh konsentrasi tanin.

Semakin tinggi kadar tanin aktivitas antibakteri akan meningkat. Berdasarkan

hasil

penelitiaan

Zulaekah

(2005)

menunjukkan

bahwa

semakin

tinggi

konsentrasi tanin pada ekstrak daun teh yang digunakan pada pembuatan telur

asinan menghasilkan telur asin rebus dengan jumlah total bakteri paling sedikit.

Hasil penelitian Faharani (2008) menunjukkan bahwa ekstrak air daun

belimbing wuluh memliki aktivitas sebagai antibakteri terhadap S. aereus pada

konsenrasi 40%, sedangkan pada E. coli hasil ekstrak tidak menunjukkan aktivitas

penghambat pada konsentrasi 40% dan senyawa aktif yang diduga memiliki

aktivitas antibakteri adalah flavonoid, tanin dan saponin, dan belum ada penelitian

tentang apakah senyawa tanin pada daun belimbing wuluh

dapat digunakan

sebagai antibakteri. Daun belimbing wuluh yang digunakan dalam penelitian ini

adalah daun yang masih muda karena dimungkinkan senyawa tanin banyak

terdapat dalam daun muda. Menurut Harborne (1987) daun muda lebih rentang

dari hama daripada daun tua karena kandungan senyawa tanin pada daun muda

lebih banyak dari pada daun tua, hal ini dikarenakan pada daun tua sebagian telah

mengalami oksidasi sehingga dalam penelitian ini digunakan daun belimbing

wuluh yang masih muda.

Pada penelitian ini akan ditekankan untuk mengetahui potensi senyawa

tanin yang terdapat dalam daun belimbing wuluh yang diduga mempunyai

kemampuan

sebagai

antibakteri.

Pemisahan

senyawa

tanin

salah

satunya

dipengaruhi oleh pelarut, sehingga dalam penelitiaan ini digunakan variasi pelarut

dan pelarut yang digunakan adalah pelarut yang bersifat polar kerena tanin

merupkan senyawa polar. Pemilihan metode aktivitas tanin yang diekstrak dengan

pelarut yang berbeda adalah untuk mengetahui pelarut yang dapat mengekstrak

tanin

dengan

kadar tertinggi

yang

terhadap S. aureus dan E. coli.

selanjutnya

diuji aktivitas antibakterinya

1.1

Rumusan Masalah

 

1.

Pelarut apa yang terbaik untuk memperoleh ekstrak dengan kadar tanin

tertinggi pada daun belimbing wuluh ?

 

2.

Berapa

nilai

konsentrasi

penghambatan optimum senyawa

tanin sebagai

senyawa antibakteri dengan pelarut terbaik ?

 

1.2

Tujuan

1.

Mengetahui pelarut terbaik untuk memperoleh ekstrak tanin dengan kadar

tertinggi pada daun belimbing wuluh.

 

2.

Mengetahui nilai konsentrasi optimum penghambatannya sebagai senyawa

antibakteri dengan pelarut terpilih.

 

1.4

Batasan Masalah

 

1.

Daun belimbing wuluh yang digunakan dalam penelitiaan ini adalah

daun

yang masih muda yang diperoleh dari daerah paiton probolinggo

2.

Uji antibakteri dilakukan secara in vitro terhadap bakteri S. aureus dan E. coli

yang diperoleh dari laboratorium Mikrobiologi UIN Maulana Malik Ibrahim

Malang.

3. Penentuan kadar tanin dengan menggunakan metode Lowenthal-Procter.

1.5 Manfaat Penelitiaan

Penelitian

ini

masyarakat

yang

diharapkan

dapat

memberikan

informasi

ilmiah

kepada

petama

adalah

memberikan

informasi

tentang

pemisahan

senyawa tanin dengan ekstraksi maserasi dan pelarut yang digunakan untuk

menghasilkan ekstrak tanin dengan kadar tertinggi. Manfaat yang kedua adalah

mengenai

pemanfaatan

senyawa

tanin

pada

daun

belimbing

wuluh

sebagai

antibakteri sehingga dapat digunakan sebagai alternatif untuk pengobatan dan

pengawet alami.

BAB II

TINJAUN PUSTAKA

2.1 Tanaman Belimbing Wuluh dalam Perspektif Islam

Banyak jenis tumbuhan yang mampu tumbuh di bumi dengan adanya air

hujan, yang tergolong dalam tumbuhan tingkat rendah yaitu tumbuhan yang tidak

jelas bagian akar, batang dan daunnya. Golongan selanjutnya lebih mengalami

perkembangan

adalah

tumbuhan

tingkat

tinggi

yaitu

tumbuhan

yang

bisa

dibedakan secara jelas bagian daun, batang dan akarnya (Savitri, 2008). Hal ini

telah dijelaskan dalam firman Allah dalam QS Thaha : 53

[!$tΒ Ï!$yϑ¡¡9$# zÏΒ tΑtΡr&uρ Wξç7ß™ $pκŽÏù öΝä3s9 y7n=yuρ #YôγtΒ uÚöF{$# ãΝä3s9 Ÿyèy_ Ï%©!$#

∩∈⊂∪ 4®Lx© ;N$t7Ρ ÏiΒ %[`uρør& ÿϵÎ/ $oΨô_t÷zr'sù

“Yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan dan yang Telah menjadikan bagimu di bumi itu jalan-ja]an, dan menurunkan dari langit air hujan. Maka kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh- tumbuhan yang bermacam-macam.

Tanaman belimbing wuluh merupakan tumbuhan yang dengan nyata

memperlihatkan differensiasi dalam tiga bagian pokok yaitu: akar, batang dan

daun. Bagian tanaman ini yang dapat dimanfaatkan sebagai obat adalah bagian

daun, buah, akar dan batangnya, tercantum dalam QS. As-Syuara : 7

∩∠∪ AΟƒÍx. 8l÷ρyÈeä. ÏΒ $pκŽÏù $oΨ÷Gu;/Ρr& ö/x. ÇÚöF{$# n<Î) (#÷ρttƒ Νs9uρr&

Dan apakah mereka tidak memperhatikan bumi, berapakah banyaknya kami tumbuhkan di bumi itu pelbagai macam tumbuh-tumbuhan yang baik?

8

Tumbuhan yang baik dalam hal ini adalah tumbuhan yang bermanfaat bagi

makhluk hidup, termasuk tumbuhan yang dapat digunakan sebagai pengobatan.

Tumbuhan

yang

bermacam-macam

jenisnya

berbagai

penyakit,

dan hal

ini

merupakan

dapat

digunakan

sebagai

obat

anugerah

Allah

swt

yang harus

dipelajari dan harus dimanfaatkan seperti disebutkan dalam dalam QS. Al-

Qashash : 57

$YΖÏΒ#u$—Βtym óΟßγ©9 Åj3yϑçΡ öΝs9uρr& 4 !$uΖÅÊör& ôÏΒ ô#©ÜytGçΡ y7yètΒ 3yçλù;$# ÆìÎ6®KΡ βÎ) (#þθä9$s%uρ

∩∈∠∪ šχθßϑn=ôètƒ Ÿω öΝèδuŽsYò2r& £Å3≈s9uρ $Ρà$©! ÏiΒ $]%øÍh&óx« Èeä. ßNtyϑrO ϵøs9Î) #t<øgä

“Dan mereka berkata: "Jika kami mengikuti petunjuk bersama kamu, niscaya kami akan diusir dari negeri kami". dan apakah kami tidak meneguhkan kedudukan mereka dalam daerah Haram (tanah suci) yang aman, yang didatangkan ke tempat itu buah-buahan dari segala macam (tumbuh- tumbuhan) untuk menjadi rizki (bagimu) dari sisi Kami?. tetapi kebanyakan mereka tidak Mengetahui.

Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita mencari dan mempelajari berbagai

tumbuhan yang menjadi rizki yaitu dapat memberikan manfaat bagi kehidupan

manusia. Tumbuhan menjadi rizki bagi makhluk hidup karena merupakan bahan

pangan dan bahan obat-obatan (Savitri, 2008).

Dunia tumbuh-tumbuhan ciptaan Tuhan tidak hanya penuh dengan buah-

buahan dan hasil panenan lainnya, tetapi juga menjaga keseimbangan dan pola

yang tetap. Terdapat aneka ragam buah-buahan, bunga-bungaan, dan hasil panen,

akan tetapi tetap berada di dalam susunan aturan yang ketat dari Allah (Rahman,

2000).

Tumbuhan mengandung banyak vitamin dan mineral serta unsur-unsur

alami lainnya yang memungkinkan bagi tubuh untuk menyerapnya. Tumbuhan

juga

mengandung

sejumlah

unsur

non-mineral

atau

semi-mineral,

misalnya

oksigen,

sulfat

(garam

asam

belerang),

yodium,

nitrogen,

arsenic

(racun

pembunuh serangga), fosfor, selenium, karbon, di samping sejumlah bahan

mineral

penting lain

(Rahman, 2000).

seperti

kalsium,

sodium,

magnesium,

besi

dan

cobalt

Daun belimbing wuluh mengandung senyawa tanin, saponin dan flavonoid

yang dapat digunakan sebagai antibakteri, penurun panas dan obat batuk. Al-

Qur’an banyak menyebutkan tentang tumbuh-tumbuhan untuk dimanfaatkan oleh

manusia. Sebagaimana Firman Allah dalam Q.S. Al-An'am ayat 141:

$¸ Î=tFøƒèΧ tíö¨9$#uρ Ÿ÷¨Ζ9$#uρ ;Mx©ρâ÷÷êtΒ uŽöxîuρ ;Mx©ρá÷è¨Β ;M¨Ψy_ r't±Σr& üÏ%©!$# uθèδuρ

tyϑøOr& !#sŒÎ) ÿÍν̍yϑrO ÏΒ (#θè=à2 4 7µÎ7t±tFãΒ uŽöxîuρ $\κÈ:t±tFãΒ šχ$¨Β9$#uρ šχθçG÷ƒ¨9$#uρ …ã&é#à2é&

∩⊇⊆⊇∪ šÏùΎô£ßϑø9$# =ÏtäŸω …çµΡÎ) 4 (#þθèùΎô£è@ Ÿωuρ ( ÍνÏŠ$|Áym uΘöθtƒ …絤)ym (#θè?#uuρ

"Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon kurma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa dan tidak sama. Makanlah dari buahnya bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya; dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih- lebihan" (Q.S. Al-An’am:141).

2.2 Sejarah Penggunaan Tumbuhan Sebagai Obat

Pengobatan dari Nabi SAW memang berbeda dengan ilmu medis para

dokter pada umumnya. Pengobatan Nabi bersifat pasti dan absolut serta bernilai

kedokteran Ilahi, berasal dari wahyu dari lentera kenabian serta kesempurnaan

intelegensi. Rasulullah SAW pernah menyebutkan bahwa tumbuhan herbal baik

untuk digunakan sebagai obat . Tumbuhan herbal merupakan tumbuhan obat yang

memang sangat berguna untuk membuang lemak dan racun-racun dalam tubuh

manusia. Produk tumbuhan herbal banyak digunakan oleh kedokteran untuk

mengurangi lemak berlebih penyebab obesitas dan menyembuhkan berbagai

penyakit (Barazing, 2007).

Beberapa tumbuhan herba yang sering digunakan oleh Rasulullah SAW

untuk menyembuhkan beberapa penyakit antara lain madu, jintan hitam, air

mawar, cuka buah, kurma, delima, bawang putih dan berbagai jenis makanan

lainnya.

a) ’Ajwa (Kurma Ajwa)

Kurma adalah buah, makanan, obat, minuman sekaligus gula-gula. Kurma

dapat menguatkan lever, melunakkan buang air besar, menyembuhkan radang

tenggorokan, dan menambah stamina bila dicampur dengan kayu cemara, dalam

Shahih Al-Bukhari dan Muslim diriwayatkan hadist Saad bin Abi Waqqash, dari

Nabi SAW bersabda :

. و م ا ذ تا

Barang siapa mengkonsumsi tujuh butir kurma ajwa pada pagi hari, maka pada hari itu ia tidak akan terkena racun ataupun sihir.”

Sunan An-Nasa’i dan Ibnu Majah dari hadist Jabir dan Abu Said, bahwa

Nabi SAW bersabda :

. ء هؤ و , ا ة او . ا ء هو , ة ا

Kurma ajwa itu berasal dari surga. Ia adalah obat dari racun, seperti jamur truffle, airnya adalah obat penyakit mata.”

Hadist di atas menjelaskan bahwa kurma ajwa al-madinah dikenal sebagai

kurma hijaz terbaik secara mutlak. Bentuknya amat baik, padat, agak keras dan

kuat, namun termasuk kurma yang paling lezat, paling harum dan paling empuk.

Kurma ajwa berkasiat untuk menolak racun dan sihir (Al-Jauziyah, I.Q., 2007).

b) Habbatus Sauda’ (Jinten Hitam)

Diriwayatkan

dalam

Shahih

Al-Bukhari

dan

Muslim

dari

hadist

Abu

Salamah, dari Abu Hurairah, bahwa Rasullulah SAW bersabda :

ا إ ,ءاد آ ء ن ,ءاد ا ا

“hendaknya kalian mengkonsumsi jinten hitam. Karena jinten hitam mengandung obat untuk segala penyakit, kecuali as-saam.”

Arti sabda Nabi SAW ‘obat dari segala jenis penyakit’, seperti firman

Allah, “menghacurkan segala sesuatu dengan perintah Rabb-nya” yaitui segala

sesuatu yang bisa hancur. Jinten hitam memang berkasiat mengobati segala

penyakit panas. Syuwainiz berkasiat menghilangkan gas, mengatasi kebotakan,

mengobati kusta, demam yang disertai batuk berdahak, mengeringkan lambung

yang basah dan lembab, menghancurkan batu ginjal, memperlancar air seni, haid

dan ASI bila diminum tiap hari, mengeluarkan cacing, dan membunuh bakteri dan

lain-lain (Al-Jauziyah, I.Q., 2007).

c) Rumman (Delima)

∩∉∇∪ ×β$¨Βâuρ ×øƒwΥuρ ×πyγÅ3≈sù $uΚÍκŽÏù

“Di

dalam

keduanya

ada

(macam-macam)

buah-buahan

dan

kurma

serta

delima.”

 
 

Delima

yang

manis

amat

baik

untuk

lambung,

mengobati

sakit

tenggorokan, batuk, dada dan paru-paru. Biji delima yang dicampur madu, amat

berguna mengobati penyakit agnail dan koreng atau eksim basah, bahkan bisa

menyembuhkan

luka

yang

berdarah.

Sebagian

kalangan

medis

menyatakan,

“barang siapa mengkonsumsi tiga putik delima setiap tahun, ia akan selamat dari

penyakit mata dalam satu tahun penuh.” (Al-Jauziyah, I.Q., 2007).

Banyak dari contoh-contoh

tumbuhan yang sejak zaman nabi

sudah

dipakai untuk mengobati beberapa penyakit. Surat Al-Rad ayat 4, yang berbunyi:

çŽöxîuρ ×β#uθ÷ΖϹ ×≅ŠÏƒwΥuρ ×íöyρ 5=uΖôãr& ôÏiΒ ×M¨Ζy_uρ ÔNuÈθ≈yftGΒ ÓìsÜÏ% ÇÚöF{$# Îûuρ

šÏ9≡sŒ Îû ¨βÎ) 4 Èà2W{$# Îû <Ù÷èt/ 4n?tã $pκ|Õ÷èt/ ãÅeÒx çΡuρ 7Ïnuρ &!$yϑÎ/ 4s+ó¡ç5β#uθ÷ΖϹ

∩⊆∪ šχθè=É)÷ètƒ 5Θöθs)Ïj9 ;MtƒUψ

“Dan di bumi Ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon korma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. kami melebihkan sebahagian tanam- tanaman itu atas sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir” (Qs. Ar-Rad :4)

Berdasarkan ayat di atas Allah SWT mencontohkan tanaman anggur dan

kurma

meskipun

berada

di

tempat

dan

diberi

air yang sama,

Allah

SWT

melebihkan dengan rasanya. Kedua tanaman tersebut dilebihkan rasanya dan

sekaligus kandungan senyawa aktifnya, misalnya pohon kurma mengandung

senyawa aktif 60% pengganti gula, protein, pektin, tanin, tajin dan lemak.

Manfaat kurma sebagai penawar racun, menyuburkan kandungan dan lain-lain,

sedangkan

anggur

manfaatnya

adalah

memudahkan

buang

air

besar,

menggemukkan badan dan bergizi (Farooqi, M.I.H., 2005).

2.3 Tanaman Belimbing Wuluh dalam Perspektif Ilmu Pengetahuan

Belimbing wuluh pohonnya tergolong kecil, tinggi mencapai 10 m dengan

batang tidak begitu besar, kasar berbenjol-benjol, dan mempunyai garis tengah

hanya sekitar 30 cm. Percabangan sedikit, arahnya condong ke atas, cabang muda

berambut halus seperti beludru berwarna coklat muda. Bentuk daun menyirip

ganjil dengan 21-45 pasang anak daun. Bunga berukuran kecil dan berbentuk

menyerupai bintang, warnanya ungu kemerahan. (Wijayakusuma, 2006).

bintang, warnanya ungu kemerahan. (Wijayakusuma, 2006). Gambar 2.1 Daun Belimbing Wuluh (Dok Pribadi, 2009 Belimbing

Gambar 2.1 Daun Belimbing Wuluh (Dok Pribadi, 2009

Belimbing wuluh dapat tumbuh baik di tempat-tempat terbuka yang

mempunyai ketinggian kurang dari 500 meter di atas permukaan laut. Tanaman

ini tumbuh baik di daerah tropis dan di Indonesia banyak dipelihara di pekarangan

atau kadang tumbuh liar di ladang atau tepi hutan. Tumbuhan belimbing wuluh

menghasilkan buah berwarna hijau dan kuning muda atau sering juga disebut

berwarna putih (Thomas, 1992).

Belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L) atau sering disebut belimbing asam

merupakan salah satu tanaman yang tumbuh subur di seluruh daerah di Indonesia

khususnya di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Tanaman ini termasuk salah

satu

jenis

tanaman

tropis

yang

sepanjang tahun (Amnur, 2008).

mempunyai

kelebihan

yaitu

dapat

berbuah

Klasifikasi ilmiah tanaman belimbing wuluh adalah (Dasuki, 1991)

Kingdom

: Plantae (tumbuhan)

Subkingdom

: Tracheobionta

(berpembuluh)

Superdivisio

: Spermatophyta

(menghasilkan biji)

Divisio

: Magnoliophyta

(berbunga)

Kelas

: Magnoliopsida

(berkeping dua / dikotil)

Sub-kelas

: Rosidae

Ordo

: Geraniales

Familia

: Oxalidaceae

(suku belimbing-belimbingan)

Genus

: Averrhoa

Spesies

: Averrhoa bilimbi L

2.3.1 Kandungan Kimia Daun Belimbing Wuluh

batang belimbing wuluh mengandung senyawa saponin, tanin, glukosida,

kalsium oksalat, sulfur, asam format. Daun belimbing wuluh mengandung tanin,

sulfur, asam format, dan kalium sitrat Wijayakusuma (2006). Daun belimbing

mengandung tanin sedangkan batangnya mengandung alkaloid dan polifenol

(Anonimouse, 2008).

Penelitian Fahrani (2009) menunjukkan bahwa ekstrak daun belimbing

wuluh mengandung flavonoid, saponin dan tanin. Dalimartha (2000) menjelaskan

bahwa di dalam daun belimbing wuluh selain tanin juga mengandung sulfur, asam

format , kalsium oksalat dan kalium sitrat. Bahan aktif pada daun belimbing

wuluh

yang dapat dimanfaatkan sebagai

obat adalah tanin.

Tanin ini juga

digunakan sebagai astringent baik untuk saluran pencernaan maupun kulit dan

juga dapat digunakan sebagai obat diare (Pansera, 2004). Daun belimbing wuluh

juga

mengandung

senyawa

peroksida

yang

dapat

berpengaruh

terhadap

antipiretik, peroksida merupakan senyawa pengoksidasi dan kerjanya tergantung

pada kemampuan pelepasan oksigen aktif dan reaksi ini mampu membunuh

banyak mikroorganisme (Soekardjo, 1995).

2.3.2 Manfaat Belimbing Wuluh

Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L.) banyak ditanam sebagai pohon

buah. Rasa buahnya asam digunakan sebagai sirup dan bahan penyedap masakan.

Selain itu juga berguna untuk membersihkan noda pada kain, mengilapkan

barang-barang

yang

terbuat

dari

(Wijayakusuma, 2006).

kuningan

dan

sebagai

obat

tradisional

Daun belimbing wuluh berkhasiat untuk mengurangi rasa sakit atau nyeri

dan pembunuh kuman serta dapat menurunkan kadar gula darah, bunganya juga

dapat digunakan sebagai obat batuk dan perasan air buah sangat baik untuk

asupan vitamin C dan di samping itu perasan buah juga dapat dipakai untuk

keramas sebagai penghilang antiketombe, atau digosokkan sebagai penghilang

panu (Arland, 2006). Rasa asam dan sejuk pada buah belimbing wuluh dapat

menghilangkan sakit, memperbanyak pengeluaran empedu, antiradang, peluruh

kencing (Wijayakusuma, 2006)

2.4 Senyawa Metabolit Primer dan Sekunder

Kimia bahan alam merupakan hasil perkembangan ilmu kimia organik

yang mempelajari senyawa-senyawa kimia yang tergolong metabolit sekunder.

Senyawa-senyawa tersebut banyak ditemukan pada sumber alam, baik berupa

tumbuhan, hewan yang masih hidup maupun yang sudah mati. Senyawa-senyawa

bahan alam ini digolongkan berdasarkan empat kriteria yang berbeda yaitu:

struktur kimia, keaktifan fisiologis, taksonomi dan biogenesis (Harborne, 1987).

Senyawa

metabolit

adalah

senyawa

yang

digolongkan

berdasarkan

biogenesisnya, artinya berdasarkan sumber bahan baku dan jalur biosintesisnya.

Terdapat 2 jenis metabolit yaitu metabolit primer dan sekunder. Metabolit primer

(polisakarida, protein, lemak dan asam nukleat) merupakan penyusun utama

makhluk hidup, sedangkan metabolit sekunder meski tidak sangat penting bagi

eksistensi suatu makhluk hidup tetapi sering berperan menghadapi spesies-spesies

lain, misalnya zat kimia untuk pertahanan, penarik seks, feromon. Contoh dari

senyawa

metabolit

(Rustaman, 2000).

sekunder

adalah

alkaloid,

saponin,

triterpen

dan

tanin

2.5 Senyawa Tanin

Tanin terdapat luas dalam tumbuhan berpembuluh, tanin dapat bereaksi

dengan protein membentuk polimer yang tidak larut dalam air. Tanin merupakan

senyawa metabolit sekunder yang berasal dari tumbuhan yang terpisah dari

protein dan enzim sitoplasma. Senyawa tanin tidak larut dalam pelarut non polar,

seperti eter, kloroform dan benzena tetapi mudah larut dalam air, dioksan, aseton,

dan alkohol serta sedikit larut dalam etil asetat (Harborne, 1987).

O OH OH
O
OH
OH

Gambar 2.2 Struktur inti tanin (Harborne, 1987)

Tanin adalah suatu nama deskriptif umum untuk satu kelompok subtansi

fenolik polimer yang mampu menyamak kulit atau mempresipitasi gelatin dari

cairan, suatu sifat yang dikenal dengan astringent. Tanin terbentuk dari senyawa

fenol yang berikatan atau bergabung dengan senyawa fenol-fenol yang lain

sehingga membentuk polifenol dan pada akhirnya membentuk senyawa tanin

(Pansera, 2004). Monomer tanin adalah digallic acid dan D-glukosa, ekstrak tanin

terdiri dari campuran senyawa polifenol yang sangat komplek dan biasanya

bergabung dengan karbohidrat, dengan adanya gugus fenol maka tanin akan dapat

berkondensasi dengan formaldehid (Linggawati, 2002).

Tanin merupakan himpunan polihidroksi fenol yang dapat dibedakan dari

fenol-fenol

lain karena kemampuannya

untuk mengendapkan protein.

Tanin

mempunyai aktivitas antioksidan, menghambat pertumbuhan tumor. Tumbuhan

yang mengandung tanin banyak jenisnya diantaranya adalah daun teh, daun jambu

biji,

dan daun belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.). Bahan aktif pada daun

belimbing wuluh yang dapat digunakan sebagai anti diare dan antipiretik salah

satunya adalah tanin. Tanin pada saat ini sudah banyak diisolasi dari tanaman dan

dapat dijumpai di pasaran berupa bubuk atau serbuk putih kekuningan, amorf,

beraroma khas. Tanin atau asam tannat biasanya mengandung H 2 O 10 % (Pansera

dkk, 2004). Senyawa tanin yang menimbulkan rasa sepat pada jambu biji dapat

dimanfaatkan untuk memperlancar saluran pencernaan dan sirkulasi darah serta

dapat menyerang virus (Savitri, 2008).

Tanin merupakan salah satu tipe dari senyawa metabolit sekunder yang

mempunyai karakteristik sebagai berikut (Giner, 2001):

1. Merupakan senyawa oligomer dengan satuan struktur yang bermacam-

macam dengan gugus fenol bebas

2. Berat molekul antara 100 sampai 20.000

3. Larut dalam air

4. Mampu berikatan dengan protein dan terbentuk kompleks tanin-protein

Tanin merupakan astringent yang mengikat dan mengendapkan protein

berlebih dalam tubuh. Senyawa tanin dalam bidang pengobatan digunakan untuk

mengobati diare, hemostatik (menghentikan pendarahan), dan wasir. Kemampuan

sarang semut secara empiris untuk pengobatan, misalnya untuk pengobatan

ambeien (wasir) dan mimisan diduga kuat berkaitan dengan kandungan senyawa

tanin yang terdapat dalam sarang semut (Subroto, 2008).

Tanin tumbuhan dibagi menjadi dua golongan yaitu tanin terkondensasi

(tanin

katekin)

dan

tanin

terhidrolisiskan

(tanin

galat).

Tanin

terhidrolisis

mengandung ikatan ester yang dapat terhidrolisis jika di didihkan dalam asam

klorida encer. Bagian alkohol dari ester ini biasanya berupa gula yaitu glukosa.

Tanin terhidrolisis biasanya berupa senyawa amorf, higroskopis, berwarna coklat

kuning yang larut dalam air membentuk larutan koloid, tanin mudah diperoleh

dalam bentuk kristal. Tanin terhidrolisis juga larut dalam pelarut organik yang

polar tetapi tidak larut dalam pelarut organik non polar misalnya kloroform dan

benzena (Robinson,1995).

Tanin terhidrolisis merupakan molekul dengan poliol (umumnya dalam

glukosa)

sebagai

pusatnya.

Gugus

hidroksi

pada

karbohidrat

sebagian

atau

semuanya teresterifikasi dengan gugus karboksil pada asam gallat (gallotanin)

atau asam gallat (ellagitanin), tanin terhidrolisis sedikit dalam tanaman (Giner-

Chivez, 2001).

Tanin

terkondensasi

banyak

terdapat

dalam

paku-pakuan

dan

angiospermae terutama pada jenis tumbuhan berkayu. Tanin terkondensasi atau

flavolan secara biosintesis terbentuk dengan cara kondensasi katekin tunggal

(galokatekin) yang membentuk senyawa dimer dan kemudiaan oligomer yang

lebih tinggi. Nama lain untuk tanin terkondensasi adalah protoantosianidin karena

bila direaksikan dengan asam panas beberapa ikatan karbon-karbon penghubung

satuan terputus dan dibebaskanlah monomer antosianidin (Harborne, 1984). Tanin

terkondensasi sangat reaktif terhadap formaldehid dan mampu membentuk produk

kondensasi yang berguna untuk bahan perekat termosetting yang tahan air dan

panas (Linggawati, 2002).

2.6 Pemisahan Senyawa Tanin

2.6.1 Ekstraksi Senyawa Tanin

Ekstraksi

adalah

proses

penarikan

komponen

atau

zat

aktif

dengan

menggunakan pelarut tertentu. Pemilihan metode ekstraksi senyawa dipengaruhi

oleh beberapa faktor, yaitu sifat jaringan tanaman, sifat kandungan, zat aktif serta

kelarutan dalam pelarut yang digunakan. Prinsip ekstraksi adalah melarutkan

senyawa polar dalam pelarut polar dan senyawa non polar dalam pelarut non polar

(Guenter, 1997).

Pemilihan metode ekstraksi bergantung pada tekstur dan kandungan air

bahan tumbuhan yang diekstraksi dan pada jenis senyawa yang akan diisolasi.

Prosedur untuk memperoleh kandungan senyawa organik dari jaringan tumbuhan

kering (buah, biji dan daun) ialah dengan ekstraksi sinambung serbuk bahan

dengan menggunakan alat soxhlet dengan pelarut tertentu (Harborne, 1984).

Tanin merupakan senyawa polar dengan gugus hidroksi, sehingga untuk

mengekstraksinya

diperlukan

senyawa-senyawa

polar seperti

aseton.

Senyawa non polar yang tidak dapat melarutkannya

air,

etanol

dan

adalah karbon

tetraklorida dan dietil eter sehingga dapat digunakan untuk melarutkan pengotor

dan diperoleh tanin yang lebih murni. Pengekstraksi tanin yang baik adalah

campuran air dengan pelarut organik misalnya metanol , etanol dan aseton berair

(7:3) yang mengandung asam askorbat 0,1%. Penambahan asam askorbat dalam

pelarut aseton adalah untuk meminimumkan oksidasi tanin selama ekstraksi. Hal

ini disebabkan oksidator akan bereaksi terlebih dahulu dengan asam askorbat yang

lebih mudah teroksidasi (Abdurrohman, 1998).

Deny (2007) dalam penelitianya menjelaskan bahwa tanin dapat diekstrak

dari bagian-bagian tumbuhan tertentu dengan menggunakan pelarut. Pelarut yang

umum adalah aseton, etanol, maupun metanol dan secara komersial tanin dapat

diekstraksi dengan menggunakan pelarut air tetapi yang paling efektif untuk

mengekstrak tanin dari kulit kayu dapat digunakan larutan air dengan etanol atau

aseton dengan perbandingan 1:1.

Cara tradisional untuk isolasi senyawa tanin tumbuhan adalah dengan

menggunakan cara ekstraksi dengan air panas, penggaraman dengan natrium

klorida, pengekstrasian kembali endapan dengan aseton, dan penghilangan lipid

dari bahan yang larut dalam aseton dengan eter. Tanin dengan natrium klorida

sedikit demi sedikit dapat terjadi pengendapan. Timbel atau seng asetat (10%)

sering digunakan untuk mengendapkan tanin yang dapat dihilangkan dari endapan

dengan cara penguraian memakai pereaksi hidrogen sulfida. Gelatin membentuk

endapan juga dengan larutan tanin. Pengendapan dengan cara menambahkan

larutan kalium asetat dalam alkohol kedalam larutan tanin dalam alkohol sering

mempunyai nilai preparatif pada isolasi tanin (Robinson, 1995).

Hagerman (1998) mengekstraksi tanin dari daun sorghum dengan metanol

yang mengandung 10 mM asam askorbat, penambahan asam askorbat berfungsi

sebagai antioksidan setiap ekstraksinya. Kemudiaan diekstrak dengan etil asetat

dan lapisan air (bawah) yang digunakan. Subiyakto dan Bambang (2003) untuk

memperoleh ekstrak tanin dari kayu akasia, sampel diekstraksi dengan air panas

(100ºC) selama 1 jam dengan perbandingan bahan dan pelarut 1 : 20. Larutan

ekstrak diuapkan dengan menggunakan oven pada suhu 60ºC sehingga didapatkan

ekstrak tanin. Di samping ekstraksi dengan air panas, dilakukan ekstraksi tanin

dengan larutan NaOH 0,3% dengan prosedur yang sama.

2.6.1.1 Ekstraksi Tanin dengan Metode Maserasi

Maserasi merupakan metode ekstraksi dingin yaitu proses pengekstrakan

simplisia dengan beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada temperatur

ruangan, sehingga zat-zat yang terkandung di dalam simplisia relatif lebih aman

jika dibandingkan dengan penggunaan ekstraksi panas (Cristina, 2008).

Maserasi merupakan cara ekstraksi yang sederhana. Maserasi dilakukan

dengan cara merendam serbuk simplisia dalam pelarut. Pelarut akan menembus

dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif sehingga

zat aktif akan larut, karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan zat aktif

di dalam sel, maka larutan yang terpekat didesak keluar. Pelarut yang digunakan

dapat berupa air, etanol, air-etanol, atau pelarut lain. Keuntungan cara ekstraksi

ini, adalah cara pengerjaan dan peralatan yang digunakan sederhana dan mudah

diusahakan. Kerugian penggunaan metode ini adalah waktu pengerjaannya lama

(Ahmad, 2006).

Jaringan

tumbuhan

yang

mengandung

tanin

dapat

diekstrak

dengan

menggunakan metanol 50-80%. Ekstraksi dengan menggunakan metanol ini

hanya dapat mengekstrak tanin sebagian saja, karena bagian tanin yang lainnya

akan terikat pada polimer lain di dalam sel (Harborne, 1984).

Pemilihan

pelarut

untuk

ekstraksi

harus

mempertimbangkan

banyak

faktor. Pelarut harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: murah dan mudah

diperoleh, bereaksi netral, tidak mudah menguap dan tidak mudah terbakar,

selektif dan tidak mempengaruhi zat berkhasiat (Ahmad, 2006). Pada penelitian

ini digunakan beberapa pelarut berdasarkan tingkat kepolarannya, yaitu aquades,

metanol, etanol dan aseton. Tingkat polaritas ini secara fisika dapat ditunjukkan

dengan lebih pasti melalui pengukuran konstanta dielektrikum

suatu bahan

pelarut. Konstanta dielektrikum ini secara matematis ditunjukkan dalam rumus:

D =

e e '

f

r

2

(2.1)

dimana D adalah Konstanta Dielektrikum, f gaya tolak menolak dua partikel

bermuatan listrik e dan e’, sedang r adalah jarak antara partikel e dan e’. Semakin

besar

Konstanta

Dielektrikum

suatu

bahan

pelarut

disebut

semakin

polar

(Sudarmdji dkk, 2007). Tabel berikut ini menunjukkan titik didih dan angka

konstanta dielektrikum pelarut.

Tabel 2.1 Tetapan Dielektrikum Pelarut

Pelarut

Titik Didih o C

Tetapan Dielektrikum (D) 2

Berat Jenis (g/cm 3 )

Air

100

80,37

1,00

Metanol

64,6

33,62

0,81

Etanol

78,5

24,30

0,791

Aseton

56,5

20,7

0,792

Klorofom

61,2

4,81

1,489

Etil Asetat

77

6,02

0,9

Sumber: Sudarmadji, 2003.

2.6.2 Identifikasi Senyawa Tanin

2.6.2.1 Uji Fitokimia

Uji tanin yang paling dikenal adalah pengendapan gelatinnya. Larutan

tanin ditambahkan kedalam larutan gelatin 0,5% yang volumenya sama. Semua

tanin menimbulkan endapan sedikit atau banyak. Soebagio (2007) menguji tanin

dari Ekstrak umbi bawang merah dengan melarutkan sedikit aquades kemudian

dipanaskan di atas pemanas air lalu diteteskan dengan larutan gelatin 1% (1:1).

Hasil positifnya yaitu terbentuknya endapan putih.

Reaksi endapan lain untuk

menguji adanya senyawa tanin adalah dengan

amina atau ion logam. Seperti senyawa fenol lainnya dengan besi III klorida

menghasilkan warna violet sampai biru (Robinson, 1995).

Protoantosianidin dapat di deteksi langsung dalam jaringan tumbuhan

hijau dengan mencelupkan kedalam HCl 2M mendidih selama setengah jam. Bila

terbentuk warna merah yang dapat diekstraksi dengan amil atau butil alkohol

maka ini merupakan bukti adanya senyawa tersebut (Harborne,1987).

Tanin terhidrolisis dan terkondensasi menunjukkan reaksi yang berbeda

dalam

larutan

garam

Fe

III,

tanin

terkondensasi

meghasilkan

warna

hijau

kehitaman sedangkan tanin terhidrolisis menghasilkan warna biru kehitaman.

(Widowati, 2006).

2.6.2.2 Identifikasi dengan Kromatografi

KLT dapat digunakan untuk uji identifikasi senyawa baku. Parameter pada

KLT yang digunakan untuk identifikasi adalah nilai Rf. Dua senyawa dikatakan

identik jika mempunyai nilai Rf yang sama jika diukur pada kondisi yang sama

(Rohman, 2007). Olivia, (2005) mengidentifikasi senyawa tanin dari kulit batang

daun salam dilakukan dengan kromatografi kertas Whatman No.1 pengembang

yang digunakan adalah n-butanol-asam asetat-air (4:1:5). Pola kromatogram

menunjukkan 2 bercak berwarna merah muda dan jingga pada Rf 0,39 dan 0,53.

Isolasi larutan merah tua dilakukan pada kromatografi kertas Whatman No.3 dan

pengembang n-butanol-asam asetat-air (4:1:5). Isolat zat warna coklat dari kulit

batang salam mengandung prodelfinidin (tanin terkondensasi) dan antosianidin.

Yuliani (2003 ) dalam penelitiannya mengidentifikasi dan menganalisa

ekstrak tanin dari daun jambu biji secara visual dan kromatografi lapis tipis.

Untuk mengetahui karakteristik ekstrak, maka identifikasi dilakukan dengan cara

pengamatan secara visual meliputi bentuk, warna, aroma dan rasa ekstrak, juga

terhadap kadar airnya. Sedangkan analisa ekstrak secara KLT dilakukan menurut

metode Harborne yang telah dimodifikasi, dengan meggunakan eluen toluen : etil

asetat

(3:1) dengan

media

silika gel 60 GF 254 dan untuk pendeteksi

menggunakan ferri Sulfat, dari hasil pengamatan terhadap hasil KLT dari ekstrak

jambu biji diketahui bahwa ketiga tipe daun jambu biji mempunyai jumlah bercak

yang berbeda.

Tabel 2.2 Nilai Rf dari beberapa ekstrak daun jambu biji

Ekstrak dari ketiga daun jambu biji

Jumlah

Nilai Rf

bercak

1

9

bercak

0,23 – 0,94

2

9

bercak

0,13 – 0,94

3

5

bercak

0,16 – 0,59

Identifikasi senyawa tanin juga dapat dilakukan dengan menggunakan

metode HPLC untuk deteksi tanin terkondensasi yaitu dengan menggunakan

kolom Li Chrosorb RP-8 yang dielusi dengan campuran air-metanol (Harborne,

1987), dalam penelitiaan Lidyawati (2007), hasil analisa kromatogram KCKT

fraksi ekstrak metanol dari daun belimbing wuluh menunjukkan terdapatnya

glikosida vanilat pada puncak 2, sedangkan puncak 5 yang dominan diduga

sebagai senyawa tanin.

2.6.3 Penentuan Kadar Tanin

2.6.3.1 Penentuan Kadar Tanin dengan Metode Lowenthal-Procter

Prinsip

penentuan

kadar

tanin

dengan

metode

Lowenthal-Procter

berdasarkan jumlah gugus fenol pada tanin. Tanin termasuk golongan senyawa

yang

memiliki

gugus

fenol,

sehingga

jumlah

gugus

fenol

ini

diasumsikan

mewakili

jumlah

tanin

secara

keseluruhan.

Titrasi

dengan

larutan

kalium

permanganat, gugus fenol pada tanin akan teroksidasi. Jumlah gugus fenol

berbanding lurus dengan jumlah kalium permanganat yang diperlukan untuk

titrasi. Sebagai indikator redoks digunakan larutan indigokarmin dan warna yang

dihasilkan adalah kuning emas. Penentuan kadar tanin dengan menggunakan

persamaan berikut (Sudarmadji, 1997).

Perhitungan : 1 ml KMnO 4 0,1 N = 0,00416 g tanin

Kadar tanin = (50 A – 50 B) x 0,00416

S

x 100 %

(A-B)

:

Banyaknya

KMnO 4

yang

diperlukan

untuk

titrasi

(A

merupakan

senyawa tanin dan B merupakan senyawa non tanin)

S : Berat sampel

2.6.3.2 Penentuan Kadar Tanin dengan Spektrofotometer UV-Vis

Price

Penetapan kadar tanin dengan metode spektofotometri

dilakukan oleh

dan

Butler

untuk

daun

sorgum,

metode

ini

didasarkan

atas

reaksi

pembentukan warna yaitu reduksi ion ferri menjadi ion ferro oleh senyawa tanin

dan polifenolik lainnya, diikuti oleh pembentukan kompleks ferrisianida dan ion

fero.

Warna

yang

terbentuk

diukur

absorbansinya

dengan

menggunakan

spektrofotometer pada panjang gelombang 720 nm (Muhtady, 1999).

Dianty (2008) menentukan kadar tanin pada daun dan kulit batang buah

rambutan

(Nephelium

Lappaceum)

menggunakan

spektrofotometer

UV-Vis

dengan metode biru prusi pada sistem kompleks K 3 [Fe(CN) 6 ]. Metode tersebut

digunakan untuk analisis kualitatif dengan intensitas warna yang dibentuk oleh

senyawa kompleks K 3 [Fe(CN) 6 ], yaitu kuning, hijau dan biru. Prinsip penentuan

kadar tanin secara kuantitatif adalah kurva standar konsentrasi fero dan asam galat

pada panjang gelombang 690,0 nm, dalam analisis kuantitatif tanin digunakan

variasi suhu, waktu pengocokan dan pelarut. Kadar tanin dalam larutan sampel

dihitung dengan Ekuivalen Asam Galat (EAG).

Sumartha

(2000)

mengukur

kadar

tanin

pada

buah

salak

dengan

spektrofotometer

yaitu

pada

air

ditambahkan

sodium

tungstat,

dan

asam

posfomolibdat

dan

asam

posforat.

Campuran

di

reflux

selama

2

jam

dan

dinginkan sampai 25 o C dan larutkan sampai 1L dengan air. Air ditambahkan

sodium karbonat anhidrous, dilarutkan pada suhu 70-80 o C dan dinginkan satu

malam.

Larutan

standart

dibuat

dengan

melarutkan

asam

tanat

dalam

air.

Persiapkan larutan baru untuk setiap determinasi (1 mL = 0.1 mg asam tanat).

Larutan ditambahkan reagen Folin-Denis dan larutan Na 2 CO 3 dan setelah 30

menit diukur pada panjang gelombang 760 nm terhadap blank yang disesuaikan

pada absorbansi 0.

Penentuan kadar tanin yaitu dengan kalkulasi sebagai berikut:

Tanin sebagai Asam tanat (%)

mg asam tanat x pelarutan x 100

=

mL sampel yang diukur x Berat sampel x 1000

2.6.3.3 Penentuan Kadar Tanin dengan Metode Stiansy Test

Metode kuantitatif untuk tanin salah satu nya adalah stiansy test. Reaksi

yang

terjadi

didasarkan

pada

kereaktifan

struktur

flavonoid

dari

tanin

terkondensasi terhadap formaldehid. Hasil reaksi ini akan membentuk endapan

sehingga secara kuantitatif dapat diketahui adanya tanin terkondensasi (Giner,

1997). Linggawati (2002) dalam penelitianya menentukan kadar tanin dengan

metode stiansy

test yaitu sebanyak 0,5 gram contoh tanin dilarutkan dalam 175

ml aquades, ditambahkan 28,5 ml HCl 0,28 N dan 1 ml formaldehid 37%. Larutan

diaduk selama 5 menit dan disimpan selama 5 jam. Endapan yang terbentuk

dibilas dengan aquades, endapan dikeringkan dalam oven dan didinginkan dalam

desikator kemudian ditimbang. Kadar tanin terkondensasi dihitung berdasarkan

gravimetri.

2.7 Antibakteri

Antibakteri adalah senyawa yang dapat menghambat pertumbuhan atau

mematikan bakteri. Antibakteri dalam definisi yang luas adalah suatu zat yang

mencegah terjadinya pertumbuhan dan reproduksi bakteri. Antibiotik maupun

antibakteri sama-sama menyerang bakteri, kedua istilah ini telah mengalami

pergeseran makna selama bertahun-tahun sehingga memiliki arti yang berbeda.

Antibakteri

biasanya

dijabarkan

membersihkan

permukaan

dan

sebagai

suatu

menghilangkan

zat

yang

bakteri

membahayakan (Volk and Wheeler, 1993).

digunakan

untuk

yang

berpotensi

Bakteri yang digunakan untuk uji antibakteri dalam penelitiaan ini adalah

S. aureus dan E. coli. S. aureus adalah bakteri gram positif dan E. coli adalah

gram negatif, perbedaan dari kedua bakteri dapat dilihat pada tabel 2.3.

Tabel 2.3 Perbedaan susunan dinding sel bakteri Gram positif dan Gram negatif

No

Gram positf

 

Gram negatif

1.

Komponen terbesar terdiri dari mukopeptida

Terdiri dari tiga lapisa :

a. Lapisan dalam adalah mukopeptida

 

b. Lapisan bagian luar terdiri dua lapisan yaitu lipopolisakarida dan lipoprotein

2

Pada beberapa bakteri terdapat asam teikhoik

Tidak ada asam teikhoik

3

Mukopeptida

mengalami

lisis

Lisozim melunakkan dinding sel dan merusak lapisan lipida

oleh lisozim

4

Dinding sel tebal 25-30 nm

 

Dinding sel tipis 10-15 nm

Sumber: Irianto (2006)

Antibakteri adalah jenis bahan tambahan yang digunakan dengan tujuan

untuk mencegah kebusukan atau keracunan oleh mikroorganisme pada bahan

pangan. Beberapa jenis senyawa yang mempunyai aktivitas antibakteri adalah

sodium benzoat, senyawa fenol, asam-asam organik, asam lemak rantai medium

dan esternya, sulfur dioksida dan sulfit, nitrit, senyawa kolagen dan surfaktan,

dimetil karbonat dan metil askorbat. Antibakteri alami baik dari produk hewani,

tanaman maupun mikroorganisme misalnya bakteriosin (Luthana, 2008).

Zat antibakteri dapat bersifat bakterisidal (membunuh bakteri), baktei

static

(menghambat

pertumbuhan

bakteri),

dan

germisidal

(menghambat

germinasi spora bakteri). Kemampuan suatu zat antimikrobia dalam menghambat

pertumbuhan

bakteri

dipengaruhi

oleh

berbagai

faktor,

diantaranya

:

1)

konsentrasi zat pengawet, 2) jenis, jumlah ,umur, dan keadaan mikrobia, 3) suhu,

4) waktu, dan 5) sifat-sifat kimia dan fisik makanan termasuk kadar air, pH, jenis

dan jumlah komponen di dalamnya (Luthana, 2008).

2.7.1 Pengujian Aktivitas Antibakteri

Pengujian aktivitas antibakteri adalah teknik untuk mengukur seberapa besar

potensi

atau

konsentrasi

suatu

senyawa

dapat

memberikan

efek

bagi

mikoorganisme (Dart, 1996). Senyawa antibakteri dapat bersifat menghambat

pertumbuhan bakteri atau disebut bakteriostatik dan ada yang bersifat membunuh

bakteri atau disebut bakterisidal (Ganiswarna, 1995).

Metode pengujian aktivitas antibakteri secara garis besar terdiri dari dua

macam yaitu metode difusi dan dilusi. Metode difusi yang sering digunakan salah

satunya adalah metode disc diffusion (test Kirby dan Bauer), pada metode ini

piringan atau kertas cakram yang berisi agen antimikroba diletakkan pada media

Agar yang telah ditanami mikroorganisme yang akan berdifusi pada media agar

tersebut.

Area

jernih

mengindikasikan

adanya

hambatan

pertumbuhan

miukroorganisme pada permukaan media agar (Pratiwi, 2008). Diameter zona

hambatan yang terbentuk diukur menggunakan penggaris dengan cara mengurangi

diameter keseluruhan (cakram + zona hambatan) dengan diameter cakram (Volk

and Wheeler, 1993).

Proses

pegujian

aktivitas

antibakteri

harus

mempertimbangkan

banyak

faktor

agar

hasil

yang

diperoleh

lebih

relevan.

Faktor-faktor

yang

sangat

mempengaruhi

pada

pengujian

aktivitas

antimikroba

adalah

sebagai

berikut

(Irianto, 2006):

 

1. pH lingkugan

Beberapa macam obat lebih aktif pada pH asam dan pada pH alkalis

2. Komponen-komponen medium

3. Stabilitas obat

4. Takaran inokulum<