Anda di halaman 1dari 4

MIMO

Satriyo Wibowo - 1101120062 Teknik Telekomunikasi Telkom University

MIMO adalah singkatan dari Multiple Input Multiple Output. Teknologi ini pertama kali diperkenalkan oleh seorang ahli dari Bell Laboratories pada tahun 1984. Dengan teknologi MIMO, sebuah receiver atau transmitter menggunakan lebih dari satu antenna. Tujuannya adalah untuk menjadikan sinyal pantulan sebagai penguat sinyal utama sehingga tidak saling menggagalkan. MIMO juga memiliki kelemahan, yaitu adanya waktu interval yang menyebabkan sedikit delay pada antenna yang akan mengirimkan sinyal, meskipun pengiriman sinyalnya lebih cepat. Waktu interval ini terjadi karena adanya proses pada system yang harus membagi sinyal mengikuti jumlah antenna yang dimiliki oleh perangkat MIMO yang jumlahnya lebih dari satu.

MIMO Mimo didefinisikan sebagai system multi antena pada pemancar dan penerima. Sistem komunikasi ini terdiri dari pemancar, kanal radio, dan penerima. MIMO menggunakan multiantena pada pemancar dan penerima yang bekerja pada frekuensi yang sama. Multiple input menandakan bahwa system mengirimkan dua atau lebih sinyal radio secara simultan, sedangkan multiple output menyatakan dua atau lebih sinyal radio yang didapatkan pada penerima. Secara umum MIMO dapat mengirim banyak sinyal dan menerima banyak sinyal, dan setiap pemancar akan terhubung melalui banyak lintasan yang menuju ke setiap penerima

MIMO menggunakan prinsip diversity dengan tujuan meningkatkan data rate dalam range yang lebih besar tanpa membutuhkan bandwith atau daya transmisi yang besar. Sistem MIMO terdiri dari beberapa antena pemancar dan penerima yang menciptakan diversity antara transmitter dan receiver. Sistem MIMO ditujukan untuk dua tujuan yang berbeda yaitu model diversity dan model spatial multiplexing. Pada model diversity, data yang dipancarkan setiap antena adalah sama. Pada transmitter digunakan metode transmitter selection diversity untuk memilih satu pemancar saja dengan kualitas terbaik. Sedangkan padan receiver digunakan metode combining MRC (Maximum Ratio Combining) untuk mendapatkan diversitas murni. Pada teknik multiplexing, data input dibagi kedalam beberapa bagian dan kemudian dikirim oleh masing-masing antena pemancar yang bekerja pada frekuensi yang sama. Keuntungan utama dari teknik multiplexing pada MIMO adalah diterapkannya pengiriman sinyal yang berbeda pada bandwith yang sama dan dapat diterima dengan tepat pada penerima.

Teknik Spatial Multiplexing

Pada transmitter dan receiver yang keduanya memiliki multiple antena, kita dapat melakukan pengiriman data secara parallel diantara keduanya, sehingga nilai data rate dapat ditingkatkan. Sistem dengan Nt transmitter dan Nr Reciever disebut dengan Spatial

Multiplexing System. Misalnya pada transmitter dan receiver keduanya memiliki dua antena. Pada transmitter, antenna melakukan mapping symbol sebanyak dua kali dalam satu waktu. Kemudian symbol dikirim ke masing-masing antena dan Antena mentransmisikan dua symbol secara simultan. Simbol berjalan menuju antena penerima melalui empat jalur yang berbeda. Secara matematis dapat dituliskan : Y1=H11x1 + H12x2 + n1 dan Y2=H21x1 + H22x2 + n2 X1 dan x2 merupakan sinyal yang ditransmisikan antena, Y1 dan Y2 adalah sinyal yang sampai di kedua penerima, dan n1 dan n2 merepresentasikan noise yang diterima oleh receiver.

Teknik Spatial Diversity Pada Teknik Spatial Diversity, setiap antena pengirim mengirimkan data yang sama secara parallel dengan menggunakan coding yang berbeda. Tujuannya adalah untuk mendapatkan kualitas sinyal yang tinggi dengan memanfaatkan teknik diversity pada transmitter dan receiver. Secara konvensional diversity diaplikasikan dengan pemasangan antena array pada sisi receiver sehingga kualitas sinyal yang diterima dapat ditingkatkan. Peningkatan kualitas sinyal dapat dilihat berdasarkan nilai parameter penguatan diversity (diversity gain) yang nilainya makin meningkat dengan semakin besarnya tingkat diversity R, yaitu jumlah antena yang digunakan pada receiver. Pada MIMO dengan sejumlah T antena transmitter dan R antenna receiver mengakibatkan meningkatnya tingkat diversity menjadi T x R. Sehingga dengan 4 antena pada masing-masing transmitter dan receiver, system MIMO mampu menyediakan tingkat diversity setara dengan metode konvensional menggunakan 16 antenna pada receiver.

V-BLAST Dengan menggunakan system MIMO performa system komunikasi wireless dapat ditingkatkan. Salah satunya adalah meningkatkan nilai troughput data yang dikirim menggunakan V-Blast pada system MIMO. Blast dapat disebut parallel coding. Pada parallel coding data dimasukkan ke demultiplexing sehingga menjadi independent stream. Masing-masing spatial stream kemudian disandikan terlebih dahulu sebelum dipancarkan

oleh masing-masing pemancar. Data Serial dirubah menjadi vector yang vertical dan disebut vertical encoding atau V-Blast

Pada V-Blast sejumlah symbol pada transmitter yang ditransmisikan dipilih berdasarkan SNR yang diterima. Simbol dengan nilai SNR tertinggi dikeluarkan

sedangkan symbol yang lain dianggap sebagai noise. Proses tersebut berulang hingga semua symbol dipancarkan.

DAFTAR PUSTAKA Cox, Christoper, 2012. An Introduction to LTE. Wiley Santoso, Yonathan. Sistem MIMO sebagai Dasar Menuju 4G