Anda di halaman 1dari 3

Klordiazepoksi dari daftar OWA tertuang dalam perubahan golongan obat tersebut dalam Permenkes No.

688 tahun 1997 tentang Peredaran Psikotropika. j. JAM BUKA APOTEK Ketentuan tentang jam buka minimal suatu apotek diatur dalam pasal dari Permenkes No. 244 tahun 1990 tentang Ketentuan dan Tatacara Perizinan Apotek Apotek wajib melayani masyarakat minimal dari jam 08.00 s.d. 22.00. pada Permenkes No. 922 tahun 1993 yang mencabut Permenkes tersebut tidak diatur lagi tentang ketentuan jam buka apotek demikian juga di Kepmenkes No. 1332 tahun 2002 maupun di Kepmenkes No. 1027 tahun 2004. Dalam bab penutup dari Permenkes No. 922 tahun 1993 pasal 33 yang mencabut Permenkes tersebut diatas disebutkan bahwa semua ketentuan menteri tentang Apotek lainnya yang telah dikeluarkan sebelum ditetapkan peraturan ini masih berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan ini. Oleh karena itu ketentuan tentang jam buka apotek minimal antara jam 08.00 sampai 22.00 mestinya masih berlaku. Pada pasal 19 ayat 1 Kepmenkes No.1332 tahun 2002 apabila APA berhalangan melakukan tugasnya pada jam buka apotek, APA harus menunjuk apoteker pendamping. Hal ini kemudian diasumsikan bahwa Apotek dibuka ketika ada Apotekernya. Bila melihat kepentingan masyarakat atau pasien, ketentuan ini dapat merugikan karena kebutuhan masyrakat akan pelayanan Apotek dapat sewaktu-waktu, sehingga perlu diatur tentang jaminan adanya layanan Apotek. Apabila tidak ada jaminan keberadaan Apoteker di Apotek sehingga menyebabkan Apotek tidak buka, maka tentu pasien yang akan dirugikan. K. Perpajakan Apotek Pajak adalah iuran wajib yang dipungut oleh pengusaha dalam hal ini adalah pemerintah berdasarkan atas norma-norma hukum yang berlaku. Masyarakat diberi kepercayaan menghitung dan membayar sendiri pajak yang terhutang (self, assesment). Dalam pembayaran pajak berdasarkan sistem self assesment, wajib pajak mempunyai beberapa hak dan kewajiban yang perlu dilakukan yaitu a. Mendaftarkan sebagai wajib pajak ke kantor pelayanan pajak dimana wajib pajak berkedudukan atau bertempat tinggal. b. penyetoran pajak dilakukan dengan menggunakan Surat Setoran Pajak (SSP) kekantor pos atau bank yang ditunjuk selambat-lambatnya tanggal 15 setiap bulannya. c. wajib melaporkan sekalipun nihil dengan menggunakan SPT masa (Surat Pemberitahuan) ke kantor pelayanan pajak atau kantor penyuluhan setempat selambat-lambatnya tanggal 20 setiap bulannya. Berdasarkan kelompok, pajak dapat dibagi menjadi 2. Yaitu : a. Pajak langsung Adalah pajak yang harus dipikul sendiri oleh wajib pajak yang bersangkutan. b. Pajak tak langsung Adalah pajak yang pada akhirnya dilimpahkan pada pihak lain, misalnya PPN dan materai.

Dasar hukum ketentuan umum dan tata cara perpajakan Apotek mengacu pada Undangundang RU No. 6 tahun 1983 sebagaimana telah dirubah terakhir dengan UU RI No.16 tahun 2000. Ketentuan yang dimaksud adalah: a. Tahun pajak Pada umumnya tahun pajak sama dengan tahun taqwim atau tahun kalender. b. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) Nomor pajak adalah suatu sarana administrasi perpajakan dipergunakan sebagai tanda pengenal identitas diri atau identitas wajib pajak. c. Surat pemberitahuan (SPT) Surat pemberitahuan atau SPT adalah surat yang oleh wajib pajak digunakan untuk melaporkan perhitungan dan pembayaran pajak yang terutang menurut ketentuan Peraturan Perundang-undangan Perpajakan. Secara garis besar SPT dibedakan menjadi 2 yaitu : 1. SPT masa Adalah surat yang oleh wajib pajak digunakan untuk melaporkan perhitungan dan atau pajak terutang dalam suatu masa. Pajak atau pada suatu saat (tiap bulan). Surat Setoran Pajak (SSP) atau SPT masa macam pajak lainnya, PPh pasal 21< PPh pasal 22, PPh pasal 23, PPh pasal 25, PPh pasal 26. Tabel I. Batas waktu penyampaian SPT masa Jenis Pajak Yang menyampaikan SPT Batas Waktu Penyampaian SPT PPh pasal 21 Pemotongan PPh pasal 21 Tanggal 20 bulan takwim berikutnya setelah masa pajak berakhir. PPh pasal 23 Pemotongan PPh pasal 23 Tanggal 20 bulan takwim berikutnya setelah masa pajak berakhir. PPh pasal 25 Wajib pajak yang Tanggal 20 bulan takwim berikutnya mempunyai NPWP setelah masa pajak berakhir. 2. SPT tahunan adalah surat yang oleh wajib pajak digunakan untuk melaporkan perhitungan dan pembayaran pajak terutang dalam suatu tahun pajak. Ada beberapa jenis SPT tahunan, yaitu : badan, orang pribadi (perseorangan). Contoh lembar SPT Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak orang pribadi. Tabel II. Batasa waktu penyampaian SPT Tahunan Jenis Pajak Yang Menyampaikan SPT Batas Waktu Penyampaian SPT Tahunan SPT Tahunan PPh Wajib pajak yang Selambatnya 3 bulan setelah akhir tahun mempunyai NPWP pajak (Biasanya tanggal 25 Maret bulan berikutnya) PPh pasal 21 Pemotongan PPh pasal 21 Selambatnya 3 bulan setelah akhir tahun Tahunan pajak (Biasanya tanggal 31 Maret bulan berikutnya) Sanksi keterlambatan atau tidak menyampaikan SPT adalah denda sebesar Rp.50.000,- (lima puluh ribu rupiah) untuk SPT masa dan denda sebesar Rp.100.000 (seratus ribu rupiah) untuk SPT Tahunan. d. Surat Setoran Pajak (SSP) Surat setoran pajak adalah surat yang oleh wajib pajak digunakan untuk melakukan pembayaran atau penyetoran pajak terutang ke kas Negara melalui Kantor Pos dan atau Bank Badan Usaha Milik Pemerintah atau tempat pembayaran yang ditunjuk Menteri Keuangan.

Tabel III. Batas Waktu Pembayaran atau Penyetoran Pajak Jenis Pajak Batas Waktu Penyampaian atau Penyetoran PPh pasal 21 Tanggal 15 bulan takwim berikutnya stelah masa pajak berakhir PPh pasal 23 Tanggal 15 bulan takwim berikutnya stelah masa pajak berakhir PPh pasal 25 Tanggal 15 bulan takwim berikutnya stelah masa pajak berakhir e. Pajak penghasilan (PPh) pasal 21 PPh 21 mengatur pajak pribadi atau perseorangan, besarnya PPh pasal 21 adalah berdasarkan penghasilan netto dikurangi Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP). Pajak ini dikenakan pada karyawan tetap yang mempunyai gaji melebihi PTKP. Yang termsuk PPh 21 adalah penghasilan berupa gaji, upah dan honorarium. Keterlambatan pembayaran dikenai denda sebesar Rp.50.000,- ditambah 2% dari nilai pajak yang harus dibayarkan. Berdasarkan PerMenKeu RI. No. 564/KMK/03/2004 tanggal 29 Nove,ber 204 besarnya PTKP dan pelaksanaanya berdasarkan surat Direktur pajak No. S-03/PJ43/2006 tentang Perlakuan PPn Pasal 21 adalah sebagai berikut : Tabel IV. Tarif PTKP Jenis PTKP Setahun Sebulan Untuk diri pegawai Rp. 13.200.000,00 Rp. 1.100.000,00 Tambahan untuk pegawai yang kawin Rp. 1.200.000,00 Rp. 100.000,00 Tambahan untuk setiap anggota keluarga yang Rp. 1.200.000,00 Rp. 100.000,00 searah, paling banyak 3 orang f. Pajak Penghasilan (PPh) pasal 23 PPh pasal 23 mengatur pajak bagi apotek yang berbentuk badan usaha. PPh pasal 23 adalah pemotongan pajak oleh pihak lain atas penghasilan berupa deviden, bunga royalti, sewa, hadiah, penghargaan dan imbalan jasa tertentu. Besarnya PPh 23 adalah deviden dikenai 15% dari keuntungan yang dibagikan, juga konsultan hukum, konsultan pajak dan jasa lainnya dikenai pajak 15%x50%.