Anda di halaman 1dari 9

DEFINISI Kecemasan merupakan suatu respon emosional dpt berupa ketakutan dan khawatir terhadap situasi yang penuh

dengan tekanan. Suatu perasaan subyektif mengenai ketegangan mental yang menggelisahkan sbg reaksi umum dari ketidakmampuan mengatasi suatu masalah atau tidak adanya rasa aman. Kecemasan merupakan suatu tanda bahaya yang membuat orang yang bersangkutan waspada dan bersiap diri melakukan upaya untuk mengatasi ancaman yang bersifat internal tidak jelas dan konfliktual.(Kartijo, 2002)

FAKTOR PREDISPOSISI Stressor predisposisi adalah semua ketegangan dalam kehidupan yang dapat menyebabkan timbulnya kecemasan (Suliswati, 2005). Ketegangan dalam kehidupan tersebut dapat berupa : 1. Peristiwa traumatik, yang dapat memicu terjadinya kecemasan berkaitan dengan krisis yang dialami individu baik krisis perkembangan atau situasional. 2. Konflik emosional, yang dialami individu dan tidak terselesaikan dengan baik. Konflik antara id dan superego atau antara keinginan dan kenyataan dapat menimbulkan kecemasan pada individu. Id adalah dorongan insting dan impuls primitif, sedangkan superego adalah hati nurani dan dikendalikan norma budaya. Ego menengahi dua tuntutan dari dua elemen yang berbeda tersebut dan ansietas adalah mengingatkan ego bahwa ada bahaya yang datang. 3. Konsep diri terganggu akan menimbulkan ketidakmampuan individu berpikir secara realitas sehingga akan menimbulkan kecemasan. 4. 5. Frustasi akan menimbulkan rasa ketidakberdayaan untuk mengambil keputusan yang berdampak terhadap ego. Gangguan fisik akan menimbulkan kecemasan karena merupakan ancaman terhadap integritas fisik yang dapat mempengaruhi konsep diri individu. 6. Pola mekanisme koping keluarga atau pola keluarga menangani stress akan mempengaruhi individu dalam berespon terhadap konflik yang dialami karena pola mekanisme koping individu banyak dipelajari dalam keluarga. 7. Riwayat gangguan kecemasan dalam keluarga akan mempengaruhi respons individu dalam berespons terhadap konflik dan mengatasi kecemasannya. 8. Medikasi yang dapat memicu terjadinya kecemasan adalah pengobatan yang mengandung benzodizepin, karena benzodiazepine dapat meningkatkan neurotransmiter gamma amino butyric acid (GABA) yang mengontrol aktivitas neuron di otak yang bertanggung jawab menghasilkan kecemasan. 9. Tingkat Pendidikan seseorang berpengaruh dalam memberikan respon terhadap sesuatu yang dating baik dari dalam maupun dari luar. Kecemasan adalah respon yang dapat dipelajari. Orang yang akan mampunyai pendidikan tinggi akan memberikan respon yang lebih rasional dibandingkan mereka yang berpendidika lebih rendah atau mereka yang tidak berpendidikan. 10. Tingkat Pengetahuan. Soewandi ( 1997 ) mengatakan bahwa pengetahuan yang rendah mengakibatkan seseorang mudah mengalami stress. Ketidaktahuan terhadap suatu hal dianggap sebagai tekanan yang dapat mengakibatkan krisis dan dapat menimbulkan kecemasan. Stress dan kecemasan dapat terjadi pada individu dengan tingkat pengetahuan yang rendah, disebabkan karena kurangnya informasi yang diperolah.

KLASIFIKASI Menurut Peplau (dalam, Videbeck, 2008) ada empat tingkat kecemasan yang dialami oleh individu yaitu : 1. Ansietas ringan adalah perasaan bahwa ada sesuatu yang berbeda dan membutuhkan perhatian khusus. Stimulasi sensori meningkat dan membantu individu memfokuskan perhatian untuk belajar, menyelesaikan masalah, berpikir, bertindak, merasakan, dan melindungi diri sendiri. 2. Ansietas sedang merupakan perasaan yang menggangu bahwa ada sesuatu yang benar-benar berbeda; individu menjadi gugup atau agitasi. 3. 4. Ansietas berat adalah ada sesuatu yang berbeda dan ada ancaman, memperlihatkan respons takut dan distress. Panik adalah keadaan di mana individu kehilangan kendali dan detail perhatian hilang, karena hilangnya kontrol, maka tidak mampu melakukan apapun meskipun dengan perintah.

MANIFESTASI KLINIS Menurut Videbeck (2008), respons dari ansietas ringan adalah sebagai berikut : 1. 2. 3. Respons fisik Respon kognitif Respons emosional RESPON FISIK Ketegangan otot ringan Sadar akan lingkungan Rileks atau sedikit gelisah Rajin RESPON KOGNITIF Lapang persepsi luas Terlihat tenang, percaya diri Perasaan gagal Sedikit waspada dan memerhatikan banyak hal Sedang Ketegangan otot sedang Tanda vital meningkat Pupil dilatasi Mulai berkeringat Sering mondar-mandir, memukulkan tangan Suara berubah: bergetar, nada suara tinggi Kewaspadaan dan ketegangan meningkat Lapang persepsi menurun Tidak perhatian secara selektif Fokus terhadap stimulus meningkat Rentang perhatian menurun Penyelesaian masalah menurun Pembelajaran terjadi dengan memfokuskan RESPON EMOSIONAL Perilaku otomatis Sedikit tidak sabar Aktivitas menyendiri Terstimulasi Tenang Tidak nyaman Mudah tersinggung Kepercayaan diri goyah Tidak sabar Gembira

TINGKAT Ringan

Sering berkemih, sakit kepala, pola tidur berubah, nyeri punggung Berat Ketegangan otot berat Hiperventilasi Kontak mata buruk Pengeluaran keringat meningkat Bicara cepat, nada suara tinggi Tindakan tanpa tujuan dan serampangan Rahang menegang, menggertakan gigi Kebutuhan ruang gerak meningkat Mondar-mandir, berteriak Meremas tangan, gemetar Panik Flight,fight, atau freeze Ketegangan otot sangat berat Agitasi motorik kasar Pupil dilatasi Tanda vital meningkat kemudian menurun Tidak dapat tidur Hormon stres dan neurotransmiter berkurang Wajah menyeringai, mulut ternganga Persepsi sangat sempit Pikiran tidak logis, terganggu Kepribadian kacau Tidak dapat menyelesaikan masalah Fokus pada pikiran sendiri Tidak rasional Sulit memahami stimulus eksternal Halusinasi, waham, ilusi mungkin terjadi Merasa terbebani Merasa tidak mampu, tidak berdaya Lepas kendali Mengamuk, putus asa Marah, sangat takut Mengharapkan hasil yang buruk Kaget, takut Lelah Lapang persepsi terbatas Proses berpikir terpecah-pecah Sulit berpikir Penyelesaian masalah buruk Tidak mampu mempertimbangkan informasi Hanya memerhatikan ancaman Preokupasi dengan pikiran sendiri Egosentris Sangat cemas Agitasi Takut Bingung Merasa tidak adekuat Menarik diri Penyangkalan Ingin bebas

UKURAN SKALA KECEMASAN Ukuran skala kecemasan rentang respon kecemasan dapat ditentukan dengan gejala yang ada dengan menggunakan Hamilton anxietas rating scale (Stuart & Sundeen,1991) dengan skala HARS terdiri dari 14 Komponen yaitu :

1. 2. 3.

Perasaan Cemas meliputi Cemas, takut, mudah tersinggung dan firasat buruk Ketegangan meliputi lesu, tidur tidak tenang, gemetar, gelisah, mudah terkejut dan mudah menangis Ketakutan meliputi akan gelap, ditinggal sendiri, orang asing, binatang besar, keramaian lalulintas, kerumunan orang banyak

4. 5. 6.

Gangguan Tidur meliputi sukar tidur, terbangun malam hari, tidak puas, bangun lesu, sering mimpi buruk, dan mimpi menakutkan Gangguan kecerdasan meliputi daya ingat buruk Perasaan depresi meliputi kehilangan minat , sedih, bangun dini hari, berkurangnya kesenangan pada hobi, perasaan berubah ubah sepanjang hari

7. 8. 9.

Gejala somatic meliputi nyeri otot kaki, kedutan otot, gigi gemertak, suara tidak stabil Gejala Sensorik meliputi tinnitus, penglihatan kabur, muka merah dan pucat, merasa lemas, perasaan di tusuk tusuk Gejala kardiovakuler meliputi tachicardi , berdebar debar, nyeri dada, denyut nadi mengeras, rasa lemas seperti mau pingsan, detak jantung hilang sekejap

10. Gejala Pernapasan meliputi rasa tertekan di dada, perasaan tercekik, merasa napas pendek atau sesak, sering menarik napas panjang 11. Gejala Saluran Pencernaan makanan meliputi sulit menelan, mual, muntah, enek, konstipasi, perut melilit, defekasi lembek, gangguan pemcernaan, nyeri lambung sebelum dan sesudah makan, rasa panas di perut, berat badan menurun, perut terasa panas atau kembung 12. Gejala Urogenital meliputi sering kencing, tidak dapat menahan kencing 13. Gejala Vegetatif atau Otonom meliputi mulut kering, muka kering, mudah berkeringat , sering pusing atau sakit kepala, bulu roma berdiri 14. Perilaku sewaktu wawancara meliputi gelisah, tidak tenang, jari gemetar, mengerutkan dahi atau kening, muka tegang, tonus otot meningkat, napas pendek dan cepat, muka merah Adapun cara penilaiannya adalah dengan sistem scoring yaitu :


Bila :

Nilai 0 = Tidak ada gejala Nilai 1 = Gejala Ringan (Satu gejala dari pilihan yang ada) Nilai 2 = Gejala Sedang (separo dari gejala yang ada) Nilai 3 = Gejala Berat (Lebih dari separo gejala yang ada) Nilai 4 = Gejala Berat Sekali (Semua gejala ada)

Skor kurang dari 14 = Tidak ada kecemasan Skor 14 - 20 = Kecemasan ringan Skor 21 27 = Kecemasan sedang Skor 28 41 = Kecemasan berat Skor 42 56 = Kecemasan berat sekali

FAKTOR PRESIPITASI Stresor presipitasi adalah semua ketegangan dalam kehidupan yang dapat mencetuskan timbulnya kecemasan (Suliswati, 2005). Stressor presipitasi kecemasan dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu :

1.

Ancaman terhadap integritas fisik. Ketegangan yang mengancam integritas fisik yang meliputi : a. Sumber internal, meliputi kegagalan mekanisme fisiologis sistem imun, regulasi suhu tubuh, perubahan biologis normal (misalnya : hamil). b. Sumber eksternal, meliputi paparan terhadap infeksi virus dan bakteri, polutan lingkungan, kecelakaan, kekurangan nutrisi, tidak adekuatnya tempat tinggal.

2.

Ancaman terhadap harga diri meliputi sumber internal dan eksternal. a. Sumber internal : kesulitan dalam berhubungan interpersonal di rumah dan tempat kerja, penyesuaian terhadap peran baru. Berbagai ancaman terhadap integritas fisik juga dapat mengancam harga diri. b. Sumber eksternal : kehilangan orang yang dicintai, perceraian, perubahan status pekerjaan, tekanan kelompok, sosial budaya.

3.

Faktor Lain Menurut Model Integritas 1. 2. Individu lahir mempunyai sistem saraf otonom yang lebih peka terhadap ancaman atau stressor. Masa anak-anak dan dewasa dalam belajar mencari pengalaman mungkin dengan menentukan tingkat kecemasan dan situasi yang pada dasarnya akan menimbulkan kecemasan. 3. Ketidakmampuan mengatasi situasi berbahaya dengan adaptif bisa menimbulkan kecenderungan untuk berespon terhadap kecemasan. 4. Fungsi kognitif dapat berkesinambungan yang berfokus pada kecemasan sehingga fungsi tersebut mempunyai antisipasi untuk menahan stimulus yang menimbulkan kecemasan. 5. Seseorang mungkin lebih mudah terancam rasa amannya terutama trauma intelegensi dan mawas diri.

MEKANISME KOPING Kemampuan individu menanggulangi kecemasan secara konstruksi merupakan faktor utama yang membuat klien berperilaku patologis atau tidak. Bila individu sedang mengalami kecemasan ia mencoba menetralisasi, mengingkari atau meniadakan kecemasan dengan mengembangkan pola koping. Pada kecemasan ringan, mekanisme koping yang biasanya digunakan adalah menangis, tidur, makan, tertawa, berkhayal, memaki, merokok, olahraga, mengurangi kontak mata dengan orang lain, membatasi diri pada orang lain (Suliswati, 2005). Mekanisme koping untuk mengatasi kecemasan sedang, berat dan panik membutuhkan banyak energi . Menurut Suliswati (2005), mekanisme koping yang dapat dilakukan ada dua jenis, yaitu : 1. Task oriented reaction atau reaksi yang berorientasi pada tugas. Tujuan yang ingin dicapai dengan melakukan koping ini adalah individu mencoba menghadapi kenyataan tuntutan stress dengan menilai secara objektif ditujukan untuk mengatasi masalah, memulihkan konflik dan memenuhi kebutuhan. a. b. c. Perilaku menyerang digunakan untuk mengubah atau mengatasi hambatan pemenuhan kebutuhan. Perilaku menarik diri digunakan baik secara fisik maupun psikologik untuk memindahkan seseorang dari sumber stress. Perilaku kompromi digunakan untuk mengubah cara seseorang mengoperasikan, mengganti tujuan, atau mengorbankan aspek kebutuhan personal seseorang.

2.

Ego oriented reaction atau reaksi berorientasi pada ego. Mekanisme ini seringkali digunakan untuk melindungi diri, sehingga disebut mekanisme pertahanan ego. Mekanisme tersebut berlangsung secara relative pada tingkat tidak sadar dan mencakup penipuan diri dan distorsi realitas. mekanisme ini dapat menjadi respons maladaptive terhadap stress. Beberapa mekanisme pertahanan ego yang paling sering digunakan : Mekanisme Pertahanan Kompensasi Definisi Proses individu dengan citra diri yang kurang berupaya menggantinya dengan menonjolkan kelebihan lain yang dianggapnya sebagai asset. Penyangkalan Menghindari realitas yang tidak menyenangkan dengan mengabaikan atau menolak untuk mengakunya, kemungkinan merupakan mekanisme pertahanan yang paling seberhana dan paling primitive Pengalihan (Dispalcement) Mengalihkan emosi yang seharusnya diarahkan pada orang atau benda tertentu ke benda atau orang yang biasanya netral atau tidak membahayakan Disosiasi Pemisahan setiap kelompok proses perilaku atau mental dari sisa kesadaran atau identitas Identifikasi Proses individu mencoba untuk menjadi seseorang yang dikaguminya dengan menirukan pikiran, perilaku, atau kesukaanya. Intelektualisasi Penggunaan alasan atau logika Yang berlebihan untuk menghindari perasaan-perasaan mengganggu yang dialaminya. Introyeksi Tipe identifikasi yang intens yang di dalamnyaindividu menyatukan kualitas atau nilainilai orang lain atau kelompok ke dalam struktur egonya sendiri, salah satu mekanisme terdini pada anak-anak; penting dalam pembentukan hati nurani. Isolasi Memisahkan komponen emosiaonal dari pikiran, yang dapat bersifat sementara atau jangka panjang. Proyeksi Mengingatkan pikiran atau impuls diri, terutama keinginan, perasaan emosional, atau motivasi yang tidak dapat ditoleransi kepada orang lain. Rasionalisasi Memberikan penjelasan yang diterima secara social atau tampak masuk akal untuk membenarkan impuls, perasaan, perilaku, dan motif yang tidak dapat diterima. Formasi reaksi Pembentukan sikap dan pola perilaku yang disadari, yang berlawanan dengan apa yang sebenarnya dirasakan atau ingin dilakukan individu. Regresi Kemunduran karakteristik perilaku dari tahap perkembangan yanglebih awal akibat stress. Represi Pengesampingan secara tidak sadar tentang pikiran, impuls, atau memori yang menyakitkan atau bertentangan dari kesadaran; pertahanan ego primer, yang cenderung memperkuat mekanisme pertahanan lainnya. Splinting Memandang orang atau situasi sebagai semuanya baik atau semuanya buruk; gagal untuk mengintegrasikan kualitas positif dan negative diri Sublimasi Penerimaan tujuan pengganti yang diterima secara social karena dorongan yang merupakan saluran normal ekspresi terhambat. Supresi Proses yang sering disebut sebagai mekanisme pertahanan, tetapi sebenarnya merupakan analogi represi yang disadari; pengesampingan yang disengaja tentang suatu topic dari kesadaran; suatu ketika dapat mengarah pada represi yang berikutnya. Undoing Tindakan atau komunikasi yang sebagian meniadakan yang sudah ada sebelumnya; merupakan mekanisme pertahanan primitive.

PENATALAKSANAAN Psikofarmakologi 1. Antiansietas dan hiptonik-sedatif Terapi psikofarmaka merupakan pengobatan untuk cemas dengan memakai obat-obatan yang berkhasiat memulihkan fungsi gangguan neuro-transmitter (sinyal penghantar saraf) di susunan saraf pusat otak (limbic system). Terapi psikofarmaka yang sering dipakai adalah obat anti cemas (anxiolytic), yaitu seperti diazepam, clobazam, bromazepam, lorazepam, buspirone HCl, meprobamate dan alprazolam. Benzodiazepin diduga memberikan efek antiansietasnya melalui potensiasi yang kuat pada neurotransmitter inhibisi asam aminobutirat (GABA). Indikasi utama dalam penggunaan benzodiazepin adalah : 1. Gangguan ansietas umum, 2. Ansietas yang berhubungan dengan depresi, 3. Gangguan tidur, 4. Ansietas yang berhubungan dengan gangguan fobia, 5. Gangguan stress pascatrauma, 6. Putus obat dan alcohol, 7. Ansietas yang berhubungan dengan penyakit medis, 8. Relaksasi musculoskeletal, 9. Gangguan kejang, 10. Ansietas praoperasi.

2.

Antidepresan Indikasi klinis utama untuk penggunaan antidepresan adalah penyakit depresif mayor. Obat ini juga berguna dalam pengobatan gangguan panik, gangguan ansietas lainnya dan enuresis pada anak-anak. Berbagai riset terdahulu menunjukkan bahwa obat ini berguna untuk mengatasi gangguan defisit perhatian pada anak-anak dan bulimia serta narkolepsi. a. Antidepresan Trisiklik Mekanisme kerja ATS tampaknya mengatur penggunaan neurotransmiter norepinefrin dan serotonin pada otak. Obat ini menyebabkan sedasi dan efek samping antikolinergik, seperti mulut kering, pandangan kabur,

konstipasi, retensi urine, hipotensi ortostatik, kebingungan sementara, takikardia, dan fotosensitivitas. Efek samping toksik termasuk kebingungan, konsentrai buruk, halusinasi, delirium, kejang, depresi pernafasan, takikardia, bradikardia, dan koma. b. Inhibitor Monoamin Oksidase ( MAOI) Mekanisme kerja : MAOI menghambat monoamin oksidase i dalam otak dan di seluruh tubuh. Dengan menghambat MAO di dalam otak, makin sedikit norefionefrin yang dimetabolisme sehngga meningkatkan ketersediaannya dalam sinaps. MAOI adalah antidepresan yang sangat efektif dan obat antipanik yang jarang digunakan serta sangat ditakuti penggunaannya karena dapat menyebabkan krisis hipertensi jika mengonsumsi makanan yang mengandung tiramin dan obat-obat tertentu bersamaan dengan obat ini. Efek samping MAOI mencakup pusing, konstipasi, disfungsi seksual, kedutan otot, mengantuk, mulut kering, retensi cairan, insomnia, kesulitan memulai berkemih, dan peningkatan berat badan. Kotak 20.3 menyajikan tanda-tanda dan pengobatan krisis hipertensi selama terapi MAOI. c. Inhibitor Reuptake Serotonin Selektif (SSRI) menghambat reuptake serotonin pada membrane prasinaptik. Dengan demikian, SSRI meningkatkan neurotransmisi serotonin dalam otak. Salah satu antidepresan terbaru, venlafaksin, meningkatkan kadar serotonin dan norefineprin. Jadi venlafaksin mempunyai spectrum aktivitas yang luas dan disebut inhibitor reuptake nonselektif. SSRI memiliki profil efek samping yang lebih aman daripada ATS dan MAOI. Efek samping yang paling umum mencakup mual, diare, insomnia, mulut kering, gelisah, sakit kepala, disfungsi seksual, mengantuk, pusing dan berkeringat. Nonfarmakologi Menurut Hawari (2008) penatalaksanaan asietas pada tahap pencegahaan dan terapi memerlukan suatu metode pendekatan yang bersifat holistik, yaitu mencangkup fisik (somatik), psikologik atau psikiatrik, psikososial dan psikoreligius. Selengkpanya seperti pada uraian berikut : 1. Upaya meningkatkan kekebalan terhadap stress, dengan cara : a. b. c. d. 2. Makan makan yang bergizi dan seimbang. Tidur yang cukup dan cukup olahraga. Tidak merokok. Tidak meminum minuman keras.

Terapi somatic Gejala atau keluhan fisik (somatik) sering dijumpai sebagai gejala ikutan atau akibat dari kecemasan yang bekerpanjangan. Untuk menghilangkan keluhan-keluhan somatik (fisik) itu dapat diberikan obat-obatan yang ditujukan pada organ tubuh yang bersangkutan.

3.

Psikoterapi --- diberikan tergantung dari kebutuhan individu, antara lain : a. Psikoterapi suportif, untuk memberikan motivasi, semangat dan dorongan agar pasien yang bersangkutan tidak merasa putus asa dan diberi keyakinan serta percaya diri. b. Psikoterapi re-edukatif, memberikan pendidikan ulang dan koreksi bila dinilai bahwa ketidakmampuan mengatsi kecemasan.

c.

Psikoterapi re-konstruktif, untuk dimaksudkan memperbaiki kembali (re-konstruksi) kepribadian yang telah mengalami goncangan akibat stressor.

d.

Psikoterapi kognitif, untuk memulihkan fungsi kognitif pasien, yaitu kemampuan untuk berpikir secara rasional, konsentrasi dan daya ingat.

e.

Psikoterapi psiko-dinamik, untuk menganalisa dan menguraikan proses dinamika kejiwaan yang dapat menjelaskan mengapa seseorang tidak mampu menghadapi stressor psikososial sehingga mengalami kecemasan.

f.

Psikoterapi keluarga, untuk memperbaiki hubungan kekeluargaan, agar faktor keluarga tidak lagi menjadi faktor penyebab dan faktor keluarga dapat dijadikan sebagai faktor pendukung.

4.

Terapi psikoreligius Untuk meningkatkan keimanan seseorang yang erat hubungannya dengan kekebalan dan daya tahan dalam menghadapi berbagai problem kehidupan yang merupakan stressor psikososial.

Respon Adaptif

Respon Maladaptif

Pikiran logis Persepsi akurat Emosi konsisten Dengan pengalaman Perilaku sesuai Berhubungan sosial

distorsi pikiran Ilusi Reaksi emosi berlebihan atau kurang perilaku aneh atau tidak biasa Menarik diri

Gangguan proses pikir (waham) Sulit berespon emosi perilaku kacau isolasi sosial